Dendam Sejagad Jilid 13

Jilid 13

BAYANGAN  telapak   tangan,   bayangan   kaki  berha mburan me menuhi angkasa, untuk sesaat sulit buat orang untuk mengetahui jurus serangan apakah yang mereka pergunakan.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah  melancarkan seratus dua puluhan kali tendangan serta tigaratus enampuluhan pukulan, tapi kedua belah pihak sama-sa ma tak sunggup me lukai lawan.

Semakin cepat gerakan tubuh mereka berputar, jurus serangan yang di pergunakan pun makin la ma se makin gencar dan dahsyat.

Menyaksikan pertarungan sengit yang belum pernah di jumpai sebelumnya ini, Lam-ciau dan Pak-ciang dia m-dia m menghela napas panjang.

Pada hakekatnya jurus serangan yang dipergunakan kedua orang ini a mat dasyat, lihay dan jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan,... Bila dibandingkan dengan ilmu silat yang mereka miliki, jelas sekali perbedaanya ibarat bintang dan kunang kunang.

Meski kagum dengan kelihayan kungfu orang, Biau-ki siangsu In Han im pun dia m-dia m merasa lega, dia bersyukur dikolong langit dewasa ini masih terdapat dua orang pendekar sejati yang me miliki ilmu silat amat lihay, ini berarti umat persilatan makin ada kesempatan(harapan) untuk me loloskan diri dari anca man bencana.

Namun diapun merasa a mat gelisah, sebab dalam pertarungan yang berlangsung begitu sengit sudah jelas akhirnya pasti ada yang luka. Lalu apa yang harus dilakukan sekarang untuk menanggulangi situasi se maca m itu?

Ku See hong sendiri se makin bertarung se makin terkejut..., dia merasa bukan saja tenaga dalam lawan a mat sempurna, hawa pukulannya yang bersambunganpun ibarat gulungan o mba k ditengah samudra, jurus-jurus serangan yang digunakan rata-rata aneh, lihay, ganas dan jarang dijumpai dikolong langit. Ia kaget oleh ilmu silat lawan...., demikian pula halnya dengan si pemuda berbaju putih yang juga merasa terkejut oleh tenaga dalam dan jurus serangan yang dimiliki Ku See hong.

Yang paling mengejutkan hatinya adalah diantara jurus-jurus serangan yang digunakan lawan, ternyata ada sebagian yang mirip sekali dengan ilmu silat aliran Cing-hay pay, tapi bila dibandingkan maka  terasa  pula   perbedaan  yang  amat  jauh.  Kenyataan  ini  me mbuatnya benar-benar merasa tidak habis me ngerti. Sedari dahulukala, ilmu silat aliran Cing-hay pay sudah merupakan suatu kepandaian silat yang berdiri sendiri, padahal ilmu silat yang dimilikinya sekarang justru dipelajari dari kitab pusaka Pek-ke cinkeng, sebuah kitab pusaka yang me muat ilmu sakti aliran Cing-hay.

Mungkinkah pihak lawan pernah mengint ip kitab pusaka tersebut serta menyadap ilmu rahasia dari Cing-hay pay?

Akan tetapi, bila diperhatikan lebih seksa ma, maka terasa kalau jurus serangan tersebut sama sekali tidak mirip dengan ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Pek-ke-cinkeng.

Mengapa bisa demikian?

Rupanya Ku See hong yang berhasil me mperoleh jurus pedang dari peninggalan Si-ho ng lo jin, setelah menekuninya selama dua bulan lebih, bukan saja ketiga jurus gerakan pedang itu berhasil dikuasahi dengan matang, bahkan diapun berhasil pula me maha mi banyak sekali jurus a mpuh yang aneh-aneh dan sakti...

Si Kakek menyendiri atau Si-hong lo jin, merupakan manus ia paling aneh dalam dunia persilatan jaman itu, setiap patah kata yang ditulis olehnya pada hakekatnya mengandung suatu pelajaran silat yang sangat mendala m.

Misalnya saja ketiga jurus ilmu pedang peninggalannya  itu, jangan dilihat hanya tediri dari tiga gerakan belaka..., pada hal jurus itu dicipiakan dengan susah payah dan harus mengoroankan banyak tenaga dan pikiran.

Tentu saja diantara gerakan mana terkandung pula pelbagai ilmu rahasia dari perbagai perguruan serta aliran didunia ini.

Sebagai seorang ahli waris dari perguruan Cing-hay pay, otomatis dalam sepuluh jurus yang diciptakan olehnya, ada delapan diantaranya yang berbau ilmu silat Cing-hay pay.

Tak heran kalau jurus jurus serangan yang kemudian berhasil dipaha mi dan dikuasahi Ku See hong, mustahil dapat me lepaskan diri dari jurus-jurus serangan aliran Cing-hay pay, namun bila ditelit i dengan seksama maka akan terlihat bahwa gerakan silatnya sama sekali terlepas dari gerakan ilmu silat Cing-hay pay.

Bagaimana mungkin bisa de mikian?

Rupanya ketika Si-hong lo jin menciptakan tiga jurus ilmu pedang itu, dia bukan cuma berdasarkan ilmu silat aliran Cing-hay pay saja, me lainkan telah menghimpun segenap inti sari pelajaran ilmu pedang yang ada dipelbagai aliran dan pelbagai perguruan didunia ini, otomatis gerak serangannya jauh berbeda dengan  aliran  ilmu silat Cing-hay pay.

Apalagi setelah kepandaian itu muncul atas ilham dan pengertian Ku See hong, selisihnya boleh dibilang semakin jauh lagi. Malah oleh Ku See hong jurus serangan yang sebenarnya digunakan pedang telah dirubahnya menjadi pukulan, bayangkan saja bagaimana mungkin gerakan itu bisa mir ip dengan aliran C iang-hay-pay? Tak heran kalau si anak muda berbaju putih itupun  dibikin  melonggo dan tidak habis mengerti.

Begitulah, makin bertarung ke marahan Ku See hong ma kin berkobar, tiba-tiba dia berpekik keras, mencorong sinar tajam dari balik matanya, setelah sepasang tangannya diputar mcmbentuk satu lingkaran besar mendadak sepasang tangannya di tolak kedepan.

Segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat,  bagaikan gulungan ombak di tengah samudra segera meluncur ke muka.

Serangan itu dilancarkan secara tiba-tiba, kekuatannya  pun cukup me mbut orang berubah muka.

Mencorong pula serentetan cahaya mata yang menggidikan hati dari balik mata pemuda berbaju putih itu, sepasang telapak tangannya disilangkan lalu dilontarkan ke muka bersa ma-sama, hembusan angin puyuh bagaikan jala langit yang disertai suara desingan tajam, lansung menya mbar kedepan.

Ku See-hong mer upakan seorang pe muda yang cerdas, dia tahu tenaga dalam lawan sa ma sekali t idak berada dibawah kepandaiannya, bila mereka harus beradu tenaga, sudah pasti akan menyebabkan luka atau ke matian, ma ka sewaktu melancar kan serangan iiu tadi, sesungguhnya dibalik anca man mana terselip pula suatu tipu mus lihat.

Sebagaimana diketahui, dalam pertarungan antara sesama jago lihay, bukan hanya tenaga dalam saja yang diandalkan, me lainkan juga kecerdasan serta kelincahannya dalam menghadapi keadaan, yang lebih penting lagi adalah me maafkan kese mpatan paling baik guna meraih suatu ke menangan.

Disaat pe muda berbaju putih itu siap melancarkan serangan dengan mengayunkan sepasang telapak tangannya ke depan, tiba- tiba dia me mbuyarkan serangannya sambil menyusup ke sa mping kiri lawan dengan gerakan Mi-khi biau-tiong yang aneh tapi sakti itu.

Diiringi  bentakan  keras,   sepasang   tangan   Ku   See   hong me mbentuk, satu gerakan lingkaran busur dari sa mping, ke mudian dengan me mbawa segulung tenaga serangan yang lembek bagaikan samudra, secepat kilat meluncur kedepan.

Pepatah bilang: 'Kebenaran meningkat sedepa, kejahatan meningkat seto mbak'.

Pemuda berbaju putih itu bukan manusia se mbarangan, sudah barang tentu rencana licik dari Ku See hong pun sudah dapat ditebak olehnya, maka jikalau Ku  See hong  melancarkan serangan ke depan itulah . . . . . .

Mendadak pe muda berbaju putih itu menarik pula segenap tenaga serangannya, kaki badannya berputar, telapak tangan kanannya diayunkan kedepan: Serentetan cahaya tajam berbentuk bintang bagaikan letusan mercon yang berantai menggelegar ditengah udara.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku See hong setelah dilihatnya pihak lawan menga mbil tindakan untuk beradu kekerasan, diam diam hawa pukulannya dilipatkan menjadi dua kali, sepasang lengannya segera digetarkan me mbentuk gerak gelombang yang dahsyat. Hawa pukulan tak berwujud yang melingkar- lingkar, bagaikan hembusan   angin   puyuh,   dengan   me mbawa    deruan    yang me me kikkan telinga langsung meluncur ke muka.

"Blaaaa! Blaaa m! Blaaam !"

Ditengah serangkaian benturan keras, desingan angin pukulan yang tajam segera me mancar ke e mpat penjuru...

Tiba-tiba saja Ku See hong merasakan datangnya segulung tenaga tak berwujud yang mene mbusi jaringan hawa murninya sendiri dan mene kan a mat dahsyat sehingga sukar untuk bernapas, tak kuasa lagi tubuhnya mencelat setinggi satu kaki lebih dari pososi semula, namun ia tidak mengala mi cedera apa-apa.

Sementara itu pemuda berbaju putih itu pun merasakan hawa darah didalam dadanya bergolak keras ketika dua gulung tenaga pukulan itu  saling  me mbentur  satu  sa ma  la innya,  hal  mana  me mbuat hatinya amat terperanjat.

Dalam   gugupnya,   secepat   kilat   telapak    tangan    kirinya me lancarkan tiga puluh serangan nerantai melalui suatu sudut yang aneh.

Ketiga jurus serangan itu merupakan jurus pe mbunuh yang amat dahsyat dan me matikan dari pe muda berbaju putih itu, dia tak mengira kalau ketiga gulung hawa pukulan yang begitu dahsyatnya itu, sama sekali t idak menimbulkan cendera apa-apa mes ki sudah bersarang telak dibadan Ku See hong !

Tiba-tiba saja paras muka si pemuda berbaju putih yang dingin kaku itu berubah menjadi menyeringai seram, ....berubah bukan lantaran terluka mela inkan berobah karena tarperanjat.

Mendadak. . . .  .  paras  muka  pe muda  terbaju putih  itu pulih ke mbali seperti sedia kala, dengan suara yang dingin me masuk ketulang sungsum dia berkata.

"Orang she Ku, sinkang apakah yang barusan kau pergunakan? Beranikah kau sambut lagi tiga buah pukulan dari aku orang she Ciu?" "Ku See hong cukup sadar, seandainya dia tidak me miliki hawa Kan-kun mi-s iu khikang yang me lindungi badannya sehingga ketiga gulung hawa pukulan tersebut kena dipunahkan, mungkin se menja k tadi pula dia sudah mene mui ajalnya.

Sekalipun de mikian, dia m-dia m dia pun merasa dendam atas kekeja man pe muda berbaju putih itu, mendengar perkataan tersebut dia lantas mendengus dingin, ke mudian sa mbil  tertawa sinis katanya:

”Aaah, cuma ilmu silat  biasa dari daratan Tionggoan, tidak terhitung sesuatu ilmu sinkang yang ajaib, maaf kalau aku tak dapat me mber itahukannya kepada mu, . . . . kini menang kalah belum ketahuan, rasanya kita pun tak usah mengulur waktu lagi."

Berapa patah kata ini diucapkan dengan nada menyindir, kontan saja me mbuat sekujur badan pe muda berbaju putih itu ge metar keras, giginya saling beradu gemerutukan, sementara sinar matanya me mancarkan kebencian yang meluap.

"Orang she Ku, kau jangan kelewat tekebur, sebentar aku orang she Ciu pasti akan me mbuat kau berlutut sambil minta a mpun! " serunya.

Ku See hong berkerut kening, hawa napsu me mbunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara dingin ia menukas:

"Tak usah banyak bicara, kalau punya kepandaian cepat saja dikeluarkan biar aku orang she Ku saksikan, sebenarnya ilmu silat dari aliran Cing-hay pay itu me miliki kelihayan sa mpai dimana..."

Dalam hati kecilnya pe muda berbaju putih itu benar benar merasa marahnya luar biasa, tapi diluaran sikapnya masih tetap santai, sambil tertawa hambar katanya:

"Orang she Ku, nampaknya sebelum melihat peti mati kau tak akan mengucur kan air mata, barusan kita  telah mencoba ilmu pukulan, sekarang tak ada salahnya jika kita  saling  beradu kepandaian diujung senjata!" Biau'ki siangsu In Han im adalah seorang jago kawakan  yang luas pengetahuannya dan cerdas otaknya, tadi diapun menyaksikan betapa tubuh Ku See hong termakan oleh serangan dahsyat si pemuda berbaju putih, tapi nyatanya dia tak menga la mi luka apapun, halmana segera menbuat hatinya tertegun.

Maka sewaktu pemuda berbaju putih itu bertanya  kepada  Ku See hong tadi, dalam benaknya dia  pun  me mutar  otak  untuk mene mukan ilmu silat apakah yang diandalkan Ku- See-hong tersebut.

Mendadak ia menjerit kaget didalam hati:

`Jangan-jangan ilmu sinkang yang dimiliki Bun-ji koan-su dimasa lalu? Aaah, tapi mustahil... dia masih muda, mana  mungkin  ilmu sakti yang penuh kerahasiaan itu bisa dipelajarinya?`

Dipihak lain, Ku See hong merasakin hatinya bergear keras setelah mendengar tantangan pihak lawan uktuk beradu senjata, dengan cepat dia berpikir,

`Bila pedang Hu-thian-seng- Kiam ini diloloskan keluar, niscaya indentiatasnya akan segera dikenal orang, setiap jago persilatan pasti akan tahu kalau pedang itu tak lain adalah pedang Ang-soat- kiam yang digilai umat persilatan selama ini, padahal dari posisiku sakarang, tidak seharusnya mendatangkan banyak kesulitan buat diriku sendiri, aai.... paling baik kalau jangan diperlihatkan untuk sementara waktu !`

Berpikir sampa i disini, sekulum senyuman dingin segera menghiasi ujung bibirnya, lalu berkata:

"Pedangku ini bila diloloskan dari sarung tentu akan me mbunuh orang, padahal aku belum me mbencimu sa mpai merasuk ke tulang sumsum, ma ka aku rasa lebih baik kuhadapi dirimu dengan sepasang kepalan kosong saja!"

Pemuda berbaju putih itu adalah seorang pe muda yang angkuh, aneh dan tinggi hati, mala m ini dia sudah banyak kail me lakukan tindakan yang bertentangan dengan kebiasaannya, hal ini dikarenakan ia dibikin keder oleh ilmu silat Ku See hong.

Akan   tetapi   sewaktu   didengarnya   pihak   lawan    hendak me mperguna kan sepasang telapak tangan kosong untuk menghadapi senjatanya, dia segera menganggap hal ini sebagai suatu penghinaan, suato cemoohan..., seketika itu juga timbul hawa napsu me mbunuh didalam dadanya.

Mencorong sinar buas yang menggidikkan hati dari balik matanya, setelah tertawa seram katanya:

"Orang she Ku, kau sendiri yang me mberi ja lan ke matian bagimu sendiri, sa mpai waktunya jangan salahkan kalau aku orang she Ciu akan bertindak kejam kepada mu."

Ku See hong tertawa dingin, "Mana, mana.... bila aku orang she Ku tak becus sehingga tewas diujung pedangmu sudah pasti aku tak akan menyesal atau menyalahkan kepada orang la in!"

Mendengar perkataan itu, ke mbali pemuda berbaju putih itu terperanjat, segera pikirnya:

`Bagaimanapun lihaynya ilmu silat yang dimiliki orang itu, mustahil baginya untuk berhasil menanggulangi kelihayan sinkangku serta ilmu pedangku yang tiada taranya didunia ini. Tapi  kalau dilihat dari sikap lawan  yang  begitu  acuh,  seakan-akan  sudah me mpunyai suatu rencana yang matang didalam hati jangan-jangan dia telah persiapkan suatu tipu daya. Aku tak boleh gegabah, aku harus menghadapinya dengan a mat berhati-hati.`

Padahal Ku See hong sendiri pun merasa gelisah sekali, ia tahu dengan tangan kosong sulit baginya untuk menahan sepuluh jurus serangan pedang dari pemuda berbaju putih itu, tapi diapun merasa enggan untuk segera me loloskan pedang Hu-thian seng-kia m tersebut.

Dasar wataknya me mang angkuh, setelah mendengar kalau Ku See hong akan menghadapinya dengan tangan kosong  belaka, meski pe muda berbaju putih itu tahu bahwa menangpun bukan sesuatu yang patut di banggakan baginya, terkulum  senyuman dingin juga diujung bibirnya.

"Orang she Ku...!" katanya kemudian ".. ..aku tahu kau gagah dan berjiwa jantan, lapi akupun ingin me mber itahukan kepada mu, bila kau harus menghadapi pedang Gin-coa-kia m (Pedang Ular Perak) -ku dengan tangan kosong, sebelum sepuluh gebrakan kau pasti akan tewas  diujung  pedangku,  meski  aku  orang  she  Ciu me mang menganggap ke menangan itu kurang mengena bagiku, maka sebelum pertarungan dimulai, terlebih dulu aku tidak menetapkan suatu peraturan dengan dirimu."

Kagum juga Ku See hong oleh kegagahan orang, mendengar ucapan itu segera katanya:

"Orang she Ciu, kau me mpunyai peraturan apa, silahkan diutarakan, aku orang she Ku akan mendengarkan dengan seksama."

Paras muka pe muda berbaju putih itu berubah menjadi serius sekali, katanya dengan suara dala m:

"Sekarang aku hendak menggunakan nyawaku sebagai barang taruhan, bila aku tak dapat melukai dirimu dalam sepuluh gebrakkan, akan kugorok leherku di hadapanmu detik itu juga..., tapi bila kau tak kuasa menahan diri, maka dalam sepuluh gebrakan ini setiap saat kau boleh loloskan senjatamu untuk menghadapiku, .

. . Cuma saja begitu senjata kau loloskan, atas sepuluh jurus pun menjadi batal, pertarungan baru akan berakhir bila salah seorang diantara kita terluka !"

Mencorong sinar terang dari balik mata Ku See hong setelah mendengar perkataan itu, katanya dengan wajah bersungguh sungguh:

"Bila mana  dalam  sepuluh  jurus  aku  Ku   See  hong  sa mpai me loloskan senjataku, ma ka dalam sepuluh jurus ke mudian aku akan melukaimu, . . . . kalau gagal, akupun akan menggoro k leherku dihadapanmu!" Biau-ki siang-su In Han im menjadi gelisah setengah mati menyaksikan kedua orang pe muda itu siap-siap bersua jiwa..., serunya tiba-tiba dengan ce mas:

"Ku Sauhiap..., Cu Sauhiap..., diantara kalian tidak terikat dendam sakit hati, buat apa mesti bercekcok tanpa suatu alasan tertentu? Aku lihat lebih baik pertarungan tersebut diakhiri sa mpa i disini saja, entah bagaimana menurut pendapat kalian?"

Mendengar perkataan itu, Ku See hong lantas teringat ke mba li dengan tugas berat yang sedang dipikul sekarang serta dendam kesumat yang musti dituntut balas, dengan cepat dia merasa  ucapan dari Biau- ki siang-su tepat sekali.

Me mbayangkan kecerobohan sendiri, peluh dingin bercucuran deras, diam-dia m ia menda mprat ke-se mbrono-an sendiri.

Tapi ucapan seorang lelaki sejati lebih cerat dari sebuah bukit karang..., apalagi nasi telah menjadi bubur, apa boleh buat? Terpaksa harus pasrah pada nasib.

Melihat kedua orang itu hanya me mbungka m, Biau ki siang-su In Han im segera berkata lagi:

"Ku Sauhiap.., Ciu Sauhiap.., kalian berdua adalah bakat aneh yang sukar dijumpai  dalam  seratus  tahun  mendatang,  apalagi me miliki ilmu silat yang begitu se mpurna, . . . . apa artinya beradu jiwa gara-gara soal sepele? Berpikilah t iga kali sebelum bertindak.”

Ku See hong hanya membungka m dengan wajah hambar, sama sekali tanpa e mos i.

Sebalikya pe muda baju putih itu merenung sebentar, tiba-tiba katanya dengan suara sedingin es :

"Orang she Ku, lancarkan seranganmu!"

"Hati-hatilah kau orang she Cu!" Ku See hong terpaksa menanggapi sa mbil tertawa getir. Begitu selesai berkata, Ku See hong lantas mengayunkan sepasang telapak tangannya kemuka, kesepuluh jari  tangannya yang dipentangkan lebar-lebar, disentil sambil digetarkan. . . .

Sepuluh gulung desingan angin tajam yang disertai hembusan angin puyuh serentak menyergap jalan jalan darah ke matian  ditubuh pe muda berbaju putih itu dengan kecepatan seperti kilat.

Sementara Ku See hong melancarkan serangannya, pemuda berbaju putih itu pun telah melo loskan pedang ular  peraknya, sekilas cahaya tajam yang berkilauan bak re mbulan diudara segera me mancar kee mpat penjuru. Kilatan yang tajam menunjukkan kalau senjata itu adalah sebuah senjata mestika yang amat taja m.

Begitu pedang ular peraknya di loloskan, pemuda  berbaju putih itu segera menggetarkan lengan kanannya..., lapisan cahaya yang berkilauan segera me mancar keluar, dari tubuh pedang itu dan berhamburan ke mana- mana, hawa pedang yang merasuk, tulangpun seperti gulungan o mba k ditengah samudra, menyapu keluar menyongsong datangnya kesepuluh gulung desingan angin jari tangan tadi.

Berapa kali benturan keras ditengah udara menimbulkan suara desisan yang amat me mekikkan telinga, tatkala hawa  serangan yang dipancarkan Ku See hong me mbentur hawa pedang yang rapat, seperti batu kecebur di samudra luas, lenyap dan musnah dengan begitu saja...

Pedang  ular  perak  dari  pe muda   berbaju  putih   itu  segara me mbentuk lingkaran lingkaran hawa pedang yang a mat tebal, jurus serangan yang kedua dengan me mbawa desisan yang tajam me mbe lah angkasa, langsung menyerang ketubuh Ku See hong.

Serangan ini benar-benar amat ganas dahsyat dan mengerikan, dimana pedang berwarna perak itu menya mbar lewat, bagaikan

air bah saja segera menerjang kemana- mana dan menyusup masuk kedalam setiap lubang pori-pori yang ada.

Ku See hong tahu kalau pemuda berbaju putih itu terhitung jagoan lihay kelas satu didalam dunia persilatan dewasa ini, oleh sebab itu tatkala tenaga serangannya kena dipunahkan tadi. dia lantas tahu kalau hal ini pasti akan me mancing pihak lawan untuk me lancarkan serangan dengan jurus pedang yang lebih ganas.

Begitu menjumpai gerak pedang lawan, paras mukanya berubah hebat, ia tak berani berayal lagi, tubuhnya dengan cepat merendah kebawah, lalu dengan mengerahkan ilmu gerakan tubuh Mi- khi biau- tiong yang sangat di andalkan ke ma mpuan-nya untuk berkelit kesamping secara aneh.

Menyaksikan Ku See hong me mpergunakan ilmu gerakan tubuh Mi-khi biau-tiong, diatas wajah sipe muda berbaju putih yang  tampan segera terlintas suatu perubahan yang sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.... sepertinya dia sudah mendapat firasat bakal kalah.

Sorot mara bengis dengan cepat me mancar keluar dari balik matanya, ia membentak keras,  jurus  demi  jurus  serangan  yang me matikan segera berhamburan keluar tak terbendung, sebab dia tahu bila dia tidak me nggunakan jurus serangan yang keji dan dahsyat  untuk  mendesak  musuhnya,  mustahil   baginya   untuk me ma ksa lawan me loloskan senjatanya sebelum sepuluh jurus...!

Sambil me mbentak nyaring, seperti bayangan tubuh saja pemuda berbaju putih itu mene mpel terus dibelakang tubuh Ku See hong yang berusaha menghindarkan diri dari lingkaran pengaruh pedangnya itu.

Suatu ketika telapak tangan kirinya secepat sambaran kilat menciptakan beribu-r ibu sosok bayangan telapak tangan yang secara tiba-tiba menggulung dan me luncur keluar dengan cepat.

Selapis hawa pukulan yang dahsyat ibadat beribu-ribu ekor Kuda yang lari bersa ma,berhembus pula me nyusul serangan tersebut.

Mendadak......

Pemuda berbaju putih itu me lejit ketengah udara, pedang ular peraknya berputar membentuk gerak lingkaran, cahaya tajam berlapis-lapis seperti bukit, lalu berha mburan keluar seperti air yang menjebo lkan bendungan.

Ditengah bayangan pedang yang datang secara bergelo mbang, pedang ular perak itu meluncur dan melejit menciptakan tiga gulung hawa pedang, yang tajam bagaikan tiga jalur tongkat panjang, sungguh me mbuat bulu ro ma orang berdiri.

Dalam waktu singkat, jurus ketiga dan jurus ke e mpat me luncur ke depan bersama-sama, . . ..kedasyatannya cukup menggetarkan perasaan siapapun jua.

Ku See hong berdiri tegak di posisi se mula, melihat datangnya pukulan dan serangan pedang yang tiba secara bertubi-tubi itu, terkesiaplah hatinya, ia tahu tiga jalur hawa pedang lawan itu semuanya merupakan serangan yang me matikan, bila dirinya tidak me miliki jurus serangan yang tangguh, niscaya sulit untuk lolos dari ke matian.

Ku See-hong segera berkerut kening, matanya me mancarkan cahaya dingin yang menggidikan  hati, sambil mendongakkan kepalanya dia segera berpekik nyaring...

Menyusul suatu gerakan yang sangat aneh, tubuhnya menerjang masuk ke balik gulungan angin pukulan yang menderu-deru seperti gulungan o mbak sa mudra itu, kemudian tubuhnya me lengkung sambil melejit,sepasang kakinya meninggalkan per mukaan tanah,

....seperti seekor udang bago  lagi  me letik,   tahu-tahu  ia  sudah me la mbung sejauh tiga depa !!

Bersama dengan gerakan tadi, sepasang lengan Ku See hong telah  menggapai  secara  ngawur,  cahaya  berkilauan   me mbias  ke mana-mana, seluruh tubuhnya me mancarkan sinar seperti teriknya matahari. . . .

Tatkala hawa pedang serta angin pukulan yang dilancarkan pemuda berbaju putih itu me mbentur diatas dinding cahaya yang me mbara  itu,  bergemalah  suara  ledakan  demi   ledakan yang  me me kikkan telinga . . . . . . Tiba-tiba Ku See-hong merentangkan sepasang tangannya ke kiri dan kanan, dua gulung hawa pukulan yang kuat dari kiri dan kanan langsung melesat kedepan menganca m bagian me matikan ditubuh pemuda berbaju putih itu.

Inilah jurus kedua dari ilmu Hoo-han-seng-huan yang benamakan Jin-hay-hu-seng (lautan manus ia timbul tenggelam).

Pemuda berbaju putih itu me mang ber mata jeli,  tatkala ia saksikan sepasang lengan Ku See-bong me mancarkan  cahaya berkilauan tadi, kulit mukanya segera mengejang keras, . . . dengan me ma ksakan diri dia himpun segenap hawa mur ni yang berada dalam tubuhnya untuk me lindungi sekujur badannya, lalu, secara tiba-tiba saja bagaikan pusaran angin berpusing dia menggelinding keluar.

Ditengah putaran tubuhnya yang mengguling, hawa mur ni dalam tubuhnya segera me mancar keluar secara beruntun menciptakan selapis hawa khi- kang yang kuat; se mentara telapak tangan kirinya secepat kilat pula melancar kan beberapa buah pukulan dahsyat yang me mekikkan telinga. Hawa pedang me mbumbung tinggi ke angkasa dan berbunyi ge mer incing.

"Blaamm, blaaamm....!"  dua  kali  ledakan  dahsyat  bergema me mecahkan keheningan.

Jurus Jin-hay-hu-seng yang maha lihay dari Ku See hong tadi, akhirnya berhasil dipatahkan oleh pancaran hawa murni yang menger ikan dari pe muda berbaju putih itu.

Ku See hong betul merasa terperanjar sekali menyaksikan ilmu silat lawan, ia tak mengira jurus Hoo-han seng-huan yang tiada taranya itu akhirnya berhasil dipatahkan orang.

Pemuda berbaju putih itu sendiri, meski diluaran dia seperti berhasil me loloskan diri dari jurus Hoo- han seng-huan tersebut secara aman dan sempurna, padahal isi perutnya telah mengala mi luka dalam yang cukup  parah...! Seandainya ia tidak cepat menyadari akan bahaya, sehingga tak sempat mengerahkan hawa Tay-sih kun-goan khikang yang dipelajarinya hingga mencapai pada puncaknya, niscaya selembar jiwanya sudah melayang menunggalkan raganya sedari tadi. . . .

Kekalahan yang berulang kali segera me mbangkitkan  hawa napsu me mbunuh dalam hati pe muda berbaju putih itu, dengan cepat  dia  mundur  kebelakang,  lalu  secara  tiba-tiba   menerjang ke mbali kedepan bagaikan gulungan o mbak sa mudra, tubuhnya berputar kencang secara aneh dan menggidikkann hati mereka yang me lihatnya.....

Ditengah perputaran yang cepat, aneh dan mempesonakan hati itu, gulungan hawa khikang Tay-ih kun-goan yang panas dan menyengat badan me mancar keluar dari pori pori tubuhnya, yang mana terhimpun menjadi dua gulung angin puyuh yang dahsyat menerjang tubuh Ku See hong.

Ku See hong amat terkejut menyaksikan anca man itu,  hawa murni yang terhimpun dalam tubuhnya segera disalurkan me menuhi seluruh dada, kemudian sepasang telapak tangannya digetarkan dengan tenaga pukulan yang berat dan dala m, bagaikan sa mudra, langsung menya mbar ke muka menyongsong datangnya anca man tersebut.

Ketika gulungan hawa panas dan hawa dingin itu saling menumbuk menjadi satu ditengah udara..., bergemalah suara ledakan dahsyat yang amat me me kikkan telinga !

Dengusan tertahan bergema diantara pusaran angin tajam yang menyebar kee mpat penjuru . . . . .

Ku See hong merasakan hawa darah didalam dadanya bergolak keras, peredaran darahnya me mbara seperti disengat panas, sakitnya bukan alang-kepalang.

Seluruh badannya terasa terangkat dan terpental tinggi tinggi oleh segulung hawa pukulan yang dahsyat, dia harus berjumpalitan beberapa kali sebelum dapat turun ke mbali ke atas tanah dengan selamat . . . , namun peluh sudah me mbasahi jidatnya, noda darah pun mengotori ujung bibirnya. Pemuda berbaju putih itu makin terperanjat lagi setelah mengetahui Ku See hong tidak tewas seketika meski sudah terkena pukulan Tay-ih kun-goan khikang-nya yang maha dahsyat itu..., Dia mulai berpikir-pikir, mungkinkah pihak lawan telah berhasil melatih ilmu kebal terhadap senjata hingga tak kuatir ditembusi tenaga pukulan?

Tay-ih kun-goan khikang adalah suatu ilmu sinkang yang ganas dan dahsyat dari aliranl Cing-hay pay, keistimewaan  dari ilmu sakti ini adalah me miliki tenaga pantulan yang maha besar,  semakin besar menghadapi tenaga tekanan dari luar, semakin besar pula tenaga pantulan yang dihasilkan....

Ilmu khikang se macam ini sepuluh kali lipat lebih dahsyat daripada ilmu Boan-yok sinkang atau kepandaian sederajat lainnya.

Bagaimanapun se mpurnanya tenaga dalam seseorang, bila mana sampai terkena serangan hawa khikang yang sangat panas itu, seketika jiwanya akan melayang, isi perutnya akan hhancur dan nadinya akan pecah.

Sedemikian dahsyatnya ilmu tersebut boleh dibilang t iada khikang lainnya yang sanggup menandingi kelihayannya itu.

Maka tatkala Ku See hong terhajar telak oleh pukulan Tay-ih kun- goan khikang tapi tak sa mpai menewaskannya, peristiwa ini segera mendatangkan perasaan tandatanya besar dalam hatinya.

Padahal darimana dia tahu kalau Ku See hong telah berhasil menguasai se maca m ilmu rahasia yang maha sakti, yakni Kan-kun mi-siu khikang!

Ilmu sakti ini secara kebetulan juga merupakan ilmu tandingan dari ilmu Tay-ih kun-goan khikang sehingga tatkala hawa pukulan yang panas menyengat badan itu menyentuh dibadan Ku See hong, ilmu Kan- kun mi-siu khikang segera menghasilkan suatu daya kekuatan yang luar biasa. Apalagi ketika tenaga Im dan tenaga Yang saling me mbaur jadi satu dalam suatu keadaan yang tak terduga, hawa panas yang menyengat tersebut segera dipunahkan hingga tak berbekas.!

Kendatipun demikian, Ku See hong toh tak tahan juga menghadapi sisa sergapan dan tenaga pantulan yang tersebar keempat penjuru itu.

Sekuat tenaga Ku See hong menahan siksaan hawa panas yang me mba kar didalam badannya. Ketika hampir saja dia tak ma mpu menahan diri, mendadak dari arah pusarnya, segulung hawa dingin yang me mbumbung naik keatas ubun-ubunnya seperti gulungan omba k sa mudra, seketika itu juga hawa panas yang me nyengat badan itu lenyap tak berbekas....

Menggunakah kesempatan yang a mat singkat, ia segera menghimpun hawa murninya untuk mengitari se mua ja lan darah penting didalam badannya, kemudian sa mbil me ndengus dingin, sepasang telapak tangannya dilontarkan ke mba li ke muka dengan kecepatan tinggi.

Hawa pukulan yang dahsyat bagaikan selapis dinding lawa yang dingin dan tak berwujud mendesak kedepan menyelimuti seluruh badan pemuda berbaju putih itu dan menyusup kedalam seluruh bagian badannya.

Dalam waktu  singkat  hawa  dingin  yang  merasuk  tulang mende kam diseluruh arena, sedemikian dinginnya sampai Lan ciau dan Pak siang mundur beberapa langkah kebelakang.

Suasana disekitar tempat itu segera terjadi perubahan yang amat besar,  tiga  gulung hawa  panas  yang   amat   dahsyat   itu mengge linding kedepan menghajar tubuh Ku See hong, sementara pukulan yang datang dari arah tengah seperti air yang menjebol bendungan, dengan disertai  kekuatan  yang  menger ikan segera me luncur ke muka.

"Blaaammmm . . . . .!?" sekali lagi terjadi ledakan dahsyat yang me me kikkan telinga..... Paras muka Ku See hong berubah menjadi menger ikan, rambutnya kusut, darah segar muntah keluar dari mulutnya, secara beruntun dia mundur sejauh tiga e mpat langkah kebelakang.

Pemuda berbaju putih itu sa ma sekali tidak berbelas kasihan begitu berhasil dengan serangannya, dia segera me mbentak keras:

"Jurus ke tujuh !!"

Kakinya me langkah ke tengah la lu menyerobot ke muka, tangan dan kaki diayunkan bersama seperti kelabang  berkaki seribu,  dia me lepaskan serangkaian pukulan dan tendangan yang berantai.

Gerakan yang cepat, kekuatan yang dahsyat, dalam sekejap mata menganca m kesela matan jiwa musuhnya.!

Merah me mbara sepasang mata Ku See hong menahan geram dan marah, tiba-tiba dia melontarkan pula sepasang tangannya ke depan . . .

Selapis angin pukulan berhawa dingin  dengan  kekuatan  yang me lebihi ukuran biasa, langsung me nerjang tubuh si anak muda berbaju putih yang sedang bergerak kedepan...., serangan inipun menger ikan sekali.!

Sebetulnya pemuda berbaju putih  itu  a mat bernapsu  untuk  me lukai Ku See hong dalam sepuluh gebrakan, tapi setelah menyaksikan anca man yang tiba, ia tak berani menya mbut serangan tersebut dengan kekerasan, seperti sukma gentangan ia segera berkelit kesamping, begitu lolos dari ancanan yang tiba, bentaknya lagi:

"Jurus ke delapan !"

Pedang ular perak bergetar keras meletupkan selapis cahaya tajam yang amat menyilaukan mata, diir ingi suara desingan angin tajam serangan itu segera me luncur ke muka dan menyusup kedalam setiap celah-celah disekitar badan Ku See hong. Paras muka Ku See hong mengejang keras  menahan  penderitaan, tiba-tiba kakinya me mainkan lagi ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong dan mengegos kesa mping secara aneh dan jitu.

Sayang gerakan ini terlalu la mbat ,

"Sreet "

Bunyi sambaran pedang yang tajam telah berkelebat lewat, tahu- tahu di atas bahu kiri Ku See hong telah muncul sebuah robekan panjang bekas tersambar pedang..., darah kental dengan cepat mengucur keluar me mbasahi seluruh pakaiannya.

Ternyata pemuda berbaju putih itu t idak berbenti sa mpai disitu saja, kakinya segera berputar kencang lalu menyusul kedepan  sambil me mbentak gusar:

"Jurus ke se mbilan !!"

Pedang ular perak itu ke mbali digetarkan keras-keras, cahaya pedang semakin menyilaukan mata, hawa pedang yang tajam dengan  me mbawa  desingan  angin  yang  me me kikkan  telinga, me luncur ke muka secepat kilat.

Sedemikian cepatnya serangan itu meluncur datang, boleh dibilang belum pernah dijumpainya sebelumnya.

Tiba-tiba Ku See hong tertawa panjang dengan suara yang menger ikan, suaranya keras bagaikan pekikan monyet di selat Wu- sia,  seperti  juga  lolongan  serigala  ditengah  mala m,   sungguh me me kikkan telinga.

Dari balik matanya memancar keluar sinar tajam yang menggidikkan hati..., ia nampak stpertl orang kalap, orang  buas yang tak berperasaan sama sekali.

"Criiingg  .  .  .  .   .!"  serentetan   suara   gemerincing   yang me me kikkan telinga menyayat keheningan angkasa.

Tahu-tahu dalam gengga man Ku See hong telah bertambah dengan sebilah pedang..!! Pedang mestika yang me mancarkan cahaya berkilauan, . . . inilah pedang Hu-thian seng-kia m yang maha sakti itu.

Begitu pedang Hu-thian seng-kia m diloloskan dari sarungnya ,

paras muka pe muda berbaju putih itu berubah hebat! Dengan cepat pedang ular perak yang berada ditangan kanannya berputar kencang menciptakan selapis dinding cahaya yang amat menyilaukan mata, berlapis-lapis hawa pedang yang tajam dengan cepat menyelimuti seluruh badannya.

Ku See hong segera mengangkat pedang Hu-thian seng-kiam sambil mengebasnya ke belakang, kakinya berputar setengah lingkaran, lalu . . .

"Criiitt...!" pedang mestika itu sudah me luncur ke depan menusuk dada lawan. . . .

Tutulan pedang itu di lancarkan dengan me mperguna kan sebuah gerakan jurus serangan yang ditinggalkan kakek Si-hong lo jin, tampaknya seperti sederhana, datar, biasa dan enteng sama sekali tak bertenaga....

Padahal dibalik serangan tersebut justru terkandung suatu ancaman me matikan yang luar biasa sekali, bahkan kedahsyatannya sanggup mene mbusi baja.

"Criiing!" pedang sakti Hu-thian seng-kia m telah mene mbusi kabut pedang pelindung badan yang dipancarkan oleh pedang ular perak dari pemuda berbaju putih itu.

Serentetan cahaya merah yang  menyilaukan   mata   tiba-tiba me mancar ke e mpat penjuru dan langsung menyergap duabelas buah jalan darah penting ditubuh pe muda berbaju putih itu. Arah sasarannya tidak menentu.

Perubahan jurusnya begitu sakti dan hebat sehingga sukar diduga dengan tepat.

Pucat pias paras muka pe muda berbaju putih itu menghadapi ancaman tersebut..., dia tahu kalau jiwanya sudah berada diambang ke matian! Dia pun tahu apa sebabnya Ku See hong tidak me ncabut pedangnya sedari tadi..., sekarang dia baru menyesal kejumawaan serta kepongahan sendiri.

Bila seorang sedang menghadapi ke matian sudah pasti dia akan me mber ikan perlawanan dengan sekuat tenaga..., dengan cepat pemuda berbaju putih itu menyusut mundur ke belakang, pedang ular perak-nya segera menciptakan berjuta-juta titik cahaya bintang untuk menyosong datangnya ancaman dari Ku See hong. Hawa napsu me mbunuh telah menggelora dalam dada Ku See hong, sekali lagi dia berpekik panjang dengan suara yang me mekikkan telinga......

".  . . Inilah jurus yang ke-Sepuluh ! Hu-hong-cha-ki-hiat-seng-

wi (Bianglala Terbang Muncul tiba-tiba Anyir Darah Menyebar) !"

bentak Ku See hong menggelegar.

Tubuhnya me la mbung keatas, setelah berputar satu persatu lingkaran, kemudian berjumpa litan tiga kali, persis seperti naga sakti turun dari langit.

Pedang Hu-thian seng-kia m ditangannya me mancarkan cahaya tajam yang m.enyilaukan mata, bagaikan sebuah bianglala panjang segera me mbentang ditengah angkasa. . . .

Sewaktu mengundurkan diri tadi, pemuda berbaju putih itu sempat menyaksikan serentetan cahaya bintang yang menyilaukan mata, bagaikan sa mbaran kilat meluncur datang. Dalam kejutnya, pedang  ular  peraknya  disentak  kebelakang,   cahaya   pedang  me mba lik berputar kencang dan menciptakan kabut pedang yang me lingkar-lingkar serta berlapis-lapis.

Dalam waktu singkat dua bilah pedang saling me mbentur . . . . . .

Mendadak Biau-ki-siang-su  In Han im me njerit keras: "Ku sauhiap, berbelas kasihanlah dengan seranganmu !"

"Triiing! Triiiing....!" terdengar dua kali dentingan nyaring berakumandang di angkasa. Menyusul kemudian jerit kesakitan yang me milukan berkumandang diudara, cahaya bianglala yang tajam dari pedang Hu-thian seng- kiam pun segera sirap dan lenyap.............

Ku  See   hong   berdiri   kaku  dengan   sepasang   matanya   me mancarkan cahaya me mbunuh yang menggidikkan, paras mukanya sangat aneh, sukar dilukiskan dengan kata-kata......

Pemuda berbaju putih itu berdiri dengan badan penuh berlepotan darah, pakaiannya yang berwarna putih sudah robek  belasan bagian, dari setiap mulut luka itu, darah jatuh becucuran.

Wajahnya berubah menjadi menger ikan,  sekujur badannya gemetar keras, bibirnya terkatup  membentuk satu garis  lengkung. Ia sedang merasa sakit  yang luar biasa, sementara sepasang tangannya me megang pedang ular perak yang menancap ditanah guna menahan badannya yang le mah.

Kulit mukanya mengejang keras, sambil menahan rasa sakit yang menghebat katanya dengan suara ge metar:

"Orang she Ku, walaupun aku Ciu Heng thian baru muncul dalam dunia persilatan, namun sela ma beberapa bulan ini secara beruntun telah mengalahkan puluhan orang jago lihay dalam dunia persilatan! Aku yakin ilmu silatku sudah tiada tandingannya didunia ini..., tak kusangka hari ini harus menelan  kekalahan ditanganmu.  Cuma meski aku kalah pada mala m ini, aku kalah dengan bangga, karena jurus serangan yang kau gunakan adalah jurus pedang Cang-Ciong- ciat-mia-kia m yang merupakan ilmu paling rahasia dari Cing-hay pay kami, bahkan pedang yang kau gunakan pun merupakan pedang Ang-soat-kiam milik Si-hong lo jin, seorang tokoh aneh dari Cing- hay pay !"

"Setelah menderita kalah ditanganmu mala m ini, aku Ciu Heng thian, sudah tak punya muka lagi untuk hidup didunia ini, mau dijatuhi hukuman apa terserah kepada mu..., aku orang she Ciu tak akan berkerut kening. Tapi sebelum mati, aku orang she  Ciu ingin me mohon sesuatu kepada mu, dan ini pun merupakan permintaan yang kuajukan untuk pertama kalinya kepada orang lain..., aku rasa kau pasti akan melulus kannya bukan...?"

Paras muka Ku See hong dingin seperti es, sikapnya kaku tanpa perasaan namun sepasang matanya justru memancarkan sinar yang sangat aneh.

Biau-ki siang-su In Han im, sebagai seorang jago yang berpengalaman, dengan cepat dapat me maha mi ma kna yang sebenarnya dari sorot mata Ku See hong tersebut.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian berhenti sejenak, lalu  setelah menghe la napas sedih lanjutnya:

"Sejak dulu sa mpai sekarang, perguruan Cing-hay pay selalu mewaris kan kepandaian silatnya kepada mur id tunggal, setelah aku orang she Ciu meninggal nanti, ilmu silat Cing-hay pay juga akan turut musnah dari dunia persilatan. Maka dari itu persolan yang kupinta sekarang adalah melanjut kan perkembangan ilmu silat Cing- hay pay kami,  mengingat hubunganmu dengan Si-hong lo jin, tentunya kau dapat menerima permintaanku ini bukan? Untuk budi kebaikanmu itu, biar aku orang she Ciu bayar dalam penitisan yang akan datang ...!"

Begitu selesai berkata, Ciu Heng thian segera menggerakkan pedang ular peraknya untuk menggoro k leher sendiri....

Tiba-tiba tampak bayangan manusia berkelebat  lewat...,  tubuh Ku  See  hong  bagaikan  sa mbaran  sukma  gentayangan  telah  me luncur ke depan, tangan kanannya mencengkera m tepi pedang ular perak itu erat-erat, sementara paras mukanya yang dingin dan kaku tanpa perasaan tadi, kini berubah menjadi le mbut.

Ujarnya kemudian dengan suara lantang:

"Saudara Ciu, mengapa kau harus menghabis i nyawa sendiri tanpa menyelidiki dulu duduknya persoalan...? Sesungguhnya siaute-pun masih terhitung mur id perguruan Cing-hay bun kalian..! Aaai..., semuanya ini me mang kesalahan siaute... mengapa tidak menerangkan duduknya persoalan sejak semula dan tetap mengumbar napsu dengan mengajakmu me langsungkan pertarungan yang tak berguna ini? Siaute harap saudara  Ciu suka me ma kluminya dan menyelesaikan persoalan secara damai, untuk itu sebelumnya siaute ucapkan banyak terima kasih..."

Sejak bertemu dengan Ku See hong untuk pertama kalinya, si Pedang ular perak Ciu Heng thiam pun menaruh  rasa kagum terhadap lawannya, tapi dasar wataknya memang dingin dan  angkuh, hal ini me ma ksanya untuk mencoba kema mpuan dari Ku See hong......

Berbicara menur ut keadaan semula, maka kesalahan sebetulnya terletak dipihaknya karena me mang dialah yang terlalu me maksa musuhnya untuk me langsungkan pertarungan tersebut siapa tahu Ku See hong menunjukkan kebesaran jiwanya dengan me ngakui kesalahan tersebut dipihaknya, cukup dilihat dari hal ini saja, dari hati kecilnya segera muncul suatu perasaan terharu yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tanpa terasa sepasang matanya berkaca-kaca, dengan amat terharu ujarnya:

"Saudara Ku, tidak kusangka kau adalah seorang pe muda yang berilmu t inggi berjiwa besar, tidak suka me ncari ke menangan dan senang berteman, siaute benar-benar amat berterima kasih, sekali atas kebesaran jiwamu itu. Kebaikan ini tak akan kulupakan untuk selamanya!"

Ku See hong me mang seorang pe muda yang mengangkat tinggi soal persahabatan, pada mulanya dia hanya mendongko l oleh kesombo ngan  serta  kejumawaan  Ciu   Heng   thian,   menyusul ke mudian dia merasa kalau Ciu Heng thian me miliki se mangat jantan seorang lelaki sejati yang hebat, yang mana segera membuat pandangannya sama sekali berubah. Kini dia malah merasa kalau lawannya adalah seorang yang berperasaan hangat.

Selama berkelana dalam dunia persilatan Ku See hong me mang ingin sekali dapat teman seorang jagoan yang bernyali, berjiwa besar dan pemberani seperti pe muda itu. Maka didorong oleh luapan e mos i, dia segera mengge mga m tangan, Ciu Heng-thian sa mbil katanya dengan suara ge metar:

"Saudara Ciu, kita sama-sama orang perantauan, walaupun hari ini kita tanpa sengaja, bila kau tidak keberatan, siaute bersiap sedia untuk mengikat diri menjadi Sahabat karib denganmu."

"Saudara Ku adalah seorang pendekar besar yang berjiwa besar, sedang aku Ciu Heng thian hanya manusia apa? Untung bisa berteman dengan sahabat seperti kau, masa aku akan meno laknya? Apalagi saudara Ku telah melimpahkan budi kebaikan kepadaku, sekalipun harus menyebrangi lautan api, aku Ciu Heng-thian tak akan mena mpik, apalagi cuma berteman?"

Ku See hong menggengga m pergelangan tangan kanannya semakin kencang, katanya penuh luapan e mosi:

”Kebesaran jiwa saudara Ciu sungguh me mbuat siaute merasa kagum, bila kau berkata begini terus, aku jadi merasa ma lu untuk berkata lebih jauh. Kini situasi dalam dunia persilatan telah berubah, kaum kurcaci mencari untung dengan menindas rakyat, kaum pera mpok menguasai wilayah orang dan saat kia mat bagi dunia persilatan sudah ha mpir mende kat, bila saudara Ciu bersedia untuk bersatu padu denganku dan "

Mencorong sinar mata tajam dari balik mata si pedang ular perak Ciu Heng thian, dengan cepat dia menukas ucapan dari Ku See hong sambil berkata dengan lantang:

"Saudara Ku, sampa i mati pun siaute bersedia menda mpingimu untuk bersa ma-sama me mbuat pekerjaan besar dengan menumpas kaum durjana dan: menegakkan keadilan didunia, biarlah langit dan matahari menjadi saksi bagi sumpah keadilanku ini!"

Setelah menyaksikan keadaan berke mbang begitu jauh Biau ki siangsu In Han Im segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh....... haaahhh...... haaahhh....... selama seratus tahun belakangan ini. dunia persilatan penuh segala maca m perubahan, satu peristiwa belum padam muncul persoalan la in, bagaikan gelo mbang air pasang saja, satu belum mundur, yang lain sudah menyusul, tapi akhirnya keadilan juga yang akan meredekan  hal ini."

"Haaahhh..... haaahh..... haaahh.... akhirnya beribu-ribu jiwa umat persilatan dapat ditolong juga, haaahhh ....haaahhh......

haaahh.... Ku Sauhiap, Lam ciau Pak siang yakin sela ma hidup belum pernah melakukan kesalahan, maka bila Sauhiap berdua tidak mena mpik, pada ma lam ini juga ka mi berdua manus ia tak berguna bersedia untuk menda mpingi kalian."

Ku See hong berpaling dan segera tertawa:

"Kita me mpunyai cita-cita yang sama dan tujuan yang sama pula, apalagi kita merasa cocok sekali satu dan lainnya dalam perjumpaan ini, sayang aku orang she Ku mas ih me mpunyai dendam kesumat yang musti dituntut balas, selain itu akupun me mpunyai pedang Hu thian seng-kia m, sumber dari segala kekalutan dan bencana..., aku tak berani merama lkan bagaimana kah untung atau bencanaku di ke mudian hari "

oooOdwOooo

SIN HONG HWEE CIAU LUI KI segera tertawa terbahak-bahak, "Hu-thian    seng- kiam   telah    muncul    kembali   dalam dunia

persilatan,   tujuannya  tak  lain  adalah  hendak  me mbas mi  kaum

durjana dari muka bumi. Seandainya kawanan siluman itu datang mencari    gara-gara,    sudah    barang    tentu    kitapun     akan me langsungkan pe mbunuhan secara besar-besaran!"

Mendadak Si pedang ular perak Ciu Heng thian berteriak kaget: "Saudara   Ku,   beberapa  hari  berselang  aku  telah me mbunuh

seorang  anggota  perkumpulan  Jian  khi  pang,  sewaktu  kuperiksa

orang itu, dapat diketahui bahwa perkumpulan Ban-shia-kau telah me laksanakan tujuan kejinya untuk  menumpas umat persilatan dan menguasai seluruh jagad, selain itu mereka pun merencana kan suatu pembasmian secara besar-besaran terhadap pendekar- pendekar dari golongan putih!"

Mendengar perkataan itu, paras muka Biau ki Siangsu In Han im segera berubah hebat, buru-buru serunya:

"Ciu sauhiap, tahukah kau cakar iblis mereka telah direntangkan ke mana saja?"

Si pedang ular perak Ciu Heng thian tidak menjawab sebaliknya ma lah bertanya:

"Aku ingin bertanya mengapa kawanan Liok- lim yang berada diwilayah Kang-la m berbondong-bondong berangkat kepuncak Hoat hong diwilayah Ou-lam untuk mengadakan suatu pertemuan besar pemilihan Bengcu pada bulan se mbilan - tanggal enam nanti?"

"Waah kalau begitu pihak Ban shia kau hendak turun tangan terhadap para pendekatr di Kangla m?" seru Biau ki siangsu In Han Im dengan suara agak ge metar.

Pedang ular perak Ciu Heng thian manggut- manggut,

"Pendapat In tayhiap me mang benar, rupanya Ban-shia-kau bermaksud hendak menge mbangkan wilayah kekuasaannya dengan menjar ing lebih banyak benggolan-bengeolan Liok- lim untuk berpihak kepadanya. Dalam pe milihan Bengcu yang mereka selenggarakan diwilayah Kanglam kali ini pun telah ditentukan suatu rencana busuk, yaitu bermaksud untuk menjaring semua orang gagah yang berada di wilayah Kangla m, bila diantara mereka ada yang tidak bersedia untuk bekerja sama, maka secara keji mereka akan me mbunuhnya, hingga apa yang dicita-citakan dapat tercapai."

Hu thian seng kia m Ku See hong yang mendengar perkataan itu menjadi marah sekali, mencorong sinar buas dari balik matanya.

"Ban-shia- kau, perkumpulan kaum bedebah! Aku bersumpah tak akan me mbiarkan mereka untuk melaksanakan rencana rencana busuk tersebut!" teriaknya. Biau ki siangsu In Han Im menghe la napas sedih, ucapnya:

"Ke mungkinan besar diantara kawanan jago kaum Liok- lim yang berada di wilayah Kanglam pun kini sudah disusupi oleh anjing- anjing Ban-shia- kau, bisa dibayangkan bagaimanakah akibat dari pemilihan besar, pemilihan Bengcu yang diselenggarakan  pada bulan se mbilan pada tanggal enam nanti."

Tiba-tiba Sin hong hwee ciu Lui Ki berpaling kearah Ku See hong sambil bertanya:

"Ku lote, siapakah Kaucu dari perkumpulan Ban-shia-kau tersebut? Mungkin kau sudah me mpunyai ga mbarannya bukan?"

Ku See hong merasa a mat terkejut setelah mendengar pertanyaan itu. Segera pikirnya:

`Cermat betul jalan pemikiran orang ini, betul aku sudah menduga kalau ketua dari perkumpulan Ban-shia- kau adalah perempuan jalang itu...,tapi peristiwa ini menyangkut ke-aib-an dari guruku, apakah harus ku ungkapkan secara blak-blakkan?`

Ternyata Ku See hong telah menduga kalau ketua dari perkumpulan Ban-shia- kau adalah istri gurunya, Bun ji koan-su, yang bernama Ceng Lan Hiang tersebut....

Sebagaimana diketahui, perist iwa berdarah yang terjadi diatas puncak Ciat-hong di bukit Soat-san tempo hari merupakan suatu peristiwa pengeroyokan yang amat dirahasiakan oleh pelaku- pelakunya, sementara mereka yang tersangkut dalam peristiwa itu pun sebagian besar adalah manusia-manusia munafik yang berlagak sok suci dan sok bijaksana, ...andaikata diantara mereka terdapat pendekar sejati, maka setelah terjadinya peristiwa itu, kalau bukan lenyap ...tentulah mati secara mengenaskan sehingga  diantara kaum pendekar sejati yang ada didunia ini dan mengetahui duduk persolan yang sebenarnya, boleh dibilang tinggal Ku See hong seorang......

Ceng Lan hiang sebetulnya adalah putri dari Thi Kiam Kim Ciang (Pedang Baja Telapak Tangan Emas) Cong Ih huang....., demi rencananya untuk mencelakai Bun-ji koan-su ,dia telah menikah dengan tokoh persilatan tersebut.

Tapi, peristiwa ini tak ada seorang manus ia pun yang tahu, karenanya hingga kini orang tak pernah menyangka kalau Bun-ji koan-su sebenarnya sudah beristri, lebih-lebin tak ada yang tahu kalau kehidupan tokoh sakti itu sesungguhnya berakhir  ditangan istri kesayangannya sendiri.

Peristiwa semaca m ini boleh dibilang merupa kan peristiwa yang amat me malukan, Ku See hong sebagai muridnya sudah barang tentu enggan untuk menyiarkan kisah yang me malukan ini kepada semua orang.

Pelbagai ingatan segera berkeca muk dalam benak Ku See hong, akhirnya dia menga mbil keputusan untuk tidak me mbongkar rahasia tadi.

"Saudara bertiga..." ujarnya kemudian "Walaupun pada saat ini aku orang she Ku sudah tahu siapa gerangan ketua dari Ban-shia- kau tersebut, namun berhubung persoalan ini menyangkut na ma baik guruku, maka sulit bagiku untuk mengutarakannya keluar,

...untuk itu harap kalian maklum."

”Padahal, nama Ban-shia Kaucu pun merupakan  nama  yang masih asing bagi pendengaran kaum pendekar golongan putih dari dunia persilatan, hingga sekalipun na ma itu kusebutkan, belum tentu kalian akan mengena li orangnya.`

"Aku dengan orang-orang dari Ban-shia- kau me mpunyai dendam kesumat yang  lebih  dalam  daripada  sa mudra,  aku  tak  akan me mbiarkan kaum durjana itu berbuat semena- mena didalam dunia ini, suatu hari, aku pasti akan menyuruh mereka se mua rasakan pembalasan yang paling mengenaskan!"

Si pedang ular perak Ciu Heng thian segera berkata  dengan suara lantang:

"Kini pengaruh iblis sudah meraja-lela, mereka sudah bersekongkol dengan berbagai perguruan besar di dunia ini, sementara kaum yang dianggap sebagai golongan murni boleh dibilang sangat minim sehingga cuma terdiri dari beberapa orang, bila kita berempat harus menghadapi khalayak yang begitu banyak, jelas hal ini mustahil bagi kita untuk meraih ke menangan, aku pikir, tindakan paling penting yang harus kita laksanakan sekarang adalah mencari tahu mar kas besar pihak lawan, kalau bisa kita langsung menyerbu ke sarangnya dan melenyapkan pentolannya. Demikian ancaman bahaya baru bisa disingkirkan, kini saudara Ku sudah mengetahui siapa gerangan Kaucu dari perkumpulan Ban-shia-kau, terangkan kepada kami dimanakah letak sarang iblis mereka?"

Ku See hong menghe la napas panjang,

"Aaai.... di manakah letak mar kas besar Ban-shia- kau tidak begitu jelas bagiku, tapi bila kita mau mengorbankan sedikit tenaga dan pikiran, rasanya tidak sulit untuk mengetahuinya."

Pada saat itulah mendadak...........

Dari arah sebelah barat tanah pekuburan itu berkumandang datang suara pekikan panjang yang amat me mekikan telinga, suara pekikan tersebut kedengaran aneh sekali.

Ketika berkumandang mengikuti hembusan angin ma la m, la mat- la mat terasanya bagaikan isak tangis setan, seperti juga suara lolongan serigala, me mbuat siapa saja yang mendengarnya segera merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Menyusul suara yang mengerikan tadi, terdengar seorang tertawa dingin lalu berkata:

"Bocah keparat she Ku, Ban-shia-seng-kau merupa kan pe mimpin tertinggi didalam dunia persilatan saat ini..., kau anggap nama baik kami boleh dinodai dengan begitu saja olehmu? Hmmm....hmmm....

bocah keparat, jika kau merasa punya kepandaian ayolah ikut i aku, mari kita saksikan sampai dimana kan kelihayan dari Lian-hun ki-ong dari perkumpulan suci kami heeemm....heemmm " Suara bisikan itu lirih seperti nyamuk, na mun setiap patah katanya dapat terdengar jelas, bahkan sangat menggetarkan telinga.

Dari balik mata Ku See hong segera memancar keluar sorot mata tajam yang menggidikkan hati, diiringi suara pekikan nyaring, tubuhnya melejit ke udara dan meluncur kedepan, diantara berkibarnya ujung baju, terhembus angin dengan kecepatan luar biasa ia me luncur ke arah ma na berasalnya suara tadi.

Waktu itu sudah mendekati kentongan ke e mpat;  bintang bertaburan di angkasa, angin dingin berhe mbus menusuk tulang, diantara heningnya suasana terdengar suara tertawa menyeramkan bergema dari balik tanah pekuburan sana, kemudian muncullah sesosok bayangan manusia berwarna abu-abu yang meluncur keluar bagaikan burung elang. Ditinjau dari kecepatan gerak orang itu, dapat diketahui kalau ilmu mer ingankan tubuhnya telah mencapa i puncak kesempurnaan.

Tatkala bayangan tubuh Ku See hong  lenyap dibalik kegelapan ma lam tadi, mendadak Si Pedang ular perak Ciu Heng thian mendonga kkan kepalanya dan me mperdengarkan suara tertawa panjang yang seram me mekikkan telinga......

Dibalik tertawanya itu jelas tercermin nada yang begitu licik, begitu busuk dan menyera mkan.

Itulah suatu penampilan yang amat buas, ganas, keji dan menggidikkan hati....

Begitu menangkap suara tertawa panjang yang amat mengerikan itu Biau ki Siangsu In Kan im dan Sin hong hwee ciau Lui Ki segera merasakan hatinya bergetar keras, dengan empat mata  mereka yang tajam bagaikan se mbilu, mereka bersama-sa ma me mandang kearah wajah Ciu Heng thian yang licik dan buas itu... ...

Kontan paras muka mere ka berubah hebat, dengan cepat kedua orang  itu  tahu  bahwa  mereka  sudah  berada  diambang   pintu  ke matian.! Ya, cuaca dilangitpun gampang berubah-ubah, apalagi kehidupan manus ia di dunia ini.

Tahu wajah, tahu orangnya ... tak akan tahu hatinya, siapakah yang bisa menduga akan, kebusukan, kelicikan serta ke munafikan seseorang yang tersembunyi dibalik hatinya??

Dia m-dia m Biau ki Siangsu In Ham im sangat menyesali kekhilafan sendiri ,  selama  ini  dia  selalu  merasa  bangga  karena ke ma mpuannya untuk menilai orang dari raut wajahnya..., sungguh tak disangka pada mala m ini dia harus me lakukan suatu kesalahan yang amat besar.

Si pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa licik beberapa saat la manya, mendadak ia berhenti tertawa.

Dengan sekulum senyaman menyeringa i menghiasi ujung bibirnya, bagaikan bayangan setan dia menerjang kearah Lam ciau Pak Siang, wajahnya nampa k begitu me nyeramkan, begitu licik dan menggidikkan hati. Sepasang mata Sin hong hwee ciau Lui  Ki segera me mancarkan cahaya berapi-api, dengan suara keras  dia me mbentak:

"Bocah keparat she Ciu, kau............. kau sungguh amat licik dan rendah, aku.... aku akan beradu jiwa denganmu !"

Sambil berkata dia siap menerjang kedepan.

Biau ki Siangsu In Ham Im lebih cerdik daripada rekannya, sekalipun dia dihadapkan pada ancaman bahaya maut yang menyeramkan, namun pikirannya tak sampai menjadi kalut. Sambil menarik tangan Sin hong hwee ciau, bisiknya lir ih:

"Lui lote, cepat tenangkan pikiranmu pertarungan yang bakal berlangsung merupakan suatu pertarungan yang akan menentukan mati hidup kita, jangan bertindak kelewat gegabah!"

Walaupun Sin hong hwee ciau Lui Ki merupa kan seorang yang berangasan, namun dia cukup tahu betapa gawat dan seriusnya persoalan yang dihadapinya sekarang, sebab bila mana mere ka berdua sampai tewas ditangan manusia laknat ini, bisa jadi dendam sakit hatinya tak pernah akan terbalas untuk sela manya, bahkan keselamatan jiwa Ku See hong pun terancam oleh bahaya maut!

Karena itu setelah pelbagai ingatan berkeca muk didalam benaknya, dengan segala kema mpuan yang dimilikinya dia berusaha keras untuk mengendalikan gejolak perasaan dalam hatinya dan berusaha untuk menenangkan ke mba li pikirannya.

Terdengar si Pedang ular perak Ciu Heng thian tertawa seram  lagi belulang kali, la lu berkata:

"In Ham Im, percuma kau disebut orang sebagai Biau- ki Siangsu,' heehhh...... heeeehhh..... heeehhh...... siapa sangka kalau kau telah menyerahkan nyawamu sendiri ketangan raja akhirat, heehhh...... heeeehhh..... heeehhh "

-oodwoo-