Dendam Sejagad Jilid 14

Jilid 14

DIAM-DIAM Biau-ki-s iang-su In Han-im menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, sedang diluar wajahnya ia tetap bersikap tenang, sahutnya pelan;

"Ciu Heng-thian, perubahan drastis semacam ini tak akan bisa diduga siapapun juga, yang bakal mati pada mala m inipun masih merupakan tanda tanya besar, bila liangsim pun mas ih ma mpu berbicara, saat inilah merupakan saat yang paling  baik  bagimu untuk me lepaskan kesesatan dan ke mbali kejalan kebenaran, karena kau masih me mpunyai kese mpatan untuk menolong dirimu sendiri"

"In Han im!" kata si pedang ular perak Ciu Heng thian sinis, "hati bajik dan perasaan welasmu itu lebih baik kau der makan kepada sukma-sukma gentayangan di alam baka nanti saja!"

Walaupun Biau-ki-siangsu In Han im tahu kalau usahanya untuk menyadarkan ke mba li pe muda ini agar ke mbali ke jalan yang benar tak nanti menjadi kenyataan, namun satu-satunya jalan baginya sekarang adalah berusaha untuk mengulur waktu sebisanya sambil menunggu kedatangan Ku See hong.

Maka dengan sikap yang mas ih tetap tenang Biau ki siang su In Han im berkata:

''Ciu Heng-thian, tahukah kau bahwa kar ma tetap berlaku bagi umat manus ia, apakah kau tidak takut terhadap pembalasan kar ma dike mudian hari?"

Sekali lagi si Pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa seram. 'Heeehhh...heeehhh...heeehhh... In Han Im, sekarang aku sudah

mengetahui akan siasat busukmu itu, hmmmm, hmmm, sayang percuma saja kau menanti,  Ku See  hong  tak bakal ke mba li  lagi ke mari!"

Mendengar perkataan itu paras muka Biau ki siang su In Han im segera berubah hebat, tapi  hanya  sejenak  kemudian  telah  pulih ke mbali seperti sedia kala, ke mba li dia berkata:

"Sejak dulu sa mpai sekarang, kaum dujana tak ada yang bisa lolos dari keadilan dan kebenaran, hanya persoalannya, berbeda waktu belaka, cepat atau la mbat akhirnya kau pasti akan terkena pembalasannya juga"

"Hmmm, In Han im! Ke matian sudah berada didepan mata, tapi kau masih se mpat berkhotbah terus, hmmm . . . . hmmm . . . sungguh merupa kan suatu perbuatan yang sangat menggelikan'

Kini, Biau- ki siang su In Han im betul-betul sudah merasa putus asa, tapi dia toh tak mau menyerah dengan begitu saja, kembali ujarnya:

''Pintu Buddha terbuka lebar bagi orang yang mau bertobat, lepaskan golok pe mbunuhmu dan bertobatlah atas dosa dan kesalahanmu, Aku harap kau suka berpikir  tiga  kali  sebelum  menga mbil tindakan''

Paras muka si Pedang ular perak Ciu Heng thian telah berubah menjadi mengerikan sekali, kelicikan dan kebusukan sudah se makin menyelimuti wajahnya, suara tertawa dingin yang menggidikkan hati sekali lagi berge ma me menuni angkasa:

"In Han im, ke matian sudah berada di depan matamu, lebih baik padamkan saja keinginanmu itu!" Heeehhh-heeehhh-heehhh bagi manus ia yang berpengala man picik semaca m kau juga ingin berkecimpungan dalam dunia persilatan. Hmm! Pada hakekatnya perbuatan kalian itu benar-benar tak tahu diri.

''Terus terang saja kuberitahukan pada mu, Sejak setengah bulan berselang aku Ciu Heng thian sudah menggabungkan diri dengan perkumpulan Ban shia kau kini, kedudukan ku adalah wakil  ketua dari Ban shia kau, adapun kedatanganku  sekarang adalah untuk me laksanakan perintah dari kaucuku guna menyelidiki asal mula munculnya suara nyanyian dari Bun ji koan su, sekarang segala sesuatunya sudah kuterangkan sejelasnya kepadamu, aku rasa kalian pun boleh ma mpus dengan mata terpejam rapat. Heehh. . . heeehhh .....

Sampa i disitu sekali lagi dia perdengarkan suara tertawa licik-nya yang penuh disertai dengan perasaan bangga.

Dalam keadaan seperti ini, Biau ki siang su In Han im sudah benar-benar putus asa, sekarang dia hanya bisa menyesali dirinya yang bermata tak berbiji sehingga terjebak dalam  perangkap manus ia durjana.

Oooh Thian, mengapa manusia- manus ia durjana  itu  dibiarkan me mpero leh kedudukan dan kesempatan untuk me lakukan kejahatannya?

Si Pedang ular perak Ciu Heng thian segera tertawa seram dengan nada yang a mat licik:

"In Han im, tadi mengapa kalian ingin me ngetahui siapakah kaucu ka mi itu?"

Setelali berhenti sebentar, dia melanjutkan:

"Heeehhhh . . . heeehhh. . . heeehhh bagaimanapun sebentar

lagi kalian akan berangkat meninggalkan dunia ini, beritahu kepada kalian pun tak menjadi soal . . Ketahuilah, kaucu dari Ban shia kau tak lain adalah istrinya Bun ji koan su si setan tua itu yang bernama Ceng Lan hiang.

'Heeehhh...heeehhh... nama ini a mat asing bukan bagi kalian? Tentunya kalian tak pernah menyangka bukan, kalau Bun ji koan su yang dianggap sebagai jagoan oleh kalian ternyata punya bini? Padahal kalian mana tahu kalau Bun ji koan su sesungguhnya adalah seorang manusia histeris yang menyera mkan?"

Betapa gusarnya Biau ki siangsu In Han im ketika mendengar orang itu mence mooh dan menghina Bun ji koan su, sambil melotot besar bentaknya keras-keras:

"Bocah keparat she Ciu, tutup bacot anjingmu, seorang le laki sejati boleh dibunuh pantang dihina, seandainya kami Lam ciau pak siang mati ditanganmu pada hari ini, sekalipun jadi setan kami tetap akan menyeretmu ke dalam neraka"

Mencorong sinar keji dan buas dari balik mata pedang ular perak Ciu Heng thian, serunya:

"In Han im, sekarang serahkanlah nyawa kalian! Aku orang she Ciu akan siang ma lam menantikan kedatangan kalian sebagai setan iblis, tapi kalian musti ingat, jika sebagai setan iblis sekali lagi kalian ma mpus, maka kalian akan berubah menjadi bayangan setan yang tak bakal bisa menitis kembali untuk selamanya, heeehhh. . . heeehhh. . ."

Suara tertawa dingin yang menyeramkan ke mbali berge ma menggetarkan sukma...

Tubuh Ciu Heng thian bagaikan bayangan sukma menerjang maju ke muka, telapak tangan kanannya secepat kilat diayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan dahsyat..

Dimana serangan tersebut dilancarkan, hawa pukulan yang maha dahsyat disertai gerakan berputar segera meluncur ke muka bagaikan gulungan ombak sa mudra, pasir dan batu segera beterbangan memenuhi angkasa dan menerjang ke arah Lam ciau pak siang dengan sangat hebatnya.

Tadi, Lam ciau pak siang telah menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki Ciu Heng thian,, maka begitu dilihatnya angin serangan yang  maha  dahsyat   itu   meluncur   datang,   serentak   mereka me mbentak keras ke mudian bersama-sa ma melejit ke sa mping untuk menghindarkan diri.

Sambil tertawa dingin t iba-tiba Ciu Heng thian me mentangkan sepasang telapak tangannya ke kiri dan ke kanan, dua gulung angin pukulan yang sangat hebat seperti hembusan angin topan, dengan disertai suara desingan tajam yang me mekikkan telinga langsung menyergap tubuh La mi Ciau dan Pak Siang.

Perubahan jurus serangan ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa, jauh berbeda dengan jurus serangan pertama, selisih antrara kedua buah serangan itupun kecil sekali.

Waktu itu Lam ciau pak siang masih me la mbung di udara, dan belum se mpat melayang turun ke atas tanah, tahu-tahu gulungan angin pukulan yang menyesakkan napas telah meluncur tiba dengan hebatnya.

Menghadapi anca man yang begitu dahsyatnya itu Lam ciau pak siang merasa amat terperanjat, masing- masing pihak segera menggunakan jurus serangan yang paling hebat untuk melejit kesamping, seluruh badannya segera berputar  bagaikan gangsingan, secara drastid sekali mereka melo loskan diri dari ancaman maut tersebut.

Sin-hong hwee ciau segera me mbentak nyaring begitu tubuhnya mencapai permukaan tanah, tubuhnya yang tinggi besar itu dengan me mbawa gulungan angin yang kencang menerka m kedepan, sepasang telapak tangannya dengan disertai desingan angin tajam yang menggidikan hati secepat kilat melepaskan tiga buah pukulan berantai ke tubuh C iu Heng thian.

Ketiga buah serangan itu dilancarkan dalam keadaan gusar, kedahsyatannya bukan alang kepalang. Begitu pukulannya dilepaskan, seperti gelo mbang dahsyat yang manga muk ditengah samudra  saja, dengan hebatnya segera menggulung kedepan ....

Dipihak lain, Biau- ki-s iang-su In han im pun melancarkan serangan dengan kepandaian saktinya pada saat yang bersamaan, bayangan kaki, pukulan tangan bagaikan jaring laba-laba mengurung mus uhnya secara ketat dan rapat.

Semua jurus serangan yang dahsyat itu tertuju ke bagian-bagian tubuh yang me matikan disekujur badan lawan, bagaimanapun lihay Ciu Heng-thian, dalam keadaan seperti ini buru-buru dia gunakan ilmu gerakan tubuh yang lihay untuk menghindarkan diri.

Biau ki-siang-su In Han-im tahu, soal mati hidup dirinya adalah urusan kecil, tapi nasib dunia persilatan merupakan masalah besar, bila mere ka berdua tak bisa bertahan hingga ke mba linya Ku See- hong, sudah pasti sampai di akhirat pun mere ka akan menanggung penderitaan.

Maka setelah me mperdengarkan suara tertawa panjangnya yang mengenaskan, angin pukulan serta bayangan kaki seperti angin puyuh menerjang tiada hentinya....

Bila seseorang sudah nekad untuk beradu jiwa ma ka semua serangan yang dilancarkan oto matis me miliki kekuatan yang menger ikan.

Dalam waktu singkat bayangan telapak tangan menyelimuti seluruh angkasa, sedemikian berlapis-lapisnya kekuatan serangan itu hingga ha mpir setiap ruang kosong tertutup rapat...

Diteter secara ganas dan dahsyat oleh Lam-ciau pak-siang, si Pedang ular perak Ciu Heng thian terdesak  mundur  berulang kali, la ma kela maan kejadaian ini me mbangkit kan sifat buasnya.

Mendadak ia mendonga kkan kepalanya dan me mperdengarkan suara pekikan keras yang me mbetot sukma..

Dengan cepat ia me nghimpun tenaga Tay ih kun goan khikangnya yang maha dahsyat itu kedalam telapak tangannya. Segulung de mi segulung tenaga pukulan yang dalam bagaikan samudra me luncur kedepan, dalam waktu singkat udara disekeliling tempat itu sudah berubah menjadi panas menyengat badan.

Sepuluh gebrakan ke mudian walaupun ilmu silat  yang  dimiliki Biau ki siangsu In Han im sangat lihay, namun semua gerakannya terhadang oleh hawa murni yang dipancarkan Ciu Heng thian sehingga se mua kelihayannya tak sanggup dipancarkan.

Sebaliknya, Ciu Heng thian yang khusus meneter In Han im justru makin menyerang semakin menghebat, serangan demi serangannya yang dahsyat memaksa In Han im mundur terus tiada hentinya, bahkan kesela matan jiwanya makin teranca m.

Sementara itu Sin hong hwee ciau Lui Ki yang terlibat pula didalam pertarungan itu secara diam-dia m telah menghimpun pula tenaga dalam yang dimilikinya, dia telah mengeluarka ilmu Ceng pit kang yang paling diandalkan seumur hidupnya untuk melaku kan perlawanan.

Tampak sepasang lengannya me mbesar satu kali lipat, dibalik warna  merah muncul  warna  kehita m-hitaman  yang  a mat menger ikan, diiringi bentakan nyaring, menda-dak sepasang lengannya didorong ke muka secara aneh, segulung angin kencang yang berputar dengan cepatnya meluncur ke tubuh lawan.

Si pedang ular perak C iu Heng thian segera meningkatkan kewaspadaannya begitu menyaksikan sepasang lengan Sin hong hwee ciau berubah menjadi hitam me mbengkak, ia tahu serangan yang dilancarkan itu sudah pasti a mat beracun dan me matikan.

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat dalam benak Ciu Heng thian, angin pukulan yang menyesakkan napas itu bagaikan jaring langit dan perangkap bumi me luncur kedepan dan mengurung seluruh tubuhnya rapat-rapat..

Dia m-dia m Ciu Heng thian merasa terkesiap, ia tak mengira kalau kepandaian silat yang dimiliki Lam ciau pak siang sudah mencapa i taraf   yang   begitu   hebatnya,   tanpa    terasa    hawa    napsu me mbunuhnya berkobar. Dia m-dia m hawa khikang Tay ih kun goan sinkangnya dikerahkan mencapai sepuluh bagian, ke mudian sepasang tangannya di getarkan semakin kencang, me maksa Biau ki siang su In Han im menjadi keteter hebat dan keadaannya makin mengenas kan.

Ketika angin pukulan Ceng pit kang yang dilancarkan Sin hong hwe ciau Lui ki menyentuh satu depa didepan badan  Ciu  Heng thian, tahu-tahu dia seperti merasa me mbentur  diatas sebuah dinding baja yang tak berwujud yang amat kuat, ternyata daya kekuatannya tak sanggup menerjang lebih ke depan.

"Blaaamm!" terdengar bunyi benturan keras yang me mekikkan telinga berge ma me mecahakn keheningan, tenaga pukulan maha dahsyat yang dilontarkan oleh Sin hong hwee ciau itu tahu-tahu sudah dipunahkan hingga tak berbekas oleh angin pukulan Tay ih kun goan khikang yang tak berwujud dari Ciu Heng thian.

Menyusul ke mudian terdengarlah  suara  pekikan  ngeri  yang me milukan hati berge ma me menuhi seluruh angkasa.

Tubuh Sin hong hwee ciau Lui ki yang tinggi besar itu bagaikan layang-layang yang putus tali segera mencelat sejauh tiga kaki dengan nadi yang putus, darah segar me mancar keluar dari lubang indranya, ia mati secara mengenaskan.

Begitulah seorang pendekar sejati akhirnya harus berpulang kealam baka karena dianiaya dan dicelakai oleh seorang manusia laknat yang berhati busuk.

Mendadak. . . sekali lagi terdengar suara  pekikan  keras  yang me mbetot sukma berge ma me menuhi angkasa,

Biau ki siangsu In Han im bagaikan gulungan angin berpusing menerjang maju kesa mping tubuh Ciu Heng thian, sepasang telapak tangannya yang penuh dengan tenaga dalam segera melancar kan bacokan dari suatu sudut yang aneh sekali.

Dimana serangan dari In Han im dilancarkan, beberapa gulung angin pukulan yang tajam diiringi  suara  desingan  tajam  telah  me luncur kedepan dan me nerjang tubuh C iu Heng thian. Betapa sedih dan hancurnya perasaan Biau ki siangsu In Han im setelah menyaksikan adik angkatnya mati secara mengenaskan, sambil menghimpun segenap tenaga dalam yang  dimilikinya, dengan me mperguna kan jurus serangan yang paling tangguh dia lepaskan serangan me matikan.

Sedemikian dahsyatnya serangan itu, ibaratnya bendungan yang jebol diterjang air bah.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian tak pernah mengira kalau jurus serangan yang dilancarkar In Han im bisa sedemikian cepat nya, lagipula arah serangannya adalah bagian tubuh yang harus disela matkan, padahal tenaga dalamnya waktu itu belum se mpat terhimpun ke mbali.

Segulung angin pukulan yang dahsyat dan menyesakkan napas seperti ambruknya bukit Tay san segera mene kan keatas kepalanya.

Kontan dia merasakan kepalanya menjadi pusing tujuh keliling, nadinya seperti me mbengka k besar, sakitnya bukan kepalang.

Tak terlukiskan rasa terkesiap dalam hati Ciu Heng thian, buru- buru sepasang tangannya disilangkan ke mudian diiringi bentakan gusar mendadak sepasang tangan nya didorong ke muka.

"Plaaakkk.  ...!"   suatu   benturan   nyaring  segera   bergema me mecahkan keheningan.

Angin pukulan tajam segera berputar kencang sambil menimbulkan suara desingan taja m, dengan cepatnya hembusan angin itu di me mancar kee mpat penjuru.

Ciu Heng thian merasakan kuda-kudanya tergempur, dengan sempoyongan dia mundur sejauh tiga empat langkah, wajahnya berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

Biau ki Siangsu In Han im sendiripun kena dile mparkan tubuhnya sejauh satu kaki lebih, tapi ketika terjatuh kembali ke tanah  ia  berdiri tegak dengan tubuh kaku. Kulit wajahnya segera mengejang keras dengan pancaran garis- garis kebencian yang dalam, rambutnya terurai kalut, mata nya merah   me mbara   sehingga   keadaannya   tampak   sangat menger ikan....

Si Pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa seram, katanya dengan suata yang dingin:

"In Han iln, sebenarnya aku orang she Ciu hendak menghabisi nyawamu dengan begitu saja, heeehhh... heeehhh...heeehhh tapi

sekarang aku telah merubah maksudku  semula, aku hendak menyuruh kau untuk merasakan siksaan yang paling keji lebib dulu sebelum ma mpus secara mengerikan"

Biau ki siang su In Han im tahu kalau kekuatan yang dimilikinya sudah  punah,   nadi   yang   berada   didalam   tubuhnya   telah me mbengkak besar seperti mau meledak, sementara hawa darah yang bergolak dalam dadanya me mbuat dia tak sanggnp untuk menghimpun sedikit tenagapun, apa yang bisa dilakukan sekarang tak lebih hanyalah me lototkan  sepasang  matanya  yang  merah  me mbara dengan penuh kebencian.

Si Pedang ular perak Ciu Heng thian segera menunjukkan wajah seram dan buasnya yang mengerikan, lalu sambil senyum tak senyum dia berkata:

"In Han im, mungkin kau pernah mendengar bukan bahwa didalam ilmu silat terdapat semacam ilmu yang disebut khi im ciok meh hoat (ilmu me mbalikkan nadi) bukan?

Begitu mendengar ucapan tersebut, paras muka  Biau  ki siangsu In Han im segera  berubah  menjadi  pucat  pias  dan  makin menger ikan.

Sekali lagi si Pedang uiar perak Ciu Heng thian tertawa seram: "Heeehhh... heeehhh...heeehhh.... bagaimana? Apakah kaupun

me maha mi kepan-daian se maca m ini?"

Seluruh badan Biau ki siang su In Han im sudah le mas tak bertenaga, dia hanya bisa menerima ce moohan dan penghinaan manus ia laknat itu dengan pasrah, ia betul- betul putus asa dan tidak me mpunyai harapan lagi untuk me loloskan diri.

Mendadak Ciu Heng thian mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, suara tertawa nya bagaikan tangisan setan, seperti juga suara lolongan serigala hingga kedengaran nya amat menusuk pendengaran.

Ditengah gelak tertawanya itu, tubuhnya seperti bayangan sukma segera menerjang ke muka dan berhenti disa mping kiri Biau ki siang su In Han im, kelima jari tangan kanannya dipentangkan lebar- lebar, kemudian secara beruntun me lepaskan serangkaian totokan berantai. .

Gerak serangannya aneh tapi cepat, sekalipun In Han im berada dalam keadaan sehat juga jangan harap bisa menghindarkan diri.

Apalagi isi perutnya sekarang sudah menderita luka dalam yang amat parah, sakitnya bukan alang kepalang!! sudah barang tentu ia tak dapat me loloskan dari dari anca man tersebut.

Tak a mpun lagi se mua anca mannya segera bersarang diatas badannya.

Begitu berhasil menotok semua jalan darah dan urat penting ditubuh In Han im, Ciu Heng thian segera menggerakkan telapak tangan kirinya me mbuat musuhnya roboh terkapar ke mbali.

Me mandangi lawannya yang terkapar, si Pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa seram.

'Heeehhh... heeehhh... heeehhh... In Han im, sekarang kau boleh rasakan siksaan yang paling keji didunia ini, ke mudian nantikan lah nadi-nadimu me ledak sebelum ajalmu tiba, haaahhh... haaahhh... haaahhh, inilah akhir yang akan kau ala mi"

Terhajar oleh totokan berantai dari C iu Heng thian tersebut Biau ki siangsu In Han im merasakan seluruh urat nadi didalam tubuhnya me lilit menjadi satu, peredaran darahnya berbalik sehingga menyumbat jalan darahnya, sementara aliran hawa panas mengalir terbalik dan menerjang ke atas otak. Seketika itu juga dia merasakan seluruh badannya mengejang keras,  seolah-olah terdapat beribu-ribu ekor ulat dan semut yang menggigit disekujur badannya, selain gatal sakit juga amat menyiksa badan. Penderitaan semaca m itu pada hakekatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, seperti ada sebilah pedang tajam yang sedang menyongke l setiap bagian badannya. Peluh sebesar kacang kedelai jatuh  bercucuran me mbasahi seluruh badannya, mata yang me mbela lak besar kini hampir melotot keluar, muka yang pucat pun berubah se makin menger ikan.

Tapi dia masih berusaha keras untuk menahan penderitaan dan siksaan yang maha dahsyat itu, sebab dia tak ingin merintih serta menunjukkan kele mahannya didepan musuhnya.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian betul-betul berhati buas dan kejam me lebihi binatang, melihat musuhnya tersiksa, dia ma lah makin kegirangan, sambil tertawa keji katanya  dingin menyeramkan:

"In Han im, sekarang aku akan me motongi se mua otot didalam badan agar saat kematian yang bakal merengut nyawamu makin panjang, tapi juga akan menambah siksaan yang akan menggilas tubuhmu. Heeehhh. . . heeehh. ."

Seraya berkata, ia lantas melolos pedang ular peraknya dari pungggung, ke mudian diantara berkelebatnya cahaya tajam, mata pedang yang tajam itu bekerya keras me mbetoti semua otot dalam tubuh In Han-im.

Bayangkan saja betapa menderitanya In Han-im menghadapi siksaan brutal seperti itu, tapi dia tidak me ngeluarkan sedikit suarapun, meski badahnya ge metar keras, darah mengucur deras, namun ia tetap me mpertahankan diri dengan sekuat tenaga.

Dalam waktu singkat, In Han-im telah berubah menjadi manus ia darah, wajahnya lebih pucat daripada mayat.

Penderitaan yang menyiksa tubuhnya sekarang betul-betul sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia sampai berguling- gulingan diatas tanah untuk menahan penderitaan tersebut. Sayangnya, gerakan itu bukan saja tidak mengurangi penderitaannya, malah sebalik nya justeru mena mbah hebat penderitaan.

Si Pedang ular perak Ciu Heng thian segera menarik ke mba li pedangnya dan tertawa seram.

"Heeeehhh...heeeehhh In Han-im, sekarang kau pasti telah menikmati kebahagiaan bukan? Nah aku boleh me mberitahukan kepadamu, apa yang kau rasakan sekarang baru suatu permulaan, kenikmatan yang lebih  mengas ikkan justru akan kau rasakan dibelakang nanti" 

'Ke mudian setelah tertawa dingin dia melanjutkan:

"Silahkan berbaring disini sa mbil merasakan kenikmatan hidup, maaf aku orang she Ciu tak bisa mene mani lebih la ma"

Diiringi suara tertawa yang amat nyaring, bayangan tubuh Ciu Heng-thian berkelebat di udara dan lenyap tak berbekas.

Yaa, apa yang dikatakan me mang benar nasib tragis dari In Han- im me mang masih berada dibelakang.

Tatkala bayangan iblis dari Ciu Heng hian sudah lenyap dari pandangan mata, penderitaan yang menyerang tubuhnya ternyata beratus kali lipat lebih dahsyat. .

Ia mulai me mperdengarkan suara pekikan keras bagaikan binatang yang terluka, begitu mengenaskan, begitu menusuk pendengaran.

Sambil menjerit dan berguling dan menco ba untuk me ngurangi penderitaan, tapi rasa sakit makin mengurung dirinya, bahkan makin la ma se makin dahsyat dan hebat. . .

Penderitaan yang makin la ma se makin menghebat ini, me mbuat  ia tak sanggup untuk menahan lebih jauh, diapun merasakan daya tekanan yang menghimpit tubuhnya makin dahsyat seperti hendak menghimpitnya menjadi cairan darah, seperti hendak mere mukkan badannya dan meng-hancurkannya menjadi beribu-r ibu keping. Penderitaan semaca m ini sukar untuk dilukiskan dengan kata- kata.

Tapi Biau ki siangsu In Han im mas ih tetap me mpergunakan kecerdasan otaknya serta kemauan yang besar untuk menahan penderitaan tersebut dengan sepenuhi tenaga.

Kekuatan apakah yang sebenarnya  menunjang  dia  sehingga me mbuat In Han im sanggup untuk me mpertahankan diri?

Itulah Ku See hong, dendam kusumat serta  nasib  dunia persilatan dimasa mendatang.

Bagaimanapun juga, dia berusaha keras untuk me mpertahankan diri, menahan diri sehingga Ku  See  hong  balik  kesana  dan  mencer iterakan segala sesuatunya kepada permuda itu, kemudian ia baru bisa meninggalkan dunia yang fana ini untuk ke mba li ke alam baka.

Ia tak ingin cepat-cepat menghabis i nyawanya, sebab ia tahu betapa pentingnya arti kehidupan yang tak seberapa lama itu bagi semua orang, yaa buat kesela matan dunia persilatan.

Sseandainya ia sampai mati, maka se mua rahasia besar itu akan dibawa masuk ke liang kubur, itu berarti manusia laknat Ciu Heng thian akan meraja lela, kesela matan Ku See hong akan terancan, dan nasib dunia persilatan bisa terjatuh ke tangan mereka.

Sungguhpun tersiksa hebat, ia bertekad untuk me mpertahankan diri sela ma mungkin, syukur kalau bisa menanti hingga Ku See hong ke mbali ke sana.....

ooodwooo

SEMENTARA  itu  Ku  See  hong  dengan   mengerahkan   ilmu mer ingankan tubuh yang paling se mpurna mengejar bayangan manu-s ia tersebut sepenuh tenaga, sedemikian cepatnya ia bergerak, dalam sekilas pandangan saja sudah lenyap dibalik kegelapan sana.

Tapi gerakan tubuh orang itupun tak kalah cepatnya, hanya didalam beberapa kali lo mpatan, ia sudah hilang dibalik kegelapan sana bagaikan segulung asap.

Ku See hong yang menyaksikan kejadian itu menjadi a mat terperanjat, pikirnya:

Orang-orang yang tergabung dalam perkumpulan Ban shia kau benar-benar  tak boleh  dipandang  enteng,  ditinjau  dari   ilmu mer ingankan tubuh yang dimiliki orang ini, jelas ia merupakan jago kelas satu didalam dunia persilatan, tak heran perkumpulan  Thi kiong pang dan Jian khi pang yang a mat besarpun bersedia menerima perintah dari Ban shia kau. Sebelum meninggal suhu pernah berkata kalau si perempuan terkutuk Ceng Lan hiang telah berhasil mendapatkan sejilid kitab Ban shia cinkeng, ucapan itu jelas bukan gertak sa mbel belaka, itu berarti ilmu silat yang dimllikinya pasti lihay sekali.

"Disa mping itu kedua orang mur id murtad suhu sudah pasti akan me mbantu perbuatan Ceng Lan hiang pula, aaai. . . untuk menghadapi kekuatan yang begitu besar, mustahil aku bisa bekerja sendiri.

'Entah Ciu Heng thian bersedia untuk me mbantuku atau tidak? Bila ia bisa me mbantu usahaku, tak la ma ke mudian siluman-s iluma n iblis itu tentu bisa ditaklukan!'

Walaupun dalam benaknya dipenuhi oleh pelbagai maca m pikiran, namun gerakan tubuhnya  sama  sekali  tidak  mengendor, ma lahan makin la ma se makin cepat, akhirnya dia seperti tak menyentuh tanah saja, bagaikan burung elang yang terbang diangkasa, tubuhnya bergerak ke depan dengan kecepatan tinggi.

Tenaga dalam yang dimilikinya sekarang telah mencapai puncak kesempur naan yang luar biasa, apalagi tenaga murni itu sudah saling bergabung dengan tenaga im dan yang dalam badannya, maka hawa murni tersebut dapat beredar tiada hentinya bagaikan gulungan o mbak yang saling mengejar di tengah samudra, seolah- olah bersa mbung t iada hentinya.

Kurang lebih setengah perminuman the ke mudian, dari jarak seratus kaki Ku See hong telah berhasil me mper kecil jaraknya menjadi beberapa puluh kaki, sementara seratus kaki dihadapannya terbentang sebuah hutan yang amat lebat.

Bayangan manusia yang berlarian di depan itu nampak amat terperanjat sekali sewaktu dilihatnya Ku See hong telah mengejar semakin dekat, padahal dia menganggap ilmu mer ingankan tubuh yang dilikinya sekarang sudah terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan, malah dalam perguruannyapun dia cuma kalah dengan kaucunya, dua orang penanggung jawab serta wakil ketuanya.

Ku See hong takut kalau orang yang berada dihadapannya itu keburu masuk kedalam hutan, ia segera berteriak keras:

"Setan kaparat yang berada didepan, tadi kau mas ih berani berbicara sesumbar mengapa saat ini ma lah kabur terbirit-birit''

Hanya dalam waktu singkat bayangan manus ia yang berada didepan itu sudah berada tiga puluh kaki dari hutan.

Terdengar  bayangan   manus ia   yang   berada   didepan   itu me mperdengarkan suara tertawa anehnya yang menyeramkan, begitu suara tertawa berkumandang dalam dua tiga kali lo mpatan saja badannya sudah me lo mpat sepuluh kaki lebih kedepan.

Sekarang Ku See hong sudah berada sepuluh kaki dibelakangnya, me linat ini dia menjadi panik, sambil me mbentak keras kecepatan badannya ditingkatkan, bagaikan seekor burung alap-alap badannya mener-ka m ke bawah dengan dahsyat.

Sesungguhnya bayangan manus ia yang berada didepan itu bukan berniat masuk ke dalam hutan, melainkan cuma menja lankan siasat busuknya  untuk  me njebak   lawan,   maka   sewaktu   badannya me lo mpat ke depan untuk kedua kalinya, mendadak ia menghentikan gerakan badannya, kaki kiri nya me mbuat gerakan setengah lingkaran, secara lincah badannya telah berputar ke mbali. Pada saat itulah secara kebetulan Ku See hong menerjang tiba dengan kecepatan bagaikan sa mbaran kilat.

Sesaat ketika badannya berputar, orang itu sudah mengayunkan sepasang telapak tangannya ke muka dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, tenaga pukulan me ndesing bagaikan pisau dan menderu-deru di tengah udara.

Ku See hong sa ma sekali tak me nyangka kalau musuhnya begitu licik dan keji,  sebelum ia menyadari akan datangnya bahaya tampaklah bayangan telapak tangan telah menyelimut i seluruh angkasa dan menggulung tiba dengan ketatnya, begitu dahsyatnya ancaman tadi sehingga menggidikkan bulu ro ma setiap orang.

Kedua belah pihak sa ma-sa ma bergerak dengan kecepatan tinggi, apa yang terjadi pun berlangsung dalam sekejap mata.

Ku See hong me mang lihay, dalam ce masnya satu ingatan segera me lintas dalam benaknya, mendadak ia menggunakan tak tik Biau siu ji siu (terbang me layang bagaikan tipuan) dari ilmu gerakan tubuh Mi khi biau tiong guna menyela matkan diri.

Ketika tubuhnya yang menerjang tiba menyentuh pada gulungan angin  puyuh  yang  maha  dahsyat  itu,  badannya   secara  aneh me layang ke sa mping seenteng bulu.

Ternyata ilmu Biau siu ji siu tersebut merupa kan sejenis ilmu gerakan badan yang khusus mengandalkan  tenaga  dalam  untuk me mbuat badannya seenteng bulu, bagai- manapun dahsyatnya angin pukulan orang, bila terkena badannya tenaga itu akan lenyap seperti menghantam kapas, melayang ke udara dengan sangat entengnya.

Ilmu gerakan tubuh ini pernah dipraktekkan oleh Ku See hong sewaktu tubuhnya terjatuh dari atas puncak tebing di laut lam hay dari ketinggian lima enam puluh kaki itu.

Begitulah, seenteng bulu tubuh Ku See hong melayang sejauh  lima enam kaki dari tempat semula dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi orang itu tak berkedip. Waktu itu kentongan kelima sudah menjelang tiba, sang surya sudah mula i muncul dari ufuk sebelah timur, tampaklah orang itu adalah seorang lelaki berbaju abu-abu yang berperawakan kurus kering, ia me miliki muka berbentuk kuda dengan kulit badan yang putih ha mpir tidak berwarna darah, dari balik matanya yang cekung terpancar keluar serentetan sinar mata  yang tajam bagaikan sembilu me mbuat orang yang me mandang terasa menjadi ngeri.

Orang ini tak la in adalah salah seorang diantara empat thamcu yang berada dalam perkumpulan Ban-shia-kau, yakni thamcu dari ruang Tee- hun-thia m, orang menyebut nya sebagai To-soat-bu- liang (menginjak salju tanpa bekas) Tham Hun- ki.

Perlu diketahui, ke empat ruangan yang dimaksudkan dalam Ban shia-kau terdiri dari ruang Sin-hwee-thia m, Im-hong-tha m dan Tee- hun thia m.

Kiranya organisasi Ban-shia- kau tersusun a mat rapi, dibawah kedudukan Kaucu adalah dua orang penanggung jawab yang menguasahi mati hidup segenap anggota perkumpulan, mereka berdua dibantu oleh e mpat orang pelindung hukum.

Dibawah mereka berdua adalah Hu-kaucu atau wakil ketua, dibawahnya lagi adalah Empat kau-tha m dengan setiap bagian terdapat satu orang thamcu dibantu, empat orang Hiangcu, dibawah hiangcu adalah anggota biasa.

Bisa dilihat betapa luasnya organisasi tersebut sehingga boleh dibilang me lebihi perkumpulan manapun.

Tee hun-thamcu ..... menginjak salju tanpa bekas Tham Hunlki nampak terkejut sekali setelah menyaksikan  de montrasi ilmu gerakan tubuh yang dilakukan Ku See hong, paras mukanya  berubah hebat, tapi hanya sejenak ke mudian sikapnya telah berubah menjadi tenang ke mbali.

Ia segera tertawa dingin dengan suara yang rendah dan berat,  ke mudian katanya: "Orang she Ku, sekalipun kau a mat cerdik, tapi kali ini kau pun termakan juga oleh siasat wakil kaucu kami, heeehhh. . . heeehhh. .

. heeehhh. . . aku lihat umur mu pun tak akan bertahan lebih lama lagi"

Ku See-hong yang menyaksikan peristiwa itu pun menjadi kebingungan, ia tidak habis mengerti apa  yang  dimaksudkan, setelah mendengus dingin dengan nada sinis katanya:

"Manusia laknat berhati busuk, bila mengandalkan kepandaian secetek itu pun kau sudah ingin merenggut nyawaku, Hmm.. perbuatan itu betul-betul tak tahu diri. . ."

Tentu saja si menginjak salju tanpa bekas Tahm Hun khi cukup mengetahui sa mpa i dimanakah kelihayan dari Ku See hong, tapi dia tetap yakin kalau masih sanggup untuk bertarung dengan lawannya, maka sa mbil tertawa seram katanya:

`Orang she Ku, kau harus sedikit tahu diri, ketahuilah orang Ban shia kau adalah manus ia- manusia yang tidak ga mpang diusik, bila kau masih saja tak tahu diri, hmmm .... sekarang juga kau boleh rasakan kelihayanku!'

Ku See hong mengerutkan dahinya kencang-kencang, mencorong sinar mata yang menggidikkan hati dari balik matanya, ia berseru dengan suara dingin:

''Setiap manusia yang tergabung dalam perkumpulan Ban shia kau, cepat atau lambat pasti akan kubunuh diujung pedangku!'

"Haaahhh. . . haahhh . . . . . haaahhh . . . . mana, mana...'' Si Menginjak salju tanpa bekas Tham Hun khi me ndongakkan kepalanya dan tertawa seram, "saat kematianmu sudah didepan mata, tapi kau masih saja tak tahu diri, betul-betul ma nusia yang bermata tak berbiji!"

Tujuan dari To soat bu liang Tham Hun-khi pada saat ini adalah mengulur waktu sela ma mungkin agar Ciu Heng thian me mpunyai waktu yamg cukup untuk me mbunuh Lam ciau pak siang, maka ia sengaja me mbawa pe mbicaraan tersebut ke sana ke mari tanpa tujuan.

Sekali lagi Ku See hong me mperdengarkan suara tertawa dinginnya yang menger ikan:

''Heeehhh. . . heeehhh. . . heeehhh. . . kau tak usah banyak berbicara lagi, kini malaikat  maut telah me mentangkan cakar setannya, bersiap-siaplah kau untuk berangkat menghadapnya!"

To soat bu liang Tham  Hun  khi  mendongak  kan  kepala  dan me mer iksa keadaan cuaca, ketika ia merasa Ciu Heng thian sudah berhasil dengan serangannya, sekulum senyuman yang mengerikan segera  tersungging  di  ujung  bibirnya,   disusul   ke mudian mengge ma lah suara gelak tertawa nyaring. .

Mendadak ia menerjang ma ju ke muka, sepasang telapak tangannya didorong bersama me lancarkan pukulan dahsyat dengan me mbawa deruan angin tajam secepat kilat angin pukulan itu menerjang ke muka.

Ilmu silat yang paling diandalkan To soat bu liang Tham Hun khi adalah ilmu meringankan tubuh, tak heran kalau gerak serangannya ini dilakukan dengan kecepatan bagaikan sa mbaran kilat.

Ku See hong hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu-tahu sesosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa telah menerka m kearahnya.

Paras muka Ku See hong segera berubah hebat, telapak tangan kanannya diayunkan ke muka, serentetan cahaya tajam yang berbentuk bintang, bagaikan serentetan mercon yang meledak, dengan cepatnya menyongsong ke muka.

To soat bu liang Tham Hun khi adalah seorang manusia licik yang berakal panjang, sekilas pandangan saja ia telah melihat  kilau  dibalik serangan yang dilancarkan Ku See hong terselip suatu kekuatan yang luar biasa, tentu dia tak berani menyambut dengan kekerasan. Tiba-tiba terasa serangannya dibuyarkan lalu sa mbil berputar setengah lingkaran, ia me mbentak keras.

Sekali lagi badannya menerjang maju ke muka, angin pukulan bayangan kaki seolah-olah berubah menjadi beribu-r ibu banyak nya, diimbangi dengan hawa pukulan yang dahsyat, langsung menerjang kebagian me matikan ditubuh Ku See hong dari sudut yang aneh.

Berada  dibawah  serangan  berantai   Tham   Hun  khi   yang me mancar bagaikan  gulungan  samudra,  Ku  See  hong  segera me mutar sepasang tangannya me mbentuk gerakan melingkar dan tiba-tiba mendorongnya ke muka.

Selapis angin pukulan yang dahsyat, bagaikan selembar jaring yang tebal menggulung kemuka menyongsong datang nya ancaman lawan.

To soat bu liang Tham Hun khi me mang tak malu disebut jagoan lihay, ia benar-benar memiliki ilmu silat yang dahsyat, sekali lagi dia me mbentak keras, seluruh badannya seperti pusaran angin berpusing menerobos masuk kedalam celah kosong dari pukulan berantai lawan, sepasang tangan dijojoh ke muka bagaikan to mbak.

Kali ini dia menganca m ja lan darah Yan noo hiat dan Ciang tay hiat di badan Ku- See hong, sementara kaki kirinya secepat kilat menya mbar jalan darah Hee im hiat ditubuh anak muda itu.

Serangan semaca m ini selain ganas dahsyat juga teramat keji. .

Ku See hong mendengus dingin mendadak kaki  kanannya berbalik menendang jalan darah wi t iong hiat diatas kaki kiri lawan, ke mudian sepasang telapak tangannya saling menyilang me ngunci datangnya ancaman lawan dengan kekerasan.

Jurus serangan ini dilancarkan dengan mengko mbinas ikan suatu gerakan tubuh yang sangat indah, bahkan serangan yang dilancarkan dengan kakinya itu selain berhasil mengunci serangan musuh, dapat pula me lancarkan serangan balasan, benar-benar merupakan satu jurus serangan yang a mat lihay. Semenjak terjun kedalam dunia persilatan, belum pernah To soat bu liang Tham Hun khi menjumpa i jago sede mikian lihaynya,  dimana setiap jurus serangannya selalu tertuju untuk menekannya dalam keadaan apa boleh buat mendadak ia buyarkan serangan ditengah jalan ke mudian melo mpat keluar dari arena.

Terhadap manusia buas semaca m ini Ku See hong tak pernah berbelas kasihan, sambil me mbentak nyaring tubuhnya seperti turut menerjang kemuka, sementara sepa-sang telapak tangannya menyerang secara bergantian.

Serangan demi serangan dengan jurus me mbabat, me mbacok mendorong menya m-but dan me motong,  semuanya digunakan secara berganti-gantian.

Semua anca man dilancarkan dengan dahsyat, ganas dan gencar seperti hujan badai.

Ternyata To soat bu liang Tham Hun khi termasuk seorang jagoan yang ulet.

Dia tidak menyerah dengan begitu saja, badannya berkelebat secara aneh, dan serangannyapun meluncur keluar seperti air bah yang menggulung lewat, dibawah serangan Ku See hong yang maha dahsyat itu ternyata diapun me mbawa tenaga ancaman yang hebat menggulung keluar.

Malahan anca man tersebut tibanya dari suatu sudut yang aneh dengan ruang gerak yang sempit tapi sa ma sekali tidak mengurangi kedahsyatannya.

Begitulah dua orang jago lihay dari dunia persilatan segera menganda lkan kepandaian silat yang dimiliki untuk saling menyerang dan mendesak lawannya.

Pertempuran ini betul-betul merupakan suatu pertempuran yang amat seru.

Hawa puseran yang dahsyat seperti geledek berhembus kencang disekeliling hutan itu dan merubah wilayah seluas tujuh delapan kaki itu menjadi te mpat a mukan badai Dua pulu jurus begitu saja lewat, seluruh jidat To soat buliang Tham Hun-khi sudah dibasahi oleh keringat, namun serangan demi serangan yang dilancarkan musuh tetap gencar dan dahsyat.

Sementara pertempuran masih berlang-sung a mat sengit mendadak ....

Suara pekikan keras yang memekikkan telinga berkumandang datang dari arah sisi hutan.

Suara pekikkan yang me me kikkan telinga itu seperti suara panggilan seseorang.

Tapi kalau didengar lebih seksa ma maka terasa pula  seperti suara teriakan seseorang yang sedang bergembira.

Begitu pekikkan tadi sirap terdengarlah seseorang berseru dari tempat kejauhan:

"Te- hun tha mcu, kau diperintahkan segera ke mba li!"

Ku See hong telah merasakan seperti suara pekikan dan suara pembicaraan  orang  itu  seperti  a mat dikenal  olehnya,   hal  ini me mbuatnya merasa amat terkejut, suatu firasat tak  enak mendadak melintas di dalam benaknya.

Sebaliknya Ta soat bu liang Tham Hun khi yang mendengar seruan tersebut segera  tahu kalau Ciu Heng thian telah berhasil  me laksanakan tugasnya, ingatan untuk mengundur kan diri dari sana segera terlintas dalam benaknya.

Sambil tertawa seram, Ta soat  bu  liang  Tham Hun  ki segera me mper ketat serangan nya, secara beruntun dia lancarkan e mpat gulung pukulan dahsyat yang me maksa Ku See hong terdesak mundur sejauh rmpat langkah.

Menggunakan kese mpatan inilah dengan cepat tubuhnya melejit ke tengah udara dan me lesat kearah hutan, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik pepohonan.

Sepasang mata Ku See hong berubah menjadi merah me mbara dan me mancarkan sinar kebuasan, saking  mendongko lnya dia sampai mendepa k-depakkan kakinya keatas tanah, akhirmya dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan me luncur  balik ketempat se mula.

Waktu itu hatinya betul-betul merasa gelisah sekali, dia  segera me mpercepat langkahnya menuju ke te mpat se mula.

Tak selang  beberapa  saat  kemudian,  tibalah  pe muda  itu  di ko mple ks tanah pekuburan itu.

Sang surya telah berada diatas udara, sinar yang keemas- emasan me mancar kan sinar terangnya menyoroti seluruh jagad.

Dengan sorot mata yang tajam Ku See  hong  me ncoba  untuk me mperhatikan sekeliling tempat itu, namun bayangan tubuh dari Lam ciau pak siang serta Ciu Heng thian sudah tak na mpa k lagi..

Tiba-tiba Ku See hong menangkap suara rintihan lirih berkumandang dari sisi tanah pekuburan itu, tak berani berayal lagi secepat kilat dia melo mpat turun ke bawah dengan kecepatan  tinggi.

Dengan cepat ia menangkap mayat Sin hong hwee ciau Lui Ki yang tergeletak kaku di tanah, kemudian diapun menyaksikan tubuh Biau ki siangsu In Han im yang sedang berguling-guling di tanah dengan sekujur badannya ber mandikan darah.

Merah me mbara sepasang mata Ku See hong setelah menyaksikan kejadian itu, sambil me mbentak keras dia segera menerjang ke sa mping tubuh Biau ki siangsu In Han im sa mbil tegurnya:

"Paman In, Paman In! Siapa yang telah mencelaka i kalian? Cepat katakan, cepat katakan!"

Waktu itu sekujur badan Biau ki  siangsu  In  Han  im  seperti dire muk menjadi berkeping- keping, tersiksanya bukan kepalang, namun dia masih tetap me mper-tahankan diri sa mbil menantikan datanganya Ku See hong. Akhirnya dengan wataknya yang keras kepala dia berhasil mencapai apa yang diharapkan, namun saat itu ajalnya sudah semakin dekat, dalam keadaan sadar tidak sadar ia seperti mendengar suara  panggilan  Ku  See  hong,  pelan-pe lan  diapun me mbuka ke mbali matanya yang penuh berdarah dan mengawas i Ku See hong dengan pandangan mata yang sayu.

Jelas dia tak percaya kalau orang yang berada dihadapannya adalah Ku See hong, mungkin dia mengira apa yang dilihat hanyalah pandangan semu menjelang tibanya ajal.

Dengan sepasang mata berkaca, Ku See hong berteriak keras: "Paman In, aku yang telah datang! Aku adalah Ku See hong, kau.

. . apakah kau sudah me lihat je las?"

Wajah Biau ki siangsu In Han im yang mengenaskan itu ta mpak mengejang keras, titik air mata berlinang dari wajahnya,  tidak bukan air mata, me lainkan darah!

Setelah menggerakkan bibirnya sekian la ma, akhirnya dia berbisik dengan suara yang le mah:

"Ku. . . Ku lote, kaukah yang datang?"

"Paman In, aku yang datang, betul aku Ku See hong, oooh ....

apa yang telah terjadi disini? Sedang bermimpikah aku?"

Suara dari Ku See hong kedengaran gemetar dan keras, nadanya parau sehingga mendatangkan suasana yang amat pedih bagi siapapun yang mendengarnya.

Setelah merasa yakin kalau yang datang adalah Ku See hong, In Han im na mpa k ge mbira sekali, jauh me lebihi rasa sakit yang sedang menyiksa tubuhnya?

''Ku lote" katanya kemudian dengan suarta gemetar, "harap kau suka maafkan lohIu  yang telah salah menilai orang, sungguh mengge mas kan kawanan laknat itu berhati keji ''

"Paman In, cepat katakan! Apa yang sebenarnya telah terjadi?" sela Ku See hong ce mas. Biau ki siangsu In Han im menghela napas sedih, katanya:

"Ku lote, lohu dan adik angkatku telah terbunuh oleh si Pedang ular perak Ciu Heng thian, si manusia berhati binatang, manus ia laknat tersebut, dia adalah wakil ketua dari Ban shia thian kau, sungguh mengge maskan ternyata lohu pun kena dikelabuhi olehnya"

''Ooh... rupanya perbuatan dari Ciu Heng thian!" seru Ku See hong dengan pancaran sinar kebencian yang a mat tebal, "binatang keparat, aku bersumpah akan mencincang tubuhnya menjadi berkeping-keping''

"Ku lote, cepatlah berangkat ke le mbah Yu- ming- kok dibukit Soat-hong-san, kalau sampai terla mbat, beberapa ratus lembar nyawa manusia tentu akan musnah pula di tangan manus ia durjana tersebut"

Saat itu, Ku Seng-hong tak dapat mengenda likan perasaan sedih yang menyerang tubuhnya, dia tahu In Han im adalah seorang ksatria sejati, tapi Thian telah menjatuhkan siksaan yang begitu keji kepadanya, apakah Thian tidak mengingin  kan keadilan dan kebenaran ditegakkan dibumi ini?

Setelah menghela napas sedih, ia berkata:

Paman In, sekalipun  tubuhku bakal hancur, keadilan dan kebenaran tetap akan kutegakkan, aku ingin me mbas mi se mua manus ia laknat tersebut dari muka bumi"

Tampaknya ajal sudah semakin dekat buat Biau ki-siang-su In Han-im, seperti juga lentera yang hampir pada m, cahayanya pasti akan menjadi terang benderang sebelum akhirnya mati.

Tiba-tiba saja Biau-ki-s iang-su In Han-im na mpak jauh lebih segar, dengan nada yang halus dan penuh perhatian dia berkata:

"Ku lote, kau me mpunyai bait nyanyian dari Bun-ji-koan-su serta pedang Ang-soat kiam dari Si hong lo jin, kedua berita ini sudah pasti telah tersebar luas dalam dunia persilatan, ini berarti keselamatan jiwa mu terancam bahaya maut. Meski ilmu silat yang  kau  miliki  sangat  lihay,  namun  sepasang  tangan  tak   bisa menga lahkan e mpat tangan . . . aaai.....

Berbicara sampai disitu Biau-ki-siang-su In Han- im tak dapat mengenda likan rasa pedih dalam hatinya lagi, dia menghela napas panjang.

"Aai .... para pendekar sejati penegak keadilan dalam dunia persilatan banyak yang telah mati dan lenyap tak ujung rimbanya, boleh dibilang kau harus hidup sebatang kara didunia ini tanpa bantuan orang lain, aaai .... gunakanlah kecerdikanmu untuk mengatasi se mua kesulitan yang kau hadapi."

Ku lote, kau harus me maha mi betapa berbahaya dan liciknya umat persilatan didunia ini, mereka lebih banyak menipu orang dengan ke munafikannya dari pada me mbantumu, ketahuilah kelicikan tak bisa dihadapi dengan ilmu silat, ma ka kau harus selalu waspada terhadap setiap manus ia yang ada disekelilingmu'

Ku See hong tahu bahwa kesempatan In Han im hidup didunia ini sudah tak banyak lagi, tanpa terasa titik air mata jatuh berlinang  me mbasahi pipinya, ia mengangguk:

"Paman In, aku tahu tentang hal itu, kau tak usah kuatir, sebelum se mua pere mpuan durjana didunia ini kupunahkan, aku bersumpah tak akan berhenti me mbunuh. ."

Ketika mengucapkan perkataan itu dari balik matanya segera terpancar keluar hawa napsu me mbunuh yang mengerikan ....

Hal ini mela mbangkan kalau badai yang penuh dengan genangan darah sudah mulai me landa dunia persilatan.

Tiba-tiba In Han im me ngeluh pelan sa mbil menahan tubuhnya yang gemetar keras, wajahnya mengejang keras menahan penderitaan yang hebat, tapi ia tidak berdiam diri, ke mbali katanya:

"Ku lote, sejak kini keadilan.. dan kebenaran di dalam dunia persilatan harus kau tegakkan seorang diri, baik-baiklah berjuang, arwah kami berdua dialam baka pasti akan merestuimu, se moga kau bisa menegakkan kebenaran dalam dunia  persilatan dan me lenyapkan semua durjana dari muka bumi, lohu..,. lohu moho n pamit lebih dahulu'

Akhirnya In Han im, seorang pendekar besar yang berjiwa kesatria ini mengakhir i perjalanan hidupnya di alam se mesta ini dan ke mbali keakhirat.

Ia meninggal dengan begitu tentram, meninggal dunia setelah selesai mengucapkan pesannya.

Walaupun In Han im telah meninggal, na mun kegagahan, kebajikan serta ke muliaan budinya akan tetap tinggal di dunia ini.

Ku See hong merasakan kesedihan yang tak terlukiskan dengan kata-kata setelah menyaksikan ke matian In Han im, dia me mbenci kawanan manus ia laknat itu, merasa tidak terima atas ketidak adilan Thian.

Terdengar ia berguma m:

'Ta mpaknya nasib buruk selalu me mbuntuti diriku, sejak kecil aku harus kehilangan kedua orang tuaku, lalu menyusul guruku Bun ji koan su, empek Sangkoan It, kekasihku Keng Cin sin, dan sekarang sahabat Sin hong hwee ciau serta Biau ki siangsu.."

Berguma m sampa i disini, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya lalu berseru lagi dengan lantang:

"Oooh Thian! Selanjutnya masih ada peristiwa tragis apalagi yang hendak kau limpahkan kepadaku ?'

Aku bersumpah akan me mbunuh dan  menumpas   segenap manus ia laknat itu dari muka bumi, aku tidak perduli caci maki orang lain, aku hendak me lakukan pe mbantaian secara besar- besaran, dengan pedang Hu thian seng kia m, aku akan me lumur i seluruh dunia ini dengan darah kental dari kawanan manus ia jahanam itu"

Berbicara sampai disitu, ''Criing!" dia telah melolos kan pedang Hu thian seng kiam tersebut. Cahaya tajam berwarna merah yang amat menyilaukan mata dengan cepat memancar ke e mpat penjuru. me mbuat seluruh jagad tiba-tiba saja berubah menjadi merah pada m.

Kabut tebal berwarna merah yang terpancar keluar dari pedang Hu thian seng kiam makin la ma se makin menebal, la mat-la mat diseluruh   angkasa   terasa   terendus   bau   amis    yang    amat me mua kkan.

Nasib dunia persilatan pun ditentukan, mula i sekarang badai pembunuhan paling brutal sepanjang sejarah sudah akan dimulai.

oooodwoooo

BULAN se mbilan tanggal enam waktunya tengah mala m buta, tempatnya lembah Yu beng kok,  dipuncak  Soat hong propinsi Ou-  la m. Suatu pertempuran berdarah yang sangat mengerikan telah berlangsung disana. dua ratusan le mbar jiwa manus ia tewas secara menger ikan didalam pertempuran berdarah tersebut.

Le mbah Yu  beng kok penuh dengan noda darah, mayat bergeleparan dimana- mana, darah yang mengalir menganak sungai, pemandangan waktu itu mengerikan sekali.

Ketika itu tengah mala m sudah lewat, waktu sudah mendekati kentongan keempat. Ditengah lembah Yu beng kok tampa k sesosok beyangan manusia meluncur datang dengan kecepatan bagaikan petir, dia adalah seorang pemuda yang tampan Ku  See  hong adanyal

Rembulan yang berbentuk bulan sabit me mancarkan sinarnya yang bening dia mgkasa, Ku See hong hanya berdiri diluar lembah Yu beng kok, tak berani melangkah masuk ke le mbah barang selangkahpun, karena dia tahu bahwa kedatangannya terlambat, pembantaian brutal telah berlangsung dite mpat tersebut.

Angin dingin yang menggidikkan hati berhe mbus lewat, tiba-tiba Ku See hong mengendus bau amisnya darah yang amat tebal. Kesemuanya itu sudah me mberi kete-rangan yang amat jelas kepada Ku See hong, dalam sebuah Yu beng kok sudah penuh bergelepar mayat-mayat manusia dalam keadaan mengerikan.

Ku See hong dengan me mbawa perasaan hati yang berat pelan- pelan berjalan masuk kedalam le mbah tersebut.

Apa yang kemudian terpapar dihadapan matanya adalah suatu pemandangan yang begitu keja m, begitu buas dan mendirikan bulu roma.

Darah mulai meleleh keluar dari balik mata Ku See hong, darah yang menggantikan air mata. Dendam kesumat yang me mbara hatinya hampir saja me mbuatnya mata gelap.

Ia merasa amat sedih, amat menyesal .......

Disisi telinganya, dia seakan-akan mende-ngar pesan dari Biau ki siangsu In Han Im:

"Ku lote, segera berangkatlah ke lembah Yu beng kok di bukit Soat hong, kalau sampai terla mbat, beratus lembar jiwa akan berakhir pula ditangan kaum laknat ''

Air mata berderai-derai me mbasahi pipinya, ia tak sanggup mengenda likan perasaan sedih didalam hatinya lagi, dia berpekik penuh kepedihan:

''Oooh pa man In! Gara-gara Ku See hong ke mbali ada dua ratusan lembar jiwa manusia punah. Makilah aku! Dampratlah aku! Aku benar-benar berdosa, aku benar-benar telah melakukun suatu kesalahan besar!".

Ku See hong menyalahkan diri sendiri, malu kepada  diri sendiri, dia merasa hatinya seolah-olah mengucur kan darah rasa

menyesal menyelimuti seluruh perasaannya.

Dia benci! Mendendam sa mpa i merasuk ketulang .... Ban shia kau adalah pe mbunuh biadab, pe mbunuh kejam yang t idak berperi ke manusiaan. Kesedihan dan kepedihan yang meluap-luap akhirnya menggetarkan perasaannya tanpa sadar ia lantas mendongakkan kepala nya dan me mbawa kan lagu Dendam sejagad.

Bukit tinggi berhutan lebat disisi kuil. . .

Suara nyanyian yang me mbetot sukma diimbangi dengan suara sedih dan duka yang me mbara, me mbawa suara tersebut mengalun sampai di te mpat yang jauh sekali. . . jauh ke tengah awang-awang.

.

Mendadak .....

Dari balik keheningan mala m berkuman- dang datang suara petikan harpa yang nyaring dan me mbawakan lagu pedih.

Irama harpa tersebut segera menyadarkan ke mba li Ku See hong dari kepedihan yang me mbara. .

Tapi, pada saat itu pula suara permainan harpa yang merdu pun secara tiba-tiba terhenti pula di tengah ja lan.

Mendadak.....

''Criing. . . criing. . .tingg. . . ttiiing. . ." kembali bergema suara petikan harpa tersebut.

Serta merta Ku See hong menghimpun seluruh perhatiannya untuk mendengarkan dengan seksa ma.

Mula- mula ira ma harpa itu membawa kan lagu yang rendah, berat dan sedih ke mudian makin la ma suaranya bertambah  berat  dan me medihkan hati, me mbuat siapapun yang mendengar ira ma tersebut segera merasakan sesuatu perasaan yang tak enak.

Ku See hong me mandang sekejap  sekeliling  te mpat  itu,  lalu me masang telinganya baik-ba ik me ndengarkan per mainan harpa tersebut, akhirnya selangkah demi selangkah dia dekati sumber dari suara itu.

Setelah dia matinya sekian la ma, Ku See hong dapat menyimpulkan bahwa per mainan harpa itu dipancarkan lewat suatu kepandaian sim hoat tenaga dalam yang sangat lihay, sehingga irama yang dipancarkan oleh perma inan harpa itu mendatangkan suara yang keras, nyaring, dan sangat berpengaruh bagi yang mendengarkan.

Ku See hong merasa walau ira ma harpa itu me medihkan, namun lagu yang dibawakan justru bagaikan rintihan seseorang, keluhan sedih dari seseorang ....

''Siapakah yang me mbawakan per mainan harpa ini?, Ku See hong segera  berguma m,  Siapakah  orang  itu?   Mengapa   dia   dapat me mbawa kan   ira ma   harpanya   menjadi  begitu    sedih  dan me medihkan hati ? Siapakah dia? Siapakah dia?"

Perasaan ingin tahu me mbuat anak muda itu  segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berkelebat kedepan sana.

Ku See hong seringkali me mbawakan lagu Dendam sejagad dengan ira ma yang menyebar ke e mpat penjuru agar lawan- lawannya tak berhasil mene mukan sumber suara tersebut, maka sekarang walaupun per ma inan ira ma harpa itupun me mancar ke angkasa, tapi setelah didengarnya sejenak dengan seksa ma, ia segera mengetahui dari mana kah sumber dari suara tersebut.

Waktu itu, tengah mala m sudah se makin larut...

Rembulan masih me mancar kan cahaya yang lembut menyinari seluruh puncak bukit Soat hong yang sepanjang tahun dilapisi salju.

Ku See hong berdiri tegak di tengah bukit sa mbil me meriksa keadaan di sekeliling te mpat itu, dengan sorot matanya yang tajam.

Mendadak, pada saat itulah suara petikan harpa tersebut kembali berkumandang . . .

'Criing...crring... crring '

Iramanya masih tetap me mbawakan ira ma yang sedih, irama yang me medihkan hati.

Sekilas pendengaran nadanya seperti sedih seperti

murung...... seperti merintih..... seperti kagum....... Seperti pula air sungai yang mengalir tenang dan musim se mi telah menjelang t iba.

Irama lagu yang bercampur aduk, me mbuat orang sukar untuk menduga bagaimanakah perasaan yang diungkapkan keluar.

Irama lagu itu benar-benar sebuah ira ma lagu yang luar biasa, irama lagu- lagu yang serasa tiada keduanya di dunia ini.

oooodwoooo

BEGITU ira ma harpa tersebut berkumandang ke mbali, bagai seekor burung elang Ku See hong segera melayang ke  depan dan me luncur ke atas sebuah puncak bukit yang indah.

Dalam sekejap mata, Ku See hong telah tiba diatas oucak bukit itu, ketika sorot matanya beralih dan me mandang sekeliling te mpat tersebut, tak tahan dia lantas menghe la napas me muji.

"Aaai. . ! Benar-benar alam dewata yang sangat indah dan permai. . ." demikian ia berguma m.

-ooodwooo-