Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian Bagian 51

Bagian 51

Hati Tan Ki diam-diam tercekat melihatnya. ‘Rupanya panah api yang menyembur keluar dari tabung emas itu bukan saja mengandung kekuatan yang dahsyat tetapi juga mengandung racun yang keji!’

Tiba-tiba tampak laki-laki berpakaian hitam itu memancarkan diri mereka. Tabung di tangan mereka kembali digerakkan. Kali ini melesat keluar asap api berwarna kebiru- biruan yang kemudian bergabung menjadi satu seperti air terjun yang deras meluncur ke arah Tan Ki. Rupanya di dalam tabung itu tidak hanya terisi panah api beracun, tetapi berbagai jenis senjata rahasia beracun lainnya. Apabila setiap laki-laki kekar itu memakai senjata rahasia yang berlainan untuk menghadapinya, entah bagaimana kelabakannya Tan Ki menghadapi mereka. Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat. Sekonyong-konyong dia menggerakkan pedang penghancur pelanginya lalu menerjang kepada laki-laki berpakaian hitam yang ada di sebelah kiri. Dalam waktu yang bersamaan, dia mengibaskan pedangnya ke sana ke mari untuk menangkis panah beracun yang melesat ke arahnya.

Tan Ki sadar panah-panah api yang melesat keluar dari tabung emas di tangan laki-laki berpakaian hitam itu mengandung racun yang keji. Apabila dirinya sampai terkena, bukan cuma daging serta kulit tubuhnya yang merasa sakit, sulit pula mencari obat penawarnya. Oleh karena itu, dia tidak berani lengah sedikitpun. Tubuhnya berkelebat ke sana ke mari. Tampak asap api dan panah beracun terus berkelebat lewat di samping tubuh dan atas kepalanya. Dari jauh tampak segulungan asap yang besar membungkus tubuh anak muda itu.

Namun ketiga puluh enam Jendral Langit asuhan Oey Kang ini bukan orang-orang sembarangan. Mereka terbagi dalam tiga kelompok yang berjumlah masing-masing dua belas orang. Sedangkan ketiga kelompok itu menggunakan jenis senjata rahasia yang berlainan.

Tan Ki menerjang beberapa kali berturut-turut. Tetapi baru menerjang beberapa depa, terpaksa dia berhenti lagi. Pedang penghancur pelanginya bergerak sehingga menimbulkan lingkaran cahaya berkilauan yang mana melindungi seluruh tubuhnya.

Begitu gerakan tubuhnya terhenti, kembali panah beracun, asap beracun dan piau beracun menyerang dirinya dari segala arah!

Kali ini keadaan dirinya benar-benar gawat, menangkis sulit, melancarkan serangan tidak mungkin. Kedua belah pihak yang melihat keadaan diri, Tan Ki saat itu, dapat merasakan bahaya yang mengintai dirinya setiap saat.

Sepasang mata Tian Bu Cu menyorotkan sinar yang berkilauan. Kakinya bergerak maju setengah langkah. Diam-diam dia telah mengerahkan tenaga dalamnya sebanyak delapan Bagian dan siap dilancarkan apabila situasi sudah mendesak sekali.

Pandangan mata Yibun Siu San dan Cian Cong terus melirik ke sana ke mari, meskipun sedang berhadapan dengan musuh, mereka tetap memperhatikan situasi di sekitar. Begitu
melihat ke arah Tan Ki, tentu saja mereka paham bahwa Tan Ki saat itu sudah terkurung rapat dalam barisan Jendral Langit binaan Oey Kang dan sulit meloloskan diri.

Tetapi keadaan mereka sendiri saat ini sedang menghadapi lawan yang tangguh. Sudah barang tentu Kaucu Pek Kut Kau dan Tong Ku Lu tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk menolong Tan Ki. Melihat keadaan anak muda itu yang sedemikian berbahaya, tanpa dapat ditahan lagi keringat dingin mengucur membasahi kening kedua orangtua tersebut. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Kadang-kadang malah mereka terdesak oleh lawan masing-masing karena perhatian mereka yang terpencar serta mengkhawatirkan keadaan Tan Ki.

Kedua tokoh ini merupakan orang-orang yang berpengetahuan luas. Mereka sadar bahwa Ban Hua Hwe-tong yang ada di tangan ketiga puluh enam laki-laki berpakaian hitam itu mempunyai pengaruh yang hebat. Jangkauannya jauh sekali, bahkan lebih kuat satu kali lipat dari pukulan seorang pesilat biasa. Dalam waktu setengah kentungan saja belum tentu apinya dapat dipadamkan. Kecuali kalau daya kerja senjata rahasia itu sendiri yang sirna dengan sendirinya. Pokoknya hampir tidak ada jalan untuk menolong Tan Ki keluar dari kesulitan tersebut.

Justru ketika kedua orang itu masih mengkhawatirkan keadaan Tan Ki, tubuh anak muda itu telah dikelilingi kobaran api. Dalam jarak sepuluh depaan seperti terjadi kebakaran hebat dan boleh dibilang tidak ada tempat kosong lagi bagi Tan Ki untuk menghindarkan diri.

Tiba-tiba terdengar suara ratapan yang menyayat hati…

“Tan Koko! Adik Ki!” Mei Ling dan Liang Fu Yong langsung menghambur ke depan dengan pipi berderai air mata.

Sementara itu, mendadak terdengar suara pekikan burung rajawali yang lantang sekali.
Seekor burung rajawali yang bentuk badannya besar sekali menukik ke bawah dengan kecepatan yang tidak terkirakan. Timbul serang-kum angin yang kencang laksana badai topan yang melanda. Demikian hebatnya kepakan sayap rajawali tersebut sehinga kobaran api padam seketika dan asap putih kebiru-biruan memenuhi angkasa.

Hati Oey Kang langsung curiga. Cepat-cepat dia mendongakkan kepalanya. Tampak segurat cahaya berwarna keputihan melesat dari punggung rajawali tersebut.
Kecepatannya bagai kilat. Baru saja Oey Kang berniat mengangkat kipasnya ke atas untuk menangkis, tahu-tahu serangkum angin yang kencang menerpa wajahnya. Kipas di tangannya sudah terkutung menjadi dua Bagian.

Tampak cahaya putih berkelebat, tiba-tiba di samping tubuh Tan Ki telah berdiri seorang gadis berpakaian putih.

Kecantikan gadis ini sungguh luar biasa. Sepasang matanya bening bagai air sungai di musim semi. Alisnya lebat dan bentuknya indah. Wajahnya bersih terang mempesona.
Orang-orang yang ada di tempat itu seakan terpikat oleh kecantikannya yang bak dewi kahyangan itu. Apalagi saat ini bibirnya merekah mengulumkan seulas senyuman yang manisnya sulit diuraikan dengan kata-kata. Hal ini malah membuat sukma orang-orang itu seperti melayang-layang di awang-awang. Serasa pandangan mata tidak bisa dialihkan ke tempat lain.
Sepasang mata gadis berpakaian putih yang indah itu mengedar ke sekeliling. Melihat pandangan mata orang-orang di sana sedang menatap diri nya dengan terkesima, tanpa dapat ditahan lagi pipinya menjadi merah padam. Cepat-cepat dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Terdengar suara desiran angin, hanya satu kali lalu berhenti. Di belakang gadis berpakaian putih telah berdiri dua gadis cilik berusia empat belas atau lima belas tahunan. Keduanya mengenakan pakaian hijau. Hanya yang satu hijau tua, sedangkan yang lainnya hijau muda. Kedua gadis cilik ini juga mempunyai wajah yang rupawan sekali.

Begitu gadis berpakaian putih itu muncul di samping Tan Ki, boleh dibilang seBagian besar tokoh daerah Tionggoan tidak ada yang mengenalinya. Tetapi orang-orang dari pihak Lam Hay Bun serta rombongan Pek Kut Kau justru pada berubah hebat wajah mereka. Tanpa dapat ditahan lagi kaki mereka tergetar mundur dua langkah. Seperti mendadak melihat malaikat elmaut sehingga perasaan hati menjadi tidak tenang dan jantung berdebar-debar.

Dalam satu jurus serangan saja, gadis berpakaian putih itu sanggup mematahkan kipas yang biasa digunakan sebagai senjata oleh Oey Kang. Orangnya sampai berdiri termangu- ma-ngu beberapa saat. Sejenak kemudian dia baru pulih kembali. Tetapi tampaknya dia merasa takut sekali kepada si gadis berpakaian putih, dia tidak mengucapkan sepatah katapun, hanya tangannya saja yang bergerak memberikan isyarat. Setelah itu dia membalikkan tubuh dan menghambur pergi secepat kilat. Dalam sekejap mata bayangannya sudah tidak terlihat lagi.

Melihat perubahan yang tidak terduga-duga ini, Mei Ling dan Liang Fu Yong jadi tertegun. Beberapa saat kemudian mereka baru mengenali si gadis berpakaian putih. Tanpa dapat ditahan lagi, bibir mereka mengembangkan senyuman dan tawa terkekeh- kekeh. Kemudian keduanya menghambur ke depan untuk mengucapkan terima kasih atas kedatangannya yang memberi pertolongan kepada Tan Ki.

Gadis berpakaian putih itu hanya tersenyum simpul. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu sudah menghilang dari pandangan.

Gerakan tubuhnya itu demikian cepat sehingga orang-orang yang hadir di tempat itu tidak melihat bagaimana dia tahu-tahu sudah ada di samping Tong Ku Lu. Terdengar suara gerungan pendek. Tubuh Tong Ku Lu terhuyung-huyung bagai orang mabuk kemudian tergetar mundur sejauh lima enam langkah. Sebatang kipas di tangannya sudah terkutung menjadi dua Bagian. Begitu terkejutnya orang ini sehingga wajahnya berubah pucat pasi seketika..

Dalam satu jurus serangan saja, gadis berpakaian putih itu kembali mendesak Cia Tian Lun hingga mengundurkan diri, kemudian tampak dia berjungkir balik lalu melayang datang bagai terbang. Tampak cahaya pedang berkilauan, Kaucu Pek Kut Kau yang sejak tadi terus berkutat dengan si pengemis sakti Cian Cong mendadak mengeluarkan suara raungan yang aneh. Sebelah tangannya mendekap pundak dan mundur dengan terhuyung-huyung. Tanah di mana kakinya melangkah terdapat tetesan darah segar yang mengalir dari pundaknya yang terluka. Wajahnya yang hitam malah berubah merah padam.

Sekali turun tangan si gadis berpakaian putih langsung menyerang tiga tokoh paling sakti di dunia saat ini. Ilmunya yang begitu ajaib serta gerakan tubuhnya yang demikian
cepat membuat orang-orang yang melihatnya sampai melongo dan mendelikkan mata mereka lebar-lebar. Sampai sekian lama tidak ada seorangpun yang membuka mulut.

Hua Pek Cing sudah pernah kena batu di tangan pelayannya, Mei Hun. Sekarang dia melihat gadis berpakaian putih itu menyerang tiga tokoh berilmu tinggi secara berturut- turut tanpa menemui kesulitan sedikitpun. Perasaannya menjadi kecut. Diam-diam dia berpikir dalam hati: ‘Meskipun ditilik dari keadaan, pihak kami masih mempunyai jago-jago yang dapat diandalkan, tetapi ilmu kepandaian gadis ini benar-benar hebat. Mungkin tidak ada seorang pun yang sanggup menghadapinya.’

Begitu pikirannya tergerak, cepat-cepat dia memberi perintah kepada Cia Tian Lun dengan suara lirih.

“Mundur!”

Begitu kata-katanya terucapkan, ternyata pengaruhnya masih demikian besar. Para jago dari Lam Hay dan Si Yu serentak mengundurkan diri turun dari bukit tersebut. Dalam waktu sekejap mata, semuanya sudah meninggalkan tempat itu. Hawa pembunuhan yang tadinya menyelimuti seluruh bukit itu, saat ini menjadi buyar seketika.

Tan Ki menatap kepergian orang-orang itu sampai menghilang dari pandangan mata. Dia tidak memerintahkan anggota perkumpulannya untuk mengejar. Dia tahu pihak Lam Hay dan Si Yu hanya tergetar oleh ketinggian ilmu yang dimiliki oleh gadis berpakaian putih. Bukan karena mereka sudah kalah. Kalau tanpa berpikir panjang lagi dia memerintahkan orang-orangnya untuk mengejar, bisa-bisa pihak Lam Hay dan Si Yu merasa terdesak sedemikian rupa sehingga nekat mengadu jiwa.

Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat wajah Yibun Siu San dan Cian Cong menyiratkan perasaan ingin tahu, mata mereka menatap si gadis berpakaian putih itu lekat-lekat. Tampaknya banyak perkataan yang ingin mereka ucapkan, namun terpaksa ditahan. Mereka duduk bersila di atas tanah, kemudian memejamkan matanya rapat-rapat untuk mengatur pernafasan.

Meskipun kedua Cianpwe itu tidak terluka sama sekali namun pertarungan yang berlangsung tadi cukup membuyarkan hawa murni dalam tubuh mereka. Walaupun di dalam hati banyak sekali perkataan yang ingin mereka ucapkan, tetapi mereka tidak berani memencarkan perhatian untuk sementara. Akhirnya keduanya duduk bersila mengatur pernafasan.

Begitu rombongan musuh meninggalkan tempat itu, para anggota perkumpulan Ikat Pinggang Merah segera turun tangan membersihkan sisa-sisa pertempuran. Dengan sepasang tangan menggenggam pedang, Tan Ki maju ke depan dan menjura dalam- dalam.

“Pedang pusaka meskipun tajam dan sakti, tetapi hanya sesuai untuk orang yang cocok. Dalam pertempuran di bukit Tok Liong-hong kali ini, cayhe sudah cukup mengandalkan pedang ini untuk menghadapi musuh, tetapi cayhe merasa sulit menerima pemberian dari nona ini.”

Gadis berpakaian putih tersenyum tipis.
“Barang yang sudah dihadiahkan, tidak mungkin aku tarik kembali. Pedang Penghancur Pelangi ini memang merupakan sebatang pedang kuno yang luar biasa tajamnya. Tetapi aku sudah menghadiahkannya kepada Mei Hun. Barang ini sudah menjadi haknya. Kalau dia ternyata menghadiahkannya lagi kepadamu, hal ini tidak ada sangkut pautnya lagi dengan diriku.” suaranya begitu merdu sehingga orang yang mendengarnya sulit membantah apapun yang dikatakannya.

Mendengar ucapannya, tanpa terasa sepasang tangan Tan Ki terkulai ke bawah. Tetapi sesaat kemudian, dia mengangkatnya kembali.

“Apalagi pedang pusaka, seharusnya dimiliki oleh orang yang tepat. Cayhe adalah seorang desa yang kasar. Seandainya membawa pedang ini, malah membuat orang tidak percaya kalau pedang ini merupakan sebatang pedang pusaka. Kalau nona berkeras hati tidak mau menerimanya kembali, namun cayhe juga enggan menggunakannya, lama kelamaan malah menjadi barang rongsokan. Sebaiknya nona hadiahkan saja kepada orang lain.”

Sepasang mata si gadis berpakain putih menatap diri Tan Ki lekat-lekat. Sejak muncul di tempat itu bibirnya selalu mengembangkan senyuman. Tetapi setelah mendengar kata- kata Tan Ki, matanya langsung menyorotkan cahaya seperti kilat. Tetapi sekejap kemudian sudah pulih kembali. Namun senyuman yang diperlihatkannya sekarang ini tidak semanis tadi lagi. Sepasang alisnya menyiratkan kemarahan yang terpendam. Perlahan-lahan dia berkata lagi dengan nada sendu, “Kalau memang begitu kemauan siangkong, tentu aku tidak enak hati mengatakan apa-apa lagi.” dia memalingkan wajahnya kemudian berkata lagi, “Mei Hun, Ciu Goat, mari kita kembali ke Tian San!”

Ucapan ini seakan dicetuskan dengan tergesa-gesa. Tampaknya dia ingin terbang meninggalkan tempat itu secepatnya. Mei Hun dan Ciu Goat yang mendengarnya jadi tertegun. Entah mengapa majikan mereka yang datang dengan kegembiraan yang meluap-luap, tiba-tiba merubah pendiriannya. Meskipun hati mereka merasa aneh, tetapi keduanya tidak berani bertanya. Setelah saling’ lirik sekilas, mereka melesat naik ke atas punggung rajawali.

Gadis berpakaian putih itu tidak melirik Tan Ki sekilaspun. Tangannya menyambut pedang Penghancur Pelangi. Tidak terlihat jelas bagaimana tubuhnya bergerak, hanya terendus serangkum bau harum yang menerpa hidung. Orangnya sendiri sudah melesat ke atas punggung burung rajawalinya dan berdiri membelakangi Tan Ki.

Dengan termangu-mangu Tan Ki memandangi bayangan punggung ketiga gadis itu. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Orang lain juga tidak dapat menebak apa yang dipikirkannya saat itu. Sebetulnya, bukan Tan Ki tidak mau berbicara, tetapi kedatangan dan kepergian gadis berpakaian putih itu demikian tergesa-gesa. Meskipun di dalam hatinya terdapat ribuan kata-kata yang ingin diucapkan, namun dia justru tidak tahu bagaimana harus memulainya. Untuk sesaat, dia malah berdiri termangu-mangu tanpa bergerak sedikitpun.

Tiba-tiba, kembali terendus serangkum bau yang harum menerpa datang. Tahu-tahu Mei Hun sudah berdiri di hadapannya. Tampak sepasang alis gadis itu menjungkit ke atas dan wajahnya menunjukkan perasaan tidak senang.

Tan Ki tertegun sesaat, kemudian menjura dalam-dalam.
“Entah ada petunjuk apa lagi yang ingin nona sampaikan?” tanyanya sopan. Mei Hun mengeluarkan suara tertawa yang dingin.
“Kau memang pandai sekali menjadi orang!” apa yang dikatakannya malah tidak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaan Tan Ki.
Mendengar ucapannya, sekali lagi Tan Ki tertegun. Hatinya merasa bingung. “Harap nona tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati, entah Cayhe
berbuat kesalahan apa…”

Mei Hun segera menukas dengan nada yang dingin, “Kalau kau berbuat kesalahan terhadap diriku, mungkin masih bisa dimaafkan, tetapi menyalahi nona kami, rasanya tidak mungkin begitu mudah diselesaikan!”

Begitu kata-katanya terucap keluar, Yibun Siu San dan Cian Cong yang sedang memejamkan mata mereka mengatur pernafasan, saat ini tiba-tiba membuka mata serentak. Mereka melirik sekilas kepada Mei Hun, seakan ingin mengatakan sesuatu namun membatalkannya, kemudian tampak mereka memejamkan matanya kembali.

Terdengar Mei Hun berkata lagi perlahan-lahan, “Barang yang aku hadiahkan kepadamu, sama sekali tidak berniat diambil kembali. Kau justru tidak tahu kebaikan orang, dengan keras kepala tetap ingin mengembalikannya kepada nona kami…”

Mendengar sampai di sini, perasaan hati Tan Ki semakin bingung. Tanpa dapat ditahan lagi dia menukas, “Memang apanya yang salah?”

Mei Hun menghentakkan kakinya di atas tanah keras-keras.

“Apanya yang salah? Siapa kau kira nona kami itu? Kau kira dia sudi menjilat kembali ludah yang telah dikeluarkan dari mulutnya? Meskipun pedang Penghancur Pelangi itu adalah sebatang pedang pusaka yang harganya tidak ternilai, namun nona kami tidak memandang sebelah matapun. Kau seenaknya saja mengembalikan barang yang sudah dihadiahkan kepadamu, harga dirinya benar-benar bagai dicampakkan. Tadinya nona kami sudah berniat masuk menjadi anggota perkumpulan Ikat Pinggang kalian, sekarang keinginan itu jadi sirna. Apakah orang seperti dirimu ini pantas menjabat sebagai Bulim Bengcu? Demi engkau, nona kami sampai…”

Berkata sampai di sini, tiba-tiba dia merasa ucapannya tidak patut diteruskan. Cepat- cepat dia membatalkannya dan membungkam.

Melihat sikapnya yang garang itu dan betul-betul marah, tampaknya Mei Hun bukan sedang bergurau. Diam-diam dia juga mulai merasakan bahwa urusannya jadi tidak beres. Sepasang tangannya saling meremas dengan gelisah. Hatinya panik sekali.

“Aku betul-betul tidak berniat melukai hati nonamu itu…”

Si budak Mei Hun sejak kecil hidup di pegunungan Ming San yang terpencil. Hatinya masih polos sekali. Melihat keringat dingin membasahi kening Tan Ki dan bicaranya yang gagap gugup, hatinya jadi melemah. Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya dan
berusaha memikirkan jalan keluar bagi Tan Ki. Tiba-tiba dia mendengar suara teriakan Ciu Goat yang tidak henti-hentinya.

“Cici Mei Hun, Siocia ingin kita berangkat secepatnya!”

Mei Hun mendongakkan wajahnya menatap sekilas ke arah si gadis berpakaian putih, tiba-tiba dia menarik nafas panjang.

“Demi urusanmu, tanpa perdulikan segala macam penderitaan, nona kami menempuh perjalanan jauh dari Ming San ke mari, lagipula dia menunjukkan wajah aslinya. Dia membantumu menghalau musuh. Perasaan sayang yang begitu dalam, orang lain mungkin ingin membalasnya masih belum sempat, kau malah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hatinya. Seandainya dia merasa terhina lalu dengan perasaan kesal menggabungkan diri dengan pihak musuh, aku benar-benar tidak tahu nasib mempermainkan manusia atau kau memang sengaja mengharapkan kejadiannya jadi demikian!”

Setelah memaki Tan Ki beberapa patah kata, tampaknya hati gadis cilik itu masih dilanda kebimbangan. Selesai mengucapkan kata-katanya, dia mendelik sekali lagi kepada Tan Ki’.

Tampak pundaknya bergerak sedikit, dengan kecepatan kilat dia sudah naik di atas punggung burung rajawali.

Terdengar kembali suara pekikan burung itu yang memekakkan telinga. Kemudian angin kencang laksana badai topan kembali memenuhi sekitar tempat tersebut. Debu dan pasir-pasir beterbangan. Burung rajawali yang besar sekali itu sudah mengepakkan sayapnya dan terbang ke atas. Dalam sekejap mata saja hanya terlihat sebuah titik hitam di langit Bagian barat daya. Lama kelamaan semakin mengecil dan menghilang dari pandangan mata.

Bagian LIV

Tan Ki memandang kepergian majikan dan pelayannya yang dalam keadaan marah.
Hatinya seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Dengan termangu-mangu dia menatap ke atas langit dan wajahnya tampak kelam sekali. Untuk sekian lama dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

Tiba-tiba dari belakang punggungnya terdengar suara tarikan nafas yang berat.

“Benar-benar seorang gadis sakti yang berwatak tinggi hati dan angkuh!”

Mendengar suara itu, Tan Ki segera menolehkan kepalanya. Entah sejak kapan, Yibun Siu San dan si pengemis sakti Cian Cong sudah berdiri di belakangnya. Terdengar Cian Cong melanjutkan kembali kata-katanya…

“Ilmu yang dimiliki gadis ini benar-benar sudah tidak terukur tingginya. Si pengemis tua kagum bukan main. Tetapi karena sedikit salah paham langsung pergi tanpa berpikir panjang lagi, tampaknya jiwa gadis ini kurang lapang.”
Tan Ki menarik nafas perlahan-lahan.

“Semuanya merupakan kesalahan anak Ki. Karena ulahku, perkumpulan Ikat Pinggang Merah kembali kehilangan seorang tokoh sakti yang dapat diandalkan. Meskipun paman dan Cian Locianpwe tidak mengatakannya secara terus terang. Hati anak Ki justru tambah tertekan dan tahu telah berbuat kesalahan lagi.” sembari berkata, sepasang matanya sudah mulai membasah. Setetes demi setetes air matanya jatuh di atas tanah.

Yibun Siu San segera tertawa lebar.

“Masih lumayan, dalam pertempuran kali ini, pihak kita tidak sampai mendapat kerugian banyak. Meskipun dia sekarang pergi dalam keadaan marah, tetapi pasti ada saatnya untuk bertemu lagi. Kau juga tidak perlu merasa menyesal dan menyalahkan dirimu sendiri terus menerus. Jaga baik-baik sikapmu sebagai seorang Bulim Bengcu. Jangan sedikit- sedikit menangis seperti orang perempuan.”

Ketika mereka berbincang-bincang itulah, orang-orang gagah yang berkumpul di tempat itu sudah membersihkan keadaan tempat itu yang kocar kacir. Bekas-bekas darah disiram sampai bersih. Bekas kebakaran juga dirapikan, rumput-rumput yang hangus dan layu dicabut sehingga semuanya kembali seperti sedia kala.

Tiba-tiba salah seorang anggota perkumpulan mereka berlari mendatangi dengan tergesa-gesa. Sesampainya di hadapan Tan Ki, dia segera membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

“Para ketua dari lima partai besar yakni Siau Lim, Bu Tong, Cing Ceng, Kun Lun dan Go Bi Pai beserta sejumlah anak muridnya sudah hadir di kaki bukit. Mohon tanya penyambutan bagaimana yang harus kita lakukan?”

Mendengar keterangannya, Tan Ki seperti orang terkena pukulan bathin berat. Tubuhnya bergetar hebat tetapi sekejap kemudian dia sudah pulih kembali seperti sebelumnya. Dia segera mengulapkan tangannya sambil berkata, “Lima partai besar dengan perkumpulan kita sama-sama menegakkan keadilan bagi dunia Bulim. Tentu saja kita harus menyambut mereka dengan penyambutan tamu agung yang terhormat!”

Liang Fu Yong mendadak menghampiri Tan Ki dan berkata kepadanya dengan suara rendah.

“Adik Ki, tidakkah lebih baik kalau kau mengganti dulu pakaianmu?”

Rupanya dalam pertarungan tadi, Tan Ki diserang dengan gencar oleh tiga puluh enam Jendral Langit asuhan Oey Kang. Meskipun orangnya sendiri tidak sampai terluka, tetapi pakaiannya sudah bolong di sana sini terkena percikan api. Biar bagaimana dia adalah seorang Bulim Bengcu yang disegani. Seandainya mengenakan pakaian yang koyak menyambut tamu, rasanya kurang pantas. Liang Fu Yong selalu mengkhawatirkan nama baik Tan Ki. Itulah sebabnya dia menanyakan persoalan itu.

Tan Ki menundukkan kepalanya dan memperhatikan keadaan pakaiannya. Dia langsung memperlihatkan secercah senyuman yang getir.
“Lima partai besar sudah dalam perjalanan menuju ke sini. Dengan demikian tidak ada waktu lagi mengganti pakaian menyambut tamu agung. Lagipula saat ini yang kupikirkan bukan masalah pakaianku yang pantas atau tidak…”

Mendengar nada suaranya yang begitu berat, seakan hatinya masih bimbang dan terselip kegundahan yang besar, Liang Fu Yong segera teringat keadaannya saat ini. Matanya menatap Tan Ki lekat-lekat dengan tertawa sendu.

Tan Ki dapat merasakan bahwa tawa yang diperlihatkan Liang Fu Yong seperti hendak menghibur hatinya yang gelisah. Juga mengandung permintaan maaf yang tidak terkirakan. Sebab, meskipun dia mengetahui isi hati Tan Ki seperti orang yang mengenali jari tangannya sendiri, tetapi dia tidak dapat memberikan bantuan apa-apa…

Dalam keadaan yang hening dan mencekam, kedua orang itu saling pandang beberapa saat. Tan Ki segera membangkitkan keberaniannya, kegagahannya tergugah. Dengan demikian dia langsung mengibaskan tangannya dan berkata dengan suara lantang.

“Lima partai besar datang lebih awal ke markas kita di puncak bukit Tok Liong-hong ini.
Persahabatan yang tulus ini sungguh tidak mudah ditemukan. Harap saudara-saudara sekalian menyambutnya sesuai dengan tingkatan masing-masing!”

Kemudian, dengan Tan Ki sebagai pimpinan, Yibun Siu San, Cian Cong dan Tian Bu Cu mengiringi di belakang. Para anggota perkumpulan Ikat Pinggang Merah langsung memencarkan diri dan berbaris menjadi dua kelompok. Sikap yang mereka tunjukkan penuh hormat dan berdiri di tempat masing-masing dengan khidmat.

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, dari batas puncak bukit tampak seseorang berkepala botak berjalan mendatangi. Kemudian disusul dengan seseorang yang mengenakan jubah pertapa berwarna abu-abu, lalu seorang laki-laki tinggi besar dan gagah, serta berusia pertengahan abad. Lambat laun, yang menuju ke tempat mereka semakin banyak. Sudah tentu yang berkepala pelontos tadi, ketua Siu Lim Pai sendiri, yakni Pun Sang Taisu. Di belakangnya mengikuti kepala Bagian hukuman Pun Bu Taisu dan ketua pendopo Tat Mo-goan, Pun Sing Taisu dan beberapa murid lainnya dari angkatan Pun.

Di sebelah kiri dipimpin oleh Ciang Bunjin (Ketua perguruan) Bu Tong Pai, Sia Hai Cin- jin, serta beberapa muridnya. Juga ketiga partai lainnya yang membawa sejumlah murid berjalan mendatangi dengan langkah lebar. Jumlah mereka mencapai tujuh puluhan orang. Ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa depa, serentak mereka menghentikan langkah kakinya. Gerakan kaki mereka demikian ringan dan berbaris rapi.

Dengan tampang berwibawa Tan Ki melangkah maju ke depan, kemudian merangkapkan sepasang kepalan tangannya menjura.

“Baru saja terjadi pertempuran besar sehingga keadaan di tempat ini masih kacau balau. Meskipun perkumpulan kami merupakan wadah bersatunya berbagai tokoh dari dunia Bulim, tetapi tetap saja merasa kurangnya tenaga sehingga sulit menghadapi musuh yang tangguh. Sekarang beruntung sekali kami mendapat bala bantuan dari pihak lima partai besar. Ini yang dinamakan nasib baik bagi kami dan hari kiamat bagi para golongan sesat.”
Sepasang alis Pun Sang Taisu yang panjang bergerak-gerak sedikit. Matanya menyorotkan cahaya tajam dan berkilauan. Dia memperhatikan Tan Ki sejenak kemudian menyebutkan nama Buddha dengan suara rendah.

“Apakah saudara ini yang menjabat sebagai Bulim Bengcu?” Tan Ki tertawa lebar.
“Jangan sungkan.” sahutnya sopan.

Pun Sang Taisu mendadak memejamkan sepasang matanya dan menarik nafas panjang.

“Dalam keadaan dilanda huru hara, apabila dunia Bulim dapat memperoleh seorang pemimpin seperti saudara ini, persoalan apa lagi yang tidak bisa diatasi dan golongan sesat mana yang tidak bisa terusir?”

Hwesio tua yang bijaksana dan berilmu tinggi ini sudah lama mendengar kegagaban Tan Ki. Diapun tahu ilmu kepandaian Tan Ki sudah mencapai taraf sedemikian tinggi balikan pernah menghalaujago-jago dari Lam Hay dengan sebatang pedang sulingnya. Setelah bertemu muka, dia semakin merasa bahwa penampilan anak muda ini demikian gagah. Wajahnya tampan dan tampangnya berwibawa. Hatinya yang sudah lama ingin menjumpai tokoh muda ini, sekarang malah timbul kesan yang baik dan dalam. Dia benar- benar kagum terhadap Tan Ki.

Tampak Tan Ki tersenyum simpul.

“Apabila kita ingin menghindarkan bencana bagi dunia Kangouw serta mengusir musuh yang berniat menjajah kita, cayhe benar-benar mengharapkan uluran tangan tokoh-tokoh seperti Taisu yang bersedia merasakan penderitaan bersama-sama.”

Pun Sang Taisu tersenyum lembut sembari memperkenalkan keempat Ciang Bunjin lainnya kepada Tan Ki.

Sementara itu, Cian Bunjin dari Bu Tong Pai, sejak bertemu dengan Tan Ki langsung melangkah maju beberapa tindak. Dia melewati samping anak muda itu kemudian terus melangkah mendekati Tian Bu Cu.

Sepasang tangan Sia Hai Cinjin dirangkapkan di depan dada dan membungkuk sedikit dengan hormat. Terdengar suaranya yang sopan dan mengandung keseganan yang dalam.

“Semoga Susiok dalam keadaan baik-baik saja.”

Tian Bu Cu merasa tidak ada yang harus dikatakannya. Oleh karena itu dia hanya menganggukkan kepalanya sedikit sambil tersenyum lembut, kemudian membalas penghormatan yang diberikan sutitnya.

Tiba-tiba Sia Hai Cinjin menekan suaranya rendah-rendah dan berkata lagi, “Apakah Su-siok tahu riwayat hidup dan asal-usul Bengcu yang baru terpilih ini?”
Tampak Tian Bu Cu tidak menyangkanyangka dia akan mengucapkan pertanyaan seperti itu. Untuk sesaat dia jadi tertegun. Dia melihat wajah Sia Hai Cinjin kelam sekali, sikapnya serius dan tidak mungkin mengajukan pertanyaan seperti itu apabila tidak ada alasan yang kuat. Tanpa dapat ditahan lagi, malah dia balik bertanya…

“Apa maksud ucapan hiantit ini?”

“Pertama kali melihat Bulim Bengcu ini, hati sudah timbul kecurigaan. Sutit merasa bahwa dia bukan orang yang berjiwa pendekar atau secara kasarnya bukan manusia baik- baik.”

Sepasang alis Tian Bu Cu langsung berkerut mendengar ucapannya.

“Kau menjabat sebagai Ciang Bunjin sebuah partai besar. Seharusnya menimbang segala hal dengan akal sehat dan kebijaksanaan besar. Ditilik dari ucapanmu barusan, sudah terbukti bahwa pandangan matamu demikian dangkal. Menilai seseorang hanya berdasarkan tampang wajahnya saja, apakah tidak menjadi bahan tertawaan sahabat- sahabat di dunia?” suara pembicaraannya ditekan serendah mungkin, seakan takut terdengar oleh orang lain. Juga menjaga pamor dari perguruannya. Tetapi nada yang terkandung di dalamnya seakan menyalahkan Sia Hai Cinjin yang menilai orang secara sembarangan.

Mendengar gerutuan orangtua itu, hati Sia Hai Cinjin merasa kurang senang. Tetapi dia juga termasuk seorang yang keras kepala dan kukuh pendiriannya. Meskipun emosinya agak bergejolak, tetapi dari luar dia mempertahankan ketenangannya.

“Kalau hanya menilai orang dari tampangnya, aku juga tidak pantas menjabat sebagai Ciang Bunjin dari Bu Tong Pai, Bulim Bengcu yang ada di hadapan kita ini, mungkin hanya murid keponakan partai kita yang dapat mengenali wajah aslinya.”

Tian Bu Cu melihat hati keponakannya ini seakan ada yang diandalkan sehingga terus tidak mau menyudahi masalah ini. Tanpa dapat ditahan lagi dia jadi merenung beberapa saat. Dia sadar bahwa urusan ini tidak main-main besarnya. Di antara kedua belah pihak apabila terjadi kesalahan sedikit saja, kalau bukan perkumpulan Ikat Pinggang Merah yang bubar, mungkin nama besar Bu Tong Pai yang akan tersapu bersih. Malah bisa terjadi pertumpahan darah besar-besaran.

Setelah berpikir bolak-balik, Tian Bu Cu berkata lagi dengan suara rendah.

“Apakah kau benar-benar mempunyai bukti yang kuat? Perlu kau ketahui bahwa urusan ini tidak boleh dijadikan permainan. Kalau sampai terjadi keributan, kita sama-sama mendapatkan kesulitan yang tidak kepalang besarnya.”

Baru saja Sia Hai Cinjin ingin memberikan jawaban, tiba-tiba terdengar suara tawa yang panjang.

“Bolehkah si pengemis tua ikut mendengarkan sedikit? Entah bukti apa yang tergenggam dalam tangan si hidung kerbau?”

Sia Hai Cinjin sadar bahwa pembicaraan antara dirinya dengan sang Susiok sudah tertangkap oleh telinga si pengemis sakti Cian Cong. Tanpa terasa wajahnya jadi merah padam. Dia memaksakan dirinya untuk mengembangkan seulas senyuman.

“Ternyata Cian Locinpwe juga tertarik dengan urusan ini.”
Sepasang mata Cian Cong mendelik lebar-lebar. Dia membentak dengan suara keras. “Cacing dalam perut si pengemis tua justru sedang kegatalan karena menagih arak.
Siapa yang sempat mencuri dengar pembicaraan orang lain? Siapa suruh kau berkasak- kusuk di samping si pengemis tua? Sekarang kau mengatakan bahwa kau tahu asal-usul sebenarnya dari Bulim Bengcu kita, telinga si pengemis sakti justru sudah gatal ingin mendengarkan!”

Sia Hai Cinjin mengira bahwa Cian Cong memang sengaja berteriak keras-keras agar perhatian para anggota perkumpulan Ikat Pinggang Merah serta orang-orang yang hadir di tempat itu jadi tertarik perhatiannya. Ternyata, orang-orang yang berkumpul di tempat itu, tidak mengerti apa yang telah terjadi. Wajah mereka segera dipalingkan kepada ketiga orang tersebut.

Sebetulnya bukan karena dia pernah bertarung tiga hari tiga malam dengan Tian Bu Cu, maka si pengemis sakti ini sengaja mencari gara-gara. Tetapi karena dia terlalu mengkhawatirkan Tan Ki. Setelah mendengar serentetan pembicaraan antara Susiok dan Sutit itu, tanpa dapat menahan emosi dalam dadanya lagi, dia mengeluarkan kata-kata dengan suara yang keras.

Dengan sikap panik Tan Ki berdiri di sudut. Kepalanya mendongak ke atas menatap langit. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Tampangnya seakan orang yang mendadak menemukan masalah besar namun tidak dapat dipecahkannya.

Terdengar suara Sia Hai Cinjin yang lantang. “Ceng Hong, kemarilah!”
Dari rombongan Bu Tong Pai, keluar seorang Hwesio yang usianya masih muda.
Terdengar dia mengiakan satu kali kemudian menghambur ke depan. Gerakan tubuhnya ringan dan gesit. Dalam sekejap mata dia sudah sampai di hadapan Sia Hai Cinjin dan berdiri dengan sikap hormat.

Sia Hai Cinjin melihat pandangan mata orang-orang yang berkumpul di tempat itu seluruhnya terpusat pada dirinya. Untuk sesaat dia malah dilanda ketegangan yang tidak terkirakan. Kepercayaan dirinya menyurut. Dan dia bertanya kepada si Hwesio muda dengan nada suara selirih mungkin.

“Coba kau perhatikan lagi baik-baik. Benarkah dia orang yang kau maksudkan?”

Dengan pandangan mata yang mengandung kebencian, Ceng Hong Hwesio melirik ke arah Tan Ki sekilas.

“Meskipun dia sudah berubah menjadi seonggok tulang belulang, tecu masih dapat mengenalinya…” nada suaranya demikian tegas sehingga tidak dapat diganggu gugat lagi.

Mendengar ucapannya, Sia Hai Cinjin baru sanggup menghembuskan nafas lega.
“Orang ini pandai sekali ilmu menyamar. Dalam waktu yang singkat dia bisa berubah menjadi orang yang tidak dikenali…”

Sepasang mata Ceng Hong Hwesio menyorotkan sinar yang tajam menusuk. Dengan nada yang pasti terdengar dia berkata kembali, “Urusan ini menyangkut kesejahteraan seluruh Bulim. Meskipun tecu mempunyai sepuluh nyawa, juga tidak berani bercanda di hadapan tokoh-tokoh sakti ini. Atau semba-rangan mengoceh yang hanya akan menjatuhkan nama baik partai kita sendiri.”

Sia Hai Cinjin mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.

“Bagus, kau memang tidak malu menjadi murid Bu Tong Pai…” perlahan-lahan dia berjalan maju beberapa langkah. Kemudian berhenti di belakang punggung Tan Ki.

Menghadapi peristiwa yang tidak terduga-duga ini, orang-orang yang berkumpul di tempat itu malah tidak ada yang membuka suara sedikitpun. Beratus pasang mata tertumpu perhatiannya pada diri Sia Hai Cinjin. Suasana menjadi tegang tidak terkirakan.

Sia Hai Cinjin mengeluarkan suara batukbatuk kecil kemudian berkata dengan perlahan- lahan.
“Apakah saudara ini Tan Sauhiap yang sekarang menjabat sebagai Bulim Bengcu?” “Benar. Entah petunjuk apa yang ingin diberikan oleh Totiang. Silahkan cetuskan saja
semuanya dengan terus terang. Tetapi harap tidak usah bersikap misterius sehingga orang lain menjadi penasaran.” meskipun mulutnya memberikan sahutan, tetapi dia tidak membalikkan tubuhnya atau menolehkan kepalanya melirik Sia Hai Cinjin sekilas. Sikapnya begitu dingin dan membawa keangkuhan yang besar.

“Kalau begitu kemauan saudara, pinto terpaksa berterus terang. Dan tidak perlu lagi berbicara berbelit-belit!” tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya. Wajahnya tampak serius. Kemudian terdengar dia melanjutkan kata-katanya dengan tajam…

“Setengah bulan yang lalu, saudara pernah menolong seorang perempuan siluman di sebelah tenggara Pek Hun Ceng kurang lebih pada jarak enam puluh li, benar atau tidak?” suaranya begitu ketus seakan sedang menanya kepada seorang pesakitan.

“Sama sekali tidak salah!”

“Hari itu saudara menunjukkan kehebatan ilmumu dengan seorang diri melawan tiga orang. Setelah bergebrak beberapa jurus dengan murid Bu Tong Pai kami, kau malah membunuh salah seorang murid partai kami yang bergelar Ceng Bok Hwesio, benar atau tidak?”

“Kejadian ini memang benar demikian adanya!”

Sia Hai Cinjin melihat Tan Ki terus mendongakkan wajahnya menatap langit. Namun mengakui semua yang ditanyakan olehnya. Nyalinya jadi besar dan melanjutkan kembali kata-katanya.

“Ilmu saudara sangat tinggi. Dalam waktu yang singkat berhasil membunuh Ceng Bok Hwesio, pinto hanya dapat menyalahkan murid kami sendiri yang tidak becus, serta tidak
dapat menjaga nama baik Bu Tong Pai kami. Tetapi ucapan yang kau keluarkan tempo hari, benar-benar membuat pinto terkejut. Urusan ini menyangkut kesejahteraan seluruh Bulim. Pinto terpaksa mementingkan kepentingan umum dan melupakan sejenak dendam pribadi. Dengan demikian ingin mengungkit kembali persoalan lama!” dengan kata- katanya ini, dia ingin membuat perhatian para hadirin tergugah pada dirinya. Oleh karena itu dia segera berkata dengan suara yang keras. Terdengar kumandang suaranya yang lantang menyusup ke dalam gendang telinga.

Melihat sikap hwesio itu mengajukan pertanyaan demikian serius dan angker, biar bagaimana Cian Cong merupakan seorang tokoh yang berpengetahuan luas dan sudah banyak pengalaman. Lambat laun si pengemis sakti mulai merasakan gentingnya urusan ini. Tetapi perasaan hatinya sangat mengkhawatirkan diri Tan Ki. Tanpa dapat ditahan lagi dia bertanya:

“Ucapan apa sih yang dikatakannya hari itu, sehingga membuat kau begitu penasaran?” Sia Hai Cinjin tertawa dingin.
“Nama Locianpwe sudah terkenal di seluruh dunia, sinar mata pun lebih tajam dari orang lain. Ternyata selama ini tidak menyadari bahwa ada seorang penjahat atau iblis yang selalu mendampingi di sisi tubuh. Benar-benar menggelikan!”

Untuk sesaat pikiran si pengemis sakti Cian Cong seakan menjadi buntu. Mendengar sindirannya yang tajam, dia malah jadi termangu-mangu, tidak tahu apa yang harus ia ucapkan. Dia sendiri tidak dapat mengatakan apakah saat ini hatinya merasa kesal atau marah mendengar ucapan Sia Hai Cinjin itu.

Yibun Siu San dan Tian Bu Cu seperti menemukan suatu hal sehingga pandangan mata mereka menatap diri Sia Hai Cinjin lekat-lekat. Keduanya berdiam diri tanpa ikut campur dalam masalah ini. Tetapi wajah Tian Bu Cu mulai menyiratkan perasaan paniknya.
Sedangkan hati Yibun Siu San bukan main tegangnya.

Terdengar Sia Hai Cinjin kembali berkata dengan suara lantang.

“Hal yang membuat hati Pinto terkejut setengah mati adalah ucapan saudara tempo hari yang mengaku diri sendiri sebagai Cian Bin Mo-ong yang tiba-tiba menghilang selama beberapa bulan terakhir ini. Entah benarkah apa yang pinto ucapkan ini?”

Begitu ucapannya keluar dari mulut, segera timbul reaksi dari orang-orang gagah yang berkumpul di tempat itu. Wajah mereka menunjukkan mimik terkejut yang tidak kepalang besarnya. Diam-diam timbul kecurigaan di dalam hati mereka.

Beratus pasang mata terpusat pada diri Sia Hai Cinjin. Sejenak kemudian beralih pada diri Tan Ki. Setelah itu kembali lagi menatap Sia Hai Cinjin. Demikian mereka mengalihkan pandangan secara bergantian sampai beberapa waktu. Mereka seakan ingin menyelidiki kebenaran dari mimik wajah kedua orang itu. Apakah pemuda yang sanggup menaklukkan hati orang-orang gagah ini benar-benar si raja iblis Cian Bin Mo-ong? Atau Sia Hia Cinjin yang mengada-ada?

Hati mereka diselimuti berbagai pertanyaan, mereka hanya dapat menduga-duga menurut pandangan masing-masing. Begitu tegangnya suasana yang terasa di tempat itu sehingga mereka menunggu jawaban Tan Ki dengan menahan nafas.

Dengan tubuh membelakangi orang-orang, Tan Ki seakan sedang memperhatikan keadaan di sekitarnya secara diam-diam.

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, baru terdengar Tan Ki berkata dengan perlahan-lahan.

“Apa yang totiang katakan semuanya merupakan kenyataan. Cayhe memang Cian Bin Mo-ong sebagaimana dugaanmu. Apa kiranya yang hendak totiang lakukan sekarang?”

Kata-kata ini diucapkan dengan nada yang panjangnya tidak terkirakan. Setiap kalimat seakan mengandung kekuatan yang hebat.

Serta tajam bagai pisau. Sia Hai Cinjin yang mendengarnya, tanpa dapat ditahan lagi meremang semua bulu kuduk di tubuhnya. Kakinya tergetar mundur satu langkah.

Perlu diketahui bahwa bagaimanapun Tan Ki sudah terpilih sebagai Bulim Bengcu saat ini. Lagipula tokoh-tokoh yang bergabung di bawah benderanya terdiri dari berbagai kalangan. Tidak sedikit yang berwatak kasar dan garang. Kalau hati merasa kurang senang, kemungkinan bisa menebas lehermu dengan golok tanpa berpikir panjang lagi. Pokoknya perintahmu langsung diabaikan oleh mereka. Tetapi apabila hati mereka sudah takluk kepada seseorang, mereka tidak segan mengorbankan apa saja. Kesetiaan mereka tidak perlu diragukan lagi. Kalau ditilik dari keadaan di depan mata, setelah mendengar ucapan Tan Ki, mereka masih berdiri tegak dengan mata memperhatikan mereka berdua. Bahkan sikap mereka seakan sedang menunggu sesuatu. Seandainya nafsu membunuh dalam hati Tan Ki terbangkit, sekali menurunkan perintah, pasti dalam sekejap mata akan terjadi pertumpahan darah besar-besaran.

Oleh karena itu, meskipun hati Sia Hai Cinjin merasa benci sekali kepada anak muda ini, tetapi mau tidak mau dia harus mempertimbangkan situasi di sekelilingnya. Terdengar dia mengeluarkan suara tawa yang kering.

“Kalau saudara sadar tanganmu berlumuran dosa, lebih baik kau lepaskan dirimu secepatnya dari jabatan ini. Biar bagaimana pinto…”

Tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat keluar dari rombongan Tan Ki secepat kilat. Dalam waktu yang bersamaan terendus segulung bau harum yang terpancar dari tubuh seorang wanita.

Begitu dia mengalihkan pandangan matanya, ternyata Ceng Lam Hong yang menghambur keluar dari rombongan orang banyak itu. Hatinya tercekat, tetapi sesaat kemudian dia justru merasa lega. Karena Tan Ki adalah seorang pimpinan, kekuasaan di tangannya besar sekali. Asal dia menurunkan perintah, para anggotanya pasti berbondong-bondong keluar dengan senjata masing-masing di tangan. Lagipula kedudukannya sebagai seorang Bulim Bengcu, memang hanya Ceng Lam Hong seorang yang dapat mengendalikan dirinya…

Tepat ketika pikirannya masih melayanglayang. Tampak Ceng Lam Hong menggerakkan pergelangan tangannya sambil memaki, “Anak tak tahu diri!” begitu kata-katanya diucapkan, air matanya pun mengalir dengan deras. Hal ini membuktikan bahwa perasaan wanita itu sedang dilanda kepedihan yang tidak terkirakan. Emosi dalam dadanya bergejolak hebat.

Tetapi pukulannya kali ini rupanya mengandung kekuatan yang cukup besar. Tampak pipi kiri Tan Ki merah bengap dan tergetar mundur setengah langkah. Di sudut bibirnya terlihat bekas darah.

Matanya mengejap-ngejap, seakan ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Tetapi akhirnya dia menahan semuanya dalam hati. Sepasang kakinya ditekuk dan dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ceng Lam Hong.

Melihat keadaan itu, sepasang alis si pengemis sakti Cian Cong langsung berkerut- kerut. Dengan langkah lebar dia berjalan menghampiri Ceng Lam Hong.

Sementara itu, baik Mei Ling maupun Liang Fu Yong langsung menghambur keluar.
Terdengar yang satu memanggil “Ibu!” dan yang satunya lagi menyebut “Pek Bo!” keduanya berhenti di hadapan Ceng Lam Hong. Hati kedua perempuan ini sudah barang tentu memihak kepada Tan Ki. Setelah saling melirik sekilas, keduanya serentak menjatuhkan diri berlutut di hadapan Ceng Lam Hong.

Liang Fu Yong menggigit bibirnya sendiri perlahan-lahan. Setelah merenung sejenak, tampak dia mendongakkan wajahnya yang sudah penuh dengan deraian air mata.
Suaranya begitu pilu dan sendu.

“Apabila Pek Bo ingin menghukum adik Ki, lebih baik hajar saja keponakanmu ini sebagai gantinya. Karena keadaan diri adik Ki sudah lama kuketahui, justru karena takut hal ini akan mempengaruhi masa depan serta namanya yang mulai naik, selama ini aku selalu ragu-ragu dan belum sanggup menyatakannya di hadapan umum…”

Mei Ling mengeluarkan tawa yang pilu. Dia langsung menukas perkataan Liang Fu Yong.

“Sudah tahu salah tetapi berniat merubah, justru merupakan hal yang sulit dilakukan orang lain. Meskipun Tan Koko mempunyai dosa yang besar, tetapi karena dia sudah menyadari kesalahannya sendiri dan dengan berani merubah sikapnya, harap Ibu dapat memaafkannya kali ini saja.”

Ceng Lam Hong adalah seorang wanita berhati lembut. Mendengar ucapan kedua “perempuan itu, hatinya jadi melemah. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang.
Kemudian terdengar dia berkata, “Apa yang kalian pikirkan dalam hati, aku mengerti semuanya. Sayangnya bukan aku yang berhak memutuskan masalah ini. Apakah anak yang tidak tahu diri ini harus mati atau dibiarkan hidup, terpaksa menyerahkan keputusannya pada para sahabat yang hadir di tempat ini.”

Sembari berkata, dia membangunkan kedua perempuan itu. Kemudian kepalanya menoleh kepada Sia Hai Cinjin dan menjura dalam-dalam.

“Totiang merupakan orang pertama yang berhasil mengungkap rahasia diri anak yang tidak tahu diri ini. Dengan demikian, harap kau juga yang mengambil keputusan. Apapun hukumannya, aku tidak akan turut campur.” selesai berkata, ternyata dia benar-benar mengundurkan diri tiga langkah ke belakang. Dengan ucapan yang sederhana, dia sudah menyerahkan seluruh tanggung jawab pada diri Sia Hai Cinjin.
Matahari sudah di atas kepala. Begitu teriknya sehingga udara terasa sesak. Suasana di tempat itu demikian mencekam. Hanya Tan Ki seorang yang menunggu hukuman dengan berlutut di atas tanah tanpa bergerak sedikit-pun.

Sepasang mata Sia Hai Cinjin mengedar ke seluruh tempat tersebut. Tiba-tiba dia tertawa dingin dan berkata dengan nada berat, “Ibumu menyerahkan tanggung jawab ini kepada diri Pinto, sebetulnya merupakan urusan yang tidak mudah diselesaikan. Harap saudara jangan melakukan perlawanan apapun. Mengingat kedudukan dirimu sebagai seorang Bulim Bengcu, pinto hanya akan melenyapkan seluruh ilmu yang kau miliki…”

Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang keras, “Walaupun bocah ini bersedia menerima hukuman, tetapi harus lihat dulu apakah si pengemis tua ini merasa senang atau tidak!”

Telapak tangannya menghantam ke depan, langsung terasa ada serangkum tenaga yang kuat melanda datang. Sia Hai Cinjin mencelat ke belakang setengah langkah.
Kemudian telapak tangannya mendorong keluar dan menyambut serangan Cian Cong dengan kekerasan.

Begitu kedua gulung tenaga beradu, mereka sama-sama tergetar tubuhnya dan terhuyung-huyung seperti orang mabok.

“Lwekang yang bagus!” bentak Cian Cong. Sembari berkata, tiba-tiba tubuhnya mendesak ke depan. Segulung serangan dan tendangan dilancarkan. Secara berturut-turut dia melancarkan sembilan jurus.

Sia Hai Cinjin tidak mengira bahwa si pengemis tua ini benar-benar hendak mengadu jiwa dengannya. Diam-diam hatinya tercekat sekali. Cepat-cepat dia mengerahkan ilmu Bu Tong Pai yang hebat, tangan kiri menangkis, tangan kanan menahan. Sembilan jurus telah berlalu, dirinya sendiri tidak kurang tidak lebih tergetar mundur sejauh sembilan langkah.

Para murid Bu Tong Pai melihat Ciang Bunjin mereka menghadapi musuh tangguh. Segera terlihat keadaannya yang semakin lama semakin terdesak. Tanpa terasa hati mereka jadi khawatir. Tampak mereka mengeluarkan senjata masing-masing dan siap maju ke depan memberikan pertolongan.

Justru di saat suasana menjadi panas itulah, terdengar suara bentakan seseorang, “Berhenti!”

Suaranya begitu keras, bergema memekakan telinga. Bahkan Cian Cong dan Sia Hai Cinjin sampai menghentikan gerakan tubuh mereka dan mencelat ke sudut.

Begitu pandangan mata dialihkan, tampak Tian Bu Cu berjalan keluar dengan wajah kelam. Pada jarak enam langkah dari diri Tan Ki, dia menghentikan langkah kakinya.
Sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam. Pertama-tama dia melirik sekilas kepada si pengemis sakti Cian Cong, kemudian beralih kepada Sia Hai Cinjin dan terakhir pandangan matanya berhenti pada diri Tan Ki.

“Apakah kau sudah sadar akan dosamu?” tanyanya dengan nada berwibawa. Tan Ki menarik nafas panjang. Wajahnya tampak kelam sekali.
“Ketika mula-mula berkecimpung di dunia Kangouw, karena sedikit kesalahpahaman, serta pandangan yang picik, Boanpwe melanggar pantangan membunuh. Dari awal hingga akhir, tokoh-tokoh yang mati di tangan Cian Bin Mo-ong, kecuali murid Bu Tong yang disebutkan tadi, seluruhnya ada dua puluh tujuh orang. Boanpwe sadar pengetahuan diri sendiri terlalu dangkal, pandangan hidup pun demikian picik, sehingga salah membunuh orang. Dengan tangan yang berlumuran darah ini, tidak mungkin boanpwe berani menyandang tanggung jawab berat. Hal ini sering membuat hati boanpwe jadi tidak tenteram…” berkata sampai di sini, ucapannya terhenti.

Dia melepaskan ikat pinggang merahnya dan menyodorkan ke hadapan Tian Bu Cu dengan hormat. Kemudian terdengar lagi suaranya yang pilu. “Ilmu silat boanpwe masih kurang becus, dengan demikian juga tidak pantas memikul tanggung jawab yang berat ini. Tetapi saat ini, golongan sesat dari luar samudera akan melakukan penyerangan besar- besaran. Boanpwe terpaksa menyerahkan jabatan ini kepada orang lain. Semoga Bengcu yang akan terpilih nanti dapat memikirkan kesejahteraan dunia Bulim melebihi kepentingan dirinya sendiri. Mengenai diri Boanpwe sendiri yang membunuh orang-orang tidak bersalah dengan nama Cian Bin Mo-ong, memang merupakan suatu dosa yang besar. Oleh karena itu, boanpwe rela menerima hukuman apapun yang diberikan oleh para Cianpwe…” selesai berkata, kembali dia menarik nafas panjang-panjang.
Tampangnya saat itu sungguh mengenaskan. Seakan seorang pendekar besar yang menemui jalan buntu.

“Apakah kau ingat bahwa dendam kematian ayahmu masih belum terbalas?”

Mendengar kata-katanya, tubuh Tan Ki langsung tergetar hebat. Dia mendongakkan wajahnya sambil bertanya, “Pada saat seperti ini Locianpwe tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang menyangkut kematian ayahku, entah maksud apa sebenarnya yang terkandung dalam hati locianpwe?”

Mata Tian Bu Cu beredar, dia segera melihat orang-orang gagah yang berkumpul itu sedang berkasak-kusuk dan berdebat di sana sini. Diam-diam dia berpikir di dalam hatinya: ‘Kalau ditilik dari keadaan sekarang ini, apabila pinto menjelaskan niat yang sebenarnya, pasti ada saja orang yang merasa kurang senang. Kemungkinan malah bisa terjadi kekacauan yang tidak diinginkan. Lebih baik aku menyatakan secara terbuka apa yang dipesankan oleh Yibun Siu San tadi, mungkin dengan cara demikian, mereka malah akan terharu terhadap keadaan Tan Ki…’

Dia langsung tersenyum lembut. Tampaknya dia sudah mengambil suatu keputusan. Tangannya terulur dan dikeluarkannya sebuah botol kecil yang terbuat dari batu kumala. Dibukanya tutup botol itu kemudian dituangkannya isi berupa pil berwarna kuning dan merah ke dalam telapak tangan. Kemudian dijumputnya sebutir pil yang berwarna merah dan lalu tersenyum simpul.

“Ini merupakan pil beracun yang reaksinya sangat cepat. Kalau kau merasa menyesal karena telah membunuh orang-orang yang tidak berdosa, bagaimana kalau kau telan obat beracun ini?”

Mendengar kata-katanya, mula-mula Tan Ki agak tertegun. Kemudian tampak dia tertawa getir dan menyambut pil berwarna merah tersebut.
Melihat gerak-geriknya ini, tampaknya Tan Ki telah mengambil keputusan yang besar.
Orang-orang gagah yang melihatnya sampai berubah wajah mereka. Otomatis mereka menyayangkan apabila tokoh yang begini muda dan berilmu tinggi harus mati begitu saja.

Tiba-tiba Mei Ling menghambur keluar dari rombongan Tan Ki. Dia berlutut di samping suaminya dengan air mata berderai.

“Tan Koko, apakah kau benar-benar akan menelan racun itu?” Sekali lagi Tan Ki menarik nafas panjang.
“Kecuali begini, tidak ada cara lain lagi untuk menyatakan penyesalan hatiku. Selama hidup ini, aku telah banyak berbuat dosa. Saat ini aku dapat mati di hadapan para orang- orang gagah sedunia, rasanya tidak perlu disayangkan juga!”

Mei Ling mengusap air matanya kemudian tersenyum lembut. Namun orang-orang dapat merasakan kegetiran yang menyayat hati terselip di balik senyumannya.

“Apakah obat itu benar-benar mengandung racun yang ganas?”

Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, tetapi untuk sesaat dia juga tidak menangkap apa maksud pertanyaan Mei Ling itu. Mendengar pertanyaannya, dia malah jadi termangu -mangu.

“Tentu saja racunnya sangat ganas.” sahutnya kemudian. Mei Ling mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum.
“Berikan setengah dari pil itu kepadaku. Seandainya kau mati, aku toh masih bisa mendampingi di sisimu!”

Nada suaranya begitu datar dan tenang, seakan dia juga sudah bertekad untuk mengiringi kematian Tan Ki. Tidak setitik gejolak emosipun yang terlihat. Hal ini membuktikan bahwa keputusannya sudah tidak dapat diganggu gugat.

Hati Tan Ki tercekat mendengar ucapannya. Tubuhnya sampai tergetar. Kemudian dia menggelengkan kepalanya berkaji-kali. Dikembangkannya secercah tawa yang getir.

“Urusan ini timbul dari diriku sendiri. Sudah sepatutnya aku sendiri yang menanggung resiko ini!” sembari berkata, dia langsung menggerakkan tangannya, mulutnya terbuka dan berniat menelan pil beracun itu.

Justru di saat yang genting di mana pil beracun itu hampir masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba terdengar seseorang menyebutkan ‘Omitohud!’ kemudian membentak, “Tunggu dulu!”

Suaranya sirap, orangnya pun muncul, dia adalah Ciang Bunjin Siau Lim Pai, Pun Sang Taisu.

Matanya menyorotkan sinar yang lembut, begitu kakinya mendarat di atas tanah, tangannya secepat kilat mencengkeram perge-langan tangan Tan Ki.
Tokoh ini merupakan Cian Bunjin Siau Lim Pai, sekaligus tokoh tersakti dari generasi Pun. Gerakan yang dilakukannya secepat kilat, orang lain pasti sulit meloloskan diri dari cengkeramannya. Tetapi Tan Ki bukan tokoh sembarangan. Melihat kedatangannya yang sekonyong-konyong itu, dia sudah dapat menduga apa maksud hwesio tua ini. Hatinya saat ini sudah bertekad untuk menebus dosa dengan kematian. Mana mungkin dia membiarkan Pun Sang Taisu merebut pil beracun itu. Oleh karena itu, dia segera membentak dengan nada suara yang keras, “Taisu, hati-hati!”

Sembari berkata, lengan kanannya telah mengerahkan tenaga dalam yang dahsyat.
Disambutnya serangan Pun Sang Taisu yang hebat. Dalam waktu yang bersamaan, telapak tangan kanannya terangkat ke atas dan langsung dimasukkannya pil beracun itu ke dalam mulut serta menelannya ke dalam perut.

Terdengar suara benturan dua gulung tenaga yang dahsyat. Dalam jarak tujuh langkah, debu-debu beterbangan. Bahkan orang-orang yang ada di sekitarnya ikut tergetar, pakaian mereka berkibar-kibar. Timbul serangkum angin yang kencang sekali.

Serangan ini dilancarkan Tan Ki dengan perhatian terpencar. Oleh karena itu kekuatan yang terkandungnya tidak sehebat biasa. Begitu beradu dengan pukulan Pun Sang Taisu, kakinya langsung goyah kemudian tampak terhuyung-huyung mundur satu langkah.

Watak Pun Sang Taisu sangat welas asih, tadinya dia hendak mencegah Tan Ki menelan pil beracun tersebut. Setelah itu dia ingin menyatakan di hadapan umum jasa- jasa yang pernah dibuat Tan Ki sehingga timbul belas kasihan mereka, Kemungkinan dirinya akan lolos dari hukuman mati. Tidak tahunya pikiran Tan Ki sudah bertekad untuk menebus dosanya dengan kematian. Hatinya merasa tertekan sekali. Wajahnya kelam.
Sepasang telapak tangannya dirangkap di depan dada dan terdengar mulutnya menyebut nama Bud-dha, “Omitohud!” nada suaranya mengandung penyesalan yang dalam. Tan Ki tertawa getir.

“Kasih sayang Taisu kepada Boanpwe, hanya dapat Boanpwe simpan dalam-dalam di sanubari ini. Sayangnya dosa yang Boanpwe lakukan terlalu besar sehingga tidak berani menerima belas kasihan dari Taisu.”

Pun Sang Taisu memejamkan sepasang matanya.

“Apapun yang dilakukan oleh Tian Bu Cu, pasti mengandung makna yang dalam. Pin- ceng tidak seharusnya bertindak ceroboh dan mengacaukan urusan ini…” tiba-tiba orangtua ini seakan teringat suatu masalah besar. Kata-katanya pun tidak jadi diteruskan. Perlahan-lahan dia melangkah mundur tiga tindak dan menyaksikan perkembangan selanjutnya dari samping.

Meskipun dia tidak melanjutkan kata-katanya, tetapi orang-orang gagah yang berkumpul di tempat itu tahu bahwa hwesio tua ini mempunyai pemikiran yang dalam. Saat ini dia pasti sedang merenungkan suatu masalah yang besar.

Tan Ki melihat dia mengundurkan diri dengan mata menyorotkan sinar kesenduan. Diam-diam hatinya merasa terharu. Ingin sekali dia maju ke depan dan menyatakan terima kasihnya. Tiba-tiba dia merasa sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Serangkum hawa panas mengalir di seluruh peredaran darahnya. Kemungkinan pil yang ditelannya tadi mulai menunjukkan reaksinya. Hawa panas semakin lama semakin membara dalam tubuhnya. Meskipun tenaga dalam Tan Ki sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, namun
dia tetap merasakan tenggorokannya menjadi kering sampai menelan ludahpun sulit. Panasnya hampir tidak tertahankan. Keringat mulai membasahi kening leher bahkan dadanya. Hatinya terkejut setengah mati. Kakinya yang baru maju beberapa langkah segera dihentikan. Diam-diam dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, tetapi dia tidak merasa sakit ataupun gatal.

Dia pernah mendapat penjelasan dari Yibun Siu San, bahwa obat beracun, semakin ganas, semakin tidak terasa. Hatinya tergetar. Diam-diam dia berpikir: ‘Apa yang dikatakan Tian Bu Cu Locianpwe ternyata tidak salah. Racun yang terkandung dalam obat ini keji sekali. Tampaknya aku tidak mati secara gagah di bawah ancaman pedang atau golok, tetapi malah mati dengan sebutir pil beracun. Benar-benar menggelikan!” hatinya merasa kecewa, tanpa sadar mimik wajahnya menunjukkan perasaan hatinya yang putus asa.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara Tian Bu Cu yang bening dan lembut, “Apakah kau menganggap cara pinto ini terlalu keji?”

Wajah Tan Ki langsung berubah, tampak dia menggelengkan kepalanya. “Mana mungkin Boanpwe berani mempunyai pikiran seperti itu?”
Tian Bu Cu tertawa lebar.

“Aku rasa dalam keadaan seperti ini, kau memang tidak berani mempunyai pikiran yang bukan-bukan. Tetapi, ada satu hal yang ingin pinto tanyakan kepadamu… kau merasa lebih baik mati dengan tenang seperti ini, atau lebih baik mati dengan gegap gempita?”

Tan Ki menundukkan kepalanya merenung sejenak.

“Seorang manusia hidup di dunia, apabila tidak dapat melakukan suatu hal yang besar, setidaknya kehidupan ini dilewatkan dengan berharga. Boanpwe hidup di dunia Bulim yang keras, sudah tentu memilih mati dengan gegap gempita. Apabila kita sudah mati, tetapi masih ada seBagian orang yang menarik nafas panjang menyesalkannya, setidak-tidaknya hidup kitja itu sudah berarti.”

Kenyataan di depan mata sekarang ini, dosa yang pernah kau perbuat terlalu besar. Meskipun harus menerima hukuman mati dengan diseret lima ekor kuda, rasanya masih pantas. Tetapi keadaan sekarang ini justru sedang gawat-gawatnya. Pihak Lam Hay dan Si Yu tidak mungkin menyudahi urusan ini begitu saja. Kami sebetulnya membutuhkan orang yang berilmu tinggi seperti dirimu ini. Oleh karena itu, pinto terpaksa mencari sebuah jalan keluar. Kalau kau bersedia mengorbankan diri, bukan saja hidupmu menjadi berarti, malah namamu tetap harum dipandang sebagai pahlawan bangsa!”

Kata-kata yang diucapkannya ini mengandung makna yang dalam. Rasa ingin tahu orang-orang gagah yang berkumpul di tempat itu jadi tergugah. Beratus-ratus pasang mata terpusat pada diri Tian Bu Cu. Sikap mereka menunjukkan ketegangan yang tidak terkirakan.

Tian Bu Cu mengeluarkan suara batuk-batuk kecil. Kemudian terdengar dia melanjutkan kata-katanya dengan perlahan.
“Menurut penyelidikan keponakan Sia Hai Cinjin, saat ini pihak Lam Hay dan Si Yu berkumpul di sebuah lembah yang jaraknya delapan puluh li di sebelah tenggara. Tempat itu sangat terpencil dan tidak mudah mengadakan penyelidikan. Tetapi kalau ditinjau dari ilmu yang kau miliki sekarang ini, hal ini pasti tidak menjadi persoalan bagi dirimu. Oleh karena itu, pinto memberanikan diri mengambil keputusan. Pinto telah memberimu sebutir pil beracun yang baru akan bereaksi setengah bulan kemudian. Apabila kau ingin menebus dosamu dengan membuat jasa, maka kau boleh membawa batok kepala pemimpin Lam Hay Bun itu dan kembali kemari menemui Pinto. Kalau bukan sampai jejakmu yang kepergok orang, pinto harap kau tidak mati dengan sia-sia. Paling tidak kau harus membunuh salah seorang tokohnya sebagai temanmu di alam baka nanti!”

Tan Ki belum pernah mendengar Tian Bu Cu mengucapkan kata-kata yang begitu sadis.
Untuk sesaat dia malah jadi termangu-mangu.

Terdengar si pengemis sakti Cian Cong tertawa dingin.

“Entah maksud apa yang terkandung dalam hati si hidung kerbau ini. Kepergian anak Ki ini sama saja dengan menghadapi musuh seorang diri. Meskipun ia mempunyai kepandaian membalikkan bumi ini, tetap tidak mungkin kembali dalam keadaan hidup. Si pengemis tua paling suka menempuh bahaya, biar aku menemani dia pergi!”

Tian Bu Cu tahu adat si pengemis yang angin-anginan. Dia tertawa lebar mendengar ucapannya.

“Kalau urusannya mudah seperti membalikkan tangan sendiri, Pinto juga tidak akan menyuruh dia pergi. Perlu kau ketahui, kepergiannya yang seorang diri memang tampaknya menghadapi bahaya yang besar, bisa pergi tidak mungkin kembali lagi. Tetapi apabila dia bisa bertindak sesuai dengan perkembangan dan kesempatan, mungkin dia mempunyai peluang besar untuk berhasil. Apalagi dia masih mempunyai waktu setengah bulan sebelum racun dalam tubuhnya menunjukkan reaksi.

Menang, kalah, hidup atau mati, semua tergantung dari kecerdasan otaknya.
Seandainya Cian-heng menemani dia, secara tidak langsung malah menjadi beban. Jejaknya lebih mudah dipergoki musuh. Berhasil belum tentu, kalah sudah pasti. Pinto sama sekali tidak setuju dengan pendapat ini!”

Sembari berkata, dia membalikkan tubuhnya kembali dan membentak dengan suara keras, “Fu Yong, kau hendak ke mana?”

Liang Fu Yong menyeret tangan Mei Ling dan baru berjalan satu langkah. Niatnya ingin melarikan diri secara diam-diam. Mendengar suara bentakan gurunya, tampak wajahnya berubah hebat. Cepat-cepat dia menghentikan langkah kakinya dan menyahut dengan gugup… “Ti… tidak…”

Mata Tian Bu Cu yang menyorotkan sinar tajam menatap wajahnya lekat-lekat. Hati Liang Fu Yong jadi tergetar. Terdengar Tian Bu Cu berkata lagi dengan nada berat.

“Kau ingin belajar seperti dulu lagi, meninggalkan pegunungan secara diam-diam dan membantu Tan Ki? Kau harus tahu bahwa murid Bu Tong Pai harus mengikuti peraturan yang ketat. Siapa yang berani melanggarnya, harus menerima hukuman berat. Kalau kau memang tidak takut dituduh sebagai murid murtad, silahkan pergi, tidak apa-apa!”
Isi hatinya tertembus oleh Tian Bu Cu, wajah Liang Fu Yong langsung berubah merah padam. Tanpa terasa kepalanya tertunduk rendah-rendah dan tidak berani menyahut sepatah katapun.

Setelah memarahi muridnya, pandangan mata Tian Bu Cu kembali beralih kepada Sia Hai Cinjin.

“Kemarikan kantong bekalmu itu. Biar dibawa oleh Tan Ki!”

Orang-orang yang biasa berkelana di dunia Kangouw selalu membawa kantong bekal dalam perjalanan. Dengan demikian, apabila mereka berjalan di daerah yang terpencil atau hutan di mana tidak terdapat rumah makan maupun penginapan, mereka mempunyai persiapan untuk mengisi perut. Sia Hai Cinjin dan anggota para lima partai besarnya berangkat dari perguruan masing-masing menuju Tok Liong-hong untuk memberikan bantuan kepada perkumpulan Ikat Pinggang Merah, sudah tentu mereka membawa bekal dalam jumlah yang cukup banyak, paling tidak untuk seminggu perjalanan. Setelah mendengar perkataan Tian Bu Cu, dia segera mengeluarkan kantong bekalnya kemudian menyodorkannya kepada Tan Ki.

Dengan membawa sebatang pedang, Ceng Lam Hong menghampiri putranya.
Wajahnya menyiratkan kepedihan hatinya.

“Pedang pendek ini milik Kiau Hun yang digunakan untuk mematahkan pedang sulingmu tempo hari, bukan senjata biasa. Kau benar-benar tidak tahu kebaikan orang. Pedang penghancur pelangi yang sudah dihadiahkan kepadamu, malah kau kembalikan kepada si gadis berpakaian putih. Kalau tidak membawa senjata tajam di sampingmu, keadaan dirimu semakin berbahaya. Bawa saja pedang pendek ini…”

Biar bagaimanapun, Ceng Lam Hong adalah seorang ibu yang sangat menyayangi putranya. Walaupun dosa Tan Ki sangat besar karena membunuhi orang-orang yang tidak berdosa, bahkan menimbulkan kegemparan di dunia Bulim, tetapi menjelang perpisahan yang entah masih dapat berjumpa lagi atau tidak, tanpa dapat ditahan lagi air matanya jatuh bercucuran. Berkata beberapa patah, dia tidak sanggup meneruskan lagi, suaranya tersendat-sendat karena isak tangis yang pilu. Tiba-tiba dia memalingkan kepalanya, lengan bajunya diangkat ke atas untuk menutupi wajah dan memaksakan dirinya untuk berkata, “Jaga dirimu baik-baik…” belum lagi suaranya sirna, orangnya sendiri langsung membalikkan tubuh dan berlari pergi secepat kilat. Tentu saja dia hampir tidak sanggup menahan kepedihan hatinya mengingat perpisahan kali ini merupakan perpisahan hidup dan mati.

Yibun Siu San menarik nafas panjang.

“Anak Ki, kau bukan tidak punya peluang untuk hidup. Baik-baiklah kau gunakan kecerdasan serta akal sehatmu dalam melakukan tugas. Bertindak mengikuti keadaan, harus bisa menahan penderitaan yang bagaimanapun beratnya. Dengan demikian kau baru pantas disebut orang yang berakal budi. Aku harap kau akan kembali menemuiku dalam keadaan hidup.” selesai berkata, dia tidak menunggu jawaban dari Tan Ki.
Tubuhnya berkelebat mengejar di belakang Ceng Lam Hong.

Kata-kata yang diucapkannya tadi mengandung makna yang dalam. Hati Tan Ki bukan main terharunya, sepasang matanya menatap bayangan Yibun Siu San dan Ceng Lam
Hong lekat-lekat. Untuk sesaat, seakan ada sesuatu yang dirasakannya. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun, tetapi di sudut bibirnya tersungging seulas senyuman.

Kurang lebih sepeminum teh kemudian, baru dia mengalihkan kembali pandangan matanya. Tatapannya beredar kepada orang-orang gagah yang berkumpul di sana sekilas.

“Cayhe mohon diri.” katanya sambil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, setelah itu dia membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu.

Orang-orang yang ada di sana dapat mendengar nada suaranya yang berat. Seperti ucapan seorang pendekar yang pergi tanpa kembali lagi, diam-diam hati mereka terasa tertekan…

Sementara itu, Mei Ling menghambur ke depan mengejarnya. Sepasang alisnya mengerut ketat. Wajahnya sendu sekali, air mata berderai membasahi pipi. Dengan suara yang menyayat hati dia berteriak…

“Tan Koko!”

Mendengar panggilannya, langkah kaki Tan Ki terhenti. Dia langsung menolehkan kepalanya. Dua pasang mata bertemu pandang. Dia melihat sorot kepedihan terpancar jelas dari mata istrinya. Tiba-tiba saja hatinya seakan dilanda tekanan bathin yang hebat. Langkah kakinya malah dipercepat dan dalam sekejap mata dia sudah menghambur pergi.

Meskipun sudah menelan pil beracun pemberian Tian Bu Cu, tetapi racun itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap ilmu silatnya. Begitu dia mengerahkan ilmu ginkangnya, tubuhnya bergerak bagai hembusan angin dan melayang terus ke depan.

“Tan Koko!” dari belakangnya terus berkumandang suara panggilan. Nadanya bagai ratapan seorang isteri yang ditinggal mati suaminya. Begitu pilu dan mengenaskan.
Kumandangnya bergema di seluruh bukit.

Tan Ki merasa suara panggilan itu bagai beribu batang pedang yang menusuk jantungnya. Hatinya sakit bukan kepalang. Hampir saja dia menghentikan langkah kakinya dan melepas rasa rindu dengan isterinya. Namun akhirnya dia menggerakkan giginya erat- erat dan menahan rasa pilu di hatinya. Tanpa memalingkan kepala sekalipun dia terus berlari sekencang-kencangnya. Angin sejuk berhembus dari depan, menerpa wajahnya yang penuh dengan air mata…

Kurang lebih setengah kentungan kemudian, suara panggilan di belakangnya tidak terdengar lagi. Tanpa terasa langkah kakinya diperlambat. Pandangan matanya segera beredar. Rupanya dia sudah sampai di sebuah lembah yang terpencil dekat bukit Tok Liong-hong. Rumput-rumput tumbuh liar, bunga serta pepohonan membisu. Pemandangan ini menimbulkan rasa pilu bagi orang yang melihatnya.

Tampak dia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian wajahnya mendongak ke atas dan menghembuskan nafasnya panjang-panjang. Terlihat olehnya cakrawala membentang tanpa batas. Awan putih berarak, sekonyong-konyong dadanya terasa lapang. Segala macam kepedihan yang tadi membaur dalam hatinya sirna seketika. Kegagahannya terbangkit. Setelah menentukan arah yang tepat, dia langsung berlari menuju Bagian tenggara.
Tampak padang rumput yang luas dengan tanah kuning berhamparan. Di hadapannya terlihat sebuah makam baru. Kalau dilihat dari tanahnya yang berserakan, kemungkinan besar jenazah di dalamnya baru dikubur dan bahkan dilakukan dengan tergesa-gesa.

Pada dasarnya Tan Ki merupakan seorang pemuda yang cerdas. Setelah merenung sejenak, dia segera dapat menduga asal-usul kuburan itu. Pasti tempat ini dilalui rombongan Lam Hay dan Si Yu. Tukang kereta yang umum jarang melintasi daerah ini. Orang mati yang baru dikubur itu, pasti orang dari pihak Lam Hay yang mati dalam pertarungan tadi. Mereka digebah pergi oleh kehebatan ilmu si gadis berpakaian putih. Oleh karena itu, orang ini tidak sempat dikubur dengan layak, apalagi pakai upacara segala macam. Itulah sebabnya mereka mengambil jalan pintas dengan menguburkannya di tempat ini.

Meskipun Tan Ki tidak tahu siapa orang yang dikubur itu, tetapi mengingat kepergian- nya kali ini menempuh bahaya sedemikian besar, pikirnya mungkin dia tidak bisa kembali lagi dan berubah menjadi mayat seperti orang yang baru dikubur ini…

Melihat pemandangan yang menyedihkan ini, tiba-tiba muncul perasaan senasib dengan orang yang mati itu. Tanpa terasa dia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam memberi penghormatan terakhir kepada orang mati yang ada di dalam makamnya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendatangi dari belakang punggungnya, tetapi sekejap kemudian berhenti lagi. Kemungkinan orang itu melihat bayangan punggung Tan Ki sehingga terkejut dan menghentikan langkah kakinya.

Bagian LV

Suara langkah kaki itu demikian ringan dan lirih. Kalau bukan orang yang pendengarannya tajam sekali, pasti tidak akan merasakannya. Hati Tan Ki langsung tercekat. Cepat-cepat dia menolehkan kepalanya sembari mengerahkan tenaga dalam secara diam-diam untuk menjaga segala kemungkinan.

Kira-kira enam langkah dari dirinya, berdiri tegak adik seperguruan Kaucu Pek Kut Kau, Kim Yu.

Tampaknya orang itu bermaksud melancarkan sebuah pukulan, lengan kanannya sudah terangkat ke atas. Tetapi ketika Tan Ki menolehkan kepalanya, cepat-cepat dia menurunkan tangannya kembali. Wajahnya tersipu-sipu seperti orang yang tertangkap basah.

Saat ini Tan Ki bukan tokoh sembarangan lagi. Sekali lihat saja, dia sudah tahu apa yang terkandung dalam hati Kim Yu. Oleh karena itu dia mengeluarkan suara tertawa yang dingin.

“Sejak kapan saudara belajar membokong orang dari belakang? Berani-beraninya kau mencuri kesempatan di saat orang lengah. Kalau memang hebat, coba kau lancarkan serangan dari depan sekarang juga!”

Kim Yu menaikkan sepasang bahunya sambil tersenyum simpul.
“Bagus sekali, bagus sekali!”

“Hari ini kita mempunyai kesempatan bertemu di sini. Tadi kita belum sempat bergebrak. Sekarang di sini tidak ada seorangpun. Tempatnya juga tenang, sesuai bagi kita untuk berkelahi sebanyak tiga ratus jurus dan tidak ada seorangpun yang menganggu!”

Kim Yu tertawa terkekeh-kekeh dua kali.

“Mati hidup dalam sebuah pertarungan adalah hal yang jamak. Apabila saudara mempunyai kegembiraan seperti itu, seharusnya aku mengiringi kemauanmu. Sayangnya saat ini aku masih mempunyai tugas yang lain sehingga harus memohon diri terlebih dahulu. Apabila kita mempunyai jodoh, di lain kesempatan baru kita perhitungkan hutang piutang di antara kita, bagaimana?”

Wajah Tan Ki langsung berubah mendengar perkataannya. Dari sinar matanya terpancar hawa pembunuhan yang tebal. Dia memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Kata-kata saudara sungguh enak didengar. Tetapi aku justru tahu bahwa kau hanya terlihat gagah di luar, namun dalamnya kering kerontang. Sebetulnya hatimu sudah merasa gentar terhadapku, mungkin karena siang tadi kau sudah melihat kepandaianku yang sebenarnya, bukan?”

“Tidak salah, kepandaianmu memang hebat sekali!”

“Kalau begitu aku akan turun tangan mencabut selembar nyawamu!” selesai berkata, tanpa memberi kesempatan sedikitpun kepada Kim Yu, dia langsung menjulurkan tangannya mengirim sebuah pukulan.

Kim Yu mengangkat telapak tangannya menyambut, langsung terasa dadanya menjadi panas. Cepat-cepat dia mencelat mundur sejauh tiga langkah. Ternyata tenaga dalam yang telah dipupuknya puluhan tahun masih tidak sanggup menahan pukulan lawannya. Dia merasa ilmu kepandaian Tan Ki seperti mengikuti waktu yang berlalu, semakin hari semakin hebat…

Sedangkan Tan Ki sendiri saat itu merasa bahwa obat beracun yang diberikan Tian Bu Cu hanya mengandung hawa panas yang memenuhi dadanya. Selain itu tidak ada rasa aneh sedikitpun yang dia rasakan.

Justru pada saat pukulan Tan Ki menggetarkan Kim Yu sehingga mundur beberapa langkah, dari kejauhan terdengar suara siulan panjang sebanyak dua kali. Sumbernya dari dua arah yang berlawanan.

Diamrdiam Kim Yu merasa senang. Dia mengira-ngira dalam hati. ‘Bala bantuan sudah datang!”

Begitu pikirannya tergerak, nyalinya pun menjadi besar. Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya kemudian dengan posisi menahan di depan dada, dia menghantamkan sebuah serangan.

Perlahan-lahan sepasang alis Tan Ki menjungkit ke atas. Dia tahu bahwa suara siulan panjang yang terdengar sebanyak dua kali tadi keluar dari mulut seorang tokoh yang
tenaga dalamnya hebat sekali. Kalau dia tidak menggunakan waktu yang ada sebaik- baiknya dengan membunuh Kim Yu, bisa-bisa dirinya sendiri yang diringkus oleh musuh.

Hatinya sudah bertekad untuk melakukan pertarungan dalam jangka waktu cepat. Oleh karena itu, tanpa mempertimbangkan lama-lama, dia langsung mengerahkan jurus- jurusnya yang paling keji. Tampak tubuhnya dengan gesit menghindarkan serangan Kim Yu.

Entah bagaimana caranya, tahu-tahu dia menerobos ke dalam bayangan dan angin kencang yang terpancar dari pukulan Kim Yu. Tangan kanannya langsung menjulur ke depan dengan kekuatan dahsyat. Secepat kilat dia menghantam dada lawannya.

Tampaknya Kim Yu sama sekali tidak menyangka kalau Tan Ki memiliki gerakan tubuh yang begitu aneh sehingga berani menerobos ke dalam bayangan pukulannya. Hatinya tercekat bukan kepalang!

Kejadiannya berlangsung dengan cepat. Meskipun ada niat Kim Yu untuk mengelakkan diri dari serangan Tan Ki, tetapi tidak keburu lagi. Dia merasa seperti ada sebuah palu besar yang menghantam dadanya. Saat itu juga aliran darahnya bagai membalik. Dia tidak sanggup berdiri dengan tegak lagi. Begitu keras getarannya sampai tubuh orang itu melayang di udara kemudian terhempas jatuh pada jarak satu depaan.

Tan Ki tidak membuang waktu. Dia mengerahkan lagi hawa murninya dan menerjang ke depan. Dia takut pukulannya tidak cukup kuat sehingga lawannya belum mati, tetapi hanya terluka parah. Oleh karena itu, orangnya baru sampai di hadapan Kim Yu, kembali dia melancarkan sebuah pukulan.

Ketika rangkuman tenaga yang dahsyat itu sudah mereda, ternyata tubuh Kim Yu tidak bergerak lagi. Beberapa tetes darah masih mengalir dari sudut bibirnya. Kematiannya cukup mengenaskan.

Meskipun selama hidupnya Tan Ki sudah sering membunuh orang, tetapi melihat pemandangan di depannya, ternyata dia juga merasa tertekan. Udara di sekitar tempat itu seperti tiba-tiba menjadi dingin. Tanpa dapat ditahan lagi tubuhnya bergetar dan bulu kuduknya merinding.

Tepat pada saat itu, kembali terdengar suara siulan yang berkumandang datang. Kali ini sumber suara itu sudah tidak sejauh tadi lagi. Kemungkinan besar jarak orangnya sudah mendekat. Tan Ki mendongakkan wajahnya kemudian mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Setelah yakin tidak ada seorangpun yang memperhatikan gerak- geriknya, cepat-cepat dia memondong tubuh Kim Yu dan membawanya ke balik sebatang pohon siong yang besar.

Gerakannya sangat cepat. Baru saja dia menyembunyikan dirinya dengan baik. Di atas padang rumput tersebut secara berturut-turut melayang turun dua sosok bayangan. Orang yang pertama mengenakan pakaian yang penuh dengan tambalan di sana sini, janggutnya sudah putih dan panjangnya kira-kira tiga cun. Ditilik dari keadaannya, dapat dipastikan bahwa dia adalah seorang pengemis.

Orang yang kedua merupakan seorang laki-laki setengah baya berpakaian hitam. Matanya sipit dan mulutnya lebar. Tampangnya angker sehingga timbul kesan yang
menyeramkan. Kedua orang ini bukan lain dari si pengemis sakti Cian Gong dan Kaucu Pek Kut Kau dari daerah Si Yu.

Mulut si pengemis sakti Cian Cong selamanya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengejek orang. Ketika melihat Kaucu Pek Kut Kau juga sudah sampai di tempat itu, dia langsung mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak.

“Kalau bukan musuh, justru susah bertemu muka. Sekarang kita justru berjumpa di sini dengan tidak terduga-duga!”

Wajah Kaucu Pek Kut Kau yang hitam legam dari awal hingga akhir selalu terlihat datar dan dingin. Kalau diperhatikan baik-baik, dia seperti sesosok mayat yang tidak memperlihatkan perasaan apapun. Entah dia merasa senang atau marah mendengar kata- kata Cian Cong.

Sikap Cian Cong berangasan. Melihat Kaucu Pek Kut Kau itu tidak menyahut sepatah katapun, kesabarannya jadi habis. Matanya mendelik lebar-lebar.

“Hei! Apakah kau bertemu dengan pangcu kami?”

Dengan dingin Kaucu Pek Kut Kau malah berbalik bertanya kepadanya, “Aku justru baru ingin bertanya kepadamu, apakah kau melihat adik seperguruanku?”

Mendengar sahutannya yang bagai sindiran itu, untuk sesaat Cian Cong jadi tertegun.
Dia mengangkat tangannya lalu menggaruk-garuk kulit kepalanya, seakan sedang memikirkan kata-kata yang harus diucapkan.

Tampak lengan baju Kaucu Pek Kut Kau yang lebar itu berkibar-kibar, sekonyong- konyong dia maju ke depan tiga langkah. Serangkum angin yang kencang langsung terpancar keluar dari dalam lengan bajunya itu.

Kedua orang itu merupakan tokoh-tokoh berilmu tinggi yang jarang ada di dunia Kan- gouw. Oleh karena itu, terhadap serangannya yang dahsyat ini, Cian Cong sama sekali tidak berani memandang ringan. Tubuhnya menggeser sedikit ke sebelah kiri kurang lebih dua langkah. Lengan kanannya terangkat perlahan-lahan, kemudian melancarkan sebuah serangan balasan.

Kemarahan Hua Pek Cing jadi terbangkit. Dia membentak dengan suara keras kemudian melancarkan beberapa serangan berturut-turut. Setiap jurus yang dikerahkannya mengandung kekejian yang tidak terkirakan. Serangannya langsung dilancarkan ke Bagian tubuh yang mematikan.

Sementara itu, dari balik sebatang pohon yang besar tiba-tiba muncul sesosok bayangan. Gerakannya begitu cepat, sehingga dalam sekejap mata sudah sampai di dekat kedua orang yang sedang bertarung dengan sengit itu. Terdengar dia berteriak dengan suara lantang…

“Suheng, harap mundur! Biar aku yang melawan orang ini!” seraya berkata, dia langsung melancarkan sebuah pukulan yang dahsyat dan menghantamkannya ke depan!

Cian Cong melihat adik seperguruan Kaucu Pek Kut Kau, Kim Yu muncul secara mendadak. Hatinya jadi tercekat.

“Bagus sekali. Si setan hitam juga sudah bisa mencari bala bantuan!”

Telapak kanannya bergerak, sebuah serangan yang mengandung tenaga dalam hebat langsung dihantamkan ke depan menyambut serangan Kim Yu.

Dia mengira lawannya itu adalah adik seperguruan Kaucu Pek Kut Kau, tentu saja tenaga dalam yang dimiliki tidak bisa menandingi suhengnya sendiri. Kekuatan Kaucu Pek Kut Kau saja hampir seimbang dengan dirinya. Apabila dia menyambut pukulannya ini dengan kekerasan, walaupun tidak sampai terluka, paling tidak lengannya akan merasa kesemutan dan tergetar mundur sejauh lima langkah.

Siapa nyana kenyataannya justru jauh berbeda dengan dugaannya. Ketika dua gulung kekuatan beradu, sepasang alis Cian Cong langsung berkerut. Dia tergetar mundur sejauh tiga langkah. Rupanya ketika mereka mengadu tenaga dengan kekerasan, dia langsung sadar bahwa tenaga dalam lawannya masih menang satu tingkat dibandingkan dengan dirinya.

Kejadian ini benar-benar di luar dugaannya. Meskipun Cian Cong mempunyai pengetahuan yang luas dan pengalaman segudang serta ketenangan yang sulit disamai oleh orang lain, tetapi peristiwa ini sempat membuatnya termangu-mangu beberapa saat. Bahkan Kaucu Pek Kut Kau juga terkejut setengah mati sehingga termangu-mangu.
Sepasang matanya yang seram, menatap diri adik seperguruannya tanpa berkedip sedikitpun.

Dia benar-benar tidak mengerti. Mengapa adik seperguruannya yang selama ini selalu kalah bila mengadu tenaga dalam dengannya, tiba-tiba menjadi demikian kuat hanya dalam waktu beberapa kentungan saja. Bahkan kekuatannya begitu mengejutkan.

Justru ketika kedua orang itu masih kebingungan, tiba-tiba Kim Yu menggerakkan tubuhnya menerjang ke depan. Telapak tangannya menghantam, kakinya menendang. Dalam waktu yang singkat dia memainkan delapan sembilan jurus serangan.

Diam-diam hati Cian Cong tercekat melihat gerakannya yang hebat. Dia segera membentak, “Siapa kau sebenarnya?” seraya bertanya, sepasang telapak tanganya menjulur ke depan, dia menangkis sambil mengelak ke sana ke sini. Setelah kalang kabut beberapa waktu, akhirnya dia baru dapat mempertahankan diri dari serangan Kim Yu yang gencar.

Kim Yu tertawa lebar.

“Aku memang Kim Yu!” sahutnya sambil melancarkan sebuah serangan.

Cian Cong mengulurkan telapak tangannya menyambut serangan itu. Tiba-tiba suatu ingatan melintas di benaknya. Cepat-cepat dia mencelat mundur dan membentak.

“Tunggu sebentar!”

Kim Yu masih juga tersenyum simpul.

“Kalau kau mempunyai pesan terakhir yang ingin disampaikan, cayhe bisa memberimu waktu sedikit.”

“Soal mati atau hidup, si pengemis tua selamanya tidak pernah ambil hati. Saudara juga tidak perlu mengucapkan kata-kata yang demikian…” dia merandek sejenak. Kemudian baru melanjutkan kembali, “Si pengemis tua ingin minta sedikit petunjuk.”

“Kalau memang cayhe tahu yang kau tanyakan, pasti cayhe jawab dengan sebenar- benarnya.” sahut Kim Yu sambil tertawa.

“Apakah kau pernah bertemu dengan pang-cu perkumpulan kami?” “Ada.”
“Di mana dia sekarang?” “Sudah mati!”
Hati Cian Cong langsung tergetar.

“Betul?” tanyanya dengan nada bimbang. “Cayhe selamanya paling tidak suka berdusta, apalagi mengoceh sembarangan. Kalau kau tetap tidak percaya, apa boleh buat?”

Mendengar keterangan yang tidak diduga-duganya ini, hatinya lebih sedih daripada dihina oleh orang. Mengingat Tan Ki adalah seorang pemuda yang gagah dan bermasa depan cerah, bahkan sudah berhasil merebut kedudukan Bulim Bengcu, berarti sejak sekarang diri anak muda itu sudah disegani di mana-mana. Siapa sangka Thian sungguh tidak adil. Belum selesai persoalan yang satu, datang lagi masalah yang lain. Dunia Bulim benar-benar tidak mempunyai rejeki. Justru di saat namanya mulai menjulang tinggi, dia malah… hati Cian Cong terasa pilu, air matanya jatuh bercucuran. Dia berdiri dengan terma-ngu-mangu untuk beberapa saat. Kemudian bertanya lagi dengan suara sendu: Bagaimana kau bisa tahu?”

Dia berharap Kim Yu akan mengakui kata-kata yang diucapkannya tadi hanya gurauan belaka. Oleh karena itu, meskipun hatinya sedang merasa sedih bukan kepalang, dia tetap menyelidiki hal ini. Tentu saja dia juga ingin tahu bagaimana Tan Ki menemui ke- matiannya.

Terdengar Kim Yu mengeluarkan suara tawa yang menyeramkan.

“Cayhe bertaruh dengannya, sama berdiri tanpa bergerak dan saling menyerang sebanyak tiga kali tanpa boleh bergeser ataupun menangkis. Tetapi aku yang memulai terlebih dahulu…”

Sepasang mata. Cian Cong langsung menyorotkan sinar berapi-api. Dengan marah dia membentak, “Pengalamannya masih dangkal. Kau justru menjebaknya dengan cara yang licik dan mengakali dia agar jangan membalas!”

Kim Yu tersenyum simpul.

“Kalau tidak begitu, tenaga dalam maupun kepandaian cayhe memang bukan tandingannya. Apalagi di dalam dunia Kangouw, yang paling penting justru harus licik. Semakin licik malah semakin baik. Cayhe sadar sampai di mana kemampuan diri sendiri, terpaksa menggunakan akal untuk mengelabuinya. Kalau kau ingin melihat dia, coba kau
pergi ke belakang pohon besar itu!” sambil berbicara, tangannya menunjuk ke arah pohon besar dari mana dia muncul tadi.

Cian Cong mendelik kepadanya sekilas. Tubuhnya berkelebat menuju pohon besar yang ditunjuk Kim Yu.

Dalam sekejap mata, dia sudah melesat kembali, tampak wajahnya menyiratkan kegusaran yang tidak terkirakan. Rambut dan jenggotnya seakan berdiri tegak.
Tampangnya seperti ingin menelan lawannya hidup-hidup. Sungguh tidak enak dipandang.

Kaucu Pek Kut Kau tahu kemarahannya sudah benar-benar meluap. Setiap saat orang ini bisa mengamuk atau menimbulkan kesulitan. Di samping itu dia juga takut sutenya berhasil dikalahkan oleh Cian Cong. Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalam dan maju setengah langkah. Dia menghadang di depan Kim Yu dengan sikap melindungi.

Suasana yang tegang terasa menyelimuti tempat itu. Tiba-tiba Kim Yu berkata kepada suhengnya dengan suara rendah.

“Sekarang si makhluk tua ini hanya seorang diri. Kalau kita bergabung melawannya, tentu tidak sulit menghabiskan selembar nyawanya. Bagaimana pendapat suheng tentang usul siaute ini?”

Sepasang mata Kaucu Pek Kut Kau memperhatikan lengan Cian Cong lekat-lekat. “Hal ini mungkin bisa menjatuhkan derajat kita. Menangpun tidak terasa gemilang.” “Kalau begitu, kita tidak perlu bergebrak lagi dengannya. Kita pulang saja!”
Dengan demikian, kedua kakak adik seperguruan membalikkan tubuhnya dengan maksud meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba pada saat itu, Cian Cong mengeluarkan suara raungan dan menerjang datang. Sekaligus dia melancarkan beberapa buah serangan.
Kekuatannya demikian dahsyat, persis seperti seekor harimau yang mengamuk. Tubuh Kim Yu berkelebat. Bukannya mundur dia malah maju ke depan. Dengan jurus
Palu Emas Mengetuk Lonceng, dia langsung melancarkan serangan dengan gencar. Demikian terdesaknya Cian Cong sehingga mau tidak mau dia harus memikirkan keselamatan dirinya sendiri terlebih dahulu. Kakinya mencelat mundur berkali-kali.

Dua kali Kim Yu menyerang, Cian Cong terus mencelat mundur ke belakang. Melihat keadaan ini, hati Kaucu Pek Kut Kau semakin dilanda kebingungan. Tiba-tiba dia merasa bahwa ilmu kepandaian adik seperguruannya secara mendadak maju demikian pesat…

Setelah berhasil mendesak mundur si pengemis sakti Cian Cong, Kim Yu sama sekali tidak berniat mengejar. Dia seperti orang yang tergesa-gesa karena urusan lain, dengan menarik tangan Kaucu Pek Kut Kau, keduanya menghambur pergi dari tempat itu.

Di tempat itu hanya tinggal Cian Cong seorang. Dia seperti orang yang kehilangan sesuatu dan berdiri termangu-mangu sekian lama…

Angin sejuk berhembus semilir, keadaan makam baru dihadapannya masih seperti sedia kala. Sedangkan mimik wajahnya menyiratkan perasaan pilu yang mengenaskan.

Entah berapa lama telah berlalu, tiba-tiba terdengar dua kali suara tawa panjang dari balik pohon yang besar. Tampak bayangan manusia berkelebat, secara berturut-turut muncul dua orang di hadapan Cian Cong. Mereka adalah Yibun Siu San dan si tokoh sakti Bu Tong San, Tian Bu Cu. Ternyata mereka mengejar jejak Cian Cong sehingga sampai di tempat tersebut.

Tampak Tian Bu Cu tertawa lebar.

“Cian-heng berdiri seorang diri di sini, kalau dilihat dari tampangnya seperti orang yang sedang sedih sekali. Entah apa sebabnya?”

Cian Cong menarik nafas panjang-panjang. “Anak Ki sudah mati.” sahutnya lirih.
Yibun Siu San tertawa lebar.

“Yang mati bukan dia, kalau Cian-heng ingin tahu kejadian yang sebenarnya, harap ikut dengan Hengte.” seraya berkata, orangnya sudah membalikkan tubuh, arahnya tetap pohon yang besar itu.

Mendengar nada suaranya yang demikian pasti dan tidak seperti orang yang berdusta, diam-diam hatinya berpikir: ‘Mayat yang tadi kulihat terang-terangan Tan Ki adanya, mengapa sekarang dia malah mengatakan bahwa yang mati bukan Tan Ki?’

Begitu pikirannya tergerak, hatinya semakin bingung. Tanpa terasa langkah kakinya mengikuti Yibun Siu San dari belakang.

Begitu pandangan matanya memperhatikan dengan seksama, orangtua yang terkenal sakti ini langsung mengeluarkan suara seruan terkejut. Rupanya mayat yang tergeletak di balik pohon itu, benar-benar Kim Yu adanya. Hanya wajah Bagian depan dan belakang berlainan, bajunya sendiri tetap milik Tan Ki.

Setelah melihat sekali lagi, untuk sesaat hatinya dilanda kebingungan. Dia mengangkat tangannya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Kemudian terdengar dia menggumam seorang diri, “Benar-benar aneh sekali. Tapi siapa orang yang barusan bergebrak dengan si pengemis tua?”

“Ada suatu hal yang terlupa oleh Cian-heng.” “Apa yang terlupakan oleh si pengemis tua?”
“Bukankah kau tahu bahwa anak Ki mempunyai sebuah gelar yang lain, yakni Cian Bin Mo-ong? Dia bisa merubah wajahnya dalam sekejap mata saja. Mungkin karena waktunya yang tidak cukup, dalam keadaan tergesa-gesa dia hanya mengoleskan obat secara asal- asalan saja pada wajah Kim Yu. Dengan demikian khasiatnya juga hanya bereaksi sebentar. Namun kau sempat dikelabui olehnya.”

Kata-kata itu seakan menyadarkan Cian Cong dari mimpi panjang. Mulutnya mengeluarkan suara desahan terkejut. Tangannya ditepuk keras-keras. Dia langsung tertawa terpingkal-pingkal.

“Betul, betul! Rupanya begitu! Tidak heran tenaganya begitu kuat sehingga hampir saja si pengemis tua kalah di tangannya…!”

****

Sementara itu, Tan Ki yang pandai menyamar dan Kaucu Pek Kut Kau terus berlari berdampingan.

Perlu diketahui bahwa ilmu menyamar Tan Ki diperoleh dari seorang tua tanpa nama, dia sanggup merubah wajahnya dalam sekejap mata saja. Sedangkan samarannya begitu sempurna sehingga persis dengan orang yang ditirunya.

Meskipun sepasang mata Kaucu Pek Kut Kau sangat tajam, setelah lewat sekian lama, dia masih tidak menemukan kejanggalan. Tetapi biar bagaimanapun, dia merupakan seorang tokoh sakti yang perasaannya peka. Pengetahuan maupun pengalamannya luas sekali. Terhadap ilmu silat adik seperguruannya yang mendadak maju demikian pesat, sedikit banyaknya dia merasa curiga juga. Setelah berjalan beberapa saat, tiba-tiba Kaucu Pek Kut Kau melambatkan langkah kakinya.

“Kim Yu, suheng mempunyai sedikit persoalan yang tidak dimengerti, ingin bertanya kepadamu.”

Melihat tampangnya yang angker, Tan Ki berusaha bersikap sewajar mungkin. “Silahkan suheng tanyakan saja.” sahutnya.
“Suheng melihat kau melawan si makhluk tua tadi, tampaknya kekuatanmu jauh lebih hebat dibandingkan sebelumnya. Dengan demikian, hati suheng merasa agak heran.”

Hati Tan Ki diam-diam tergetar.

“Urusan ini kalau diceritakan panjang sekali…” mulutnya menyahut, dalam waktu yang bersamaan pikirannya terus berputar mencari alasan yang tepat.

Kaucu Pek Kut Kau melihat matanya terus mengerling ke sana ke mari, hatinya semakin curiga. Oleh karena itu, wajahnya juga tampak semakin kelam.

“Ada apa dengan dirimu?” tanyanya.