Dendam Sejagad Jilid 28

Jilid 28

SERANGAN yang dilepaskan olehnya ini aneh sekali,  dimana serangannya dilepaskan segera terasa deruan angin pukulan yang kedahsyatannya bagaikan a mukan gelom-bang sa mudra, langsung menggulung ke arah depan...

Ku See hong berkerut  kening,  dengan  cepat  lengan  kirinya  me mbuat satu lingkaran busur dan secepat sambaran kialt didorong ke depan menyongsong datangnya ancaman tersebut, segulung hawa murni yang le mbut tanpa menimbulkan sedikit suara pun langsung menyongsong datangnya ancaman lawan.

''Blaaammm...!'   suatu   benturan   nyaring  segera   bergema me mecahkan keheningan.

Hawa murni yang menggulung segera menyebar ke e mpat penjuru dengan me mbawa suara yang menderu-deru.

Ku See hong menjerit tertahan, kemudian dengan tubuh sempoyongan mundur se jauh tiga e mpet langkah.

Setelah dua tiga kali mengala mi pukulan yang dahsyat, akhirnya me mbara juga hawa a marahnya, dengan suara menggeledek dia segera me mbentak nyaring:

"Sekarang, sambutlah sebuah gerak serangan Ho han seng huanku yang berna ma Thian ciu cuan im ini!" Ditengah seruan tersebut, sepasang lengan Ku See hong  berputar secara aneh,  diantara berputarnya sepasang lengan tersebut, terlihatlah pancaran hawa murni yang me mancar kan keluar dari seluruh tubuhnya.

Tatkala manus ia berkerudung itu menyaksikan Ku see hong hendak mengeluarkan gerak serangan Thian ciu cuan im dari jurus Hoa han seng huan, mendadak dari balik matanya memancar keluar sinar, mur ung yang diliputi kesedihan, sepasang telapak tangannya yang putih muluspun mendadak diangkat, dan disilangkan di depan dada, namun sa ma sekali tidak mela kukan gerak serangan apapun.

Menyaksikan sorot matanya yang murung dari sedih itu, Ku See hong merasakan hatinya bergetar keras, sepasang lengannya yang sedang berputar aneh pun tiba-tiba berhenti bergerak dan ia tidak jadi mengeluarkan ilmu Ho han seng huan yang  terdiri dari t iga jurus serangan maha dahsyat itu.

Mendadak manus ia berkerudung itu me mbentak keras:

`'Ku See hong, cepat menyingkir.."

Ditengah bentakan tersebut, sepasang lengannya yang semula berhenti di depan dada itu me lancarkan sebuah cengkera man yang aneh sekali...'

"Blaaa m! Blaaamm! Blaaammm !`

Seretatetan suara benturan yang amat nyaring dan me me kikkan telinga segera berge ma me mecahkan keheningan.

Ku See hong muntahkan darah segar secara tiba-tiba, paras mukanya pucat pias seperti mayat, selangkah demi selangkah dia mundur kebelakang Sehingga akhirnya tubuh itu terkulai le mas ke atas tanah.

Manusia berkerudung itu segera berpekik sedih:

"Kau... mengapa kau tidak me mpergunakan jurus Thian cin cuan im.." Secepat kilat tubuhnya menerjang ke muka, lalu tangannya yang le mbut digunakan untuk me mayang bangun tubuh Ku See hong yang terkulai le mas...

Ternyata, sewaktu manusia berkerudung itu mengangkat telapak tangannya ke depan dada itu, segulung tenaga pukulan yang maha sakti segera menyebar keluar tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

Dia cukup tahu kalau ke tiga gerakan serangan dari jurus Ho han seng huan dari Ku See hang tersebut a mat jahat dan dahsyat, dan bermaksud untuk me matah kan, gerak serangan tersebut dengan pukulan  hawa  murni.  siapa   tahu   Ku   See   hong   tidak   jadi me mperguna kan Thian ciu cuan im tersebut untuk melancar kan serangan, padahal hawa murninya yang dipancarkan keluar sudah terlanjur meluncur ke depan...

Maka dia lantas berteriak agar Ku See hong cepat menyingkir, sementara dia sendiri me lepaskan ke mbali beberapa buah pukulan hawa murni untuk me munahkan kedahsyatan dari serangan tersebut.

Tapi kenyataannya, Ku See hong sama sekali tidak menghindar, tubuhnya segera terkena sisa hawa pukulannya yang me mancar ke mana- mana itu...

Untung saja Ku See hong me miliki hawa khikang Kan kun mi siu kang khi untuk me lindungi badan, kendatipun begitu, toh ia tak tahan juga menghadapi ge mpuran tenaga yang amat dahsyat tersebut.

Hawa darah didalam rongga dadanya segera bergolak keras, isi perutnya pun terasa sakit sekali.

Dengan sorot yang sayu Ku See hong mengawasi tatapan mata lawan yang berkaca-kaca itu, kulit wajahnya segera mengejang karena menahan penderitaan, lalu ujarnya sedih:

"Kau...benarkahr kau adalah adik Sin? Katakan terus terang..."

Manusia berkerudung itu tidak menjawab pertanyaannya, tapi berseru pula dengan ce mas: "Parahkah luka mu?''

"Bila kau adalah adik Sin, luka seringan ini sudah pasti masih dapat kupertahankan!'

Tampaknya manusia berkerudung itu di buat terharu sekali oleh luapan rasa cinta Ku See hong yang begitu dalam dan sangat terhadap Keng Cin sin, dia berpekik sedih, mendadak dipeluknya Ku See hong, kencang-kencang.

Dari balik kelopak matanya yang jeli na mpak titik air mata jatuh bercucuran dengan derasnya.

"Aku ...aku bukan...Keng Cin sin" sahutnya kemudian dengan suara yang me milukan hati.

Ditinjau dari tubuhnya yang gemetar keras, terasa nada suaranya yang sedih dan gemeter, bisa diduga  betapa penderitanya dia sewaktu mengutarakan ucapan tersebut.

Ku See hong menghe la napas sedih:

"Adik Sin, mengapa aku harus me mbohongi dirimu? Bolehkah kulepaskan kain kerudungmu itu?"

Sementara berbicara, sepasang kakinya gemetar keras, manusia berkerudung yang sedang memeluk tubuhnya pun ikut jatuh ke tanah dan berada dalam pelukan anak muda tersebut.

Apabila seorang gadis bukan sedang berhadapan dengan kekasih hatinya, tidak mungkin dia akan berbuat seperti ini.

Manusia  berkerudung  itu  menghela   napas   sedih,   katanya ke mudian dengan suara le mbut:

"Benarkah kau hendak me mer iksa raut wajahku?"

Paras muka Ku See hong pucat pias seperti mayat, bahkan ada kalanya mengejang keras penuh penderitaan, sehingga me mbuat siapa pun akan beriba hati bila me nyaksikan keadaan itu.

Dengan sorot mata yang sayu, dia menatap perempuan itu lekat- lekat, ke mudian me-ngangguk. ”Benar! Aku harus melihat jelas paras muka aslimu!.”

Manusia berkerudung itu  na mpak  lebih   sedih  lagi,   katanya ke mbali dengan suara lir ih:

"Seandainya aku bukan orang yang kau bayangkan, apa pula yang hendak kau lakukan?"

Sekulum senyuman segera menghiasi wajah Ku See hong yang pucat pias itu.

"Kau sudah pasti adalah adik Sin, aku yakin seratus persen pasti benar...!"

Manusia berkerudung itu segera menghela napas sedih. "Aaaaai...kalau begitu, lepaslah!"

Pelan-pelan Ku See hong mengangkat tangan kanannya yang nampak ge metar sangat keras, dia seperti merasa ketakutan? Atau mungkin disebabkan oleh luka dala mnya yang parah?

Padahal perasaan Ku See hong waktu itu pun berat sekali, napasnya seolah-olah terhenti, untuk sesaat, sementara sepasang matanya mengawasi ke depan tanpa berkedip.

"Sreeeet...!"

Akhirnya kain kerudung tengkorak putih dengan dua belas kuntum bunga bwee itu berhasil disingkap juga...

'Haaaahh..?" suatu jeritan kaget berge ma me mecahkan keheningan.

"Kau.. benar kau benar bukan...bukan Keng Cin sin?" seru Ku See hong ke mudian dengan perasaan pedih.

Ternyata paras mukanya amat me mucat,  tiada hawa darah, dingin, kaku dan me ngerikan. inilah sebuah wajah yang jelek dan menyeramkan siapa pun yang melihatnya.

Tentu saja berbeda sekali dengan wajah cantik dan lembut dari Keng Cin sin yang berada di istana Huan mo kiong di Lam hay. Beberapa tetes air mata segera jatuh berlinang me mbasahi wajah perempuan itu, ke mudian sesudah menghela napas sedih, bisiknya dengan le mbut:

"Tentunya wajahku a mat je lek dan mengerikan hati bukan?'

Dalam hati kecil Ku See hong masih tetap terkandung setitik harapan, dia segera bertanya lagi:

"Apakah kau adalah adik Sin? Bila kau benar benar adik Sin, sekalipun wajahmu telah berubah menjadi begini rupa, aku tetap masih akan mencintaimu, katakanlah kepadaku secara berterus terang, apakah kau adalah Keng Cin sin"

Ada kalanya, paras muka seseorang dapat berubah menjadi jelek dan susah dipandang lantaran menelan obat beracun, sebab ditinjau dari sudut mana pun dia sa ma sekali mirip total dengan Keng Cing sin dari istana Huan mo kiong di Lam hay, itulah sebabnya Ku See hong lantas menganggap dia sebagai Keng Cin sin.

Sekarang, walaupun Ku See hong sudah melihat jelas paras mukanya dan terbukti kalau dia bukanlah Keng Cin sin yang dulu, namun tatkala dia terbayang kembali dengan tulisan  yang tercantum dalam kertas surat tersebut, kemudian menghubungkan dengan kepedihan hati yang dima ksudkan, siapa tahu kalau gadis itu takut bertemu dengan nya lantaran paras mukanya  telah berubah menjadi jelek? '

Sebaliknya manusia berkerudung itu merasa makin sedih lagi sesudah mendengar perkataan Ku See hong yang penuh dengan pancaran rasa cinta yang tak terhingga itu, titik-titik air mata segera jatuh bercucuran me mbasahi wajahnya terkena air mata tersebut, secara lamat-la mat segera tampak ada selapis kulit tipis  yang terkelupas.

Mungkin kulit yang terkelupas itu amat kecil,  atau  mungkin pikiran dan perasaan Ku See hong waktu itu kelewat kalut, ternyata dia tidak mene mukan pertanda yang mencuriga kan itu. Sementata itu, perempuan tersebut telah mengenakan kemba li kain kerudungnya untuk menutupi ke mbali paras makanya yang menyeramkan itu, ke mudian katanya pelan.

"Ku See hong, paras muka asliku telah berhasil kau saksikan dengan amat jelas, apakah kau masih belum dapat menentukan aku adalah Keng C in itu atau bukan? Aaaai ..

Setelah berhenti sejenak, terusnya:

"Bila aku teringat kembali dengan kekasih hatiku di masa lalu, dia pun begitu cinta kepadaku seperti apa yang kau lakukan sekarang, tapi meski cintanya sedalam lautan, namun setiap perubahan yang terjadi di dunia ini sungguh me mbuat orang sukar untuk mengingatnya...

"Dahulu, setelah aku berpisah dengannya, tak lama ke mudian aku  telah  dinodai  oleh  manusia- manus ia  laknat,  peristiwa  itu me mbuat aku menjadi ternoda, bila aku benar-benar bersua kembali dengan kekasihku. aku benar-benar tak punya muka lagi untuk berjumpa dengannya.

"Ku See hong, kau harus percaya dengan perkataanku, aku bukan Keng Cin sin yang sedang kau cari, tapi oleh karena wajah maupun gerak gerikmu a mat mirip dengan nya, ma ka diantara kita berdua baru terjadi kesalahan paham seperti ini, sekarang adalah saat bagi kita untuk me nyelesaikan kesa-lahan paham tersebut"

Ku See hong mendonga kkan kepalanya me mandang awan yang sedang bergerak di angkasa, ke mudian menghe la napas sedih.

Di dengar dari helaan napas tersebut, jelas terdengar betapa kecewa dan sedih hatinya.

Kemudian terdengar dia berguma m seorang diri seperti orang yang sedang mengigau saja:

"Lagi- lagi suatu impian kosong belaka... Ooh, adik Sin! Benarkah kau sudah tiada di dunia ini lagi? "Oooh, adik Sin! Tahukah kau betapa tidak percayaku  kalau Thian bisa merenggut nyawamu dengan begitu saja...?

Sepasang mata si manusia berkerudung itu telah basah oleh air mata, dia pun seperti berguma m:

"Yang hidup apa faedahnya? Yang mati apa menderitanya? Bila seorang me mpunyai tubuh tanpa roh, apa bedanya pula dengan suatu ke matian...

-oodwoo-

UNTUK beberapa saat lamanya, susana menjadi sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suara pun, ke dua belah pihak sa ma-sa ma me mbungka m diri dalam seribu bahasa.

Mendadak manus ia berkerudung itu ber bisik lirih:

'Ku See hong, kalau toh ia sudah tiada di dunia ini lagi, mengapa kau tidak melupakan saja kehadirannya dalam hatimu?"

"Tidak! Tidak! Sa mpai mat ipun aku tak akan melupakan dia, seperti pula sikapmu terhadap kekasih hatimu, meskipun kau tak ingin berte mu dengannya, tapi bukankah siang dan mala m selalu mencari dirinya?

"Dia dapat mene mpati  seluruh hatimu, karena cintanya kepadamu tidak bisa di-tawar-tawar lagi, begitu pula keadaan Keng Cin sin bagiku, bayangan tubuhnya sudah melekat dalam-dala m dihatiku!"

Manusia berkerudung itu menghela napas panjang, ke mbali dia berkata:

'Manusia yang sudah mati tak bisa hidup kembali, tapi kesedihan yang mela mpaui batas justru akan merugikan kesehatan badanmu sendiri...' Dengan cepat Ku See hong menukas kata-kata selanjutnya yang belum selesai di utarakan itu, teriaknya keras:

"Dia belum mati! Dia belum mati! Aku tidak percaya kalau dia sudah mati ......

"Sudah  begini  la ma  kau  mencarinya,  namun  tak   pernah mene mukan kabar beritanya, apalagi bukankah kan pernah berkata: Dengan mata kepala sendiri kau saksikan tewas ditangan kawanan manus ia laknat sewaktu berada di istana Huan mo kiong? Apakau kau menganggap dia belum mat i?"

Sesudah mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba saja Ku See hong seperti mendengar suara teriakan yang me milukan hati itu, hatinya terasa perih sekali, sakit dan seakan-akan mengucur kan darah.

Seperminum teh ke mudian, Ku See hong baru berkata ke mba li: "Seandainya dia benar-benar mati,  ma ka selesai kubalas dendam

kesumat  tersebut, aku pun tak akan hidup  lebih  la ma  lagi di dunia

ini"

Mendadak manusia berkerudung itu menegur dengan suara yang dingin bagaikan es: "Sebagai seorang le laki sejati, tidak seharusnya kau sembarangan mengorbankan diri hanya disebabkan masalah perempuan, paling t idak, kau harus melakukan suatu  pekerjaan yang mengge mparkan dalam dunia persilatan, dengan demikian baru bisa terpancar jiwa dan semangatmu sebagai seorang lelaki yang jantan!"

Ku See hong tertawa sedih.

"Aaaah terus terang saja aku sudah sama sekali tidak berteriak lagi oleh masalah- masalah ke manus iaan seperti itu lagi.

"Sebenarnya aku menganggap cinta muda- mudi hanya suatu cinta yang palsu belaka, cinta yang lain dimulut lain dalam hati, tapi sejak aku berjumpa dengannya, dia telah memberikan cinta  yang suci dan murni ke padaku, dan telah mengorbankan diri  untuk diriku, untuk me nyelamatkan sele mbar jiwaku. "Tatkala aku   mendengar   jeritan   ngerinya   menjelang   saat ke matian itu tiba, sebenarnya aku sudah tak punya keinginan lagi untuk hidup lebih jauh, waktu itu, seandainya tiada api dendam kesumat yang menunjang diriku, mungkin aku sudah tidak berada di dunia ini lagi.

'Sejak saat itu juga, dalam hatiku aku telah menga mbil keputusan, bila dendam kesumat ku sudah berhasil dibalas, dan terbukti kalau ia mati karena aku, maka aku pun  akan mengorbankan pula sele mbar jiwaku sebagai pernyataan rasa cintaku kepadanya"

Tatkala manusia berkerudung itu mendengar  ucapan  tersebut, dia segera me mperdengarkan suara helaan napasnya yang sedih dan sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Mendadak ia bertanya:

”Ku See hong! Bila kau mengor bankan nyawamu de mi kekasihmu yang telah mati itu, lantas bagaimana dengan seorang gadis le mah lainnya? Bagaimana cara mereka untuk me lanjutkan ke mbali hidupnya?

'Bila kau berbuat demikian, apakah kau tidak merasa terlampau me mentingkan diri sendiri? Kau harus tahu. sekarang kau sudah tak bisa berbuat sekehendak hati sendiri seperti dulu, mau berbuat apa lantas berbuat apa.

"Sebab saat ini kau telah me mpunyai dua orang perempuan lagia Him Ji im ....antara kau dengannya telah mengadakan hubungan suami istri, dengan In Yan cu... betapa dalamnya dia me ncintaimu.

"Apakah kau akan meninggalkan mereka se mua dengan begitu saja, meninggalkan mereka secara keji sehingga  menbiar kan mereka menderita sepanjang masa?"

Bagaikan baru sadar dari impianrya, Ku See hong segera berseru bagaikan orang kalap:

"Ku See hong, wahai Ku See hong.... mengapa nasibmu begitu tragis...? Mengapa nasibmu begitu tidak menguntungkan!" "Benarkah kau akan nekad? Tidak! Kau tidak boleh benar-benar berbuat demikian!

”Boleh!... dengan Him Ji im dan Im Yan cu aku telah me mpunyai hubungan suami istri sekarang aku sudah me mpunyai tanggung jawab. .

Tiba-tiba manusia berkerudung itu menjer it kaget:

"Apa? Im Yan cu... kau telah merenggut pula kehormatan dari Im Yan Cu..

Merah padam selembar wajah Ku See hong karena jengah, sesudah menghela napas sahutnya:

“Dia... dia sudah ha mpir mati...'

“Ku See hong!" Manusia berkerudung itu segera berseru dengan perasaan cemas "ke marin mala m bukankah kau datang mencariku untuk me mohonkan pengobatan baginya? Yaa, mengapa aku begitu pikun hanya bersantai-santai denganmu saja sehingga me lalaikan persoalan yang maha penting tersebut"

Dalam pada itu, kesadaran Ku See hong pun sudah menjadi terang kembali, ketika menyaksikan kepanikan dan kecemasan dari perempuan berkerudung itu, selintas rasa heran dan tidak habis mengerti ke mbali me liput i wajahnya, dia tak habis me ngerti apa sebabnya orang itu de mikian me mper-hatikan dirinya, Him Ji im serta Im Yan cu? Seandainya diantara mere ka se mua tidak saling mengenal sebelumnya, mengapa pula dia bersedia me mperlihatkan semuanya itu?

Ku See hong menghe la napas pelan, lalu ujarnya.

"Sekarang Im Yan cu telab dibawa pergi oleh gurunya, untuk sementara waktu sukar buat kita untuk menemukannya, Sekarang, aku orang she Ku ingin bertanya kepadamu, apakah engkau dapat mengobati luka akibat racun tersebut?"

"Cepat katakanlah, racun apakabh yang telah menyerang tubuhnyaa?` Ku See honbg agak ragu sejenak, tapi akhirnya menjawab juga:

"Dia telan dipaksa oleh seorang manus ia  laknat untuk menelan pil beracun Im hwee si hun wan...

"Apa? Pil beracun Im hwee si hun wan" manusia berkerudung itu menjer it kaget.

Dilihat dari jeritan kagetnya, Ku See hong sudah tahu kalau perempuan berkerudung inipun tidak ma mpu untuk menye mbuhkan luka beracun mana, suatu firasat tak enak segera melintas di dalam benaknya.

Sesudah berguma m sejenak, akhirnya dia ber kata:

"Benar, pil Im hwee si hun wan! Disaat yang paling kritis itulah kebetulan aku datang, akibatnya... akibatnya aku pun mengadakan hubungan dengannya... sebab bila aku tidak berbuat de mikian. maka dia. . dia akan mati karena nadinya pecah"

Sesudah mendengar perkataan tersebut, manusia berkerudung  itu berdiri ter mangu- mangu, ta mpaknya  dia  sedang  berusaha me mutar otak untuk mene mukan cara rahasia untuk mengobati luka keracunan tersebut.

Selama beberapa saat kemudian, dia baru tertawa lagi dengan perasaan sedih...

''Apakah gurunya dapat menyembuhkan luka beracun dari pil jahat tersebut?'?

Ku See hong menjadi gelisah, bukan menjawab, dia malah balik bertanya:

"Jadi kaupun tidak sanggup untuk menye mbuhkan racun cabul ini?"

"Barusan aku telah me mikirkan isi kitab pusaka yang pernah kupelajari, dalam hala man buku yang mencantumkan masalah Im hwee si hun wan tersebut, buku itu berkata demikian: "Racun obat ini merupakan semaca m obat perangsang bersifat keras yang amat keji, berhubung racun itu kelewat ganas dan janat maka sewaktu kitab tersebut di tulis, cara pembuatan obat Im hwee si hun wan tersebut sudah hilang dari peredaran dunia'

"Kalau begitu, di dalam kitab tersebut tidak terdapat catatan mengenai obat penawar nya?" tanya Ku See hong sedih.

'Padahal menurut apa yang kudengar Im hwee si hun wan merupakan se maca m obat cabul yang tidak me mpunyai obat penawar nya.

'Tapi aku percaya di dunia ini sudah pasti terdapat semacam obat yang bisa menandingi keganasan racunr tersebut, hanya kita masih beqlum mengetahui saja apa na ma dari obat tersebut"

Tatkala mendengar perkataannya yang terakhir itu, tiba tiba saja Ku See hong teringat kemba li dengan rumput Im cu cau yang pernah di katakan Thi bok sin kiam Cu Pok kepadanya tempo hari.

"Yaa, siapa tahu kalau rumput Im cu cau tersebut dapat digunakan untuk menye mbuh kan luka  racun tersebut?" demikian dia berpikir ke mudian.

Berpikir sa mpa i disitu, Ku See hong segera berkata.

"Kalau  begitu,   kau   benar   benar   tak   ma mpu   untuk menye mbuhkan dirinya? Dia-apakah dia harus "

Kata-kata  selanjutnya  tak berani   dia   utarakan   lagi,   sebab ke matian Im Yan cu baginya tak kalah pentingnya dengan Keng Cin sin, hal tersebut akan memberikan pukulan batin yang a mat berat baginya.

Sebab, bagaimanapun juga dia tetap mencintai gadis tersebut, sedangkan gadis itu pun tampak begitu suci bersih dan menaruh cinta yang begitu menda lam terhadap dirinya.

Terdengar manusia berkerudung itu berkata lagi.

"Walaupun dalam kitab tidak dicantumkan tentang obat penawar dari racun Im hwee si hun wan, na mun aku yakin masih bisa dise mbuhkan dengan suatu cara pengobatan yang istimewa, paling tidak dapat me mper-panjang saat kambuhnya, kemudian aku baru akan pergi me ncarikan obat yang bisa me munahkan racun itu,

"Ban sia kaucu Ceng Lan hiang me miliki sejilid kitab Ban sia cin keng, dan pil tersebut dibuat olehnya berdasarkan catatan dalam kitab itu, aku rasa ke mungkinan besar dia pun mengerti apa obat penawar dari racun itu"

Segera muncul ke mba li setitik harapan dalam hati Ku See hong, perasaannya yang tegang pun segera  mengendor  kemba li, sekalipun harapan tersebut masih a mat kecil, na mun jauh lebih baik daripada sama sekali tiada harapan lagi.

Ku See hong segera berkata pelan:

"Nona bolehkah aku tahu, mengapa kau bersikap begitu baik terhadap kami? Aku orang she Ku benar-benar merasa amat menyesal, dimana ke marin ma lam aku telah mengganggu ketenangan kalian."

Manusia berkerudung itu menghe la napas sedih.

"Sebagai sesama umat persilatan, sudah sewajarnya apabila kita saling bantu me mbantu, hal ini tidak terhitung seberapa.

"Terus terang saja  kukatakan!  Aku  memang  melindungi  dan me mperhatikan dirimu jauh melebihi yang la in, sebab wajahmu mirip sekali dengan kekasihku dulu. Sekalipun dalam hidupkuini aku bakal kehilangan cintaku  terhadapnya,  tapi  aku  bersedia  untuk me mbantu cinta kasih orang lain, dengan de mikian paling tidak aku akan me mperoleh sedikit pe mbayaran cintaku yang hilang"

Ku See hong benar-benar merasakan hati nya bergolak keras sesudah mendengar ucapan tersebut, perempuan ini benar-benar mirip sekali dengan Keng Cin sin, terutama sekali keanggunan dan kebesaran jiwanya.

Tampaknya manus ia berkerudung itu seperti lagi menunjukkan sesuata, kemba li ia berkata: "Padahal cinta yang sebenarnya bukan cinta yang menguasahi, me lainkan suatu pe mberian.

`Seandainya aku berhasil mene mukan yang dulu, dan menyasikan dia seperti juga kau sekarang, telah me mpunyai dua orang kekasih yang lain, maka aku pun akan me mbantunya pula agar mereka dapat hidup berbahagia"

"Aaaai, banyak persoalan di dunia ini yang tak bisa dibayangkan dan dipikirkan dengan begitu mudah"

Ku See hong turut menghe la napas panjang . .

'Aaaai, aku orang she Ku telah berkenalan lagi dengan seorang perempuan sejati, apabila tidak keberatan aku ingin sekali mendapat tahu siapa na ma nona."

Mendengar permintaan tersebut, perem-puan berkerudung itu merasakan hatinya bergetar keras, segera berpikir. .

'Aku tidak dapat bergaul lagi dengannya lebih jauh, manus ia adalah ma khluk yang kaya akan perasaan, bila aku seringkali bbergaul denganndya maka batasana-batasan perasaban yang kuatur sela ma ini, pada akhirnya bisa berantakan tidak karuan, aku sudah tidak me miliki tubuh yang suci  dan  bersih  lagi  untuk menya mbut datangnya cinta dari dia..."

Berpikir demikian, cepat-cepat katanya dengan suara sedingin es.

"Ku See hong! Na maku telah hilang lenyap bersama-sa ma dengan jiwaku, maaf bila aku tak dapat me mberitahukan soal tersebut kepadamu"

Mendengar ucapan mana, Ku See hong segera tahu kalau dia tak ingin berkenalan dengannya, tanpa terasa ia menghela papas sedih.

"Berulang kali nona telah me mberikan cinta kasih kepada aku orang she Ku, budi kebaikan ini tak akan kulupakan untuk selamanya. suatu ketika budi kebaikan itu pasti akan kubayar. "Sekarang, apabila nona me mpunyai sesuatu tugas untuk menyuruhku. Katakan lah segera! Meskipun harus terjun ke lautan api sekalipun, aku orang she Ku tak akan me na mpik"

''Aku me mbantumu karena aku teringat ke mbali dengan kekasihku dahulu, aku sama sekali tidak mengharapkan balas jasamu, harap kau jangan me mpersoalkan hal ini di dalam hati"

Ku See hong merasa se makin sedih.

"Sela ma hidup aku orang she Ku tak pernah menerima budi kebaikan orang la in, tapi Kini, tanpa sebab musabab aku telah berulang kali menerima kebaikanmu, la ma kela maan hatiku menjadi tidak tenteram sendiri...

Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, perempuan berkerudung itu sudah menukas:

"Ku See hong, bila kau mas ih me mikirkan budi kebaikanku itu, baiklah! Aku pun akan me mohon beberapa persoalan kepada mu"

"Harap nona sa mpa ikan, aku orang she Ku sudan pasti akan menerima nya tanpa me mbantah"

'Pertama: harap kau jangan me musuhi orang-orang dari perguruan Hiat mo bun kami lagi.

Kedua: Harap kau segera pergi me ninggal kan aku"

Ucapan mana pada hakekatnya merupa kan suatu pengusiran secara paksa, kontan saja me mbuat paras muka Ku See hong berubah hebat, sebagai pemuda yang tinggi hati, ia merasa a mat gusar dan mendongkol seteblah diusir secadra demikian.

Coba kalau bukan Ku See hong sudah terlanjur dibikin  kagum atas perempuan tersebut dalam pe mbicaraan tadi, mungkin suatu pertarungan sudah pasti tak bisa dicegah lagi.

Dengan sedih dia menghela napas panjang, katanya kemudian: ''Entah kejelekan apakah yang dipunyai itu orang she Ku, sehingga kau bersikap begitu tak berperasaan kepadaku? Harap nona suka me mberi petunjuk yang je las'`

Manusia berkerudung itu menghe mbuskan napas panjang.

"Ku Se-hong, aku harap kau jangan mendekati aku,  apakah hanya soal ini saja tak dapat kau kabulkan? Aaaai... ''Terus terang saja kuberitahukan kepada mu, berhu-bung kau kelewat mirip dengan kekasihku, maka setiap kali bertemu dengan kau, aku lantas teringat akan dirinya, terutama cinta kasihnya dahulu, kau harus tahu, penderitaan semacam itu paling sukar ditahan, maka itulah  aku terpaksa harus bersikap kurang sopan dan tak berperasaan kepadamu, tentang soal ini, aku harap kau sudi me maafkan"

Apabila nona me mang bersikeras untuk berbuat demikian, tentu saja aku orang she Ku tidak akan menyusahkan orang, namun selama hidup aku pun tak ingin menerima budi kebaikan orang dengan begitu saja, sekarang aku telah bertekad untuk me laku kan suatu pekerjaanuntuk nona.

"Aku akan mencar ikan kekasihmu yang dahulu itu sa mpai ketemu, harap kau bersedia me mberitahukan kepadaku na ma dari kekasih hatimu itu..."

Mendengar ucapan tersebut, manus ia berkerudung itu tak dapat mengenda likan rasa pedihnya lagi, pancaran sinar kepedihan segera mencorong keluar dari balik matanya itu.

Dia benar-benar tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, tapi teringat betapa kotor nya tubuh sendiri yang telah dinodai orang, dengan cepat ia mengendalikan ke mbali perasaannya yang sedang bergolak tersebut...

Begitu dalam cintanya kepada pemuda ini, tapi dia  merasa rendah diri, serendah-rendahnya sampai tak berani menunjukkan wajah aslinya, dia rela mener ima siksaan tersebut daripada mengungkap hal yang sesungguhnya.

Setelah menghela napas sedih, katanya kemudian: `Ku See hong! Maksud baikmu biar ku terima di dalam hati saja.

"Kau harus tahu, betapa sedihnya dan hancurnya hatiku  bila dapat berdua kemba li dengan kekasihku itu, rasa sedih tersebut sudah pasti tak akan terlukiskan dengan kata-kata, Kau.... kau tak usah bersusah payah untukku lagi.

"Padahal, sekalipun kau hendak mencar i kekasihku itu sa mpai ke ujung langit pun, jangan harap bisa kau te mukan jejaknya...

'Apakah dia sudah mati..?'` tanya Ku See hong dengan perasaan tidak ha mpir mengerti.

''Tidak. dia belum mati! Kuharap kau jangan bertanya lagi, bersedia bukan? Kau ... kau harus selekasnya meninggalkan te mpat ini!"

Dari balik matanya yang jeli sudah menge mbang air mata yang setiap saat berpisah ke mbali untuk sela manya. Tapi.. tapi kenapa?

Karena mahkota kehor matannya sebagai seorang gadis telah dinodai oleh sekawanan manusia laknat.

Keadaan waktu itu benar-benar me mbuat nya menjadi a mat mengenaskan,  bukan  dinodai   oleh   seorang   saja   waktu   itu, me lainkan oleh berpuluh-puluh orang secara bergilir, tak ubahnya seperti seorang pelacur yang sedang melayani langganannya saja, selesai satu datang yang lain, demikian seterusnya tiap hari...

Maka dia tak ingin lagi me mpersembahkan tubuh dan jiwanya yang telah ternoda itu untuk kekasih hatinya.

Dia tahu bakal  kehilangannya  sela ma  hidup,  dia  me mbenci! Me mbenci ketidak adilan Thian, me mbenci kawanan manusia laknat yang telah menghancurkan kesucian tubuhnya, ia menggigit bibir menahan diri, dan harus me mbunuh kawanan manusia laknat tersebut.

Tiada berperasaan! Kejam, penuh dengan genangan darah kental... Telah menjadi prinsip hidupnya semenja k peristiwa itu, dan bersumpah hendak me mbas mi kawanan manusia laknat tersebut dengan darah mereka sendiri, mengguna kan darah dan mayat untuk mencuci bersih tubuh dan jiwanya yang ternoda tersebut.

Tapi kese muanya itu hanya untuk kesejahteraan hidup umat manus ia, sedang dia sendiri akan selamanya terjerumus dalam jurang penderitaan dan siksaan. . sukmanya yang bernoda tak pernah akan menjadi bersih ke mbali. kendatipun dicuci dengan segenap air yang mengalir di sungai Tiangkang sekali pun.

Padahal jiwanya tak pernah ikut ternoda, dia masih tetap anggun dan suci bersih.

Ia tidak berbeda jauh dengan keadaan dahulu, tetap dikagumi dan dihor mati setiap orang.

Me mandang kepedihan hati yang mence- kam perasaan si nona. Ku See hong merasakan hatinya bergetar keras. tanpa terasa, pikirnya lagi:

"Biji matanya begitu mir ip dengan adik Sin, aaaai benarkah

manus ia ciptaan Thian bisa dibentuk dengan kesa maan yang persis sama antara yang satu dengan lainnya? Kalau perasaan mungkin  saja bisa sama, tapi panca indera, tubuh, suara dan gerak geriknya tak mungkin bisa sama antara yang satu dengan lainnya, dia benarkah Keng C in sin ?

Berpikir sa mpai disitu, Ku See hong meng-hela napas sedih, pelan-pelan dia berkata:

'Nona! Aku orang she Ku akan melaksana kan seperti apa yang kau inginkan, tapi sebelum pergi, harap kau perlihatkan wajah aslimu sekali lagi, agar terbentik sedikit kenangan dalam hatiku dimasa mendatang"

Setelah mendengar ucapan mana,  dari balik mata manus ia berkerudnng itu mencorong ke mbali setitik cahaya tajam, secara beruntun ia mundur sejauh tiga langkah ke belakang, ke mudian katanya dengan suara dingin lagi ketus: 'Tidak usah! ?paling baik kalau kau bisa segera melupakan aku" 'Kau...kau adalah Keng Cin sin..."

Tiba-tiba manus ia berkerudung itu  mengangkat kepalanya lalu me mperdengar kan suaranya tertawanya yang keras, tajam dan menusuk pendengaran..

Kemudian selang berapa saat kemudian, dia baru menghentikan suara tertawanya dan berkata dengan suara yang dingin hinggba merasuk ke tudlang:

"Kau benar-benar tak bibsa dinasehati, sudah dibilang aku bukan Keng Cin sin, kau masih saja nekad menuduhku dengan yang bukan-bukan. Hmmm! Jika kau masih saja bersikeras mengatakan yang bukan . bukan, jangan salahkan kalau aku tak akan bersikap sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu.

Ketika mendengar perkataan yang dingin tak berperasaan itu, sekali lagi Ku See hong berpikir:

"Tidak! Tidak! Sikap semaca m ini jelas tak akan pernah dilakukan oleh adik Keng Cin sin, dia bukan adik Sin! Dia bukan adik Sin..."

Perasaan hatinya saat ini sungguh a mat gundah, perasaan bertentangan serasa berkecamuk di dalam benaknya. adakalanya dia merasa gadis itu sebagai Keng Cin sin, ada-kalanya ia justru menyangkal perasaan nya tersebut.

Akhirnya sekilas rasa sedih dan senyuman getir me nghiasi raut wajah Ku See hong, katanya ke mudian:

"Nona! Kalau begitu, aku harus merepot kan dirimu sekali lagi untuk menyembuhkan penyakit yang diderita Im Yan cu. Se mua budi kebaikanmu kepadaku sela ma ini, asal aku orang she Ku masih dapat bernapas selamanya tidak akan pernah kulupakan'

`Tentang soal Im Yan cu aku pasti akan berusaha dengan sepenuh  tenaga  untuk   me mbantunya..   harap   kau   jangan  mer isaukan, tukas manus ia berkerudung itu cepat, "cuma dimanakah ia berada saat ini?" Ku See hong menjadi terperanjat sesudah  mendengar pertanyaan itu, segera pikirnya: "Sekarang ia telah dibawa  pergi oleh gurunya. --Seng sim cian li Yap Soat kun, ke manakah aku harus pergi mencar inya? Aaaai.-.!  Mungkin  gurunya  me mpunyai ke ma mpuan untuk menye mbuhkan luka tersebut.'

Berpikir demikian, diapun, lantas berkata:

"Im Yan cu telah dibawa pergi oleh gurunya, ia tidak mengatakan hendak  ke  mana. tapi   dia   pernah   bilang,   Jika   ia   gagal menye mbuhkan penyakit itu, maka dia ia akan segera datang mencariku, mungkin mereka masih berada didalam kota"

Mendengar jawaban mana.. manusia berkerudung itu menghe la napas panjang.

`Benar-benar pikun! Langit dan jagad begini lebar, kau hendak  ke mana untuk mencar inya'

''Sekalipun gurunya merupakan seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, namun setelah menghadapi racun cabul Im hwee si hun wan, sudah pasti racun tersebut tak akan ma mpu di se mbuhkan olehnya, cuma aku pikir dia pasti berke ma mpuan untuk mencegah menja larnya racun itu serta menunda saat kambuhnya sela ma beberapa hari.

"Begini saja? Bila  ia  datang  mencarimu  atau  kau  berhasil mene mukan mereka,  suruhlah mereka menungguku di ruma h penginapan Yang tang"

"Nona, apakah kau hendak mengunjungi markas besar Ban sia kau seorang diri?.`

"Cepat atau lambat kami, orang-orang Hiat mo bun sudah pasti akan melangsungkan suatu pertarungan antara mati dan hidup dengan pihak Ban sia kau, sekarang mumpung ada kasus  tentang Im Yan cu ini, maka aku harus mengunjungi markas besar Ban sia kau, kalau bisa akan kucuri kitab pusaka Ban sia cinkeng milik Ceng Lan hiang tersebut" "Nona! persoalan ini toh merupakan masalahku, soal  mencuri kitab ban sia  cinkeng lebih baik serahkan kepadaku untuk mengerjakannya!"

"Kau tidak boleh ke situ?" jawab manus ia berkerudung itu dingin, "andaikata racun cabul  yang  berada  ditubuh  nona  Im  kambun  ke mbali, apa yang harus kau lakukan? Sekarang, paling baik kalau kau pergi mencar inya lebih dahulu, kemudian setiap saat  setiap detik menda mpinginya"

"Nona, dapatkah kau menunggu satu hari lagi sebelum berkunjung ke mar kas besar Ban sia kau?"

'Tentu boleh saja, sampa i waktunya mungkin aku bisa menduga disaat nona Im kau ka mbuh untuk kedua kalinya itu apakah dia sudah menerima pengobatan dari gurunya atau belum, ke mudian baru pergi mencar i kitab Ban sia cinkeng. .

"'Biasanya, apabila racun cabul itu sudah ka mbun untuk ke dua kalinya, ma ka racun mana akan lebih sukar untuk disembuhkan, sekalipun bisa dipunahkan pengaruh racun cabul itu, namun dia sendiri mender ita akan kerugian yang a mat besar, keselamatan jiwanya pun akan terancam bahaya besar.

Mendengar ucapan mana, Ku See hong menjadi se makin pedih hatinya, dia segera berpikir:

"Kalau begitu aku harus segera berangkat ke bukit Im cu san untuk mencari rumput Im cu cau, siapa tahu kalau rumput tersebut dapat menyembuhkan racun cabul itu?"

Setelah menga mbil keputusan, dia pun berkata dengan sedih: "Kini,  waktunya sudah amat  mendesak,  terpaksa aku orang  she

Ku  harus  mohon  diri lebih dahulu,  besok pagi aku akan menunggu

mu dl rumah penginapan Yang tang saat Im Yan cu dan gurunya tolong kau sudi mencarikan..."

"Harap kau jangan kuatir, kesela matan Im Yan cu.." Sebenarnya dia hendak berkata bahwa kesela matan lm Yan cu me mpunyai arti yang sangat penting baginya.

Tapi karena kuatir Ku See hong akan menaruh curiga kepadanya, terpaksa ia me mbungka m dalam seribu bahasa.

"Nona!" kata Ku See hong lagi. . "kita berjumpa lagi lain waktu, sekarang aku hendak mohon diri lebih dahulu`

Ku See hong, sekarang kau hendak ke mana?" tiba-tiba manus ia berkerudung itu bertanya.

"Aku hendak mencari se maca m obat, paling lambat besok pagi pasti sudah ke mba li ke rumah penginapan Yang tang'

Selesai berkata, dengan suatu gerakan yang amat cepat Ku See hong meluncur ke depan sejauh dua puluhan kaki lebih.

"Hei, apa nama rumput itu?" teriak manusia berkerudung itu dengan keras-keras.

"Rumput Im Cu cau!?"

Jawaban itu melayang tiba secara lamat-la mat,  sementara tubuhnya dengan cepat sudah meluncur naik keatas sebuah puncak bukit dan sekejap kemudian telah lenyap dibalik lapisan bukit tersebut.

Me mandang bayangan punggung sang pemuda yang menjauh, perempuan itu segera berguma m:

"Rumput Im cu cau! Rumput Im cu cau.. Yaa. di dalam kitab pusakaku me mang pernah disebut tentang rumput aneh itu, tapi rumput tersebut sangat sulit ditemukan, hendak ke manakah dia mencari rumput Im cu cau tersebut? Mungkinkah rumput terse-but bisa menawarkan racun cabul tersebut? Aaaai..."

Dia manghela napas panjang.

Sorot matanya yang jeli pelan-pelan di alihkan ke tengah udara, me mandang mega yang melayang terhembus angin, dibawan sorot cahaya matahari, tampak beberapa tetes air mata sempat me mbasahi matanya.

Dengan perasaan yang pedih, ke mba li dia berguma m:

"Engkoh Hong, maafkanlah daku! Aku tahu kau sangat mencintaiku, tapi... aku ...aku sudah tak dapat menerima cinta kasihmu lagi."

"Dia! Seperti yang kau duga, telah mati, selama hidup kau tak akan pernah bisa berjumpa lagi dengannya.

'Oooh Thian! Mengapa begitu jeleknya nasibku ini..."

Berguma m sa mpai disitu, tak tahan lagi dia menangis tersedu- sedu, menangis dengan sangat sedihnya.

Yaa, sesungguhnya nasib gadis ini me mang tragis dan mengibakan hati...

Sebenarnya ia sudah tak ingin hidup terus di dunia ini se menjak terjadinya peristiwa yang mengenaskan itu.

Tapi, kobaran api dendam dan  bencinya  yang  menyala-nyala me mbuat gadis itu berusaha keras untuk mengendalikan diri, terutama sekali betapa besarnya keinginan gadis itu untuk dapat berjumpa muka sekali lagi dengannya, maka sa mbil me nahan malu dia melanjut kan hidupnya sa mpai kini...

Sungguh tidak disangka, justru karena tekadnya itu, tanpa disengaja ia telah menemukan sesuatu keajaiban, dia menemu bkan kitab pusakda yang berisikaan ilmu silat a mbat  lihay  yang mana  me mbuatnya berubah menjadi seorang pere mpuan berilmu t inggi.

Ternyata Buncu dari perguruan Hiat mo bun ini atau yang lebih dikenal sebagai manus ia berkerudung warna warni ini, bukan lain adalah Keng C in sin dari Istana Huan mo kiong di lautan Lain hay,

Keng Cin sin,  saat ini ia sedang menangis tersedu  sedu, menangis dengan a mat pedih nya.. Suara isak tangis yang me milukan itu mengalun dan menyebar ditengah bukit yang hening itu.

Suasana begitu sedih, begitu mengenas kan, me mbuat hati siapa pun terasa pilu.

Dia telah mela mpiaskan seluruh rasa sedih dan pilunya dalam isak tangis yang me medihkan hati tersebut.

Suaranya seperti suara teriakan monyet dari selat wu shia, begitu me milukan, begitu mengibakan hati, me mbuat siapa saja merasa turut beriba hati.

Peristiwa mengerikan yang pernah di alaminya dimasa lalu, kini terlintas ke mbali dalam benaknya...

(Berikut ini akan dikisahkan mus ibah yang telah menimpa Keng Cin sin serta penemuan yang diala minya)

Peristiwa itu terjadi pada setahun berselang di istana Huan mo kiong laut lam hay, diawali pada senja yang kelabu tersebut.

Waktu itu, Keng Cin sin seorang diri harus menghadang melawan Kim kiam (si pedang e mas) Cia Tiong giok sekalian belasan orang jago-jago lihay.

Demi kekasihnya Ku See hong agar bisa lolos dari te mpat tersebut dengan me mperta-ruhkan jiwa raganya dia melakukan perlawanan dengan sepenuh tenaga.

Apabila seseorang sudah berada diujung tanduk, dimana keselamatan jiwanya dijadikan taruhan, kekuatan yang terpancar keluar dari tubuhnya me mang selalu diluar dugaan siapa saja.

Keadaan Keng Cin sin ketika itu ibaratnya seekor harimau betina yang sedang kalap, dia menerjang ke sana melo mpat kesini, dengan sekuat tenaga mencegat terjangan orang-orang itu.

Dengan kegarangannya, dalam waktu singkat dia telah berhasil merobohkan bebe-rapa orang, akan tetapi pakaian yang dikenbakan juga telahd hancur dan robaek-robek, darahb segar bercucuran dimana- mana, namun   dia masih mencoba mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya untuk melancar kan serangan.

Suatu ketika dia berhasil melukai si pedang e mas Cia Tiong giok dan merebut pedang e masnya.

Mendadak, pada saat itulah...

Tubuhnya pun secara beruntun terkena beberapa buah pukulan dahsyat yang membuat nya me muntahkan darah segar.

Berada dalam keadaan begini sadarlah gadis lersebut bahwat dia tak akan ma mpu untuk bertahan lebih jauh, sudah pasti dia akan ditawan mereka dan me ngalami siksaan yang paling keji..

Maka sambil me mperdengar kan jeritan ngeri yang me milukan hati, dia segera mengayunkan pedangnya untuk bunuh diri.

Siapa  tahu  saat  yang  tepat  inilah  Cia  Tiong  giok  telah menya mbitkan senjata rahasia untuk merontokkan pedang e mas ditangan gadis itu, kemudian dengan suatu gerakan cepat menoto k beberapa buah jalan darahnya.

Begitulah, diapun mengala mi nasib yang paling tragis di dalam kehidupannya.

Dia   pun   harus    menga la mi    kejadian    me ma lukan yang me mbuatnya a mat sakit hati.

Ternyata si Pedang emas Cia Tiong giok sangat mencintai Keng Cin sin, secara diam-dia m dia telah menganggap gadis itu sebagai istrinya sendiri, sungguh tak pernah di sangka olehnya kalau gadis itu akan me nghianati dirinya.

Pada dasarnya si Pedang emas Cia Tiong giok me mang seorang manus ia yang keja m, buas dan sa ma sekali tak berperasaan.

Pada saat itu dia sudah amat membenci terhadap Keng  Cin sin, dia hendak mengguna kan semaca m siksaan yang paling keji dan paling buas untuk menyiksa gadis tersebut. Maka dengan mengguna kan semaca m obat beracun yang dapat me mbuat ke e mpat anggota badan orang menjadi le mas, dia cekoki obat tersebut ke mulut Keng  Cin Sin  agar  supaya  gadis  itu  tak ma mpu mela kukan usaha bunuh diri.

Setelah itu dia perkosa Keng Cin sin sampai puluhan kali banyaknya, ketika ia sudah mulai bosan, maka ia serahkan Keng Cin sin kepada anak buahnya agar diperkosa secara bera mai-ra mai.

Begitulah, sekuntum bunga yang sangat indah, akhirnya dirusak dan dila lap oleh kawanan manus ia laknat itu sehingga tak karuan lagi bentuknya.

Berada dalam keadaan seperti ini, Keng Cin sin sa ma sekali tak berkema mpuan lagi untuk melakukan perlawanan, dia harus menghadapi siksaan dan penderitaan tersebut dengan tabah, terpaksa dia pun harus menerima perkosaan tersebut sekali demi sekali secara bergilir ....

Alat rahasia dibawah tubuhnya boleh di bilang sudah digagahi mereka hingga robek, terluka dan mengucur kan darah, setiap kali dia tentu jatuh tak sadarkan diri karena sakitnya.

Namun se mua penderitaan tersebut hanya penderitaan lahiriah, sementara siksaan dan penderitaan hatinya entah berapa puluh ribu kali jauh lebih berat.

Dia ingin hidup sayang tak bertenaga, ingin mati sayang tak berkema mpuan.

oooOdwOooo

BEGITULAH seterusnya, selama satu bulan penuh, ha mpir setiap hari setiap waktu harus menerima siksaan yang tak berperi ke ma- nusiaan itu, hampir setiap waktu dia digagahi  oleh  kawanan  manus ia laknat tersebut secara bergilir. Akhirnya karena sering dan terlalu banyak nya orang yang menggagahi dia, gadis itu  kejangkitan  penyakit  kotor,  penyakit kela min yang entah ditularkan oleh siapa.

Tubuhnya yang berkulit putih dan bersih itu mulai tumbuh luka- luka bernanah yang mengeluarkan bau busuk. seluruh tubuhnya menjadi busuk baunya dan rasa sakitnya tak terlukiskan lagi dengan kata-kata.

Namun, tak seorang manusia pun yang menaruh  simpatik kepadanya, tiada orang yang berbelas kasihan kepadanya.

Si pedang e mas Cia Tiong giok sesungguh nya berbuat demikian diluar pengetahuan ayahnya Han thian it kiam Cia Cu kim, oleh sebab itu Cia Cu kim sama sekali tak tahu kalau Keng Cin sin telah menga la mi siksaan dan penderitaan sehebat itu.

Ahirnya, setelah seluruh tubuh Keng Cin sin kejangkitan penyakit kotor dan baunya busuk sekali, orang mula i menca mpakkan dia, orang tak sudi menja mah tubuhnya lagi, ia pun dinaikkan ke atas sebuah sampan kecil ke mudian di lepaskan ditengah sa mudra yang luas seorang diri...

Waktu itu, racun dari penyakit kelamin yang dideritanya sudah menja lar ha mpir menyeliputi seluruh bagian tubuhnya.

Kesadarannya sudah menjadi kabur.. keadaan gadis itu boleh dibilang berada dalam keadaan sadar tak sadar, dia sendiri sama sekali tak tahu kalau tubunya telah diletakkan diatas sebuah sa mpan dan dilepaskan di tengah sa mudra.

Dengan penyakit kotor yang begitu parah menyerang tubuh Keng Cin sin, tubuhnya dilepaskan pula  ditengah samudra  luas dan dibiarkan terapung entah ke mana.. pada hakekatnya tiada harapan sama sekali baginya untuk hidup lebih jauh.

Tapi mati hidup manus ia didunia ini semuanya telah diatur oleh suatu kekuatan yang maha besar yang jauh diatas langit sana.

Setelah terombang a mbing sela ma sehari sema la m, la mbat laut Keng Cin sin menjadi sadar ke mbali. Sekujur tubuhnya terasa amat sakit, ia me mbenci langit karena me mber ikan siksaan dan penderitaan yang begitu keji kepadanya.

Ditengah samudra yang begitu luas tak bertepian, berteriak kelangit t iada yang menyahut, menjerit ke bumi tiada yang menggubris, beberapa kali dia hendak terjun ke laut untuk bunuh diri, namun setiap kali teringat ke mbali dengan dendam kesumat yang membara di dalam dadanya, keinginan nya untuk hidup segera tumbuh ke mba li.

Selain itu, dia ingin berte mu sekali lagi dengan kekasih hatinya, agar dia tahu betapa keji dan mengenaskannya musibah yang telah menimpa dirinya.

Namun kesemuanya itu hanya berupa suatu lamunan belaka, sebab dia tahu, kesela matan jiwanya hanya bisa bertahan sela ma sepuluh hari saja.

Saat itu, tengah mala m sedang menje lang tiba, cahaya rembulan dan bintang yang redup menyoroti diatas sampan yang terombang ambing ditengah lautan.

Pakaian yang dikenakan Keng Cin sin sudah hancur dan compang camping tak karuan bentuknya. kulit badannya merah membengkak, pada hakekatnya ia sudah tersiksa hingga tak berwujud manus ia lagi, wajah nya pucat bias seperti mayat, rambutnya awut-awutan tak karuan, bau busuk a mat menusuk hidung.

Cahaya rembulan me ma ncarkan sinarnya di atas per mukaan laut dan me mantulkan raut wajahnya yang mengerikan seperti kuntilanak, dia mencoba untuk meronta bangun, namun seluruh tubuhnya terasa sakit dan mengejang keras.

Sepasang matanya yang merah me mbeng- kak me ngucurkan titik-titik darah kental... Ia tahu tiada harapan lagi baginya  untuk  me lanjutkan hidup, soal me mbalas dendam, meski dia tahu bahwa kekasihnya akan mewakilinya untuk menuntut balas, namun dia  tetap tak ingin mati dengan begitu saja, oleh karena itu dengan menghimpun sisa kekuatan yang dimilikinya, dia  harus  bertarung me lawan maut. Ia menangkap ikan-ikan segar yang berlompatan diatas permukaan laut untuk mengis i perutnya yang lapar, tiada air tawar maka diapun menggunakan is i perut ikan serta darah untuk menghilangkan rasa dahaga tersebut...

Hidup seorang diri ditengan samudra yang begini luas, boleh dibilang sungguh berat dan payah.

Tapi dengan tabah dia menahan penderitaan tersebut, dia harus menahan he mbusan angin laut yang kencang, ditam-bah lagi tubuhnya yang penuh dengan luka bernanah, penderitaan dan rasa sakit yang diala minya jelas berapa puluh kali lipat lebih menyiksa...

Tanpa terasa dia telah sepuluh hari sepuluh ma lam me lakukan pergulatan seru menentang maut, hidup tersiksa ditengah sa mudra luas seorang diri...

Akhirnya Keng Cin sin berhasil mengung-guli, karena kesadarannya berangsur-angsur pulih ke mbali, na mun siksaan dan penderitaan pada tubuhnya justru hari demi hari se makin bertambah menghebat.

Hari ini adalah hari kesebelasan dia bertarung menentang maut ditengah samudra luas, matahari senja sudah mulai tenggelam dilangit sebelah barat.

Dengan termangu- mangu ia me mandang matahari merah yang makin la ma tenggelam sema kin kebawah diujung langit sana,  dia tak tahu berapa hari lagi dia hidup terombang-a mbing ditengah samudra yang luas tersebut...

Rupanya sampan tersebut bukan saja  tidak dilengkapi dengan alat pendayung, layar pun tiada, maka perahu itu hanya bisa bergerak mengikuti arus...dia tak tahu akhirnya dia akan terbawa arus sampa i ke mana...?

Dalam keadaan ini, dia hanya pasrah pada nasib, yaa sesungguhnya bagaimana mungkin dia bisa me nentang nasib dan takdir yang telah mengatur segala sesuatunya itu? . Keng Cin sin, si gadis yang bernasib jelek sekali lagi harus menghadapi perjuangannya menentang maut.

Kiranya setelah matahari senja tenggelam tak la ma dibalik laut...

Mendadak seluruh angkasa diliputi oleh kabut hitam yang a mat tebal, angin puyuh bagaikan berjuta-juta prajurit berkuda, secepat kilat menggulung tiba dengan a mat dahsyatnya.

Ombak pun mula i me mbukit dan menghe mpaskan setiap benda yang berada di sekeliling tempat itu.

Keng Cin sin amat terkejut. dia sadar habis sudah riwayatnya kali ini...

Sebuah sampan yang kecil, bagaimana mungkin biia menentang hembusan angin puyuh serta gulungan o mba k yang me mbukit? Suara deruan angin yang me mekikkan telinga, me mbuat hati orang menjadi ngeri dan sera m, bulu kuduk pada bangun berdiri se mua...

"Oooh Thian!" pekik Keng Cin sin di dalam hati. "mengapa kau bersikap begitu keji terhadap diriku?

"Dosa besar apakah yang kuperbuat dalam penitisanku yang lalu?

Belum cukupkah siksaan dan penderitaan yang kau berikan kepadaku sela ma ini?

"Mengapa kau hendak merenggut pula sisa kehidupan yang kumiliki ini.."

"Aku harus hidup! Aku hidup, hidup untuk selamanya... aku harus menuntut balas, me mbalas sakit hatiku yang me mbara ini.

Teriakan tersebut me milukan hati siapa pun yang mendengar, namun sayang jeritan tersebut segera tenggelam dibalik deruan angin puyuh yang a mat dahsyat itu... Keng Cin sin duduk kaku diatas sampannya, dengan sorot mata yang merah  me mbara dan me mancarkan sinar penuh dendam dan sakit hati, ia menatap awan hitam yang menyeli- muti angkasa itu tanpa berkedip. . Angin puyuh yang tajam menyambar pakaiannya yang compang camping dan mengoyak pakaiannya yang sudah hancur itu, dalam waktu singkat, ia berada dalam keadaan telanjang bulat, rambutnya yang hitam terurai tak karuan dimainkan angin.

Sekarang, keadaannya tak berbeda dengan seorang setan perempuan yang telenjang bulat.

Wajah ,yang menyeramkan tapi menegas kan me mbuat orang merasa sera m, namun juga beriba hati...simpatik...

Entah Thian terharu oleh jeritannya yang memilukan hati, entah karena apa, akhirnya awan hitam yang me nyelimuti angkasa itu tersapu lenyap dari angkasa dan hilang lenyap tak berbekas.

Ombak putih yang menggulung-gulung di per mukaan samudra pun mulai me ngocok dunia dan bergulung gulung dengan hebatnya.

Dima inkan oleh o mba k yang deras, sampan yang ditumpangi Keng Cin sin itu segera meluncur ke depan dengan cepatnya, mengikut i arus laut meluncur ke arah depan.

Keng Cin sin sendiri karena luka dan penyakit yang dideritanya, kini berada dalam keadaan tak sadarkan diri, tubuhnya yang telanjang terkapar diatas sanpan tak bisa berkutik.

Menanti dia sadar ke mba li, dari pingsannya...

Meskipun Keng C in cin masih mendengar suara gulungan o mbak yang memecah te-pian, suara ombak samudra yang menggelegar masih mendengung disisi telinga nya..

Namun dia merasa seakan-akan sudah tidak berada  diatas sampan lagi, melainkan berbaring diatas permukaan tanah yang basah, bukan pasir, melainkan batu karang yang keras dan licin.

Keng Cin sln sedikit kurang percaya kalau dia masih bisa hidup di dunia yang penuh dosa ini. .

Ia mencoba untuk menggerakkan tubuh nya, sekujur badan segera terasa sakit, terutama tulang belulangnya, rasanya linu dan sakit nya seperti pada retak. Akan tetapi, rasa sakit dalam tubuhnya terasa tersapu lenyap oleh rasa ge mbira didalam hatinya, pelan-pelan dia me mbuka matanya, kemudian berteriak dengan suara parau:

"Aku masih hidup! Aku masih hidup! Benar aku mas ih hidup?" Ia mendongakkan kepalanya dan me man-dang ke depan sana. Tiba-tiba muncul suatu kejadian didepan matanya.

Ia saksikan sebuah bangunan kuil muncul disana, sebuah bangunan kuil yang kokoh dan megah...

Kuil tersebut, berdiri tegak di tengah gulungan o mba k yang menggulung-gulung.

Saat itu mala m sudah me njelang tiba, rembulan bersinar dengan terangnya di angkasa.

Tiada he mbusan angin yang berhe mbus lewat, namun o mbak laut masih saling menggulung dengan kencangnya.

Suara omba k yang me mecah ditepi pantai, menimbulkan suara getaran yang me mekik kan telinga.

Tapi anehnya, mes kipun kuil tersebut di kelilingi oleh o mbak yang menggulung-gulung, namun sepuluh kaki disekelilingnya, air laut justru amat tenang, le mbut tanpa ombak.

Peristiwa itu benar-benar jauh diluar dugaan siapa pun... Keng Cin sin menghela napas sedih, guma mnya:

"Aku masih berada di alam se mesta? Ataukah sedang berada dalam alam impian.?"

Tidak, segala sesuatunya merupakan kenyataan, kadangkala apa yang berada dihadapannya me mang sukar dipercaya oleh siapa pun.

Nun jauh disana tampak bukit yang berlapis-lapis dengan hutan yang lebat, siapa pun tak akan menyangka kalau dibalik bukit di tepi samudra dengan o mba k yang deras, terdapat sebuah kuil dalam bentuk sede mikian anehnya. Sekeliling kuil itu penuh dengan batu karang berwarna hitam yang berkilauan.

Dalam keadaan bugil, Kang Cin sin berbaring diatas batu karang itu...

Mendadak...

Gadis itu menjerit kaget...paras dukanya yang pucat pias berubah menjadi se mu merah.

Rupanya dia baru menyadari kalau ia sedang berada dalam keadaan bugil, tanpa secuwil kainpun yang me lekat ditubuhnya.

Kendatipun ia pernah bertelanjang bulat, seluruh bagian tubuhnya pernah dilihat dan dinikmati oleh kawanan manus ia laknat, pernah di perkosa dan me lewati kehidupan bagaikan seorang pelacur sela ma ha mpir sebulan la manya....

Namun kese muanya itu bukan terjadi atas kehendaknya sendiri, dia tak ma mpu me mber ikan perlawanan.

Tapi sekarang dia telah melepaskan diri dari penderitaan tersebut sudah lolos dari garang iblis yang melakukan itu.

Sekaramg dia masih tetap merupakan seorang gadis yang suci bersih.

Karenanya setelah mengetahui kalau dirinya berada dalam keadaan telanjang bulat, tentu saja ia merasa ma lu sekali.

Me mandang bisul-bisul bernanah yang me menuhi seluruh tubuhnya yang telanjang, Keng Cin sin merasa a mat sedih sekali, titik air mata tanpa terasa jatuh bercucuran me mbasahi pipinya.

-oodwoo-
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).