Dendam Sejagad Jilid 25

Jilid 25

“KU SAUHIAP, kau ... kau sudah menjadi sehat walafia't kembali?

Apakah kita sedang berjumpa dalam alam impian?' Ku See hong menghe la napas sedih.

"Saudara Ho, walaupun kita masih berada dalam dunia, tapi apa

bedanya antara kenyataan dengan impian."

Mendadak terdengar Siang hong kek Hoo Gi menjerit kaget:

"Ku sauhiap, bagaimana keadaan nona Im? Apakah dia dia

telah tewas "

Rupanya setelah mendengar perkataan Ku See hong yang amat me milukan hati itu, apalagi setelah dilihatnya Im Yan cu yang berada dalam pelukannya sama sekali tak berkutik, bahkan dengusan napasnya pun tak kedengaran lagi, mereka telah mengira Im Yan cu sudah meninggal dunia...

Ketika Ku see hong mendengar perkataan tersebut, dia nampak semakin sedih.

Jawabnya dengan suara yang memilukan hati, "Dia belum mati, tapi tidak la ma lagi jiwanya akan meninggalkan dunia ini "

Ketika berbicara sampa i disitu, Ku See hong tdak dapat menahan rasa sedihnya lagi, dua  t itik   air  mata  segera  jatuh  berlinang  me mbasahi pipinya ...

Dengan perasaan gelisah pek lek jiu Ho Kian berseru:

”Ku sauhiap, kenapa dengan nona lm, apakah dia sudah kena dihantam oleh manusia laknat?" "Ia telah dicelakai oleh pedang Ular perak Ciu Heng thian, dicekoki sebuah obat beracun "

"Ku sauhiap, racun apakah itu? Apakah tiada obat penawar yang bisa me munahkan racun itu?" tanya Sian hong kek Ho Gi dengan cemas.

Ku See hong manggut- manggut, jawabnya a mat sedih.

"Yaa, me mang sejenis obat beracun yang sudah tiada obat penawarnya lagi didunia ini'

"Pasti ada, pasti ada!" buru-buru Pek lek jtu Hoo Kian berseru. "setiap racun yang ada didunia ini sudah pasti ada  obat penawarnya, hanya bedanya dalam hal waktu saja, cepat tertolongnya atau terlambat disela matkan nya"

Sian hong kek Hoo Gi turut berkata lagi:

"Ku sauhiap, bukankah kau sudah terkena pukulan beracun Hoa kut jian hun im kang dari Ban sia kaucu ? Biasanya barang siapa terkena pukulan beracun yang jahat itu, tipis harapan untuk hidup terus, tapi kenyataan nya bukankah kau pun tertolong ?"

Mendengar perkataan tersebut, buru-buru Ku See hong bertanya: "Saudara Ho, tahukah kalian siapa yang telah menyelamatkan

diriku itu ?"

Pertanyaan mana segera me mbuat Kanglam siang hou tertegun, ke mudian pikirnya dalam hati:

"Aneh, masa dia tidak tahu siapa yang telah menyelamatkan jiwanya? Atau mungkin bukan dia, aaah betul, kalau begitu dia tak ingin  diketahui  jejaknya  olehnya,  ma ka  setelah   berhasil menyela matkan jiwanya, ia pun berlalu ”

Berpikir sampa i disitu, Kanglam siang hou segera saling berpandangan sekejap, sementara ke empat buah sorot matanya masing- masing me mancarkan sinar mata bertanya, seakan-akan mereka hendak berkata, perlukah untuk me mperlihatkan surat yang ditinggalkan manus ia berkerudung itu kepada anak muda tersebut? Mendadak Thian kun tee ciang  Khong   Tang  lun  berjalan mende kat, kemudian ujarnya sambil tertawa nyaring:

"Kang lam siang hou, apakah kalian hendak berangkat ke lembah Yu cui kok...?"

"Terima kasih banyak atas bantuanmu se mala m" kata Sian hong kek Ho Gi cepat, "berhubung kami berdua sedang sibuk mencar i nona Im Yan cu dan Ku See hong sauhiap, hingga kini belum berangkat ke lembah Yu cui kok?"

"Tahukah kalian mengapa lohu mengajak kalian  berdua berangkat ke lembah Yu cui kok?

"Ka mi berdua tidak tahu, harap cianpwe me mber i petunjuk kepada ka mi!"

'Bukankah kalian berdua me mpunyai Jim sim siau kiam ?" tanya Khong Tang lun tiba.

Sian hong kek segera menjerit kaget.

''Aaaah, jadi cianpwe adalah anggota Hiat mo bun ?" teriaknya. "Benar, lohu tak lebih hanya seorang anggota Hiat mo bun yang

bergabung lebih duluan dari pada kalian, sekarang  sedang mendapat perintah dari buncu untuk menyelidiki organisasi dalam perkumpulan Ban-s ia kau."

"Harap cianpwe sudi me mber itahukan, siapa na ma aslimu" pinta Sian hong kek Ho Gi dengan girang.

"Lohu adalah si pukulan langit dan bumi Khong Tang lun" "Aaaaaah, kau .... kau adalah pukulan langit dan bumi Khong

Tang lun tayhiap!'

Mendadak terdengar Ku See hong mendengus dingin dengan nada sinis, kemudian tegurnya:

"Kanglam Siang hou, rupanya kalian juga anggota dari perguruan Hiat mo-bun" ”Benar, benar, benar!" Jawab Pek lek jiu Ho Kian dengan cepat. "Ku sauhiap, kami dua bersaudara adalah anggota Hiat mo bun, buncu kami me miliki ilmu silat yang sangat tinggi apalagi dia '

Belum habis dia me muji- muji kehebatan Hiat  mo Buncu mendadak Ku See hong sudah mendongakkan kepalanya sambil tertawa nyaring.

Dibalik suara tertawanya itu kedengaran penuh dengan rasa sedih, perih dan mengenaskan.

Sian hong kek Ho Gi benar-benar tidak habis mengerti apa sebabnya Ku See hong seperti tidak begitu senang mendengar persoalan tentang Buncunya, buru dia berkata:

"Ku sauhiap, mengapa kau ?'

Ku See hong berhenti tertawa, lalu me njawab dingin:

"Dua bersaudarar Ho, banyak tertima kasih atas budi kebaikanmu diwaktu-waktu lalu yang sempat merawat diriku, budi kebaikan ini sudah pasti akan kubayar di ke mudian hari, sekarang aku hendak me mohon diri lebih dahulu.”

Selesai berkata, dia lantas me mbopong Im Yan cu kedalam bopongannya dan siap berlalu dari sana.

Buru-buru Pek lek jiu Ho Kian berseru:

"Ku Sauhiap, harap kau jangan pergi dulu, siaute ingin menanyakan sesuatu hal lebih dulu kepada mu.”

Pelan-pelan Ku See hong me mbalikkan tubuhnya, lalu berkata dengan suara dingin.

”Saudara Ho, kau hendak bertanya apa, cepat katakan, aku  orang she Ku t idak me mpunyai banyak waktu senggang untuk berbicara."

”Ku sauhiap, tahukah kau siapa yang telah menyelamatkan selembar jiwa mu?" ”Bukankah tadi aku sudah me nanyakan persoalan ini kepada kalian "

"Orang yang telah menolong jiwa mu itu tak lain adalah Hiat mo Buncu, yakni manusia berkerudung warna warni itu.”

Ucapan tersebut segera membuat Ku See hong menjadi tertegun, tapi sesaat kemudian katanya sambil tertawa dingin:

"Budi pertolongannya pasti akan kubalas dike mudian hari!"

Rupanya dalam hati Ku See hong telah tertanam suatu pendapat kalau manus ia berkerudung warna warni itu sebenarnya adalah manus ia munafik yang berpura-pura sok mulia dan bijaksana.

oooodwoooo

SEPERTI diketahui, sewaktu masih berada didalam gedung yang terpencil lagi diselimuti misterius itu, dia pernah dibikin mendongko l hatinya , oleh perkataan-perkataan Kho It ki, ke mudian diapun merasakan pula suasana serba rahasia yang diperlihatkan penolong nya itu sela ma ini.

Semuanya itu segera mendatangkan suatu perasaan yang amat tidak leluasa baginya, otomatis dia pun me naruh kesan kurang baik terhadap manusia berkerudung itu.

Kemudian, pada ma lam ini dia telah berjumpa dengan Thian kun tee ciang Khong Tang lun, ucapan jagoan tua yang kelewat mengunggulkan majikannya itu kontan saja me mbangkitkan rasa mendongkol di dalam hatinya.

Apalagi setelah diketahui sekarang bahwa manusia berkerudung yang misterius itulah yang telah menyela matkan jiwanya, suatu kobaran api a marah yang tak diketahui darimana munculnya dengan cepat me mba-kar seluruh tubuhnya.

Pek lui jiu Ho Kian berkata lagi: "Buncu ka mi t idak akan menerima pembalasan budimu itu, tapi siaute  tahu  antara  Buncu  ka mi  dengan   dirimu   sudah   pasti me mpunyai suatu hubungan yang luar biasa".

Ketika Thian kun tee ciang Khong Tang lun mendengar Ho Kian mengatakan  kalau  antara  Ku  See   hong   dan   Buncu  mereka me mpunyai hubungan yang luar biasa, dengan gusar dia segera menegur:

"Ho Kian, apa yang telah kau katakan? Belum lagi menjadi anggota perguruan, besar betul nyalimu untuk mengatakan hal yang bukan-bukan, siapa bilang kalau Buncu kita me mpunyai hubungan dengan orang la in?"

”Khong tayhiap, keadaan yang sesungguhnya mas ih belum ka mi ketahui secara jelas" ucap Pek - lui jiu Ho Kian pelan, ”apa yang  kami ujarkan hanya merupakan suatu dugaan dan Ku sauhiap sendirilah yang akan me mbuktikan akan hal ini.”

Thian kun tee cing Khong Tang lun tertawa dingin.

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... Kanglam Sianghou, siapakah yang menjadi sponsor kalian untuk me masuki perguruan kami ini, Hiat mo bun tidak me mbutuhkan manusia yang tak setia terhadap Buncunya maca m begitu."

Kembali Pekd lui jiu Hoo Kiaan tertawa.

"Sastrawan berbaju perlente Hoa siong si locianpwee yang merupakan sponsor  ka mi, dan  lagi  ka mipun  sama  sekali  tidak me mpunyai niat untuk t idak setia kepada Buncu."

Ketika Ku See hong mendengar na ma jin siusu (sastrawan berbaju perlente) di singgung, paras mukanya segera berubah, segera serurya dengan terkejut:

"Apa? jadi Sastrawan berpakaian perlente Hoa Siong si locianpwe juga telah bergabung dengan Hiat mo bun?"

Dia benar-benar merasa terperanjat sekali setelah sastrawan berpakaian perlente yang sejak tiga puluhan tahun berselang sudah termashur dalam dunia persilatan pun  telah  bergabung  dibawah ko mando manusia berkerudung tersebut, bagaimana mungkin  dia tak kaget setelah mengetahui akan hal ini?'

Sekarang Ku See hong telah ma mpunyai se maca m pandangan yang lain lagi terhadap manusia berkerudung tersebut, tentu saja pandangan mana menyangkut ke ma mpuan orang tersebut untuk mengenda likan begitu banyak jago lihay.

Sambil tertawa, Thian kun tee ciang Khong Tang lun berkata:

”Bukan hanya sastrawan berbaju perlente saja yang telah bergabung dengan Hiat mo bun, bahkan ke e mpat ge mbong iblis dari pulau Tang hay to pun sudah menjadi anggota perguruan kami.

.

"Khong Tang lun!" dengan suara dingin Ku See hong segera berkata, "sebenarnya aku orang she Ku sangat menghormati dirimu, tapi tak kusangka kalau kau adalah seorang manus ia yang pandai menjilat pantat. Hmmm ... Bila ada kese mpatan, aku orang she Ku tentu akan menantang Buncu dari Hiat mo bun kalian itu untuk bertarung, aku ingin tahu manusia berkepala tiga berlengan enam apakah dia itu.

Thian kun tee ciang Khong Tang lun menjadi naik pitam sesudah mendengar ucapan itu, diapun berteriak keras:

"Ku See hong, pada mulanya lohu masih mengira kau adalah seorang pendekar besar yang mempunyai ma ksud luhur, rupanya kaupun tak lebih cuma seorang manusia latah Hmmm, dengan menganda lkan ilmu silat mu itu untuk menangkan lohu saja sudah sukar, masih berani berbicara besar untuk bertarunbg me lawan Buncud ka mi"

Pek lui jiu Ho Kian kuatir kalau pe mbicaraan yang sema kin meruncing bisa mengakibatkan bentroknya dua orang jago tersebut, buru-buru dia menengahi:

'Ku sauhiap, Buncu ka mi me mpunyai hubungan yang luar biasa dengan dirimu.." "Aku orang she Ku tidak kenal dengannya, kalian tak  usah banyak berbicara lagi" tukas Ku See hong dengan suara dingin.

"Ku Sauhiap, entah selama hidupumu berapa orang perempuan yang pernah kau kenali? Siapakah diantara mereka yang paling akrab denganmu ?".

Ku See hong salah menyangka kalau lawan sedang mengeje knya, sambil tertawa dingin segera sahutnya:

"Satu laksa orang, mau apa kau? Jumlah ini t idak akan terlalu banyak bukan?"

Mendadak ia me ndongakkan kepalanya la lu me mperdengarkan suara tertawa panjang yang amat menusuk pendengaran.

Tanpa menyapa atau berbicara lebih jauh lagi, dia me mbopong tubuh Im Yan cu dan segera berlalu dari situ.

Buru-buru Pek lui jiu Ho Kian berseru:

"Ku sauhiap!' Ku sauhiap! Harap kau tunggu sebentar lagi, aku orang she Ho ada suatu benda yang hendak kuserahkan kepada mu"

Tapi Ku See hong sudah tidak me mperdulikan mereka lagi, tanpa berpaling dia meneruskan perjalanannya, dalam waktu singkat dia sudah berada lima enam kaki jauhnya dari tempat se mula.

Pada saat itulah...

Mendadak ditengah keheningan mala m yang menceka m seluruh jagad, berkumandang suara genta yang dibunyikan bertalu-talu.

"Tingg! Taang! Tinggg! Taaang..!

Suara genta itu munculnya amat  mendadak  sekali dan  segera me mbe lah keheningan yang menceka m disekeliling tempat itu. .

Bunyi genta itu secara beruntun berkumandang sampa i puluhan kali banyaknya, suara yang nyaring mengalurn diseluruh angkasa, me mbuat sqesuatu yang semrula hening, kini dicekam oleh keadaan yang benar-benar mengerikan sekali. Begitu mendengar suara genta itu, paras muka Thian Kun  tee ciang Khong Tang lun berubah hebat, cepat-cepat serunya kepada Kanglam Siang hou:

"Buncu kami  sudah  berada  di  lembah  Yu  cui  kok  dan  menge luarkan perintah bahaya utuk mengumpulkan sepuluh jago Hiat mo bun, mari kita segera berangkat ke sana!"

Sembari berkata dia sudah melejit ketengah udara dan meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Ketika Ku See hong mendengar suara genta tersebut, dengan perasaan tercengang diapun menghentikan gerakan tubuhnya tanpa terasa.

Pada saat itulah Kang lam siang huu sudah lewat disisi tubuhnya, mendadak Pek lui jiu Ho Kian me nyerahkan secarik kertas  kepada Ku See hong sa mbil berkata.

"Ku sauhiap, surat ini di tinggalkan kepada nona Im oleh manus ia berkerudung  tersebut  sewaktu  menolong  dirimu,  setelah  kau  me mbaca isi surat tersebut dan dipikir sebentar, bisa jadi kau akan segera mengenali siapakah dia.

"Untuk  penyakit  yang   diderita   oleh   nona   Im   sekarang,  ke mungkinan besar hanya manusia berkerudung itu yang dapat meno longnya, tak ada salahnya bila kau pergi me ncarinya. Ka mi dua bersaudara sudah menjadi anggota Hiat mo bun, sekarang Buncu ada perintah untuk mengumpulkan kami, untuk sementara kami akan berpisah dulu sa mpa i disini, sa mpai jumpa lagi lain kesempatan."

Selesai berkata, Kanglam sianghou segera  mengerahkan  ilmu mer ingankan tubuh masing- mas ing dan mengikuti dibelakang Thian kun-tee-ciang Khong Tang lun untuk berlalu dari situ.

Dalam waktu singkat mereka sudah lenyap dibalik kegelapan sana...

Malam sudah se makin kela m,  bintang  bertaburan  diangkasa me mbiaskan cahaya yang redup. Rembulan tergantung pula diawang-awang dan me mancarkan cahaya biru yang le mbut.

Waktu itu, kentongan perta ma baru saja menjelang tiba.

Sambil berdiri tegak, Ku See hong me mbuka kertas itu dan segera me mbaca isinya.

"Adik Im Yan cu:

Racun Hou kut jian hun im kang yang diderita olehnya besok  akan segera hilang dan kesehatannya akan pulih ke mbali seperti sedia kala, selain sembuh diapun akan berubah menjadi seorang jagoan yang gagah bagaikan naga dan harimau. Aku tahu dia a mat berterima kasih kepa mu, dia mencinta mu, aku harap kaupun dapat mencintainya dan me me liharanya agar hatinya yang terluka  bisa me mpero leh sedikit kehangatan dan hiburan. Aku harap surat ini jangan sampai kau bocorkan ke padanya, jangan biarkan dia tahu tentang hal ini, sebab hal tersetut bisa jadi akan mencelakainya dan diriku, seorang manusia bernasib jelek yang berada diujung langit, moga- moga kalian bahagia selalu'

Selesai me mbaca isi surat tersebut, Leng hun-koay-seng Ku See- hong segera berdiri mematung, bagaikan sedang mengigau saja guma mnya.

'Siapakah dia? siapakah dia?"

Dengan cepat dia mela mun ke mbali ke dalam kenangannya belasan tahun berselang, berbagai pikiran seperti gulungan o mba k di tengah sa mudra me nerpa dan menerjang lewat tiada hentinya....

Dari balik nada surat tersebut, bukankah dengan jelas terpetik suatu ungkapan perasaan cinta yang mendalam sekali? perempuan itu tidak ce mburu, tidak ir i, melainkan  dalam hatinya justru menyimpan suatu kepedihan,  suatu  penyesalan  yang  amat menda la m...

Siapakah dia..? Teka- teki tersebut serasa menusuk benaknya, akan tetapi ia tak ma mpu menjawab.

Suara dari Pek lui jiu Ho Kian seolah-o lah berkumandang ke mba li disisi telinganya.

"Ku sauhiap, dalam hidupmu beberapa orang perempuan yang kau kenal? Pere mpuan manakah yang me mpunyai hubungan paling akrab denganmu?"

Im Yan cu, Him Ji im, Keng Cin sin, Ketika bedrpikir sa mpai daisitu, Ku See hbong me njerit kaget.

”Aaaah. diakah! Mungkinkah Keng Cin sin. Mungkinkah Keng Cin sin yang telah mati...? Apakah dia masih hidup? Mungkin kah dia masih hidup...?"

Tanpa terasa Ku See hong terbayang kembali kenangannya pada setahun berselang.

Peristiwa tragis yang dialaminya dalam istana Huan mo kiong dilaut Lam hay.

Disisi telinganya seakan-akan berkumandang lagi suara jeritan lengking yang menyayatkan hati dan me milukan hati dari gadis tersebut:

"Engkoh Hong, cepat lari, sa mpai di alam baka pun adik Sin mu selamanya tetap mencintaimu, kau cepat lari..."

Menyusul jeritan itu  berkumandang  pula  suara  jeritan  yang me milukan hati, suara jeritan orang yang mendekati saat ajalnya.

"Engkoh Hong .... adik Sin akan akan berangkat selangkah lebih dulu .... kau..."

Tiba-tiba jeritan tersebut berhenti sa mpai ditengah jalan.

"Adik Sin kau... kau tak akan mati... kau tak mungkin mati, Thian tak akan menyuruh kau mati."

Berpikir sa mpai disitu, dengan suara yang keras Ku See hong berteriak keras: "Benar! Dia pastilah adik Sin, sudah pasti benar "

Dia mengalihkan ke mbali sorot matanya ke atas kertas surat itu dan sepatah demi sepatah kata dibaca ke mbali, ketika terbaca sampai Manusia bernasib jelek dari ujung langit, dia menjerit sedih, butiran air mata jatuh bercucuran dengan derasnya me mba-sahi pakaian yang dikenakan Im Yan cu.

Keng Cin sin, adalah kekasih hatinya yang paling berkesan dalam benaknya, kekasih pertamanya yang tak pernah akan terlupakan olehnya, apalagi pada waktu itu hatinya baru  saja terluka,  begitu me milukan hati..

Dia merasa Keng Cin sin yang begitu anggun, begitu cantik, benar-benar me mpesonakan hati, begitu mendala m me mbekas dalam benaknya, biar langit a mbruk, biar sa mudra menger ing, dia tak akan pernah me lupakan cintbanya kepada gaddis tersebut.

Kaini Ku See hong merasa seakan-akan mendengar suaranya, seakan-akan menyaksikan bayangan tubuhnya, seakan-akan mengendus bau perawannya yang harum dan aneh..

Dia me me luk  tubuh   Im   Yan-cu   kencang-kencang,   dalam la munannya dia mengira dia adalah Keng C in sin.

Aaai... Keng Cin sin benar-benar telah mene mpati hampir seluruh bagian tubuhnya.

Yaa, sampai mati Ku See hong tetap mencintainya dan bisa sampai mela kukan sengga ma dengan Him Ji im, bukankah hal itupun disebabkan dia salah menganggap dia sebagai Keng Cin sin?

Pelan-pelan Ku See-hong menjadi sadar ke mbali, ketika dia mengenali gadis yang berada dalam pelukannya adalah Im Yan cu, hatinya terjerumus ke mbali dalam kesedihan yang mendala m.

Dia teringat pula akan Him Ji-im yang berada dalam sarang harimau, Im Yan-cu yang berada dia mbang pintu ke matian dalam pelukannya. Dua orang itu semuanya sudah pernah melakukan hubungan suami istri dengannya..

Him Ji- im adalah puteri tunggal gurunya Bun-ji koan su Him Ci seng, riwayat hidup-nya amat mengenaskan.

Sedangkar Im Yan-cu adalah tuan penolongnya, seorang yang sangat mencintai dirinya.

Kini, sudah ada tiga orang perempuan yang  me menuhi benaknya, bagaimana mungkin seorang lelaki bisa me mberikan hatinya untuk tiga pere mpuan?

Ku See hong merasakan hatinya mulai mengucur kan darah dan merasakan pikiran nya kalut, kalut sekali.

Mendadak...

Setitik cahaya kebahagiaan muncul, secara tiba-tiba dari balik mata Ku See hong, ke mbali dia berguma m:

''Aku tak akan melepaskan  siapapun diantara mereka,  aku mencintai mere ka se mua!"

Tapi mungkinkah harapannya itu bisa terwujud seperti apa yang dia harapkan?

Perjalanan hidup manusia kadang kala harus melalui jalan yang tak rata, sering kali banyak durinya, banyak bukit yang  tinggi dengan batu-batu cadas yang menghadang,

Kehidupan manusia pun tidak selalu bahagia, tidak selalu berhasil mencapai kepuasan, bahkan sering kekecewaran yang muncul, kesedihan dan qkegagalan yang rdi peroleh.

"Aku hendak mencari manusia berkerudung itu dan me mbuktikan apakah dia benar-benar adalah Keng Cin sin..."

Berguma m sampa i disitu, pelan-pelan dia mula i bergerak kedepan menuju kebalik kegelapan...

Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara bentakan yang amat menusuk pendengaran: "Berhenti kau!"

Ketika mendengar suara bentakan tersebut perasaan Ku See hong yang bergolak dan hatinya yang serasa kalut oleh rerasaan  tadi seketika itu juga tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Ketika dia me mbalikkan badan dan me mandang kearah mana berasalnya suara bentakan tersebut, dengan cepat pemuda itu berdiri tertegun.

"Ke mari kau!"

Suara   bentakan   yang   menggeledek   ke mbali    berge ma   me me kikkan telinga...

Entah sejak kapan, berapa kaki dihadapan Ku See hong sekarang telah berdiri seorang perempuan yang berambut panjang warna putih, mukanya cantik seperti ke mala dan sama sekali tak nampa k kerutan, bajunya indah dan halus berwarna biru.

Barusan Ku See hong tertegun karena bentuk wajah pere mpuan itu aneh sekali bila dilihat dari rambutnya yang telah beruban, dia seharusnya seorang perempuan tua yang telah lanjut usia, akan tetapi kalau dilihat dari raut wajahnya, justru mirip sekali dengan seorang gadis muda yang baru berusia dua puluh tahunan.

Sepasang matanya yang jeli me mancarkan cahaya tajam yang sangat menggidikkan hati, me mbuat dia berwibawa sekali.

Ketika sorot mata Ku See hong saling me mbentur dengan sorot matanya itu, diam-dia m dia merasa hatinya bergidik, sebab sorot matanya itu benar-benar kelewat tajam, sehingga me mbuat orang tak berani berta-tapan muka secara langsung dengan nya.

Ku See hong tahu kalau ilmu silat yang dimiliki pere mpuan berambut putih itu pasti lihay sekali, padahal dia mana tahu kalau perempuan itu sebenarnya adalah manus ia paling  aneh yang berilmu silat paling tinggi didunia saat ini. Ku See hong yang berwatak angkuh dan tinggi hati, merasa mendongkol sekali karena suara bentakan dan tatapan mata perem- puan tersebut, segera tegurnya dingin:

"Siapakah kau? Mengapa kau bersifat begitu angkuh dan takabur dihadapanku?"

Mendengar teguran mana, perempuan bera mbut putih itu nampak seperi agak tertegun, rupanya dia tidak menyangka  kalau Ku See hong bernyali begitu besar.

Terdengar perempuan itu me mbentak lagi keras-keras.

"Kau si manusia laknat, sudah berani mengganggu anak gadis orang,   suka   me mper mainkan   lagi,    Lo    nio    akan    segera me mbinasaksn dirimu disaat ini juga!"

Mendengar perempuan tersebut membaha-sai diri sendiri sebagai "lo nio" Ku See hong merasakan hatinya bergetar keras, tapi dengan wajah gusar dia berseru pula:

"Kau jangan menfitnah orang dengan seenaknya sendiri, aku orang she Ku adalah seorang lelaki sejati, aku tak akan me mbiar kan perempuan se maca m kau menegur aku dengan se maunya sendiri"

Dengan cepat perempuan berambut putih itu dipengaruhi oleh keangkuhan Ku See hong, dia seakan-akan teringat ke mbali dengan peristiwa yang terjadi pada lima puluh tahun berselang, lelaki yang telah menghancur leburkan hatinya pun me mpunyat kegagahan dan watak persis seperti pe muda tersebut..

Dengan wajah berubah hebat perempuan berambut putih itu segera menegur.

"Siapakah kau? Cepat jawab!'

"Siapa pula dirimu? Mengapa tidak me nyebutkan dirimu sendiri lebib dahulu?"

Saking gusarrya lalu tubuh perempuan berambut putih itu sampai gemetar keras, diiringi bentakan nyaring tubuhnya menerjang ke muka, tangan kirinya  menyapu ke muka dan mencengkera m pergelangan tangan Ku See hong.

Anak muda itu benar-benar merasa terperanjat, dia tak menyangka kalau pihak lawan me miliki gerakan tubuh yang cepat, sehingga belum lagi ingatan untuk menghindar se mpat melintas, persendian tulang tangan kanannya, sudah terlanjur dicengkera m.

Seketika itu juga dia merasakan separuh tenaga yang berada ditubuh sebelah kanannya lenyap tak berbekas, tapi tangan kirinya masih me me luk tubuh Im Yan cu kencang-kencang.

"Kau bersedia untuk menjawab atau tidak!" bentak pere mpuan berambut putih itu lagi.

Perlu diketahui, Ku See hong sudah merupakan jagoan  lihay dalam dunia persilatan dewasa ini, dia sama sekali tidak menyangka kalau tangannya bakal kena di cengkeram orang dengan begitu mudah, dari sini dapat diketahui kalau ilmu silat yang dimiliki orang itu benar-benar luar biasa sekali.

"Aku tak akan berbicara, aku tak akan berbicara, mau apa kau?" bentak Ku See hong dengan marah.

Perempuan bera mbut putih itu mengangkat tangan kanannya yang putih la lu menganca m.

"Jika kau tidak berbicara lagi, lonio akan segera menghajar batok kepala mu sa mpa i hancur"

Ku See-hong tertawa sedih.

"Ilmu silat yang dimiliki aku orang she Ku tak bisa menangkan orang, biar matipun aku tak akan menyesal, tapi caramu me maksa orang sungguh me mbikin hati tak puas."

Me mdengar perkataan itu, pere mpuan bera mbut putih tersebut menjadi tertegun, rupanya senyuman sedih yang menghiasi  wajah Ku See hong sekarang diliputi kekecewaan, kepedihan hati dan kekesalan, sebagai seorang yang pernah merasakan hal tersebut, tentu saja perempuan berambut putih itu dapat menyelami sampa i dimanakah perasaan orang.

Mendadak  dia  merubah  nada  suaranya   menjadi  jauh   lebih le mbut, ujarnya pelan:

“Siapakah kau? Mengapa kenal dengannya? Kini bagaimanakah keadaannya?"

Pertanyaan yang diucapkan  secara  beruntun  itu  kontan  saja  me mbuat Ku See hong menjadi bingung, lantas  siapakah perempuan ini?

Dalam pada itu perempuan bera mbut putih itu  sudah mengendor kan cengkera man nya pada persendian tulang kanan Ku See hong.

Dengan suara lantang anak muda itu segera menjawab:

”Aku adalah Leng bun koay seng Ku See hong, mengenai dua pertanyaan berikutnya maaf kalau aku tak sanggup me mber i jawaban.”

Begitu mendengar nama si anak muda tersebut, paras muka perempuan berambut putih itu berubah hebat segera bentaknya keras-keras.

"Kau ..... kau adalah mur id Bun ji koan su" Sewaktu mengucapkan perkataan tersebut, seluruh badannya gemetar keras, seakan-akan hatinya merasa terperanjat sekali.

Ku See-hong menjadi sangat keheranan setelah menyaksikan keadaannya itu, seru nya dengan lantang.

"Ya, betul, guruku adalah Bun ji koan su"

Hawa napsu me mbunuh yang mengerikan dengan cepat menyelimuti seluruh wajah perempuan berambut putih itu, bentaknya keras-keras:

"Gurumu si setan tua itu kini .... kini berada dimana? Cepat katakan!" Ku See-hong sema kia terperanjat lagi, belum pernah ada orang yang berani me maki gurunya, lantas siapa perempuan ini? Mengapa wajahnya berubah menjadi begitu mengerikan setelah mengetahui kalau dia adalah murid Bun-ji- koan-su?

Berpikir sa mpai disitu, anak muda tersebut  mendengus  dingin, ke mudian katanya dengan suara ketus.

"Siapakah kau? Berani benar me maki guruku dengan kata-kata begitu tak sopan! '

Perempuan bera mbut putih itu tahu kalau terhadap manus ia maca m Ku Sue hong, ia tak boleh bersikap kelewat mendesak, terpaksa tanyanya dengan suara gemetar:

"Apakah gurumu... gurumu tak pernah menyinggung tentang Lo nio-- aaah! Dia tak akan berbuat demikian, dia tak akan berbuat demikian, dia adalah lelaki yang tak punya liangsim...

Setelah mendengar perkataan itu, Ku See hong baru merasa terperanjat, dia segera berseru tertahan..

”Kau.. kau.... kau adalah guru Im Yan cu Seng sim cian li (perempuan suci berhati mulia) Hoa Soat kun locianpwe?"

Yaa benar, perempuan bera mbut putih ini me mang Seng sim cian li Hoa Soat -kun, kekasih Bun ji koan su yang diceritakan kakek itu menje lang saat ajalnya.

Begitu mendengar Ku See hong dapat menyebutkan namanya,  hal ini me mbuktikan kalau Bun ji koan su belum melupakan dirinya Seng sim cian li Hoa Soat kun, segera terbayang kembali akan kenangan la manya

"Ku See hong!" serunya kemudian dengan suara gemetar, "Kau tahu tentang kejadian masa la mpauku? Sekarang dia berada dimana? Cepat beritahu kepadaku! Lo nio hendak mencar inya untuk me mbuat perhitungan"

Pada mulanya Ku See hong tidak tahu, siapakah perempuan berambut putih itu, sekarang dia sudah tahu bahwa orang ini adalah orang yang dipesan gurunya menjelang saat ajalnya sebagai gurunya yang kedua Seng sim cian li Hoa Soat kun.

Sampa i dima nakah sedihnya tragedi cinta yang diala mi perempuan ini, Ku See hong sudah me ngetahui dengan je las, dia menaruh raga simpatik yang mendala m terhadap Seng sim cian li ini, me mandang ra mbut panjangnya  yang  telah beruban, pemuda itu se makin tahu kalau dalam masa lima puluh tahun yang panjang ini, entah  berapa  banyak  kesedihan  dan  ke murungan  yang diala minya.

Tapi dia pun tahu, perempuan itu pasti belum pernah melupakan gurunya, bisa jadi setiap saat setiap waktu ia mas ih teringat akan dirinya, tapi kini, gurunya sudah tidak berada dalam dunia lagi.

Berpikir sampa i disitu, tak dapat dibendung air mata Ku See hong jatuh bercucuran me mbasahi wajahnya, dengan sedih dia berkata:

"Hoa locianpwe, guruku telah meningga l kan dunia ini sejak setahun berselang"

Berita ini disa mbut oleh Seng sim ciang li Hoa Soat kun bagaikan sambaran guntur ditengah hari bolong, dia me mang sangat mencintainya, tapi wataknya yang aneh telah mengendalikan kesemuanya itu, mendadak saja pere mpuan itu me mperdengarkan suara tertawa aneh yang tajam, seram dan a mat me mekikkan telinga.

Suara  tertawanya  itu  penuh  mengandung  kesedihan   yang me milukan hati, seperti ibu yang menangis ke matian anaknya, seperti juga jeritan mo nyet diselat Wu shia, me milukan, mengharukan dan sanggup me mbuat setiap orang turut mengucurkan air mata.

Mendadak ia berhenti tertawa.

Setelah itu dengan wajah sedingin es Seng sim cian li Hoa soat kun berkata dingin: "Apakah manusia yang tidak berperasaam itu  berpesan kepadamu agar datang untuk me menuhi janjinya yang diucapkan pada lima puluh tahun berselang?"

"Tidak! Tidak!" sahut Ku See hong cepat, "harap  locianpwe jangan salah paha m, suhu ku bilang dia sangat mencintaimu."

Ucapan mana ke mba li disa mbut oleh Seng sim cian li Hoa Soat kun dengan gelak tertawa yang menyeramkan.

"Betul-betul seurang manusia yang tak punya liangsim, tampaknya dia pun berhasil mendidik seorang mur id yang tak punya liangsim juga seperti kau?, hmmm, bagaimana keadaan Im Yan cu sekarang?   Cepat   katakan!  Kalau   tidak,   aku    akan    segera me mbinasakan dirimu."

Sejak tahu kalau perempuan ini adalah calon gurunya, terhadap bentakan maupun umpatan dari perempuan tersebut boleh di bilang ia tidak menga mbil perduli.

Selain itu dia juga tahu kalau wataknya yang aneh  sebagian besar timbul akibat patah hati yang dialaminya dulu, dalam hal ini, suhunya pernah mengutarakan perasaan menyesal yang mendalam, bahkan menje lang ajalnya dia masih se mpat berpesan agar ia jangan kelewat berbuat kasar hingga melukai hatinya lagi.

Maka setelah mendengar perkataan itu, Ku See hong berkata dengan perasaan sedih.

"Hoa cianpwe, Im moay sudah terkena racun cabul orang jahat, enam hari lagi jiwa nya akan melayang"

"Racun apakah itu? Cepat katakan!" bentak Seng sim cian li Hoa Soat kun dengan suara keras.

Agak me merah paras muka Ku See hong sahutnya sedikit tergagap.

"Obat itu Adalah "

Sesungguhnya dia merasa ma lu untuk mengucapkan hal yang sebenarnya. Dengan perasaan gelisah, Seng sim cian li Ho Soat kun mendesak lebih jauh.

"Obat apa? ayo katakan cepat!'

Ku See hong tahu bahwa obat tersebut harus diberitahukan dengan secepatnya, terpaksa diapun berkata:

`Obat beracun itu adalah Im hwee si hun wan!"

"Apa? Im hwee si hun wan?" jerit Seng sim cian li Hoa Soat kun dengan perasaan kaget.

"Ya, dia kena dipaksa minum obat tersebut oleh Hu kaucu dari Ban sia kau, yakni si Pedang ular perak Ciu Heng thian!''

"Jadi kalau begitu antara kau dengan dia?"

Ku See hong mengerti apa yang dima kud oleh pere mpuan tersebut, maka, jawabnya cepat dengan suara lantang:

"Adik Im menaruh budi kebaikan kepadaku, tentu saja aku pun tak dapat berpeluk tangan belaka me mbiarkan dia mati, tak usah kuatir locianpwe, aku bukan seorang yang melupakan budi, aku bertekad akan bertanggung jawab atas perbuatanku ini."

Tadi, Seng sim cian li Hoa Soat kun masih merasa kuatir apabila keperawanan Im Yan cu terjatuh ke tangan orang lain, legalah hatinya setelah mendengar pengakuan dari pe muda tersebut.

Akan tetapi dia pun menahan napas lagi dengan a mat sedihnya, karena dia tahu pil Im hwee si hun wan itu terla mpau jahat, dia sendiripun tidak berkeyakinan dapat me munahkan pengaruh dari racun tersebut...

Mendadak...

Seng sim cian li Hoa Soat kun tertawa dingin, ke mudian serunya dengan nada menyeramkan:

"Betul-betul seorang le laki tak kenal budi yang pandai me mbujuk rayu, kalau kau mengatakan me ncintai dia, mengapa kau masih menyebut na ma Keng Cin sin? Siapa kah dia?" Ternyata sewaktu Ku See hong selesai membaca surat tersebut dan sedang termenung sa mbil mela mun tadi, secara diam-dia m Seng sim cian li Hoa Soat kun sudah menyelinap datang dibelakang tubuhnya, oleh sebab itu semua tindak tanduk maupun ucapannya dapat didengar olehnya dengan a mat je las.

Mendengar ucapan tersebut, paras muka Ku See hong berubah hebat, lalu sahutnya agak tergagap:

”Keng Cin sin itu seorang yarg kucintai, dia adalah gadis yang pertama kali kucintai, sayang nasibnya terlampau menyedihkan..”

Tidak menanti pe muda itu menyelesaikan kata-katanya, Seng sim cian li Hoa Soat kun telah menukas dengan suara yang keras:

”Kau lelaki tak berperasaan, apakah kau anggap lantaran dia sudah tak ada harapan lagi untuk ditolong, maka setelah merenggut kehor matannya, sekarang hendak mengejar pere mpuan lain? Tadi kau masih bilang akan bertanggung jawab? Hmmmm, sela ma ini lo nio tidak akan me mbiar kan manusia maca m kau untuk hidup lebih jauh"

”Locianpwe harap kau bersedia uutuk me mpercayai aku, aku bukan  manusia  seperti  itu,   karena   aku   tak   ma mpu   untuk  me munahkan racun Im hwee si hun wan yang bersarang dalam tubuhnya, maka aku baru lari kesana ke mar i sambil berusaha untuk mencari orang yang dapat menye mbuhkan penyakitnya itu."

"Apakah racun Im hwe si hun tan yang diidapnya baru kambuh satu kali?''

"Yaa, tengah hari tadi baru ka mbuh sekali, apakan locianpwe dapat menyembuhkan penyakit itu?”

Seng sim cian li Hoa Soat kun segera tertawa dingin.

"Bisa ditolong atau tidak, apa sangkut pautnya dengan dirimu? Heeehh... heeehh... heeeehhh... toh kau lebih senang jika dia bisa sekalian ma mpus bukan?" "Hoa locianpwe, apakah kau benar-benar begitu tak percaya dengan diriku?”

”Tak usah banyak bicara lagi” bentak Seng sim cian li Hoa Soat kun dengan gusar, "cepat serahkan dia kepadaku, untuk se mentara waktu lo nio akan menga mpuni sele mbar nyawamu untuk mala m ini."

Ku See hong menghe la napas sedih.

"Aaaaai Hoa cianpwe, Im Yan cu sudah menjadi istriku, bila kau tidak yakin bisa menyembuhkan lukanya, aku tak akan me mbiar kan kau untuk me mbopongnya!"

Mendengar ucapan mana, Seng sim cian li Hoa Soat kun segera tertawa seram.

”Heeeh...heeehh... heeeeh....siapa bilang kalau murid kesayanganku ini adalah istrimu? Malam ini tampa knya lo-nio harus me mber i pelajaran sebaik-baiknya kepada mu!"

"Hoa cianpwe, harap kau sudi me mandang diatas wajah guruku untuk mengijinkan boanpwe me mbawanya mencari penyembuhan!" pinta Ku See hong dengan merengek.

Sekala lagi Seng sim cian li Hoa Soat kun tertawa seram. ”Heeehh...heeehhh...heeeeh... kau si bocah keparat betul-betul

tak tahu diri, guru setanmu itu adalah musuh besarku yang paling kubenci, kini dia sudah ma mpus, maka aku hendak me mbuat perhitungan lebih dulu denganmu, kemudian baru  pergi menghancur lumatkan tulang belulangnya.”

"Hoa locianpwe, kau benar-benar tak berperasaan, padahal sebelum ajalnya suhu masih me mperlihatkan rasa cintanya yang begitu mendala m terhadap dirimu.”

Mendadak paras muka Seng sim cian li Hoa soat kun berubah hebat, tanyanya cepat:

”Apa yang telah dikatakan gurumu menjelang saat ajalnya?” "Suhu  boanpwe   berpesan,   apabila    bertemu    denganmu dike mudian hari, aku harus menyampaikan  perasaannya kepadamu."

Seng sim cian li Hoa Soat kun mendengus dingin: ”Hmmm, coba kau katakan!"

Ku See hong bukan seorang bocah bodoh, sudah barang tentu diapun tahu kalau perempuan ini masih menaruh perasaan cinta terhadap gurunya, maka dengan suara lantang dia berkata.

"Suhu bilang: Dia menyesal sekali atas perbuatannya dulu, ia tidak seharusnya melukai hatimu dimasa itu, tapi sayang ajalnya sudah sema kin dekat sehingga tak dapat menya mpaikan rasa menyesalnya kepada mu agar kau menjatuhkan hukuman yang setimpal kepadanya.

"Tapi diapun bilang: Seandainya kau masih teringat dengan sakit hatimu dimasa lalu dan bertekad hendak me mbalas denda m, tulang belulangnya masih berada dalam kuil kuno Si hun bio, setiap saat kau boleh menghukum tulang belulangnya dan dia tak pernah akan mendenda m.

"Akhirnya diapun berpesan, Kalau semasa masih hidupnya dulu ia tak dapat menerima cinta mu, tapi setelah berada di alam baka, dia masih tetap akan mencintaimu, selalu mendoa kan agar bahagia, moga- moga didalam penitisan yang akan datang, ia dapat merasakan kehidupan yang berbahagia dengan kau sebagai suami istri yang saling mencintai"

Paras muka Seng Sim cian li masih tetap sedingin es dan sama sekali tak berperasaan, padahal hatinya sudah ditusuk-tusuk oleh ucapan tersebut sehingga berlubang- lubang.

oooodwoooo HATINYA kini sudah berlumuran darah kental yang meleleh dan menoda i seluruh perasaannya.

Kesedihan yang terpendam dalam hati, betul-betul merupakan suatu penderitaan yang menda la m.

Walaupun dimasa lampau dia harus merasakan penderitaan dan siksaan batin akibat rasa cinta dan bencinya yang bercampur aduk, tapi  setelah   mendengar   perkataan   itu,   dia   bersedia   untuk me maafkan kesalahannya, tapi sifatnya yang aneh serta jiwanya yang sempit me mbuat dia mengendalikan perasaan mana.

Ketika dilihatnya perempuan itu sa ma sekali tidak terpengaruh oleh perkataannya, maka ujarnya lebih jauh:

'Hoa cianpwe, aku tahu kalau perkataan itu se mua diucapkan oleh suhu dari lubuk hatinya, orang bilang Burung yang hampir mati akan berpekik pilu, orang yang akan mati mengucapkan perkataan yang bajik, apalagi pada waktu itu suhuku diliput i kesedihan rasa menyesal menghiasi wajah nya, segala sesuatunya itu tak terlukiskan dengan perkataan apapun jua. .

Dia orang  tua   pun  berpesan  kepadaku:  "harap  kau  bisa   me mbantunya untuk me mbalas denda m, tapi diapun tahu bahwa kau tak akan mengabulkan, oleh sebab itu pada akhirnya dia hanya minta kepada mu agar sudi  menerima ku  sebagai  mur idmu  dan  me mpe lajari ilmu Hay jin ciang..."

Mendadak paras muka Seng sim cian li Hoa soat kun berubah hebat, bentaknya keras-keras:

"Kau si bajingan laknat, tak nyana kalau kau pun me mpelajari juga kelicikan dari gurumu itu, kau... cepat kau pergi dari  sini! Malam ini lo nio tak ingin me mbunuhmu."

Didengar dari nada suaranya yang gemetar, jelas sekali betapa bergolaknya perasaan perempuan itu kini.

Dengan setengah me mohon ke mbali Ku See hong berkata: "Ho cianpwee, musuh besar guruku dan musuh besarku hanya bisa ditaklukkan oleh ilmu Hay jin ciang mu. kumo hon kepadamu sudilah kau wariskan kepandaian itu kepadaku!"

Ternyata Seng sim cian li Hoa Soat kun waktu itu sudah menaruh salah paham lagi terhadap Bun ji koan su. dia menganggap  orang itu tidak benar-benar menyesal, mela inkan hanya berpikir demi kepentingan sendiri.. itulah sebabnya dia sengaja mengucapkan kata-kata semaca m itu agar hatinya menjadi terharu.

Perlu diketahui, bila seseorang sudah menaruh perasaan cinta  dan benci terhadap orang lain, seringkali dia menaruh se maca m perasaan tak percaya terhadap perkataan dari kekasihnya, apalagi watak Bun ji koan su begitu dingin terhadap cintanya.

Maka setelah Ku See hong menyingkap   kalau  ia  diminta mewaris kan ilmu Hay jin ciang yang telah didalami dan diselami selama lima puluhan tahun itu, tak bisa dihindari lagi timbulnya perasaan curiga dalam hati kecilnya.

Dengan suara keras Seng sim cian li Hoa Soat kun me mbentak nyaring:

"Manusia laknat, mengapa kau tidak segera pergi ? Kalau kau tidak angkat kaki, jangan salahkan jika aku menghancur lumat kan pula tulang belulangmu sehingga harus menjadi bubur.”

Buru-buru Ku  See  hong  merogoh  kedalam  sakunya  dan menge luarkan sebuah bungkusan yang diletakkan diatas perut Im Yan cu, ketika bungkusan itu dibuka, ternyata isinya  hanya sepotong kutungan pedang.

Dibawah cahaya sinar rembulan dan bintang, nampak kutungan pedang itu mas ih me mancar kan cahaya tajam.

Dengan suara lantang ke mbali Ku See hong berkata:

"Hoa locianpwe, bila kau tidak percaya dengan suhuku, coba kau lihat, Inilah kutungan pedang pada lima puluh tahun berselang, sampai sekarang dia menyimpan nya dengan teliti, sebelum mati dia serahkan kutungan pedang itu kepadaku sa mbil berpesan: Dulu dia telah me matahkan pedangmu, maka aku diperintahkan  untuk menya mbung ke mbali pedang tersebut hingga utuh ke mba li, agar bisa mengurangi rasa sedih mu dahulu....

Dalam sekilas pandangan saja Seng sim cian li Hoa Soat kun sudah dapat mengenali ke mbali kutungan pedang itu sebagai miliknya, rasa dendam dan a marahnya yang terpendam sela ma banyak tahun segera berkobar kembali, selapis cahaya hijau kebiru- biruan segera menyelimuti wajahnya, serentetan cahaya yang tajam dan penuh hawa pe mbunuhan pun segera mencorong keluar dari balik matanya..

Dia mendo ngakkan kepalanya lau tertawa seram...

Mendadak tubuhnya menerjang kehadapan Ku See hong, lalu telapak tangan kanannya secepat kilat ditekan ke atas dada anak muda tersebut, sementara tangannya yang kiri  dengan  cepat menya mbar ke tubuh Im Yan cu yang berada dalam bopongan anak muda itu.

Mimpipun Ku See hong tidak menyangka kalau Hoa Soat  kun bakal turun tangan sedemikian kejinya terhadap dia, belum se mpat ingatan untuk menghindar lewat dalam benaknya, tahu-tahu dadanya sudah terasa sakit sekali, seluruh kekuatan yang ada dalam tubuhnya menjadi punah hingga tak berbekas, Im Yan cu yang berada di tangannya pun tahu-tahu sudah tidak berada lagi didalam pelukannya.

Kembah berkuma ndang suara  gelak  tertawa  panjang  yang  me milukan hati, seperti kuntilanak saling mengikik di tengah mala m buta...

Seng sim cian li Hoa Soat kun sambil me mbopong tubuh Im Yan cu sudah me luncur ke depan secepat sambaran kilat.

Menanti kekuatan yang dimiliki Ku See hong telah pulih ke mbali, dia baru berteriak keras:

”Hoa cianpwe, kau hendak ke mana?" Mendadak dari kejauhan sana berkuman-dang suara seruan sedih yang me mbawa nada kepiluan:

”Bocah cilik, bila lo nio tak dapat menyela matkan jiwanya, aku pasti akan datang lagi untuk mencari dirimu!"

Suara itu berasal dari tempat kejauhan sana dan mengge ma tiba dengan tajamnya.

Setelah itu suasana pulih ke mba li:

Dalam keheningan yang menyeramkan dan menggidikkan hati...

Dita mbah pula diatas tanah me mbujur dua sosok mayat dari pelindung hukum Ban sia kau, tanpa disadari telah me na mbah seram dan ngerinya suasana disitu...

Menyaksikan  kesemuanya  itu,  Ku   See   hong   hanya   bisa  me mperdengarkan suara helaan napas panjang yang me medihkan hati.

Perasaannya sekarang adalah hampa, kosong dan tak tahu apa yang harus di perbuat, dia memandang ke angkasa menyaksikan awan yang berkuntum-kuntum dilangit, mendadak dari ujung langit, me leset lewat setitik cahaya bintang.

Dengan perasaan bergetar keras, dia segera berpikir:

"Lebih baik aku mencari wanita kerudung warna warni lebih dulu, coba kulihat apakah dia ma mpu untuk me nyembuhkan keracunan akibat Im hwee si hun wan? Sekalian akau menyelidiki apakah dia adalah Keng C in sin dari istana Huan mo kiong di Lam hay yang sudah mati atau bukan, jika dia bukan Keng Cin sin atau tak dapat menye mbubkan keracunan dari Im Yan cu, aku akan mencar i rumput Im cu cau tersebut sa mbil beradu nasib, siapa tahu kalau ucapan dari mur id murtad Thi bok sin kiam Cu Pok adalah ucapan yang sebenarnya?"

Dengan cepat sekali Ku See hong menga mbil keputusan, lalu dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran petir dia me lesat menuju kearah puncak tebing yang berlapis-lapis disebelah kiri sana.

Kurang lebih seper minum teh ke mudian, Ku  See  hong  telah me masuki tanah perbukitan tersebut, ke mudian berhenti disebuah le mbah dan mulai me mperhatiken keadaan disekeliling sana dengan pandangan tajam.

Tapi suasana disitu amat sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Angin mala m berhe mbus kencang mendatangkan perasaan dingin bagi siapa pun yang merasakannya, bayangan pepo-honan yang memanjang ditanah seolah-olah cakar setan yang siap mencengkeram  setiap  orang  yang   datang   untuk  menghantar ke matian.

Mendadak....

Suatu jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang datang dari puncak bukit di sebelah kiri sana.

Ku See hong segera mendonga kkan kepala dan menghe la napas panjang, kemudian sa mbil mengerahkan ilmu  meringankan tubuhnya dia bergerak menuju ke arah mana berasalnya suara jeritan tadi.

Berhubung sela ma berapa waktu belakangan ini dia harus merasakan empat kali siksaan dari ilmu beracun Hou kut jian hun im kang, hal mana me mbuat hawa darah Tee liong-hiat-poo yang terpendam dalam tubuhnya serta tenaga murni dari Bun- ji- koan su selama ratusan tahun menjadi melumer dan bercampur  dengan hawa murninya, kese muanya itu tanpa terasa telah mena mbah ketangguhan tenaga dala mnya.

Tampak tubuhnya bargerak secepat sambaran kilat, enteng seperti selembar kapas, setiap kali melo mpat puluhan kaki sudah dilalui tanpa terasa, kehebatannya berar-benar mengagumkan.

Kesempur naan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya kini boleh dibilang tiada keduanya dikolong langit dewasa ini, mungkin orang dalam dunia persilatan yang me miliki ilmu meringankan tubuh seperti itu pun sulit untuk dite mukan.

Tentu saja diantaranya termasuk juga jago-jago lihay seperti Seng sim cian li Hoa Soat-kun.

Perlu diketahui, Ku See-hong me miliki bakat yang bagus, di tambah pula sudah pernah makan obat mestika pe mbersih darah, hal ini me mbuat seluruh tubuhnya sudah berubah seolah-o lah menjadi  manusia  lain,  itulah   sebabnya   kesempurnaan   ilmu   mer ingankan tubuh yang dimilikinya sudah tak mungkin bisa ditandingi oleh siapa pun.

Dibawah cahaya rembulan dan bintang, tampak dia berkelebat seperti sambaran petir, sebentar melo mpat  sebentar turun,  makin la ma semakin cepat, sepasang kakinya bagaikan tidak mene mpe l diatas permukaan tanah saja, dengan kecepatan yang luar biasa tubuhnya me luncur terus kearah depan.

Dalam waktu singkat Ku See hong sudah tiba di depan sebuah selat yang sempit, ketila sorot matanya dialihkan ke depan.

Dilihatnya, seluruh selat sudah dipenuhi oleh bayangan manusia, bahkan di setiap setiap sudut dan tempat kegelapan pun seakan- akan  berkumpul  bayangan  manus ia  dalam  kelo mpo k   demi kelo mpo k.

Menyaksikan hal itu, Ku See-hong segera berpikir:

"Ta mpaknya orang-orang itu adalah kawanan jago lihay dari berbagai daerah di dunia persilatan, mereka datang berkumpul mungkin saja dikarenakan kitab pusaka serta mutiara sakti Thian- hong-im yang sincu milik ma nusia berkerudung warna-warni itu, tapi mengapa ada juga sekelo mpak manus ia yang cuma mendeka m saja tak berkutik disini..."

Berpikir sa mpai disitu, dia lantas mengalihkan pandangan matanya ke arah lembah  sempit  tersebut,  tak  tahan  dia  segera me muji: "Benar-benar sebuah le mbah Yu-cui-kok yang indah menawan hati."

Le mbah Yu cui kok dikelilingi oleh bukit yang tinggi dari tiga bagian, pepohonan tumbuh dengan suburnya, batuan cadas berserakan dimana- mana, dengan sebuah air terjun yang a mat besar, kabut tebal hampir menyelimuti seluruh per mukaan lembah tersebut .....

Di sebelah kanan air terjun tampak sebuah bangunan  loteng yang dibangun mene mpel pada dinding bukit, rumput tebal tumbuh dengan suburnya dimana- mana.

Jembatan batu dengan pagar bambu, kolam teratai  dengan aneka bunga, semua nya mena mbah keindahan te mpat itu.

Ketika angin mala m berhe mbus silir se milir, terendus bau harum bunga yang menyegarkan.

Di depan sana terdapat sebuah kolam berbentuk separuh rembulan yang luasnya tiga kaki yang persis menge lilingi bangunan loteng tersebut, aneka bunga teratai tumbuh ditepi kola m, air yang jernih dengan riak  yang  kecil  me mbuat  suasana  disitu  ma kin  me mpersonakan hati.

Tempat itu, tak malu disebut sebagai sorga dunia.

Ditengah-tengah kolam terdapat sebuah jembatan bambu berbentuk setengah busur, pada ujung jembatan terkapar bersosok- sosok mayat yang berserakan dimana- mana, mungkin orang orang itu hendak menyerbu ke dalam je mbatan bambu itu tapi berhasil dibinasakan orang.

Ku See hong me mandang sekejap ke arah mayat-mayat yang berserakan di mana- mana, hatinya amat terkesiap, sebab sebagian besar dari mayat itu tewas dengan batok kepala yang hancur dan isi benak yang berserakan dimana- mana, jumlahnya tiga empat puluh orang lebih. Pada saat inilah dia baru mengerti, apa sebabnya kawanan jago persilatan yang berada di sekeliling te mpat itu tak berani maju ke depan dan mela kukan penyerbuan.

Suasana di dalam bangunan berloteng itu a mat hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun..

Le mbah sempit yang penuh diliputi suasana seram ini seakan- akan telah dilapisi oleh hawa pe mbunuhan yang me mbuat hati orang merasa amat bergidik...

Ku See hong merasa terkejut berca mpur tercengang, e mpat penjuru sekeliling bangunan loteng itu sama sekali tak na mpa k seorang manusia pun yang melakukan penjagaan, tapi anehnya mengapa kawanan jago persilatan itu tak seorang pun yang berani me lakukan tindakan secara gegabah....

Disaat Ku see hong masih merasa terkejut bercampur keheranan itulah, mendadak ta mpak sesosok bayangan manus ia berkelebat lewat dan mendekati tempatnya berdiri.

Ku See-hong me miliki tenaga dalam yang sempurna dengan ilmu silat yang amat tinggi,  pendengarannya tajam sekali,  begitu mendengar suara desingan, dia segera tahu kalau ada orang yang secara diam-dia m me ngha mpir inya.

Dengan suatu gerakan cepat dia segera me mbalikkan badan, sorot matanya dengan me mancarkan cahaya tajam yang menggidik kan hati segera menyapu ke arah depan...

Seorang manusia aneh berbaju hitam yang mengenakan topeng berwarna warni berdiri kaku dihadapannya. orang itu na mpa k berwajah aneh, jelek dan a mat tak sedap dipandang.

Sewaktu ia menyaksikan Ku See hong me mbalikkan tubuhnya dengan kecepatan tinggi, dari balik  matanya segera memancar keluar serentetan cahaya kaget bercampur tercengang.

Manusia aneh itu tidak asing buat Ku See hong, sebab dia pernah berjumpa dengan manusia aneh berkerudung itu setahun berselang, ketika dia baru keluar dari kuil kuno setelah me mperoleh pelajaran ilmu silat dari Bun ji koan su.

Orang ini tak lain adalah salah satu di antara dua mur id murtad dari Bun ji koan su yakni Jian-hun- kim ciang (pukulan e mnas pembabat sukma) Tu Pak kim, tapi Ku See-hong sama sekali tidak tahu kalau orang ini bukan lain adalah mur id durhaka guru nya yang harus dibunuh.

Jian-hun-kim-ciang Tu Pak kim na mpa k agak tertegun, kemudian sambil tertawa ringan katanya.

"Leng hun koay seng Ku See hong, ta mpaknya ke majuan ilmu silat yang kau peroleh belakangan ini sungguh pesat sekali"

Ilmu silat yang dimiliki Ku See hong saat ini me mang terhitung nomor wahid dikolong langit dewasa ini, tentu saja dia  tak perlu takut lagi untuk menghadapi manusia aneh berkerudung tersebut.

Sekulum senyuman yang amat dingin segera tersungging diujung bibirnya, lalu berkata:

'Mana, mana, setahun kita berpisah tentunya kau baik- baik bukan! Mengapa wajahmu mas ih saja mengenakan topeng kulit manus ia? Apakah kau kuatir wajah aslimu ketahuan orang?"

Jian hun kim ciam Tu Pak kim tertawa seram.

'Heehh.... Heehh.... Heehh....  Benar,  benar  sekali,   wajahku  me mang jelek dan kuatir ketahuan orang"

"Hmmm, apakah kedatanganmu mala m ini hendak me ncari gara- gara dengan aku orang she Ku?" ke mbali Ku See hong mendengus dingin.

Jian hun kim ciang Tu pak kim tertawa ringan.

"Tidak berani, tidak berani, oleh karena kulihat kau hanya berdiri kaku di sini  dan  kuatir  kau  disergap  orang,  maka  aku  datang me mber i peringatan untukmu" "Maksud baik anda biar kuterima di hati saja" jawab Ku See hong ketus dan dingin.

Mendadak Jian hun kim ciang Tu pak kim bertanya.

”Saudara Ku, apa kedatanganmu disebabkan benda mestika dari perguruam Hiat mo bun?'..

"Karena apa pula kau datang ke mari?" Ku See hong balik bertanya dengan ketus.

Jian hun kim ciang Tu pak kim segera tertawa tergelak. "Haaahhhh.... Haaahhh.... Haaaihhh, kalau begitu sama-sama,

sama-sa ma "

"Kalau toh kedatanganmu disebabkan benda mestika tersebut, dan kini se muanya sudah berada didepan mata, mengapa kalian belum juga turun tangan!?"

"Heehh...heeehhhh...heeehh, apa sih  salahnya me mbiarkan orang lain turun tangan lebih duluan? Bagaimana dengan kau?"

Tentu saja Ku See hong tahu kalau orang inipun dibikin keder oleh banyaknya mayat yang bergeletakan di atas tanah dan bagi orang ini tampa knya licin dan banyak akal, ilmu silatnyapun amat lihay, ia tak sudi me nyerempet bahaya demi orang lain.

Maka dengan suara me nyindir Ku See hong menjengek.

"Waaah, kalau begitu kau benar-benar berjiwa besar, Kalau aku? Hmm,  akan  ku  tunggu  sa mpai  se mua   orang  pada   ma mpus, ke mudian aku orang she Ku baru menjadi  nelayan  yang beruntung "

'Cuma pada akhirnya toh masih ada aku seorang akan saling berebut denganmu?'

Ku See hong menjengek dingin.

"Hmm, tak ada salahnya bagi aku orang she Ku  untuk menghabisi dirimu lebih dulu' Jian hun kim ciang Tu Pak kim segera tertawa dingin.

"Mana, mana, aku ingin sekali menyaks i-kan ke majuan yang berhasil kau capai dalam setahun ini, ingin kuketahui seberapa jauhkah ke majuan yang kau peroleh dalam ilmu silat mu sehingga sikapmu so mbong dan takabur..."

"Bagus sekali!" Ku See hong tertawa, "aku orang she Ku tak akan me mbuat kecewanya orang."

Sembari berkata, mendadak dia mengayunkan telapak tangannya me lancarkan sebuah pukulan, segulung angin tajam yang a mat dingin dengan cepat me luncur ke depan.

"Saudara Ku, tampa knya tenaga pukulanmu benar-benar sudah me mpero leh ke majuan yang pesat" jengek Jian hun kim ciang Tu Pak kim sa mbil tertawa dingin.

Dia pun mengebaskan ujung bajunya untuk me mbendung datangnya ancaman, diiringi benturan nyaring, pukulan dahsyat dari Ku See hong telah berhasil dipunahkan olehnya dengan mudah.

"Hmm, aku baru me ma kai tenaga sebesar tiga bagian saja, ayo sambutlah sebuah pukulanku sekali lagi!" jengek Ku See hong dengan suara amat sinis.

Sembari berkata, Ku See hong mengayunkan kembali telapak tangan kirinya dengan jurus serangan yang sa ma sekali tak berubah.

Mendadak terasa getaran yang amat keras, kemudian menyusul munculnya segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat menerjang ke depan.

Jian hun kim ciang Tu Pak kim tertawa seram.

"Heehh.. heehh.. heehh... pukulan inipun tak akan ma mpu berbuat apa-apa atas diriku"

Walaupun dia berkata de mikian, akan tetapi sepasang telapak tangannya  digetarkan   sebanyak   tiga   kali   sebelum   berhasil me munahkan tenaga pukulan tersebut. Ku See hong tertawa ringan.

"Seranganku barusan hanya menggunakan tenaga sebesar lima bagian saja, berikut ini akan kupakai tenaga sebesar delapan bagian dan kupaksa kau untuk mundur dengan se mpoyongan"

-ooodwooo-
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(