Dendam Sejagad Jilid 35

 
Jilid 35

DENGAN cepat dia me mungut pedang Hu thian seng kiam dari tanah dan menyambar pakaian dari Ku See hong serta mengenakan ditubuh pe muda tersebut, kemudian me mbopong tubuhnya dan secepat kilat kabur keluar dari ruangan....

Tak la ma sepeninggal Keng C in sin,  Ceng Lan hiang telah menyelinap masuk pula ke dalam ruangan tersebut dengan ke cepatan tinggi, akan tetapi setelah menyaksikan ke e mpat sosok mayat dari dayang-dayangnya., dengan wajah berubah hebat dia segera menyumpah.

"Perempuan rendah, akan kulihat  hendak  kabur  ke manakah kau "

Sambil menyumpah, tubuhnya segera menerjang keluar pula dari ruangan itu dengan cepat...

Dalam  pada  itu  Keng  Cin   sin  telah   me ngerahkan   ilmu  mer ingankan tubuhnya menyelinap keluar dari ruangan dengan kecepatan luar biasa, dia bergerak menuju ke arah bangunan loteng yang amat luas diantara bangunan bangunan rumah dalam mar kas besar Ban sia kau tersebut.

Agaknya Keng Cin sin  hapal sekali dengan daerah disekitar tempat itu, apalagi ditengah hari bolong seperti sekarang, sesungguhnya mar kas besar perkumpulan Ban sia kau ini merupakan suatu te mpat ibaratnya sarang naga gua harimau.

Tapi kenyataannya Keng Cin sin dapat bergerak dengan leluasa tanpa menjumpai seorang manusia pun diantara penjaga-penjaga yang diatur disekitar tempat sana.

Waktu itu, walaupun  Ku  See  hong  ha mpir  se maput  karena ma lunya, tapi berhubung obat perangsang tersebut sudah mula i menyebar daya kerjanya, maka lambat laun dia  pun menjadi sadar ke mbali, hanya kejernihan pikirannya makin kabur...

Dengan sekuat tenaga menahan diri, ia berseru.

"Nona, aku... aku sudah terkena obat perangsang Ceng  Lan hiang kau .."

Masih tetap meneruskan perjalanannya dengan cepat, Keng Cin sin menjawab dengan suara sedingin es.

"Aku tahu, sebentar akan kucarikan akal untukmu!"

"Nona, bila aku tak dapat mengenda likan pikiranku lagi, mungkin aku "

Ku See hong ingin menje laskan kalau kemungkinan besar dia dapat mela kukan perbuatan yang tak sopan, na mun ucapan tersebut segera tertelan kembali setelah sa mpai ditengah jalan. Kemudian ia berbisik lagi agak ge metar.

"Nona, lepaskan aku, biar kuhabisi nyawaku sendiri "

Dia cukup tahu kalau dirinya sudah terkena obat perangsang nomor wahid  dari  Ceng  Lan  hiang,  mustahil  ada  orang  dapat me munahkan daya pengaruh obat tersebut, sebab toh akhirnya dia harus bersenggama dengan orang untuk me munahkan daya kerja obat tadi.

Kecuali kalau pere mpuan berkerudung warna warni ini bersedia me mbebaskan dia dari siksaan, tapi... bagaimana mungkin ia dapat bersenggama dengan seorang perempuan yang tak punya hubungan apa-apa dengannya, apalagi perempuan  itupun  sudah me mpunyai kekasih hati...

Tentu saja mimpipun Ku See hong tak pernah me nyangka kalau perempuan berkerudung warna warni ini sesungguhnya adalah Keng Cin sin yang dirindukan olehnya siang maupun mala m.

Waktu itu, Keng Cin sin tidak menjawab se mua pertanyaannya, ma lah tubuhnya bergerak semakin cepat lagi meluncur ke arah depan sana.

Dalam waktu singkat dia sudah melewati beberapa buah bukit yang tinggi, dan sekarang dia sedang menuju ke sebuah tanah perbukitan yang keadaan medannya makin la ma se makin bertambah berbahaya.

Sementara itu Ku See hong sudah mula i berteriak-teriak seperti orang gila, napsu birahinya sudah semakin me muncak sehingga sukar tertahankan, apalagi seluruh badannya berada didalam pelukan Keng Cin sin, sedang dari tubuh gadis itu menyiarkan bau harum aneh yang semakin merangsang napsu birahinya, bayangkan saja, betapa tersiksanya ai anak muda itu sekarang.

Kini, kesadarannya sudah benar-benar punah, sepasang tangannya meme luk tubuh Keng C in sin kencang- kencang sementara tubuhnya menggeliat kesana ke mar i.

Masih untung tenaga dala mnya sudah dibuyarkan oleh pengaruh obat, coba kalau tidak begitu,  mungkin  Keng  Cin  sin  tak  akan ma mpu me meluknya.

Makin la ma se makin tak ma mpu menahan diri lagi, teriakannya pun se makin menjadi-jadi.

"Nona... kau... kau..."

Keng Cin sin sangat sedih, hatinya benar-benar terasa amat pedih, dia tak tega menyaksikan kekasih hatinya tersiksa dalam keadaan seperti ini, tapi... dia sudah ternoda, sudah digagahi orang banyak secara bergilir, dia merasa malu untuk me mperse mbahkan tubuhnya yang telah ternoda ini kepada kekasih hatinya. Dengan suatu gerakan yang sangat cepat Keng Cin sin menyelinap masuk ke dalam sebuah hutan pohon cemara yang luas, lalu pelan-pelan me mbaringkan tubuh anak muda tersebut ketanah.

Namun Ku See hong masih tetap me meluk pinggangnya kencang-kencang...

Terpaksa Keng C in sin ikut duduk diatas tanah dan me meluknya lagi ke dalam rangkulan.

Dengan sorot mata yang memancarkan api birahi yang berkobar- kobar, Ku See hong mengawasi kain kerudung warna warni itu lekat-lekat, ke mudian teriaknya keras .

"Nona... marilah cepatlah.. aku sudah tak tahan lagi..."

Titik air mata mulai meleleh keluar me mbasahi sepasang mata Keng Cin sin, dia benar-benar a mat sedih...

Pancaran mata Ku See hong se makin menunjukkan api birahi yang memuncak, napasnya tersengkal-sengkal, sekarang ia sudah tak ma mpu lagi mengendalikan kobaran api birahi dalam tubuhnya.

Mendadak tangan kanannya menyambar kain kerudung warna warni yang dikenakan di wajah Keng Cin sin itu...

Keng Cin sin me mbentak nyaring dan sepasang tangannya secara tanpa sadar menolak ke depan, tubuh Ku See hong segera terpental dan menggelinding sejauh enam depa lebih.

Rupanya dibalik kain kerudung itu Keng  Cin  sin  tidak mengenakan topeng kulit manusianya, maka dikala Ku See hong menya mbar kain kerudungnya itu, dia menjadi sangat gelisah dan tanpa sadar mendorong pe muda itu....

Tampak Ku See hong merangka k bangun dari atas tanah dan mendonga kkan kepalanya, pancaran sinar kehangatan masih mencorong keluar dari balik matanya, dia mengawasi wajah Keng Cin sin tanpa berkedip, se mentara cucuran air mata me mbasahi pipinya me mbuat seluruh tubuhnya gemetar keras. Dilihat dari sini, dapat dibayangkan sampai dimanakah penderitaan yang diala minya sekarang.

Me mandang wajah Ku See hong yang begitu tersiksa dan mender ita, Keng Cin sin me ngira itulah akibat dari dorongannya barusan, hatinya menjadi kecut  dan  sedihnya makin  menjadi-jadi, ke mudian serunya dengan lirih:

"Engkoh Hong, aku... aku telah me lukaimu..."

Tubuhnya segera menubruk pula  kedepan, nada suaranya gemetar, pedih dan pilu, me mbuat orang yang mendengar turut menjadi sedih dan pedih.

Seruannya barusan bukan lain terpancar keluar dari dasar hati kecilnya yang murni, sedikitpun tiada nada kepura-puraan, andai kata Ku See hong berada dalam keadaan sadar sekarang, sudah pasti dia dapat merasakan kalau dia adalah Keng Cin sin.

Sembari berseru tadi, Keng Cin sin me mentangkan tangannya dan me meluk tubuh Ku See hong kencang- kencang.

Kedua orang itu segera saling berpelukan dengan kencangnya...

Ku See hong me meluk tubuh gadis itu erat-erat, tangannya tidak menganggur begitu saja, dengan cepat dia mulai melepaskan se mua pakaian yang dikenakan gadis tersebut..

Dalam waktu singkat....

Sesosok tubuh yang indah dan putih halus sudah muncul di bawah sinar matahari dalam keadaan telanjang bulat, begitu halus dan indah tubuhnya bagaikan sekuntum bunga yang muncul dari balik kola m..

Dengan tangan kanan ge metar keras sekali lagi  Ku  See  hong me mbuka kain kerudung wajahnya, kali ini Keng Cin  sin  tidak meno lak, sambil menggigit bibirnya dan menghe la napas  ia berguma m.

"Aaaai, kejadian ini benar-benar suatu takdir yang rupanya sudah ditentukan se menjak dulu " Dengan tangan yang ge metar keras pun dia me mbantu pe muda itu untuk melepaskan....

Dengan pandangan terperana Ku See hong mengawasi wajah Keng Cin sin yang cantik jelita itu tanpa berkedip, lalu setelah tertawa bodoh katanya:

"Nona... kau... kau a mat cantik "

Keng Cin sin merasakan hatinya bergetar amat keras, segera pikirnya:

"Jangan-jangan pikirannya sudah kabur sehingga dia tak mengetahui siapakah diri sendiri ?"

Yaa, waktu itu Ku See hong me mang sudah tak kenal lagi perempuan ini sebagai Keng Cin  sin,  sebab  di  dalam  benaknya me mang tak pernah menduga kalau dia adalah Keng Cin sin, yang masih tertera dalam benaknya sekarang adalah apa yang barusan terlihat, yakni perempuan berkerudung warna-warni.

Dengan penuh bernapsu Ku See hong me me luk tubuhnya yang halus dan telanjang bulat itu ke dalam pangkuannya, dalam  keadaan terpengaruh oleh napsu birahi, pe muda tersebut tak dapat mengenda likan diri lagi, dia menundukkan kepalanya dan mencium bibirnya yang mungil itu dengan penuh bernapsu.

Keng Cin sin yang seluruh tubuhnya dipeluk dan bibirnya  di kecup dengan mesra  oleh kekasih hati yang dipikirkan siang dan  ma lam ini benar-benar tak ma mpu mengendalikan diri pula, hatinya berdebar keras apalagi dia me mang sudah bertekad untuk menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati pe muda itu.

Sesungguhnya Keng Cin sin sangat mencintai pemuda itu, cuma dia merasa rendah diri, dia tak ingin menyerahkan tubuhnya yang sudah ternoda itu untuk kekasih hatinya..

Padahal Keng C in sin adalah seorang gadis yang suci bersih, betul tubuhnya sudah dinodai orang, namun  itu terjadi bukan atas ke mauannya sendiri, hatinya masih tetap suci dan bersih. Dan sekarang, diam-dia m Keng Cin sin  sudah menga mbil keputusan....

Tentu saja gadis itupun selalu berharap dapat me mperoleh kesempatan untuk bermesraan seperti sekarang ini dengan Ku See hong, walaupun cuma sekali, namun baginya sudah  lebih  dari cukup.

Dia tahu Ku See hong t idak mengena l dirinya, setelah hubungan itu terjadi tentu saja dia akan menjumpa inya dengan wujud manus ia berkerudung warna warni dan menghadapinya dengan perkataan.

Kemudian bila dia bersa ma pe muda itu berhasil me mbunuh musuh besarnya, secara diam-dia m dia akan pergi meningga lkannya dan menge mbara sa mpai ke ujung langit.

Bau lelaki yang merangsang napsu menghe mbus lewat me mbuat perasaannya goyah dan tak terkendalikan,  hawa  napsu birahinya  la mbat laun mula i berkobar, sekarang dia pun balas menciumi pemuda itu. Balas me....

Sekalipun dia pernah diperkosa seratus bahkan seribu kali oleh kaum laknat, apa yang dirasakan waktu itu hanya penderitaan dan siksaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tapi kali ini, dia merasa begitu bahagia ....

Bahkan dia ingin me manfaatkan waktu ini untuk menikmati benar-benar apa yang disebut sebagai hubungan sua mi istri....

Dengan demikian dia baru akan me mpunyai kenangan dimasa mendatang akan hari yang penuh kebahagian ini...

Setelah berakhirnya hujan badai yang penuh kesyahduan dan kenikmatan, akhirnya Ku See hong tertidur dengan nyenyaknya...

Cepat-cepat Keng  Cin  sin  mengenakan  pakaian  sendiri  dan me ma kaikan pula pakaian pemuda itu, lalu dipeluknya tubuh Ku See hong ke dalam rangkulannya dan me meluk dengan mesra. Air mata telah me mbasahi seluruh wajahnya, dengan jari tangan yang halus dan le mbut dia me mbelai rambut Ku See hong penuh perasaan cinta.

Ia nampak begitu hangat, begitu lembut dan penuh kasih sayang .... Seperti seorang istri setia yang sedang menyayangi sua minya... Me mandang wajah kekasih hatinya yang sedang tertidur dengan senyuman menghiasi ujung bibirnya....

Mendadak dia merasa amat sedih dan pilu, air mata tanpa terasa jatuh bercucuran me mbasahi wajahnya.

Sedemikian dala mnya dia mencintai pe muda itu.

Betapa beratnya perasaan gadis itu untuk me ninggalkan dirinya, dia ingin kalau bisa hidup berda mpingan sepanjang masa dengannya....

Tapi, ia sudah ternoda... dia pernah di perkosa  secara  bergilir oleh sekawanan manus ia laknat sebanyak seratus bahkan seribu kali...

Bila teringat sampai disini, dia tak ma mpu untuk menahan perasaan pedih dalam hatinya lagi, dia menangis tersedu-sedu dengan begitu sedihnya ....

Dia mendenda m, me mbenci ketidak adilan Thian, ketidak berperasaannya Thian, mengapa bersikap begitu kejam kepadanya.

ooodwooo

Isak tangisnya yang me milukan hati itu bergema di angkasa dan menyebar sa mpai di ma na- mana ....

Ia seperti hendak mengetuk hati Thian dan bertanya sampai kapankah penderitaan seperti itu baru akan berakhir? Mendadak...

Keng Cin sin  menghentikan isak tangisnya dan berguma m seorang diri dengan suara lirih.

”Keng Cin sin wahai Keng Cin sin.. apakah kau belum merasa puas? Kau telah melakukan satu kali hubungan yang hangat dan penuh kebahagian dengannya, padahal kau me mang tak dapat hidup sebagai suami istri dengannya sepanjang hidupmu, sekarang apa yang kau inginkan lagi sekarang? Kau mengharapkan kebahagian hidup bersa manya sebagai suami istri?

"Aaaah, kesemuanya itu sudah musnah semenja k kau menga la mi segala sesuatu mus ibah di istana Huan mo kiong, takdir telah menentukan kau untuk hidup sengsara Di saat kau menyatakan kesetiaanmu kepadanya, bukankah kau mengucapkan  kata-kata yang bersifat jelek?"

"Waktu itu, tentu saja kau tak akan terbayang bila kebahagian yang bakal kau reguk begitu singkat, belum puaskah kau? Sekalipun kebahagian ini a mat singkat, namun sudah cukup sebagai kenangan dimasa mendatang..."

Mendadak....

"Aaah...." dengusan tertahan bergema me mecahkan keheningan

.....

Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat, Keng Cin sin mengenakan ke mbali baju warna warninya.

Ku See hong telah mendus in dari tidurnya, dia telah me mperoleh kesadarannya kembali, ketika menggerakkan tangannya, ia merasa seluruh tubuhnya seakan-akan sedang berbaring diatas tubuh yang le mbut dan halus, disamping itu diapun mengendus bau harum semerbak yang me mabukkan.

Ia  merasa  seluruh  tubuhnya  segar,  begitu  bahagia,   seperti me layang dalam awan yang tebal.. Dia tak ingin mendus in dari impian indah ini, karena dia kuatir kebahagian dan keindahan akan segera lenyap.

Tapi, Ku See hong mulai me mbayangkan ke mbali semua kejadian yang telah diala mi nya sela ma ini, dia seperti sedang me ngenang ke mbali suatu kejadian yang telah berlangsung puluhan tahun berselang .....

Teringat olehnya, dia berada dalam pelukan pere mpuan berkerudung warna-warni dan mengajaknya kabur dengan kecepatan luar biasa, sedang napsu birahinya waktu itu sedang berkobar dan mencapai puncak yang tak terkendalikan ..

Teringat sampai disini, Ku See hong merasa kepalanya seperti di sambar guntur yang me mbelah bumi disiang hari bolong, telinganya terus mendengung keras.

Dia tak berani berdiam diri lagi dan buru-buru me mbuka matanya, pertama-tama yang terlihat olehnya adalah kain kerudung warna warni yang berlukiskan tengkorak.

Menyusul  ke mudian dia  melihat   dua  baris  air   mata   yang me mbasahi sepasang mata pere mpuan itu dan sedang me mandang kearahnya dengan terperana.

Waktu itu, Ku See hong merasa sakit hatinya karena sedih, hatinya bagaikan di te mbusi oleh berjuta-juta batang anak panah, dia merasa sedih, menyesal dan takut.

Untuk sesaat empat mata saling berpandangan tanpa berkedip, kedua belah pihak pun sa ma-sa ma me mbungka m dalam seribu bahasa.

Teringat olehnya kalau dia telah me lakukan suatu kesalahan lagi dan dosa kesalahan ini tak pernah akan dapat ditebus olehnya, sebab perempuan itu bukan  miliknya  dan  perempuan  itu  sudah me mpunyai kekasih hati sendiri.

Keng Cin sin menghela nafas sedih, ke mudian katanya. "Mungkin inilah takdir yang sudah ditentu kan se menjak kita di lahirkan, se mua kejadian seperti dalam alam impian saja...

"Padahal kehidupanku sela ma ini bagaikan di alam impian, tentu saja semua impian itu selalu indah, mesra, hangat dan syahdu, tapi bila sudah sadar dari impian maka yang tertinggal hanya kenangan yang pahit..."

Beberapa patah kita itu diucapkan dengan nada yang sayu dan me milukan hati.

Ku See hong dibikin menyesal dan sedih sekali atas ucapan tersebut, dia menyesal, mengutuk diri sendiri sementara air matanya jatuh berlinang me mbasahi pipinya.

"Kini impian sudah lewat, keindahanpun sudah pergi, kau boleh bangun berdiri" kata Keng Cin sin lagi dingin.

Sesungguhnya Ku See Kong tak ingin me lepaskan diri dari pelukan gadis itu, sebab dia merasakan kehangatan dan kebahagian yang tak terhingga di dalam pelukannya..

"Nona... aku... aku telah merusak keperawananmu, aku pantas untuk mati" bisik Ku See hong dengan pedih.

Keng Cin sin segera tertawa dingin.

"Se muanya ini bisa berlangsung karena muncul dari ke mauanku sendiri, kau tak usah menyalahkan dirimu, anggap saja peristiwa ini sebagai suatu impian"

Ku See hong dapat melihat, dari balik mata perempuan itu terpancar sinar mata penuh kesedihan dan kedukaan terutama di kala mengucapkan kata-kata tersebut.

Kesemuanya ini mena mbah penderitaan dalam hatinya, ia segera berpekik:

"Nona, aku... aku telah menghancur kan hidupmu.... aku telah  me lakukan kesalahan besar..." Sambil berpekik pe muda itu merentangkan sepasang lengannya dan me meluk pinggang Keng Cin sin erat-erat...

Sambil mendengus dingin Keng Cin sin menca mpakkan tubuhnya ke belakang dan mendorong tubuh Ku See hong kuat-kuat, serunya dengan suara dingin:

"Hmm, kau ini bagaimana sih? Masa belum puas? Aku toh sudah menyuruhmu untuk menganggap kejadian ini sebagai suatu impian belaka "

Ku See hong duduk bersila dihadapannya, lalu dengan wajah penuh perasaan menyesal, ujarnya dengan sedih.

"Nona, apa yang kau suruh kulakukan akan kulakukan"

"Kalau tidak begini, mau apa kau ....?" jengek Keng  Cin  sin sambil tertawa sedingin es.

Mendengar ucapan mana, Ku See hong menjadi sangat terperanjat, segera pikirnya:

"Yaa, benar! Kalau tidak apa pula yang mesti kulakukan? Apakah aku harus mengawininya? Tapi, aku "

Berpikir sampa i disitu dia lantas menghela napas sedih, katanya ke mudian:

"Aku hanya merasa diriku penuh dosa dan kesalahan, selamanya merasa bersalah kepada nona... lagipula  kau pun sudah berulang  kali menyela matkan jiwaku "

"Sesungguhnya aku me mang sudah ternoda dan tidak suci lagi" kata Keng Cin sin dengan sedih, "dan sekarang apa salahnya kalau kukorbankan tubuhku demi menyelamatkan sele mbar jiwa mu? Asalkan kau hidup sebagai manus ia baik dan berbakti demi kebahagian umat manus ia, kesemuanya itu sudah lebih dari cukup untukku!"

Ku See hong benar-benar merasa sangat terharu, dia merasa perempuan ini sangat agung dan bijaksana. pengorbanannya sangat tulus dan murni, tapi ..... Ku See hong merasa ia telah berhutang budi kepadanya.

Pada dasarnya pemuda itu adalah seorang yang romantis dan kaya akan perasaan, pengorbanan dari gadis itu  bagaimana mungkin bisa ditanggapi dengan begini saja? Atau mungkin apa yang telah terjadi hanya suatu impian belaka!

Yaa, kejadian itu me mang agak mirip dengan impian, hanya semaca m khayalan belaka.

Agak tergugup Ku See hong berkata. "Nona, sudah kau temukan kekasihmu itu?"

"Sudah, tapi aku tak ingin berte mu dengannya!" Keng Cin sin tertawa dingin.

Sebenarnya Ku See hong mempunyai maksud lain,  andaikata gadis itu mengatakan kalau belum dite mukan, ma ka dia ber maksud hendak mengawininya, atau...

Tapi sekarang, setelah mendengar perkataan itu, harapannya segera turut lenyap tak berbekas.

Tapi dengan nada menyelidik ke mba li Ku See hong berkata dengan wajah tersipu-sipu:

"Nona, kau sudah banyak melepaskan budi kebaikan bagiku, dan aku ingin menda mpingimu untuk sela manya, demi me mba las budi kebaikanmu sela ma ini.”

Mencorong serentetan cahaya tajam dari balik mata Keng Cin sin, ditatapnya wajah Ku See hong sekejap, kemudian ujarnya dengan suara dingin:

"Apakah kau tak pernah me mikir kan tentang Im Yan - cu yang sedang menghadapi maut serta Him Ji im yang masih berada didalam sarang harimau ?"

Ku See hong salah mengira dengan maksud perkataannya itu, dianggapnya perempuan itu bersedia dikawini hanya kuatir menyusahkan Im Yan cu serta Him Ji im, maka buru-buru katanya lagi:

"Mereka berdua sangat mencintai diriku, tak mungkin akan timbul kejadian yang tidak menyenangkan hati!.."

"Kau manusia yang lupa  budi, me lihat sekarang mencintai seorang, sesungguhnya apa maksudmu?" umpat Keng Cin sin tiba- tiba.

Di da mprat gadis tersebut, Ku See hong merasa kepalanya bagaikan diguyur dengan air dingin, wajahnya segera berubah menjadi merah me mbara, ma lunya bukan main.

Sambil menghela nafas sedih Keng Cin sin berkata lagi:

"Kau berniat me mba las budi kebaikaan bukan? Padahal akupun me mpunyai sedikit urusan dan moho n bantuanmu"

"Persoalan apakah itu?" buru-buru Ku See hong bertanya, "harap nona me mberi perintah, asal aku dapat melaksanakannya, biar matipun aku tak akan menyesal"

"Aku minta kepadamu untuk menda mpingiku me lakukan pertarungan dan memba las dendam, ke mudian seusai pekerjaan tersebut kita berlalu sendiri-sendiri dan saling tidak punya hubungan lagi, jika kau setuju kita tetapkan dengan sepatah kata ini"

"Nona adalah tuan penolong  yang  telah  beberapa  kali  menyela matkan jiwaku, musuh besarmu merupakan pula musuh besarku, aku orang she Ku tentu saja akan mengabul kan permintaanmu, cuma aku merasa dengan berbuat demikian masih belum bisa me mbalas budi kebaikan yang telah kau lepaskan kepadaku"

"Kau ini mengapa sih cerewet amat? kalau kau masih saja  berbuat demikian terus, aku tak akan me mohon bantuanmu"

Ku See hong benar-benar dibikin kebingungan setengah mati, sebab menurut apa yang dia ketahui, setiap wanita selalu menganggap kesucian dirinya sebagai nyawa kedua, dan sekarang perempuan tersebut, bersedia mengorbankan tubuhnya demi menyela matkan sele mbar jiwanya, tapi tidak mau menerima permintaan  apapun  darinya,  bahkan  permintaannya   untuk menda mpinginya sepanjang hidup pun ditolak mentah- mentah....

Walaupun paras mukanya menunjukkan sikap yang dingin seperti es, padahal ia sangat menyayangi pemuda itu, tanpa terasa Ku See hong mulai berpikir.

"Mungkinkah aku dapat me mperoleh kasih sayangnya, karena wajahku ha mpir mirip dengan raut wajah kekasihnya dulu? Tapi mustahil masa lahnya begini sederhana, bukankah dia menyatakan kalau kekasihnya sudah ditemukan? Mengapa dia tidak mencarinya tapi melayani aku ....? Ya, setelah bergaul sekian la ma dengannya, dia seperti menyimpan sesuatu kepedihan hati dalam hati kecilnya

...."

Mendadak.....

Satu ingatan melintas didalam benak Ku See hong ....

Tiba-tiba saja ia teringat sewaktu sedang ber mesraan dengan dirinya tadi, dia merasa paras muka pere mpuan ini cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, tidak seperti wajahnya dulu yang jelek dan aneh..

Ku See hong menghe la napas panjang, la lu berkata:

"Nona, kau adalah penolongku yang besar, aku orang she Ku ingin sekali melihat wajah aslimu agar dalam benakku  terlintas kesan wajahmu itu"

Dia m-dia m Keng Cin sin merasa terkejut setelah mendengar perkataan itu, segera pikirnya:

"Jangan-jangan dia sedang mengenang ke mba li wajah asliku yang telah disaksikan olehnya tadi?"

Berpikir sa mpa i disini, dengan suara dingin, ia lantas mena mpik: "Tidak usah,  asal kau  bersedia  bekerja  sa ma  denganku untuk

me lawan  musuh,   budi kebaikan   yang  pernah  kau  terima boleh dianggap impas, siapapun tidak berhutang kepada siapa, tapi bila kau mena mpik, terpaksa aku harus pergi lebih dulu dari sini.”

Sembari berkata, gadis itu segera bangkit berdiri dan siap berlalu dari situ.

"Eeeeh.... Nona.... nona ..! Tunggu dulu, Tunggu dulu!" buru- buru Ku See hong berseru dengan ce mas.

Padahal Keng Cin sin me mang berpura-pura belaka, setelah mendengus dingin dia duduk ke mba li ke atas tanah, kemudian berkata dengan suara yang dingin.

”Apa yang hendak kau katakan? Katakan saja dengan cepat" Setelah menghela napas panjang Ku See hong bertanya:

"Bolehkah aku tahu siapa na ma musuh besar nona itu?"

Mendengar pertanyaan tersebut, tiba-tiba mencorong sinar gusar penuh kebencian dan perasaan dendam dari balik matanya, dengan gemas ia berkata:

"Mereka adalah manusia- manus ia dunia persilatan dewasa ini!" Terkesiap Ku See hong setelah mendengar perkataan itu, diam-

diam ia lantas berpikir:

"Jangan-jangan ia sudah gila? Masa segenap umat persilatan adalah musuh besarnya? Kalau inilah per mintaannya, urusan menjadi besar sekali "

Sementara dia masih termenung, tiba-tiba Keng Cin sin berkata lagi sa mbil menghela napas:

"Ku See hong, tahukah kau masih tinggal berapakah  anggota Hiat mo bun ku?

Ku See hong se makin tertegun lagi, apa maksudnya mengajukan pertanyaan tersebut? Bukankah anggota Hiat mo bun berikut dirinya hanya dua belas orang?

Maka jawabnya pelan: "Nona, apakah anggota perguruanmu berjumlah dua belas orang

..."

"Keliru, sekarang tinggal aku seorang!" seru Keng Cin sin setengah kalap.

"Jadi sisanya sudah mengkhianati dirimu?" Ku See hong a mat terperanjat.

Sejak Ku See hong dilarikan Ceng Lan hiang dan disekap kedalam istana Cun kiong tian nya, hingga kini dua tiga harian sudah lewat, sudah barang tentu dia tidak tahu kalau pada saat yang bersamaan dikala dia mencari rumput Im cu cau, Hiat mo bun telah mengala mi suatu mus ibah yang a mat menyedihkan.

"Tidak" sahut Keng Cin sin dengan sedih, "mereka sudah dikerubuti kawanan jago dari dunia persilatan dan mati terbunuh".

Ku See hong benar-benar amat terperanjat, buru-buru dia bertanya lagi.

"Apakah dua bersaudara Ho dari Kang lam siang hou juga. . ."

Air mata segera bercucuran membasahi wajah Keng Cin sin, dia manggut- manggut.

"Dua bersaudara Ho telah berpulang ke alam baka, selain aku seorang, dari sebelas anggota Hiat mo bun telah kutemukan kesembilan sosok mayat mereka hanya dua orang diantaranya yakni Hoa siong si dan Kho It ki yang belum diketahui mati hidupnya."

Selama ini boleh  dibilang  Kanglam  siang  hou  sudah  banyak me lepaskan budi dan perlindungan untuk Ku See hong, tatkala mendengar berita duka  ini, tanpa terasa titik air mata  jatuh berlinang me mbasahi pipinya, diam-dia m dia pun berdoa agar arwah-arwah mereka berhasil me mperoleh ketenangan yang kekal.

Kemudian dengan sedih dia bertanya:

"Mereka telah mat i terbunuh ditangan siapa saja?" "Aku tidak mengetahui secara pasti siapakah pe mbunuhnya, namun aku berani me mastikan se mbilan partai besar dari daratan Tionggoan turut serta dalam peristiwa ini, mereka dibantu oleh Bu lim jit hun yang baru muncul di dalam dunia persilatan"

"Jadi peristiwa berdarah itu hasil perbuatan dari sembilan partai besar dunia persilatan yang disebut jago-jago penegak  keadilan itu?" Ku See hong sangat terperanjat.

"Hmm, mereka menganggap dirinya sebagai anggota perguruan kaum lurus, padahal perbuatan yang mereka lakukan  hanya perbuatan-perbuatan busuk yang rendah dan me ma lukan, aku bertekad akan me musnahkan segenap manus ia dari se mbilan partai besar dan me mbongkar kedok mereka."

"Ku See hong! Masih ingatkah kau dengan pertarungan berdarah Bun-ji koan su di bukit Soat san? Bukankah waktu itupun orang- orang dari se mbilan partai besar terlibat pula dalam persekongkolannya dengan ketua Ban sia kau sekarang Ceng Lan hiang?"

"Coba kau saksikan perbuatan busuk dan jahat dari orang-orang Ban sia kau didalam  dunia  persilatan,  mereka  sudah  sering mence lakai orang dan berbuat jahat, tapi kenyataannya orang- orang dari se mbilan partai besar tidak mau tahu akan peristiwa ini, sudah jelas semuanya ini mer upakan bukti-bukt i yang menunjukkan kalau mereka adalah manus ia- manusia yang t idak beres"

Mengungkap ke mbali peristiwa tragis yang menimpa Bun ji koan su, tanpa terasa Ku See hong teringat pula akan ke matian kedua orang tuanya yang mengenaskan, semua kesedihan dan perasaan dendam yang bertumpuk-tumpuk dalam hati me mbuatnya terpengaruh emosi.

Mendadak ia mendongakkan kepalanya dan menyanyikan sajak lagu Dendam sejagad.

Suaranya keras dan penuh nada sedih, ketika  menga lun di angkasa dan mengge ma sampai ditempat yang jauh, terasa begitu me mukau dan menyayat perasaan. Mengikuti suara nyanyian yang penuh dengan kesedihan ini, air mata Ku See hong segera jatuh bercucuran dengan a mat derasnya.

Tanpa terasa Keng Cin sin terpengaruh juga oleh suara nyanyian yang me medihkan hati itu, titik air mata segera jatuh bercucuran pula me mbasahi pipinya...

Berbicara sesungguhnya, perasaan sedih yang dialaminya sekarang  jauh  me lebihi  perasaan  Ku   See   hong,   ia   sedang me mbayangkan bagaimana ia me mbalas  dendam  sakit   hatinya, ke mudian secara dia m-dia m pergi meningga lkan kekasih hatinya ini untuk sela ma- la manya...

Dia akan merasakan panderitaan, kesepian dan kesengsaraan ....

Aaai, nasib yang diala mi Keng Cin sin terlalu tragis, dan dia pun harus  hidup  sengsara  seorang  diri,  begitu  mengenaskan  dan me milukan hati peristiwa ini...

Begitulah,  untuk  beberapa  saat  lamanya  ke   dua  orang  itu me mbungka m dalam seribu bahasa ....

Pertama-tama Keng Cin sin yang menghe la napas sedih  lebih dulu la lu berkata: "Kehidupan Bun ji koan su cianpwee me mang terlalu mengenaskan, bait lagu yang dibuat olehnya pasti mengenaskan pula kedengarannya "

"Nona" tiba-tiba Ku See hong menghela napas, "konon kau telah me miliki sejilid kitab pusaka, entah kitab apakah itu?"

Rupanya Ku See hong mendengar orang bercerita, konon Keng Cin sin me miliki kitab pusaka Cang ciong pit kip, itulah sebabnya dia mengajukan pertanyaan ini..

(Perlu diketahui,  musuh  sebenarnya  sudah  dapat  meraba maks ud dari bait lagu Dendam sejagad secara sa mar-samar kecuali arti yang sesungguhnya dari bait terakhir dan bait ke dua).

Mendapat pertanyaan itu, Keng Cin sin segera menjawab. "Kitab pusaka Cang ciong pit kip!" Ku See hong menjadi tertegun setelah mendengar perkataan ini, tanyanya kemudian dengan suara pelan.

"Nona, sewaktu kau peroleh kitab tersebut, apakah kau melihat pula tulisan dari guruku?"

Kembali Keng Cin sin me ngangguk.

"Benar! Semua musibah dan tragedi yang telah menimpa Bun ji koan su locianpwee telah ditulis dalam kitab pusaka Cang ciong pit kip bagian atas"

Mendengar perkataan itu, Ku See hong pun se ma kin terkejut lagi. "Jadi kitab Pusaka Cang ciong pit kip terbagi menjadi bagian atas

dan bawah?"

"Benar, kitab pusaka yang diperoleh gurumu itu  merupakan bagian atas, dalam kitab mana termuat segala ilmu silat  Sakti seperti ilmu telapak tangan, ilmu kepalan, Ilmu pedang dan lain- lain, sedangkan bagian bawahnya termuat ilmu silat yang bisa dipelajari secara singkat serta ilmu tenaga dalam dan cara menye mbuhkan berbagai maca m luka..."

Ku See hong segera menghela napas panjang, katanya lagi. "Sewaktu guruku  mengajarkan lagu  Dendam sejagad kepadaku

tempo hari,  beliau pernah berpesan kalau rahasia kitab pusaka Cang

ciong pit kip ter maktup dalam bait lagu tersebut, sayang sekali aku bodoh sehingga sampai sekarangpun belum kupaha mi.

"Nona adalah orang yang berhasil mendapatkan kitab pusaka tersebut, mungkin kau dapat me mecahkan rahasia dibalik bait lagu tersebut, harap sudi me mber i petunjuk.

"Bun ji koan su Him Ci sin locianpwee adalah seorang tokoh persilatan yang amat hebat, mungkin maksud yang terkandung dalam bait lagu itu bukan cuma menyangkut rahasia kitab pusaka Cang ciong pit kip belaka.

"Coba kau sebutkan bait bait lagu itu dan mari kita pikirkan bersama-sama." Ku See hong tersenyum.

"Nona benar-benar amat pintar, mungkin dibalik bait lagu tersebut dia orang tua telah menyis ipkan banyak rahasia"

Maka pemuda itu mulai menyanyikan bait pertama dari syair "Dendam Sejagad"

Dengan penuh seksa ma Keng Cin sin mendengarkan isi dari bait pertama ini, ke mudian setelah termenung sejenak, dia berseru tertahan.

"Aaah, itulah dia! Him Ci sin locianpwee me ma ng luar biasa dan berbakat hebat, dia betul-betul Bun bu cuan cay" (Mahir dalam ilmu sastra maupun ilmu silat)...

"Harap  nona  sudi  me mber i  petunjuk,   bagaimana  caranya me mecahkan teka-teki ini?"

Ketika mendengar perkataan tersebut Keng Cin sin  segera tertawa cekikikan, tapi untuk mewujudkan ke mbali sikapnya yang dingin, terpaksa ia mendengus seraya berkata.

"Hmm, aku harap sikapmu jangan terlalu dibuat-buat "

Sebenarnya Ku See hong ingin lebih me mpererat hubungannya dengan perempuan itu, siapa tahu perempuan ini segera merasakan gejala tersebut dan bersikap ketus lagi kepadanya, tanpa terasa merah padam sele mbar wajahnya karena jengah, dia menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tidak berbicara lagi.

Menyaksikan sikapnya yang mengenaskan itu, lama kela maan Keng Cin sin menjadi tidak tega sendiri, setelah menghela napas panjang dengan penuh kesedihan dia berkata:

"Ku See hong, tahukah kau semasa jaman Cun ciu Cian kok dulu, dinegeri Go terdapat seorang perdana menteri yang bernama Ngo Cu siu "

Ku See hong manggut- manggut. "Yaa, aku dengar ilmu silat yang dimiliki orang ini lihay sekali, konon kitab pusaka Cang ciong pit kip ini merupa kan hasil ciptaannya yang ditinggalkan didunia ini?"

Kembali Keng Cin sin bertanya:

"Tahukah kau setelah Ngo Cu siu mati dengan perasaan dendam, rakyat telah membangunkan kuil untuk me mperingati dirinya yang ke mudian kuil itu dina makan kuil Ngo siang bio?"

Dengan perasaan terkejut Ku  See hong segera berseru. . "Waaah, kalau begitu bukankah arti dari bait pertama syair

Dendam sejagad ini, mengartikan kalau kitab pusaka Cang ciong pit kip disimpan didalam kuil Ngo siang bio? Mengapa aku tak dapat menebak sa mpai kesitu?"

Sambil tertawa dingin Keng Ciu sin segera berseru:

"Dikolong langit terdapat beribu-ribu buah kuil Ngo siang bio, tahukah kau kuil yang manakah dipakai untuk menyimpan kitab pusaka Ceng ciong pit kip tersebut?"

"Aaaah, sungguh me malukan" pikir Ku See hong.

Maka sa mbil tersenyum diapun  berkata:  "Harap  nona,  sudi me mber i penjelasan!"

"Ketika Ngo Cun siu, di buatkan kuil untuk perta ma kalinya, tahukah kau kuil tersebut dibangun dimana?"

"Di sungai Cho go kang, tapi tiada orang yang mengetahui dimanakah te mpat tersebut berada!"

"Sekarang aku akan menjelaskan secara ringkas  arti dari syair bait pertama dari Dendam sejagad tersebut!"

"Pada kata yang pertama, Dendam sejagad sepanjang masa, rasanya tanpa penjelasan dariku pun kau sudah mengerti, jadi aku tak perlu menjelaskan lebih jauh.

"Sedangkan pada kata baris yang kedua, apabila digabungkan menjadi satu maka dapat ku artikan sebagai. . "Kitab pusaka Ceng Ciong pit kip itu disimpan dalam kuil Ngo siang bio yang dipakai untuk me mperingati Ngo Cun siu dari negeri Go, dan kuil ini didirikan di tengah bukit yang jauh dari keramaian dunia."

"Selanjutnya dikatakan didepan kuil ada sungai yang beraliran deras, ini berarti didepan kuil Ngo siang bio yang dimaksudkan pasti menga lir sebuah sungai yang beraliran deras, menurut apa yang  kita ketahui, Ngo siang bio dalam dunia saat ini hanya sebuah yang didirikan diujung sungai Cho go kang, maka kitab  pusaka  Cang ciong pit kip tersebut tak dapat disangkal lagi pasti tersimpan dalam kuil Ngo Siang bio disungai Cho go kang"

"Penjelasan nona me mang benar tapi sayang nya tiada orang yang mengetahui secara, persis dimanakah kuil tersebut berada"

Keng Cin sin tertawa hambar.

"Andaikata tempat yang dipakai untuk me nyimpan kitab pusaka ini dapat dikunjungi se mbarang orang. mustahil  Him Ci sin locianpwee akan menyimpan kitab tersebut disitu."

"Padahal dalam perkataan Him locianpwe tersebut bukankah sudah diterangkan letak kuil Ngo siang bio tersebut secara persis?"

"Di belakang kuil mungkin terdapat tanah perbukitan  atau gunung yang tinggi, sedangkan sungai Cho go kang yang mengalir didepannya bukankah berarus deras?

Maka ini bisa dibilang kuil Ngo siang bio tersebut terletak  di bagian sungai Cho go kang yang dikelilingi bukit dengan arus yang deras dan o mbak yang berbuih"

Kembali Ku See hong menghela napas sedih.

"Nona benar seorang yang pintar, setelah mendengarkan penjelasanmu sekarang, aku benar-benar merasakan pengala man dan pengetahuanku berta mbah"

Keng Cin sin tertawa dingin. "Aku pernah berkunjung ke tempat tersebut dan mengala minya sendiri, tentu saja aku dapat me mberi penjelasan, kalau tidak, bagaimana mungkin bisa me maha mi arti yang sebenarnya dari bait syair tersebut?."

"Nah, coba kau bacakan pula bait ke dua dan bait ke tiga dari syair Dendam sejagad tersebut"

Ku See hong segera menyanyikan bait ke dua dan ketiga dari  syair Dendam sejagad tersebut dengan lantang.

Selesai mendengar bait syair tersebut, kembali Keng Cin sin termenung beberapa waktu, ke mudian baru berkata.

"Dari kedua bait syair ini, kecuali bait  ke  dua  yang  belum kupaha mi arti yang sesungguhnya, dapat kujelaskan bahwa arti dari balik syair yang la in adalah sebagai berikut:

"Rupanya Bun ji koan su Him Ci sin ingin mengungkapkan rasa dendamnya yang tak terlukiskan karena dikerubuti orang-orang Thi kiong pang (perkumpulan busur baja), Kim to pang (perkumpulan gelang emas) dan Jian khi pang (perkumpulan seribu penunggang kuda) "

Ku See hong tersenyum.

"Ucapan nona me mang benar, bagaimana dengan  penjelasan bait ke dua tersebut?"

"Bun ji koan su Him Ci sin locianpwe adalah manusia yang pintar dan lihay, tentu saja bait tersebut  me mpunyai  maksud  yang menda lam sekali, aku yakin tak la ma kemudian arti tersebut pasti akan kita pahami"!"

"Ke mudian apa yang dibilang pada bait yang terakhir?"

"Pada bait yang terakhir agaknya mengisahkan se mua tragedi yang pernah menimpa guruku, cuma aku tak berani terlalu yakin."

"Coba bagaimana menurut pendapat  nona,  atas arti bait  syair  ini ?" Berbicara sampai disitu, dia lantas me mbacakan bait terakhir dari syair Dendam Sejagad.

ooodwooo

KENG CIN SIN yang pada dasarnya sedang diliputi kesedihan, sehabis mendengar bait lagu yang terakhir ini segera menghela napas pedih, ujarnya:

"Ta mpaknya di dalam bait lagu ini Him Ci sin locianpwee hendak mencer itakan kisah tragis yang telah dialaminya serta seakan-akan me lukiskan pula akhir dari kita manusia- manusia yang menginginkan keadilan dalam dunia persilatan.

"Aaaai..."

"Him locianpwe merupa kan seorang tokoh sakti yang berpengetahuan amat luas, mungkin dia sudah menduga akan perubahan situasi yang bakal dialaminya hari ini, sebenarnya aku mengira dia belum berhasil mendapatkan kitab pusaka Cang Ciong pit-kip bagian bawah tapi kalau di tinjau keadaannya sekarang, sudah pasti dia telah me mperoleh kitab pusaka itu,  cuma  sudah dike mbalikan kete mpat asalnya saja. Ku See hong menghe la napas pula.

"Nona, sesudah pembicaraan kita sekarang aku orang she Ku baru menyadari kalau nona adalah dewi diantara manusia, seandainya setiap wanita dikolong langit bisa berpendirian seperti kau, alangkah baiknya keadaan waktu  itu, Apabila  kau  bersedia me mber i  muka  untuk aku   orang   she   Ku   bersediakah   kau me mber itahukan siapa na ma aslimu serta bagaimanakah asal usulmu?"

Dengan suara dingin Keng Cin sin berkata.

"Aku tak  ingin  menyinggung  kembali  kejadian  pedih  dimasa la mpau, sedangkan mengenai na maku, seperti juga orangnya telah la ma ma mpus, tentang hal ini harap kau jangan mendesak aku lebih lanjut "

Ku See hong benar-benar tak bisa menduga siapa gerangan perempuan ini, ada kalanya dari sikap maupun wataknya dia merasa perempuan ini mir ip sekali dengan Keng Cin sin, tapi seandainya dia adalah Keng C in sin, mengapa pula tidak bersedia mengungkapkan keadaan yang sebenarnya.

Padahal mana dia tahu kalau pere mpuan ini sebenarnya tak lain adalah Keng Cin sin dan dia justru pernah mengala mi musibah yang amat tragis sehingga me mbuat gadis ini tak berani mengungkapkan indentitas yang sebenarnya.

Mendadak Ku See hong bertanya.

"Nona, aku tidak mengerti mengapa kejadian ini bisa begitu kebetulannya, disaat yang persis kau telah datang ke markas besar Ban-sia-kau  untuk  meno long  diriku,  "Apakah  nona   berhasil mene mukan Im Yan cu serta Seng sim cian li Hoa Soat kun locianpwee?...

"Mereka telah kutemukan, dalam lima belas hari terakhir ini mungkin Im Yan-cu tak akan menderita siksaan akibat bekerja nya racun perangsang untuk kedua kali nya, tentang soal ini kau tak perlu kuatir cuma dari lima belas hari yang ada kini sudah lewat tiga hari, bila didalam sisa waktu yang dua belas hari ini kau tak berhasil mene mu kan obat pemunahnya, maka besar kemungkinan sele mbar jiwanya akan terancam"

Tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang me mbasahi wajah Ku See hong, katanya kemudian dengan sedih:

"Nona, apakah kau sudah mendapat tahu apa nama dari obat perangsang yang amat beracun itu?"

"Im hwee si hun wan" jawab Keng Cin sin  sambil  menghe la napas  panjang.  "konon racun  itu  tiada  obat  yang   dapat   menye mbuhkannya, namun menur ut pendapatku tiada racun didunia ini yang tak bisa dipunahkan, hanya sampai sekarang kita belum mengetahuinya saja.

"Menurut dugaanku, dalam kitab pusaka Ban sia cin keng milik Ceng Lan hiang sudah pasti tercantum na ma dari obat penawar tersebut, itulah sebabnya aku mengunjungi mar kas besar perkumpulan Ban sia kau dan mencur i kitab pusaka Ban-Sia cin- keng tersebut, padahal sebelum itu aku sa ma sekali tak tahu kau telah ditangkap oleh Ceng Lan-hiang "

Me mbayangkan kembali kejadian lalu, dimana benda jeleknya yang sedang "menga muk" telah ditonton se mua orang, merah padam selembar wajah Ku See hong karena jengah, sembar i tertawa tersipu-sipu katanya kemudian:

"Sesungguhnya aku terkena tipu muslihat dari murid murtad guruku yakni si pedang Sakti kayu besi Cu Pok dan dikerubuti kawanan manusia laknat tersebut sehingga terluka parah, ketika sedang berusaha untuk melo loskan diri, aku berjumpa dengan perempuan cabul itu dan kena ditangkap, aku sendiri kurang tahu sudah berapa lama  ditangkap  mereka,  mungkin  sudah  tiga  hari la manya.

"Nona, apakah sudah berhasil mendapatkan kitab pusaka Ban sia cin keng tersebut?.

"Belum, tapi kita akan berhasil mendapatkannya!" sahut Keng Cin sin sa mbil me nghela napas.

"Apa maksudmu?"

"Aku telah berte mu dengan Him Ji im"

Mendengar na ma Him Ji im disinggung, Ku See hong merasakan hatinya bergetar keras, buru-buru dia bertanya.

"Nona. Baik-baikkah dia"

"Baiknya sih baik, cuma wajahnya selalu ber mura m durja, dia bilang setiap waktu setiap saat selalu mer indukan dirimu"

"Mengapa dia tidak kabur bersama mu?" Sebenarnya dia ingin menegur  Keng Cin sin, mengapa  tidak meno long gadis tersebut, tapi pemuda ini rikuh untuk mengutarakannya keluar.

"Begitu tiba di markas besar perkumpulan Ban sia kau, pertama aku pergi mencarinya lebih dulu, dan dia kutemukan sedang disekap dalam sebuah ka mar yang sekelilingnya dijaga oleh jagoan lihay, dalam keadaan seperti ini mustahil baginya untuk dapat kabur dari kurungan, maka akupun me mpergunakan t ipu mus lihat untuk bertemu dengannya sekalian me nceritakan keadaan dari Im Yan cu."

"Ka mi berada bersama-sa ma hampir seharian la manya, menggunakan kese mpatan tersebut dia banyak me mberitahukan keadaan situasi didalam perkumpulannya serta pelbagai masalah lain, coba kalau bukan demikian, bisa jadi gagal mencuri ayam, selembar jiwanya turut melayang, Ceng Lan hiang perempuan cabul itu me mang lihay sekali, hingga kiri aku masih belum yakin dapat mengungguli dirinya....

"Menurut Him Ji im, kitab pusaka Ban sia cin keng disimpan sendiri secara rahasia  oleh  Ceng  Lan  hiang,  dia  berjanji  akan  me mbantu dari dalam untuk mendapatkan kitab pusaka itu"!"

"Kehadiran Him Ji im disitu berbahaya sekali" kata Ku See hong dengan sedih. "ibunya a mat cabul dan ja lang, aku pernah mendengar ucapan dari Ceng Lan hiang yang menjanjikan kepada Gin coa kiam Ciu Heng thian untuk menyerahkan anak gadisnya kepada keparat itu, padahal keparat itu amat cabul, akibat yang diderita Im Yan cu sekarang pun sebagai akibat dari ulahnya, aku benar-benar kuatir bila ia sa mpai ketimpa musibah "

"Dia adalah putri kandung Ceng Lan hiang, mungkin dia tak akan turun tangan keji terhadap putrinya sendiri, Him Ji im juga pernah berkata kepadaku, meski dia agak sengsara hidup disana, namun sama sekali tidak berbahaya"

"Nona, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Ku See hong ke mudian. Keng Cin sin mendongakkan kepala dan me ma ndang cuaca, waktu itu tengah hari sudah menjelang tiba, maka ujarnya:

"Menunggu sa mpa i matahari  terbenam  nanti,  kita  berangkat ke mbali ke markas besar Ban sia kau, aku telah berjanji dengan Him Ji im akan bersua lagi mala m nanti"

"Nona, kau me mang terlalu baik terhadap ka mi" kata Ku See hong sambil me nghela napas panjang, "entah bagaimana cara kami untuk me mbalas budi kebaikan kepada mu dike mudian hari? Terutama sekali kebaikan mu terhadap aku orang she Ku, aku selalu merasa tak tenang setiap kali teringat akan hal ini, kau harus tahu, aku belum pernah menerima budi kebaikan orang dengan begitu saja "

Kembali Keng Cin sin me nghela napas sedih.

"Hidup sebagai manus ia didunia ini, me mbantu orang lain bukan berarti mengharap balas jasa dari orang, terus terang saja kukatakan, aku telah menganggapmu sebagai kekasihku dulu, sekalipun kejadian yang berlangsung hari ini tidak disengaja, tapi kenyataannya aku telah me mpero leh kehangatan darimu, kejadian ini tidak menimbulkan sakit hati bagiku malah sebaliknya kepuasan dan kebahagian."

"Kau tak usah me mandang serius akan persoalan ini, meskipun kaum wanita menganggap kesucian tubuhnya sebagai nyawa  ke dua, namun bagiku soal kesucian sudah bukan masalah lagi, karena soal  tersebut  seakan-akan  sudah  tidak  terdapat  dalam  hatiku lagi "

Ku See hong sangat terkejut setelah mendengar perkataan itu, dia m-dia m dia berpikir.

"Mengapa dia berkata de mikian! Apa maks ud hatinya yang sebenarnya....? Manusia maca m itukah dia! Tidak! Tidak! Dia bukan perempuan jahat seperti itu "

Berpikir sa mpa i disini, diapun lantas berkata: "Nona, aku sangat bodoh sehingga tidak me maha mi maksud perkataan nona, dapatkah kau me mberi penjelasan lebih jauh?"

Titik air mata telah me mbasahi kelopak mata  Keng Cin sin, katanya dengan sedih.

"Aku sudah ternoda, aku adalah seorang perempuan yang sudah tidak suci lagi..."

"Nona, kau bukan pere mpuan semaca m itu, kau suci bersih, anggun dan agung, kau kau terlalu merendahkan diri"

Tiba-tiba Keng C in sin me nyeka air matanya, lalu dengan sorot mata yang a mat le mbut ditatapnya wajah Ku See hong lekat-le kat, ke mudian ujarnya sedih.

"Ku See hong, ada satu persoalan ingin sekali kutanyakan kepadamu, kumohon kau sudi menjawab pertanyaanku ini dengan sejujurnya, kau jangan berbohong dan tidak berpura-pura, bersediakah kau ?"

Ku See hong tak dapat menduga pertanyaan apakah  yang hendak diajukan olehnya, terpaksa sahutnya dengan lantang.

"Nona, kau ada urusan apa? Katakan saja secara terus terang, aku pasti akan menjawab dengan sepenuh hati, tidak akan berbohong atau pun berpura-pura"

"Tahukah kau, apa sebabnya aku tak ingin bertemu dengan kekasih hatiku itu?, tanya Keng Cin sin kemudian dengan suara yang dalam dan berat.

”Aku tidak tahu, tapi aku yakin nona pasti me mpunyai masalah yang me merihkan hatimu"

Keng Cin sin manggut- manggut:

"Benar! Aku telah mengala mi suatu mus ibah yang me mbuatku hampir saja tidak me mpunyai keberanian untuk hidup lebih jauh, di dunia ini setiap kali teringat akan kejadian ini, aku tak dapat menahan rasa pedih dalam hatiku" "Nona, apabila kau me mpunyai masalah pelik yang tak dapat kau selesaikan, tak ada salahnya kau utarakan secara terus terang, aku orang she Ku bersedia untuk me mbantu dengan sepenuh tenaga, agar akupun bisa turut me mikul kepedihan hatimu itu..."

"Tadi telah kukatakan kalau aku adalah seorang perempuan yang sudah tidak suci lagi, perempuan yang ternoda, tahukah kau apa yang kumaksudkan?"

Ku See hong tidak me nyangka kalau perempuan tersebut akan mengajukan pertanyaan itu, bagaimana mungkin seorang perempuan berani menanyakan persoalan semacam ini dihadapan seorang pria?

Perempuan yang ternoda biasanya dapat diartikan sebagai perempuan jahat yang tak tahu malu atau pere mpuan sebangsa pelacur.

Dengan wajah merah me mbara karena jengah, Ku See hong berkata dengan tergagap:

"Nona, apakah kau .... apakah kau ......" sebenarnya dia ingin berkata. "Apakah nona sudah kehilangan perawanmu semenja k masih muda?”

Tapi dia r ikuh untuk mengutarakan hal tersebut, apalagi dia sendiripun sudah pernah me nikmati kehangatan tubuhnya.

Keng Cin sin tertawa pedih, katanya dengan cepat:

"Apakah ...kenapa? Mengapa tidak kau lanjutkan kata-katamu itu...?"

Suara tertawa itu amat keras dan nyaring bahkan mendekati orang kalap, namun dibalik ke semuanya itu justru terlintas perasaan:

-Sedih.

-Duka. -Dan keperihan hati yang tak terlukiskan dengan kata-kata apapun.

Tiba-tiba Keng Cin sin berkata lagi dengan suara sedingin salju. "Aku pernah mengada kan hubungan sengga ma dengan seratus

bahkan seribu orang lelaki"

Mendengar perkataan tersebut, Ku See hong merasakan pandangan matanya menjadi gelap dan matanya berkunang- kunang, ia merasa dadanya seperti dihantam dengan martil yang sangat berat.

Serunya kemudian dengan suara ge metar:

"Kau .... kau.... kau adalah manusia sebangsa itu ?"

Berbicara sesungguhnya, dalam hati kecil Ku See hong sesungguhnya sudah tumbuh benih cinta terhadap perempuan ini, bisa dibayangkan betapa hancurnya perasaan pemuda itu setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Entah mengapa, tiba-tiba saja muncul suatu perasaan marah dan cemburu yang sangat besar dari dalam hati Ku See hong.

Dengan suara dingin ke mba li Keng C in sin berkata:

"Kau toh tiada hubungan apa pun denganku, mengapa harus emosi setelah mengetahui hal ini?"

Dengan marah Ku See hong berkata:

"Rupanya kau adalah perempuan maca m ini, hari ini aku orang she Ku baru tahu kalau kau adalah pere mpuan se maca m ini, aku baru tahu kalau sudah salah menilaimu, sekarang, maaf kalau aku tak dapat mene manimu lebih la ma!"

"Berhenti!" bentak Keng Cin sin keras-keras. "sudah selesaikah kau mendengarkan penjelasanku?"

Dengan wajah sedingin es Ku See hong berkata. "Apa lagi yang hendak kau ucapkan? Cepat diutarakan secepatnya!"

Keng Cin sin menghela napas sedih, titik air mata tak terbendung lagi segera jatuh bercucuran membasahi pipinya, dengan perasaan pedih ia berkata:

"Ku See hong, tahukah kau kalau aku telah diperkosa secara bergilir oleh sekawanan manus ia laknat?"

Setelah mendengar perkataan tersebut, Ku See hong baru menghe la napas sedih katanya pula:

"Nona, mengapa tidak kau jelaskan hal ini se menjak tadi?"

Titik air mata se makin deras me mbasahi wajah Keng Cin sin, sembari menahan isak tangisnya yang menjadi ujarnya lagi:

"Tahukah kau, setiap kali teringat akan kejadian tersebut, hatiku menjadi sakit dan terasa seperti disayat-sayat dengan pisau yang tajam"

Buru-buru Ku See hong me nghibur:

"Kejadian yang sudah lewat biarkan saja lewat, anggap saja peristiwa tersebut sebagai asap yang telah menguap diangkasa, kalau me mang peristiwa itu hanya akan mengungkap kepedihan hatimu, lebih baik tak usah dibicarakan lagi!"

"Aku tak pernah dapat melupa kan kejadian tersebut sepanjang hidupku di dunia ini." jerit Keng Cin sin sedih, "walaupun aku ingin me lupakannya namun hal tersebut tak mungkin bisa terjadi, sebab roh ku sudah ternoda, bagaimana pun berusaha hendak dicuci, tak mungkin dapat kubersihkan noda-noda tersebut.

"Aku sengaja me mberi tahukan kejadian ini kepada mu, karena aku ingin menanyakan satu hal kepada mu"

Ku See hong tahu kalau perempuan itu sedang dipengaruhi oleh emosi sekarang, terpaksa katanya dengan le mbut. "Nona, rohmu dan jiwa mu tetap bersih dan suci, sama sekali tidak ternoda barang sedikitpun jua, kau tak usah terlalu merasa rendah diri!"

"Kau mengatakan jiwaku tidak ternoda? atas dasar apa kau dapat berpandangan demikian? "

"Nona, tahukan kau bahwa peristiwa tersebut terjadi karena suatu keadaan yang terpaksa?  bukan  atas  ke mauanmu  sendiri, me lainkan dipaksa orang dengan kekerasan.  Peristiwa  itu  tidak me mbuat kau menjadi hina.. .”

Mendengar  sampai  disini,  Keng  Cin   sin   sudah   tak  dapat me mbendung perasaan sedihnya lagi, tiba-tiba saja dia menangis tersedu-sedu ....

Isak tangisnya kali ini, boleh dibilang sudah me numpahkan segenap kepedihan yang telah menumpuk dalam hati kecilnya selama ini .......

Butiran air mata bagaikan untaian mutiara yang putus talinya, jatuh berderai me mbasahi pipinya yang putih, isak tangisnya sungguh me medihkan hati.

Tanpa terasa Ku See hong maju kedepan mengha mpir inya dan merangkul bahunya.

Keng Cin sin mendesis sedih, tiba-tiba dia menjatuhkan diri ke dalam rangkulan Ku See hong dan menangis sejadinya.

Ku See hong balas memeluk pinggang gadis itu erat-erat, seakan-akan kuatir, kalau dia kabur dari sisinya, entah mengapa, walaupun dia belum tahu kalau dia adalah Keng Cin sin, namun dalam hati kecilnya seakan-akan sudah timbul perasaan cintanya terhadap gadis ini.

Keng Cin sin sendiripun segera me manfaatkan kese mpatan ini untuk menangis sepuas hatinya dalam rangkulan kekasih hatinya yang paling dicintai. Beberapa saat kemudian, sembari menahan isak tangisnya yang me milukan hati, ia berkata:

"Ku See hong, sejak dilahirkan di dunia ini aku sudah anak yatim piatu, akupun tak tahu se menjak kapan, tahu-tahu saja sudah berada dalam lingkungan sekelo mpo k manus ia jahat di laut timur sana, di saat aku menanjak dewasa dan mulai tahu urusan, timbul perasaan sedih dan menyesal yang tak terhingga dari hatiku, ma ka suatu ketika aku pun berjumpa dengan kekasihku itu, waktu itu kekasihku melanggar peraturan yang diterapkan oleh kelompo k manus ia jahat disekitarku, dia ditangkap dan disiksa dengan berbagai cara, tapi akhirnya aku berhasil meno longnya dan menyuruhnya kabur dari pengaruh jahat tersebut, sedang aku dicap sebagai penghianat oleh mereka sehingga akhirnya akupun menerima nasib yang paling tragis dunia ini..."

"Bagaikan seorang pelacur saja, aku menjadi mangsa kebiadaban dari beratus-ratus manusia laknat, aku tak ma mpu me lawan, hanya merasakan siksaan didalam penderitaan, keadaanku waktu itu ibarat manus ia hidup tak bisa, mau matipun tak dapat, dalam keadaan demikian aku telah kehilangan segala-galanya."

"Dari tubuh seorang gadis, aku disiksa sehingga menderita penyakit kotor dan sekujur tubuhku penuh dengan luka bernanah, keadaanku waktu itu ibarat manus ia tidak mir ip manusia,  setan tidak mirip setan, dalam keadaan begini kawanan manus ia laknat itupun me letakkan tubuhku yang busuk itu diatas sebuah sa mpan kecil dan me lepaskannya ditengah sa mudra luas..."

-ooodwooo-