Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 45

 
Bagian 45

Baru saja ucapan Cia Tian Lun selesai, Tan Ki sudah mengeluarkan suara siulan panjang lagi. Tubuhnya kembali mencelat ke udara dan cahaya putih tampak berkilauan. Dalam sekejap mata orangnya sudah berdiri tegak lagi di tempat semula.

Gerakannya ini merupakan serangan yang mendadak. Cepatnya bagai kilasan cahaya, begitu berkelebat tahu-tahu sudah diam kembali. Dari berpuluh pasang mata orang-orang yang hadir di tempat itu, ternyata tidak ada seorangpun yang sempat melihat bagaimana cara tubuhnya bergerak. Entah bagaimana dia turun tangan lalu tahu-tahu sudah berdiri kembali di tempat semula. Maju dan mundurnya Tan Ki demikian cepat sehingga dia seakan tetap berdiri tegak dengan tangan menggenggam pedang suling.

Begitu pandangan mata dialihkan, tubuh Cia Tian Lun yang tadinya tidak bergerak sudah berubah posisinya. Lengan kanannya terangkat sedikit ke atas dan telapak tangan kirinya mengambil posisi seperti menahan di depan dada. Sikapnya seperti orang yang sedang menangkis sebuah serangan.

Cahaya api yang terang benderang menekan sinar rembulan yang redup. Kali ini tampak jelas bahwa pergelangan tangan kanannya telah tersayat cukup dalam sehingga darah segar terus menetes membasahi tanah dekat kakinya berpijak. Kalau serangan Tan Ki yang pertama hanya menggores ujung kulitnya serta tidak sampai mengeluarkan darah banyak, maka kali ini lukanya cukup dalam. Hal ini membuktikan bahwa serangan Tan Ki yang secepat kilat sudah membuat Cia Tian Lun yang sombong karena ilmunya tinggi terluka di bawah gerakan pedang sulingnya. Saat itu juga terdengar suara tepuk tangan yang riuh dan suara pujian yang gegap gempita dari mulut para orang-orang gagah. Suara desiran angin dan percikan api masih tidak dapat menahan suara gemuruh tersebut.
Setelah tertegun beberapa saat, akhirnya Cia Tian Lun menarik nafas panjang. “Dalam seumur hidup ini, jarang sekali aku menemukan tandingan yang setimpal,
kecuali dua puluh tahun yang lalu, aku dikalahkan oleh Tocu Lam Hay Bun, selamanya
belum pernah ada orang lain yang dapat bertahan seratus jurus seranganku. Tetapi malam ini, aku mendapat pelajaran yang baru. Usia adik ini masih demikian muda, penampilannya pun biasa-biasa saja, ternyata ilmu yang dikuasai sudah sedemikian tinggi sehingga aku, Cia Tian Lun, salah pandangan…” dia menghentikan kata-katanya sejenak. Tampaknya dia sedang mengerahkan hawa murninya untuk menahan darah yang terus mengalir dari pergelangan tangannya. Sesaat kemudian terdengar dia berkata kembali. “Dalam tiga jurus kau dapat membuat aku terdesak bahkan terluka. Mungkin kecuali Toa Tocu kami, di dunia ini tidak ada orang yang sanggup menandingimu lagi.”

Tan Ki mendengar kata-kata yang diucapkannya seakan keluar dari hati yang tulus, bahkan sikap angkuhnya juga sudah jauh berkurang. Tanpa dapat ditahan lagi, bibirnya segera mengembangkan seulas senyuman yang ramah.

“Di dunia ini terdapat banyak tokoh berilmu tinggi, tetapi kebanyakan sudah mengasingkan diri dan tidak bersedia mencampuri urusan dunia yang rumit ini. Sayangnya saudara belum menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Padahal ilmu Cayhe ini masih belum terhitung apa-apa…”

“Kalau kau tidak percaya, tentu saja aku juga tidak dapat berkata apa-apa lagi. Pada suatu hari nanti, mungkin kau dapat membuktikannya sendiri. Aku bukan orang yang selalu terkurung di Lam Hay Bun. Banyak sudah aku menyaksikan berbagai keajaiban di dunia ini. Oleh karena itu kata-kata yang kuucapkan bukan asal cetus saja. Kelak apabila ada kesempatan untuk bertemu dengan tocu kami, waktu itu kau baru menyadari benar tidaknya ucapanku ini. Sekarang aku merupakan prajurit yang kalah perang, baik nama ataupun kecemerlangan wajahku ini sudah sirna, oleh karena itu aku ingin memohon diri!”

Sepasang matanya yang tajam menyapu sekilas kepada mayat-mayat yang berserakan di atas tanah. Sesaat kemudian baru dia melanjutkan lagi kata-katanya…

“Dua regu tentara berperang, pasti ada korban yang jatuh. Tetapi kalau adik kecil ini merasa tidak puas karena aku telah membunuh beberapa orang dari pihakmu, tentu saja aku mengerti peraturan dunia Kangouw yang menyatakan ‘hutang darah dibayar dengan darah! Ada dendam harus dibalas. Adik kecil boleh menahan aku di sini. Ingin bunuh, ingin cincang, silahkan. Pokoknya aku tidak akan membalas!”

Mendengar kata-katanya yang tegas, Tan Ki jadi serba salah. Di dalam ucapannya yang lembut terkandung kekerasan hatinya yang gagah. Hal ini membuktikan bahwa orang ini sebetulnya termasuk seorang pendekar berjiwa lapang sehingga menyatakan bahwa dirinya yang sudah kalah dan tidak berniat mengadakan pertarungan lagi. Tentu saja Tan Ki boleh maju ke depan dan membunuhnya langsung. Tetapi tentara yang sudah mengibarkan bendera putih tanda mengaku kalah, di negara mana pun tidak boleh dibunuh lagi. Bukan saja Tan Ki tidak ingin melakukan hal tersebut, lagipula pandangan orang terhadap dirinya menjadi rendah. Namun apabila dia melepaskannya begitu saja, sedangkan di sana hadir demikian banyak orang gagah yang menyaksikan bagaimana Cia Tian Lun membunuh rekan-rekan mereka dan mayat-mayatnya pun masih berserakan di atas tanah, keputusan apa yang harus diambilnya agar terlihat tidak berat sebelah?

Tan Ki menundukkan kepalanya merenung. Untuk sesaat dia merasa begini salah begitu salah. Hatinya bimbang memilih keputusan yang harus diambilnya. Sesaat kemudian dia mendongakkan kepalanya menatap Cia Tian Lun kemudian pandangannya kembali beredar kepada orang-orang gagah. Akhirnya dia malah berdiri termangu-mangu tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendatangi. Rupanya Ceng Lam Hong dan Lok Ing berlari ke arah mereka dan berhenti di samping Tan Ki. Tampaknya kedua perempuan ini sudah melalui pertarungan yang sengit. Wajah mereka menyiratkan perasaan letih dan nafaspun masih tersengal-sengal. Malah di lengan kanan Ceng Lam Hong terlihat bekas darah dan lengan pakaiannya terdapat dua buah lubang bekas tusukan pedang, untung saja tidak tampak parah. Namun rambutnya awut-awutan dan tangannya menggenggam sebatang pedang yang sudah, terkutung setengahnya.

Melihat ibunya terluka, Tan Ki merasa terkejut sekali. Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengajukan pertanyaan, tetapi Ceng Lam Hong sudah menggoyangkan tangannya seperti memberi isyarat agar dia jangan berkata apa-apa. Sementara itu, dia menoleh kepada Cia Tian Lun.

“Apakah siangkong ini yang menjabat sebagai Bun Bu Co-siang (Menteri kiri Bagian ilmu surat dan ilmu silat) Cia Siansing adanya?”
Cia Tian Lun tertegun sejenak mendengar pertanyaannya. “Bagaimana kau bisa tahu sebutan diriku?” tanyanya kembali. Ceng Lam Hong tersenyum ramah kepadanya.
“Kau juga mendapat gelar Pelajar Maut, bukan? Bagus sekali! Jadi aku tidak perlu berlari ke sana ke mari untuk mencarimu. Lagipula kalau menyampaikan pesan lewat orang lain, kadang-kadang justru tidak disampaikan.”
Dia berhenti sejenak, tiba-tiba suaranya diperkecil sehingga terdengar lirih sekali. “Ramalan Cin menembus langit, daun Tong menebarkan keharuman yang semerbak.”
suaranya lembut dan lirih sekali. Mungkin hanya Tan Ki yang ada di sampingnya dapat
mendengar dengan jelas.

Mendengar kata-katanya, dada Cia Tian Lun bagai tergetar seperti dipukul oleh seseorang. Tubuhnya bergetar hebat. Tergesa-gesa dia bertanya, “Cepat beritahukan kepadaku, di mana dia sekarang?”

Sekali lagi Ceng Lam Hong tersenyum simpul.

“Putrinyalah yang ingin aku sampaikan kepadamu agar kau meninggalkan tempat ini secepatnya!”

Cia Tian Lun menghembuskan nafas panjang-panjang.

“Aku kira orang yang sudah mati sudah bisa hidup kembali. Toakoku itu sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Mengapa di saat ini dan tempat ini bisa menyampaikan pesan kepadaku, rupanya budak cilik itu…”

Berkata sampai di sini, tiba-tiba dia seperti tersadar. Matanya yang menyorotkan sinar tajam menyapu sekilas kepada Im Ka Tojin dan Lu Sam Nio yang ada pada jarak satu depa di belakangnya, kemudian dia mengeluarkan suara batuk-batuk kecil dan menghentikan kata-katanya.

“Dia juga ingin aku sampaikan kepadamu, apabila ada kesempatan, dia ingin menemui- mu secara langsung!”

Cia Tian Lun menundukkan kejaalanya merenung sejenak, kemudian tampak dia tersenyum.

“Ada baiknya juga. Saat ini lebih baik Cayhe turuti saja perkataannya dan mohon diri sekarang juga.” sembari berkata, dia menoleh kepada Tan Ki. Sekali lagi bibirnya mengembangkan senyuman yang ramah. “Kau kuat sekali. Biarpun aku kalah di bawah pedang sulingmu, tetapi kekalahan ini kuterima dengan ikhlas.” tanpa menunggu jawaban dari Tan Ki, dia segera membalikkan tubuhnya kemudian kakinya menghentak. Tubuhnya, bergerak bagai seekor burung yang mengembangkan sayapnya dan melesat ke depan bagai terbang. Sekali loncat saja jaraknya mencapai lima enam depaan. Dalam waktu yang singkat, Cia Tian Lun, Im Ka Tojin dan Lu Sam Nio sudah berkelebat pergi kemudian menghilang dadam kegelapan malam.
Tan Ki tertegun beberapa saat, kemudian dia menolehkan kepalanya kepada Ceng Lam Hong.

“Ibu, apa sebetulnya makna ucapanmu tadi?”

Ceng Lam Hong tersenyum simpul mendengar pertanyaannya. “Kelak kau akan mengerti sendiri.”
Wajah Tan Ki menyiratkan perasaan ingin tahu. Hatinya masih merasa penasaran, tetapi dia tidak berani banyak bertanya. Oleh karena itu dia menundukkan kepalanya merenung sejenak kemudian baru melanjutkan lagi kata-katanya.

“Apakah Ibu ada bertemu dengan Cin Ying dan Cin Ie? Keadaan malam ini sangat gawat. Apabila mereka sampai tertangkap oleh pihak Lam Hay atau Si Yu, kemungkinan mereka akan mendapatkan kesulitan yang besar.”

“Kau tidak perlu khawatir, aku justru mendapat tugas dari Sam-siokmu Yibun Siu San agar mengajak si pengemis cilik Cu Cia, Sam Po Hwesio, dan beberapa jago pedang tingkat tujuh dan delapan untuk memeriksa daftar nama para peserta Bulim Tayhwe kali ini, juga diminta menyimpan baik-baik beberapa dokumen penting di dalam ruang baca. Kurang lebih kentungan kedua, tiba-tiba aku melihat tiga sosok bayangan hitam berkelebat…”

Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas mendengar keterangan ibunya. “Mereka pasti jago-jago dari Lam Hay dan Si Yu?”
Ceng Lam Hong menganggukkan kepalanya beberapa kali.

“Tebakanmu memang benar. Yang datang memang Bun Bu Yu-siang (Menteri kanan Bagian ilmu surat dan baca) dari Lam Hay Bun, Tong Ku Lu beserta bawahannya kakak beradik keluarga Fu. Aku dan Tong Ku Lu sempat bergebrak beberapa jurus, namun aku langsung merasa kurang beres. Ilmu silat orang itu tingginya benar-benar di luar dugaanku, sedangkan tenaga dalam yang terpancar dari telapak tangannya, mungkin tidak kalah dengan Sam-siokmu sendiri. Setelah belasan jurus, aku mulai terdesak dan tidak mempunyai tenaga untuk melakukan serangan balasan lagi. Untung saja di saat yang genting, tiba-tiba datang dua orang gadis bertopeng. Ilmu silat mereka aneh sekali, lagi pula gabungan keduanya begitu kompak dan serasi sehingga pengaruhnya bertambah hebat. Tepat sepenanakan nasi kemudian, Tong Ku Lu terdesak mundur sehingga lari meninggalkan tempat tersebut. Setelah itu, si gadis yang usianya lebih tua meminta aku menyampaikan kata-kata tadi kepada Cia Tian Lun. Mungkin kau sudah dapat menduga bahwa kedua gadis itu adalah kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie.”

Mulut Tan Ki mengeluarkan suara ‘Oh’ yang panjang. Tiba-tiba ingatannya melayang ke peristiwa sewaktu dia keracunan tempo hari. Pada saat itu dia menitipkan ibunya agar dirawat oleh Cin Ying, tanpa sadar perasaannya menjadi sedih. Ternyata putri bekas Beng- cu dari Lam Hay ini orang yang memegang teguh perkataannya. Apa yang sudah dijanjikannya pasti ditepati. Hal ini justru membuat perasaan hati Tan Ki menjadi tidak enak.
Biar bagaimana dia pernah berjanji akan mengambil adiknya yang ketolol-tololan itu sebagai selir. Meskipun sekarang dia sudah beristeri, tetapi kalau Cin Ie dibandingkan kakaknya, satu seperti gadis desa yang bodohnya minta ampun, sedangkan yang satunya begitu cerdas dan cantik bagai dewi kahyangan. Perbandingannya begitu menyolok sehingga Cin Ying bagai rembulan di langit yang memancarkan cahayanya sampai jauh. Seandainya kedudukan Cin Ie diganti dengan kakaknya, tentu merupakan hal yang menggembirakan sekali…

Berpikir sampai di sini, dia sendiri merasa terkejut, perlahan-lahan dia mengetuk batok kepalanya sendiri dan berkata dalam hati: Aku selalu merasa diriku sebagai seorang laki- laki sejati, mengapa tiba-tiba bisa mempunyai pikiran seperti itu? Kalau sampai ada orang yang mengetahuinya, mana aku ada muka lagi merebut kedudukan Bulim Bengcu?’

Dengan membawa pikiran seperti itu, cepat-cepat dia menarik nafas panjang dan menghentikan renungannya. Tiba-tiba dia melihat Ceng Lam Hong membalikkan tubuhnya dan berkata kepada orang-orang gagah yang ada di tempat tersebut.

“Wajah saudara-saudara sekalian seakan menyiratkan perasaan kurang senang. Tentu karena aku membiarkan tokoh Lam Hay tadi meninggalkan tempat ini begitu saja.
Sebetulnya, ilmu silat orang itu kalian sudah saksikan sendiri, taraf kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Dalam Lam Hay Bun dia menjabat kedudukan sebagai Bun Bu Cuo-siang. Jabatan itu sangat tinggi, boleh dibilang hanya di bawah Tocunya sendiri. Dia juga merupakan salah satu angkatan tua yang paling setia selama mengepalai empat puluh pulau di daerah Lam Hay. Dia juga merupakan sahabat karib Bengcu lama, yakni Cin Tong. Pertemuan yang kebetulan ini sebetulnya sulit diharapkan. Tetapi aku berani menjamin kepada saudara-saudara sekalian, kelak orang ini pasti akan meninggalkan Lam Hay Bun dan bersahabat dengan pihak Tionggoan kita. Di balik semua ini terkandung sebuah rahasia besar. Untuk sesaat sulit dijelaskan dengan terperinci.
Harap saudara-saudara sudi bersabar sehingga datang saatnya yang tepat serta lihat sendiri buktinya nanti!”

Tiba-tiba seorang laki-laki tua berlengan tunggal menukas dari antara orang-orang gagah.

“Meskipun seandainya suatu hari nanti Cia Tian Lun bisa memihak kepada kita, tetapi memangnya dendam para sahabat yang sekarang sudah menjadi mayat berserakan di atas tanah ini tidak perlu dibalas lagi?”

Ceng Lam Hong mengerti saat ini emosi orang-orang gagah masih meluap-luap.
Meskipun ribuan kata-kata diucapkan, tetaplah sulit membuat mereka paham. Lebih baik menghindari persoalan besar dan membuatnya sekecil mungkin. Oleh karena itu dia segera mengembangkan seulas senyuman yang lembut dan berkata, “Urusan ini akan kita bicarakan lagi perlahan-lahan kelak. Pokoknya suatu hari pasti ada jawaban yang memuaskan hati saudara sekalian, sekaligus dapat memadamkan api kemarahan dalam hati kalian itu.”

Sepasang mata Lok Ing yang mengandung sinar romantis itu berulang kali melirik ke arah Tan Ki. Tampaknya dia seperti mempunyai banyak kata-kata yang ingin dibicarakan, namun sampai saat ini tidak ada kesempatan sama sekali. Hanya sepasang alisnya yang terus mengerut, namun sejak awal hingga akhir, dia tidak mengucapkan sepatah kata-pun. Setelah Ceng Lam Hong menyelesaikan ucapannya, baru dia berkata, “Pek Bo, kita sudah boleh pergi sekarang.”

Ceng Lam Hong menoleh kembali kepada Tan Ki.

“Anak Ki, kau harus berhati-hati. Mulai sekarang kau tidak boleh bertindak sembrono, apalagi sembarangan menempuh bahaya sehingga membuat orang khawatir. Sekaligus kau harus berbaik hati kepada…”

Berkata sampai di sini, perempuan setengah baya itu seakan teringat akan sesuatu hal sehingga ucapannya tidak jadi diteruskan. Sepasang mata Tan Ki melirik sekilas ke arah isterinya kemudian berkata, “Anak akan menurut apapun perkataan ibu, mulai sekarang tidak akan sembrono lagi.”

Baru saja ucapannya selesai, terasa ada segulung angin yang berdesir kencang. Ceng Lam Hong dan Lok Ing sudah meninggalkan tempat itu, gerakan mereka laksana kepulan asap yang tertiup angin, mereka menuju ke arah timur.

Tiba-tiba hati Tan Ki jadi tergerak. Diam-diam dia berpikir: ‘Lok Ing biasa malang melintang di daerah Sai Pak, dia sudah terkenal sebagai gadis yang keras kepala dan selalu tidak pakai aturan. Mengapa tanpa hujan tanpa angin dia mendekati ibu dan bersikap begitu baik terhadapnya? Jangan-jangan di balik semua ini terselip apa-apanya.’

Berpikir sampai di sini, dia jadi termangu-mangu. Untuk sekian lama dia memandangi punggung Lok Ing sampai menghilang di kejauhan. Dia tahu gadis itu bertepuk sebelah tangan dalam mencintainya. Meskipun hatinya mempunyai maksud tertentu, rasanya bukan urusan yang akan merugikan diri ibunya, itulah sebabnya Tan Ki tidak terlalu memusingkan hal itu.

Saat itu rembulan yang tinggal sepenggal itu semakin suram cahayanya, sedangkan di langit Bagian timur mulai tampak secarik garis berwarna keemasan. Mungkin sepenanakan nasi lagi matahari akan terbit secara keseluruhan.

Kurang lebih seratus orang turun tangan membantu memadamkan api yang menyala di gudang darurat penyimpanan ransum. Lambat laun api mulai melemah. Kecuali debu-debu sisa kebakaran yang masih beterbangan, di atas langit masih terlihat gumpalan asap putih. Rasanya keadaan cukup parah dan sulit diperbaiki dalam waktu yang singkat.

Tan Ki mengedarkan pandangannya sambil menyimpan kembali pedang sulingnya. Baru saja dia berniat memberikan bantuan kepada yang lain untuk membereskan mayat-mayat yang berserakan, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara panggilan, “Tan-heng!” yang tidak henti-hentinya berkumandang. Dua sosok bayangan berlari secepat kilat mendatangi.

Begitu pandangan matanya beralih, tampak seorang gemuk dan yang seorang lagi bertubuh kurus menghampiri ke arah mereka. Kedua orang itu adalah Hek Lohan Sam Po Hwesio dan si pengemis cilik Cu Cia. Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di hadapan Tan Ki.

Lengan kiri si pengemis cilik Bulim dibalut dengan kain putih, rembesan darah terlihat jelas. Tampaknya luka si pengemis cilik ini tidak ringan juga. Namun sikapnya yang periang masih kentara jelas. Dia langsung tertawa terbahak-bahak begitu melihat Tan Ki.

“Tan-heng, paman ketigamu Yibun Siu San meminta kau segera datang ke ruang pertemuan!”

Tan Ki jadi tertegun mendengar kata-katanya. “Aku?” Cu Cia tertawa lebar.
“Benar, memang engkau yang dimaksud!”
Sam Po Hwesio mengelus-elus kepalanya yang gundul. Bibirnya tersenyum simpul. “Dalam pertandingan malam ini boleh dibilang pihak kita mengalami kerugian besar-
besaran. Mayat berserakan, seluruh bukit bagai diselimuti hawa kedukaan yang tebal. Untung saja tidak sampai rata menjadi tanah. Sedangkan kau di sini juga memenangkan pertarungan dengan cemerlang. Hal ini sudah tersebar luas di seluruh bukit. Siapapun tahu bahwa tiga jurus ilmu pedang sulingmu berhasil melukai Bun Bu Cuo-siang dari Lam Hay. Meskipun tidak parah, ‘i namun merupakan suatu hal yang patut dibanggakan.
Hwesio cilik ini tidak sampai mati, sejak semula sudah mengambil keputusan untuk minum sampai puas guna merayakan kemenangan Tan-heng!” katanya sambil tertawa tergelak- gelak.

Si pengemis cilik Cu Cia ikut tersenyum simpul.

“Si pengemis cilik sendiri sampai terluka lengan kirinya. Mestinya orang yang terluka harus merasa sedih dan tidur beristirahat. Tetapi asal masih mempunyai sedikit nafas, walaupun orang-orang mengatakan minum arak bisa memperbanyak darah yang mengalir, masa bodoh. Kemenangan Tan-heng yang sedikit tetap merupakan peristiwa yang menggembirakan. Meskipun harus mati, si tukang minta-minta ini tetap ingin minum sampai mabuk.”

Beberapa orang itu bercakap-cakap sambil berjalan. Tanpa terasa sebentar saja mereka sudah sampai di ruang pertemuan. Tampak bayangan orang berjalan mondar-mandir membereskan tempat yang berantakan itu. Mayat-mayat telah dipindahkan, sedangkan bekas darah sudah dibersihkan. Dengan wajah masih tertutup cadar, Yibun Siu San berdiri di Bagian yang tinggi, sedangkan si pengemis sakti Cian Cong duduk di atas kursi besar dengan wajah serius, tangannya yang satu mengangkat hiolo arak tinggi-tinggi dan meneguknya seperti orang yang kehausan. Setelah minum arak dalam jumlah yang banyak, semangatnya malah seperti terbangkit. Di sebelah kanannya duduk Pangcu Ti Ciang Pang, yakni Lok Hong. Wajahnya juga kelam sekali. Sepasang matanya terpejam rapat seperti orang yang sedang beristirahat. Dia seolah tak menyadari sama sekali kehadiran Tan Ki dan yang lainnya. Orangnya sedikitpun tidak bergerak, bahkan matanya tidak terpicing sedikitpun.

Goan Yu Liong dan Yang Jen Ping berdiri di belakang punggung Goan Siang Fei, dua baris Bagian depan duduk berkeliling Kok Hua Hong serta pendekar pedang tingkat delapan lain.

Yibun Siu San menggapai tangannya memberi isyarat agar Tan Ki duduk di tempat yang kosong. Anak muda itu sampai kelabakan dan cepat-cepat menjura dalam-dalam.

“Para Cianpwe sedang duduk berkumpul, mana boleh anak Ki tidak tahu aturan duduk bersama. Biar anak Ki berdiri saja.” katanya.
Tiba-tiba Lok Hong mendongakkan kepa–lanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Matanya yang bersinar tajam menatap Tan Ki sekilas. Kemudian dia tersenyum simpul dengan wajah menyiratkan perasaan kagum. Setelah itu dia memejamkan matanya kembali.

Yibun Siu San tertawa lebar.

“Pertarungan malam ini, membuat kau pantas duduk bersama para Cianpwe ini. Kau juga tidak perlu rendah diri lagi, duduklah. Kalau sampai kau dianggap sombong kan malah tidak baik.”

Tan Ki bimbang sejenak. Baru kemudian dia membungkukkan tubuhnya dengan penuh hormat dan duduk di tempat yang ditunjuk oleh Yibun Siu San. Mei Ling, Ban Jin Bu, Sam Po Hwesio serta si pengemis cilik Cu Cia berdiri berbaris di belakangnya, seakan menjadi pengawal bagi Tan Ki.

Ketika bara duduk saja, pandangan mata Tan Ki sudah mengedar ke orang-orang gagah yang ada di sekelilingnya. Tiba-tiba hatinya jadi tergerak. Diam-diam dia berpikir: ‘Rasanya masih ada beberapa orang yang belum hadir.’

Dengan membawa pikiran seperti itu, dia langsung menanyakannya kepada Yibun Siu San.

“Siok-siok, apakah Ciong San Suang Siu, kedua pengawal Cianpwe, masih menjaga goa di Bagian belakang bukit di mana Tian Bu Cu Locianpwe sedang menutup diri?”

Tampak sinar mata Yibun Siu San mengeluarkan cahaya yang berkilauan. Dia mendengus satu kali.

“Goa di belakang bukit itu letaknya agak terpencil sehingga tidak mudah ditemukan.
Ketika Tian Bu Cu Locianpwe menyatakan hendak menutup diri menurunkan ilmu kepada Liang Fu Yong, orang yang tahu hanya segelintir saja. Entah bagaimana caranya ternyata malah bisa didatangi oleh tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Kecuali Kaucu Pet Kut Kau dan adik seperguruannya Kim Yu. Laki-laki yang satu lagi mengenakan pakaian serba hitam dan tubuhnya kurus seperti tinggal tengkorak saja, tetapi ilmunya sangat tinggi dan rasanya tidak di sebelah bawah Kaucu Pek Kut Kau. Aku sendiri sempat bergebrak dengannya sampai ratusan jurus, tetapi tidak sanggup meraih keuntungan sedikitpun. Malah kadang-kadang aku sampai terdesak mundur oleh kekuatan tenaga dalamnya yang dahsyat serta jurus serangannya yang aneh. Kemudian aku baru mengetahui bahwa orang ini merupakan Bun Bu Yu Siang dari pihak Lam Hay Bun, yakni Tong Ku Lu.”

Tan Ki agak tertegun mendengar keterangannya.

“Ketika Tong Ku Lu menyatroni ruang baca, bukankah dia sudah diusir oleh dua gadis bertopeng? Mengapa dia bisa kembali lagi dan malah menuju ke Bagian belakang bukit di mana Tian Bu Cu Locianpwe menutup diri?”
Sekali lagi Yibun Siu San mengeluarkan suara dengusan berat dari hidungnya. “Kalau Tong Ku Lu sempat datang lebih awal sedikit saja, mana mungkin Ciong San
Suang Siu bisa bertahan lebih dari lima puluh jurus? Untung sebelum aku datang memberi
bantuan, Lok Lo Pangcu sudah sampai terlebih dahulu dan menahan Kaucu Pek Kut Kau. Dengan demikian Tian Bu Cu Locianpwe serta Liang Fu Yong yang menutup diri di dalam goa tidak sampai mengalami peristiwa yang membahayakan.”

Tan Ki seperti teringat akan sesuatu hal, tiba-tiba saja dia bertanya, “Siapa perempuan yang satunya lagi?”

Yibun Siu San menggelengkan kepalanya.

“Tidak tahu. Dia juga sama seperti aku ini, mengenakan cadar untuk menutupi wajahnya. Dengan demikian wajah aslinya jadi tidak kelihatan. Sejak awal hingga akhir dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Namun dari bentuk badannya dapat diduga bahwa perempuan ini usianya masih muda sekali.”

Mulut Tan Ki mengeluarkan suara ‘oh’ yang panjang. Biji matanya mengerling ke sana ke mari. Sepertinya ada suatu hal yang sedang ia pertimbangkan dalam hatinya. Kelima jari tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja di hadapannya. Matanya terpejam dan merenung beberapa saat, tetapi dia tidak bersuara sedikitpun. Telinganya kembali mendengar suara Yibun Siu San yang berbicara dengan perlahan-lahan.

“Meskipun usia gadis ini masih muda, tetapi tampaknya dia justru yang menjadi pimpinan orang-orang ini. Dia yang menurunkan perintah dan juga sangat licik. Ciong San Suang Siu kedua-duanya terluka di tangan gadis ini. La-gipula gadis itu sepertinya memahami sekali seluk beluk daerah di belakang bukit, begitu sampai dia langsung menuju goa di mana Tian Bu Cu Locianpwe sedang menutup diri…”

Kata-kata yang diucapkannya seperti ditujukan kepada Tan Ki, juga merupakan peringatan kepada orang-orang gagah yang hadir di tempat tersebut. Setiap patah kata diucapkannya dengan berat dan lambat sehingga menimbulkan peraaan tidak tenang di hati mereka. Begitu mata dipejamkan, yang terbayang di pelupuk mata justru diri seorang gadis bercadar yang samar-samar seakan berkelebat ke sana ke mari…

Tiba-tiba si pengemis sakti Cian Gong menepuk meja di hadapannya dan tertawa terbahak-bahak.

“Ditilik dari kata-kata si tua Yibun Siu San tadi, tampaknya dia ingin memperingatkan bahwa di antara kita terdapat seorang mata-mata. Kalau tidak, pihak Lam Hay maupun Si Yu tidak mungkin secara kebetulan atau begitu cepat menemukan goa di belakang bukit. Apabila kita renungkan secara seksama, tampaknya serangan Lam Hay dan Si Yu yang Secara mendadak tadi seolah ingin memamerkan kekuatan dan mengacaukan keadaan kita. Tetapi sebetulnya tujuan utama mereka adalah jiwa Tian Bu Cu. Kalau serangan ini sampai berhasil dan si hidung kerbau itu mati di puncak bukit Tok Liong Hong, akibatnya tentu dapat dibayangkan. Sudah pasti mereka akan menggunakan cara yang licik dengan menyebarkan berita di luaran bahwa si hidung kerbau mati karena ulah kita. Dengan demikian, meskipun kita mempunyai seribu lidah ataupun alasan, pihak lima partai besar belum tentu mau mengerti. Akhirnya pasti timbul bentrokan antara pihak kita dengan para partai besar. Kemungkinan malah bisa timbul pertumpahan darah yang hebat. Sedangkan saat itu mereka tinggal berdiri di samping menyaksikan keramaian dan kemudian memungut hasilnya.”

Mendengar kata-kata si pengemis sakti Cian Cong, orang-orang gagah langsung mengeluarkan suara seruan terkejut. Mereka bagai tersentak dari mimpi dan wajah
masing-masing menyiratkan perasaan gusar yang sulit diuraikan dengan kata-kata. Memang dari pihak lima partai besar, kali ini yang memberikan bantuan hanya Tian Bu Cu seorang. Apabila sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri orangtua itu, akibatnya kemarahan pihak lima partai besar pasti terbangkit.

Cian Cong mengangkat hiolo araknya dan meneguk dua tegukan besar. Matanya yang bersinar tajam menyapu ke sekeliling sekilas. Perlahan-lahan dia berkata lagi.

“Sebentar lagi hari sudah pagi, saudara sekalian sudah letih berkutat sepanjang malam.
Untuk sementara persoalan ini tidak usah terlalu dipikirkan. Biar kita selidiki perlahan- lahan, suatu hari nanti urusan ini pasti bisa mendapat penjelasan yang memuaskan dan mata-mata tersebut pasti ketahuan siapa orangnya. Dengan demikian kita bisa membalaskan dendam untuk para sahabat yang gugur hari ini. Setelah sarapan pagi nanti, pemilihan Bulim Bengcu akan dimulai kembali. Sekarang harap saudara-saudara sekalian dapat mempergunakan waktu yang singkat ini untuk beristirahat sebaik-baiknya sehingga dapat hadir dalam pertandingan final nanti.”

Selesai berkata, dia segera berjalan keluar mendahului yang lain. Langkah kakinya ringan sekali, dalam sekejap mata dia sudah menghilang dari pandangan mata. Tamu- tamu yang lainnya mulai bangkit dari tempat duduk masing-masing, dengan berbondong- bondong mereka keluar dari ruangan tersebut.

Dalam waktu yang singkat, di dalam ruangan itu hanya tinggal Yibun Siu San, Lok Hong, Tan Ki dan istri yang baru dinikahinya, Liu Mei Ling, berempat.

Tampak Yibun Siu San memejamkan matanya, mendengarkan dengan seksama.
Setelah yakin orang-orang gagah lainnya sudah keluar dari ruangan tersebut, dia baru berkata dengan nada suara berat, “Anak Ki, kau pernah mengatakan kepadaku bahwa di antara pihak kita telah diselusupi mata-mata dari Lam Hay dan Si Yu. Hal ini membuktikan bahwa sejak semula kau sudah tahu siapa adanya orang ini. Sekarang di dalam ruangan ini hanya tinggal aku dan Lok Locianpwe, beliau bukan orang luar bagi kita, kau boleh mengatakannya terus terang dan tidak perlu ditutupi lagi.”

Mendengar kata-katanya, untuk sesaat Tan Ki tertegun. Kemudian dia menolehkan kepalanya kepada Mei Ling. Tampak sepasang mata istrinya itu juga menyiratkan perasaan ingin tahu yang dalam. Dia sedang menatap Tan Ki lekat-lekat dengan bibir menyunggingkan senyuman, seolah perasaannya langsung menjadi tenteram asal berada dekat suaminya itu. Mungkin apabila ada yang mengatakan gunung Thai San akan roboh, dia juga tidak merasa gentar.

Tan Ki menarik nafas panjang.

“Ling Moay, sebelum aku mengatakan siapa adanya orang ini, aku harap kau menjaga perasaanmu agar jangan sampai terkejut…”

Mei Ling menanggukkan kepalanya sambil tersenyum simpul. Tan Ki berpikir sejenak sebelum berkata, “Orang ini belum lama kukenal…”

Lok Hong tampaknya kurang sabar mendengar ucapan Tan Ki. Wajahnya agak berubah. Dia segera menukas, “Mengapa sih kau ini suka bertele-tele? Bicara nama seseorang saja pakai putar-putar segala. Lohu tidak perduli bagaimana kau bisa mengenal orang ini, asal kau katakan saja secara terus terang siapa orangnya. Coba apakah orang yang kau
sebutkan sama dengan orang yang kucurigai dalam hati? Segala macam tetek bengek lebih baik dihilangkan saja!”

Tan Ki jadi tertegun mendengar kata-katanya yang ketus. Diam-diam dia berpikir di dalam hati: ‘Perasaan hati orangtua ini maunya tergesa-gesa, padahal orang yang ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya seharusnya justru bersabar. Dia malah mendesak orang sedemikian rupa. Hm! Aku, Tan Ki, toh bukan orang yang takut menghadapi urusan apapun.’

Meskipun dia menggerutu dalam hati, di luarnya dia tidak berani menunjukkan perasaan kurang senangnya.

“Kalau Locianpwe berkata begitu, Boanpwe terpaksa mengatakannya secara langsung saja. Orang yang Boanpwe curigai sebagai mata-mata adalah bekas budak keluarga Liu yang bernama Cen Kiau Hun!”

Sepasang alis Lok Hong langsung terjungkit ke atas mendengar keterangannya.

“Lohu pernah mendengar berita bahwa si raja iblis Oey Kang sudah bergabung dengan pihak Lam Hay. Oleh karena itu di dalam hati Lohu selalu menduga bahwa mata-mata yang menyelusup ke pihak kita kali ini pasti putra angkatnya Oey Ku Kiong. Orang ini sangat mencurigakan. Belakangan ini dia malah seakan berpihak kepada kita. Sekarang tiba-tiba kau mengatakan mata-mata itu justru bekas budak keluarga Liu, Kiau Hun. Entah bukti apa yang sudah tergenggam dalam tanganmu sehingga kau berani mengatakan bahwa dialah mata-mata yang dimaksud?”

Tan Ki menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Bukti sih belum ada. Tetapi Boanpwe pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa dia mewakili pihak Lam Hay Bun seorang diri mengadakan pertemuan di sebuah kuil tua. Sedangkan tujuannya saat itu adalah mengadakan perundingan tentang persoalan penting dengan adik seperguruan Kaucu Pek Kut Kau. Sayangnya Locianpwe tadi buru-buru menukas perkataan Boanpwe sehingga banyak kata-kata yang sebetulnya ingin dijelaskan jadi terlupa. Kalau tidak, tanpa perlu Locianpwe menanyakan pun, Boanpwe bisa menerangkan semuanya sampai jelas.”

Mata Lok Hong mendelik lebar-lebar mendengar ucapannya. Tampaknya orangtua itu mulai merasa marah.

“Sepertinya engkau ini memang sengaja ingin mencari gara-gara dengan Lohu?” Tan Ki tertawa lebar.
“Tidak berani, tidak berani! Locianpwe merupakan seorang pimpinan di daerah Sai Pak.
Nama Locianpwe sudah terkenal di mana-mana dan semua orang mengetahui jiwamu yang gagah. Sedangkan Boanpwe hanya seorang Bu Beng Siau-cut, bukan ilmunya saja yang masih rendah, pengetahuan pun cetek sekali. Diri Boanpwe sendiri menyadari bahwa sinar kunang-kunang tidak mungkin lebih terang dari cahaya rembulan. Locianpwe sekali- sekali jangan salah paham terhadap ucapan Boanpwe.”
Mendengar kata-katanya, mata Lok Hong menyorotkan sinar yang tajam menusuk. Tiba-tiba dia menggebrak meja keras-keras, kemudian bangkit dari tempat duduknya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Kata-kata yang kau ucapkan semakin lama semakin kentara bahwa kau memang sengaja mencari perkara dengan Lohu!”

Suara tawanya mengandung keangkuhan yang tidak terkirakan, namun begitu kerasnya sehingga mirip geledek yang bergemuruh, Mei Ling sampai merasa jantungnya bergetar dan cepat-cepat menutup kedua telinganya erat-erat.

Yibun Siu San melihat sikap keduanya secara bergantian. Yang satu matanya menyorotkan sinar dingin seakan ingin melampiaskan penghinaan yang diterimanya selama sebulan belakangan ini, sedangkan rambut si orangtua sampai berjingkrakan ke atas menandakan kemarahan hatinya. Dia juga melihat Lok Hong secara diam-diam telah mengerahkan tenaga dalamnya seperti siap melancarkan serangan. Suasana saat itu terasa pengap dan menegangkan. Cepat-cepat dia membuka mulut membentak Tan Ki.

“Anak Ki tidak boleh kurang ajar. Biar bagaimana Lok Locianpwe merupakan Pangcu dari sebuah perkumpulan besar. Baik nama besar maupun kedudukannya jauh lebih tinggi daripadamu, mana boleh kau sembarangan mengoceh di hadapannya? Malam ini kita mendapat banyak bantuan darinya. Berterima kasih saja belum, kau sudah berani berkata- kata yang tidak enak didengar di hadapanku! Tenaga dalam Lok Locianpwe sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Asal dia turun tangan, jangan harap selembar nyawamu masih dapat dipertahankan. Cepat minta maaf kepada dia orangtua, apakah kau benar- benar sudah tidak menyayangkan jiwamu sendiri?”

Tan Ki malah tersenyum simpul mendengar omelannya.

“Apa yang dikatakan keponakanmu ini setiap patahnya merupakan kata-kata yang sebenarnya, sama sekali bukan ocehan yang tidak benar bukan?”

Begitu kesalnya Lok Hong sehingga dia menggebrak meja di hadapannya keras-keras.
Saat itu juga terdengar suara yang menggelegar, cawan teh di atas meja pecah berhamburan, air teh yang di dalamnya pun muncrat ke mana-mana.

Tan Ki masih tetap tersenyum.

“Locianpwe merupakan seorang pimpinan di daerah tertentu, tidak usah pura-pura marah. Boanpwe hanya ingin mengingatkan sedikit. Seandainya aku sanggup meraih kedudukan Bulim Bengcu, entah janji yang pernah Locianpwe ucapkan masih terhitung atau tidak?”

Wajah Lok Hong merah padam, sepasang matanya bagai mengandung kobaran api yang membara.

“Memangnya kau kira siapa diri Lohu ini? Mana mungkin aku menghilangkan rasa percaya kepada seorang angkatan muda? Tapi kau juga harus ingat baik-baik! Apabila kau tidak sanggup merebut kedudukan Bulim Bengcu, sepasang telapak besi Lohu ini tidak akan melepaskan orang yang mencuri ilmu leluhur kami begitu saja!”

Mendengar kata-katanya, Tan Ki langsung berdiri sambil tertawa panjang.

“Baiklah, kita tentukan demikian saja. Sesudah sarapan nanti, kita bertemu lagi di arena pertandingan!” selesai berkata, dia langsung mengajak Mei Ling meninggalkan tempat pertemuan tersebut. Telinganya menangkap suara dengusan dingin sebanyak dua kali, tetapi dia tidak memperdulikan sama sekali.

Kemungkinan, ketika Tan Ki memejamkan matanya merenung tadi, dia telah mempunyai keyakinan atas dirinya sendiri dalam perebutan kedudukan Bulim Bengcu. Sedangkan barusan tanpa sadar dia seakan telah menyatakan isi hatinya.

Baru saja Tan Ki dan Mei Ling meninggalkan tempat itu, tampak dua sosok bayangan berkelebat masuk ke dalam ruangan pertemuan. Rupanya yang datang adalah Ceng Lam Hong beserta Lok Ing berdua.

Entah apa sebabnya, sikap Lok Ing yang keras kepala dan tidak tahu aturan sama sekali tidak terlihat lagi. Tampak wajahnya yang cantik selalu mengembangkan senyuman yang lembut. Saat itu sambil berjalan dia berkata kepada Ceng Lam Hong, “Pek Bo, kau lihat sendiri sikap Tan Koko kepada kakekku kurang ajar sekali, sungguh menyebalkan.
Tetapi Pek Bo hanya memperhatikan tanpa mengatakan apa-apa. Seharusnya kau orangtua mengajar adat sedikit kepadanya.”

Ceng Lam Hong tersenyum simpul.

“Anak baik, kau tidak perlu khawatir. Pek Bo pasti mengikuti kemauan hatimu, pokoknya sampai hatimu puas. Tetapi sekarang masih belum tepat waktunya, asal kau sabar saja dulu sedikit.”

Ucapannya itu mengandung dua makna, nada suaranya tenang dan terselip sesuatu hal yang lainnya. Wajah Lok Ing jadi merah padam. Cepat-cepat dia menghambur ke belakang Lok Hong.

Begitu pandangan mata dialihkan, tampak mata Yibun Siu San maupun Lok Hong terpejam rapat-rapat. Mereka duduk di atas kursi berbentuk singa dan tidak mengucapkan sepa-tah katapun. Hatinya menjadi berdebar-debar. Entah apa yang terjadi pada diri kedua orang ini.