Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian Bagian 48

Bagian 48

Sementara itu, tampak Kiau Hun menyapu ke depan dengan pedang pendeknya, cahaya hijau berpijar-pijar. Secarik sinar memanjang sampai satu depan, persis seperti pelangi yang menggantung di langit, gerakannya dengan cepat meluncur ke arah si kakek bungkuk.

Si kakek bungkuk memang tidak berani menghadapi senjata lawan secara berhadapan, tubuhnya berputar setengah lingkaran kemudian melesat mundur ke belakang dua langkah. Tampaknya Kiau Hun sejak semula sudah menduga bahwa dia akan melakukan gerakan ini. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara bentakan yang nyaring, gerakan pedang di tangannya tahu-tahu berubah arah dan meluncur ke urat nadi di dada Goan Siong Fei.

Dalam satu jurus, sekaligus dia melancarkari serangan kepada kedua orang itu.
Perubahan gerakannya begitu cepat dan serangannya keji bukan main. Orang-orang gagah yang berkumpul di sana melihatnya sampai mata mereka membelalak dan mulut melongo. Hatipun terasa bergidik.

Goan Siong Fei dan si kakek bungkuk adalah tokoh-tokoh yang sudah mempunyai nama di dunia Kangouw. Sekarang mereka melihat kenyatan bahwa biarpun bergabung, tetap saja mereka tak sanggup menghadapi seorang gadis muda. Rasanya pamor mereka jatuh dan tidak ada muka menghadapi orang lain. Rasa malu dan marah membaur menjadi satu dalam dada. Tanpa sadar mereka berdua saling melirik sekilas, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengadu jiwa dengan gadis ini. Mula-mula Goan Siong Fei membentak dengan suara keras, tubuhnya berkelebat dan melesat ke depan. Tangan kanannya membentuk cakar, dengan keji dia melancarkan cengkeraman ke dada Kiau Hun, sedangkan telapak tangan kirinya membawa serangkum angin yang kencang. Dengan jurus Mencari Jarum di Dasar Lautan, dia menghantam ke arah pusar gadis tersebut.

Wajah Kiau Hun menjadi merah padam melihat serangannya yang keji.

“Ke mana tujuan seranganmu? Kurang ajar!” pedang pendek di tangannya langsung digetarkan, segera terlihat cahaya kilat yang dingin dengan ukuran besar sekali. Begitu terangnya sehingga menyilaukan mata, serangannya yang dahsyat membentuk perisai yang berkilauan dan menghantam ke arah wajah Goan Siong Fei.

Sepasang mata Goan Siong Fei yang tajam sekali ternyata sulit menentukan ke Bagian mana serangan itu ditujukan. Tadinya dia sudah bertekad untuk gugur secara perkasa sehingga serangan yang dilancarkannya tidak main-main, kalau bisa kedua belah pihak sama-sama terluka. Dengan demikian meskipun kalah, pamornya tidak sampai jatuh.

Tahu-tahu Kiau Hun memaki dirinya dengan wajah merah padam dan mungkin kemarahan gadis itu jadi meluap dan menyerangnya dengan jurus yang tidak kepalang tanggung kejinya. Dia sendiri bagai tersentak sadar bahwa kedua serangannya tadi bisa dianggap kotor dalam, pandangan orang lain. Begitu pikirannya tergerak, cepat-cepat dia menjungkirbalikkan tubuhnya. Dengan jurus Ikan Lele Melompat-lompat, dia langsung mencelat mundur sejauh delapan sembilan langkah.

Baru saja kakinya mendarat di atas tanah, dia segera mengalihkan pandangan matanya. Tampak sinar kehijauan melesat secepat kilat dan menimbulkan hawa dingin
yang terasa menyusup ke dalam tulang. Kemudian ketika pedang itu ditarik kembali, terlihatlah hujan darah yang memercik ke mana-mana, disusul segera dengan suara jeritan ngeri si kakek bungkuk. Orangtua itu mencelat mundur sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Darah segar masih merembes dari tangan kirinya dan jatuh menetes ke atas tanah.

Kiau Hun memperdengarkan suara tawa yang dingin sekali. Pedangnya menuding ke arah si kakek bungkuk.

“Aku memotong sebelah telingamu sebagai peringatan! Lihat apakah lain kali kau masih berani sembarangan mengoceh dan bersikap kurang sopan terhadap diriku!”

Mendengar nada kata-katanya yang ketus dan sombong, orangtua bungkuk itu terpaksa menahan sakit dan kesal dalam hatinya. Seluruh tubuhnya sampai tergetar hebat dan untuk beberapa lama dia malah berdiri dengan wajah termangu-mangu. Sesaat kemudian tampak dia menghentakkan kakinya di atas tanah dan berkata dengan nada penuh kebencian.

“Lohu hari ini kalah di bawah pedang nona, aku hanya dapat menyalahkan kepandaian sendiri yang tidak bisa menandingi ilmu yang dimiliki orang lain. Mulai sekarang di dunia Kangouw tidak ada lagi manusia seperti aku ini. Sisa hidupku biar dilewatkan di tempat terpencil dan hanya ditemani batu-batu serta rerumputan!” sembari berkata, tubuhnya melesat, tahu-tahu dia bukan maju ke depan malah mencelat ke belakang sejauh satu depa lebih. Setelah itu baru dia membalikkan tubuhnya, terdengar suara raungan yang pilu seiring dengan bayangan punggungnya yang semakin menjauh.

Sekali turun tangan saja Kiau Hun berhasil menggetarkan Goan Siong Fei dan melukai si kakek bungkuk sehingga mengundurkan diri dari arena pertandingan tersebut. Orang- orang gagah yang berkumpul di tempat itu sampai saling pandang dan suasana hening mencekam. Tidak terdengar suara sedikitpun. Kedua tokoh yang menghadapi Kiau Hun tadi merupakan pendekar pedang tingkat delapan yang sudah mempunyai nama besar di dunia Kangouw. mereka juga merupakan pesertapeserta yang mempunyai harapan besar untuk meraih kedudukan Bulim Bengcu. Ternyata dalam beberapa jurus saja, satu dapat dikalahkan dan yang lainnya terluka. Kejadian ini menimbulkan perasaan kagum juga di hati orang-orang gagah akan ketinggian ilmu silat yang dimiliki Kiau Hun. Kenyataan ini merupakan hal yang belum pernah mereka dengar apalagi saksikan dengan mata kepala sendiri.

Sinar mata Kiau Hun perlahan-lahan mengedar ke arah orang-orang gagah yang berkumpul di tempat tersebut. Melihat pandangan mata mereka menyiratkan perasaan kagum, tanpa dapat ditahan lagi bibirnya mengembangkan senyuman manis. Sikapnya sengaja dibuat sekenes mungkin dan berkali-kali dia merapikan rambutnya yang terurai karena tiupan angin.

“Siapa lagi yang berniat terjun ke arena memberi pelajaran kepada Siauli?”

Suaranya sudah berhenti agak lama, tetapi tetap tidak ada seorangpun yang memberikan reaksi. Suasana di sekitar hanya diliputi kesunyian yang mencekam. Seakan di tempat yang begitu luas tidak terdapat seorang ma-nusiapun.

Angin berhembus semilir, tiba-tiba terdengar suara tambur ditalu satu kali. Nadanya begitu keras sehingga memecahkan keheningan yang mendirikan bulu roma itu!

Ini merupakan peraturan yang telah ditetapkan dalam penyelenggaraan pertemuan kali ini. Apabila tambur berbunyi sampai tiga kali, tetap tidak ada orang yang turun ke tengah arena menantang gadis itu, maka kedudukan Bulim Bengcu kali ini jatuh ke tangan Kiau Hun. Hal ini tidak bisa diganggu gugat lagi.

Ceng Lam Hong menyenggol tangan anaknya dan berkata dengan suara lirih, “Anak Ki, suara tambur sudah terdengar, mengapa kau masih diam di sini dan tidak turun ke tengah arena?”

“Ibu…” hatinya bagai diliputi kebimbangan yang dalam, namun dia tidak tahu bagaimana harus mengutarakannya di hadapan ibunya itu. Setelah memanggil satu kali, tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya dan tidak jadi meneruskan ucapannya.

Ceng Lam Hong bertambah panik melihat sikapnya itu.

“Kau anak ini memang keterlaluan! Entah apa yang dipikirkan dalam hatimu, aku sungguh tidak mengerti. Kau harus tahu bahwa dendam kematian ayahmu masih belum terbalas. Hanya dengan mendapatkan kedudukan Bulim Bengcu kau baru dapat membasmi si raja iblis Oey Kang!”

Tan Ki tetap menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Pernahkah ibu mendengar orang menyebut nama Cian Bin Mo-ong?” tanyanya dengan suara rendah.

“Pernah Yibun Sam-siokmu menceritakannya sedikit. Dalam keadaan gawat seperti sekarang ini, kau malah bertanya yang bukan-bukan!”

“Aku khawatir dia ada di antara kerumunan orang banyak dan mungkin akan ikut dalam perebutan Bulim Bengcu.”

Sepasang alis Ceng Lam Hong langsung menjungkit ke atas mendengar kata-katanya. “Apakah kau mengenal orang itu?”
Tan Ki hanya tertawa pahit, dia sengaja tidak menyahut pertanyaan ibunya. Telinganya kembali menangkap suara Kiau Hun.

“Pertemuan seperti ini langka sekali, apakah saudara-saudara sekalian benar-benar kehilangan rasa percaya diri untuk menghadapi seorang gadis muda seperti aku?”

Ucapannya selesai, tetap tidak ada orang yang menyahut sepatah katapun. Tong!

Sekali lagi suara tambur berbunyi, kumandangnya sampai lama sekali menyusup di telinga orang-orang gagah yang hadir di tempat tersebut.

Waktu perlahan-lahan merayap, sinar mata orang-orang gagah menyorotkan keraguan hati mereka, tangan mereka sampai berkeringat dingin. Mereka memperhatikan tengah arena dengan menahan nafas. Setiap detik yang berlalu lebih mencekam daripada sebelumnya ketika Kiau Hun bertarung dengan Goan Siong Fei dan si kakek bungkuk.
Sebab tiga menit lagi, seandainya tidak ada orang yang terjun ke tengah arena, maka di dunia Bulim untuk pertama kalinya muncul seorang Bulim perempuan.

Perasaan hati Tan Ki galau sekali, tangan kirinya menggenggam Pedang Penghancur Pelangi pemberian Mei Hun. Tampaknya dia ragu-ragu mengambil keputusan. Yibun Siu San, Cian Cong dan Lok Hong menatap ke arahnya dengan perasaan khawatir. Hal ini m alah membuat hati Tan Ki semakin bimbang.

Beberapa ratus pasang mata memperhatikan diri Kiau Hun. Dalam hati orang-orang gagah merasa saat sekarang ini suasana terasa tegang bukan main. Laki-laki yang memukul tambur mendongakkan kepalanya menatap langit. Perlahan-lahan tangannya terangkat ke atas dan dipukulnya tambur di hadapannya!

Tong! Suara tambur kembali terdengar untuk ketiga kalinya. Nadanya begitu keras sehingga hati orang yang mendengarnya menjadi tergetar. Lambat laun secercah senyuman lebar menghias di wajah Kiau Hun. Wajahnya tampak berseri-seri.

Justru di saat tambur baru dipukul, tiba-tiba tubuh Tan Ki berkelebat. Dia melesat ke depan secepat kilat. Saat ini ilmu silat anak muda itu sudah tergolong jago kelas satu.

Pikirannya baru tergerak dan dia langsung mengambil keputusan, tubuhnya segera melesat ke depan dan tahu-tahu sudah berdiri di hadapan Kiau Hun.

Boleh dibilang dalam waktu yang bersamaan, dari luar arena terdengar suara siulan panjang. Nadanya melengking dan berkumandang ke dalam gendang telinga. Tahu-tahu pandangan mata menjadi samar, suara angin berdesiran, sesosok bayangan bagai bintang jatuh melayang turun dengan kecepatan kilat.

Tan Ki menjadi tertegun, cepat-cepat dia mengalihkan pandangan-matanya. Orang yang baru muncul sama sekali tidak asing baginya. Dialah Liang Fu Yong yang mendapat warisan ilmu dalam satu malam oleh Tian Bu Cu, si tokoh sakti dari Bu Tong San. Tampak wajahnya bersinar terang, matanya menyorot tajam. Dibandingkan dengan sebelumnya bagai dua orang yang berlainan. Tan Ki tahu dia mendapat ilmu sakti dari Tian Bu Cu dalam semalaman saja. Sudah pasti tenaga dalamnya berlipat ganda dibandingkan dengan sebelumnya. Cepat-cepat dia menenangkan perasaan hatinya dan mengembangkan seulas senyuman manis.

Kiau Hun tertawa dingin menatap kedua orang itu.

“Untuk apa kalian naik ke atas panggung pertandingan ini?”

Liang Fu Yong mengulurkan tangannya ke belakang punggung dan mencabut sebatang pedang berwarna hijau. Dia menolehkan kepalanya kepada Tan Ki.

“Adik Ki, lebih baik kau berbincang-bincang saja dengan suhuku. Babak ini biar aku yang mencobanya terlebih dahulu.”

Tan Ki memalingkan kepalanya, dia melihat tampak Tian Bu Cu pucat pasi. Tampaknya orangtua itu telah menguras pikiran dan tenaga untuk mewariskan ilmu kepada Liang Fu Yong. Wajahnya seperti orang yang baru sembuh dari sakit parah. Langkah kakinya lambat dan saat itu sedang menuju ke tempat duduk yang ada di dekat Yibun Siu San. Si pengemis cilik Cu Cia, Sam Po Hwesio dan dua orang gadis bercadar hitam berdiri di
belakang para Cianpwe ini. Tan Ki segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum simpul.

“Dalam waktu satu malam Tian Bu Cu Lo-cianpwe mewariskan ilmu sakti kepadamu. Tentunya hawa murni dalam tubuhnya banyak terkuras. Aku tidak ingin mengganggu ketenangan beliau. Apabila kau tetap ingin bertanding dalam babak ini, biar aku berdiri di samping sebagai penonton saja.” perlahan-lahan dia melangkah mundur empat tindak dan berdiri dengan tangan memeluk pedang pemberian Mei Hun.

Kiau Hun tertawa dingin mendengar percakapan mereka.

“Tambur sudah berbunyi sebanyak tiga kali. Kedudukan Bulim Bengcu sudah menjadi hak diriku, apalagi yang ingin kalian perebut kan?”

Liang Fu Yong mengejap-ngejapkan sepasang matanya yang lebar. Bibirnya tersenyum simpul.

“Aku hanya merasa kurang puas. Lagipula nona menggunakan sebatang pedang pusaka untuk menghadapi kedua orang tadi. Andaikata menang juga tidak ada yang perlu dibanggakan.”

Sepasang alis Kiau Hun langsung menjungkit ke atas. Hal ini menandakan hawa amarah dalam dadanya sudah terbangkit saat itu juga.

“Kau sengaja ingin mencari gara-gara? Lagipula, apakah kau lupa bahwa dalam perebutan kedudukan Bulim Bengcu kali ini, lima partai besar tidak boleh ikut serta. Sedangkan kau merupakan murid Tian Bu Cu dari Bu Tong Pai yang termasuk anggota lima partai besar. Dengan demikian kau tidak mempunyai peluang untuk…”

Liang Fu Yong tetap tersenyum lembut.

“Sayangnya aku merupakan murid tidak resmi dari orangtua itu, jadi bukan anggota dari kelima partai besar. Dalam hal ini kau tidak mempunyai alasan untuk melarang aku mengikuti pertandingan ini. Kalau kau masih tidak mau turun tangan juga, jangan salahkan kalau aku memaksa dengan kekerasan!”

Begitu ucapannya selesai, pergelangan tangannya langsung memutar. Dengan jurus Gadis Menghias Wajah, dia melancarkan sebuah serangan.

Kiau Hun marah sekali melihat tingkah lakunya yang seakan memaksa itu.

“Budak hina berani sesumbar! Aku justru tidak percaya dalam semalaman saja Tian Bu Cu bisa mengajarkan ilmu sakti kepadamu!” pedang pendeknya bergerak, tampak cahaya hijau berkilauan. Tenaga dalam yang terpancar kuat bukan main. Dia melancarkan serangan sambil menangkis, terdengar suara benturan logam yang berdenting tiada henti- hentinya. Percikan api karena gesekan kedua senjata berpijaran di udara. Masing-masing tergetar mundur sebanyak satu langkah.

“Ilmu pedang yang bagus!” teriak Liang Fu Yong. Tubuhnya menggeser sedikit, kemudian dengan berani dia menerobos ke dalam sinar pedang Kiau Hun. Pedangnya sendiri menimbulkan bayangan bunga-bunga yang tidak terhitung jumlahnya. Dia menebas dari atas ke bawah.

Kiau Hun melihat serangan perempuan itu demikian gencar, dia sendiri tidak berani menganggap remeh. Cepat-cepat dia mengempos tenaga dalamnya dan sekonyong- konyong mencelat mundur ke belakang sejauh tiga langkah. Liang Fu Yong terus mendesak ke depan, pedangnya menyabet ke sana ke mari, dalam waktu yang singkat secara berturut-turut dia melancarkan tiga serangan.

Terdengarlah serentetan suara benturan logam, tubuh kedua orang itu kembali mencelat mundur sejauh beberapa langkah. Pertarungan antara kedua orang itu baru berlangsung beberapa jurus, tetapi orang-orang yang hadir di tempat itu dapat merasakan bahwa perkelahian mereka sengit sekali. Keduanya telah mengerahkan segenap kemampuan masing-masing. Tampaknya saja setiap jurus yang mereka mainkan tidak mengandung keistimewaan apa-apa, tetapi sebetulnya justru serangan yang ditujukan kepada lawannya sangat keji. Hidup dan mati bagai telur di ujung tanduk yang dapat ditentukan setiap saat.

Wajah Kiau Hun yang tadinya tenang mulai kelihatan kelam. Dengan memusatkan seluruh perhatiannya, dia berdiri tegak dengan pedang melintang di depan dada. Liang Fu Yong juga berdiri di hadapannya kurang lebih lima langkah dengan sepasang mata memperhatikan lawannya lekat-lekat. Sikapnya juga serius sekali dan tidak berani ayal menghadapi musuh yang tangguh ini.

Rupanya gebrakan yang beberapa jurus itu, membuat keduanya sadar bahwa hari ini masing-masing telah menemukan lawan yang seimbang. Seandainya tadi malam Liang Fu Yong tidak mendapat warisan ilmu dari Tian Bu Cu yang membuat tenaga dalamnya bertambah satu kali lipat dan jurus-jurus ilmu pedangnya jauh lebih matang, mungkin saat ini dia sudah terluka parah di bawah pedang Kiau Hun.

Tempat yang luas itu menjadi sunyi senyap tanpa terdengar suara sedikitpun. Tan Ki yang sejak tadi memperhatikan jalannya pertarungan juga mulai merasa gelisah. Hatinya khawatir sekali. Tangan kirinya mengenggam Pedang Penghancur Pelangi erat-erat.
Keringat dingin terus mengucur membasahi keningnya.

Liang Fu Yong menarik nafas panjang-panjang, baru saja dia mengerahkan tenaga dalamnya secara diam-diam dan siap melancarkan sebuah serangan, tiba-tiba telinganya mendengar suara Kiau Hun yang merdu dan lembut.

“Kau sudah terluka oleh pukulan Telapak Dingin milikku. Kalau tidak cepat-cepat mengerahkan hawa murni mendesak keluar racun dingin tersebut, dalam dua belas kentungan seluruh urat darah dalam tubuhmu akan mulai membeku. Tidak sampai tiga bulan racun dingin akan menyerang jantung dan jiwamu tidak akan tertolong lagi!”

Nada suaranya begitu dingin dan menyeramkan, membuat orang-orang yang mendengarnya timbul perasaan tidak enak. Perasaan Liang Fu Yong sendiri sampai tergerak mendengar suaranya. Dia mendongakkan kepalanya menatap gadis itu, tampak Kiau Hun berdiri di hadapannya dengan tampang keren serta berwibawa bagai sebuah patung dewi khayangan. Matanya memandang Liang Fu Yong lekat-lekat dan tidak berkedip sedikitpun.

Pandangan mata mereka bertemu, tiba-tiba jantung Liang Fu Yong berdebar-debar.
Serangkum hawa dingin seperti merasuk dalam hatinya. Tanpa sadar tubuhnya menggigil dan bulu kuduknya meremang semua.

Telinganya kembali terdengar suara yang dingin seperti es itu.

“Racun dalam tubuhmu parah sekali. Apabila kau tidak duduk dan mengerahkan hawa murni secepatnya, dalam waktu dua kentungan, pasti kau akan merasakan penderitaan yang hebat karena urat nadi dalam tubuhmu mulai membeku!”

Mendengar kata-katanya, tanpa sadar sekali lagi Liang Fu Yong mendongakkan wajahnya menatap Kiau Hun. Dua pasang mata bertemu pandang, kembali jantungnya berdebar-debar. Serangkum hawa dingin meluap dalam dadanya.

Tampak Kiau Hun tersenyum simpul. Namun di balik senyumannya terkandung keseraman yang mengerikan. Saat itu juga seluruh tubuh Liang Fu Yong terasa lemas, hatinya bergidik.

Tan Ki merasa sikap Liang Fu Yong semakin lama semakin kurang beres. Pandangan mata perempuan itu begitu kosong seakan orang yang kesadarannya hilang. Namun dia justru melotot tanpa berkedip sekalipun. Wajahnya menunjukkan keletihan yang tidak terkirakan. Diam-diam dia mengerutkan sepasang alisnya. Kemudian dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya dan berteriak sekeras mungkin.

“Cici Liang!” suaranya begitu lantang sehingga menggelegar dan menggetarkan gendang telinga bagi orang yang mendengarnya.

Pikiran Liang Fu Yong seperti tersentak, matanya yang mendelik lebar-lebar segera dipejamkan. Dia mengatur pernafasannya untuk beberapa saat. Kemudian terdengar dia membentak dengan suara nyaring. Pedangnya digerakkan, timbul bayangan bunga-bunga dan cahaya dingin. Dengan cepat dia mengirimkan sebuah serangan.

Kiau Hun segera memainkan jurus Im dan Yang Berbalik Arah. Ditahannya serangan Liang Fu Yong yang dahsyat, orangnya sendiri malah mencelat ke belakang. Matanya mendelik ke arah Tan Ki lebar-lebar. Mulutnya kembali berbicara dengan nada dingin.

“Lukamu parah sekali. Kalau kau masih tidak mau mendengar nasehatku untuk duduk dan beristirahat, jangan menyesal apabila sudah terlambat!”

Begitu mendengar nada suara yang menyeramkan itu, setiap patah katanya bagai menggetarkan kalbu. Tiba-tiba seluruh kekuatannya lenyap. Otomatis serangan yang ia lancarkan pun jadi melemah. Hatinya sadar bahwa Kiau Hun menggunakan semacam ilmu untuk mempengaruhi pikirannya. Dia sendiri tidak sanggup memberontak, sedangkan pengaruh suara itu semakin menjadi-jadi. Jantungnya berdebar-debar, tubuhnya lemas sekali. Kapan waktu saja dia bisa terkena serangan Kiau Hun. Oleh karena itu dia segera berteriak dengan gugup, “Adik Ki, cepat ke mari! Aku tidak sanggup lagi…!”

Belum lagi suaranya sirap, tiba-tiba dia melihat tubuh Kiau Hun berkelebat, dengan kecepatan kilat lawannya itu menerjang ke arahnya. Pedang pendek di tangan Kiau Hun menimbulkan cahaya kehijauan, serangannya digerakkan dari atas ke bawah. Belum lagi pedangnya sampai, segulung demi segulung hawa dingin sudah menerpa wajah Liang Fu Yong.

Sinar mata Kiau Hun yang aneh membuat tubuh Liang Fu Yong lemas dan tidak bisa mengerahkan tenaga dalamnya sedikitpun. Serangan Kiau Hun yang dahsyat ini sudah
pasti dia tidak sanggup menahannya. Melihat cahaya hijau bertebaran dan memenuhi atas kepalanya, tanpa sadar Liang Fu Yong menarik nafas panjang. Dia memejamkan matanya menunggu datangnya dewa kematian. Justru pada saat yang kritis ini, terasa ada serang- kum angin kencang menerpa menerjang di sisi tubuhnya. Telinganya mendengar suara benturan logam. Dalam waktu sekejap mata, angin tadi tidak terasa lagi dan keadaan menjadi normal kembali. Begitu dia membuka matanya, Tan Ki sudah berdiri di sampingnya dengan pedang terentang seakan melindungi dirinya.

Wajah Kiau Hun langsung berubah hebat. Dengan nada dingin dia berkata, “Tampaknya kau memang selalu menghalangi apapun yang kuperbuat. Entah apa maksudmu yang sebenarnya?”

Tan Ki menolehkan kepalanya dan berkata kepada Liang Fu Yong, “Lebih baik cici beristirahat dulu, biar aku saja yang menghadapinya.”

Liang Fu Yong mengiakan dengan suara lirih. Perlahan-lahan dia mengundurkan diri dari arena pertandingan.

Tan Ki menunggu sampai dia keluar dari arena tersebut, kemudian baru mendongakkan wajahnya. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman.

“Tidak perlu berbicara hal yang tidak penting. Yang kita perebutkan adalah kedudukan Bulim Bengcu, lebih baik diselesaikan secepatnya agar sama-sama merasa puas!’

Tiba-tiba Kiau Hun menyimpan pedang pendeknya ke dalam selipan ikat pinggangnya.
Bibirnya tersenyum manis.

. “Aku tidak ingin menggerakkan pedang atau golok dengan dirimu yang bisa mengakibatkan terjadinya pertumpahan darah yang mengenaskan.”

Tan Ki sudah tahu bahwa pihak Lam Hay telah bergabung dengan pihak Si Yu dan akan melakukan penyerangan sore nanti. Meskipun saat ini di bukit Tok Liong-hong telah berkumpul dua ratusan tokoh hitam putih yang berilmu cukup tinggi, tetapi seekor ular tidak mungkin hidup tanpa kepala. Kalau tidak cepat-cepat memilih seorang Bulim Bengcu, kumpulan orang-orang itu bagai domba yang kehilangan gembalanya. Pasti mereka tidak akan berhasil menahan datangnya serangan musuh. Begitu pikirannya tergerak, cepat- cepat dia memasukkan kembali Pedang Penghancur Pelangi-nya dan tersenyum simpul.

“Waktu sangat berharga. Setiap detik harus dipergunakan sebaik mungkin. Aku tidak ingin berdebat dengan dirimu. Kalau kau memang tidak bersedia menggunakan pedang, biar kita bertarung dengan tangan kosong saja!” seraya berkata, diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya kemudian tanpa menunda waktu lagi dia melancarkan sebuah serangan. Serangkum angin yang tidak berwujud menerpa ke depan, orangnya sendiri ikut melesat bagai kilat.

Kiau Hun mengira ucapannya tadi meskipun dikeluarkan dengan tenang tetapi mengandung sindiran yang tajam, tentu dia berhasil mendesak Tan Ki sehingga kehabisan alasan untuk bergebrak dengannya. Dengan demikian kedudukan Bulim Bengcu pasti berhasil diraihnya dengan mudah. Dia tidak menyangka kalau Tan Ki malah menyimpan pedangnya dan menyerangnya dengan tangan kosong. Untuk sesaat dia jadi termangu- ma-ngu. Dia merasa ada hawa panas yang berkobar dalam dadanya. Hatinya merasa marah sekali. Diam-diam dia berpikir: ‘Padahal aku hanya mengingat hubungan kita di
masa lalu. Oleh karena itu aku selalu mengalah kepadamu. Kau kira aku benar-benar takut kepadamu?’

Sepasang alisnya langsung menjungkit ke atas. Kedua tangannya langsung dihantamkan ke depan, dengan keras dia menyambut datangnya angin serangan Tan Ki yang dahsyat.

Tan Ki merasa getaran tenaga tolakan Kiau Hun begitu kuat, diam-diam hatinya merasa kagum. ‘Tidak disangka dia juga mempunyai tenaga dalam yang begitu kuat, tidak heran di depan Pek Hun Ceng dengan mudah dia dapat melukai Ciu Cang Po.’

Dia mendongakkan kepalanya memandang, tampak Kiau Hun sedang mendelikkan sepasang matanya menatap ke arahnya lekat-lekat. Pandangan mata mereka bertaut, tanpa dapat ditahan lagi hatinya tergetar.

Tan Ki merasa ada sesuatu yang aneh terpancar dari matanya. Begitu tajamnya sehingga menusuk kalbu hatinya. Jantungnya langsung berdebar-debar, cepat-cepat dia memejamkan dan mengerahkan hawa murninya agar dapat mempertahankan kesadarannya.

Tenaga dalamnya kuat sekali, begitu hawa murni dalam tubuhnya dikerahkan, hatinya menjadi tenang kembali. Diam-diam dia berpikir: ‘Ilmu apa ini? Apakah di dalam pelajaran silat juga ada ilmu sihirnya?’

Tepat di saat pikirannya sedang tergerak, tiba-tiba dia merasa ada serangkum angin yang kuat menerpa ke arah dadanya. Siapa kiranya Tan Ki itu, berkecimpung di dunia Kangouw selama setengah tahun, dia sudah menggetarkan hati para jago. Nalurinya lebih tajam dari orang biasa, tanpa sempat membuka sepasang matanya, dia langsung mengambil posisi menahan di depan dada dan melancarkan sebuah serangan.

Meskipun rangkuman tenaga dalam Kiau Hun cukup dahsyat, tetapi ketika didorong oleh tenaga dalam Tan Ki, ternyata serangannya memental kembali. Baru saja anak muda itu bermaksud mengirim sebuah serangan kembali, tiba-tiba telinganya mendengar suara tawa Kiau Hun yang merdu.

Suara itu merdu namun agak seram bila didengarkan lama-lama. Begitu dinginnya sehingga mendirikan bulu roma dan menggetarkan jantung. Tubuh Tan Ki tampak menggigil hebat saat itu juga.
Begitu suara tawa itu terhenti, kembali terdengar suara Kiau Hun berkata kepadanya. “Tan Ki, aku mengingat ilmu silatmu didapatkan dengan cara yang tidak mudah. Oleh
karena itu aku tidak tega melukaimu. Kalau kau tidak cepat-cepat mengaku kalah, jangan
salahkan apabila aku menurunkan tangan ke-ji!”

Tan Ki terus memejamkan sepasang matanya. Dia tidak berani membukanya biar sekejap saja. Hal ini disebabkan rasa terkejutnya melihat sinar mata Kiau Hun yang aneh. Setiap kali bertemu pandang dengannya, hati Tan Ki langsung bergetar, tenaga dalamnya seakan menjadi lemah. Siapa nyana biar dia memejamkan matanya, tetap saja dia merasa gelisah mendengar suara Kiau Hun. Untuk sesaat dia merasa sulit mengendalikan perasaannya.
Untung saja tenaga dalam Tan Ki sudah mencapai taraf yang tinggi sekali.
Ketenangannya juga melebihi orang lain. Meskipun dia terpengaruh oleh suara gadis itu, tetapi dia terus mempertahankan diri agar kesadarannya tetap terjaga. Cepat-cepat dia mengerahkan hawa murninya dan mengedarkannya ke seluruh tubuh. Sementara itu pikirannya terus berputar mencari jalan menghadapi situasi di hadapannya. Diam-diam dia berpikir dalam hatinya: ‘Satu-satunya jalan yang bisa dilakukan saat ini, hanya menyerangnya dengan gencar. Pokoknya tidak boleh memberi kesempatan sama sekali baginya untuk membuka mulut.’

Pikirannya tergerak, diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya dan menyalurkannya ke seluruh tubuh. Dia sengaja memperlihatkan tampang seperti orang yang letih dan mengantuk. Dengan demikian dia berharap perhatian Kiau Hun akan terpencar dan tidak dapat menduga apa yang akan dilakukannya.

Keadaan di seluruh arena itu menjadi demikian hening. Namun di balik kesunyian tersebut terselip ketegangan yang tidak terkirakan. Telinganya kembali menangkap suara Kiau Hun yang dingin seperti es.

“Tan Ki, apakah masih ada kata-kata yang ingin kau sampaikan untuk ter…”

Tiba-tiba Tan Ki mengeluarkan suara bentakan yang keras, dengan demikian kata-kata Kiau Hun jadi terputus. Sepasang matanya membelalak lebar-lebar dan tahu-tahu tubuhnya berkelebat menerjang ke depan!

Kiau Hun benar-benar tidak menyangka sama sekali tindakan Tan Ki ini. Sepasang kakinya menutul di atas tanah, orangnya sendiri langsung mencelat ke udara dan melompat mundur sejauh tiga langkah.

Sejak tadi Tan Ki sudah memperhitungkan semuanya dengan matang. Mana mungkin dia membiarkan Kiau Hun menguras otaknya mencari akal licik lainnya. Sepasang tangannya menghantam ke depan dengan tenaga dalam yang dahsyat. Dalam waktu yang singkat secara berturut-turut dia melancarkan sepuluh pukulan.

Tiba-tiba diserang secara gencar oleh Tan Ki, Kiau Hun sampai kelabakan setengah mati. Hampir saja dia tidak dapat menahan dirinya. Tubuhnya terhuyung-huyung mundur ke belakang.

Sepasang mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam. Baru saja dia bermaksud mengerahkan ilmu Tian Si Sam-sut dan Te Sa Jit-sut-nya yang hebat, sekonyong-konyong terdengar suara siulan yang panjang. Begitu kerasnya sampai memekakkan telinga.
Tampak tiga batang senjata rahasia meluncur ke arahnya dengan kecepatan kilat.

Tan Ki segera membentak dengan suara keras, “Oey Ku Kiong, apakah kau juga ingin main-main denganku?” hawa murni dalam tubuhnya segera dikerahkan. Sepasang telapak tangannya menghantam ke depan. Tahu-tahu ketiga batang senjata rahasia itu telah tersam-pok jatuh di atas tanah. Seiring dengan tenaga dalam yang dipancarkannya, tubuh Tan Ki mencelat ke udara setinggi satu depaan. Laksana seekor elang yang mengincar anak ayam, tubuhnya kembali menukik ke bawah dan mengirimkan sebuah serangan kepada Kiau Hun yang baru saja berdiri tegak.

Dengan nama Cian Bin Mo-ong, Tan Ki telah menggetarkan dunia Kangouw. Otomatis ilmu silatnya tidak dapat dibandingkan dengan tokoh Kangouw umumnya. Tubuhnya
mencelat dan menukik ke bawah dengan kecepatan yang tidak terkirakan. Meskipun Kiau Hun tidak berniat bertarung dengannya dari jarak yang dekat, tetapi dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia mengerahkan tenaga dalamnya dan sepasang telapak tangannya menghantam ke depan. Tidak ada waktu lagi baginya untuk menghindarkan diri. Pikirnya, dia ingin menghentakkan tubuh Tan Ki ketika dia belum sempat mendarat di atas tanah. Kemudian dengan jurus Suara Bergema Mengguncangkan Sukma, dia akan menghantam dada Tan Ki sehingga terluka di Bagian dalam.

Siapa nyana tubuh Tan Ki yang menukik ke bawah justru menggunakan sebuah jurus yang paling hebat dari Te Sa Jit-sutnya. Baru saja telapak tangan Kiau Hun terulur ke depan, tahu-tahu bayangan tubuhnya berkelebat, dari melancarkan serangan tiba-tiba dia menarik kembali tubuhnya dan menjungkir balik satu kali di udara. Tanpa mendarat lagi di atas tanah, tangannya langsung menerjang ke depan menyambut serangan Kiau Hun.

Perubahan jurus yang dikerahkannya begitu cepat sehingga sulit diuraikan dengan kata-kata. Bahkan orang-orang yang hadir di tempat itu tidak satupun yang dapat melihatnya dengan jelas. Hanya bayangan tubuh kedua orang itu yang berkelebat ke sana ke mari, kemudian dua rangkum tenaga dalam saling beradu. Dalam waktu hanya sekedipan mata saja, tubuh Tan Ki sudah mendarat turun pada jarak tujuh delapan langkah. Wajahnya tampak merah padam, nafasnya tersengal-sengal dan keringat membasahi keningnya, terus menetes ke wajahnya. Tubuh Kiau Hun justru terhuyung- huyung kemudian tergetar mundur sejauh empat lima langkah. Dia seperti orang yang baru saja minum arak dalam jumlah yang banyak. Kakinya tidak dapat berdiri dengan mantap. Kemudian tampak mulutnya terbuka dan dia memuntahkan darah segar seperti melesatnya sebatang anak panah.

Tidak syak lagi bahwa Tan Ki menggunakan ilmunya yang hebat untuk melukai Kiau Hun. Tetapi dirinya sendiri juga kehilangan cukup banyak hawa murni dalam tubuhnya.

Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang riuh memecahkan keheningan di seluruh arena tersebut, seruan gembira dan pujian gegap gempita….

Kiau Hun memandang Tan Ki dengan termangu-mangu. Sesaat kemudian tampak wajahnya menyiratkan dendam membara dan mata menyorotkan kebencian yang dalam. Dia menghentakkan kakinya di atas tanah dan berkata dengan nada ketus, “Bagus sekali perbuatanmu!”

Tanpa menunda waktu lagi dia segera membalikkan tubuhnya dan menghambur pergi meninggalkan tempat tersebut. Ternyata pada saat terakhir, hanya karena satu jurus saja dia berhasil dikalahkan oleh Tan Ki. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa kedudukan Bulim Bengcu otomatis terjatuh ke tangan anak muda itu. Rencananya yang ingin menjadi mata- mata bagi pihak Lam Hay jadi buyar seketika. Dia merasa kekalahan ini benar-benar membuatnya kehilangan muka. Bahkan harga dirinya bagai tercampak…

Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan berkelebat dan mengejar ketat di belakang Kiau Hun. Orang itu sudah pasti Oey Ku Kiong yang tergila-gila kepadanya. Kedua orang itu berlari secepat kilat. Satu di depan dan yang lainnya di belakang. Mereka meninggalkan arena yang bising itu sejauh-jauhnya.

****
Angin pagi masih terasa sejuk, cahaya matahari tidak terlalu terik. Keadaan di bukit itu masih sama seperti sediakala. Rumput-rumput melambai-lambai seakan menyambut kedatangan setiap pengunjung. Tetapi pemandangan ini bagi penglihatan Kiau Hun bahkan seperti sedang menertawakan dirinya. Hatinya merasa benci dan pedih. Semua yang ada di hadapannya bagai benda-benda mati yang tidak mempunyai daya tarik sama sekali.

Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya dan membentak, “Untuk apa kau mengikuti diriku?”

Tampaknya dia ingin menumpahkan segala kekesalannya pada diri Oey Ku Kiong. Suara bentakannya itu begitu ketus dan dingin. Boleh dibilang tanpa perasaan sama sekali.

Terdengar Oey Ku Kiong menyahut dengan suara gugup, “Aku hanya ingin melihat kau tersenyum kembali kemudian…”

Kiau Hun langsung menukas dengan nada yang lebih dingin lagi.

“Kemudian apa? Kau toh tidak sanggup membantu aku meraih kedudukan Bulim Bengcu. Dari pagi sampai malam seperti seekor anjing yang mengikuti majikannya ke mana-mana. Namun apa yang bisa kau berikan kepadaku? Kecuali kesulitan dan keruwetan… Hm… boleh dibilang seperti…”

Begitu kesalnya dia sampai kata-katanya tidak sanggup diteruskan lagi, tetapi Oey Ku Kiong dapat membayangkan bahwa apa yang ingin diucapkannya pasti tidak enak didengar. Oleh karena itu dia hanya tertawa sumbang dan berkata dengan nada perlahan- lahan, “Kiau Hun, asal aku dapat melihat senyumanmu seperti biasanya, meskipun harus mati aku rela. Kalau kau merasa tidak senang, hatiku juga terasa sedih sekali.”

Kiau Hun sengaja memamerkan seulas senyuman. Namun suaranya tetap dingin seperti
es.

“Nah, aku sudah tertawa sekarang. Apakah kau sudah merasa senang?” selesai
berkata, kembali wajahnya cemberut dan datar seperti semula. Dia melanjutkan kata- katanya dengan nada yang ketus. “Laki-laki seperti engkau ini hanya mirip dengan kumbang yang mencari bunga. Malah lebih menyebalkan dari pada kaum Jay Hwa-eat (penjahat pemetik bunga). Kalau bukan disebabkan ayali angkatmu yang baru-baru ini ikut bergabung dengan Lam Hay Bun, huh! Sekarang aku ingin menampar pipimu sampai bengap!”

Kata-katanya itu bagai sebilah pisau yang tajam menikam hati Oey Ku Kiong, tetapi dia menahan diri sebisanya dan menelan semua ucapan yang menyakitkan itu. Hanya tubuhnya yang bergetar hebat dan perasaannya pedih sekali. Tetapi sejenak kemudian kembali bibirnya tersenyum simpul. Perasaan hati seseorang memang demikian anehnya. Apalagi cinta kasih antara pemuda dan pemudi, lebih sulit lagi diuraikan dengan tulisan maupun kata-kata. Oey Ku Kiong bagai seekor kupu-kupu yang terjerat pada sarang laba- laba. Cinta kasihnya yang tulus dicurahkan pada diri Kiau Hun sehingga dia tidak sanggup mengendalikan dirinya lagi. Semakin ketus sikap Kiau Hun kepadanya, hatinya semakin mengkeret dan tidak berani membantah. Seorang laki-laki apabila jatuh cinta sampai tahap seperti ini, sebetulnya patut dikasihani juga.
Sementara itu, tiba-tiba terdengar suara tawa yang lantang dan panjang. Sumbernya dari rumput ilalang yang tinggi. Sesosok bayangan berlari mendatangi bagai terbang.
Kemudian terdengar mulutnya berkata, “Nona Ceng harap jangan gusar. Apabila putraku yang tidak berbakti itu berbuat kesalahan, bagaimana kalau lohu saja yang memintakan maaf baginya?”

Setelah melihat jelas orang yang datang, Oey Ku Kiong segera menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah. “Gi-hu.” panggilnya.

Oey Kang mengulapkan tangannya.

“Di hadapan Ceng Kouwnio tidak perlu kau bergaya lemah lembut seperti ini.
Bangunlah!”

Kiau Hun tersenyum simpul kepadanya.

“Kedatangan Oey Locianpwe di atas bukit Tok Liong-hong ini, pasti bukan tanpa sebab.
Mungkin Toa Tocu ada menitipkan pesan kepadamu?” Oey Kang tertawa terbahak-bahak.
“Kecerdasan Ceng Kouwnio selalu dipuji oleh Toa Tocu. Tampaknya bukan hanya itu saja, nalurimu juga jauh lebih tajam dari orang lain. Sekali lihat saja, semuanya dapat diduga dengan tepat.”

Kiau Hun tertawa lebar mendengar pujiannya.

“Terima kasih, terima kasih. Entah apa pesan Toa Tocu kali ini?”

Oey Kang mengeluarkan sepucuk surat dari balik pakaiannya. Kemudian dari sakunya dia mengambil sebuah botol sebesar jempol. Bentuknya seperti hiolo yang biasa digunakan untuk mengisi arak.

“Keterangan selengkapnya ada di dalam surat. Yang penting kau mengikuti petunjuk yang tertera di dalamnya saja. Apabila sudah berhasil nanti, Toa Tocu akan memberikan hadiah besar untukmu!”

Kiau Hun mengulurkan tangannya menyambut surat dan botol tersebut. Tampaknya dia tidak terlalu ambil hati karena dia sama sekali tidak meliriknya sekilaspun. Langsung saja dimasukkannya ke dalam saku pakaian.

Oey Kang mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak. “Oey Ku Kiong, kemarilah!” panggilnya.
Oey Ku Kiong segera mengiakan. Dia segera menghampiri ayah angkatnya itu. Oey Kang mengulurkan tangannya menepuk-nepuk pundak putra angkatnya. Dengan nada menghibur dia berkata, “Sejak kehilangan jejakmu di Pek Hun Ceng, ayah persis seperti seekor anjing gila yang mencari ke mana-mana. Sementara itu ayah juga khawatir apabila kau sampai dicelakai oleh orang atau dibunuh secara diam-diam. Hampir seluruh perkampungan ayah kelilingi, setiap jengkal tanah ayah gali, tetapi tetap saja tidak menemukan dirimu ataupun mayatmu. Ayah sama sekali tidak menyangka kalau kau
demikian cerdik dan mempunyai pikiran yang luas sehingga bergabung lebih duluan dengan pihak Lam Hay…”

Sepasang mata Oey Ku Kiong menatap wajah ayah angkatnya lekat-lekat. Tadinya dia ingin mengatakan bahwa dia tidak memperdulikan segalanya karena jatuh cinta kepada Kiau Hun. Itu pula sebabnya dia meninggalkan Pek Hun Ceng. Tetapi kata-katanya hanya sampai di ujung bibir, akhirnya dia tidak sanggup juga mengucapkannya keluar.

Terdengar kembali suara tawa Oey Kang yang keras.

“Ceng Kouwnio merupakan selir kesayangan Toa Tocu, kau bisa mengikutinya ke mana- mana, pasti merupakan suatu keberuntungan bagi dirimu. Lagipula sore nanti kita akan menyerbu ke puncak bukit Tok Liong Hong ini, paling tidak kau harus memberikan bantuan kepada Ceng Kouwnio dengan melihat-lihat situasi. Kesempatan yang bagus ini harus kau pergunakan baik-baik. Jangan sampai membuat ayahmu ini kecewa.”

Seraya berkata, dia memberi salam kepada Kiau Hun kemudian membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat tersebut. Oleh karena itu, Kiau Hun dan Oey Ku Kiong pun kembali ke ruang pertemuan di atas puncak bukit Tok Liong Hong.

Terdengarlah suara tawa yang keras dan dentingan cawan yang saling beradu. Suasana di dalam ruang pertemuan itu bising sekali. Rupanya ketika Tan Ki berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu, Liu Seng langsung menyatakan akan merayakannya saat itu juga. Para hadirin minum arak dan makan hidangan yang disediakan dengan perasaan gembira.

Begitu masuk, Kiau Hun melihat kesempatan untuk melaksanakan tugas dari Toa Tocu sudah ada di depan mata. Tampak sepasang alisnya menjungkit ke atas dan menyiratkan hawa pembunuhan yang tebal. Dia memberi isyarat kepada Oey Ku Kiong dengan menganggukkan kepalanya. Kemudian berjalan menuju tempat duduk tamu-tamu wanita.

Di sekeliling meja yang paling depan saat itu duduk Ceng Lam Hong, Mei Ling, Liang Fu Yong, Lok Ing serta dua orang gadis bercadar hitam. Semuanya berjumlah tujuh orang.
Tanpa sungkan lagi Kiau Hun langsung duduk di sebuah kursi yang masih kosong. Setelah itu dia mengangkat cawan yang ada di hadapannya dan sekaligus meneguk sampai kering arak yang terisi di dalamnya.

Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu seBagian besar merasa kagum juga terhadap ilmu silat Kiau Hun yang tinggi. Melihat dia yang sudah pergi meninggalkan tempat itu tahu-tahu balik kembali, tanpa dapat ditahan lagi kepala mereka semua menoleh kepadanya dan ratusan pasang matapun terpusat pada dirinya. Tetapi Kiau Hun justru seakan tidak melihat pandangan mata mereka, dia tidak melirik sekilaspun dan tetap meneguk araknya dengan santai. Sikapnya yang membingungkan ini malah membuat kaum wanita yang duduk di sekitarnya merasa tidak tentram.

Tan Ki yang duduk di Bagian paling tinggi saat itu tiba-tiba bangkit berdiri. Kemudian terdengar dia berkata dengan suara lantang.

“Saudara-saudara sekalian, mohon dengarkan perkataanku ini!”

Kata-kata ini diucapkan dengan mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya. Dengan demikian suaranya menjadi lantang dan bergema ke seluruh tempat tersebut. Setiap patah
kata yang diucapkannya dapat terdengar dengan jelas dan suara bising yang memenuhi tempat itu jadi tertutup oleh ucapannya. Dalam sekejap mata suara tawa terhenti dan cawan-cawan arak diletakkan kembali ke atas meja masing-masing. Suasana jadi hening seketika. Ratiisan pasang mata sekarang tertuju pada dirinya. Sikap mereka tampak serius sekali seakan ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Tan Ki.

Terdengar lagi kumandang suara Tan Ki yang lantang.

“Aku mempunyai niat dalam hati yang sudah tersimpan cukup lama. Sekarang dengan adanya kesempatan ini, ingin sekali kucetuskan agar dapat didengar oleh semuanya.
Tetapi entah saudara-saudara sekalian mempunyai kesabaran mendengarkannya atau tidak?”

Terdengar sahutan dari orang-orang gagah yang berkumpul di tempat tersebut. “Silahkan Bengcu katakan saja, kami sekalian bersedia mendengarkannya!”
Tan Ki menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Bagus! Kalau saudara-saudara sekalian demikian memandang tinggi diriku ini, maka aku, Tan Ki akan mengatakannya terus terang!” matanya yang bersinar tajam menyapu ke para hadirin yang berkumpul di tempat itu. Sesaat kemudian dia melanjutkan kembali
kata-katanya.

“Di dalam dunia Kangouw saat ini di mana-mana terjadi pembunuhan dan perampokan.
Sebelumnya tokoh-tokoh Bulim berpencaran di setiap daerah. Masing-masing menjagoi wilayah sendiri-sendiri. Dengan demikian setiap orang bagai raja di wilayahnya dan banyak yang bertindak semena-mena. Untung saja tidak sampai terjadi pertikaian besar-besaran. Sekarang di puncak bukit Tok Liong Hong ini berkumpul para jago dari segala penjuru, dan saat ini juga telah berhasil memilih seorang Bulim Bengcu. Sekarang setiap tokoh dari manapun berdiri di bawah satu bendera yang sama. Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai terjadi perselisihan dan dapat bersatu menghadapi segala bencana…!”

Si pengemis sakti Cian Cong menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Tan Ki.

“Ucapan yang tepat sekali! Seandainya dunia Bulim dipimpin oleh seorang kepala yang bijaksana, maka tidak akan terjadi keributan yang tidak diinginkan. Apabila tidak seperti sekarang ini, seandainya terjadi pertikaian, tentu sulit diselesaikan dengan sempurna.”

Tan Ki tersenyum lembut.

“Selama ratusan tahun di dunia Bulim orang selalu menyelesaikan setiap peristiwa dengan kekerasan. Budi dan dendam seakan tidak ada habis-habisnya. Apalagi kita yang hidup sebagai orang-orang Kangouw, hal itu lebih menyolok lagi. Dengan demikian tanpa terasa dunia Bulim kita terbagi menjadi dua golongan, yakni golongan lurus dan sesat.
Orang yang menggunakan ilmu kepandaiannya untuk melindungi rakyat kecil dan membasmi kejahatan, serta memeras orang kaya yang lalim lalu dibagikan kepada kaum fakir miskin, kita menyebutnya sebagai golongan lurus. Mereka selalu menganggap apa yang mereka lakukan merupakan perbuatan yang mulia. Sedangkan golongan yang lain adalah orang yang hidup dalam kekerasan, setiap perbuatan selalu diakhiri dengan pertumpahan darah dan biasanya menguasai sebuah wilayah sebagai raja kecil. Mereka
bahkan tidak segan-segan memperkosa ataupun merampok. Orang-orang ini disebut sebagai golongan sesat atau golongan hitam. Hal ini merupakan ketentuan yang berlaku bagi golongan lurus di dunia Bulim sejak ratusan tahun yang silam. Sebetulnya, perampok pun mempunyai peraturannya sendiri. Asal apa yang dilakukan ada tujuannya, mengapa tidak boleh dilakukan? Apakah yang tidak dilakukan manusia di dunia ini? Adakah manusia yang tidak pernah berbuat dosa? Kebetulan aku, Tan Ki, mendapat perhatian serta kasih sayang yang besar dari saudara-saudara sekalian sehingga mendapatkan jabatan Bulim Bengcu hari ini. Aku merasa bahwa seseorang hidup di dunia ini, yang paling penting harus berbuat segala macam hal dengan terang-terangan dan jangan menyimpang dari kata hati sendiri. Dengan demikan hidup ini barulah ada gunanya dan tidak sia-sia. Demi merubah pandangan orang-orang di dunia ini terhadap kehidupan tokoh-tokoh Kangouw kita, demi mempertahankan kedudukan dunia Bulim kita yang telah berlangsung selama ratusan tahun, hari ini Tan Ki ingin mempersatukan semua golongan di dunia ini untuk menghadapi golongan pemberontak dari pihak Lam Hay serta Si Yu yang akan menyerbu daerah kita. Setidak-tidaknya kita harus mempersiapkan diri dengan baik supaya jangan sampai terjadi kekalahan di pihak kita. Oleh karena itu, meskipun aku Tan Ki bukan manusia yang maha pintar, tetapi aku mencoba menentukan empat macam peraturan yang harus ditaati semua kalangan…”

Untuk sesaat suasana menjadi hening mencekam. Beratus pasang mata terpusat pada diri Tan Ki. Di seluruh tempat tersebut seakan ada terselip hawa ketegangan yang tidak terkirakan. Selama hidupnya Tan Ki belum pernah menghadapi suasana seperti ini.
Otomatis hatinya jadi berdebar-debar.

Perlu diketahui bahwa seBagian besar orang-orang yang hadir di tempat tersebut merupakan tokoh-tokoh yang mempunyai wilayah kekuasaan masing-masing. Dengan demikian membunuh orang adalah pekerjaan mereka sehari-harinya. Mereka selalu melakukan apa saja yang disenanginya. Selama ini belum pernah mereka diatur oleh orang lain. Yang namanya hukum atau pengadilan boleh dibilang tidak dipandang sebelah mata oleh mereka. Apabila secara tiba-tiba ada beberapa peraturan yang harus mereka taati, mungkin hati mereka tidak dapat menerimanya dengan tulus. Bahkan bisa juga terjadi perselisihan besar-besaran karena masalah ini. Mereka su-uah terbiasa berbuat semaunya, apabila ada sedikit saja hal yang membuat mereka kurang senang, maka pertemuan kali ini malah bisa berubah menjadi pertumpahan darah…

Tan Ki merenung beberapa saat. Dia berusaha memilih kata-kata yang tepat untuk mencetuskan isi hatinya… sesaat kemudian terdengar dia tertawa keras-keras dan melanjutkan ucapannya.

“Seandainya ada diantara kalian yang keberatan mengikuti peraturan tersebut, sekarang masih ada waktu untuk mengundurkan diri. Sore nanti pihak Lam Hay sudah akan menyerbu kita. Dengan demikian aku juga tidak berharap terjadinya pengorbanan yang sia-sia!” 

Beberapa kali berturut-turut dia mengajukan pertanyaan tersebut. Rupanya para hadirin merasa takluk juga dengan kewibawaan yang diperlihatkannya. Oleh karena itu sampai sekian lama tidak ada orang yang memprotes.

Wajah Tan Ki tampak serius sekali, sepasang matanya yang menyorotkan sinar yang tajam. Dia mengedarkan pandangannya ke se keliling tempat tersebut.
“Segala kejahatan di dunia ini perlu dibasmi. Cayhe merasa peraturan pertama yang harus ditetapkan adalah tidak boleh menodai gadis keluarga baik-baik atau memperkosa sampai terjadi jatuh korban jiwa. Sedangkan larangan membunuh orang yang tidak berdosa dan berbuat tidak adil terhadap sesamanya merupakan peraturan yang kedua!”

Baru saja kata-kata ini diucapkan, ternyata ada reaksi dari para hadirin. Salah satu orang di antara kerumunan tersebut segera berteriak dengan suara keras, “Apakah peraturan Bengcu yang satu ini tidak terlalu keras? Kita merupakan orang-orang yang sehari-harinya bergerak di dunia Kangouw. Kitapun mencari makan dari golok serta pedang tajam. Kalau kita tidak membunuh lawan, mungkin diri kittalah yang akan terbunuh secara mengenaskan.”

Belum lagi ucapannya selesai, sesosok bayangan langsung berkelebat datang dan mengeluarkan suara tawa yang keras, “Maksud Bengcu, kita tidak boleh membunuh orang yang tidak berdosa atau tidak sanggup memberikan perlawanan!” kata-katanya selesai, orangnya pun mendarat di atas tanah, dia tidak bukan dan tidak lain dari Pendekar Baju Putih, Oey Ku Kiong.

Tan Ki melihat orang itu hanya berjarak lima enam langkah dari dirinya, tetapi tiba-tiba langkah kakinya berhenti. Meskipun hatinya mengandung kecurigaan, namun bibirnya tetap mengembangkan seulas senyuman.

“Kedatangan Oey-heng sungguh kebetulan sekali. Silahkan duduk dan minum dulu beberapa cawan arak.” katanya mempersilahkan.

Oey Ku Kiong juga memamerkan senyuman yang ramah. Dengan penuh hormat dia membungkukkan tubuhnya. Kemudian mencari sebuah tempat yang kosong dan duduk di sana.

Dengan wajah menyiratkan ketenangan, Tan Ki mengangkat cawan araknya. Setelah itu dia berkata lagi dengan perlahan-lahan.

“Sebelum aku menentukan peraturan yang ketiga, ada beberapa patah kata lagi yang ingin kusampaikan kepada saudara-saudara sekalian. Pertemuan di puncak bukit Tok Liong Hong kali ini, khusus untuk melawan pihak Lam Hay dan Si Yu yang ingin berlaku semena- mena kepada pihak kita. Meskipun telah terpilih seorang Bulim Bengcu, tetapi kita tidak mungkin tidak mempunyai sebutan. Dengan memberanikan diri, aku memberi nama Perkumpulan Ikat Pinggang Merah kepada golongan kita ini. Setiap jago pedang tingkat sembilan, harus mengenakan ikat pinggang merah setebal sembilan cun. Sedangkan pendekar pedang tingkat delapan, memakai ikat pinggang merah setebal delapan cun dan demikian seterusnya sampai tingkat kesatu. Dengan cara ini pula kita dapat menentukan tingkatan masing-masing sekaligus merupakan tanda pengenal kita di hadapan orang lain.” selesai berkata dia meneguk isi cawannya sampai kering.

Para hadirin langsung bertepuk tangan dengan gemuruh dan menyambut ucapan Tan Ki dengan mengeringkan cawan masing-masing.

Si pengemis sakti Cian Cong terkenal sebagai setan arak. Cawan yang ada di tangannya juga luar biasa besarnya dan jauh berbeda dengan orang-orang lainnya. Tampak dia mendongakkan wajahnya dan meneguk isi cawannya sampai kering. Siapa nyana baru saja arak tersebut masuk ke dalam perutnya, tampak kening orang itu langsung berkerut.
Boleh dibilang Cian Cong adalah seorang peminum sejati. Selama puluhan tahun ini, di sisinya selalu ditemani oleh sebuah hiolo arak.

Entah sudah berapa jenis arak yang pernah diisi dalam hiolonya itu. Terhadap keras atau ringannya setiap jenis arak, boleh dibilang dia sudah hapal luar kepala. Saat ini, begitu arak yang diminumnya masuk ke dalam perut, dia langsung merasa arak tersebut keras sekali, malah ada sedikit keanehan yang mencurigakan.