Dendam Sejagad Jilid 05

 
Jilid 05

“KECUALI sekarang juga kau berlutut di depan nona mu dan menye mbah tiga  kali,  mungkin  saja  nona  mas ih  bersedia  menga mpuni jiwa mu.”

Ku See-hong yang berulang kali dipaksa mencium tanah, benar- benar merasa marah sekali, saking  mendongkolnya dia sampa i menggertak giginya keras-keras.

“Lonte busuk!” akhirnya dia me mbentak gusar.

“Aku orang she Ku me mang tak sanggup menangkan dirimu, kau juga boleh bunuh boleh cincang  tubuhku,  tapi  jika  kau  berani  me mper ma inkan aku atau mencoba untuk mence mooh aku… Hmm! Aku akan me ma ki tiga keturunanmu!”

Mendengar perkataan itu, si nona cantik berbaju biru itu mengernyitkan alis matanya, sinar merah mencorong keluar dari matanya yang jeli, tapi sejenak ke mudian telah lenyap tak berbekas.

Kembali ujarnya sa mbil tertawa cekikikan:

“Orang she Ku, rupanya  kau  punya  semangat.  Cuma…   bila ma lam ini kau tak mau menjawab pertanyaan nonamu, hmm! Akan kuper mainkan dirimu seperti joged monyet!”

“Lonte busuk! Aku akan beradu jiwa denganmu!” bentak Ku See- hong dengan kening berkerut. Kembali tangannya bergerak aneh, rupanya ia sudah bersiap-siap untuk me mpergunakan tiga gerakan dari jurus Hoo- han-seng-huan lagi.

Setelah merasakan kerugian yang cukup besar di tangan pemuda itu, si nona cantik berbaju biru itu bertindak lebih cerdik, sebelum pemuda itu se mpat me lancarkan serangannya, secepat angin badannya menyelinap ke belakang Ku See-hong. Ke mudian sa mbil me mbentak keras, telapak tangan kirinya tiba-tiba diayunkan ke depan.

“Ploook!”   terdengar   suara   benturan   nyaring    mengge ma me mecahkan keheningan.

Di atas pipi Ku See-hong segera muncul lima buah bekas jari tangan yang merah me mbara, menyusul ke mudian lima jari tangan kanannya yang dipentangkan lebar-lebar langsung menya mbar baju Ku See-hong dan me mbantingnya ke depan.

Ku See-hong segera merasakan keseimbangan badannya hilang, tubuhnya lantas berguling tiga kali di atas tanah dan akhirnya jatuh terjerembab mencium tanah. Selain hidungnya bocor, mukanya bengkak dita mbah lagi ra mbutnya terurai dan badannya belepotan darah, keadaannya benar-benar mengenaskan sekali.

Melihat pe muda itu sudah mencium tanah, sambil menutup bibirnya dengan jari tangan yang lentik, nona cantik berbaju biru itu segera tertawa cekikikan. Pelan-pelan dia berjalan ke samping anak muda itu, ke mudian sa mbil ulurkan tangan kirinya dia berkata:

“Orang she Ku, tulangmu sudah pada rontok, belum? Mari, nona me mbangunkan dirimu.”

Cemoohan dan hinaan yang berulang kali dilimpahkan si nona kepadanya, membuat Ku See-hong yang tinggi hati itu menjadi naik darah,  matanya  merah  me mbara  kalau  bisa  dia  ingin  sekali  me mbaco k tubuhnya sehingga hancur berkeping- keping, Apalagi setelah meyaksikan tingkah laku serta ucapan si nona yang setengah mengejek, darah terasa sirap keluar. “Lonte busuk!” bentak Ku See-hong  dengan  gera mnya.  “Jika ma lam ini aku orang she Ku dapat keluar dari sini dalam keadaan hidup, di ke mudian hari pasti akan kusayat kulit badanmu, sekarang aku minta kau… kau… enyah dari sini…!”

Saking gusarnya Ku  See-hong  sa mpai  merasa  tak  sanggup me lanjutkan kata-katanya, seluruh badannya tampak  gemetar keras.

Ketika mendengar perkataan itu, nona cantik berbaju biru itupun kelihatan  agak  tertegun,  tapi  setelah  termangu  beberapa  saat la manya, sikap itu pulih ke mbali seperti sediakala.

Ia tertawa ringan, lalu katanya dengan merdu:

“Aduh mak, bagaimana sih ka mu ini? Dengan bersungguh hati orang sudah me mbantumu, kenapa kau malah menjadi  marah- marah hebat? Baiklah, anggap saja aku yang bersalah, kalau ingin menghajar aku, nah, hajarlah aku sepuas hatimu.”

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, wajahnya kelihatan polos, manja dan me mbawa sifat kekanak-kana kan, kesemuanya ini me mbuat gadis itu ta mpak berta mbah cantik dan menarik.

Untuk sesaat lamanya Ku See-hong berdiri melongo sehingga tak tahu apa yang musti dilakukan, tapi rasa bencinya kepada gadis itu sudah merasuk ke tulang sumsum. Dia menganggap gadis  itu adalah seorang gembong iblis pere mpuan yang berhati keji bagaikan ular berbisa dan me mbunuh orang tanpa berkedip.

Maka dengan wajah hijau me mbesi, dia mendengus dingin: “Hmmm… Sikapmu yang suka berlagak itu hanya bisa dipakai

untuk menggaet anjing-anjing geladak yang sudah buta matanya atau mengidap penyakit edan. Hmmm…. Jika kau berani banyak berbicara lagi, jangan salahakan kalau aku orang she Ku akan mula i me ma ki dirimu lagi.”

Nona cantik berbaju biru itu mengerutkan dahi dan menghe la napas sedih, katanya dengan le mbut: “Kenapa sih kau begitu tidak percaya denganku? Sebenarnya aku merasa benci sekali terhadap orang lelaki maca m kalian itu, tapi sekarang entah apa sebabnya, setelah bertemu denganmu, aku sepertinya tidak begitu benci lagi.”

Sepasang matanya yang jeli mongerling ke wajah Ku See-hong berulang kali. Di balik kejelian matanya itu terkandung rasa cintanya yang mendala m, apalagi wajahnya me mang cantik, sesungguhnya cukup me mbuat hati orang terpikat.

Ku See-hong merasakan jantungnya berdebar keras, suatu perasaan aneh yang hangat dan belum pernah dirasakan sebelumnya. Secara lamat-la mat muncul dari dasar  hatinya perasaan aneh yang susah dilukiskan dengan kata-kata itu, boleh dibilang belum pernah dirasakannya se menjak dilahirkan.

Ketika dilihatnya Ku See-hong hanya me mbungka m diri tanpa mengucapkan sepatah katapun, dengan manja si nona cantik berbaju biru itu ke mbali berkata:

“Sebetulnya aku diutus oleh guruku untuk menyelidiki seorang musuh besarnya pada mala m ini. Tapi belakangan ini suara nyanyian anehnya yang tiba-tiba terputus sampai beberapa hari mendadak berkumandang ke mbali. Hal ini menimbulkan  rasa keheranan di hatiku….

“Barusan, aku me lihat kau muncul dari dalam kuil itu. Bahkan aku lihat kau sa ma sekali tidak berpengaruh oleh daya pikat ira ma pembetot sukma itu, maka aku menjadi keheranan  bercampur kaget. Menanti kau bertarung melawan Leng-cuan  sam-po k dan  me mperguna kan jurus Hoo-han-seng-huan milik si orang aneh tersebut, aku baru berani me mastikan bahwa kau pasti me mpunyai hubungan yang luar biasa sekali dengan manusia aneh itu… Aaaih, apakah kau bersedia untuk me mber itahukan kepadaku tentang beberapa masalah?”

Ku See-hong yang me ndengar perkataan itupun merasa terkejut sekali, ia tahu musuh besar gurunya terlalu banyak, bila dia terlalu sering me mperguna kan ilmu sakti dari Bun-ji koan-su tersebut, maka  akhirnya  orang  persilatan  pasti  tahu  kalau  dia   adalah mur idnya.

Aaai… Padahal ia belum begitu menguasai tentang jurus-jurus silat tersebut, bagaimana  baiknya sekarang? Hmmm. Bukankah suhu seringkali menyuruh aku me mpergunakan jurus Hoo-han-seng- huan tersebut untuk me mbunuh musuh? Musuh besar gurunya begitu banyak, lebih baik dibunuh saja mereka yang berani datang mencarinya, apa lagi yang musti ditakuti?

Ketika Ku See-hong berpikir sa mpai di situ, selapis hawa nafsu me mbunuh yang menger ikan segera melintas di atas wajahnya.

Terdengar nona cantik berbaju biru itu kembali menghela napas panjang, katanya lagi:

“Aku tahu kau tak akan menjawab pertanyaanku itu, tapi akupun tak tega me mpergunakan cara yang keji untuk me maksa mu. Aaai… Aku benar-benar merasa serba salah.”

Ku See-hong merasa sangat tidak puas dengan perkataan itu, ia segera mendengus dingin, katanya ketus:

“Siapa menang  siapa kalah mas ih sukar untuk ditentukan, sekalipun aku orang she Ku diancam dengan golok di tengkuk, tak nanti keningku akan berkerut, apalagi merengek minta dia mpuni. Jika kau ingin me mperguna kan cara yang lebih keji lagi, mengapa tidak kau cobakan kepadaku?”

Nona cantik berbaju biru itu lama sekali tidak mena mpilkan perubahan apa-apa setelah mendengar perkataan itu, dia cuma berdiri termenung di situ, keningnya berkerut, agaknya banyak persoalan yang sukar dipecahkan olehnya.

Bintang bertaburan di angkasa, suasana terasa kelabu…. Tanpa terasa Ku See-hong berdiri  termenung  di  tempat  dan  terkenang ke mbali kejadiannya di masa la mpau.

Gadis cantik berbaju biru  itupun berdiri ter mangu di sana bagaikan sedang mengigau dalam impian, dia berguma m lirih: “Dia pasti bukan anak muridnya Bun- ji koan-su, kalau dia adalah mur id kesayangannya, ilmu silat yang dimilikinya pasti lihay sekali. Apalagi locianpwe yang berwatak aneh itu sudah bersumpah tak akan menerima murid lagi, mana mungkin dia akan menerima pemuda ini sebagai ahli warisnya?

Tapi kalau dilihat orang she Ku ini, kelihatannya ia benar-benar sangat aneh dan rahasia sekali, siapa pula yang mengajarkan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut kepadanya? Ta mpaknya dia  seperti me milki pula sejenis kepandaian yang aneh sekali dalam tubuhnya. Kepandaian itu tampaknya ma mpu untuk menahan serangan dari siapapun. Kalau dilihat dari tenaga dala mnya saja, dia sudah cukup ma mpu menjadi jago kelas satu dalam dunia  persilatan, tapi mengapa ia tidak me ngerti soal jurus silat? Aaai… kejadian ini sungguh me mbingungkan hati orang, apakah mungkin manus ia aneh yang berdiam di kuil ini bukan Bun-ji koan-su?”

Walaupun nona cantik berbaju biru itu tampaknya seperti orang yang binal dan tak berotak, sesungguhnya kecerdasan otaknya luar biasa sekali, jadi orang pun sangat teliti.

Mendadak….

Ku See-hong merasakan nadi penting pada pergelangan tangan kanannya dicengkeram oleh sebuah tangan yang halus dan le mbut, menyusul kemudian terdengar seseorang berkata dengan suara  yang dingin bagaikan es:

“Orang she Ku apakah kau adalah ahli waris dari Bun-ji koan-su?

Cepat katakan berterus terang!”

Ku See-hong segera merasakan sekujur badannya menjadi kesemutan, peredaran darahnya berjalan terbalik yang mengakibatkan seluruh tenaga serta kekuatannya seakan-akan lenyap tak berbekas.

Dasar keras kepala dan berwatak angkuh, kendatipun mengalir terbaliknya darah di dalam tubuhnya menyebabkan Ku See-hong merasa amet menderita dan kesakitan, tapi dia hanya menggertak gigi saja sambil menahan diri. Ku See-hong menjengek sinis, dengan wajah menghina dia tertawa dingin tiada hentinya:

“Sejak tadi aku orang she Ku sudah tahu kalau kau adalah seorang perempuan rendah yang tak tahu malu, ternyata dugaanku tidak salah. Hmmm! Tidak ga mpang untuk me ma ksa aku berbicara, lebih baik matikan saja hatimu itu!”

Si nona cantik berbaju biru itupun berdiri dengan wajah sedingin es, alis matanya berkenyit dan ia tertawa dingin tiada hentinya.

“Heeehh… heeehh… heeehh… akan nonamu lihat kau bisa bertahan sampai kapan!”

Tangan kanannya yang mencengkera m nadi Ku See-hong segera digoncangkan keras-keras, ini me mbuat Ku See-hong kesakitan setengah mati. Saking   sakitnya,  peluh  dingin  jatuh  bercucuran me mbasahi seluruh badan Ku See-hong, mulut luka yang tadi tersambar cakar Leng-cuan sam-pok tersebut, terasa sakitnya bukan kepalang.

Ilmu sakti me mbalikkan aliran darah manusia yang jauh bertolak belakang dengan keadaan manusia biasa ini betul-betul a mat keji dan keja m. Jangan toh tubuh Ku See-hong terdiri dari darah dan daging, sekalipun terdiri dari baja kuat pun tak akan tahan.

Tak sa mpai setengah per minum teh ke mudian, ia sudah tak kuasa menahan diri lagi, isi perutnya terasa sakit bercampur gatal, seakan-akan ada beribu-ribu batang anak panah yang mene mbus i hatinya. Peluh dingin jatuh bercucuran me mbasahi sekujur badannya, sementara mulutnya mulai merintih.

Sistem me mbalikkan peredaran darah manusia  yang diterapkan di tubuh Ku See-hong ini sesungguhnya lihay sekali. Yang paling penting adalah ketepatannya mengarah sasaran jalan darah  di tubuh orang. Entah musuh berilmu tinggi atau tidak, asal sudah terkena serangan ma ka segenap tenaga perlawanannya akan musnah tak berbekas, saat itulah dengan menganda lkan aliran hawa murni yang ada dalam tubuhnya mengendalikan peredaran darah di tubuh lawan, agar aliran darah lawan menga lir terbalik dan menyerang is i perut.

Kepandaian yang bisa me mutar  balikkan peredaran  darah manus ia ini terdiri dari beberapa maca m, tapi kegunaannya sama, meski caranya berbeda.

Salah satu di antaranya dina makan Hud-hiat-ni-hiat (Mengayun Jalan  Darah  Membalikkan   Peredaran   Darah).   Kepandaian   ini me mperguna kan ilmu totokan jalan darah yang khusus untuk menyumbat jalan darah penting di tubuh manus ia. Barang siapa terkena totokan itu, maka darah yang beredar dalam tubuh dan delapan nadinya akan terbalik menyerang ke hati. Cuma cara ini reaksinya agak la mban.

Macam yang lain adalah kepandaian yang dipergunakan nona berbaju biru itu, kepandaian tersebut dina makan Cui-khi-jian- hiat (Menyumbat Hawa Menghancurkan Darah), ilmu yang dipergunakan adalah ilmu cengkera man Kina-jiu-hoat, sedang yang diancam juga jalan darah penting di tubuh lawan.

Setelah jalan darah penting lawan kena dicengkera m, biasanya dia akan me mpergunakan tenaga dalam yang dimilikinya untuk menyumbat peredaran darah lawan agar aliran darah itu berbalik menyerang isi perut. Cuma cirinya, orang yang tidak me miliki  tenaga   dalam   yang   a mat   sempurna,   jangan   harap    bisa me mperguna kan cara se maca m ini.

Ku See-hong merasakan kesakitan yang luar biasa sekali, kulit mukanya sampai mengejang keras karena harus menahan penderitaan, sementara sorot matanya memancarkan sinar kebencian dan dendam menatap wajah gadis berbaju biru itu tanpa berkedip.

Mendadak….

Ku See-hong mendengus tertahan… mendadak tangan kanannya me lepaskan diri dari cengkera man gadis berbaju biru itu, ke mudian tangan kirinya dengan suatu gerakan yang sangat  aneh  langsung me lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke arah gadis berbaju biru itu. Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini me mbuat gadis berbaju biru itu menjadi terperanjat sekali,  mimpipun ia tak menyangka kalau Ku See-hong bisa melo loskan diri dari cengkeraman Kina-jiu-hoatnya, apalagi menghadapi serangan yang datangnya sangat aneh dan tangguh tersebut.

Dalam kejutnya gadis berbaju biru itu segera me mutar lengan kirinya sambil dikebutkan ke depan, serentetan titik cahaya bintang yang berkilauan bagaikan serentetan bunyi letusan yang berantai bergema me mecahkan keheningan.

Dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat itu dengan cepatnya saling bertemu antara yang satu dengan lainnya.

“Blaaamm…!” suatu ledakan keras yang me me kikkan telinga segera bergema me mcahkan keheningan. Angin pukulan yang sangat kuat itu segera menimbulkan desingan angin tajam yag menya mbar ke e mpat penjuru, keadaan mengerikan sekali.

Akibat dari bentrokan kekerasan itu, tubuh Ku See-hong hanya tergetar sedikit dan mundur dua langkah, mencorong sinar ge mbira dari balik wajahnya, tidak seperti tadi ber mura m durja.

Ketika menyambut tenaga pukulan dari Ku See-hong tadi, gadis berbaju biru itupun dia m-dia m berseru:

“Wouw… hebat betul tenaga pukulan orang ini! ”

Ku See-hong segera mendongakkan kepalanya dan berpekik  amat nyaring, telapak tangan kanannya segera diayunkan ke depan… “Weess!” sebuah pukulan dahsyat langsung dibabat ke tubuh gadis berbaju biru itu.

Gerak serangan yang dilancarkan inipun dilakukan dengan suatu gerakan yang sangat aneh dan luar biasa, di mana  angin pukulannya dilepaskan, angin pukulan yang bagaikan gulungan omba k raksasa di tengah sa mudra langsung menggulung ke muka.

Melihat datangnya ancaman tersebut gadis berbaju biru itu berkerut kening, lengan kirinya yang halus dengan cepat menciptakan gerakan satu lingkaran busur se mentara telapak tangan kanannya secepat sambaran petir meluncur ke muka dengan gerakan sakti.

Segulung hawa pukulan yang le mbut dan halus, tanpa menimbulkan sedikit suara pun menyongsong datangnya ancaman tersebut.

“Blaaamm…!” suatu ledakan keras yang disertai dengan pancaran hawa murni ke e mpat penjuru segera menyelimuti seluruh angkasa di sekeliling tempat itu.

Sepasang bahu Ku See-hong bergetar keras, tapi kakinya sa ma sekali tidak bergeser dan tetap tegak di te mpat semula, mukanya tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun.

Gadis berbaju biru  itu ma kin terkesiap setelah menyambut serangan dari Ku See-hong untuk kedua kalinya, dengan cepat dia berpikir:

“Heran, kenapa serangan yang dilancarkan orang ini makin la ma semakin hebat? Padahal di dalam me lepaskan serangan tadi, kugunakan tenaga dalamku sebesar enam bagian. Nyatanya sama sekali tak dapat meluka i dirinya. Bukankah ia sa ma sekali tak mengerti akan jurus silat ketika pertarungan dilangsugkan tadi? Kenapa dua kali serangan yang terjadi sekarang ini seluruhnya menggunakan jurus-jurus tangguh yang belum pernah kujumpa i dalam dunia persilatan?”

Dalam pada itu, sekulum senyuman dingin telah tersungging di ujung bibir Ku See-hong, ujarnya dengan angkuh:

“Nona betul-betul seorang tokoh sakti yang berilmu  tinggi, tenaga dalam yang kau milikipun a mat se mpurna, harap kau sa mbut ke mbali sebuah pukulanku ini!”

Berbicara sampai di situ, pelan-pelan Ku See-hong mengangkat telapak tangan kirinya, jari tangan dilengkungkan dan…

“Hiiaaat…!” diir ingi bentakan keras, telapak tangan kanannya diayunkan ke muka dengan cepat, menyusul kemudian telapak tangan kirinya juga didorong sampa i ke tengah jalan. Angin pukulan yang maha dahsyat, ibaratnya gumpalan awan di angkasa dengan cepat menyelimut i seluuh te mpat dan menggulung tiba dengan hebatnya.

Gadis berbaju biru itu amat terperanjat, bagaikan angin puyuh tubuhnya berputar kencang, hawa  pukulan  yang  le mbut  segera me mancar keluar dari sekeliling tubuhnya. Di tengah  gulungan angin pukulan yang berpusing, tiba-tiba berkuma ndang suara benturan nyaring…

“Bluuuk! Bluuuk! Bluuuk! Tahu-tahu hawa pukulan kedua belah pihak sa ma-sa ma lenyap tak berbekas.

Terkesiap sekali gadis bebaju biru itu menghadapi ke ma mpuan Ku See-hong yang luar biasa itu, sebab: penambahan tenaga dalam, perubahan gerakan, serta kemunculan jurus serangan dari si anak muda itu hakekatnya melanggar kebiasaan dunia persilatan.

Atau mungkin dia adalah seorang manusia licik yang berakal busuk, pandai merahasia kan diri serta berilmu silat tinggi? Berpikir demikian, mencorong sinar pe mbunuhan dari balik matanya yang jeli, ujarnya ke mudian dengan suara dingin:

“Orang she Ku, rupanya kau adalah ma nusia licik, berakal busuk dan pandai merahasiakan diri. Hmm, mala m ini jangan harap kau bisa lolos dari cengkera man nona mu!”

Kemudian diiringi hentakan keras serunya ke mba li:

“Orang she Ku, sa mbut lah sebuah serangan dari nona mu!”

Di tengah seruannya, dengan menghimpun tenaganya sebesar sepuluh bagian, gadis berbaju biru itu mengayunkan sepasang tangannya ke depan.

Serangan ini dilancarkan dengan menghimpun tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, tentu saja hebatnya luar biasa. Begitu pukulan dilepaskan, tenaga pukulan yang dahsyat seperti angin puyuh segera menggetarkan pepohonan siong yang berada beberapa kaki jauhnya dari sana. Hampir sekujur badan Ku See-hong diselimuti oleh tenaga pukulan yang dahsyat bagaikan a mbruknya bukit Tay-san itu, boleh dibilang tak setit ik celah kosongpun yang berhasil dite mukan.

Di kala Ku See-hong melancar kan serangan untuk ketiga kalinya tadi, sesungguhnya isi perut pemuda itu sudah digetarkan oleh serangan lawan, tapi dasar keras kepala, dia segan  menunjukkan kele mahan di hadapan orang. Buru-buru hawa murninya disalurkan untuk  mengendalikan  gejolak   hawa   murni   di   dalam  hatinya ke mudian setelah pusatkan pikirannya, dia bersiap-siap melancarkan ke mbali serangannya. Maka tergetarlah perasaannya setelah mendengar perkataan dari gadis itu.

Tapi pihak musuh tidak me mberi kese mpatan lagi baginya untuk berpikir panjang, tenaga pukulan yang menggetarkan hati itu sudah menggulung tiba dengan kecepatan bagaikan sa mbaran petir. Kali ini sepasang telapak tangan Ku See-hong juga ditolak keluar dengan sejajar dada.

Ku See-hong hanya merasakan tenaga tekanan yang menimpa tubuhnya kali ini ibaratnya bukit Tay-san yang menindih kepala. Sekujur badannya tergetar keras oleh tenaga tekanan hawa pukulan itu sehingga hawa darahnya bergolak keras. Seketika itu juga badannya terlempar ke udara dan melayang sejauh dua kaki lebih dari tempat se mula, tapi ia masih sempat me layang turun di atas tanah dengan sela mat tanpa menderita luka apapun.

Tertegun gadis berbaju biru  itu sehingga  untuk beberapa  saat  la manya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, dia benar- benar mengira sudah bertemu dengan setan. Dengan tenaga pukulannya yang mencapai sepuluh bagian itu, batu berada seratus langkah di hadapannya pun akan hancur menjadi bubuk, kenapa pemuda itu tidak menderita luka apa-apa? Kepandaian maca m apakah itu?

Pelbagai ingatan dengan cepat berkeca muk dalam benak gadis berbaju biru itu, sementara tubuhnya diiringi bentakan nyaring segera menerjang ke hadapan Ku See-hong, sepasang telapak tangannya bagaikan kupu-kupu yang menari di antara aneka bunga, menimbulkan pusaran angin berpusing yang a mat kencang.

Dengan cepat gerakan tubuhnya juga ikut berkembang, perubahan yang aneh bermunculan berulang-ulang, angin pukulan tajam bagaikan pisau. Serangan yang dilancarkan juga semuanya menganca m bagian-bagian me matikan di tubuhnya, serangan itu begitu ganas, buas dan keji.

Pada mulanya Ku See-hong benar-benar kena didesak sehingga harus   berputar   kian   kemar i   dengan   repotnya,   dia    harus me mperguna kan ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong yang sangat lihay  itu  untuk  berkelit  dan   menghindar   kesana  ke mari,   tapi ke mudian jurus sakti mula i bermunculan, makin bertarung semakin mantap. Kenyataan ini segera menimbulkan  pelbagai  kecurigaan dan tidak habis mengerti buat orang lain.

Sesungguhnya akibat dari pertarungan yang dikobarkan si nona berbaju biru itu serta ejekan dan ce moohan  yang dilontarkan olehnya pada mala m ini, hakekatnya telah menggali sumber ilmu silat maha sakti yang bakal dimiliki oleh Ku See-hong di ke mudian hari.

Ternyata, di kala Ku See-hong terkena ilmu Cui-khi-jian-hiat dari si nona berbaju biru sehingga mengakibatkan jalan nadinya tercengkeram dan merasakan siksaan akibat menga lir terbaliknya peredaran darah…. Pemuda yang keras hati ini segera me meras otaknya dan berusaha untuk mene mukan cara untuk me mecahkan keadaan tersebut. Diapun lantas mengasah otaknya dan berusaha untuk me mecahkan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.

Siapa tahu, begitu  otaknya  berputar,  Ku  See-hong  segera mene mukan bahwa jurus serangan itu ha mpir boleh dibilang mengandung pelbagai gerakan jurus silat yang sangat tangguh, setiap gerakannya mengandung arti yang dalam dan perubahan yan tak terhitung jumlahnya.

Pada dasarnya Ku See-hong me mang seorang lelaki yang tergila- gila oleh ilmu silat, setelah mengetahui rahasia tersebut ia menjadi terkesima dan segera terlelap dalam pemikiran yang mendala m. Untuk sesaat lamanya diapun melupa kan penderitaan akibat dari aliran darahnya yang me mbalik….

Setelah termenung beberapa saat, akhirnya Ku see-hong berhasil me maha mi pula beberapa jurus serangan aneh dari balik ketiga gerakan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut.

Mendadak si anak muda itupun merasakan munculnya segulung aliran hawa panas dan dingin dari dalam pusarnya. Seketika itu juga aliran darahnya yang membalik segera menjadi tenang kemba li. Maka Ku See-hong lantas menge luarkan ilmu gerakan aneh yang barusan dipecahkan itu untuk meronta lepas dari cengkera man gadis berbaju biru itu.

Perlu diketahui, Bun-ji koan-su Him C i Seng adalah seorang manus ia yang berotak brilian dan lihay. Semenjak lima puluh tahun berselang ia sudah amat lihay, apalagi setelah me mperoleh kitab pusaka Cang-ciong pit-kip serta me mahami isi dari kitab tersebut. Dua puluh tahun berselang, dia menga la mi suatu mus ibah yang merupakan tragedi paling besar dalam hidupnya. Dalam keadaan sedih dan putus asa, sepanjang hari dia hanya memperdala m ilmu yang diperolehnya dari kitab Cang-ciong pit-kip tersebut untuk menghabiskan waktu senggang. Setiap waktu dia selalu me latih ilmu tenaga dalam tingkat tingginya. Oleh sebab itu, kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang beberapa kali lipat lebih dahsyat dibandingkan dengan lima puluh tahun berselang ketika ia baru pertama kali terjun ke dunia persilatan dulu.

Ketika Ku See-hong masuk ke dalam kuil kuno itu, dalam sekilas pandangan saja ia sudah tertarik kepada pemuda itu, dia bertekad untuk melatih si anak muda itu agar menjadi sekuntum bunga aneh dalam dunia persilatan pada seratus tahun belakangan ini.

Maka Bun-ji koan-su lantas me mpergunakan se mburan api dari inti bumi, guyuran air sejuk dari sumber bawah tanah dan pukulan tongkat untuk mene mbusi se mua nadi penting di seluruh tubuh Ku See-hong agar dia bisa me mperoleh keadaan bagaikan berganti tulang saja. Selain ke mudian ia wariskan ilmu Kan-kun Mi-siu khikang yang luar biasa itu kepadanya, selanjutnya Bun-ji koan-su juga tak segan- segannya menggunakan  cara  Tiong- giok-tay-hoat  untuk  menyalur kan segenap tenaga dalam hasil latihannya sela ma puluhan tahun ke tubuh Ku See-hong yang berakibat dia harus mati kekeringan.

Sebaliknya gadis berbaju biru itupun me miliki serangkaian ilmu silat yang lihay sekali. Sejak pertarungan pertama kali tadi, ia sudah dibuat terkejut oleh ke ma mpuan Ku See-hong, ia merasa tenaga pukulan musuh makin la ma se makin tangguh jurus serangan yang dipakai juga makin la ma se makin aneh. Yang lebih terkesiap lagi adalah daya tahan Ku See-hong terhadap tenaga serangan, walaupun setiap pukulan mautnya selalu berhasil menghajar telak di tubuh lawan, namun si anak muda itu mas ih tetap sehat wal’afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun. Kenyataan tersebut segera menimbulkan berbagai pikiran dalam benaknya.

Mungkinkah Ku See-hong adalah jela maan dari sukma gentayangan atau setan iblis?

Ku See-hong sendiri, walaupun dia m-dia m, merasa terperanjat sekali oleh kepandaian sakti yang dimiliki gadis berbaju biru itu, tapi dia yakin me miliki beberapa maca m kepandaian sakti yang dapat me lindungi kesela matan jiwanya hingga t idak sa mpa i mati dibunuh.

Maka di samping ia layani serangan-serangan musuh  yang gencar dan dahsyat, diam-dia m dia pun berusaha mengupas jurus- jurus ampuh yang lebih menda lam dari gerakan Hoo-han-seng-huan tersebut.

Setiap kali ia berhasil me maha mi satu jurus serangan, segera dipraktekkan terhadap gadis berbaju biru itu, yang mana me ma ksa gadis tersebut harus mengerahkan tenaga yang amat besar untuk me loloskan diri.

Sekarang, bukan saja Ku See-hong sa ma sekali tidak mendenda m terhadap gads berbaju biru itu, sebaliknya ia merasa berterima kasih sekali kepadanya, dia bersedia melangsungkan terus pertarungan sengit itu sela ma mungkin.

Dalam pada itu waktu sudah menunjukkan kentongan keempat, suasana di depan kuil kuno itu tetap diiputi oleh keseraman, kengerian dan keheningan. Di tengah bunyi pohon yang terhembus angin, tertiup juga pusaran angin kencang yang menderu-deru.

Di tengah berkobarnya pertempuran sengit itu, dari arah timur mendadak muncul sesosok bayangan manusia yang meluncur  datang dengan kecepatan bagaikan sa mbaran petir.

Sungguh cepat sekali gerakan tubuh orang itu, Hanya dalam sekejap mata saja, seperti sukma gentayangan ia sudah tiba di bawah sebatang pohon. Sepasang matanya yang tajam mengawas i tak berkedip gadis baju biru  dan Ku See-hong yang sedang bertanding sengit. Sinar aneh me mancar keluar dari balik matanya.

Mendadak orang di bawah pohon itu mendo ngakkan kepalanya dan berpekik nyaring, suaranya nyaring seperti pekikan naga yang menjulang hingga ke udara dan me mecahkan keheningan mala m. Sungguh tera mat sempurna tenaga dalam yang dimiliki orang itu, hal mana bisa dibuktikan dari suara pekikannya yang nyaring itu.

Baru saja pekikan itu berkumandang, pekikan lain bersahut- sahutan dari empat penjuru dan bergema tiada hentinya. Kalau didengar dari suaranya jelas jumlah mereka t idak sedikit.

Dalam waktu singkat suara pekikan yang bergema dari e mpat penjuru itu berge ma makin la ma se ma kin  mendekati,  menyusul  ke mudian e mpat sosok bayangan manus ia dengan kecepatan luar biasa bermunculan dari e mpat arah delapan penjuru dan menuju ke samping bayangan manus ia tadi….

Sejak kedatangan bayangan manusia yang pertama tadi, gadis berbaju biru itu sudah merasa. Tiba-tiba sepasang telapak tangannya melancarkan sebuah serangan dengan jurus yang aneh sekali, yang mana me maksa Ku See-hong mundur tujuh delapan langkah dari posisi se mula. Ke mudian sa mbil me mutar biji matanya dan tersenyum manis kepada Ku See-hong, katanya lembut: “Orang she Ku, kau jangan melulu gunakan aku seorang untuk teman latihan, tuh lihat. Sudah ada banyak jago yang datang menggantikan aku, berilah kese mpatan bagiku untuk beristirahat.”

Gadis berbaju biru itu adalah seorang gadis yang amat cerdik, tentu saja diapun tahu kalau Ku See-hong telah memanfaatkan kesempatan pertarungan itu untuk melatih ilmu silatnya.

Justru karena itu, gadis berbaju biru  itu tidak melancarkan serangan yang me matikan terhadap dirinya, kalau tidak… dengan kepandaian yang dimiliki Ku See-hong sekarang ini, masih bukan tandingan dari gadis tersebut.

Ku See-hong merasakan hatinya bergetar keras setelah mendengar perkataan itu. Dia m-dia m pikirnya:

“Tabiat dari gadis ini sungguh aneh dan sukar diraba, sebentar ia bersikap bermusuhan sebentar lagi ia bersikap bersahabat. Entah apa maksud hatinya yang sebenarnya? Kalau didengar dari perkataannya barusan, rupanya ia sudah tahu kalau kugunakan kesempatan dalam pertarungan tadi untuk mengupas kepandaian silatku.”

Setelah berpikir sampai di situ, dengan wajah tetap dingin bagaikan salju, Ku See-hong tertawa dingin, katanya:

“Terima kasih banyak atas maks ud baik nona, seandainya pendatang itupun bermaksud untuk mencari gara-gara dengan aku orang she Ku, tentu saja akan kugunakan diri mereka sebagai kelinci percobaan.”

Baru selesai dia berkata, dari balik kegelapan terdengar seseorang berseru sambil tertawa dingin:

“Budak setan, kau betul-betul seorang perempuan liar yang tidak beres perangainya. Lagi-lagi kau menggaet lelaki gentong nasi pada ma lam ini, heeehh… heeehh…. Malam ini lohu pasti akan mengirim kau untuk berpulang ke akhirat.”

Ku See-hong segera mendengus gusar, katanya dengan nada menghina: “Saudara, caramu berbicara sangat kasar dan tak tahu diri, tampaknya kau sudah bosan hidup.”

Gelak tertawa nyaring bagaikan gembrengan bobrok yang berdentang mengge ma di angkasa, ke mudian terdengar seseorang berkata dengan suara menyeramkan:

“Kalau begitu, kau tentunya seorang yang bertulang keras. Baik, lohu akan mencoba ke ma mpuanmu.”

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, dari balik kegelapan berjalan keluar seorang kakek tua berjubah panjang, berperawakan pendek kecil dan ber muka panjang. Ia bertangan kosong, jenggot putihnya sepanjang setengah jengkal dan menatap sekujur badan Ku See-hong dengan sinar mata tajam.

Di belakang kakek kecil ber muka panjang itu mengikuti e mpat orang lelaki berbaju r ingkas yang masing- masing menggondo l sebilah pedang di punggungnya.

Sesudah mengetahui jelas siapa gerangan yang datang, gadis berbaju biru itu segera tertawa terkikik- kikik.

“Aku kira siapa yang telah datang? Rupanya lagi-lagi kalian anak monyet dari Lam-hay-huan- mo- kiong. Apakah lelaki busuk itu yang me mer intahkan kalian untuk datang menangkapku?”

Kakek ceking ber muka panjang  itu  mendehe m beberapa  kali, ke mudian sahutnya sambil tertawa,

“Aaah, terlalu sungkan, asal  nona  Im Yan  cu  bersedia balik ke mbali ke rangkulan sau- kiongcu kami, tentu saja kami tak akan menyusahkan dirimu, kalau tidak terpaksa akan kami taklukkan dirimu dengan me mpergunakan kekerasan.”

Paras muka Im Yan cu atau gadis berbaju biru  itu segera berubah menjadi dingin seperti es. Dengan kening berkerut dan hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya, ia berkata dengan dingin: “Kau boleh pulang dan beritahu kepada lelaki busuk itu, jangan dianggap karena bapaknya adalah saudara seperguruan dari guruku lantas dia mau main paksa. Huuuh, jika nona mu sa mpai naik pita m, tidak sungkan lagi akan kubas mi kalian se mua dari muka bumi.”

Kakek ceking ber muka panjang itu tertawa dingin, katanya:

“Baik soal wajah maupun dalam hal kedudukan, bagaimanakah dari siau-kongcu kami yang tidak pantas untuk menda mpingimu? Hmmm! Apakah kau sudah jatuh hati kepada lelaki goblok itu?”

Sembari berkata dengan sorot matanya yang tajam penuh kebencian, kakek ceking itu berpaling ke arah Ku See-hong.

Sebagai seorang pemuda yang cerdik, setelah mendengar pembicaraan tersebut Ku See-hong segera mengetahui hubungan apakah yang terjalin antara Im Yan cu, si gadis cantik itu dengan orang-orang tersebut.

Selain dari pada itu diapun merasakan hatinya amat terkesiap, sebab semenjak lima puluh tahun berselang, istana Huan- mo- kiong di La m-hay sudah a mat tersohor namanya di dalam dunia persilatan. Anggota Huan-mo-kiong tak pernah melakukan perjalanan di antara Tionggoan. Konon ilmu silat  merekapun terhitung suatu kepandaian manunggal yang me miliki jurus-jur us serangan yang luar biasa anehnya.

Sementara itu, Im Yan cu telah menger ling sekejap ke arah Ku See-hong dengan sinar mata yang lembut dan penuh perasaan cinta kasih, ke mudian kepada kakek ceking tadi katanya sambil tertawa:

“Kalau benar, mau apa kau? Nona mu me mang benar-benar telah jatuh hati kepadanya, kau boleh segera pulang dan laporkan persoalan ini kepada sau- kiongcu kalian.”

Mendadak….

Serentetan suara  dingin  yang  menyeramkan  berkumandang me mecahkan keheningan. Dengan suatu gerakan tubuh yang sangat cepat bagaikan sambaran kilat kakek ceking itu melayang ke samping Ku See-hong, ke mudian kedua jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya dengan kecepatan tinggi menotok jalan darah C i- ciat-hiat di tubuh pemuda itu, sementara kelima jari tangan kirinya mencengkeram ke arah urat nadi lawan. Serangan ini bukan saja dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, dan lagi arah serangan adalah dua buah jalan darah penting di tubuh lawan….

Dalam terperanjatnya, secepat kilat Ku See-hong me mbalikkan badannya,  telapak  tangan  kanan   dibalik   kemudian   langsung me mbabat pergelangan tangan kakek ceking tersebut.

Ilmu silat yang dimiliki kakek ceking itu me mang luar biasa sekali, dengan cepat pergelangan tangan kanannya ditarik ke belakang menghindarkan diri dari bacokan tangan Ku See-hong, ke mudian secara tiba-tiba ia menerjang ke depan dengan sodokan jari dan sodokan sikut. Dua serangan dilancarkan berbareng, ke mudian menyusul pula kaki kanannya me layang ke depan menghajar jalan darah toa-hek-hiat di bawah pusar Ku See-hong.

Sejak pertarungan serunya melawan Im Yan cu tadi, sudah banyak jurus serangan aneh yang berhasil dipahami Ku See-hong. Dengan cekatan dia mir ingkan badannya ke sa mping menghindar i sikutan kakek ceking itu, ke mudian bukannya mundur dia ma lah maju lebih  ke depan. Kedua jari tengah dan telunjuk tangan kanannya diayunkan ke muka menotok badan kakek ceking itu, sementara kaki kanannya diangkat dan menendang  ke  muka, dengan ujung kakinya dia menotok jalan darah Hu-lian-hiat di atas badan lawan.

Dalam istana Huan- mo-kiong di La m-hay, kakek ceking tersebut me mpunyai kedudukan yang tinggi sekali, ilmu silat yang dimilikinya pun belum pernah mene mui tandingan. Tapi tidak disangka olehnya kalau Ku See-hong me miliki ilmu silat sede mikian lihaynya. Saking kaget dan terkesiapnya dia sa mpai mundur dua langkah ke belakang.

Im Yan cu yang menonton jalannya pertarungan tersebut, diam- diam menganggukkan kepalanya, selintas rasa girang yang sangat aneh menghiasi wajahnya. Walaupun beberapa jurus serangan yang dilakukan oleh kedua orang itu dalam melangsungkan pertarungan jarak dekat tak tampak kehebatannya, tapi dalam pandangan mata seorang yang ahli, justru jauh lebih seru dan berbahaya daripada pertarungan apapun.

Pertempuran itu pada hakekatnya merupakan suatu pertempuran yang mempengaruhi mati  hidup mereka.  Sedemikian cepatnya perubahan jurus tersebut, hingga pertarungan tersebut hanya berlangsung dalam beberapa detik saja….

Di kala si kakek ceking itu mundur ke belakang, lelaki berbaju hitam yang berdiri di e mpat penjuru itu ada dua di antaranya yang segera melo loskan pedang dan menyerang.

Di antara kilatan cahaya tajam yang berkilauan, tampak dua bilah pedang itu menyerang jalan darah penting di seluruh badan Ku See- hong. Dengan cepat Ku See-hong menggerakkan kakinya sambil berputar untuk melo loskan diri dari anca man pedang itu, ke mudian sambil me mbentak keras tangan kirinya diayun ke depan.

“Weeess…” sebuah pukulan dahsyat dibacokkan ke tubuh le laki baju hitam yang berada di sebelah kanan, segulung angin puyuh yang disertai dengan desingan angin tajam langsung me luncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.

“Blaaamm… ” diiringi jeritan ngeri yang me milukan hati, lelaki kekar itu terbawa oleh angin serangan yang maha dahsyat tersebut sehingga mencelat sejauh dua kaki lebih dari tempat se mula. Darah segar muncrat keluar dari mulutnya, setelah kaki  tangannya gemetar keras, tewaslah orang itu dalam keadaan mengenaskan.

Termangu- mangu Ku See-hong menyaksikan peristiwa itu, dia tak menyangka kalau ayunan telapak tangannya yang begitu sederhana ternyata berhasil me mbinasakan musuhnya.

d~w Bab 

SUARA bentakan gusar menggelegar me mecahkan keheningan. Lelaki yang satunya itu segera menggerakkan pedangnya menciptakan bertitik-titik cahaya bintang yang berkilauan, secara ganas dia menusuk punggung Ku See-hong keras-keras.

Begitu mendengar suara desingan tajam berge ma dari belakang, dengan cepat Ku See-hong berpaling. Ternyata ujung pedang yang berkilauan itu sudah tinggal tiga inci dari atas badannya.

Dalam gelisah dan ce masnya telapak tangan kirinya segera dilontarkan ke belakang kemudian badannya berputar kencang, tangan kanannya dengan gerakan yang cepat tapi aneh mencengkeram pergelangan tangan kanan lelaki tadi. Dalam suatu perputaran yang diikuti dengan getaran, pedang tersebut tahu-tahu sudah berpindah tangan.

Gerakan tubuh Ku See-hong ketika menghindarkan diri tadi merupakan gerakan yang sakti dari Mi-khi-biau-tiong, sedangkan jurus serangan yang digunakan untuk mera mpas pedang lelaki tersebut merupakan suatu jurus serangan yang belum la ma berhasil dipaha mi olehnya.

Lelaki berbaju hitam itu hanya merasakan pergelangan tangan kanannya menjadi sakit, tahu-tahu pedangnya sudah berpindah ke tangan musuh. Tanpa terasa dengan perasaan terkesiap dia mundur ke belakang.

Selisih waktu yang dibutuhkan Ku See-hng untuk me mbunuh seorang musuh dan mera mpas pedang seorang lawannya boleh dibilang singkat sekali, sebab itulah  si kakek ceking yang berilmu silat sangat lihay pun tidak se mpat me mber ikan pertolongannya.

Mencorong sinar mata bengis dan buas dari balik mata kakek ceking itu, sa mbil tertawa seram dengan penuh kegusaran, katanya:

“Ta mpaknya ilmu silatmu hebat juga. Hmmm! Cuma sayang kau telah me mbunuh seorang anggota Huan-mo-kiong dari La m-hay, jangan harap kau bisa hidup lebih la ma lagi di dunia ini.” Walaupun Im Yan cu merasa girang karena ilmu silat yang dimiliki Ku See-hong telah me mperoleh ke majuan yang pesat, namun diapun merasa terperanjat sekali karena pe muda itu  telah me mbunuh seorang anak mur id dari Huan- mo-kiong.

Dia cukup mengetahui akan kebuasan serta kekejaman orang- orang Lam- hay, itu berarti dalam penge mbaraannya dalam dunia persilatan di kemudian hari, Ku See-hong akan banyak mene mui kesulitan di tangan anak mur id istana Huan- mo- kiong.

Ku See-hong yang baru pertama kali mencoba kehebatan ilmu silatnya, menjadi girang sekali setelah menyaksikan keberhasilannya. Mendengar perkataan itu, sambil tertawa seram, ujarnya:

“Apa sih hebatnya dengan Huan- mo- kiong dari La m-hay? Aku orang she Ku akan selalu menantikan pe mbalasan dendam dari kalian.”

Selama puluhan tahun belakangan, belum pernah pihak Huan- mo- kiong mengala mi penghinaan sebesar apa yang diala minya sekarang ini, maka di kala menyaksikan sikap sinis Ku See-hong terhadap orang-orang Huan-mo- kiong, kontan saja kedua orang lelaki berbaju hitam lainnya menjadi naik pita m.

Sambil me mbentak keras, pedang mereka disertai dengan desingan angin tajam yang menyayat badan, bagaikan dua ekor ular sakti langsung me mbaco k ke tubuh Ku See-hong.

Mencorong sinar mata pembunuhan yang mengerikan dari balik mata Ku See-hong, diir ingi pekikan nyaring yang me mekikkan telinga, badannya menerjang maju secara aneh. Sepasang lengannya me mbentuk gerakan bayangan busur dari sa mping badan, lalu sambil me mbentak sepasang tangan kiri kanannya dibacok me nyilang. Dua gulung angin pukulan yang berat dan dalam bagaikan samudera, secara terpisah menyerang kedua orang lelaki berbaju hitam itu.

Gerak serangan yang dilancarkan pe muda itu se muanya aneh dan luar biasa cepatnya. Kekuatan daya serangan tersebut ibaratnya omba k samudra yang menggulung di tengah topan, kehebatannya sungguh menger ikan.

Walaupun kedua orang lelaki berbaju hitam itu me miliki dasar ilmu silat yang bagus, namun bagaimana mungkin bisa menahan serangan dahsyat yang sangat mengerikan itu. Di tengah dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati, dua orang lelaki yang tinggi besar itu terlempar sejauh dua kaki lebih oleh tenaga serangan yang maha dahsyat itu sehingga tubuhnya sama sekali tak berkutik lagi untuk sela manya. Jelas mereka telah tewas di ujung angin pukulan Ku See-hong yang sangat lihay itu.

Hawa pembunuhan yang sangat mengerikan  ini sudah jelas merupakan suatu anca man yang cukup mengerikan perasaan siapa saja.

Tak terlukiskan rasa gusar si kakek ceking ketika dilihanya sudah tiga orang anak buahnya yang tewas di tangan musuh dalam sekejap mata. Sambil me mbentak gusar tubuhnya bagaikan pusaran angin puyuh segera menerjang ke depan, tangan kiri me mainkan jurus Tui-po-cu- lan (Mendorong O mba k Menahan Riak), sementara tangan kanan me mainkan jurus Heng-toan-san-gak (Me mutus kan Bukit Karang), satu jurus dengan dua gerakan serta tenaga yang berbeda bersama-sama meluncur ke muka.

Begitu angin serangan dilepaskan, angin puyuh yang tajam seperti sebuah jala yang tak berwujud, langsung menggulung tiba. Kedahsyatannya cukup menggetarkan perasaan siapa saja.

Walaupun Ku See-hong telah me mpelajari beberapa maca m kepandaian sakti yang penuh rahasia dari Bun-ji koan-su, meski pertarungannya selama beberapa kali dalam se ma la man mena mbah rasa kepercayaannya pada diri sendiri, tapi ia sendiri sama sekali tidak mengerti sebetulnya sudah berapa banyak kepandaian yang berhasil dia paha mi dan berapa banyak pula  yang bisa dia pergunakan.

Hawa murninya segera dihimpun ke dalam pusar, menyaksikan serangan yang dilancarkan pihak lawan sangat kuat dan dahsyat, dia sedikitpun tak berani bertindak gegabah. Tangan  kirinya  pun me lepaskan   segulung   tenaga   pukulan  yang   le mbut   untuk me mancing serangan langsung pihak musuh, se mentara tubuhnya me layang lima jengkal ke samping menghindar kan diri dari anca man itu. Lalu badannya mela mbung, sepasang kakinya secara beruntun me lancarkan tendangan kilat menganca m jalan darah W-too-hiat serta Ki-lian-hiat di bawah perut lawan.

Begitu serangan menggulung tiba, tenaga pukulan  serasa menekan di dada, lalu tulang kakipun terasa sakit sekali bagaikan disyat-sayat dengan pisau.

Dia m-dia m Ku See-hong merasa terperanjat, segera pikirnya: “Tubuhku  terlindung  oleh aliran tenaga  aneh yang amat  hebat,

sedangkan kakiku sa ma  sekali tidak. Entah bagaimana  jadinya bila

kakiku sa mpa i terkena serangan…?”

Mendadak dia menarik ke mbali sepasang kakinya, lalu badan sedikit bergetar. Badannya sudah jumpa litan di tengah udara dan me layang mundur sejauh satu kaki lebih dari te mpat se mula.

Kakek ceking itu mendengus dingin dengan nada yang menyeramkan, sambil berebut maju ke depan, sepasang telapak tangannya melancarkan bacokan berulang kali. Gulungan tenaga pukulannya seperti gulungan o mbak di tengah samudera meluncur datang berlapis-lapis.

Mencorong sinar buas dari balik mata Ku See-hong karena marah, sambil menggertak gigi tangan kiri  kanannya  secara aneh me lancarkan pukulan-pukulan berantai. Ternyata kedahsyatannya pun mengerikan  sekali,  setiap  serangan  yang  dilepaskan  tentu me mbawa desingan  angin  tajam  yang  ma mpu  untuk menghancur kan batu nisan.

Sebagaimana diketahui, secara resmi Ku See-hong belum pernah me mpe lajari serangkaian ilmu pukulan. Jurus-jurus serangan yang dipergunakannya sekarang kebanyakan adalah merupakan kupasan- kupasan yang berhasil ditemukannya sendiri dari tiga gerakan jurus Hoo-han-seng-huan tersebut. Akan tetapi, nyatanya serangan yang dipergunakan secara mengawur hanya berdasarkan perasaan saja itu, justru telah berubah menjadi serangkaian ilmu pukulan yang ganas, buas dan lihaynya bukan alang-kepalang….

Pada waktu itu, dia telah mendapatkan tenaga murni warisan Bun-ji koan-su yang telah dilatih sela ma puluhan tahun, ke mudian me mpe lajari pula ilmu Khikang Kan-kun Mi-siu yang maha sakti tersebut, kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang boleh dibilang menga lir tiada hentinya seperti air dari gunung, kuat, lancar dan tiada berputusan….

Kenyataan ini bukan saja jauh di luar dugaan si kakek ceking tersebut, sekalipun Ku See-hong juga merasakan rasa kaget dan tercengang. Ia tak mengira kalau di dalam tubuhnya  terdapat tenaga dalam yang begini se mpurnanya. Akan tetapi, diapun tahu bahwa kese muanya ini adalah warisan berharga yang disalurkan Bun-ji koan-su kepadanya.

Kiranya sampai detik itu Ku See-hong masih belum tahu kalau tenaga murni yang dipunyai Bun-ji koan-su telah disalurkan se mua ke dalam tubuhnya hingga mengakibatkan tokoh maha sakti itu tewas akibat kekeringan.

Demikianlah serangan demi serangan yang dilancarkan Ku See- hong kian la ma kian berta mbah kuat, dibandingkan dengan serangan si kakek ceking yang ma kin la ma se ma kin gencar menciptakan suatu keadaan yang seimbang. Dengan demikian pertempuran yang me libatkan kedua orang inipun ma kin la ma semakin sengit.

Beberapa gebrakan ke mudian, tenaga pukulan mereka berdua sudah me liput i wilayah seluas dua kaki lebih. Daun kering dan ranting kecil yang berserakan di tanah sudah ikut melayang-layang di udara, deruan angin pukulan yang dahsyat semakin me mekikkan telinga.

Pertarungan ini benar-benar merupakan suatu pertempuran seru yang jarang dijumpa i dalam dunia persilatan. Im Yan cu yang berilmu silat sangat tinggi pun, saat itu dibikin kaget bercampur tercengang setelah menyaksikan kejadian itu. Dari tadi sampai sekarang dia mengawasi terus kepandaian silat yang dimiliki Ku See-hong, yang membuatnya terperanjat adalah kungfu yang dimiliki Ku See-hong tersebut kian detik kian berta mbah maju pesat. Kenyataan semacam ini benar-benar merupa kan suatu peristiwa yang aneh sekali, hal mana me mbuat si nona yang cerdik pun dibikin kebingungan dan tidak habis mengerti.

Ketika baru pertama kali berputar tadi, Ku See-hong masih kelihatan asing sekali dengan jurus-jurus serangannya. Sambil bertarung menghadapi musuh, dia m-dia m dia me mutar otak untuk me mikirkan perubahan-perubahan selanjutnya guna menghadapi ancaman lawan. Tapi la mbat laun serangan-serangan yang dipergunakan olehnya makin la ma se makin dahsyat, jurus-jurus serangannya pun semakin aneh dan sakti, maka seluruh perhatiannya pun segera dipusatkan ke tubuh lawan, otomatis tenaga serangannya juga semakin bertambah kuat dan hebat.

Sebenarnya kakek ceking itu seorang jago kawakan yang sudah pernah mengala mi beratus-ratus kali perte mpuran seru. Akan tetapi belum pernah dia jumpai seorang musuh tangguh yang begitu anehnya seperti Ku See-hong.

Tanpa terasa hawa murninya dihimpun ke mbali, lalu  turun  tangan dengan sepenuh tenaga. Mendadak saja tenaga serangan yang terpancar keluar dari balik telapak tangannya semakin kuat. Pukulan demi pukulan yang dilancarkan ibarat bacokan ka mpa k yang me mbelah bukit, desingan angin tajam se makin me nderu- deru.

Dalam hati kecilnya dia lantas berpikir:

“Entah siapakah suhu bocah ini? Mungkinkah seperti suhu kiongcu ka mi dan Im Yan cu yang merupakan seorang tokoh sakti dari dunia persilatan? Tapi mas ih ada jagoan mana lagi dalam dunia persilatan dewasa ini yang me miliki kepandaian silat jauh melebihi kiongcu kami, Han-thian It-kia m (Pedang Sakti Dari Langit) C ia Cu- kim?” Sambil me layani suatu pertempuran yang seru dan gencar, tiada hentinya kakek ceking itu me mutar otak untuk menduga-duga asal- usul perguruan dari Ku See-hong.

Tapi mana ia sangka kalau Ku  See-hong sesungguhnya adalah mur id terakhir dari Bun- ji koan-su, si manusia berbakat dari dunia persilatan yang selama seratus tahun belakangan ini tiada tandingannya di kolong langit?

Sudah barang tentu hubungan seperti ini tak akan diduga oleh siapapun juga, kecuali bila Ku See-hong mengguna kan jurus Hoo- han-seng-huan tersebut.

Ku See-hong sendiripun dia m-dia m merasa amat terperanjat ketika dilihatnya serangan yang dilancarkan pihak lawan makin la ma semakin gagah dan tenaga pukulannya makin la ma se makin dahsyat, pikirnya:

“Heran, kakek ceking yang sedikitpun t idak menarik ini me ngapa bisa me miliki tenaga pukulan yang sedemikian dahsyat dan hebatnya?”

Berpikir sampa i di situ, Ku See-hong lantas mengambil keputusan untuk menghadapi dengan jurus sakti Hoo-han-seng-huan yang terdiri dari tiga gerakan itu.

Di pihak lain, sementara itu si kakek ceking juga bersiap-siap menggunakan    jurus    serangan    yang    me matikan     untuk me mbinasakan lawannya.

Terdengar suara bentakan nyaring menggelegar me mecahkan keheningan, tiba-tiba tulang belulang di sekujur badan si kakek ceking itu me mperdengarkan suara ge merutuk yang me mekikkan telinga. Setelah melo mpat ke udara mendadak tubuhnya  berhenti tak bergerak, tangan kanannya secara aneh melancarkan tiga buah pukulan dahsyat ke arah Ku See-hong.

Tampak serentetan cahaya berkilauan seperti sinar bintang menggulung dengan hebatnya ke arah depan. Segulung hawa pukulan yang kuat, bagaikan gulungan ombak dahsyat di tengah samudra langsung meluncur ke depan….

Satu ingatan dengan cepat me lintas di dalam benak Ku See- hong, itulah gerakan pertama dari jurus Hoo-han-seng-huan yang disebut Thian-ciu-cian-im (Langit Mendung Awan Menggulung).

Pekikan nyaring yang menggetarkan angkasa tiba-tiba berkumandang dari mulut Ku See-hong, ke mudian lengannya berputar secara aneh. Di antara perputaran tadi, cahaya tajam yang berkilauan segera me mancar keluar dari sekujur badannya.

Bagaikan sukma gentayangan saja, secara aneh Ku See-hong menerjang ke muka dan meluncur masuk ke balik gulungan angin pukulan tersebut.

“Sreeett,” serentetan cahaya putih secepat kilat meluncur ke depan.

Menyusul ke mudian, kakek ceking itu me mperdengarkan pekikan ngeri yang me milukan hati menjelang saat ke matiannya.

Sebuah batok kepala yang sudah hancur dan penuh berlepotan darah  menggelinding  di  atas  tanah,  darah  segar   bercucuran me mbasahi seluruh per mukaan tanah, sungguh menger ikan sekali ke matiannya.

Menyaksikan akibat dari serangannya itu, untuk sesaat lamanya Ku See-hong menjadi tertegun, mimpipun dia tak menyangka kalau jurus Thian-ciu-cian- im (Langit Mendung Awan Menggulung) yang dipergunakannya itu me miliki daya kekuatan yang begini dahsyatnya. 

Im Yan cu sendiripun dibikin sampai terbelalak matanya dengan mulut melo ngo sa mpai la ma sekali dia baru bisa menghe mbus kan napas panjang.

Kekeja man dan kebrutalan Ku See-hong di dalam melancarkan serangannya menimbulkan perasaan bergidik dalam hati kecilnya, apalagi dalam satu mala man saja, ia telah me mbinasakan beberapa orang jago lihay kelas satu di dalam dunia persilatan. Pada saat itulah, mendada k….

Dari kejauhan sana berkumandang suara pekikan panjang yang amat me me kakkan telinga. Suara pekikan itu rendah tapi berat, menggetarkan perasaan Im Yan cu maupun Ku See-hong yang berada di sana.

Menyusul kemudian, ta mpaklah sesosok bayangan manus ia entah dari mana datangnya, tahu-tahu sudah berdiri lebih kurang tiga kaki di hadapan Ku See-hong tanpa menimbulkan suara barang sedikitpun juga.

Orang itu mengenakan pakaian serba hitam, mukanya coreng- moreng dengan beraneka warna hingga kelihatan jelek sekali. Dia berdiri kaku di situ tanpa bergerak maupun mengucapkan sepatah kata.

Bukan saja dandanan orang itu ta mpak sangat aneh lagipula arah kedatangannya juga sukar diduga, hingga  mendatangkan suatu perasaan aneh yang menyeramkan bagi siapapun yang melihatnya.

Bergidik hati Im Yan cu setelah menyaksikan sorot mata orang yang amat tajam, dia tahu kepandaian silat yang dimiliki manus ia aneh ini a mat lihay, bahkan dia sendiripun belum ma mpu untuk menandinginya….

Tapi siapakah dia? Benarkah dalam dunia persilatan masih terdapat manusia aneh yang begini lihaynya?

Sekali lagi Im Yan Cu menga mati paras muka manusia aneh itu dengan seksama, akhirnya dia baru tahu kalau manusia aneh itu hanya mengenakan selembar topeng kulit manusia. Tak heran kalau mukanya begitu je lek dan mengerikan.

Ku See-hong sendiripun segera me mpertinggi kewaspadaannya ketika me lihat akan ke munculan lawan yang begitu mendadak. Perasaan halusnya telah berkata bahwa orang itu datang karena hendak mencari dirinya.

Benar juga, dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau belati, manus ia aneh bertopeng itu mengawasi sekejap mayat- mayat yang terkapar di tanah akibat termakan oleh tiga gerakan jurus Hoo-han-seng-huan dari Ku See-hong tadi, yakni: Jian-sat-kui- pok, Tu-cing-kui-pok, serta si kakek ceking.

Pada mulanya sinar mata itu masih me mperlihatkan keragu- raguannya, tapi sejenak kemudian telah berubah dengan sinar buas yang teramat mengerikan. Diawasinya wajah Ku See-hong itu tanpa berkedip.

Im Yan cu yang lebih berpengala man segera dapat merasakan sesuatu yang tak beres pada manusia aneh itu. Ia dapat melihat betapa besarnya hasrat manusia aneh itu hendak me mbunuh Ku See-hong. Tanpa terasa ia lantas berpikir:

“Ilmu silat yang dimiliki manus ia aneh bertopeng ini bukan kepalang lihaynya, aku jelas tak sanggup untuk menandinginya. Andaikata ia benar-benar akan menyerang dengan keji terhadap Ku See-hong, kendatipun dia memiliki khikang pelindung badan yang sangat aneh, kuatirnya dia tetap tak akan tahan juga.”

Berpikir sa mpai di situ, diam-dia m Im Yan cu menghimpun tenaga dalamnya untuk me mpersiapkan diri. Tak terlukiskan rasa tegang yang menceka m perasaannya sekarang, dia sendiripun tidak mengerti apa sebabnya dia bisa ikut-ikutan menjadi sedemikian tegangnya.

Bagaimana dengan Ku See-hong sendiri? Tentu saja diapun tidak terkecuali, ma lah selain rasa tegang, diapun merasakan hatinya sangat tidak tenteram.

Kemunculan manus ia aneh bertopeng itu seketika merubah suasana di sekitar tempat itu menjadi lebih tegang dan mengerikan, mengikut i berlalunya sang waktu, suasana yang istimewa dan serba mence kam itu kian la ma terasa kian bertambah tebal….

Mendadak manusia aneh bertopeng itu tertawa dingin dengan suaranya yang menggidikkan hati, ke mudian kepada Ku See-hong tegurnya dengan nada ketus: “Kaukah yang me mbinasakan ketiga orang yang terkapar di atas tanah itu?”

Yang dimaksudkan adalah ketiga orang yang tewas oleh jurus Hoo-han-seng-huan dari Ku See-hong itu.

Kendatipun Ku See-hong merasakan sesuatu rasa takut yang sangat aneh di dalam hati kecilnya semenja k berjumpa dengan manus ia aneh bertopeng itu, tapi keangkuhan serta kekerasan kepalanya me mbuat ia pantang menyerah dengan begitu saja. Dengan wajah dingin bagaikan es dia mendengus  ketus, lalu jawabnya dengan sinis:

“Betul, akulah yang menghantar keberangkatan mereka,  mau  apa kau…?”

Tercekat perasaan manusia aneh bertopeng itu sehabis mendengar perkataan tersebut, diam-dia m pikirnya:

“Aneh, kenapa dia bisa me miliki keberanian sebesar ini?”

Berpikir demikian, manusia aneh itu bertopeng itu segera mendengus dingin, la lu katanya:

“Siapakah kau? Apa hubunganmu dengan Bun-ji koan-su si makhluk tua itu? Sekarang dia berada di ma na?”

Secara beruntun dia mengajukan tiga buah pertanyaan, yang mana me mbuat Ku See-hong benar-benar merasakan hatinya a mat terperanjat, tapi dia pun merasa gusar sekali, sebab dia menyebut gurunya sebagai seorang makhluk tua.

Ku See-hong sama sekali  tidak  menjawab  pertanyaannya  itu, ma lahan dengan dingin dia balik bertanya:

“Lantas siapa pula kau? Buat apa kau ajukan pertanyaan tersebut kepadaku?”

Sekali lagi manusia aneh bertopeng itu merasa terkesiap tapi di luaran dia tetap berkata dengan dingin: “Kau tak usah mengurusi siapa aku. Sebelum ajalmu tiba nanti kau bakal mengetahui dengan sendirinya.”

“Kalau begitu pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan pun jangan harap bisa me mperoleh  jawaban yang sebenarnya dari diriku.”

Manusia aneh bertopeng itu segera tertawa seram:

“Heeehh… heeehh… heeehh… buat apa mesti menunggu jawabanmu lagi?” ejeknya, “Dari mimik wajahmu  ketika  berkata tadi, aku telah me mpero leh jawaban yang sesungguhnya.”

Mendengar perkataan itu, dia m-dia m Ku See-hong berpikir lagi: “Orang ini betul-betul jahat dan busuk, tapi siapakah orang ini?”

Sementara itu, manus ia aneh bertopeng itu sudah berkata lagi dengan suara yang menyeramkan:

“Heeehh… heeehh… heeehh… Kan-kun Mi-siu khikang, ilmu gerakan tubuh Mi-khi-biau-tiong-sin-hoat, tiga gerakan jurus Hoo- han-seng-huan, rupanya sudah kau pelajari se muanya?”

Mendengar ucapan ini, Ku See-hong merasakan hatinya sema kin terkesiap, “Mungkinkah aku telah bertemu dengan setan?” Demikian ia me mbatin, “Kalau tidak apa sebabnya ia bisa mengetahui seluruh kepandaian rahasia perguruanku?”

Im Yan cu juga tampak tercengang bercampur kaget setelah mendengar perkataan itu. Dari penuturan suhunya ia pernah mendengar tentang ketiga maca m kepandaian sakti andalan Bun-ji koan-su tersebut. Mungkinkah Ku See-hong adalah mur idnya? Dan mungkinkah ketiga maca m ilmu silat maha sakti tersebut telah berhasil dipelajarinya?

Satu ingatan dengan cepat melintas pula di dalam benak Ku See- hong, ia jadi teringat ke mba li dengan pesan dari Bun-ji koan-su:

“Ilmu Khi- kang Kan-kun- mi-s iu-kang- khi adalah ilmu sakti yang paling top dalam kepandaian silat, jika kepandaian sakti ini sampa i diketahui oleh umat persilatan maka kehidupanmu di dunia ini akan berubah menjadi sangat berbahaya, ingat… ingat…!”

Teringat akan hal itu, Ku See-hong segera berlagak pilon, bagaikan tidak me maha mi perkataan orang, dia lantas berseru:

“Hei, apa yang kau katakan? A ku sa ma sekali tidak mengerti!” Manusia aneh bertopeng itu terkekeh-kekeh menyera mkan,

katanya:

“Heeehh… heeehh… heeehh… tidak kusangka kalau kau pun seorang manusia licik yang pandai berlagak pilon, kalau begitu akan kuhantar keberangkatanmu ma lam ini juga!”

Baru selesai dia berkata, Im Yan cu telah menerjang  maju dengan gerakan lincah, sa mbil tertawa dingin segera tegurnya:

“Hei, kau ingin menjadi seorang nelayan beruntung yang tinggal me mungut hasil? Hmm, tidak akan segampang itu, dia adalah  musuh besarku, ma lam ini aku hendak mencincangnya sendiri menjadi berkeping- keping, aku tidak me mperkenankan siapapun untuk menca mpur i urusan ini.”

Setelah menyaksikan gerakan tubuh dari Im Yan cu tadi, manusia aneh bertopeng itu tertawa dingin, kemudian setelah mendengus tegurnya:

“Siapakah kau? Berani benar berbicara besar di hadapanku, hmmm… nanti, kau boleh sekalian turut berangkat bersamanya!”

Im Yan cu tertawa terkekeh-kekeh dengan mer dunya. Suara tertawanya indah dan le mbut bagaikan kicauan burung nuri, suaranya penuh mengandung daya pikat yang me mbetot sukma.

Agak tertegun manusia aneh bertopeng tersebut oleh gelak tertawa orang, dengan cepat dia berpikir:

“Heran, kenapa bocah perempuan ini bisa demikian mir ipnya dengan sumoayku? Di tengah ke merduan suara tertawanya, terdapat semacam daya pikat yang sanggup menggetarkan sukma orang?” Sementara itu, perasaan Ku See-hong la mbat laun telah menjadi tenang kembali. Dia hendak me mbiarkan kedua orang itu bertarung sendiri lebih dulu, ke mudian secara dia m-dia m ia baru akan ngeloyor pergi meninggalkan te mpat itu.

-oodwoo-
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).