Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 42

 
Bagian 42

Selesai berkata, Mei Hun tidak menunggu sampai Ciu Hiang menjawab, dia segera mengulurkan tangannya dan membopong bangun tubuh Tan Ki. Tangan kanannya segera mengurut-urut Bagian belakang leher anak muda itu. Setelah peredaran darahnya lancar, kembali dia menepuk perlahan-lahan menepuk Bagian punggungnya.

Terdengar Tan Ki mengeluarkan suara batuk-batuk kecil. Tiba-tiba sepasang matanya membuka. Melihat seBagian dirinya ada dalam pelukan Mei Hun, hatinya merasa heran sekali. Sepasang alisnya mengerut seketika. Dia menatap Mei Hun sambil berkata, “Kalau kau sudah menotok jalan darahku, mengapa sekarang kau malah menyelamatkan aku kembali?”

Tanpa hujan tanpa angin dia mengajukan pertanyaan, saat itu juga wajah Mei Hun jadi merah padam. Sepasang matanya yang besar dan indah mengejap beberapa kali, akhirnya dia dapat juga memberikan jawaban.

“Aku takut jalan darahmu tertotok terlalu lama sehingga dapat mengakibatkan kema- tian.”

Belum lagi suaranya sirap, Ciu Hiang tidak dapat menahan diri lagi, dia langsung tertawa terkekeh-kekeh.

Mei Hun mendongakkan kepalanya dan memandanginya dengan mata mendelik.

“Apa yang kau tertawakan? Memangnya aku tak takut kalau dia mati? Kalau dia benar- benar sampai mati, setelah selesai bersemedi, Cujin pasti akan mengajukan pertanyaan kepadanya. Coba apa yang akan kau katakan waktu itu?”

Tiba-tiba dia menundukkan kepalanya dan melihat tubuh Tan Ki masih berada dalam sandarannya. Kepala Tan Ki tepat menempel pada sepasang payudaranya. Kalau dia tidak melihat masih tidak apa-apa. Begitu melihat, tubuhnya seperti mendadak dialiri arus listrik. Tanpa terasa dia menggigil dan cepat-cepat dia menegakkan tubuh Tan Ki dan berkata dengan suara lirih, “Kau duduk di sini dulu sebentar beristirahat, jangan mempunyai niat untuk kabur. Sebentar lagi majikanku akan mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu.”
Tiba-tiba dari kamar utama terdengar suara gerakan yang halus. Ciu Hiang tahu majikannya sudah selesai bersemedi. Dengan memeluk Liok Giok, dia cepat-cepat berjalan menuju kamar utama tersebut.

Mei Hun melihat dia berjalan menuju kamar utama kemudian masuk ke dalamnya. Di luar hanya tinggal dia bersama Tan Ki berduaan. Entah mengapa, tiba-tiba saja dia mengkhawatirkan keselamatan anak muda itu. Tanpa sadar dia mendekati Tan Ki dan berbisik di samping telinganya.

“Nanti kalau majikanku mengajukan pertanyaan kepadamu, kau harus mengatakan bahwa kau tidak sengaja melukai Liok Giok, dan kau bersedia menerima hukuman. Kalau beliau menyuruh aku atau Ciu Hiang mencambuki dirimu, kau tidak boleh mengerahkan tenaga dalam melawan atau berteriak kesakitan…”
Sepasang alis Tan Ki langsung terjungkit ke atas mendengar kata-katanya. “Kalau dia benar-benar ingin memberi hukuman, aku tentu saja keberatan
menerimanya. Kecuali kalau dia sama seperti engkau, totok dulu jalan darahku sehingga aku tidak berdaya. Bila tidak, Tan Ki bukan manusia yang dapat dihina begitu saja!”

Mei Hun melihat anak muda ini demikian keras kepala, dia jadi semakin panik. Tiba-tiba dari dalam kamar utama terdengar suara teriakan Ciu Hiang, “Cici Mei Hun, cepat bawa orang yang melukai Liok Giok ke sini! Cujin ingin menanyainya sendiri!”

Mendengar suara itu, sekali lagi sepasang alis Tan Ki terjungkit ke atas. Telapak tangannya menekan lantai dan melonjak bangun. Mei Hun tahu watak anak muda ini sangat keras lagi angkuh. Pasti dia sudah ingin mengumbar kemarahannya lagi. Cepat- cepat dia menarik lengan anak muda itu. Dia menggigit bibirnya sendiri perlahan-lahan lalu berkata lagi, “Setelah bertemu dengan majikanku, jangan sembarangan mengumbar adatmu. Akhirnya nanti kau sendiri yang merasakan kesulitannya. Mengertikah kau apa yang kukatakan?”

Suaranya begitu lembut, wajahnya menunjukkan permohonan yang dalam. Matanya yang besar dan bulat memandangi Tan Ki tanpa berkedip sedikitpun. Sinar matanya menyiratkan perhatian yang besar dan kecemasan yang tidak terkirakan.

Tan Ki melihat gadis remaja itu begitu panik melihat keadaan dirinya, akhirnya anak muda itu jadi tidak tega. Dia menganggukkan kepalanya dan mengembangkan seulas senyuman yang manis. Wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kemarahan lagi.

Melihat Tan Ki telah mengabulkan permintaannya, hati Mei Hun gembira sekali.
Wajahnya yang cantik dan berona merah jambu langsung berseri-seri. Dia juga membalas senyuman Tan Ki dengan senyuman yang tidak kalah manisnya. Kemudian dia menarik tangan anak muda itu dan mengajaknya masuk menuju kamar utama.

Begitu tirai berwarna putih disingkapkan, tampaklah sebuah ruangan yang ditata indah dan bersih. Sekali pandang saja membuat perasaan orang menjadi segar dan nyaman.

Seorang gadis berpakaian putih dengan rambut panjang terurai sampai di bahu. Dia berdiri menghadap jendela. Tan Ki hanya dapat melihat bayangan punggungnya saja. Tetapi dia sudah dapat merasakan keanggunan gadis itu. Ciu Hiang yang memeluk Liok Giok “berdiri di samping gadis itu, tetapi wajahnya menghadap Tan Ki.

Mei Hun menarik tangan Tan Ki masuk ke dalam dan berhenti pada jarak kurang lebih lima langkah dari gadis berpakaian putih itu. Dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

“Budak Mei Hun sudah membawa orang yang melukai Liok Giok. Harap Siocia memberikan keputusan.”

Gadis berpakaian putih itu sama sekali tidak menolehkan kepalanya.

“Tinggalkan saja dia di sini. Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku ajukan. Untuk sementara kau dan Ciu Hiang keluar dulu. Kalau aku sudah memanggil, kalian baru boleh masuk lagi.”

Setelah mendengar ucapannya, Mei Hun dan Ciu Hiang menjadi tertegun serentak. Dua pasang mata menatap majikan mereka lekat-lekat. Kemudian pandangan mereka beralih kepada Tan Ki. Namun mereka tidak berani banyak bertanya. Kedua-duanya segera mengiakan kemudian mengundurkan diri.

Di kamar utama sekarang hanya tinggal Tan Ki bersama gadis berpakaian putih tersebut. Tiada satupun di antara mereka yang mengucapkan kata-kata. Untuk sesaat suasana jadi hening mencekam. Hati Tan Ki merasa bingung bukan kepalang. Dia berdiri memandangi bayangan punggung gadis berpakaian putih itu dengan termangu-mangu. Bentuk tubuhnya sungguh indah. Angin musim semi menghembus lewat jendela, mengibarkan pakaiannya yang putih bersih. Penampilannya saat itu persis seorang dewi dari kahyangan yang menanti kedatangan kekasihnya. Hal ini membuat perasaan seseorang menjadi kagum dan menaruh rasa hormat yang dalam.

Terdengar suaranya yang merdu dari bibir gadis itu.

“Murid siapa kau ini? Burung bukan binatang buas yang suka mencelakai manusia, mengapa kau sampai hati menggunakan senjata rahasia melukainya?”

Tan Ki mendengar suaranya begitu bening dan enak didengar, namun kata-kata yang diucapkannya bagai sebilah pisau yang menusuk hati anak muda itu. Diam-diam dia berpikir dalam hati: ‘Gadis ini sungguh sombong!’

Tetapi dia tidak menunjukkan perasaannya dari luar, mulutnya malah menyahut, “Aku bernama Tan Ki. Pernah mendapat pelajaran silat barang beberapa hari dari si pengemis sakti Cian Lociapwe serta dari pamanku yang ketiga. Kesalahan tangan melukai Liok Giok, sebetulnya hanya karena rasa penasaran yang timbul sesaat. Sama sekali bukan kesengajaan. Lagipula aku juga tidak tahu kalau burung itu merupakan peliharaan seseorang.”

Gadis berpakaian putih itu mengeluarkan suara deheman sekali.

“Rupanya kau mengandalkan kebesaran nama si pengemis tua Cian Cong yang besar sehingga banyak lagak dan bertingkah semena-mena. Meskipun burung kakaktua itu bukan manusia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh sehelai bulunya. Cian Cong sendiri juga belum tentu berani mengganggu binatang peliharaanku. Sekarang kau sudah berani melukainya, maka sepatutnya menerima hukuman. Tetapi aku tidak sudi mengatakan apa-apa kepadamu. Aku akan mencari Cian Cong untuk
memperhitungkannya. Biar dia mengganti dengan selembar nyawanya atas kesalahan yang dilakukan oleh muridnya yang tidak becus!”

Sepasang alis Tan Ki langsung menjungkit ke atas. Kemudian dia mengeluarkan suara tawa yang dingin.

“Akulah yang melukai burung itu, apa hubungannya dengan Cian Locianpwe? Aku, Tan Ki bersedia menanggungnya seorang diri. Nona boleh menghukum aku sampai mati sekalipun. Meskipun aku tahu ilmu silatmu tinggi sekali dan kepandaianku yang hanya terdiri dari beberapa jurus ini sudah barang tentu bukan tandinganmu. Namun sudah pasti aku tidak akan menerima kematian begitu saja!”

Gadis berpakaian putih itu mendongakkan kepalanya sedikit dan memperdengarkan suara tawa yang merdu.
“Kalau mendengar nada ucapanmu, tampaknya kau ingin berkelahi denganku?” “Hati Nona mengerti sendiri, aku sama sekali tidak ada niat seperti itu. Tetapi kalau
Nona masih belum bisa menerima juga bahwa aku memang tidak sengaja melukai Liok Giok, Tan Ki bersedia menerima kematian lewat jalan pertarungan!”

Gadis berpakaian putih itu tertawa ringan.

“Bagus sekali! Bukankah kau selalu membawa senjata dalam lengan pakaianmu?
Sekarang coba kau serang dulu aku barang dua jurus. Kalau kau dapat menghantam mati aku dalam satu jurus, tentu tidak ada lagi orang yang mencari kesulitan dengan Cian Cong atau paman ketigamu!”

Kali ini hati Tan Ki benar-benar tergetar. Sejak dia masuk ke dalam kamar utama ini, si gadis berpakaian putih belum sekalipun menolehkan kepalanya, tetapi dia bisa tahu bahwa di dalam lengan bajunya ada sebatang pedang suling. Meskipun hatinya merasa terkejut, tetapi dari luar dia tidak menunjukkan perasaannya, dia malah mengembangkan seulas senyuman.

“Dari getaran lengan bajuku ini, Nona bisa mengetahui ada senjata yang tersembunyi di dalamnya, kekuatan indera pendengaranmu itu benar-benar membuat aku kagum sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Meskipun aku, Tan Ki merupakan orang baru dalam dunia Bulim dan ilmu kepandaian Nona pun jauh melebihi aku, namun aku tidak suka menyerang orang dari belakang. Harap Nona keluarkan senjatamu. Biarpun harus mati, Tan Ki tidak akan penasaran lagi.”

Gadis berpakaian putih itu tetap membelakangi Tan Ki dan memperdengarkan suara tawanya yang merdu.

“Kalau tidak ada keyakinan seratus persen, mana mungkin aku menyuruhmu menyerang dari belakang. Kau tidak perlu khawatir. Coba saja. Asal kau sanggup membuat aku bergeser setengah langkah saja dari tempatku sekarang ini, urusan melukai Liok Giok akan disudahi sampai di sini, sekaligus aku juga akan melepaskan Cian Cong dan paman ketigamu dari segala tanggung jawab!”

Meskipun kata-kata ini diucapkan dengan wajar dan lembut, namun di dalamnya terkandung keangkuhan yang tidak terkirakan. Tan Ki yang mendengarnya sampai merasa
panas. Diam-diam dia berpikir dalam hatinya: ‘Meskipun kepandaianmu tinggi sekali, tetapi kau juga tidak seharusnya bersikap begitu sombong. Seakan tidak memandang sebelah mata kepada orang lain sama sekali. Biar aku coba saja. Aku tahu bagaimana kau menghindar dari gabungan ilmu Tian Si Te-sa yang hebat itu!’

Berpikir sampai di sini, kegagahannya timbul seketika. Dia segera mengeluarkan senjatanya yang berbentuk pedang suling.

“Kalau Nona memang demikian mengalah kepadaku, tentu saja aku harus menurut.
Harap pusatkan perhatian, aku akan mulai menyerang sekarang.”

Lengan kanannya telah mengerahkan tenaga dalam. Tangannya bergerak mengerahkan salah satu jurus Te Sa Jit-sut, yakni Mengibas Pasir di Atas Tanah. Dengan cepat serangannya meluncur ke arah punggung gadis itu. Pada dasarnya ilmu silat Tan Ki sekarang tidak dapat dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya. Dia sudah mendapat kemajuan berkat bimbingan kedua orangtua yang mengasihinya. Dapat dibayangkan sampai di mana kehebatan serangannya itu.

Namun tampaknya si gadis berpakaian putih itu tidak takut sama sekali. Ternyata dia tidak menolehkan kepalanya sekalipun. Sikapnya seperti orang yang tidak menyadari datangnya serangan. Tetapi ketika pedang suling Tan Ki mulai memainkan jurusnya yang hebat, tubuhnya terlihat bergetar sejenak. Tampaknya ilmu Tan Ki yang tinggi sempat membuatnya terkejut juga. Namun hal ini hanya terjadi dalam sekejap mata saja.
Penampilannya kembali tenang, tetapi meskipun waktu yang sangat singkat, Tan Ki sudah sempat melihat rasa terkejutnya.

Justru di saat itulah, pedang sulingnya tinggal dua tiga centi saja dari punggung gadis berpakaian putih itu. Tiba-tiba setitik ingatan melintas di benaknya, seolah mendadak teringat suatu hal. Akhirnya dia tidak sanggup meneruskan serangannya. Dengan panik dia menghimpun hawa murni dalam tubuhnya dan menekan tenaganya pada telapak tangan sehingga tidak terus meluncur ke depan. Dengan demikian serangannya keburu ditarik kembali.

Untung saja ilmu silat Tan Ki sudah cukup tinggi. Serangannya dapat dilancarkan kemudian ditarik kembali sesuka hati. Tetapi meskipun dia masih sempat menarik kembali serangannya, namun tubuhnya yang menerjang ke depan justru sulit ditahan. Akibatnya dia membentur punggung gadis berpakaian putih itu.

Tiba-tiba, serangkum bau harum menerpa hidung Tan Ki. Dia merasa ada segulung tenaga yang lembut menahan tubuhnya yang sedang meluncur ke depan. Begitu dia memperhatikan, entah sejak kapan gadis berpakaian putih itu sudah menolehkan kepalanya. Punggungnya menghadap jendela dan ternyata dia tetap berdiri tegak di tempatnya semula. Hanya setengah badannya saja yang berputar. Tampak gadis itu tersenyum simpul.

“Mengapa di tengah jalan tiba-tiba-kau mengubah keputusanmu, padahal pedangmu kan sedang menyerang ke arah punggungku?”

Setelah melihat wajah si gadis berpakaian putih, hati Tan Ki langsung bergetar. Tampak bulu matanya lentik dan alisnya tebal. Hidungnya mancung dipadu dengan bibir yang mungil. Kecantikannya boleh dibilang seimbang dengan Mei Ling atau Lok Ing, tetapi di balik kecantikannya masih terkandung keanggunan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Sepasang matanya yang besar bersinar terang serta menyiratkan kewibawaan yang besar. Orang yang melihatnya pasti timbul perasaan hormat. Perempuan yang cantik memang banyak. Tetapi kecantikan yang disertai berbagai macam kesempurnaan seperti yang diuraikan. di atas, boleh dibilang dari seribu belum tentu ketemu satu. Tan Ki yang melihatnya sampai termangu-mangu. Akhirnya dia menjadi jengah sendiri dan cepat-cepat menundukkan kepalanya tidak berani melihat lagi.

Melihat Tan Ki tidak menjawab pertanyaannya, sekali lagi gadis berpakaian putih itu tersenyum simpul.

“Mengapa kau tiba-tiba menahan pedangmu dan tidak menyerang terus? Katakanlah!
Apakah kau tidak mendengar jelas apa yang kutanyakan tadi?” katanya lembut.

Tan Ki cepat-cepat menenangkan hatinya. “Dia mendongakkan kepalanya dan menyahut, “Aku tahu kesalahan ada di pihakku, meskipun aku melukai burung peliharaan nona tanpa sengaja. Oleh karena itu, tiba-tiba aku merasa perbuatanku sangat tidak pantas dan tidak berani meneruskan serangan tadi.”

Sepasang mata gadis berpakaian putih yang indah itu menatap Tan Ki lekat-lekat.
Sejenak kemudian tampak senyumannya mulai sirna dan dia memejamkan matanya rapat- rapat kemudian membalikkan tubuhnya kembali menghadap jendela.

“Kalau kau sudah tahu salah, aku juga tidak akan memperpanjang urusan ini.
Mengingat kelakuanmu yang menarik kembali serangan di tengah jalan, urusan Liok Giok kita sudahi saja. Tetapi ada satu hal lain yang harus kau tutup rahasianya. Laki-laki di dalam dunia ini, yang pernah melihat wajah asliku hanya engkau seorang. Kau harus berjanji bahwa kau tidak akan menceritakan apa yang kau lihat dan apa yang kita bicarakan hari ini kepada siapapun!”

“Hati nona sungguh lapang, aku Tan Ki merasa kagum sekali dan sangat berterima kasih. Apa yang nona pesankan, sudah seharusnya aku turuti.”

Sekali lagi si gadis berpakaian putih itu membalikkan tubuhnya perlahan-lahan dan mengembangkan seulas senyuman.

“Kita dapat bertemu, terhitung ada jodoh juga. Tiga bungkus Bubuk Penyelamat -Jiwa Penyambung Tulang ini dapat menghilangkan segala macam racun dan menyambung kembali urat yang sudah terputus, juga dapat menyambung tulang yang retak. Dapat pula digunakan untuk menyembuhkan luka dalam. Aku hadiahkan kepadamu agar kau dapat menggunakannya di saat genting.” selesai berkata, tangannya mengulur ke depan dan diserahkannya tiga bungkus obat itu.

Tan Ki melihat tangannya yang halus dan indah menggenggam tiga bungkus obat, dia segera menyambutnya dan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam sembari mengucapkan terima kasih.

Gadis berpakaian putih itu tampaknya sudah tidak memiliki perkataan apa-apa lagi yang ingin ia sampaikan. Bibirnya bergerak dengan maksud memanggil Mei Ling dan Ciu Hiang. Tiba-tiba Tan Ki teringat kata-kata yang diucapkan oleh Tian Bu Cu. Oleh karena itu dia segera menggunakan kesempatan itu menanyakannya.
“Apakah nona yang bernama Fu Goat Taisu dan berjuluk Ming San Sinni? Tecu benar- benar tidak mempunyai mata, apabila ada kesalahan, harap Locianpwe sudi memaafkan.” Tan Ki menekuk kakinya dengan maksud berlutut menyembah gadis itu.

Tampak gadis itu mengibaskan lengan pakaiannya, segera terasa ada serangkum kekuatan yang lembut menahan diri Tan Ki yang berniat menjatuhkan diri berlutut. Bibirnya tersenyum simpul.

“Sinni adalah guruku yang mulia. Aku adalah murid tunggal beliau.”
Terdengar suara seruan terkejut dari bibir Tan Ki. Diam-diam dia sendiri merasa geli. ‘Mengapa hari ini aku jadi linglung, lihat dari caranya berpakaian saja seharusnya aku
sudah dapat menduga bahwa dia bukan seorang rahib…’

Hatinya berpikir demikian, tanpa terasa bibirnya mengembangkan seulas senyuman. Siapa nyana sepasang mata gadis itu juga sedang memperhatikan dirinya. Kali ini sinar yang tersorot dalam matanya tidak lagi mengandung kemarahan malah menyiratkan perasaannya yang lembut. Dua pasang mata bertemu, mereka sama-sama merasakan hatinya tergetar. Gadis berpakaian putih itu cepat-cepat memalingkan wajahnya, Tan Ki sendiri dengan gugup menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Untuk sesaat suasana di dalam kamar itu jadi hening. Di wajah gadis berpakaian putih yang cantik itu dalam waktu sekejap tersirat berbagai mimik yang berlainan. Kadang- kadang tampak sepasang alisnya mengerut, kadang-kadang pula dia mendongakkan kepalanya merenung. Seakan dia sedang memikirkan suatu masalah yang serius.

Tiba-tiba dia menggertakkan giginya erat-erat. Wajahnya kembali datar seperti semula.
Dengan tegas dia berkata kepada Tan Ki.

“Sekarang juga aku akan menyuruh Mei Hun mengantarkan engkau ke tempat semula.
Tapi kau harus ingat apa yang telah kau janjikan. Jangan sekali-kali kau ceritakan apa yang kau alami hari ini kepada siapapun!” selesai berkata, dia tidak memberi kesempatan bagi Tan Ki untuk menyahut. Segera dipanggilnya Mei Hun dan Ciu Hiang.

Ketika kedua gadis itu masuk kembali ke dalam kamarnya, gadis berpakaian putih itu langsung berkata, “Kau antarkan dia kembali ke tempat semula, setelah itu cepat kembali lagi ke sini. Kita akan segera berangkat kembali ke Ming San!”

Mei Hun tidak berani banyak bertanya. Dia langsung mengiakan dan mengajak Tan Ki keluar dari kamar tersebut.

Ketika berjalan sampai di depan pintu, entah mengapa, Tan Ki tidak dapat menahan perasaan hatinya untuk menoleh menatap gadis berpakaian putih itu sekejap. Sepasang mata si gadis berpakaian putih juga sedang memandang kepadanya lekat-lekat. Kembali kedua pasang mata bertemu, Tan Ki merasa hatinya berdebar-debar. Si gadis berpakaian putih juga memalingkan wajahnya dengan gugup. Meskipun wajahnya menoleh ke arah yang lain, tetapi Tan Ki dapat melihat sorot matanya yang mengesankan seperti orang yang berat ditinggalkan.

Mei Hun mengajak Tan Ki keluar dari kamar dan mengantarkannya kembali ke taman bunga. Tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya dan memandang Mei Hun. Hatinya
ingin sekali mengucapkan terima kasih karena nasehatnya tadi. Tetapi belum sempat dia membuka suara, Mei Hun sudah berkata duluan, “Setelah perpisahan ini, entah kapan kita dapat berjumpa kembali. Mungkin dalam seumur hidup ini, kita tidak mempunyai kesempatan untuk bertemu lagi. Tan Siangkong, harap jaga dirimu baik-baik…”

Berkata sampai di sini, dia tidak meneruskan ucapannya. Meskipun wajahnya mengembangkan senyuman, namun Tan Ki dapat melihat ada semacam kesedihan menjelang perpisahan yang tersirat di mimik wajahnya. Perasaan anak muda ini jadi terharu.

Tadinya dia ingin mengucapkan beberapa patah kata untuk menghibur hati gadis ini, tetapi seribu satu kata bagai tercekat dalam tenggorokannya. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengucapkannya. Sampai sekian lama dia berdiam diri seperti orang yang termangu-mangu. Akhirnya dia mengeluarkan suara batuk kecil dan berkata, “Harap… kau juga… jaga diri baik-baik. Aku… mohon diri sekarang.” perlahan- lahan dia membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari halaman tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara panggilan Mei Hun. “Tan Siangkong…!”
Mendengar panggilan itu, Tan Ki langsung menghentikan langkah kakinya. Dia menolehkan kepalanya dan mengembangkan seulas senyuman.

“Apakah nona masih ada perkataan lain?”

Mei Hun melihat dia tiba-tiba menolehkan kepalanya, untuk sesaat jadi tertegun.
Tampaknya dia tidak menduga kalau mendengar panggilannya, Tan Ki akan menghentikan langkah kakinya seketika dan menolehkan kepala serta mengembangkan seulas senyuman yang lembut. Sebetulnya dia tidak ada perkataan apa-apa. Panggilannya tadi hanya karena luapan emosi sesaat dan dilakukannya tanpa sengaja. Sekarang dia justru kebingungan sendiri. Tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Setelah berdiam diri beberapa saat akhirnya dia mencetuskan kata-kata yang terpikir di benaknya saat itu juga…

“Apabila ada waktu, aku akan mengunjungimu!”

Sesudah kata-kata itu diucapkan, dia baru merasa tersipu-sipu. Rasanya tidak pantas seorang gadis mengucapkan kata-kata seperti itu. Wajahnya jadi merah padam seketika. Seperti seekor kelinci yang ketakutan, dia langsung lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Tan Ki merasa terharu sekali atas sikap gadis itu terhadap dirinya. Dia memandangi bayangan punggung Mei Hun dengan terma-ngu-mangu. Penampilan si gadis berpakaian putih yang begitu anggun laksana bidadari, lembut bagai dewi benar-benar telah meninggalkan kesan yang sangat indah di dalam hatinya.

Entah berapa lama sudah berlalu, tiba-tiba dia mendengar suara Yang Jen Ping yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya.

“Tan-heng, kapan kau kembali? Mengapa kau berdiri termenung seorang diri? Apakah gadis berpakaian putih itu tidak jadi menghukum dirimu?” tanyanya bertubi-tubi.
Tan Ki menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru saja dia ingin menjawab, mendadak dari tempat yang tidak seberapa jauh berkumandang lagi suara tawa seseorang.

“Si pengemis cilik sudah mengatakan bahwa tidak bakal ada kejadian apa-apa, tetapi kalian tetap tidak percaya! Coba lihat! Bukankah dia berdiri di sana dalam keadaan baik- baik saja? Si pengemis cilik kalau disuruh berkelahi memang paling tidak becus, tetapi soal ramal meramal sudah terkenal sampai ke seluruh penjuru dunia!”

Tan Ki tidak sempat lagi menjawab pertanyaan Yang Jen Ping. Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat beberapa orang yang sedang berjalan ke arahnya. Yang paling depan sudah pasti si pengemis cilik Cu Cia. Di belakangnya mengikuti Ban Jin Bu, Goan Yu Liong dan Sam Po Hwesio. Seperti semut yang melihat gula, mereka langsung mengerumuni Tan Ki dan semuanya mengajukan pertanyaan mengenai apa yang dialaminya barusan.

Tan Ki menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.

“Nona yang bernama Mei Hun itu mengajak aku menemui majikannya. Ternyata majikannya itu orang yang penuh pengertian. Dia tidak menjatuhkan hukuman apapun pada diriku. Hanya mengajukan satu dua pertanyaan, kemudian melepaskan aku kembali…”

Kata-kata ini diucapkan dengan nada terpaksa sehingga membuat orang sulit mempercayainya. Seumur hidupnya Tan Ki memang jarang berdusta, apalagi dia juga merasa berat mengelabui beberapa orang sahabat baiknya ini. Tetapi dia sudah berjanji kepada si gadis berpakaian putih untuk merahasiakan apa yang dialaminya, terpaksa dia berkata asal-asalan saja.

Si pengemis cilik mengibas-ngibas rambut-N nya yang memang sudah acak-acakan.
Bibirnya tersenyum simpul.

“Tan-heng, apa yang kau katakan ini benar-benar sulit dipercaya! Apakah cerita lama di taman bunga keluarga Liu terulang kembali?”

Hati Tan Ki langsung tergetar. Wajahnya langsung berubah hebat.

“Cu Hente, mana boleh kau sembarangan menduga yang bukan-bukan? Gadis itu adalah seorang tokoh…” tadinya dia ingin mengatakan bahwa gadis itu adalah seorang tokoh sakti yang mendapat didikan langsung dari Ming San Sinni. Tetapi sampai di tengah jalan, dia teringat kembali akan janjinya. Oleh karena itu dia cepat-cepat menghentikan kata-katanya dan langsung membungkam. Dirinya malah berdiri termenung sekian lama.

Justru di saat dia termangu-mangu seperti itu, mendadak dari kejauhan terdengar suara langkah kaki yang mendatangi. Geng Lam Hong berjalan dengan tergesa-gesa dalam sekejap mata dia sudah tiba di hadapan beberapa orang itu.

“Mengapa kalian masih berdiri di sini santai-santai? Tian Bu Cu Locianpwe dari Bu Tong Pai sudah membawa Cian Locianpwe datang ke mari. Liu Mei Ling dan Liang Fu Yong juga ikut datang!”
Tan Ki mendongakkan kepalanya menatap warna langit. Saat itu belum lagi sampai kentungan kelima, ternyata Tian Bu Cu sudah menepati janjinya menyusul ke mari.
Dengan demikian dia menolehkan kepalanya kepada Cu Cia.

“Gurumu datang ke mari dalam keadaan terluka, entah bagaimana keadaannya. Lebih baik kita cepat-cepat kembali melihatnya!” Tan Ki memang sengaja menghindari pertanyaan mereka yang berbelit-belit. Selesai berkata, dia langsung mengerahkan ginkangnya dan lari ke depan.

Saat ini si pengemis sakti Cian Cong sedang duduk bersandar di atas kursi beristirahat. Begitu si pengemis cilik Cu Cia dan yang lainnya masuk ke dalam kamar, mereka segera dapat melihat wajah orangtua itu yang kekuning-kuningan. Tampangnya kuyu dan kusut. Mereka terkejut sekali melihatnya. Hati si pengemis cilik jadi pilu, dia segera menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah dan memanggil dengan dengan suara parau…

“Suhu…!” air matanya bagai curah hujan yang turun dengan deras membasahi pipinya.

Cian Cong segera membuka sepasang matanya. Dengan sinarnya yang sudah pudar dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kemudian terdengar orangtua itu tertawa terbahak-bahak.

“Dasar orang tidak berguna! Masa di depan sahabat-sahabat baikmu menangis seperti anak kecil. Hei, si pengemis tua ini belum mati! Hayo cepat bangun!” baru berkata sampai di sini, tiba-tiba dia merasa dadanya sakit sekali. Mungkin lukanya kambuh kembali.
Ternyata tokoh paling aneh di dunia ini juga hampir tidak sanggup menahan penderitaan yang demikian hebat. Dia langsung menekap dadanya dan mengatur pernafasan. Sampai kurang lebih sepeminuman teh, baru rasa sakitnya agak berkurang.

Melihat keadaannya, si pengemis cilik tidak berani membantah lagi. Sambil menahan air mata yang masih ingin mengalir, dia langsung berdiri dengan kepala tertunduk.

Cian Cong memejamkan matanya dan beristirahat beberapa saat. Setelah itu baru dia membuka matanya kembali. Dia menunjuk ke arah tosu tua yang duduk di sampingnya.

“Tosu ini merupakan tokoh sakti dari Bu Tong Pai yang bersama-sama si pengemis tua mendapat julukan dua manusia paling aneh di dunia. Kalian sudah tentu pernah mendengar namanya bukan? Memang betul, beliau adalah Tian Bu Cu Locianpwe. Si pengemis tua masih dapat hidup sampai sekarang, semuanya merupakan berkat pertolongan dan rawatannya…” berkata sampai di sini, tiba-tiba dia memejamkan sepasang matanya kembali dan membungkam seribu bahasa.

Si pengemis cilik, Sam Po Hwesio, Yang Jen Ping, Ban Ji Bu dan Goan Yu Liong cepat- cepat maju ke depan dan memberi hormat dengan berlutut di atas tanah. Tian Bu Cu mengibaskan lengan bajunya. Serangkum tenaga yang tidak berwujud langsung terpancar keluar dan menahan tubuh beberapa orang itu sehingga tidak dapat menekuk kakinya lebih jauh.

“Pinto adalah orang gunung yang kasar, tidak biasa menerima segala macam penghormatan. Kalian berdirilah!”

Sementara itu, Tan Ki menuangkan dua cawan teh untuk kedua orangtua itu. Diam- diam dia memasukkan sebungkus Bubuk Penyelamat Jiwa Penyambung Tulang pemberian
si gadis berpakaian putih ke dalam cawan teh Cian Cong. Setelah itu dia menyodorkannya kepada mereka.

Ketika Cian Cong meneguk air teh itu, dia merasa teh yang disediakan oleh Tan Ki harum luar biasa. Tadinya dia mengira bahwa teh itu memang dari jenis daun teh yang baik sehingga warnanya saja yang lebih pekat dari biasanya. Oleh karena itu dia tidak banyak bertanya. Diminumnya teh itu sampai kering. Tetapi biar bagaimanapun orangtua ini merupakan salah satu dari dua tokoh tersakti di dunia jaman itu. Pengalamannya banyak dan pengetahuannya luas sekali. Dia segera merasa ada sesuatu yang tidak beres begitu teh itu diteguknya sampai kering. Dia merasa aliran darah dalam tubuhnya bertambah cepat, serangkum hawa panas mengalir ke seluruh urai nadinya. Kurang lebih setengah kentungan kemudian, perasaannya terasa lebih bersemangat, wajahnya yang tadi pucat kekuning-kuningan sekarang berubah menjadi merah jambu. Saat itu juga, dia merasa terkejut dan rada curiga. Diam-diam dia mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya, sekarang dia bukan saja tidak merasa sakit lagi, tetapi luka dalam tubuhnya juga terasa sembuh seketika. Malah hawa murninya beredar lebih lancar daripada sebelum terluka.

Ketika hari sudah terang dan pelayan penginapan mengantarkan sarapan pagi, mereka segera menyantapnya dengan lahap. Setelah itu Tian Bu Cu kembali memeriksa denyutan urat nadinya. Hati orangtua itu terlonjak seketika. Tiba-tiba dia menemukan bahwa luka dalam yang diderita Cian Cong sudah sembuh sama sekali. Bahkan gejala keracunanpun sudah tidak ada. Dalam keadaan kurang yakin, Tian Bu Cu sampai memeriksanya berkali- kali, tetapi kenyataannya tetap sama. Sama sekali tak ada tanda-tanda seperti orang yang pernah terluka. Bukan saja kesehatan Cian Cong sudah pulih, bahkan kesehatannya lebih baik dari pada sebelum terluka. Bagaimana Tian Bu C u tidak menjadi bingung dan penasaran melihat kenyataan yang aneh ini?

Peristiwa yang tidak terduga-duga ini membuat kedua tokoh sakti tersebut terlongong- ldngong sekian lama dan tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Mereka lalu berusaha menyelidiki apa yang telah terjadi. Saat itu Tan Ki baru menceritakan urusan gadis berpakaian putih yang menghadiahkan tiga bungkus obat kepadanya.

Tian Bu Cu mendengarkan dengan seksama. Wajahnya tampak serius sekali. Setelah Tan Ki selesai bercerita, tampak orangtua itu menarik nafas panjang.

“Sudah hampir empat puluh tahun pinto tidak pernah mendengar kabar dari Ming San Sinni. Tidak disangka dia masih hidup di dunia ini dan mempunyai seorang murid yang demikian sakti. Bubuk Penyelamat Jiwa Penyambung Tulang merupakan obat pusaka bagi dunia persilatan. Kelak entah berapa banyak tokoh Bulim yang akan tertolong nyawanya berkat obat mujarab ini. Anak Ki, kau harus simpan baik-baik dua bungkus sisa Bubuk Penyelamat Jiwa Penyambung Tulang ini. Kelak pasti ada faedahnya dan dapat menolong orang di saat genting.”

Tan Ki mengejap-ngejapkan matanya sambil tersenyum.

“Locianpwe, benarkah obat ini demikian mujarab? Tadi ketika sarapan pagi, diam-diam Boanpwe memasukkan sebungkus ke dalam air teh adik Mei Ling. Boanpwe pikir dia kesalahan minum racun sehingga tubuhnya berpenyakit parah. Mungkin obat ini dapat menawarkan racun yang mengendap dalam tubuhnya. Sekarang hanya sisa satu bungkus lagi.”
Cian Cong menghentakkan kakinya keras-keras ke atas tanah.

“Dasar bodoh! Berbuat apa-apa selalu tanpa pakai pertimbangan! Obat semacam ini, beberapa generasi juga belum tentu dapat menemukannya lagi. Kau malah sembarangan menggunakannya tanpa menanyakan pendapat orang lain. Ilmu pengobatan si hidung kerbau ini sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Racun yang diidap Mei Ling hanya termasuk penyakit kecil baginya, pasti dia dapat menyembuhkannya dengan mudah. Kau malah melihat penyakit ringan sebagai penyakit yang parah, sampai menghabiskan sebungkus Bubuk Penyelamat Jiwa Penyambung Tulang!”

Tian Bu Cu tertawa lebar mendengar gerutuannya.

“Ada sebab ada akibat, segala di dunia ini sudah ditakdirkan oleh Yang Kuasa. Kita manusia hanya mengikuti jalannya saja. Apa yang sudah terjadi tidak perlu disesali lagi. Anak muda ini kan masih pengantin baru, tentu saja hatinya panik mengetahui dalam tubuh isterinya mengendap racun jahat. Dalam hal ini dia juga tidak dapat disalahkan. Sudah pasti dia ingin isterinya lekas sembuh. Satu-satunya jalan sekarang ini hanya berharap agar dia mempergunakan sisa sebungkus Bubuk Penyelamat Jiwa Penyambung Tulang itu dengan baik-baik.”

Beberapa orang itu masih merundingkan berbagai hal lainnya. Perlahan-lahan waktu merayap dan matahari semakin tinggi. Luka yang diderita Cian Cong sudah sembuh secara keseluruhan. Tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk menunda waktu. Sebelas orang itu segera meninggalkan penginapan tersebut dan kembali ke Tok Liong Hong di mana pertandingan untuk memperebutkan Bulim Bengcu masih berlangsung.

Baru beberapa saat mereka meninggalkan Suang Eng Lau, tiba-tiba di angkasa sampai tiga ekor burung merpati pos terbang melintas: kepala mereka. Kecepatannya bagai sambaran kilat, arah merekapun berlainan. Ada yang menuju timur, selatan dan yang terakhir terbang menuju utara.

Tian Bu Cu memperhatikan ketiga ekor burung merpati itu terbang jauh. Dia melihat dengan seksama kecepatan dan arah yang diambil ketiga ekor burung itu. Mendadak suatu ingatan seolah melintas di benaknya. Tampak sepasang alis orangtua itu mengerut- ngerut. Untuk sekian lama dia berdiam diri tanpa mengucapkan sepatah katapun. Cian Cong malah hampir kehabisan rasa sabarnya. Terdengar dia tertawa dingin dan menggumam seorang diri.

“Ternyata golongan sesat dari Lam Hay juga sudah bisa menggunakan merpati pos untuk menyelidiki jejak si pengemis tua…” suaranya semakin lama semakin lirih sehingga kata-katanya yang terakhir tidak terdengar lagi. Orang lainnya sudah tentu tidak mengerti apa maksud ucapannya itu.

Menjelang malam hari, kesebelas orang itu sampai di Tok Liong Hong. Tampak asap mengepul-ngepul memenuhi udara. Di depan pintu gerbang berdiri delapan orang laki-laki bertubuh kekar. Wajah mereka tampak serius.

Bekali. Sekali pandang saja, orang dapat menduga bahwa di atas puncak bukit itu mungkin telah terjadi sesuatu yang gawat. Keadaan yang terlihat sangat tidak wajar dan lain sekali dengan sebelumnya. Suasana di sekitar tempat itu juga terasa tegang mencekam.
Watak Cian Cong paling tidak bisa diam serta ugal-ugalan. Dia langsung merasa sebal melihat keadaan seperti itu. Oleh karena itu, sepasang alisnya segera menjungkit ke atas. Sesaat kemudian dia sudah berlari sekencang-kencangnya ke ruang pertemuan.

Di atas puncak bukit Tok Liong Hong ini memang sudah dibangun berbagai sarana yang diperlukan selama terselenggaranya pertemuan besar tersebut. Liu Seng sudah bekerja keras demi terselenggaranya pertandingan untuk memperebutkan kedudukan Bulim Bengcu ini. Dia mengumpulkan berpuluh-puluh tukang yang ahli dan membangun semua ruangan serta panggung dalam waktu yang singkat. Untung saja dua hari sebelum pertandingan dimulai semuanya sudah beres. Berhubung situasi sedang mendesak, mereka menggunakan strategi yang membangun ruangan-ruangan dengan mengikuti susunan tanah bukit itu sendiri.

Ilmu ginkang Cian Cong sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Tidak berapa lama kemudian dia sudah sampai di depan ruang pertemuan. Begitu menaiki undakan batu di halaman, dia sudah melihat bahwa di dalam ruangan itu telah berkumpul belasan rekannya. Wajah setiap orang tampak kelam dan serius. Tidak ada seorangpun yang berbicara. Masing-masing seolah sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Tampaknya mereka sedang merundingkan masalah yang genting dan belum mendapatkan jalan pemecahannya. Mereka semua bermuram durja dan menunggu dengan sabar. Begitu heningnya ruangan itu sehingga batang jarum jatuh pun mungkin akan terdengar jelas.

Kali ini sepasang alis Cian Cong mengerut semakin erat, tangannya tanpa terasa tergerak mengambil kendi araknya dan sebagaimana biasanya dia langsung meneguk beberapa tegukan besar sehingga terdengar suara: Glek! Glek! Grook! Dari tenggorokannya. Baru saja dia ingin bertanya, Yibun Siu Sari sudah berdiri dan menyongsongnya.

“Pengemis tua, nasib kita memang lagi sial. Baru saja kau meninggalkan tempat ini, aku terpaksa menyelenggarakan pertandingan ini seorang diri. Siapa nyana di malam kedua tiba-tiba terjadi sesuatu. Hampir saja aku tertimpa bencana besar. Dari pihak Lam Hay dan Si Yu menyelinap beberapa orang utusannya yang ingin menyelidiki keadaan di tempat  kita ini.

Hampir sepanjang malam aku dikerjai oleh mereka sampai letihnya tak perlu dikatakan lagi. Boleh dibilang aku bermain petak umpet dengan mereka. Untung juga ada beberapa sahabat yang membantu sehingga tidak sempat terjadi apa-apa yang hebat. Kalau tidak, mungkin terpaksa aku membenturkan kepala di ruangan depan untuk mendapat hukuman mati atas dosa besar. Apabila sampai jatuh korban banyak. Meskipun beberapa sahabat kita merupakan tokoh-tokoh tua yang sudah banyak pengalaman, namun kaum penjahat itu licik sekali. Mereka menimbulkan suara di timur, tetapi menyerang di sebelah barat.
Beberapa bangunan kita sempat dibakar oleh mereka.

Dari pihak mereka yang datang adalah jago-jago yang jarang terlihat di dunia Kangouw. Dalam satu malam saja ada tujuh delapan orang pihak kita yang terluka. Aku justru sedang kebingungan karena kita kekurangan tenaga. Untung saja kau cepat-cepat kembali ke mari. Begini saja, tugas yang berat ini aku kembalikan lagi kepadamu. Malam ini kalau mereka datang lagi, aku pasti harus melawan mereka agar orang-orang jahat itu tidak meremehkan kemampuan kita orang-orang Tionggoan!”

Wajahnya selalu ditutupi sehelai cadar yang tipis. Hal ini membuat orang tidak dapat melihat mimik perasaannya. Sejak berkenalan dengannya, Cian Cong selalu melihat
sikapnya yang tenang dan riang. Belum pernah ditemuinya penampilan seperti sekarang ini yang begitu kesal. Sepasang matanya terus menyorotkan sinar yang berkilauan. Hal ini membuktikan bahwa hawa amarah dalam hatinya benar-benar telah meluap.
Kemungkinan besar beberapa malam yang lalu dia dipermainkan musuh sedemikian rupa sehingga kekesalan dalam hatinya terpendam dalam-dalam dan tidak menemukan suatu hal yang dapat menjadi salurannya. Mendengar perkataan Yibun Siu San, untuk sesaat si pengemis sakti Cian Cong tidak enak hati untuk mengatakan apa-apa. Di saat dia sedang menguras otak bagaimana merundingkan masalah ini dengan baik-baik, Tian Bu Cu melangkah masuk dengan tenang diiringi beberapa orang lainnya.

Pandangan mata Cian Cong beredar ke sekitar ruangan. Cepat-cepat dia memperkenalkan tokoh sakti itu kepada rekan-rekannya yang lain. Dengan demikian, dia sekaligus dapat menghindari desakan Yibun Siu San.

Perlu diketahui, meskipun nama Tian Bu Cu sangat terkenal di dunia Kangouw, tetapi ia, selalu menyendiri dan lebih banyak tinggal di Yang Sim An, Bu Tong San. Meskipun disebut sebagai salah satu dari dua tokoh tersakti di dunia, orang yang pernah melihat orangnya hanya beberapa gelintir saja. Bahkan sampai di mana ketinggian ilmu silatnya, orang-orang dunia Kangouw hanya mendengar dari selentingan di luaran saja.
Kenyataannya sendiri, mereka belum tahu pasti. Dengan demikian para tamu yang hadir di Tok Liong Hong, walaupun tahu di dunia ada tokoh seperti dia, tetapi selama ini hanya dapat membayangkannya saja. Begitu diperkenalkan oleh Cian Cong, Liu Seng beserta Kok Hua Hong, Ciong San Suang Siu, Goan Siang Fei, Heng Sang Si dan tujuh delapan orang lainnya segera mengalihkan pandangan mereka kepada orangtua ini. Mata mereka memperhatikan Tian Bu Cu lekat-lekat dan mulut mereka mengeluarkan suara pujian kagum yang tidak berhenti-henti.

Watak Tian Bu Cu memang selalu merendahkan diri. Dia senang bergaul dengan siapa saja meskipun namanya sudah sangat terkenal. Oleh karena itu dia segera menghampiri setiap tamu yang hadir dan menyalami mereka satu per satu untuk kemudian duduk bersama-sama mereka.

Tan Ki beserta rekan-rekan lainnya yang sebaya berdiri di belakang guru dan angkatan tua masing-masing. Mereka tidak berani langsung duduk bersama para hadirin yang merupakan tokoh-tokoh tua. Tian Bu Cu mengulurkan tangannya mengangkat cawan teh dan dengan lambat menghirupnya beberapa teguk. Bibirnya tersenyum lebar.

“Apa yang diperbuat pihak Lam Hay maupun Si Yu sekarang boleh dibilang sudah terang-terangan. Kemungkinan besar tidak lama lagi akan terjadi bencana besar yang akan mengakibatkan pertumpahan darah besar-besaran. Entah bagaimana rencana saudara-saudara dalam menanggulangi masalah ini?”

Liu Seng segera menjura dan tersenyum.

“Mohon tanya bagaimana pendapat totiang sendiri?”

“Ular tidak bisa tanpa kepala, burung tidak bisa terbang tanpa sayap. Hari ini para sahabat yang hadir di Tok Liong Hong ini, kalau bukan seorang yang ilmunya tinggi, berjiwa bijaksana serta mempunyai kecerdasan melebihi orang lain dan sanggup membuat setiap orang menaruh rasa hormat serta kagum, tentu sulit membuat semuanya tunduk.
Meskipun orang yang hadir di Tok Liong Hong ini jumlahnya banyak sekali, tetapi setiap tokoh ini mempunyai kelebihan masing-masing. Bila dikumpulkan, kemungkinan malah akan timbul masalah baru. Yang paling penting bagi kita orang dunia Kangouw, justru nama besar dan ketenaran serta kemakmuran hidup. Memang tidak semuanya bersikap demikian, namun apabila kita mau mengakui secara jujur, di antara sepuluh orang, mungkin ada sembilan yang lebih mementingkan nama besar daripada hal lainnya di dunia ini. Apabila pihak Lam Hay maupun Si Yu berhasil mengetahui kelemahan kita ini, mereka bisa menggunakan siasat mengadu domba sehingga terjadi pecah perang saudara di antara kita sendiri. Hal inilah yang harus kita cegah pertama-tama!”

Apa yang dikatakan oleh Tian Bu Cu benarbenar bagai jarum tajam yang menusuk hati setiap orang. Sampai-sampai para hadirin saling menatap satu dengan lainnya dan diam- diam, mereka memuji ketelitian pertimbangan tokoh Bu Tong Pai ini.

Tampak Yibun Siu San tertawa kecil.

“Apa yang totiang katakan mengandung makna yang dalam. Baik pengalaman maupun pengetahuan juga membuat orang kagum. Tetapi sampai hari ini, dalam pertandingan yang sudah lalu, telah terpilih tiga belas orang pendekar pedang tingkat delapan dan tiga puluh lima orang pendekar pedang tingkat tujuh. Ilmu mereka semuanya dapat dibilang sudah cukup tinggi. Besok siang kita sudah dapat memilih seorang Bulim Bengcu dari tiga belas orang pendekar pedang tingkat delapan ini.” berkata sampai di sini, ucapannya terhenti, sepasang sinar matanya melirik ke arah Tan Ki sekilas. Beberapa saat kemudian baru dia melanjutkan kembali, “Karena dalam perebutan kedudukan Bulim Bengcu kali ini, kita terbentur berbagai kesulitan. Juga disebabkan waktu yang sangat mendesak, mungkin masih banyak tokoh lain yang tidak keburu datang. Ada juga yang karena halangan lainnya tidak dapat hadi r pada waktu yang tepat. Oleh karena itu, aku dan si pengemis sakti Cian Cong telah merundingkan hal ini baik-baik dan akhirnya mendapatkan suatu keputusan. Kami membuat peraturan baru bagi para sahabat yang tidak keburu sampai pada waktunya atau karena urusan pribadi sehingga pertandingannya tertangguh.

Seandainya orang itu mempunyai syarat yang cukup, maka kami memberinya kesempatan untuk menandingi lawan-lawan lainnya. Umpamanya pendekar pedang  tingkat empat tertangguh dalam pertandingan, dia masih boleh mengikuti pertandingan lain. Apabila secara berturut-turut dia mengalahkan dua lawan dari tingkat yang sama, maka tingkatannya pun akan naik menjadi pendekar pedang tingkat lima. Begitu pula seterusnya. Seandainya dia berhasil mengalahkan lawan-lawan berikutnya sampai mencapai gelar pendekar pedang tingkat kedelapan, maka orang ini boleh memperebutkan kedudukan Bulim Bengcu. Setelah semua orang ini mengikuti lagi ujian kebijaksanaan dalam mengambil ke-putusan serta kecerdasan otaknya, rasanya Bulim Bengcu dapat terpilih dari salah satu orang-orang ini.” 

Terdengar suara mendesah dari mulut Tian Bu Cu, kemudian dia memejamkan matanya merenung beberapa saat. Setelah itu baru dia berkata dengan perlahan-lahan, “Kalau begitu, besok adalah hari terakhir dalam penyelenggaraan Bulim Tayhwe ini.”

Tampaknya hati orangtua ini sedang digelayuti semacam pikiran yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Meskipun mulutnya menggumamkan kata-kata, tetapi sepasang matanya masih terpejam rapat-rapat.

Yibun Siu San menganggukkan kepalanya berkali-kali.
“Betul. Hanya tinggal satu hari lagi. Dalam pengujian kebijaksanaan maupun kecerdasan, cayhe sudah mempunyai sedikit pertimbangan. Apabila ada waktu senggang, cayhe ingin merundingkannya kembali dengan Cian-heng serta Tian Bu Cu Locianpwe.”

Tiba-tiba sepasang mata Tian Bu Cu terbuka lebar. Sinar yang terpancar keluar begitu tajamnya, seperti sengaja juga tidak, dia melirik Liang Fu Yong sekilas. Dalam waktu yang singkat dia seolah telah memutuskan suatu masalah yang besar. Dengan demikian hati- nyapun menjadi lega.

“Baiklah, besok saja kita tentukan!”