Dendam Sejagad Jilid 27

Jilid 27

SERANGAN ini di lancarkan dengan indah sekali, sembari berkelit me lancarkan serangan, benar-benar sebuah jurus yang luar biasa...

Melihat seragannya mengenai sasaran yang kosong, Hay lou tocu Su Siokcu sudah menyadari bakal celaka, dengan cepat dia menjatuhkan diri berguling kesamping.

Tapi..."Sreeeet....!" tendangan dari Ku See hong menyerempet lewat dari sisi bahu kirinya, benar-benar merupakan suatu keadaan yang amat kritis.

Tapi pada saat itulah  Ku  See  hong  yang  berjongkok  ditanah ke mbali mener ima serangan dari tiga ge mbong iblis pulau Tang hay to secara dahsyat.

Bayangan kaki, angin pukulan seperti sambaran petir ditengah mega menyapu dan menyambar datang dengan sangat hebatnya.

Ku See hong benar-benar memiliki kepandaian silat yang lihay sekali, di saat yarg kritis itulah mendadak tubuhnya melejit ketengah udara, dengan begitu sergapan dari ke tiga orang gembong iblis itupun mengena i sasaran yang kosong.

Dalam keadaan begini, ia tidak sudi me mberi kese mpatan lagi bagi musuhnya untuk berganti jurus, tubuhnya yang mela mbung ditengah udara mendadak berjumpalitan, lalu dengan kaki di atas kepala di bawah, dia menukik  ke bawah sambil melancar kan sergapan,   sepasang   telapak   tangannya    secara    beruntung me lancarkan serangkaian pukulan dahsyat yang mengurung seluruh tubuh ke tiga orang ge mbong iblis itu.

Kepandaian silat yang dimiliki ketiga orang ge mbong iblis itupun luar biasa sekali, begitu serangan dahsyat tersebut dilontarkan ke hadapan mereka, ke tiga orang itu segera mengundurkan diri sambil berkelit ke sa mping.

Dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa  Ku  See  hong  harus me layang turun kembali ke atas tanah, tapi saat itulih serangan dari Su Siok cu, kembali me nyambar datang dari sisi sebelah kiri Ku See hong.

Cara pertarungan bergilir dan bergerilya semaca m ini benar- benar merupakan sebuah taktik pertarungan yang sangat luar biasa dan me mbuat orang susah untuk me nahan diri.

Sekalipun Ku See hong me miliki kepandaian silat yang sangat tangguh, tak urung dia dibikin kerepotan juga menghadapi kerubutan dari ke empat orang gembong  iblis  dari pulau Tang hay to itu sehingga keteter hebat dan dibikin apa boleh buat.

Pada saat itulah...

Dari balik kawanan jago dpersilatan yang mengurung sekeliling kolam tersebut berkuma ndang suara tertawa geram di susul pujian terdengar seseorang berseru dengan suara lantang:

"Sute jangan kuatir, aku datang me mbantu mu!'

Orang itu tak lain adalah Jian hun kim ciang Tu Pak kim, tubuhnya bagaikan sukma gentayangan berkelebat ke depan,

Begitu sampa i ditengah arena, ujung baju nya segera dikebaskan ke depan segulung angin yang maha dahsyat secara langsung menghanta m ke tubuh Hay to tocu So Siok Cu.

Agak kaget Hay lou Toucu Su Siok cu merasakan datangnya ancaman, dia segera berpaling, tapi perasaannya semakin bergetar lagi setelah menyaksikan seorang manusia aneh berwajah jelek sudah berada di depan mata, buru-buru dia manyelinap ke sa mping untuk me loloskan diri.

Di  saat  lain,  Thian  kun  tee  ciang  Khong   Tang  lun  sudah  me mbentak dengan suara menge ledek.

"Jian hun kim ciang Tu Pak kim, lohu akan mene mani dirimu untuk ber main- ma in!"

Sambil me nerjang datang, telapak tangan kirinya melancarkan bacokan kemuka sementara telapak tangan kanannya melepas kan sebuah pukulan melintang.

Dua gulung tenaga pukulan dengan tenaga  yang berbeda  satu le mbut dan satu keras bersama-sama menyergap ke atas tubuh Jian hun kim ciang Tu Pak kim.

Maka terkesiap juga, Jian hun kim ciang Tu Pak kim sewaktu namanya kena disebut orang, dengan suatu gerakan yang aneh cepat-cepat dia melolos kan diri dari serangan Thian kun tee ciang Kong Tang lun tersebut, kemudian serunya sambil tertawa seram.

"Siapa kau? Tajam a mat penglihatanmu ...heeehhh.. heeehhh...heehhh..."

"Tu Pak kim!" kembali  Thian  kun  tee  ciang  Khong  Tang  lun me mbentak dingin. "Sekalipun kau tidak kenal dengan lohu, aku justru kenal siapakah dirimu itu, haaahhh... haaahhh... haaahhh... sambutlah sekali lagi seranganku ini!"

Tubuhnya secepat kilat menerjang majun ke depan, sepasang lengannya berputar membentuk satu lingkaran bayangan busur, lalu sambil me mbentak keras sepasang tangan kiri kanannya secara bersilang me lancarkan bacokan ke muka.

Dua gulung tenaga pukulan yangb sangat dahsyatd dan dalam bagaaikan samudra, lbangsung menerjang ke atas jalan darah Ciang tay hiat dan Ciang bun hiat di atas tubuh Jian hun kim ciang Tu Pak kim, Serangan yang dilepaskan ini, dilakukan dengan kecepatan amat luar biasa.

Kehebatannya pun bagaikan amukan o mba k ditengah sa mudra, cukup me mbuat se mua orang a mat terkesiap.

Mencorong sinar tercengang dari balik mata Jian hun kim ciang Tu  Pak  kin,  sepasang  telapak  tangannya  ikut  dilontarkan  pula ke muka me lancarkan serangan.

Begitu pukulan dilepaskan, segulung angin pukulan yang kuat seperti amukan ombak yang besar dan kuat menggulung ke depan, kedahsyatan cukup menggetarkan sukma setiap orang...

"Pleeetakkk..!" suara benturan nyaring seperti ledakan  guntur pun menggellegar me mecahkan keheningan...

Akibat dari benturan keras itu, Thian kun te ciang Khong Tang  lun mundur sejauh tiga e mpat langkah dengan se mpoyongan.

Sebaliknya sepasang bahu Jian hun Kim ciang Tu Pak kim juga turut bergoncang keras.

Tiba-tiba ia menjer it kaget:

'Aaaah ! Kau... kau adalah Thian kun tee ciang Khong Tang lun.." Thian kun tee ciang khong Tang lun segera tertawa.

"Se mua rahasia dari Ban sia kau kalian sudah berhasil kuselidiki

dengan jelas sekali.. hingga kini kau baru tahu akan indentitas lohu? Haaahh... haaahhh... kasihan, benar-benar patut dikasihani.."

Jian hun kim ciang Tu Pak kim tertawa dingin.

"Heeehhh.. heeehhh.. heehhh kagum! Sungguh a mat kagum! Tapi nyawa mu juga hanya akan hidup sa mpai pada mala m ini juga..!"

Begitu selesai berkata, tubuh Jian hun kim ciang  segera mendesak ke muka seperti sambaran setan gentayangan, sepasang telapak tangan dan kakinya digunakan bersama menotok tubuh Thian kun tee ciang Khong Tang lun.. Sementara itu, dia pun pada saat yang bersamaan berteriak keras-keras:

"Kawan-kawan perrsilatan, mar i kita ber-sama-sa ma menumpas anrggota Hiat mo bun!"

Ditengah bentakan nyaring itu, tujuh orang tongcu Jian khi pang dan Thi kiong pang sudah menerjang ke depan dengan melo m- pati telaga selebar tiga kaki itu.

Tiba-tiba  saja  dari   balik   mata  manusia   berkerudung   itu me mancar keluar serentetan sorot mata  yang menggidikkan  hati, ke mudian ia me mbentak nyaring...

Tubuhnya bagaikan sambaran petir menyerbu ke muka dan menyangsong datangnya orang pertama dari Jian khi pang.

Tampak telapak tangan kirinya yang putih halus itu digetarkan keras-keras ke depan...

Mendadak berkumandang suara jeritan ngeri yang me milukan hati...

Rupanya didalam satu gebrakan saja Tongcu dari Jian khi pang itu sudah dibikin ma mpus.

Gerakan tubuhnya sama sekali tidak terhenti akibat kematian dari korban pertamanya, dengan gesit dia menyambut pula kedatangan orang ke dua dan orang yang ketiga.

Sepasang telapak tangannya segera digerakan ke depan dengan gerakan Pok hok t ian ci (burung bangau menge mbangkan sayap).

Tongcu ke dua dari perkumpulan Jian khi pang ke mbali mene mui ajalnya sebelum berhasil menangkis anca man mana...

Empat  orang  tongcu  dari  Thi   kiong   pang  yang   menyusul ke mudian me nerjang tiba itu segera me mbentak bersama-sa ma, ke empat pasang telapak tangan mereka diayunkan bersama, segulung angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan amukan omba k ditengah sa mudra pun segera menggulung ke arah depan. Dua orang diantaranya dengan cepat meloloskan busur besi yang tergantung di belakang bahu mereka, setelah itu turut menerjang pula kedepan.

Busur baja mereka dengan me mbentuk dua gulung kabut cahaya berwarna hitam langsung dibacokkan ke atas tubuh manus ia berkerudung itu.

Kepandaian silat yang dimiliki ma nusia berkerudung itu benar- benar telah mencapai tingkatan yang luar biasa, tubuhnya tanpa berhenti barang sekejap pun tahu-tahu telah berhasil mene mbus i lingkaran hawa pukulan yang tajam dan kuat itu.

Mendadak tubuhnya melejit ke udara dan mela mbung setinggi satu kaki lebih dari per mukaan tanah, sepasang kakinya secepat kilat melepaskan serangkaian tendangan berantai..

Dua orang Tongcu dari Thi kiong pang yang sedang menerjang tiba itu tak mengira datangnya ancaman mana, tak ampun lagi batok kepala mereka segera kena tertendang sampai hancur berantakan, dua lembar nyawa mereka pun ikut melayang..

Ketika me lihat gelagat tidak menguntung kan, dua orang tongcu dari Thi kiong pang lainnya segera me mbalikkan badan sa mbil mencoba untuk melarikan diri.

Agaknya manusia berkerudung itu sudah dipengaruhi oleh hawa napsu  me mbunuh  yang  mengerikan,  bagaimana  mungkin  dia me mbiarkan ke dua orang itu kabur dengan sela mat?

Berada di tengah udara, tiba-tiba sepasang  telapak tangannya me lancarkan sentilan ke depan, sepuluh gulung desingan angin tajam secara terpisah menyambar lima buah jalan darah penting di tubuh masing- mas ing orang.

Desingan angin serangan yang tajam segera menyapu ke muka me mbe lah angkasa.

Disusul kemudian... Kembali terdengar dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang me mecahkan keheningan...

Dari atas punggung ke dua orang Tongcu dari Thi kiong pang itu segera menyembur keluar lima buah pancuran darah yang muncrat ke angkasa, sementara tubuhnya yang termakan oleh dorongan sisa kekuatan mana segera mencelat  sejauh beberapa kaki dan terlempar ke tengah kola m.

Begitulah, hanya dalam waktu yang amat singkat manus ia berkerundung itu telah berhasil menghabisi tujuh orang tongcu dari Thi kiong pang dan Jian khi pang.

Demo nstrasi kepandaian silat yang sangat lihay ini kontan saja me mbuat se mua orang terbelalak dengan mulut me longo.

Perlu dikerahui, ke tujuh orang Tongcu itu sesungguhnya bukan manus ia sembarangan, mereka merupakan jagoan kelas satu dari masing- masing perkumpulan, juga merupakan jagoan kelas satu dalam dunia persilatan, tapi kenyataannya dalam waktu sing-kat mereka sudah habis dibantai oleh ma nusia berkerudung itu tanpa ada kesempatan untuk me lancarkan serangan balasan.

Sedangkan ilmu kepandaian yang digunakan manus ia berkerudung itu untuk me mbunuh lawannya pun cukup me mbuat para jago terkesiap, tanpa terasa muncul perasaan ngeri dan berdiri semua bulu kuduk mereka. Tentu saja tak seorang manusia pun yang berani me mpertaruhkan jiwanya dengan se mbarangan.

Dalam pada itu, para anggota  Hiat  mo  bun  yang  semula menge lilingi hiolo ke mala itu, sekarang sudah berlarian cepat ke hadapan manus ia berkerudung itu dan berdiri berjajar dihadapannya.

Dengan suara yang a mat dingin dan menggidikkan hati manus ia berkerundung itu berkata.

”Hiat mo bun adalah sekelo mpo k manus ia penegak keadilan dan kebenaran di dalam dunia persilatan, kami khusus me mbunuhi manus ia- manusia jahat yang sering melaku kan kejahatann, apabila kalian sa ma sekali tidak ada hubungannya dengan ka mi, paling baik jangan me mpertaruhkan jiwa sendiri untuk menyerempet bahaya, tapi jika kalian mas ih saja tak tahu diri terpaksa anggota Hiat mo  bun kami akan me mbunuh kalian tanpa a mpun lagi "

Dalam pada itu Ku See hong dibawah kerubutan ke e mpat orang gembong iblis dari Tang hay to sudah kena didesak sehingga cuma bisa menangkis dan me mpertahankan diri belaka..

Suatu ketika, mendadak tiga orang ge mbong iblis dari Tang hay to itu menyentilkan jari tangan kirinya melancarkan  segulung pukulan berhawa dingin yang disusul dengan gerakan tubuh mereka yang me mburu ke depan, enam buah telapak tangan mereka  dengan berubah menjadi beribu-ribu bayangan telapak tangan bagaikan titiran angin puyuh dan hujan badai langsung mengurung seluruh tubuh Ku See hong, malah kaki-ka ki merekapun sa ma sekali tidak berhenti, serangkaian tendangan berantai yang amat dahsyat dan keji serentak dilontarkan ke muka.

Hay lou tocu Su Siok cu tidak tinggal dia m, saat yang bersamaan tubuhnya segera ber-jongkok, kemudian seperti angin berpusing sepasang telapak tangannya menyerang tubuh bagian bawah dari Ku See hong dengan kedahsyatan yang luar biasa.

Dengan begitu ma ka tubuh bagian atas tengah, bawah dan empat arah delapan penjuru Ku See hong telah berada dibawah ancaman musuh yang ganas dan keji.

Dengusan tertahan segera berkumandang me mecahkan keheningan...

Karena kurang cepat sewaktu berkelit, pinggang belakang Ku See hong sudah terkena tendangan dari salah seorang  dari gembong iblis itu sehingga tubuhnya bergoncang keras dan mundur  sejauh tiga e mpat langkah. .

Melihat musuhnya kena tendangan, ke empat orang  gembong iblis dari Tang hay to tersebut makin bersemangat, diiringi bentakan nyaring, jurus-jurus serangan mereka kembali dilontarkan bagaikan titiran air hujan, hawa serangan yang kuat seperti dinding baja pun bagaikan a mbruknya bukit karang langsung menekan ke bawah.

Tiba-tiba, mencorong hawa pe mbunuhan yang a mat mengerikan dari balik mata Ku See hong, serentetan suara  gelak tertawa panjang dan me mekikkan telingapun mengge ma diseluruh angkasa..

Sepasang lengan Ku See hong diputar dengan a mat kencangnya ditengah udara, di tengah desingan angin tajam yang memekikkan telinga segera terbias segulung de mi segulung bayangan cahaya yang me mbuat orang merasa pusing kepalanya.

Menyusul kemudian...

Disaat sepasang lengannya menciptakan cahaya yang berlapis- lapis, mendadak tubuh nya miring ke sa mping, lalu secara aneh sekali seluruh badannya bergeser lima depa dari posisi se mula.

Mendadak.. sepasang kakinya bergetar sebentar ditengah udara lalu melayang turun kembali ke atas permukaan tanah. Bersamaan dengan sepasang kakinya mene mpe l tanah, tiba-tiba Ku See hong menerjang maju ke depan dan menyusup ke tengah gulungan angin pukulan  yang  dilepaskan  ke  e mpat  orang  gembong   iblis   itu ke mudian sepasang telapak tangannya direntangkan ke kiri dan ke kanan..

'Sreet! Sreet!' dua desingan tajam berge ma..

Disaat yang amat kritis, tiba-tiba terdengar manusia berkerudung itu berteriak keras:

"Kalian bere mpat cepat..."

Belum se mpat karta "mundur" diutarakan, manusia berkerudung itu sudah melepaskan sebuah pukulan  dari kejauhan, segulung angin pukulan yang sangat aneh pun seperti jaring langit langsung mengurung tubuh Ku See hong dan ke e mpat gombong iblis dari Tang hay to. Disaat inilah dua gulung cahaya putih secepat petir sudah menyergap jalan darah Thian si hiat dibagaian bawah tubuh dua orang gembong iblis.

Jurus serangan yang dipergunakan itu tak lain adalah gerakan ke tiga dari jurus Ho han seng huan yang bernama Tee jian hun gi (tanah musnah sukma neraka)'

Sekalipun manus ia berkerudung itu sudah me lancarkan sebuah pukulan aneh dengan cepat untuk me munahkan hawa yang maha dahsyat tersebut, namun tak urung toh mengakibatkan ke dua  orang gembong iblis itu menderita luka dalam yang cukup parah.

Terdengar dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang me mecah kan keheningan...

Dua orang gembong iblis itu kena terhantam sampa i mencelat sejauh dua kaki lebih dari posisi se mula dan jatuh terduduk diatas tanah, sementara gumpalan darah menyembur keluar dari balik lubang kecil dibalik topeng tenggorokan tersebut, lalu tubuh mereka yang terduduk itupun pelan-pelan roboh terjengkang ke tanah.

Dua orang ge mbong iblis lainnya seakan-akan tak tahu diri saja, sambil me mutar sepasang lengannya, mereka melancar kan serangan lagi dengan a mat dahsyat.

Napsu me mbunuh Ku See hong segera berkobar, tanpa terasa perdengarkan suara tertawa dingin yang a mat sinis.

Tiba-tiba sepasang lengannya diputar lagi secara aneh, rupanya dia hendak me lukai musuhnya lagi dengan gerakan kedua jurus Ho han seng huan.

Pada saat itulah manus ia berkerudung itu sudah menerjang datang ke arah belakang Ku See hong bagaikan sukma  gentayangan, segulung hawa pukulan yang berhawa dingin  pun turut me luncurkan ke depan secepat sambaran petir.

Ku See hong a mat terkesiap, dengan mengeluarkan gerakan tubuh Mi ki biau tiong mendadak saja dia menyelinap ke luar secara aneh, telapak tangan kanannya cepat diulurkan ke belakang punggungnya..

"Criiing!" dentingan nyaring bergema me mecahkan keheningan...

Tahu-tahu pedang mestika Hu thian seng kiam sudah diloloskan dari sarungnya..

Kaki kiri Ku See hong segera bertekuk ke belakang sementara  kaki kanannya diluruskan ke muka, gagang pedang dalam tangan kanannya diayun ke belakang, sementara jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya melakukan gerakan aneh.

Serentetan cahaya tajam yang membetot sukma me mancarkan keluar dari balik mata pemuda ini, keningnya berkerut, tanpa terasa tercerminlah suatu kewibawaan yang luar biasa.

Sementara itu. kawanan jago dari Hiat mo bun yang sebetulnya berdiri berjajar menghadang dihadapan kawanan jago itu dengan cepat me mbalikkan tubuhnya setelah mendengar dua kali dengusan menger ikan tadi,

Akan tetapi mereka segera merasa bergidik setelah menyaksikan Ku See hong melo loskan pedang mestika bercahaya merah  itu sambil me lakukan gerak serangan, tak seorangpun diantara mereka yang berani maju untuk me lancarkan serangan.

Sebab dari balik gaya serangan yang diambil Ku See hong sekarang, terbentuklah segulung hawa pe mbunuhan yang menger i kan, barang siapa berani me lakukan serangan secara gegabah, niscaya dia akan tewas secara mengerikan ditangan Ku See hong.

Dari balik mata sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si segera me mancar keluar rasa kaget yang tebal, sepasang telapak tanganya segera diangkat sejajar dada kemudian selangkah demi selangkah pelan-pelan berjalan mendekati Ku See hong.

"Ho Buncu, jangan bertindak gegabah!" manusia berkerudung itu segera memper ingatkan, "orang ini me mpunyai riwayat yang luar biasa, coba kau saksikan pedang tersebut..." Pada saat yang bersamaan, kawanan jago persildatan yang berdiri disa mping jebmbatan bambu itu sudah  terjadi kegaduhan. ke mudian terdengar ada orang menjerit kaget:

"Pedang Ang soat kiam! Pedang Ang soat kia m, pedang yang berada ditangan Leng hun  koay  seng  adalah  pedang  Ang  soat kia m!"

Yaa, pedang Ang soat kiam merupakan pedang yang digandrungi oleh setiap umat persilatan, ketika pedang tersebut berada ditangan Si hong lo jin dulu, senjata itulah yang telah menetapkan nasibnya yang  tragis,  membunuh  istri  sendiri,  me mbunuh  putra  sendiri, me mbunuh kakak sendiri, me mbunuh adik sendiri...

Dua orang gembong iblis diri Tang hay to yang berhasil lolos dari ancaman maut jurus Ho han  seng  huan  dari Ku  See  hong  tadi, ke mbali me mbentak keras setelah mendengar senjata  ditangan anak muda itu adalah pedang Ang soat kia m, bagaikan sukma gentayangan saja mereka langsung menubruk ke arah Ku See hong.

Serentetan cahaya pedang bergetar keras, dua kali dengusan tertahan segera berku-mandang me mecahkan keheningan...

Rupanya bahu kiri dari ke dua orang ge mbong iblis itu sudah kena tersambar robek hingga muncul sebuah mulut luka sepanjang tiga inci lebih, darah segar sedang memancar keluar dengan amat derasnya dari mulut luka tersebut.

Ku See hong masih tetap berdiri pada posisi semula, berwajah angker dan sekulum senyuman keji tersungging di ujung bibirnya.

Dia seakan akan sedang mengejek, seperti juga... Tapi yang pasti sikapnya pada saat itu sangat angkuh!

Waktu itu sudah terdapat belasan orang jago persilatan yang

semula mengepung telaga itu berlarian me ndekat dan siap mera mpas pedang Ang soat kiam dari tangan Ku See hong.

Tapi setelah menyaksikan jurus pedangnya yang begitu aneh ketika melukai lawan, hati mereka menjadi bergidik dan serentak orang-orang itu menghentikan langkahnya, tak seorang pun diantara mereka yang berani maju lagi.

Kembali Ku See hong tertawa sadis, ujarnya kemudian dengan suara yang amat menyeramkan:

"Wahai kawanan jago persilatan, dengarkan baik baik! Bila kalian bermaksud untuk merebut pedang ini, jangan salahkan aku orang she Ku akan mela kukan pe mbantaian secara kejam dan tidak mengenal a mpun"

Selesai me mperingatkan kawanan jago silat itu, ke mbali Ku See hong berpaling ke arah manus ia berkerudung itu, ke mudian, seru nya:

'Siapa lagi diantara jago jago Hiat mo bun kalian yang ingin menjajal kepandaianku?"

Dari balik mata Sastrawan berbaju perlente Hoa Siang si segera mencorong keluar sinar a marah yang tebal, serunya dengan suara dingin dan ketus:

`Ku See hong! Tak kusangka kalau kau begitu kasar dan sombong, baik lohulah yang akan mencoba kehebatanmu itu!"

Selesai  berkata,  sastrawan  berbaju  perlente  Hoa   Siong  si me langkah menuju ke posisi Tiong kiong dan menyongsong  ke ujung pedang Hu thian seng kiam tersebut.

Tatkala tubuhnya maju ke depan tadi jubah yang dikenakannya nampak bergetar keras, Ku See hong segera merasakan muncul nya gulungan hawa murni yang tak berwujud mendesak dan mene kan ke arah dadanya.

Sementara si anak muda itu sedang tertegun, sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si telah mengebas kan telapak tangan kirinya.

"Criiingg..!" tahu-tahu pedang Hu thian seng kiam yang berada ditangan Ku See hang sudah kena dihantam oleh sebilah pedang kecil Jui sim kiam hingga miring ke sa mping. Dengan kecepatan bagaikan sa mbaran kilat itulah, sastrawan berbaju perlente itu sudah mementangkan ke lima jari tangan kanannya dan menyambar ke arah perge-langan tangan kanan Ku See hong yang menggengga m pedang itu.

Menghadapi anca man tersebut, Ku See hong menjadi sangat terperanjat, segera pikirnya "Sungguh tidak  kusangka kalau  orang ini me miliki tenaga dalam yang begitu lihay" Dalam terkesiapnya, tubuh Ku See hong segera berputar setengah arah, lalu pergelangan tangan kanannya diangkat ke atas secara aneh sekali. tahu-tahu mata pedang tersebut sudah me mbabat pergelangan tangan kanan Hoa Siong si yang sedang melancar kan serangan mencengkeram.

Jurus pedang ittu benar-benar me miliki perubahan yang luar biasa dan sa ma sekali tak terduga oleh siapa pun.

Hampir se mua gerakanya merupa kan jurus-jurus maut yang tertuju untuk menyerang dan menghabis i lawan secara ganas, keji dan sadis.

Sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si menggerakkan bahu kanannya ke samping, kemudian tubuhnya mundur  setengah langkah ke belakang, agaknya dia bermaksud untuk berganti jurus sembari melancarkan serangan berikutnya.

Tapi pada saat itulah pedang Hu thian seng kiam yang berada ditangan Ku See hong telah menggertakan selapis cahaya pelangi yang me meningkan kepala orang, seolah-olah muncul seribu batang bayangan pedang yang bersama-sama mengurung seluruh tubuh sastrawan berbaju perlente Hoa Siang si.

Menyaksikan datangnya gerakan pedang tersebut, dengan suatu gerakan yang sangat cepat tiba-tiba saja Hoa Siong si berputar keluar ke sisi sebelah kanan.

Tapi pedang Hu thian seng kiam yang berada ditangan Ku See hong itu segera me mperdengarkan suara gemerincing yang amat nyaring. Serentetan hawa pedang yang lembut tapi tajamnya bukan kepalang hagaikan sa mbar-an petir menyambar ke jalan darah Khi hay hiat di tubuh Hoa Siong si.

Serangan hawa pedang itu datangnya cepat dan sama sekali belum pernah di jumpai dikolong langit.

Mendadak manus ia berkerudung itu me mbentak keras: "Cepat melejit ke atas!"

Waktu itu Sastrawan berbaju perlente Hoa song si sedang terkesiap dan berpekik dalam hati:

'Habis sudah riwayatku kali ini!"

Maka begitu mendengar suara peringatan itu, serta merta tubuhnya melejit ke tengah udara sejauh delapan sembilan depa lebih.

Ku See hong kembali me mbentak dengan suara dingin: "Siapa yang bisa lolos dari serangan mautku ini?"

Ditengah seruan mana, tiba-tiba saja pedang Hu thian seng kiam

tersebut kembali berubah arah dan langsung menusuk ke ja lan darah Tong suan hiat di dasar telapak kaki kiri Hoa Siong si.

Jalan darah yong swan hiat dan Pek hway hiat merupakan dua buah jalan darah mematikan ditubuh manus ia, terutama  bagi kawanan jago yang ilmu silatnya telah mencapai tingkatan yang luar biasa, asal kedua buah jalan darah tersebut kena terserang orang, niscaya jiwa mereka akan lenyap tak berbekas.

Perubahan jurus pedang dari Ku See hong ini diputar secara aneh dan cepat sekali, mimpipun Hoa Siong si tidak menyengka kalau perubahan tersebut bisa dilakukan dengan kecepatan seperti ini, disaat dia hendak berkelit ke samping inilah,  segulung  desingan hawa pedang yang tajam telah tiba di dasar telapak kakinya. Sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si segera tertawa seram, tampaknya dia bermaksud untuk me lancarkan jurus ampuh untuk mengajak Ku See hong beradu jiwa.

Sewaktu manus ia berkerudung itu me mber ikan peringatan yang pertama kali tadi, dia sudah berada disisi Ku Se hong maka ketika dilihatnya si anak muda itu sa ma sekali t idak berperasaan bahkan bersiap melancarkan serangan keji, tiba-tiba saja katanya sambil menghe la napas sedih:

"Ku See hong apakah kau berhati begitu keja m?"

Disaat pembicaraan tersebut berlangsung, jalan darah Thian ci dan ciang tay hiat ditubuh Ku See hong telah kena ditekan pelan oleh jari tangan si manusia berkerudung yang le mbut dan halus itu.

Ketika Ku See hong menyaksikan kedua jari  tangannya  yang putih halus dan mendengar perkataan itu. hatinya terkesiap buru- buru dia menar ik ke mbali pedangnya sa mbil me lo mpat mundur sejauh lima enam langkah dengan terkejut, dengan sorot mata yang sedih dan murung dia mengawasi manus ia berkerudung itu termangu..

”Kau... kau.. adalah..”

Sebelum kata "adik Seng diucapkan, manusia berkerudung itu sudah me mbentak nyaring:

`Ku See hong, barusan kau telah terkena ilmu menotok jalan darahku... Hmm sekarang, kau pun boleh merasakan bagaimana enaknya menghadapi ke matian!"

Bentakan yang keras serta pancaran sinar matanya yang kejam dab buas ibaratnya guntur yang me mbelah bumi disiang hari bolong, kontan saja me mbuat Ku See hong menelan ke mbali kata "adik Seng" Yang belum se mpat diutarakan itu.

Serentak sorot mata yang dingin dan  menger ikan  pun segera me mancar pula dari balik matanya, masih tetap menga mbil posisi dengan jurus pedang yang tangguh, dia berkata dingin: `Hmmm, kalau kudengar dari ke ma mpuan mu untuk me mecah jurus pedangku tadi, na mpaknya kepandaian silat mu sangat tinggi pula,  mengapa  tidak   turun   tangan   sendiri   untuk   menjaja l  ke ma mpuanku? Kalau toh aku sudah terkena serangan gelapmu. Baik lah, akan kugunakan  sisa  nyawaku  yang  pendek  ini  untuk me mbaco k ma mpus dirimu!"

Secara diam-dia m Ku See hong telah mencoba untuk me meriksa hawa murni dalam tubuhnya, ternyata dia tidak mene mu kan sesuatu gejala yang tak beres, maka dia lantas menduga kalau serangan kejinya itu belum sa mpa i menyebabkan luka tersebut kambuh...

Manusia berkerudung itu tidak menggubris pertahanan dari Ku See hong lagi, Sembari berpaling ke arah anggota Hiat mo bun nya, dia berseru:

"Segenap anggota Hiat mo bun segera mundur dari le mbah Yu  cui kok! Hoa hu buncu biar aku yang menghadapi orang ini, kau segera pimpin segenap anggota perguruan untuk mundur dari sini!'

'Buncu, kita  akan berjumpa  lagi dimana?" tanya sastrawan berbaju perlente Hoa Siong si.

Manusia berkerudung itu segera berpaling ke arah bocah berkerudung topeng tengkorak itu se mbari berseru:

'Adik Khi, bawa semua angggota perguruan me nuju ke te mpat itu!"

Dari balik mata Kho It khi segera terpancar keluar serentetan sinar yang a mat le mbut, ditatapnya perempuan itu, la lu ujarnya dengan pelan.

"Cici, kau harus bekerja dengan berhati-hati!''

Selesai berkata, dia menyelinap ke mbali ke depan hiolo tersebut, lalu sa mbil me mbopong hiolo ke mala tadi teriaknya:

"Kawan-kawan dari hiat mo bun, mari kita mundur!" Sementara itu kawanan jago lihay dunia persilatan yang berada disekeliling tempat itu telah me mbentak keras. serentak mereka menyerbu ke muka, ada yang mengejar orang-orang Hiat mo bun, ada juga yang mengerubut Ku See hong.

Dengan  suara  nyaring  ke mbali   manus ia   berkerudung   itu me mbentak:

"Se mua anggota Hiat mo bun mundur, biar aku  yang menghadapi keadaan disini!"

Ditengah pe mbicaraan mana, tubuhnya seperti sukma gentayangan telah menerjang masuk ke dalam ro mbongan manus ia tersebut.

Serentetan suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati pun bergema diseluruh le mbah tersebut.

Dalam waktu singkat, berapa puluh orang jago persilatan yang sedang menyerbu ke arah orang-orang Hiat mo bun  itu  sudah mene mui ajalnya di ujung telapak tangan manusia berkerudung yang amat lihay itu.

Sebaliknya Ku See hong juga tidak a mbil dia m, cahaya pedang nampak bergetar keras dan darah serta daging manus ia pun beterbangan me menuhi seluruh angkasa.

Ditengah jeritan ngeri yang meme kikkan telinga, secara beruntun dia telah me mbaco k mati tujuh delapan orang.

Semut saja mas ih ingin hidup apalagi manusia.

Pembantaian secara keji dan sadis itu seketika me mbuat kawanan jago persilatan lainnya sama sama mundur ke belakang dengan wajah ngeri, seram dan takut.

Tapi apa pula yang bisa mereka lakukan? Yang dapat lakukan hanya membenci atas ketidak kema mpuan diri sehingga mereka hanya bisa menyaks ikan anggota Hiat mo bun mengundurkan diri dari situ dengan mata melotot tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka pun hanya bisa membe lalakkan mata sambil mengawasi pedang mestika Hu thian seng kiam di tangan Ku See hong.

Dipihak  lain,  Jian  hun  kim  ciang  Tu  Pak   kimpun   sedang me langsungkan suatu perte mpuran yang amat sengit me lawan Thian kun tee ciang Khong Tang lun.

Sekalipun Thian kun tee ciang Khong Tang lun merupakan seorang pendekar besar yang sudah termashur namanya semenjak dua puluh tahun berselang diluar perbatasan, tapi dibawah serangan gencar dari Jian hun kimi ciang Tu Pak kim yang keji dan ganas, dia kena dipaksa juga sa mpa i tubuhnya se mpoyongan dan pakaiannya robek beberapa bagian disana sini..

"Khong tayhiap, cepat mundur dari situ, biar aku yang menghadapi dirinya!" tiba-tiba manusia berkerudung itu me mbentak keras.

Sementara tubuhnya berkelebat, tahu-tahu ia sudah  menerjang ke tengah-tengah tubuh kedua orang itu, jari tangan kirinya dari suatu sudut posisi yang sengat aneh langsung menyerang ketubuh Jian hun kim Ciang Tu Pak kim.

Thian kun tee ciang Khong Tang lun segera berpekik nyaring dengan suara yang me milukan hati, la lu secepat sambaran petir berkelebat dari situ.

Seperti diketahui, Jian hun kim ciang Tu Pak kim adalah murid Bun ji koan su, kelihayan ilmu silatnya bisa dibayangkan, siapa sangka dalam satu gebrakan saja dia sudah kena dipaksa mundur oleh manus ia berkerudung tersebut.

Begitu manus ia berkerudung tersebut melancar kan serangan dengan tangan kirinya, sepasang kakinya turut diayunkan pula ke depan, sementara telapak tangannya melancarkan serangkaian pukulan berantai.

Dalam waktu singkat, sodokon jari tangan, tendangan maupun pukulan telapak tangan sudah dilontarkan se mua secara beruntun. Bagaikan ma laikat bertangan banyak saja, tahu-tahu dia sudah me lancarkan dua belas buah pukulan dan delapan buah tendangan kilat.

Telapak tangannya seperti gulungan samberan petir dan curahan hujan badai nelanda ke depan dengan sangat hebatnya.

Ganasnya serangan dan kejinya ancaman ibarat bendungan yang ambro l diterjang air bah, keadaannya benar-benar mengerikan hati.

Kendatipun ilmu silat yang dimiliki Jian hun kim ciang Tu Pak kim sangat lihay dan luar biasa, tak urung dia didesak juga  sampai gugup dan kalang kabut tak karuan.

Jurus-jurus serangan ampuh segera dilontarkan berulang kali, dengan mengim-bangi segulung angin puyuh yang amat dahsyat segera mela kukan penghadangan demi penghadangan.

Begitulah, didalam waktu singkat ke dua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru, jurus serangan yang tangguh dan dahsyat pun dilontarkan berulang kali, meski seru dan ramai, na mun jurus-jurus a mpuh yang digunakan cukup me mbuat para penonton lantas me mutar otak dengan keras.

Tiba-tiba Ku See hong me mbentak nyaring, pedang Hu  thian seng kiam yang berada ditanganya berubah menjadi serentetan cahaya pelangi yang dengan cepat mengurung seluruh badan manus ia berkerudung itu.

Melihat datangnya ancaman dari Ku See hong, manusia berkerudung itu segera menggerakkan bahunya dan menyelinap keluar.

Jian hun kim ciang Tu Pak kim segera me manfaatkan peluang tersebut untuk mengundur kan diri.

Setelah berhasil mendesak mundur manusia berkerudung itu, Ku See hong juga juga tidak me lakukan pengejaran lebih jauh, ia segera menghentikan gerakkannya. Jian hun kim ciang Tu Pak kim segera tertawa terkekeh-kekeh dengan liciknya, lalu berseru:

''Ku sute, banyak terima kasih atas bantuan untuk me mbebaskan aku dari kepungan"

"Tu Pak kim!" ucap Ku See hong dengan suara dingin, "sekarang aku me mbantumu untuk melo loskan diri dari bahaya karena tadi kaupun me mbantu aku, sekarang hutang kita sudah impas dan kau tetap merupakan musuh besar pe mbunuh guruku.”

"Cuma kali ini aku bersedia me lepaskan dirimu untuk se mentara waktu, bila lain waktu kita bersua lagi, saat itulah merupakan saat naas bagimu!`

Mendadak terdengar manusia berkerudung itu berteriak keras:

`Ku See hong, malam ini kau sudah banyak melukai anggota Hiat mo bun kami, dendam sakit hati ini harus kita selesaikan pada saat ini juga..'

"Alangkah baiknya kalau kita bisa menyelesaikan pada detik ini juga disini!"

"Te mpat ini kurang leluasa. lebih baik kita berpindah ke te mpat yang lebih terpencil"

”Baik, terserah bama mpuanmu! "'

Tiba-tiba Jian hun kim ciang Tu Pak kim tertawa licik, ke mudian berseru:

"Ku sute, jangan sa mpai tertipu oleh akal mus lihatnya'

"Bajingan goblok, kau jangan mencoba untuk mencari keuntungan di air keruh" hardik manusia berkerudung itu dengan suara dingin."

”Mana- mana... tak ada salah nya untuk dicoba,” jengek Jian hun kim ciang Tu Pak kim sa mbil tertawa.

Mencorong sinar tajam penuh hawa napsu me mbunuh dari balik mata manus ia berkerudung itu, segera bentaknya keras-keras: "Kau benar-benar ingin ma mpus ?"

Ku See hong mendengus dingin, tiba-tiba selanya:

"Saudara lebih baik tak usah me mbuang banyak waktu lagi!"

Kemudian sa mbit berpaling ke arah Jian hun kim ciang Tu Pak kim.. bentaknya pula:

"Tu Pak kim, kau tak usah berpura-pura dan ber ma in sandiwara terus dihadapanku, terus terang saja kuberitahukan kepadamu, aku orang she Ku sudah cukup me maha mi watak busuk kalian manus ia- manus ia munafik yang berhianat, dendam sakit hati di antara kita selamanya tak akan pernah berakhir, keadaan kita kita tak ubahnya seperti api dengan air.

"Hari ini, aku orang she Ku tidak melakukan pe mbersihan terhadap perguruan karena aku menginginkan kau untuk hidup beberapa saat lagi, jika kau tetap menginginkan ke matian secara tragis. baik! Tak ada salahnya bagimu untuk segera maju sekarang juga..

Terdengar manusia berkerudung itu ke mbali berseru dengan suara lantang.

"Ku See hong! Ayo kita segera berangkat'

Suaranya amat merdu tapi nyaring dan penuh dengan pancaran kewibawaan yang hebat.

Tubuhnya mela mbung dan berputar satu lingkaran ditengah udara, gerakkannya enteng, lincah dan indah, kemudian dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya langsung me luncur ke sisi tebing dimana air terjun tersebut berada.

Kelihayan ilmu meringankan tubuhnya benar-benar mengagumkan setiap orang yang me mandangnya.

Dia m-dia m  Ku  See  hong  pun  mengagumi  kelihayan  ilmu mer ingankan tubuh lawan, dia segera berpekik nyaring. Tubuhnya mendadak melejit pula ditengah udara, lalu diantara berkibarnya ujung baju seperti kilauan cahaya tajam menyusul ke arah mana perempuan itu berlalu.

Tatkala para  jago  persilatan  lainnya  yang  berkumpul  dalam  le mbah Yu cui kok menyaks ikan ke dua orang itu sudah pergi jauh, serentak mereka pun bersa ma-sa ma menyebarkan diri.

Mendadak... pada saat itulah.

Pendeta tua berbaju Lhasa yang semula berse mbunyi diatas pohon siong dimana Ku Se hong berse mbunyi tadi, dengan suatu gerakan yang sangat enteng me layang turun keatas tanah.

Pada saat yang bersamaan pula, dari atas dahan pohon dari balik selat bukit yang sempit berlo mpatan keluar tujuh delapan orang, diantara pekikan nyaring se mua orang segera mengerahkan ilmu mer ingankan tubuh masing- masing untuk meluncur pula ke depan.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki beberapa orang  itupun amat lihay, tak kalah dengan gerakan tubuh dari seorang ketua dari suatu perguruan besar'

Dalam waktu singkat rombongan manusia- manus ia berilmu tinggi itu telah lenyap ditengah kabut fajar..

Tiba tiba....

Dari balik selat se mpit itu me luncur ke mba li sesosok bayangan manus ia bagaikan sukma gentayangan, orang itu tak lain adalah Jian hun Kim ciang Tu Pak kim yang licik seperti rase itu.

Tampak dia mendonga kkan kepalanya lalu tertawa terkekeh- kekeh dengan a mat seram nya.

Ketika suara tertawa aneh itu berakhir, bayangan tubuhnya juga turut lenyap di balik le mbah se mpit tersebut.

Pelan-pelan matahari fajar muncul dari ufuk timur, mene mbusi kabut nan tebal dan me mancarkan sinrar kee mas-e masannya ke seluruh le mbah Yu cui rkok. Pemandangan  alam   yang   dulunya   indah   menawan   dan me mpersonakan hati itu, kini berubah sama sekali, berubah oleh suasana yang menyeramkan, berubah karena mayat-mayat yang bergelimpangan diatas tanah....

Angin mene mbus lewat terasa dingin di badan, noda darah yang berceceran dimana- mana kelihatan lebin  menyolo k di bawah pantulan sinar yang taja m.

Tempat itu menjadi sepi, hening, tapi bertambah mengerikan dan menyeramkan.

Sementara itu, manusia berkerudung warna warni dan Ku See hong dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang a mat sempurna, secara beruntun telah melewati beberapa buah bukit dan jurang.

Kelihayan ilmu mer ingankan tubuh yang dimiliki ke dua orang ini hampir boleh di bilang sukar dibedakan mana yang lebih unggul dan mana lebih rendah.

Pemandangan alam disekelilingnya me lin-tas lewat dalam sekejap mata, tubuh ke dua orang itu meluncur lewat seolah-olah  tidak menja mah per mukaan tanah.

-oodwoo-

SELAMA ini, Ku See hong tetap mempertahankan jaraknya berada tiga kaki di belakang perempuan itu, dengan sikap maupun gerak geriknya yang begitu santai dan le mbut, jelas terlihat kalau dia belum mengerahkan segenap tenaganya untuk berlari.

Kurang lebih seper minum teh kemudian, ke dua orang itu sudah mendaki ke atas sebuah bukit, diatas bukit tiada pepohonan yang besar, empat penjuru sekeliling sana hanya ada aneka bunga rerumputan yang le mbut. Ditengah hembusan angin pagi yang silir se milir, la mat-la mat terendus bau harum bunga yang se merbak.

Bukit itu tingginya mencapai tiga puluh kaki, tatkala manusia berkerudung itu mencapai dipuncak tebing tersebut, tiba-tiba saja dia menghentikan pula gerakan tubuh nya yang cepat.

Pada jarak dua kaki dibelakang pere mpuan tersebut, Ku  See hong menghentikan pula gerakan tubuhnya.

Kini mereka berdua saling berhadap-hadapan dan me mbungka m dalam seribu bahasa, namun ke e mpat mata mereka yang dingin dan tajam justru saling bertatapan pandangan.

Dibalik biji mata Ku See hong sebenarnya terbawa hawa, napsu me mbunuh yang dingin dan menyera mkan, tapi mengikut i berlalunya sang waktu, hawa napsu itu kian la ma kian berta mbah pudar.

Kini hanya selapis kabut  kebingungan,  selapis  kabut kebimbangan yang menyelimuti wajahnya, selapis  kesedihan  dan ke mu-rungan yang terpercik dibalik kebimbangan nya.

Setitik harapan tiba-tiba muncul dan terlihat dari balik hati kecilnya ....

Dan harapan inipun la mbat laun dari yang kecil berubah sema kin besar, dan berubah semakin meyakinkan...

Tentu saja dia berharap kalau orang yang berada dihadapannya sekarang adalah Keng Cin sin dari istana Huan mo kiong di Lam hay.

Mendadak Ku  See  hong  me me cahkan  keheningan  yang mence kam di sekeliling tempat itu, dengan suara yang bernada agak ge metar dia bertanya:

''Ssiii...sia siapakah kau?''

Dari balik sepasang mata manusia berkerudung yang jeli tiba-tiba mencorong ke luar serentetan cahaya tajam yang  menggidikkan hati, sahutnya dengan suara yang dingin hingga merasuk ke tulamg sum-sum: "Aku adalah Hiat mo Buncu, manus ia berkerudung warna warni, ada apa kau menanyakan persoalan ini kepadaku?"

"'Kau tak usah me mbohongi aku, kau adalah adik Sin..."

"Tutup mulut!" bentak manus ia berkeru-dung itu, "siapakah yang menjadi adik Sin mu?"

Pikiran Ku See hong ke mbali menjadi kacau dan kalut.. dia terjerumus ke mbali dalam la munan ....

Selang berapa saat ke mudian, mendada k dia bertanya lagi: "Sewaktu aku orang she Ku terkena pukulan Hou kut jian hun im

kang, apakah kau yang telah menyela matkan jiwaku?"

"Betul, ada apa?" jawab manus ia berkerudung warna warni itu dengan suara dingin.

"Mengapa kau hendak  menolong  aku?" Manusia berkerudung itu segera tertawa dingin.

"Heeeehhh-heeeehhh..heeeehhh...menolong    mereka     yang me mbutuhkan bantuan merupakan cita-cita dari ka mi orang-orang perguruan Hiat mo bun"

"Tatkala aku orang she Ku dua kali mendapat sergapan senjata rahasia  dari  anggota  Hiat  mo  bun   tadi,   apakah   kau   yang me mper ingatkan aku dengan ilmu menya mpaikan suara sehingga jiwaku lolos dari anca man mara bahaya?"

Manusia berkerudung warna warni itu na mpak agak tertegun, sesudah termangu beberapa saat dia menjawab:

"Yaa betul .Me mang aku!"

Bagaikan seorayg hakim yang sedang me mer iksa pesakitan saja, Ku See hong segera mendesak lebih jauh:

"Mengapa kau harus melanggar  peraturan dari perguruanmu sendiri untuk me mbantu aku melo loskan diri dari bahaya." "Pertanyaan yang kau ajukan ini apakah t idak merasa sedikit kelewatan?"

Ku See hong menghe la napas sedih.

"Aaaai... selama hidup, aku orang she Ku paling pantang menerima bantuan orang, sungguh t idak kusangka tiap kali harus menerima bantuan dan budi kebaitkan darimu, justru karena itulah aku ingin mencari tahu dimanakah alasannya sehingga kau berbuat demikian, sebab sebelum teka-teki ini bisa kupecahkan, hatiku tak pernah akan menjadi tenteram.

'Sekarang aku orang she Ku ingin bertanya lagi kepadamu, mengapa kau me mbantuku berulang kali?"

"Hmmm, kau anggap karena kutolong dirimu, berarti aku sayang kepadamu?-Haha! Benar-benar manusia  tekebur  yang  tak  tahu ma lu, terus terang, ai! kuberitahukan kepadamu, aku menolongmu hanya mengharapkan kau lebih  banyak  me mbunuh  kawanan manus ia laknat dari dunia persilatan sehingga bisa turut andil dalam menegakkan keadilan dan kebenaran didunia ini.

"Sungguh tak kusangka kalau kau adalah seorang manus ia yang tak kenal budi, bukan saja tak membalas budi ka mi, ma lahan secara beruntun telah melukai beberapa orang jago lihay dari perguruan  Hiat mo bun, nah katakan sendiri sekarang, hukuman apa yang pantas dijatuhkan untukmu?"

Ucapan   tersebut   kontan   saja   membuat   Ku   See    hong  me mbungka m dalam seribu bahasa, dia menjadi tertegun dan berdiri ter mangu- mangu.

Mendadak....

Satu ingatan melintas didalam benaknya, dari sakunya Ku See hong menge luarkan kertas surat tersebut dan membacanya setengah berguma m:

"Adik Im Yan cu, Luka Hou kut jian hun im kang yang diderita olehnya akan sembuh kembali esok pagi, dia akan menjadi seorang  enghiong yang jauh lebih tangguh dari pada sewaktu-wa ktu berselang.

"Dia a mat berterima kasih atas budimu dan  mencintaimu, semoga kau pun mencintainya, melindunginya, agar hatinya yang terluka dan pedih bisa me mpero leh sedikit kehangatan dan hiburan.

Kumohon kepada mu untuk merahasiakan surat  ini.  jangan sampai diketahui olehnya, sebab bila ia sampai tahu, sudah pasti hal mana akan merugikan dia dan aku sendiri.

Seorang bernasib jelek dari seberang lautan sana mengucapkan semoga kalian berbahagia.

Dalam waktu singkat Ku See hong telah me mbaca habis is i surat tersebut.

Disaat me mbaca surat tadi, dengan sepasang matanya yang jeli secara diam-dia m menga mati terus perubahan mimik wajahnya, tapi pemuda itu segera kecewa, sebab sorot mata dibalik kelopak matanya itu begitu dingin, kaku dan tanpa e mosi.

Ku See hong menghe la napas panjang, katanya ke mudian:

"Isi surat  ini  mengungkapkan  suatu  perasaaa  sedih  dan  menda lam serta cinta kasih tak terlukiskan, setelah bukti di depan mata, apakah kau masih berusaha untuk mengelabuhi diriku lagi?

"Adik Sin! tahukah kau betapa cintaku kepadamu? Kau..kau akuilah, katakanlah kepadaku bahwa kau adalah adik Keng Cin sin.

"Adik Sin! Tahukah kau betapa sedih dan hancurnya  hatiku tatkala mendengar suara jeritan ngerimu sewaktu berada di pulau Huan mo to dulu, waktu itu aku ingin sekali menyusulmu,  tapi karena dendam berdarah ku belum dibalas, maka terpaksa  aku harus melanjutkan hidup terus di dunia ini..

"Waktu itu, aku tidak percaya kalau kau bakal mati, karena kau nampak begitu anggun dan saleh, Thian pasti akan menyayangi dirimu, Thian tidak akan merenggut selembar nyawamu dengan begitu saja...

"Justru karena setiap saat  setiap detik, aku tak pernah dapat  me lupakan dirimu, ma ka sewaktu bertemu dengan adik Him J i im dibukit Soat hong tempo hari, aku telah salah mengira dia sebagai dirimu, dan akibatnya terjadilah peristiwa yang menyedihkan itu...yaa..peristiwa itu terjadi karena wajah nya terlampau mirip dengan wajahmu...

"Tapi sekarang, kau yang asli telah muncul didepan mataku, tapi kau justru menutupi raut wajah aslimu yang le mbut dan anggun itu dengan sele mbar kain kerudung berwarna warni...

"Adik Sin, aku tahu, kau tak ingin berjumpa denganku karena dalam hati kecilmu tentu ada suatu peristiwa yang membuat kau amat sedih dan pedih.

"Sedang peristiwa yang me mbuat hatiku pedih itu se muanya gara-garaku adik Sin, katakanlan! Katakanlah! Aku selalu menanti kan ucapanmu, cepatlah katakan ...... Ku See hong seperti orang gila saja, berbicara dan berguma m terus tiada hentinya.

Tapi justru dari balik ucapannya mana, dapat terungkap betapa suci dan agungnya cinta kasih yang berakar dalam hatinya.

Bagaimanapun kerasnya hati pemuda ini, toh ia dibuai dan dikuasahi pula oleh luapan rasa cinta.

Namun    manus ia    berderudung    warna-warni    itu    justru me mperdengarkan suara tertawa panjangnya yang keras, tajam dan me me kik kan telinga.

Dari balik gelak tertawanya itu terselip pula pelbagai ungkapan perasaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tapi yang pasti rasa sedih dan dukalah yang me mpengaruhi gelak tertawa mana, suatu kepedihan dan kedukaan yang amat luar biasa..

Mendadak... Perempuan itu menghentikan tertawanya, ia kemudian sambil tertawa dingin ia berkata:

"Ku See hong, tahukah kau mengapa aku menulis surat itu! terus terang saja ku beritahukan kepada mu!

"Secungguhriya persoalan ini merupakan persoalan yang selama ini merupakan rahasia dalam hatiku, orang lain tak boleh mengetahui akan hal ini, tapi aku merasa bosan melihat sikap dan desakanmu yang tak ada ujung pangkalnya itu, aku hanya merasa gemas kepada diriku sendiri, mengapa telah salah menilai dirimu"

Ketika selesai, mendengar ucapan tersebut, harapan  Ku  See hong semula berkobar-kobar tiba-tiba saja menjadi dingin separuh, dengan perasaan kaget serunya:

"Masa kau benar-benar bukan Keng C in sin?.. "Bukan" jawab manusia berkerudung itu ketus. Setelah berhenti sejenak , dia berkata lagi.

"Dimasa la lu, aku telah mengala mi suatu musibah yang mengenaskan, seorang yang ku cintai telah terbunuh oleh kawanan manus ia laknat, akibatnya  kami  harus  berpisah,  ke mudian  aku me mpero leh sejilid kitab pusaka dan berhasil me mpelajari ilmu silat yang amat lihay. namun sukma ku yang dulu sudah turut terkubur bersama manusia laknat tersebut, aku tak punya muka untuk bertemu lagi dengannya. tapi aku selalu mencarinya dimana-mana, dalam rumah penginapan itulah aku telah salah mengira kau  sebagai  bekas  kekasihku  dulu.  itulan  sebabnya  aku   lantas meno longmu dan meninggalkan surat tersebut.

"Ke mudian, kutemukan kalau kau bukan kekasihku itu, tapi aku amat mencintainya meski kau bukan dia, tapi bentuk badanmu mirip sekali   dengannya,   maka   dengan   segala   usaha   aku   selalu me mbantumu, aku berbuat de mikian tak lain karena ingin mencurahkan rasa cintaku dulu terhadapnya, Nah, sekarang persoalan yang sesungguhnya sudah kuterangkan, dendam kesumat diantara kita pun harus segera diselesaikan dite mpat ini" Walaupun dia telah me mbeber kan duduknya persoalan secara jelas, namun Ku See hong masih tetap menganggapnya sebagai Keng Cin sin, sebab banyak bagian dari perempuan itu yang terlalu mirip dengan dirinya...

Nada suaranya, potongan badannya dan terutama sekali sepasang biji matanya yang jeli itu ..

Ku See hong menghe la napas sedih pintanya kemudian: "Bersediakah kau untuk me mperlihatkan raut wajah aslimu itu

kepadaku...?

Manusia berkerudung itu segera mendengus dingin.

'Hmmm, bila llmu silatmu bisa me ngungguli aku, setiap saat kau boleh melepaskan kain kerudung mukaku ini!. cuma ku peringatkan kepadamu, lebih baik jangan terlalu mengharapkan hal itu"

"Aku harus melihat dahulu  raut  wajah  aslimu  sebelum  dapat me mada mkan keinginanku ini.

"Berulang kali aku orang she Ku telah menerima budi kebaikanmu, sepantasnya aku me mang tak boleh me lukai orang- orang Hiat mo bun kalian, sekarang aku akan me minta maaf kepadamu dan mo ga- moga kau sudi menga mpuninya...

"Apalagi dalam pertemuan kali ini, aku tak boleh mengajakmu untuk bertarung lagi, namun untuk me mbuktikan apakah kau adalah adik Sin ku atau bukan terpaksa mau tak ma u aku harus menyalahi dirimu kali ini.

''Dalam suatu pertarungan, menang atau kalah, terluka atau cedera sudah merupa kan suatu kejadian yang lumrah, tapi bila kau bersedia     menghilangkan     pertarungan     tersebut     dengan me mper lihatkan raut wajahmu sehingga aku orang she  Ku  bisa  me lihat wajah asli mu, hal ini tentu saja jauh lebih baik lagi, Setelah kejadian ini orang she Ku sudah pasti tak akan melupa kan budi kebaikanmu ini"

Manusia berkerudung itu segera tertawa dingin. "Heeehh ... heeeehhh... heeeehhh... tiada kejadian yang bisa tercapai dengan begitu ga mpang di dunia ini, kau telah me lukai orang-orang Hiat mo bun ka mi, dendam  kesumat  ini  dala mnya me lebihi lautan, kau anggap masalahnya bisa diselesaikan hanya berdasarkan dua patah kata saja?"

Sebagai seorang lelaki yang berjiwa tinggi hati, Ku See hong segera berseru setelah mendengar ucapan mana:

"Apabila kau bersikeras hendak me langsungkan juga pertarungan ini, terpaksa aku orang she Ku akan me mpertaruhkan sele mbar nyawaku untuk me layani keinginanmu itu"

"Mengapa kau tidak mencabut keluar pedang Ang soat  kiam  mu?" jengek manusia berkerudung itu dingin.

Ku See hong segera tertawa.

”Pertarungan yang berlangsung toh bukan suatu pertarungan yang mempertaruhkan jiwa raga kita, maaf kalau aku tak akan mencabut keluar pedang tersebut''

"Sekalipun kau bertangan kosong belum tentu keinginanmu itu dapat terkabul, bahkan bisa jadi akan kehilangan sele mbar nyawamu diujung telapak tanganku'

Kembali Ku See hong tertawa getir.

"Seandainya sampai mene mui ajalnya ditanganmu, sudah pasti aku orang she Ku tak akan me nggerutu"

"Baik! Ini berarti kau sendiri yang mencar i katian buat dirimu sendiri..."

Begitu ucapan terakhir diutarakan, tubuhnya seperti sukma gentayangan saja segera menerjang ke depan, segulung tenaga pukulan yang amat dahsyat dengan membawa hawa yang dingin merasuk tulang kontan saja menggulung ke dopan.

Ku See hong segera menggeserkan kakinya ke samping menghindarkan diri dari sergapan pukulannya itu, ke mudian tangan kirinya secepat kilat menya mbar kain kerudung diwajahnya, sementara tangan kanannya dengan jari tangan yang kaku seperrti tombak langsung menyodok jalan darah Ki hay hiat dila mbung perempuan itu.

Jurus serangan tersebut selain ampuh juga sa ma sekali diluar dugaan orang.

Manusia berkerudung itu me mbentak nyaring, cepat kepalanya dimir ingkan ke sa mping menghindari anca man lawan, ke mudian telapak tangan kirinya yang tajam seperti pisau me mbaco k pergelangan tangan kanan Ku See hong, sedangkan telapak tangan kanannya secara beruntun melepas kan tiga buah serangan berantai.

Setiap serangannya hampir semuanya tertuju ke bagian yang berbahaya di tubuh lawan, angin pukulan yang berputar bagai kan roda secepat kilat menya mbar kian ke mari..

Karena dipaksa sehingga apa boleh buat, terpaksa Ku See hong me mbuyarkan anca mannya sambil melo mpat mundur ke belakang.

Perempuan berkerudung itu me mbentak nyaring, tubuhnya mendesak lebih ke depan, sepasang tangannya seperti kupu-kupu yang menari di tengah aneka bunga, berputar dan menyambar kian ke mari.

Serangan yang dilancarkan pere mpuan ini seakan-a kan sa ma sekali t idak beraturan dan menyerang secara mengawur, na mun kein-dahan dan kehebatan jurus serangannya, ditambah pula dengan kesempurnaan tenaga pukulannya cukup me mbuat orang merasa bergetar hatinya.

Mendadak Ku See hong menggeserkan kaki kanannya  ke samping, kemudian seluruh tubuhnya bergerak miring ke samping, tapi pada saat itulah kaki kirinya diayunkan ke depan  menjejak tubuh lawan yang sedang menerjang datang.

Jejakan ini sama sekali diluar dugaan dan kecepatannya luar biasa, arah yang di jejakpun merupakan  satu-satunya tempat terbuka dari seluruh tubuhnya. bila tidak di atasi dengan segera, niscaya jejakan tersebut akan bersarang secara telak.

Namun ilmu silat yang dimiliki manus ia berkerudung benar-benar telah mencapai puncak kese mpurnaan, baru saja kaki kiri Ku See hong me lepaskan jejakan, badannya yang ramping tahu-tahu sudah mengikut i sisi kakinya seperti seokor ular lincah, ke mudian kaki kirinya balas menggaet tekukan lutut pada kaki sebelah kiri Ku See hong yang sedang di julurkan ke depan itu.

Begitu gagal dengan jejaknya, Ku See hong tahu bakal celaka, dengan cepat dia menarik ke mbali kaki kirinya. yang melancar kan jejakan tersebut.

Tapi gaetan yang dilancarkan perempnan itu ternyata dilakukan dengan kecepatan yang berlipat kali lebih cepat.

Ku See hong segera merasakan datangnya segulung tenaga dahsyat yang membuat seluruh tubuhnya terlempar sejauh berapa kaki dari semula.

Untung saja ditengah jalan dia sudah berhasil mengerahkan tenaganya untuk menguasahi keseimbangan badannya, kalau tidak, bisa jadi dia akan jatuh terlentang dengan empat kaki  menghadap ke atas.

Sekali lagi manusia berkerudung itu menerjang tiba bagaikan bayangan setan, lengan kirinya diputar sambil diayunkan hingga menciptakan serentetan cahaya bintang yang berkilauan, bagaikan serenteng mercon saja. segera meledak- ledak ditengah adara.

Mencorong sinar tajam diri balik mata Ku See hong, dia mendengus, la lu dengan suatu gerakan cepat lengan kanannya diayunkan ke muka melepaskan sebuah pukulan  yang sangat dahsyat, dia berniat untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Manusia berkerudung itu tertawa dingin, mendadak tangan kirinya dibetot ke belakang. Ku See hong segera merasakan tenaga pukulan yang dilancarkan olehnya tadi kena dipancing sa mpai tergusur ke sa mping, rasa kagetnya benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata.

Sementara itu manusia berkerudung yang berhasil me mbawa serangannya itu segeta melepaskan sebuah pukulan lagi, dengan telapak tangan kanannya menghajar tubuh Ku See hong.

-ooodwooo-