Dendam Sejagad Jilid 03

 
Jilid 03

DENGAN kecerdasan yang dimiliki kedua orang pe muda itu, sekalipun harus me mpelajari ilmu silat yang amat sulit, ternyata asal diberi petunjuk mereka segera mengerti. Apalagi sikap  mereka terhadap Bun-ji Koan-su pun sopan dan menurut sekali, tak heran kalau Bun-ji- koan-su tak sayang untuk mewariskan segenap ilmu silat yang dimilikinya itu kepada mereka.

Malahan dia pun berhasrat untuk mewariskan juga ilmu khikang yang sakti dan tiada taranya itu kepada mereka berdua.”

Ketika berbicara sa mpai di sini, manusia aneh itu menggertak giginya kencang sehingga berbunyi gemerutukan, sekujur badannya gemetar keras, dari balik mata tunggalnya terpancar keluar sinar tajam yang mengerikan. Jelas kalau perasaannya waktu itu diliput i oleh rasa gusar dan dendam yang hebat.

Ku See-hong bukan orang bodoh, ketika menyaksikan sikap seram dari manusia aneh itu, ke mudian dicocokkan pula dengan kejadian yang pernah dialaminya sewaktu hendak memanggil suhu kepadanya tadi, dengan cepat ia dapat mengambil kesimpulan bahwa kedua orang pemuda ini pasti sudah me lakukan pengkhianatan sehingga berakibat fatal bagi gurunya itu.

Berpikir sa mpai di sini, tanpa terasa Ku See-hong bertanya, “Locianpwe, apakah Bun-ji koan-su telah mewaris kan ilmu khikang tersebut kepada mereka? Siapakah na ma kedua orang itu?”

Sampa i sekarang Ku See hong masih berlagak seolah-olah tidak tahu kalau manusia aneh itu adalah Bun-ji koan-su pribadi. Dia menanyakan na ma pe muda itu karena dia telah berhasrat  untuk me mba laskan dendam bagi Bun-ji koan-su di ke mudian hari.

Manusia aneh itu sangat dipengaruhi oleh emos i dalam hatinya, dia lupa kalau tadi pernah me merintahkan kepada Ku See-hong untuk tidak menimbrung, jawabnya dengan sinis:

“Huuuh, kawanan kurcaci maca m dia juga pingin mengincar ilmu sakti, kalau bukan rejekinya…”

Mendadak paras muka manus ia aneh itu berubah hebat, bentaknya keras-keras:

“Ku See-hong, lohu me larang kau banyak bertanya, mengapa kau berani menimbrung?”

Dia m-dia m Ku See-hong merasa kegelian, karena tidak sadar dia telah bertanya, sedang manusia aneh itupun sudah me mber i separuh jawaban kepadanya, mungkin seandainya jawaban itu sudah diberikan secara komplit dia benar-benar akan marah besar.

Berpikir demikian, buru-buru anak muda itu berseru:

“Oooh… maaf. Maaf locianpwe, lain kali boanpwe pasti tak akan menimbrung jalan cerita mu lagi.”

Sudah barang tentu manusia aneh itupun  dapat  me maha mi maks ud  ucapan  dari  Ku  See-hong  tadi,  tapi  dasar  wataknya  me mang aneh maka jawaban yang diberikan setengah ja lan itupun sengaja dia lakukan de mikian, sekalipun di dalam hati kecilnya dia sendiripun merasa kegelian. Yaa, kalau diri manus ia berwatak aneh telah saling berjumpa, meski di dalam hati kedua belah pihak mengakui lawannya sebagai guru dan murid,  na mun  di  luaran  mereka  bersikap  sebaliknya me mang begitulah keanehan yang sering terjadi di dunia ini.

Selang beberapa saat kemudian, dengan wajah dingin manus ia aneh itu me lanjutkan ke mbali kata-katanya:

“Boan-ji koan-su  dengan  me mbawa  kedua  orang  mur idnya me lanjutkan pesiarnya kemana- mana dan melewati kehidupan seperti dewa.

Suatu hari, di kala  Bun  ji  koan  su  me mbawa  kedua  orang  mur idnya berpesiar ke selat Sam shia di bukit Wu-san, tiba-tiba terjadi suatu musibah yang merupakan suatu peristiwa yang paling menyakit kan hati Bun ji koan su sepanjang hidupnya.

Rupanya ketika tiba di selat Sam shia di bukit Wu-san, secara tiba-tiba Bun ji koan su telah berjumpa dengan seorang tokoh sakti yang berilmu t inggi dan berna ma besar dalam dunia persilatan, Thi kiam kim ciang Ceng Ih lwe (pedang baja pikulan e mas yang menggetarkan jagad) dengan me mbawa sekawanan jago lihay mengadakan penghadangan dirinya.

Bun-ji koan-su sudah a mat je mu sekali terhadap segala bentuk pembunuhan yang terjadi dalam dunia persilatan, maka terhadap kawanan jago lihay yang dipimpin oleh Thi kiam kim ciang ceng ih lwe tersebut, dengan rendah hati dia me mohon kepada lawannya agar jangan mengobarkan pertarungan yang bisa berakibat banyaknya korban yang akan berjatuhan.

Tapi Thi kiam kim ciang Ceng Ih Iwe mendesak terus menerus bahkan mengejek dan menghina Bun-ji koan-su.

Sesabar-sabarnya Bun-ji koan-su, dia tetap adalah seorang  manus ia, bagaimana  mungkin dia sabar terhadap ejekan dan cemoohan dari lawannya itu? Maka dengan hawa nafsu me mbunuh yang berkobar, Bun-ji koan-su me mbuka  serangannya. Suatu pertempuran sengit yang t iada taranya pun dengan cepat berkobar di sana. Dalam pertempuran itu, hampir saja selembar  nyawa Bun-ji koan-su lenyap di ujung tangan Thi kiam kim ciang Ceng Ih Iwe tersebut.”

Ku See hong yang mendengar ceritera itu dia m-dia m merasa amat terkesiap, tanpa terasa ia bertanya lagi dengan ce mas:

“Locianpwe, ilmu silat yang dimiliki Bun- ji koan-su begitu lihay, mengapa ia bisa menderita kerugian?”

Manusia aneh itu ke mbali mendengus dingin, dia tidak menjawab pertanyaan dari Ku See hong, mela inkan me lanjutkan ke mbali ceriteranya itu.

“Ternyata menghadapi semua jurus serangan yang dilancarkan Bun ji koan su tersebut, seolah-olah Thi kiam kim ciang ciang ih- lwe sudah me mpunyai perhitungan yang matang. Setiap kali menghadapi serangan yang gencar dan dahsyat, dia selalu bisa menghindarkan diri secara ga mpang dan sederhana, malah jurus serangan balasan yang digunakan semuanya merupakan jurus-jur us tandingan untuk me matahkan anca man Bun-ji koan-su.

“Menghadapi keadaan seperti ini, Bun-ji koan-su benar-benar merasa terkejut bercampur heran, padahal semua jurus serangan yang digunakan berasal dari sejilid kitab pusaka ilmu silat yang bernama Cang-ciong-pit-kip. Sekalipun ilmu silat Thi kiam kim ciang Ciang Ih huang sedemikian dahsyatnya, juga tak akan sedahsyat  itu. Maka timbul suatu perasaan curiga dalam hatinya.

Selama ini, kepandaian silat yang dimilikinya hanya pernah diwariskan kepada dua orang mur id kesayangannya, setengah jurus pun belum pernah dibocorkan ke dalam dunia persilatan, atau mungkin ada persoalan dengan kedua orang murid kesayangannya itu?

Bun-ji koan-su segera me manggil kedua orang muridnya dan mendesak kepada mereka untuk mengaku, apakah  mere ka  telah me mbocor kan rahasia ilmu silat yang dimilikinya? “Siapa yang pernah berbuat salah harusnya tentu gelisah, siapa yang berkentut mukanya tentu merah.

Siapa tahu setelah dipaksa dan didesak terus- menerus, akhirnya mereka mengaku juga. Ternyata kedua orang murid kesayangannya itu, bukan lain adalah murid kesayangan dari Thi kiam kim ciang Ceng Ih huang. Mereka adalah dua orang manusia paling berbakat yang pernah dite mui dalam dunia persilatan waktu itu. Agaknya mereka me mang sengaja diutus untuk mencur i belajar ilmu silat yang dimilikinya agar bisa me mbas mi Bun-ji koan-su di suatu ketika dan merampas kitab pusaka Cang-ciong-pit-kip miliknya.

Sungguh tak terlukiskan rasa sedih dan kesal yang dialami Bun-ji koan-su waktu itu. Diapun menjadi begitu mendenda m kepada seluruh umat persilatan yang berada di dunia ini karena kelicikan dan kebusukan hati mere ka yang telah me mperguna kan cara keji, rendah dan terkutuk semaca m itu untuk menghadapinya.

Di dalam marahnya, dia segera mengeluarkan seluruh kepandaian silat maha sakti yang dimilikinya untuk me lakukan pembunuhan serta pe mbantaian secara besar-besaran.

Siapa tahu pada saat itulah kedua orang murid pengkhianat itu juga ikut terjun ke arena pertempuran, bahkan bersama kawanan jago silat yang lain mereka bersama-sama mengerubuti Bun-ji koan- su seorang.

Agaknya sebelum masuk menjadi anggota perguruan Bun-ji koan-su, kedua orang mur id pengkhianat itu sudah merupakan jago muda yang kena maan di dalam dunia persilatan. Ilmu silat yang mereka miliki boleh dibilang termasuk kelas satu dalam dunia persilatan. Yang seorang bernama Thi bok sia kiam (pedang sakti kayu baja) Cu Pok, sedangkan yang lain bernama Jian bun kiam ciang (telapak tangan e mas pe mbabat nyawa) Tu Pok- kim….”

Setelah mendengar kedua na ma tersebut, Ku See-hong mengingatnya dalam-dala m di hati. Dia sudah bertekad akan mencari kedua orang pengkhianat tersebut, untuk di ke mudian hari me mbuat pembalasan. Ketika menyebutkan na ma dari kedua orang mur id pengkhianat tersebut, orang aneh itu juga turut berhenti sebentar, sinar mata tunggalnya yang tajam bagaikan se mbilu mengawasi wajah Ku See hong tak berkedip, tapi dengan cepat hatinya menjadi sangat lega. Lanjutnya ke mudian lebih jauh:

“Ilmu silat mereka berdua sesungguhnya sudah amat lihay, apalagi dalam setahun belakangan ini me ndapat petunjuk yang seksama dari Bun-ji koan-su, hal mana me mbuat ilmu silatnya mendapat ke majuan yang sedemikian pesatnya sehingga sama sekali tidak berada di bawah kepandaian Thi kiam kim ciang Ceng Ih-huang yang me mang lihay itu.

Oleh sebab itu, di bawah kerubutan dari beberapa orang jago tangguh yang luar biasa lihaynya itu, Bun-ji koan-su merasakan tekanan-tekanan yang sangat berat sehingga merasa kepayahan sekali.

Pertempuran itu boleh dibilang merupakan pertempuran sengit pertama yang pernah diala mi Bun-ji koan-su sepanjang hidupnya. Meski begitu ilmu silat yang dimiliki Bun-ji koan-su me mang benar- benar telah mencapai puncak kese mpurnaan yang tak terkirakan.

Kedua belah pihak telah me libatkan diri dalam pertarungan sengit selama sehari se mala m la manya, sedemikian sengitnya pertarungan tersebut seakan-akan bumi ikut berguncang dan langit ikut berobak, kehebatan serta kesengitannya sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Akhirnya  dalam pertarungan   itu   Bun- ji   koan-su   berhasil me mbantai tiga puluhan orang jago lihay termasuk juga Thi- kiam kim-ciang Ceng Ih-huang sendiripun tak berhasil melo loskan diri dari bencana. Dia tewas di ujung telapak tangannya Bun-ji koan-su, juga pertempuran  sengit  yang  menggetarkan  sukmapun   sudah mende kati pada akhir.

Thi-bo k sin-kia m Cu Pok dan Jian-hun kim-ciang Tu Pok kim rupanya telah menyadari bahwa keadaan yang menguntungkan bagi mereka sudah lewat. Kedua-duanya segera berlutut di hadapan Bun-ji koan-su dan menggunakan sele mbar bibirnya yang pandai, berusaha me minta pengampunan. Mereka mengatakan telah dipaksa oleh orang persilatan untuk melakukan perbuatan mengkhianati perguruan yang a mat terkutuk itu dan merasa amat menyesal dan bertobat bahkan kata mereka bersedia  untuk menebus dosa dan kesalahan yang telah mereka lakukan.

Menurut kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan, orang bilang Bun-ji koan-su ber muka dingin berhati kaku, kejam dan sa ma sekali tak berperasaan…

Tapi bagaimanapun keji dan tak berperasaannya dia, bagaimana mungkin tega untuk me mbunuh dengan tangan sendiri terhadap mur id- mur id didikannya? Waktu itu perasaannya benar-benar amat sedih, tersiksa dan sangat menderita.

Setiap kali Bun-ji koan-su mengerahkan tenaga dalamnya untuk bersiap-siap me mbinasakan kedua orang pengkhianat tersebut, hatinya selalu menjadi  le mah ke mba li dan merasa tak tega. Sementara kedua orang pengkhianat itupun sudah menangis tersedu-sedu dengan amat sedihnya,  me mbuat  siapa  saja  yang me lihat hal itu turut menjadi iba dan muncul perasaan kasihan.

Maka hati Bun-ji Koan-su pun menjadi lunak ke mbali. Dia hanya menda mprat serta menasihati kedua  orang  pengkhianat  tersebut ke mudian mengusirnya dari perguruan.

Waktu itu dia pun bersumpah kepada langit, sepanjang hidup tidak akan mener ima mur id lagi. Diapun me mpunyai suatu harapan dan keinginan.

Dia hendak mewariskan ketiga maca m ilmu rahasia ma ha saktinya kepada seorang manusia yang berbakat, tapi dia tak akan menerima budi pe mbalasan dan orang itu. Diapun tak akan mengakui dirinya sebagai guru orang itu. Itulah sebabnya pelbagai peraturan yang aneh dan hampir tidak mendekati perike manus iaan telah bermunculan, sesungguhnya hal tersebut merupakan akibat dari kesedihan Bun-ji koan-su sejak mener ima dua orang murid yang akhirnya berkhianat. Ketika berbicara sampai di situ dari balik sinar mata tunggal manus ia aneh itu segera terpancar keluar rasa sedih  dan permintaan maaf, diawasi Ku See-hong lekat-lekat.

Sementara Ku See-hong sendiripun sedang berpikir: Oooh… rupanya karena alasan inilah maka dia enggan disebut sebagai suhu olehku.

Setelah berhenti sebentar manusia aneh itu ke mbali melanjutkan kata-katanya:

“Setelah Bun-ji Koan-su me mbunuh Thi-kia m-kim-ciang-ceng Ih- huang, lalu dengan sadar welas kasih  me lepaskan  kedua  orang mur id pengkhianat pergi. Tindakan ini boleh dibilang merupa kan suatu tindak kesalahan yang paling besar. Tapi karena kesalahan tersebut akhirnya ia harus menanggung akibatnya sampai detik terakhir dari kehidupannya.

Waktu itu perasaan Bun- ji Koan-su benar-benar putus asa, kecewa dan tidak bersemangat lagi. Kendatipun dia mas ih berpesiar ke seantero jagad, namun sudah tiada kege mbiraan lagi untuk menikmati keindahan alam sekitarnya.

oooOOOooo

SEJAK Bun-ji Koan-su terjun ke dalam dunia persilatan, waktu itu ada seorang pendekar perempuan yang cantik dan romantis selalu mengejar dirinya walau sampai di ujung langit pun untuk menyatakan perasaan cinta kasihnya.

Pendekar perempuan itu bukan saja me miliki wajah yang cantik, lagipula berhati suci bersih dan cerdik sekali.

Tapi dasar wataknya me mang aneh, ternyata Bun-ji Koan-su sama sekali tidak menanggapi luapan cinta kasih dari pendekar perempuan itu, malahan dengan kata-kata yang tajam dan pedas ia telah menyakiti perasaan gadis itu. Ketika gadis itu melihat kekasihnya berhati dingin, tak berperasaan bahkan menyakit i hatinya dengan kata-kata tajam dan pedas, tahulah dia bahwa semua cinta kasih yang diperlihatkannya selama ini tidak me mperoleh tanggapan sebagaimana mestinya. Ketika itu dia menjadi sedih dan putus asa… dari cinta ia menjadi benci dan mengguna kan pedangnya siap untuk membunuh orang yang dicintainya itu.

Suatu pertempuran sengitpun segera berkobar antara Bun-ji Koan-su melawan pendekar pere mpuan itu. Kalau dibicarakan sesungguhnya kejadian ini me mang aneh dan sukar dipercaya.

Ternyata ilmu silat yang dimiliki gadis itu sede mikian lihay dan saktinya sehingga boleh dibilang sa ma sekali tidak selisih jauh bila dibandingkan dengan Bun-ji Koan-su sendiri.

Kenyataan ini tentu saja me mbuat Bun-ji Koan-su menjadi kaget, tercengang dan keheranan, mimpi pun dia tak menyangka kalau gadis tersebut me miliki kepandaian yang sebegitu lihaynya. Lambat laun dia mulai menyadari bahwa di atas langit sebetulnya masih ada langit, di atas manus ia masih terdapat manusia lain.

Pertempuran sengit antara gadis itu melawan Bun-ji Koan-su berlangsung hampir seratus jurus lebih, boleh dibilang gadis itu merupaakan seorang musuh yang paling tangguh di dalam hidupnya.

Setelah bertarung hingga seribu  dua  ratus  enam  puluh  jurus ke mudian, akhirnya Bun-ji Koan-su dengan me mpergunakan satu jurus serangan yang paling lihay dan rahasia secara menyerempet bahaya, berhasil menggetar putus pedang si nona dengan sentilan jarinya. Kemudian dengan tak berperasaan sedikitpun juga dia berkata:

“Meski bunga yang berguguran yang air yang mengalir tak berperasaan, jika kau masih saja mengejar diriku terus menerus… aku tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepada mu. Pedang ini merupakan sebuah contoh yang paling baik untukmu.” Sungguh tak terlukiskan rasa sedih dan hancurnya  perasaan gadis itu, setelah mendengar ucapan keji yang tidak berperasaan dari orang yang dicintainya itu, dia malah sama sekali  tidak menangis, setitik air mata pun tidak mele leh keluar, tapi aku tahu betapa sedih dan terluka hatinya oleh ucapan tersebut.

IA segera memungut  kutungan  pedangnya  dari  atas  tanah,  ke mudian dengan wajah me mancarkan rasa dendam dan benci, katanya sambil menggigit bibirnya kencang-kencang:

‘Bun-ji koan-su, aku Seng-sim cian- li Hoa Soat-kun benar-benar mencintaimu dengan setulus hati, tak nyana kalau hatimu sekeji dan tidak berperasaan seperti  ini. Tunggu  sajalah,  lima  puluh  tahun ke mudian aku pasti akan menciptakan se maca m ilmu pukulan yang tiada taranya di dunia ini yakni Hay-jin-ciang untuk me mbunuh dirimu di ujung telapak tanganku….’

Ketika itu, Bun-ji koan-su segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, sahutnya dengan sinis:

‘Baik, haaahh… haaahh… haaahh… Seng-sim cian-li Hoa Soat- kun, aku pasti akan menunggu kedatanganmu pada lima puluh tahun ke mudian, pasti akan kuberi kese mpatan kepada mu untuk me mbuktikan apakah ilmu pukulan Hay-jin-ciang ciptaanmu itu sanggup merobohkan aku.’

Setelah mendengar perkataan itu sekujur badan Seng-sim cian- li Hoa Soat-kun ge metar keras. Setelah me mbuang sebagian dari potongan pedangnya, dengan me mbawa perasaan yang sedih dan hati yang hancur luluh, dia berlalu dari sana. Sejak itu pula dalam dunia persilatan telah kehilangan kabar berita tentang dirinya….”

Berbicara sampai di situ, beberapa titik air mata tampak jatuh berlinang dari mata tunggal manus ia aneh itu. Wajahnya menunjukkan perasaan menyesal yang tak terkirakan. Ku See-hong ke mbali berpikir di dalam hatinya:

“Aaai… berbicara yang sesungguhnya dia me mang t idak patut me lakukan tindakan begitu keji dan tidak berperasaan kepada calon guruku yang kedua itu, yaaa… kalau dilihat dari keadaannya, mungkin bukan suatu pekerjaan  yang  gampang  bagiku   untuk  me mohon pelajaran Hay-jin-ciang tersebut darinya.”

Dalam pada itu, kesehatan dan kondisi badan manus ia aneh itu kian la ma kian bertambah jelek, diapun rupanya juga sadar kalau waktu hidup baginya di dunia ini sudah tidak terlalu banyak lagi. Buru-buru perhatiannya dipusatkan ke mbali menjadi satu, kemudian me lanjutkan:

“Pada waktu itu Bun-ji koan-su  cuma  tertawa  belaka,  sambil me mbawa kutungan pedang yang lain dia me lanjutkan ke mbali perjalanannya seorang diri untuk berpesiar di pelbagai te mpat kenamaan di dunia ini. Hampir dua puluh tahunan dia berpesiar dengan aman dan tenteram tanpa terjadi suatu kejadian apapun.

Suatu tahun, ketika mus im gugur telah tiba, yaitu pada dua puluh tahunan berselang, meski Bun- ji koan-su telah berusia limapuluh tahunan, akan tetapi berhubung ia me miliki kepandaian untuk merawat muka, maka kelihatannya dia masih seperti seorang sastrawan yang berusia tiga puluh tahunan. Hari itu Bun-ji koan-su sedang berpesiar di suatu tempat yang sangat indah. Karena jauh dari penginapan, ketika ma lam telah menje lang tiba, sedangkan waktu itu pemandangan alam sangat indah, dia telah lupa untuk beristirahat, melainkan me lanjutkan perjalanannya terus.

Berada di suatu tempat yang beralam begini indah, ternyata Bun- ji koan-su telah lupa akan waktu yang ma kin larut ma la m….

Pada saat itulah mendadak dari kejauhan sana berkumandang suara dentingan harpa yang merdu merayu mengge ma di udara dan masuk ke dalam pendengaran Bun- ji koan-su.

Mendengar suara dentingan harpa itu, timbul perasaan ingin tahu dalam hati Bun-ji koan-su. Dia ingin tahu siapa gerangan  orang yang bermain harpa di saat senja di tempat semaca m itu.

Akhirnya di bawah sebatang pohon, ia menyaks ikan ada seorang gadis berbaju putih bersih bagaikan salju sedang me metik harpa dengan jari je mar inya yang halus dan ra mping. Gadis itu mengenakan baju tipis berwarna puth yang berkibar- kibar ketika terhembus angin mala m. Rambutnya yang panjang terurai sepundak berombak-o mba k mengikuti he mbusan angin. Kecantikannya ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Pelan-pelan Bun-ji-koan-su berjalan maju ke depan. Aaaai…! Hampir saja dia menjerit kaget begitu me lihat wajah si nona. Perasaan hatinya yang sudah tenang selama limapuluh  tahunan lebih itu segera mengala mi goncangan yang a mat keras. Hampir saja dia tak ma mpu untuk menguasai diri.

Apa yang menyebabkan dirinya menjadi begitu? Kecantikannya…? Yaaa, kecantikan dari gadis itu telah me mbuatnya menjadi terpesona dan ha mpir saja kehilangan sukma.

‘Enghiong me mang sukar untuk me lewati pelukan gadis’, orang kuno sering berkata demikian.

Ternyata gadis itu me mang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. Ia memiliki mata jeli, hidung yang mancung serta bibir yang kecil mungil, kulit badannya putih bersih bagaikan salju, mana halus putih le mbut lagi. Boleh dibilang ha mpir semua keindahan yang dimiliki seorang gadis cantik dimiliki pula oleh gadis tersebut, pokoknya kecantikan wajah gadis ini sukar dilukiskan dengan kata- kata.

Padahal Bun-ji-koan-su bukan seorang lelaki yang ga mpang tertarik oleh kecantikan seorang gadis, apalagi dia me miliki tenaga dalam yang se mpurna, tapi kenyataannya dia dibuat seperti orang yang kehilangan sukma, hampir saja dia tak ma mpu  untuk menguasai diri.

Tiba-tiba gadis itu mendonga kkan  kepalanya, lalu dengan sepasang matanya yang jeli melirik sekejap ke arah Bun-ji-koan-su. Setelah tersenyum manis, dengan wajah tersipu-s ipu dia menundukkan kembali kepalanya dengan cepat.

Senyuman tersebut sungguh me mbuat Bun-ji koan-su merasa sukma dan semangatnya bagaikan terbang bersama meninggalkan raganya. Ternyata senyuman gadis itu jauh berbeda dengan senyuman gadis biasa, baik matanya,  alis  matanya,  bibirnya maupun sepasang lesung pipinya telah menciptakan suatu perpaduan yang amat sempurna, bahkan dari setiap bagian terkecil dari tubuhnya pun seakan-akan me miliki daya pikat yang amat besar.

Bagaikan beribu-ribu kuntum bunga indah yang mekar bersama, terciptalah suatu keindahan serta daya tarik yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Kecantikan gadis itu pokoknya tak terlukiskan dengan kata-kata.

Bun-ji koan-su sebenarnya adalah seorang seorang lelaki berhati keras yang tangguh dan tahan uji, akan tetapi pada waktu itu telah berubah menjadi seekor do mba yang amat jinak dan penurut. Dengan langkah yang pelan dan hati-hati ia berjingkat-jingkat mende kati gadis tersebut, seakan-akan kuatir kalau sa mpa i mengejutkan hatinya.

Setelah tiba di sisi sang nona, dia  baru  menegur  dengan suara le mbut:

“Nona benar-benar seorang seniman yang amat menawan hati. Berma in harpa di te mpat berpe mandangan alam se maca m ini sungguh menunjukkan betapa mengertinya nona akan seni.  Bila aku, Bun-ji koan-su, telah datang mengganggu  ketenanganmu, harap nona sudi untuk me maafkan.”

Gadis berbaju putih yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan  itu  pelan-pelan  mendonga kkan  kepalanya,   sambil me mutar sepasang biji matanya, dia berkata:

“Mengapa siangkong harus berkata demikian?  Kalau kulihat perbuatanmu yang berpesiar di waktu senja se maca m ini, engkaulah seorang seniman sejati, bisa berkenalan dengan seorang senima n maca m siangkong, hal ini sungguh merupakan….”

Mimpipun Bun-ji koan-su tidak menyangka kalau dia akan  berhasil merebut perhatian si nona cantik itu sedemikian cepatnya. Maka, Bun-ji koan-su benar-benar terpikat oleh kecantikan wajah gadis tersebut. Ia mulai me mperbincangkan pelbagai persoalan dari ujung langit utara sampai selatan, barat sampai timur tanpa ada hentinya…

Si nona itu sendiri tampa knya juga jatuh hati kepadanya dalam pandangan yang pertama,  dengan  senyuman  yang  tersipu   dan lir ikan mata yang jeli ia menanggapi pe mbicaraan tersebut, bahkan tanpa terasa semalam suntuk mereka bergadang di sana.”

Ketika bercerita  sampai  di  sana,  manusia  aneh  itu  segera  me mper lihatkan mimik wajah yang sukar dilukiskan dengan kata- kata, dia seperti girang seperti juga merasa benci, tapi seperti juga merasa menyesal akan perbuatannya di masa la lu sehingga harus menga la mi nasib yang tragis seperti apa yang diala minya sekarang.

Ku See-hong sendiri dia m- diam juga berpikir:

“Rupanya dia benar-benar sudah terpikat oleh kecantikan wajahnya, mungkin siluman perempuan itupun orang yang diutus oleh orang persilatan untuk mencelaka i dirinya. Tapi anehnya, gadis itu sedemikian cantiknya, lagi pula tiada dendam sakit hati dengan Bun-ji koan-su, mengapa pula ia harus mence lakai dirinya? Mungkin di balik kese muanya itu masih terkandung rahasia besar lainnya.”

Manusia aneh itu menghela napas sedih, setelah termenung sebentar, ia berkata lebih jauh:

“Walaupun Bun-ji koan-su telah berusia limapuluh tahun, tapi setelah  mengadakan  hubungan   batin  ha mpir   sela ma   sebulan la manya dengan gadis itu, akhirnya merekapun menikah menjadi suami istri dan hidup berbahagia.

Gadis itu berna ma Ceng Lan-hiang….

Dia berkata kepada Bun-ji koan-su bahwa dirinya tak pandai bersilat. Bun-ji koan-su benar-benar telah  menunjukkan cinta kasihnya yang paling suci dan murni kepada gadis itu, tentu saja dia tak akan mencuriga i apa yang dia katakan itu, apalagi di dalam gerak-geriknya  Ceng  Lan-hiang  menunjukkan   sikap  yang  amat  le mah dan seperti patut dikasihani, hal mana se makin me mbuat dia tak pernah me layangkan pikirannya untuk me mikirkan hal-ha l lainnya.

Dalam setahun kehidupan mereka, Ceng Lan-hiang menunjukkan sikap yang paling le mbut dan halus terhadap Bun-ji koan-su, diapun sangat setia dan pandai me layani sua mi. Cinta mereka berdua ibaratnya lem perekat yang saling melekat,  seakan-akan tiada sesuatu kekuatanpun di dunia ini yang bisa me misahkan mereka berdua.

Di dalam waktu setahun yang teramat singkat itu, Bun-ji koan-su merasa bagaikan hidup di sorga. Ceng Lan-hiang pun telah berbadan dua. Beberapa bulan kemudian malah melahirkan seorang putrid yang cantik baginya.”

Ketika berbicara sampai di situ, manusia aneh itu kemba li berhenti sebentar, dari balik mata tulangnya ta mpak air berca mpur darah jatuh bercucuran me mbasahi pipinya, waktu itu perasaannya benar-benar amat sedih dan terluka, apalagi bila teringat kembali dengan putrinya yang tercinta, dia lebih-lebih merasa  hatinya hancur dan tertekan sekali.

Ketika Ku See-hong mendengar sampai di situ, apalagi setelah menyaksikan mimik wajah manusia aneh tersebut, dia tahu nasib tragis yang menimpa Bun-ji koan-su segera akan me njelang t iba.

Dengan perasaan sedih dan hancur, manusia aneh itu termenung beberapa saat lamanya, kemudian me lanjutkan ke mbali kata- katanya:

“Orang bilang, kehidupan yang bahagia itu tidak langgeng…. Ketika hasil hubungan cinta antara Bun-ji koan-su dengan Ceng Lan- hiang telah tiga bulan lahir di dunia ini, yakni pada sembilan belas tahun berselang, suatu peristiwa yang tragis pun telah menje lang tiba.

Peristiwa itu benar-benar merupakan suatu peristiwa yang menyedihkan, me mbawa denda m, sakit hati dan me ngerikan. Suatu pagi, Ceng Lan-hiang dengan wajah pucat pias seperti mayat, keringat dingin me mbasahi sekujur badannya dan napas tersengal-sengal, lari masuk ke dalam ka mar baca Bun-ji koan-su dengan langkah se mpoyongan. Waktu itu  Bun-ji koan-su  sedang me mbaca sejilid buku di dalam ka mar bacanya. Betapa terkesiapnya dia setelah menyaksikan keadaan yang menimpa diri Ceng Lan- hiang….

Buru-buru dia me meluk tubuh istrinya sambil bertanya dengan cemas:

“Lan-hiang, kenapa kau….?”

Sambil me ngejang-ngejang keras menahan suatu penderitaan yang luar biasa, dengan sedih Ceng Lan-hiang berkata:

“Oleh karena aku mencuri belajar ilmu silat yang kau miliki dari kitab catatanmu, aku merasa peredaran darah di dalam badanku bagaikan tersumbat dan mengalir terbalik. Sekarang telah menyerang ke delapan buah nadi penting di tubuhku, mungkin… mungkin… itulah yang dina makan ‘jalan api menuju neraka’ oleh orang persilatan….”

“Kau menderita jalan api menuju neraka…?” jerit Bun-ji koan-su dengan kaget dan terkesiap. “Oh, bagaimana baiknya sekarang?”

Waktu itu, kesadaran Ceng Lan-hiang berangsur-angsur telah menghilang, tubuhnya menjadi le mas terkulai di tanah, mukanya makin pucat bagaikan mayat. Keadaannya mengenaskan sekali.

Dengan ilmu penye mbuhan luka yang dimiliki Bun-ji koan-su, dengan cepat dia menotok beberapa buah jalan darah serta nadi penting di tubuh Ceng Lan-hiang dengan harapan bisa menahan berbaliknya aliran darah yang menyerang organ tubuh penting lainnya sehingga masa bekerjanya dapat diundurkan.

Bun-ji koan-su a mat menyayangi istrinya, dia tahu, dengan totokan ilmu Hud-hiat-hoat yang dipelajarinya dari kitab pusaka Ceng-ciong-pit-kip tersebut, meski delapan nadi pentingnya telah tertotok, itupun hanya bisa me mperpanjang waktu ka mbuhnya selama dua tiga hari saja. Bila sa mpai waktunya  tidak  berhasil mene mukan sebatang rumput mestika Peng-lian Leng- cau, ma ka nadi di dalam tubuh istrinya pasti akan pecah dan akibatnya dia pasti akan tewas secara mengenaskan.

Menyaksikan istrinya mer intih kesakitan, Bun-ji koan-su merasakan hatinya sangat pedih bagaikan diiris-ir is dengan pisau, apalagi mendengar suara rintihan yang me milukan hati itu  ibarat ada berpuluh-puluh batang panah tajam yang menghuja m ke ulu- hatinya. Dia merasa lebih tersiksa dan menderita….

oooOOOooo 

BUN-JI KOAN-SU telah ber mandi keringat karena gelisahnya, dengan nada menegur tapi penuh rasa sayang dia berkata:

“Lan-hiang, mengapa kau harus berbuat tolol? Jika kau suka belajar ilmu silat, aku toh bisa mengajarkannya untukmu, tanpa dasar ilmu silat yang baik mana boleh berlatih secara sembarangan? Coba lihat, bagaimana jadinya bila sampa i mengala mi jalan api menuju neraka? Sekarang, bertahanlah selama satu dua hari, aku akan naik ke bukit Toa-soat-san untuk mencari sebatang rumput Peng-lian- leng-cau, bila kau ma kan rumput tersebut maka lukamu itu akan se mbuh dengan sendirinya.”

Dengan suara yang lirih dan le mah Ceng Lan-hiang segera berkata:

“Kau jangan pergi, aku lebih suka mat i di sisimu, hatiku sudah puas bila kau mencintaiku sepenuh hati. Aku telah belajar  silat secara diam-dia m, kau bersedia me maafkan diriku bukan…?”

Suara bisikannya itu penuh mengandung perasaan cinta kasih antara suami istri, cukup menggetarkan perasaan siapapun.

Bun-ji koan-su menjadi a mat sedih sekali,  dengan air mata bercucuran katanya: “Lan-hiang, aku yakin masih berke ma mpuan untuk mengobati luka dalam jalan api menuju neraka yang kau derita itu. Jika kau benar-benar telah mati, akupun tak ingin hidup terus di dunia ini seorang diri, sekarang waktu yang tersedia sudah tak banyak lagi. Aku harus segera naik ke bukit Tay-soat-san untuk mencari rumput Peng-lian leng-cau tersebut.”

Sambil menahan rasa sedih dan pedih yang tak terlukiskan dengan kata-kata, Bun-ji  koan-su  mulai  menge mbangkan  ilmu mer ingankan tubuhnya mela kukan perjalanan siang mala m menuju ke bukit Tay-soat-san. Dengan bersusah payah pula dia menda ki ke atas puncak Thian-soat-hong serta mendapatkan sebatang Peng-lian leng-cau.

Tapi, ketika ia bersiap-siap untuk berangkat pulang inilah, tiba- tiba di atas bukit Tay-soat-san telah muncul beberapa rombo ngan jago lihay dunia persilatan. Mereka segera mengurung Bun-ji koan- su rapat-rapat….

Kemunculan yang secara tiba-tiba dari kawanan jago persilatan itu me mang sedikit agak aneh.

Mimpipun Bun-ji koan-su tidak menyangka kalau di atas puncak bukit Soat-san telah me nanti sekelo mpok besar jago lihay dunia persilatan yang bersiap-siap untuk mengurungnya.

Ketika menyaksikan kejadian itu, Bun-ji koan-su merasa gelisahnya bukan kepalang. Bayangkan saja, istrinya yang tersayang sedang mengala mi jalan api menuju neraka, jiwanya sangat terancam sekali, sedang pengepungan dari kawanan jago persilatan itu sedemikian ketatnya, bila pertarungan sampai terjadi berlarut- larut sudah bisa dipastikan jiwa istrinya tak akan ketolongan lagi.

Rasa cemas, gelisah dan marah berkeca muk dalam benak Bun-ji koan-su. Akhirnya dengan kobaran hawa amarah yang meluap, dia segera melancarkan pe mbunuhan secara besar-besaran dengan menggunakan se mua jurus sakti yang paling keji dan me matikan. Dalam waktu singkat, enam tujuh orang jago lihay telah berhasil dibunuh sa mpai mat i. Sesudah bentrokan terjadi, Bun-ji koan-su baru benar-benar merasa amat terkesiap, sebab kawanan jago persilatan yang terlibat dalam pengepungan di atas bukit Soat-san kali ini ha mpir me liput i segenap jago kelas satu yang berada dalam dunia persilatan, baik berasal dari golongan putih maupun dari golongan hitam.

Hampir dua ratusan orang yang berkumpul di sekitar bukit, itu berarti hampir segenap inti kekuatan yang berada di dunia persilatan terlibat langsung dalam kejadian itu.

Jumlah anggota terbanyak yang terlibat dalam pertarungan itu adalah jago-jago dari Cian- Khi- Tui (Pasukan Seribu Penunggang Kuda) dan Thi-Kiong-Pang (Perkumpulan Busur Baja) yang merupakan perkumpulan terbesar dalam dunia persilatan.

Pangcu dari Kim-to-pang (Perkumpulan Golok Emas) suami istri pun turut hadir pula dalam pertarungan itu.

Menyaksikan kese muanya itu, Bun-ji koan-su merasa kagetnya setengah mati, dia tahu sulit baginya untuk kabur dari kepungan begitu banyak jago lihay pada hari itu. Dalam keadaan begini, terpaksa Bun-ji koan-su menggertak gigi dan me mberi perlawanan dengan gigih. Sepasang tangan me mang sulit untuk menghadapi empat buah tangan, apalagi kawanan jago yang terlibat dalam pertarungan itu sebagian besar adalah kawanan jago yang amat tersohor namanya di dalam dunia persilatan.

Pada mulanya hanya kawanan jago dari golongan hitam dan sesat yang mengerubutinya seorang, ke mudian para jago yang mena makan dirinya jago-jago dari sembilan partai besar dunia persilatan serta para kawanan manusia munafik yang berlagak sok mulia pun turut serta me libatkan diri dalam pengeroyokan itu.

Bun-ji koan-su se makin gelisah, sedih bercampur marah. Dia cukup menyadari situasi yang sedang dihadapinya, diapun tahu kehadirannya dalam dunia persilatan sangat tidak diinginkan oleh segenap umat persilatan la innya.

Berbicara sa mpai di situ, dari balik mata tunggalnya itu segera terpancar keluar sinar kebencian dan dendam kesumat yang tiada taranya, sepasang giginya sampai ge merutukan menahan gejolak emosi dalam hati kecilnya.

Ku See-hong yang mendengar itupun merasakan darah panas di dalam tubuhnya bagaikan sedang mendidih, api kegusaran berkobar di dalam dada, pada saat ini dia benar-benar merasa amat benci terhadap segenap umat persilatan yang ada di dunia ini. Sorot mata penuh api dendam dan kebencian terpancar juga dari balik matanya….

Aaiiihh. Di ke mudian hari dunia persilatan akan menga la mi pembantaian lagi secara besar-besaran, darah segar akan menggenangi per mukaan bumi, mayat akan bergelimpangan di mana- mana, sebab Bun-ji koan-su angkatan ke-dua telah lahir di situ.

Dengan   wajah   yang   menyeramkan,  manusia    aneh    itu  me lanjutkan ke mbali kisahnya:

Dari dua ratus jago persilatan yang hadir di arena, kecuali Kim-to pangcu suami istri beserta anak buahnya yang tidak melibatkan diri dalam pertarungan itu, yang lainnya ha mpir boleh dibilang telah terlibat langsung dalam pertarungan yang sangat me ma lukan itu.

Senjata rahasia, pedang tajam, tombak panjang, golok besar, busur baja serta beraneka jenis senjata lainnya secara keji, licik dan ganas berkelebatan mengarah ke tubuh Bun-ji koan-su.

Menghadapi kerubutan yang begitu ketat dan ganas, Bun-ji koan- su sendiri pun segera menge mbangkan kelihayannya. Bagaikan seekor banteng terluka, dia menerjang ke kiri menghajar ke kanan, ke mana saja dia sampai, jeritan ngeri yang menyayatkan  hati segera berkumandang me mecahkan keheningan.

Batok kepala beterbangan, darah segar berhamburan, kutungan lengan, kutungan kaki berceceran menoda i per mukaan salju nan putih. Sedemikian sengitnya pertarungan itu mengakibatkan suasana menyeramkan di sekeliling arena, sungguh membuat berdirinya bulu kuduk orang.

Setelah me langsungkan pertarungan sengit sela ma ha mpir satu hari penuh, mes kipun secara beruntun Bun-ji koan-su berhasil menewaskan lima ena mpuluh orang jago lihay, akan tetapi dia sendiripun ber mandi darah karena luka-luka yang dideritanya itu. Rambutnya terurai awut-awutan, bagaikan malaikat bengis saja serasa kalap dia melakukan pe mbunuhan serta pembantaian secara besar-besran.

Dalam keadaan begini, mendadak….

Serentetan suara irama harpa yang merdu  merayu  tapi serasa me mbetot sukma berkumandang di atas udara bukit bersalju yang sedang diselimuti hawa pe mbunuhan yang mengerikan itu.

Begitu menangkap suara perma inan harpa yang merdu merayu serentetan kawanan jago persilatan yang sedang mengerubuti Bun- ji koan-su itu menghentikan serangannya dan mengundurkan diri ke belakang.

Anehnya, kawanan iblis, kaum sesat, jago golongan putih serta angota sembilan partai besar, yang di hari-hari biasa selalu angkuh dan susah diatur itu sekarang bersikap a mat menghor mat, ma lahan mereka segera menyingkir ke sa mping dan me mberi sebuah ja lan lewat.

Walaupun Bun-ji koan-su mengetahui kalau ira ma harpa tersebut dipancarkan oleh seseorang dengan mengerahkan tenaga dalam yang sempurna, tapi tidak  seharusnya  kawanan  jago  persilatan me mper lihatkan sikap yang begitu menghor mat kepada pe metik harpa itu seandainya tidak terdapat sesuatu rahasia lainnya.

Dalam waktu singkat, dari bawah bukit salju melayang turun seorang perempuan cantik berbaju putih, yang di kedua belah sisinya diapit oleh dua orang sastrawan yang amat gagah dan tampan. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang itu betul-betul luar biasa se mpurnanya. Ketika Bun-ji koan-su telah me lihat jelas siapa gerangan perempuan yang datang itu, bagaikan disambar geledek di siang hari bolong, ia menjadi pucat dan berdiri dengan se mpoyongan, hampir saja dia jatuh tak sadarkan diri.

Hatinya bagaikan diir is-ir is dengan pedang tajam yang beribu- ribu buah banyaknya, hatinya merasa hancur berantakan dan mengucurkan darah segar. Pada saat itulah dia baru mengetahui betul apakah arti kehidupan yang sebenarnya.

Ternyata perempuan cantik berbaju putih itu bukan lain adalah Ceng Lan-hiang… istri Bun-ji koan-su yang disangka le mah dan bertenaga dan sedang menghadapi sekarat akibat jalan api menuju neraka….

Sedangkan dua orang sastrawan tampan yang menda mpinginya itu bukan la in adalah kedua orang mur id dari Bun-ji koan-su yang telah diampuni jiwanya itu. Thi-bok-sin-kia m Cu Pok, serta Jian-hua- kim-ciang Tu Pok Kim.

Sekulum senyuman yang seram tapi bangga tersungging di ujung bibir Thi-bo k-sin- kiam Cu Pok, setelah me mandang sekejap ke wajah bekas gurunya, dia berkata:

“Bun-ji koan-su… hari ini tentunya kau bisa ma mpus dengan hati yang lebih jelas, bukan? Heeehh… heeehh… heeehh… untuk lebih jelasnya, aku orang she Cu akan menerangkan lebih je las lagi agar kau bisa ma mpus dengan pikiran yang terang.

Ceng Lan-hiang adalah putri tunggal guruku Thi- kia m- kim-ciang Ceng Ih-huang. Heeehh… heeehh… heeehh… hutang nyawa bayar nyawa, hari ini aku khusus datang kemari untuk menagih hutang darah darimu.”

Setelah mendengar perkataan itu, tak terkirakan rasa sesal Bun-ji koan-su. Dia amat me mbenci dan mendenda m perempuan itu, dia pun mendenda m terhadap segenap umat persilatan yang berada di dunia ini. Kasih sayang Ceng Lan-hiang sela ma setahun ini… cumbu rayu mereka di kala mala m telah tiba… ternyata semuanya hanya palsu dan pura-pura.

Ooohh… Betapa me malukan dan terkutuknya perempuan ini. Sekarang dia baru sadar bahwa dirinya telah terjebak oleh siasat

Bi-jin-ki (siasat perempuan cantik) yang sengaja diatur oleh umat persilatan untuk menjebaknya. Aaai Bun-ji koan-su… wahai Bun-ji koan-su… kau telah bertindak salah. Sela ma hidup kau tak akan mencuci bersih perasaan dendam yang tak terlukiskan besarnya ini, kau sudah terjerumus dalam keadaan yang mengerikan.

Bun-ji koan-su sungguh merasa marah dan mendenda m, sambil me mbentak keras tiba-tiba ia menerjang ke muka….

Mendadak… pada saat itulah terdengar dua buah suara tertawa dingin yang menyeramkan berkumandang me mecahkan keheningan….

Thi-bo k-sin- kiam Cu Pok dan Jian-hun- kim-siang Tu Pok-kim, bagaikan dua sukma gentayangan segera menerkam ke muka menyongsong kedatangannya.

Waktu itu tenaga dalam yang dimiliki Bun-ji koan-su  telah menga la mi kerugian besar, sekujur badannya penuh dengan luka bacokan dan luka pukulan, sesungguhnya ia sudah ha mpir tak sanggup me mpertahankan diri.

Dalam  kondisi   badan   se maca m   itu,   mana   ia   ma mpu  me mpertahankan diri dari serangan gabungan kedua orang murid durhaka tersebut?

Dalam waktu singkat, ia sudah terma kan telak oleh beberapa pukulan yang dilancarkan kedua orang murid pengkhianat tersebut, akan tetapi ia masih tetap bertahan secara gigih dan me mberikan perlawanan sekuat tenaga.

Criiing…  serentetan  suara  dentingan  nyaring  mengge legar me mecahkan keheningan…. Bun-ji koan-su merasakan ada sebilah pedang yang tajam dan dingin menerobos masuk ke dalam tubuhnya. Ternyata orang yang me lancarkan tusukan maut itu bukan lain adalah Ceng Lan-hiang, istrinya yang tercinta….

Pada waktu itu seluruh wajah wanita itu diliputi oleh hawa nafsu me mbunuh yang mengerikan. Sambil me mper ma inkan sebilah pedang yang berkilauan taja m,  sebentar-sebentar dia menyarangkan tusukannya ke tubuh Bun-ji koan-su sehingga dalam waktu singkat telah ber mandikan darah.

Dari balik mata Bun-ji koan-su segera terpancar keluar sinar kebencian dan dendam yang sangat tebal. Ditatapnya Ceng Lan- hiang lekat-lekat, kemudian dengan darah yang bercucuran dari ujung bibirnya, dia berseru:

“Lan-hiang, kau… kau benar-benar akan membunuh suamimu sendiri?”

Dengan wajah yang sinis dan bengis, hawa pembunuhan menyelimuti seluruh wajahnya, Ceng Lan-hiang berkata tanpa perasaan:

“Hmm! Siapa yang kesudian menjadi istrimu? Sela ma ha mpir setahun aku  terus  menahan  rasa  muak  dan  benciku  untuk  mene mani kau si bangkotan tua. Tiap detik tiap menit kalau bisa ingin kudahar dagingmu, kuhirup darahmu hmm… jika hari ini tidak kucincang tubuhmu menjadi berkeping-keping, sukar rasanya untuk menghilangkan rasa dendam dan benciku yang tertanam di hati.”

Sehabis mendengar ucapan tersebut, perasaan Bun-ji koan-su benar-benar sudah hancur lebur. Sebenarnya dia masih me mpunyai setitik harapan, yaitu putrid yang mereka lahirkan atas dasar hubungan cinta sela ma ini, masakah dia t idak tersisa rasa cinta barang setitikpun dalam hatinya setelah menjadi sua mi istri sela ma hampir satu tahun la manya?

Dengusan tertahan bergema, sebuah lengan Bun-ji koan-su telah terpapas kutung oleh bacokan pedangnya. “Aduuh…!” ke mba li terdengar  jerit  kesakitan  berkumandang me mecahkan keheningan, sebiji mata  Bun-ji koan-su ke mbali tercungkil oleh sa mbaran pedangnya hingga terlepas.

Ceng Lan-hiang sungguh keja m, keji dan berilmu t inggi… mendadak pedangnya bergetar keras, berlaksa-laksa titik cahaya tajam segera memancar ke e mpat penjuru, kemudian sepasang kaki Bun-ji koan-su sebatas lutut telah terpapas kutung.

Dengan kesakitan dan penuh penderitaan ia segera bergulingan  di atas per mukaan salju.

Mendadak…

…. Di saat yang kritis inilah Kim-to-pangcu sua mi- istri, Wi-Ceng Kiu-Ga k (Golok Sakti Menggetarkan Jagad) dan Liok-Ih-Li (Perempuan Baju Hijau) Hong Po Yan, yang sejak pertarungan mulai berlangsung hanya berdiri berpeluk tangan belaka, menerjang ke muka secepat sa mbaran kilat.

Mereka berdua masing- masing melancarkan  sebuah pukulan dahsyat ke depan, dua gulung angin puyuh yang maha dahsyat dengan cepat menggulung tubuh Bun-ji koan-su dan mele mparnya ke dalam jurang yang tak terkirakan dala mnya.

Pertarungan berdarah di atas bukit Soat-san yang amat seru dan menegangkan hatipun berakhir sampai di situ. Bun-ji koan-su yang lihay sejak itu lenyap dari peredaran dunia persilatan.

Sejak ke matian Bun-ji koan-su, dunia persilatan pun tak pernah ada seharipun tenang.

Peristiwa berdarah, pembunuhan keja m, satu demi satu berlangsung dalam dunia persilatan….

Yang pertama-tama tertimpa mus ibah setelah kejadian itu adalah perkumpulan yang paling besar dalam dunia persilatan waktu itu… Kim-to-pang.

Perkumpulan besar itu dibasmi orang secara keji hingga hancur musnah dan lenyap dari dunia persilatan. Kim-to pangcu suami istri, Wi-Ceng-Kiu-Ga k Ku Kia m- cong dan Liok- Ih-Li Hong Po Yan dite mukan mati secara mengenaskan. Kematian mereka konon mengerikan sekali, lengan kutung kaki terpotong, usus berceceran dan otak berhamburan, suatu pembunuhan yang benar-benar teramat keji.

Menyusul ke mudian, para jago lihay kaum lurus dari se mbilan partai besar yang tidak turut serta di dalam pertempuran berdarah di bukit Soat-san juga satu demi satu lenyap secara misterius dan tidak diketahui nasibnya…

Mendadak Ku See-hong berteriak keras:

“Locianpwe… Locianpwe… Perbuatan dari siapakah ini? Cepat katakan, perbuatan kejam dari siapakah ini? Aku hendak me mbalas dendam! Aku hendak me mbalas denda m! ”

Ketika menyaksikan sikap Ku See-hong maca m orang kesurupan itu, manusia aneh itu merasa kaget sekali. Segera tegurnya dengan suara dingin:

“Ku See-hong! Apakah orang tua mu adalah Wi-Ceng-Kiu-Gak Ku Kia m-cong serta Liok-Ih-Li Hong Po Yan?”

Air mata segera jatuh berlinang me mbasahi wajah Ku See-hong, sahutnya dengan sedih sekali:

“Oooh Locianpwe, aku benar-benar adalah putra mereka berdua yang tidak berbakti… cepatlah katakan kepadaku, siapakah musuh besar orang tuaku? Dalam dunia dewasa ini hanya kau seorang yang tahu akan rahasia ini.”

Mencorong sinar aneh dari balik mata tunggal manus ia aneh itu.

Dengan tubuh ge metar keras, sahutnya pedih:

“Sela ma hidup,  lohu tak pernah berhutang budi kepada siapapun… tapi aku hanya berhutang budi sedalam lautan kepada orang tuamu… ”

“Aaaii…. Dalam perte mpuran berdarah di atas bukit salju, seandainya mereka berdua tidak menghanta m Bun-ji koan-su sehingga tercebur ke dalam jurang, dia pasti telah dicincang sa mpa i hancur berkeping- keping oleh bacokan pedang pere mpuan rendah itu….”

“Locianpwe, tolong beritahu kepadaku siapakah pembunuh kejam itu…? Siapakah pe mbunuh keji itu?!” jerit Ku See-hong.

Mendadak manus ia aneh itu melotot besar, dengan pandangan dingin ia me mbentak:

“Ku See-hong, hanya mengandalkan beberapa jurus kepandaian yang  kau  miliki  sekarang,  apakah  kau   sudah   mampu   untuk me mba las denda m?

Jika kau sampa i berbuat demikian, maka tak bisa disangkal lagi kau hanya akan menghantarkan ke matian dengan sia-sia belaka, mana dendam tak berbalas, kaupun akan menjadi ma nusia berdosa yang sangat tidak tidak berbakti. Tahukah kau…? Tugasmu  sekarang selain harus me mba laskan dendam bagi ke matian kedua orang tuamu, kaupun harus menegakkan ke mba li keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan!”

Setelah mendengar perkataan dari manusia aneh itu, bagaikan diguyur dengan sebaskom air dingin, Ku See-hong lantas berpikir:

“Benar, sebelum aku berhasil me mpelajari ilmu silat yang sangat lihay, mana aku punya kekuatan untuk me mbalaskan dendam sakit hati ini…?”

Terdengar manusia aneh itu menghe la napas panjang, lalu berkata kembali:

“Tak la ma lagi lohu akan kembali ke alam baka. Aku tak bisa mewaris kan lagi segenap ilmu silat yang kumiliki kepada mu, aaaii….”

“Secara rahasia locianpwe telah mewaris kan ilmu maha sakti kepadaku, budi kebaikanmu tak terlukiskan dengan kata-kata, mana aku berani untuk menuntut pelajaran ilmu silat yang la innya lagi.” Manusia aneh itu me mandang sekejap wajah Ku See-hong, dari wajahnya segera terpancar keluar rasa sayangnya bagaikan seorang ayah terhadap anaknya, kemudian berkata lagi pelan:

“Ku See-hong, sehabis mendengar kan kisah cerita ini, kau sebagai seorang bocah pintar tentunya sudah menduga bukan siapakah diriku ini…? Aaai. Tentunya kau juga tahu bukan, apa sebabnya aku berwatak seaneh sekarang ini?”

Ku See-hong tahu, manusia  aneh  itu  tak  ingin  menyinggung  ke mbali kejadian masa la mpau yang penuh dengan kesedihan itu, dia hendak beranggapan bahwa Bun-ji koan-su telah tewas dibunuh oleh kawanan jago persilatan pada dua puluh tahun berselang.

Dengan sinar mata  yang  dingin  bagaikan  es,  Ku  See-hong me mandang sekejap ke arah manusia aneh itu, kemudian ujarnya dengan suara bersungguh-sungguh:

“Locianpwe…, boanpwe sudah tahu siapakah dirimu itu, tapi aku juga tahu kalau kau pasti me mpunyai suatu kejadian masa la mpau yang luar biasa, maka watakmu baru berubah menjadi seaneh ini.

“Sejak kecil boanpwe sudah dit inggal mati oleh ayah ibuku. Sepanjang tahun berkelana dalam dunia persilatan, tanpa berhasil meraih sesuatu apapun, jika locianpwe tidak melimpahkan cinta kasihnya kepadaku serta mewar iskan ilmu silat yang maha sakti kepadaku, tak mungkin boanpwe bisa jadi seperti sekarang ini. Budi kebaikan sebesar ini sudah pasti harus dibalas. Oleh karena  itu dalam hati kecil boanpwe telah menga mbil keputusan, bila aku telah me lakukan perjalanan ke dalam dunia persilatan nanti pasti akan kuselesaikan se mua pekerjaan locianpwe yang selama ini belum terselesaikan.”

Padahal manusia aneh itupun sangat berharap Ku See-hong bisa me mbantunya untuk menyelesaikan segala persoalan yang belum sempat diselesaikannya dulu.

Sejak dia berte mu dengan Ku See-hong, ia telah bertekad untuk menitipkan tugas dan harapannya itu kepada sang pemuda. Itulah sebabnya mengapa ia tak sayang untuk menyalurkan hawa murni yang dimilikinya itu ke dalam  tubuh  Ku  See-hong,  agar  ia  bisa  me latih ilmu Kan-kun Mi-siu yang maha dahsyat  tersebut, sedangkan ia dengan sisa tenaga yang tak seberapa harus menyelesaikan hidupnya sebelum saatnya tiba….

Sebagai seorang manusia yang berwatak aneh apa yang dilakukannya hanya dikerjakan secara diam-dia m. Jadi apa yang sesungguhnya telah terjadi, sama sekali tidak diketahui oleh Ku See- hong sendiri.

Sekulum senyuman lega segera tersungging di ujung  bibir  manus ia aneh itu. Senyuman itu dianggap sebagai persetujuannya kepada sang pe muda untuk me lakukan apa saja yang diinginkan.

Kembali Ku See-hong bertanya:

“Locianpwe, boanpwe pun me mberanikan diri untuk mengajukan suatu permintaan kepada mu. Meski se masa hidupmu aku tidak mengakuimu sebagai suhu, tapi setelah kau mati, boanpwe tetap akan menganggap dirimu sebagai guruku yang pertama.”

Paras muka manusia aneh itu masih tetap tidak berubah, dia hanya me mbungka m seribu bahasa, sebagai tanda menyetujui pula permintaan dari Ku See-hong.

Ketika pe muda itu menyaksikan sikap manusia aneh itu la mbat- laun menjadi se makin ra mah, diapun me langkah lebih ke depan, katanya kembali:

“Boanpwe     berharap     agar     cianpwe     bersedia      untuk me mber itahukan na ma asli cianpwe kepadaku….”

Paras muka manusia aneh itu segera me mancarkan sekilas cahaya yang sangat aneh, mulutnya tetap membungka m dalam seribu bahasa, sedangkan pikirannya terjerumus dalam la munan yang berkepanjangan.

Melihat manusia aneh itu diam saja, Ku See-hong segera berkata lebih lanjut: “Locianpwe, apakah kau juga me mpunyai seorang keturunan? Sekalipun ibunya telah berkhianat dan jalan serong, tapi sebagai putri seorang manusia, dia harus memiliki nama warga yang sesungguhnya, kalau tidak dia akan dianggap sebagai seorang anak haram. Mengenai keturunan dari locianpwe, boanpwe pasti akan berusaha untuk me mber i tahu kepadanya, bahkan akan kuceritakan pula kisah cerita tersebut kepadanya….”

Setelah mendengar ucapan itu, titik air mata  segera jatuh berlinang me mbasahi wajah orang aneh itu, tampa knya dia merasa sangat terharu sekali.

Dengan wajah mengejang keras karena pengaruh emosi, katanya:

“Lohu she Him, berna ma Ci-seng.”

Dia m-dia m  Ku See-hong menghe mbuskan napas panjang, pikirnya di dalam hati:

“Oooh Thian. Dalam dunia persilatan dewasa ini mungkin hanya aku seorang yang mengetahui na ma asli dari Bun-ji koan-su.”

Dengan sikap yang sangat menghor mat, buru-buru Ku See-hong berkata:

“Terima kasih banyak locianpwe atas kesediaanmu untuk me mber itahukan na ma besarmu.”

Tiba-tiba manusia aneh itu merogoh  ke dalam sakunya dan menge luarkan sepotong kutungan pedang, lalu ujarnya  dengan nada yang amat pedih:

“Ku See-hong, lohu tit ip kepada mu, seandainya kau telah berjumpa dengan gurumu Seng-s im Cian- li Yap Soat Kun, ceritakanlah keadaan lohu yang sebenarnya kepada dia. Katakanlah bahwa harapanku yang paling akhir adalah me minta kepadanya untuk menerima mu sebagai muridnya. Bila ia tak mau mengajarkan ilmu Hay Jin Ciang tersebut, maka bagaimanapun juga kau harus mencari akal untuk mencuri belajar ilmu pukulan Hay Jin Ciang-nya itu. Pada lima puluh tahun berselang, ilmu silat yang dimiliki Seng- sim Cian-li Yan Soat Kun, tak berada di bawah kepandaian lohu…, apalagi setelah dia diburu oleh api denda m. Ilmu pukulan ciptaannya itu pasti hebat dan tiada keduanya di kolong  langit…. Kau harus ingat, musuh besarmu yang paling besar di ke mudian  hari telah berhasil me ndapatkan sejilid kitab pusaka Ban-Sia Cinkeng yang penuh berisikan aneka maca m ilmu sesat jika di ke mudian hari kau ingin menangkan dia, maka kau harus bisa me mpelajar i ilmu Hay-Jin-Ciang lebih dulu sebelum niatmu bisa diwujudkan.”

Tak terkira rasa terima kasih Ku See-hong setelah mendengarkan perkataan itu, katanya:

“Perhatian serta cinta kasih locianpwe tak akan boanpwe lupakan untuk sela manya, boanpwe pasti tak akan sa mpai mengecewakan hati locianpwe….”

Tiba-tiba  manus ia  aneh  itu  menghe la  napas  sedih.   Sambil me mbe lai kutungan pedang pendek itu dengan tangan kirinya, ia berkata kembali:

“Bawalah serta kutungan pedang ini, dan gunakanlah benda itu sebagai tanda mata dari perse mbahanmu kepada gurumu yang akan  datang.  Bila  kau   ma mpu  maka   berusahalah   untuk menya mbung ke mba li pedang ini menjadi satu agar sukma lohu di alam baka tidak selalu murung dan merasa tak tenang.”

Sambil menerima kutungan pedang itu dengan kedua belah tangannya, sahut Ku See-hong:

“Boanpwe pasti akan berusaha keras untuk me menuhi keinginan dari locianpwe….”

Waktu itu air muka manus ia aneh tersebut bertambah suram dan gelap, tapi sebagai seorang yang berkeras kepala, dia masih tetap berusaha untuk me mpertahankan diri dengan mengandalkan sedikit sisa tenaga yang dimilikinya.

Kepada pe muda itu, ke mbali dia berkata: “Ku See-hong, kitab pusaka Cang-ciong pit-kip tiada taranya itu tidak berada di saku lohu, tapi tetap tersimpan di te mpat se mula. Rahasia tempat itu tercantum dalam bait-bait lagu DENDA M SEJAGAD….

Barang mestika hanya akan didapat oleh mereka yang berjodoh. Lohu tak bisa me mber i petunjuk kepada mu atas tempat penyimpanan itu, jika kau me mang berjodoh ma ka kunci rahasia tersebut   pasti    akan    kau    pahami.    Benarkah    kau    dapat me mecahkannya atau tidak, lihat saja pada rejekimu di ke mudian hari….”

Ku See-hong manggut- manggut.

“Barang must ika yang ada di dunia ini me mang hanya diperoleh oleh mereka yang berjodoh, boanpwe tak dapat terlalu me maksa, kalau tidak bisa berakibat kerugian bagi diri sendiri.”

Dia m-dia m manusia aneh itu mengangguk, dia mengagumi karakater Ku See-hong yang tangguh, meski mas ih muda usia tapi pengetahuannya terhadap masalah itu luas sekali.

Setelah menghela napas sedih, ujarnya:

“Saat ini, lohu ibaratnya sebuah lentera yang hampir kehabisan minyak, waktu sudah tak pagi lagi…. Sekarang juga lohu akan menggunakan sisa tenaga yang kumiliki untuk mewaris kan kee mpat tiga jurus tangguh tersebut kepadamu. Kemungkinan besar lohu tak dapat me mainkan sa mpai ke jurus yang ke-tiga, tapi aku harap kau bisa me musatkan segenap perhatianmu untuk me mpelajarinya dengan seksa ma.”

Ku See-hong tahu jurus sakti yang akan diwariskan manusia aneh itu kepadanya pasti terhimpun segala inti kekuatan dari pelbagai jurus silat yang berada di dunia ini, maka ia tak berani betrayal, segenap    perhatiannya    tercurahkan    menjadi    satu     untuk me mperhatikannya dengan seksa ma.

Kembali manus ia aneh itu berkata: “Jurus serangan ini dina makan Hoo- Han Seng-Huan (Sungai Langit Bintang Bertaburan). Di dalamnya terkandung tiga gerak perubahan yang maha sakti:

Gerakan yang pertama khusus menyerang tubuh bagian atas musuh yang disebut sebagai Thian (langit). Gerakan kedua khusus menyerang bagian tengah musuh yang dina makan Jin (manusia). Sedangkan gerakan ketiga khusus menyerang bagian bawah musuh yang dinamakan Tee (tanah). Bila digabungkan menjadi satu antara langit, manus ia dan tanah… maka akan berakibat luar biasa ibaratnya sungai langit yang terbentang dan bintang kecil yang bertaburan di angkasa.”

Ku See-hong yang mendengarkan penjelasan itu merasa seperti paham t idak paha m, dia m-dia m ia menghela napas panjang.

Terdengar manusia aneh itu me lanjutkan ke mbali kata-katanya: “Seandainya  kau  bisa  me maha mi  arti  serta  makna  dari jurus

serangan ini,  ke mudian  me nggunakannya secara sempurna… tidak

banyak jago dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup untuk menghindarkan diri dari serangan dahsyat tersebut.”

Mendengar keterangan tersebut, tanpa terasa Ku See-hong  lantas berpikir:

“Benarkah jurus serangan tersebut sedemikian lihaynya?”

Sinar tajam yang terpancar dari mata tunggal manusia aneh itu makin la ma se makin me mudar, tubuhnya pun mula i ge metar keras, pelan-pelan kelopak matanya mulai terkatup rapat.

Menyaksikan kejadian itu Ku See-hong segera berteriak keras: Locianpwe…!”

Tiba-tiba manusia aneh itu tersentak kaget dan tersadar kembali,

dari balik matanya yang tunggal segera terpancar serentetan cahaya tajam yang aneh, dengan suara le mah dia berbisik:

“Ku See-hong, cepat bombing lohu ke atas tanah… harus cepat!” Ku See-hong juga tahu bahwa kekuatan hidup manus ia aneh itu sudah mendekati akhir. Dengan gerakan secepat  kilat  dia  lantas me mbimbing bangun tubuhnya dan diberdirikan di atas tanah.

Tubuh manusia aneh itu berdiri kaku di atas tanah, sementara telapak tangan tunggalnya secepat kilat me lakukan suatu gerakan serabutan yang kalut dan me mbingungkan.

Ku See-hong terkesiap, ia tahu manusia aneh itu sedang menggunakan jurus sakti itu, ma ka semua perhatiannya buru-buru dipusatkan menjadi satu kemudian dengan seksama  diikutinya semua gerakan tangan yang aneh dari manusia aneh tersebut.

Pada saat Ku See-hong sedang memperhatikan gerakan tangan manus ia aneh itulah, mendadak Ku See-hong merasakan ada bayangan berkelebat lewat di depan matanya, tahu-tahu jari tangan manus ia aneh itu sudah menghanta m di atas jalan darah tubuhnya, kesadarannya segera terhentak seperti hilang sejenak.

Jalan darah di tubuh Ku See-hong ke mbali bergetar keras, kesadarannya kembali pulih seperti sedia kala, ketika dia mencoba untuk menengok ke tengah arena, lengan dari manus ia aneh itu masih bergerak secara aneh sekali.

Mendadak Ku See-hong merasakan jalan darah di atas pusarnya seperti dihantam orang lagi secara pelan, sekali lagi dia merasakan kesadarannya seperti hilang, lalu jalan darah di tubuhnya bergetar keras dan kesadarannya pulih ke mbali.

Sementara itu, gerakan tangan manusia  aneh  itu  masih  saja  me lakukan suatu gerakan aneh. Ku See-hong hanya merasakan bayangan hitam ke mba li berkelebat lewat di hadapan matanya, sebuah jari tangan tahu-tahu sudah me nghajar ke atas jalan darah Thian-ki-hiatnya.

Menyusul ke mudian terdengar suara dengusan  berkumandang me mecahkan keheningan, sekujur badan manusia aneh itu ge metar keras lalu berdiri kaku di tempat semula. Jari tangannya masih tetap menunjuk ke arah jalan darah Thian-ki-hiat di tubuh Ku See-hong.  Menyaksikan kejadian itu, Ku See-hong segera menjerit kaget. Teriaknya keras-keras:

“Locianpwe! Locianpwe!”

Tangannya dengan  cepat  menggoyang-goyangkan  tubuh manus ia aneh itu, tapi dia tetap berdiri kaku di tempat semula tanpa berkutik barang sedikitpun juga, jelas nadinya sudah tergetar putus dan nyawanya kembali ke alam baka.

Yaa, seorang jago tangguh yang luar biasa kelihayannya itu telah meninggal dunia di kala dia telah melancar kan jurus ketiga dari Ho Han Seng Huan tersebut. Dia telah menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya untuk me laksanakan tugasnya yang terakhir.

Bun-ji koan-su yang berwatak aneh, berilmu silat tinggi, bertangan keji, berhati kejam, berwajah dingin dan cukup me mbuat gemparnya kawanan jago persilatan itu, telah meninggalkan dunia yang fana ini tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

Waktu itu re mbulan sudah berse mbunyi di balik mega, bintang yang bertaburan di angkasa pun sudah lenyap dari pe mandangan dirgantara, waktu menunjukkan kentongan ke t iga….

Sebutir bintang melesat mene mbus i angkasa yang gelap, berkedip sebentar di udara la lu hilang lenyap tak berbekas.

Seperti juga kehidupan Bun-ji koan-su di dunia ini, hanya sekilas pandangan saja tahu-tahu sudah lenyap kembali dari kehidupan dunia.

dw

ANGIN dingin di luar kuil berhe mbus kencang, seakan-akan Thian turut berduka akan perginya manusia aneh itu. Ku See-hong tahu bahwa Bun-ji koan-su telah ke mbali ke alam baka. Titik air mata jatuh bercucuran me mbasahi pipinya, tapi ia tetap berusaha menahan diri, ia berusaha untuk t idak me nangis.

Tapi kesedihan yang mence kam perasaannya waktu itu tak terlukiskan dengan kata-kata, sekalipun menangis tersedu-sedu juga belum tentu bisa menghilangkan rasa sedih yang menceka m perasaannya waktu itu.

Tiada kesedihan di dunia ini daripada perpisahan antara yang mati dengan yang hidup.  Diam-dia m  Ku  See-hong  berdiri  sedih, la ma… la ma sekali dia baru berguma m:

-oodwoo-
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).