Dendam Sejagad Jilid 37

 
Jilid 37

RUPANYA menjelang saat ke matian  tadi, Si Hun  sia telah mengerahkan   segenap    kekuatan    yang    dimilikinya    untuk me lancarkan sebuah pukulan maha dahsyat yang langsung menghanta m bahu kiri Ku See hong, sebaliknya dia sendiri terma kan bacokan Hu thian seng kiam sehingga tubuhnya terpapas menjadi tiga bagian.

Kepalanya menggelinding keujung lapangan, tubuhnya jatuh kebawah sementara bagian pinggang mencelat kebawah mencelat sejauh beberapa kaki dari situ...

Darah segar me mancar me mbasahi seluruh permukaan rumput, tiga bagian potongan badan itu masih kelihatan bergetar-getar....

Menyaksikan pe mandangan seperti ini orang akan merasa mual saking ngerinya.

Thian leng tha mcu si Kakek berlengan iblis Khong Yu sian serta Tee hun thamcu si Penginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi yang menyaksikan  Ku  See  hong   menderita   luka   parah.   serentak  me mbentak keras, kemudian bersama-sa ma menerka m ke arah Ku See hong dengan ganasnya .....

Thi bok sin kiam Cu Pok juga tidak ketinggalan, pedang kayu besinya segera di putar me mbentuk selapis cahaya hitam yang secepat sambaran kilat menusuk ke punggung Ku See hong.

Menghadapi anca man yang bertubi-tubi ini secara aneh tubuh Ku See hong menggegos ke sa mping, begitu lolos dari anca man pedang Cu Pok, telapak tangan kirinya diputar menciptakan selapis hawa serangan yang kuat dan membendung datangnya serangan gabungan dari kedua orang tha mcu tersebut. Sekulum senyuman menyeringa i yang sinis dan penuh rasa bangga segera menghias i wajah Cu Pok, diiringi bentakan nyaring pedang kayu besinya secepat kilat menerobos  masuk  me lalui sebuah sudut yang sangat aneh sambil melancar kan selapis cahaya berwarna kehita m-hita man.

Persis bagian tengah dari cahaya tersebut, pedang Thi bok kiam langsung menyergap jalan darah sin  kin hiat ditubuh Ku See hong.....

Jurus serangan ini datangnya sangat tiba-tiba, gerakannya pun aneh sekali, di ta mbah lagi jarak antara kedua belah pihak begitu dekat, dalam waktu singkat Ku See bong sudah terancam diujung pedang Thi bok kiam tersebut.

Ku See hong  benar-benar  amat  terkesiap,  mendadak  dia menge luarkan ilmu gerakan tubuh Mi khi biau tiong sin hoat, badannya berputar dengan enteng lalu berkelebat ke sa mping.

Sekalipun begitu, gerakan serangan dari Cu Pok dengan pedang Thi bok kiamnya begitu cepat bagaikan sa mbaran kilat ......

"Sreeett....!" dengusan tajam berge ma me menuhi seluruh angkasa, tahu-tahu pakaian bagian bahu kiri Ku See hong sudah tersambar robek, darah kental segera menyembur keluar bagaikan pancuran ....

Si kakek berlengan iblis Khong Yu siang dan si Penginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi tidak a mbil dia m, secara cepat  dan ganas mereka berdua melancar kan terka man lagi.

ooodwooo

KU SEE HONG mendengus dingin, pedangnya diputar dengan cepat sambil me lepaskan bacokan maut ......

Cahaya tajam yang menyilaukan mata segera membelah angkasa dan menguasai seluruh jagad .... Hawa pedang yang menyeramkan diiringi suara desingan tajam mendengung me me kik kan telinga.

Cahaya pedang yang amat dahsyat itu dengan cepat  dan aneh me mbaco k ketubuh dua orang tha mcu tersebut.

Jurus serangan ini selain dilancarkan secara aneh, juga mencapai kecepatan yang mengerikan.

Si penginjak salju tanpa bekas dan kakek berlengan iblis merasa terperanjat sekali, gerakan tubuh mere ka yang mela kukan tubrukan segera ditahan ditengah jalan dan berputar ke sa mping kiri dan kanan....

Hawa napsu me mbunuh telah menyelimuti seluruh wajah Ku See hong, dia tertawa seram:

Tubuhnya bagaikan sukma gentayangan, tahu-tahu sudah menyelinap ketengah-tengah musuhnya yang sedang berkelit kekiri dan kanan itu, ke mudian sa mbil me lakukan suatu gerakan berputar yang sangat aneh Pedang Hu thian seng kiamnya ikut berputar pula me mbentak suatu lingkaran...

Cahaya pedang kembali berkelebat jeritan ngeri yang menyayat

hati pun berge ma me mecahkan keheningan, se mburan darah segar seperti pancuran air memancar keluar dan menye mbur ke mana- mana.

Tiga maca m kejadian yang berbeda ternyata berlangsung pada saat yang hampir bersamaan.

Tubuh si penginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi dan kakek berlengan iblis Khong Yu siang terpapas kutung sebatas pinggang, darah kental menye mbur keluar me mbasahi seluruh tubuh Ku See hong, sehingga me mbuat pemuda itu berubah menjadi manus ia darah ....

Di bawah kerubutan lima orang tokoh persilatan yang berilmu tinggi,  ternyata   secara   beruntun    Ku    See    hong    berhasil me mbinasakan tiga orang lawannya, kesempurnaan tenaga dalam seperti ini benar-benar menggidikkan hati. Baru saja Ku See hong berhasil me mbinasakan ke dua orang thamcu tersebut dan berdiri tegak, suara tertawa seram telah berkumandang dari sisi kirinya...

Entah sedari kapan, si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim telah menyelinap ke sisi kiri Ku See hong bagaikan sukma gentayangan, tahu-tahu telapak tangan kanannya yang bersinar keemas-e masan telah menghanta m enam inci di sa mping kiri Ku See hong.

Si anak muda itu hanya sempat mendengar gelak tertawa seram bergema dari sisi tubuhnya, lalu iga kirinya terasa sakit sekali di samping panas menyengat badan, semacam udara panas yang aneh segera menusuk tubuhnya dan mera mbat keatas...

Perlu diketahui, si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim adalah seorang manusia yang amat licik dan berakal busuk, sewaktu me lancarkan serangan tadi tenaga dalamnya sama sekali tidak dipancarkan secara langsung.

Menanti telapak tangannya sudah ha mpir menyentuh tubuh lawan inilah, tenaga serangannya baru dilancarkan secara tiba-tiba..

Itulah sebabnya, tatkala Ku See hong menyadari datangnya ancaman bahaya maut dan bersiap sedia hendak menghindar kan diri, telapak tangan Tu Pak kim sudah berada hanya tiga inci saja dari sisi tubuhnya.

Dalam terperanjatnya, buru-buru Ku See hong  mengeluarkan ilmu gerakan tubuh Mi khi biau tiong sin hoat nya untuk berusaha menghindarkan diri...

Sayang sekali keadaan sudah terla mbat.

Baru saja Ku See gong me mutar badannya setengah lingkaran, sebuah pukulan beracun Sian bun kim than dari Tu Pak kim sudah bersarang telak dipunggung kanan Ku See hong,

Teriakan  keras  yang  me mekikkan  telinga   segera   berge ma me menuhi angkasa. Terlihat tubuh Ku See hong mencelat sejauh satu kaki lebih dari posisi se mula,  namun  dengan  cepat  dia  meronta  bangun  dan me lo mpat dari atas tanah...

Kini rambutnya sudah terurai kusut, seluruh badannya penuh bermandikan darah sedang dari ujung bibirnya darah kental masih me leleh keluar tiada hentinya.

Bukan cuma begitu, seluruh kulit wajah nya mengejang keras, sepasang matanya me mancarkan sinar kebuasan yang menggidikkan hati, dipandangnya wajah si pedang Sakti kayu baja Cu Pok dan Telapak tangan e mas sukma cacad Tu Pak kim dengan penuh a marah.

Sikapnya yang seram dan mengerikan ini, cukup menggidikkan hati siapa pun yang me mandangnya.

Pedang Hu thian seng kiamnya kini di genggam dalam tangan kanan, sementara kelima jari tangan kirinya dipentangkan lebar- lebar, cahaya pedang yang menyoroti wajahnya membuat pe muda itu selain mengerikan juga me nggidikkan hati setiap orang. Tangan kirinya bagaikan cakar iblis saja yang siap me nerjang mangsa nya.

Keadaannya waktu itu cukup me mbuat orang merasa tegang dan berdiri se mua bulu kuduknya.

Baik si Pedang Sakti kayu baja Cu Pok maupun telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim, kedua-duanya merasa bergidik setelah menyaksikan keadaan musuhnya, tanpa sadar mereka berdua bersama-sa ma mundur sejauh dua langkah.

Terutama si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim, hatinya lebih lebih merasa terkejut berca mpur terkesiap.

Seperti yang diketahui, ilmu pukulan telapak tangan emas sukma cacadnya termasuk ilmu pukulan yang paling beracun di dunia  ini, Ku See hong yang nyata-nyata sudah termakan sebuah pukulannya, ternyata tidak segera tewas, kejadian ini sudah cukup me mbuatnya terperanjat, apa lagi setelah terluka oleh pukulannya dita mbah pula dengan beberapa pukulan yang la in, na mun pe muda itu masih tangguh dan perkasa, ini baru me mbuat hatinya keder.

Ku See hong masih tetap berdiri tak berkutik dite mpat se mula.....

Suasana hening dan sepi yang menceka m seluruh angkasa, sekali lagi me mbuat perasaan Cu Pok serta Tu Pak kim berta mbah tak tenang, mereka menduga serangan balasan yang dilancarkan  Ku See hong berikut ini bisa jadi akan segera menentukan nasib mereka.

Suasana tegang, seram dan mengerikan segera menyelimuti seluruh angkasa.

Mala m.....

Me mbuat suasana bertambah me ngerikan.

Dipihak sini suasana hening dan sepi, sebaliknya dipihak lain pertarungan antara Keng Cin sin melawan Ceng Lan hiang masih berlangsung dengan serunya.

Mereka berdua sa ma-sa ma pernah me mpero leh sejilid kitab pusaka, jurus sakti yang dilawan dengan jurus sakti me mbuat pertarungan itu berimbang dan sukar di tentukan siapa yang lebih unggul dan siapa yang lebih le mah.

Berbicara tentang kesempurnaan tenaga dalam, maka Ceng Lan hiang jauh lebih se mpurna ketimbang lawannya, maka dari itu sepanjang  pertarungan  berlangsung.  Ceng   Lan   hiang   selalu me lakukan sistim pertarungan adu kekerasan.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat sekali lagi me luncur kedepan menghanta m tubuh Keng C in sin.

Akan tetapi dengan suatu gerakan yang lincah dan cekatan serta me mperguna kan jurus serangan yang lihay Keng Cin sin berhasil  me munahkan hawa pukulan yang maha dahsyat itu.

Kendatipun demikian, adakalanya Keng Cin sin kena  terdesak juga sehingga mundur terus berulang kali, tentu saja dia berada diposisi bawah angin. Namun gerak serangan dari Keng Cin sin tidak menjadi kalut karena kejadian ini, ma lah jurus serangan yang dipergunakan makin la ma bertambah aneh, angin pukulan yang dilepaskan juga  ma kin la ma se makin berta mbah tangguh.

Ceng Lan hiang benar-benar dibuat terkejut, sebenarnya dia mengira Keng Cin sin tak akan ma mpu menahan sepuluh jurus serangannya, tapi kini walaupun seratus gebrakan sudah lewat, lawannya mas ih tetap tangguh.

Disa mping itu, dia pun merasa jurus serangan yang digunakan Keng Cin sin rada mirip dengan jurus-jur us serangan yang di cantumkan dalam kitab pusaka Cang ciong  pit kip, tapi bila diperhatikan lebih seksa ma, ternyata jurus serangan itu berbeda, pokoknya dia se makin dibuat kese mse m oleh kelihayan musuhnya.

Padahal dia mana tahu jurus serangan yang dipergunakan Keng Cin sin pun berasal dari kitab pusaka Cang ciong pit kip, hanya dia tak sempat me mpe lajari ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Cang ciong pit kip bagian bawah saja.

Pertarungan antar jago lihay me mang jauh lebih  ber mutu daripada pertarungan pertarungan lainnya, kadangkala gerakan mereka tampa k enteng dan sederhana seakan-akan tiada sesuatu yang hebat, tapi ada kalanya serangan tersebut justru mengeledek dan cukup mengerikan hati.

Padahal setiap gerakan yang mereka lakukan sudah cukup menentukan mati hidup seseorang.

Pertarungan yang berlangsung di antara ke dua orang ini benar- benar menggidikkan dan menyilaukan mata siapa pun.

Tampak bayangan manusia saling menya mbar, angin pukulan menyayat badan, membuat  pasir dan rumput beterbangan di angkasa.

Suasana bertambah dahsyat dan mengerikan, seakan-akan dunia mau kia mat saja. Ditengah berlangsungnya pertarungan sengit itu...

Mendadak satu ingatan melintas didalam benak Ceng Lan hiang.. Menyusul ke mudian sekulum senyuman licik yang a mat sinis menghiasi wajahnya.

Telapak   tangannya   yang   putih   mulus    tiba-tiba    diputar me mbentuk gerakan setengah lingkaran busur, lalu dengan cepat mendorongnya ke depan ....

Bagaimana mungkin Keng Cin sin bisa menduga kalau Ceng Lan hiang telah berbuat licik?

Rupanya disaat sepasang tangan perempuan jalang itu  diputar me mbuat gerakan setengah lingkaran busur sa mbil melancar kan pukulan tadi, secara diam-dia m jari tengah dan telunjuk tangan kirinya telah merogoh ke dalam sakunya menga mbil sesuatu benda.

Angin pukulan Ceng Lan hiang yang maha dahsyat seperti gulungan o mbak besar itu dengan cepat menggulung ke tubuh Keng Cin sin .....

Mencorong sinar benci yang mengerikan dari balik mata Keng Cin sin, telapak tangan nya balas diayunkan ke muka me lepaskan pukulan yang tak kalah dahsyatnya.

"Blaaammm !"

Serentetan ledakan keras yang meme kik kan telinga segera bergema me mecahkan keheningan.

Akibat dari bentrokan kekerasan ini, Keng Cin sin serta Ceng Lan hiang sa ma-sa ma tergetar mundur sejauh satu langkah lebih....

Disaat kedua belah pihak mundur selangkah itulah, pelan-pelan Ceng Lan hiang mengangkat telapak tangan kirinya keatas dadanya, ke mudian mengarahkan ujung jari tengah dan telunjuknya ke arah Keng Cin sin dengan tangan kanan melindungi mulut, sorot matanya yang tajam mengawasi terus gerak gerik lawannya tanpa berkedip.

Sebaliknya Keng Cin sin yang sedang mundur ke belakang menyilangkan pula sepasang telapak tangannya didepan dada, dia mengira Ceng Lan hiang kembali akan melancar kan serangan dengan sekuat tenaga. Maka dia cepat-cepat menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi segala ke mungkinan yang tidak diinginkan.

Mendadak...

Keng Cin sin mengendus bau harum se merbak yang sangat aneh menyebar di seputar situ, segera menyadari kalau gelagat tidak beres, pikirnya:

"Habis sudah aku, rupanya keparat ini telah menggunakan siasat licik!", bersamaan itu pula Ceng Lan hiang me mperdengarkan suara tertawa jalangnya yang penuh diliputi rasa bangga ....

Tubuhnya secepat kilat menerjang maju lagi ke depan.

Dalam pada itu, begitu Keng Cin sin mengendus bau harum yang aneh, ia segera merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan matanya berkunang-kunang, segenap kekuatan yang dimilikinya ikut punah pula hingga lenyap tak berbekas.

Ceng Lan hiang tidak menyia-nyiakan kese mpatan baik ini, jari tangannya dengan cepat disodok ke muka menotok jalan  darah Keng Cin sin....

Dengusan tertahan bergema me me cahkan keheningan.

Akibat dari totokan itu, Keng Cin sin segera roboh le mas ke atas tanah.

Gelak tertawa jalang sekali lagi berkumandang me me nuhi angkasa ....

Kini Ceng Lan hiang me mba likkan badan, waktu itu Thi bok sin kiam Cu Pok, Tian hun kim ciang Tu Pak kim serta Ku See hong masih saling berhadapan dengan tubuh kaku, hanya ketiga pasang mata mereka yang berkilauan dan saling menatap dengan penuh amarah.

Untuk beberapa saat lamanya Ceng Lan hiang tidak mengetahui permainan busuk apakah yang sedang mereka lakukan,  sambil tertawa ringan tegurnya kemudian: "Hei, me mangnya kalian sedang beradu banteng? Atau sedang taruhan ayam jago?"

Rupanya si telapak tangan e mas sukma cacad Tu Pak kim serta si Pedang  sakti  kayu  besi  Cu Pok  sedang  dibuat  terkesiap  oleh ke ma mpuan Ku See hong me lancarkan serangan.

Teguran dari Ceng Lan hiang barusan terdengar pula  oleh mereka berdua, cuma kedua orang ini tak berani bersuara atau pun berkutik, sebab mereka sedang menghimpun segenap hawa murni yang dimilikinya untuk menghadapi setiap serangan yang mungkin akan ditujukan ke arahnya.

Kini Ceng Lan hang sudah berjalan mendekati pe muda itu, sepasang matanya yang tajam bagaikan se mbilu me mandang seluruh tubuh Ku See hong dari atas hingga ke bawah, ke mudian sambil tertawa jalang tegurnya:

"Hei saudara cilikku, begitu parah luka dalam yang telah kan derita, Oooh... sungguh kasihan, biar cici segera mengobati luka mu itu"

Ditengah pe mbicaraan, Ceng Lan hiang telah me nyusup ke depan dan berada hanya tiga depa saja dari sisi tubuh si anak muda itu.

Ku See hong mendengus tertahan, pedang Hu thian seng kiam yang berada ditangan kanannya segera digetarkan keras-keras...

"Criiing!"

Mendadak pedang Hu thian seng kiam itu terjatuh dari genggamannya.

Menyusul ke mudian seluruh tubuh Ku See hong ge metar keras, tampaknya dia segera akan roboh ke atas tanah.

Ceng Lan hiang tertawa merdu, tangannya bertindak cepat dengan menya mbar tubuh Ku See hong yang terjatuh ke mudian  me me luk nya kencang-kencang.

Perubahan yang berlangsung secara tiba-tiba ini sa ma sekali diluar dugaan siapapun, kontan saja si pedang Sakti kayu baja Cu Pok serta si telapak tangan e mas sukma cacad Tu Pak kim menjadi me longo dan berdiri tertegun.

Ceng Lan hiang melirik sekejap wajah kedua orang itu, kemudian umpatnya sa mbil tertawa.

"Kalian berdua betul-betul bloon, begitu juga engkau sebagai kakak seperguruannya, Huuuh aku, lihat nyali kalian berdua sudah dibuat pecah oleh kehebatannya"

Rupanya luka parah yang diderita Ku See hong secara berulang- ulang telah me mbuat hawa darah didalam tubuhnya mengala mi goncangan yang a mat keras.

Sedangkan diapun secara beruntun harus menggunakan jurus- jurus gerangan sakti untuk  meneter  lawannya,  kesemuanya  itu me mbuat hawa murninya menderita kerugian yang a mat besar.

Keadaan ini se ma kin berta mbah parah setelah Tu Pak kim berhasil menyarangkan pukulan Jian hun kim ciangnya.

Waktu itu boleh dibilang seluruh tubuhnya sudah tidak na mpak setitik tenagapun.

Akan tetapi wataknya sangat keras kepala membuat pe muda ini enggan roboh ke tanah sebelum tenaganya betul-betul habis terkuras, maka sambil me maksa kan diri dia me mpertahankan terus posisi pedangnya untuk menggertak lawan, padahal waktu itu dia sudah tidak berkekuatan lagi untuk me lancarkan serangan.

Maka menggunakan kesempatan disaat Si Pedang sakti kayu baja Cu Pok dan si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim dibuat keder oleh gerakannya, diam-dia m dia mencoba menghimpun tenaga dalamnya untuk me mulihkan ke mbali kekuatannya didalam waktu singkat.

Tapi luka yang dideritanya terla mpau parah, setiap kali hawa murninya coba digerakkan, ulu hatinya segera terasa sakit sekali bagaikan ditusuk-tusuk dengan pisau. Tatkala Ceng Lan hiang mendekatinya, diapun mengetahui gerakan lawan tersebut, sebenarnya dia ingin menggunakan pedang Hu thian seng kia mnya untuk me mbunuh pere mpuan ini.

Tapi sewaktu dia me nggerakkan tubuhnya untuk melancarkan tusukan, seluruh badannya segera menjadi sakit sekali, tulang belulangnya seperti pada terlepas dari badannya, disamping rasa sakit yang merasuk sa mpa i ketulang sumsum.

Saking tak tahannya menghadapi siksaan badan ini, akhirnya dia roboh dan tidak sadarkan diri.

Ketika si pedang sakti kayu besi Cu Pok dan si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim me ndengar perkataan itu, tanpa terasa mereka berpikir dihati.

"Haah, sungguh me ma lukan!".

Tapi Si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim segera berkata sambil tertawa nyaring:

"Kepandaian silat yang dimiliki sumoay betul-betul lihay dan luar biasa, Ih heng sekalian benar tak becus dan tak mampu menandingi lagi"

"Yaa, kalian berdua me mang seperti gentong nasi saja"  seru Ceng Lan hiang sa mbil tertawa ringan.

"Benar, benar sumoay, me mang gentong nasi" Pedang sakti kayu baja Cu Pok menimpa li sambil tertawa licik.

"Hmmm, me mangnya kalian gentong nasi se mua, kalau t idak, manus ia maca m apakah kalian?"

Si pedang sakti kayu besi Cu Pok yang menyaksikan tingkah laku perempuan itu dia m-dia m merasa kegelian, umpatnya di hati:

"Kau pere mpuan jalang, ta mpaknya begitu tergila-gila dengan keparat busuk ini, sekarang dia sudah menderita luka yang begitu parah, akan kulihat dengan cara bagaima na kau hendak mengajaknya bermain cinta, hmm, suatu ketika kau si perempuan jalang pasti akan ma mpus lantaran kejalanganmu itu" Si telapak tangan emas sukma cacad Tu Pak kim tidak ketinggalan dia berkata pula:

"Sumoay, seluruh tubuhnya penuh dengan darah, ini akan mengotori tubuhmu yang bersih, lebih baik ”

Mendadak paras muka Ceng Lan hiang berubah sangat hebat, bentaknya nyaring:

"Mengapa menghajar dirinya sampa i separah ini  lukanya? Hmmm, makin la ma kalian berdua sema kin berani me mandang rendah diriku ”

Pedang sakti kayu besi Cu Pok tertawa ha mbar.

"Tidak berani, tidak berani, kami hanya me laksanakan perintah dari sumoay, kalau tidak dengan kesalahan yang telah dilakukan nya terhadap perkumpulan kita, mungkin sejak dulu jiwanya sudah dicabut, masa dia masih dapat hidup sa mpa i sekarang"

Ceng Lan hiang segera me mbungkukkan badannya  me mungut ke mbali pedang Hu  thian  seng  kiam  tersebut  dan  dimasukkan  ke mbali kedalam sarungnya yang masih mengge mbo l dibahu Ku See hong, setelah itu katanya dingin:

"Sudah, tak usah banyak berbicara lagi, cepat bawa mereka dari sini!"

Keng Cin sin terkena obat pemabuk, jalan  darahnya  tertotok pula, kini dia berada dalam keadaan tak sadar.

Pelan-pelan Jian hun kim ciang Tu Pok kim me mbopong tubuhnya dan berlalu dari situ menuju ke mar kas  besar perkumpulan Ban sia kau .....

Waktu itu tengah ma lam sudah menjelang tiba.

Cahaya lentera tampak me mancar ke luar dari beberapa deret bangunan yang berlapis- lapis dalam ko mpleks  mar kas besar perkumpulan Ban sia kau, sementara suasana hening menceka m sekeliling tempat itu. Didalam sebuah ka mar kecil disuatu bangunan yang terpencil letaknya, tampak seorang gadis berbaju putih yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan sedang duduk dibawah cahaya lentera.

Selapis perasaan sedih dan murung menghiasi seluruh wajahnya yang rupawan.

Dia duduk tenang beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan berjalan menuju ke depan jendela. me mandang bintang yang bertaburan diangkasa, ia menggeleng sa mbil me nghela napas sedih.

"Aaaai, hingga sekarang mengapa dia belum na mpak juga ”

Ternyata gadis berbaju putih ini adalah Him Ji im, si nona yang punya janji dengan Keng C in sin untuk berjumpa tengah mala m ini.

Sejak berpisah dengan Ku See hong, sampa i kini dia disekap terus didalam ruangan tersebut.

Pada mulanya Him ji Im me ngira Ku See hong sudah mati terjatuh kedalam jurang, tapi satu ingatan selalu me menuhi benaknya, dia yakin Ku See hong tak akan mati dalam keadaan begitu, namun seandainya di kemudian hari terbukti kalau pe muda itu sudah tewas. maka dia pun tak ingin hidup seorang diri dikolong langit ini...

Dalam hatinya, dia benar-benar amat me mbenci ibunya Ceng Lan hiang.

Tapi, sekalipun dia amat me mbenci Ceng Lan hiang, gadis ini tak berani menentang apalagi melawannya secara terang-terangan.

Dalam hal ini Him Ji im sendiripun tidak tahu apa yang menyebabkan dia sa mpai begitu?

Mungkin saja hal ini dikarenakan perasaan hormatnya dari seorang anak terhadap ibunya, atau mungkin juga dikarenakan sifat Him Ji im yang penuh welas asih.

Tapi seandainya ada seorang yang dicintai mendukungnya agar berhianat kepada Ceng Lan hiang, maka tanpa memperdulikan segala akibatnya Him Ji im dapat menuruti perkataan orang itu, tentu saja orang itu adalah Ku See hong.

Tengah hari ke marin, tiba-tiba saja ia mendapat berita kalau kekasihnya berhasil ditangkap Ceng Lan hiang dan dibawa ke istana Cun kiong tian untuk diajak..

Mendengar berita busuk yang sangat me malukan ini, hampir saja dia mati saking ma lu dan gusarnya, sebab setiap manusia di dunia  ini mengutuk dan menyumpahi hubungan sengga ma diantara  manus ia se maca m ini.

Peristiwa tersebut benar-benar mengerikan dan menakutkan dirinya...

Untung kekasihnya berhasil disela matkan oleh seorang manus ia berkerudung warna warni, kalau tidak, mungkin dia sudah tak punya muka lagi untuk me lanjutkan hidupnya didunia ini.

Maka  dia   se makin   me mbenci   ibunya,   kalau   bisa   ingin me mbunuhnya sampa i mati mes ki sebagai akibat dia harus menanggung dosa sebagai anak yang tak berbakti tapi ia bertekad hendak me mbunuhnya.

Bila niat tersebut dapat terlaksana, maka untuk  menebus dosanya dia akan mencukur ra mbut me njadi pendeta dan hidup terpencil untuk menebus dosa sendiri maupun dosa ibunya.

Karena dia tahu, nasibnya amat sedih sudah ditakdirkan untuk hidup dalam penderitaan, sekalipun dia a mat mencintai Ku See hong, namun bagaimanapun juga dia merasa tak punya muka untuk hidup bahagia dengannya.

Karena dia ma lu dengan perbuatan ibunya, dia malu menjadi putrinya, dalam hati kecilnya dia seolah-olah kekurangan sesuatu benda...

Mendadak Him Ji  im  merogoh   ke  dalam  sakunya  dan menge luarkan sejilid kitab, ke mudian guma mnya dengan sedih: "Bila enci itu tidak ke mari, secara diam-dia m aku akan pergi meninggalkan tempat ini dan menghantar kitab ini kepadanya, kalau tidak Im Yan cu cici, kekasih engkoh Hong pasti akan mati dalam keadaan mengenas kan, dengan demikian engkoh Hong tentu akan lebih me nderita, lebih sengsara dan kesepian.

Engkoh Hong...... Ooooh Engkoh Hong, tahukah kau bahwa aku pun tak dapat hidup sebagai suami istri denganmu? Aaaaa Enci

Keng Cin sin  yang hendak dicari engkoh Hong entah sudah ditemukan belum? Engkoh Hong bilang dia a mat mir ip dengan ku, bukankah enci berkerudung warna warni pun sangat mir ip dengan wajahku? Entah siapakah enci itu? Dia betul-betul a mat misterius, sedang ilmu silatnya juga lihay sekali, apalagi enci itu begitu menyayangi aku, meski aku hanya berkumpul sehari  saja dengannya, tapi dia menganggapku sebagai saudara sendiri saja,  bila diapun mencintai engkoh Hong, hal ini pasti akan lebih baik..

"Menurut catatan didalam kitab Ban sia cin keng, obat yang merupakan pe munah racun Im hwee si hun wan adalah Han sia cau, tapi tumbuhan macam apakah rumput Han sia ciu tersebut? Kemana kah harus di cari rumput itu.

Rupanya Him ji im telah manfaatkan kese mpatan disaat Ceng Lan hiang dengan me mbawa kawanan jago lihay dari Ban sia kau untuk me lakukan pengejaran terhadap Ku See hong tadi untuk menjumpa i Keng Cin sin ke mudian mencur i kitab pusaka Ban sia cin keng yang tiada ternilai harganya itu.

Dalam kitab pusaka Ban sia cin keng me mang dicantumkan obat penawar racun bagi obat perangsang Im hwee si hun wan tersebut, yakni rumput Han sia cau.

Setelah berguma m seorang diri, pikiran Him Ji im ke mba li tenggelam ke dalam la munannya, sementara titik air mata jatuh berlinang me mbasahi  pipinya  yang  halus,  mungkin  dia  sedang me mikirkan ke mbali nasib je lek yang dialaminya sela ma ini.

Mendadak... Serentetan suara tertawa licik yang menyeramkan dan menggidikkan hati me motong jalan pikirannya yang belum habis itu.

Dengan cepat Him Ji im me masukkan ke mbali kitab pusaka Ban sia cin kengnya ke dalam saku, ke mudian me mbalikkan badan nya.

Didepan pintu ka marnya tahu-tahu sudah muncul seorang pemuda yang lengan kirinya belum la ma terpapas kutung, wajahnya amat pucat se mentara sekulum senyuman cabul yang keji dan menyeramkan menghiasi ujung bibirnya, me mbuat siapa pun yang berjumpa dengannya tentu timbul perasaan seram dan ngeri.

Begitu menyaks ikan ke munculan pemuda itu, dengan gusar Him Ji im segera me mbentak.

"Ciu Heng thian, tahukah kau bahwa tempat ini merupakan daerah terlarang yang ditetapkan kaucu?"

Pemuda berwajah pucat ini tak lain adalah si Pedang ular perak Ciu Heng thian yang cabul, kejam dan tak berperi ke manus iaan itu.

Mendengar teguran mana, dia segera mencibirkan bibirnya  dan me mperdengarkan suara tertawa cabulnya yang me muakkan. "Adik Im, mengapa kau harus mena mpik kebaikan orang yang bersusah payah datang menjengukmu? Orang lain boleh sampa i disini, mengapa aku tak boleh ke mar i? Tahukah kau bahwa aku sangat mencintai mu."

Merah padam selembar wajah Him Ji im karena jengah setelah mendengar perkataan itu, segera bentaknya.

"Manusia laknat yang tak tahu malu, rupanya kau sudah bosan hidup ?"

Dengan sikap yang sinis dan menghina si pedang ular perak Ciu Heng thian mendengus dingin.

"Hmmm, benarkah Ih heng adalah ma nusia laknat yang tak tahu ma lu? Apakah lebih laknat dan tak tahu ma lu ketimbang ibumu itu? Heeehh....heeehh.... heeehh ” "Adik Im, tahukah kau bahwa ibumu sekarang sedang berangkat ke sorga dan ia bersama Ku See hong? Sedangkan manus ia berkerudung warna warni yang sedang kau nantikan sekarangpun sedang disekap di ruangan hukuman?"

"Adik Im, aku sudah lama sekali menantikan dirimu, kalau toh ibumu begitu cabul dan jalang, sebagai anak kau tak usah menurut i perkataannya lagi. mari kita kabur sejauh-jauhnya dari sini mala m  ini juga, asal kita bersembunyi diujung langit sana, bukankah kitapun mas ih bisa hidup dengan bahagia?"

Ketika mendapat tahu  kalau  Ku  See  hong  dan  Keng  Cin  sin ke mbali tertangkap ibunya, Him Ji im benar-benar merasa a mat terperanjat, dia merasa kepalanya seperti disambar  geledek ditengah hari bolong, kontan pikirannya menjadi kalut dan dengan sempoyongan mundur kebelakang sebelum terjatuh ke atas pembaringan.

Yang me mbuat hatinya a mat sedih adalah perbuatan ibunya yang sedang dengan kekasihnya.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa licik, sorot matanya mulai me mancarkan sinar penuh dengan napsu birahi, ditatapnya wajah Him Ji im yang cantik dan halus itu tanpa  berkedip, sementara napsu birahinya makin la ma se makin me muncak.

Pelan-pelan dia mulai menggeserkan badannya menghampiri Him Ji im, lalu sa mbil tertawa dingin katanya.

"Adik Im, kau anggap Ku See hong adalah seorang lelaki sejati

....? Hmm....hmm .. tahukah kau betapa tergila-gilanya dia atas ibumu ... ...

Ketika berbicara sampa i disitu, mendadak si pedang ular perak Ciu Heng thian menerjang maju ke muka dan secepat  kilat  menubruk keatas tubuh Him J i im ......

Him Ji im me mbentak gusar, sambil me mba likkan tubuhnya tahu- tahu dalam gengga man tangan kanannya telah bertambah dengan sebilah pisau belati yang tajamnya luar biasa, secara  ganas  dia tusuk perut Ciu Heng thian.

Tindakan yang dilakukan olehnya ini sa ma sekali diluar dugaan siapapun, sudah barang tentu tak sempat bagi si pedang ular perak Ciu Heng thian untuk menghindar kan diri.

Bahu kirinya disekitar bekas kutungan lengannya segera tersayat pisau belati itu, sehingga muncul sebuah mulut luka yang panjangnya tiga inci, darah kental segera me mancar keluar dengan derasnya.

Ciu Heng thian menjer it kesakitan, sambil mer intih dia mundur tiga empat langkah ke belakang dengan sempoyongan. Mencorong sinar gusar yang penuh kekejian dari balik mata si pedang ular perak Ciu Heng thian, serunya sambil  menahan  rasa  benci yang me luap-luap:

"Adik Im, dengan penuh kasih sayang aku selalu melindungimu secara diam-dia m, siapa tahu kau justru tidak tahu diri, air susu kau dibalas dengan air tuba. ini berarti kau sendiri yang mencar i penyakit, jangan salahkan lagi jika aku akan bertindak kejam kepadamu!"

"Manusia laknat tak tahu malu, aku akan memba laskan dendam bagi cici Im Yan cu," bentak Him Ji im penuh a marah.

Sambil me mbentak nyaring, Him Ji im me mutar senjata belatinya menciptakan selapis cahaya tajam, ke mudian langsung ditusukkan ke dada Ciu Heng thian.

Menghadapi ancaman tersebut, si pedang ular perak Ciu Heng thian segera tertawa dingin, jengeknya:

"Kepandaian silat mu masih ketinggalan jauh sekali..."

Sedikit saja Ciu Heng thian mir ingkan tubuhnya, tusukan pisau belati itu sudah mengenai sasaran kosong, kemudian sa mbil menggerakkan sepasang bahunya bagaikan sukma  gentayangan saja secara aneh tapi cepat dia sudah mendesak semakin mende kati tubuh Him Ji im.. Gerakan tubuhnya benar-benar cepat luar biasa, tak sampai Him Ji im menggerakkan pisau  belatinya,  telapak  tangannya  sudah me lepaskan sebuah bacokan yang keras sekali me ma ksa gadis tersebut mundur terus ke belakang.

Perlu diketahui kepandaian silat yang dimiliki Him Ji im sesungguhnya sangat lihay, namun oleh karena pikirannya sedang kalut dan perasaannya kacau balau hal mana me mbuat tenaga dalamnya amat terpengaruh, coba kalau demikian, bukan suatu pekerjaan yang gampang bagi Ciu Heng thian untuk menaklukkannya dalam waktu singkat.

Disaat Ciu Heng thian mengayunkan telapak tangan kanannya  me lancarkan bacokan tadi, tubuhnya turut menerjang pula ke depan, lalu secepat kilat mencengkera m urat nadi pada pergelangan tangan kiri Him Ji im.

Ilmu Ki na jiu hoat yang dipertunjukkan ini meski na mpaknya seperti tiada keistimewaan apa pun, namun kecepatan  nya  selain luar biasa, bahkan arah sasarannya membuat orang sulit untuk menghindarkan diri.

Apabila orang-orang biasa selalu mencengkera m pergelangan tangan kanan musuh yang menggengga m pisau belati, ma ka sasaran yang diarah oleh Ciu Heng thian adalah pergelangan tangan kirinya, oleh karena itu Sebelum Him Ji im se mpat mengetahui keadaan yang sebenarnya, dia sudah kena dicengkeram secara telak.

Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri Him Ji im menghadapi situasi seperti ini, secepat kilat pisau belati ditangan kanannya langsung ditujukan ke atas jalan darah sim kan hiat di tubuh Ciu Heng thian..

Ciu Heng thian segera menggoyangkan pergelangan tangan kiri si nona yang di cengkeram itu sehingga Him Ji im merasakan seluruh badannya menjadi kaku,  darahnya bergolak keras dan kekuatannya seakan-akan punah dengan begitu saja. Tusukan pisau belatinya persis menus uk diatas pakaiannya dan "Traangg!" senjata itu jatuh ke atas tanah.

Sepasang mata si pedang ular perak Ciu Heng thian yang diliputi cahaya kecabulan itu mula i me mancarkan kobaran napsu birahi yang menyala-nyala, ditatapnya sekujur badan Him Ji im dari atas sampai ke bawah, ke mudian sa mbil tertawa terkekeh-kekeh tiada hentinya dia berkata:

"Adik Im, apakah Im Yan cu yang tadi kau ma ksudkan itu adalah perempuan yang telah menelan pil Im hwee si hun wan tersebut...?"

"Heeehh....heeehhh....heehhh... adik Im, sesungguhnya aku sangat mencintaimu, namun kau tak tahu diri, ma ka terpaksa aku harus mene mpuh  dengan  caraku  sendiri,  sekarang  aku  masih  me mpunyai sebutir pil Im hwee si hun wan, dan pil ini akan kuhadiahkan untukmu"

Ketika mendengar ucapan tersebut, Him Ji  im  menjadi terperanjat sekali hingga paras mukanya berubah hebat, akan tetapi urat nadinya sudah tercengkeram sehingga kekuatannya punah, dalam keadaan begini dia tak ma mpu berkutik lagi.

Agaknya hawa napsu birahi yang me mbara didada si pedang ular perak Ciu Heng thian sekarang sudah mencapai pada puncaknya,  dia sudah tak sabar untuk menunggu lebih la ma.

Mendadak tangan kanannya mengendorkan cengkere mannya pada urat nadi di pergelangan tangan kiri Him Ji im.

ke mudian menggunakan kese mpatan di saat hawa murni gadis itu belum pulih, dengan gerakan cepat Ciu Heng thian me ngayunkan ke mbali tangan kanannya untuk menotok jalan darah Him Ji im.

Setelah itu dia me mbopong tubuh si nona dan me mbaringkannya ke atas ranjang, sementara tangan kanannya merogoh ke dalam saku dan menge luarkan sebutir pil.

ooodwooo SEBAGAIMANA telah diketahui, pil yang baru saja dikeluarkan dari saku Ciu Heng thian itu tak lain adalah obat perangsang yang paling cabul didunia saat ini, Im hwee si hun wan.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian kembali mengulangi cara yang pernah dilakukan untuk menghadapi Im Yan cu tempo hari, yakni pertama-tama ditotoknya jalan darah ya ci hiat dimulut Him J i im, kemudian menotok ja lan darah yang tiong hiat pada sepasang lengannya agar gadis itu tak mampu menghabis i nyawa sendiri guna me lindungi kesucian tubuhnya.

Kemudian sa mbil me mperlihatkan pil perangsang Im hwee si hun wan   yang   berada   ditangan   kanannya,    Ciu    Heng    thian me mperdengarkan suara tertawa liciknya yang menyeramkan:

"Heeehh..... heeehh.. .heeehh.... adik Im, aku yakin kau cukup me maha mi khasiat dari obat perangsang Im hwee si hun wan ini sehingga aku tak perlu menerangkan lagi, obat ini merupa kan obat milik ibumu yang dihadiahkan sebanyak dua butir kepadaku, tentu dia tak pernah me ngira kalau akhirnya putri sendiri yang menjadi korban, sekarang kau tentu sangat me mbenci ibumu bukan? Yaa, ibumu me ma ng pere mpuan paling cabul dikolong langit dewasa ini, heeehh ..heeehh "

Kembali dia perdengarkan suara tertawa nya yang licik, sinis dan menyeramkan.

Titik-titik air mata ke mbali jatuh bercucuran me mbasahi wajah Him Ji im yang cantik, perasaan sedih yang dialaminya sekarang betul-betul tak terlukiskan dengan kata-kata.

Dia me mbenci kebuasan dan kecabulan manusia laknat ini.

Diapun me mbenci ibunya yang cabul dan banyak me lakukan perbuatan terkutuk.

Dia me mbenci langit yang tidak adil kepadanya. Dia me mbenci kepada diri sendiri karena tak bisa me mbe la kesucian tubuhnya sampa i mati .....

Dia benci karena tak dapat bersua dengan kekasih hatinya dan harus berpisah untuk sela manya.

Diapun benci karena tak dapat membantu kekasih Ku See hong yaitu Im Yan cu untuk me mbebas kan diri dari pengaruh racun.

Dia me mbenci karena tak dapat melihat jenazah ayahnya dan berziarah kesana untuk mewujudkan kebaktiannya sebagai seorang anak terhadap orang tuanya.

Tujuh maca m kebencian ini segera mencabik-cabik hatinya sehingga hancur tak berwujud lagi.

Kini, Him Ji im tak ma mpu bersuara, tak bertenaga untuk meronta, ibarat seekor do mba yang sudah diikat kencang-kencang, siap menerima perlakuan apapun dari orang lain.

Hanya bedanya, jika domba masih dapat  me mperdengarkan suara mengembiknya yang mengenaskan pada saat akhir hidup nya, maka ia tak dapat berbuat de mikian.

Me mandang rasa benci yang terpancar keluar dari balik mata Him Ji im itu, si pedang ular perak Ciu Heng thian me mperdengarkan suara tertawa dinginnya yang sinis dan keji, katanya:

"Heeehh....heeehh...heeehh. .. adik Im, tampak nya kau seperti sudah tak ma mpu menahan diri lagi, padahal akupun sudah tak sabar untuk menunggu lebih la ma, mari kita manfaatkan kesempatan yang ada ini dengan sebaik-ba iknya untuk ber main cinta, pil Im hwee si hun wan ini akan kuberikan kepadamu sekarang juga!"

Selesai berkata, Ciu Heng thian lantas menga mbil pil berwarna merah itu dan siap dicekokkan ke mulut si nona "

Siapa tahu disaat yang paling krit is itulah...

Mendadak... Berkumandang suara tertawa panjang yang dingin, rendah dan amat berat!

Suara tertawa tersebut tinggi melengking dan amat menusuk pendengaran, tapi kedengarannya kecil bagaikan suara nyamuk.

Cuma saja dibalik gelak tertawa tadi terkandung rasa benci, sedih.. serta rasa dendam yang me luap-luap!

Begitu mendengar suara tersebut, si pedang ular perak Ciu Heng thian sudah tahu kalau orang yang datang berilmu sangat tinggi.

Tentu saja dia tidak akan menyangka kalau orang ini tak lain adalah manusia no mor wahid dikolong langit dewasa ini.

Ciu Heng thian segera me mutar lengan kanannya yang masih utuh dan siap melancar kan sapuan kearah mana datangnya suara tertawa tadi.

Siapa sangka baru saja lengannya akan digerakkan, tahu-tahu dari belakang tubuh nya telah muncul sebuah tangan yang putih mulus dan langsung mencengkera m urat nadi pada pergelangan tangan kanannya, seketika itu juga hilang lenyap seluruh kekuatan yang dimilikinya.

Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri si pedang ular perak Ciu Heng thian menghadapi kejadian seperti ini, cepat-cepat dia berusaha untuk mengerahkan tenaga Tay ih kun goan khikang nya untuk mencoba me mbebaskan diri dari pengaruh cengkera man maut itu.

Tapi kenyataannya, jangan lagi melepaskan diri dari cengkeraman, tenaga Tay ih kun  goan khi  kang  saja  sudah  tak ma mpu lagi,  dengan demikian dia baru betul-betul ketakutan setengah mati, sukmanya serasa melayang meninggalkan raganya, sebab dari sini dapat diketahui kalau kepandaian silat yang dimiliki orang itu jauh lebih tangguh dari pada dirinya.

Dengan cepat dia berpaling ke belakang, kebetulan sekali sorot matanya saling me mbentur dengan sorot mata yang tajam dari orang itu, tak kuasa lagi hatinya bergidik dan merinding. Ternyata pihak lawan adalah seorang perempuan berwajah  cantik, dan bera mbut putih.

Orang ini bukan la in adalah Seng sim-cian li Hoa Soat kun!

Sambil me mberanikan diri si pedang ular perak Ciu Heng thian segera menegur:

"Siapakah kau? Apa maksudmu mendatangi markas besar perkumpulan Ban sia kau ka mi?"

Seng Sim cian li Hoa Soat kun tidak menanggapi pertanyaan dari Ciu Heng thian tersebut, sorot matanya yang tajam segera dialihkan kewajah Him  Ji  im  yang  masih tergeletak  diatas  pembaringan, ke mudian ujarnya dingin:

"Kau adalah Him Ji im?"

Dalam keadaan tertotok jalan darahnya, tentu saja Him Ji im tak sanggup berbicara, sedang dihati kecilnya sungguh merasa terkejut atas ketangguhan ilmu silat yang dimiliki orang ini, bahkan  yang lebih mengejutkan lagi adalah dia mengetahui na manya, ini menunjukkan bahwa...

Mendadak...

Seng sim cian li Hoa Soat kun mengebaskan tangan kirinya, segulung angin pukulan segera menyambar ke tubuh Him Ji im.

Tiba-tiba saja Him Ji im bersin berulang kali, jalan darahnya yang tertotok pun segera menjadi bebas ke mbali,

Sambil melo mpat bangun, Him Ji im segera berseru:

"Him Ji im mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan dari locianpwee..

Seng sim cian li Hoa Soat kun manggut- manggut kan kepalanya sebagai tanda me mbalas hor mat, lalu pujinya

"Kau me mang cantik je lita, bagaikan bidadari dan tenang serta halus " Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh:

"Se mala m, bukankah ada seorang ma nusia berkerudung warna warni datang mencari mu? Apakah ia telah berhasil mendapatkan kitab pusaka Ban sia cin keng?"

Dengan wajah berseri karena ge mbira Him J i im segera berseru. "Locianpwee, jadi kau adalah gurunya enci Im Yan cu, Seng sim

cian li Hoa Soat kun locianpwee?"

Sementara itu si pedang ular perak Ciu Heng thian sudah merasakan hatinya dingin separuh, apalagi setelah mengetahui  siapa gerangan manusia yang berada dihadapan nya sekarang, sadarlah dia bahwa nasibnya jauh lebih banyak buruk nya ketimbang satu keberuntungan.

Pelan-pelan Seng sim cian li Hoa, Soat kun mengangguk, lalu berkata dingin.

"Apakah Hiat mo buncu telah datang?"

Seakan-akan teringat akan sesuatu, tiba-tiba Him ji im menjer it kaget, kemudian katanya.

"Barusan manus ia laknat ini mengatakan bahwa enci tersebut beserta Ku See hong telah tertangkap semua, mari kita segera menyela matkan mereka "

"Untuk se mentara waktu mereka tak bakal mati, kita tak perlu terlalu terburu nafsu untuk mencari mereka"

Ucapan mana kontan me mbuat Him ji ini me njadi tertegun lalu pikirnya ke mudian.

"Aneh, mengapa sikapnya begitu dingin seperti es, seakan-akan dia me mang seorang manusia berdarah dingin "

Sementara dia masih berpikir, Seng sim cian li Hoa  Soat  kun telah berpaling ke arah Ciu Heng thian, ke mudian dengan sorot mata me mancarkan hawa pe mbunuhan menggidikkan hati, ia berkata dengan suara sedingin es. "Jadi kau yang berna ma si pedang ular perak Ciu Heng thian "

Dengan pandangan ketakutan bercampur ngeri, si pedang ular perak Ciu Heng thian me mandang sekejap ke  arah  Hua  Soat kun ke mudian me mbungka m diri dalam seribu bahasa.

Kembali Seng sim cian li Hoa Soat kun berkata:

"Manusia laknat, kau ingin ma mpus dengan cara yang bagaimana

........?"

Waktu itu, si pedang ular perak Ciu Heng thian sudah benar- benar putus asa, tapi dasar licik dan banyak akal muslihatnya, tiba- tiba saja dia mendengus sinis, lalu dengan wajah yang tenang dan sama sekali tidak mena mpilkan perasaan takut barang sedikitpun jua, katanya dengan dingin.

"Kau adalah seorang Bu lim cianpwee, tapi dalam kenyataannya menggunakan cara yang begini licik dan rendah untuk menguasahi orang, hmm kejadian ini benar-benar me mbuat hatiku merasa sangat tidak puas..

"Manusia bedebah, laknat cabul yang tak tahu ma lu, dalam keadaan begini kau masih me ncoba untuk gagah gagahan? Hmm, akan kubunuh kau!" bentak Him ji im dengan gusar.

Gadis itu menyambar pisau belatinya dari atas tanah, kemudian diantara kilatan cahaya tajam, ia sudah melancar kan sebuah tusukan kedada Ciu Heng thian.

Seng sim cian li Hoa Soat kun yang mencengkera m pergelangan tangan kanan Ciu Heng thian segera me mbetotnya kesamping, seluruh tubuh Ciu Heng thian segera terbetot sehingga bergeser sejauh tiga depa lebih dari posisi se mula dan terhindar dari tusukan pisau belati Him ji im.

Menyaksikan kejadian ini Him ji  im  jadi  tertegun  dan  berdiri me longo, dia tak habis mengerti mengapa manusia laknat tersebut tidak dibiarkan ma mpus saja. Dengan suara sedingin salju Seng sim cian li Hoa Soat kun berkata:

"Keenakan jika manus ia semaca m ini dibiarkan ma mpus dengan begitu saja, paling tidak dia mesti merasakan dulu siksaan hidup"

Pucat pias paras muka pedang ular perak Ciu Heng thian setelah mendengar ucapan ini, sedemikian pucatnya wajahnya  sampai seperti mayat yang muncul dari liang kubur, kulit wajahnya turut mengejang keras menahan penderitaan dan siksaan hatin yang menghebat.

lnilah siksaan hatin yang berat dari seseorang yang sedang menghadapi anca man bahaya maut.

Dengan nada yang seram ia segera berteriak.

"Kau manus ia laknat, bila berani menggunakan cara yang terkutuk untuk menyiksa diriku, sa mpai matipun aku orang she Ciu tak akan me meja mkan mata dengan mera m.

Dengan gusar Seng sim cian li Hoat Soat kun segera me mbentak nyaring.

"Lebih banyak manusia lain yang mati secara mengenaskan ditanganmu, toh mereka mati juga dengan mata yang meram.

"Hmm..siapa menana m pohon kebajikan, dia akan peroleh buah kebajikan siapa menana m pohon kejahatan, dia akan peroleh buah kejahatan pula, hari ini, aku akan me mperguna kan cara yang pernah kau lakukan terhadap orang la in untuk menyiksa dirimu, akan  kulihat  sampai  dima nakah  kau  si  manus ia  laknat  dapat me mpertahankan diri.....

Walaupun pedang ular perak C iu Heng thian sendiri tak ingin cepat-cepat mati tapi dia tahu dirinya bakal menderita siksaan yang paling keji dan paling kejam terlebih dulu sebelum mat i sungguhan, dari pada tersiksa dia lantas me mutuskan untuk bunuh diri saja....

Berpikir demikian dia lantas me mbuka mulutnya dan siap akan menggigit putus lidahnya... Sayang sekali Seng sim cian li Hoa Soat kun terlalu cer mat, sorot matanya pun sangat tajam, baru saja dia menggerakkan bibirnya, tahu-tahu jalan darah Ya-si hiat Ciu Heng thian sudah dite mbus i oleh desingan angin tajam sehingga menjadi kaku.

Dengan suatu gerakan cepat Hoa Soat kun melepaskan pula beberapa totokan yang menghajar seluruh jalan darah penting di tubuhnya, setelah itu dia baru mengendorkan  cengkera mannya pada pergelangan tangan kanannya.

Kepada Him Ji im diapun bertanya.

"Apakah kau me mpunyai cara yang paling keji untuk menghukum dia...?

Selamat hidup Him Ji im sangat jarang me mbunuh orang, lagipula diapun t idak me mpunyai sesuatu tujuan, sudah barang tentu gadis ini tidak me miliki sesuatu cara untuk menyiksa pemuda cabul tersebut.

Dengan suara le mbut Him Ji im lantas berkata.

"Hoa locianpwee, terserah dengan cara apa kau hendak menghukum dirinya"

Tiba-tiba dari balik mata  Seng sim cian li Hoa Soat  kun mencorong keluar serentetan cahaya tajam dan buas, katanya dengan ge mas.

"Untuk menghadapi manus ia laknat seperti ini, lonio ingin menyuruh dia rasakan cara kematian yang paling keji dan paling berarti di dunia ini"

"Dengan cara apakah locianpwee ingin me mbunuhnya?"

Pelan-pelan Seng sim cian li Hoa Soat kun me ngangkat tangan kanannya, lalu menjawab dengan suara berat:

"Akan kucekokkan pil Im hwee si hun wan ini ke dalam mulut nya... Tiba-tiba merah sele mbar wajah Him Ji im karena jengah, ujarnya agak tergagap.

"Locianpwee, apabila dia menelan pil tersebut, sudah pasti perempuan lain akan me njadi korban dari kerakusannya"

Maksud Him Ji im, setelah menelan pil Im hwee si hun wan nanti, Ciu Heng thian tentu akan terangsang dan menjadi gila, dalam keadaan demikian sudah pasti dia akan mencari pere mpuan lain untuk me la mpiaskan napsu birahinya.

Sambil tertawa dingin Seng sim cian li Hoa Soat kun berkata: "Akan kukutungi lengan dan sepasang kakinya, akan kulihat

dengan cara bagaimana dia akan pergi meningga lkan te mpat ini?”

Serasa terbang nyawa pedang ular perak Ciu Heng thian setelah mendengar perkataan itu, tiba-tiba saja dari balik matanya mencorong ke luar sorot  mata  minta  belas  kasihan,  artinya  dia me mohon agar dapat diberi ke matian secara utuh.

Perlu diketahui, barang siapa telah menelan pil Im hwee si hun wan tapi tak dapat me la mpiaskan napsu birahinya secara le luasa, dia akan merasakan sesuatu siksaan yang maha berat, nadinya akan me ledak dan pecah, sudah barang tentu penderitaannya menje lang saat kematian tak akan terlukiskan dengan kata-kata.

Seng sim cian li Hoa Soat kun tertawa dingin lagi dengan sinis,  ke mudian ujarnya:

"Oooh, rupanya kau pun takut mati? Terus terang saja kukatakan kepadamu, mati karena pecahnya urat nadi masih  belum terhitung ke matian yang paling keji, sebelum itu akan kutotok dulu ke delapan urat nadi penting ditubuhmu agar nadimu tak sampai pecah, namun darah akan mendidih didalam tubuhmu ke mudian me mancar keluar me lalui setiap pori-por i ditubuhmu, aku pikir hanya cara ke matian semaca m inilah yang paling sesuai untukmu"

Mendadak Him Ji im berseru dengan gelisah: "?Hoa locianpwee, kalau hendak turun  tangan,  lakukanlah dengan segera, Enci Hiat mo buncu disekap mereka didalam ruang hukuman, sedangkan Ku See hong telah dibawa..... dibawa ibuku menuju ke istana Cun kiong tian, apabila kita  tidak  secepatnya meno long mere ka, akan merasa menyesal sepanjang masa "

Mendadak paras muka Seng sim cianli Hoa Soat kun berubah menjadi a mat tak sedap dipandang, ujarnya dengan suara dingin:

"Him Ji im, tahukah kau akan dosa-dosa ibumu?"

Menyinggung ke mbali tentang dosa-dosa ibunya, Him Ji im merasakan hatinya amat sedih, sebab setiap perbuatan dari ibunya merupakan perbuatan terkutuk yang sangat me malukan, sebagai putri Ceng Lan hiang tentu saja dia sendiripun merasa tak punya muka untuk berte mu dengan orang.

Titik titik air mata segera jatuh bercucuran membasahi wajahnya, dengan sedih dia berkata:

”Hoa locianpwee, aku... aku mengerti akan hal ini. aku aku

hendak me mbunuhnya dengan tanganku sendiri "

Saat itu, Him Ji im benar-benar merasa sedih sekali, dia merasa hatinya hancur lebur karena pedihnya.

Tiba-tiba Seng sim cian li Hoa Soat Kun ikut menghela napas panjang, nadanya pun penuh kedukaan.

Suara gemer incing nyaring bergema me mecahkan keheningan.

Tahu-tahu Seng sim cian li Hoa Soat kun telah  meloloskan pedang ular perak yang mengge mbo l dibelakang bahu Ciu Heng thian .....

Kini wajahnya dingin dan kaku, sama sekali tidak berperasaan barang sedikitpun jua, tangan kirinya ketika  diayunkan  ke  depan diir ingi lekukan jari tangan, me mancarlah delapan gulung hawa serangan yang serentak menghajar delapan buah jalan darah penting ditubuh Ciu Heng Thian. Menyusul ke mudian pil Im hwee si hun wan dile mpar kan pula ke dalam mulutnya yang langsung me ngggelinding ke dalam perut.

Ketika cahaya perak berkelebat lewat...

Semburan darah segar me mancar ke e mpat penjuru ....

Dalam keadaan tertotok jalan darahnya, tak sempat lagi bagi Ciu Heng thian untuk me mperdengarkan jeritan ngerinya, tahu-tahu kedua belah kakinya sebatas lutut sudah terpapas kutung,  sementara badannya segera terjatuh ke atas tanah.

Secara beruntun Seng sim cian li Hoa Soat kun  mengayunkan pula tangan kirinya melancarkan  beberapa buah pukulan jari tangan.

Beberapa buah jalan darah disekitar lutut segera tertotok sehingga darah yang mengalir segera terhenti dan menghindar kan manus ia laknat itu mat i karena kehabisan darah.

Menyusul kemudian jalan darah diatas bahu lengan kanannya ikut tertotok pula. .. Dimana cahaya tajam berkelebat lewat, lengan kanan Ciu Heng thian kembali terpapas kutung sebatas bahu.

Sekarang, Ciu Heng thian telah berubah menjadi  seorang  manus ia yang sama sekali tidak  beranggota  badan,  ia  tidak menge luh ataupun mengerang kesakitan, tapi wajahnya mengejang sangat keras, peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran bagaikan   hujan,    sepasang    matanya    melotot    besar    dan me mancarkan sinar ke merah- merahan.

Tampaknya rasa benci Seng sim cian li Hoa Soat kun belum mereda, pedang ular  perak  yang  berada  ditangannya  tiba-tiba  me mancarkan cahaya tajam dan memperdengarkan   suara  yang me me kikkan telinga Sekarang seluruh wajah Ciu Heng thian yang

pucat pias bagaikan mayat berubah menjadi  merah darah, sementara batang hidungnya lenyap entah ke mana.

Mimik mukanya kini sudah berubah menjadi mengerikan sekali seperti iblis buas Namun sepasang matanya masih me lototi Hoa soat kun dengan pandangan gusar dan penuh kebencian...

Tentu saja sorot mata itu penuh dengan pandangan sinar benci dan denda m...

Dia seakan-akan hendak me mbalas dendam terhadap siksaan keji yang ditimpakan kepadanya sekarang.

Namun hal ini sudah jelas tak mungkin terjadi, karena mustahil dia dapat menuntut balas dengan keadaan seperti sekarang, dia hanya me mperoleh bagian siksaan dan penderitaan belaka ....

Sambil me ndengus dingin Seng sim cian li Hoe Soat kun berkata lagi.

"Hmmm" matamu berani melototi aku! Bagus, akan ku suruh kau jadi setan buta di akhirat nanti!"

Secara keji Hoa Soat kun mengangkat pedang ular peraknya lalu me lakukan gerakan mencungkil ke depan, sepasang mata Ciu Heng thian segera terkorek keluar

Tidak, bukan terkorek keluar ....

Coba lihatlah!

Sepasang biji matanya bukan me lotot ke luar berikut kulit  kelopak mata, melainkan biji kelopak mata itu menggelinding sendiri ke sisi telinga sebelah kiri dan kanannya, sambil bergetar tiada hentinya. Namun berhubung biji matanya masih terikat  oleh otot dan urat lainnya, maka kedua benda indera itu tidak sampai terjatuh ke bawah, melainkan hanya bergelantungan belaka.

Darah kental yang berbau a mis mengucur ke luar dengan derasnya dari balik kelopak matanya yang berlubang mengalir lewat biji matanya dan me mbasahi kedua biji bola mata tersebut sebelum menetes ke atas tanah.

Pemandangan se maca m ini benar-benar menggidikkan hati siapa pun yang me mandangnya. Bahkan orang akan merasa ngeri untuk me mperhatikan lebih lanjut....

Him ji im segera berpaling ke arah lain, ia tak  berahi menyaksikan pe mandangan yang mengerikan itu.

Untuk menghindar i musuhnya keburu mati karena kehabisan darah sebelum siksaan di ala minya, cepat-cepat Seng Sim cian  li Hoa Soat kun mengayunkan tangan kirinya me lancarkan serentetan hawa murni untuk me nyumbat jalan darah pada sepasang kaki lawan.

Kemudian tangan kanannya diayunkan ke depan dan pedang ular perak tersebut dengan berubah menjadi sekilas  cahaya putih langsung me luncur keluar mela lui jendela.

Dengan nada suara yang kaku dan tidak  berperasaan, perempuan itu berkata:

"Nah, silahkan kau menunggu siksaan dan penderitaan  yang lebih hebat dalam keadaan seperti ini!"

-ooodwooo-

BERBICARA sampai disitu, Seng sim cian li Hoa Soat kun berpaling kearah Him Ji im sa mbil berkata pula.

"Mari kita tinggalkan te mpat itu!"

Dari balik mata Him Ji im tiba-tiba me mancar keluar sorot mata yang penuh dengan nada me mo hon, katanya dengan sedih.

"Hoa locianpwee, kumohon kepada mu untuk menga mpuni ibuku, bebaskanlah dia dari penyiksaan semaca m ini, biar.... biarlah aku sendiri yang me mbunuhnya, harap kau kau jangan turun tangan

kepadanya."

Bagaimanapun bejadnya moral Ceng Lan hiang, perempuan itu tetap  merupakan  ibunya,  meski  Ceng  Lan  hiang  tak  pernah me mber ikan kasih sayang seorang ibu kepadanya sela ma ini, na mun ia merasa tak tega membiarkan ibunya menga la mi siksaan dan penderitaan yang begitu keja m.

"Kau sungguh-sungguh berani me mbunuh ibumu sendiri?" tegur Seng sim cian li Hoa Soat kun dingin.

Him Ji im me nghela napas panjang.

"Ibuku jahat, kejam dan banyak mence lakai umat persilatan, meski sudah mat ipun sukar untuk me nebus dosa-dosanya itu, apalagi dia telah me mbunuh ayahku, akupun akan me mbunuhnya, sebab aku harus me mbalaskan dendam bagi ke matian ayahku"

Menyinggung ke mbali tentang ayah pere mpuan ini, Seng sim cian li Hoa Soat kun me nghela napas panjang, dia merasa luka didalam hatinya kembali tersentuh.

Begitulah, setelah menghela napas panjang dengan a mat sedihnya dia berkata:

"Baiklah, me mang sudah seharusnya kau yang turun tangan sendiri!"

Berbicara sampa i disini berangkatlah mereka berdua menuju ke ruangan hukuman  dari  perkumpulan  Ban  sia  kau  untuk menyela matkan Keng Cin sin.

Jeritan  ngeri   yang   menyayat   hati   kedengaran   berge ma me menuhi angkasa, itulah jeritan dari Ciu Heng thian yang mula i tersiksa diatas tanah.

Sekujur badannya mulai bergetar keras bagaikan gelombang samudra karena sakit dan menderitanya .......

Sementara kedua biji bola matanya yang melo mpat keluar turut bergema pula seolah-o lah bisa melo mpat kesana ke mar i.

Rupanya racun obat perangsang Im hwee si hun wan yang bersarang dalam tubuhnya sudah mulai menyebar dan menunjukkan daya kerjanya ..... Kini, seluruh badannya dipenuhi aliran nafsu birahi yang panas menyengat, aliran birahi tersebut menerjang ke seluruh bagian nadi pentingnya sehingga menimbulkan penderitaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Penderitaan semaca m ini a mat hebat dan luar biasa sekali .....

Padahal saat ini dia berada dalam keadaan le mah, tiada satu bagian pun dari anggauta badannya yang mampu merasakan penderitaan dan siksaan dahsyat yang munculnya dari dala m.

Kulit wajahnya yang menyeringai seram, kini se makin mengejang keras hingga berkerut kencang.

Sedang kedua biji bola matanya yang menonjo l keluar turut bergetar pula dengan hebatnya ....

Tapi bergetarnya bola mata tersebut, mendatangkan semacam penderitaan baru yang jauh lebih hebat baginya.

Kejernihan otak Ciu Heng thian saat ini masih tetap utuh, sedang hati kecilnya benar-benar merasa benci sekali kepada Thian, karena me mber i siksaan yang begitu berat menjelang saat ajalnya, dia ingin berteriak ingin menjerit, ingin mendes is ......

Namun tak sebuah pun yang bisa dia lakukan.

Dia seakan-akan harus mener ima siksaan dan penderitaan tersebut dengan mulut me mbungka m.

Yaa, benar! Dia memang harus menerima segala sesuatunya itu tanpa berbicara.

Sebab inilah buah dari se mua perbuatan yang pernah dilakukannya sela ma ini, se maca m pe mba lasan yang dirasakannya.

Haruskah dia me mbenci langit?

Ataukah me mbenci kepada sesama manusia?

Tidak! Dia hanya membenci diri sendiri menyesali diri  sendiri yang telah banyak berbuat dosa dan kesakitan dimasa la mpau. sebab hanya dengan cara inilah dia baru dapat me lepaskan sukmanya dari se mua penderitaan.

Seringkali  manusia  me mang  menjatuhkan   dirinya   sendiri  ke le mbah kehancuran, ada kalanya disaat dia hendak  melakukan suatu perbuatan jahat, walaupun sadar dirinya bahwa perbuatan itu akan   me mperoleh  pe mba lasan,   toh    ia    tetap    bersikeras me lakukannya.

lnilah yang dina makan napsu berhasil mengalahkan kesadaran seseorang?

Tidak! tidak mungkin begitu!, karena kesadaran manusialah yang seringkali menangkan segala sesuatunya.

Kalau dia sa mpai mela kukan kejahatan, berarti watak jeleknya yang mendorong ia berbuat begitu.

Tentu saja ada sementara orang yang menyadari kesalahannya dan bertobat bila saat ajalnya dan saat pembalasan telah  tiba, namun sayang waktu demikian ini sudah tak sempat lagi, karena sudah tiada harapan untuk tertolong lagi.

Cuma, menyesal dan bertobat sebelum ajal me mang jauh lebih baik dari pada sa ma sekali tidak bertobat.

Seperti apa yang diajarkan dalam agama penyesalan serta bertobat merupakan pelepasan sukma dari beban berat.

Oleh sebab itu, penyesalan dan bertobat menjelang ke matian hanya semacam pelepasan belaka bagi sukma dari beban berat, bukan berarti bisa menghilangkan segala dosa dan kesalahan yang pernah di lakukannya sepanjang hidup.

Walaupun jiwanya telah ke mba li kealam baka, na mun na ma busuknya tetap tertinggal sepanjang jalan di alam se mesta ini.

Ciu Heng thian bukan ter masuk seorang manus ia yang mau menyesal dan bertobat menjelang saat ajalnya, rohnya boleh di bilang merupakan roh yang jahat dan penuh dosa. Penderitaan dan siksaan badan yang dialaminya, kian lama kiau bertambah hebat dan kuat menyusul berlalunya sang waktu.

Penderitaan tersebut tidak terbatas pada salah satu bagian tubuh saja, melainkan seluruh bagian tubuhnya.

Baik dikulit, didaging maupun dalam tulang belulang ....

Berada dalam keadaan seperti ini, dia bersedia mati secepatnya, namun panca indra serta segenap bagian tubuhnya tak sebuahpun yang bersedia mentaati keinginannya itu, maka diapun harus menerima segala sesuatunya dengan me mbungka m.

Menerima...

Menerima. ...

Mendadak ....

Lamat-la mat terendus bau a misnya darah yang sangat tebal menyelimuti seluruh angkasa.

Rupanya dari setiap lubang pori-pori tubuh Ciu Heng thian yang tergeletak di tanah, lamat-la mat me mancar keluar noda darah yang segera me mbasahi seluruh pakaiannya.

Mengikuti berlalunya sang waktu, tubuh Ciu Heng thian yang mengejang keraspun makin mereda sebelum akhirnya sa ma sekali menjadi tenang...

Setiap titik darah yang berada dalam tubuhnya telah mengalir keluar me lalui pori-pori badannya.

Maka diapun matilah, mati  setelah menerima siksaan dan penderitaan yang paling  keji  di  kolong  langit,  Thian  pun  tidak me mber i kese mpatan kepadanya untuk me lakukan apa yang lazimnya dilakukan seseorang yang mendekati ajalnya, atau paling tidak jeritan ngeri serta keluhan duka...

-ooodwooo- 
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).