Dendam Sejagad Jilid 16

Jilid 16

ANGIN tajam segera me mancar ke e mpat penjuru, diantara desingan angin tajam, bayangan tubuh mereka segera saling berpisah.

Seluruh tubuh nona berbaju putih itu terbawa ketengah udara  dan berjumpa litan beberapa kali lebih dulu sebelum melayang turun ketanah, mukanya pucat pias, tampaknya luka dalam yang dideritanya cukup parah.

Sebaliknya perawakan tubuh si Kakek berlengan iblis Kwong Yu siang yang ceking dan kecil bagaikan layang layang yang putus benang mencelat sejauh tiga e mpat kaki sa mbil muntah darah segar.

Begitu mencapai tanah dengan tubuh sempoyongan buru-buru dia melar ikan diri meninggalkan te mpat itu.

Dalam waktu singkat, bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan sana. Nona berbaju putih sendiri juga merasakan hawa darah di dalam dadanya bergolak keras akibat dari serangan yang dilancarkan si Kakek berlengan iblis Kwong Yu Siang, terpaksa dia me mbiar kan musuhnya melarikan diri dengan begitu saja.

Setelah berdiri termangu- mangu beberapa saat lamanya, dengan menganda lkan sisa hawa murni yang dimilikinya, dia segera mengatur napas untuk mengendalikan hawa darah yang sedang bergelora didalam dadanya sekarang.

Kurang lebih seperminum teh ke mudian, dia menarik napas panjang-panjang ke mudian menghela napas sedih, guma mnya:

"Malam ini aku telah menghianati ibuku me mbunuhi sesa ma anggota perkumpulan, pelanggaran semaca m ini mer upakan suatu pelanggaran yang diancam dengan hukuman berat, sekalipun ibuku adalah ketuanya, tapi dengan kekejian sifatnya, tak mungkin dia "

Mati! Bukankah sesuatu yang menakutkan tapi sebelum mat i dia ingin sekali me ngetahui asal-usulnya yang sebenarnya, kalau tidak sampai matipun dia tak akan mati dengan mata meram.

Tapi... dunia begini luas, dia tak lebih hanya seorang perempuan yang lemah, ke mana dia harus mencari tahu akan hal tersebut...

Teringat hal-ha l yang me medihkan hatinya, tanpa terasa titik air matanya jatuh berlinang.

Setelah termenung sebentar, pelan-pelan dia berjalan ke sisi tubuh Ku See hong, kemudian me mbopongnya ke mbali serayu berguma m:

''Sungguh kasihan pendekar muda ini, gara-gara cintanya yang buta, aku sampai salah me mbunuhnya, dosa sebesar ini entah bagaimana harus menebusnya? Aaaai .... sekalipun aku harus mati, belum tentu hatiku bisa menjadi tenteram''

"Aaaai .... betapa pikunnya aku ....! Entah siapa yang dia sebut sebagai Keng Cin Sin itu? tampaknya gadis itu sudah mati, jika dia masih hidup, aku harus menceritakan kisah terbunuhnya pemuda itu kepadanya, kemudian aku akan menyerahkan diri kepadanya agar dijatuhi hukuman mati"

Guma man gadis berbaju putih itu bernada amat sedih, akhirnya dengan hati yang murung dan penuh duka lara, selangkah demi selangkah dia berlalu dari situ.

Fajar telah mulai menyings ing di ufuk sebelah t imur....

Sambil me mbopong tubuh Ku See hong, dia berlarian melewati beberapa buah puncak bukit dan tibalah disebuah puncak yang menjulang t inggi ke angkasa.

Diatas puncak bukit itu terdapat sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan serta aneka bunga yang indah, suatu tempat yang sepi dan indah menawan hati.

Di ujung tanah lapang sana merupakan jurang dengan  awan yang menyelimutinya, benar-benar merupakan suatu tempat yang luar biasa.

Sambil me mbo pong tubuh Ku See hong, selangkah de mi selangkah gadis berbaju putih itu berjalan menuju ke puncak bukit itu, duduk diatas tanah berumput dan me mandang awan diangkasa dengan termangu, titik-titik air mata jatuh bercucuran me mbasahi pipi Ku See hong yang berada dalam bopongannya.

Suatu helaan napas sedih mendadak menyadarkan ke mba li nona berbaju putih itu dari lamunannya.

Dengan   cepat    dia    me nundukkan    kepala    nya    sa mbit me mperhatikan Ku See hong yang berada dalam bopongannya, tapi ke mudian ha mpir saja dia menjerit kaget.

Ternyata  waktu  itu  ada  sepasang  mata  yang   jeli   sedang me mandang wajahnya dengan termangu-mangu, orang itu tak lain adalah Ku See-hong ....

Tak terlukiskan rasa terperanjat nona berbaju putih itu, mungkinkah ia mati dengan mata tak mera m, ma ka sekarang dia berubah jadi setan untuk menggodanya? Ternyata sepasang mata Ku See hong itu melotot besar bagaikan mata orang mati, biji  matanya tidak bergoyang dan kelopak matanya tidak berkedip, hal ini me mbuat gadis itu tak pernah menyangka kalau si anak muda itu telah hidup ke mbali.

Setelah berhasil menenangkan hatinya dia berguma m dengan sedih:

"Apakah kau mati dengan mata tak mera m? Aai... bila kau ingin hidup ke mbali untuk menangkap aku, hatikupun merasa rela, bagaimana kalau sebentar lagi kubopong dirimu dan bersa ma-sa ma me lo mpat kedalam jurang"

Mendadak.... Ku See hong menggerakkan biji matanya, lalu dengan wajah berseri-seri jeritnya kaget.

''Adik Sin, aku belum mati? Apakah kita sedang berada dalam neraka?"

Nona berbaju putih itu me njadi ketakutan setengah mati, sambil menjer it keras dia mendorong tubuh Ku See hong dan siap-s iap untuk me lo mpat bangun.

Tapi dengan suatu kecepatan luar biasa Ku See hong telah merangkuli pinggangnya kencang-kencang, ke mudian dengan nada yang amat mesrah dia berkata:

"Adik Sin, kali ini aku tak akan me mbiar kan kau pergi lagi. mau bukan kau te mani aku untuk sela ma- la manya?"

Setelah pinggangnya kena dirangkul, nona berbaju putih itu tak sanggup untuk bangkit ke mbali, apalagi sesudah mendengar perkataannya itu, ia semakin menyadari apa gerangan yang telah terjadi, kejut dan ge mbira dia segera berteriak:

“Kau... kau belum mati. . .” Ku See hong segera tertawa.

"Adik Sin, aku tak akan mati seorang diri, bila kau hidup didunia, aku tak akan pergi mati, aku selalu berada disisimu. " Nona berbaju putih menjadi terharu sekali, mendadak dia menyandarkan kepalanya diatas dada Ku See hong yang lebar dan menangis tersedu-sedu, katanya.

''Kau... mau bukan me maafkan  diriku?  Sela ma  ini  aku  telah  me mukulmu,  aku  tidak  ber maksud  sungguhan,  sekarang      kau

boleh me mukul aku sampa i mati untuk mela mpias kan ke mangkelanmu itu, aku bersedia mati diujung telapak tanganmu "

Hingga sekarang Ku See hong mas ih me nganggap nona berbaju putih ini sebagal Keng Cin sin dari istana Huan mo kiong di Lam hay, maka setelah mendengar perkataan itu, dibelainya ra mbut gadis itu dengan penuh kasih sayang, ucapnya le mbut:

''Adik Sin aku mencintai dirimu me lebihi cintaku pada nyawaku sendiri, sekalipun  kau menghajar diriku, aku tak akan marah kepadamu, aku tahu kau tak ber maksud begitu, adik Sin kesulitan apakah yang sedang kau hadapi? Maukah kau untuk  mengatakannya kepadaku."

Nona berbaju putih itu adalah seorang gadis yang masih polos, suci bersih tanpa pikiran jahat, bukan saja wajahnya cantik, hatinya sangat baik..

Saat itu dia tahu bahwa dia telah mencintai orang ini, sekalipun pemuda itu menganggapnya sebagai Keng Cin sin, tapi dengan senang hati diapun bersedia untuk berlagak seakan-akan dialah Keng Cin sin, rahasia tersebut tak dibongkarnya untuk sementara waktu.

Hal ini justru merupakan penyakit dari kaum wanita, dia tahu kalau Ku See hong sangat mencintai Keng Cin sin, bila dia mengakui kalau dirinya bukan Keng Cin -s in, maka ia akan segera kehilangan  si anak muda itu.

Setiap kali seorang gadis sudah mencintai  seorang lelaki, pikirannya akan menjadi kacau, matanya seakan-akan buta, justru karena hal-hal inilah maka seringkali kejadian itu me mbuat mereka me lakukan banyak kesalahan yang berakibat menyesal dike mudian hari.

Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, nona berbaju putih itu berkata dengan sedih:

"Engkoh Hong, aku tidak me mpunyai rahasia apa-apa, aku hanya merasa malu dan me nyesal kepada mu"

Dengan sepenuh tenaga Ku See hong meme luk tubuhnya dan mene mpe lkan badannya lekat-lekat dengan tubuh sendiri, lalu ujarnya lembut:

"Adik Sin, kau tak pernah me lakukan kesalahan apa-apa kepadaku, hanya akulah yang telah berhutang budi dan cinta kepadamu"

Nona berbaju putih itu menjadi terkesiap setelah mendengar ucapan yang terakhir itu, segera pikirnya:

"Aku tak boleh me mbohonginya dengan cara begini, sebab perbuatanku ini hanya akan mena mbah perderitaan dalam hatiku saja, aku harus berterus terang kepadanya"

Berpikir sa mpa i disitu, dengan sesengguk kan dia hanya berbisik: "Engkoh Hong, aku bukan Keng Cin sin yang dulu, aku adalah    ''

Mendadak Ku  See  hong  me mbalikkan  badannya  dan menindih

tubuh gadis itu dari atas, lalu tukasnya:

"Adik Sin, entah kau telah berubah menjadi apapun kini, aku tetap mencintaimu, janganlah berkata begitu, mau bukan?"

Nona berbaju putih itu tahu kalau pe muda tersebut masih belum me maha mi ma ksud perkataannya, dia ingin sekali menerangkan hal- hal yang sesungguhnya, tapi dua le mbar bibir Ku See hong yang panas me mbara tahu-tahu sudah menyumbat bibirnya yang kecil mungil. . .

Gadis itu benar-benar tak ingin disebabkan sepatah kata sehingga berakibat kehilangan pe muda yang dicintainya, apalagi dalam keadaan seperti sekarang, dia lebih-lebih tak ingin berbicara lagi.

Hatinya yang dingin bagaikan salju, mendadak dibikin melumer oleh cinta kasih Ku See-hong yang me mbara, dalam waktu singkat, kobaran api as mara dalam hatinyapun turut me mbara, ibaratnya bendungan yang jebol...

Dengan penuh bernapsu pe muda itu menciuminya...

Dengan kencang dia me meluk tubuhnya, makin la ma sema kin kencang... kini gadis itu mulai ge metar keras, sambil tersenyum ia me meja mkan matanya dan  merasakan  kehangatan  cinta  yang  me mbara itu.

Tanpa terasa sepasang tangannya mulai me lingkari tubuh Ku See-hong bagaikan seekor ular, kemudian balas me me luknya kencang-kencang.

Pada detik itu juga api as mara kegadisannya turut tersalur keluar, bagaikan gelo mbang di tengah sa mudra, mengalir keluar tiada hentinya.

Ku See-hong segera mengendus bau harum khas dari seorang gadis, bau itu seperti bau bunga, tapi bukan... kontan darahnya semakin mendidih, napsunya makin berkobar.

Kedua orang itu segera saling berpelukan dan bergulingan di atas tanah lapang yang le mbut.

Dengan setengah mata merengek dia berbisik:

"Adik Sin, aku cinta padamu, kau. . . berikanlah kepadaku sayang. . . berikanlah kepadaku. . ."

Kemudian Ku See-hong pun berubah menjadi seorang yang kasar, sepasang tangannya mulai meraba dan menggerayangi sekujur badan gadis itu tanpa aturan.

Oleh ciuman sang pemuda yang bernapsu itu, nona berbaju putih itu turut terangsang juga api birahinya, apa lagi orang yang me lakukan adalah pe muda yang dicintainya. . . berapa lamakah dia sanggup mengendalikan diri?

Tak bisa dihindari lagi akhirnya api napsu birahinya ikut me mbara bersamaan dengan tersentuhnya bagian-bagian di tubuhnya oleh tangan kasar pemuda tersebut.

Fajar telah menyingsing di ufuk sebelah timur, matahari yang bersinar lembut me mancarkan  sinarnya di seluruh jagad, dan menyinar i pula di atas tubuhnya yang cantik dan putih bersih dalam keadaan telanjang bulat.

Sepasang payudaranya yang montok dan padat berisi bergerak naik turun mengikuti ira ma napas, sepasang matanya terpejam  rapat dengan wajah tersipu-sipu.

Dia telah  pasrah,   menyerahkan   diri   tanpa   melawan,   dia me mbiarkan pemuda itu mela mpiaskan napsu birahinya di atas tubuhnya yang putih mungil dan indah itu.

Kini Ku See-hong telah berubah menjadi binatang buas, dia mulai bekerja keras.

Tangannya yang kasar sudah puas menggerayangi seluruh tubuh nona itu, napsu birahinya telah mencapai pada puncaknya, dia tak tahan. . . dia tak sanggup mengendalikan diri lagi.

Maka. . . tak bisa dihindari lagi suatu pertarunganpun segera berkobar. . .

Dengusan napas  me mburu berdetak me mecahkan keheningan. .

.

Sepasang muda mudi itu telah terjerumus dalam suatu hubungan

suami istri yang sebenarnya terlarang buat mereka. . .

Tapi, kedua orang itu merasa seakan-akan sudah tercebur ke dalam samudra yang tak bertepian, mereka merasa seakan-akan tubuhnya tidak berada di dalam dunia ini lagi.

Napas Ku See-hong mula i tersengal-sengal, seluruh badannya bergoncang keras tak beraturan. . . Titik-titik darah me mercik me mbasahi rerumputan nan hijau, gadis itu harus me nahan sakit, me mberikan kehor matan serta cinta kasihnya kepada pe muda itu. . .

Badai sudah ma kin mereda. . . akhirnya awan menghilang, mataharipun bersinar ke mbali.

Kini yang tersisa tinggal penderitaan, rasa menyesal. . . dan rasa ma lu.

Ku See-hong menghe mbus kan napas panjang, dengan nada penuh kasih sayang ia berbisik:

"Adik Sin, sela manya aku akan mencintaimu, biar langit akan ambruk, biar air sa mudra akan mengering dan batu akan me lapuk, cintaku kepadamu tak akan berubah untuk sela manya. . ."

Setelah merasakan suatu peristiwa yang belum pernah diala mi sebelumnya, pelan-pelan nona berbaju putih itupun  dapat mengenda likan diri lagi, sekarang dia baru me mikirkan akibat dari perbuatan  mereka  itu,  titik air   mata   segera   jatuh   berlinang me mbasahi pipinya, dengan sedih dia berkata:

"Engkoh Hong, apakah kita sedang ber mimpi...”

"Adik Sin, ini se mua merupa kan kenyataan bukan suatu impian, tak usah kuatir, aku bukan seorang lelaki yang tidak me me gang janji"

'Engkoh Hong, aku telah me mbohongimu" bisik nona itu sa mbil menangis terisak. "bila kau sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya apakah kau masih akan mencintaiku?''

''Adik Sin, persoalan apakah yang kau  maksudkan?  Kau telah  me mboho ngi aku tentang apa? Kalau persoalan itu adalah suara persoalan yang menyedihkan, lebih baik tak usah kau katakan"

Agar gadis itu jangan bersedih hati Ku See hong lebih suka tak mengetahui persoalan itu, cinta kasih se maca m ini pada hakekatnya merupakan suatu cinta kasih yang suci dan tulus. Nona berbaju putih itupun dapat merasakan pula  kasih sayangnya yang suci dan tulus, tapi dia me mbenci kepada diri sendiri, dia me mbenci dirinya bukanlah Keng Cin sin tersebut,  berpikir de mikian dia lantas berkata dengan pedih:

"Engkoh Hong, dalam hati kecilku sebenarnya aku tak ingin mengatakannya keluar, tapi oleh karena aku tak dapat menahan diriku serta hal ini menyangkut hal-hal yang luar biasa, maka  mau tak mau terpaksa aku harus mengatakannya juga, Katakanlah dahulu, bila aku telah mengutarakan hal-hal yang sebenarnya, apakah kau mas ih tetap mencintaiku?"

Ku See-hong tidak tahu apakah yang hendak diucapkan gadis itu, tapi setelah mendengar perkataan tersebut dia lantas tahu bahwa persoalan ini pasti me nyangkut masalah mere ka berdua.

Tapi, bagaimana  pun juga, dia masih tetap mencintai gadis tersebut.

Yaa, dari mana dia bisa tahu kalau gadis yang telah direnggut kehor matannya ini bukanlah Keng Cin sin yang dicintai, andaikata gadis itu tidak mengatakannya, selama hidup  dia tak akan mengetahui hal sebenarnya.

Tapi hal inipun tak bisa salahkan kecerdasannya yang kurang tajam, orang bilang: "Siapa yang terlibat, dia tak akan mengetahui jelas keadaan yang jelas. . ."

Selain hal itu, bila gadis itu bukan seorang yang dikenalnya, bagaimana mungkin dia akan menyerahkan kehor matannya dengan begitu saja kepadanya?

Atas dasar beberapa hal inilah, Ku See hong sa ma sekali tak bisa menduga kalau gadis itu bukanlah Keng Cin sin.

Dengan suara le mbut Ku See-hong segera berkata:

"Adik Sin, jangan kuatir, entah apapun yang terjadi, aku masih . . tetap mencintaimu'' Nona berbaju putih itu merasakan hatinya bagaikan ditusuk dengan pisau tajam setelah berulang kali dipanggil dengan sebutan adik Sin, tiba-tiba dia menubruk ke dalam pelukan Ku See-hong dan menangis tersedu-sedu...

Melihat gadis itu me nangis, Ku See hong menjadi sangat gugup, buru-buru serunya: "Adik Sin, mengapa kau? Katakanlah, aku toh sudah berjanji tak akan meningga lkan dirimu"

Nona berbaju putih itu  segera  menghenti  kan  isak tangisnya, ke mudian dengan wajah bersungguh-sungguh tanyanya:

"Adik Sin yang kau sebut itu apakah sangat mir ip dengan diriku?"

Bagaikan disa mbar guntur ditengah hari bolong, Ku See hong menjadi terperanjat setelah mendengar perkataan itu, jeritnya dengan perasaan kaget:

"Apa? Kau bilang apa?"

Dengan wajah bersungguh-sungguh dan keberanian yang paling besar, nona berbaju putih itu berkata:

"Aku maksudkan apakah Keng Cin sin dari Istana Huan mo kiong di Lam hay berwajah mirip sekali dengan aku?"

Setiap patah kata itu diucapkan amat jelas, kontan saja Ku See hong merasakan hatinya bagaikan ditusuk-tusuk dengan anak panah tajam.

Setelah termangu- mangu beberapa saat, dia baru berseru:

"Jadi kau bukan Keng Cin sin dari istana Huan mo kiong di Lam hay?"

Nona berbaju putih itu tahu bahwa suatu peristiwa yang tragis akan segera menimpa dirinya, tapi dia masih tetap menahan rasa sedih dalam hatinya sa mbil berkata lagi dengan le mbut:

''Bukan, aku bukan Keng Cin sin yang kau maksudkan" Ku See hong segera merasakan hatinya hancur lebur, sekarang dia baru mengerti mengapa dia dihajar olehnya semala m. Ooooh... betapa bodohnya aku, dan sekarang...

Buru-buru Ku See hong melo mpat bangun, ke mudian bentaknya keras-keras.

''Sii. . siapakah kau?"

Nada suaranya kasar, penuh amarah, tidak berperasaan  dan amat menyakitkan hati.

Bagaimanapun kerasnya hati nona berbaju putih itu, tapi sekarang dia telah persembah kan kehor matannya kepada pemuda ini, tapi sebaliknya pemuda tersebut bukannya menghibur dia, sebaliknya ma lah me mbentak dengan suara yang keras dan penuh kegusaran.

Bagaimana mungkin hal itu tidak me mbuat hatinya menjadi pedih dan sedih sekali? .

Apalagi dia pun seorang gadis le mah yang tiada nama keluarga lagi, pukulan batin itu benar-benar dirasakan a mat berat olehnya.

Titik titik air mata segera jatuh berlinang me mbasahi pipinya, dia segera menangis tersedu-sedu.

Pada dasarnya nona berbaju putih itu me mang seorang gadis yang cantik jelita, apalagi setelah menangis, dia nampa k begitu menarik, cantik dan me mbuat orang mudah berubah hati.

Bagaimana kerasnya hati Ku See hong, akhirnya timbul juga perasaaa iba dan kasihan didalam hatinya.

Apalagi setelah perasaannya kemba li, dengan otak yang dingin dia lantas berpikir:

''Kini aku telah mela kukan  suatu kesalahan besar, suatu kesalahan yang tak bisa diperbaiki lagi dengan tenaga manus ia, dia telah me mperse mbahlan kesucian tubuhnya kepadaku, aku tak boleh bersikap tak berperike manus iaan seperti ini, apalagi wajahnya  begitu mir ip dengan Keng Cin sin, aaaai kese muanya ini adalah gara-garaku sendiri..."

Berpikir demikian, dia lantas berjongkok dan menyeka air matanya dengan ujung baju, ke mudian ujarnya lembut:

''Adikku, kita sudah me lakukan suatu kesalahan besar... akulah yang telah mencela kai dirimu... siapakah nama mu? Bersedia kau me mber itahukan kepadaku akan asal-usulmu."

Kesedihan yang mengge lora dalam hati gadis berbaju putih itu makin menjadi setelah mendengar perkataan dari Ku See hong itu, dia segera menubruk ke dalam pelukan Ku See hong dan menangis terisak.

Ku See hong sendiri pun turut merasakan  kesedihan  yang menda la m, ia me mbiarkan gadis itu menangis sepuasnya,  lalu sambil me meluk pinggangnya yang ra mping ia berbisik:

"Adikku, kau tak usah kuatir, Ku See-hong bukanlah  seorang lelaki yang tak bertanggung jawab, sejak kudengar petikan harpamu semala m, aku sudah tahu kalau kau  me mpunyai persoalan  yang me medihkan hatimu, bersediakah kau untuk mencer itakan kesulitanmu itu kepadaku?"

Nona berbaju putih itu segera menghenti kan isak tangisnya, lalu menjawab.

''Engkoh Hong, aku berna ma J i im. . ."

"Adik Im, kau she apa? Siapakah e mpek dan bibi?''

Ku See hong tahu kalau ilmu silatnya sangat lihay, itu berarti kedua orang tuanya adalah jago persilatan yang ternama dalam dunia persilatan, itulah sebabnya dia baru mengajukan pertanyaan tersebut.

Tapi, mimpipun dia tak menyangka kalau gadis ini tak lain adalah putri gurunya Bun ji Koan su, yaitu putri dari musuh besarnya juga, Sebaliknya gadis itu pun tak menyangka kalau orang ywag berada dihadapannya sekaranglah salah satunya orang yang bisa mengungkapkan asal usulnya.

oooooooo

MENDENGAR perkataan itu, dengan wajah yang amat sedih Ji im menjawab:

"Engkoh Hong, aku tidak berna ma  marga,  karena  aku  tidak me mpunyai ayah''

Ternyata Ji im yang menyaksikan perbuatan cabul ibunya, dia lantas mengira kalau dirinya adalah hasil hubungan gelap antara ibunya dengan beberapa orang lelaki yang tak dikenal olehnya, sebab itulah dia yang sebenarnya mengikuti na ma marga ibu nya she Ceng, sekarang ma lah malu untuk me maka inya lagi.

Ku See hong yang mendengar perkataan itu segera merasakan hatinya bergetar keras, dengan cepat pikirnya.

"Gadis ini benar-benar patut dikasihani, kalau tidak punya ayah, lantas siapa yang melahirkan dia? Siapa pula ibunya?"

Berpikir sa mpa i disitu, dia lantas bertanya lagi:

"Adik  Im,  lantas  siapakah  ibumu,   apakah  dia  tak   pernah me mber itahukan kepadamu siapakah ayahmu?"

"Ibuku adalah manusia paling jahat dan paling kejam didunia ini, sejak kecil dia telah me lantarkan diriku, dia hanya tahu. . ."

Sebenarnya dia hendak me mbeberkan perbuatan ibunya yang cabul, jalang, kejam dan tak tahu ma lu, tapi. . bagaimana mungkin perkataan semaca m itu bisa diutarakan keluar?

Ku See hong menjadi tertegun  untuk beberapa  saat  lamanya, ke mudian dia berpikir ke mbali: "Heran, mengapa asal-usulnya bisa begitu aneh? Tak punya  ayah, juga me mbenci ibu sendiri? Aaaai.... nasibnya benar-benar amat tragis "

Pada dasarnya Ku See hong adalah seorang yang amat berperasaan, secara lamat-la mat dia sudah tahu kalau gadis ini adalah seorang gadis yang hidup sebatang kara, segera timbullah perasaan simpatik dalam hati kecilnya, dia berjanjiakan baik-baik menghadapinya dike mudian hari,agar luka dalam hati kecilnya dapat dise mbuhkan ke mba li..

Berpikir sa mpa i disitu, ke mbali dia berkata dengan suara le mbut. "Adik Im, kau sudah pasti me mpunyai ayah, dikemudian hari kau

pasti akan mengetahuinya, beritahulah kepadaku, siapakah ibumu?"

"Engkoh  Hong,   aku   tak   punya   ayah,   aku    pasti    tak me mpunyainya" jawab Ji Im dengan tegas, "aku minta janganlah kau tanyakan apa sebabnya, mau bukan?" setelah berhenti sejenak, dia melanjut kan:

"Sedang ibuku adalah orang yang hendak me mbunuhmu, dia adalah ketua perkumpulan Ban shia kau, Ceng Lan hiang?"

Ku See hong menjadi terperanjat sekali sesudah  mendengar nama itu segera jeritnya:

"Apa ? Kau. . kau adalah putrinya Ban shia kaucu Ceng Lan  hiang ”

Ji im mengerti Ku See hong menjadi marah dan benci setelah mendengar kalau dia adalah putrinya Ban shia kaucu Ceng  Lan hiang, buru-buru serunya:

"Engkoh Hong, aku a mat me mbencinya"

Sepasang mats Ku See hong berkaca-kaca, lalu  tak tahan lagi titik air mata jatuh bercucuran, dia segera merangkul gadis itu kencang-kencang lalu katanya dengan e mosi: ''Adik Im, kau ....kau mempunyai ayah! Kau me mpunyai ayah! Aku me mang ditugaskan mencari  kau, aku ditugaskan  untuk mencer itakan tentang kisah ayahmu kepada mu''

Kejut dan keheranan menyelimuti seluruh wajah Ji im, buru-buru serunya:

"Engkoh Hong, sungguhkah perkataanmu itu? Siapakah ayahku? Cepat katakan, cepat katakan ....! Aku sudah menunggu hampir dua puluh tahun la manya "

Dengan nada sedih berca mpur terharu, Ku See hong menjawab: "Adik Im, ayahmu adalah tokoh nomor satu diseluruh kolong

langit, Bun ji koan su Him Ci seng, yaitu guruku sendiri "

Air mata segera jatuh bercucuran me mbasahi seluruh wajah Him Ji im, dengan terharu serunya. .

"Ooh Thian! Ternyata aku me mpunyai ayah, aku me mpunyai nama marga, aku me mpunyai na ma keluarga"

Rasa gembira yang menceka m dalam dada Him Ji im sekarang benar-benar tak terlukiskan dengan kata-kata, teka teki yang ingin diketahui olehnya selama dua puluh tahun akhirnya dapat diungkapkan, sekarang dia tak usah malu  lagi  hidup  sebagai  manus ia.

Pada mulanya dia mengira, dia adalah anak jadah hasil hubungan gelap antara ibunya dengan seseorang atau beberapa orang lelaki, maka dia merasa rendah diri, malu dan tak punya muka bertemu orang.

Tapi sekarang setelah dia mengetahui atas asal usulnya, ingatan tersebut segera lenyap dari dalam benaknya. bahkan dia merasa bangga, sebab dia tak lain adalah putri kesayangannya dari Tokoh nomor wahid di kolong langit Bun ji koan su Him Ci seng.

Tapi, pertanyaan lain segera melintas didalam benaknya,  yaitu apa sebabnya ibunya tak mau mengatakan kepadanya kalau ayahnya adalah Bun ji koan su ? Dengan perasaan gelisah Him Ji im segera bertanya:

"Engkoh Hong, kau adalah mur id kesayangan ayahku, tentunya kau mengetahui akan kisah hubungan mereka berdua? Katakanlah semuanya kepadaku, mau bukan!”

Dengan wajah sedih terharu dan penuh emosi Ku See hong mendonga kkan kepalanya me mandang langit, kemudian berseru.

"Suhu! Arwahmu dialam baka tentu akan tahu, muridmu yang durhaka telah berhasil mene mukan putri kesayanganmu, yakni istri kesayanganku, entah apapun yang telah  terjadi, aku akan mencintainya, melindungi nya, bila aku berubah hati biar langit menghukumku, sekarang aku akan me mbeberkan se mua sejarah kesedihanmu kepadanya, suhu beristirahatlah kau dialam baka dengan tenang, persoalan selanjutnya aku pasti akan me mbantumu untuk menyelesaikannya.”

Him Ji im yang mendengar perkataan itu segera bercucuran air mata, tapi diapun merasa a mat lega.

Ku See hong segera me mbeberkan se mua kisah sedih yang menimpa Bun ji koan su kepada Him Ji im, semua rahasia diungkapkan sejelas-jelasnya dan tiada persoalan apapun yang dirahasiakan.

Ketika Him J i im selesai me ndengarkan kisah  sedih yang menimpa ayahnya, kontan saja dia menangis tersedu-sedu, dia merasa amat me mbenci dengan perbuatan kejam dan tak tahu malu dari ibunya, diapun me mbenci sikap umat persilatan yang me mber i pandangan lain terhadap ayahnya.

Tanpa  terasa  gadis  itu  segera   membopong   harpanya   dan me ma inkan ira ma yang me medihkan hati.

Kali ini dia me mbawa kan ira ma lagu yang a mat sedih dan penuh duka lara, me mbuat siapapun yang mendengarnya ikut merasa sedih dan mengucurkan air mata.

Semenjak kecil Ku See hong sudah dihadapkan dengan pelbagai kejadian yang me medihkan hati, apalagi telah terbayang kembali dengan kisah sedih yang menimpa gurunya, tanpa terasa diapun mendonga kkan kepalanya dan me mbawakan  lagu "DENDA M SEJAGAD" dengan suara lantang:

Dendam kesumat me mbentang bagai jagad Bukit tinggi berhutan lebat di sisi kuil Sungai besar di depan kuil bertembo k besar Dendam kesumat sepanjang jagad

Dendam kesumat me mbentang bagai jagad Burung gagak bersarang di rumput dikala senja. Cinta kasih berlangsung dari muda sa mpai tua. Me metik ka mpak me mbuat lagu

Nadanya dendam!

Menitik air mata darah untuk siapa?

Hati pilu menanggung derita menyesal sepanjang masa. Dendam kesumat me mbentang bagai jagad.

Ji koan pernah berbuat salah.

Menyandang golok menunggang kuda Salju terbang air laut se muanya ha mbar.

Dendam kesumat me mbentang bagai jagad Curah hujan me mbuyarkan awan.

Air mengalir akhirnya surut.

Dendam kesumat tak akan pernah luntur.

Pada dasarnya nada lagu itu me mang a mat sedih, apalagi sekarang diiringi dengan suara petikan harpa, nada suaranya semakin me milukan hati. Ketika suara nyanyian terhenti, petikan harpa pun ikut berhenti, dua orang yang sedang berhati lara saling berpandangan dengan air mata bercurcuran, siapapun tak ada yang bersuara, mereka hanya me mbungka m dalam seribu bahasa.

Waktu itu tengah hari sudah tiba, matahari bersinar cerah, tapi angin yang berhe mbus lewat terasa dingin menggidikkan hati.

Mendadak... dari kejauhan sana, dari balik bukit yang berlapis- lapis berkumandang suara pekikan yang sangat aneh....

Paras muka Him Ji im segera berubah hebat, agak gugup dia segera berseru:

''Engkoh Hong, orang-orang dari perkumpulan Ban Shia kau telah datang mencari kau dan aku "

Seraya berkata buru-buru dia mengenakan ke mba li pakaiannya, me lepaskan pedang Hu-thian-seng-kia m dan segera disodorkan kepada sianak muda itu.

Mencorong sinar buas yang menggidikkan hati dari balik mata Ku See hong, segera ujarnya dengan suara dingin:

"Kalau mereka berani datang mencar i gara-gara, datang seorang kubunuh seorang, datang dua orang kubunuh sepasang, daripada aku yang pergi mencari mereka"

Didalam waktu singkat, Him-Ji- im sudah tahu kalau Ku See-hong adalah seorang pemuda yang angkuh dan tinggi hati, mendengar perkataan itu, sebenarnya ia hendak menganjur kan kepada kekasihnya untuk se mentara waktu menghindari kejadian tersebut, akan tetapi setelah menyaksikan sorot matanya yang tajam dan buas penuh amarah itu, kata-kata yang sudah siap  diucapkan  segera ditelan ke mba li.

Tampaknya pendatang itu memiliki ilmu silat yang luar biasa sekali, suara pekikan aneh yang me manjang dan mula- mula berada ditempat kejauhan tapi dalam waktu singkat telah berada semakin mende kat. Kemudian "Sreeet!" terdengar ujung baju terhe mbus angin.

Mendadak muncul seorang pe muda berbaju putih yang berwajah tampan dan mengge mbol pedang ular  perak  disitu,  tatkala  dia me lihat Him Ji-im dan Ku See-hong berdiri berda mpingan, dari balik matanya segera memancar keluar sinar ce mburu dan benci yang amat menggidikkan hati.

Sebaliknya Ku See hong yang menjumpai pe muda itupun segera menunjukkan perasaan dendam yang me mbara, dia merasa darah yang mengalir didalam tubuhnya mendidih hebat, kalau bisa dia  ingin sekali me mbunuh manus ia laknat itu dalam sekali bacokan pedang.

"Sreeeet! Sreeeet . ! Secara beruntun berkumandang ke mba li dua kali desingan angin taja m. ..

Tahu-tahu ditengah arena telah bertambah lagi dengan dua orang manusia, yang seorang adalah lelaki setengah umur berbaju abu-abu, berkulit putih dan bermuka kuda  hingga na mpa k menyeramkan.

Orang ini adalah Tee-hun-tha mcu Ban shia-kau yang disebut Ta- soat-bu-liang (menginjak salju tanpa bekas) Tham Hun-khi.

Sedangkan lainnya adalah seorang manusia aneh berbadan jangkung dan kurus kering t inggal kulit pembungkus tulang, mukanya lebar, hidungnya pesek, mulutnya  lebar dan berikat pinggang berwarna merah.

Lengan kirinya dan kaki kananya telah kutung, sedang dibawab ketiak kanannya terjepit sebatang bambu kecil berwarna hita m.

Orang ini tak la in adalah seorang jago lihay dari golongan hitam yang telah termashur sejak tiga puluh tahun berselang Thian-jian- tee-jiat (langit cacat bumi berkurang) Nia Hun-shia.

Sekarang dia menjabat sebagai Im Hong Thamcu di dalam perkumpulan ban-shia- kau. Begitu menyaksikan ke munculan ke tiga orang ini, paras muka Him-Ji- im segera berubah hebat, dia tahu hari ini lebih banyak bahayanya bagi mereka daripada keuntungan, karena dia tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki ketiga orang ini lihay sekali, dan lagi cara kerjanya juga amat keja m.

Ku See-hong sendiripun merasa amat terperanjat setelah menyaksikan kemunculan ke tiga orang itu, namun diluar wajahnya dia tetap bersikap dingin dan tenang, sorot matanya yang tajam mengawasi ke tiga orang itu tanpa berkedip.

Tee hun thamcu si menginjak salju tanpa bekas Tham Hun  Khi me mandang sekejap sekeliling te mpat itu, ke mudian dengan suaranya yang menyeramkan ia me mecahkan keheningan disana.

''Ceng Kuncu. ibumu telah menurunkan perintah agar kau segera ke mbali ke markas besar!"

Mendengar perkataan itu, selintas perasaan ngeri segera menghiasi wajah Him Ji im, tapi dalam waktu singkat  paras mukanya telah berubah menjadi dingin ke mbali bahkan hawa napsu me mbunuh segera menyelimuti wajahnya.

"Sekarang aku sudah bukan Ceng Kuncu lagi" dia berkata dingin, "tolong sa mpaikan kepada kaucu, Ji im sudah merasakan segala maca m penderitaan dan siksaan di tangan nya semenjak kecil, mula i sekarang aku telah me mutuskan hubungan ibu dan anak dengannya, sejak kini kita mas ing- masing mene mpuh jalannya sendiri dan tidak saling berhubungan lagi"

Mendengar perkataan itu, paras muka ke tiga orang itu segera berubah hebat, mereka sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu akan mengucapkan kata-kata yang tak berperasaan.

Si Menginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi segera tertawa seram:

"Heeeeehhh. . . heeeeehhh. . . heeeeehh. . . Ceng Kuncu, kau sebagai putri kaucu me ngapa mengucapkan kata-kata yang tak berperasaan semacam itu? Hmmm, mungkin kau telah dit ipu oleh bocah keparat itu sehingga terkecoh? Aku lihat, lebih baik cepat- cepatlah menyadari akan kesalahanmu dan ke mbali ke ja lan yang benar, kalau tidak, akibatnya tak akan terlukiskan dengan kata-kata"

Him- Ji im segera tertawa dingin.

"Tidak berperasaan?  Hmmm,  kalian   tak  usah  menggunakan ke munafikan kalian untuk me mikat diriku, seandainya Thian punya perasaan. Ban shia kau tak mungkin bisa berdiri, masih seperti ucapanku semula, aku dan kaucu kalian telah putus hubungan ibu dan anak, apabila kalian tidak terima, silahkan saja berbuat  apa yang kalian inginkan."

Dia m-dia m Ku See hong mengagumi akan kegagahan serta keberanian Him ji im, sebab sesungguhnya ibu yang cabul dan berhati kejam seperti itu me mang tak berguna untuk diberati.

Si Pedang ular perak Ciu  Heng  thian  berusaha  keras  mengenda likan api ce mburu di dalam dadanya, dengan suara lantang dia segera berseru.

"Adik-Im, mengapa kau berubah menjadi begini! Bila kau segera ke mbali ke jalan yang benar, sekarang masih belum terla mbat, sedang kaucu sana, entar biar kakak yang bilangkan "

Him Ji im segera mendengus dingin, tukasnya dengan sinis: "Hmm, siapa yang menjadi adikmu "

Si Pedang ular Perak Ciu Heng thian yang merasa dirinya sebagai wakil ketua merasa bahwa baik dalam wajah maupun kepandaian silat, dia me mpunyai kelebihan daripada orang lain, siapa  tahu bukan saja tidak me mperoleh balasan cinta dari gadis itu, ma lahan sebaliknya kena dida mprat.

Kontan saja paras mukanya berubah menjadi merah me mbara saking gusarnya.

Semua ke marahan itu segera di la mpiaskan pada Ku See hong, sambil me nggertak gigi dia bertekad hendak menghancur lumat kan musuh cintanya ini hingga hancur berkeping- keping. Kembali si penginjak salju tak berbekas Tham Hun khi tertawa dingin dengan suara yang menyera mkan.

"Kalau me mang Ceng kuncu berkata de mikian, maaf jika aku sekalian terpaksa harus berbuat kurang ajar! ."

Waktu itu Him ji im sudah bertekad hendak beradu jiwa, mendengar perkataan itu diapun tertawa dingin.

"Silahkan, silahkan! Me mang paling baik segera dibuatkan suatu penyelesaian yang baik.  . daripada mengulur waktu dengan percuma.. .".

Tiba-tiba si pedang ular perak Ciu Heng thian menurunkan perintahnya.

"Im hong Tha mcu dan Tee hun bersama-sa ma menghadapi keparat itu, biar siaute yang menaklukan Ceng kuncu!"

Mendengar ucapan tersebut, Ku See hong segera mendengus sinis, ejeknya:

"Ciu Heng  thian,  kita   berdua  sudah  seharusnya  berjumpa  ke mbali, hmmm... manus ia pengecut yang takut ma mpus, lihat serangan."

Sambil berkata dia segera menerjang ke muka dengan kecepatan luar biasa, telapak tangan kirinya  secepat kilat menciptakan berlapis-lapis  bayangan   telapak   tangan   yang   bersama-sama me luncur ke muka.

Jurus serangan ini merupa kan jurus pe mbukaan dari Ku See hong, akan tetapi tenaga serangan yang disertakan luar biaya hebat nya, apalagi diko mbinasikan dengan ilmu gerakan tubuh Mi khi biau tiong yang maha  lihay,  tahu-tahu  dia  sudah  menerobos  masuk me lalui suatu sudut yang sangat aneh'

Selapis hawa pukulan yang maha dahsyat ibaratnya amukan  omba k dari tengah samudra segera meluncur t iba dan mengan-ca m bagian me matikan disekujur badan si pedang ular perak Ciu Heng thian. Sementara itu  si  pedang  ular  perak  Ciu  Heng  thian  sudah me mpunyai perhitungan sendiri dalam hati kecilnya, dia cukup mengetahui betapa dahsyatnya tenaga dalam yang dimiliki Ku See hong, maka me lihat datangnya ancaman tersebut, buru-buru dia mengerahkan ilmu Tay ih kun goon khikang untuk melindungi seluruh bagian penting dari tubuhnya, kemudian dengan suatu gerakan yang aneh dia berkelit kesa mping, kemudian berbalik menerjang ke arah Him Ji im.

Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sungguh luar biasa sekali, bagaikan sukma  gentayangan saja, tahu-tahu dia sudah menyelinap maju ke depan.

Begitu serangannya mengena i sasaran kosong, Ku See hong segera membentangkan kelima jari tangannya lebar-lebar, diantara sentilan jari tangannya, lima gulung desingan  angin  tajam segera me luncur ke tubuh Ciu Heng thian yang sedang mela mbung itu dengan kecepatan luar biasa.

Si pedang ular perak Cin Heng thian tertawa dingin, sepasang kakinya menjeja k cepat, seluruh tubuhnya segera berubah arah, lima gulung serangan tajam itupun segera mengenai sasaran yang kosong.

Tatkala Ku See hong belum selesai melancar kan serangannya itu, si Penginjak salju tak berbekas Tham Hun khi telah me mbentak keras, tubuhnya segera menerjang ke depan, sepasang telapak tangannya diayunkan berulang kali menganca m dua belas buah jalan darah penting di tubuh bagian atas Ku See hong, sementara kakinya menyerang jalan darah Ki hay Hiat ditubuh anak muda itu.

Jurus serangannya selain aneh juga a mat ganas, benar-benar bukan na ma kosong belaka, kecepatannyapun mengerikan.

Angin pukulan yang menderu-deru dengan cepatnya menyapu kedepan dan menggidik kan hati.

Tiba-tiba saja Ku See hong merasakan matanya menjadi silau, diantara deruan angin pukulan lawan yang gencar, jalan darah penting ditubuhnya telah terkurung dibawah anca man kaki dan tangan lawan.

Ku See hong  segera  me mutar  sepasang  telapak  tangannya me mbentuk busur yang melingkar, berlapis-lapis hawa pukulan yang dahsyat bagaikan o mbak sa mudra pun segera berhamburan kedepan.

Dalam pada itu, Thian jian tee jiat Nia Hun shia tidak  diam  belaka,  sambil  menutulkan  kaki  tunggalnya  keatas  tanah,  dia  me layang maju kedepan, tongkat bambu  di tangan kanannya bagaikan seekor ular berbisa langsung menyusup ke muka,  sambil me lepaskan pagutan maut.

Serangan yang dilancarkan kedua orang itu dilakukan ha mpir pada saat yang bersamaan.

Telapak tangan Ku See hong segera diputar me mbentuk gerakan me lingkar, hawa pukulan yang dingin dan melingkar- lingkar bagaikan angin topan yang melanda jagad segera menyongsong datangnya bayangan tongkat hitam dari Thian jian tee jiat.

Untuk menghadapi dua orang musuh yang tangguh, terpaksa Ku See hong harus mengguna kan serangan yang paling dahsyat untuk menghadapinya, pukulan demi pukulan yang a mat gencar dilontarkan berulang kali.

Ketika dua orang itu menyaksikan datangnya serangan yang maha dahsyat itu menjadi terperanjat, mereka tak berani menghadapi dengan kekerasan, serentak mereka me mbuyarkan ancaman sa mbil melo mpat mundur.

Ku See hong segera tertawa dingin, sepasang telapak tangannya dibetot kebelakang dengan mendadak, setelah itu tiba-tiba saja digetarkan keras-keras.

Dua gulung angin pukulan yang sangat aneh, seperti arus deras dari sungai besar meluncur ke muka, tenaga serangannya yang berkekuatan luar biasa itu dengan membawa hawa yang tajam telah menggulung ke tubuh dua orang itu dari suatu sudut yang aneh dan ruangan yang sempit....

Serangan yang dilancarkan Ku See hong secara beruntun ini hampir dilakukan bersa maan waktunya dengan jurus serangan yang aneh dan menggetarkan sukma.

Tapi kedua orang thamcu itupun bukan manusia se mbarangan, dengan cepat mereka miringkan badannya kesamping lalu dengan suatu gerakan yang aneh pula melolos kan diri  dari serangan tersebut.

Ilmu silat yang dimiliki si cacad langi Nia Hun shia  tampaknya aneh sekali, jangan dilihat dia hanya berkaki satu dan bertangan satu, dalam gerakan majunya ternyata ia bisa mela kukannya  dengan suatu gerakan yang menggidikkan hati.

Baru saja ancaman lawan berhasil dihindari, tahu-tahu dia sudah manfaatkan peluang tersebut untuk me lancarkan serangan balasan.

Toya bambu yang berada ditangannya dengan me mbawa selapis cahaya hitam yang bertenaga dahsyat disertai deruan angin yang me me kikkan telinga segera meluncur ke muka, kedahsyatannya luar biasa, kemudian di antara lapisan cahaya hitam yang menggulung- gulung dia menggunakan taktik menutuk, me mbabat dan menotok, menganca m tubuh lawannya.

Ketika si menginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi menyaksikan rekannya telah mendapat peluang untuk melancarkan serangan balasan, serta merta telapak tangan serta kakinya melancarkan pula serangkaian ancaman yang beruntun, angin serangan bagaikan bacokan golok menderu-deru diseluruh angkasa.

Sepasang telapak tangan Ku See-hong segera me mbacok dan menghanta m berulang kali, tampak seluruh angkasa dipenuhi oleh bayangan telapak tangan serta gelo mbang angin pukulan yang menderu-deru tanpa gentar barang sedikitpun dia hadapi se mua jurus serangan lawannya dengan keras lawan keras. Begitulah, ketiga orang itu segera terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru, sekalipun Ku See-hong me miliki ilmu silat yang sangat lihay, tapi dihadapkan dengan dua orang jago lihay sekaligus, untuk sesaat pun sulit baginya untuk mengalahkan mereka.

Ketika pertarungan telah berlangsung hingga mencapai pada puncaknya, mendadak secepat kilat Ku See-hong, melancar kan belasan buah pukulan berantai dita mbah pula dengan belasan tendangan berantai, serangan-serangan itu dilancarkan seakan-akan berbarengan waktunya dan seperti dilakukan oleh puluhan orang secara berbareng.

Hawa serangannya bagaikan jaring langit dan jala bumi yang bersama-sama menggulung ke depan untuk me nggencet musuhnya.

Sekeliling te mpat itu sudah tidak na mpak ruang kosong lagi, bahkan seinci titik kele mahan yang bisa dimanfaatkan lawan untuk menyarangkan pukulannya pun tak ada.

Tenaga dalam yang dimiliki Ku See-hong me mang luar biasa, setiap tusukan maupun tendangan yang dilancarkan se muanya disertai  dengan  jurus-jurus  serangan  yang  kejam,  ganas   dan me matikan, ditambah pula dengan perubahan yang tak terhitung jumlahnya, benar-benar merupakan suatu ancaman yang berbahaya sekali.

Dalam sekejap mata, ketiga orang itu telah saling bertarung tiga empat puluh gebrakan lebih.

Sementara itu, dipihak la in Him Ji- im juga telah didesak oleh Ciu Heng-thian sehingga jiwanya terancam bahaya maut, peluh telah jatuh bercucuran me mbasahi seluruh badannya.

Sepasang telapak tangan maupun sepasang kaki Him Ji-im mes ki telah melancarkan serangkaian serangan yang me matikan dan maha dahsyat, namun Ciu Heng-thian selain berhasil menghindarinya dengan gampang, malah setiap serangan balasan yang dilancarkan selalu berhasil me maksa Him Ji im kelabakan dan kalang kabut terlebih dulu sebelum berhasil dipunahkan. Sementara itu Him Ji im telah me lancarkan sebuah serangan dahsyat sepasang telapak tangannya yang putih bersih mendada k diayunkan kedepan, segulung angin pukulan segera meluncur kedepan.

Ditengan benturan dahsyat yang meme kik kan telinga, bergema pula ledakan beruntun, seperti berondongan mercon, hawa serangan yang tajam segera me mancar ke e mpat penjuru.

Hawa serangan yang tersebar itu seperti sebuah ja la yang a mat besar mengurung sekujur badan Ciu Heng thian.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, dengan paras muka berubah hebat mendadak telapak tangan kanannya disentil kedepan lalu digetarkan keras-keras.

Pada saat sentilan dahsyat itu terjadi dari ujung jari  tangan kanan Him Ji impun me mancar keluar lima gulung hawa serangan tajam yang secepat kilat mene mbusi lapisan hawa serangan itu dan langsung menganca m lima buah jalan darah penting ditubuh Him J i im.

Betapa terperanjatnya Him Ji im melihat datangnya kelima serangan jari tangan lawan yang berhasil menembus i lapisan hawa serangannya, dalam kagetnya buru-buru dia nengayunkan tangannya kedepan, selapis cahaya tajam yang berkilauan  segera me luncur ke depan dan me mbabat angin serangan jari musuh.

Pada saat itulah, mendadak... Him Ji im me ndengar suara tertawa licik yang penuh perasaan bangga bergema, disisi telinga, entah sedari kapan tahu-tahu tubuh Ciu Heng thian bagaikan sukma gentayangan telah berada tiga depa disisi kiri tubuhnya.

Him Ji im menjer it kaget, cepat-cepat tubuhnya merendah kebawah ke mudian menyelinap ke sa mping.

Sudah barang tentu si pedang ular perak Ciu Heng thian tidak akan me mbiarkan gadis itu melo loskan diri. tangan kanannya secara aneh meluncur ke depan dan tahu-tahu mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kiri gadis itu.

Kontan saja gadis itu merasakan separuh badannya menjadi kesemutan dan seluruh kekuatannya lenyap tak berbekas.

Ku See hong yang sedang terlihat dalam pertarungan sengit sempat pula mendengar jeritan kaget dari Him Ji im, ketika sorot matanya berpaling ke arah lain, dengan cepat dia menyaksikan Him Ji im telah terjatuh ke tangan C iu Heng- thian.

Melihat kejadian tersebut, Ku See hong segera berpekik nyaring, suaranya melambung sampa i me mbumbung tinggi ke angkasa dan mengge ma tiada hentinya. .

Seperti seekor burung elang raksasa mendadak tubuhnya melejit ke tengah udara dan melolos kan diri dari kepungan dua orang thamcu tersebut ....

"Criiiing....!'' terdengar suara dentingan nyaring berkumandang, tahu-tahu dalam gengga man Ku See hong telah bertambah dengan sebilah pedang panjang yang memancar kan cahaya merah yang amat menyilaukan mata.

Suara jeritan kaget segera berkumandang me mecahkan keheningan:

"Aaaah! pedang Ang soat kia m! Pedang Ang Soat kiam !"

Begitu jeritan kaget itu berge ma, hawa pedang Ku See hong telah me marcar keluar ke e mpat penjuru, ke mudian tubuh dan pedang bersatu pula bersama-sama meluncur ketubuh Ciu heng thian.

Kecepatan gerak tubuhnya begitu cepat sehingga tak terlukiskan dengan kata-kata.

Pada hakekatnya tak bisa dibedakan lagi apakah cahaya itu adalah cahaya pedang ataukah selapis cahaya bianglala. Ternyata serangan yang dipergunakan olehnya itu adalah ilmu pedang terbang yang merupakan ilmu pedang paling top di dunia  ini.

Mimpipun si pedang ular perak Ciu Heng thian tak pernah menyangka kalau Ku See hong telah berhasil me nguasahi ilmu pedang terbang yang merupakan kepandaian paling top dalam ilmu pedang tersebut.

Untuk menghindarkan diri jelas tak mungkin lagi, tampaknya Ciu Heng thian yang berhati kejam dan licik ini segera akan tewas diujung pedang Hu Thian seng kiam dari Ku See hong ....

Siapa tahu pada saat itulah mendadak terdengar suara bentakan merdu berkuman-dang me mecahkan keheningan, lalu muncul segulung awan putih didepan tubuh Ciu Heng thian.

Tampak ujung baju berwarna putihnya itu tiba-tiba dikebaskan kearah depan...... Seketika itu juga Ku See hong merasakan datangnya begulung angin puyuh yang maha dahsyat menerjang ke arah dadanya, begitu sakitnya dada  yang  terkena  serangan  itt  me mbuat sisa kekuatan yang dmilikinya segera me mbuyar.

Apalagi ketika hidungnya mengendus bau harum yang aneh, segulung tenaga hisapan yang amat keras telah me mbuat seluruh tubuhnya tanpa terasa terhisap ke samping.

Terdengar Ku See hong menjer it lengking dengan suara  yang me me kikkan telinga.

Seluruh tubuhnya berikut pedang Hu thian seng kiam tersebut segera meluncur ke arah depan dan meluncur ke dalam jurang.

Berbareng itu juga terdengar Him Ji im menjerit dengan suara yang me milukan hati.

"Engkoh Hong, kau "."

Dengusan tertahan mengakhiri seruan itu, seluruh badan Him Ji im pelan-pelan terkulai le mas ke atas tanah. Sementara itu jeritan tajam yang me milukan hati dari Ku See hong telah bergema makin lir ih sebelum akhirnya lenyap tak berbekas ditelan oleh jurang yang dala m.

Ilmu silat yang dimiliki bayangan putih yang berhasil menghajar Ku See hong hingga tercebur kedalam jurang itu benar-benar luar biasa sekali, dia muncul bagaikan sambaran sukma gentayangan, setelah berhasil menghajar Ku See hong, diapun turun tangan menotok ja lan darah Him Ji im, beberapa buah gerakan ini  dilakukan dengan kecepatan luar biasa dan sederhana sekali.

Kepandaian se maca m ini, pada hakekatnya dalam dunia persilatan dewasa ini hanya berapa orang saja yang me milikinya.

Tetapi yang paling mengejutkan lagi adalah orang itu tak lain adalah seorang nyonya muda yang cantik jelita, usianya antara dua puluh tujuh delapan tahunan.

Perempuan muda itu mengenakan pakaian berwarna putih, berhidung mancung dan kulit yang putih bersih.

Ketika angin gunung berhe mbus lewat dan mengibarkan ujung baju serta rambutnya yang terurai dipunda, ia tak ubahnya seperti bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Kecantikan pere mpuan muda itu sungguh menggetarkan sukma siapapun yang melihat nya, sedemikian cantiknya perempuan ini, hampir saja melebihi kecantikan semua perempuan  yang  ada didunia ini yang digabungkan menjadi satu.

Dilihat dari potongan wajahnya itu, siapapun tak akan menyangka kalau pere mpuan ini sudah berusia e mpat puluh tahunan, bahkan orang pun tak akan menduga kalau perempuan secantik ini tak lain adalah iblis pere mpuan paling cabul dikolong langit dewasa ini... Ban-shia kaucu Ceng Lan-hiang adanya.

Yaa, menilai seseorang me mang tak bisa menilai dari paras muka serta potongan badannya saja.

Wajah yang cantik kadang kala justru me mpunyai hati yang busuk dan perbuatan yang me malukan. oooodwoooo

SI PEDANG ULAR PERAK Ciu Heng thian, si penginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi serta si cacad langit Nia hun shia tiga orang manus ia laknat berhati keji yang berada dalam arena segera bersikap hor mat setelah menyaksikan ke munculan Ceng Lan hiang disana, serentak mereka me nyembah sa mbil berseru:

"Kaucu berjaya selalu, dunia persilatan berada dibawah telapak kakimu!"

Suaranya nyaring dan keras sehingga jauh me mbumbung ke tengah angkasa ....

Setelah suasana menjadi hening ke mba li, si pedang ular perak Ciu Heng thian segera tersenyum, kemudian katanya:

"Terima kasih atas kedatangan Ceng kaucu yang tepat pada waktunya sehingga menolo ng aku orang she Ciu lolos dari bahaya maut, budi kebaikan ini tak terlukiskan besarnya, sekalipun badan harus hancur, pasti akan kubalas budi ini"

Dengan sepasang matanya yang jeli dan bening Ban shia Ceng Lang hiang menger ling sekejap kearah Ciu Heng thian, lalu setelah tertawa katanya dengan suara yang merdu bagaikan kicauan burung nuri:

"Ciu hu kaucu, kau jangan membuat aku malu,  kelihayan ilmu silat mu telah diketahui setiap orang, hanya waktu itu pikiranmu saja yang lagi bercabang sehingga kena diketahui oleh bocah keparat itu.”

Senyumannya   ini   benar-benar   menggiurkan   hati,    begitu me mpersonakan hati sehingga siapapun yang melihat senyuman tersebut pasti akan merasakan sukmanya terasa melayang meninggalkan raga. Apalagi, suaranya yang merdu merayu cukup me mbuat orang menjadi mabuk dan terlena.

Si Penginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi dan si Cacad langit Nia Hun shia yang menyaksikan Ceng Lan hiang  cuma  tertawa manis saja terhadap Ciu Heng thian, tanpa me mperdulikan mereka, suatu perasaan yang tak sedap segera menyelimut i perasaan mereka. 

Jelas, perasaan tersebut adalah semaca m perasaan ce mburu...

Sekalipun mereka pernah merasakan kehangatan tubuh Ceng Lan hiang, walaupun hanya sekali na mun kenikmatan yang diterima mereka tak terlukiskan dengan kata-kata, bahkan setiap saat setiap detik selalu berkeca muk dalam benak mereka.

Malahan mereka me mpunyai pikiran aneh andaikata mereka bisa diberi kese mpatan sekali lagi untuk menikmati kehangatan tubuhnya, walaupun jiwa harus melayang, merekapun rela.

Oleh karena itulah, setiap orang dalam perkumpulan Ban shia  kau yang sudah pernah merasakan kehangatan tubuh, Ceng Lan hiang, otomatis akan t imbul suatu perasaan ce mburu bila mana mereka saksikan pere mpuan itu bersikap mesrah terhadap orang lain.

Sebagaimana diketahui, Ceng Lan hiang adalah seorang perempuan siluma n yang paling cabul didunia ini, se mua anggota Ban shia kau nya sedari seorang thamcu sa mpai orang rendahan, hampir se muanya telah terpikat olehnya dan rata-rata pernah mengadakan hubungan suami istri dengannya meski hanya satu kalipun.

Tapi setiap orang yang mela kukan hubungan sengga ma dengannya, maka tanpa mereka sadari, tenaga hawa panas yang mereka miliki justru kena terhisap oleh se maca m ilmu Im kangnya.

Oleh sebab itu, setiap orang yang telah melakukan sengga ma dengannya maka satu jam ke mudian, racun dingin yang tersebar dalam tubuh mereka akan mulai ka mbuh dan menyebar kedalam peredaran darah mereka, rasanya waktu itu seperti digigit oleh beribu-ribu ekor se mut yang a mat ganas dan sakitnya bukan kepalang. .

Jika dalam waktu yang cepat tidak segera me mperoleh obat rahasia bikinanya, maka sang korban segera akan menderita kesakitan hebat dan tersiksa sa mpai mat i.

Kekeja mannya itu benar-benar luar biasa dan menggidikkan hati siapa pun juga.

Sebaliknya bila racun tersebut begitu kambuh maka mereka mendapat obat penawarnya dari Ceng Lan hiang, sekalipun bahaya racun dingin menyerang jantung bisa  dihindari,  tapi dia  tak bisa me lakukan hubungan senggama untuk kedua kalinya dengan perempuan itu.

Sebab obat khusus itu justru merupakan pelenyap hawa panas dari kaum lelaki, bila hawa yang khi dari kaum lelaki sudah punah dan ia nekad melakukan persenggamaan lagi, akibatnya  mereka akan tewas secara menger ikan.

Cuma kobaran napsu birahi tersebut selalu dimulai oleh Ceng Lan hiang sendiri, ma ka siapa pun tak berani mengusiknya bila perempuan itu belum berhasrat.

Perlu diketahui, ilmu im kang yang cabul dan kejam itu berhasil dipelajari Ceng Lan hiang dari sejilid kitab pusaka Ban shia cinkeng yang berhasil ditemukan olehnya bahkan merupakan suatu ilmu penghisap sari lelaki yang luar biasa hebatnya.

Itulah sebabnya, setiap kali dia selesai me lakukan hubungan dengan kaum pria, tanpa disadari ilmu silatnya menjadi berta mbah lihay lagi.

Tentu saja Ceng Lan hiang tidak melepaskan racun dinginnya yang kejam itu terhadap setiap pria yang mengadakan hubungan dengannya, bila lelaki itu me narik baginya, dia t idak me lepaskan sari racun im kang tersebut, tapi kalau sebaliknya maka dia pun menyerang dengan ilmu im-kang itu. Demikianlah, ketika  si pedang ular perak Ciu Heng thian menyaksikan Ceng Lan hiang tertawa manis kepadanya, kontan saja dia dibikin terbuai dalam la munan yang tak karuan, kemudian sambil tertawa nyaring katanya:

"Aku orang she Ciu mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan kaucu, tapi ilmu silatku tak seberapa, tak mungkin bisa menandingi seperseratuspun dari kepandaian kaucu"

Sekali lagi Ceng Lan hiang tertawa, suara tertawanya merdu, wajahnya juga nampak berta mbah cantik. terutama sepasang  lesung pipinya yang mungil, benar-benar me mper-sonakan hati orang.

Tapi yang paling mengejutkan orang adalah hawa sesat yang menyelimuti wajahnya yang cantik itu, dia memiliki suatu daya pikat yang sukar dilawan oleh setiap le laki, se mua pria yang berhadapan dengannya otomatis tunduk dan terpikat olehnya.

Mendadak Ceng Lan hiang melir ik sekejap ke arah Him Ji im yang tergeletak semaput diatas tanah, mendadak wajahnya berubah hebat, selapis hawa pembunuhan yang menggidikkan hati menyelimuti seluruh wajahnya, dia segera menegur dengan dingin, ''Apa saja yang dibicarakan Ji im dengan kalian tadi?"

Mendengar pertanyaan itu, si pedang ular perak Ciu Heng thian merasa terkejut sekali, buru-buru sahutnya:

-ooodwooo-
Ada kabar sedih nih gan, situs ini dinyatakan spam oleh pihak facebook :(:(. Admin mau minta tolong kepada para pembaca yang budiman untuk mengisi form di Link ini : Facebook Debugger dan menulis bahwa situs ini bukan spam. Semoga kebaikan dari pembaca dibalas berlipat ganda oleh Tuhan yang maha kuasa😇. Selaku Admin ~ Iccang🙏