Dendam Sejagad Jilid 39

 
Jilid 39

SEMENTARA ke lima orang ciangbunjin yang lain berdiri dengan wajah berat dan a mat serius.

Suasana segera diliput i ketegangan yang luar biasa, apalagi ke sebelas orang itu berdiri ditengah ruangan, seolah-olah mere ka sengaja me misahkan antara rombongan Cu Pok, Tu Pak kim serta Seng Ko piau dengan rombongan Keng Cin sin, Ku See hong serta Hoa Soat kun.

Pedang sakti kayu besi Cu Pok nampak gembira sekali setelah menyaksikan kedatangan se mbilan ketua dari se mbilan partai besar itu, pikirnya dengan cepat.

"Kali ini Ku See hong sekalian sudah pasti akan ma mpus di tempat ini ” Sementara dia masih ter menung, mendadak suara berdoa telah berhenti...

Dua orang pendeta dan empat tosu dengan kedua belas sorot mata mereka yang tajam segera dialihkan ke wajah Ku See hong  dan Hoa Soat kun yang penuh berlepotan darah.

Sebaliknya pancaran sinar mata Ku See hong serta Hoa Soat kun semakin bertambah tajam lagi, rupanya tenaga dalam mereka telah pulih ke mbali seperti sedia kala, bahkan pelan-pelan berjalan menuju kesa mping Keng Cin sin.

Tak terlukiskan rasa ge mbira Keng Cin sin, perasaannya yang semula berat kini mengendor, asal ke dua orang rekannya telah peroleh kembali ke ma mpuannya untuk me lanjutkan pertarungan, biar musuh yang berada didepan mata bertambah satu kali lipat  pun, dia tak akan merasa kuatir.

"Omitohud!".  "Bu lian su hud!"

Dua pujian kepada yang Kuasa bergema me mecahkan keheningan disekeliling tempat itu.

Pelan-pelan Hoat hian siancu berkata.

"Sicu berdua, tidakkah kalian rasakan bahwa pembunuhan yang kalian lakukan terla mpau berat?"

Api dendam dan sakit hati segera me mbara didalam dada Keng Cin sin, dia tertawa dingin tiada hentinya, lalu ujarnya dengan nada amat sinis:

"Lantas tidak terlampau beratkah hawa pembunuhan  kalian sendiri? Tadi mereka telah melakukan pe mbantaian secara besar- besaran, dan sekarang tiba giliranku, mungkin doa ketenteraman bagi arwah tak mungkin kalian dengar lagi"

”Siancay .....siancay.... Omitohud, siancay, siancay....." Hoat hian taysu berbisik tiada hentinya, "Li sicu, harap kau jangan salah paham dengan maksud kedatangan ka mi, dosa-dosa kami di  masa la mpau pasti akan kami beri keadilan untukmu..."

Me manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini, pedang sakti kayu besi Cu Pok tertawa nyaring, ke mudian serunya:

"Hoat hian taysu, terima kasih banyak atas bantuan yang kalian berikan, sekarang ke tiga orang itu sudah terlibat dalam suatu pembantaian   manusia   secara   besar-besaran,    mereka    telah me mbunuh orang tanpa rasa peri kemanusiaan, dosanya tak dapat dia mpuni lagi, buat apa kita musti bersungkan-sungkan lagi dengan mereka?"

"Betul!" sa mbung telapak tangan e mas sukma cacad Tu Pak kim dengan cepat-cepat, "coba saksikanlah ke enam tujuh ratus sosok mayat yang tergelepar disini, semuanya ini me mbuktikan betapa buas dan ganasnya ketiga orang itu, sekalipun tubuh mere ka dicincang sa mpai hancur berkeping-keping pun  belum tentu bisa me mbayar hutang nyawa sede mikian banyaknya ini" .

Mencorong sinar buas yang menggidikkan hati dari balik mata Ku See hong, dia mendengus dingin lalu menjenge k menghina, dengan suara yang dingin seperti es katanya:

Kalian dua orang murid murtad, jangan harap hari ini bisa lepas tanggung jawab, seandainya bukan kalian manusia- manusia laknat yang mendesak mereka untuk melancarkan serangan menggila, ke enam tujuh ratus orang tersebut tak nanti akan kami bunuh, tapi justru gara-gara ulah kalian, terpaksa ka mi harus me lakukan pembunuhan secara besar-besaran demi me mbela diri.

"Sebelas manus ia yang mengaku ketua dari se mbilan partai ini pun  pernah  menggunakan  cara  yang  licik   dan   kotor   untuk me mbas mi kelo mpok jago pe mbe la keadilan yang bergabung dalam perkumpulan Hiat mo bun, dengan kami boleh dibilang sudah terikat dendam sakit hati sedalam lautan, biarpun hari ini kalian tidak muncul disini, ka mipun akau mencari  kalian untuk me mbuat perhitungan, Nah, sekarang kalian sudah datang, inilah kese mpatan yang paling baik bagi ka mi untuk me mbuat perhitungan. sembilan partai atau Ban sia kau sama-sa ma pe mbunuh dan penjahat yang keji, sekarang kalian sudah berkumpul jadi satu, apa salahnya kalau berko mplot untuk bersa ma-sa ma menghadapi ka mi? kami bertiga percaya masih berke ma mpuan untuk me mbinasakan kalian se mua"

Mendengar perkataan itu, paras muka ke sebelas orang jago dari sembilan partai besar itu berubah menjadi sangat serius, namun mereka t idak me mbantah atau pun me mberi penjelasan, semuanya orang bungkam dalam seribu bahasa.

Dengan wajah a mat serius ketua Siau lim pay Goan tong siansu merangkap tangan ke depan dada, ke mudian berkata:

"Omitohud! De mi masa depan se mbilan partai besar dalam dunia persilatan, para ciangbunjin telah mengangkat diriku untuk menyelenggarakan pertahanan serta usaha melenyapkan bibit ancaman dari muka bumi, sekarang kami datang pula  untuk menghadapi kalian "

Ku See hong mencibir kan bibirnya sa mbil tertawa dingin dengan sinis, katanya:

"Kalian manus ia- manusia munafik yang berlagak sok pahlawan, sok gagah, bila ingin me makai cara yang rendah dan terkutuk untuk menghadapi ka mi, silahkan saja digunakan se mua”.

"Aku kuatir kalau se mbilan ketua partai silat ini bakal ma mpus semua disini"

Pedang sakti kayu besi Cu Pok menjadi gembira sekali menyaksikan adegan tersebut, sekulum senyuman bangga se mpat menghiasi ujung bibirnya, sambil tertawa dingin dia lantas berpikir:

"Biarkan saja mereka saling gontok-gontokan sendiri  sa mpai pada terluka atau mampus, sedang aku akan menjadi si nelayan yang beruntung dan tinggal me mungut hasil... heeehhh heeehhh

tampaknya dunia persilatan me mang ditakdirkan akan terjatuh ke tanganku." Belum selesai dia berpikir, mendadak terdengar lagi suara bentakan keras yang meme kikkan telinga berge ma me mecahkan keheningan:

"Tumpas kawanan manus ia laknat itu"

Serentak ke sebelas jago dari se mbilan partai besar itu mengangkat telapak tangan masing- mas ing sa mbil melancar kan sebuah pukulan dahsyat.

"Weeesss.. !" deruan angin puyuh yang sangat dahsyat segera bergema diangkasa.

Angin puyuh yang maha dahsyat disertai desingan angin tajam segera menyapu seluruh jagad, apalagi dua puluh dua gulung angin serangan tersebut bergabung menjadi satu dan menyapu bersa ma- sama, bisa dibayangkan betapa mengerikannya keadaan se maca m itu.. .

Akan tetapi serangan gabungan yang maha dahsyat itu bukan ditujukan ke arah Ku See hong, Keng Cin sin atau Hoa Soat kun, diluar dugaan ternyata serangan mana dilontarkan ke arah Pedang sakti kayu besi Cu Pok, telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim serta ketua Thi kiong pang si tombak terbang berwajah besi Seng Ko piau, tiga manus ia jahanam tersebut.

Deruan ingin puyuh yang menyapu jagad, dengan cepat menghanta m setiap benda yang dijumpainya...

Tenaga serangan yang luar biasa dengan kekuatan yang menghancur kan itu segera meluncur datang dari suatu sudut yang sangat aneh serta mengurung ke tiga manusia laknat tersebut dari arah delapan penjuru.

Mimpi pun Pedang Sakti kayu besi Cu Pok sekalian bertiga tak pernah menyangka kalau se mbilan jago dari se mbilan partai besar itu akan menyerang dirinya, bahkan menyerang dengan serangan yang begitu berat. Baru saja mereka terperanjat oleh kejadian itu, segulung tenaga serangan yang maha dahsyat tersebut sudah menyapu tiba dengan hebatnya ....

Suatu keinginan untuk me mpertahankan hidup me mbuat mereka me lo mpat mundur tanpa terasa ....

Kemudian dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya, mereka mengayunkan telapak tangan  mas ing- masing me lancarkan pula sebuah pukulan dahsyat...

Perlu diketahui, ke sebelas orang dari sembilan partai besar itu merupakan pe mimpin dari suatu perguruan, tenaga dalam mereka amat se mpurna, dita mbah lagi mere ka  me mang berhasrat untuk me mbinasakan ke tiga orang itu, tidak heran kalau serangan yang mereka lancarkan sekarang telah me mperguna kan tenaga dalam hasil latihan mere ka sela ma e mpat lima puluh tahun.

Terdengar suara desingan yang memekikkan telinga me mbentur satu sama lainnya...

Lalu ditengah pusaran angin tajam yang berpusing di per mukaan tanah..

Tiga kali jeritan ngeri yang me milukan hati berge ma me menuhi seluruh angkasa.

Pedang Sakti kayu besi Cu Pok, Telapak tangan e mas sukma cacad Tu Pak kim serta ketua Thi kiong pang si tombak terbang berwajah baja Seng Ko piau segera mencelat seperti layang-layang yang putus benang dan bergulingan sejauh tiga kaki lebih dari posisi semula.

Sebetulnya Ku See hong, Keng Cin sin dan Hoa Soat kun telah menghimpun tenaga dalam mereka sa mbil bersiap sedia menerima datangnya ancaman lawan.

Sungguh tak pernah mereka duga, ternyata ketiga  manusia  laknat itulah yang me mperoleh serangan dari mereka, kenyataan ini tentunya me mbuat mereka jadi tertegun dan berdiri me longo , Cu Pok, Tu Pak kim dan Seng Ko piau segera me muntahkan tiga empat kali darah kental, wajahnya pucat pias seperti mayat, seluruh badannya gemetar keras menahan rasa sakit ....

Dengan sorot mata penuh perasaan dendam dan benci, Pedang sakti kayu besi Cu Pok mengawasi musuh- musuhnya, kemudian dengan suara keras ia me mbentak:

"Tak pernah kusangka  kalian  sembilan  partai  besar  ternyata me lakukan perbuatan yang begini rendah dan tak tahu malu dengan bekerja sama, bersama manusia manus ia keja m, kaaa.... kalian....

kalian "

Tak sempat ucapan tersebut diselesaikan, pergolakan  hawa darah didalam dadanya me mbuat dia me muntahkan ke mba li darah segar .... .

Hoat hian taysu segera me mbentak dengan suara dala m.

"Cu Pok, kalian sudah banyak melakukan dosa dan kesalahan, sampai sekarang apakah kalian belum juga mau bertobat?"

Sambil berkerut muka menahan rasa sakit yang luar biasa, telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim mengumpat dengan penuh kegusaran,

"Kalian manusia- manusia dari se mbilan partai besar ternyata begini kejam dan jahat, sama sekali tak tahu peraturan dunia persilatan, kalian lebih  rendah dari pada binatang, walaupun sekarang kami sudah terluka akibat ulah kalian yang pengecut, namun bukan berarti kami akan menyerah dengan begitu saja, selama masih ada kekuatan dalam tubuh kami, akan  kubunuh dahulu kalian beberapa orang "

Telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim tahu bahwa sepanjang hidupnya dia selalu licik, banyak me makai tipu muslihat dan banyak me lakukan kejahatan, tapi dia merasa orang-orang sembilan partai yang berada dihadapannya justru jauh lebih rendah, licik, dan jahat ketimbang mere ka. Hawa pembunuhan segera meliputi seluruh wajah Goan tong taysu, ketua dari Siau lim pay, dengan suara keras bentaknya:

"Toyu sekalian, mar i kita selesaikan nyawa mereka dengan segera. .!"

Begitu perintah diturunkan, bayangan  manusia  nampak berkelebat lewat, sebelas orang jago dari sembilan partai besar itu dengan cepat mengepung Cu Pok sekalian bertiga ditengah arena.

Ku See hong tertawa dingin, secepat kilat dia menerobos masuk ke dalam lingkaran kepungan para ciangbunjin dari se mbilan partai, lalu dengan wajah dingin dan kaku, ujarnya ketus:

"Kalian manusia- manusia dari se mbilan partai besar jangan harap bisa mengus ik seujung ra mbutpun dari musuh besarku ini"

"Ku Sicu" kata Hoat hian taysu pelan, "tenaga  dalam  kalian belum pulih ke mbali, tak usah repot-repot lagi mesti turun tangan, biar kami saja yang me mbereskan kawanan ma nusia laknat itu"

Nada suaranya lembut, ramah dan penuh rasa perhatian. Ku See hong tertawa dingin, ke mudian ujarnya.

"Heeehhh.... heeeehhh... heeeehhh... semenjak kapan sih aku orang she Ku telah mengikat perhubungan dengan kalian manus ia- manus ia dari sembilan partai besar? hmmm, setelah aku  berhasil me mbunuh musuh besarku nanti, akan kuminta dari kalian se mua!"

Sementara itu, Hoa Soat kun bersa ma Keng Cin sin telah menerjang ma ju pula seperti sukma gentayangan.

Mencorong sinar penuh perasaan dendam dari balik mata Ku See hong, ditatapnya sekejap ke tiga manusia laknat tersebut kemudian ujarnya dingin:

"Cu Pok. Tu Pak kim, Seng Ko piau, hari ini apa lagi yang ingin kalian katakan? Bila tiada perkataan lain, aku orang  she Ku  akan  me mbers ihkan perguruanku dari noda hitam dan menuntut balas bagi ke matian ke dua orang tuaku" Pucat pasi wajah ke tiga manus ia laknat tersebut, bahkan lebih pucat daripada mayat, mereka tahu keadaan mereka sekarang sangat kritis dan terancam bahaya maut.

Namun bila seseorang sudah tersudut dan putus asa, seringkali akan timbul tekad didalam hatinya untuk melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga atau berusaha untuk melarikan diri, meski mereka tahu harapan semaca m itu t ipis sekali, na mun berusaha untuk me mpertahankan hidup me mang merupakan ciri khas dari manus ia.

Ketua Thi kiong pang, si to mbak terbang berwajah besi Seng Ko piau segera mengayunkan tangan kanannya ke depan, tiga batang tombak terbang yang tajamnya luar biasa, dengan diir ingi serentetan suara yang nyaring menyelinap ke depan dalam formas i segi tiga, langsung menganca m Ku See hong.

Sementara tubuhnya tidak tinggal dia m, dengan cepat dia melejit pula ketengah udara bersiap-siap untuk me larikan diri.

Jarak antara kedua belah pihak begitu dekat, sedang sambaran tombak terbang tersebut cepat mengejutkan, dalam waktu singkat senjata-senjata tersebut telah berada beberapa depa di depan Ku See hong.

Mendadak-

Pekikan nyaring yang me me kikkan telinga bergema me me nuhi angkasa, bagaikan seekor burung rajawali  raksasa  Ku  See  hong me layang ke tengah udara.....

Pedang mestika Hu thian seng kiam yang berada dalam genggamannya segera bersatu padu dengan tubuhnya, seperti naga sakti yang bermain di angkasa, secepat kilat dia melancar kan serangkaian serangan dengan kecepatan tinggi.

Sedemikian cepatnya serangan tersebut, sehingga pada hakekatnya tak bisa dibedakan ma na cahaya pedangnya dan mana cahaya pelanginya .....

"Triiiiing, triiiiing .! Traaang..!" Traaang " Serentak suara benturan nyaring yang memekikkan telinga berkumandang diudara, ketiga batang tombak terbang tersebut tahu-tahu sudah terpapas oleh cahaya pedang sehingga hancur dan berkeping-keping.

Menyusul kemudian ........

Jerit kesakitan yang  menyayatkan  hati  berkumandang  pula  me mecahkan keheningan .....

Ketua Thi kiong pang, si to mbak terbang berwajah besi Seng Ko piau yang masih mela mbung diudara tahu-tahu sudah terpapas oleh sambaran pedang si anak muda itu sehingga kutung menjadi t iga bagian, darah segar memancar kee mpat penjuru dan menyebar ke sekeliling situ, keadaannya sungguh me ngerikan.

Mendadak, pada saat itulah ....

Pedang Sakti kayu besi Cu Pok dan Telapak tangan e mas sukma cacad Tu Pak  kim  seperti  anjing  yang  kena  digebuk,  serentak me mba likkan badan dan me larikan diri terbirit-bir it ....

Ku See hong berpekik nyaring, suara pekikannya  keras  hingga me la mbung ke tengah udara...

Dibalik suara pekikan ma na teriring nada yang penuh rasa dendam, benci, sedih dan duka.

Begitu suara pekikan bergema, tubuhnya yang berada ditengah udara segera berjumpalitan berulang kali, kini arahnya langsung tertuju ke tubuh si Telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim yang sedang me larikan diri.

Gaya serangan ilmu pedangnya sungguh dahsyat seperti air bah yang  menjebolkan  bendungan,  selapis  cahaya  pedang   yang   me mbukit diiringi kilauan cahaya yang tajam dan hawa pedang yang berlapis-lapis dengan cepat menyerang batok kepala Tu Pak kim.

Pekikan keras  yang   diiringi   jeritan   kesakitan   yang   amat me milukan hati sekali lagi berkumandang me mecahkan keheningan, batok kepala Tu Pak kim tahu-tahu terhajar oleh cahaya pedang yang tajam itu sehingga hancur berantakan tak berwujud lagi, percikan darah me ma ncar pula ke ma na- mana.

Tampaknya rasa benci dan dendam Ku See hong belum puas terlampiaskan, sekali lagi pedang Hu thian seng kiamnya diayunkan ke bawah, bagaikan Kwan kong me mbacok kayu, tubuh Tu Pak kim yang sudah kehilangan batok kepala itu segera terbacok hingga kutung menjadi dua bagian.

Tiba-tiba cahaya pedang, kembali menya mbar, kedua potongan badan itu sekali lagi terbacok hingga menjadi kepingan-kepingan kecil, hancuran daging dan percikan darah dengan cepat me lapisi seluruh per mukaan tanah.

Dua jurus serangan yang dipergunakan barusan selain dahsyat, dan jarang terlihat di dunia saat ini.

Semenjak Ku See hong me lejit ke udara pedang dan tubuhnya bersatu padu, sampai dia me mbunuh Seng Ko piau ke mudian mencincang tubuh Tu Pak kim, serangkaian gerakan tersebut boleh dibilang dilakukan beruntun dan me makan waktu yang relatip a mat singkat. 

Terutama sekali ke t iga bacokan pedangnya untuk me ncincang tubuh Tu Pak kim, kecepatannya betul-betul menggidikan hati orang, sampai sampai Hoa Soat kun si tokoh dunia persilatan no mor wahid itupun dia m-dia m merasa kagum.

Pikirnya ke mudian di dalam hati:

"Heran, mengapa sedemikian cepatnya dia berhasil me mperoleh ke mbali tenaga dala mnya? Bahkan tenaga dalamnya seakan-akan semakin berta mbah hebat?"

Yaa, benar! Tenaga dalam yang dimiliki Ku See hong me mang telah bertambah maju setingkat lagi.

Seperti diketahui dia telah me mpero leh warisan tenaga murni dari Bun ji koan su, kemudian dengan bakatnya yang bagus dan rejekinya yang baik, tanpa sengaja dia berhasil menghisap darah mestika naga bumi yang langka. Namun oleh karena hawa murni dan sari darah mestika itu belum dapat terhisap sama sekali oleh tubuhnya, selama ini  kekuatan mana hanya tersimpan di dalam sum-sumnya.

Namun setiap kali dia selesai me lakukan pertarungan sengit atau getaran yang cukup keras, sari hawa murni dan darah mestika itu sedikit de mi sedikit terhisap oleh tubuhnya dan sebagai akibat dari kejadian ini, tenaga dala mnya pun bertambah maju setingkat lagi..

Sementara  itu,   Pedang   sakti  kayu   besi   Cu   Pok   sudah me manfaatkan kese mpatan itu untuk melarikan diri.

Keng Cin sin yang ber mata jeli segera menangkap kejadian ini, cepat-cepat dia turut me lejit ke muka.

Diiringi bentakan nyaring, telapak tangan kanannya segera diayunkan ke muka melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

DEWI

SEGULUNG hawa pukulan yang dahsyat, diiringi desingan tajam yang me mekikan telinga dengan cepat me luncur ke depan...

Perlu diketahui, ilmu silat yang dimiliki pedang sakti kayu besi Cu Pok sangat sempurna, sedang dia pun satu-satunya orang yang mender ita luka paling ringan sewaktu sebelas jago dari sembilan partai besar me lepaskan serangannya.

Ketika melihat  datangnya ancaman yang begitu hebat, dia menjadi nekad dan me mba likkan tubuhnya sambil meluncur ke bawah ....

Pedang kayu besi ditangan kanannya, di ir ingi sekilas cahaya hitam yang bertenaga hebat, segera meluncur ke tubuh Keng Cin  sin ....

Keng  Cin   sin  bukan   manusia   sembarangan,   dia   segera   me mbentak keras, sepasang telapak tangannya disilangkan berulang kali, dalam waktu singkat seluruh angkasa diliput i bayangan telapak tangan yang di sertai kekuatan dahsyat bagaikan ambruknya bukit karang saja segera me luncur ke muka.

Pertarungan yang berkobar kali ini betul-betul a mat menegangkan syaraf, begitu serangan dahsyat menggulung tiba, Cu Pok segera terdesak sampai pedang kayu besinya tak mampu dipergunakan lagi, secara beruntun dia mundur terus ke belakang, sambil me mbentak keras pedang kayu besinya diayunkan ke muka, seperti seekor ular sakti langsung menusuk ke depan ....

Serangan pedang ini aneh lagipula sakti, mau tak mau Keng Cin sin dipaksa untuk berkelit ke sa mping....

Sedangkan Cu Pok segera manfaatkan kese mpatan itu, pedang kayu besinya digetarkan, lalu melepaskan  serangan-serangan menusuk, me mbacok, menya mbar dan menggeletar.

Empat jurus serangan dahsyat yang di lancarkan secara berantai ini, ha mpir se muanya merupa kan jurus-jurus beradu jiwa, tampaknya dia sudah nekad untuk mengajak musuhnya gugur bersama.

Empat jurus serangan yang dilancarkan berangkaian ini me miliki kekuatan yang luar biasa, seluruh angkasa segera diliputi hawa pedang yang tajam dan menggidikkan hati.

Setiap serangan hampir se muanya disertai perubahan yang luar biasa, kehebatannya pun cukup me ndirikan bulu ro ma orang.

Tenaga dalam Keng Cin sin a mat sempurna, gerak serangannya pun aneh, jurus-jurus serangan yang digunakan se muanya me miliki perubahan yang tak terhitung jumlahnya, sehingga me mbuat orang lain ma u tak mau mesti ekstra hati-hati dan waspada.

Sebaliknya kee mpat jurus serangan pedang dari Cu Pok itu meski ganas keji dan hebat, sayang tak ma mpu melukai pere mpuan sakti ini. Tampak Keng Cin sin menyelinap kekiri dan kekanan dengan gesitnya, tahu-tahu keempat jurus serangan pedang ini sudah mengenai sasaran yang kosong.

Dalam pada itu Ku See hong sudah me layang turun keatas tanah dengan gerakan yang sangat ringan, ia segera berseru nyaring:

"Harap nona suka mundur, dia adalah  murid  murtad perguruanku, biar aku sendiri yang me mbereskan.. ."

Baru saja suara itu berkumandang, tahu-tahu Keng Cin sin sudah manfaatkan kesempatan disaat Cu Pok gagal dengan ke e mpat serangannya dan sebelum pedangnya berubah bentuk untuk menerjang ke sisinya.

Sementara itu tangan kirinya dengan kecepatan luar biasa dan  me lalui sudut yang aneh, tahu-tahu sudah mencengkera m pergelangan tangan kanan Cu Pok yang menggengga m pedang ....

"Traaang...traaanggg"    dentingan    nyaring    berkumandang me mecahkan keheningan, pedang kayu besinya tahu-tahu sudah rontok ke atas tanah.

Telapak tangan kanan Keng Cin sin segera diayunkan ke mba li ke depan.

”Blaaamm !"

Sebuah pukulan keras tepat menghajar dada lawan.

Paras muka Cu Pok berubah se ma kin pucat pias seperti mayat, secara beruntun dia muntahkan darah segar dua kali, setelah itu dengan sempoyongan badannya mundur ke belakang ....

Keng Cin sin tidak me ngejar lebih jauh, padahal dia me mang tidak berniat me mbunuhnya, kalau tidak, bagaimana mungkin Cu Pok sanggup menahan pukulannya?

Paras muka Cu Pok mengejang keras, kulit mukanya berkerut kencang seperti menahan penderitaan yang luar biasa, dengan pancaran sinar mata penuh rasa benci dan dendam, dia awasi Keng Cin sin dan sebelas orang dari se mbilan partai besar tanpa berkedip. Sambil tertawa dingin Ku See hong segera berkata:

"Cu Pok, diantara kawanan manusia laknat yang berada disini, nampaknya umur mu paling panjang, hal ini patut kau banggakan..."

Dengan pandangan mata penuh kebencian, Cu Pok melotot sekejap ke arah Ku See hong, lalu pekiknya:

"Cara kalian ber main kerubut bukan perbuatan seorang manus ia gagah "

"Hmmmm, siapa sih yang mengerubut kau? " jengek  Ku  See hong dengan nada sinis, "selain se mbilan partai besar bukankah kami bertiga yang kalian kerubuti?"

"Hmmmm jangan harap kau bisa lolos dari ke matian, demi adilnya untuk menghadapi ma nusia yang tidak bersenjata seperti kau, pedang kayu besi ini akan kuke mbalikan kepada mu "

Begitu selesai berkata, Ku See hong telah me mungut pedang kayu besi tersebut dari atas tanah dan me le mparkan ke depan.

Setelah menerima pedang kayu besinya, mendadak Cu Pok merendahkan tubuhnya lalu me lalui sebuah sudut yang aneh, pedang kayu besinya menciptakan tiga titik cahaya bintang yang segera menusuk jalan darah Tay meh hiat, Ngo siu hiat serta wi to hiat ditubuh Ku See hong.

Perubahan ini dilancarkan dengan gerakan yang aneh serta kecepatan bagaikan sa mbaran petir.

Melihat datangnya ancaman tersebut, mencorong sinar tajam yang menggidikkan hati dari balik mata Ku See hong, dia tertawa dingin...

Bagaikan sukma gentayangan tubuhnya segera berkelebat maju ke muka, pedang Hu thian seng kiam yang berada ditangan kanannya diputar la lu me mba lik ke atas ....

Gerak serangan pedang itu membe lah angkasa dan me mercikkan cahaya yang sangat menyilaukan mata. Hawa pedang yang menggidikkan, diiringi suara yang tajam dan cahaya yang menyilaukan mata, langsung meluncur ke arah depan, tapi tidak mudah ditebak ke arah ma nakah serangan tersebut akan di tuju.

Terdengar  jeritan   ngeri   yang   me milukan   hati   berge ma me mecahkan keheningan di sekitar sana..

Lengan kanan Cu Pok yang menggenga m pedang tahu-tahu sudah berpisah dengan badan, darah kental segera memancur  keluar dari mulut lukanya, me mbuat Cu Pok kesakitan  setengah mati.

Sekujur badannya gemetar keras, sepasang giginya saling beradu keras-keras ....

Paras muka Ku See hong dingin dan kaku, sama sekali tidak berperasaan, sementara dari balik matanya mencoro ng sinar mata tajam yang sukar dimengerti ma ksudnya, sambil me mungut ke mbali pedang kayu besi itu dengan tangan kirinya, dia me mbentak.

"Sa mbut ke mba li pedangmu ini!"

Cu Pok benar-benar a mat perkasa, kebuasannya pun mencapai pada puncaknya, begitu menerima pedang kayu besinya dengan tangan kiri, ia me mbentak keras.

Tubuhnya segera berputar cepat, pedang kayu besinya digetarkan menciptakan serentetan cahaya berwarna hitam, hawa pedangnya dengan diiringi desingan tajam langsung menusuk ke tempat ke matian di tubuh Ku See hong.

Serangan tersebut datangnya amat cepat dan jarang sekali dijumpai di kolong langit.

Ku See hong benar-benar merasa kagum sekali, dia tak mengira dalam keadaan luka yang begini parah, ternyata dia masih me miliki ke ma mpuan seperti ini.

Pekikan nyaring segera berge ma me mbe lah angkasa ...... Pedang Hu thian seng kiamnya dengan menciptakan selapis cahaya tajam langsung mene mbusi kabut cahaya hitam yang diciptakan Cu Pok ....

"Traanggg "

Benturan nyaring yang diiringi percikan bunga api berlangsung di tengah udara.

Ke dua bilah pedang tersebut segera bertautan antara yang satu dengan lainnya.

Pedang kayu besi milik Cu Pok tersebut entah terbuat dari bahan apa, ternyata pedang Hu thian seng kiam yang begitu tajam itu tak berhasil me mapas kutung senjata itu.

Pekik kesakitan bergema di udara, percikan darah segar menyebar kee mpat penjuru.

Pedang kayu besi milik Cu Pok t idak terpapas kutung, namun lengan kirinya berikut batas bahunya terpapas kutung dan rontok ke atas tanah.

Dengan demikian kedua belah lengannya terpapas kutung  semua, darah segar bagaikan pancuran segera menyembur keluar dari mulut lukanya dan menyebar ke mana- mana.

Dengan kening berkerut dan hawa pembunuhan menyelimuti wajahnya, Ku See hong menggerakkan pedang Hu thian seng kiam yang berada di tangan kanannya langsung ditujukan kedepan dada Cu Pok..

Gemetar keras seluruh tubuh Cu Pok menahan rasa sakit yang me lilit, wajahnya mengejang se makin keras sehingga mukanya menyeringai seram, peluh jatuh seperti hujan gerimis, entah dia sedang ketakutan, ataukah sedang menahan penderitaan yang luar biasa.

Tapi yang pasti dia merasa ngeri dan ketakutan, merasa takut menghadapi ke matian.... Ku See hong tertawa dingin  dengan nada  sinis  dan menghina,  ke mudian ujarnya:

"Cu Pok, kau tidak menyangka bukan akan merasakan ngerinya menghadapi ke matian seperti apa yang kau alami hari ini...

"Hmmm, disaat kau sedang berbuat kejahatan dan menganiaya orang lain, pernahkah kau rasakan pula penderitaan yang dirasakan orang lain? "

Cu Pok me mbuka bibirnya, lalu berbisik dengan suara yang bergetar keras karena gemetar:

"Kau .... kau pun terlalu keji "

"Hmmm, tidakkah kau rasakan bahwa cara kerjamu justru lebih kejam, lebih munafik dan pengecut?"

Sembari berkata, Ku See hong yang tak berperasaan menggerakkan pedang Hu thian seng kia mnya dan pelan-pe lan menusuk ulu hatinya...

Sorot mata Cu Pok yang me mancarkan sinar kebuasan la mbat laun sema kin me mudar, tubuhnyapun pelan-pelan terjongkok ke atas tanah.

Dalam keadaan beginilah dia telah mengakhiri hidupnya yang penuh dengan dosa.

Ku See hong masih tetap menggengga m pedang Hu thian seng kia mnya yang me mancarkan sinar taja m,  ke mudian  pelan-pe lan me mba likkan badan, hawa pembunuhan mas ih menyelimuti seluruh wajahnya, dengan sorot mata yang dingin di awasinya ke sebelas jago dari se mbilan partai besar itu tanpa berkedip.

"OMITOHUD.....” bisik Hoat hian taysu dengan suara pelan, "siancay,   siancay....   moga-moga   Thian   me mbantuku   untuk me lenyapkan badai pe mbunuhan berdarah ini dari muka bumi"

"Tidak sulit bila kalian ingin menghilangkan anca man badai pembunuhan berdarah ini, asal ka mu semua dapat mengungguli kami" kata Keng Cin sin ketus. Paras muka Goan tong siancu, ketua Siau lim pay segera berubah menjadi a mat serius, katanya pelan.

"Li sicu, tahukah kau apa sebabnya kami se mua datang ke tempat ini?"

"Mengapa aku mesti menca mpuri urusan  kalian?" jengek Keng Cin sin dingin, "apa lagi kalau dihitung-hitung, diantara kita berdua masih terikat dendam sakit hati sedalam lautan"

Hoat hian taysu menghela napas sedih.

"Aaaai, bunuh membunuh, balas me mbalas akan berlangsung tiada hentinya dalam dunia persilatan..."

Sambil tertawa dingin Ku See hong segera menukas.

"Kalian pandai benar  berbicara  yang  welas  kasih,  pantang  me mbunuh,  tapi  aku   ingin   bertanya,   apa   sebabnya   kalian me mbunuhi anggota Hiat mo bun? Dan dua puluh tahun berselang mengapa kalian turut menghadiri pertempuran di bukit Soat san?"

"Nasi sudah menjadi bubur, kesalahan besar pun telah diperbuat, buat apa masa la mpau disinggung ke mbali? Lebih  baik kita bicarakan persoalan yang berada didepan mata saja!"

"Hmmmm, apalagi yang must i kita bicarakan? Dibicarakan pun pembunuhan akan dilakukan, tidak dibicarakan pun pe mbunuhan tetap akan berjalan .....!" seru Keng Cin sin sa mbil menahan rasa bencinya.

"Sicu!" kata Goan tong siancu dengan suara dalam, "benarkah kalian begitu ge mar me mbunuh?"

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjut kan.

"Perlu diketahui, Thian mencintakan umatnya di dunia ini untuk hidup berda mpingan secara dama i dan saling hor mat menghor mati, tapi perbuatan sicu sekalian terlalu keji dan me ma ndang enteng Firman Thian, lolap sekalian benar-benar merasa sayang untuk kebagusan bakat sicu bertiga" "Siapa sih yang menyuruh kalian keledai-keledai gundul menyayangkan kami?" tegur Seng sim cian li Hoa Soat kun dingin, "lonio lihat, manusia- manusia yang me mbaca doa dimulut, kejam seperti ular dihati maca m kalian tak baik dibiarkan hidup terus.

"Hmm, kedua anak muda itu terpaksa mela kukan pe mbantaian, hal ini disebabkan keadaan yang terpaksa, maka pembunuhan harus dilakukan demi me lenyapkan anca man bahaya bagi dunia persilatan, apa salahnya melakukan hal ini? Me mbunuh kaum manusia laknat merupakan perbuatan sosial, siapa bilang perbuatan ini jahat?"

Ke sebelas orang dari se mbilan partai besar tersebut tak seorangpun yang kenal dengan Hoa Soat kun, ketika mendengar ucapannya yang mengandung nada teguran ini, kontan saja se mua orang merasa terperanjat.

"Siapakah orang ini?" ingatan tersebut dengan cepat melintas dalam benak mereka. "kalau dilihat dari usianya, paling banter baru tiga puluh tahunan, namun rambutnya telah beruban semua, belum pernah ku dengar dalam dunia persilatan terdapat perempuan semaca m ini ........

Sementara itu Hoat hian taysu telah manggut- manggut seraya bertanya:

"Bolehkah aku tanya, sejak kapan kau terjun kedalam dunia persilatan? Maaf lolap "

Seng sim cian li Hoa Soat kun mendengus dingin.

`Hmm, ketika aku terjun kedalam dunia persilatan, mungkin kau masih belum lulus dari perguruan, tentu saja kau tidak akan mengenali siapakah aku."

Tatkala semua orang mendengar perkataan ini, kontan saja mereka mengumpat didalam hati:

"So mbong a mat lagak orang ini ...... Padahal usia Hoa Soat kun hampir setaraf dengan usia Hoat Hian taysu yakni sekitar tujuh puluh tahunan. meski demikian apa yang diucapkan Hoa Soat kun tidak salah.

Ternyata kebanyakan hweesio yang selesai belajar silat di Siau lim pay rata-rata usia mereka sudah mencapai tiga puluh tahunan, padahal Hoa Soat kun sudah mulai menjago i dunia persilatan semenjak berusia delapan belas tahun.

Dengan suara dingin Ku See hong segera berkata.

"Lo cianpwee ini tidak lain adalah jago no mor wahid didalam dunia persilatan saat ini, Seng sim cian li Hoa Soat kun locianpwee adanya"

Setelah mendengar nama tersebut, para ciangbunjin  dari  sembilan partai besar baru merasa terperanjat, mmpipun mereka tidak mengira kalau pere mpuan ini, adalah Seng sim cian li Hoa Soat kun yang kelima puluh tahun berselang mengangkat nama bersa ma Bun ji koan su Him Ci seng.

Dengan sikap yang berubah menjadi hor mat sekali, Hoat hian taysu berkata.

"Ooooooh, rupanya Hoa  sicu,  kalau  begitu  tolong  kau  sudi  me mbantu kami untuk menghilangkan anca man bencana pada hari ini"

"Aku tidak sudi mengurusi pelbagai persoalan seperti itu, dendam sakit hati kalian, lebih baik kalian sendiri yang selesaikan!"  seru Seng sim cian li Ho Soat kun dingin.

"Sudah, tak usah banyak bicara lagi" bentak Keng Cin sin pula. "aku hendak menuntut balas bagi ke matian sebelas orang saudara kami...'.

"Li sicu, benarkah kau me mandang begitu rendah atas nyawa manus ia...?" ucap Goan tong siansu sa mbil menghela nafas sedih. "Rendah atau tidak rendah itu urusan lain, yang pasti aku tak pernah me mbunuh orang baik, aku hanya me mbantai mereka yang tergolong manusia laknat"

'Li sicu, kami sudah menyatakan penyesalan yang sedalam- dalamnya terhadap keterlibatan kami dalam peristiwa di bukit Soat san serta pembantaian berdarah pada perguruan kalian...

Keng Cin sin tertawa dingin.

"Heeeehhh..... heeehhh......  heeeeh.....  kau  anggap  beberapa le mbar nyawa tersebut bisa dihilangkan rasa dendam kesumatnya hanya dengan pernyataan penyesalan kalian?”

"Sicu" Goan tong siansu ikut berbicara, ”kami bukan takut mati, tunggulah sa mpai kami me nyelesaikan perkataan lebih dulu sebelum me mber i keadilan buat kalian, kau pun t idak usah turun tangan sendiri, karena kami bisa me mbereskan kami sendiri untuk menebus dosa-dosa kami."

Dengan wajah yang ha mbar tanpa perubahan e mos i, Keng Cin sin bertanya.

"Kalian bersebelas hendak bunuh diri di sini? Hmmm, o mong kosong!"

”Kalian bersenjata lengkap maca m hendak menghadapi musuh tangguh saja, siapa yang bakal percaya dengan obrolan kalian?"

Dengan perasaan pedih Hoat hian taysu berkata:

"Sicu, setiap hutang ada pemiliknya, masa kau menghendaki nyawa kami se mua? Apalagi orang-orang yang  mengerubuti  dan me mbunuh anggota perkumpulan kalian bukanlah ka mi sembilan partai besar "

"Lantas siapakah yang me lakukan pe mbunuhan tersebut?'

"Bu lim jit hun, tujuh sukma gentayangan dari dunia persilatan" Goan thong siancu menghela napas panjang, "tentu saja kami berdosa karena turut menghadiri peristiwa tersebut, namun lolap bersumpah kepada langit, tak seorang pun dari sembilan ciangbunjin se mbilan partai besar yang melakukan pe mbunuhan atas seorang anggotapun dari perkumpulan kalian"

"Sungguhkah perkataan ini?" jengek Ku See hong sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Dengan suara pedih Goan tong siansu berkata lagi:

"Ku sicu, perbuatan kami terhadap Hiat mo bun te mpo hari merupakan kesalahan terbesar yang pernah kami  perbuat  selama ini, untuk menyatakan penyesalan kami, lolap bersedia mengorbankan diri, na mun lolap pun me minta suatu permintaan yakni berharap Ku sicu sekalian hanya menganggap kesalahan ini sebagai kesalahan kami, janganlah mencari balas terhadap partai lain, sesuatu persoalan ini, kami se mbilan partai besar pun bersedia mengurung diri serta tidak menca mpur i urusan dunia persilatan lagi.”

"Kini sicu sekalian telah me lakukan pembantaian secara besar- besaran, hampir boleh dibilang segenap kekuatan inti dari dunia persilatan tewas ditangan kalian, kami berharap sicu sekalian bersedia me mikirkan kesejahteraan umat manus ia dalam dunia persilatan dengan tidak me lakukan pe mban-taian lagi, Bila sicu enggan mengabulkan per mintaan kami ini, terpaksa kami pun harus mengorbankan diri se muanya disini. Cuma sebelumnya lolap masih ada perkataan yang terakhir.

'Me mbunuh orang paling banter hanya merobohkan mereka ke tanah dan mengirim sukma mereka ke alam baka, seperti anggota Ban sia kau yang bergelimpangan menjadi mayat pada hari ini, betapa pun termashur nya nama mereka, sampa i akhirnya toh akan menjadi seonggokan tanah lagi, nama besar ratusan tahun akhirnya cuma kosong belaka, apalah gunanya mesti berbuat yang tidak- tidak?

"Nah, sekarang lolap sudah selesai berbicara, moga-moga saja setelah kematian lolap nanti, sicu bersedia untuk berpikir tiga kali lebih dulu sebelum melakukan perbuatan apapun. "Hoat hian susiok, harap kau orang tua suka menerima ke mba li tongkat  Lik giok  sian  ciang  ini   serta   menghadiahkan  sebuah ke matian untukku"

Dengan air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya, Hoat Hian taysu berbisik pedih:

'Masalahnya telah berkembang menjadi begini, Goan tong sutit, berkorbanlah dengan gagah berani. Dunia persilatan akan selalu teringat akan pengorbananmu ini"

Hoat hian taysu merasa sedih sekali, dengan hor mat dia lantas menerima kembali la mbang kekuasaan dari Siau lim pay, tongkat Lik giok sian ciang.

Mendadak Hoan tong siansu duduk bersila diatas tanah sambil merangkap tangannya didepan dada, wajahnya kelihatan begitu tenang, seakan-akan sama sekali tidak me mandang serius soal nama dan kedudukan, ini me mbuktikan kalau dia me mang bersedia untuk mengorbankan diri.

Sepuluh orang jago dari sembilan partai besar lairinya  sama- sama me mperlihatkan wajah sedih dan perasaan murung yang sangat tebal, bahkan sempat berkaca- kaca.

Ku See hong, Keng Cin sin dan Hoa Soat kun tiga ge mbong iblis laki pere mpuan dari dunia persilatan ini tetap menunjukkan wajah yang begitu dingin dan kaku,  bahkan  dari sorot mata  merekapun me mancarkan sinar mata yang dingin tanpa perasaan.

Mendadak Hoat hian taysu mengangkat tinggi-tinggi tongkat Lik giok sian ciangnya, lalu berkata dengan suara dala m:

"Ciangbunjin Siau lim pay angkatan ketiga puluh ena m, Goan tong siansu akan me ngorbankan diri de mi menyele matkan dunia persilatan dari bencana serta menghilangkan anca man bahaya maut yang berada di depan mata, moga-moga Budha  maha  pengasih suka menga mpuni dosa-dosanya dan me mbawanya ke nirwana.”

Ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang pedih, tapi serius sekali..... Begitu selesai berkata, Hoat hian taysu segera me mutar tongkat Lik giok sianciangnya dan disertai  kilatan  cahaya  hijau  langsung me luncur ke arah jalan darah penting di ubun-ubun Goan tong siansu.

Di saat yang a mat kritis inilah..

Mendadak melintas lewat serentetan cahaya pelangi yang sangat menyilaukan mata...

"Traaang, traaang.."

Serentetan bunyi benturan senjata yang sangat nyaring bergema pula me menuhi angkasa.

Ku See hong dengan wajah sedingin es dan pedang Hu thian  seng kiam terhunus ditangan telah menangkis datangnya sambaran toya Lik giok sian ciang tersebut.

Melihat ayunan toya itu gagal menghantam ubun-ubunnya, secepat kilat Goan tong siansu ketua Siau lim pay itu mengayunkan tangan kanannya dan langsung di hantamkan ke atas ubun-ubun sendiri...

Bayangan manus ia berkelebat lewat..

Keng Cin sin telah menyelinap ke depan sementara tangan kanannya telah mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kanan Goan tong siansu....

Melihat kejadian mana, Goan tong siansu me lototkan sepasang matanya lebar-lebar, kemudian setelah menghela napas sedih dia berkata pelan.

"Sicu, apakah  kalian  tidak  mengijinkan   kepada  kami  untuk me lakukan bunuh diri? Kalau me mang begitu, silahkan saja turun tangan sendiri "

Ku See hong turut menghe la napas panjang, setelah itu ujarnya dengan lantang. "Taysu, seperti apa yang kau katakan. Thian menciptakan umat manus ia untuk saling hor mat menghor mati dan saling sayang menyayangi, kami adalah manusia yang punya otak, kau anggap kami begitu buasnya sehingga ge mar me lakukan pe mbunuhan? ”

"Kalau toh orang yang me mbunuh angota Hiat mo bun serta mengerubut i Bun ji koan su bukan jago-jago dari sembilan partai besar.. mengapa pula ka mi mesti me mojokkan orang yang telah bertobat? Mulai saat ini semua pertikaian diantara kita telah pudar, aku orang she Ku pun tidak akan se mbarangan me mbunuh umat manus ia lagi, terutama sekali perkataan taysu benar-benar sangat mengetuk perasaan ka mi.

"Mulai hari ini aku orang she Ku berani me mberikan ja minan kepada taysu sekalian, selain me mbunuhi Bu lim jit hun dan kawanan manus ia laknat dari Huan mo kiong di Lam hay, kami tidak akan me mbunuhi umat manusia lagi,  bahkajn akan segera meninggalkan na ma dan pahala untuk hidup me ngasingkan diri di tempat yang terpencil"

Goan tong siansu terharu sekali setelah mendengar perkataan ini sambil me nahan rasa harunya dia berkata:

'Ku sicu, tidak nyana kalau jiwa mu begitu besar, hal ini me mbuat kami se mua merasa semakin malu dan menyesal atas perbuatan kami dimasa lalu, rasanya kesalahan tersebut hanya bisa ditebus dengan ke matian saja"

Sekilas sinar mata yang le mbut dan halus me ma ncar keluar dari balik mata Keng Cin sin, setelah menghe la nafas sedih, dia berkata pula.

"Taysu, mengapa kau mesti berbuat de mikian? Bila kau sa mpai mati, tentu hati kecilku ikut merasa tak tenang"

Kemudian setetah berhenti ia me lanjutkan.

"Aaai!, hanya berharap sejak kini kau sebagai  seorang ciangbunjin bisa mendidik anak mur idmu dengan lebih tegas dan disiplin lagi, didiklah mereka agar selalu melindungi keadilan serta kebenaran bagi umat persilatan. ”

"Kini anggauta Hiat mo bun sudah punah akupun sudah bosan hidup luntang-lantung dalam dunia persilatan, maka seusai menyelesaikan pelbagai masalah  yang ada aku pun hendak mengasingkan diri ke te mpat yang terpencil sana untuk me lepaskan diri dari kehidupan keduniawian yang penuh ma ksiat'

"Sicu sekalian tidak me mper masalahkan budi, lolap sekalian benar-benar  dibikin  terharu,  mulai  sekarang  kami  pasti  akan me mperbaiki   perguruan   ka mi   dengan   sebaik-baiknya   serta me mbers ihkan perguruan dari anasir yang mengacau, kini terima lah hormat dari lolap sebelum ka mi se mua hendak mohon diri"

Seusai berkata Goan tong siansu segera bangkit berdiri dan menjura dala m- dala m, setelah itu serunya kepada semua orang dengan nada berat:

"Toheng sekalian, kita pun tidak usah bercokol terus dite mpat ini

....'

Begitu selesai berkata, Goan tong siansu yang perta ma terus beranjak lebih dulu meninggalkan ruangan tersebut, sementara para jago yang lain mengikuti dibelakangnya.

Me mandang sehingga ro mbongan se mbilan partai besar menjauhi te mpat tersebut, Keng Cin sin baru me malingkan kepala dan me mandang sekejap mayat-mayat yang bergelimpangan diatas tanah, tanpa terasa dia menghela napas sedih, katanya:

"Kita pun harus pergi dari sini!" Mendadak....

Keng Cin sin me ngalihkan sorot matanya ke arah sudut ruangan

sana, kemudian agak terkejut dia me njerit keras: "'Aaaah, mengapa Him J i im tidak na mpa k disitu?"

Mendengar ucapan mana, buru buru Ku See hong bertanya: "Apa? Kau tadi meletakkannya dimana?"

Di dalam terperanjatnya dia mengira Him Ji im telah me ne mui mus ibah didalam pertarungan massal tadi.

Rasa gelisah Keng Cin sin sendiripun tak terlukiskan dengan kata- kata, dengan terkejut dia berkata:

"Tatkala pertarungan massal sedang berlangsung tadi, kubaringkan dia di atas meja altar sebelah sana.. waktu itu jalan darah tidurnya masih belum dibebaskan, dia masih tertidur nyenyak sekali.

Sembari berkata, dengan gerakan tubuh yang enteng sekali seperti burung walet yang terbang melintas, dia melewati mayat- mayat yang bergelimpangan di atas tanah dan langsung meluncur ke depan meja altar yang dimaks udkan.

Hoa Soat kun serta Ku See hong segera menyusul pula dibelakangnya.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu Keng Cin sin mengawasi sekeliling te mpat tersebut dengan seksama, namun sekitar tempat itu berada dalam keadaan kosong tak berpenghuni, namun dimeja terlihat ada sepucuk surat yang ditancapi dengan pisau belati.

Begitu menyaksikan surat dimeja, Keng Cin sin segera dapat menduga apa gerangan yang sesunggguhnya telah terjadi, dia segera menghela napas panjang.

Suara helaan napas itu jelas mengandung perasaan sedih, murung dan me nyesal, karena dia tahu lagi-lagi kekasihnya Ku See hong akan dihadapi dengan sebuah percobaan.

Sementara itu Ku See hong telah berteriak-teriak keras: "Adik Im! Adik Im... Kau berada dimana.... adik Im...'.

Ditengah teriakan tersebut, dia telah menerjang masuk ke dalam ruang Cun Kiong t ian, waktu itu asap tebal berwarna hitam yang menyelimuti seluruh ruangan telah buyar terhembus angin, sedangkan jenasah Ceng Lan hiang yang se mula tergeletak diatas tanahpun kini sudah hilang lenyap tak berbekas.

Dengan suara pilu Ku See hong segera melayang keluar dari ruangan itu, ucapnya sedih.

"Dia... dia telah pergi..."

"Benar" kata Keng Cin sin pula sambil me mper lihatkan sa mpul surat yang diperoleh dari meja, ”dia telah pergi meninggalkan tempat ini secara dia m-dia m"

Tadi Ku See hong tidak me lihat surat tersebut, buru-buru diterimanya dengan sepasang tangan gemetar keras, kemudian diperiksa isi surat tersebut.

Tulisan dalam surat itu sangat indah dan lembut, terbaca olehnya isi surat tersebut berkata de mikian:

"Engkoh Hong!

Pertama-tama aku ingin me mohon maaf kepada mu karena aku pergi tanpa pamit, aku berbuat demikian karena aku tahu, bila kukatakan niatku yang sebenarnya,  sudah  pasti  kau  tak  akan  me mbiarkan aku pergi, aku sendiripun t idak berkeberanian untuk pergi meninggalkan dirimu.

Aku tahu hatimu pasti akan sedih sekali sewaktu me mbaca surat ini, tapi aku sesungguhnya jauh lebih sedih dari pada dirimu

Engkoh Hong! Tahukah kau, hatiku re muk renda m, air mataku jatuh berlinang ketika kutulis surat ini! karena aku mencintaimu, mencintaimu dengan sepenuh hati, dengan demikian hatiku baru merasakan kepedihan yang t idak terkirakan.

Hubungan cinta kita, semua peristiwa yang kita alami serasa bagaikan suatu impian yang  indah  dan  mesra,  yang  kenyataan me mang bagaikan dalam impian, bagaikan asap yang melayang diangkasa.

Jika kita telah mendus in, impian  kita  hilang,  asap  pun  akan me mbuyar. Yang kita temui ke mudian hanya kehampaan dan kekosongan, hanya kenangan yang tak pernah akan terlupakan untuk sela manya.

Inilah kesedihan, kepedihan dan kesendirian yang amat melumat perasaan.

Walaupun hati kecilku tak ingin menerima penderitaan semaca m ini, siksaan yang menghancur kan perasaan, tapi aku harus menentang perasaanku untuk me lakukannya, bukankah banyak kejadian didunia ini yang mesti dilakukan orang dengan menentang perasaan dan suara batin?

Engkoh Hong, aku tahu hatimu akan pedih setelah me mbaca sampai disini, tapi kuharap kau jangan kelewat sedih kau pun tak usah pergi mencariku, moga- moga dalam perpisahan kita kali ini. Tuhan me mberikan rahmatnya agar kita tak pernah bersua ke mbali untuk sela manya.

Engkoh Hong, bukan aku tidak berperasaan, melainkan nasiblah yang menentukan de mikian.

Aku adalah seorang manusia yang amat  berdosa,  seorang  manus ia yang telah me mbunuh ibu kandung sendiri.

Me mbunuh ibu kandung sendiri bukan alasanku yang teruta ma mengapa aku pergi meninggalkanmu, tapi perbuatan jahat dan kebejadan moral ibuku sela ma hidupnya yang me mbuatku malu hidup sebagai manusia layak, malu untuk menda mpingi dirimu.

Oleh karenanya, kuputuskan untuk pergi meninggalkan dirimu, aku hendak mencukur rambut menjadi pendeta dan mengakhiri sisa hidupku di dalam biara, aku ingin mengurangi dosa yang pernah dilakukan ibuku se masa masih hidupnya.

Engkoh Hong, meskipun semenja k kecil aku hidup terpencil dan menyendir i, namun cinta kasih kita dalam waktu yang demikian singkatnya telah menimbulkan kehangatan yang tak terkirakan bagiku, lupakan saja aku! Untung sekali hubungan yang kita lakukan te mpo hari tidak sampai me mbuahkan benih kehidupan la in. semoga akupun dapat meninggalkan kau tanpa beban yang lebih parah.

Sebagai akhir kita, kumohon kepada mu janganlah mencari aku ke mana- mana, sebab perbuatan itu hanya akan mena mbah penderitaanku belaka.

Di dalam bigara aku selalu bberdoa bagi kebahagiaan hidupmu, semoga kau hidup senang bersama adikmu yang lain.

Dan sampai disini pula surat terakhir yang kubuat dalam perasaan yang hancur lebur ini.

Tertanda: Adikmu yang bodoh Him Ji im"

Ketika Ku See hong selesai me mbaca isi surat yang penuh

dengan kepedihan ini, ia tak dapat me mbendung air matanya lagi, sambil me ngucurkan air matanya, dengan pedih serunya:

"Adik Im, mengapa hatimu sekeras baja? Bagaimana  mungkin aku dapat melupa kan dirimu? Adik Im, ke mbalilah kau! Aku tak dapat kehilangan kau, aku tak dapat kehilangan dirimu lagi "

Suara yang serak diliputi kepedihan me mbuat siapa  pun yang ikut mendengarkan  turut  merasakan  kedukaan  yang  sangat menda la m.

Terutama sekali Keng C in sin, perasaannya boleh dibilang sudah hancur luluh ....

Kalau bisa, dia ingin me mberitahukan indentitasnya yang sebenarnya untuk menghibur pe muda tersebut, agar luka dihati kekasihnya dapat teratasi.

Namun peristiwa tragis yang pernah menimpa  dirinya  dimasa lalu, me mbuatnya merasa rendah diri, dia m-dia m ia menga mbil keputusan akan mencari ke mba li Him Ji im sa mpa i ketemu, kalau tidak, sudah pasti kekasihnya tidak akan tahan hidup sebatang kara dalam kesepian dan kepedihan. Sebab perempuan ini adalah seorang perempuan yang sangat perasa,  dia  tahu  bila  Im  Yan  cu  sa mpa i   mati,   maka   besar ke mungkinannya pe muda tersebut tak akan berkeberanian untuk hidup seorang diri.

Sebaliknya perasaan Ku See hong sendiripun sangat kalut dan diliputi berbagai ingatan yang bukan-bukan, ia teringat pula pesan gurunya bila berjumpa dengan Him ji im dia diminta me lindunginya dengan baik, sebab gadis tersebut hidup  sebatang kara dalam suasana yang serba mengenaskan ....

Teringat sampai disitu, timbul perasaan sesalnya yang amat menda la m, tiba-tiba ia berteriak keras:

'Adik Im, aku akan pergi mencarimu sa mpai ketemu, sekarang juga aku akan pergi mencarimu.....

'Kau terlampau me medihkan, aku tak bisa melepaskan dirimu dengan begitu saja adik Im...

Sambil berteriak keras Ku See hong sudah menggerakhan tubuhnya siap menerjang keluar ......

Bentakan nyaring berge ma me mecahkan keheningan, tiba-tiba Seng sim cian li  Hoa  Soat  kun  mengebaskan  tangan  kanannya me lepaskan sebuah pukulan berhawa lembut.

Pukulan itu dengan cepat menggetarkan tubuh Ku See hong sehingga tergetar mundur sejauh tiga e mpat langkah sebelum berhasil berdiri tegak.

Dari balik matanya me mancar keluar sorot mata tajam yang menggidikkan hati, di awasinya wajah Ku See hong dengan penuh kegusaran, kemudian sa mbil me mperdengarkan suara tertawa dinginnya yang menus uk tulang, dia menghardik.

"Bila kau mencar inya sekarang juga, detik ini juga akan kubunuh dirimu.

"Kau manusia yang tidak punya liangsim mengapa tidak kau pikirkan tentang mati hidup Im Yan cu yang sedang menghadapi maut? Sekarang juga kuberitahukan kepada mu, bila Im Yan cu tak dapat hidup, jangan harap kau pun bisa hidup terus didunia ini"

Terkesiap Ku See hong sesudah mendengar perkataan ini,  dengan cepat dia berpikir.

'Betul, aku mesti menyela matkan  Im Yan cu terlebih dulu sebelum pergi mencari Him Ji im..."

Tapi, sewaktu terbayang bagaimana  caranya menyelamatkan gadis tersebut, anak muda itu segera merasakan hatinya menjadi dingin separuh....

Akhirnya dengan pedih Ku See hong berkata.

'Andaikata nona Im Yan cu mati, aku pun tak ingin hidup seorang diri di dunia"

"Huuah, semenjak kapan sih cinta kasih mu  kepadanya meningkat sedemikian dalam nya?" .

"Hoa locianpwee, kau benar-benar tidak me maha mi perasaan hatiku... aaaiii..." Ku See hong menghela napas panjang.

Keng Cin sin menghela napas pula.

'Aaaai, kita harus segera berangkat, kita mesti berusaha keras untuk mencari obat penawar yang dapat me munahkarn racun di dalam tubuh Im Yan cu!"

Ku See hong, Hoa Soat  kun  dan Keng  Cin sin  bertiga  dengan me mbawa perasaan yang berbeda-beda berangkat meninggalkan tempat pembantaian tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun....

Suasana disekeliling tempat itu berubah menjadi hening, sepi dan terasa menyeramkan...

Darah kental yang me mbasahi per mukaan tanah kini berubah menjadi merah tua, bahkan me mancarkan cahaya merah yang amat menyilaukan mata. Pemandangan seperti ini sangat me medihkan dan mengenaskan hati ....

ooodewiooo

ANGIN musim gugur berhembus amat kencang,  daun-daun kering berguguran ke atas tanah....

Matahari senja telah menyelinap ke balik bukit diseberang sana, sementara kegelapan ma lam mulai menelan seluruh jagad ....

Meski nun jauh diatas sana, dijagad raya tertera bintang-bintang yang me mercikkan sinar redup, namun suasana tetap geliap gulita dan remang-re mang.

Pepohonan berdiri angker, rumput terkulai layu, betapa mengenaskan pe mandangan se maca m ini ....

Diluar sebuah kota dekat hutan belantara, terdapat sebuah bangunan kecil yang berdiri terpencil dan menyendir i.

Sepercik sinar lentera me mancar keluar dari balik ruang kecil ditengah bangunan tersebut, tiga sosok bayangan manusia berada  di bawah cahaya lentera.

Kalau dilihat dari sikap mereka yang berdiri tegak tak berkutik, dapat kita bayang kan betapa murung, sedih dan berdukanya orang-orang itu..

Angin kencang berhe mbus makin kencang diluar pintu sana, suasana duka makin tebal menyelimuti seluruh ruangan, mala m ini adalah mala m musim gugur yang me medihkan.

Tiba-tiba berkumandang suara helaan napas panjang dari balik ruangan, bayangan manusia itu pelan-pelan me mbalikkan  badan dan berjalan ke tepi jendela ke mudian mendongakkan kepalanya  me mandang cuaca dan me nutup kembali daun jendela tersebut. . . Dia berpaling kembali, la lu tanyanya kepada seorang perempuan berkerudung warna-warni.

'Apakah racun yang mengera m dalam tubuhnya akan ka mbuh ke mbali esok ma la m?.'

Orang-orang itu tak la in adalah Ku See hong, Keng Cin sin serta Hoa Soat kun, se mentara dalam ruangan la in berbaring Im Yan cu.

Setelah mela kukan pembantaian secara besar-besaran terhadap anggota Ban sia kau, mereka berangkat ke situ dan berdiam sampa i sebelas hari la manya.

Namun mereka gagal untuk me mikirkan sumber dari rumput Han si cau tersebut, seakan-akan mereka hanya menanti saat  ajal dari Im Yan cu.

Selama beberapa hari ini, kadangkala Im Yan cu mendusin dari pingsannya, tapi dua jam ke mudian ia terlelap tidur lagi dengan nyenyak.

Hari ini adalah hari ke empat belas, sehari lebih awal dari batas waktu lima belas hari ka mbuhnya kemba li racun dalam tubuh Im Yan cu.

Dengan suara pedih Keng Cin sin me nyahut:

"Yaa, esok tengah mala m, aaaii...!”

Sekarang, perasaannya sedang diliputi juga oleh rasa sedih yang tak terkirakan, oleh sebab itu dia enggan banyak berbicara lagi

Kembali Ku See hong bertanya.

"Setelah racun itu ka mbuh untuk ke dua kalinya, benarkah dia tak akan tertolong lagi?"

Keng Cin sin menghela napas pedih.

'Biasanya bila racun itu mula i bekerja untuk ke dua kalinya, saat itulah sari Im cing nya akan mengering, mesti dapat tertolong, namun tanpa Jim som berusia seribu tahun serta beberapa maca m bahan obat-obatan langka lainnya, mustahil  dia dapat hidup me lewati jangka waktu satu bulan. Tapi sayang dia telah mendapat pengobatanku   dimana   dengan   tusukan    jarum    aku    telah me mperpanjang masa ka mbuh racun itu menjadi lima belas hari lagi jadi andaikata racun itu bekerja lagi, niscaya dia akan kehabisan tenaga dan tewas, tidak mungkin dapat ka mbuh untuk ke tiga kalinya"

Berubah hebat paras muka Ku See hong setelah mendengar perkataan itu, atau dengan perkataan lain ia sudah tiada harapan lagi untuk me mperpanjang masa hidup gadis itu.

Berpikir sampa i disini, tanpa terasa titik air mata  jatuh bercucuran me mbasahi wajahnya.

Mendadak  dia mendonga kkan  kepalanya lalu dengan suara lantang me mbawakan bait lagu Dendam sejagad,

Dendam kesumat me mbentang bagai jagad. Bukit tinggi berhutan lebat disisi sebuah kuil. Sungai besar di depan kuil bero mbak besar. Dendam kesumat sepanjang abad.

Dendam kesumat me mbentang bagai jagad.

Burung gagak bersarang dirumput dikala senja. (Han sia cau). . Cinta kasih berlangsung dari muda sa mpai tua.

Me metik ka mpak me mbuat lagu: Nadanya denda m! Menitik air mata darah untuk siapa

Hati pilu menanggung derita, menyesal sepanjang masa.

Dendam kesumat me mbentang bagai jagad, Ji koan pernah berbuat salah.

Menyandang golok menunggang kuda, apalah gunanya? Salju terbang air laut se muanya ha mbar.

Dendam kesumat me mbentang bagai jagad. Curah hujan me mbuyarkan awan. Air mengalir akhirrya surut.

Dendam kesumat tak akan luntur.

Suara  nyanyiannya  amat  keras   tapi   bernada   sedih   dan  me milukan hati, apalagi dibawakan dalam suasana begini, pada hakekatnya mena mbah rawannya suasana...

Sesungguhnya Ku See hong me mbawa kan bait lagu Dendam sejagad tersebut tanpa mengandung sesuatu maksud tertentu, dia hanya ingin mela mpias kan rasa pedihnya dengan membawakan bait lagu yang dasar nya me mang me milukan hati.

Siapa tahu, suatu penemuan yang tak terduga pun segera berlangsung, setelah dia habis me mbawakan lagu Dendam sejagad tersebut ....

Begitu selesai me mbawakan bait Dendam sejagad, tiba-tiba Keng Cin sin yang ikut mendengarkan nyanyian tersebut berteriak penuh kegembiraan.

'Han sin cau .... rumput burung gagak ... sekarang teringat aku, yaaa, aku teringat sekarang .... nama rumput tersebut telah di singgung dalam bait lagu dendam sejagad!"

Hoa Soat kun turut merasakan hatinya bergetar keras, buru-buru dia bertanya:

”Apa? Kau sudah teringat tentang rumput Han sia cau?

Dimanakah benda itu terdapat?.”

"Berada dimanakah benda tersebut, kini aku belum tahu, namun kita dapat menyelidikinya”

Ku See hong sendiripun merasa terkejut bercampur ge mbira setelah mendengar perkataan itu, ujarnya dengan cepat:

''Nona, kau maksudkan bait kedua dari syair Dendam sejagad mengartikan rumput Han sia cau?" "Betul!" Keng Cin sin tertawa, "coba kau camkan arti yang sebenarnya dari kata-kata bait kedua tersebut, bukankah bait tersebut mengartikan rumput langka tersebut!"

"Benar, Han sia cau me mang dapat di temukan dalam bait syair tersebut, tapi dimanakah kita harus mene mukan rumput mestika yang sangat langka itu?''

Keng Cin siu ke mbali tertawa.

"Sekarang, tenangkan dahulu perasaan hatimu, asal pikiran kita tenang niscaya rahasia ini dapat kita pecahkan, Bun ji koan su adalah seorang manus ia yang berbakat dan pintar, sudah pasti bait syair Dendam sejagad yang dia susun tersebut mengandung  arti dan ma kna yang mendala m sekali, kalau toh na ma Han sia cau dapat kita peroleh dari bait lagu itu. berarti rumput Han Sia cau termasuk benda mestika yang sangat langka.  Mungkin Bun ji  koan su tidak berhasil me mperolehnya, tapi mungkin juga dia tidak sampai me nggunakannya, ma ka sengaja nama rumput itu disimpan dalam bait syairnya, dengan harapan kau dapat me mecahkan teka- teki ini atau tidak?

"Sebagaimana diketahui, setiap benda mestika didunia ini hanya akan diperoleh bagi mereka yang berjodoh, ma ka dia baru berbuat demikian ......

"Buktinya seperti syair pada bait perta ma, bukankah mengandung petunjuk kalau kitab pusaka Cang ciong  pit kip tersimpan didalam kuil Ngo-siang bio di wilayah sungai Cho go kang?

"Dalam bait ke dua syair Dendam sejagad yang mengertikan rumput Han sia cau ini, ia tidak menerangkan dimanakah rumput tersebut dapat diperoleh, ini bisa diartikan bahwa rumput tersebut telah berhasil diperolehnya dan disimpan didalam kuil kuno dimana ia mene mui ajalnya.

"Sekarang coba kau pikirkan ke mbali, apakah Bun ji koan su pernah me mberi sesuatu petunjuk kepadamu menjelang  saat ajalnya. Setelah mendengar pe mbicaraan dan pemecahan yang dilakukan perempuan berkerudung ini, baik Ku See hong ma upun Hoa Soat kun dia m-dia m merasa kagum sekali atas kecermatan serta ketelitian pere mpuan ini.

Dengan cepat Ku See hong me mutar otaknya untuk merenungkan ke mba li pesan terakhir apa saja yang pernah diutarakan Bun ji koan su menje lang saat ajalnya dulu, dia pun mencoba untuk merenungkan ke mbali segala petunjuk dan gerak gerik yang pernah dilakukan olehnya ....

Sekarang seluruh ruangan seolah-olah menjadi beku dan kaku, perasaan Keng Cin sin dan Hoa Soat kun terasa berat sekali.

Kurang lebih seperminum teh ke mudian.

"Aaah!, tiada sesuatu apapun yang mencurigakan!" kata Ku See hong tiba-tiba sa mbil menghela nafas.

Mendengar ucapan tersebut, dengan gusar Seng sim cian li Hoa Soat kun me mbentak:

"Coba ulangi lagi beberapa kali"

"Sudan enam kali kupikirkan, kejadian waktu itu' kata Ku See hong dengan sedih tetapi sewaktu suhu meninggal dunia, kecuali jenasahnya berdiri kaku sa mbil jari tangannya seperti rnenunjukkan sesuatu benda beliau t idak me lakukan gerakan apa-apa. Padahal jari tangan yang merupakan gerakan terakhir dari tiga jurus Ho- han seng huan yang sedang di wariskan kepadaku. ."

"Yaa, yaaa, benar kalau begitu,  sudah pasti begitulah yang dimaksudkan" seru Keng Cin sin mendadak dengan gembiranya. "persoalan ini tak boleh ditunda lagi, mar i sekarang juga kita berangkat ke kuil tersebut, aku kuatir tidak se mpat lagi kita mencapai te mpat itu.'

"Bila kita berangkat sekarang juga, mungkin besok senja kita sudah tiba di kuil itu, kalau toh keadaan sudah begini, terpaksa kita mesti menggantungkan diri pada nasib" Pada saat itulah, 'Mendadak...

Dari balik ruangan  sana  berkumandang  suara  panggilan  yang lir ih, le mah tapi le mbut.

"Engkoh Hong, dimanakah kalian?"

"Anak Im, aku segera akan datang, semua berada disini...!"

Ku See hong menyambar sebuah lentera dan buru-buru lari masuk ke ruang dala m, sedangkan Keng Cin sin dan Hoa Soat kun buru-buru mengikut i pula dibelakangnya.

Perabot yang berada dalam ruangan itu sangat sederhana, sebuah pembaringan kayu me mbentang disudut ruangan sana, seorang gadis berwajah pucat pias berbaring le mah disana, meski mukanya pucat na mun t idak me nutupi kecantikan wajahnya.

Im Yan cu yang menyaksikan kehadiran Ku See hong sekalian, segera mengulumkan senyuman yang amat le mbut dan halus, katanya agak manja.

"Engkoh Hong, tadi aku bermimpi pergi berpesiar ke suatu tempat, tempat itu indah sekali, bahkan banyak terdapat kaum le laki dan perempuan, tapi wajah mereka kelihatan riang ge mbira dan berseri-seri, ketika aku bertanya tempat manakah ini, mereka jawab tempat itu adalah sorga.

"Engkoh Hong, setelah mati nanti aku tentu akan naik ke sorga, cuma aku....aku tak ingin naik ke sorga seorang diri"

Ku See-hong tersenyum.

"Adik Im, kau tak usah berpikir  yang bukan-bukan, besok penyakitmu itu tentu akan se mbuh ke mba li seperti sedia kala.”

Im Yan cu tertawa sedih.

"Engkoh Hong, kau tidak usah me mbohongi aku, aku tahu sebentar lagi aku akan mati, Padahal mati pun bukan suatu masalah besar bagiku sebab hatiku akan selalu berada bersama mu.. dengan demikian akupun tak usah merasa kesepian" Dengan suara le mbut Keng Cin sin segera berkata pula:

"Adik lm, apa yang dia katakan benar, sebab baru saja ka mi berhasil mendapat tahu tentang rumput mest ika yang dapat menyela matkan jiwa mu itu"

Sambil tertawa Im Yan cu segera berpaling kearah Hoa Soat kun, ke mudian bertanya.

'Suhu, sungguhkah perkataan ini?'

Dengan penuh kasih sayang Hoa Soat kun me mbela i rambutnya yang hitam mulus itu la lu berbisik pelan.

"Im ji, semuanya ini benar-benar terjadi, karena suhupun merasa berat hati untuk meningga lkan dirimu"

Sekalipun Seng sim cian li Hoa Soat kun berwatak dingin kaku aneh dan tidak berperasaan, sesungguhnya dia adalah seorang yang amat mengasihi mur idnya ini, apalagi sebagian besar dari wataknya sekarang sebagai akibat dari patah hati yang pernah diala minya tempo hari.

Ketika mendengar ucapan tersebut, wajah Im Yan cu tidak mencer minkan perasaan gembira atau senang yang meluap, diawasinya langit-langit ruangan sejenak, kemudian dia baru  berkata sambil me nghela napas panjang:

"Suhu, sesungguhnya Im ji pun merasa berat hati untuk berpisah dengan kalian, na mun aku tahu pelbagai persoalan tak mungkin bisa berlangsung dengan lancar dan berkenan dihati. Sekarang, masa sadarku tinggal sedikit, apabila aku sadar ke mbali nanti mungkin saat ajalku sudah tiba, oleh sebab itu mumpung aku mas ih dapat berbicara sekarang, aku hendak menyampaikan pesan-pesan yang mungkin dapat ku utarakan,  tentu  saja  aku  pun  berharap  bisa me lanjutkan hidup ini lebih jauh"

-ooodwooo-