Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 37

 
Bagian 37

Perlu diketahui bahwa ilmu silat Tan Ki merupakan hasil curian dari goa makam para leluhur Ti Ciang Pang. Lok Hong adalah Pang-cu Ti Ciang Pang generasi sekarang. Dia sudah berkali-kali melihat gerakan tubuh Tan Ki, sehingga sejak semula sudah terbit rasa curiganya. Tadi ketika dia berhadapan dengan Heng Sang Si, lalu mengejutkan Goan Sian Fei sehingga mengundurkan diri, semuanya menggunakan ilmu pusaka Ti Ciang Pang yang tidak diwariskan kepada orang lain. Mal na mungkin Lok Hong tidak mengenali ilmu perguruannya sendiri?

Begitu rasa curiganya timbul, tanpa menunda waktu lagi dia langsung mencelat ke atas panggung dan segera mendesak Tan Ki dengan berbagai pertanyaan yang menyangkut ilmu silat yang digunakannya tadi.

Tetapi begitu melihat orang ini, hati Tan Ki langsung tercekat. Untuk sesaat dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. Dirinya bagai maling yang kepergok oleh tuan rumah, otomatis kegagahannya hilang dan tubuhnya mengkeret ketakutan. Sepasang matanya membelalak lebar-lebar dan menatap Lok Hong tanpa berkedip sedikitpun.

Wajah Lok Hong saat ini berubah semakin kelam. Jenggotnya yang putih berkibar-kibar dan sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam.

“Lohu sedang bertanya kepadamu, apakah kau tidak mendengarnya? Apakah tiba-tiba telingamu menjadi tuli atau mdlutmu yang jadi bisu? Apakah harus menunggu sampai Lohu memaksa dengan kekerasan baru kau mau menjawab pertanyaan Lohu tadi?”

Tan Ki menggerak-gerakkan bibirnya dengan gugup. “Aku… aku…”
Pikirannya ruwet, hatinya tegang. Mulutnya gagap-gugup sampai sekian lama masih juga tidak dapat memberikan jawaban apa-apa. Dia merasa keningnya basah oleh keringat dingin yang mengucur dengan deras.

Yibun Siu San dan Cian Cong ikut melihat keadaan ini, tanpa sadar keduanya saling lirik sekilas. Wajah mereka menunjukkan perasaan heran yang tidak terkatakan. Tidak di sangka-sangka seseorang yang baru saja menunjukkan keperkasaannya bagai seekor naga sakti tahu-tahu bisa berubah sedemikian rupa sehingga mirip seekor kelinci yang ketakutan. Wajahnya basah oleh keringat dingin. Kedua orangtua ini sampai mengerutkan sepasang alisnya. Bahkan beberapa gadis di bawah panggung yang mengkhawatirkan kekalahan maupun kemenangannya, ikut menjadi tidak tenang melihat penampilannya saat itu.

Tiba-tiba terdengar Lok Hong tertawa panjang. Suaranya begitu keras sehingga menggetarkan seluruh bukit tersebut.

“Lohu akan bertanya satu kali lagi. Dari mana kau mendapatkan seruling yang ada di tanganmu itu?” suaranya berat dan mengandung hawa pembunuhan yang besar. Tidak diragukan lagi kalau orangtua ini benar-benar sudah meluap kemarahannya.

Diam-diam Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat. Akhirnya dia membangkitkan keberaniannya untuk menjawab.

“Baiklah. Kalau kau memang ingin tahu, aku akan mengatakannya. Suling ini pasti membuat kau mengetahui sebuah rahasia besar. Tidak salah, benda ini memang milik Ti Ciang Pang kalian. Seluruh ilmu silat yang Cayhe kuasai juga merupakan hasil curian dari goa makam para leluhur Ti Ciang Pang!”

Dia sadar sekali kalau watak orangtua ini sangat keras dan selalu menganggap dirinya sendiri paling hebat. Setelah mendengar kata-katanya, pasti orangtua itu tidak akan melepaskan dirinya begitu saja. Oleh karena itu, begitu selesai berkata, dia langsung surut mundur satu langkah dan mengerahkan tenaga dalamnya secara diam-diam untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Dia sudah bertekad untuk menggunakan gabungan ilmu Tian Si Sam-sut dan Te Sa Jit-sut untuk berduel mati-matian dengan ketua Ti Ciang Pang ini.

Ternyata dugaannya memang benar. Setelah mendengar kata-katanya, Lok Hong segera mendongakkan kepalanya dan memperdengarkan suara tawa yang mengandung kegusaran. Tiba-tiba tubuhnya mendesak ke depan menghampiri Tan Ki dan dalam waktu yang bersamaan, dia membentak marah, “Kalau ilmu silatmu bisa kau dapatkan dengan mencuri belajar dari goa makam para leluhur kami, Lohu juga dapat menariknya kembali!”

Selesai berkata, secara mendadak dia mengirimkan sebuah totokan!

Serangkum tenaga yang lurus dan tajam langsung terpancar keluar seiring dengan tangannya yang bergerak. Sasarannya tulang di atas bahu Tan Ki. Tempat ini merupakan salah satu Bagian yang paling penting dalam tubuh manusia, karena bersambung dengan tulang penyangga leher. Kalau Bagian ini sampai tertotok, maka urat sekaligus tulang pasti langsung putus, otomatis tanganpun menjadi lumpuh serta leher menjadi kaku, tidak dapat dibenarkan lagi untuk selamanya. Dan orang yang cacat ini jangan harap lagi dapat belajar ilmu silat.
Sementara itu Tan Ki sejak kecil sudah mendalami ilmu totokan, mana mungkin dia tidak tahu bahaya yang satu ini. Tanpa dapat ditahan lagi wajahnya yang tampan jadi berubah hebat. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian mencelat mundur ke belakang.

Lok Hong tertawa dingin.

“Sambut lagi sebuah serangan Lohu ini!” sembari berbicara, dalam waktu yang bersamaan tubuhnya mendesak ke depan satu tindak, lengan bajunya yanr kaku bagai sebilah besi dikibaskan. Timbullah segulungan angin yang kencang.

Serangannya kali ini mengandung tenaga dalam sebanyak delapan Bagian. Deruan angin memecahkan udara dan terdengar bagai badai yang menerpa. Kekuatannya demikian dahsyat, paling tidak mengandung tekanan seberat ribuan kati.
Sepasang alis Tan Ki jadi berkerut melihatnya. Hawa amarah jadi meluap seketika. “Orangtua ini terlalu mendesak orang dan tidak ada sikap mengalah sedikitpun kepada
orang lain. Dia kira aku benar-benar takut kepadanya?”

Sembari berkata, Tan Ki seakan terbangkit semangatnya karena ucapan yang dicetuskannya sendiri. Keberaniannya ikut meluap dan tiba-tiba dia mendongakkan wajahnya lalu memperdengarkan suara siulan yang panjang.
Tubuhnya mencelat ke udara, dengan jurus Awan dan Kabut Ditimpa Cahaya Matahari, dia menukik turun sembari melancarkan sebuah serangan.

Lok Hong melihat tanpa sebab musabab Tan Ki mencelat ke udara, hal ini sebetulnya menyalahi teori ilmu silat karena Bagian tubuhnya yang kosong dapat terlihat jelas sehingga mudah diincar oleh lawan. Tanpa dapat ditahan lagi dia menjadi termangu- mangu sejenak, lalu dia melihat pedang suling di tangan Tan Ki bergerak dengan cepat sehingga menimbulkan titik sinar dingin yang tidak terhitung jumlahnya. Semuanya tercurah turun menyelimuti tubuhnya, persis seperti ratusan pisau kecil yang berubah menjadi cahaya keputihan dan mengurung seluruh tubuhnya, menyerangnya dari atas ke bawah. Tentu saja dia jadi tercekat bukan main. Terasa cahaya pedangnya memijar, titik sinar memercik sehingga membuat mata orang menjadi kabur dan tidak tahu Bagian mana sebetulnya yang menjadi sasaran senjata anak muda itu.

Meskipun Lok Hong termasuk seorang tokoh sakti yang berperangai aneh di dunia persilatan, tetapi dalam waktu yang singkat dia juga tidak tahu bagaimana harus memecahkan jurus serangan Tan Ki yang ajaib ini. Terpaksa dia memiringkan pundaknya dan menggeser ke samping sejauh tiga langkah.

Serangan Tan Ki kali ini masih tetap merupakan salah satu jurus dari ilmu Te Sa Jit-sut.
Pengaruh kekuatannya hebat bukan main. Sayangnya dia belum sempat melatih ilmu ini hingga mencapai titik kesempurnaan, dengan demikian di tengah jalan dia belum bisa mengatur hawa murninya dengan benar dan menggunakan kesempatan yang baik untuk melukai lawannya.

Selesai mengembangkan jurus ini sampai selesai, orangnyapun melayang turun kembali di atas tanah. Padahal kalau orang yang sudah melatih dengan sempurna, gerakannya tidak perlu berhenti. Selesai jurus yang ini, dia tentu dapat menyambungnya lagi dengan jurus selanjutnya yang lebih lihai. Kalau tidak, biar Lok Hong lebih terkenal dan lebih tinggi
lagi ilmu silatnya dari sekarang, tetap saja sulit bagi orangtua itu untuk meloloskan diri dari serangan ilmu pedangnya ini.

Sesudah mencelat mundur, tampak selembar wajah Lok Hong yang serius menyiratkan r perasaannya yang terkejut bukan kepalang tanggung. Sikapnya aneh, menunjukkan ketegangan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Kecuali merasa gentar, hatinya juga merasa heran sekali. Dia merasa jurus ilmu pedang Tan Ki tadi benar-benar ajaib, juga mengandung perubahan yang mengagumkan sehingga hawa pedangnya terasa sekali mendesak ke arah lawan. Bahkan menimbulkan perasaan menggidik dalam hati. Ilmu pedang yang tingkatnya demikian tingggi ini, kalau ditilik dari usia Tan Ki yang masih muda, tampaknya tidak mungkin dia berhasil melatihnya sampai mahir!

Begitu pandangan matanya dialihkan, dia melihat sepasang mata Tan Ki menyorotkan sinar yang tajam. Tangannya menggenggam suling dan berdiri dengan tegak. Sikapnya berwibawa sekali. Hal ini merupakan sikap yang biasa diperlihatkan oleh tokoh persilatan yang sudah mencapai taraf tertinggi dalam ilmu pedang. Tanpa dapat ditahan lagi, hatinya kembali tergetar.

Tiba-tiba dia merasa baik pengalaman maupun ilmu silat anak muda ini sedang melaju ke tingkat yang tidak terkirakan tingginya. Dalam waktu setengah tahun yang singkat, dari seorang pemuda yang tidak dikenal, dia berubah menjadi seorang jago kelas satu di dunia Bulim.

Dua huruf nama Tan Ki membuat setiap orang yang berkecimpung di dunia persilatan tahu siapa orang ini atau paling tidak, sadar adanya orang seperti ini. Apabila menunggu sampai satu atau dua tahun lagi, tentu tidak sulit baginya mengangkat derajatnya sendiri dan kemungkinan besar dianggap sebagai tokoh tersakti dari generasi muda… namun ada juga kemungkinan dia bisa menjadi seorang iblis yang menimbulkan segala kekacauan bagi dunia Kangouw.

Berpikir sampai, di sini. di dalam hati Lok Hong seakan timbul semacam perasaan yang sulit dijelaskan. Semakin membayangkan sampai di mana tingginya ilmu silat anak muda ini, semakin tidak berani dia memandang ringan lawannya. Wajahnya bahkan jauh lebih kelam dari sebelumnya. Sepatah katapun tidak terucap dari bibirnya, dua bola matanya menatap diri Tan Ki lekat-lekat. Waktu terus merayap perlahan-lahan diiringi suasana yang semakin menegangkan. Setiap menit terasa begitu lamban, begitu panjang sehingga membuat perasaan bagai diganduli beban yang berat dan tekanannya begitu keras sehingga untuk bemafaspun rasanya sulit sekali.

Yibun Siu San dan Cian Cong saling lirik sekilas. Hati mereka sama-sama tertekan dan sejak tadi tidak mengucapkan sepatah katapun. Jangan kata berbicara, mereka bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan pada saat seperti ini.

Meskipun Lok Hong adalah seorang Cian-pwe dari dunia Bulim sekaligus Pangcu dari Ti Ciang Pang yang terkenal, tetapi pertemuan besar yang diselenggarakan kali ini merupakan ajang berkumpulnya para tokoh dari berbagai penjuru untuk memperebutkan kedudukan Bulim Bengcu. Asal bukan orang-orang dari lima partai besar, siapapun mempunyai hak untuk naik ke atas panggung mengikuti pertandingan dan memperebutkan kedudukan Bulim Bengcu tersebut.

Itulah sebabnya, meskipun Yibun Siu San dan Cian Cong sangat menyayangi Tan Ki, tetapi mereka tidak mempunyai alasan yang kuat untuk mengusir Lok Hong turun dari
panggung. Akhirnya mereka terpaksa membelalakkan mata lebar-lebar dan mengikuti perkembangan selanjutnya dengan perasaan yang tidak terkirakan tegangnya.

Pada saat ini, Liu Mei Ling, Liang Fu Yong, kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie, berempat yang ada di bawah panggung sudah berkumpul menjadi satu kelompok. Mereka berbicara dengan berbisik-bisik seolah merundingkan sesuatu yang gawat.

Cin Ie yang adatnya paling berangasan dan ketolol-tololan, tanpa berpikir panjang dia langsung mengungkapkan apa yang dirasakannya.

“Apa-apaan ini, seorang Locianpwe dari Bulim begitu tidak tahu malu menghina angkatan muda? Kalau seumpamanya ilmu atau tenaga dalam Tan Koko kurang tinggi dan sampai berhasil dikalahkan, bukankah semua jerih payah ini jadi sia-sia dan menjadi harapan kosong saja?”

Cin Ying menganggukkan kepalanya sedikit.

“Kalau keadaan sampai mendesak sekali, kita boleh naik ke atas panggung…” meskipun gadis ini lebih cerdas dan selalu mempertimbangkan setiap persoalan baik-baik. Tetapi dalam keadaan yang luar biasa dan genting seperti sekarang ini, dia juga kehabisan akal dan pikirannya jadi bingung.

Cin Ie yang mendengar kata-katanya langsung berteriak, “Kalau memang mau naik, sekaranglah saatnya. Kalau menunggu sampai Tan Koko sudah terluka baru kita naik memberikan pertolongan, sama saja menambah berat beban hatinya. Liu Cici, coba kau pertimbangkan, benar tidak kata-kataku ini?”

Hati Mei Ling saat ini demikian tertekannya. Air matanya sudah mulai menggenang di pelupuk mata.

“Aku sendiri tidak tahu bagaimana baiknya…” Sahutnya bingung.

Cin Ie mulai kehabisan sabar, rasanya dia sudah ingin mencelat naik ke atas panggung. Untung saja mata Cin Ying sangat awas dan gerakannya cepat. Dengan gugup dia menarik tangan adiknya dan mencegah tindakan gadis itu. Kemudian dia berkata dengan suara lirih.

“Kalau ditilik dari keadaan saat ini, justru merupakan saat genting untuk menentukan kekalahan atau kemenangan. Kalau Tan Ki belum menunjukkan tanda-tanda di bawah angin, lebih baik kita jangan turun tangan. Jangan sampai karena emosi sesaat akhirnya malah merusak urusan besar!”

Ketika dia berbicara itulah, tiba-tiba dia melihat wajah Liang Fu Yong cengar-cengir seperti tersenyum seorang diri. Dia berdiri dengan termangu-mangu. Tampaknya dia merasa yakin sekali atas kemampuan Tan Ki dalam menghadapi pertandingan ini.. Seakan hatinya juga telah mempunyai siasat tertentu sehingga tampangnya tidak menunjukkan rasa gentar sama sekali. Bahkan pembicaraan mereka sejak tadi, tampaknya tidak didengarkan sama sekadi oleh perempuan itu. Perhat tiannya terpusat secara keseluruhan ke atas panggung.
Cin Ying sendiri jadi terpana melihatnya. Diam-diam dia berpikir di dalam hati: ‘Perempuan ini juga termasuk gundik Tan Siangkong. Tetapi isi hatinya demikian tertutup rapat sehingga membuat orang sulit menduga apa yang dipikirkannya…’

Ketika pikirannya masih bergerak, tiba-tiba telinganya menangkap suara siulan yang panjang. Cepat-cepat dia mendongakkan wajahnya memperhatikan atas panggung. Entah sejak kapan, Tan Ki sudah mulai melancarkan serangan lagi mendesak Pangcu Ti Ciang Pang tersebut.

Tampak dia mengangkat pedang sulingnya ke atas dengan gerakan lamban, kemudian tahu-tahu sudah dikibaskan ke depan. Jurus yang digunakannya kali ini adalah Kabut Putih Menyelimuti Pasir. Gerakannya demikian anggun sehingga suasana yang ditimbulkannya bagai pangeran yang siap menerima mahkota kerajaan, sikapnya berwibawa sehingga orang yang melihatnya langsung menaruh rasa hormat yang tinggi dan merupakan lawan yang tidak dapat dipandang ringan!

Wajah Lok Hong perlahan-lahan mulai berubah. Dia menarik nafas satu kali, lalu dengan cepat dia menyurut ke kiri satu langkah. Biar bagaimanapun, orangtua ini merupakan salah satu tokoh aneh berilmu tinggi di dunia Bulim. Ketinggian ilmu silatnya dapat dikatakan hanya di bawah satu orang tetapi di atas laksaan orang. Tetapi sejak awal hingga akhir dia tidak berani menyambut serangan Tan Ki dengan kekerasan. Berkali-kali dia hanya mengelak ke sana ke mari untuk menghindarkan diri dari serangannya. Para hadirin yang menyaksikan hal itu, benar-benar dibuat tidak mengerti oleh sikapnya.

Perlu diketahui bahwa dalam pelajaran ilmu silat, ilmu pedang merupakan satu-satunya yang paling sulit mencapai taraf tertinggi. Kalau seseorang sudah dapat mencapai taraf kesempurnaan, asal mengempos sedikit hawa murninya saja, dari jauh seseorang dapat menghadapi lawannya dengan sebatang pedang. Pengaruh kekuatannya bisa mencapai sepuluhan depa. Pada saat itu, tidak ada lagi serangannya yang meleset dan dapat
.membunuh orang semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan orang yang tenaga dalamnya kuat sekali, dapat melancarkan serangan tanpa wujud dan dapat menikam lawannya dengan hawa pedangnya yang tajam saja. Para hadirin yang berkumpul di Tok Liong-hong hari ini merupakan tokoh-tokoh persilatan dari segala penjuru dunia. Tetapi mereka tidak dapat melihat bahwa yang digunakan Tan Ki adalah hawa pedang yang tidak berwujud, sehingga Lok Hong terdesak mundur dan tidak berani menyambut serangannya dengan kekerasan. 

Bahkan Lok Ing yang di bawah panggung juga menyaksikan keadaan ini sampai bingung. Hatinya merasa cemas dan panik. Tiba-tiba tampak Tan Ki menarik kembali jurus serangannya lalu menyurut mundur sejauh empat langkah. Bibirnya mengembangkan senyuman yang lembut.

“Harap Locianpwe berhenti dulu dan dengarkan beberapa patah kataku ini. Setelah itu, apabila Locianpwe masih ingin melanjutkan pertandingan ini, terserah…”

Lok Hong perlahan-lahan menarik nafas panjang. Ucapan yang tercetus dari mulutnya malah bukan jawaban atas perkataan Tan Ki.

“Dalam pertandingan kali ini, Lohu baru benar-benar melihat jelas bahwa ilmu silat maupun tenaga dalam yang kau miliki sungguh-sungguh…”
Tiba-tiba dia teringat bahwa meskipun dirinya belum kalah, tetapi ternyata dia tidak berani menyambut serangan Tan Ki dengan kekerasan, tanpa dapat ditahan lagi wajahnya jadi merah padam dan kata-katanya pun tidak jadi diteruskan.

Tan Ki tersenyum simpul. Dengan tenang dia berkata, “Locianpwe jangan terlalu merendahkan diri sendiri. Beberapa jurus serangan tadi, sebetulnya Boanpwe sudah mengerahkan segenap kemampuan, namun tetap saja sulit menyentuh ujung pakaian Locianpwe. Jadi… meskipun tampaknya Boanpwe seperti meraih kemenangan tetapi kenyataan yang sebenarnya justru Boanpwe yang kalah…”

Mendengar ucapannya Lok Hong langsung tertawa terbahak-bahak.

“Di sindir sedemikian rupa olehmu, Lohu seperti orang yang berjiwa sempit. Ada masalah apa, silahkan ungkapkan saja, Lohu ingin mendengar apa yang akan kau utarakan!”

“Locianpwe merupakan seorang pendekar besar yang mempunyai wilayah kekuasaan tersendiri, juga mempunyai murid anggota yang tidak terhitung jumlahnya. Selama berpuluh-puluh tahun perkumpulan Locianpwe bagai sebatang pohon yang kokoh dan tidak goyah meskipun dihantam oleh gelombang badai yang bagaimanapun dahsyatnya. Selama ini Boanpwe percaya Locianpwe menjalani hidup yang menyenangkan apalagi dengan ketenaran nama yang menimbulkan rasa iri. Setelah kejadian tadi malam, mungkin Locianpwe ikut maklum bahwa keadaan dunia Kang-ouw sekarang ini telah diterpa oleh berbagai kekacauan. Golongan sesat dari luar samudera seperti Lam Hay dan Si Yu, mereka sedang menghimpun kekuatan untuk menyerbu daerah Tiong-goan. Entah kapan, mereka pasti akan menimbulkan pertumpahan darah yang besar-besaran di kampung halaman kita ini. Namun seperti apa yang sering dikatakan oleh kaum cerdik pandai, kemakmuran ataupun keruntuhan sebuah negara, rakyat ikut bertanggung jawab. Lahir sebagai orang Bulim di daerah Tionggoan, sudah seharusnya ikut memikul beban yang berat ini. Kita harus bersatu untuk menentang semua kekuatan dari luar yang tujuannya merugikan kita. Pertemuan besar yang diselenggarakan kali ini, tujuannya justru pada pokok yang sama. Dengan harapan seluruh orang-orang gagah di daerah Tiong-goan dapat menggabungkan diri dan merundingkan bagaimana caranya menanggulangi masalah besar ini. Seandainya mengandalkan nama besar maupun kedudukan Locianpwe sekarang ini, tentu tidak sulit membangkitkan semangat para orang gagah untuk bergabung dengan Bengcu yang terpilih nanti untuk menghadapi kemelut besar yang akan melanda. Hal ini dilakukan demi kesejahteraan dunia Bulim sekaligus menghindari jatuhnya banyak korban dari rakyat jelata yang tidak berdosa apa-apa. Bila Locianpwe dapat mengabulkan permintaan ini, bukan hanya aku Tan Ki seorang saja yang merasa berterima kasih sekali, tetapi baik golongan hitam maupun putih dari daerah Tionggoan ini pasti akan mengelu-elukan perbuatan Locianpwe yang mulia ini…”

Tan Ki menguraikan pendapatnya dengan panjang lebar. Nada suaranya demikian tegas dan penuh kegagahan. Lok Hong yang mendengarkan agak tergugah juga perasannya.
Tetapi wajahnya masih tampak kelam dan sengaja memperlihatkan tampang yang kurang senang.

“Kalau Lohu mengabulkan permintaanmu, berarti dalam waktu yang singkat tidak mungkin dapat kembali ke wilayah Sai Pak. Dengan demikian, bukankah berarti Ti Ciang Pang yang sudah didirikan sejak ratusan tahun akan hancur tidak terurus akibat ulahku? Persoalan ini apabila didengarkan memang sederhana, tetapi kalau dipikirkan baik-baik malah merupakan pengorbanan yang besar dan tanggung jawab yang berat. Meskipun
hati Lohu ingin sekali menanggung tugas yang mulia ini, agar dunia Bulim kita dapat tenteram seperti sedia kala. Tetapi Lohu juga tidak ingin menjadi orang yang paling berdosa dalam perguruan dengan menelantarkan ribuan murid Ti Ciang Pang.”

Tan Ki menundukkan kepalanya merenung sejenak.

“Lalu apa kira-kira syarat Locianpwe agar mau memenuhi permintaan Boanpwe ini?” Sekali lagi Lok Hong tertawa terbahak-bahak.
“Syarat tentu saja ada, tetapi takutnya kau tidak sanggup memenuhi dengan baik!”

Mata Tan Ki mengerling sekilas. Tanpa kebimbangan sedikitpun dia berkata, “Demi kesejahteraan dunia Bulim kita di masa yang akan datang, asal Locianpwe bersedia memberikan janjinya, biarpun syarat yang bagaimana sulitnya, Boanpwe rela mencoba melaksanakannya sebaik mungkin,”

“Kalau kau berhasil memperebutkan kedudukan Bulim Bengcu, Lohu pasti akan membantumu sekuat tenaga, bahkan membubarkan Ti Ciang Pang dan khusus menangani masalah ini!” selesai berkata, tubuhnya langsung mencelat di udara kemudian berjungkir balik satu kali lalu melayang turun di antara para hadirin.

Mendengar kata-katanya, mula-mula Tan Ki agak tertegun. Tetapi sesaat kemudian dia tersentak sadar. Baru saja dia ingin menyampaikan rasa terima kasihnya, tiba-tiba pandangan matanya jadi kabur. Lok Hong sudah mencelat turun ke bawah panggung dan menghilang di antara kerumunan orang banyak. Untuk sesaat hatinya seperti merasa kehilangan. Dia menarik nafas panjang, namun bibirnya masih mengembangkan senyuman yang lembut. Dia berdiri dengan dada membusung dan mengedarkan pandangannya ke arah para hadirin yang ada di bawah panggung.

Yibun Siu San juga langsung berdiri, matanya menyapu sekilas ke arah para hadirin, kemudian berkata dengan suara lantang, “Pertandingan ini belum selesai. Sebagai dewan juri, kami memutuskan bahwa babak kali ini kedudukannya seri!” selesai berkata, perlahan-lahan dia duduk kembali.

Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan yang riuh seakan memuji keputusan juri yang adil di mana babak sebelumnya ditentukan seri. Juga sekaligus memuji kehebatan Tan Ki yang telah menjalankan lima pertandingan berturut-turut dengan kedudukan empat menang, satu seri.

Belum lagi suara tepukan tangan sirap, dari kerumunan orang banyak tiba-tiba mencelat sesosok bayangan ke atas panggung. Gerakannya demikian ringan dan cepat laksana sehelai bulu angsa yang tertiup angin.

Mata Tan Ki memperhatikan orang yang baru muncul itu, saat itu juga dia jadi tertegun. “Apakah Oey-heng juga ingin ikut bertanding?”
Oey Ku Kiong tertawa sumbang. “Anggap saja benar.” sahutnya ragu.
Tan Ki langsung menarik nafas panjang.

“Kali ini, Tok Liong-hong dipenuhi oleh “orang dari berbagai kalangan. Biar siapapun, asal memiliki sedikit kepandaian, tentu boleh naik ke atas panggung mengikuti ajang perebutan ini. Tetapi, Oey-heng pernah menyelamatkan nyawaku berkali-kali. Perasaan hati ini sulit sekali diuraikan dengan kata-kata. Oey-heng mempunyai hati yang besar dan mulia. Siaute maklum sekali akan hal ini. Karena kau sudah naik ke atas panggung ini, tetapi Siaute merasa enggan bergebrak denganmu. Oleh karena itu, Siaute lebih baik mengundurkan diri saja…” dia menjura dengan tubuh membungkuk rendah-rendah, setelah itu berbalik untuk melangkah pergi.

Melihat keadaan ini, Yibun Siu San dan Cian Cong langsung mengerutkan sepasang alis mereka. Yibun Siu San malah mengeluarkan suara batuk berkali-kali, sebagai tanda bahwa hatinya panik bukan main.

Bahkan si gadis ketolol-tololan Cin Ie juga menjadi heran melihat keadaan ini, dia terus memaki Tan Ki sebagai orang bodoh!

Mungkin dari ratusan bahkan ribuan hadirin yang ada di tempat itu, hanya ada satu orang yang merasa senang melihat sikap Tan Ki ini. Siapa lagi kalau bukan selir yang baru diangkat oleh Tocu Bu Sin To di Lam Hay, atau bekas budak keluarga Liu, Kiau Hun?

Tiba-tiba sepasang alisnya mengerut erat seakan melihat sesuatu hal yang membuat hatinya menjadi tidak senang. Bahkan terdengar suara dengusan dingin dari hidungnya.

Rupanya saat ini Oey Ku Kiong sudah mengeluarkan pedang pusakanya dan direntangkannya ke samping menghadang jalan perginya Tan Ki. Bibirnya masih tetap tersenyum simpul.

“Tan-heng, harap tunggu dulu. Biar Siaute menjelaskan dulu semuanya baru kau mempertimbangkan kembali, bagaimana?”

Tan Ki tertawa datar.

“Keputusanku sudah bulat. Biar apapun yang akan dikatakan oleh Oey-heng, tetap saja sulit merubah pendirianku…”

“Pertemuan besar di Tok Liong-hong ini tadinya diselenggarakan untuk menghadapi ayah angkatku. Tetapi kalau ditilik dari keadaan sekarang, malah melenceng dari tujuannya semula. Justru merupakan persiapan untuk menghadapi Lam Hay dan Si Yu yang akan menggabungkan diri. Dengan usia yang masih demikian muda belia dan ilmu silat yang menakjubkan, Tan Heng berhasil melakukan pertandingan selama lima kali, bahkan empat di antaranya mencapai kemenangan yang gemilang. Hal ini benar-benar membuat para sahabat menjadi tergetar dan terkesiap. Mereka mempunyai pandangan sendiri-sendiri. Ambil saja sebuah contoh, justru karena Lok Locianpwe juga menyimpan perasaan kagum di dalam hatinya, maka rela mengucapkan janji akan memberikan bantuan apabila kau berhasil memperebutkan kedudukan Bulim Bengcu ini. Kalau pada saat seperti ini, tiba-tiba Tan Heng mengundurkan diri dari pertandingan, menurut pendapat Siaute yang rendah, dengan kegagahan hati Tan Heng, tentu tidak sanggup menerima cemoohan dari dua golongan baik putih maupun hitam. Aku sendiri merasa tidak punya muka lagi untuk tampil di depan umum. Orang-orang akan menuduhku menekan Tan Heng dengan budi yang pernah ditanamkan…” perlahan-lahan dia menarik
nafas panjang. “Kalau dengan cara demikian, meskipun aku bisa merebut kedudukan Bulim Bengcu, tetapi hati ini tetap penasaran. Maksud Tan Heng yang baik, akhirnya malah mencelakakan diriku…”

Mendengar kata-katanya, mata Tan Ki mengerling sekilas. Sesaat kemudian tampak dia menarik nafas panjang, kemudian menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sepasang alis Oey Ku Kiong terjungkit ke atas melihatnya.

“Seandainya Tan Heng terus mempertahankan kekerasan hati dan tidak mau bertanding dengan Siaute, maka jangan salahkan kalau Siaute menggunakan cara paksaan!”

Dia menarik nafas panjang-panjang, lalu mengerahkan tenaga dalamnya ke arah lengan dan pedangnya bergerak menimbulkan segurat cahaya pelangi serta secara mendadak melayang ke atas.

Tan Ki melihat kerahan tenaga dalamnya pada pedang menimbulkan angin yang kencang. Tampaknya anak muda itu tidak main-main lagi. Cepat-cepat dia memutar tubuhnya dan berkelebat ke sebelah kiri.

Oey Ku Kiong terus mendesak maju. Mulutnya mengeluarkan suara bentakan yang keras. Sret! Sret! Sret! Tiga tusukkan dilancarkannya secara berturut-turut. Tampak cahaya berkilauan memijar ke mana-mana. Hawa pedang yang dingin bergulung-gulung mengiringi serangannya yang gencar.

Dalam keadaan seperti ini, mau tidak mau Tan Ki harus memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Diam-diam dia menghimpun hawa murninya dan pedang sulingnyapun terulur ke depan.

Terdengarlah suara bentrokan antara logam dengan batu kumala. Bahkan di sekitar tubuh kedua orang itu timbul titik sinar yang berkilauan bagai percikan api. Ketika Tan Ki menggerakkan pedang sulingnya, dia segera membalas sebuah serangan yang tidak kalah dahsyatnya sehingga serangan pedang Oey Ku Kiong berhasil dipecahkannya dengan mudah.

Oey Ku Kiong membentak dengan suara lantang.

“Benar-benar Kiam-hoat yang bagus!” ucapannya sirap, pedang dihunus. Dengan jurus Merak Emas Mengembangkan Sayap, dia mengibas ke arah jalan darah di pinggang Tan Ki.

Wajah Tan Ki agak berubah, sikapnya kembali pulih sebagaimana biasa dia menghadapi lawan tangguh. Tubuhnya bergeser lalu memutar. Dia menghindarkan diri dari serangan Oey Ku Kiong. Terasa hawa pedang memenuhi sekitarnya, kemudian melesat lewat di sampingnya. Kalau terlambat sedetik saja, atau gerakan mundurnya terlalu cepat sehingga memberi kesempatan kepada Oey Ku Kiong, dapat dipastikan bahwa di atas panggung itu akan terjadi pertumpahan darah. Ini benar-benar yang dinamakan pertarungan antara jago-jago kelas satu, mati atau hidup dapat ditentukan dalam sedetik saja.
Meskipun kedua orang itu belum pernah sungguh-sungguh mengukur kepandaian lawannya masing-masing, tetapi di dalam hati mereka sudah mempunyai penilaian tersendiri. Siapapun tidak berani memandang ringan lawannya. Tiba-tiba terlihat Oey Ku Kiong menggetarkan pergelangan tangannya, pedangnya ditudingkan ke bawah dan dengan jurus Mencabut Akar Pohon Tua, dengan gencar serangannya meluncur ke depan.

Tubuh Tan Ki bagai seekor ikan yang meloncat di dalam air berjungkir balik ke belakang sejauh tiga depa. Tetapi justru ketika tubuhnya mencelat ke belakang itulah, ilmu pedangnya tiba-tiba berubah. Begitu cepatnya gerakan pedangnya bagai curahan hujan deras, sehingga menimbulkan butir-butir seperti mutiara yang berkilauan. Segulung demi segulung berubah menjadi cahaya putih serta
mengandung kekuatan bagai ombak yang menghempas batu karang langsung menerjang ke arah lawannya.

Pertarungan kali ini bagai duel mati hidup antara dua orang musuh besar yang ingin membalaskan dendamnya. Keduanya sama-sama mengerahkan ilmu kepandaiannya yang paling hebat. Apabila menghindarkan diri, tubuh mereka mencelat sampai jauh sekali, tetapi apabila melakukan serangan, begitu dekatnya sehingga hampir merapat. Di atas panggung seakan terlihat pedang dan suling yang saling beterbangan. Suara gerungan maupun raungan terus terdengar. Begitu sengitnya pertandingan babak ini sehingga bayangan tubuh kedua orang itu sulit dibedakan. Yang tampak hanya dua gulungan cahaya putih yang berkilauan berdempetan menjadi satu, kemudian berkelebatan di atas panggung. Begitu hebat pertempuran kali ini. Angin yang terpancar keluar dan hawa pedang sampai menggetarkan pakaian Liu Seng beserta rombongannya yang bertindak sebagai regu pengaman sehingga berkibar-kibar bagai dihempas badai. Kain layar yang dijadikan alas lantai juga terus bergelombang mengiringi jalannya pertandingan. Kadang- kadang bahkan menimbulkan suara menderu-deru bagai angin topan yang melanda.
Sejumlah hadirin yang ada di bawah panggung sampai basah tangannya oleh keringat dingin. Mata mereka menatap atas panggung dengan terkesima, malah mungkin lupa di mana mereka berada

dan siapa diri mereka sebenarnya.

Hitung-hitung memang budi pekerti Tan Ki memang lebih tebal. Dia tidak mengerahkan Tian Si Sam-sut dan Te Sa Jit-sut yang mempunyai kekuatan maha dahsyat. Kalau tidak, kemungkinan besar Oey Ku Kiong tidak dapat menahan diri dari lima kali serangannya.
Saat ini tampak ilmu kepandaian keduanya hampir seimbang. Tentu saja Tan Ki tidak menggunakan Kiam-hoatnya yang paling hebat. Hal ini pasti karena dia mengingat budi yang pernah ditanam Oey Ku Kiong kepada dirinya. Justru dengan demikian kedudukan keduanya jadi sama kuat. Untuk sesaat pasti sulit menentukan siapa yang akan kalah dan siapa yang akan meraih kemenangan. Setelah bertanding sengit sebanyak empat puluhan jurus tampak jarak lima langkah dari tubuh kedua, orang itu dipenuhi oleh cahaya pedang bayangan suling. Percikannya bagai bunga api dan semakin bertarung semakin cepat.

Secara berturut-turut Oey Ku Kiong telah merubah gerakannya dengan ilmu pedang dari Pat Sian-kiam, Si Bun-kiam Serta yang lain-lainnya sebanyak tujuh macam. Tetapi semuanya dapat dipecahkan oleh pedang pendek yang terselip di dalam suling di tangan Tan Ki.

Biar bagaimana pun gencarnya serangan pendekar berpakaian putih itu, juga biar bagaimana kejinya, tetap saja Tan Ki melayaninya dengan tenang. Dia tidak tampak gugup atau panik sama sekali. Tetapi Tan Ki sendiri juga sudah mengerahkan berbagai
macam ilmu yang didapatkannya dari goa makam Ti Ciang Pang, pokoknya dari sederhana sampai yang hebat sekali, namun dia juga belum dapat membuat Oey Ku Kiong kewalahan sampai menemui jalan buntu.

Dengan cara seperti ini, kembali lima puluh jurusan telah berlalu. Makin bertarung makin sengit. Jurus-jurus yang membahayakan serta keji dikerahkan satu per satu, seperti orang yang tidak memperdulikan mati hidupnya sendiri. Baik wajah Oey Ku Kiong maupun Tan Ki telah membasah karena dipenuhi keringat yang terus bercucuran. Nafas keduanyapun tersengal-sengal.

Tampak dada kedua orang itu terus naik turun bagai gelombang air, dalam waktu yang bersamaan keduanya menghembuskan nafas yang berat. Bahkan Yibun Siu San dan Cian Cong yang duduk pada jarak kurang lebih satu depaan dari mereka, juga dapat mendengar dengan jelas nafas mereka yang semakim memburu.

Kurang lebih satu peminuman teh berlalu lagi. Oey Ku Kiong seperti ingin menyelesaikan pertarungan secepatnya, kalau perlu dia akan mengadu jiwa. Terdengar mulutnya mengeluarkan suara bentakan yang keras. Pedangnya yang panjang menimbulkan cahaya sampai sejauh sepuluh depa. Sinar yang bagai pelangi berwarna putih itu menusuk lurus ke depan dengan kecepatan kilat.

Jurus yang digunakannya kali ini merupakan salah satu jurus dari ilmu Pek Hun Ceng yang tidak diwariskan pada orang luar. Kehebatannya jangan ditanyakan lagi, meskipun kekuatan tenaga dalam Oey Ku Kiong belum mencapai taraf dapat membunuh orang dengan hawa pedangnya dari jarak jauh, tetapi tetap saja mengandung kelihaian yang tidak terkirakan. Kalau diperhatikan dari bawah, maka pedangnya yang berwarna hijau menimbulkan cahaya yang besarnya mengejutkan dan hawa yang terpancar dari pedangnya mengandung hawa dingin yang menggigilkan. Gerakannya bagai seekor naga sakti yang mengibas ke sana ke mari. Serangannya begitu cepat, persis air terjun yang tercurah dari atas, baru melirik tahu-tahu sudah sampai di bawah. Seorang jago kelas satu dari dunia Bulim sekalipun tidak mudah menghindarkan diri dalam waktu yang sekejap mata itu.

Tan Ki melihat Oey Ku Kiong merubah gerakannya seperti orang yang hendak mengadu jiwa, hatinya tercekat setengah mati. Tubuhnya menggeser sedikit ladu memutar setengah lingkaran, pedang suling di tangannya sekaligus bergerak lalu meluncur ke depan menyambut datangnya serangan Oey Ku Kiong.

Inilah jurus Mengibas Pasir di Atas Tanah yang merupakan salah satu jurus terhebat dari Te Sa Jit-sut.

Perlu diketahui bahwa para tokoh persilatan di dunia Bulim semuanya memiliki penyakit yang sama. Di hari-hari biasa mereka selalu menyembunyikan kepandaiannya yang sejati. Hal ini dilakukan untuk mencegah kalau ada musuh besar mereka yang menyelidiki sampai di mana sebetulnya ketinggian ilmu yang mereka miliki dan kemudian berusaha menciptakan sejenis ilmu lainnya yang khusus untuk melawan ilmu tersebut. Lagipula mereka juga takut kalau ilmu-ilmu hebat yang membuat nama mereka terkenal itu berhasil dicuri belajar oleh orang lain. Oleh karena itulah, mereka jarang menunjukkan semua kepandaiannya secara terang-terangan. Kalau sudah terdesak dalam keadaan gawat, yang menyangkut mati hidup mereka, barulah mereka tidak berpikir panjang lagi, bahkan memusatkan perhatian untuk mengerahkan ilmu ‘mereka yang paling dahsyat untuk menyelamatkan diri sendiri dari maut. Penyakit seperti ini, bagi orang yang namanya
semakin besar dan ilmunya semakin hebat, malah lebih parah lagi. Kalau dilihat dari luar, tokoh Bulim manapun pasti pandai berpura-pura atau sengaja menutup diri serapat- rapatnya.

Meskipun tadinya Tan Ki sudah bertekad untuk mengendalikan dirinya sendiri dan tidak mau mengerahkan ilmu Tian Si Sam-sut maupun Te Sa Jit-sut, tetapi ketika keadaan sudah menyangkut keselamatan nyawanya sendiri, tanpa sadar seperti ada semacam refleksi yang membuat dia mengerahkan jurus Mengibas Pasir di Atas Tanah.

Terdengar suara benturan logam dan batu kumala, yang terpancar setelah bunyi suitan
-gerakan kedua jenis senjata itu. Trang! Seiring angin yang berhembus, tampak pedang panjang terhempas di atas tanah, di Bagian lengan pakaian Oey Ku Kiong yang berwarna putih tampak guratan sepanjang lima cun. Darah segar setetes demi setetes mengalir keluar.

Meskipun Tan Ki sama sekali tidak menduga bahwa gerakannya yang dilakukan secara refleks untuk menyelamatkan diri ternyata malah melukai sahabat yang sudah menanam budi berkali-kali kepadanya. Untuk sesaat dia jadi termangu-mangu. Mimik wajahnya seperti orang yang ketakutan karena berbuat kesalahan.

“Oey-heng, maaf sekali! Aku benar-benar tidak menyangka bisa melukai lenganmu…” katanya gugup.

Oey Ku Kiong menarik nafas panjang. Dia tidak menjawab perkataan Tan Ki tetapi malah menggumam seorang diri.

“Aku sudah mengerahkan segenap kemampuanku. Tetapi tetap saja bukan tandinganmu. Apabila dia tahu mungkin dia juga tidak dapat menyalahkan diriku.” perlahan-lahan dia mendongakkan wajahnya dan melirik Tan Ki sekilas. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang tipis. Wajahnya tidak menyiratkan kemarahan sedikitpun.

Sinar mata Tan Ki yang penuh penyesalan terus mengerling ke arah dirinya. Hatinya ingin sekali mengucapkan beberapa patah kata, tetapi dia tidak tahu bagaimana harus memulainya. Bibirnya bergerak-gerak sedikit tetapi tidak ada sepatah katapun yang terucapkan olehnya.

Oey Ku Kiong memaksakan sekulum tawa di sudut bibirnya.
“Tan-heng, babak ini kembali kau yang menang.”

“Aku… aku benar-benar tidak bermaksud melukaimu. Tetapi entah mengapa, ketika aku terdesak sedemikian rupa, aku malah tidak ingat lagi siapa dirimu, yang kupikirkan hanya keselamatan diriku sendiri…”

Oey Ku Kiong dapat melihat mimik wajahnya yang merasa serba salah bahkan menyiratkan kepanikan. Dia sengaja memperlebar senyumnya.

“Luka sekecil ini tidak berarti apa-apa. Dalam sebuah pertandingan, bahkan ayah dan anakpun tidak dibedakan lagi. Pasti sulit mencegah salah satu di antaranya ada yang
terluka. Tan-heng tidak perlu merasa tidak enak hati karena masalah ini. Setelah pertandingan ini, kau dan aku tetap merupakan sahabat.”

Tampang Tan Ki menyiratkan sedikit kebimbangan.

“Kata-kata yang kau ucapkan tadi membuat orang tidak mengerti. Siaute terpaksa memberanikan diri untuk bertanya. Apakah Oey heng naik ke atas panggung mengikuti pertandingan ini sebetulnya mendapat perintah dari seseorang?”

Mendengar kata-katanya, wajah Oey Ku Kiong langsung berubah hebat. Tetapi sejenak kemudian dia sudah pulih kembali seperti biasa. Perlahan-lahan dia menarik nafas satu kali.

“Tan-heng tidak usah terlalu mendesak. Pada suatu hari nanti, kau pasti akan mengerti.” dia membungkukkan tubuhnya untuk memungut kembali pedangnya yang terjatuh di lantai panggung. Kemudian tampak bayangannya berkelebat dan diapun meloncat turun ke bawah panggung.

Hampir dalam waktu yang bersamaan dengan meloncat turunnya Oey Ku Kiong, kembali ada sesosok bayangan yang berkelebat naik ke atas.

Terasa serangkum bau harum yang terpancar dari tubuh seorang perempuan menerpa datang seiring hembusan angin. Pakaian yang berwarna merah jambu mengibar-ngibar. Di atas panggung telah berdiri seorang perempuan yang cantik jelita.

Orang ini bukan siapa-siapa, tetapi justru si budak cantik yang menggunakan siasat ra- yuan agar Oey Ku Kiong jatuh bertekuk lutut di bawah gaunnya. Siapa lagi kalau bukan selir kesayangan Tocu Bu Sin To, Kiau Hun!

Diam-diam hati Tan Ki jadi tergetar.

“Apakah kau juga bermaksud merebut kedudukan Bulim Bengcu?”

Kiau Hun mengerlingkan sepasang matanya yang indah. Bibirnya juga mengembangkan seulas senyuman yang manis.

“Peraturan dalam pertandingan ini, tidak menyatakan bahwa kaum perempuan, biarpun rahib atau nyonya muda tidak boleh mengikutinya. Mengapa aku tidak boleh ikut memperebutkan kedudukan Bulim Bengcu yang menjadi impian setiap tokoh persilatan itu?”

Melihat tampangnya dan mendengar kata-katanya yang tegas, Tan Ki sadar bahwa pertandingan ini sudah pasti diikuti olehnya. Biar bagaimana dia pasti akan bergebrak dengan-nya sampai ada salah satu yang menang. Hati-nya menjadi bimbang kembali. Perempuan ini pernah menyelamatkan jiwanya bahkan sam-pai diusir dari pintu perguruan. Lagipula Kiau Hun secara terang-terangan pernah menyatakan cinta kasihnya dan terus merongrongnya sehingga dia merasa bahwa perempuan ini lebih sulit lagi dihadapi dari pada Oey Ku Kiong.

Tan Ki juga pernah melihat ilmu Kiau Hun yang sekarang. Dalam sekali gerak saja, dia sanggup melukai seorang Locianpwe yang terkenal keras kepala seperti Ciu Cang Po.
Kalau benar-benar sampai terjadi pertarungan, mungkin dalam ribuan jurus sulit menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang.

Tampaknya Kiau Hun dapat menyelami perasaan hati Tan Ki. Bibirnya merekah mengembangkan seulas senyuman.

“Kau tidak perlu berpikir ke sana ke mari sehingga menjadi bimbang tidak menentu.
Perlu kau ketahui bahwa perebutan kedudukan Bulim Bengcu ini menjadi hak setiap orang. Pokoknya begitu naik ke atas panggung, siapapun harus saling berhadapan sebagai lawan. Tidak memperdulikan segala macam perasaan. Meskipun urusan antara kau dan aku sudah menjadi kenangan masa lalu, aku malah ingin mengundurkannya dan memperhitungkannya beberapa hari kemudian. Sekarang ini keluarkan dulu senjatamu dan kita tentukan siapa yang lebih unggul di antara kita.”

Tan Ki menggelengkan kepalanya. Dia memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku tidak bisa berkelahi denganmu.”
Sepasang alis Kiau Hun langsung terjung-kit ke atas. Tampaknya dia menjadi kurang senang mendengar ucapan Tan Ki, tetapi bibirnya tetap tersenyum.

“Apakah aku harus memaksamu untuk turun tangan sebagaimana halnya Oey Ku Kiong tadi?”

Pada dasarnya Kiau Hun memang gadis yang cantik. Lagaknya yang dibuat-buat seperti anak manja itu justru membuat orang yang melihatnya semakin gemas. Sayangnya dia sudah menjadi anggota Bu Sin To di Lam Hay dan bahkan mendapat kedudukannya sekarang ini dengan menjual jiwa raganya. Kecantikan di luar saja, persis seperti sekuntum bunga mawar yang merupakan lukisan dinding, bagus dilihat tetapi tidak memancarkan keharuman sedikitpun.

Tan Ki tertawa getir.

“Aku sendiri rela mengaku…”

Kata-kata ‘kalah’ belum sempat diucapkan, tiba-tiba Yibun Siu San sudah bangkit dari tempat duduknya dan membentak.

“Tunggu dulu!”

Kiau Hun yang melihat Tan Ki sudah mulai terperangkap oleh jeratnya dan hampir saja mengaku kalah. Kalau benar demikian, tentu pertandingan ini akan dimenangkan olehnya dengan mudah. Siapa tahu pada saat yang tepat tiba-tiba kata-kata yang belum selesai diucapkannya jadi terhenti oleh bentakan Yi-bun Siu San. Sepasang alisnya langsung mengerut erat. Hatinya yang merasa gembira menjadi marah sekali.

“Orang sedang berbicara baik-baik, siapa suruh kau ikut campur?”

Yibun Siu San mendongakkan kepalanya menatap warna langit. Bibirnya merekahkan senyuman yang lebar.

“Sekarang ini waktu tepat menjelang sen-ja…

Kiau Hun tertawa dingin.

“Memangnya kenapa kalau sudah senja?” “Tentu saja istirahat dan isi perut!”
Kiau Hun tertawa dingin dan mendengus satu kali. Tetapi kali ini dia tidak menukas perkataan Yibun Siu San.

“Kau jangan aku kira memang sengaja menunda-nunda waktu. Sehingga hatimu merasa tidak puas. Perlu kau ketahui bahwa peraturan dalam pertandingan ini sudah diumumkan dengan jelas. Dalam keadaan bagaimanapun asal waktu sudah menjelang senja, pertandingan harus dihentikan! Malam hari nanti baru dilanjutkan kembali. Aku hanya menjalankan kewajiban, harap kau turun dulu dari panggung ini!” kata Yibun Siu San tegas.

Sepasang alis Kiau Hun bertaut semakin erat. Hawa pembunuhan mulai tersirat di wajahnya. Tetapi dia berpikir panjang kalau sampai menimbulkan kemarahan para hadirin, tentu sulit baginya untuk menghadapi orang yang begitu banyak. Biar bagaimana, peraturan pertandingan yang telah ditentukan memang tidak boleh sembarangan dilanggar. Akhirnya terpaksa dia menahan kemarahan hatinya dan dengan gerak gemulai, dia turun juga dari atas panggung.

Sementara itu, Tan Ki seperti tiba-tiba teringat akan suatu masalah. Dia langsung bertanya kepada Yibun Siu San.

“Sam Siok, apakah malam nanti aku harus bertanding lagi?”

Yibun Siu San tertawa datar. “Kau kira memperebutkan kedudukan Bulim Bengcu itu urusan yang mudah? Aku dan Cian Locianpwe menaruh harapan yang besar pada dirimu, apakah kau ingin berhenti setengah jalan begitu saja?”

“Tetapi, kecuali babak yang satu ini, keponakan sudah bertanding selama enam kali berturut-turut. Kalau dihitung-hitung berarti lima kali menang satu kali seri…”

Yibun Siu San menggoyangkan sepasang tangannya dengan maksud menghentikan kata-kata Tan Ki.

“Meskipun kau tidak mengatakan apa-apa, namun aku sudah tahu apa yang terkandung dalam hatimu. Tetapi pikiranmu itu terlalu kekanak-kanakan. Kau kira dengan mengandalkan ilmu silatmu yang tinggi, sehingga kau dapat mengenyahkan saingan dan tidak ada seorangpun yang dapat menandingimu, lalu dengan mudah kau sudah dapat menjabat sebagai Bulim Bengcu. Tentu saja masih jauh sekali jangkauannya. Kau harus tahu bahwa kedudukan Bulim Bengcu itu berarti menjadi kepala atau ketua dari ratusan partai ataupun perkumpulan di dunia ini. Banyak peraturan yang harus dipatuhi dan yang paling penting harus bersikap tegas dalam mengambil segala keputusan, tidak boleh berat sebelah. Baik ilmu silat, tingkat kecerdasan, kemuliaan hati, semuanya merupakan syarat yang harus ada dan tidak boleh kurang satupun juga. Harus bisa mengatasi masalah dengan pikiran dingin, masalah besar diperkecil, dan masalah kecil dihapus. Problema yang tidak dapat diatasi oleh arang biasa, dia sudah pasti harus bisa menyelesaikannya dengan baik. Demikian baru dapat disebut pimpinan besar dari para tokoh dunia Bulim!”

Mendengar keterangannya yang panjang lebar, Tan Ki sampai meleletkan lidahnya.
Rasa terkejutnya tidak kepalang tanggung.

“Kalau ditinjau dari segala segi itu, entah berapa lama waktu yang diperlukan baru dapat terpilih seorang Bulim Bengcu?”

Yibun Siu San tertawa lebar.

“Kalau menurut pertimbangan diriku sendiri, mungkin waktu tujuh hari sudah bisa menguji segala persyaratan itu, yakni ilmu silat, kecerdasan dan yang terakhir kemuliaan jiwanya.”

Sementara mereka bercakap-cakap, Liu Seng, Kok Hua Hong dan Ciong San Suang Siu sudah menyimpan senjata masing-masing dan berjalan menghampiri mereka. Hanya si pengemis sakti Cian Cong yang masih duduk di tempatnya dengan mata terpejam seakan sedang merenungkan suatu masalah.

Mula-mula tampak Kok Hua Hong tertawa terbahak-bahak sambil mengacungkan jari jempolnya.

“Hebat sekali. Dengan usia yang masih demikian muda. Laote berhasil mendapat kedudukan sebagai Go Kit Kiam-jiu (Pendekar pedang tingkat lima). Hal ini benar-benar membuat orang jadi kagum.”

Mendengar kata-katanya, Tan Ki jadi tertegun. Dia memandang Kok Hua Hong dengan tatapan kurang mengerti.

“Go Kit Kiam-jiu?”

Sekarang gantian. Liu Seng yang tertawa terbahak-bahak.

“Siapapun orangnya yang di atas panggung pertandingan dapat mengalahkan seorang lawannya, maka akan mendapat sebutan Pendekar pedang tingkat satu. Kalau mengalahkan dua orang, otomatis kedudukannya naik lagi menjadi Pendekar pedang tingkat dua. Sedangkan Pendekar pedang tingkat lima berarti bahwa orang itu secara berturut-turut berhasil mengalahkan lima orang lawannya. Sedangkan dalam pemilihan Bulim Bengcu kali ini, harus mencapai tingkat sembilan baru dapat memenuhi syarat.”

“Kalau di saat pertandingan, karena perhatian yang terpencar atau karena kecerobohan lalu sampai mendapat kekalahan, bukankah berarti kehilangan kesempatan untuk memperebutkan kedudukan Bulim Bengcu tersebut?”

“Tidak mungkin. Yibun Cianpwe merupakan seorang tokoh yang berpikiran panjang.
Perhitungannya matang sekali. Setiap orang mempunyai peluang yang sama besar. Umpamanya dirimu sekarang ini sudah mendapat gelar Pendekar pedang tingkat lima.  Lalu dalam babak selanjutnya kau mengalami kekalahan, kau tetap masih boleh mengajukan pertandingan berikutnya. Istilahnya mencoba keberuntungan. Seandainya kau dapat mengalahkan orang yang tingkatnya sama dengan dirimu dua kali berturut-turut, maka kedudukanmu akan naik lagi satu tingkat. Tadi Heng Sang Si dan Goan Siang Fei yang kau kalahkan justru dalam keadaan seperti yang kukatakan tadi. Mereka dapat lagi kedudukannya menjadi Pendekar pedang tingkat empat.”

Sepasang alis Tan Ki bertaut erat. Kemudian tampak bibirnya mengembangkan seulas senyuman.

“Dalam pertandingan seperti ini ada kenaikan tingkat segala, benar-benar merupakan hal yang baru kudengar pertama kali. Tetapi dari penjelasannya saja sudah membuat orang menjadi penasaran, tapi entah bagaimana cara Yok Hu (Bapak mertua) dan Cianpwe sekalian menentukan Bulim Bengcu yang benar-benar sesuai dengan syarat yang berlaku?”
Baru saja Liu Seng ingin memberi jawaban, Kok Hua Hong sudah keburu menukasnya. “Tahukah kau ada berapa orang tokoh yang ilmunya benar-benar tinggi sekali di dunia
Bulim ini?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, untuk sesaat Tan Ki jadi termangu-mangu. Dia menundukkan kepalanya merenung sejenak kemudian baru memberikan jawaban.

“Saat sekarang ini, tokoh yang ilmu silatnya benar-benar sudah mencapai taraf tertinggi, mungkin hanya lima enam orang. Kecuali Tiah Bu Cu Cianpwe yang jarang menunjukkan tampangnya di dunia persilatan, maka yang lainnya termasuk Sam Siok, Yibun Siu San, Cian Locianpwe, Pangcu Ti Ciang Pang, Lok Locianpwe dan Ciu Cang Po yang ilmunya kalah sedikit dibandingkan dengan orang-orang tadi. Sedangkan yang terakhir sudah pasti si raja iblis Oey Kang. Mengenai jago-jago dari Lam Hay Bun maupun pihak Pek Kut Kau dari Si Yu, aku tidak begitu paham.”

Terdengar suara si gemuk pendek Cu Mei dari Ciong San Suang Siu menukas, “Si pengemis sakti Cian Locianpwe merupakan salah satu dari dua tokoh sakti di dunia saat ini. Baik kedudukan maupun nama besarnya bukan didapatkan dengan mudah. Sedangkan Yibun Siu San muncul di Pek Hun Ceng dan menolong kita dari marabahaya. Dia juga pernah bergebrak dengan Oey Kang biarpun hanya beberapa jurus. Hal ini kau tentu sudah tahu, oleh karena itu kita menggunakan kedua Cianpwe ini sebagai bahan ujian.
Anggaplah mereka ini Pendekar pedang tingkat sembilan, jadi setidaknya orang yang menduduki jabatan Bulim Bengcu harus mempunyai ilmu silat yang hampir seimbang dengan mereka…”

Mendengar kata-kata itu, sepasang alis Tan Ki terus mengerut.

“Ilmu silat yang Cayhe kuasai, seperti kalian semua ketahui merupakan hasil curian dari Ti Ciang Pang. Tetapi meskipun Cayhe tidak mempunyai guru pembimbing, pengalaman juga masih dangkal, namun pernah membaca dari sebuah kitab kuno sehingga mengetahui bahwa rumus ilmu silat dalamnya seperti lautan, tidak ada batasnya.
Sekarang ini kita mengangkat Cian Locianpwe serta Sam Siok berdua sebagai Pendekar pedang tingkat sembilan, seandainya ternyata ada orang yang lebih tinggi lagi ilmunya dari mereka berdua, entah bagaimana kalian akan mengaturnya?”

Kata-kata ini diucapkan tanpa berpikir panjang lagi. Setelah tercetus dari mulutnya, dia baru merasa bahwa ucapannya tadi mungkin terlalu tajam sehingga dapat menusuk hati kedua orangtua tersebut. Siapa sangka tokoh aneh yang namanya sudah menjulang tinggi di dunia Kangouw itu malah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya.
“Ilmu silat si pengemis tua yang hanya beberapa jurus ini, tidak berani dikatakan  bahwa tiada duanya di dunia ini atau belum pernah ada yang dapat menandingi sejak dulu kala. Tetapi kalau dalam jurus gerakan seseorang dapat merenggut nyawa si pengemis tua dengan mudah, dapat dipastikan bahwa orang itu tentu tokoh silat setengah dewa.”

Yibun Siu San tersenyum lembut, dia ikut menukas.

“Dan aku akan mengangkat orang itu sebagai Pendekar pedang tingkat sepuluh!”

Setelah mendengar kata-kata ini, hati Tan Ki tampaknya sudah merasa puas. Dia anggap sejak sekarang di dunia Bulim sudah mempunyai patokan yang pasti untuk menentukan tinggi rendahnya ilmu seseorang. Seandainya digabungkan lagi dengan ilmu senjata rahasia maupun ilmu racun dari golongan sesat, paling banter bisa mendaki sampai tingkat sembilan. Seandainya ada yang bisa mencapai tingkat sepuluh, maka dapat dipastikan bahwa orang itu pasti jenius bukan main dan mempunyai kecerdasan melebihi orang biasa serta dapat dianggap manusia setengah dewa seperti yang dikatakan oleh di pengemis sakti Cian Cong. Dalam sejarah dunia Bulim selama ratusan tahun, orang yang dapat mencapai tingkat tersebut mungkin hanya ada dua orang, yaitu Tat Mo Cousu dari Siau Lim Si dan Tio Sam Hong dari Bu Tong Pai…

Justru di saat pikiran Tan Ki masih melayang-layang dengan terkesima, dia mendengar Yibun Siu San kembali membuka suara, “Anak Ki, sebaiknya kau turun dari panggung untuk beristirahat agar tenagamu dapat pulih kembali sebagai persiapan untuk melakukan pertandingan lagi malam nanti.”

Tan Ki mengiakan dengan suara lirih, dia membalikkan tubuhnya dan meloncat turun dari panggung tersebut.

Pada saat itu, para hadirin yang tadinya berkumpul di sana sudah mulai bubar, yang tinggal hanya Mei Ling, Liang Fu Yong, kakak beradik Cin Ying dan Cin Ie yang paling mengkhawatirkan keadaan Tan Ki. Mereka masih menunggu di bawah panggung.

Lok Hong beserta cucunya Lok Ing beserta Oey Ku Kiong dan Kiau Hun entah mempunyai rencana apa. Saat ini mereka berdiri pada jarak sepuluh depaan dan terbagi dalam dua kelompok yang berhadap-hadapan. Mereka saling berbisik dengan rekan masing-masing, mata mereka berulangkah melirik ke arah Tan Ki Kalau bukan sedang memperhatikan gerak-geriknya, tentu mereka sedang membicarakan ilmu silatnya yang mengejutkan ketika berlangsungnya pertandingan tadi.