Dendam Sejagad Jilid 22

Jilid 22


IM YAN CU kurang bagitu tahu tentang nama "Im hwee si hun wan" tersebut, karenanya, ia belum begitu putus asa terhadap keadaan yang menimpanya, akan tetapi seandainya nama obat itu didengar oleh seseorang yang mengerti tentang obat-obatan, niscaya dia akan menjerit kaget dengan perasaan ngeri.

Dari perubahan mimik wajah Im Yan cu, Ciu Heng thian tahu kalau gadis tersebut tidak begitu mengetahui akan kehebatan pil perangsang itu, ma ka ujarnya lagi sa mbil tertawa rendah:

'Im Yan cu, tentunya kau belum mengetahui tentang sifat dari obat perangsang yang bernama lm hwee si hun wan ini bukan? - Hmmm, hmmm .... tak ada salahnya kalau aku orang she Ciu terangkan dulu sifat dari obat ini.

"Obat perangsang Im hwee si hun wan adalah obat perangsang paling dahsyat yang pernah tercantum dalam kitab pusaka Ban sia cinkeng, kekejiannya sama sekali tidak berada dibawah kekejian racun Hou kut jian hun im kang yang mendeka m ditubuh keparat she Ku itu. Cuma sifatnya saja arak sedikit berbeda, barang siapa makan obat ini maka nafsu birahinya segera akan berkobar, baik itu lelaki atau perempuan, bila tidak segera dipenuhi yang me mbakar dalam tubuh sang korban akan menyiksanya habis-habisan sebelum akhirnya seluruh nadi didalam tubuhnya pecah dan tewas.

"Sebaliknya bila api nafsu birahinya berhasil dipada mkan dengan me lakukukan hubungan sengga ma, itu pun hanya bersifat sementara, setelah dia tertidur nyenyak sela ma dua hari, api racun itu akan mulai me mba kar lagi nafsu birahinya, dia harus me lakukan hubungan sengga ma untuk kedua kalinya untuk menghilangkan siksaan tersebut, tapi enam hari  ke mudian  hal  ini akan  ka mbuh ke mbali, dan disaat mela kukan hubungan sengga ma yang ke t iga kalinya inilah maka orang tersebut akan kehabisan sumsum tubuhnya sehingga mengakibatkan ke matian.

"Mengapa bisa begini? Hal ini disebabkan orang yang terkena racun Im hwee si hun wan akan terbakar napsu birahinya secara habis-habisan, sewaktu melakukan hubungan kela min pun dia tak akan puas dengan hubungan yang nor ma l, karena itu sumsum dalam tubuhnya akan menga lir terus tiada hentinya sampai api birahi itu pada m.

"Tubuh yang kelewat penat inilah yang menyebabkan sang penderita tertidur sampa i berhari- hari la manya.

"Biarpun orang itu me miliki tenaga dalam yang bagaimana pun sempurnanya, asal  menelan  pil  itu,  dia  tak  akan  tahan  untuk me lakukan hubungan kela min yang ke tiga kalinya, sebab saat itu dia akan kehabisan sari badan yang menyebabkan ke matian.

"Disa mping itu, obat Im hwee si hun wan masih me mpunyai suatu keistimewaan lagi, yakni orang yang menelan obat itu ma ka semua kesadarannya akan terpengaruh oleh napsu birahi, dia akan berubah menjadi kalap, oleh desakan napsu birahinya yang tak tertahankan, biasanya secara otomatis dia akan merengek kepada lawan jenisnya untuk me lakukan hubungan kelamin dengannya... "Heeehh...heehhh...eeehh.. Im Yan cu, bila kau sudah menelan obat itu nanti, tak sampai seperempat ja m, kau akan merengek sendiri kepadaku untuk me nggauli mu, heeehhhe... heehh... nah, dalam keadaan seperti inilah suasana baru nikmat rasanya, kau amat cantik, tubuhmu padat berisi, tentu saja aku tak akan me lepaskan setiap kesempatan yang ada untuk menghubungi mu, aku akan berhubungan terus denganmu sa mpai kau mati.

"Anggap saja hal ini merupakan keberuntungan bagimu, orang bilang jadi setan pun ingin ro mantis,  mungkin beginilah yang dimaksudkan..

"Coba kau lihat keparat she Ku itu, dia tidak me mpunyai rejeki seperti ini, yang mengeram dalam tubuhnya adalah Hou kut  jian hun im kang, buktinya dia harus tersiksa sepanjang hari sebelum ma laikat elma ut merenggut nyawanya..

"Masih ada satu hal lain yang perlu kau ketahui, yakni racun Im hwe si hun wan tersebut tidak ditemukan obat penawarnya, dalam kitab Ban sia cinkeng pun tidak dite mukan resepnya, maka barang siapa sudah makan obat itu, selesai menikmati sorga dunia sepuas- puasnya, hanya jalan ke matian saja yang akan me mbebaskan dia" Selesai mendengarkan penjelasan tersebut Im Yan cu benar- benar  merasa   terperanjat   sekali,  sinar   penuh   permoho nan me mancar keluar dari balik matanya  yang  jeli,  dia  seperti  lagi me mohon kepada Ciu Heng thian agar jangan berbuat demikian.

Pedang ular perak Ciu Heng thian menyeringa i seram, jengeknya sambil tertawa dingin:

"Im Yan cu, kau menyesal. ..Haaahh... haaahh... haaaahh..." Butiran air  mata ke mbali jatuh bercucuran  me mbasahi wajah Im

Yan cu, selapis  hawa gusar, derita dan benci yang sukar  dilukiskan

dengan kata-kata menyelimuti wajahnya, sekarang dia benar-benar me mbenci manusia laknat yang bermoral bejad ini hingga merasuk ke tulang sumsum, dia bersumpah bila ada kese mpatan baginya untuk me mba las dendam, dia akan mencincang tubuh orang ini hingga hancur berkeping-keping.

Kembali pedang ular perak Ciu Heng thian berkata:

"Im Yan cu, penderitaan hatimu hanya akan kau alami dalam waktu-waktu terakhir ini, tak usah kuatir penderitaan tersebut hanya berlangsung singkat, kemudian kau akan mengala mi kebahagiaan dan kesenangan yang tak terlukikan dengan kata-kata.

.heehhh...heeeehhh.. sekarang aku orang she Ciu sudah tak sanggup menahan diri lagi, cepatlah kau telan pil Im hwee si hun wan tersebut!"

Sambil berkata Ciu Heng thian segera menggengga m dagu Im Yan cu dan mencekik nya, setelah itu dia menjejalkan pil Im hwee si hun wan tersebut ke dalam mulut sang nona.

Im Yan cu yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan dan berhati suci bersih ini, benarkah akan mengala mi nasib yang tragis? Kehor matannya digagahi oleh manusia laknat berhati binatang yang tak tahu malu ini?...

Untuk se mentara baiklah kita tinggalkan dulu nasib si nona yang menghadapi perkosaan tersebut .....

oooodwoooo DALAM pada itu, Ku See hong telah dilarikan oleh bayangan manus ia yang kecil mungil tersebut dari dalam ka marnya.

Ilmu silat yang dimiliki bayangan kecil mungil  itu  benar-benar luar biasa sekali, dalam sekali kebasan tangannya, ia telah menotok jalan darah Kanglam siang hou, kemudian setelah menge mpit tubuh Ku See  hong dia  menyambar pedang Ang soat  kiam,  dia  melejit  ke mbali meninggalkan te mpat itu.

Beberapa maca m gerakan mana dilakukan berbarengan waktunya dan dalam sekejap mata, bisa dibayangkan bagaimanakah cepatnya gerakan orang itu.....

Sekalipun ia sedang dirisaukan oleh keadaan Ku See  hong, namun pikiran yang kusut tak sampai  me mpengaruhi  kecepatan ilmu meringankan tubuhnya, diantara permukaan tanah yang tinggi rendah tak menentut dia berkelebat pergi dengan ceptanya.

Dalam waktu singkat ia telah  me mbawa  tubuh  Ku  See  hong me lo mpati ka mar-ka mat dari penginapan yang tang dan berlarian di atas atap rumah penduduk kota.

Sesaat kemudian, ia sudah menerobos masuk ke dalam sebuah bangunan loteng yang sepi dan bobrok.

Bangunan gedung itu tidak kecil, bangunan rumah bersusun- susun tapi seperti sudah la ma tak pernah ditempati manus ia, di depan hala man rumah tumbuh pohon pek yang yang lebar, debu kering me menuhi permukaan tanah me mbuat suasana disekitar bangunan tersebut terasa lebih menyeramkan..

Terhadap bangunan rumah tersebut, tampaknya orang itu cukup hapal, dengan cepatnya dia sudah mela mpaui beberapa hala man rumah dan tiba di sebuah hala man kecil.

Mungkin disanalah dia bertempat tinggal, sekeliling hala man di atur sangat rapi, pohon dan bunga beraneka warna, ketika angin berhembus lewat terendus bau harum se merbak yang menyegarkan badan. Tempat ini kalau dibandingkan dengan hala man rumah disebelahnya, boleh dibilang bagaikan langit dan bumi.

Sambil me mbopong tubuh Ku See hong, dia menuju ke depan sebuah pintu ruangan dan me ndorongnya pelan, pintu segera terbuka lebar...

Dibawah sinar bintang yang me mancar di angkasa, secara lamat- la mat suasana dalam ruangan itu dapat terlihat jelas.

Tampak ruangan tersebut diatur sangat rapi, diatas dinding tergantung beberapa lukisan pemandangan, disebelah kanan terdapat sebuah meja besar serta sebuah pembaringan, diatas meja berjajar sederet kitab, sedang permukaan lantai berlapiskan permadani putih.

Dilihat dari dekorasinya, dapat disimpul kan kalau pe miliknya adalah seorang yang mengerti seni..

Pelan-pelan dia me mbopong tubuh Ku See hong me masuki ruangan dan me mbaringkan nya diatas pembar ingan, ke mudian menyulut lilin, cahaya terang segera menerangi seluruh ruangan.

Mendadak dari balik tirai dibelakang pintu ka mar terdengar seseorang menegur dengan le mbut:

"Apakah enci sudah pulang?'?

Bersamaan dengan bergemanya suara itu, tirai disingkap dan muncul seorang bocah lelaki berusia delapan tahun, berwajah bersih dan bermata jeli, mukanya yang tampan dan gagah me mperlihatkan kalau ia adalah seorang bocah yang pintar.

Dibawah sinar lilin ta mpak pula wajah orang yang bertubuh ramping itu, dia mengena kan secarik kain warna warni untuk menutupi wajahnya, rambut yang panjang dibiarkan  terurai dibelakang bahu, jelas dia adalah seorang gadis yang ra mping.

Seandainya dia tidak mengenakan kain kerudung untuk menutupi wajahnya, sudah pasti akan terlihat pula raut wajahnya yang cantik jelita. Diatas kain kerudungnya itu bersulamkan sesosok tulang tengkorak manusia! se mentara disekitarnya terdapat da belas kuntum bunga bwee ..

Tulang tengkorak me la mbangkan kese-ra man dan kengerian, bunga bwee mela mbangkan kesucian, kele mbutan dan kehangatan.

Kini dua maca m benda yang berbeda sifat disulam bersa ma-sa ma di atas seraik kain kerudung, jelas terlihat bagaimana misterius nya perempuan tersebut...

Ternyata gadis ini tak la in adalah manusia aneh berkerudung warna warni yang termashur namanya dalam dunia persilatan, dialah ketua dari Hiat mo bun yang menggetarkan jagad.

Namun bagaimanakah sebenarnya raut wajah orang ini? Jangankan orang lain, sekalipun bocah lelaki yang amat dekat hubungannya dengan gadis itupun belum pernah me lihat.

Waktu itu, Hiat mo buncu yang berudung sedang mengawasi wajah Ku See hong tanpa berkedip.

Sedang bocah le laki itu dengan sepasang matanya yang jeli dan hidup juga me mandang sekejap Ku See hong yang berbaring di atas pembaringan, ke mudian tegurnya keheranan:

"Enci, siapakah orang ini?"

Mendadak manus ia berkerudung itu menghela napas sedih, sahutnya:

"It Khi, dialah Leng hun koay seng (manusia aneh bersukwa dingin) Ku See hong yang a mat menggetarkan dunia persilatan"

"Dia adalah manusia aneh bersukma dingin Ku See hong”, nada suara bocah lelaki yang berna ma It Khi itu diliput i perasaan kaget dan tercengang.

Dua titik air mata jatuh berlinang me mbasahi wajah si nona dibalik kerudung nya, lalu mengangguk dengan sedih. ''Benar, dialah manus ia aneh bersukma dingin Ku See hong, oleh karena terkena pukulan beracun Hou kut jian hun im kang dari Ceng Lan hiang, Ketua Ban shia kau, keadaannya berubah menjadi begini rupa"

Bocah lelaki yang polos dan linach itu she Kho berna ma It Khi, dia bukan adik kandung manus ia berkerudung itu, me lainkan seorang anak yatim piatu yang mengenaskan.

Ia baru ditemukan oleh manusia berkerudung itu pada e mpat bulan berselang.

Oleh karena manusia berkerudung itu me lihat wajah Koo It khi menarik, pintar dan menyenangkan, maka dia lantas menganggap nya sebagai adik kandung sendiri, siang ma lam selalu menyertainya, itulah sebabnya meski baru e mpat bulan, namun Kho It khi telah berhasil me mpelajari banyak sekali ilmu silat yang maha dahsyat dari manusia berkerudung itu.

Setelah menerima budi kebaikan dan kasih sayang yang amat menda lam dari manusia berkerudung itu dalam hati kecil Kho it khi sudah timbul sebuah tekadnya untuk me mbalas budi kebaikan tersebut.

Tiap kali manusia berkerudung itu sedang  murung  atau  bermura m durja, dia selalu ikut pula merasa tak tenteram.

Walaupun setiap saat setiap detik bocah itu selalu berusaha untuk menyelidiki sebab-sebab yang me mbuat gadis itu murung, namun usahanya itu selalu tak berhasil, bahkan diapun tak pernah menyaksikan raut wajah aslinya.

Akan tetapi, bocah itu tahu bahwa gadis itu sudah pasti berwajah cantik jelita.

Dalam pada itu dikala Kho it khi menyaksikan encinya yang misterius itu mengucur kan air mata, mendadak terlintas  satu ingatan di dalam benaknya, diam-dia m dia berpikir:

'Heran, mengapa enci misterius segera menangis setelah menyaksikan keadaan Leng hun koay seng yang mengenaskan itu? Selama e mpat bulan ini, aku tahu kalau enci merahasiakan suatu persoalan yang memedihkan hatinya, namun sela ma ini dia tak pernah menangis," paling  banter  ia  cuma  menghela  napas,  tapi ma lam ini... mengapa dia seakan-akan telah berubah sa ma sekali"

Tatkala ingatan tersebut me menuhi benaknya yang kecil, dia lantas bertanya:

'Enci, apakah kau sudah pernah kenal dengan Leng hun koay seng Ku See hong?"

Agak terperanjat manusia berkebrudung itu olehd pertanyaan yanag diajukan, lewbat sesaat ke mudian dia baru menjawab:

'It khi, dahulu aku tidak kenal dia, berapa hari berselang aku  baru tahu kalau dia adalah Leng hun koay seng Ku See hong yang tersohor namanya dalam dunia persilatan'

Rupanya Kho It khi mengerti kalau encinya sengaja berbohong, karena tak dapat membongkar rahasianya, maka buru-buru serunya:

"Enci, kau sedang berbohong, aku tahu kau pasti kenal dengannya, bahkan pernah me mpunyai sesuatu hubungan dengannya"

Tiba-tiba mencorong  sinar tajam dari balik mata  manus ia berkerudung itu, bentaknya keras-keras:

"It khi, kau jangan se mbarang berbicara!'

”Cici,  maafkanlah  aku"  tiba-tiba   dua   titik   air   mata   jatuh me mbasani pipi Kho it kki. "karena "

Perasaan Kho It khi terhadap manus ia berkerubung itu boleh dibilang sudah mendala m bagaikan saudara. kendatipun usianya masih kecil, namun dia me miliki watak yang keras dan tegas bagaikan orang dewasa, setiap detik setiap saat dia selalu berusaha untuk me mba las budi kepadanya.

Apa yang dia ketahui tadi sebenarnya hanya  bermaksud  untuk me maha mi persoalan yang me mbuat encinya murung, siapa sangka hal itu justru menimbulkan da mpratan dan a marah dari encinya, sudah barang tentu kejadian ini segera me mbuat hatinya sedih.

Tampaknya manus ia berkerudung itupun menaruh  perasaan yang sangat mendala m terhadap bocah itu, bahkan a mat menyayanginya, setelah mendampratnya, karena dorongan emosi, dia merasa a mat tak enak.

Akhirnya setelah menghela napas sedih, ujarnya dengan lembut: "It  khi,   tidak  seharusnya  enci  menda mprat   mu,   cuma  tadi

kebetulan  aku  sedang  teringat  akan  suatu  kejadian   lama   yang

me medihkan hatiku, sehingga aku tak dapat me mbendung luapan emosi."

"Enci, semuanya me mang kesalahan adik Khi" bisik Kho It khi dengan suara yang me melas, "siapa suruh aku mengucapkan kata- kata yang menyentuh perasaaan sedihmu? la ibn kali, aku pasti tak akan banyak bertanya lagi '

Air mata ke mbali menge mbang dibalik mata si nona berkerudung yang jeli, lalu katanya sedih:

"Adik Khi, aku tahu perubahan sikapku tadi telah menimbulkan kecurigaan dalam hatimu, aaaai! Terus terang cici beritahu kepadamu, aku me mang me mpunyai suatu rahasia yang menyedihkan hatiku."

"Kebetulan sekali salah seorang tokoh yang tersangkut dalam peristiwa ini berwajah mir ip dengan Leng hun koay seng Ku See hong ini, sesungguhnya dia adalah satu-satunya kekasih dalam hatiku, tidak.... seharusnya dia adalah suamiku, maka ketika aku berjumpa dengan Leng hun Koay seng Ku See hong, tanpa terasa aku jadi teringat ke mba li akan dirinya "

Tiba-tiba Kho it khi bertanya:

”Cici, sekarang dia berada dimana?" Mengapa kau tidag pergi mencarinya ?" Manusia berkerudung itu tak sanggup mengendalikan kesedihan yang mencekam perasaannya, suatu baris air mata jatuh bercucuran dengan derasnya, lama, la ma kemudian dia baru berkata:

''Adik Khi, aku tahu dia berada dimana, tapi aku tak punya muka untuk bersua lagi dengannya karena sukmaku telah ternoda, aku sudah bukan aku yang dulu, bukan aku yang dia bayangkan.

'Adik khi, cici harap kau jangan bertanya lebih jauh, kendati pun saat ini aku telah berubah menjadi seorang yang luar biasa, tapi kepedihan hatiku dimasa la mpau mas ih tetap me mbuatku tak sanggup menahan diri"

Kho it khi adalah seorang bocah yang pintar, setelah mendengar perkataan itu ke mudian menyaks ikan pula sikap ma upun gerak geriknya pada mala m ini, dalam hati kecilnya dia telah dapat menduga siapa gerangan kekasih encinya dulu.

Namun dia merasa dibalik kejadian ini masih terdapat banyak masalah yang mencur igakan, maka pikirannya segera tenggelam kedalam suatu pemikiran yang rumit, seperti terombang ambing dalam gelo mbang sa mudra yang luas, me mbuatnya mela mun dan me la mun.. 

Tiba-tiba manusia berkerudung itu berbicara me mecahkan keheningan yang menceka m:

"Adik Khi, cepat ambil peti obat itu, sekalian ambillah semangkuk air bersih"

Kho It khi tersentak bangun dari la munannya sa mbil mengiakan, dengan cepat dia lari masuk ke ruang dala m.

Srepasang mata matnus ia berkeruduqng yang jeli itru ke mba li dialihkan ke wajah Ku See hong, kemudian setelah menghela napas sedih, guma mnya dengan suara yang a mat lirih:

"Hou kut jian hum im kang sudah me masuki tahap penyiksaan yang keempat, bila aku tidak segera mencegah ka mbuhnya racun tersebut, sekalipun Hou To lahir ke mbali, belum tentu penyakit tersebut dapat disembuhkan olehnya. "Aaaai, walaupun dalam kitab tercatat jelas bagaimana caranya mengobati ilmu pukulan Hou kut jian hun im kang, namun dapatkah kuse mbuhkan dirinya masih mer upakan sebuah tanda tanya, moga- moga Thian me lindungi ka mi sehingga aku berhasil menye mbuhkan luka beracunnya itu."

Suara guma mannya itu lirih seperti suara nyanuk, mungkin hanya dia seorang yang dapat mendengar jelas suara guma mannya itu"

Selesai berguma m, tanpa me mperdulikan perbedaan antara lelaki dan perempuan lagi, dia segera turun tangan me mbuka kancing  baju Ku See hong hingga tampa k dada sang pe muda yang bidang.

Sementara itu Kh it khi telah muncul ke mbali dalam ka mar sambil me mbawa sebuah peti obat kecil berwarna putih serta secawan air putih,  namun  ketika  dilihatnya   nona   itu  turun  tangan  sendiri me lepaskan pakaian yang dikenakan Ku See hong, bocah itu segera tertegun dan berdiri ter mangu- mangu seperti orang bodoh.

Menurut adat istiadat yang berlaku pada jaman itu, bila ada seorang gadis berada bersama-sama dengan seorang pria di tengah ma la m, ma ka kejadian ini akan menjadi perguncingan orang banyak, apalagi melepaskan pakaian yang dikenakan kaum lelaki, kendatipun ada hubungan fa mili juga merupakan pantangan besar.

Tantu saja kecuali kalau lelaki itu adalah sua mi sendiri atau kekasih hatinya.

Mendadak manus ia berkerudung itu berpaling seraya berkata: "Adik  Khi,  sekarang aku  hendak turun tangan untuk  mengobati

luka  akibat  pukulan  Hou  kut  jian  hun  im kang  yang  bersarang di

tubuhnya, berdirilah diluar sebagai pelindung, entah siapapun orangnya, jangan perkenan-kan masuk ke mari."

Kho it khi me mang a mat menuruti perkataan encinya, dia segera manggut- manggut sesudah mendengar perkataan itu, kotak obat dan air bersih diletakkan diatas meja, kemudian ia bertindak keluar dari dalam ruangan. Hanya sekali berkelebat, tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Ilmu mer ingankan tubuh yang sedemikian lihaynya ternyata dilakukan seorang bocah yang baru berusia delapan tahun, perinstiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang luar biasa.

Menanti bocah itu sudah keluar, manus ia berkerudung itu baru menghe la napas sedih, ke mbali guma mnya lir ih:

”De mi kesela matan jiwanya, aku tak usah menggubris segala pantangan serta pergun-cingan orang lagi...”

Berbicara sampa i disitu, telapak tangannya yang putih bersih segera ditempelkan diatas jalan darah Khi hay hiat di tubuh Ku See hong, segulung aliran hawa panas segera menyusup masuk lewat jalan darah tersebut dan pelan-pelan menyebar ke empat penjuru badan.

Selang berapa saat kemudian, ke mbali ia menghe la napas sedih, guma mnya lagi dengan ge mas:

"Ceng Lan hiang, kaucu dari Ban shia kau itu sungguh berhati keji, bukan saja ia telah menyerang dengan ilmu  Hou kut  jian hun im kang yang jahat, bahkan melukai pada tiga buah jalan darah penting dalam urat nadinya, bila kujumpai lagi perempuan jalang tersebut, tak akan kubiarkan dia pergi dengan begitu saja.

"Aaaai...! Coba kalau aku tidak me mpunyai Thian hong im-yang sincu yang berkasiat hebat, niscaya pukulan Im kang tersebut tak akan berhasil dipunahkan "

Kendatipan sedang berguma m, namun hawa murninya masih tetap dikerahkan keluar dan mene mbusi jalan darah Khi hay hiat ditubuh Ku See hong menyebar ke seluruh badan.

Tangan kirinya pun tidak menganggur, dari dalam sakunya dia menge luarkan sejilid kitab, tapi oleh karena dibungkus dengan kain berwarna putih ma ka sukar diketahui apa na ma kitab tersebut. Ia letakkan kitab tersebut dihadapannya, sementara tangannya dengan cepat me mbalik hingga pada beberapa  halaman  terakhir, ke mudian dibacanya dengan lir ih:

" .. Hoa kut jian hun im kang merupa kan pukulan hawa dingin terjahat didunia ini. pukulan ini bersifat suatu penyiksaan yang keji dan terkutuk, barang siapa terhajar serangan ini, lebih  banyak mene mui ajalnya daripada hidup .. bila korban pukulan hawa jahat  ini sanggup bertahan sampai penyiksaan tahap ke e mpat,  sementara panca indranya masih tetap berfungsi seperti biasa, berarti orang ini me miliki daya ke ma mpuan untuk hidup yang lain daripada yang lain, tujuh hari kemudian bila cepat ditolong berarti  dia akan sehat ke mbali seperti sediakala..."

"Seandainya orang yang terkena pukulan Hou kut jian hun im kang tertotok pula nadi pentingnya seperti Tok meh keng,  Yang kwan hiat, Jin meh keng, Jiu ciau hiat, Im wi meh keng,  Jit gwat hiat, maka setelah mengala mi penyiksaan tahap kedua akan segera tewas, sebab aliran darahnya akan terbalik dan  me mbeku  akibat tiga nadi pentingnya yang tersumbat hingga aliran tak bisa mengalir dengan lancar, darah itu akan me mbeku dan me ngeras, sebagai akibatnya darah akan mengering dan berakibat kematian yang sangat mengerikan"

Ketika me mbaca sa mpa i disini manusia berkerudung itu menjer it kaget, guma mnya:

"Aneh, bukankah dia masih bisa bertahan sampai penyiksaan tahap ke empat? Bahkan ke tiga buah nadi pentingnya juga telah tertotok, mengapa hingga kini dia mas ih hidup? Jangan-jangan catatan dalam kitab ini salah menulis'.

Berguma m sampa i disitu, dia lantas melihat ke mbali kitabnya hingga pada hala man terakhir, bacanya lebih jauh:

'' .... Bila si penderita pukulan Hou kut jian hun im kang dan tertotok pula ke tiga nadi pentingnya masih bisa bertahan terus selewatnya penyiksaan  tahap  ke  tiga,  boleh  dibilang  orang  ini me miliki ke ma mpuan yang luar biasa, dalam organ tubuhnya sudah pasti terdapat semacam kekuatan yang menyebabkan hawa Im dan hawa Yang saling tarik menarik dalam aliran  darahnya  dan berkema mpuan merubah keadaan menurut situasi, hingga meski nadinya tertotok, hawa darahnya tak bisa disalurkan, na mun setiap organ badan lainnya me miliki daya kema mpuan untuk saling berganti hawa darah untuk kelangsungan hidup.

Sejak dahulu kala, di dunia ini me mang terdapat beberapa orang yang me miliki ke ma mpuan serta daya tahan seperti apa yang diterangkan diatas, sudah dapat dipastikan orang itu pasti  pernah me mpe lajari ilmu Kan kun mi siu kang khi yang tercantum dalam kitab ini serta menelan sejenis obat mestika yang a mat langka di dunia ini.

"Manusia se maca m ini andaikata bisa bebas dari pengaruh Hou kut jian hun im kang menurut cara penyembuhan yang tercantum berikut  ini,  tenaga  dalamnya  sudah   pasti   akan   me mpero leh ke majuan yang amat pesat. Sebab setiap kali tersiksa oleh Hou kut Jian hun im kang, hawa darah yang tersimpan dalam tulang sumsumnya akan mendesak ke dalam jalan darah Khi hay hiat, begitu jalan nadi pentingnya bebas dari totokan, sudah passi hawa darah yang berkekuatan luar biasa itu akan me nyebar ke seluruh tubuhnya, secara otomatis tenaga dalamnya akan bertambah, akhirnya besar sekali manfaat yang dapat dipetik dari sini.

"Tapi bila orang semaca m ini harus menderita sampa i penyiksaan tahap ketujuh, oleh karena hawa darah yang berkumpul  dalam aliran darah Khi hay hiatnya terlampau kuat, akibatnya jalan darah Khi hay hiat tersebut akan pecah dan menyebabkan ke matian yang menger ikan.

Oleh sebab itu, sebelum penyiksaan tahap ke e mpat, orang semaca m ini harus diusahakan penye mbuhannya, Ingat! Ingat!'

Me mbaca sampa i disitu, manus ia berkerudung itu benar-benar merasa girang setengah mati, rasa ge mbiranya sekarang sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata, tapi dari sorot matanya dan tubuhnya yang gemetar keras bisa  diketahui sampa i dimana kah  me luapnya rasa girang orang ini. Dengan cepat manusia berkerudung itu duduk bersila disisi tubuh Ku See hong, hawa murninya, segera dihimpun menjadi satu, dengan mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna, tak selang berapa saat kemudian pikirannya sudah berhasil dihimpun menjadi satu.

Ilmu silat yang dimiliki manusia berkerudung itu me mang lihay sekali, sambil me mbaca cara penyembuhan yang tercantum diatas kitab pusaka miliknya, dia mulai me ngerahkan tenaganya me lakukan penyembuhan.

Terdengar dia me mbaca dengan lir ih:

" .. Untuk mengobati luka akibat hawa im kang, pertama-ta ma harus   mengguna kan   hawa   mur ni   yang   dimilikinya    untuk me mbimbing hawa darah dalam tubuh sang penderita berputar dua belas kali mengelilinrgi badan, sebabt hawa murni yanqg ada ditubuhnyra perlu dibangkitkan, sehingga bila dilakukan penepukan yang tepat pada delapan nadi pentingnya nanti, semuanya bisa berjalan dengan lancar.

Perlu diingat, bila pemukulan agak meleset dari sasarannya bisa jadi hawa murni yang terkumpul malah akan me nyebar ke arah lain yang akibatnya sukar dikendalikan lagi dan menyebabkan penyumbatan-penyumbatan yang tak diinginkan.

"Cara menghimpun hawa mur ni ini harus dilakukan sedikit de mi sedikit hingga akhirnya terhimpun menjadi satu, jangan dibiarkan bocor keluar, ke mudian dengan mene mbusi nadi Wi keng me h langsung mene mbusi ja lan darah Jit gwat hiat, bila hawa murni telah  menyebar  ke  seluruh  anggota  badan, barulah   dicoba mene mbus i tiga nadi penting yang tertotok.

Begitulah, sa mbil me mbaca cara penye mbuhan yang tercantum didalam kitab pusakanya,  manusia  berkerudung  itu  mula i menyalur kan hawa murninya dan mencoba mengobati luka dalam tubuh Ku See hong dengan cara yang diterangkan, tak selang setengah jam ke mudian dia telah berhasil mendesak racun hawa dingin yang mengeram dalam tubuh Ku See hong hingga berkumpul menjadi satu di jalan darah Yang kwan hiat, Im ciau hoat serta Jit gwat hiat.

Diatas ke tiga buah jalan darah di tubuh Ku See hong tersebut, dengan cepat timbul suatu pe mbengka kan sebesar cawan yang berwarna merah se mu kehita m-hita man.

Manusia berkerudung itu tak berani berayal, dengan cepat tangan kirinya merogoh kedalam sakunya dan mengeluar kan sebuah kotak persegi yang terbuat dari ke mala, begitu kotak tersebut terbuka, seluruh ruangan segera dilapisi oleh segulung cahaya pelangi yang amat menyilaukan mata, cahaya itu seperti asap tipis yang me mbumbung dan menyebar ke mana-mana, sungguh indah an me nawan hati...

Ketika manusia berkerudung itu menge luarkan benda yang berada dalan kotak, ternyata isinya adalah sebutir mutiara sebesar buah kelengkeng.

Cahaya yang terpancar keluar dari mutiara itu sangat menyilaukan mata, dari tubuh mutiara itupun me ma ncar gulungan asap berwarna warni, ada kalanya berwarna merah, ada kalanya hijau, putih, biru, kuning dan berubah-ubah terus, indah menawan tapi menusuk pandangan mata.

oooodwoooo

HAWA KABUT yang berwarna warni itu berubah t iada hentinya dan pelan-pelan me mbumbung ke angkasa setinggi tiga depa lebih, ketika terhe mbus angin ma lam segera menyabar ke e mpat penjuru dan lenyap tak berbekas.

Tapi dengan cepat kabut tipis lain muncul lagi dari balik tubuh mut iara itu, seakan-akan kabut t ipis itu dapat muncul tiada habisnya, dari sini dapat disimpulkan kalau mut iara itu benar-benar merupakan sebuah mut iara mestika. Ternyata mutiara sebesar buah kelengkeng ini tak  lain  adalah mut iara Thian hong im yang sincu yang merupakan benda mestika dari dunia persilatan....

Kasiat dari mutiara tersebut sama seperti kabut warna  warni  yang muncul dari mutiara itu, yakni me miliki kegunaan yang beribu- ribu maca m banyaknya, hanya manusia masih belum mengetahuinya.

Mutiara Thian hong im yang sincu tersebut boleh dibilang mencakup berbagai kegunaan yang a mat banyak, semenjak dahulu kala, entah sudah betapa ribu umat  persilatan  yang tewas akibat me mperebutkan mutiara mestika itu. .

Thian hong im yang sin cu telah me mpunyai sejarah selama seribu tahun, tapi sudah semenjak banyak tahun tak pernah muncul lagi dalam dunia persilatan, sungguh tak di sangka benda mana bisa ter jatuh ke tangan manusia berkerudung, kejadian mana benar- benar merupa kan suatu kejadian yang sukar diduga.

Ternyata berita tentang diperolehnya mutiara Thian hong  im yang sin cu oleh manusia berkerudung yang tersiar dalam dunia persilatan dewasa ini, sama sekali tidak di tanggapi orang secara serius, karena sebagian besar umat persilatan hanya setengah percaya setengah tidak atas kejadian tersebut.

Ketika kawanan jago persilatan dari seluruh kolong  langit berkumpul di kota Heng yang, tujuan yang terutama adalah untuk me lenyapkan manus ia berkerudung ini, sebab kelihayan ilmu silat yang dimililikinya serta ke empat orang pe mbantu setianya yang merupakan empat gembong iblis lihay dari Tang hay itu merupa kan suatu ancaman secara langung bagi kesela matan dan keutuhan dunia persilatan dewasa ini.

Itulah sebabnya tatkala orang mendengar berita tersebut, baik dari golongan putih ma upun hitam berbondong-bondong datang kesitu, selain melenyapkan tokoh persilatan tersebut merupakan tujuannya yang terutama, tujuan lainnya adalah ingin mere ka ketahui apa benar mutiara Thian hong im yang sincu berada ditangannya.

Pelan-pelan manusia berkerudung itu menggengga m mutiara Thian hong Im yang sincunya ke tangan, lalu dari balik sorot matanya me mancar keluar sinar tajam yang menggidikkan hati, seluruh perhatiannya di tujukan ke atas jalan darah Jit gwat hiat pada nadi Yang wi keng meh ditubuh Ku See hong...

Mendadak ...

Ditengah keheningan yang mence kam seluruh ruangan, tahu- tahu berkumandang suara ge mur uh yang a mat rendah dan berat..

Pada saat inilah mutiara Thian hong im yang sin cu yang berada ditangan kanan manus ia berkerudung itu pelan-pelan bergerak diudara, bagaikan rembulan di angkasa yang me mancar cahaya terang, seluruh ruangan mendadak terang benderang bermandikan cahaya.

Suara gemuruh rendah yang menggelegar tadi tak lain adalah suara yang ditimbulkan dari pergeseran mutiara Thian hong im yang sin cu tersebut...

Manusia berkerudung itu dapat menggunakan tenaga dala mnya untuk mengendalikan mutiara Thian  hong im yang sincu dan bergeser di udara dengan sekehendak sendiri, kelihayan tenaga dalamnya tersebut betul-betul luar biasa sekali dan tak ada berapa orang yang ma mpu menghadapinya.

Padahal kalau didengar dari nada pembicaraannya, dia seperti seorang gadis yang baru berusia dua puluh tahunan, seorang gadis muda dapat me miliki tenaga dalam begitu se mpurna, pada hakekatnya kejadian mana benar-benar me mbuat orang tidak habis mengerti.

Tatkala mut iara Thian hong im yang sin cu tersebut bergeser, mencapai di atas jalan darah Jit gwat hiat pada Yang wi keng me h di tubuh Ku See hong, mendadak saja benda mestika tersebut berhenti bergerak. Pada saat inilah telapak tangan si ma nusia berkerudung yang putih bersih dan halus itu nampak ge metar keras, tak bisa disangkal lagi dia sedang me mperbesar tenaga dalam yang disalurkan keluar dari tubuhnya untuk menolo ng jiwa pe muda itu.

Tapi perasaannya saat itu sangat berat dan tegang, sebab bila hawa murninya sampai tersendat-sendat ditengah jalan, bisa jadi nyawa Ku See hong justru akan lenyap di tangannya.

Lebih kurang seperminum teh ke mudian, mutiara Thian hong im yang sin cu itu baru pelan-pelan bergerak turun ke atas jalan darah Jit gwat hiat ditubuh Ku See hong.

Sewaktu mutiara mestika itu mencapa i setengah inci diatas tubuh Ku See hong, mendadak  mutiara  Thian  hong  im  yang  sincu  itu ke mbali berhenti bergerak.

Mendadak...

Mutiara Thian hong im yang sincu itu berputar kencang ditengah udara, dalam perputaran tersebut terdengar suara pekikan nyaring yang meme kikkan telinga, suaranya makin la ma bertambah cepat bagaikan suara seruling, bahkan me mbawa suasana miste-rius yang tak terlukiskan.

Disaat mut iara tersebut berputar kencang, diantara kabut tipis warna warni yang menyebar ke empat penjuru, mendadak muncul sgulung uap berwarna hitam.

Seketika itu juga udara dalam ruangan terendus bau darah yang amis sekali, bau itu mula- mula mas ih samar, tapi kian la ma kian bertambah hitam tebal, sedangkan asap tipis berwarna hitam itupun dari tipis la ma kela maan berubah menjadi tebal.

Ketika berpaling ke mbali ke arah jalan darah Jit gwat hiat pada nadi Yang wi keng meh ditubuh Ku See hong, maka ta mpaklah warna hitam sebesar mangkuk yang menyembul ditubuhnya  makin la ma se makin mengecil sebelum akhirnya menyusut dan lenyap. Kemudian setelah lewat sekian la ma kemudian, otot-otot yang semula menonjol ke luar dan gumpalan besar yang menghita m makin menge mpis dan pulih seperti sedia kala..

Dalam pada itu, mutiara mestika Thian hong im yang cu, telah berhenti berputar, kemudian pelan-pelan berputar ke atas jalan darah Yang kwan hiat pada urat nadi Tok yong keng di tubuh Ku See hong, seperti juga keadaan semula dengan suatu  kekuatan yang luar biasa  mutiara  itu  menghisap  keluar  sari  racun  yang  me mbe ku dibadan, akhirnya benda itu baru bergeser ke jalan darah Im ciau hiat pada nadi Jin meh keng.

Jalan darah Im ciau hiat terletak diatas jalan darah Khi hay hiat, bila jalan darah tersebut sudah punah, ma ka hawa darah dalam tubuh Ku See hong akan pulih kembali seperti sedia kala, peredaran darahnya pun akan menjadi nor ma l ke mbali.

Lewat seperempat jam ke mudian, akhirnya jalan darah Im ciau hiat berhasil juga dibebaskan.

Waktu itu, manusia berkerudung tersebut sudah kelelahan  sampai napasnya tersengkal-sengkal dan peluh me mbasahi seluruh tubuhnya, dia menar ik napas panjang, tanpa beristirahat tangan kirinya merogoh ke dalam kotak obat dan mengeluarkan tiba buah botol kecil.

Dari ketiga botol tadi dia menuang sedikit bubuk obat berwarna merah, putih dan kuning kedalam secawan air bersih yang telah dipersiapkan, ke mudian mutiara Thian hong im yang sincu tadi dicelupkan ke dalam cawan itu.

Bergulung-gulung asap tipis mengepul keluar dari dalam cawan, air bersih yang berada dalam cawan segera berubah  menjadi merah.

"Pluuuk, pluuuuk, pluuuk...!" suatu gemerutuk berbunyi nyaring tiada hentinya, bagaikan air yang sedang mendidih saja, air tersebut bergelembung tiada hentinya. Lewat berapa saat kemudian, manus ia berkerudung itu baru menjepit keluar mutiara Thian hong im yang sincu tadi dari dalam cawan, seperti pula  sedia  kala  mutiara  tersebut  me mancar kan  ke mbali panca warna yang menyilaukan mata.

Dengan sangat berhati-hati, dia menaruhkan mut iara mestika itu ke daleam kotak ke mala, dan dimasukkan ke dalam saku.

Kemudian dia menga mbil cairan yang me merah yang berada dalam cawan, setelah diteguk sedikit, buru-buru dijejalkan ke mulut Ku See hong, dengan tangan kiri me mentang mulutnya, cairan merah dalam cawan segera dilolohkan ke dalam mulutnya.

Sementara itu Ku See hong masih tetap terpejam mata, namun paras mukanya sudah tak nampak mengerikan seperti tadi lagi, diantara warna pucat kini muncul setitik cahaya merah, napasnya amat teratur, persis seperti orang yang sedang tertidur nyenyak.

Manusia berkerudung itu menghe mbuskan napas lega,  serunya ke mudian lirih:

'Adik Khi, masuklah!"

Baru selesai berkata, segulung angin berhe mbus lewat, bagaikan sukma gentayangan Kho It Khi sudah menerjang masuk ke dalam ruangan.

Ketika ia menyaksikan seluruh badan manusia berkerudung itu basah kuyup oleh air keringat, buru-buru bisiknya:

"Enci, coba lihat, kau sudah kehabisan tenaga seperti ini, cept pergi beristirahat, biar aku yang merawat engkoh Se hong!"

Manusia berkerudung itu segera me mperdengarkan suara helaan napas yang sangat aneh dan membingungkan, ke mudian baru berkata:

"Adik Khi, setengah jam lagi dia sudah akan sadar dari pingsannya, bila ia telah sadar nanti, serahkan pedang antik ini kepadanya dan suruh dia cepat-cepat pergi" "Cici, apakah kau tidak bersedia menjumpai nya' seru Kho It khi dengan perasaan terkejut bercampur keheranan.

Terbentik sinar le mbut dibalik sorot mata si manusia berkerudung yang murung, di tatapnya wajah Kho it khi yang kecil dan lembut itu dengan penuh kasih sayang, kemudian setelah menghela napas sedih, kata nya:

'Adik Khi, aku tak ingin berte mu dengannya"

'Mengapa?" tanya Kho it khi tidak habis mengerti, ”kau adalah tuan penolong, dia sudab seharusnya berterima kasih kepada mu"

"Adik Khi, sebelum ia sadar kembali, aku harus segera pergi meninggalkan tempat ini. Jika ia telah sadar nanti, serahkan pedang ini kepadanya dan suruh dia cepat meninggalkan tempat  ini, pesanlah kepadanya bagaimanapun juga ia tak boleh datang ke sini lagi, bila berani me mbangkang maka jiwanya bisa terancam bahaya”

Sebetulnya beberapa patah kata-kata itu diutarakan dengan amat terpaksa, karena ucapan itu sangat bertentangan dengan suara hati sendiri.

Mengapa dia melarang pe muda itu datang lagi kesitu? Apakah kuatir dia berhasil mengetahui rahasianya!"

"Yaa benar, andaikata ia berhasil mengetahuinya mati- matian, maka hati kecilnya akan merasa lebih menderita dan tersiksa, itulah sebabnya mau tak mau dia harus mengucapkan kata-kata sekasar itu untuk mena mpik kedatangan Ku See hong, agar dia menaruh kesan jelek terhadap dirinya.

Tapi, dia ma na bisa menyangka kalau Ku See hong adalah seorang lelaki yang pandai me mbedakan mana jasa dan mana dendam, bila seseorang pernah melepaskan  budu kepadanya, sampai matipun dia akan berusaha untuk me mbalas budi tersebut, justru kata-kata tampikannya ini akan me mbangkitkan kecurigaan dalam hatinya sehingga dia malah se makin berkeinginan untuk menyelidiki asal usulnya. Walaupun setelah sadar nanti dan mendengar pesan itu, dia akan berpendapat bahwa teka-teki itu tak perlu dipikirkan lebih jauh, tapi rasa ingin tahu yang muncul dalam hatinya pasti akan sulit dikendalikan olehnya.

Sejak dulu hingga sekarang, walaupun perubahan manusia itu sangat besar, namun keinginan untuk menyingkap teka teki yang aneh masih tetap berakar dalam hati setiap orang.

Itulah sebabnya tiada teka teki yang bersifat kekal di dunia ini, pada suatu saat rahasia tersebut pasti akan terbongkar, masalahnya hanya tinggal soal waktu saja.

Kho It khi me mutar otaknya sebentar, mendadak ia bertanya: ”Seandainya dia sudah sadar dan me mbangkang perkataanmu

dengan me maksa diriku untuk menjawab keadaan yang sebenarnya,

apa yang harus kulakukan?"

'Usahakan bersikap dingin dan sinis untuk me ma ksanya pergi dari sini"

"Kalau dia menggunakan kekerasan, Apakah aku benar-benar harus turun tangan untuk me mbunuhnya!''

Tiba-tiba manusia berkerudung itu tertawa cekikikan.

"Adik Khi, mengapa  sih  kau  begini  tidak  me nurut?  Aaaai... dike mudian hari kau bakal tahu sendiri alasan yang sebenarnya, kini lakukan saja seperti apa yang kuperintahakn"

Meskipun usia Kho It khi masih muda, namun dia cerdik dan pandai menganalisa perkataan orang, kecerdasannya sama sekali tidak kalah dengan kecerdasan orang dewasa.

Sekarang, dalam hati kecilnya sudah dapat menduga  kalau antara dia dengan Ku See hong tentu terikat dalam suatu hubungan yang luar biasa, mungkin saja dimasa lalu antara mereka berdua terjadi kesalah paha man yang berakibat saling  ber musuhan,  tapi ke mudian kedua belah pihak sa ma-sa ma menyesali perbuatannya. Tapi oleh karena watak mas ing- masing keras kepala, me mbuat kedua orang itu tak ada yang bersedia minta maaf lebih dulu atas kesalahan paham dimasa la lu.

Padahal darimana ia tahu kalau kejadian yang sesungguhnya bukan demikian, bahkan diapun tidak pernah menyangka kalau hubungan mereka yang sesungguhnya jauh melebihi kese muanya itu?

Kembali Kho It khi berkata:

"'Enci, maksudmu sekarang, persoalan tersebut pada  akhirnya toh akan diketahui juga olehnya, bila kau me mberitahukan hal ini kepadanya, hatimu akan merasa pedih dan mender ita, tapi kau harus tahu, jika persoalan ini dibiarkan berlarut lebih la ma, ma ka selama waktu-waktu tersebut hatimu bisa se makin sengsara. jauh lebih me nderita dan sengsara daripada kau sa mpaikan kepadanya sekarang juga, oleh karena itu aku pikir lebih baik persoalan ini diselesaikan secepatnya saja"

Mendengar perkataan itu, mau tak ma u si manusia berkerudung itu harus me muji juga akan kehebatan berpikir bocah itu, tapi persoalan yang dihadapi sekarang begitu pelik, begitu sulit untuk di utarakan secara terus terang.

Sekarang dia bukannya kuatir dia tak akan me maafkan dirinya, tapi justru perasaan rendah diri yang muncul dalam hatinya inilah yang me mbuat dia sulit unturk berte mu dengannya.

Butiran air mata jatuh bercucuran me mbasahi wajah manus ia berkerudung itu, berbagai ingatan berkecamuk di dalam benaknya, bagaikan omba k di tengah samudra yang menggulung tiada hentinya.

Mendadak terkilas sinar mata yang teguh dan mantap dari balik kain kerudung tersebut, dengan suara agak gemetar katanya:

"Adik Khi, kau harus mela ksanakan seperti apa yang kukatakan tadi, jangan katakan kalau aku yang menolongnya, setelah kau mengus irnya pergi dari sini, besok segera berangkatlah kau ke le mbah Cui yu kok, Aku percaya dengan kecerdasanmu, kau pasti dapat membangkitkan hawa amarahnya, Kita sebagai orang Hiat mo bun sudah  seharusnya  menuruti  perkataan  Buncu,  bila  berani  me langgar perintah ma ka dia harus menerima hukuman yang setimpal, walau-pun aku amat menyayangi dirimu, tapi peraturan perguruan tak bisa dirubah-rubah, mengerti kah kau?"

Dari balik sorot mata manus ia berkerudung sekarang terpancar keluar sinar tajam yang menggidikkan hati, sorot mata tersebut jauh berbeda dengan sinar mata yang penuh kelembuatan tadi.

Menyaksikan sinar matanya itu, dengan sedih Kho It khi berkata: "Enci, adik khi pasti akan menuruti perintahmu, aku hanya tak

ingin menyaksikan kau menyimpan luka didalam hatimu, maka aku berharap enci suka berpikir  tiga  kali  sebelum  bertindak,  tariklah ke mbali perintahmu itu"

"Kehidupanku di dunia ini sudah ditakdirkan hidup menyendir i" ucap manus ia berkerudung itu lagi tegas, "Kau tak usah banyak berbicara lagi, anggap saja dia sebagai musuh besarku. Nah, aku akan pergi dulu. Baik-ba iklah menjaga diri"

Selesai berkata, manusia berkerudung itu me lejit ke tengah  udara dan melayang keluar dari ruangan tersebut.

Me mandang bayangan punggungnya yang menjauh, tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang me mbasahi pipinya.

Setelah menghela napas sedih, guma mnya:

"Sudah pasti antara enci dengan Ku See hong me mpunyai suatu hubungan yang luar biasa, aaai ....! Aku Kho It khi sudah banyak berhutang budi kepada cici, tapi ia tidak  me mperkenankan kepadaku untuk turut merasakan ke murungannya"

Dia mbilnya sebuah bangku lalu duduk di sisi pembar ingan Ku See hong, menatap wajah tampan Ku See hong yang lambat laun makin me merah, dalam benaknya berkecamuk pelbagai pikiran, dia berusaha untuk mencari tahu hubungan apakah yang sebenarnya terjalin antara encinya dengan Ku See hong. Waktu itu kentongan ke empat sudan menjelang tiba, bintang bertaburan di angkasa, suasana amat hening.

Gedung rumah yang besar ibaratnya sebuah kuburan, terasa begitu sunyi, sepi, dan menger ikan.

Dalam suasana yang hening inilah pelan-pelan Ku See  hong sadar kembali, na mun sepasang matanya masih terpejam rapat- rapat, pelbagai ingatan melintas cepat didalam benaknya, dia seolah-olah sedang mengenang ke mba li kejadian la mpau yang telah diala minya.

Mendadak ia merasakan tubuhnya sama sekali tidak terasa sakit, semangatnya terasa segar dan tidak mirip orang yang mengidap penyakit parah.

Semula dia mengira dirinya sudah tidak berada di alam dunia  lagi, sebab dia tahu kalau tiada harapan untuk hidup lagi, konon hanya dialam baka orang tak akan merasakan kesakitan...

Tapi la mbat laun dia merasa dugaannya itu tidak benar, sebab dia mas ih bernafas dengan begitu leluasa, dadanya masih penuh dengan hawa segar, penuh dengan semangat hidup, keadaan seperti ini tidak mir ip dengan keadaan orang yang sudah mati.

Benarkah dia masih hidup? Benarkah dia mas ih hidup?

Dia berusaha mencar i jawaban yang  benar  tapi ia  tak berani me mbayangkan, tanpa terasa ia mencoba untuk menyalur kan hawa murninya yang berada dalam tubuhnya, ternyata segala sesuatu nya dapat berjalan dengan lancar dan le luasa.

Tak bisa disangkal lagi dia mas ih hidup di dunia ini, tapi siapakah yang me mber ikan se mangat hidup lagi baginya?

Secara lamat-la mat dia teringat kembali disaat dia mendekati penyiksaan Hou kut jian hun im kang tahap ke e mpat, la mat-la mat dia mendengar Kanglam sianghou mendengus tertahan,  kemudian ia seperti kehilangan kesadarannya... Tanpa terasa dia menghela napas sedih dan membuka matanya pelan-pelan, pemandangan pertama yang tertangkap oleh sorot matanya adalah cahaya lampu serta beberapa lukisan yang tergantung diatas dinding ruangan...

Mendadak terdengar suara teguran seorang bocah lelaki yang nyaring berkumandang dari sisi tubuhnya:

"Kau telah sadar ?"

Berbaring diatas pembar ingan e mpuk, cepat-cepat Ku See hong me mba likkan tubuhnya, dalam sekilas pandangan  saja  dia  telah me lihat Kho It khi yang sedang duduk di tepi pembar ingan, di tangannya memegang pedang Ang soat kiam miliknya, sedangkan sorot matanya yang jeli sedang menatap ke arahnya  tanpa berkedip.

Ku See hong segera menegur:

"Sebenarnya disini alam manusia atau alam baka?" ''Alam manus ia!" jawab Kho It khi ketus.

Tergetar juga perasaan Ku See hong sesudah menyaks ikan wajah serta nada pembicaraan orang yang dingin dan kaku, tapi cepat- cepat dia bertanya lagi:

"Kalau begitu, dimana kah sekarang aku berada?'

''Dalam neraka!" jawaban Kho It khi tetap tak berperasaan.

Sekilas a marah segera menghiasi wajah Ku See hong, teriaknya lagi keras-keras:

''Dimanakah sekarang aku berada?' "Dalam neraka!".

Jawaban dari Kho It khi masih tetap seperti sedia kala, tubuhnya belum juga bergerak, akan tetapi sepasang biji matanya menatap wajah Ku See hong tanpa berkedip. Bergidik juga hati Ku See hong setelah ditatap macam begini, tegurnya lagi cepat:

''Kau ini manus ia atau setan?"

"Manusia!" Kho It khi me mang seorang bocah yang berbakat lagi cerdas, ternyata dia bisa menunjukkan sikap maupun paras muka yang sama sekali tak berubah seperti sedia kala.

Dihadapi oleh sikap gerak gerik serta pembicaraan yang begitu aneh, Ku See hong sungguh dibuat kaget bercampur tercengang, sepasang matanya yang mengawasi wajah Kh oIt khi sa mpa i terbelalak lebar-lebar tanpa berkedip.

"Ini dia pedangmu, cepat a mbil pedang ini dan keluar!" perintah Kho It khi lagi dingin.

"Keluar? Keluar ke mana?" Ku See hong tidak habis mengerti.

Walaupun usia Kho It khi masih muda, na mun sikap maupun tindak tanduknya tak berbeda jauh dengan raja akhirat kecil.

Mendengar pertanyaan tersebut, dia lantas mendengus dingin, serunya makin ketus:

"Keluar dan tinggalkan tempat ini!"

"Tinggalkan te mpat ini... tinggalkan tempat ini..." gumam Ku See hong lirih.

Mendadak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak- bahak, suaranya sangat keras bagaikan gunung karang yang berguguran, me mbuat seluruh ruangan bergetar sangat keras.

Terkesiap juga hati Kho It khi mendengar suara tertawa tersebut, segera pikirnya:

"Tenaga dalam yang dimilikinya begitu sempurna, mengapa ia bisa terhajar ilmu pukulan Hou kut jian jun im kang dari Ban sia kaucu dengan begitu mudah..?"

Mendadak Ku See hong menghentikan gelak tertawanya, lalu berseru dengan lantang: "Adik cilik, tolong tanya kaukah yang telah menyelamatkan selembar jiwaku?"

"Bukan aku!" jawab Kho it khi singkat.

`Adik cilik, cepatlah kau me mberitahukan kepadaku, siapa yang telah menyelamaskan jiwaku?"

Walaupun Kho It khi ingin sekali me mberi tahukan kepadanya bahwa  manus ia  berkerudung   warna   warni   yang   telah menyela matkan  jiwanya,   akan   tetapi   dia   pun    tak   berani me mbangkang perintah dari encinya, ma ka ke mba li sahutnya dengan ketus:

"Tidak tahu!"

Kini Ku See hong benar-benar dibuat kebingungan oleh ucapan Kho It khi yang sangat aneh tersebut, sesudah terkejut dan termangu beberapa saat, diapun bertanya.

`Kalau begitu kau bukan orang yang menghuni di rumah ini?" ''Kau tak usah banyak bertanya lagi" tukas Kho It khi se ma kin

ketus 'a mbil pedang milikmu dan segera pergi dari sini"

Sejak menge mbara didalam dunia persilatan, belum pernah Ku See hong menjumpai sikap yang begini aneh dari seorang bocah  cilik, sebagai seorang lelaki yang tahu me mbedakan mana budi dan mana denda m, tentu saja dia merasa enggan untuk meninggakkan tempat tersebut dengan begitu saja, sehabis menerima budi kebaikan orang.

Maka sa mbil berusaha keras menahan rasa kesal dalam hatinya, dia berkata lagi pelan:

"Saudara cilik, harap kau sudi me mbantu-ku, beritahu kepadaku siapa yang telah menolongku? Bersedia bukan?"

Kho It khi segera berkerut kening sa mbil menarik wajahnya dia berseru amat gusar: "Kau ini bagaimana sih? Mengapa tak bisa menerima perkataan orang? Suruh kau jangan bertanya  dan segera tinggalkan  tempat ini, mengapa kau masih saja ngebacot tiada hentinya?"

Hawa amarah yang berkobar dalam dada Ku See hong benar- benar dibuat me mbara oleh ucapan bocah tersebut, ia segera tertawa dingin:

"Heeehhh...heeehhh...heeehhh... sejak menge mbara di dalam dunia persilatan belum pernah kujumpai seorang bocah yang berusia muda maca m kau tapi juma wanya bukan kepalang"

"Hmmm, aku toh suruh kau pergi dari sini, salahkah tindakanku ini?" Kho It khi telah me mbentak dengan marah.

Ku See hong jadi tertegun, kemudian pikirnya:

"Benar juga perkataan ini, tempat ini kan rumah tinggalnya, dia  me mang berhak untuk menyuruhku pergi dari sini, tapi... apakah aku harus mener ima budi kebaikan orang dengan begitu saja?"

Mendadak terdengar Kho It khi bertanya:

"Hei, orang she Ku, sepanjang hidupmu berapa banyak gadis yang pernah kau kenal?"

Ku See hong benar-benar dibuat beringas oleh pertanyaan tersebut,  mendadak  satu   ingatan   melintas   dalam   benaknya, ke mudian katanya sambil tertawa:

"Saudara cilik, buat apa kau menanyakan masa lah ini?"

"Baik,  baik,  kau  pergi  saja  dari  sini!"  akhirnya  Kho  It  khi me mbentak lagi dengan wajah sedingin es.

Ku See hong sungguh dibikin kebingungan oleh sikap lawannya, tapi ia pun merasa a mat kesal, kembali ia menegur ketus:

"Andaikata aku hendak tetap berada disini, mau apa kau?"

"Akan kuusir kau dengan kekerasan, tak usah banyak bicara lagi, ambil ke mbali pedangmu!" Dia lantas menyodorkan pedang Ang soat kiam tersebut kehadapan anak muda tersebut, dalam dorongan inilah terasa ada segulung tenaga tekanan yang beratnya mencapai r ibuan kati menekan diatas dada Ku See hong...

Tak terlukiskan rasa kejut Ku See hong menghadapi kejadian semaca m ini, dia tak menyangka dengan usianya yang masih begitu muda, ternyata tenaga dalamnya sudah mencapai tingkatan sedemikian hebatnya, buru-buru dia mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam lengan kiri, lalu dengan entengnya pedang Ang soat kiam tersebut diterima dan disisipkan dibelakang bahu, lalu sambil turun dari pe mbaringan katanya dingin:

"Bila kau bersikeras menola k untuk me mber itahukan siapa penolongku, terpaksa aku harus bersikap kurang hor mat dengan menerobos masuk ke dalam ruangan dala m.

Berbicara sampai disitu, dia benar-benar beranjak dan melangkah ke ruang dala m.

Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Kho It khi telah menghadang dihadapan nya sambil me mbentak:

"Berhenti! Orang she Ku, kau adalah seorang tokoh yang  bernama besar dalam dunia persilatan, mengapa sikapmu tak tahu sopan? Apakah kau anggap dengan na ma besar mu itu lantas kau boleh bertindak sewenang-wenang... ?"

Merah dadu selembar wajah Ku See hong karena dampratan tersebut, dia lantas menghela napas sedih.

"Saudara cilik, kau me ma ng seorang bocah yang luar biasa, sebelum aku pergi dari sini, aku hanya mohon bertanya akan satu hal. Tolong tanya apakah arang yang menolongku adalah orang yang melarang  kau menber i tahukan na ma dan julukannya kepadaku? Atau hal ini atas prasangka mu sendiri?"

Pelan-pelan paras mukah Kho  It  khi berubah  menjadi  le mbut ke mbali, katanya pula: ''Aku pun ingin me mo hon satu hal kepadamu,  harap kau selanjutnya jangan datang kemari lagi, sebab tempat ini adalah neraka  dunia,  orang  yang  berani  datang  kemari  hanya  akan  me mpero leh jalan ke matian.

"Yaa, me mang orang yang menolo ngmu  yang  me larang  aku me mber itahukan na ma dan julukannya kepadamu, oleh karena dia menyayangi jiwaku ma ka ia baru menolo ng mu, tapi kau jangan salah sangka, bila ingin menyelidiki keadaan disini berarti kau akan menghantar nyawamu dengan percuma, sebab sampai di alam baka pun kau tak akan mengetahui siapa penolongmu itu, nah aku hanya bisa berkata sa mpit disini saja, pergilah sekarang!'

Ku See hong benar-benar merasa kagum terhadap kecerdikan bocah ini, kelincahan serta ketajaman lidahnya sukar dite mukan di kolong langit, apalagi dilihat dari tenaganya sewaktu melempar kan pedang serta ilmu meringankan tubuhnya sewaktu menghadapi jalan perginya, boleh dibilang se muanya merupakan kepandaian seorang jago lihay dalam dunia persilatan.

Siapakah yang telah mengajarkan kepandaian sakti itu kepadanya?

Andaikata ia diberi waktu sepuluh tahun untuk melatih diri, niscaya kelihayannya tak terlukiskan dengan kata-kata.

"Heran,  siapakah  yang  telah  menyelamat  kan  jiwaku   tapi me larang aku mengetahui na ma julukannya?" Demikian pe muda itu berpikir keheranan, "kalau ditinjau dari perabot dalam ruangan itu serta bau aroma yang tersiar dalam disekitar sini, sudah jelas kamar ini ka mar tinggal seorang perempuan, tapi siapakah dia? Kenalkah aku dengannya?

Setelah berhenti sejenak, ia berpikir lebih jauh:

"Dalam hidupku, banyak perempuan yang pernah kukenal tapi diantara mereka hanya Keng Cin sin yang telah mati, Him Ji im yang terperangkap dalam sarang Ban sia kau serta Im Yan cu yang hangat saja yang bersedia mengor bankan nyawanya untukku" Teringat akan Im Yan cu, Ku See hong lantas berguma m dihati:

"Mungkinkah Im Yan cu mengetahui keadaan yang sebenarnya, baiklah kutanya kan saja persoalan ini kepadanya nanti, kalau toh orang lain tidak bersidia  me mberi tahukan nya,  toh aku tak bisa  me ma ksa dengan menggunakan kekerasan..."

Ketika ingatan itu me lintas lewat dalam benaknya, akhirnya Ku See hong menghela napas panjang, katanya kemudian dengan perasaan apa boleh buat:

"Baiklah, sekarang juga aku akan pergi, tapi nama saudara cilik tentunya boleh kuketahui bukan?"

"Na maku seperti juga na ma orang yang menolongmu, tak ingin diketahui siapapun, harap kau suka me ma kluminya!"

"Saudara cilik, kalau begitu kita berjumpa lagi di lain waktu, selama hayat masih dikandung badan, aku orang she Ku akan mencari tahu siapakah tuan penolong yang telah menyela matkan jiwaku ini!"

Selesai berkatr, tidak nampak gerakan apa yang digunakan  Ku see  hong,  tahu-tahu  ia  sudah  me layang  keluar  dari  ruangan, ke mudian sekali melejit badannya berada diatas atap rumah, sorot matanya yang tajam dengan cepat me mperhatikan sekejap sekeliling tempat itu.

Tampak  bangunan  rumah yang   ada   disana   sa mbung menya mbung sa mpa i dikejauhan sana, tapi suasana gelap gulita dan sunyinya lura biasa, diantara hembusan angin yang menggoyangkan  pepohonan,  hanya   terdengar   bunyi   burung ma la m...

Mendadak suasana suram, sepi dan seram yang menceka m sekeliling te mpat itu, tak kuasa Ku See hong menghela napas sedih, guma mnya:

"Yaa, seperti apa yang dia katakan, tempat ini me mang neraka dalam dunia, neraka dalam dunia! Aaaai... hidup manusia bagai- kan dalam impian, seperti juga aku sekarang, apa yang kuala mi sela ma ini ibarat suatu impian buruk, tapi impian buruk ini merupa kan impian yang sukar kupaha mi..."

Sekali lagi Ku See hong menghe la napas panjang, tubuhnya segera berkelebat sejauh puluhan  kaki,  la lu  dalam beberapa  kali lo mpatan saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan.

Tak la ma setelah bayangan tubuh Ku See hong lenyap dari pandangan, dari balik kegelapan terdengar suara helaan  napas sedih, lalu kedengaran seseorang berguma m:

"Hidup manus ia bagaikan dalam impian, kalau begitu aku lagi- lagi bermimpi buruk, tapi... impian ini mas ih berlangsung terus, masih berkembang terus, entah bagaimana akhir dari impianku ini... ?"

Bayangan langsing dibalik kegelapan tersebut  bukankah  si manus ia  berkerudung  itu?   Kini   kelopak   matanya   sudah menge mbang penuh air mata...

Dengan me mbawa perasaan sedih yang mence ka m, dia pun berlalu dari situ tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Kini, waktu menunjukkan kentongan ke lima, fajar baru saja menyings ing di langit timur...

oooodwoooo

Dalam pada itu setelah Im Ya cu menelan pil Im hwee si hun wan, berhubung obat itu sudah mulai bekerja, kesadarannya lambat laun sema kin me mudar, sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat, dadanya bergelom-bang naik  turun  tiada  hentinya,  wajah  yang me mucatpun kini telah berubah menjadi se mu merah.

Apakah nasibnya begitu tragis? Apakah kehormatanya  akan hilang digagahi manus ia brutal tersebut?

Sepasang mata cabul si pedang ular perak Ciu Heng thian telah me mancarkan sorot  mata  rakus  yang   menjijikkan,   sambil menga mati seluruh tubuh Im Yan cu dari atas hingga ke bawah, ia perdengarkan suara tertawa cabulnya yang menggidikkan.

-oooodwoooo-