Dendam Sejagad Jilid 23

Jilid 23

“HEEEEHHH... heeehhh.... heeeehhh....  aku  Ciu  Heng  thian  me mang betul-betul bernasib baik, heeehhh... heeeehhh... setelah merasakan perawannya, sebentar akupun akan merasakan perawannya Him Ji im, heeeehh... heeeehhh...''

Tiba-tiba Im Yam cu mer intih lirih,  sepasang  matanya  dibuka ke mbali, mukanya semakin me mbara, napasnya tersengkal-sengkal dan sepasang payudaranya bergerar keras.

Menyaksikan hal itu, Pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa cabul, ejeknya:

"Sudah sa mpai waktunya lm Yan cu?"

Seraya berkata, Ciu Heng thian meletakkan pedang ular peraknya ke tanah, kemudian bersiap-siap me lepaskan pakaian yang dikenakan...

Im Yam cu merasakan napsu birahinya me muncak, suatu perasaan aneh menyelimut i seluruh tubuhnya me mbuat dia tak kuasa menahan diri, akhirnya dia mulai berkelejet,  makin  la ma makin keras dan tubuhnya ma kin la ma se makin gatal, saat itu kesadarannya masih utuh, hingga bisa dibayangkan betapa sedih, marah, benci dan denda mnya dia.

Mendadak.... Im Yan cu merasakan munculnya segulung hawa darah dari bawah perutnya yang menja lar ke e mpat anggota badannya, lalu peredaran darah dalam tubuhnya me mbara seperti dibakar api, jalan darahnya yabng tertotok segdera bebas kembaali, tapi dia tak sanggup menahan kobaran api birahi yang se makin menguasahi seluruh tubuhnya. .

Im Yan cu menggigit bibir kencang- kencang dengan kesadaran otaknya ia berusaha keras menahan dan me lawan kobaran api birahi, mendadak gadis itu menjer it keras ke mudian menerjang Ciu Heng thian dengan kalap, ke sepuluh jari tangannya dipentangkan lebar-lebar lalu menya mbar sepuluh jalan darah ke matian ditubuh Ciu Heng thian.

Menghadapi anca man tersebut, Ciu Heng thian tertawa terbahak- bahak, serta merta dia mengigos kesa mping, sementara tangan kirinya melepaskan sebuah sapuan cepat.

Kasihan lm  Yan  cu,  waktu  itu  api  birahinya  sudah  semakin me mbara, serangan yang dilancarkan secara tiba-tiba ke tubuh Ciu Heng thian tak lebih hanya berdasarkan kesadarannya yang masih ada serta usahanya mengendalikan diri dengan sekuat tenaga.

Akan tetapi serangan dari ke sepuluh jari tangannya kini sa ma sekali tak bertenaga, gerakannya pun sangat la mban, apa lagi termakan sapuan Ciu Heng thian, tak a mpun lagi seluruh tubuhnya bergoncang keras dan nyaris jatuh terjerembab ke atas tanah.

Im Yan cu berpekik sedih, seluruh tubuh nya menerjang dua kaki ke muka dan menumbuk ke atas sebatang pohon di hadapannya, gadis itu ingin me mbunuh diri dengan menerjang pohon, baginya lebih baik mati daripada kehor matannya direnggut orang.

kini Ciu Heng-thian sudah me lepaskan seluruh pakaian yang dikenakan, tapi ia tak mengira kalau kesadaran Im Yan-cu masih dapat bertahan begitu kuat, walaupun daya kerja obat perangsangnya sudah menyebar keseluruh badan, namun ia masih sanggup me mpertahankan diri dengan tangguh.....

Menyaksikan gadis itu menumbukkan kepalanya keatas pohon, untuk menyela matkan gadis itu tak se mpat lagi.

Tampaknya Im Yan-cu segera akan tewas dengan kepala remuk....

Mendadak, pada saat itulah dari tujuh delapan kaki dihadapannya berkumandang suara teriakan keras:

"Im moay, mengapa kau "

Berbareng dengan mengge manya suara tersebut, sebsosok bayangan manusia sudah muncul di sisi tubuh Im Yan cu, lalu sekali menya mbar, orang itu sudah me meluk tubuh si gadis kencang- kencang.

Mendengar suara teriakan yang sangat dikenal itu, buru-buru Im Yan cu mendo ngakkan kepalanya, sorot mata  yang penuh kepedihah, kemurungan tapi hangat dan penuh perasaan cinta nampak sedang menatap kearahnya lekat-lekat.

Im Yan cu segera berpekik sedih:

“Engkoh Hong, kaukah? Apakah kita telah bersua di alam baka

...."

Sudah jelas dia tak percaya kalau orang yang berada dihadapannya sekarang adalah Ku See hong, kekasihnya yang berada di ambang pintu ke matian dan malah mengira kepalanya sudah menumbuk di atas pohon dan tewas, hingga arwah mereka berdua ke mbali di alam baka.

Ternyata sepeninggal dari gedung yang sepi dan mengerikan itu, Ku See hong langsung berangkat ke ka marnya dipenginapan Yang tang, tapi ketika ia melo mpat masuk ke ruangan, walaupun cahaya lentera bersinar terang benderang, namun tak na mpak sesosok bayangan manusiapun, bahkan ia menyaksikan noda darah dimana- mana serta tanda bekas pertarungan.

Maka dengan perasaan cemas, pemuda itu mencari   jejak kanglam siang hou dan Im Yan cu, akan tetapi bayangan tubuh mereka tak dijumpai, ketika ia mencari keluar kota sebelaj timur inilah, dalam heningnya suasana pagi, mendadak pemuda itu menangkap suara tertawa cabul yang menggidikkan hati....

Tenaga dalam yang dimiliki Ku See hong sekarang telah mencapai pada puncak kese mpurnaan, pendengaran maupun keta- jaman matanya sangat luar biasa,  kendati pun  ada suara tertawa  lir ih yang bergema dari setengah li jauhnya ia  masih  bisa mendengar dengan jelas, apabila Ciu Heng-thian termasuk juga seorang yang bertenaga dalam se mpurna, tanpa disadari hawa murninya ikut terpancar lewat gelak tertawa cabulnya, itulah sebabnya suara tertawa mana telah tersiar ke tempat  yang lebih jauh lagi.

Mendadak Ku See-hong mendengar lagi suara jeritan ngeri dari seorang gadis, suara tersebut amat dikenal olehnya, me mbuat ia terperanjat dan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya menerjang kearah mana berasalnya suara tersebut.

Tatkala ia tiba di tempat tujuan, kebetulan Im Yan cu sedang bersiap-siap mela kukan bunuh diri.

Tak terlukiskan rasa kaget dan terperajat Ku See-hong, setelah menyaksikan sorot mata Im Yan cu yang merah  me mbara terpengaruh api birahi, buru-buru serunya:

"Adik Im, adik Im, kita mas ih hidup kau... kenapa kau ?

kenapa Kau ?"

Ku See hong adalah pe muda yang amat perasa, pada mulanya  dia me mang menaruh  kesan jelek terhadap Im Yan cu, tapi semenjak ia terkena pukulan Hoa kut jian hun im kang, lalu Im Yan cu merawatnya dengan penuh kasih sayang, selangkah pun tak pernah berpisah, kesemuanya itu mendatangkan perasaan baru baginya, bahkan diapun dapat merasakan pula keindahan dari sifat kewanitaan Im Yan-cu.

Tanpa disadari olehnya, timbullah rasa cintanya didalam hati.

Bisa dibayangkan, betapa pedih dan sakit hatinya setelah menyaksikan keadaan Im Yan cu sekarang.

Im Yan cu sendiri pun merasa sangat gembira setelah menyaksikan kekasihnya muncul didepan mata dalam keadaan  segar bugar, sambil berusaha menahan kobaran api birahi dalam hatinya, ia berpekik sedih:

"Oooh engkoh Hong, aku ge mbira sekali menyaks ikan kau dapat segar ke mbali, tapi aku .....aku telah diberi obat Im hwee si hun wan oleh bajingan itu '' Sejak muda Ku See hong sudah menge mbara didalam dunia persilatan, ia terlalu banyak mendengar kisah-kisah aneh dalam dunia persilatan, tak terlukiskan rasa kaget dan tercekat hatinya setelah mendengar ucapan tersebut, segera teriaknya pedih.

"Adik Im, kau sudah menelan Im hwee si hun wan..."

Im Yan cu tidak me mpunyai pengetahuan yang mendalam tentang obat perangsang tersebut, apa yang pernah diterangkan Ciu Heng thian kepadanya pun tidak begitu dipercayai olehnya, setelah api birahi me mbakar seluruh tubuhnya, ia baru merasakan keadaan tak beres.

Maka ia benar-benar putus asa setelah mendengar teriakan Ku See hong sekarang.

Walaupun de mikian ia toh bersyukur juga sebab akhirnya ia dapat mempersembahkan kesuciannya yang paling berharga untuk pemuda ida man hatinya, diapun bersyukur kehor matannya tak sampai lenyap ditangan bajingan cabul, sekalipun setelah menikmat i tiga kali sorga dunia ia harus mati.

Semuanya itu akan diterima dengan rela.

oooodwoooo

API birahi yang me mba kar seluruh tubuhnya, me maksa Im Yan cu berusaha keras untuk mempertahankan kesadarannya, dengan tersengkal-sengkal dia berkata:

"Engkoh Hong, bunuh bajingan itu, jangan perdulikan mati hidupku lagi "

Dalam pada itu, pedang ular perak C iu Heng-thian mas ih berdiri tertegun seperti patung kayu semenjak menyaksikan  ke munculan Ku See hong yang mendada k, ia benar-benar kelewatan terkejut bercampur ngeri. Semala m, dengan mata kepala sendiri ia saksikan Ku See-hong masih tergeletak ditanah dalam keadaan sekarat, ajal sudah berada di a mbang pintunya tapi kini pe muda itu muncul dalam keadaan segar bahkan na mpak lebih  perkasa dari pada keadaan dulu, bayangkan saja sampai di manakah rasa terperanjatnya waktu itu.

Dengan air mata bercucuran Ku See hong berkata parau:

"Adik Im, bersabarlah untuk se mentara waktu, segera akan kubunuh bajingan itu, ke mudian akan  kucarikan  akal  untuk menye mbuhkan keadaanmu itu, bersabarlah dulu"

Pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa seram, suara tertawanya melengking aneh tak sedap didengar, tiba-tiba ia menimbrung:

“Orang she Ku, kau me mang sangat hebat, berulang kali berhasil lolos dari mara bahaya, heeeehh ...heeehh... heeeehh.. tapi hari ini, hmmmm, Jangan harap kau bisa lolos lagi dari cengkeraman aku orang she Ciu.”

Im Yan cu a mat terperanjat sesudah mendengar perkataan itu, dia tahu ilmu silat yang dimiliki penjahat muda itu sangat lihay, senggupkah engkoh Hongnya menangkan dia?

Kendatipun dalam berapa bulan belakangan ini dia sering mendengar tindak kepahlawan dari Ku See hong namun belum pernah menyaksikan kelihayan ilmu silatnya dengan mata kepala sendiri.

Malah berapa bulan berselang, Ku See hong mas ih kalah di tangannya, mungkinkah sela ma berapa bulan yang a mat singkat ini kepandaian silatnya telah peroleh ke majuan yang sangat pesat?

"Engkoh Hong, sanggupkah kau... untuk.. untuk mengungguli dia?" seru Im Yan cu ce mas.

Ku See-hong terharu sekali oleh ucapan tersebut, dia sendiri masih bergelut dengan maut, tapi gadis itu tak pernah melupa kan keselamatan jiwanya, cinta kasih sedalam ini benar-benar tak terlukiskan dengan kata- kata... "Tak usah kuatir adik Im" bisik Ku See hong ke mudian pelan, "dia pernah keok ditanganku..."

"Engkoh Hong, hati-hati dengan tipu mus lihatnya, aku..."

Belum habis si nona itu berbicara, Ciu Heng thian telah menukas dengan gelak tertawanya yang menger ikan:

"Heeeehhh ... heeeehhh.... heeehhh, tak usah mengibul dulu orang she Ku, siapa yang bakal ma mpus masih sukar ditentukan sekarang.

Walaupun suaranya masih keras, akan tetapi nada pembicaraannya, sudah demikian le mah dan tak me nentu.

Rupanya Ciu Heng thian sedang dicekam perasaan kaget dan terkesiap pada saat itu, karena dalam pertarungannya melawan Im Yan cu tadi, ia telah merasakan luka dalam yang cukup parah.

Sampa i dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Ku See hong, ia pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri,  itu  berarti saat ini dia sudah bukan tandingan nya lagi.

Untuk menghadapi keadaan tersebut, dia lantas berencana untuk mence lakainya dengan obat pe mabuk, siapa tahu lagi-lagi busahanya digagadlkan oleh Im Yaan cu.

Mencoronbg sinar tajam yang menggidikkan hati dari balik mata Ku See hong, ia mendengus dingin dengan suara sinis, ke mudian katanya menyeramkan:

"Ciu Heng thian, hari ini kau sudah di takdirkan untuk ma mpus."

Kemudian    seolah-o lah    mala ikat     elmaut     yang     telah me mpers iapkan cengkeraman ma utnya, selangkah demi selangkah ia mendekati Ciu Heng thian.

Sorot matanya yang berapi-api penuh pancaran hawa marah dan napsu me mbunuh, menatap tajam wajah Ciu Heng thian tanpa berkedip, diimbangi raut wajahnya yang dingin menggidikkan, keadaan si anak muda itu sekarang betul-betul mengerikan. Betapapun sombong dan tekeburnya Ciu Heng thian, tak urung hatinya merasa ngeri juga hingga bulu kuduknya pada bangun berdiri, dengan langkah yang gemetar mengikuti gerak maju Ku See hong, selangkah demi selangkah dia mundur terus ke belakang...

“Orang she Ciu" jengek Ku See hong dengan sinis, "Kini kau dapat merasakan bagaimana rasanya menghadapi maut, haahhh... haaaahhh... .

Anak muda itu mendonga kkan kepalanya dan me mperdengarkan suara gelak tertawanya yang me mekikkan telinga ......

Suara tertawanya keras seperti pekikan setan, seperti juga jeritan beribu-ribu ekor monyet, keras, tajam, amat me me kikkan telinga ....

Dalam gelak tertawa itu terdengar penuh hawa kesedihan yang sangat tebal .....

Tapi seperti juga hawa sesat yang membumbung ke  angkasa,  me mbuat sua-sana berta mbah menyera mkan.

Tiba-tiba suara tertawa itu berhenti....

Secepat sambaran kilat sepasang telapak tangan Ku See hong telah melepaskan serangkaian pukulan berantai....

Dua gulung angin puyuh yang sangat deras dengan diiringi desingan suara yang tajam seperti ombak besar yang menggulung di tengah sa mudra, meluncur dan menyapu tiada hentinya.

Kekuatan itu sangat dahsyat melebihi kekuatan biasa, selain datang beriring, munculnya pun dari suatu sudut posisi yang aneh, tepat dan tetap menggulung ke tubuh Ciu Heng thian.

Tak terkirakan rasa kaget Ciu Heng thian menghadapi serangan tersebut, sebab kekuatan serangan dari Ku See hong sekarang berapa kali lipat lebih dahsyat dari pada keadaan se mula, dimana angin serangan menyambar lewat, seketika itu juga Ciu Heng thian merasakan datangnya tekanan hawa panas yang dahsyat dari sekeliling tubuhnya dam menggencetnya keras-keras, me mbuat napas nya menjadi a mat sesak. Angin pukulan yang dilepaskan Ku See hong me ma ng sangat aneh, serangan itu muncul dan menggencet dari e mpat arah delapan penjuru, hebatnya bukan alang kepalang.

Ciu Heng thian tak berani menyambut serangan tesebut dengan kekerasan, cepat-cepat dia berputar kencang.

Didalam perputaran itu, sepasang telapak tangannya melepaskan pula serentetan angin pukulan yang le mbut. me mbuat seluruh tubuhnya  berubah  seakan-akan  sebatang  anak   panah   yang  me luncur keluar secepat sambaran kilat.

Ku See hong berkerut kening, sambil me mbentak keras tubuhnya ikut mela mbung ke udara, ditengah angkasa mendadak sepasang telapak tangannya diayunkan kedepan dan segulung angin pukulan yang dingin dan kuat dengan me mbawa hawa pukulan dahsyat langsung menyapu ke depan.

Waktu itu Ciu Heng thian mas ih berada di udara, merasakan datangnya angin pukulan yang mengejar ke arahnya, ia tak berpikir panjang, sepasang kakinya mendadak berputar lalu  bagaikan sebuah tong bulat menggelinding cepat ditanah.

Disaat sepasang kakinya baru saja mene mpe l di atas tanah, 'Sereeet!" pada saat yang hampir bersa maan pula Ku See hong telah melayang turun pula ketanah.

Rasa terperanjat Ciu Heng thian saat ini benar-benar me mbuat nyalinya rontok, seluruh semangat untuk berte mpurnya kontan tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Sementara itu, Im Yan cu sedang mer intih kesakitan, akan tetapi sewaktu sepasang matanya yang merah me mbara dapat melihat betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki Ku See hong, ia menjadi gembira sekali, rasa kuatirpun segera lenyap tak berbekas.

Ku See hong sendiri mau tak mau harus mengagumi juga kelihayan ilmu silat lawannya setelah secara beruntun dua kali Ciu Heng Thian berhasil me loloskan diri dari ancamannya, kini paras mukanya berubah semakin mendingin, bentakan keras menggelegar me mecahkan keheningan.

Sepasang telapak tangannya di dorong sejajar dada, diantara getaran yang sangat aneh, dua gulung angin pukulan yang dasyat bagaikan ambruknya bukit karang, secara ganas  dan dahsyat menghanta m tubuh Ciu Heng thian..

Ku See hong bertekad untuk membinasa-kan musuhnya dalam ujung telapak tangannya, makanya setiap serangan yang dilepaskan hampir se muanya disertai tenaga pukulan yang ganas, dahsyat dan menger ikan.

Ngeri juga perasaan Ciu Heng thian setelah dilihatnya serangan lawan kian la ma kian bertambah dahsyat, ia sadar andaikata salah satu diantara pukulan tersebut sampai menyerempet tubuhnya, sudah dapat dipastikan ia bakal terluka parah.

Cepat-cepat tubuhnya berputar kencang, kemudian berkelit kesamping .....

Tatkala Ku  See  hong  me lepaskan  serangannya  barusan,  dia me mperhitungkan ke arah manakah musuhnya akan menghindar, maka setelah menyaksikan keadaan tersebut, gerakan serangannya segera diubah dengan cepat.

Kaki kirinya berputar kencang, lengan kanannya digetarkan sementara telapak tangan kirinya disodok ke depan, hawa tekanan disekeliling arena segera bertambah hebat, gulungan angin pukulan selapis demi selapis berputar tiada hentinya, langsung menggulung tubuh Ciu Heng thian.

Sama sekali tak terduga oleh Ciu Heng thian kalau musuhnya dapat merubah gaya serangan secepat itu, dalam keadaan demikian dia benar-benar dipaksa untuk menya mbut serangan lawan dengan kekerasan.

Dalam keadaan apa boleh buat, bbersamaan dengadn gerak menghinadarnya tadi, habwa sakti tay ih kun goan khikang segera  di himpun mengelilingi seluruh tubuhnya. ”Hiaaatt..!'' bentakan nyaring me mbelah angkasa.

Dengan cepat telapak tangan  kirinya  berputar  satu  lingkaran, ke mudian, "Wees” segulung angin puyuh yang a mat dahsya.t menya mbar ke muka.

Sedangkan telapak tangan kanannya pun melepaskan serangkaian pukulan secara aneh.

Beberapa puluh gulung  hawa pukulan lembut dengan cepat menya mbar pula ke depan.

Dalam satu jurus dengan dua gerakan yang berbeda, semuanya dilakukan dengan manis dan sakti.

Mendadak. ...bergema suara benturan nyaring yang menggetarkan seluruh permukaan tanah.

Menyusul kemudian... ''Blaammm, blaamm blaamm....." terjadi serentetan ledakan yang beruntun.

Hawa sakti berputar kencang lalu menyebar ke e mpat penjuru, angin puyuh dahsyat yang menyesakkan napas menyelimuti seluruh angkasa yang kosong dan bergetar tiada hentinya.

Sesudah itu" “plaaak, plaak, plaaak.... plaaak.." kembali berkumandang suara ledakan-ledakan nyaring.

Tersapu oleh hawa sakti yang menyebar ke e mpat penjuru, batang batang pohon di sekeliling tempat itu jadi tersa mbar hingga patah dan bertumbangan ke atas tanah.

Dalam bentokan tersebut, Ku See Hong hanya merasakan dadanya bergetar keras, lalu tubuhnya terdorong mundur  sejauh dua langkah dari posisi se mula.

Sebaliknya Ciu Heng thian tersapu oleh kekuatan itu hingga tubuhnya mencelat tiga kaki lebih, "Uuaak...Uaak ....!" Berturut- turut dia muntah darah dua kali, dadanya berombak dan naik turun amat kencang, wajahnya pucat pias, wajahnya menyeringai seram, kulit wajahnya mengejang keras menahan penderitaan yang hebat. Ku See Hong menyeringai seram, sa mbil tertawa dingin t iada hentinya selangkah demi selangkah dia berjalan mende kati  Ciu Heng thian.

Mencorong sinar buas yang penuh kebencian dari balik mata Ciu Heng thian, rasa benci dan mendendam yang hebat membuat wajahnya kelihatan berta mbah mengerikan.

Mendadak Ku Seng hong mengangkat ke mbali telapak tangannya yang tak berperasann itu dan "Weess, Weess...!" dua gulung angin pukulan telah dilepaskan.

Dua gulung angin yang maha dahsyat bagaikan amukan o mbak ditengah samudra langsung meluncur dan me mbabat semua benda yang dijumpainya.

Bersamaan waktunya yang dilepaskannya ke dua buah pukulan tadi, "Cring..!"

Cahaya tajam disertai bunyi ge mer incing me mecahkan keheningan.

Tahu-tahu Ciu Heng thian telah meloloskan pedang ular peraknya lalu diantara ayunan senjatanya yang kuat, selapis cahaya keperak- perakan yang tebal menyelimut i seluruh angkasa.

Dengan begitu, angin pukulan yang dilepaskan oleh Ku See hong pun segera me mbentur diatas kabut pedangnya..

Blaa m! Blaaam! Blaaam! beruntun terjadi lagi suara ledakan berantai yang me me kikkan telinga.

Hawa pukulan yang dilepaskan oleh Ku See hong ternyata lenyap tak berbekas ketika me mbentur di atas kabut pedangnya yang sangat aneh itu.

Ciu Heng thian t idak bertindak sa mpa i di situ saja, pedang peraknya segera dibalik sa mbil berputar kencang, cahayanya berkilauan me mancar ke mana- mana, dua gulung hawa pedang disertai suara desingan tajam me lancur keluar dari bayangan pedang dan menyambar tubuh Ku See hong ..... Gerakan yang cepat, serangan yang tepat pada hakekatnya jarang dite mui dalam dunia persilatan.

Ku Se hong yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi a mat terkesiap, ia tak menyangka dalam keadaan luka parah, musuhnya masih sanggup menciptakan hawa pedang untuk melindungi diri, dari sini bisa disimpulkan bahwa kese mpurnaan tenaga  dalamnya me mang sangat mengagumkan....

Ku See hong tak berani berayal, sepasang telapak tangannya bekerja keras, dalam waktu yang amat singkat itu secara beruntun dia telah melancar kan lagi enam buah pukulan berantai menyusul itu badannya berkelit ke sa mping,

"Sreeet! Sreet!r" dua gulung hatwa pedang menemqbusi angin pukurlan yang dilepaskan Ku See hong dan menerjang batang pohon siong yang tumbuh dua kaki dibelakangnya.

Seketika itu juga pohon tersebut tersambar hingga muncul dua buah lubang besar, rupanya hawa pedang yang dipancarkan oleh Ciu Heng thian itu telah me mperguna kan segenap hawa murni yang dimilikinya, hebatnya bukan kepalang, dalam anggapannya Ku See hong yang sombo ng pasti akan menyongsong serangan tersebut dengan kekerasan, sungguh tak disangka pihak lawan justru berkelit ke sa mping.

Menyaksikan ke dua gulung hawa pedang menyerempet dari sisi tubuhnya, diam-dia m Ku See hong berpekik:

"Syukur aku lolos!"

Saking kagetnya   peluh   dingin   sa mpai   jatuh   bercucuran me mbasahi seluruh tubuhnya.

Ciu Heng thian telah menghimpun segenap kekuatannya untuk me lepaskan dua gulung hawa pedang itu, dalam keadaan begini ia sama sekali tak berkese mpatan lagi untuk menyisakan kekuatan untuk me lindungi diri.

Begitu hawa pedang mene mbus i angin pukulan, segulung angin puyuh yang maha dahsyat segera menindih ke atas, menanti dia hendak me mutar pedangnya untuk mencegah, keadaan sudah terlambat.

Serentetan jeritan ngeri yang me milukan  hati  berkumandang me mecahkan keheningan.

Seluruh badan Ciu Heng thian bagaikan layang-layang  yang putus benangnya terpental sejauh empat kaki dari posisi se mula dan jatuh terduduk di atas tanah, secara beruntun dia  muntah  darah tiga kali, paras mukanya berubah se ma kin mengerikan.

Secepat sambaran petir Ku See hong menerjang ke muka, sepasang telapak tangannya diangkat bersa ma ke udara, tampaknya dia hendak menghajarnya sampa i ma mpus.

Mendadak suara gelak tawa keras yang menusuk pendengaran bergema me menuhi angkasa.

Didalam keadaan yang kritis, Ciu Heng thian menjejakkan sepasang kakinya ke tanah, pedang ular perak berputar, menciptakan kabut cahaya bagaikan bukit, lapis demi lapis bagaikan amukan o mbak ditengah sungai, menggulung dan me nerjang tubuh Ku See hong tiada habisnya.

Tindakan yang licik dan jahat ini sungguh diluar  dugaan siapapun...

Jurus pedang itu selain aneh sakti, pun mendatangkan suatu kekuatan yang me mbuat orang jadi bingung.

Yang satu menubruk, yang lain menyongsong, kedua belah pihak sama-sa ma bergerak dengan kecepatan luar biasa, tampaknya tubuh Ku See hong segera akan membentur bayangan pedang yang berlapis-lapis bagaikan bukit itu.

Ku See hong me ma ng seorang pe muda yang berkepandaian tinggi, disaat yang amat kritis itulah mendadak sepasang telapak tangannya diayunkan ke muka dengan kekuatan hebat.

"Blaammm !'' suatu ledakan  dahsyat  kembali  berkumandang me mecahkan keheningan. Terma kan oleh hawa pukulan yang amat tajam dari Ku See hong itu, sebuah liang sedalam tiga depa segera muncul diatas permukaan tanah, diantara pasir dan debu yang beterbangan di angkasa, tubuh Ku See hong me la mbung setinggi tujuh kaki ke udara.

Dalam me lancarkan serangannya tadi sebetulnya Ciu Heng thian me mpunyai dua maksud jahat, pertama dia hendak me mbunuh lawan secara mendadak, dan ke dua dia ingin mengguna kan kesempatan tersebut untuk melarikan diri, sebab waktu itu sekujur badannya sudah penuh dengan luka sedang jurus serangan yang dipakai sekarang pun mer upakan jurus a mpuh terakhir yang dimilikinya.

Oleh sebab itu disaat sepasang telapak tangan Ku See hong menghanta m pe mukaan tanah tadi, mendadak Ciu Heng thian menarik ke mba li pedang ular peraknya, kemudian bagaikan segulung asap dia langsung kabur ke arah dalam hutan.

Waktu itu tubuh Ku See hong masih berada ditengah  udara, ketika dilihatnya Ciu Heng thian hendak melar ikan diri, mendada k dia berpekik nyaring, suaranya keras bagaikan pekikan naga sakti yang me mbumbung ke udara dan me mancar ke e mpat penjuru.

Seluruh hutan tersebut seakan-akan di sapu  oleh  hembusan angin puyuh, dengan cepat menimbulkan suasana yang  amat menger ikan.

Pekikan itu ma kin la ma se makin me ninggi, kini nadanya begitu me medihkan, begitu mendenda m dan hawa seram menyelimut i suasana.

Baru saja pekikan itu berkumandang, Ku See hong telah berjumpa litan di tengah udara, bagaikan seekor burung raksasa, dia me lakukan pengejaran ke muka

Tubuhnya meluncur ke ujung dahan pohon setelah berputar tiga kali diudara, badan nya segera meluncur kebawah dan menya mbar ke atas batok kepala Ciu Heng thian. Pekikan nyaring yang menusuk pendengaran ke mbali berge ma me mecshkan keheningan.

"Criinggg !" suara gemerincing nyaring me mbe lah angkasa.

Kini Ku See hong telah mencabut keluar pedang mest ikannya yang me mancarkan cahaya tajam, pedang sakti Hu thian seng kia m.

Pada saat pedang Hu thian seng kiam di lolosksn dari sarungnya inilah, tubuh  Ku  See  hong  seperti  seekor  rajawali  raksasa menya mbar ke bawah dengan cepat, ujung bajunya berkibar-kibar terhembus angin, kecepatannya sungguh me mbuat orang merasa bergidik.

Selapis cahaya tajam yang amat menyilaukan mata me mancar keluar dari pedang Hu thian seng kiam ditangan Ku See hong, cahaya itu seperti bianglala yang me mbelah angkasa, menerjang ke muka tiada habisnya bagaikan o mbak berkejaran disungai.

Mimpi pun Ciu Heng thian tak pernah menyangka kalau tenaga dalam yang dimiliki Ku See hong dapat me mperoleh ke majuan yang begini pesat, hanya didalam puluhan hari saja.

Menanti dia sadar akan bahaya yang mengancam, selapis cahaya merah yang menyilaukan mata, dengan me mbawa hawa pedang yang dingin dan tajam telah meluncur tiba didepan mata.

Justru pedang yang maha sakti dan mengerikan hati itu sangat dikenal olehnya, tempo  hari didalam jurus serangan inilah dia hampir saja ma mpus, jurus serangan itu dikenal olehnya sebagai jurus Hui hong cha ki hiat seng wi (bianglala muncul bau a misnya darah me mancar), suatu jurus tangguh dari ilmu pedang Cong ciong ciat mia kiam si.

Dalam kejut dan ngerinya, cepat-cepat dia me mutar pedang ular peraknya sambil menyurut mundur. cahaya pedang yang berlapis- lapis melingkar di depan badan dan berputar kekiri mengikut i gerakan tubuhnya.

Tatkala cahaya pedang Ku See tong sudah hampir menyentuh diatas tubuhnya.... Tiba-tiba Im Yan cu yang berada berapa kaki  dari arena pertarungan   me mperdengarkan   suara   tertawa   yang    tinggi me lengking seperti suara tertawa orang gila.

Pikiran dan perhatian Ku See gong segera bercabang, sedang gerakan pedang Hu thian seng kia mnya  pun turut  menjadi agak  la mban ......

Meski begitu, Jeritan ngeri yang me milukan hati toh berge ma juga me menuhi angkasa.

Ditengah percikan darah segar, yang me mancar ke mana- mana, lengan kiri Ciu Heng thian sebatas bahu telah terpapas oleh batang pedang Ku See hong hingga terpotong-potong menjadi  tujuh delapan bagian.

Sekujur badan Ciu Heng thian ge metar amat keras, wajahnya yang sudah mengeri-kan, kini me mancar kan sinar kebuasan, benci, dendam dan perasaan lain yang berca mpur aduk.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia segera me mbalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit.

Ku See hong tidak berniat mela kukan pengejaran, cahaya berkilauan yang me mancarkan keluar dari pedang Hu thian seng kiam pun segera menjadi sirap ke mba li.

Tubuhnya berputar dengan cepat, ia saksikan Im Yan cu dengan rambut yang terurai kalut, pakaian yang terbuka dan keadaan yang menger ikan sedang berlarian mende kat, kemudian menubruk ke tubuhnya.

Tak terkirakan rasa sedih dan sakit hati Ku See hong setelah menyaksikan keadaan gadis itu, bibirnya yang berdarah, matanya yang merah me mbara, sungguh me mbuat orang merasa seram.

Diiringi jeritan lengking yang sangat keras gadis itu me meluknya lalu merangkul dengan penuh napsu.

Kiranya waktu Ku See hong sedang bertarung sengit tadi, daya kerja Im hwee si hun wan yang bersarang dalam tubuh Im Yan cu telah mulai bereaksi, api birahi bagaikan gelo mbang sa mudra, segulung demi segulung menerjang datang tiada hentinya, semakin la ma se makin menghebat dan makin la ma se makin dahsyat.

Untuk menguasai kobaran api birahi tersebut, gadis itu seperti menggigit  lidahnya  keras-keras  untuk   tetap   berusaha mengenda likan kesadaran otaknya, namun racun obat itu kelewat hebat, akhirnya kesadaran tak dapat dikendalikan lagi, hampir saja jadi gila.

Berada dalam pelukan Ku See hong Im Yan cu tersengkal-sengkal tiada hentinya, mendadak ia mengangkat kepalanya, sorot mata  yang merah berapi karena kobaran api birahi me mancarkan suatu permohonan yang amat besar, ia menatap wajah Ku See  hong  tanpa berkedip.

Ku See hong sadar, pil Im hwee sin hun wan merupa kan obat perangsang paling jahat di dunia ini, tentu saja diapun mengetahui apa arti dari sinar per mohonan yang di pancarkan lewat sorot mata Im Yan cu.

Tapi, bila hal itu dibiarkan berke mbang lebih jauh, ma ka darah yang mengalir dalam tubuh gadis itu pasti akan terpengaruh oleh api birahi sehingga me ndidih, dimana pada akhirnya nadi akan pecah dan menyebabkan ke matian yang tragis untuk dara tersebut. 

Sebaliknya bila dia me muaskan kobaran napsu birahinya, tiga kali ke mudian setelah hubungan seks berlangsung, gadis itu akan kehabisan hawa Im khinya yang ber akibat ke matian juga.

Meski hubungan yang akan berlangsung sekarang baru untuk pertama kalinya, akan tetapi kerugian dalam hal hawa Im goan nya sudah pasti tak dapat dihindari.

Ketika hubungan seks yang perta ma kalinya berakhir, sebagian dari kepandaian silat gadis itu akan punah.

Hubungan seks ke dua selesai berlangsung, segenap ilmu silat yang dimilikinya akan punah. Bila Hubungan seks yang ke tiga selesai dilangsungkan dia akan kehabisan sumsum dan tewas.

"Aaaai... berada dalam keadaan demikian, bagaimana  mungkin dia tega untuk melakukan perbuatan tersebut?.”

Me mbayangkan untung ruginya, tanpa terasa air mata jatuh bercucuran me mbasahi wajah Ku See hong. setelah menghe la napas sedih katanya:

"Adik Im, tak bisakah kau untuk mengendalikan diri sebentar lagi?"

Waktu itu, didalam benak Im Yan Cu hanya terpengaruh oleh dorongan napsu birahi, boleh dibilang kesadaran otaknya sudah hampir punah tak berbekas, dengan penuh penderitaan dia merintih lalu me nggelengkan kepalanya berulang kali.

"Adik Im" ke mba li Ku See hong berkata dengan sedih. ''tahukah kau bila keadaan seperti ini berlangsung terus, kau bisa  musnah. Aku tak tega.... Aku tak tega "

"Engkoh Hong, kau tak usah me mikir kan aku lagi" pekik Im Yan cu sa mbil mer intih dan menangis, "kau ..... cepatlah sedikit.. aku...

aku benar-benar tak tahan "

Sepenuh tenaga Ku See hong me me luk tubuhnya, sementara air mata bercucuran amat deras, sakit hati dan penderitaan yang di alaminya sekararg betul-betul tak terlukiskan dengan kata-kata.

Mendadak Im Yan cu me mperdengarkan lagi suara tertawa cabul yang mengerikan, mendadak sepasang lengannya yang kuat seperti jepitan baja me meluk tubuh Ku See hong se makin kencang.

Ku See hong tahu, sisa kesadaran yang terus dipertahankan sedari tadi, kini sudah terbakar punah oleh kobaran api birahi yeng amat luar biasa, dia me nghela napas panjang.

"Aaai, sudah, sudahlah, tampaknya aku Ku See hong sudah ditakdirkan untuk hidup menderita seorang diri " Sekarang Im Yan cu sudah dipengaruhi oleh aliran hawa napsu yang menyusup ke seluruh bagian tubuhnya dan memunahkan satu- satunya kesadaran yang ada, dikala kecerdasan dan kesadaran sudah punah, maka yang berkuasa kini tinggal napsu birahi, ha mpir gila gadis itu jadinya.

Dia mulai meraung-raung dengan suara rendah.

Ia sudah tidak me mperdulikan harga dirinya sebagai seorang gadis lagi, dia tak tahu apa artinya malu.

Sekarang, dia hanya tahu membutuhkan kepuasan seks baginya, me mbutuhkan  kepuasan  untuk   menghilangkan   siksaan   yang me mbara didalam tubuhnya.

Sepasang tangan Im Yan cu sudah mulai meraba tak sopan, tangannya mulai me nggerayangi sekujur badan anak muda tersebut....

"Adik Im, kita tak boleh me lakukannya disini" akhirnya Ku See hong berbisik lirih.

Pada hakekatnya Im Yan cu sudah tidak mendengar ucapan dari Ku See hong lagi, dia hanya tertawa jalang tiada hentinya.

Suara tertawanya tak berbeda jauh dengan suara tertawa perempuan-pere mpuan nakal, begitu ja lang, begitu genit dan mendirikan bulu ro ma.

Manusia biasa baik atau buruk, se muanya tergantung pada kesadaran seseorang dalam berpikir, bila kesadaran orang itu sudah punah, maka semua perbuatan yang mereka lakukan  hanya berdasarkan dorongan napsu birahi, tak bisa membedakan  lagi mana yang baik dan mana yang cabul.

Olen sebab itu, kawanan manus ia laknat yang keji dan ber moral rendah boleh di bilang ma nusia- manus ia yang tak berakal budi lagi, mereka tak jauh berbeda dengan kawanan makhluk yang disebut hewan. Melihat persoalannya telah berkembang menjadi begini,  tentu saja Ku See hong di desak untuk me milih jalan yang paling punya harapan, kalau tidak bila dibiarkan berapa saat lagi, niscaya gadis  itu akan pecah nadi-nadinya dan tewas.

Dipeluknya tubuh gadis itu, lalu berjalan menuju ke tengah hutan yang lebat di depan sana, ketika tiba di sebuah tanah berumput ia tak berani  me mbuang  waktu  lagi,   tangannya   dengan   cepat me lepaskan pakaian yang dikenakan gadis itu...

Im Yan cu berulang kali me mperdengarkan suara tertawa jalangnya yang melengking, sepasang tangannya yang putih dan halus mulai me lakukan gerakan-gerakan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Dalam waktu singkat, tubuhnya yang putih dan halus sudah muncul dalam keadaan bugil. . .

Dia mulai mela kukan gerakan-gerakan erotik yang menyeramkan, sekujur tubuhnya ge metar keras, dari sini bisa dibayangkan sa mpa i dimanakah dahsyatnya api birahi yang sedang membakar dalam tubuhnya.

Mula- mula yang terlihat lebih dahulu adalah sepasang payudaranya yang besar dan mo ntok.

Ia berbaring dengan kepala menghadap ke atas, rambutnya yang panjang dan hitam terurai di atas tanah berumput yang lembut.

Dengan termangu- mangu Ku See-hong me mperhatikan sekejap tubuh si nona yang bugil tapi indah itu, la ma-la ma ke mudian. . .

Berbicara sejujurnya, entah dia atau gadis itu, sekalipun berada dalam keadaan sadar, bila kedua belah pihak sudah berada dalam puncak birahi, tanpa bisa dicegah mereka akan tetap me lakukan hubungan tersebut, apalagi dalam keadaan seperti sekarang.

Ku See-hong menghela napas sedih, seluruh tubuhnya mulai. . .

Dunia serasa bergoncang, jagad bagaikan berputar, selanjutnya berlangsunglah suatu adegan yang syahdu yang menggairahkan. . . Ketika cahaya matahari yang panas menembusi dedaunan yang rimbun dan menyoroti tubuh mereka, nampak sepasang muda mudi yang berada dalam keadaan bugil itu telah bersatu menjadi satu tubuh. . .

Keadaan Im Yan cu ibarat seekor ikan leihi yang terkena terpancing, dia bergoyang melo mpat, bergeser dan bergaya tiada hentinya.

Suara tertawa yang melengkingpun berkumandang mengimbangi setiap gerakan yang dilakukan.

Ku See-hong  mulai  terengah-engah,  seluruh  tubuhnya  telah me lakukan gerakan purbakala yang tidak beraturan, naik, turun, bergeser ke kiri, bergeser ke kanan. . .

Namun sekarang, ia tidak merasakan kenikmatan, malah sebaliknya a mat menderita.

Tiap kali berkumandang suara tertawa jalang yang setengah menggila itu, Ku See-hong merasakan hatinrya bagaikan ditembus i oleh serentetan anak panah yang tajam.

Hatinya terluka dan mulai mengucurkan darah kental.

Air mata telah jatuh bercucuran, meleleh dan menetes di atas badan Im Yan cu.

Sebaliknya Im Yan cu merasakan kege mbiraan dan kenikmatan yang luar biasa, dia seperti lupa kalau hubungan  yang dilangsungkan sekarang adalah hubungan yang pertama kali dilakukan, dia seperti sudah melupa kan rasa sakitnya ketika selaput daranya pecah dan berdarah.

Bila sepasang lelaki perempuan melangsungkan perma inan cinta seperti ini, maka yang dicari pada umumnya adalah kepuasan dan kegembiraan, tapi perasaan mereka berdua justru saling berlawanan, yang seorang menderita sedang yang lain merasa gembira. Ku See-hong telah lemas dan kehabisan tenaga, namun  Im Yan cu yang masih dipengaruhi oleh napsu birahi, tetap menggerakkan tubuhnya seperti orang kalap.

Akhirnya. . . ia berhasil juga mencapai puncak kepuasannya, kobaran napsu birahi yang me mbara dalam dadanya seakan-akan telah meletus dan me mbuyar. . .

Padahal, setiap detik dia merasakan kege mbiraan dan kenikmatan, berarti usianya diperpendek beberapa tahun.

Dikala kepuasan telah tercapai, berarti mala ikat elmaut sudah semakin mendekati dirinya.

Tengah hari sudah lewat, kini napsu birahi yang me mba kar dalam tubuh Im Yan cu sudah pudar, kesadaran serta akal budinya telah pulih ke mba li, na mun gadis itu kelewat le mas, kelewat le lah dan kehilangan banyak tenaga, hampir saja ia terlelap tidur.

"Adik Im, adik Im!" Ku See-hong segera berteriak keras-keras.

Air mata bercucuran me mbasahi wajah Im Yan cu, pekiknya pedih:

"Engkoh Hong. . ."

Kata-kata selanjutnya tak mampu dilanjutkan lagi, tenggorokannya seperti tersumbat oleh kepedihan hatinya.

"Adik Im, kau tak usah sedih" bisik Ku See hong, "dalam dua hari mendatang  aku  pasti  akan  mencarikan   obat   mujarab  untuk me munahkan racun yang mengera m dalam tubuhmu"

“Engkoh Hong, tidak menjadi soal kalau aku harus mati"  sahut  Im Yan cu sedih, ''walaupun aku hanya dapat berkumpul denganmu dalam waktu singkat, namun aku merasa puas sekali, apalagi kalau aku bisa me mperoleh cinta mu yang murni "

''Adik Im, kau pasti akan tertolong, kau tak usah memikirkan hal- hal seperti itu, jangan kelewat cepat putus asa." Dari ucapan sang pemuda yang begitu me medihkan hati, Im Yan cu sudah tahu kalau t iada harapan hidup lagi baginya, setiap orang yang sedang menghadapi ke matian, hatinya tentu akan merasa sedih dan kosong, kecuali bila orang itu rela mengor bankan diri.

Begitu juga keadaan Im Yan cu sekarang menghadapi keputusan asaan, tanpa terasa dia menangis dengan  sedih,  suaranya begitu me milukan hati me mbuat siapa pun akan turut bersedih hati bila mendengarnya.

Dengan sinar mata yang me mancarkan kele mbutan, dia menatap wajah Ku See hong lekat-lekat, seakan-akan dalam waktu  yang amat singkat itu dia ingin mengingat baik-baik wajah kekasihnya ini dan me mbawanya sampa i ke akhirat.

"Engkoh Hong, cintakah kau kepadaku?" tiba-tiba ia bertanya dengan sedih.

Ku See hong tidak habis mengerti apa sebabnya dia mengajukan pertanyaan tersebut dalam suasana begini, namun dia toh  menjawab juga:

"Adik Im, aku cinta kepadamu!" Kembali Im Yan cu bertanya:

“Engkoh Hong, tahukah kau setelah ke matianku nanti, arwahku

akan masuk ke sorga atau neraka? Sepanjang hidupku, sudah banyak manusia yang mati ditanganku tapi aku tahu orang yang mati ditanganku se mua nya adalah orang-orang jahat yang sudah banyak me lakukan perbuatan keji dan terkutuk di dunia ini"

Ku See hong mengerti, semangat maupun pikiran gadis itu sekarang amat kalut, tak heran kalau apa yang diucapkan  juga kacau   dan   tidak   karuan,   tapi   pemuda   tersebut   tak   ingin me mbuatnya sedih, dia berupaya keras untuk me mberikan kehangatan kepadanya sedapat mungkin.

Dengan le mbut Ku See hong berkbata: "Adik Im, kau tak bakal a masuk neraka!” "Benarkah itu? benarkan aku tak akan masuk neraka?" Im Yan cu tersenyum manis.

"Adik Im, buat apa kau menanyakan tentang persoalan ini.?” Im Yan cu segera tertawa.

"Engkoh Hong, aku takut bila arwahku disekap dalam neraka

sehingga dike mudian hari aku tak bisa keluar lagi untuk mencarimu, suasana semaca m ini pasti a mat sepi dan mender ita.”

Ku See hong menghe la napas panjang, dia m-dia m pikirnya: "Ooooh Thian, mengapa kau hendak merenggut nyawanya?

lihatlah, dia begitu menawan..."

Berpikir sa mpa i disitu, cepat dia menjawab sa mbil tertawa:

"Adik Im, aku pasti akan seringkali mene mani kau! Aku akan berusaha untuk selalu berada disampingmu"

Im Yan cu me mutar sepasang biji matanya yang jeli beberapa waktu, lalu katanya lagi:

"Engkoh Hong, orang bilang antara alam dunia dan alam baka terbagi oleh suatu jurang yang sangat dalam, bagaimana mungkin kau bisa datang menda mpingi diriku?"

"Adik Im, kata orang sela ma ini cuma kata gurauan belaka, padahal orang yang telah mati, arwah merekapun berada ditempat yang sama, hanya bedanya orang yang belum mati me mpunyai wujud badan kasarnya dan me mpunyai daya hidup, sedangkan orang yang sudah mati tak me mpunyai wujud kasarnya, arwah tersebut tak bisa terikat di suatu tempat saja, mereka  dapat bergerak ke sana ke mari sekehendak mereka sendiri"

“Engkoh Hong, aku tidak me maha mi apa yang kau katakan itu" seru Im Yan cu tidak mengerti, "yang kau maksudkan  sebagai arwah itu benda macam apa? Tadi kau bilang dia bisa  melayang  kian ke mar i menurut kehendaknya sendiri, lantas bagaimana caranya kita dapat selalu berada bersa ma-sa ma?." "Adik Im, arwah adalah roh, sesuatu yang tak berwujud dan tak nampak, keadaannya seperti perasaan kita sekarang, maya bentuk nya dan sukar di lukiskan dengan suatu perkataan, arwah adalah roh yang berada dalam tubuh manusia, dalam diri kita sendiri, sedangkan daging dan tubuh sebetulnya adalah benda byang mati, justdru karena dimasauki roh atau arbwah maka tubuh itu menjadi sesuatu yang hidup, dan karena ditunjang dan digerakan oleh roh, maka tubuh tersebut baru dapat melakukan pelbagai perbuatan maupun pekerjaan.

"Jadi kalau ada orang mengatakan sudah tak punya arwah lagi, berarti dia sudah mat i, tubuhnya tak dapat bergerak lagi"

Im Yan cu segera tertawa merdu.

"Engkoh Hong, sekarang aku sudah tahu, tapi bagaimana caranya untuk me mbawa sealu arwahku disisimu?"

"Adik Im, yang dimaksudkan sebagai roh atau arwah adalah sesuatu yang bersifat tak menetap, roh itu melayang kesana kemari, tapi kita pun dapat me mbuat roh selalu berada disisi kita."

"Caranya yakni me mbawa jasad tubuh itu ke suatu tempat dan menyimpannya di sana kemudian sela manya aku akan menetap di sana, bukankah hal ini berarti pula kalau rohmu selalu berada disisiku?"

Im Yan cu menjadi a mat girang, segera serunya:

"Engkoh Hong, apakah kau hendak membuatkan sebuah kuburan yang sangat indah bagiku, ke mudian me mbangun sebuan ruma h disa mping kuburan tersebut dan selamanya kau akan menetap di sana?"

"Adik Im, aku me mang ber maksud demikian, cuma dendam darahku harus dituntut lebih dulu, setelah itu aku akan me mbangun rumah gubuk dan me ne manimu untuk sela manya."

'Engkoh Hong, bagaimana kalau kaupun ajak Him Ji im untuk tinggal bersa ma kau?" tiba-tiba Im Yan cu berseru. ooodwooo

MENDENGAR gadis itu menyinggung ke mba li soal Him Ji im, tat kuasa Ku See hong menghela napas panjang, lagi sorot matanya pelan-pelan dialihkan ke te mpat kejauhan sana, memandang awan putih yang melayang di angkasa, hatinya terasa lebih sedih dan pedih. 

Mendadak Im Yanr cu berkata lagti.

"Engkoh Hong, bukankah kau bilang masih ada seorang lagi yang bernama Keng Cin sin dari istana Huan mo kiong di laut Lam hay?"

Keng Cin sin adalah gadis pertama yang tertanam dalam hati pemuda itu, dia merupa kan gadis yang paling dicintai dan paling di hormati Ku See hong selama ini, menyinggung soal gadis itu, perasaan Ku See hong makin bertambah pedih, air matanya bercucuran sema kin deras lagi.

Sambil menghela napas sedih, ke mba li Im Yan cu berkata: "Engkoh Hong, apakah Keng Cin sin telah tiada?"

"Ya, dia me mang sudah meninggal" suara Ku See hong kedengaran amat gemetar, namun aku tak pernah menyaksikan sendiri jenazahnya.

"Engkoh Hong, aku mati mas ih mendingan tapi kau kau bakal

kesepian, aaah, betul! Masih ada Him J i im,  kau  harus  segera meno longnya, kau pun harus mencar i tulang belulang Keng Cin sin dan menguburnya bersama ku, dengan begitu aku akan mendapatkan seorang te man, sedang kau yang berada didunia inipun ada Him Ji im yang bakal merawatmu, dengan demikian aku dan Keng Cin sin yang berada di alam baka pun tak akan terlalu menguatir kan dirimu"

Dia m-dia m Ku See hong merasa kagum berca mpur terharu, dia dapat merasakan kalau gadis tersebut jauh berbeda dengan gadis- gadis la in, seakan-akan tidak menaruh perasaan cemburu terhadap perempuan lainnya, meski yang lainpun  merupa kan saingan baginya, penampilan semaca m ini sudah jelas me mper lihatkan kalau dia bukan seorang pere mpuan biasa.

Aaaai.... Tapi, mengapa Thian tidak adil? Kalau begiut, bila ia dapat me mperistri tiga orang kekasih yang cantik jelita dan hidup berbahagia sepanjang tahun, bukahkah kejadian ini merupa kan suatu peristiwa yang hebat?"

Sekarang, Him Ji im mas ih berada di dalam sarang iblis, jiwanya berada di ujung tanduk, sekarang kini diapun seperti me mpero leh suatu firasat tak baik, siapa tahu gadis itu sudah tiada....

Teringat sampai ke situ, Ku See hong merasa amat sedih dan kosong, tanpa terasa dia menghela napas panjang.

Ia benci, bencinya bukan alang kepalang, me mbenci kepada langit, juga me mbenci kepada bumi.

Baru dalam keadaan seperti ini dia dapat merasakan makna yang sesungguhnya dari bait-bait syair dalam lagu "'DENDAM SEJAGAD'"

Sementara itu, Im Yan cu sudah kelihatan lelah sekali, berulang kali dia menguap  lebar,  sedang suara  bisikannya  ikut  berta mbah lir ih:

“Engkoh Hong, setelah  aku  mati   nanti  tolong  kau  suka menya mpaikan berita tentang ke matianku ini kepada guruku "

Mendengar ucapan tersebut, satu ingatan tiba-tiba melintas didalam benak Ku See hong, buru-buru serunya:

"Adik Im, apakah gurumu mas ih berada di tebing Hay jin gay? Dia orang tua pasti dapat mencarikan akal untuk menyela matkan dirimu”

Kesadaran dan akal budi Im Yan cu ketika itu sudah makin la ma semakin bertambah le mah, pada hakekatnya  apa yang diucapkan Ku See hong sudah tak dapat di tangkap olehnya.

Tapi dalam keadaan begini gadis itu mas ih berguma m lagi: "Engkoh Hong, apakah luka pukulan Hou kut jian hun im kang yang kau derita telah se mbuh kembali.?"

Tiba-tiba Ku See hong menepuk kepala sendiri sa mbil berteriak: "Aaah, mengapa aku bodoh begini? Orang itu dapat

menye mbuhkan  aku dari pengaruh  pukulan  Hou  kut  jian  hun im

kang, berarti dia dapat juga menyembuhkan racun cabul tersebut, mengapa aku tidak berusaha untuk moho n kepadanya ?"

Im Yan cu sudah terlelap tidur, sekali me meja mkan mata, dia baru akan mendus in ke mbali dari tidurnya dua hari ke mudian.

ooodwooo

MATAHARI telah terbenam dilangit sebelah barat, sinar yang berwarna keemas-e masan menar ik ke seluruh angkasa.

Suasana senja yang indah dan lembut itu seakan-akan mendatangkan suatu perasaan yang pedih dan murung dihati orang.

Hari ini udara sedikit agak luar biasa, langit serasa  mengering  dan mati, tiada he mbusan angin yang lewat. seluruh benda disekeliling situ bagaikan turut lesu dan letih.

Dalam suasana senacam inilah, ditengah angkasa yang hening, tiba-tiba berkumandang suara nyanyian yang keras tapi bernada  me medihkan hati orang...

Dendam kesumat me nbentang bagai Jagat Bukit tinggi berhutan lebat ditepi sebuah kuil Sungai besar didepan kuil bero mbak besar. Dendam kesumat sepanjang abad.

Dendam kesumat me mbentang bagai jagad. Burung gagak bersarang di rumput dikala senja. Cinta kasih berlangsung dari muda sa mpai tua. Me metik ka mpak me mbuat lagu. Nadanya dendam!

Menitik air mata darah untuk siapa?

Hati pilu menanggung derita, menyesal sepanjang masa. Dendam kesumat me mbentang bagai jagad.

Ji koan pernah berbuat salah.

Menyandang golok menunggang kuda, apalah gunanya? Salju terbang air laut se muanya terasa hambar.

Dendam kesumat me mbentang bagai jagad

Curah hujan me mbuyarkan awan. Air mengalir akhirnya surut.

Dendam kesumat tak akan pernah luntur.

Suara nyaring yang begitu me milukan, begitu me medihkan menga lun di udara dan me mancar ke e mpat penjuru.

Dari ira ma dan nada nyanyian tersebut, seakan-akan dia hendak mengutarakan rasa dendam yang me mbara di dalam dadanya.

Kesepian... Kesedihan... Kesengsaraan...

Sisa sinar matahari meninggalkan suasana yang makin suram di seluruh per mukaan jagad.

Senja telah menjelang tiba, sesosok bayangan yang memanjang tiba-tiba muncul di atas permukaan tanah, Ku  See  hong dengan  me mbawa si nona yang tertidur pulas sedang berjalan pelan menelusuri jalan. Rupanya Ku See hong sedang me mbopong Im Yan cu menuju ke arah kota, dia hendak menuju ke gedung yang seram dan terpencil untuk me mohonkan pertolongan bagi gadis itu.

Tapi gedung yang besar dan lebar itu dite mukan berada dalam keadaan kosong tanpa penghuni meskipun barang-barang keperluan sehari-hari masih terlihat dalam ruangan itu, akan tetapi tak sesosok bayangan manusia pun yang na mpa k.

Bahkan si bocah le laki itupun tak diketahui sudah pergi ke mana, dia  harus  menunggu  sela ma   berja m-ja m   la manya   sebelum me mbopo ng ke mbali Im Yan cu dan berlalu dari situ.

Tapi dari se mentara kawanan jago yang berbisik-bisik, dia mendapat tahu kalau mala m nanti di le mbah Yu cui kok diluar kota sana akan terjadi suatu pertarungan sengit, sekawanan jago-jago persilatan di dunia saat ini hendak mengerubuti seorang manus ia berkerudung warni warni.

Maka Ku See hong lantas teringat akan manus ia aneh dalam gedung menyeramkan itu, siapa tahu kalau dia pun telah berangkat ke le mbah Yu cui kok untuk menonton kera maian?

Karena berpendapat demikian, Ku See hong dengan me mbopong Im Yan cu segera berangkat menuju ke le mbah tersebut, dia berharap bisa menjumpai si bocah itu lagi, ke mudian me moho n kepadanya agar me mperkena lkan ma nusia aneh itu kepadanya.

Begitulah, sambil me mbopo ng In Yan cu dan menyanyikan lagu "DENDAM SEJAGAD" selangkah demi selangkah Ku See hong berjalan menyelusur i hutan yang sepi, suara nyanyian yang mengenaskan  itu  dengan  cepat  mena mbahkan  suasana  yang  me medihkan di senja itu.

Sebagaimana diketahui, bait-bait dalam lagu ''dendam sejagad" yang dibawakan Ku See hong itu sesungguhnya mengandung arti yang sangat mendala m, itulah sebabnya dia berjalan sambil menyanyikan lagu itu, dia tak tahu dimanakah letak le mbah Yu cui kok tersebut, maka dia ingin me mancing kedatangan para jago persilatan tersebut dengan lagunya, agar merekalah yang member i petunjuk kepadanya dimtana letak Yu cui kok yang dimaks udkan.

Padahal, ingatan semacam itu sangat berbahaya, sebab jago persilatan didunia sekarang menaruh perasaan dendam dan permusuhan terhadapnya, mereka sangat berharap dapat mengetahui jejaknya, bahkan tidak berada dibawah manus ia berkerudung itu .....

Penampilannya secara sengaja sekarang sudah dapat dipastikan akan me mancing datangnya keributan dari kawanan jago persilatan tersebut.

Disaat suara nyanyiannya belum selesai di bawakan ......

Suara pekikan-pekikan nyaring secara tiba-tiba berkumdang dari  le mbah bukit disebelah depan situ..

Menyusul kemudian terlihat ada e mpat sosok bayangan manus ia yang meluncur ke hadapan Ku See Hong dengan kecepatan  bagaikan sambaran kilat, salah satu diantaranya yang berwarna abu-abu paling cepat bergerak, seperti hembusan angin le mbut dalam sekejap mata telah t iba dite mpat tujuan.

Dia adalah seorang sasterawan setengah umur yang berwajah tampan, berparas putih dan mengge mbo l sebilah Pedang berwarna hitam dipunggungnya, orang itu bukan lain adalah salah seorang diantara dua murid murtad Bun ji koan su, yakni Thi bok sin kiam (pedang sakti kayu besi) Cu Pok !

"Sreeet Sreeet...! Sreeet...!" secara beruntun dari arah belakang berdatangan lagi tiga sosok bayangan manus ia.

Kakek yang kurus lagi pendek, dia adalah Hiangcu no mor satu dari ruang Sin hwe tham dalam perkumpulan Ban sia kau yang terkenal karena kelihayan ilmu silatnya serta kesaktian gerakan tubuhnya Kun thian ciang Tan Khong lun.

Dua orang sisanya adalah manus ia aneh bertubuh kurus kering yang berperawakan jangkung, dandanannya aneh, gerak geriknya kebanci-bancian, mereka tak lain adalah dua  orang  pelindung hukum kesayangan dari Thi bok sin kiam Cu Pok.

Si kakek berjubah merah darah yang berada di sebelah kiri adalah Ang yang kui (setan merah) Sin Sau si.

Sedang Kakek- kakek berbaju hijau yang berada disebelah kanan bernama Lik Im lok si (setan hijau) Sin Eng siang.

Kedua orang itu bersaudara, ilmu silatnya lihay dan keji, mereka termasuk ma nusia penting dalam perkumpulan Ban sia kau.

Setelah menyaksikan orang-orang munculkan diri dihadapannya sekarang terasa bergidik juga hati Ku See-hong dibuatnya,  sebab  dia cukup menyadari kalau ilmu silat yang dimiliki  ke  empat  orang itu benar-benar luar biasa hebatnya.

Dalam sekilas lintas pe meriksaannya dia sudah merasakan kalau diantara beberapa orang yang hadir, maka tenaga dalam yang dimiliki Thi bok sin kiam Cu  Pok  ter masuk  yang  paling  hebat, me mbuat orang sukar untuk mengukur sa mpai dimanakah taraf kepandaian yang sebenarnya.

Kemudian orang yang mene mpati urutan ke dua adalah si kakek kurus dan pendek itu--- Kun thian ciang Tan Khong lun.

Tapi sewaktu Ku See hong menyaksikan dandanannya, hanya mene mpati urutan ke tiga dalam perkumpulan Ban sia kau, hal ini me mbuatnya tercengang dan tidak habis mengerti.

Ketika sinar mata Ku See hong dialihkan ke wajah  Kun  thian ciang Tan Khong lun tadi, kebetulan sekali sorot matanya juga lagi me mandang kearahnya. Ku See hong dapat menyaksikan dengan jelas  sorot  matanya   yang   tajam,   namun   hal   ini   se makin  me mbuatnya merasa keheranan.

Mendadak si pedang sakti kayu besi Cu Pok mendengus dingin, ke mudian tegurnya:

"Barusan, kau yang me mbawa kan lagu dendam sejagad itu?" Dengan wajah sedingin es, Ku See hong me mperhatikan beberapa kejap pula ke arahnya, kemudian me nyahut:

"Kalau benar kenapa, kalau tidbak kenapa?"

Sorot mata Pedang sakti kayu besi Cu Pok yang tajam, mendadak me mancarkan sinar kebuasan, dia menelit i tubuh Ku See hong beberapa kejap lalu memperhatikan pula Im Yan cu yang berada dalam bopongan, sekilas perasaan tercengang sempat menghias i raut wajahnya.

Tiba-tiba ia mendonga kkan kepalanya, lalu me mperdengarkan suara tertawanya yang menyeramkan .....

Suara tertawanya sangat keras, memekikkan telinga, menggetarkan sukma dan seakan-akan menggoncangkan seluruh jagad.

Dalam gelak tertawa tersebut, terdengar pula  nada angkuh, sombong, takabur dan kejinya yang sukar dilukiskan dengan kata- kata.

Mendadak ia berhenti tertawa ....

"Maaf, maaf ..!" serunya kemudian lantang. Sesudah berhenti sejenak, lanjutnya ke mba li:

"Kalau begitu, kaulah yang disebut Leng hun koay seng Ku sute

yang namanya menggetarkan dunia persilatan dewasa ini? Harap kau sudi me maafkan sikapku yang punya mata tak mengenal bukit Thay san, harap Ku sute sudi me maafkan"

Ku See hong merasakan darah yang mengalir dalam tubuhnya mendidih keras, ia benar-benar sangat gusar sesudah mendengar gelak tertawanya yang aneh, terutama ucapannya barusan.

Dengan cepat dia menghimpun segenap tenaga yang dimilikinya dan berusaha untuk me nenangkan perasaan hatinya yang bergolak.

Selang beberapa saat kemudian, dia baru berseru dengan perasaan terperanjat: "Jadi kau adalah Pedang sakti kayu besi Cu Pok!"

Sekali lagi Pedang sakti kayu besi Cu Pok mendo ngakkan kepalanya dan tertawa seram.

"Haahhh...   haaahh...  hahh...   rupanya   dia    masih    belum me lupakan ka mi berdua..."

Mencorong sinar buas yang menggidikkan hati dari balik mata Ku See hong, dia mendengus dingin, kemudian dengan nada sinis dan sama sekali tak berperasaan teriaknya:

"Murid durhaka, hari ini kau tak akan lolos dari ke matian, bersiap-siaplah untuk ma mpus!"

Thi bok sin kiam (pedang saktib kayu besi) Cu Pok mengulumkan sekulum senyuman yang sinis lagi licik.

"Heehhh.. heehhh...... heeehh.. padahal kita sesama saudara seperguruan baru pertama kali ini bersua, buat apa kau me lototi aku dengan wajah gusar? Heeehh... heeehhh... tolong tanya apakah belakangan ini suhu dia orang tua berada dalam keadaan sehat walafiat...?”

Sekali lagi Ku See hong merasakan darah yang menga lir didalam dadanya mendidih keras, dia betul-betul tak sanggup untuk mengenda likan kobaran hawa a marahnya lagi, dengan suara yang keras, dia me mbentak nyaring:

"Kau  bajingan  keparat  yang  tak  tahu  malu, bila  kau  masih me miliki sedikit perasaan saja, tak mungkin kau akan berbuat bejad dengan menghianati perguruanmu"

Pedang sakti kayu besi Cu Pok kembali mendehe m beberapa kali, dengan senyum tak senyum katanya.

"Ku sute, kau memang seorang manusia yang benar-benar lupa budi, seandainya kami dua bersaudara tidak meninggalkan perguruan, bagaimana mungkin kau bisa menjadi hebat dan lihay seperti hari ini?” Heeeehh...... Heeeehh...... heeeehh...... apakah suhu sudah berangkat ke alam baka untuk beristirahat sela manya?"

-ooodwooo-