Dendam Sejagad Jilid 32

 
Jilid 32

SAMBIL mendengus tertahan pemuda itu muntah darah segar, tubuhnya turut roboh terjengkang ke tanah.

Namun kesadarannya masih tetap jernih, ia merasa seakan-akan dibelakang tubuhnya terdapat desingan angin lirih.

Dengan cekatan dia segera berpaling dengan cepat   sorot matanya yang jeli menangkap sesuatu.

"Siapa kau?" bentaknya kemudian dengan perasaan terkejut bercampur terkesiap.

Ternyata berapa kaki dibelakangnya telah berdiri seorang perempuan muda yang cantik je lita, dia berusia dua puluh tujuh delapan tahunan...

Perempuan muda itu me ma kai baju berwarna putih, matanya jeli, bibirnya mungil dengan dua baris gigi yang putih bersih, hidungnya mancung, kulitnya putih ke-merah- merahan, begitu  cantik  dan sema mpai nya perempuan tersebut, ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan...

Ditengah hembusan angin mala m yang silir se milir, dimana ujung bajunya yang putih dan rambutnya yang hitam bergoyang-goyang, kesemuanya ini mena mbah daya tarik perempuan itu.

Kecantikan pere mpuan itu ibaratnya dapat menghimpun semua kecantikan wanita yang berada di dunia ini, sede mikian cantiknya sehingga tak terlukiskan dengan kata-kata.

Yang mengejut kan lagi adalah kecantikan nya yang sama sekali tak genit, begitu wajar, begitu sederhana namun sangat me mukau hati orang.

Perempuan muda ini bukan lain adalah iblis perempuan yang paling ter mashur akan kecabulannya... Ban sia kaucu Ceng Lan hiang. Sebagaimana diketahui, Ku See hong pernah diberi hadiah pukulan Hou kut jian hun im kang oleh Ceng Lan hiang sehingga terjatuh ke dalam jurang, kemudian ditengah mala m yang penuh kabut. dia menyaks ikan Ceng Lan hiang me lakukan hubungan senggama dengan Gin coa kiam (pedang ular perak) Ciu Heng thian.

Walaupun ia mendengar suara pe mbicaraannya, namun sesungguhnya belum per-nah me lihat orangnya, maka saat ini Ku See hong sama sekali tidak tahu kalau orang ini tak lain adalah perempuan paling cabul di dunia Ceng Lan hiang.

Dengan sepasang biji matanya yang jeli dan bening, Ban sia kaucu Ceng Lan hiang me mperhatikan sekejap wajah Ku See hung, ke mudian tersenyum manis.

''Ku See hong!" dia menegur  dengan suaranya yang merdu bagaikan burung nuri, ''masa kau tidak kenal siapakah aku?'

Senyumannya benar-benar sangat indah, senyuman tersebut dapat me mbuat orang kehilangan sukma rasanya, penuh dengan daya tarik, penuh dengan rangsangan.

Apalagi nada suaranya yang merdu merayu, sungdguh me mbuat tulaang belulang serasa menjadi le mas.

Tak terlukiskan rasa terperanjat Ku See hong sewaktu itu, dengan suara agak ge metar ia berseru:

"Kau...kau adalah...kau adalah Ban sia kaucu Ceng Lan hiang... "Kenapa?" Ceng Lan hiang tertawa cekikikan, "kau hanya bisa

mengenaliku dari suaranya saja?"

Kemudian setelah berhenti sejenak, ke mba li dia melanjutkan: "Kalau kudengar dari perkataanmu itu tampaknya kau sangat

takut kepadaku!

Tak usah kuatir, kali ini aku tak akan mencela kai jiwa mu..." "Perempuan lonte, kubunuh kau!' teriak Ku See hong dengan

sorot mata me mancarkan sinar berapi-api yang penuh kebencian. Sembari berseru, dia meronta bangun kemudian siap menerjang ke depan.

Tiba-tiba ia mengeluh tertahan, lalu muntahkan darah segar dan roboh terduduk diatas tanah.

Kini ia benar-benar kehabisan tenaga, kekuatan untuk berdiri pun tak dimiliki lagi.

Ceng Lan hiang segera tertawa cekikikan.

"Ku See hong, luka yang kau derita? Aaaai...me mang sangat tak adil, masa satu orang dikerubuti banyak musuh..."

Rasa benci Ku See hong terhadap perempuan jalang ini boleh dibilang sudah merasuk sa mpai ke tulang sum-sum, na mun sayang ia tak bertenaga sama sekali waktu itu, akhirnya dengan penuh kebencian dia ber seru:

"Bila aku orang she Ku harus mati di tanganmu ma lam ini, anggap saja nasibku me mang lagi sial, mau bunuh mau cincang terserah kepadamu, tapi kau pun harus tahu, seorang lelaki boleh dibunuh pantang di hina, bila kau berani menghina aku, akan ku umpat dirimu sa mpa i habis-habisan.."

Sekilas perubahan yang a mat tak sedap menghiasi wajah Ceng Lan hiang, katanya dingin:

"Kegagahan se maca m inikah yang kau miliki.?"

"Kalau ingin me mbunuh, cepatlah kau bunuh, aku tak sudi bertemu denganmu"

Tiba-tiba Ceng Lan hiang menghela napas sedih.

"Aaai... kau me marng tak pandai mte mbe-dakan oranqg yang baik danr orang jahat, terus terang saja kuberitahukan kepadamu, senadainya aku ingin me mbunuhmu, aku sudah me mbunuhmu sejak semual, sejak kau merasakan siksaan yang pertama sehabis terkena pukulan Hou kut jian hun im kang, buat apa aku mesti menant i sampai sekarang?" Menyinggung kembali aib yang dideritanya mala m itu, Ku See hong merasakan api amarah yang berkobar di dalam dadanya semakin menjadi-jadi segera bentaknya.

"Waktu itu aku sudah tahu kalau kau menyembunyikan diri di  tepi jarang ... Hmmm, pere mpuan jalang, me mang benar-benar tak tahu ma lu!"

Mengumpat sampai disitu, dia merasakan hawa darah didalam dadanya bergelora keras, napasnya jadi sesak dan ucapannya terputus sampai ditengah ja lan.

Sedangkan Ceng Lan hiang yang mendengar perkataan  itu segera mendengar kan suara tertawa cekikikannya yang me leng- king dan me me kikkan telinga...

Suara tertawanya itu penuh dengan nada cabul, jalang, keji dan pelbagai maca m sifat lainnya.

Kemudian setelah berhenti tertawa ia berteriak lagi:

"Bagus sekali! Ku See hong, aku akan me mbuktikan apakah kau tahu malu atau tidak, aku akan me mbuat mu tunduk diantara kedua belah pahaku, aku akan mengajakmu ber main cinta setiap hari, mencari sorga dunia dan kenikmatan hidup...

Ditengah pembicaraaa itulah, tiba tiba ia mengebaskan ujung bajunya ke arah Ku See hong.

Segulung bau harum me lintas lewat, begitu Ku See hong mengendus bau itu, tubuhnya yang terduduk pelan-pelan terkulai ke atas tanah.

Ceng Lan hiang bertindak cepat, dipeluk nya tubuh Ku See hong ke mudian secepat kilat berlalu dari situ. .

Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.

Suasana pun pulih ke mba li dalam keheningan, seakan-akan disana tak pernah terjadi suatu peristiwa apa pun. -oodwoo-

MANUSIA berkerudung warna warni... Keng Cin sin mengerahkan ilmu mer ingankan tubuhnya yang sempurna meluncur ke arah kota, baru saja dia turun tangan keji dengan menghukum cincang si pedang emas Cia Tiong giok.

Kurang lebih seperminum teh ke mudian, Keng Cin sin telah sampai didepan bangunan besar di sebelah barat kota, walaupun letak bangunan tersebut tak jauh dari kota, namun oleh karena bangunan tersebut berdiri disa mping sebuah kompleks  kuburan yang terbengkalai dan amat luas, maka kendatipun disiang hari pun tiada manusia yang berkunjung kesitu.

Tak heran kalau keadaan diseputar situ a mat terpencil, sepi dan menyeramkan.

Tapi siapakah yang tahu kalau didalam bangunan gedung yang besar dan menyeramkan itu baru saja berlangsung suatu pertempuran berdarah yang dahsyat dan mengerikan hati, me mbuat ke sebelas jago Hiat mo bun ha mpir saja musnah semua.

Kini Keng Cin sin sudah berada disamping bangunan gedung itu dibawah kuburan yang berlapis-lapis.

Mendadak pada saat itulah.. . .

Dari balik kuburan yang berlapis-lapis berkumandang suara tertawa dingin yang menyeramkan..

Suara tertawa itu amat dingin, seperti anbgin yang berhe mbus keluar dari gedung di bawah tanah.

Serentak Keng Cin sin menghentikan gerakan tubuhnya, suatu firasat tak enak segera muncul dalam hatinya, sebab baru pertama kali ini dia mendengar suara tertawa semacam ini dari balik  kuburan.. Tempat itu merupa kan daerah yabng terpen-cil, djauh dari jangkaauan umat persiblatan, bila sekarang muncul  jagoan persilatan dekat dengan markas besarnya, ini berarti orang datang untuk mencari gara-gara dengan pihaknya.

Baru selesai suara tertawa dingin tadi berkumandang, tiba-tiba...

Serentak suara aneh yang menyeramkan berkumandang susul menyusul dari balik kuburan liar itu, kali ini bukan hanya seorang saja yang tertawa, melainkan diatas tujuh delapan orang, jumlahnya sukar dihitung.

Gelak tertawa yang berkumandang dari balik ko mpleks tanah pekuburan  yang  menyeramkan  itu  kedengarannya  sangat menger ikan, seperti suara setan iblis saja, meski berada diisiang hari bolongpun orang akan bergidik di buatnya.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Keng Cin sin, tiba-tiba dia menga lihkan pan-dangannya dan mnulai me lakukan pe meriksaan yang seksama atas tanah pekuburan tersebut.

Ia dapat mendengar suara tertawa tersebut tinggi  melengking dan amat menusuk pende-ngaran, seakan-akan dipancarkan dengan hawa murni yang sempurna, ditinjau dari hal ini dapat dibuktikan kalau pihak lawan me miliki tenaga dalam yang a mat se mpurna.

Suara pekikan yang mengacaukan pikiran, mendatangkan keseraman dan kengerian yang luar biasa...

Keng Cin sin  me miliki kepandaian silat yang maha sakti, walaupun dia tidak takut menghadapi manusia- manusia laknat yang datang mencari gara-gara dengannya, toh timbul juga perasaan kuatir dalam hati kecilnya, dia menguatirkan kesela matan dari anggota perguruannya.

Mungkinkan anggota perguruannya telah tiba ke mbali di dalam gedung ini?

Kalau tidak, mengapa mere ka me mbiarkan orang-orang tersebut bersembunyi di sini sa mbil ber main setan? Tapi bila ia teringat kemba li kalau ke sebelas orang anggota perguruannya me miliki kepandaian silat yang luar biasa, perasaan kuatirnya itu segera lenyap ke mbali.

Berbicara yang sebenarnya, sebelas anggota perguruan Hiat mo bun boleh di bilang me miliki ke ma mpuan yang luar biasa, kepandaian silat mereka telah mencapai tingkatan yang luar biasa, meski anggota  Ban  sia  kau  sendiripun  tak  akan  nanti  berani me mandang rendah jago-jago Hiat mo bun.  Oleh sebab itu disaat dia hendak menjagoi seluruh dunia persilatan, tiada orang pula yang berani mencabut kumis harimau.

Tapi tidak demikian dengan kenyatannya, dari mana dia tahu, kalau jumlah pihak lawan sangat banyak dan tenaga dalam mere ka rata-rata amat se mpurna.

Sesudah menga mati sekejap suara tertawa aneh seperti suara tertawa setan iblis itu, Keng Cin sin me mperdengarkan ke mbali suara tertawa dinginnya yang menusuk tulang, dia menghimpun hawa murninya, Dan dengan mengerahkan ilmu Ban li coan im (menya mpaikan suara dari selaksa li) se maca m kepandaian sakti dalam kitab pusaka Cang C iong pit kip, serunya lantang.

"Setan iblis dari manakah yang telah muncul disini? Bila ingin mencari gara-gara dengan Buncu mu, unjukkan saja dirimu, buat  apa mesti main se mbunyi  diantara mayat-mayat me mbusuk? Tidakkah kuatir perbuatan kalian hanya akan menurunkan derajat?"

Bersama dengan selesainya ucapan itu, suara tertawa aneh ikut berhenti pula, namun pihak lawan sa ma sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.

''Suasana disekeliling te mpat itu ke mbali dicekam dalam keheningan, kesepian yang luar biasa, bahkan lamat-la mat terasa pula suasana mengerikan dan hawa pe mbunuhan yang luar biasa.

Mendongkol juga Keng C in sin  ketika  pihak lawan tidak menyahut, sekali lagi dia menegur:' "'Hei, tampaknya kalian semua hanya sukma-sukma gentayangan dalam kuburan?"

Namuh suassna tetap hening, tak ke dengaran sedikit suara pun

....

Sejauh mata me mandang hanya batu nisan dengan gundukkan

tanah pekuburan yang berserakan dimana- mana, semua benda di situ seolah-olah menjadi kaku, tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak, sepertinya suara tertawa tadi dipancarkan oleh  sukma gentayangan.

Suasana yang tegang dan menyeramkan menyelimuti seluruh angkasa, me mbuat suasana menjadi sesak dan tegang ....

Tanpa terasa mucul pula hawa pe mbunuhan yang kian la ma kian bertambah menebal.

Kini Keng Cin sin mula i agak kaget dan ngeri, ia bukan takut terhadap  manusia- manus ia  tersebut,  melainkan  terkerjut  oleh ke ma mptuan serta kesabqaran lawan menyrem-bunyikan diri terus secara tenang...

Selama berapa saat terakhir ini, Keng Cin sin telah mengerahkan ke ma mpuannya untuk mendengar dan me lihat untuk me me-riksa napas lawan dan gerak-gerik  musuh,  namun  dia  tak  berhasil mene mukan sesuatu apa pun, hal ini me mbukt ikan kalau pihak lawan mengguna kan ilmu napas kura- kura Ku si tay hoat untuk menutup pernapasan nya.

Mendadak...

Satu ingatan bagus me lintas didalam benaknya.

Ia mendapat satu akal bagus untuk me maksa lawannya agar mena mpa kkan diri.

Tanpa hanyak berbicara lagi Keng Cin sin me mbalikkan badan dan beranjak pergi dari situ, tapi pihak lawan seperti sa ma sekali tak termakan oleh tipu mus lihatnya itu, suasana tetap hening, tiada terdengar sedikit suara pun, sementara Keng Cin sin telah berada belasan kaki jauhnya dari posisi se mula.

Mendadak...

Dari balik tanah pekuburan itu berkuman-dang suara tertawa dingin yang a mat menusuk pendengaran, lalu seseorang berkata:

'Hei manusia berkerudung warna warni, bila kau  bernyali, silahkan me masuki barisan Tee gi mi hun tin (barisan neraka pembi- ngung sukma) ka mi!"

Suara itu amat lembut seperti bisikan nyamuk, namun setiap patah katanya sangat jelas dan menggetarkan pendengaran.

Bagaikan seekor burung walet, Keng Cin sin segera me mbalikkan badannya dan secepat sambaran kilat me luncur ke arah mana berasalnya suara peringatan tersebut.

Kemudian  dia  berhenti  sejenak  disisi  sebuah  kuburan   dan me mer iksa keadaan disekeliling sana, tapi apa yang kemudian terlihat me mbuatnya sangat terkejut.

Disitu tak na mpa k manusia hidup, hanya ada tengkorak- tengkorak manusia yang menyeramkan berjajar dima na- mana.

Keng Cin sin sungguh merasa a mat terkejut, dia m-dia m dia berpikir dihati:

Sudah jelas kudengar kalau suara pe mbicaraan itu munculnya dari sini, mengapa tak nampak sesosok bayangan manus ia pun disini? Masa kawanan tengkorak itu yang bersuara? Aaaah, masa di dunia ini benar-benar ada setan?"

Sementara dia masih berdiri termenung, tiba-tiba terdengar lagi suara tadi berkumandang me mecahkan keheningan.

"Manusia berkerudung warna warni, meski sekarang ka mi berwujud orang mati, dulunya pun kami termasuk orang hidup! Hanya kini daging ka mi sudah me mbusuk sehingga tinggal tulang belulangnya belaka. mari- mar i bersahabat dengan kami!, tempat kami disini disebut dunianya sukma pria, paling bagus bila ada seorang perempuan yang ma u mera maikan suasana.

Kembali suasana menjadi hening...

Keng Cin sin segera menerjang ke sisi kuburan yang lain, namun apa yang terlihat disitupun tiada berbeda dengan pemandangan yang pertama tadi, disana tiada sesosok bayangan manusia pun, yang ada hanya sesosok tulang belulang manus ia, seonggokan tengkorak.

Kali ini Keng Cin sin benar-benar di buat terperanjat sekali hingga berdebar keras jantungnya.

Disaat inilah, suara pembicaraan yang menyeramkan berkumandang lagi dari arah lain.

"Kau tak usah takut! Hidup manusia di dunia ini akhirnya  tak akan lolos juga dari ke matian, tapi sesungguhnya kami pun belum mati, coba lihatlah kami masih bernyawa, masih dapat berbicara, bukankah de mikian ?"

Gerakan tubuh Keng Cin sin kali ini jauh lebih cepat lagi, didalam sekali berkelebat dia sudah melayang turuh keatas permukaan  tanah, namun pe mandangan yang di jumpai nya masih tetap seperti apa yang dilihat sebelumnya.

Sambil berkerut kening, Keng Cin sin mulai berpikir:

Kalau berbicara menur ut kecepatan gerak ku sekarang, siapakah manus ia di dunia ini yang ma mpu  menandingi kecepatanku tersebut? Masa mereka sungguh-sungguh adalah setan iblis?"

Mendadak sinar kaget terpancar keluar dari balik mata Keng Cin sin...

Perasaan kaget tersebut jauh lebih hebat daripada perasaan semula, sebab secara tiba-tiba saja dia teringat kalau pembicaraan lawan dipancarkan me lalui semaca m ilmu Hui sian mo ing (ira ma iblis berpusing) yang maha dahsyat. Biasanya ira ma iblis berpusing atau Hui sian mo ing tersebut dipancarkan  seseorang  dari   suatu   tempat   tertentu,   namun gelo mbang ira manya sengaja digetarkan ke suaru sasaran tertentu, ke mudian dari situ baru ke mbali menuju ke gendang telinga orang yang dituju.

Oleh karena kepandaian semacam ini amat sakti dan luar biasa, jarang sekali ada jago persilatan dari daratan Tionggoan yang berhasil me mpe lajarinya.

Konon orang-orang dari Tibet banyak sekali  yang mengkhususkan diri untuk me mpelajari ilmu Hui siang mo ing itu, jadi bisa disimpulkan kalau orang-orang yang sedang dihadapinya sekarang bisa jadi adalah orang-orang dari Tibet.

Perlu diketahui, jarang sekali anggota perguruan dari Tibet datang mengunjungi daratan Tionggoan, bila bukan dikarenakan masalah yang terla mpau besar, biasanya mereka enggan untuk bermusuhan dengan bangsa persilatan dari daratan Tionggoan.

Lantas karena persoalan apakah mereka datang mencari gara- gara dengan pihaknya hari ini?

Seandainya orang-orang tersebut benar-benar berasal dari Tibet, itu berarti dia harus meningkatkan kewaspadaannya.

Sambil tertawa dingin Keng Cin sin segera berseru:

"Saudara sekalian pandai sekali me mpergunakan ilmu Hui  sian mo ing, nampaknya kalian se mua adalah anggota perguruan dari wilayah Tibet."

Mendadak terdengar seseorang menyahut: "Manusia berkerudung warna warni pengetahuanmu me mang sungguh a mat luas, tepat sekali! Kepandaian yang ka mi pergunakan sekarang adalah ira ma Hui sian mo ing. Hmmm.... hmmmm...namun kami bukanlah si keledai- keledai gundul dari Tibet kami adalah jago persilatan yang asli berasal dari daratan tionggoan. Timbul berbagai kecurigaan dan ketidakmengertian dalam benak Keng Cin sin setelah mendengar perkataan itu, segera pikirnya. "Jika kudengar dari pe mbicaraan mereka, sudah jelas me makai bahasa Han yang luwes dan lancar, tapi ilmu rahasia dari Tibet itu tak pernah diwariskan kepada sembarangan orang, apalagi mereka mengaku asli dari daratan Tionggoan, mengapa mereka pun pandai menggunakan ilmu Hui sian mo ing tersebut?”

Berpikir sa mpai disitu Keng C in-sin berkata lagi dengan suara sedingin es:

”Pun Buncu tidak a mbil peduli apakah kalian hwesio-hwesio gundul dari Tibet atau jagoan dari daratan Tionggoan, manaka la kalian datang mencari gara-gara denganku, berarti  kalian  ada maks ud terhadap diriku, mengapa  tidak kalian utarakan saja sekarang, agar kita dapat me mperbincangkan nya?"

Sudah jelas Keng Cin sin telah menyadari kalau orang-orang itu berilmu sangat lihay, jejaknya amat mencur igakan ma ka nada pembicaraannya pun turut menjadi lebih le mbut dan halus.

Salah seorang diantara lawan segera menyahut:

”Manusia berkerudung warna warni, dugaanmu me mang tepat sekali, kami me mang datang dengan me mbawa maksud- maksud tertentu, cuma kau jangan bersusah hati setelah kami utarakan nanti"

Keng Cin sin tertawa dingin:

"Heeehh .... Heehh... heeeh betapapun sulitnya persoalan di dunia ini, tak nanti akan menyulit kan Hiat mo buncu"

"Apa gunanya kalau kau hanya tinggal seorang diri?" tiba-tiba seorang menimpali dengan dingin.

Sesungguhnya ucapannya itu mengandung ma ksud lain, namun mimpipun Keng Cin sin tidak menyangka kalau ke sebelas orang anggota Hiat mo bun nya sudah pada tewas atau terluka parah sehingga kini tinggal dia seorang yang tetap sehat walafiat.

Sambil mendengar Keng Cin sin berkata: "Biarpun jumlah kalian sekarang berapa kali lipat lebih banyak  dari padaku, biar aku hanya seorang diri, na mun aku mas ih sanggup untuk mengirim kau berpulang ke alam baka"

"Mungkin saja kau me miliki ke ma mpuan tersebut, tapi sayangnya kau tak akan berhasil mene mukan ka mi" jengek seseorang.

Mendadak   terdengar   suara   lain   yang    menyeramkan menya mbung:

"Lo su, kau terlalu merendahkan diri sehingga me mada mkan semangat sendiri saja"

Orang yang semula cepat berseru.

"Lo ngo, dia tak lebih  hanya  seorang  manus ia  yang  ha mpir ma mpus, apa sih keberatannya membiarkan dia berbangga dulu? Mulai detik ini, dalam dunia persilatan hanya ada Bu lim jit hun (tujuh sukma dari dunia persilatan) yang merajai kolong  langit, siapa pula yang ma mpu mengungguli kami!"

Seseorang yang lain segera menyahut sa mbil tergelak. "Haaahhh..  haaahhh...  haaahhh... benar! benar!  Ucapan dari Lo

su   me mang   a mat   tepat,  walaupun  sembilan  partai  besar dari

daratan Tionggoan atau kawanan ciangbunjin  yang berna ma kosong, selanjutnya mereka toh akan mampus juga di ujung tangan kami bertujuh"

"Lo lak " seseorang yang lain lagi menimpali: "sejak kini, kita pun dapat menikmati kehangatan tubuh serta kehebatan tehnik bermain diranjang dari Ban sia kaucu Ceng Lan hiang"

"Lo jit, kau ini me mang kelewat suka ber main pere mpuan" seseorang menda mprat sa mbil tertawa: "Tahukah kau bahwa Ceng Lan Hiang telah me nguasahi ilmu Im kang yang sangat hebat? Bila kau tidak kuatir ma mpus, silahkan saja bersenang-senang dengannya, tanggung kau akan merasakan kenikmatan hingga sampai di sorga."

Si Lo Jit segera tertawa cekikikan. "Lo Sa m, bukankah kau mengatakan tiada manus ia didunia ini yang bisa lolos dari ke matian? Meski siaute harus mati, tapi jadi setanpun harus romantis, hiiiihh....hiiihhh... hiiihh...  lagipula  aku me miliki benda ajaib yang keras bagaikan baja, tak nanti "benda" ku akan tertindih sampai patah olehnya"

Kemudian setelah berhenti sejenak, ta mbahnya lagi.

"Bukankah ilmu Im kang tak akan tahan menghadapi ilmu Yang kang.”

Keng Cin sin merasa mendongko l sekali setelah mendengarkan pembicaraan kotor dan cabul yang sedang mereka langsungkan, ia paling benci dengan lelaki hidung bangor  seperti  ini,  dia mendenda m terhadap  manus ia  semaca m  Lo  jit  dengan  sekali me mbinasakannya.

Mendadak seseorang berseru ke mba li.

"Lo jit, bukankah didepan mata sudah tersedia barang  jadi tinggal dipakai?"

Tentu saja yang dima ksudkan adalah Keng Cin sin.

Hampir meleda k dada Keng Cin sin saking gusarnya, hawa darah mendidih di dalam dadanya, ia segera me mbentak nyaring.

"Manusia laknat, cepat keluar untuk menerima ke matian!"

Walaupun Keng Cin sin marah- marah besar, hal inipun sa ma sekali tak berguna, sebab hingga sekarang dia  belum  berhasil mene mukan te mpat perse mbunyian dari orang-orang tersebut.

Perlu diketahui, pembicaraan yang berlangsung selama ini dilakukan oleh orang-orang tersebut dengan menggunakan ilmu Hui sian mo ing yang maha dahsyat tersebut.

Terdengar Lo jit berkata lagi.

"Lo su, tak mungkin! Tak mungkin! Tidak kau saksikan raut wajahnya yang menyeramkan itu? Hiiiihhh... hiiihhh... hiiihhh... meski siaute bertampang jelek. Tapi benda ajaibku mas ih terhitung benda yang paling indah, paling kuat dan gagah di dunia ini, mana boleh benda ini kupergunakan terhadap sembarangan perempuan..."

”Lo jit, kau bilang dia je lek, tapi aku pikir dia pasti cantik sekali, mengapa tidak kau saksikan bentuk tubuhnya bahenol, itu?" seseorang menyambung.

Si Lo jit itu segera tertawa dingin.

"Lo ngo, aku rasa kau masih belum berpengala man didalam hal ini, meski seorang wanita me miliki perawakan tubuh yang indah, belum tentu wajahnya pasti sangat indah, bila dia cantik, tak nanti wajah nya ditutup dengan kain kerudung, perempuan  mana  sih yang tak ingin me ma mer kan kecantikan wajahnya?"

"Lo jit, bagaimana kalau kita bertaruh saja, kau mengatakan dia cantik atau jelek?"

"Baik, baik! Bila dia cantik, siaute bersedia melepaskan hakku untuk me lalapnya paling dulu"

Keng Cin sin bukan manusia se mbarangan bagaima na mungkin dia bisa tahan menghadapi ucapan-ucapan yang a mat kotor itu?

Walaupun ia pernah diperkosa banyak orang, meski kesucian tubuhnya telah dinodai orang secara beramai-ra mai, namun jiwanya masih tetap suci bersih.

Mencorong sinar tajam penuh hawa pembunuhan dari balik matanya, tiba-tiba saja ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, suaranya tinggi melengking dan amat menusuk pendengaran

....

Keng Cin sin segera menerjang ke muka  bagaikan  segulung angin puyuh, sedemikian cepatnya dia bergerak, sehingga menyilaukan mata siapa saja.

Dengan kecepatan luar biasa dia berputar satu lingkaran mengitari ko mple ks tanah pekuburan tersebut. Ternyata dia tak berhasil mene mukan te mpat persembunyian lawan, namun dia tahu pihak lawan pasti berada pada jarak dua puluh kaki di sekeliling te mpat ini.

Maka dia hendak melakukan penggeledahan yang seksama atas setiap kuburan yang berada dua puluh kaki di sekililing te mpat ini, dia ingin me mbuktikan apakah mere ka benar-benar bersembunyi di bawah tanah.

Dengan mengguna kan ilmu meringankan tubuh yang paling sempurna dan jarang di te mui dalam kolong langit dewasa ini, secepat kilat berputar mengitari daerah seluas dua puluh kaki di sekitar situ, beratus-ratus kuburan diperiksa dengan seksama, namun ia belum berhasil juga me ne mukan bayangan tubuh mereka.

Rasa terperanjatnya sekarang tak terlukiskan lagi dengan kata- kata...

Keng Cin sin  merasakan dirinya seakan-akan telah bertemu dengan setan tulen, belum pernah ia mendengar dalam dunia persilatan terdapat manusia lihay yang menyebut dirinya sebagai Bu lim jit hun.

Sementara dia masih berdiri tertegun dengan perasaan terkejut bercampur tercengang .. ..

Kembali terdengar seseorang berkata:

"Gerakan tubuhnya sangat lihay dan melebihi ke ma mpuan umat persilatan pada umumnya, lo ji disebut orang Tiang kui tui (setan berkaki panjang) na mun aku rasa mas ih ketinggalan jauh dibandingkan dengan dirinya"

Sang lo ji segera tertawa seram.

Heeehhh... heeehhh... heeehhh... lo ngo, meskipun gerakan tubuhnya amat cepat, tapi untuk mengungguli aku rasanya masih sulit sekali?" Keng Cin sin benar-benar mati kutunya terhadap orang-orang tersebut, dia benar-benar merasa tak ma mpu untuk mene mukan titik kecurigaan disekitar sana.

Namun dengan wataknya yang keras hati, dia pantang menyerah dengan begitu saja, otaknya segera berputar keras, dia mencoba untuk mengingat-ingat apakah didalam kitab pusaka Cang ciong pit kip   tercantum   kepandaian   yang    dapat    digunakan    untuk me matahkan kepandaian Hui sian mo ing tersebut.

Sementara dia mas ih termenung, Lo ngo telah berkata  lagi  sambil tertawa seram:

"Lo ji, lebih baik jangan mene mpeli e mas di atas wajah sendiri, kalau toh kau lebih unggul darinya, berani tidak tampilkan diri untuk berduel dengannya?"

Hmmmm....! Aku si lo ji masih pingin hidup beberapa waktu lagi, bila harus ma mpus, lebih baik kita tujuh bersaudara berangkat bersama-sama menuju ke langit barat."

”Lo ji, hatimu a mat busuk" da mprat yang lain, "kalau kau  mau ma mpus, ma mpuslah sendirian, mengapa harus mengajak kami semua untuk benar-benar menjadi setan"

"Heeehh... heeehhh... heeehhh... kita tujuh bersaudara tak pernah berpisah satu dengan la innya, misalnya harus turun ke neraka pun sudah sepantasnya turun bersama" lo ji menimbrung sembari tertawa dingin.

"Betul! Betul! Perkataan lo ji me mang masuk diakal"

"Hei, mengapa sih  kalian berkaok-kaok melulu!" mendadak seseorang menegur dengan suara sedingin salju, ”agaknya dia sudah tahu kalau kita berada didalam neraka.”

"Lo toa, apa yang mesti ditakuti? Me mangnya dia akan me mbalik lapisan tanah disini"

"Siapa tahu? Aku lihat dia sudah me mbenci kita setengah mati, agaknya rasa benci itu sudah merasuk sa mpai ke tulang sum-sum" . "Lo toa, kami Bu lim jit hun tiada tandingannya dikolong langit, mengapa harus jeri terhadap dia seorang?"

Sang lo toa segera tertawa tergelak:

"Haaahhh... haaahhh.. haaahhh.. kalau sekarang mah kita belum mencapai tingkatan tiada tandingan dikolong langit"

"Maksudmu kita belum berhasil mendapat kan kitab pusaka Cang ciong pit kip serta, mutiara Thian hong im yang sin cu miliknya?.

"Benar! Bukankah benda-benda tersebut berada di dalam sakunya...?"

"Lo toa, lantas apa yang mesti kita lakukan sekarang?" suara menyeramkan yang lain bertanya.

"Ehmmm,  tak  ada  salahnya  kalau   kita   bertujuh  berunding ke mbali..."

Seusai perkataan itu diutarakan, suasana disekeliling tempat itu menjadi hening dan sepi ke mbali, mungkin mere ka sedang merundingkan persoalan tersebut dengan seksa ma.

Keng Cin sin benar-benar tidak habis mengerti, dia tak tahu permainan busuk apakah yang sedang dilakukan ke tujuh orang tersebut terhadap dirinya, yang lebih mengge maskan lagi adalah ia tak berhasil mene mukan tempat perse mbunyian mereka.

Setelah mendengar pe mbicaraan mereka barusan, ia telah mengetahui kalau kepandaian silat yang dimiliki orang-orang itu sangat lihay dan luar biasa, tapi mengapa dia tak berani munculkan diri untuk berhadapan muka dengannya?

Padahal dia mana tahu kalau Bu lim jit hun adalah manus ia berwatak aneh, tak pernah orang dapat meraba maksud  hati mereka yang sesungguhnya.

Hanya saja ke tujuh orang itu amat licik, dan berotak cerdas, ditambah lagi kekeja man nya luar biasa, kesemuanya ini me mbuat mereka lihay sekali. Keng Cin cin merasa tak ada gunanya tetap berdiam diri terus disitu, sedang mereka pun tidak menaruh dendam yang berat dengan nya, ia cuma mendongkol atas ucapan mereka yang kotor dan menghina tersebut.

"Aaaai.. sudahlah" demikian ia berpikir, ”percuma ribut dengan kawanan manus ia setengah setan macam begitu, anggap saja aku sedang sial sehingga berte mu dengan mereka ..."

Berpikir de mikian, dia lantas melejit ke udara dan meluncur turun dari bukit kecil tersebut.

Mendadak...

Serentetan suara  teguran  yang  amat  dingin  berkumandang me mecahkan keheningan:

”Manusia berkerudung warna warni, Mengapa kau lari ketakutan? Apakah takut terhadap ka mi? Heeehhh.... heeehhh ... heeehhh "

Ucapan tersebut segera menimbulkan satu ingatan dalam benak Keng Cin sin, dia m-dia m ia mengutuk diri sendiri:

"Goblok amat aku ini. Hmmm,  kali ini akan  kulihat  mau  kabur ke mana kalian se mua? "

Tiba-tiba saja dia me mbalikkan badan dan berjalan ke sisi kuburan  dimana  terdapat  tengkorak   manus ia   yang pertama, ke mudian bentaknya keras-keras:

"Kalian tujuh setan gentayangan mengapa tidak segera  menongo lkan diri?"

"Aduh celaka!" Seruan kaget berkumandang ke mbali "kuntilanak itu berhasil mendapat tahu kalau kita  bersembunyi di dalam kuburan"

"Lo su, mengapa kau me mberitahukan tempat persembunyian kita kepadanya?" da mprat yang lain.

Lo su segera tertawa dingin. "Kuburan yang terdapat ditempat ini beribu-r ibu jumlahnya, masa dia benar-benar dapat mene mukan tempat perse mbunyian kita?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Keng Cin sin, sambil tertawa dingin ia segera berseru:

"Mengapa kalian  tidak segara menampa kkan diri? Hmmm!

Jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji terhadap kalian"

Ternyata secara tiba-tiba Keng Cin sin menduga kalau mereka telah menyembunyikan diri didalam kuburan, sedang tengkorak manus ia yang berada disamping kuburan merupakan hasil pembongkaran mereka dari dalam liang kubur.

Ketika Keng Cin sin mela kukan pe mer iksaan terhadap beberapa ratus kuburan yang berada empat puluh kaki disekitar tempat  itu, dia hanya berhasil mene mukan ke tujuh sosok tengkorak itu, ma ka dia lantas menduga kalau ke tujuh orang itu bersembunyi di dalam tujuh buah kuburan disisi tengkorak.

Serentetan suara dingin menyera mkan lagi- lagi berkumandang: "lo toa, hasil dari perundingan kita adalah jangan temui dia  untuk

sementara  waktu,  kalau  begitu  kita  pun tak usah  menggubris dia

lagi..."

Padahal berbicara dari kekeja man serta kebuasan Bu lim jit hun, mereka tak nanti akan melepaskan Keng Cin sin dengan begitu saja, sebab mereka me mang datang untuk mencar i gara-gara dengan Keng cin sin.

Akan tetapi Bu lim jit hun yang licik dan me mpunyai banyak akal busuk ini telah menderita luka parah yang cukup parah, apalagi merekapun telah menyaks ikan kelihayan dari gerakan tubuhnya, sadar kalau tiada pegangan untuk mengungguli dia ma ka untuk sementara waktu mereka putuskan untuk melepaskan korbannya dengan begitu saja.

Keng Cin sin yang mengetahui keadaan mereka yang sesungguhnya, bagaimana mungkin bisa menduga sampai ke situ? Dengan suara menggelede k Keng Cin sin me mbentak:

"Aku akan me mbinasakan kalian didalam kuburan, agar tak usah menguburkan jenazah kalian lagi."

Sambil menganca m sepasang telapak tangannya segera dilontarkan bersama ke depan.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur ke depan dan menghanta m kuburan tersebut.

Angin pukulan yang menderu-deru bagai kan a mukan puyuh, kedahsyatanya benar-benar luar biasa.

Blaammmmmm ....

Suatu ledakan dahsyat berkumandang me mecahkan keheningan. Menyusul kemudian ...

Jeritan ngeri yang me milukan hati berkumandang pula

me mecahkan keheningan...

Setelah itu suasana disekitar sana pulih ke mbali dalam keheningan, sede mikian heningnya sehingga menakut kan.

Waktu itu Keng cin sin telah dipengaruhi hawa pe mbunuhan yang berkobar-kobar, dia mendatangi kuburan yang lainnya, kemudian berseru sambil tertawa dingin.

"Hmmm, sudah ma mpus seorang diujung  telapak tanganku, sekarang tiba giliranmu mau keluar atau tidak?

Namun suasana didalam kuburan itu tetap hening sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun.

Keng Cin sin me ndengus dingin, sepasang tangannya segera diputar me mbentuk satu gerakan lingkaran busur  disisi tubuhnya, ke mudian segulung hawa pukulan yang dalam bagaikan sa mudra, seperti letusan gunung berapi me muntah keluar.

"Blaaammm..!" sekali lagi berkumandang suara ledakan keras yang me mekikkan telinga... Diikuti pula jerit kesakitan yang me milukan hati...

Kini Keng Cin sin mendatangi sisi tengkorak yang ketiga, seperti yang lain, diapun me mbentak nyaring:

"Bila kalian tak segera menampakkan diri, akan kubunuh kalian satu per satu tanpa perasaan belas kasihan"

Tapi pihak lawan mas ih juga tidak menimbulkan suara apa pun. Mencorong sinar buas yang menggidikkan hati dari balik mata

Keng Cin sin, sepasang telapak tangannya dengan cepat  diputar  me mbentuk satu gerak melingkar, ke mudian gulungan angin puyuh seperti amukan topan menyapu ke arah kuburan itu.

Ledakan keras yang diiringi  jerit  kesakitan  lagi- lagi  berge ma me mecahkan keheningan ...

Secara beruntun Keng Cin sin me musnahkan lagi tiga buah kuburan yang lain, dimana angin pukulannya menya mbar lewat, segera berkumandang jeritan ngeri yang menyayat hati.

Sekarang ia telah tiba disisi kuburan dengan tengkorak yang ke tujuh, mendadak hatinya menjadi le mbek, ia teringat kalau Bu lim jit hun sesungguhnya tidak me mpunyai dendam kesumat yang terlalu dalam dengan dirinya, padahal tanpa sebab dia telah membinasakan enam orang diantara mereka secara beruntun, terhadap orang yang ke tujuh ia benar-benar merasa tak tega untuk menindaknya.

Dengan suara keras Keng Cin sin segera me mbentak: "Sekarang tinggal kau seorang, mau keluar atau tidak?" Kemudian setelah berhenti sejenak, dia me mbentak lagi:

"Bila kau bersedia mena mpakkan diri secara baik-baik, bisa jadi aku pun bersedia me mber i kese mpatan hidup bagimu"

Tapi suasana di dalam kuburan itu tetap hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Keng Cin sin menjadi tertegun, segera pikirnya: "Aneh betul ke tujuh orang ini, mereka sekarang lebih suka mengorbankan diri daripada menampakkan diri dari balik liang kuburan"

Berpikir sa mpa i disitu, sekali lagi Keng Cin sin me mbentak keras. "Bila kau enggan mena mpakkan diri lagi jangan salahkan kalau

aku akan bertindak keja m"

Belum juga ada suara yang berkumandang dari balik kuburan itu..

Berkobar ke mbali hawa napsu me mbunuh dalam dada Keng Cin sin, sepasang telapak tangannya segera diayunkan ke depan, segulung angin puyuh yang maha dahsyat seperti selembar jaring yang besar dan kuat, langsung menggulung ke arah kuburan tersebut.

"Blaaammm..!" suatu ledakan dahsyat kembali berkumandang datang.

Menyusul ke mudian jeritan ngeri pun bergema me mecahkan kesunyian...

Kini suasana didalam kuburan itu pulih ke mba li dalam keheningan, kesera man dan kesepian.

Keng Cin sin menghela napas panjang, guma mnya:

"Banyak sekali keanehan terdapat di dalam dunia ini, seperti juga ke tujuh orang itu"

Dia me mba likkan badan dan pelan-pelan berlalu dari te mpat tersebut ...

Mendadak pada saat itulah...

Dari sekeliling kompleks kuburan itu berge ma suara tangisan yang aneh, rendah berat dan menyeramkan,  suara itu sahut bersahutan membuat setiap sudut kuburan itu dipenuhi oleh suara dengungan yang sangat aneh.... Bergidik Keng Cin sin menghadapi situasi seperti ini, berdiri semua bulu kuduknya karena ngeri, untuk beberapa saat dia sampai berdiri tertegun ditempat.

Ditengah jeritan dan tangisan yang mengerikan, tiba-tiba berkumandang pula seruan seseorang dengan suara yang dingin menyeramkan:

"Ka mi tujuh bersaudara benar-benar telah sampai di neraka tingkat ke delapan belas, .... uuuh ”

"Saudara sekalian, roh kita akan menjadi roh penasaran,  mari  kita tangkap dia dan menyeretnya ke neraka ”

Keng Cin sin yang diper ma inkan oleh mereka benar-benar dibuat mendongkol sekali tanpa terasa bentaknya keras-keras:

"Bagus sekali! Kalian me mang tujuh sukma gentayangan,  bila pun buncu tak ma mpu meratakan kuburan ini dengan tanah, aku bersumpah tak akan menyudahi persoalan ini hingga disini.”

Bagaikan orang kalap Keng Cin sin  segera mengayunkan sepasang telapak tangannya berulang kali, segulung angin pukulan yang maha dahsyat pun mengikuti gerakan tubuhnya menghajar kuburan tersebut satu persatu...

Ditengah ledakan keras yang memekikkan telinga terjadi rentetan letusan dan getaran yang keras, angin pukulan me mancar ke e mpat penjuru dan berpusing kian ke mari.

Dalam waktu singkat Keng C in sin telah me musnahkan enam buah kuburan secara beruntun.

Dengan tenaga dala mnya yang sempurna serta desingan angin pukulannya yang tajam bagaikan sembilu, pasir dan batu segera beterbangan di angkasa, membawa peti mati yang telah lapuk dan tulang belulang yang hancur segera berserakan dimana- mana.

Bau busuk mayat yang menusuk hidung dengan cepat menyebar ke mana- mana me mbuat orang serasa mau tumpah. Tindakan kalap dari Keng Cin sin ini benar-benar mengerikan sekali .....

Kasihan dengan tulang belulang serta mayat-mayat tersebut, mereka harus merasa kan bencana tersebut disaat-saat jiwa mereka telah peroleh ketenangan.

Isak tangis maca m jeritan setan itu kini sudah sirap dan tak kedengaran lagi.

Sambil tertawa seram Keng Cin sin berseru.

"Kalian belum  juga  mau mena mpa kkan   diri?  Rupanya  kau me ma ksa aku untuk meratakan beribu kuburan ini rata dengan permukaan tanah ?"

Ditengah gelak tertawa keras, telapak tangan kirinya melepaskan ke mbali sebuah pukulan angin puyuh yang maha dahsyat, lagi-lagi sebuah kuburan hancur berantakan menjadi korban a mukannya.

Tenaga pukulannya me mang dahsyat bagaikan samudra yang bergelombang besar, cukup me mbuat wajah orang berubah.

Mendadak....

Disaat telapak tangan kanannya diangkat dan siap melepaskan sebuah pukulan lagi.

Tiba-tiba, ditengah keheningan berge ma suara pujian kepada Sang Buddha yang berat dan nyaring.

"Omitohud ”

Buru-buru Keng  C in  sin  menar ik  ke mbali  serangannya  lalu me mba likkan tubuh dengan cekatan, dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi orang di hadapannya tanpa berkedip.

Entah sejak kapan, tiga kaki di hadapannya telah bertambah dengan tiga orang pendeta tua berjubah kuning,

Salah seorang diantaranya berwajah saleh dengan alis mata yang panjang, waktu itu dia lagi me negur dengan suara dala m: "Li sicu, tindakanmu yang brutal ini sungguh  keterlaluan, tidakkah  kau   merasa   bahwa   perbuatan   ini   melanggar  peri  ke manusiaan?"

Keng Cin sin terkejut, cepat dia berpikir:

"Yaa, mengapa aku berbuat begini brutal? Tindakanku ini  keji dan tak berperi-kemanusiaan, toh mereka yang telah mati tiada ikatan sakit hati denganku? Mengapa aku harus menghancurkan kuburan mereka .. ?”

Timbul penyesalan dihati kecilnya setelah berpikir sampai di situ, rasa menyesal dan malu yang bercampur aduk, me mbuatnya terbungkam dalam seribu bahasa, pelan-pelan kepalanya ditundukkan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membalikkan badan dan beranjak meninggal kan te mpat itu .....

Tak  selang  beberapa  saat  ke mudian,  ia   telah  keluar   dari ko mple ks tanah pekuburan tersebut.

Tiba-tiba bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu ke tiga orang pendeta tua berjubah kuning itu telah menghadang  jalan pergi Keng Cin sin.

"Apa maksud kalian menghadang jalan pergiku" Keng Cin sin segera menegur sa mbil menatap ke t iga orang itu lekat-lekat.

"Li sicu!" ujar pendeta kurus disa mping kiri, "kau telah bertindak brutal, merusak kuburan umum, setelah berbuat apakah kau akan pergi dengan begitu saja? Mana pertanggungan jawabmu?"

Sekali lagi Keng Cin sin terperanjat, ia lantas berpikir.

"Rupanya mereka pun datang untuk mencari gara-gara denganku, biasanya tempat ini jarang dikunjungi umat persilatan, aneh, mengapa begitu banyak kejadian aneh yang berlangsung hari ini?"

Berpikir demikian, si nona pun berkata. "Boleh aku tahu, Sin ceng bertiga datang dari mana?"

"Omitohud!" pendeta berjubah kuning yang berada ditengah merangkap tangannya didepan dada. "kami berasal dari Siau lim si, pinceng Hoat hian, sedangkan ke dua suteku adalah Hoat  khong  dan Hoat hong"

Keng Cin sin se makin terperanjat, dia tak menyangka kalau ke tiga pendeta ini adalah t iga diantara lima t ianglo Siau lim pay.

Sebagaimana diketahui, Siau lim pay merupakan pemimpin dari sembilan partai besar di daratan Tionggoan. selama ini jarang sekali me libatkan diri dalam pertikaian Bu lim.

Lantas apa ma ksud kedatangannya kali ini ke mari ?

"Maaf, maaf.. rupanya kalian adalah tiga orang pendeta agung dari Siau lim pay" kata Keng Cin sin ke mudian sa mbil tertawa.

"Li sicu tentu keheranan bukan? Mengapa Siau lim pay ikut menca mpur i pertikaian dunia persilatan?" kata Hoat khong taysu yang berada ditengah.

Kembali Keng Cin sin tersenyum.

"Me mang begitulah, apakah aku boleh tahu? "

"Ringkasnya kami datang karena perguruan Hiat mo bun kalian" kata Huan hong taysu yang berada di sebelah kiri, "kami tak ingin partai kalian bertindak se mena- mena dalam dunia persilatan dan mence lakai umatnya. kami pun tak ingin menyaksikan dunia persilatan yang sudah banyak tahun berada dalam keadaan tenang menjadi bergolak dan tak a man lantaran ulah kalian"

"Omo ng kosong!" bentak Keng C in sin.

"Sebagai anggota Siau lim pay yang terhormat, kalian jangan menfitnah orang se maunya sendiri, Hiat mo bun adalah kelo mpo k manus ia lurus  dalam dunia persilatan, tujuan ka mi adalah menegakkan keadilan dan kebenaran didalam dunia, me mbantu kaum le mah menindas kaum kuat dan menenteramkan dunia persilatan yang sedang kacau dan tak a man!" "Bukti nyata berada didepan mata, buat apa kau menyangkal lagi?" seru Hoat khong taysu dengan dengan nada berat.

Keng Cin sin naik pitam, teriaknya sewot.

"Apa bukti kalian? Ayo tunjukkan dihadapanku!?.”

”Hiat mo bun menghimpun sebelas orang jago karena ingin merajai dunia persilatan, dalam le mbah Cui  yu  kok  kalian  telah me mbunuh tujuh delapan puluh orang, hari ini kaupun berbuat brutal dengan merusak kuburan umum sehingga jenasah yang berada disini berantakan tak karuan, Bebeapa kejadian ini sudah cukup sebagai bukti bahwa kau adalah ma nusia kejam, manus ia buas yang tak berperi kemanusiaan, dosa-dosa kalian pantas kalau ditebus dengan hukuman mati"

-oodwoo-

DIDAMPRAT secara terang-terangan, Keng Cin sin  menjadi sangat mendongkol, dia segera tertawa dingin.

"Ka mi orang-orang Hiat mo bun tak akan berbuat keji bila tanpa alasan, kami terpaksa  me mbunuh  orang  sewaktu  berada  dalam le mbah Cui yu kok karena kawanan manusia laknat itu mengincar mestika perguruan ka mi, demi me nyelamatkan partai dan diri sendiri, mau tak mau ka mi harus bertindak kejam"

"Omitohud!" ke mbali Hoat hian taysu berseru. "dari pembicaraan li sicu, dapat disimpulkan bahwa kau me mang kejam dan buas, apa gunanya mesti menyangkal lagi"

"Hmmm, mengapa aku harus banyak berbicara dengan kalian?" seru Keng Cin sin sambil tertawa dingin.. "bila kalian menganggap aku kejam dan buas, mau apa sekarang? Apa yang hendak kalian perbuat." "Terus terang kuberitahukan kepada kalian, aku hanya kejam terhadap manusia laknat yang berhati rendah dan busuk" "Kalian sebagai pendeta agung dari perguruan tinggi, tidak seharusnya  gara-gara   denganku,  hmmm!   Na mpaknya   kalian me mang ber maksud tertentu? "Kalau toh ingin menghadapiku, katakan saja blak-blakan, buat apa mesti mengguna kan ucapan yang me mbosankan?"

"Hingga kini kau belum ma u  mengakui  kesalahan  sebaliknya ma lah  menuduh  kami  menfitnahmu,  hmmm.:..  rupanya  li  sicu me mang tak bisa ditolong lagi"

"Bukannya me mbaca buku dan berdoa didalam kuil Siau lim si, kalian malah menjelajahi dunia persilatan. tampaknya kalian sendiri sama berniat mencari gara-gara untuk mengacaukan dunia" balas Keng Can sin sa mbil me mbentak.

”Omitohud” sekali lagi Hoat hian taysu berseru: "Perkataan li sicu me mang betul, pinceng sekalian sebagai pendeta sudah puluhan tahun hidup mengas ingkan diri dari kera maian dunia dan tidak menca mpur i urusan orang lain, tapi setelah mendengar ulah sicu belakangan ini, kami kuatir umat persilatan akan menjadi kacau dan tak karuan, Oleh sebab itu atas prakarsa dari sembilan partai besar, pinceng bertiga khusus datang ke mari untuk me lenyapkan bibit bencana ini dari dunia persilatan".

Keng Cin sin tertawa seram.

"Kebesaran jiwa serta kewelasan hati taysu bertiga sangat mengagumkan hatiku, tapi kalian keliru, kalian salah menuduh Hiat mo bun yang sesungguhnya bercita-cita menegakkan  keadilan dalam dunia persilatan, mengapa kalian tidak menghimpun kekuatan untuk menindak Ban sia kau yang banyak me lakukan kejahatan? Mengapa kalian tidak menghadapi Thi kiong pang, Jian khi pang dan Huan mo kiong  yang  lebih  banyak  me lakukan kekeja man serta kebrutalan?

"Mumpung sekarang belum terla mbat, kuanjurkan kepada kalian agar cepatlah sadar dan ke mba li ke ja lan yang benar"

Didalam kenyataan, Keng Cin sin tak pernah menyangka kalau ke sebelas orang-orang Hiat mo bunnya telah mati atau terluka akibat kerubutan jago-jago lihay tersebut, dia tak mengira kalau sekarang dirinya berdiri seorang diri.

Dengan sinis Hoat khong taysu berseru:

"Ban sia kau me mang keji dan banyak me lakukan kejahatan tapi kami harus menghadapimu terlebih dulu sebelum menghadapi mereka, kau tak perlu banyak berbicara?”

"Sebagai pendeta agung dari Siau lim pay, semestinya kalian bermata jeli dan pandri me mbedakan mana yang baik dan mana yang jahat, tapi kenyataannya kalian bermata tapi tak berbiji, kalian terus menerus menuduh orang-orang Hiat mo bun sebagai kaum laknat, baiklah, kalau toh demikian aku pun tak akan banyak ribut lagi dengan ka mu se mua.”

"Hiat mo bun merasa tak bersalah, kebersihan kami akan disaksikan sendiri oleh Thian, suatu waktu kalian akan mengetahui kebenaran ka mi, Maaf aku tak bisa me ne mani kalian lebih la ma lagi..."

Selesai berkata, dia lantas me lejit ke udara dan meluncur ke depan dengan kecepatan tinggi.

”Li sicu, apakah kau akan kabur dengan begini saja?" bentakan keras segera bergema.

Hoat hong taysu mengebaskan ujung bajunya, segulung tenaga pukulan segera meluncur ke depan dan menghadang jalan pergi Keng Cin sin.

Sungguh dahsyat pukulan itu, bagaikan terbentuk selapis dinding baja yang kuat, Keng Cin sin tak ma mpu melanjut kan perjalanannya.

Menghadapi hal de mikian. Keng Cin sin mendengus  dingin, tubuhnya bersalto beberapa kali ke mudian balik ke mbali ke posisi semula dengan suatu gerakan indah.

”Rupanya kalian me mang ber maksud me nyusahkan aku!" bentaknya kemudian sa mbil melotot dengan sorot mata tajam. "Hari ini kau akan me nerima hukuman yang setimpal dengan perbuatanmu sela ma ini" seru Hoat khong taysu ketus.

Mendadak...

Keng Cin sin mendonga kkan kepalanya, lalu tertawa panjang dengan suara yang keras dan me me kikkan telinga..

Suara tertawa itu mendengung sa mpai ke tengah udara, begitu keras dan nyaring sehingga menggetarkan seluruh jagad.

Kemudian setelah berhenti tertawa Keng Cin sin berkata lagi dengan suaranya yang dingin dan kaku:

”Aku dengar ilmu silat Siau lim pay menjago i seluruh dunia persilatan, hari ini Pun Buncu akan mencoba apakah berita itu benar atau tidak...”

"Sebentar lagi kaupun akan masuk neraka, akan kami buktikan untukmu..." ejek Hoat hong taysu.

"Hmmm.. tak usah tekebur lebih dulu,  ditambah dengan kekuatan tiga kali lipat pun jangan harap bisa menaklukkan aku"

"Suheng, akan kubinasakan dulu manus ia tekebur ini!"  teriak Hoat hong taysu marah.

Sambil me mbentak,  sepasang telapak tangannya dilontarkan bersama-sama ke depan.

Segulung angin puyuh yang maha dahsyat seperti sambaran kilat cepatnya langsung menggulung ke depan dan menghadang jalan pergi Keng Cin sin di empat arah delapan penjuru.

Menyusul serangan tersebut, seperti elang kelaparan mencari mangsa, dia langsung menerjang ke tubuh Keng Cin sin.

Hoat hong taysu sebagai satu diantara lima tianglo Siau lim pay boleh   dibilang   me miliki   kepandaian   silat   yang   luar    biasa, ke ma mpuan nya tak dapat dibandingkan dengan jagoan persilatan setarafnya. Tubrukkan yang dilakukan saat ini a mat dahsyat dan cepat seperti sambaran petir.

Keng Cin sin yang menyaks ikan kejadian mana merasa terperanjat juga dibuatnya, buru-buru sepasang telapak tangannya di lontarkan ke depan me lepaskan sebuah pukulan yang maha dahsyat, langsung menyongsong datangnya terkaman dari Hoat hong taysu.

Sebenarnya Hoat hong taysu berniat untuk  me mbunuh musuhnya dalam sekali gebrakan, na mun me lihat datangnya ancaman yang begitu dahsyat, buru-buru dia gunakan ilmu bobot seribu untuk me maksa badannya mendarat di permukaan tanah sebelum waktunya.

Sementara itu Keng Cin sin berniat untuk me mber i pelajaran kepada pendeta sombo ng ini, sepasang telapak tangannya di putar lalu disentil ke depan, segulung angin pukulan yang sangat aneh menerjang ke mbali ke arah mana Hoat hong taysu sedang meluncur ke bawah.

Baru saja ujung kaki Hoat hong taysu menyentuh tanah, dia merasa segulung angin pukulan yang maha dahsyat dan menyesakkan napas telah menekan ke arah dadanya.

Ia betul-betul terperanjat, mimpipun dia tak menyangka kalau Keng Cin sin me miliki tenaga dalam yang begitu sempurna dengan perubahan jurus serangan yang begitu cepat.

Cepat-cepat dia menghimpun tenaga dala mnya dan mengayunkan sepasang lengannya ke muka, segulung tenaga pukulan yang sangat kuat segera meluncur ke muka menyongsong datangnya ancaman lawan.

Blaaammm !

Ketika dua gulung tenaga pukulan itu saling beradu satu sa ma lainnya,  segera  berkumandanglah  suara  ledakan  dahsyat  yang me me kikkan telinga, angin berpusing menyambar ke  empat penjuru, daun pasir beterbangan me menuhi seluruh angkasa. Akibat dari bentrokkan kekerasan ini, Hoat hong taysu merasakan darah panas dalam dadanya bergolak keras, tak kuasa lagi tubuh nya mencelat sejauh enam depa lebih dari posisi se mula.....

Namun disaat kakinya menginja k ke mbali ke tanah, segera dia maju menyerang lagi, kali ini tangan dan kakinya dipergunakan bersama-sama.

Di dalam waktu singkat enam pukulan dan lima tendangan kilat telah dilepaskan olehnya.

Semua pukulan maupun tendangan yang dilancarkan pendeta tua bertubuh kurus kecil  ini hampir semuanya dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, hawa serangannya memancar ke empat penjuru bagaikan sayatan angin tajam, deruan angin yang me me kikkan telinga menyelimuti seluruh angkasa.

Serangkaian serangan bertubi-tubi ini bukan hanya dilakukan dengan kecepatan luar biasa, bahkan setiap gerakan disertai dengan tenaga dalam yang a mat se mpur na.

Dengan gerakan tubuh yang luwes, gesit tapi lincah, Keng Cin sin menghindar ke sana ke mari dengan gerakan yang aneh tapi sakti, sementara   sepasang    tangannya    digerakkan    kian    ke mar i me munahkan seluruh serangan nya.

Betapa gusar dan mendongkolnya Hoat hong taysu setelah menyaksikan berapa jurus serangan kilatnya mene mui sasaran kosong,  dia  me mbentak  dengan  suara  keras  bagaikan  guntur me mbe lah bumi, la lu menerjang lagi ke depan secara gencar, kali ini dia menyerang lebih buas lagi.

Bagaikan mala ikat raksasa yang kelebihan lengan, bayangan tangan, bayangan kaki di ko mbinasikan dengan hawa serangan yang menyayat badan memenuhi  seluruh angkasa, demikian dahsyat dan hebatnya ancaman tersebut me mbikin hati siapa pun menjadi keder dan ngeri rasanya.

Keng Cin sin me ndengus dingin, mendada k dia melancarkan serangan balasan, tiba-tiba saja sepasang telapak tangannya menciptakan bayangan tangan yang menyelimuti angkasa bagaikan sarang laba-laba, begitu ketat, rapat dan gencarnya serangan balasan ini sehingga seluruh angkasa seolah-olah sudah terjaring oleh anca mannya tersebut ....

Hawa pukulan segulung de mi segulung mengha mbur ke muka seperti amukan ombak sa mudra yang menyapu semua benda, akan bergidik orang bila menyaksikan keadaan tersebut.

Serangan demi serangan yang dipancarkan beruntun dan bersambungan satu sama lainnya mengandung int i silat yang amat menda lam dan lebih- lebih menggetarkan hati orang.

Hoat hong taysu betul-betul terdesak hebat sehingga harus mundur berulang kali sa mbil berkaok-kaok marah.

"Kena.!"

Suatu bentakan nyaring yang me mekikkan telinga tiba-tiba berkumandang dari mulut Keng Cin sin.

Ditengah sa mbaran angin pukulan yang me menuhi angkasa, tiba- tiba badannya mendesak ke sisi kiri Hoat hong taysu dengan suatu gerakan aneh, telapak tangannya bagaikan sambaran kilat menghajar langsung bahu kiri pendeta tersebut.

"Duuuukkk !"

Dengan kerasnya pukulan tersebut bersarang telak ditubuh lawan, tak ampun Hoat hong taysu terhajar sampai mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan se mpoyongan.

Sambil tertawa dingin Keng Cin sin segera berkata:

"Hmmm, ilmu silat aliran Siau lim pay ternyata cuma begini saja, huuuh! Berani a mat berbicara sesumbar dihadapanku!"

Diantara tiga pendeta Siau lim pay ini,  ilmu silat  yang dimiliki Hoat hian taysu terhitung paling tinggi, dalam beberapa jurus pertarungan tadi, sudah melihat Keng Cin sin dapat berputar kesana ke mari dibawah serangan gencar adik seperguruannya Hoat hong taysu. Kendatipun sekilas pandangan orang akan me ngira gadis itu terdesak hebat dan terjerumus dalam posisi yang amat berbahaya, namun bagi seorang ahli silat dapat dilihat betapa hebat dan  lihaynya perempuan tersebut dalam menghadapi teteran musuh. Terutama sekali jurus serangan yang di pakai untuk menghajar Hoat hong taysu barusan, gerakan tubuhnya hakekatnya seperti sambaran setan saja, tak terlukiskan rasa ngeri dan tercekatnya pendeta itu.

Perlu diketahui, Lima sesepuh dari Siau lim pay ini merupakan tokoh angkatan tua dalam kuil Siau lim si, na mun tak pernah mereka sangka kalau ke ma mpuan mereka berhasil dikalahkan oleh lawannya secara begitu mudah.

Bila kejadian se macam  ini sa mpa i tersiar didalam dunia persilatan, jelaslah sudah hal tersebut akan merusak nama baik serta pamor Siau lim pay di mata masyarakat.

Tak heran kalau hawa napsu me mbunuh segera menyelimuti wajah Hoat hian taysu, mendadak serunya dengan suara dala m.

"Sute berdua, tenangkan dulu pikiran dan nantikan perintah selanjutnya"

"Aku rasa kalian Siau lim sam ceng (tiga pendeta dari Siau lim pay) boleh maju bersa ma-sa ma" ucap Keng Cin sin dingin, "sebab ditempat kuburan ini, selain tujuh le mbar sukma gentayangan tak mungkin ada orang lain yang mengetahui kejadian ini, siapa tahu dengan kerja sama  kalian  bertiga  nanti,  kalian  dapat  berhasil  me mbunuhku?

-ooodwooo-