Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian Bagian 49

Bagian 49

Tiba-tiba saja Cian Cong merasa ada yang tidak beres dalam arak itu. Tetapi melihat Tan Ki sedang mengumumkan peraturan-peraturan yang harus ditetapkan oleh dirinya sebagai seorang Bulim Bengcu yang baru terpilih, tentu saja dia merasa tidak enak mengganggunya dengan kecurigaan yang tidak beralasan.

Apalagi para hadirin tampaknya sedang menyambut ucapannya dengan gembira.
Orangtua ini selalu melakukan segala hal dengan perhitungan yang matang. Oleh karena itu, dia segera mengerahkan hawa murninya dan mendesak racun tersebut di ujung tenggorokannya. Apabila Tan Ki sudah selesai bicaranya, baru dia mengemukakan kecurigaannya itu.

Suasana di tempat itu terasa demikian hening dan mencekam. Wajah setiap orang menyiratkan keseriusan yang tidak terkirakan. Mereka mendengar kelanjutan kata-kata Tan Ki tentang peraturan yang ditentukannya.

“Meskipun cayhe sudah menentukan untuk memberi nama Perkumpulan Ikat Pinggang Merah pada golongan kita ini, maka setiap anggota kita harus memakai sehelai ikat pinggang berwarna merah sebagai tanda pengenal. Tetapi orang-orang kita sekarang ini sudah tidak menghargai kepercayaan yang diberikan dan menganggap remeh sebuah persahabatan. Dengan demikian, di antara satu orang teman dengan lainnya sering menggunakan akal licik atau saling memanfaatkan. Mulut mengucapkan janji saja sering diingkari tanpa merasa malu atau menyesal sedikitpun. Apabila bertemu dengan teman lainnya yang dapat memberikan keuntungan lebih banyak, sering orang-orang dunia Bulim kita mengkhianati persahabatan tanpa perduli apa yang akan terjadi dengan temannya itu, yang akhirnya timbul perselisihan dan kemudian menjadi dendam. Oleh karena itu, kepercayaan dan kesetiakawanan menjadi peraturan ketiga yang harus ditaati!”

Dia menghentikan kata-katanya sejenak, melihat tidak ada seorangpun yang membantah, baru dia meneruskan kembali ucapannya.

“Di depan tadi telah kita tetapkan tiga buah peraturan. Satu, tidak boleh memperkosa atau menodai gadis baik-baik. Kedua, tidak boleh membunuh orang yang tidak berdosa ataupun tidak sanggup mengadakan perlawanan. Tiga, harus menghargai kepercayaan seseorang dan tidak boleh mengkhianati persahabatan demi keuntungan diri sendiri.
Tetapi aku maklum bahwa dunia ini sangat luas. Negara kita saja mempunyai tiga belas propinsi yang terbagi dari utara sampai selatan. Tempat yang begini luas tentu tidak mudah untuk dipersatukan, apalagi takluk di bawah satu pimpinan. Seandainya ada satu orang saja yang tidak mengikuti peraturan yang ditentukan, pasti yang lainnya akan terpengaruh untuk melakukan hal yang sama. Apabila kita ingin menghindari persengketaan yang sudah berlangsung di dunia Bulim selama ratusan tahun ini, maka
kita harus menghukum orang yang membangkang perintah dan ditentukan sebagai peraturan keempat. Peraturan ini juga mencakup bahwa anggota kita tidak boleh menghasut rekannya yang lain untuk berkhianat atau berpihak pada negara lain. Keempat peraturan ini telah kupertimbangkan baik-baik sejak menjabat kedudukan sebagai Bulim Bengcu, dengan harapan bahwa dapat disetujui oleh saudara-saudara sekalian. Tetapi sebelum peraturan tersebut diresmikan, kalian, masih mempunyai kesempatan untuk mempertimbangkannya. Tentu saja aku berharap tidak ada orang yang keberatan dan bersedia bekerja sama dengan segenap kemampuan diri masing-masing!”

Tiba-tiba Oey Ku Kiong berdiri dari tempat duduknya.

“Dari keempat peraturan yang ditentukan oleh Bengcu, dapat diketahui bahwa beliau mempunyai pengetahuan yang luas dan berpikir panjang demi dunia Bulim kita. Cayhe adalah yang pertama-tama menyatakan kesetujuannya. Apabila saudara-saudara sekalian juga mempunyai pikiran yang sama, mari kita minum arak ini sama-sama sebagai tanda sepakat!” selesai berkata, dia mengangkat cawannya tinggi-tinggi lalu diedarkan ke sekeliling kemudian meneguknya sampai kering.

Melihat gerak-geriknya yang sangat menghormati Bengcu mereka, para hadirin yang lain segera mengangkat cawannya masing-masing dan meneguk arak di dalam cawan sampai kering.

Cian Gong adalah manusia yang peka perasaannya dan pikirannya cerdas. Melihat Oey Ku Kiong bertindak sebagai orang pertama yang mengajak orang lainnya meminum arak sebagai tanda penghormatan, diam-diam dia sudah merasa aneh. Cepat-cepat dia memalingkan wajahnya melihat ke arah Kiau H u r, sekilas. Tampak gadis itu mengangkat cawannya ke atas tetapi untuk sekian lama dia tidak juga meneguk araknya, bahkan bibirnya mengembangkan seulas senyuman licik. Pikirannya terus bergerak: ‘Kedua manusia ini sangat licik. Tentunya mereka bersekongkol, tetapi entah apa yang mereka rencanakan kali ini?’

Semakin dipikir, otaknya semakin ruwet. Dia tidak dapat menduga maksud hati Kiau Hun dan Oey Ku Kiong. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang matanya terus mengawasi gerak-gerik kedua orang itu dengan seksama.

Kembali terdengar suara Tan Ki yang lantang.

“Apabila saudara-saudara sekalian tidak ada yang merasa keberatan, maka harap kalian makan dan minum sepuasnya. Besok aku akan meresmikan peraturan yang telah kita tentukan!”

Selesai berkata, kembali dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tampak orang- orang itu mengangkat cawannya masing-ma sing dengan wajah serius. Dia tahu bahwa orang-orang ini sudah terbiasa hidup bebas tanpa kekangan orang lain. Seandainya dalam sesaat ingin mereka mentaati berbagai peraturan, tentu bukan hal yang mudah. Sudah pasti mereka ingin mempertimbangkannya baik-baik. Oleh karena itu, dia segera mengembangkan seulas senyuman kemudian duduk kembali di atas kursinya.

Tan Ki baru saja berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu, dari luar tampangnya memang tenang-tenang saja, tetapi sebetulnya dalam hati dia merasa tegang bukan main. Seandainya keempat peraturan yang ditetapkan menimbulkan perasaan berontak dari orang-orang ini, meskipun dia berhasil mendapatkan jabatannya ini dari menang
pertandingan, tetapi tetap saja sulit melawan demikian banyak orang yang memberontak. Takutnya sebelum pihak Lam Hay dan Si Yu menyerbu nanti sore, di antara kalangan sendiri telah terjadi bentrokan yang tidak kepalang besarnya.

Mengingat seriusnya masalah ini, hati Tan Ki semakin tertekan. Duduk salah berdiri pun salah. Sepasang matanya menyorotkan kecemasan dan terus beredar ke para hadirin.
Diperhatikannya baik-baik reaksi yang mereka perlihatkan. Seandainya ada seseorang yang memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan, lebih baik ringkus dulu orang itu sebelum dia berhasil menghasut yang lainnya.

Justru ketika hatinya masih merasa tegang menunggu reaksi dari para hadirin, tiba-tiba telinganya menangkap suara jeritan yang menyayat hati. Begitu seramnya suara itu sehingga membuat bulu kuduk jadi meremang.

Seiring dengan suara jeritan tersebut, tampaknya ada seseorang yang rubuh di atas tanah. Boleh dibilang ketika suara itu baru sirap, dari timur barat dan utara kembali terdengar suara jeritan lainnya yang serupa. Suara-suara itu bagai ratapan burung hantu di malam hari. Dalam waktu yang bersamaan, tampak tujuh delapan orang bangkit dari tempat duduknya dengan sepasang tangan menekan Bagian perut. Mereka seperti sedang menahan rasa sakit yang tidak terkirakan. Tetapi dalam sekejap mata, ketujuh delapan orang itu rubuh di atas tanah dengan panca inderanya mengalirkan darah. Suara raungan mereka semakin menggetarkan hati. Bahkan ada yang berguling-guling di atas tanah sehingga meja serta bangku terbalik semua.

Meskipun Tan Ki mempunyai ketenangan yang luar biasa, namun menghadapi perubahan yang tidak disangka-sangka ini, dia juga terkejut setengah mati sampai wajahnya berubah hebat. Jantungnya berdebar-debar. Dalam keadaan yang menegangkan ini tiba-tiba terjadi peristiwa yang demikian mengerikan, hal ini benar-benar membuat mereka tercekat dan tidak sempat lagi memberikan pertolongan.

Tiba-tiba si pengemis sakti Cian Cong mengeluarkan suara tawa yang panjang. Dia mendorong meja di hadapannya dan bangkit berdiri. Mulutnya terbuka dan segera terlihat air arak memuncrat keluar bagai melesatnya sebatang anak panah. Arak beracun yang sejak tadi ditahannya dalam tenggorokan sekarang dimuntahkannya. Kemudian terdengar suara dengusan dari hidung Lok Hong, cawan araknya didekatkan ke bibir dan dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya lalu ikut memuntarikan arak beracun yang baru diminumnya tadi. Arak itu tertuang kembali ke dalam cawan.

Hal ini membuktikan bahwa tokoh tua yang menjabat sebagai pangcu Ti Ciang Pang ini juga sudah tahu bahwa arak yang disediakan mengandung racun yang ganas. Sikapnya dingin dan mimik wajahnya tidak enak dilihat. Hawa amarah dalam dadanya sudah meluap-luap.

Tampak beberapa sosok bayangan berkelebat, secara berturut-turut beberapa orang melayang keluar. Yibun Siu San, Cian Cong dan tokoh sakti Bu Tong Pai, Tian Bu Cu menghambur ke arah orang-orang yang terserang racun. Pengetahuan ketiga tokoh ini luas sekali. Pengalaman pun sudah banyak. Niat mereka sekarang sama, yakni ingin melihat dengan jelas keadaan para korban. Ternyata orang-orang itu tidak sempat mengerahkan hawa murninya untuk menunda beredarnya racun dalam tubuh dan mati dalam sekejap mata. Racun apa sebetulnya yang dimasukkan dalam arak tersebut sehingga daya kerjanya begitu keji?
Terdengar suara gabrukan yang membisingkan pendengaran. Meja dan kursi terbalik di sana-sini. Kembali beberapa orang rubuh di atas tanah. Begitu diperhatikan ternyata semuanya mati dengan keadaan mengerikan. Darah terus mengalir dari ketujuh panca indera mereka. Suasana di dalam arena tersebut menjadi demikian menyeramkan karena banyaknya mayat yang bergelimpangan. Tampak Mei Ling, Liang Fu Yong dan kedua gadis bercadar hitam segera menghambur ke dekat Tan Ki dan menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Meskipun warna pakaian yang dikenakan keempat orang perempuan itu berlainan warnanya, tetapi sorot mata mereka semuanya mengandung perhatian yang sama besarnya.

Tan Ki menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.

“Aku tidak apa-apa.” hatinya maklum bahwa kedua gadis becadar hitam itu adalah dua kakak beradik, Cin Ying serta Cin Ie. Guna menghindari sorotan mata Kiau Hun yang bertugas menjadi mata-mata, mereka sengaja menggunakan cadar hitam untuk menutupi Wajah. Keadaan di depan mata demikian mengkhawatirkan, oleh karena itu Tan Ki tidak ingin banyak bicara. Dia hanya mengucapkan kata-kata yang pendek itu saja.

Liang Fu Yong menarik nafas panjang dengan wajah sendu.

“Setegukan arak saja dapat menghancurkan jantung orang dan melumatkan usus. Kau baru saja terpilih sebagai Bulim Bengcu, tanggung jawabmu berat sekali. Kau sama sekali tidak boleh bertindak ceroboh sehingga menimbulkan bencana di kemudian hari. Meskipun kau masih bisa bicara dengan santai, tetapi aku tetap mencemaskan dirimu. Ada baiknya kau coba kerahkan hawa murni dalam tubuhmu dan lihat apakah merasakan sesuatu kelainan…”

Tan Ki langsung menukas ucapannya dengan tersenyum.

“Arak ini hanya kutempelkan di ujung bibir sebagai syarat dan penghormatan bagi tokoh-tokoh lainnya saja. Aku belum benar-benar meminumnya. Tetapi atas perhatian cici yang besar, tetap saja aku merasa berterima kasih sekali.” selesai berkata dia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke sebelah kiri.

Tampak si pengemis cilik dan rekan-rekannya yang lain sedang mengerutkan sepasang alis mereka dengan ketat. Gigi mereka diker-takkan erat-erat seakan sedang menahan rasa sakit yang tidak terkirakan. Wajah mereka juga menyiratkan penderitaan yang dalam. Tiba-tiba saja Tan Ki teringat beberapa hari yang lalu, kelima orang itu berlari ke sana ke mari demi dirinya tanpa mengenal rasa lelah sedi-kitpun. Namun mereka tidak menginginkan apapun, kecuali rasa persahabatan yang telah mereka bina selama ini.
Mereka membela dirinya tanpa memperdulikan situasi yang bagaimana gawatnya sekalipun. Persahabatan yang dalam ini membuat Tan Ki terharu. Sekarang melihat keadaan mereka yang demikian mengenaskan, seperti mengalami penderitaan yang tidak terkirakan, hatinya menjadi pedih karena tidak sanggup mengulurkan tangan memberi bantuan. Air mata tampak membasahi pelupuk matanya dan hampir saja menetes turun.

Tiba-tiba terdengar bentakan seseorang dari belakang punggungnya. “Berhenti!”

Suara itu bagai geledek yang menggelegar. Tan Ki yang mendengarnya sampai tercekat. Tanpa terasa dia menghentikan langkah kakinya. Begitu kepalanya ditolehkan,
dia melihat Lok Hong sedang menatapnya dengan mata mendelik lebar-lebar. Sikap Lok Hong itu membuat perasaan Tan Ki tergetar. Diam-diam dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan, namun bibirnya tetap mengembangkan seulas senyuman.

“Entah apa maksud Locianpwe memanggil cayhe?”

“Apakah pesta ini diurus oleh dirimu sendiri?” tanya Lok Hong.

“Yibun Sam-siok yang mempersiapkannya…” tiba-tiba saja kata-katanya terhenti. Dalam benaknya terlihat suatu masalah yang rumit. Tanpa dapat ditahan lagi sepasang alisnya berkerut. Setelah sesaat dia baru bertanya, “Apakah Locianpwe mencurigai diri cayhe?” 

Lok Hong tertawa dingin.

“Walaupun kau tidak melakukan hal ini, tetapi tetap saja sulit bagimu untuk melepaskan diri dari tanggung jawab!”

Sepasang mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam menusuk. Tetapi sesaat kemudian pulih kembali seperti biasanya. Bibirnya malah mengembangkan seulas senyuman.

“Harap Locianpwe jangan memandang segala hal dari sudut mata orang yang jiwanya rendah. Apabila cayhe memang berniat mencelakai orang, rasanya juga tidak perlu begitu menyolok. Lagipula…” tadinya dia ingin mengatakan secara terus terang bahwa dirinya pernah menggemparkan dunia Kangouw dengan nama Cian Bin Mo-ong, tetapi tiba-tiba saja suatu ingatan melintas dalam benaknya. Tidak sepatutnya dia menceritakan hal tersebut dalam keadaan seperti ini. Cepat-cepat dia menghentikan kata-katanya dan membungkam.

Tampaknya kemarahan Lok Hong jadi terbangkit mendengar ucapannya. Dia langsung memperdengarkan suara tawa terbahak-bahak. Nada suaranya bagai singa yang sedang meraung, memekakkan telinga orang-orang yang mendengarnya.

Keadaan di tempat itu menjadi kacau balau. Para hadirin merasa cemas. Kecuali para tamu wanita yang tidak minum arak, beserta beberapa orang lagi yang tenaga dalamnya cukup tinggi, boleh dibilang hampir seBagian besarnya keracunan. Suasananya menjadi tegang dan menyeramkan… namun di balik ketegangan serta keseraman pemandangan yang terlihat di tempat tersebut, terselip rasa pilu dan mengenaskan melihat banyaknya mayat-mayat yang mati secara mengerikan.

Walaupun orang-orang gagah yang hadir di tempat tersebut sadar bahwa dirinya keracunan, tetapi melihat Tan Ki dan Lok Hong mulai bersitegang, mereka segera dapat merasakan bahwa ada segelombang badai yang dahsyat akan melanda. Beratus pasang mata serentak beralih pada diri kedua orang itu.

Sudah pasti Tan Ki maklum bahwa termangu-mangu terus juga tidak dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Biar bagaimana dia merupakan seorang pemuda yang cerdas serta banyak akalnya. Setelah merenung sejenak, dia merasa bahwa perdebatan dengan Lok Hong hanya menambah masalah yang sudah ada. Oleh karena itu, dia langsung tersenyum simpul dan berkata dengan nada lembut…

“Biarpun Cayhe mengerti bahwa telah terjadi kesalahpahaman dalam hati Locianpwe, tetapi untuk sesaat juga tidak dapat dijelaskan. Lebih baik biarkan Boanpwe mencari jalan agar dapat menemukan orang yang menyebarkan racun tersebut, bagaimana?”

Kata-kata ini diucapkan dengan nada wajar. Tidak sombong juga tidak merendahkan derajatnya sendiri. Mendengar kata-katanya, Lok Hong jadi termangu-mangu untuk sekian lama. Biar bagaimana dia merupakan seorang tokoh tua yang sudah mempunyai nama besar. Tentu tidak enak baginya apabila terlalu mendesak tanpa bukti yang konkret.

Tiba-tiba terdengar desiran angin yang disebabkan oleh kibaran pakaian seseorang. Kiau Hun bagai sekuntum bunga tho di bawah cahaya matahari berdiri di antara kedua orang itu. Bibirnya mengembangkan senyuman.

“Berapa usia Locianpwe tahun ini?” tiba-tiba saja dia mengajukan pertanyaan kepada Lok Hong.

Suaranya begitu merdu dan lembut sehingga membuat orang yang mendengarnya merasa tidak enak hati apabila tidak memberikan jawaban. Demikian pula Lok Hong, dia terpaksa menyahut pertanyaan gadis itu.

“Tahun ini Lohu berusia tujuh puluh enam tahun. Entah apa maksud nona menanyakan hal ini?”

Kiau Hun tersenyum manis.

“Itulah, kalau usia Locianpwe sudah sedemikian tinggi, pengetahuan maupun pengalaman pasti sudah luas sekali. Tetapi setelah bertemu sekarang, ternyata Locianpwe masih kalah pintar dengan seorang gadis muda seperti diriku.”

Mendengar sindirannya, wajah Lok Hong langsung berubah. Perlahan-lahan dia mendengus kemudian bertanya, “Hal apa yang membuat kepintaran nona melebihi lohu, coba kaujelaskan secara terang-terangan!”

Kembali Kiau Hun memamerkan seulas senyuman. Dia menolehkan kepalanya memandang Tan Ki yang berdiri di sampingnya dengan mata melotot serta sepasang alis berkerut-kerut. Kemudian dia berkata dengan, tenang.

“Apabila Locianpwe seorang yang cerdas, tentu bisa mengetahui kata-kata yang diucapkannya tadi rada kurang beres. Seandainya dia benar-benar ingin menyelidiki masalah ini, entah darimana dia harus memulainya? Lagipula dia tidak memberikan batas waktu yang tepat untuk membuktikan kata-katanya. Dengan demikian dia bisa mengulur waktu sesuka hatinya sendiri. Apabila Locianpwe ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya, mungkin harus menunggu sampai tubuh membungkuk dan rambut menjadi putih semua juga belum tentu ada hasilnya. Hal ini membuktikan bahwa dia sengaja mempermainkan dirimu karena menganggap kau tidak tahu apa-apa. Bila orang lain dapat dikelabuinya begitu saja, maka tidak begitu mudah kalau sasarannya diriku.”

Perlahan-lahan Lok Hong menepuk batok kepalanya sendiri. “Betul juga apa yang kau katakan!”
“Mumpung orangnya masih ada di depan mata, mengapa Locianpwe tidak menanyakannya sampai jelas sekarang juga?”

Lok Hong mendongakkan wajahnya kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Apa lagi yang perlu ditanyakan?” sebelah telapak tangannya terulur ke depan dan langsung dihantamkan ke dada Tan Ki.

Tadinya Tan Ki bermaksud mengecilkan masalah sehingga tidak bertambah ruwet, sehingga dia sengaja mengalah. Tiba-tiba Lok Hong melancarkan sebuah serangan yang mengandung tenaga dahsyat serta menimbulkan suara angin yang menderu-dem, dia segera sadar bahwa paling tidak orangtua itu menggunakan delapan Bagian kekuatannya. Oleh karena itu kegagahannya jadi terbangkit, dia segera mengeluarkan suara bentakan yang lantang, tubuhnya memutar setengah lingkaran kemudian membalas sebuah pukulan ke depan.

Serangannya begitu kokoh bagai gunung yang menjulang tinggi, dengan gerakan laksana ombak yang bergulung-gulung menyapu ke arah Lok Hong. Terdengar orangtua itu mengeluarkan suara tawa yang dingin.

“Bocah kemarin sore berani-beraninya memamerkan sedikit kepandaian yang tidak berarti. Jangan kira baru mendapatkan jabatan Bulim Bengcu saja, aku akan mengkeret menghadapimu!”

Sembari berkata, dalam waktu singkat dia melancarkan dua belas pukulan. Setiap jurus yang dikerahkannya mengandung kekejian yang tidak terkirakan. Semuanya ditujukan ke urat darah di tubuh Tan Ki yang penting.

Tan Ki baru saja menjabat sebagai Bulim Bengcu, mana mungkin dia sudi memperlihatkan kelemahannya di hadapan orang banyak. Meskipun ilmu kepandaiannya didapatkan dari hasil curian dalam goa makam para leluhur Ti Ciang Pang, tetapi dia sudah menggabungkannya dengan ilmu yang diajarkan oleh Yi-bun Siu San dan mendapat pengarahan pula dari si pengemis sakti Cian Cong. Dengan demikian kepandaiannya sekarang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya.

Begitu dia mengerahkan ilmunya, tidak ada sejuruspun yang dimainkan sampai habis.
Hal ini dapat membingungkan lawannya karena dalam setiap jurus yang dijalankan, kadang-kadang dia melancarkan pukulan kemudian tiba-tiba bisa berubah menjadi totokan. Angin yang kencang terpancar dari serangannya sehingga bebatuan serta rerumputan terpental dan melambai-lambai.

Pertarungan di antara mereka berlangsung sengit sekali. Yang satu adalah ketua Ti Ciang Pang yang menguasai wilayah Sai Pak, sedangkan yang satunya merupakan pendekar muda yang baru berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu. Meskipun baru kali ini mereka benar-benar bergebrak, tetapi serangan yang dilancarkan menggunakan kecepatan yang tidak terkirakan. Masing-masing pihak berusaha mendahului lawannya mendapatkan peluang untuk menyerang terlebih dahulu. Dalam sepuluh jurus kemudian, tampak bayangan pukulan berkibar-kibar, angin yang terpancar bagai auman seekor harimau. Bayangan tubuh keduanya sulit lagi dibedakan. Apabila diperhatikan sepintas lalu, gerakan tangan mereka bagai berubah menjadi ratusan pasang yang saling melilit kemudian memencar kembali.
Ilmu silat Tan Ki merupakan hasil curian, sebelum bertarung saja hatinya sudah berdebar-debar. Kadang kala dia sampai kalang kabut diserang oleh Lok Hong. Keadaan dirinya sempat terperangkap dalam bahaya beberapa kali. Tetapi setelah lewat beberapa jurus, dia melihat bahwa tenaga dalam Lok Hong tidak lebih tinggi dari dirinya sendiri.
Dengan demikian nyalinya jadi besar dan tiba-tiba dia membentak dengan suara keras. Serangannya berubah menjadi gencar, secara berturut-turut dia membalas serangan Lok Hong dengan empat lima jurus. Begitu hebatnya serangan Tan Ki sampai Lok Hong mulai terdesak dan mencelat ke belakang sejauh tiga langkah. Lama kelamaan dia malah berada di posisi yang semakin gawat.

Sekarang ini, Tan Ki mulai merasa bahwa ketakutannya terhadap Lok Hong di masa yang silam benar-benar merupakan hal yang menggelikan. Dia sama sekali tidak sadar bahwa Lok Hong bisa menjadi ketua sebuah perguruan dan menguasai wilayah Sai Pak sekian lama, tentu bukan hal yang mudah. Tentu saja dia mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Hanya saja dia jarang berkecimpung di dunia Kangouw sehingga pengalaman bertarungnya tidak cukup banyak. Lagipula sejak semula Tan Ki sudah merasa gentar karena merasa ilmu yang dimilikinya berasal dari perguruan orangtua tersebut. Dengan demikian jurus apapun yang dikerahkannya, tentu Lok Hong sudah paham sekali serta tahu bagaimana menangkisnya. Oleh karena itu, sebelum bertarung saja hatinya sudah gentar terlebih dahulu. Dalam keadaan gugup, otomatis ilmu seseorang tidak dapat dikerahkan dengan lancar. Untung saja dia berhasil mendapat didikan dari Yibun Siu San dan Cian Cong sehingga tenaga dalamnya jauh lebih kuat dan pikirannya juga jauh lebih peka.

Melihat hasutannya membuahkan hasil, sudah barang tentu hati Kiau Hun gembira bukan kepalang. Tetapi setelah memperhatikan sejenak, dia dapat melihat bahwa meskipun tenaga dalam Lok Hong cukup hebat, namun apabila ingin melukai Tan Ki dalam waktu yang singkat, bukan hal yang mudah. Matanya mengerling ke sana ke mari sejenak, kemudian dia berteriak dengan nada lantang, “Lok Locianpwe, bagaimana kalau aku membantumu?”

Sebetulnya dia tidak perlu mengucapkan kata-kata itu, karena pembicaraannya belum selesai, tubuhnya sudah melesat ke depan tanpa rnemperdulikan Lok Hong akan setuju atau tidak dengan tindakannya itu. Tampak cahaya hijau berkilauan, dia meluncurkan serangannya ke arah telapak tangan Tan Ki yang sedang melesat datang.

Baru saja serangannya dilancarkan, tampak bayangan berkelebat, tahu-tahu Tan Ki sudah mencelat mundur sejauh lima langkah.

Rupanya dia sadar bahwa pedang pendek di tangan Kiau Hun tajamnya bukan main.
Oleh karena itu dia tidak berani menyambut dengan kekerasan. Terpaksa dia mengerahkan salah satu jurus dari ilmu Te Sa Jit-sut yang paling hebat dan menghindar dari serangan Lok Hong. Dalam waktu yang bersamaan tubuhnya mencelat ke belakang, tetapi sekonyong-konyong telinganya mendengar desiran angin yang menyapu lewat di depan dadanya. Hatinya langsung tergetar. Melihat serangan Kiau Hun yang begitu keji, dia segera sadar bahwa perempuan itu memang benar-benar ingin menghabisi nyawanya.

Hatinya tergerak, sepasang matanya langsung mendelik lebar-lebar.

“Kiau Hun, tindakanmu ini…!” dia tidak sanggup meneruskan kata-katanya, hatinya terasa pilu dan gusar. Tubuhnya gemetar dan wajahnya merah padam. Tiba-tiba terdengar lagi suara serangkum angin yang menerpa ke arahnya. Tan Ki tidak sempat
berpikir panjang lagi. Dia segera mengulurkan tangannya dan menyambut datangnya serangan Lok Hong.

Kedua gulung tenaga yang dahsyat saling berbenturan, suaranya menggetarkan hati, namun tampak kaki keduanya agak limbung dan tubuh merekapun sempoyongan. Untuk beberapa saat mereka tidak sanggup berdiri dengan tegak.

Kiau Hun mendekat ke sampingnya dan berkata dengan suara yang lirih.

“Apabila dua negara berkecimpung, masing-masing berpihak pada rajanya sendiri- sendiri. Tentu kau tidak dapat menyalahkan diriku bukan?”

Di saat berbicara, keduanya sudah saling melancarkan enam jurus serangan. Tampak sinar berwarna hijau yang timbul dari pedang pendek Kiau Hun menyilaukan pandangan mata. Begitu beradu selalu memencar kembali. Tidak ada sejuruspun yang tidak mengandung kekejian. Orang-orang yang menyaksir kan jalannya pertarungan itu merasa jantung-ihya berdebar-debar dan bahkan ada yang sampai menahan nafas.

Tan Ki merasa serangan yang dilancarkan gadis itu demikian gencarnya. Tiba-tiba dia melihat Lok Hong maju selangkah ke depan dan ikut mengirimkan sebuah pukulan. Tan Ki sadar bahwa serangan pukulan Lok Hong itu membawa serangkum angin yang tajam sehingga belum tentu sanggup ditangkisnya. Tentu saja Tan Ki tidak mau mati konyol begitu saja dengan mencoba-coba, terpaksa tubuhnya mencelat ke belakang dan menghindarkan diri sejauh satu depa lebih.

Baru saja kakinya mendarat di atas tanah, Kiau Hun sudah menerjang datang lagi ke arahnya, tampak cahaya hijau berkilauan dan menghunjam dari atas kepala ke bawah.

Entah siapa orangnya, justru pada saat itu ada yang menimpukkan tiga batang senjata rahasia berwarna putih dan bersinar terang. Kecepatannya pun jangan ditanyakan lagi, sasarannya adalah salah satu urat mematikan di tubuh Tan Ki. Gerakan ketiga batang senjata rahasia itu begitu cepat, seakan mengimbangi serangan Kiau Hun yang dahsyat. Baik saat maupun tenaga yang terkandung di dalamnya berpadu dengan kompak.

Mendapat serangan dari depan belakang, untuk sesaat Tan Ki merasa tidak sanggup menahannya. Cahaya berwarna hijau melesat dari depan, sedang ketiga batang senjata rahasia justru ditujukan ke Bagian kanan, kiri dan tengah. Biar dia mengelak ke manapun, tetap saja dirinya menjadi sasaran empuk. Tetapi karena keadaan sudah demikian mendesak, Tan Ki terpaksa menempuh bahaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Sepasang tangannya merentang dan tubuhnya mencelat ke udara. Mula-mula dia menghindar dari serangan Bagian belakang tubuhnya.

Sebetulnya dia maklum bahwa dengan mencelat ke udara seperti itu, Bagian tubuhnya malah terbuka semua, seakan memberi peluang bagi musuh. Meskipun jurus yang digunakannya saat itu merupakan salah satu jurus terhebat dari Tian Si Sam-sut, tetapi dengan tangan kosong menyambut pedang pendek di tangan Kiau Hun adalah hal yang gila bukan main. Oleh karena itu di tengah udara tiba-tiba ia merubah jurus serangannya sehingga timbul banyangan pukulan yang tidak terkirakan banyaknya. Hal ini membuat pandangan mata Kiau Hun jadi berkunang-kunang dan kebingungan. Di hadapannya tiba- tiba saja seperti ada delapan sembilan Tan Ki yang menukik ke bawah.
Tadinya Tan Ki bermaksud memencarkan perhatian Kiau Hun sehingga lengan. Siapa tahu tangan kanan gadis itu menggenggam pedangnya erat sedangkan jari tangan kirinya menuding ke atas. Saat itu dia sedang menatap tubuh Tan Ki yang meluncur turun tanpa mengedipkan matanya sekalipun. Sikapnya itu seakan tidak mengandung keistimewaan sama sekali, tetapi sebetulnya merupakan gerakan seorang ahli pedang yang menggunakan cara tingkat tinggi dalam menghadapi musuh.

Ketika pukulan kedua pihak hampir saling beradu, tiba-tiba Kiau Hun mengeluarkan suara bentakan keras. Telapak tangan kirinya menghantam ke depan, dia mementalkan kembali sebatang senjata rahasia yang dikibas Tan Ki yang kemudian malah meluncur ke arah dirinya sendiri. Tampak pedangnya bergerak dan menimbulkan cahaya seperti pelangi. Kebetulan tubuh Tan Ki sedang melesat ke arahnya dan dia menyerang Bagian pundak anak muda itu.

Gerakannya ini dari lambat tiba-tiba berubah menjadi cepat, persis seperti cahaya kilat yang melintas. Begitu cepatnya sehingga orang-orang sulit melihat jurus apa yang dikerahkannya. Mata mereka menjadi silau karena cahaya berkelebat.

Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga berturut-turut sebanyak beberapa kali. Kemudian disusul dengan suara siulan yang panjang serta gerungan dalam waktu yang bersamaan. Di tengah udara tubuh kedua orang itu bagai dua buah layangan yang putus kemudian melayang turun di atas tanah satu per satu.

Begitu pandangan mata dialihkan, tampak pinggang kiri Tan Ki telah terkena goresan pedang. Lukanya sepanjang tiga cun dan terus mengalirkan darah. Kiau Hun malah seperti orang yang minum arak kebanyakan. Kakinya goyah kemudian terhuyung-huyung mundur sejauh tiga empat langkah. Ternyata lengan kanannya terkena pukulan Tan Ki sehingga pedang pendeknya terjatuh di atas tanah. Dia memegangi lengannya sambil mundur.
Tampaknya sampai saat ini dia baru sadar sampai di mana tingginya ilmu kepandaian Tan Ki, matanya menatap Tan Ki lekat-lekat dengan wajah termangu-mangu. Untuk sekian lama dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

Kedua orang itu bergebrak di tengah udara dan boleh dibilang dalam waktu yang singkat sama-sama terluka. Jurus serangan yang dilancarkan begitu cepat sehingga sulit diikuti dengan pandangan mata. Dalam sekali bentrokan saja terselip bahaya yang mengintai, orang-orang yang melihatnya diam-diam jadi memuji kepandaian kedua orang itu.

Baru saja kaki Tan Ki mendarat di atas tanah dan bermaksud mengerahkan hawa murninya agar darah yang mengalir dapat segera dihentikan, sekonyong-konyong dia melihat Lok Hong menerjang ke arahnya dengan kecepatan yang tidak terkirakan. Telapak tangannya terulur ke depan mengirimkan sebuah pukulan.

Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas. Tiba-tiba ingatannya melintas di masa lalu ketika berkali-kali dirinya menerima hinaan dari Lok Hong. Entah berapa kali pipinya ditempeleng oleh orang ini. Sekarang bukan saja sikapnya tidak berubah, tetapi masih keras kepala seperti sediakala. Dia seakan ingin mendesak Tan Ki terus menerus. Otomatis jiwa mudanya jadi tergugah dan rasa tidak ingin kalah ikut terbangkit. Tadinya dia masih berharap Yibun Siu San, Cian Cong, Tian Bu Cu atau yang lainnya akan menengahi masalah ini, tetapi sekarang dia tahu harapannya tidak mungkin terkabul.
Diam-diam dia berpikir dalam hati: ‘Kalau aku tidak menggunakan ilmuku yang sejati untuk melawanmu, mungkin sampai tiga ratusan jurus, kau juga belum mau berhenti!’

Pikirannya tergerak, kegagahannya timbul. Sepasang lengannya satu per satu menjulur ke depan dan mengirimkan serangan dengan gencar.

Gerakannya ini sungguh jarang terlihat di dunia Kangouw. Sepasang tangannya bukan menghantam ke depan sekaligus, tetapi melancarkan serangan satu per satu. Tenaga yang terkandung di dalamnya juga berbeda dan arahnya pun berlainan. Persis seperti dua orang yang berilmu serupa dan melancarkan serangan dalam waktu yang bersamaan.

“Ilmu yang digunakan budak ini sungguh aneh, yang pasti bukan ilmu dari perguruan lohu.” kata Lok Hong seperti kepada dirinya sendiri.

Lengan kanannya mengibas dan dengan jurus Lengan Baju Menyapu ke Wajah, dia menyambut datangnya serangan Tan Ki.

Terdengar suara benturan yang memekakan telinga. Tiba-tiba Tan Ki mencelat munt dur ke belakang sejauh lima langkah. Ternyata tenaga dalam Lok Hong begitu kuat. Ketika beradu, Tan Ki langsung merasa tidak mudah menyambut pukulan lawannya dengan kekerasan. 

Lok Hong langsung tertawa dingin. Tubuhnya kembali mendesak ke depan, dengan posisi tangan menahan di depan dada, dia melancarkan sebuah pukulan. Pertarungan kedua orang itu baru berlangsung beberapa jurus, tetapi orang-orang yang melihatnya dapat merasakan bahwa duel di antara mereka demikian sengit dan membahayakan. Setiap serangan yang dilancarkan seperti ingin merenggut jiwa masing-masing lawan.

Pengetahuan Lok Hong sangat luas, dia tahu tenaga dalamnya lebih tinggi sedikit dari pada Tan Ki. Justru jurus serangannya yang tidak dapat menandingi keanehan jurus-jurus yang dikerahkan oleh Tan Ki. Lama kelamaan ada kemungkinan bahwa dia yang akan terdesak oleh ilmu anak muda itu yang ajaib. Sejak semula hatinya sudah berniat untuk menyelesaikan pertarungan secepatnya, kemudian meringkusnya untuk menanyakan dari mana asalnya racun yang ada di dalam arak. Sekaligus dia juga ingin memamerkan kehebatan ilmu Ti Ciang Pang agar orang-orang yang hadir di tempat itu merasa kagum. Meskipun orangtua ini tidak berminat merebut kedudukan Bulim Bengcu, tetapi dia ingin nama Ti Ciang Pang yang sudah terkenal sejak ratusan tahun yang lalu dapat dipertahankan. Oleh karena itu pula, serangannya makin lama makin cepat, tenaga dalam yang dipancarkan semakin lama semakin kuat, dia sengaja menambah, kelebihannya dan menutupi kekurangannya. Dengan tenaga dalam yang lebih kuat dia berusaha mendesak Tan Ki menyambut serangannya dengan keras.

Serangan yang cepatnya tidak terkirakan ini membuat Tan Ki tidak mempunyai waktu lagi untuk menghindar. Terpaksa dia menggertakkan giginya erat-erat dan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya guna menyambut serangan Lok Hong dengan keras.

Dua rangkum tenaga dalam yang kuat saling beradu, timbullah gelombang angin yang kencang. Kedua orang itu tergetar hebat sehingga pakaian yang mereka kenakan berkibar- kibar laksana air yang bergejolak.

Begitu beradu tenaga dalam dengan kekerasan, Tan Ki langsung merasa hawa murni di dalam tubuhnya membuyar cukup banyak, tampak dadanya naik turun dan nafasnya tersengal-sengal. Keringat mengucur dari keningnya bagai curahan air hujan.

Lok Hong memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Bagaimana kalau kau sambut lagi sebuah pukulan lohu ini?” terdengar suara angin menderu dan rupanya orangtua itu benar-benar melancarkan sebuah pukulan lagi ke depan.

Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat. Sepasang tangannya pun dihantamkan ke depan. Meskipun dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang mengenaskan baik pada dirinya sendiri atau pada diri Lok Hong, tetapi karena orangtua itu terus-terusan mendesaknya sedemikian rupa, kesabarannya juga mulai habis. Begitu sepasang tangannya menghantam keluar, secara diam-diam dia telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya dan bersiap mengadu jiwa dengan Lok Hong.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari mulut seorang gadis, “Jangan berkelahi lagi!” tubuhnya melesat dan ternyata dengan berani dia menerobos di antara kedua orang itu.

Tenaga dalam Lok Hong sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Pukulannya dapat dilancarkan dan ditarik kembali sesuka hatinya. Melihat cucu kesayangannya secara mendadak menghadang di depan mereka berdua dan mencegah mereka bertarung lebih lanjut, hatinya tercekat bukan kepalang. Cepat-cepat dia menarik kembali tenaga dalam yang terpancar pada telapak tangannya dan dengan susah payah mencelat mundur satu langkah. Tetapi pukulan yang dilancarkan oleh Tan Ki justru digerakkan dalam keadaan marah. Walaupun dia melihat dengan jelas Lok Ing menerobos datang dan menghadang di hadapan mereka, tetapi untuk sesaat dia tidak sanggup menarik kembali serangannya.
Hatinya masih merasa terkejut setengah mati dan belum sempat memikirkan bagaimana caranya mengatasi hal tersebut, telinganya sudah mendengar suara jeritan yang menyayat hati. Rupanya pukulan yang ia lancarkan telah menghantam telak tubuh Lok Ing sehingga gadis itu terpental melayang di udara sejauh tujuh delapan langkah.

Kali ini rasa terkejut di dalam hati Tan Ki jangan ditanyakan lagi! Dia seakan merasa dadanya ditinju dengan keras oleh seseorang, tubuhnya bergetar hebat dan sekonyong- konyong dia seperti orang yang kehilangan kesabarannya. Setelah mengeluarkan suara teriakan yang keras, orangnya sendiri langsung menghambur ke depan.

Tiba-tiba terasa ada serangkum angin kencang yang menghadang di depannya.
Terpaksa Tan Ki menghentikan langkah kakinya.

Setelah melancarkan sebuah pukulan, Lok Hong segera membungkukkan tubuhnya- menggendong Lok Ing. Begitu dia menundukkan kepalanya, dia melihat wajah Lok Ing yang biasanya bersemu dadu kini menjadi pucat pasi seakan tidak ada darahnya. Bahkan di sudut bibir terlihat darah segar mengalir turun membasahi pakaiannya. Tanpa perlu memeriksa denyut nadinya, sekali lihat saja sudah dapat diduga bahwa setiap waktu nyawanya bisa melayang.

Dalam usia tuanya, Lok Hong hanya mempunyai seorang cucu yang disayanginya setengah mati. Dalam waktu yang singkat ternyata dia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa cucu kesayangannya mungkin tidak lama lagi akan meninggalkan dirinya, terasa ada serangkum kepedihan yang menyelinap dalam hatinya. Dia memandang wajah Lok Ing dengan termangu-mangu dan mulutnya seperti menggumam seorang diri.

“Anak bodoh, mengapa harus berbuat demikian? Benar-benar tolol, tolol sekali…”

Beberapa patah ucapan yang sederhana tercetus dari mulut orangtua itu, namun makna yang terkandung di dalamnya justru seperti aliran air matanya dan ratapan hatinya yang sedih tidak terkirakan. Orang-orang yang mendengarkannya ikut merasa pilu, hati mereka terharu sekali sehingga untuk sesaat sampai lupa bahwa keadaan mereka sedang menghadapi bahaya.

Tampak Yibun Siu San, Tian Bu Cu dan Cian Cong berjalan menghampiri. Ketiga orang itu seakan dapat menduga apa yang akan terjadi. Mereka berhenti pada jarak kurang lebih lima langkah dari tempat Lok Hong berdiri.

Mereka mengerti sekali apabila seseorang yang terkena pukulan bathin sedemikian rupa, tetapi tidak menangis atau meraung-raung, berarti memendam kemarahan dan kepedihannya dalam hati. Tetapi kalau sudah tidak tertahankan, maka endapan emosi dalam dadanya langsung meluap keluar. Seandainya hal itu sampai terjadi maka dapat dibayangkan bagaimana dahsyatnya, mungkin seperti gunung berapi yang meletus. Paling tidak dia akan membunuh orang untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Sedangkan saat ini mereka justru sedang menghadapi pihak Lam Hay dan Si Yu yang akan menyerbu datang sore nanti, mereka sangat memerlukan bantuan orang yang mempunyai ilmu tinggi seperti Lok Hong. Oleh karena itu, ketiga orangtua itu takut Lok Hong akan melakukan perbuatan yang bodoh karena perasaannya yang kelewat sedih. Mereka malah tidak berani dekat-dekat dengan dirinya tetapi berdiri di sudut dan mengikuti perkembangan yang akan terjadi.

Tiba-tiba sepasang mata Lok Hong mengalirkan dua bulir air mata. Sungguh mengenaskan keadaan orangtua tersebut. Dia mendongakkan wajahnya mengeluarkan suara siulan yang panjang, sekonyong-konyong tubuhnya mencelat ke depan dan dalam sekejap mata dia sudah menghilang dari pandangan.

Yibun Siu San menarik nafas panjang-panjang.

“Anak Ki, kau benar-benar telah menimbulkan bencana…” wajah orangtua ini selalu ditutupi sehelai cadar hitam. Tentu saja sulit melihat bagaimana mimik wajahnya saat itu. Tetapi dari sorotan matanya, Tan Ki dapat melihat kepedihan yang tersirat di sana. Diam- diam hatinya merasa tergetar… re “Keponakan melukainya tanpa sengaja. Dalam keadaan seperti tadi, perasaan hati hanya ingin mengadu jiwa karena orangtua itu terus-terusan mendesak. Namun keponakan sungguh tidak menyangka akhirnya bisa seperti ini.”

Yibun Siu San mendongakkan kepalanya sembari membentak, “Dengan tindak tandukmu yang demikian ceroboh, mana pantas menjabat sebagai Bulim Bengcu. Apabila tiga ratusan jiwa yang ada di puncak bukit Tok Liong-hong ini diserahkan kepada dirimu, mungkin suatu hari nanti bisa menjadi korban karena keteledoranmu!”

Sebelumnya Tan Ki belum pernah melihat paman Yibunnya marah sedemikian rupa. Untuk sesaat dia malah jadi termangu-mangu, kemudian kepalanya ditundukkan dalam- dalam. Dia tidak berani menyahut sepatah kata-pun.
Cian Cong mengeluarkan suara batuk-batuk kecil, kemudian terdengar dia menukas… “Orangtua jangan mengumbar adat. Kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie sudah mengejar
si keras kepala itu. Apakah persoalan ini akan menjadi budi atau dendam, mungkin segera
akan terlihat hasilnya.”

Yibun Siu San menarik nafas panjang.

“Aku bukan takut menjadi perselisihan dengan Lok Hong. Tetapi justru memikirkan kekuatan pihak kita. Di hadapan mata sekarang, sebentar lagi akan terjadi hujan badai. Kita memerlukan orang yang mempunyai kepandaian tinggi seperti si tua bangka itu.
Dengan demikian kedudukan kita lebih kokoh dari sekarang ini…” tiba-tiba seperti ada suatu ingatan yang melintas di benaknya, tampak dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan membungkam seribu bahasa.

“Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mendebatkan persoalan ini. Lebih baik kita mencari akal menyelamatkan orang-orang yang keracunan!” tukas Tian Bu Cu yang sejak tadi berdiri di sampingnya berdiam diri.

“Apa yang dikatakan oleh Totiang memang tepat sekali. Namun racun yang dimasukkan dalam arak ternyata adalah Coa-cio (cairan ular) meskipun kita tahu cara menyelamatkan mereka, namun dengan tidak adanya obat penawar, boleh dibilang sia-sia saja.”

Begitu kata-katanya tercetus keluar, Tian Bu Cu dan Cian Cong saling lirik sekilas serta berdiam diri tanpa mengucapkan sepatah ka-tapun. Suasana menjadi hening seketika, hati mereka sama-sama merasa tertekan.

Yibun Siu San menggapaikan tangannya kepada Tan Ki.

“Kau kembalilah ke kamar serta ajak Mei Ling untuk beristirahat. Biar aku yang mengurus masalah di sini. Tetapi kalau kau sampai berbuat yang tidak-tidak. Aku tidak segan-segan menghukum dirimu, mengerti?”

Tan Ki mengiakan dengan suara lirih kemudian meninggalkan tempat tersebut.
Sementara itu, si pengemis sakti Cian Cong memejamkan matanya sekian lama untuk merenung. Beberapa saat kemudian mendadak dia membuka matanya kembali.

“Apabila ada sesuatu hal yang aneh terjadi, tentu ada sebab musababnya atau ada dalang yang melakukannya. Seandainya orang itu menyusup di dalam orang-orang kita, kemungkinan itu bisa saja terjadi. Apabila kita dapat meringkus orang itu, mungkin tidak sulit bagi kita mendapatkan obat penawar tersebut.”

“Apakah kau sudah tahu siapa orang itu?” tanya Yibun Siu San.

Sinar mata Cian Cong menyapu sekilas kepada Kiau Hun yang sedang memungut pedang pendeknya. Mulutnya tertawa ringan.

“Apa yang dipikirkan si pengemis tua hampir tidak berbeda dengan si bocah Tan Ki. Perempuan itu tiba-tiba saja mempunyai ilmu yang tinggi, lagipula jurus serangannya kebanyakan terdiri dari aliran sesat dan bukan dari daerah Tionggoan. Hal ini mencurigakan sekali. Tetapi apabila kita menuduhnya sebagai orang yang memasukkan racun, kita masih belum mempunyai bukti yang nyata. Tetapi dia memang tersangka utama…”

Yibun Siu San merenung sejenak. “Ini…”

Cian Cong jadi panik melihat sikapnya.

“Tua bangka jangan ini itu lagi. Sekarang ini waktu sangat berharga. Menunda sampai siang nanti, kita harus merundingkan cara menghadapi pihak Lam Hay dan Si Yu yang akan melakukan penyerbuan. Saat itu kita tidak mempunyai waktu lagi meringkus perempuan ini.”

Yibun Siu San menarik nafas panjang, “Sikap Cian-heng seperti kuda liar yang lepas kendali. Apa-apa maunya terburu-buru saja. Hengte sendiri juga ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya, juga ingin meringkus si penjahat itu. Tetapi…” dia menghentikan kata-katanya sejenak, kemudian baru melanjutkan kembali ucapannya. “Keadaan sekarang ini tidak dapat disamakan dengan kemarin-kemarinnya. Kau dan aku tidak bisa sembarangan menurunkan perintah atau mengambil keputusan sendiri dalam suatu hal.
Perlu kau ketahui bahwa Tan Ki baru saja menjabat kedudukan Bulim Bengcu. Meskipun kau dan aku merupakan angkatan tua baginya, tetapi tetap saja kita tidak boleh lancang menentukan apa-apa. Biar bagaimana harus mendapat persetujuan darinya, baru kita boleh bertindak. Dengan demikian kewibawaannya tidak jatuh di mata orang-orang lainnya.”

Sepasang alis Cian Cong langsung berkerut mendengar ucapannya.

“Kalau ditilik dari ucapanmu, bagaimana kita harus menolong orang-orang yang keracunan? Seandainya tidak cepat-cepat mendapatkan obat penawar atau meringkus pelakunya, si pengemis tua tidak tahu lagi apa yang kau inginkan.”

Sepasang mata Yibun Siu San yang bersorot tajam seperti sengaja juga tidak, melirik sekilas kepada Tian Bu Cu. Rupanya orang-orang yang hadir di tempat itu merupakan tokoh-tokoh Bulim yang sudah berdiri di bawah kekuasaan Tan Ki. Hanya Tian Bu Cu seoranglah yang tidak termasuk karena orangtua itu merupakan tokoh dari lima partai besar. Hanya dia yang bukan termasuk anggota Perkumpulan Ikat Pinggang Merah.
Apabila ingin meringkus pelaku kejahatan tersebut, hanya dia seorang pula yang paling cocok melaksanakan tugas tersebut. Tetapi bagaimanapun orangtua itu merupakan tamu terhormat, tentu saja Yibun Siu San merasa tidak enak hati memintanya melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, dia terpaksa menyatakan maksudnya dengan lirikan mata yang mengandung makna tertentu.

Mata Tian Bu Cu sangat tajam. Memangnya dia tidak mengerti maksud Yibun Siu San. Hatinya merasa tidak enak menolak. Oleh karena itu dia segera mengembangkan seulas senyuman.

“Nyawa manusia lebih penting daripada segalanya, hal ini Pinto maklum sekali. Maaf kalau Pinto terpaksa mengunjukkan ilmu yang buruk.” sembari berkata, tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya. Gerakannya seperti awan yang berarak melesat ke arah Kiau Hun.

Kiau Hun melihat jubah orangtua itu berkibar-kibar dan menerjang datang ke arahnya.
Diam-diam hatinya menjadi tercekat. “Apa yang ingin kau lakukan?” Tian Bu Cu tertawa sumbang.
“Hati-hati menyambut beberapa jurus serangan Pinto!” katanya.

Jubah tosunya dikibaskan, segera terasa ada serangkum angin yang kencang melanda datang ke arah Kiau Hun.

Bagian L

Baru saja Kiau Hun menggerakkan pedangnya untuk menangkis, tahu-tahu serangan Tian Bu Cu sudah ditarik kembali. Rupanya baru saja dia melancarkan serangan, sekonyong-konyong dia mengingat bahwa dirinya merupakan seorang angkatan tua di dunia Bulim sehingga rasanya tidak pantas melancarkan serangan terlebih dahulu kepada seorang gadis dari generasi muda. Oleh karena itu, di tengah jalan dia menarik kembali serangan yang telah dilancarkannya.

Kiau Hun justru menggunakan kesempatan itu baik-baik. Pedang pendeknya digetarkan, sehingga menimbulkan cahaya seperti pelangi. Dengan kecepatan yang tidak terkirakan dia segera mengirimkan sebuah tikaman ke depan.

Serangan itu tampaknya biasa-biasa saja dan tidak terlihat keistimewaan sedikitpun, tetapi gerakannya begitu cepat dan pedangnya memancarkan hawa dingin yang menusuk. Begitu dilancarkan timbul suara mendengung-dengung seperti ada sekelompok lebah yang terbang memenuhi tempat tersebut. Hal ini membuktikan bahwa jurus yang digunakannya benar-benar tidak dapat dianggap enteng.

Selama ini Tian Bu Cu mengasingkan diri di Yang Sim An. Waktunya kebanyakan dihabiskan dengan bersemedi. Oleh karena itu, boleh dibilang lebih dari separuh hidupnya dia jarang bertarung dengan orang. Tetapi karena keadaan yang mendesak di mana ada tiga puluhan orang lebih yang keracunan hebat, maka mau tidak mau dia harus turun tangan. Apalagi masalah ini menyangkut ketentraman dunia Bulim di masa yang akan datang. Belum lagi sore nanti pihak Lam Hay dan Si Yu akan menyerbu tempat tersebut. Dalam keadaan terpaksa, dia menawarkan diri meringkus orang pertama yang dicurigai.

Melihat serangan Kiau Hun begitu gencar dan mengandung kekejian, hati tosu tua ini merasa tidak senang. Masih begitu muda saja sudah berwatak demikian licik dan jahat, apalagi kalau usianya sudah lanjut dan ilmunya jauh lebih tinggi dari sekarang ini. Oleh karena itu, terdengar dia menyebutkan pembukaan doa agama To kemudian mencelat mundur sejauh enam langkah.

Kiau Hun membentak nyaring, pedangnya digetarkan kemudian mengejar ke depan.
Ketika tangannya bergerak, cahaya berwarna hijau langsung tampak memijar, persis seperti sinar mentari yang baru terbit di ufuk timur, cahayanya memenuhi sekitar tempat itu dan bagai titik hujan yang jatuh dari langit.

Sepasang lengan Tian Bu Cu direntangkan, seperti seekor walet yang ketakutan dia mencelat ke samping sejauh lima enam langkah. Kiau Hun melihat orangtua itu menghindarkan serangannya berkali-kali, diam-diam hatinya merasa heran. Kalau ditilik dari namanya yang sudah menggetarkan kolong langit, tidak semestinya dia terus mengundurkan diri seperti sekarang ini. Pikirannya tergerak, kembali dia melancarkan sebuah serangan.
Tampak Tian Bu Cu tetap tenang-tenang saja. Bibirnya malah menyunggingkan seulas senyuman. Ketika pedang Kiau Hun sudah meluncur ke arahnya dan tinggal jarak setengah meter, dan tidak mungkin bisa merubah jurusnya lagi, tiba-tiba lengan kirinya bergerak dengan kecepatan kilat dan mengibas ke depan.

Kiau Hun merasa seperti ada serangkum tenaga tidak berwujud yang menahan ketika serangan pedangnya meluncur ke depan. Bukan saja dia tidak sanggup meneruskan serangannya tetapi menariknya kembali pun sulit. Hatinya terkejut bukan kepalang. Justru ketika otaknya berputar mencari jalan keluar, tahu-tahu pundaknya terasa kesemutan, seluruh tenaga dalamnya lenyap seketika. Setelah mengeluarkan suara keluhan, tubuhnya terkulai di atas tanah. Terdengar suara berden-tangan, ternyata pedang pendeknya juga terlepas jatuh.

Melihat keadaan itu, Yibun Siu San dan si pengemis sakti Cian Cong segera menghambur datang. Dia segera menjura dalam-dalam sambil berkata, “Atas bantuan Totiang meringkus perempuan ini, cayhe mengucapkan banyak terima kasih.”

Tian Bu Cu cepat-cepat membalas penghormatannya dengan rendah diri. “Jangan sungkan terhadap orang sendiri.” sahutnya.
Semua kejadian ini tidak terlepas dari pandangan mata Oey Ku Kiong. Hatinya tercekat sekali. Tanpa sadar dia langsung berdiri dari tempat duduknya. Namun sekejap kemudian tampak dia duduk kembali seperti tidak merasakan apapun.

Anak muda ini mencintai Kiau Hun sejak lama. Melihat perempuan itu berhasil diringkus, dia merasa terkejut sekali sehingga wajahnya langsung berubah. Hampir saja dia berpikir untuk menerjang ke depan dan mengadu jiwa untuk menolongnya. Tetapi biar bagaimana dia merupakan seorang manusia yang cerdas. Begitu memperhatikan sejenak, dia langsung sadar bahwa situasi saat itu sangat tidak menguntungkan dirinya. Dengan kekuatannya seorang diri, sudah pasti bukan tandingan ketiga orang Cianpwe tersebut.
Jangan kata menolong Kiau Hun, bisa-bisa selembar nyawanya terbuang secara percuma. Begitu pikirannya tergerak, dia segera duduk kembali dan mengikuti perkembangan selanjutnya sambil mencari akal menolong Kiau Hun.

m Tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah kaki yang mendatangi. Begitu pandangan matanya dialihkan, tampak Liang Fu Yong berlari datang dengan langkah tergesa-gesa.

Tampaknya ada suatu masalah yang sedang menggelayuti hatinya sehingga tampangnya begitu gugup dan wajahnya penuh dengan keringat.

“Ada apa?” tanya Tian Bu Cu.

Wajah Liang Fu Yong tampak merah padam. Keringat membasahi keningnya dan masih terus menetes turun. Tetapi setelah mendengar pertanyaan Tian Bu Cu, dia malah menggelengkan kepalanya dan tidak menyahut sepatah katapun.

Tampaknya Tian Bu Cu melihat sesuatu pada dirinya. Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam serta dingin. Dia memandang Liang Fu Yong lekat-lekat. Tiba-tiba alisnya yang panjang mengerut ketat, dia seakan ingin mengajukan pertanyaan tetapi akhirnya
ditahan. Namun melihat tampangnya, hati Liang Fu Yong sudah berdebar-debar tidak karuan.

Rupanya ketika Yibun Siu San menyuruh Tan Ki mengajak Mei Ling kembali ke kamar untuk beristirahat, dia juga ikut serta. Kamar tidur yang disediakan untuknya memang bersebelahan dengan kamar Tan Ki dan Mei Ling. Pada dasarnya Mei Ling memang istri resmi Tan Ki, sedangkan dirinya hanya dijanjikan oleh Tan Ki kelak akan diangkat menjadi selir.

Tentu saja janji semacam ini hanya dinyatakan dengan ucapan saja. Melihat sepasang suami istri itu masuk ke dalam kamar, terpaksa dia kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.

Tadinya dia ingin tidur sampai puas. Rasanya kelelahan selama beberapa hari itu ingin dihilangkannya dengan tidur yang panjang. Tetapi entah mengapa, meskipun dia telah bergulingan ke sana ke mari sekian lama, tetap saja matanya tidak mau dipejamkan.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara tawa sepasang laki-laki dan perempuan. Hatinya menjadi tergerak. Perasaan ingin tahunya terbangkit seketika. Setelah mendengarkan dengan seksama, dia baru sadar bahwa suara tertawa itu terpancar dari kamar sebelah di mana Tan Ki dan Mei Ling beristirahat.

Biar bagaimana Liang Fu Yong pernah menempuh kehidupan sebagai wanita jalang yang tiap malam mencari seorang laki-laki untuk menemaninya. Bahkan dia mendapat julukan Siau Yau Sian-li karena hal ini juga. Kemudian dia diberi nasehat oleh Tan Ki yang akhirnya membuatnya berniat merubah kelakuannya serta menjadi orang baik-baik.
Akhirnya dia malah diterima sebagai murid tidak resmi oleh Tian Bu Cu yang maha sakti. Tanpa menyayangkan hawa murni dalam tubuhnya yang terkuras banyak, dalam waktu semalaman dia merubah Liang Fu Yong menjadi seorang tokoh berilmu tinggi. Namun manusia mempunyai watak yang dibawa sejak lahir, pepatah mengatakan ‘Gunung bisa dirubuhkan, namun hati manusia sulit dirubah’. Begitulah keadaan Liang Fu Yong, dari seorang perempuan jalang tiba-tiba dia berubah jadi orang baik-baik. Meskipun hari demi hari dilaluinya tanpa menemui kesulitan sedikitpun, tetapi kenangan masa lalunya sering terbayang di depan pelupuk mata. Pada malam hari dia sering merasa kesepian. Seperti sekarang ini, hatinya sedang merasa tertekan dan gundah, tiba-tiba telinganya menangkap suara cekikikan sepasang suami isteri. Otomatis pikirannya melayang ke hal yang satu itu.

Suara itu hanya terdengar dalam waktu sekejap, kemudian ruangan sebelahnya kembali sunyi senyap dan mencekam. Di depan pelupuk mata Liang Fu Yong seakan melintas berpuluh-puluh pasangan laki-laki dan perempuan dalam keadaan telanjang bulat.
Bayangan yang tidak-tidak saat itu memenuhi seluruh benaknya.

Sesaat kemudian, dia merasa seluruh tubuhnya jadi panas membara. Gairah dalam dadanya terbangkit. Seluruh tubuhnya gemetar hebat dan dengan keadaan hampir tidak dapat menahan diri, dia melonjak bangun dari tempat tidurnya.

Bayangan masa lalu kembali menggelayuti pikirannya. Saat ini dia tidak sanggup lagi mengerahkan lwekangnya untuk menahan hawa nafsu yang berkobar-kobar. Pandangan matanya beredar ke sekeliling, begitu sepinya keadaan dirinya seakan di dalam dunia ini hanya ada dirinya seorang yang masih hidup. Segulung harapan yang besar menutupi kesadarannya, pikirannya mulai kacau. Dia hanya tahu bahwa dirinya saat ini hanyalah seorang perempuan yang kesepian! Apabila di dalam kamar itu ada seorang laki-laki, tidak
perduli tua atau muda, mungkin dia langsung menerjang orang itu untuk menghilangkan rasa dahaga dalam hatinya…

Meskipun dia telah bertekad untuk merubah dirinya menjadi orang baik-baik, tetapi pada dasarnya bakat jalang di dalam dadanya masih sering bergejolak dengan kuat. Sebelumnya dia bergolek di atas tempat tidur dengan gelisah. Begitu melonjak bangun, tanpa memperdulikan apa-apa lagi, dia langsung melesat keluar dari kamarnya bagai seekor kelinci yang tidak mempunyai pikiran.

Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat seorang bocah laki-laki berusia kurang lebih empat belas tahunan sedang berjalan ke arahnya. Tampaknya bocah itu bekerja sebagai pelayan yang menghantarkan hidangan atau arak bagi para tamu. Saat itu tangannya membawa sebuah nampan dengan dua mangkok bubur di atasnya yang masih mengepulkan asap. Rupanya dia hendak mengantarkan makanan untuk Tan Ki dan istrinya.

Di pelupuk mata Liang Fu Yong terbayang langsung hal yang romantis. Tiba-tiba dia menggertakkan giginya erat-erat dan melancarkan sebuah totokan ke arah punggung bocah itu. Dalam waktu yang bersamaan tangannya yang sebelah lagi langsung menyambut nampan yang hampir terlepas dari tangan bocah tersebut.

Mungkin bocah itu mimpipun tidak menyangka kalau Liang Fu Yong tiba-tiba akan menyerangnya. Tiba-tiba dia merasa Bagian punggungnya kesemutan dan tidak sadarkan diri terkulai di atas tanah.

Sebelah tangan Liang Fu Yong langsung terulur meraih tubuhnya yang hampir jatuh.
Dia segera memondong tubuh bocah tersebut. Dia takut timbul suara yang akan mengejutkan Tan Ki yang mempunyai pendengaran tajam. Baik melancarkan totokan, menyambut nampan maupun meraih tubuh si bocah, semuanya dilakukan dengan hati- hati.

Perlahan-lahan dia meletakkan nampan tadi di sebuah bangku rotan yang terdapat di ujung koridor. Kemudian sepasang kakinya menutul dan dengan gerakan ringan dia membawa bocah tersebut meninggalkan tempat itu. Sekali loncat saja, jaraknya mencapai tiga de-paan. Dalam waktu sekejap mata dia sudah sampai di taman bunga. Harum bunga semerbak terendus seiring dengan hembusan angin.

Setelah memperhatikan sekelilingnya, Liang Fu Yong baru merebahkan bocah itu di balik sebuah gunung-gunungan yang dibuat sebagai dekorasi taman tersebut. Dia tahu saat ini para hadirin sedang berkumpul di ruang pertemuan. Sedangkan seBagian yang lainnya dikumpulkan dekat ruang peristirahatan karena terkena racun ganas. Dalam waktu yang singkat tidak mungkin ada orang yang muncul di taman bunga ini.

Perlahan-lahan dia meletakkan bocah itu di atas tanah. Sepasang matanya yang jeli menatap bocah itu lekat-lekat. Seakan sedang menilai setiap lekuk tubuh dan wajah anak tersebut.

Perlu diketahui bahwa orang-orang zaman itu rata-rata bertubuh tinggi besar. Meskipun pelayan itu baru berusia empat belas tahunan, tetapi karena tubuhnya yang bongsor, dia jadi terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya. Apalagi wajahnya yang demikian putih bersih. Benar-benar membuat orang yang melihatnya merasa gemas.
Jalan darahnya ditotok oleh Liang Fu Yong, dengan demikian kesadarannya hilang.
Dalam sekejap mata saja, pakaiannya sudah dibuka oleh gadis itu. Bentuk tubuhnya kekar, wajahnya yang terlelap dalam tidur sungguh manis dipandang. Liang Fu Yong yang memandangnya sampai merasa tegang. Keringatnya bercucuran. Tangannya gemetar dan gairah dalam dadanya meluap-luap. Semacam perasaan yang aneh membaur dalam hatinya. Sekian lama dia memandangi bocah itu dengan termangu-mangu. Tiba-tiba dia melonjak bangun dan menindih tubuh anak itu. Kulit mereka saling bersentuhan. Dia merasa seperti ada aliran semacam kilat yang menyambar dirinya. Sekonyong-konyong tubuhnya menggigil dan pikirannya menjadi agak sadar. Dia langsung melonjak bangun.

Liang Fu Yong mengangkat tangannya dan menepuk kepalanya sendiri. Mulutnya menggumam seorang diri.

“Mengapa aku demikian rendah? Bukankah aku bisa mencelakai seorang anak yang baru tumbuh dewasa? Setelah mendapat nasehat dari adik Ki dan menerima warisan dari suhu, ternyata aku masih belum berubah juga… Ya Tuhan, apakah aku Liang Fu Yong sejak lahir memang telah ditakdirkan menjadi perempuan jalang?” air mata yang sebesar kacang kedelai terus menetes membasahi pipinya.

Dia merasa apapun yang ada di hadapannya menjadi samar-samar. Tanpa sadar dia teringat setengah bulan yang lalu sempat mengorbankan diri demi Tan Ki di taman bunga keluarga Liu. Mengingat ketampanan dan kegagahan anak muda itu, hatinya kembali tergetar. Dia merasa bingung dengan keadaannya sendiri. Padahal dia sempat tersadar dan bertekad untuk berubah. Mengapa di saat seperti ini, hampir saja dia tidak dapat menahan diri dan melakukan hal yang rendah itu?

Dengan demikian, pikirannya kembali melayang ke masa di mana dia bertualang mencari kesenangan setiap malam. Perbuatannya begitu rendah. Meskipun di saat menjalankannya dia sempat mendapatkan kepuasan lahiriah, tetapi setelah semuanya berlalu, dia tetap merasa jiwanya kosong melompong. Dia malah merasa begitu kesepian seakan dia tidak pernah mempunyai siapa-siapa di dunia ini.

Apabila saat ini dia tidak bisa mengendalikan hasrat dalam hatinya dan tetap melakukan perbuatan yang rendah itu, setelah bocah itu tersadar, tentu seluruh bukit itu akan gempar mendengar perbuatannya. Namun, haruskah demi kesenangan sekejap, dia musti membunuh anak yang tidak berdosa itu agar tidak membuka mulut?

Semakin dipikirkan, Liang Fu Yong semakin bimbang. Semakin lama perasaannya juga semakin takut. Untuk sesaat benci dan menyesal berbaur menjadi satu dalam hatinya. Dia benci kepada dirinya sendiri yang masih belum berubah juga. Di samping itu dia juga menyesali apa yang hampir dilakukannya. Tiba-tiba tangannya diangkat ke atas kemudian dia menempeleng pipinya sendiri keras-keras. Angin bertiup semilir, air matanya yang mengandung penyesalan tidak terkatakan terus mengalir membasahi pakaiannya. Dia juga menghentakkan kakinya di atas tanah dengan kesal.

Setelah menangis beberapa saat, cepat-cepat dia mengenakan kembali pakaian si pelayan cilik itu. Kemudian kakinya menendang membuka totokan pada jalan darahnya, dalam waktu yang hampir bersamaan, tubuhnya berkelebat pergi secepat kilat.

Meskipun pikirannya sudah sadar kembaji, tetapi untuk sesaat dia masih merasa bingung menentukan arah yang harus ditujunya. Hatinya juga merasa agak berat seakan baru saja kehilangan suatu benda yang disukainya. Dengan perasaan hati yang galau,
tanpa sadar dia kembali lagi ke kamarnya sendiri. Tetapi dia seperti menghindarkan diri dari sesuatu sehingga kamarnya sendiri pun tidak berani dimasukinya. Tanpa tujuan yang pasti dia meneruskan langkah kakinya.

Ketika dia melewati kamar Tan Ki, tiba-tiba terdengar suara bisikan yang mesra, tidak syak lagi sepasang suami isteri itu sedang bersenda gurau dengan gembira. Hatinya kembali tergetar. Tiba-tiba saja dia mempercepat langkahnya dan lari meninggalkan tempat itu.

Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai di ruang pertemuan. Meskipun telah lewat beberapa waktu, tetapi wajahnya masih merah padam. Tentu saja Tian Bu Cu tidak tahu bahwa dia tadi sempat pergi kemudian kembali lagi, sedangkan keadaannya sudah berubah banyak. Tetapi dia merupakan seorang tokoh yang sakti. Sejak melihat sepasang alis Liang Fu Yong yang menunjukkan kegairahan yang berkobar-kobar, dia langsung tahu bahwa perempuan itu sedang terbangkit nafsu birahinya. Namun wajah Liang Fu Yong yang menyiratkan ketakutan dalam itu justru membuatnya bingung apa yang telah terjadi. Sepasang matanya yang menyorotkan sinar tajam terus memandang diri Liang Fu Yong lekat-lekat.

Melihat tampangnya yang berwibawa itu, jantung Liang Fu Yong semakin berdebar- debar. Perasaannya menjadi tidak tenang seperti orang yang menunggu jatuhnya hukuman.

Tiba-tiba terdengar Yibun Siu San berkata, “Harap Totiang mengajak muridmu itu kembali ke kamar. Sore nanti kita akan menguras banyak tenaga menghadapi golongan Lam Hay dan Si Yu. Setidaknya kita perlu istirahat yang cukup agar semangat dapat terjaga.”

Tian Bu Cu merangkapkan sepasang tangannya memberi salam. Kemudian dia membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu. Justru karena perkataan Yibun Siu San, Liang Fu Yong seakan terlepas dari intaian mata Tian Bu Cu yang tajam. Cepat-cepat dia mengikuti di belakang suhunya pergi secepat kilat.

Cian Cong menatap bayangan punggung kedua orang itu sampai menghilang di kejauhan. Kemudian dia berkata dengan suara lirih, “Tua bangka, bagaimana caranya mengurus perempuan ini?” sembari bertanya, tangannya menunjuk kepada Kiau Hun.

“Sikap perempuan ini tenang sekali. Meskipun sudah terjatuh ke tangan kita, tetapi dia bukan orang yang mudah dihadapi. Apalagi dia seorang perempuan, tentu tidak pantas apabila kau atau aku menggeledah tubuhnya. Oleh karena itu, aku rasa sebaiknya kita serahkan saja kepada Ciu Cang Po. Pokoknya dengan cara lembut atau keras, kita harus berhasil mengetahui di mana dia menyimpan obat penawar racun itu. Ini merupakan satu- satunya jalan apabila kita ingin menolong orang secepatnya.”

Cian Cong langsung tertawa lebar mendengar ucapannya.

“Akal yang bagus!” katanya sembari berjalan ke arah Ciu Cang Po yang sedang memejamkan matanya mengatur pernafasan.

Sejak jalan darahnya tertotok oleh Tian Bu Cu, Kiau Hun segera memejamkan matanya dan mendengarkan pembicaraan orang-orang itu dengan seksama. Sikapnya begitu tenang dan sejak awal hingga akhir dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia bukan
saja tidak memperlihatkan tampang ketakutan, bahkan seakan tidak ambil perduli tentang mati hidupnya sendiri.

Yibun Siu San dapat merasakan gadis itu sudah mengambil keputusan untuk tidak memperdulikan mati hidupnya sendiri. Diam-diam dia merasa kagum sekali.

‘Tampangnya yang wajar dan tenang membuat orang tidak menduga bahwa dia sudah bertekad menunggu datangnya malaikat el-maut. Meskipun seorang tokoh berilmu tinggi atau pendekar yang gagah perkasa, biasanya juga merasa gentar apabila tahu dirinya akan mendapat hukuman mati. Rasanya tidak mungkin ada yang sanggup memperlihatkan ketenangan seperti gadis ini.’ pikirnya dalam hati.

Sesaat kemudian dia memanggil orang-orang yang tidak keracunan untuk mengangkat mayat-mayat yang berserakan untuk dikuburkan secara layak. Sementara itu, dia mengambil beberapa macam obat untuk menahan kerjanya racun agar jangan sampai menyebar ke jantung.

Kurang lebih memakan waktu dua kentungan, semuanya baru berhasil dibersihkan dan keadaan di tempat itu menjadi pulih kembali seperti sedia kala.

Tidak lama kemudian, kurang lebih dua puluh lebih tokoh-tokoh yang memegang peranan penting dan seBagian lagi yang belum keracunan, termasuk Ceng Lain Hong dan Oey Ku Kiong berkumpul lagi di ruang pertemuan.

Si pengemis cilik beserta rombongannya dari angkatan muda tetap berdiri di belakang para Cianpwe masing-masing. Tampak wajah mereka serius sekali bahkan menyiratkan ketegangan yang tidak terkatakan. Mereka seperti sedang menunggu suatu peristiwa besar yang akan terjadi sebentar lagi.

Suasana di dalam ruangan itu menjadi demikian hening. Dua puluh lebih tokoh kelas tinggi dunia Bulim duduk di tempat masing-masing dengan wajah kelam. Tampaknya mereka merasa gelisah menunggu kehadiran Bengcu mereka.

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, terdengar suara langkah kaki mendatangi. Rupanya Tan Ki dan Mei Ling yang masuk ke dalam ruangan itu. Pada jarak lima langkah dari meja bundar di depan, tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya, namun Mei Ling tetap berjalan terus ke depan. Setelah mengitari sebuah meja, istrinya itu berdiri di belakang Ceng Lam Hong. Sepasang matanya yang indah terus dipusatkan pada diri Tan Ki.

Hatinya sadar, meskipun Tan Ki sudah meraih kedudukan Bulim Bengcu tetapi dia masih harus melewati dua ujian lainnya, yakni kebijaksanaannya dalam memutuskan suatu persoalan dan kecerdasan otaknya berpikir. Dengan demikian dia baru dinobatkan sebagai Bulim yang resmi. Ujian-ujian ini mengandalkan daya pikir yang sempurna, tapi tampaknya Mei Ling mempunyai keyakinan yang besar terhadap suaminya itu. Biar bagaimana sulitnya persoalan yang diajukan nanti, Tan Ki pasti berhasil lulus dengan mudah. Oleh karena itu, mimik wajahnya tidak menunjukkan kepanikan sama sekali. Dia malah mengembangkan senyuman yang manis dan gayanya santai.

Terdengar suara Yibun Siu San yang berkata dengan nada rendah…
“Dengan usiamu yang begitu muda, kau berhasil mengalahkan sejumlah tokoh-tokoh kelas satu di dunia Bulim dan berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu. Oleh karena itu orang-orang gagah yang hadir di puncak bukit Tok Liong-hong ini merasa kagum sekali dengan ilmu pedangmu. Tetapi setelah aku perhatikan sepanjang hari, caramu menangani persoalan terlalu ceroboh. Begitu menghadapi suatu masalah, kau tidak mempertimbangkan segalanya dengan matang dan tidak menggunakan cara yang baik untuk menyelesaikannya. Apabila membiarkan kau menjabat kedudukan penting ini dan menyerahkan tanggung jawab yang besar terhadap dunia Bulim, mungkin akibat perbuatanmu malah ribuan nyawa bisa menjadi korban. Apabila setiap tindak-tanduk yang kau ambil tidak memakai akal sehat dalam menjalaninya, apakah kau dapat membayangkan bencana apa yang akan terjadi?”

Tan Ki menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menyahut tidak tahu. Hatinya malah diam-diam merasa heran. Biasanya paman Yi-bun justru khawatir kalau aku tidak berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu, mengapa hari ini terus-terusan mempersalahkan dirinya. Apabila dia bukan melakukannya dengan sengaja, Tan Ki benar-benar tidak mengerti apa alasannya…
Baru saja pikirannya tergerak, tiba-tiba terdengar kembali suara Yibun Siu San… “Demi kelangsungan hidup dunia Bulim kita yang akan datang, terpaksa aku menguji
kebijaksanaanmu dalam menyelesaikan persoalan. Tetapi dalam bidang yang satu ini, Kok Hua Hong dan Ciong San Suarig Siu ketiga Cianpwe menjamin bahwa kau dapat melewatinya dengan mudah. Aku juga menceritakan bagaimana kau melawan dua laki-laki dan perempuan bercadar di dalam goa. Oleh karena itu mereka setuju untuk tidak menguji kebijaksanaanmu…”

Mata Tan Ki mengesar ke sekeliling ruangan, kemudian mengembangkan seulas senyuman.

“Mengenai kecerdasan pikiran, harap Siok-siok ungkapkan saja biar keponakan mencobanya. Meskipun keponakanmu ini orang yang bodoh, tetapi ingin juga mencoba peruntungan, siapa tahu Thian yang kuasa memberikan bantuan-Nya.”

“Tadinya aku sudah mempersiapkan dua persoalan mengenai kebijaksanaan dan kecerdasan otak. Tetapi agar tidak dianggap memilih kasih, aku merundingkannya terlebih dahulu dengan Tian Bu Cu, Lok Hong dan Cian Cong Locianpwe bertiga. Akhirnya kami mengambil keputusan untuk tidak menguji kebijaksanaanmu lagi. Namun kecerdasan otak, biar bagaimanapun kau harus berusaha melaluinya.”

“Apabila keponakan tidak sanggup menjawabnya dengan baik, apa yang akan terjadi?” tanya Tan Ki.

“Mengikuti perkembangan dan mengambil keputusan secepatnya setiap kali menghadapi masalah, merupakan tindak-tanduk orang yang bijak. Apabila kau tidak sanggup melakukannya, hal ini bukan menyangkut dirimu saja, tetapi kesejahteraan seluruh Bulim. Seandainya kau gagal dalam ujian ini, terpaksa kami memilih Bulim Bengcu yang lain.”

Kata-katanya yang terakhir diucapkan dengan tegas. Hati orang-orang yang hadir dalam ruangan itu sampai ikut tergetar. Semua menolehkan kepalanya melirik sejenak ke
arah Yibun Siu San. Tetapi karena wajah orang itu selalu ditutupi sehelai cadar, maka orang-orang tidak dapat melihat bagaimana mimik perasaannya saat itu.

Tan Ki segera menjura dengan penuh hormat. “Harap Siok-siok uraikan.”
“Kau harus mendengarkannya baik-baik! Aku hanya mengucapkannya satu kali saja dan tidak akan mengulanginya kembali!”

“Aku mengerti!”

“Baik. Dengarkanlah. Beberapa hari yang lalu, ada seorang kakek penjual telur melewati kota Tiang An. Tangan kanannya menjinjing sebuah keranjang sayur, entah berapa banyak telur yang terisi di dalamnya. Kebetulan dia bertemu dengan seorang nyonya muda. Perempuan itu membeli seBagian telurnya dan setengah butirnya lagi. Tidak berapa lama kemudian dia bertemu lagi dengan seorang pelayan keluarga hartawan yang kemudian membeli telurnya seBagian dan setengah butirnya lagi. Terakhir kembali ada seorang tukang masak, orang itu juga membeli seBagian telurnya ditambah setengah butir lagi. Sekarang coba kau tebak berapa butir jumlah telur yang ada dalam keranjang kakek itu?”

Sepasang alis Tan Ki langsung berkerut mendengarnya. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Orang jual telur mana ada yang hanya setengah butir?” Yibun Siu San tersenyum simpul.
“Anehnya justru terletak di Bagian ini. Si kakek tua itu secara berturut-turut menjual telurnya sebanyak tiga kali. Setiap kali dia menjual seBagian dan setengah butirnya lagi. Kebetulan semuanya habis terjual.”

Orang-orang gagah yang mendengar ucapannya, diam-diam menggunakan hitungan langit, bumi, manusia dan tumbuhan yang biasa terdapat dalam kitab-kitab zaman itu. Setelah menghitung beberapa saat, tetap saja menemukan kesulitan. Mereka merasa pertanyaan itu tidak terlampau sulit didengarnya, namun ternyata tidak mudah dipecahkan. Sebetulnya merupakan sebuah soal yang tidak dapat dihitung dengan rumus biasa.

Suasana semakin lama semakin menegangkan. Mereka menunggu dengan hati berdebar-debar. Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, sepasang mata Tan Ki yang tadinya terpejam merenung, tiba-tiba membuka kembali.

“Kalau menghitung telur, tidak mungkin ada setengah butir. Tampaknya di balik soal ini terselip sesuatu…” sekonyong-konyong dia mengulurkan tangannya menepuk kepalanya sendiri. Kata-katanya pun terputus. Rupanya saat itu, tiba-tiba suatu ilham muncul di benaknya. Matanya terpejam kembali. Dengan hati-hati dia mengingat-ingat dalam hatinya.

Sesaat kemudian tampak dia membuka matanya kembali dengan bibir mengembangkan seulas senyuman.

“Apabila ingin memecahkan soal ini, maka kita harus menghitungnya dengan rumus jari tangan, yakni mulai dari angka satu.”

Yibun Siu San tertawa lebar mendengar ucapannya. “Dengan demikian berarti kau sudah tahu rahasia soal ini.”
Begitu kata-katanya diucapkan, semua orang yang hadir di tempat itu lantas memusatkan perhatian mereka pada diri Tan Ki.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan Tan Ki…

“Aku berhasil menghitungnya! Jumlah telur yang ada dalam keranjang si kakek tua itu semuanya ada tujuh butir!”

“Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa jumlahnya ada tujuh butir?”

Wajah Tan Ki merah jengah, dengan malu-malu dia menjawab pertanyaan Yibun Siu San.

“Jawaban dari soal ini perlu dimengerti secara mendalam. Tidak mudah diuraikan dengan kata-kata. Apabila Siok-siok menanyakan bagaimana keponakan dapat mengetahuinya, mungkin tidak mudah menerangkannya secara jelas.”

“Jawabannya sudah benar, tetapi coba kau terangkan dengan cara…” baru saja mengucapkan beberapa patah kata, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendatangi. Dengan demikian kata-katanya jadi terhenti.

Begitu pandangan mata dialihkan, dia melihat seorang laki-laki kekar yang dikenalnya sebagai salah seorang penjaga di depan masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Pada jarak lima langkah dari tempat Tan Ki, dia segera menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya membungkuk dalam-dalam memberi hormat.

“Sute dari Kaucu Pet Kut Kau mohon bertemu di luar.”

Mendengar laporannya, wajah orang-orang yang hadir dalam ruangan itu langsung berubah. Mereka saling lirik kemudian berbisik-bisik antara rekan masing-masing.

Sepasang alis Yibun Siu San langsung berkerut ketat.

“Persilahkan dia masuk!” katanya. Selesai berkata, dia langsung berdiri. Kemudian dia menyodorkan tempat duduknya untuk Tan Ki dan tersenyum.

“Kau dapat menjawab soal tadi dengan baik, maka orang-orang yang hadir di sini juga merasa puas telah memilih kau sebagai Bulim Bengcu. Harap mulai sekarang ini, dalam menangani masalah apapun kau harus menggunakan akal sehat. Jangan memilih kasih, serta tegas dalam memberikan hadiah maupun hukuman. Jangan sampai menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan oleh saudara-saudara kita.”

Tan Ki segera menjawab dengan sopan.
“Anak Ki mempersembahkan diri ini untuk dunia Bulim. Rela berkorban jiwa dan raga demi kelangsungan dunia Bulim. Apalagi dalam menghadapi pihak Lam Hay maupun Si Yu. Anak Ki rela berkorban apapun asal mereka dapat terusir pulang ke negaranya sendiri!”

Yibun Siu San langsung tertawa lebar mendengar perkataannya.

“Sekarang Kim Yu datang menemui kita sebagai wali dari pihak Lam Hay. Ini merupakan pertama kalinya kau bertemu muka dengan orang ini sebagai seorang pimpinan. Kami semua ingin melihat bagaimana kau menghadapinya.”

Baru saja ucapannya selesai, tampak seorang laki-laki bertubuh kurus dan berpakaian putih masuk ke dalam ruangan diiringi seorang pelayan tua. Tan Ki segera mengenali orang tersebut sebagai adik seperguruan dari Kaucu Pek Kut Kau yang bernama Kim Yu. Tampak sepasang tangannya memegang sehelai kartu seperti undangan yang berukuran besar. Kepalanya tertunduk, namun langkah kakinya cepat sekali. Dalam sekejap mata dia sudah berhenti pada jarak tiga langkah dari tempat Tan Ki.

Tan Ki melihat jubahnya berkibar-kibar seakan tidak membawa senjata apapun. Dia segera mengembangkan seulas senyuman.

“Kambing masuk ke dalam goa harimau, apakah tidak takut mendapat hinaan?”

Sepasang mata Kim Yu yang tajam mengedar ke sekelilingnya sejenak. Kemudian dia mengeluarkan suara tertawa terkekeh-kekeh.

“Kedatanganku saat ini merupakan utusan. Apabila saudara tidak takut ditertawakan orang-orang sedunia, silahkan turun tangan sesuka hatimu!” sepasang tangannya terulur ke depan, terasa ada serangkum tenaga yang kuat menekan datang ke arah Tan Ki.

Anak muda itu melihat dia mengerahkan tenaga dalamnya sambil menyodorkan surat undangan di tangannya. Diam-diam dia merasa geli. Namun kedudukannya sekarang adalah seorang Bulim Bengcu, perbuatan apapun yang dilakukannya harus serius dan tidak boleh menunjukkan sikap kekanak-kanakan. Oleh karena itu bibirnya tetap tersenyum lembut.

“Cayhe tidak berani menerima penghormatan sebesar ini.”

Tangan kanannya mengibas, gayanya seperti sedang meminta Kim Yu tidak perlu banyak adat, tetapi sebetulnya dia telah mengerahkan tenaga dalamnya dan menyambut datangnya kekuatan yang dilancarkan Kim Yu dengan keras.

Dua gulung tenaga yang dahsyat langsung beradu saat itu juga. Timbul angin yang kencang dan menerpa ke sekitar kedua orang itu. Bahkan pakaian beberapa orang yang duduk dekat dengan mereka langsung berkibar-kibar.

Setelah kedua gulung tenaga beradu, Tan Ki tetap duduk di tempatnya semula tanpa bergeming sedikitpun. Sedangkan jubah Kim Yu melambai-lambai, kakinya goyah dan tubuhnya terhuyung-huyung tiga kali. Sampai cukup lama dia tidak dapat menegakkan tubuhnya. Keadaannya saat itu seperti orang yang baru minum arak dalam jumlah yang banyak. Akhirnya tanpa dapat mempertahankan diri, dia tergetar mundur sejauh tiga langkah. Tampak lantai batu di mana kakinya berpijak tadi, sekarang retak dan debu-debu beterbangan ke mana-mana.

Baru saja mengadu kekuatan satu kali, hati Kim Yu sudah tercekat tidak kepalang.
Diam-diam dia berpikir: ‘Baru beberapa hari tidak bertemu, rasanya tenaga dalam orang ini sudah bertambah hebat.’

Pikirannya tergerak, terdengar mulutnya berkata, “Usia saudara masih muda tetapi tenaga dalam yang kau miliki ternyata sudah demikian tinggi. Benar-benar membuat hati ini menjadi kagum.” dia segera menyodorkan surat di tangannya ke depan. Kemudian terdengar dia melanjutkan kata-katanya. “Hengte mendapat perintah dari Suheng dan Toa Tocu untuk mengantarkan surat ini. Harap saudara membacanya kemudian sekalian mengirimkan balasannya.”
Tan Ki langsung menyambut surat itu. Dia melihat di Bagian atasnya tertulis: ‘Menurut berita yang tersebar, saudara berhasil mengalahkan jago-jago lainnya dan
berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu. Hal ini benar-benar mengejutkan pihak kami. Lagi pula kau langsung menyatakan tentang berdirinya Perkumpulan Ikat Pinggang Merah…’

Membaca sampai di sini, Tan Ki langsung mengeluarkan suara tawa dingin. “Cepat sekali berita ini tersebar!”
Selanjutnya dia membaca lagi isi surat tersebut:

‘Dengan demikian, kedua Bun Bu-siang serta tiga orang tongcu serta anggota dari Kaucu Pek Kut Kau mengambil keputusan untuk mengunjungi bukit Tok Liong-hong sore ini untuk melihat serta meminta pelajaran ilmu dari wilayah Tionggoan yang konon hebat sekali. Karena takut mengganggu dan dianggap tidak sopan, maka kami sengaja mengirim Kim Yu sebagai utusan untuk mengantarkan surat ini. Sekalian ingin menanyakan apakah saudara setuju dengan, waktu dan tempat yang telah kami tetapkan?’
Di bawahnya tertera tanda tangan Toa Tocu dari Lam Hay dan Kaucu dari Pek Kut Kau. Setelah membacanya sampai selesai, Tan Ki segera menyodorkan surat itu kepada
Yibun Siu San agar dibaca oleh orangtua itu. Bibirnya tetap tersenyum simpul.

“Kalau kalian sudah mengambil keputusan untuk menyerbu bukit Tok Liong-hong ini sore nanti, buat apa membuat letih tangan sendiri dengan menulis surat ini? Apabila kalian mempunyai kegembiraan seperti itu, tentu saja aku akan mengirimkan juga balasannya.” 

Dia langsung memanggil seorang penjaga untuk mengambilkan alat-alat tulis. Tanpa menunda waktu lagi dia langsung menggerakkan pit di atas kertas dan menjawab surat yang dibawakan oleh Kim Yu itu.

‘Saudara sudi menempuh perjalanan yang demikian jauh untuk menyambangi para tokoh dari Tionggoan kami, tentu saja pihak kami akan menyambut dengan senang hati. Dengan demikian kami menyatakan bahwa kami tidak akan bergeser dari puncak bukit Tok Liong-hong ini walau kapanpun kalian akan datang menyambangi.’
Kim Yu melihat tulisan tangan Tan Ki kokoh dan rapi. Namun isinya singkat saja. Dalam waktu sekejap mata dia sudah selesai membacanya. Diam-diam dia memaki dalam hatinya: ‘Sombong benar ucapan yang tertulis di dalamnya!’

Kim Yu merupakan manusia yang sangat licik. Meskipun hatinya mendongkol membaca surat balasan Tan Ki, tetapi dari luar dia menampilkan sikap yang biasa-biasa saja. Namun mata Tan Ki yang tajam sempat melihat perubahan wajahnya.

Tan Ki ingin menjaga sikapnya sebagai seorang Bulim Bengcu, diapun tidak ingin mempermalukan orang ini di hadapan umum. Oleh karena itu dia pura-pura tidak tahu dan tetap berkata dengan suara yang lembut.

“Dua negara berunding, tidak boleh melakukan kekerasan terhadap utusan yang dikirimkan. Aku tidak ingin tersebar berita yang tidak enak didengar atau menyulitkan dirimu. Sebaiknya kau pulang saja secepatnya dengan membawa surat balasan ini. Tetapi apabila lain kali bertemu lagi, kita sama-sama telah menjadi musuh bebuyutan. Aku rasa kau sendiri mengerti apa yang harus dilakukan.” Tan Ki melipat kertas surat itu kemudian menyodorkannya ke hadapan Kim Yu.

Saat ini jarak antara keduanya hanya setengah depaan lebih. Dengan mengulurkan tangan saja dapat mencapai tubuh lawannya. Kim Yu melihat Tan Ki mengulurkan tangannya ke depan dengan wajar, seakan tidak berjaga-jaga sama sekali, hatinya sekonyong-konyong tergerak. Cepat-cepat dia menarik nafas dan diam-diam mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Dia berpikir ingin menggores tangan Tan Ki dengan jarinya yang mengandung racun ketika menyambut surat balasan tersebut, Apabila berhasil, goresan luka di tangannya pasti terkena racun dan dalam waktu yang singkat menyebar ke seluruh tubuh serta mati seketika. Beberapa hari yang lalu, Kim Yu justru menggunakan jari kukunya yang beracun itu melukai Tan Ki sehingga hampir saja nyawa anak muda itu melayang.

Begitu pikirannya tergerak, tangannya segera terulur keluar menyambut surat tersebut, sepasang matanya menatap Tan Ki lekat-lekat seakan ingin melihat perubahan wajah anak muda itu. Kebetulan pada saat itu, pandangan matanya bertemu dengan sepasang mata Tan Ki yang juga sedang menatap kepadanya.

Dua pasang mata bertemu pandang, Kim Yu segera merasa bahwa di dalam sinar matanya terkandung kewibawaan yang dalam. Sorotannya tajam menusuk, seperti mengandung pengaruh yang tidak dapat ditolak. Mimik wajah anak muda itu begitu angker sehingga tanpa terasa hatinya berdebar-debar. Pikirannya yang jahat hilang seketika, dia tidak berani meneruskan niat hatinya.

Tanpa berkata sepatahpun, dia langsung menerima surat balasan tersebut dan memasukkan ke balik pakaian. Tetapi saat itu dalam hatinya telah timbul perasaan ngeri sehingga dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan ke depan beberapa langkah. Tiba-tiba dia seperti teringat pada suatu persoalan yang besar sekali. Tanpa menghentikan langkah kakinya dia menolehkan kepalanya dan mengedarkan pandangan matanya.
Sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas, wajahnya menyiratkan perasaan bimbang, tetapi akhirnya dia meneruskan juga langkahnya meninggalkan tempat tersebut.

Rupanya ketika dia menolehkan kepalanya tadi, dia merasa tidak menemukan bayangan Kiau Hun di antara para tokoh-tokoh yang hadir di tempat itu. Biar bagaimana perempuan itu merupakan mata-mata yang dikirim pihak Lam Hay Bun untuk menyelidiki
perkembangan di daerah Tionggoan. Ilmunya sangat tinggi karena mendapat didikan langsung dari Toa Tocu. Seandainya dalam pertandingan dia tidak sanggup merebut kedudukan Bulim Bengcu, tetapi berdasarkan kepandaiannya, paling tidak perempuan itu pantas menyandang gelar pendekar pedang tingkat sembilan. Kali ini orang-orang yang hadir dalam ruangan merupakan anggota Perkumpulan Ikat Pinggang Merah, tetapi sebagai salah seorang peserta pertandingan, seharusnya Kiau Hun juga termasuk anggota perkumpulan itu, mengapa saat ini bayangannya malah tidak kelihatan?

Jangan kata orang itu pergi dengan hati bertanya-tanya, Tan Ki sendiri sudah dapat memastikan bahwa dia akan menceritakan apa yang dilihatnya kepada Suheng serta sang Tocu. Setelah Kim Yu meninggalkan tempat itu, Tan Ki segera berdiri dengan bibir menyunggingkan senyuman.

“Saat ini waktu masih ada tiga kentungan sebelum sore hari. Sahabat-sahabat dari perkumpulan kita ini seBagian sudah terserang racun. Mereka tentu saja tidak dapat menghadapi musuh. Harap kalian menggunakan waktu yang singkat ini untuk beristirahat agar semangat pulih kembali. Pertarungan yang akan berlangsung senja nanti menyangkut nasib dunia Bulim kita. Cayhe hanya mengandalkan bantuan dari saudara-saudara sekalian…”

Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba terdengar seseorang berteriak menukas, “Bengcu tidak perlu rendah diri, pihak Lam Hay dan Si Yu bergabung untuk menyerbu kita, cara mereka licik dan keji. Kitapun tidak perlu sungkan menghadapi manusia-manusia seperti itu. Meskipun harus bertarung sampai titik darah penghabisan, pokoknya kita rela mendengar perintah Bengcu. Tetapi, hamba mempunyai suatu masalah yang mengganjal dalam hati, yang mungkin tidak enak didengar apabila diungkapkan…!”

Tan Ki melirik orang itu sejenak kemudian tersenyum ramah.

“Silahkan saudara katakan saja terus terang, siaute justru ingin mendengarnya.”

Orang itu merenung sesaat, seakan sedang mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya. Beberapa waktu kemudian dia baru berkata dengan perlahan- lahan…

“Meskipun di dalam dunia Bulim kita sering terjadi budi dan dendam yang berakhir dengan pembunuhan, tetapi selama ratusan tahun boleh dibilang masih saling memperhatikan. Setiap kabar berita cepat tersebar. Meskipun orangnya belum pernah bertemu, kebanyakan namanya saja sudah pernah terdengar. Hamba sendiri seorang pesilat kasar yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia Kangouw. Boleh dibilang banyak hal yang sudah dialami ataupun dengar dari sana sini! Dalam pesta yang berlangsung tadi, puluhan rekan kita mati secara mengenaskan karena terserang racun yang dimasukkan dalam arak. Walaupun hamba tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan orang-orang itu, namun hati ini tetap merasa pedih melihat mereka mati dengan cara demikian. Hamba merasa marah dan seakan menuntut keadilan bagi mereka. Oleh karena itu, hamba memberanikan diri menanyakan kepada Bengcu, entah cara apa yang akan diambil untuk menindak sang pelaku kejahatan tersebut?”

Mendengar ucapannya, untuk sesaat Tan Ki termangu-mangu. Kemudian dia malah berbalik tanya kepada orang itu, “Bagaimana menurut pendapat saudara sendiri?”
Sepasang mata orang itu mengedar ke sekeliling ruangan dan melihat sekilas kepada orang-orang yang hadir, kemudian dia baru berkata lagi dengan perlahan-lahan, “Apabila orang itu memang pelaku kejahatan tersebut, harap Bengcu perintahkan orang untuk membawanya keluar dan tentukan hukuman yang harus diterimanya di hadapan para sahabat ini. Sekaligus menyelidiki di mana obat penawar racun itu disimpan sehingga kita bisa memberi pertolongan lebih awal kepada rekan-rekan yang sekarat.”

Baru saja perkataannya selesai, terdengar suara-suara yang menyatakan kesepakatan mereka. Melihat emosi para anggotanya sudah mulai terbangkit, sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas. Sejenak kemudian dia sudah pulih kembali seperti sediakala.

“Baiklah, saudara boleh persilahkan Ciu Cang Po membawanya keluar.” Orang itu mengiakan kemudian langsung menghambur pergi.
Tidak lama kemudian, dia kembali lagi dengan diiringi oleh seorang nenek berambut putih, yakni Ciu Cang Po yang menyeret seorang gadis berpakaian merah. Ketiganya masuk ke dalam ruangan dan berhenti pada jarak lima langkah dari tempat duduk Tan Ki.

Pandangan mata anak muda itu segera dialihkan, dia melihat sepasang pipi Kiau Hun yang biasanya mulus dan putih, sekarang sudah membengkak dan penuh dengan guratan bekas tamparan jari tangan. Rambutnya acak-acakan. Walaupun belum sampai satu kentungan dia dibawa oleh Ciu Cang Po, tetapi tampaknya mendadak saja dia menjadi kurus banyak, wajahnya kuyu, langkah kakinya tertatih-tatih. Tidak diragukan lagi, bahwa dia telah dihajar cukup keras oleh si nenek tua bekas gurunya itu.

Melihat keadaannya, hati Tan Ki terasa serba salah. Dia tidak dapat mengatakan bagaimana perasaannya saat itu, entah pilu atau pedih. Dia menatap wajah Kiau Hun yang bengap itu dengan termangu-mangu.

Kembali terdengar suara orang tadi berkata kepada Tan Ki, “Hamba menuruti perintah Bengcu dan sudah membawa si tersangka utama ke dalam ruangan ini. Harap Bengcu tentukan keputusannya.”

Saat itu Tan Ki sedang mengenang masa lalunya. Meskipun suara pembicaraan orang itu sangat lantang, tetapi dia seperti tidak mendengarnya. Dia tidak mengucapkan sepa- tah kata atau bergeming sedikitpun dari tempat duduknya.

Saat itu juga bayangan Kiau Hun yang menempuh bahaya menolong jiwanya bahkan sampai diusir dari pintu perguruan seakan melintas di depan pelupuk matanya. Akhirnya gadis itu terpaksa mencari jalan keluar sendiri untuk mengangkat derajatnya sehingga dia rela menjadi selir Tocu Lam Hay Bun.

Dari awal sampai akhir, meskipun Kiau Hun telah salah langkah sehingga sekarang memetik hasilnya sendiri. Tetapi kalau dipikirkan dengan seksama, semua ini timbul akibat dirinya.

Perlu diketahui bahwa Tan Ki adalah seorang yang berwatak tinggi hati. Seorang diri dia berkelana di dunia Kangouw dan selamanya tidak suka menerima budi orang lain. Teringat olehnya cinta kasih Kiau Hun yang dalam dan budi yang tidak mudah dilunasi olehnya. Hatinya menjadi tertekan. Dia merasa harus menolongnya satu kali ini agar hutang piutang antara mereka menjadi impas. Tetapi kesalahannya justru berat sekali. Dia
menggunakan racun yang ganas dan memasukkannya dalam arak sehingga begitu banyak korban yang jatuh. Caranya ini memang terlalu keji. Meskipun Tan Ki berniat menolongnya, tetapi mungkin dia tidak sanggup membendung kemarahan orang-orang gagah yang hadir dalam ruangan itu. Bahkan kemungkinan masa depannya sendiri akan hancur dan nama besar yang baru berhasil diraihnya jatuh seketika.

Semakin dipikirkan, hati Tan Ki semakin galau. Dia merasa serba salah, entah jalan mana yang harus dipilihnya Oleh karena itu, meskipun orang tadi berkata dengan suara lantang, di telinganya hanya bagai dengungan-dengungan yang tidak jelas. Apa yang sebenarnya dikatakan oleh orang itu, dia benarbenar tidak tahu.

Bagian LI

Orang itu melihat sang Bengcu tidak memberikan jawaban sedikitpun dan tampangnya seakan menyiratkan bahwa dia sedang menguras otaknya memikirkan suatu hal, maka terpaksa dia mengulangi sekali lagi perkataannya.

Pikiran Tan Ki jadi tersentak sadar, mulutnya mengeluarkan suara desahan kemudian dia mengulapkan sebelah tangannya.

“Kalian berdua harap duduk dulu.” sambil berkata, sepasang matanya menyapu ke arah para hadirin sekilas. Tampak wajah mereka menyiratkan keseriusan yang tidak terkatakan. Saat itu mereka juga sedang menatap kepadanya. Dia mengerti mereka ingin tahu bagaimana Bengcu yang baru terpilih ini menyelesaikan masalah tersebut. Diam-diam hatinya merasa tegang dan setelah menenangkan dirinya sejenak, dia mengeluarkan suara batuk-batuk kecil.

“Apakah kau yang bernama Kiau Hun dan pernah melayani nona Mei Ling di keluarga Liu?” tanyanya sebagai pembuka kata.

“Apakah kau ingin menyelidiki masalah ini atau ingin tahu duduk perkara yang sebenarnya? Kalau kau memang ingin tahu siapa aku ini, baiklah. Aku akan mengatakan terus terang bahwa aku memang seorang budak yang rendah dan dihina oleh setiap orang!” kata-kata yang diucapkannya itu seperti ingin mengumbar kemarahan dalam hatinya. Oleh karena itu, nada suaranya juga begitu ketus dan menusuk perasaan.

Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas, tiba-tiba nalurinya yang tajam melintaskan sebuah pikiran. Terdengar dia berkata kembali…

“Baiklah. Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan lagi. Apabila benar, kau boleh menganggukkan kepalamu sebagai pernyataan iya. Kalau tidak, kau gelengkan kepalamu. Tetapi kau tidak boleh menyahut yang bukan-bukan atau mengoceh sembarangan.
Mengerti?”
Tanpa menunggu jawaban dari Kiau Hun dia segera melanjutkan lagi ucapannya. “Tiga bulan yang lalu, demi menolong selembar nyawaku, kau sampai diusir oleh
gurumu dan meninggalkan gedung keluarga Liu. Karena kau seorang gadis yang sebatang kara, seorang diri berkelana di dunia Kangouw, tentu pikiranmu menjadi gundah dan kau menganggap hidup ini tidak berarti bukan?”

Kiau Hun merasa apa yang dikatakannya memang benar. Oleh karena itu dia menganggukkan kepalanya.

Dia tidak tahu kalau Tan Ki berniat menolongnya. Di pihak yang satunya, dia ingin menekan Kiau Hun dengan kata-kata agar dia tidak sembarangan mengoceh. Di pihak yang lain dia ingin orang-orang yang hadir dalam ruangan itu merasa iba atas nasib Kiau Hun. Apabila mereka sudah merasa kasihan terhadap nasib gadis itu yang malang, meskipun seberapa berat dosanya, tentu tidak perlu sampai dihukum mati.

Ternyata setelah dia mengucapkan kata-katanya, perhatian para hadirin langsung terpusat pada diri Kiau Hun.

Perlahan-lahan Tan Ki melanjutkan kata-katanya kembali…

“Seseorang yang dalam keadaan putus asa, baik pikirannya maupun keberaniannya jadi melemah. Aku rasa dalam keadaan bingung kau bertemu dengan Toa Tocu, kemudian dengan kata-katanya yang manis dia merayu dirimu agar kau terpengaruh untuk berpihak padanya. Tentunya dalam keadaan seperti dirimu saat itu, tanpa berpikir panjang lagi kau segera terbujuk untuk menuruti apa yang dikatakannya, betul bukan?”
Siapa nyana Kiau Hun malah tertawa sumbang dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dalam keadaan sebatang kara dan tidak ada yang dapat diandalkan, mungkin orang
lain akan merasa putus asa dan memilih jalan pendek. Tetapi aku bukan orang seperti itu, justru kemauanku untuk hidup semakin kuat, karena aku ingin membalas dendam. Apa yang tidak dapat diperoleh oleh orang lain, aku malah harus mendapatkannya. Perlu kau ketahui bahwa aku diusir dari pintu perguruan oleh Ciu Cang Po, justru karena derajatku yang rendah dan tidak berharga setengah keping uangpun baginya. Dengan membawa perasaan hati yang pesimis serta pedih, aku berkelana seorang diri. Diam-diam aku bersumpah dalam hati bahwa aku rela mengorbankan apapun untuk mendapat kedudukan yang tinggi dan harus sanggup mengangkat derajatku sendiri, agar orang-orang yang pernah menghina aku atau orang yang menganggap rendah diriku tahu siapa diriku ini sebenarnya. Ketika mula-mula bertemu dengan Toa Tocu dari Lam Hay Bun, aku hanya mencoba-coba peruntunganku saja. Sebab aku tahu bahwa manusia seperti dia justru merupakan pasangan yang paling ideal bagi diriku. Dia dapat memberiku segala hal yang kuinginkan. Tetapi kejadiannya justru jauh berbeda dengan apa yang kau bayangkan.
Bukannya dia yang merayu diriku atau mempengaruhi diriku agar bersedia memihak kepadanya. Malah aku yang bersandiwara di hadapannya sehingga dia menaruh perasaan iba. Dengan tidak berpikir panjang, aku mengorbankan kecantikan serta kesucian-ku agar dirinya terpikat. Akhirnya dia benar-benar tertarik pada diriku dan mengajarkan aku berbagai ilmu yang tinggi dalam waktu tiga hari tiga malam. Belakangan aku malah diangkat menjadi selir kesayangannya…”

Wajah orang-orang yang hadir di dalam ruangan itu langsung berubah hebat mendengar keterangannya. Bahkan Tan Ki sendiri juga tidak menyangka dia akan seberani itu mengatakan hal yang sebenarnya. Tidak dapat ditahan lagi dia jadi tertegun sekian lama. Diam-diam dia merasa khawatir. Tampak orang-orang yang hadir di tempat itu saling berbisik satu dengan lainnya. Suasana semakin tidak beres dan jauh dari harapannya. Oleh karena itu dia segera menggebrak meja keras-keras, begitu kencangnya sehingga meja bergetar hebat dan cawan-cawan yang ada di atasnya terbang melayang tinggi.

“Aku hanya menyuruh kau menganggukkan kepala dan menggeleng, tidak perlu banyak omong. Sekarang kau malah berani mengoceh panjang lebar di hadapanku. Mana orang? Harap beri tamparan dua kali biar dia tahu rasa!” bentaknya.

Wajah Kiau Hun semakin dingin mendengar ucapannya. Bibirnya malah mengeluarkan suara tawa terkekeh-kekeh.

“Jalan darahku toh telah tertotok, tenaga dalam tidak dapat dikerahkan sedikitpun. Jangan kata hanya ditampar, biar dibunuh sekalipun, aku juga tidak dapat memberikan perlawanan. Memangnya kau kira perbuatanmu itu gagah sekali?”

Hati Tan Ki semakin tertekan melihat keberanian Kiau Hun. Tadinya dia memang sengaja menyuruh orang menempeleng pipinya agar kemarahan para hadirin yang mendengar ceritanya agak reda. Perlahan-lahan dia baru mencari akal menolong gadis itu. Siapa sangka Kiau Hun sama sekali tidak mengerti maksud hati Tan Ki. Dia kira anak muda itu sengaja menghinanya di depan orang banyak. Akhirnya Tan Ki jadi serba salah. Belum lagi dia sempat mengatakan apa-apa, tiba-tiba telinganya mendengar suara dengusan dingin. Kumandangnya menggidikkan hati sehingga orang yang mendengarnya seperti diguyur air dingin. Begitu pandangan matanya beralih, dia melihat Ciu Cang Po melesat ke depan secepat kilat dan berhenti di hadapan Kiau Hun.

“Kalau kau memang sudah kepingin mati, si nenek tua akan mengabulkan permintaanmu!” bentaknya marah.

Lengannya yang kurus kering terjulur keluar dan sebuah pukulan dihantamkannya ke dada Kiau Hun.

Tampak Kiau Hun memejamkan matanya menunggu kematian. Tiba-tiba dia merasa ada serangkum angin yang kencang melanda sampingnya. Tahu-tahu pukulan yang dilancarkan oleh Ciu Cang Po tertahan bahkan tubuhnya sampai tergetar oleh rangkuman angin yang kencang tadi.

Telinganya mendengar suara seseorang yang bening dan lantang, “Harap Locianpwe jangan turun tangan sembar angan!”

Hati Ciu Cang Po terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia menarik kembali serangannya lalu mencelat mundur ke belakang. Dia menolehkan kepalanya melihat, rupanya orang yang bersuara tadi justru Bengcu yang baru terpilih, Tan Ki.

Meskipun namanya sudah jauh lebih lama terkenal dari pada anak muda itu, tetapi dia sadar bahwa Tan Ki menemukan berbagai keajaiban sehingga ilmunya tinggi sekali. Malah kalau ditilik dari keadaannya sekarang, mungkin ilmu Tan Ki sudah jauh lebih hebat dari dirinya. Meskipun wataknya sangat picik dan tidak pernah mau mengalah kepada siapapun, tetapi untuk saat ini dia juga tidak berani mengumbar adatnya yang keras kepala. Apalagi Tan Ki sudah menjabat sebagai Bulim Bengcu yang harus dihormati, oleh karena itu tampak nenek tua itu tertawa sumbang lalu berkata, “Tindakan apa yang akan diambil oleh Bengcu?”

Tan Ki tersenyum lebar.
“Kita toh belum berhasil mengetahui di mana dia menyimpan obat penawar racun itu.
Harap kau jangan mengganggu dia lebih dahulu.”

Ciu Cang Po melihat Tan Ki dapat melancarkan serangan tetapi orangnya sendiri langsung mengikuti di belakang pukulannya. Kecepatan serangan yang dilancarkan oleh anak muda itu belum tentu dapat dilakukan orang lain. Diam-diam hatinya tergetar dan kemudian mengundurkan diri dengan perasaan apa boleh buat.

Tan Ki melihat pandangan mata orang-orang gagah saat itu tertumpu pada diri Ciu Cang Po, cepat-cepat dia berkata dengan suara lirih, “Apabila kau mempunyai obat penawar itu, cepat keluarkan. Aku akan mencari akal menolongmu terlepas dari kesulitan ini.”

Mata Kiau Hun menyorotkan kepedihan hatinya. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang pilu.

“Biarpun ada, asal kau membuka mulut memohon kepadaku, pasti akan kuserahkan kepadamu.”

Tan Ki menghentakkan kakinya di atas tanah keras-keras.

“Aih, kau ini memang tidak mengerti perasaan orang…!” tiba-tiba suatu ingatan melintas di benaknya. Dia segera merubah pokok pembicaraannya. “Aku tahu Oey Ku Kiong sudah lama jatuh hati padamu, mungkin dia juga tahu persoalan ini dan merasa sedih karenanya.”

Mendengar kata-katanya, bibir Kiau Hun mencibir seakan mengejek.

“Apapun yang dia lakukan, aku toh tidak pernah memaksanya. Tetapi perlu kau ketahui bahwa aku tidak tertarik sedikitpun kepadanya, meskipun untuk mengambil hatiku dia rela mengorbankan apa saja dan berani menempuh segala kesulitan serta selalu memikirkan keselamatan diriku. Ditilik dari luar, dia memang seorang pemuda yang romantis.
Bodohnya sampai patut dikasihani, tetapi sebetulnya orang seperti dia itulah yang dinamakan sudah tahu malah mencari kesulitan untuk diri sendiri. Aku justru memegang kelemahannya dan memperalat dia untuk sementara waktu. Apabila pihak Lam Hay berhasil menguasai Tionggoan, maka aku tidak memerlukan dirinya lagi, pada saat itu aku akan menyepaknya jauh-jauh. Obat penawar dari racun Cairan Ular yang berharga itu, mana mungkin aku serahkan kepada orang seperti dia?”

Hati Tan Ki sampai tercekat mendengar kata-katanya. ‘Sungguh keji perempuan ini.’pikirnya diam-diam.

Kiau Hun melihat sepasang alis Tan Ki terus berkerut, dia mengira hati anak muda itu sedih memikirkan obat penawar yang tidak berhasil didapatkannya. Oleh karena itu, dia malah mengembangkan seulas senyuman yang santai.

“Bersedih terus juga percuma saja, obat penawar dari racun Cairan Ular hanya dimiliki oleh Toa Tocu seorang, percuma kau menguras otakmu sedemikian rupa!”

Mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam.
“Biar bagaimana aku merupakan Bulim Bengcu zaman ini. Apakah aku melihat orang- orangku mati keracunan begitu saja tanpa berusaha sedikitpun?” bentaknya marah. Dalam keadaan kesal, kesadarannya jadi terganggu, tanpa terasa kata-katanya itu diucapkan dengan nada keras.

Diam-diam hati Kiau Hun tergetar. Dia seperti seorang yang menerima hinaan berat. Air matanya langsung mengalir dengan deras.

“Orang-orang yang keracunan, tidak mungkin bisa bertahan sampai esok hari.
Meskipun sekarang ada orang yang berangkat ke Lam Hay secepatnya untuk mencuri obat penawar itu, dalam satu hari juga tidak mungkin sanggup menempuh perjalanan sejauh itu.”

Sepasang mata Tan Ki memandang Kiau Hun dengan mendelik. Setelah menatap sekejap, tiba-tiba dia menarik nafas panjang. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Dia bukan sedang memikirkan cara menyelamatkan orang-orang yang keracunan. Tetapi merasa tidak berdaya menghadapi Kiau Hun yang keras kepala itu.

Justru ketika dia masih merasa serba salah, entah siapa tiba-tiba berteriak dengan suara keras, “Kalau memang tidak dapat memperoleh obat penawar dari diri perempuan itu, membiarkan dia hidup hanya meninggalkan bencana di kemudian hari. Lebih baik bunuh saja sekalian membalaskan dendam kematian rekan-rekan kita!”
Seseorang yang lain langsung menukas ucapan orang yang pertama tadi… “Watak perempuan itu sungguh keji. Dengan tenang dia sanggup meracuni orang
sebanyak ini. Benar-benar lebih beracun dari ular berbisa, lagipula membuat orang tidak merasa iba sedikitpun terhadapnya. Cayhe mohon Bengcu mengambil keputusan yang tegas, jangan sampai menimbulkan penyesalan di kemudian hari…!”

Satu dua orang buka mulut, yang lain ikut menyambar. Saat itu suasana di dalam ruangan menjadi bising. Terdengar suara setuju dari kanan kiri.

Melihat keadaan ini, hati Tan Ki semakin tertekan. Dia mulai merasa bahwa keadaan Kiau Hun semakin lama semakin membahayakan. Tanpa sadar dia memandang Yibun Siu San, Cian Cong serta si tokoh sakti dari Bu Tong San, yakni Tian Bu Cu dengan mata mengandung permohonan agar mereka memberikan jalan keluar kepadanya. Siapa nyana mereka malah memejamkan matanya rapat-rapat seakan tidak bersedia ikut campur dalam urusan ini. Oleh karena itu, dia segera menarik nafas panjang-panjang dan ikut memejamkan matanya merenung.

Dia baru diangkat menjadi Bulim Bengcu, dengan demikian juga ia sadar bahwa dirinya harus menggunakan akal sehat menangani masalah ini. Dia harus mengambil keputusan tegas sehingga orang-orang yang hadir dalam ruangan itu dapat merasa puas.

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, mendadak dia membuka matanya kembali, sikapnya serius dan wajahnya tampak kelam. Dia menepukkan tangannya tiga kali agar para hadirin menghentikan pembicaraan mereka. Kemudian tampak dia mengangkat telapak tangan kanannya dan berhenti di atas kepala Kiau Hun kurang lebih tiga mistar. Diam-diam dia telah mengerahkan dua Bagian tenaga dalamnya dan siap-siap dilancarkan. Tenaga dalam Tan Ki saat ini sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Asal menggunakan sedikit kekuatannya saja, Bagian otak Kiau Hun pasti akan tergetar dan mati seketika.

Begitu melihat Tan Ki mengangkat tangannya dan berhenti di atas kepala Kiau Hun, suara bisikan maupun pembicaraan berhenti seketika. Suasana menjadi hening serta mencekam. Semua mata terpusat pada diri kedua orang itu dan menunggu dengan hati tegang. Mereka membuka mata lebar-lebar seakan takut hilang kesempatan menyaksikan kejadian besar ini. Bahkan saking tegangnya mereka sampai menahan nafas sekian lama.

Keringat dingin juga mulai membasahi wajah Tan Ki. Hatinya bimbang bukan main. Dia merupakan seorang pemuda yang mempunyai sifat welas asih. Apabila orang meminta dia membunuh seorang gadis yang tidak sanggup memberikan perlawanan, sebenarnya tidak sampai hati dia melakukannya. Tetapi karena keadaan yang mendesak, lagipula sebagai seorang Bengcu dia harus bertindak tegas, terpaksa dia harus turun tangan dengan keras agar hati orang-orang yang hadir dalam ruangan itu merasa puas.

Dua macam pemikiran yang bertentangan terus berkecamuk dalam hatinya.
Perasaannya semakin lama semakin gelisah. Serangkum rasa pedih menyelinap dalam kalbunya “dan untuk sesaat dia tidak sanggup turun tangan…

Tiba-tiba Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat. Hatinya dikeraskan dan siap-siap turun tangan…

Sekonyong-konyong telinganya mendengar suara Kiau Hun yang sendu, “Tan Koko, benarkah kau tega membunuh diriku?”

Beberapa patah kata yang tercetus dari mulutnya itu benar-benar keluar dari hatinya yang tulus. Setiap kalimatnya diucapkan dengan nada yang panjang ditambah lagi dengan wajahnya yang basah oleh air mata. Tampangnya sungguh mengenaskan dan mengandung daya tarik seorang wanita yang dalam.

Setelah mendengar nada suaranya yang sendu, dadanya seperti ditinju keras-keras oleh seseorang. Tubuhnya bergetar hebat sehingga tenaga dalam yang sudah dikerahkan serta siap dilancarkan seakan tertahan oleh suatu kekuatan yang tidak berwujud. Tanpa terasa telapak tangannya merenggang dan dia malah memandang Kiau Hun dengan termangu- mangu.

Suara Kiau Hun yang lembut kembali mendengung di telinganya…

“Boleh dibilang hari ini aku baru benar-benar mengenal siapa dirimu. Lucunya selama ini aku terus mencintaimu dengan sepenuh hati. Sudah salah tafsir, masih begitu bodoh sehingga apapun yang kau katakan, aku menaruh kepercayaan sepenuhnya.” suaranya yang tadi begitu lembut semakin lama semakin dingin dan datar.

Perasaan Tan Ki jadi bergejolak mendengarkan kata-katanya, tanpa sadar dia malah menarik kembali telapak tangannya.

Kiau Hun melihat Tan Ki mulai terpengaruh oleh kata-katanya, tentu saja diam-diam merasa senang. Asal dia terus mempengaruhi anak muda itu, mungkin tidak sulit baginya untuk meloloskan diri dari tempat tersebut.

Sayangnya seluruh tenaga dalamnya saat itu sudah lenyap sehingga dia tidak dapat mengerahkan ilmu Pembetot Sukmanya untuk memikat Tan Ki…
Justru ketika pikirannya masih melayang-layang, tiba-tiba dia melihat wajah Tan Ki perlahan-lahan mulai berubah. Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam. Tanpa terasa hatinya jadi tercekat. Pada saat itu juga dia merasa ada serangkum tenaga yang menekan dari atas kepala. Kali ini rasa terkejutnya benar-benar tidak terkirakan, tubuhnya bergetar bagai disambar kilat dan Bagian kepalanya langsung terasa gatal. Dia maklum Tan Ki hanya mengerahkan dua tiga Bagian tenaganya, tetapi apabila dihantam ke ubun- ubun kepalanya, cukup untuk membuat jiwanya melayang. Apalagi jalan darahnya dalam keadaan tertotok, tubuhnya tidak dapat bergerak sedi-kitpun. Oleh karena itu terpaksa dia memejamkan matanya menunggu kematian.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara benturan yang keras. Dua rangkum tenaga beradu di atas kepalanya. Kekuatannya demikian dahsyat sehingga rambut Kiau Hun terurai dan melambai-lambai.

Kemudian dia mendengar suara kibaran pakaian, tanpa dapat mempertahankan diri lagi dia membuka sepasang matanya. Dia melihat Oey Ku Kiong tergetar oleh tenaga dalam Tan Ki yang kuat sehingga kakinya menjadi goyah dan tubuhnya terhuyung-huyung mundur ke belakang dua langkah.

Oey Ku Kiong tiba-tiba turun tangan menolong Kiau Hun, benar-benar merupakan hal yang tidak diduga-duga oleh Tan Ki. Dia melihat wajah anak muda itu menyiratkan kepedihan, namun tidak mengandung niat jahat sedikitpun. Kesannya terhadap Oey Ku Kiong memang cukup baik. Setelah termangu-ma-ngu beberapa saat, ternyata dia tidak sanggup marah kepada anak muda ini. Terdengar dia berbicara dengan nada yang berat, “Apa yang dikatakan oleh perempuan ini tadi merupakan ucapan yang keluar dari hatinya yang paling dalam. Dia begitu memandang rendah Oey Ku Kiong dan menghinamu sedemikian rupa, mengapa kau masih berusaha menolong dirinya?”