Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 29

 
Bagian 29

Melakukan tradisi turun temurun dalam mengembangbiakkan jumlah manusia di dunia ini sebetulnya masalah yang wajar. Tetapi bagi seorang perempuan yang baru sadar dan bertekad kembali ke jalan yang benar hal itu merupakan sebuah pukulan bathin yang cukup hebat. Untung saja perasaan cintanya lebih besar dari hal apapun di dunia ini.
Liang Fu Yong mengeluarkan suara keluhan panjang dan dari sudut matanya tampak dua bulir air mata menetes turun. Setelah gelombang badai yang dahsyat itu berlalu, semuanya tenang kembali seperti semula.

Meskipun dengan kebulatan tekad sendiri Liang Fu Yong mengorbankan dirinya demi keselamatan Tan Ki, tetapi dia sudah mengeluarkan imbalan yang sangat besar. Saat itu hawa panas dalam tubuh Tan Ki sudah menyurut dan diapun tertidur pulas.

Tetapi Liang Fu Yong sendiri tidak dapat pulas begitu saja. Dia melihat pemuda pujaannya yang sedang teridap dalam mimpi indah. Hatinya dilanda berbagai perasaan yang berbeda-beda. Tetapi dia sendiri tidak dapat menjelaskan apa sebetulnya yang dirasakannya.

Berbagai bayangan buruk serta akibat yang mengerikan melintas di benaknya. Mungkin sejak saat ini Mei Ling yang polos dan lugu akan membencinya seumur hidup!

Sedangkan Cen Kiau Hun yang berjiwa romantis, tentu tidak akan melepaskan dirinya begitu saja apabila mengetahui kejadian ini. Masih ada lagi si gadis manja dan keras kepala Lok Ing, entah hukuman apa yang akan dijatuhkan gadis itu kepadanya apabila dia juga sempat mengetahui apa yang mereka lakukan saat ini.

Setelah berpikir bolak-balik, dia merasa semuanya menemui jalan buntu. Seakan di du- nia yang begini luas, tidak ada sejengkal ta-nahpun bagi dirinya untuk berpijak. Semakin dipikirkan, dia semakin merasa bahwa masa depannya suram sekali. Entah bagaimana dia harus menempatkan diri. Air matanya mengembang, dia menatap pemuda pujaannya lekat-lekat. Dia sendiri tidak dapat menjelaskan apakah dia merasa kasihan atau cinta terhadap Tan Ki, entah benci atau menyesal…

Perlahan-lahan dia mengeluarkan jari jemarinya yang lentik. Dirapikannya rambut Tan Ki yang awut-awutan. Dalam waktu yang singkat, dari seorang perempuan yang tabah dan tegar dia berubah demikian lemah dan tidak berpendirian. Dengan gerakan lemah lembut dia menundukkan kepalanya dan mengecup pipi Tan Ki sekilas. Tampak dia bergumam seorang diri, “Tidurlah, peristiwa yang telah terjadi, dirimu tidak dapat dipersalahkan.
Apabila tersa-dar nanti, kau juga tidak perlu salah pengertian sehingga merasa menyesal. Aku tahu, apabila kau tersadar nanti, pasti akan merasa sedih dan kecewa terhadap dirimu sendiri. Kau tidak perlu mencemaskannya sedikitpun. Karena pada saat itu kau sedang dalam keadaan kacau dan kehilangan kendali. Sedangkan aku justru benar-benar sadar atas apa yang telah aku lakukan…”

Berkata sampai di sini, dia merandek. Air matanya mengucur dengan deras. Setetes demi setetes jatuh ke atas tanah. Tetapi dari sudut bibirnya justru terlihat senyuman yang mengembang. Perlahan-lahan dia berkata lagi:

“Sebelum kau tersadar nanti, aku akan pergi secara diam-diam. Meskipun kejadian yang mengenaskan ini membawa segulung rasa pedih yang tidak terkirakan, tetapi di dalam sudut kalbuku juga terselip kebahagiaan yang tidak terkatakan. Tanpa diduga-duga, aku ma-lah yang lebih dulu mendapatkan dirimu daripada Liu Moay Moay sendiri yang lebih berhak. Meskipun hanya setengah malam yang singkat, tetapi aku sudah merasa puas. Semua kesalahan ini merupakan takdir yang telah ditentukan Sang Pencipta. Apabila Liu Moay Moay mengetahuinya, mungkin dia juga tidak akan menyalahkan diriku…”
Dia terus bergumam seorang diri. Tetapi perasaan sedih dan gembira terus silih
bergan-ti merasuk hatinya. Ditambah lagi rasa letih dan gelisah karena setelah sekian lama dia baru dilanda lagi oleh gelombang badai asmara seperti tadi. Seluruh tubuhnya terasa penat, tanpa dapat dipertahankan lagi, lambat laun dia sendiri terkulai di atas tanah dan tertidur pulas.

Ketika dia sadar kembali, malam semakin larut dan kesunyian tetap merayap. Di sekitar tidak terdengar suara apa-apa kecuali desiran angin yang melambaikan dedaunan. Tan Ki masih terlelap dalam mimpi indah. Ketika dia menundukkan kepala dan melihat keadaan- nya sendiri, tanpa dapat ditahan lagi dia merasa jengah sekali. Ternyata seluruh pakaiannya sudah habis dikoyak-koyak oleh Tan Ki sehingga tubuhnya menjadi bugil tanpa ditutupi sehelai benangpun. Tubuhnya yang putih dan mulus tampak berkilauan di sorot cahaya rembulan.

Untuk sesaat hatinya menjadi panik. Diam-diam dia berpikir: ‘Keadaanku sekarang ini tidak ditutupi selembar benangpun. Malah terbaring di atas rerumputan. Bagaimana aku bisa mencari sehelai kain atau selembar pakaian guna menutupi tubuh sehingga dapat berjalan keluar dari taman ini?’

Ketika pikirannya masih bergerak, tiba-tiba dia mendengar tarikan nafas Tan Ki yang panjang dan matanya pun terbuka. Begitu pandangannya beredar, dia melihat Liang Fu Yong berbaring di sisinya tanpa mengenakan sehelai benangpun. Tanpa dapat ditahan lagi dia merasa hatinya tergetar.

“Apa yang telah terjadi?” teriaknya gugup.

Telapak tangannya langsung bertumpu di tanah dan dia duduk dengan tegak. Setelah menolehkan kepalanya melihat ke arah Liang Fu Yong sekilas, dia merasa sinar mata perem-puan itu menyiratkan sesuatu yang luar biasa. Tampangnya seperti orang yang ingin menangis juga seperti orang yang setengah tersenyum. Diantaranya juga terselip perasaan jengah dan takut. Seperti seekor domba yang menunggu saatnya untuk disembelih. Begitu kasihan dan membuat hati orang menjadi iba.

Tan Ki tertegun sesaat. Dia mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk batok kepala- nya sendiri. Tampaknya dia sedang berusaha mengingat-ingat kembali. Tiba-tiba matanya menangkap sisa koyakan pakaian yang berserakan di atas tanah lalu dia juga melihat ke- adan dirinya sendiri yang hampir bugil, nyalinya jadi ciut. Serangkum rasa pedih langsung menyelinap di dalam hatinya.

Dia mulai teringat gerakan dirinya yang hampir kalap barusan. Tubuhnya panas mem- bara. Sekelumit demi sekelumit peristiwa tadi mulai terpampang di hadapan matanya.
Ketika mengingat sampai Bagian dirinya yang tidak dapat dikendalikan kemudian menindih di atas tubuh Liang Fu Yong. Tiba-tiba dia meraung keras-keras, tubuhnya pun melonjak bangun dalam waktu yang bersamaan serta dengan kalap dia bermaksud menghantamkan batok kepalanya ke arah gunung-gunungan yang ada di depannya.

Kejadian yang mendadak dan perubahan yang tidak diduga-duga ini berlangsung dalam sekejap mata. Siapapun tidak mungkin menyangkanya. Dengan perasaan terkejut Liang Fu Yong ikut berteriak, tiba-tiba tubuhnya menggelinding di atas tanah, sepasang tangannya dengan kecepatan kilat mencekal kedua kaki Tan Ki. Dia mengerahkan sekuat tenaga untuk menariknya ke belakang.
Dalam keadaan panik dan takut dia memeluk kedua kaki Tan Ki dengan erat. Kekua-tan tenaganya dikerahkan semua. Dengan demikian gerakan Tan Ki yang dilakukan dengan kalap itu langsung tercegah dan tubuhnya pun ikut tertarik ke belakang.

Liang Fu Yong tidak mengingat lagi perasaan malu dan jengahnya. Perlahan-lahan dia berkata, “Mengapa kau harus mencari jalan kematian? Seorang laki-laki harus gagah berani, berdiri tegak menantang langit. Apabila berbuat kesalahan harus membusungkan dada menerima hukuman, tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara pengecut seperti tadi. Lagi peristiwa yang telah terjadi barusan bukan semuanya merupakan kesalahanmu…”

Tan Ki menarik nafas panjang. Tampangnya mengenaskan sekali.

“Aih! Meskipun berendam dalam tiga sungai empat samudera, dosa ini tetap tidak dapat dicuci bersih!”

Liang Fu Yong mencibirkan bibirnya dan tersenyum. Baru saja dia ingin mengucapkan beberapa patah kata untuk menghibur hati Tan Ki, bibirnya sudah mulai bergerak. Tiba- tiba serangkum perasaan jengah melanda dirinya. Cepat-cepat dia menggelindingkan tubuhnya ke balik semak-semak yang rimbun dan menyembunyikan tubuhnya yang bugil. Setelah itu dia baru melongokkan kepalanya keluar dan berkata lagi.

“Tolong ambilkan pakaianku yang sudah koyak itu!”

Tan Ki menarik nafas panjang. Hatinya merasa tertekan, sedih dan dipenuhi penderitaan yang dalam. Tetapi dia menuruti juga permintaan Liang Fu Yong dengan mengambilkan pakaian yang sudah tidak karuan itu lalu disodorkannya ke depan.

Tiba-tiba dia melihat wajah Liang Fu Yong berubah serius sekali. Malah di dalamnya terselip ketegangan yang tidak terkirakan. Dia membolak-balik pakaian yang sudah robek itu dan mencari-cari sesuatu. Tan Ki memandangnya dengan termangu-mangu. Dia tidak mengerti apa yang dicari perempuan itu sehingga tampangnya begitu tegang. Namun dari mi-mik wajahnya itu, Tan Ki dapat menduga bahwa benda yang dicarinya pasti penting sekali.

Tidak beberapa lama kemudian, terdengar Liang Fu Yong menghela nafas lega. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman, “Terima kasih atas belas kasihan Thian yang kuasa, untung saja benda ini masih utuh dan tidak terkoyak olehmu.”

Tampak Liang Fu Yong mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna putih dari dalam saku pakaiannya. Dengan hati-hati dia membukanya dan mengeluarkan sebutir pil berwarna merah. Kemudian dia menyodorkannya ke arah Tan Ki.

“Telanlah obat ini.” katanya.

Tan Ki jadi tertegun. Untuk sesaat dia tidak berani mengulurkan tangannya menerima obat itu. Liang Fu Yong tahu hatinya merasa ragu, dia segera memberi penjelasan.

“Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan Tian Bu Cu Cianpwe dari Bu Tong Pai.
Karena merasa kasihan kepadaku, dia menghadiahkan sebuah kitab berisi ilmu agama yang mana katanya tidak boleh diberikan kepada orang lain. Di samping itu juga dia memberikan tiga butir pil ini. Orangtua ini memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Hatinya 
mulia serta berjiwa besar. Meskipun jarang berkelana di dunia Kangouw, tetapi selama enam puluh tahun ini, nama besarnya tidak pernah pudar. Boleh dibilang kebesaran namanya berendeng dengan si pengemis sakti Cian Cong. Itulah sebabnya orang-orang Kangouw menyebut mereka dua tokoh tersakti di dunia saat ini. Untuk membuat pil ini, orangtua itu telah menguras tenaga dan pikiran selama berpuluh tahun. Baik untuk pemakaian luar atau diminum, khasiatnya besar sekali bagi kesehatan tubuh.”

Dengan rasa enggan Tan Ki mengulurkan tangannya menyambut pil tersebut, memasukkannya ke dalam mulut dan menelannya. Dia merasa ada segulung hawa hangat yang menguap di dalam tubuhnya. Lalu perlahan-lahan merambat sampai seluruh anggota badannya. Mula-mula menelannya tidak merasakan apapun, lambat laun seluruh tubuhnya terasa panas membara. Bagai dipanggang di atas tungku api yang berkobar-kobar. Keri- ngatnya bercucuran bagai air hujan. Seluruh tubuhnya pun menjadi basah kuyup dalam sekejap mata.

Entah berapa lama telah berlalu, Tan Ki baru merasa dirinya nyaman sekali. Pikirannya pun menjadi terang. Begitu matanya memandang, dia melihat Liang Fu Yong berbaring di balik gerombolan semak-semak dengan tubuh ditutupi dedaunan. Perempuan itu sedang tertidur pulas dan masih belum bangun.

Setelah gelombang badai berlalu, dia merasa letih sehingga terus merasa mengantuk.
Meskipun aurat tubuhnya ditutupi oleh dedaunan, tetapi paha dan lengannya yang tersembul keluar putih berkilauan. Bahkan dia tertidur sambil mengembangkan senyuman. Suara nafasnya teratur. Tanpa dapat ditahan lagi, ingatannya melayang ke peristiwa yang barusan berlangsung. Sewaktu memandang keadaan perempuan yang ada di hadapannya saat ini, dalam hatinya timbul perasaan iba dan kasih. Juga terselip perasaan menyesal yang tidak dimengertinya. Oleh karena itu tanpa sadar dia mengulurkan tangannya dan membelai-belai rambut Liang Fu Yong sambil menarik nafas panjang.

Gerakannya yang lemah lembut rupanya menyentakkan Liang Fu Yong dari tidurnya yang pulas. Tiba-tiba dia membuka matanya lalu melonjak bangun. Sepasang tangannya terulur untuk memeluk Tan Ki.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanyanya penuh perhatian.

Tan Ki dapat melihat tampang wajahnya yang menyiratkan perasaan kasih serta perha- tian yang besar. Untuk sesaat dia merasa tidak tega melepaskan diri dari pelukan Liang Fu Yong.

“Tadi aku mencoba menghimpun hawa murni dan kemudian mengedarkannya ke seluruh tubuh. Tidak disangka-sangka alirannya malah lebih cepat dari pada biasanya. Mungkin hawa murni di dalam tubuhku sudah mendapat kemajuan yang tidak sedikit.”

Ketika berbicara, matanya mengedar, tiba-tiba dia melihat di balik gunung-gunungan terdapat setumpuk pakaian yang rapi. Dia merasa terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia mendorong tubuh Liang Fu Yong dan melesat ke arah sana.

Tampaknya Liang Fu Yong juga merasa terkejut melihat munculnya setumpuk pakaian di tempat itu. Untuk sesaat dia jadi terma-ngu-mangu dan tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun.
Ketika Tan Ki memeriksa tumpukan pakaian itu, sekali lagi dia merasa tergetar hatinya. Rupanya tumpukan pakaian itu tepat hanya dua stel. Yang satu adalah pakaiannya sendiri, sedangkan yang satunya lagi pakaian wanita. Dan dia segera mengenali bahwa pakaian itu biasanya dikenakan oleh Cin Ying.

Untuk beberapa saat, dia menggenggam dua stel pakaian itu dan berdiri termangu- mangu. Dia merasa segulung perasaan duka menyelimuti hatinya. Dia sendiri tidak tahu apa yang dirasakannya saat itu.

Karena dia sudah pernah menyetujui bahwa dirinya akan mengambil Cin Ie sebagai isteri kedua. Tetapi justru di malam pernikahannya dengan Mei Ling, dia melakukan hu- bungan dengan perempuan yang lain. Kesalahan yang dilakukannya malam ini, biar dijelaskan dari manapun, tetap tidak dapat membersihkan dirinya dari dosa. Justru Cin Ying yang menemukan apa yang mereka lakukan. Apabila gadis ini merasa tidak senang karena adiknya dihina kemudian menyiarkan peristiwa ini di luaran. Nama baiknya maupun kedudukannya pasti akan lenyap tersapu bersih. Dan dirinya pasti menjadi bahan tawaan para pendekar di dunia ini.

Membayangkan hal yang terakhir ini, tanpa dapat ditahan lagi tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin langsung membasahi keningnya.

Setelah termangu-mangu beberapa lama, akhirnya dia melangkah perlahan-lahan ke samping Liang Fu Yong.

“Coba kau kenakan pakaian ini, pas atau tidak?”

Meskipun hatinya merasa pedih dan menderita sekali. Namun dia tetap berusaha tam- pil tenang di hadapan Liang Fu Yong. Tampak perempuan itu merenung sejenak. Tiba-tiba mimik wajahnya menjadi serius. Setelah mengenakan pakaian tersebut, dia juga menyandang kembali pedang pusakanya.

“Apabila kau bertemu dengan Liu Moay Moay nanti, tolong sampaikan salamku. Seka- lian beritahukan kepadanya tentang kesulitan yang dialaminya saat ini, aku pasti akan ber- usaha sekuat tenaga membantunya menyelesaikan masalah ini.”

Selesai berkata, dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan beberapa langkah.

Tiba-tiba sepasang alisnya mengerut-ngerut. Bibirnya digigit-gigit sendiri. Dia mengeluarkan suara aduhan yang-lirih kemudian sepasang tangannya mendekap Bagian perut dengan tubuh setengah membungkuk.

Tan Ki terkejut sekali. Baru saja dia hendak maju ke depan untuk memapahnya, Liang Fu Yong sudah menggertakkan giginya erat-erat dan menegakkan tubuhnya kembali.

“Kau harus baik-baik kepada Liu Moay Moay. Jangan merindukan diriku, lebih-lebih jangan merasa tidak tenang atau menyesal dengan kejadian ini. Karena saat itu ke- sadaranmu sedang hilang…”

Tan Ki tertawa datar.

“Ke mana tujuanmu sekarang?”
Perlahan-lahan Liang Fu Yong menarik nafas panjang.

“Aku juga tidak tahu. Kecuali mendalami kitab yang diberikan oleh Tian Bu Cu Cianpwe, aku juga tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Tetapi, hatiku sudah bertekad meninggalkanmu dan tidak akan bertemu lagi untuk selamanya…”

Tan Ki seperti ingin mengatakan sesuatu kepada dirinya, tetapi bibirnya yang sudah bergerak-gerak mengatup kembali. Sedangkan saat itu, Liang Fu Yong tidak dapat menahan lagi keperihan hatinya, air matanya mengalir dengan deras. Melihat keadaan itu, Tan Ki segera menarik nafas panjang. Hatinya merasa tertekan sekali.

Liang Fu Yong mengembangkan sebuah senyuman yang menyayat hati.

“Aku tahu saat ini hatimu sedang berduka, tetapi kau tidak ingin membuat aku lebih sedih lagi. Tetapi aku sadar bahwa kau bukan sungguh-sungguh mencintai aku, hanya karena kau merasa kasihan terhadap diriku.”

Tan Ki menarik nafas panjang sekali lagi.

“Dalam seumur hidupku ini, aku selalu merasa berhutang padamu.”

“Kasihan bukanlah cinta, hutangpun bukan sesuatu yang harus dibayar. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu karena hal ini.”

Tan Ki tahu apabila melanjutkan lagi kata-katanya hanya menambah penderitaan dalam hati saja. Oleh karena itu dia segera menarik tangan Liang Fu Yong.

“Mari! Kita tinggalkan dulu tempat ini baru bicara lagi!”

Selesai berkata dia langsung menarik tangan Liang Fu Yong dan mengajaknya berlari meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah, dia langsung mendengar suara Mei Ling yang merdu.

“Tan Koko, Cin Cici meminta aku datang ke mari mencarimu. Ternyata kau benar-benar ada di sini!”

Tampak bayangan merah berkibar-kibar tertiup angin, kemudian terlihat Mei Ling menghambur ke arah mereka. Hati Tan Ki masih merasa marah karena menganggap Mei Ling menipu cinta kasihnya. Mendengar ucapannya, dia langsung mendengus dingin.
Tetapi dia menghentikan juga langkah kakinya.

Ketika melihat Liang Fu Yong yang ada di samping Tan Ki, Mei Ling jadi tertegun sesaat. Dia juga menghentikan langkah kakinya.

“Ah… Liang Cici, kau juga ada di sini?”

Liang Fu Yong tersenyum lembut. Dia segera menggandeng tangan kiri Mei Ling. “Mengapa kau tiba-tiba bisa berpikir ke tempat ini dan mencari ke mari?”
Mei Ling menarik nafas panjang. Dia menunjuk ke arah Tan Ki dan berkata.
“Cici tidak tahu, dia masih belum mengerti kesulitan yang kuhadapi, malah menganggap dirinya demikian hebat dan pergi dengan keadaan tersinggung. Tadinya aku juga ingin bersikap keras kepala seperti dirinya. Biar untuk sementara lihat siapa yang lebih keras dan tidak mau memperdulikan dirinya. Tetapi semakin dipikirkan, aku merasa semakin tidak benar. Kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, bagaimana? Oleh karena itu aku segera keluar mencarinya. Maksudku ingin meminta maaf sekalian menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Tetapi hampir sepanjang malam aku mencari ke mana-mana. Mana aku tahu kalian ada di sini, justru Cin Cici yang memberitahukan kepadaku.”

Sejak tadi Tan Ki berdiri di samping dan mendengarkan dengan tenang. Berbagai kedukaan yang dialaminya membuat perasaannya seakan menjadi kebal. Tampangnya kaku dan tidak bergerak sedikitpun seperti sebuah patung.

Tiba-tiba Mei Ling melihat penampilan Tan Ki yang lain daripada biasanya. Tanpa sadar hatinya jadi tercekat. Dia segera melepaskan diri dari pegangan Liang Fu Yong dan merentangkan sepasang lengannya lalu menghambur ke dalam pelukan anak muda itu.

“Tan Koko, mengapa kau tidak berbicara sedikitpun?”

Di bawah cahaya rembulan yang redup tampak wajahnya yang cantik menyiratkan perasaan khawatir. Matanya menyorotkan sinar kasih sayang yang dalam. Bibirnya menyung-gingkan senyuman lembut. Dipadu dengan pakaiannya yang berwarna merah menyala, sehingga penampilannya semakin anggun dan wajahnya semakin cantik jelita.

Tiba-tiba Tan Ki merasa hatinya berdebar-debar. Tanpa terasa dia menyurut mundur dua langkah. Tangan kanannya terangkat dan menghempaskan sepasang lengan Mei Ling yang ingin memeluk dirinya. Dorongannya mengandung tenaga yang cukup besar.

Hatinya sedang, diselimuti perasaan malu dan rendah diri. Tiba-tiba saja dia merasa dirinya tidak pantas bersanding dengan gadis yang cantiknya seperti bidadari ini. Perasaan yang kuat ini berkecamuk dalam bathinnya. Gerakannya ini dilakukan dengan refleks.
Tenaga yang digunakan cukup besar. Sedangkan Mei Ling tidak menduganya sama sekali. Begitu terdorong otomatis tubuhnya berputaran dua kali lalu terjatuh di atas tanah.

Setelah mengulurkan tangannya mendorong Mei Ling, Tan Ki baru merasa bahwa dirinya tidak pantas memperlakukan Mei Ling sedemikian rupa. Dia langsung maju dua lang-kah dan mengulurkan tangannya.

Tetapi ketika dia baru mengulurkan tangannya untuk memapah bangun gadis itu, tiba- tiba dia menyurutkan tangannya kembali. Tanpa terasa kakinya malah mundur lagi tiga langkah. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap langit dengan terkesima.

Di dorong mendadak sedemikian rupa oleh Tan Ki, Mei Ling benar-benar merasa di luar dugaan. Untuk sesaat dia menjadi tertegun. Pukulan bathin yang besar benar-benar mem- buat hatinya terluka. Malah di saat kejadian itu baru berlangsung, dia menjadi termangu- mangu dan lupa akan sakit hatinya.

Perlahan-lahan dia menggulingkan badannya dan bangun duduk. Dua bulir air mata secara tanpa sadar membasahi pipinya. Wajahnya tampak mengenaskan. Tetapi ketika dia melihat Tan Ki mengulurkan tangannya dengan maksud memapah bangun dirinya,
bibirnya kembali menyunggingkan seulas senyuman. Otomatis dia juga mengulurkan tangannya agar dapat diraih oleh suaminya itu.

Siapa nyana, mendadak Tan Ki menyurutkan tangannya kembali. Setelah itu malah mendongakkan kepalanya menatap langit dan tidak melirik sekilaspun kepadanya. Gerakan serta tingkah laku Tan Ki ini benar-benar melukai perasaannya sebagai seorang gadis.
Harga dirinya bagai dicampakkan begitu saja. Perubahan yang tidak disangka ini, juga seperti sebatang jarum yang tanpa berperasaan menusuki hatinya. Kalau dibandingkan dengan dorongan tadi, tindakannya yang terakhir ini jauh lebih menyakitkan. Mungkin beribu kali lipat kepedihan yang dirasakannya.

Sepasang matanya yang bulat dan indah menatap Tan Ki lekat-lekat. Dia berharap bahwa pikiran anak muda itu mendadak berubah kembali dan menghampiri dirinya serta membangunkannya dari atas tanah. Apabila tidak, mungkin Tan Ki akan mengulurkan tangan-nya dan membiarkan dia meraihnya sebagai tumpuan agar dia dapat bangkit kembali…

Kalau Tan Ki benar berbuat demikian saja, hatinya sudah gembira bukan kepalang.

Tetapi dia terpaksa menelan kekecewaan. Tan Ki bukan saja tidak mengulurkan tangannya atau menghampiri untuk memapahnya bangun, tetapi kepalanya pun tidak dipaling-kan sama sekali.

Dengan perasaan sedih yang tidak terkatakan Mei Ling menangis tersedu-sedu. Air matanya bagai air terjun yang deras membasahi sepasang pipinya yang halus. Bahkan Bagian atas pakaiannya ikut jadi basah oleh deraian air mata itu. Suara sedak sedannya begitu menyayat hati. Terdengar bibirnya mengeluarkan suara ratapan…

“Tan Koko… kesalahan… apa… yang telah… ku… perbuat? Menga… pa kau… tidak mem-perdulikan… diriku… lagi?”

Setiap patah kata yang diucapkannya bagai ditarik demikian panjang sehingga tidak selesai-selesai. Bagai irama kematian yang bergema di tengah malam sunyi, di mana para hantu mengalirkan air mata darah. Setiap patah katanya membuat hati orang tergetar dan di dalamnya juga terkandung penderitaan yang tidak terkirakan.

Biarpun hati Tan Ki sekeras baja, mau tidak mau pikirannya menjadi tersentuh juga mendengar nada suaranya yang mengenaskan itu. Dia tidak sanggup lagi mengendalikan rasa pedih dalam hatinya. Air mata seorang laki-laki yang gagah ikut terurai. Baru saja dia bermaksud mengulurkan tangannya menghapus air mata Mei Ling, tiba-tiba hatinya tergerak:

‘Aku telah salah melangkah. Diriku sendiri tidak bersih lagi. Mana boleh aku menerima cinta kasih Liu Moay Moay dan mencelakakannya seumur hidup? Kalau aku kembali pa- danya, kelak dia pasti akan menderita mengetahui perbuatanku. Lebih baik sekarang aku sengaja bersikap dingin terhadapnya. Biar dia menganggap aku sebagai manusia yang paling tidak mengenal budi di dunia ini. Dengan demikian, perasaan cinta dalam hatinya akan berubah menjadi benci. Tentu dia tidak akan mengingat aku lagi.’ pikirnya diam- diam.
Begitu mempunyai pikiran seperti itu, dia segera menahan semua penderitaan dalam hatinya dan sengaja tertawa dingin. Tanpa mem-perdulikan gadis itu sedikitpun dia membalikkan tubuhnya melangkah pergi.

Tiba-tiba terdengar suara seruan Mei Ling dari belakang punggungnya, “Tan Koko!”

Panggilan itu hanya satu kali, karena mendadak Mei Ling memuntahkan darah segar dan jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah. Rupanya melihat sikap Tan Ki yang hanya menoleh sekilas kepadanya dan kemudian tidak memperdulikan lagi serta melangkah pergi, hatinya menjadi panik sekali. Tiba-tiba dia merasa ada segulung hawa panas yang meluap ke atas, tetapi dia tetap melonjak bangun dengan sekuat tenaga. Setelah memanggil satu kali, tanpa dapat dipertahankan lagi dia memuntahkan darah segar kemudian jatuh tidak sadarkan diri.

Suara panggilan yang keras itu langsung berkumandang sampai ke mana-mana. Apa- lagi saat itu baru lewat tengah malam, suasana memang sedang sunyi-sunyinya. Otomatis suara itu bergaung ke mana-mana.

Kalau saja Tan Ki menolehkan kepalanya saat itu, tentu dia tidak sampai hati melihat Mei Ling terkulai jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah. Tetapi dia justru tidak memalingkan kepalanya sama sekali. Dengan lambat dia meneruskan langkah kakinya ke depan.

Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Mei Ling dengan bersuamikan seorang laki-laki yang kotor seperti dirinya. Oleh karena itu, tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun, dia menahan rasa pedih di dalam hati dan secara diam-diam mengalirkan air mata penderitaan. Tiba-tiba terdengar kibaran suara pakaian yang melesat lewat di sampingnya. Kemudian tampak bayangan berkelebat di depan matanya. Tahu-tahu Liang Fu Yong sudah menghadang jalan perginya. Perempuan itu tertawa getir.

“Adik, biar bagaimana kau tidak boleh memperlakukan Liu Moay Moay seperti itu.
Hatinya masih suci bersih dan belum mengerti liku-liku serta duri tajam dalam kehidupan ini. Perasaan cintanya terhadap dirimu juga tulus sekali. Meskipun kau berpikir dengan cara demikian dia bisa membenci dirimu dan melupakan diri. Tetapi kenyataannya kali ini kau melakukan kesalahan besar…”

Tan Ki menarik nafas panjang dengan pilu.

“Aku telah kehilangan kontrol atas diriku sendiri sehingga melakukan perbuatan yang tidak terampunkan. Menghadapi cinta kasihnya yang bersih dan tulus, aku justru merasa diriku ini rendah sekali. Aku merasa malu berhadapan dengan siapapun. Jalan satu- satunya justru membuat dia membenci aku dan melupakan diriku untuk selama-lamanya sebelum aku pergi…”

Liang Fu Yong mengembangkan seulas senyuman yang mengenaskan.

“Hal ini kau tidak dapat disalahkan. Aku sendiri yang rela melakukannya. Kau tidak perlu terus-terusan menyesali dirimu. Lebih-lebih jangan mengulangi kesalahanmu sampai dua kali dengan melukai hati Liu Moay Moay. Dia adalah seorang gadis yang polos dan suci, hatinya baik sekali. Tentu tidak kuat menahan pukulan bathin yang demikian hebat…”
“Justru karena hatinya terlalu baik dan dirinya masih polos, aku semakin tidak tega mendampinginya dengan tubuh yang kotor ini sehingga nama baiknya jadi tercemar dan akhirnya menjadi bahan pembicaraan orang-orang.”

Berbicara sampai Bagian yang menyedihkan, tanpa dapat ditahan lagi air matanya jatuh bercucuran. Aliran darah dalam tubuhnya bagai digarang di atas api, panas lalu meluap ke atas. Tubuhnya bergetaran.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang lirih mendatangi ke arah mereka. Serentak kedua orang itu menolehkan kepalanya. Tampak Cin Ying menggandeng tangan Cin Ie menghampiri Tan Ki dan Liang Fu Yong.

Wajah Cin Ying masih secantik biasanya. Namun sepasang matanya menyorotkan sinar kemarahan. Sepasang alisnya mengerut menandakan kedukaan hatinya. Sulit mengurai- kan mimik perasaannya saat itu. Tiba-tiba hati Tan Kijadi pedih, cepat-cepat diamelengoskan wajahnya ke arah lain dan tidak berani memandang kakak beradik itu lagi.

Cin Ying dapat melihat bibir Tan Ki sudah bergerak ingin mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba dibatalkannya lagi. Dia sadar saat ini hati Tan Ki sedang diliputi penderitaan yang tidak terkatakan. Beribu-ribu kata-kata yang ada di hatinya, entah harus di mulai dari mana. Dia teringat apa yang terlihat olehnya belum lama yang lalu. Meskipun setelah diberitahukan oleh Cin Ie, dia baru menemui hal itu, tetapi dia tetap merasakan adanya ratusan anak panah yang dibidikkan ke arah jantungnya. Sakitnya tak perlu ditanya lagi. Rasanya dia ingin mencekal Liang Fu Yong ke hadapannya dan mencincangnya sehingga menjadi puluhan keping. Kemudian dia akan membawa Cin Ie pulang ke Lam Hay dan tidak diijinkan menginjak Tionggoan lagi selamanya agar tidak dapat bertemu dengan Tan Ki.

Tetapi ketika teringat bahwa Mei Ling kesalahan minum teh beracun sehingga pada malam pengantin tidak dapat melayani suami sebagaimana mestinya. Bahkan Tan Ki yang kebanyakan minum arak dan tidak dapat mengendalikan diri lagi, jadi kena getahnya sehingga melakukan perbuatan maksiat.

Pihak pertama salah, pihak kedua salah, tetapi Cin Ie yang paling bersalah kalau dipi- kirkan dengan kepala dingin. Apabila dia tidak menotok jalan darah di atas Bagian dada Tan Ki pada saat seperti itu, lalu seandainya Liang Fu Yong tidak bersedia mengorbankan dirinya sebagai alat pelampiasan, Tan Ki pasti akan mati karena luapan gairah yang tidak tersalurkan, apalagi dalam keadaan pembuluh darahnya membengkak.

Kalau dipikir sampai Bagian yang satu ini, dia merasa kedua-duanya juga tidak bersalah. Yang salah adalah kebetulan yang diatur oleh Thian yang kuasa. Seandainya kedudukan Liang Fu Yong diganti oleh adiknya, mungkin urusan justru tidak sampai begini runyam. Tetapi seandainya kedudukan Liang Fu Yong diganti oleh dirinya sendiri, entah bencana apa lagi yang bakal dialaminya?

Ketika berpikir sampai dirinya sendiri, terasa ada serangkum hawa dingin yang menyusup dalam hatinya. Tanpa dapat dipertahankan lagi tubuhnya bergetar. Bulu kuduknya seakan berdiri semua. Dia tidak berani membayangkan lebih lanjut.

Akhirnya dia menarik nafas perlahan-lahan. Tangannya diangkat ke atas untuk mera- pikan rambutnya yang awut-awutan karena tertiup angin.

“Meskipun kalian telah berbuat kesalahan, tetapi masalah ini juga tidak dapat menyalahkan kalian sepenuhnya. Semuanya ini telah diatur oleh Thian sebagai permainan nasib para anak manusia.”

Matanya yang bening dan indah melirik sekilas ke arah Tan Ki. Dia melanjutkan lagi kata-katanya dengan lirih. “Ketika di ruangan tamu tadi, aku mendengar Cian Locianpwe mengingatkan bahwa beberapa hari lagi Bulim Tay Hwe akan diselenggarakan. Dan kau diharuskan mengerahkan segenap kemampuan untuk merebut kedudukan Bulim Bengcu!”

Hati Tan Ki jadi tercekat.

“Bagaimana mungkin? Aku masih muda dan pengetahuanku dangkal sekali. Dalam hal ilmu silatpun belum dapat menandingi yang lainnya, mana bisa aku menerima tanggung jawab seberat itu?”

“Tetapi mereka sudah mengambil keputusan demikian, kau tidak bisa menolaknya lagi.” Tan Ki menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir.
“Apa yang tidak ingin kulakukan, mana boleh mereka memaksakan kehendaknya. Di bawah kolong langit sekarang ini, para golongan sesat sedang merencanakan taktik untuk mengadakan penyerbuan. Orang yang ingin menjabat kedudukan Bulim Bengcu, bukan saja ilmu silatnya harus tinggi sekali. Akal harus panjang, otak harus cerdas. Lagipula harus orang yang berjiwa pendekar dan berhati mulia namun tegas mengambil keputusan. Tanggung jawab ini tidak ringan. Sedangkan aku hanya seorang Bu Beng Siau-cut (prajurit tanpa nama).”

Tiba-tiba Liang Fu Yong menukas perkataannya, “Adik, kau juga bukan orang yang tidak mempunyai nama, apabila kau menampilkan wajah aslimu, para sahabat di dunia Bulim ini siapa yang tidak tahu…”

Wajah Tan Ki langsung berubah hebat.

“Jangan katakan lagi. Dalam keadaan terpaksa tanpa sengaja aku mendapat sedikit na- ma, tetapi bukan suatu yang patut dibanggakan. Aku tidak berniat berebut nama besar dalam keadaan seperti ini. Meskipun ada nama yang lebih hebat lagi, aku juga tidak berminat menjabat kedudukan Bulim Bengcu itu!” tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya, dia langsung membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.

Dari belakang punggungnya terdengar tarikan nafas panjang Cin Ying. Seperti keluh-an seorang isteri yang ditinggal suami. Hatinya yang sunyi dan hampa sampai tergetar dibuatnya. Namun, dia tetap meneruskan langkah kakinya tanpa menoleh sekalipun juga.

Perasaan hatinya saat ini sangat tertekan. Dia merasa semua yang ada di hadapannya hanya samar-samar. Kakinya diganduli beban yang berat sehingga sulit melangkah cepat. Gerakan tubuhnya bagai orang yang sakit parah. Langkahnya gontai dan berjalan setindak demi setindak tanpa tujuan sama sekali.

Setelah berjalan beberapa saat, dari arah depan berhembus segulungan angin sehingga menimbulkan perasaan dingin menggigil. Dia mengangkat kepalanya dan memandang,
bin-tang-bintang bertaburan, memberi cahaya ke seluruh benda-benda yang ada di permukaan bumi ini.

Mengingat kembali gelombang badai yang dialaminya tadi, dia tahu hal itu pasti akan mempengaruhi nama baiknya di masa yang akan datang. Dia merasa tidak mempunyai muka lagi untuk bertemu dengan siapa saja. Tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas panjang. Di dalam hatinya terselip perasaan pedih yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Tiba-tiba di Bagian tembok yang berada di kejauhan, dia melihat sesosok bayangan meloncat ke atas dan menghilang dalam kegelapan. Hatinya langsung tergetar.

‘Pada saat ini para pendekar sedang berpesta dan minum arak di ruangan depan dan pasti belum bubar. Entah siapa orang ini, rupanya nyalinya tidak kecil juga berani keluar masuk gedung keluarga Liu. Mungkinkah sebangsa perampok yang tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi serta bermaksud mengincar intan permata dan harta benda keluarga Liu?’ pikirnya diam-diam.

Begitu pikirannya tergerak, dia langsung menghentakkan sepasang kakinya dan mencelat naik ke atas atap rumah.

Dalam beberapa hari ini, dia sudah mendapat latihan lanjutan dari Cian Cong dan Yibun Siu San. Mereka membimbingnya dalam ilmu pernafasan serta tenaga dalam. Meskipun hanya beberapa hari yang singkat, tetapi kemajuan yang dicapainya sudah pesat sekali.
Dia bukan hanya merasa tubuhnya mengalami perubahan besar namun tenaga dalamnya sudah dapat menembus ratusan urat darah dalam tubuh serta hawa murninya dapat dialirkan secara merata ke Bagian bawah dan atas tubuhnya.

Tidak ada sedikit pun Bagian yang tidak tertembus olehnya. Dia tidak mengalami kesulitan sedikitpun. Oleh karena itu, begitu dia mengempos semangatnya, tubuhnya langsung melayang ke atas ke Bagian atap rumah yang tingginya kurang lebih tiga depaan. Gerakannya tidak serius malah membawa kesan semaunya saja.

Begitu matanya mengedar, ternyata dia melihat sesosok bayangan di Bagian utara dan sedang berlari dengan kencang. Kalau dilihat dari arah yang diambilnya, tampaknya orang itu sudah ingin meninggalkan gedung keluarga Liu.

Tan Ki tertawa dingin. Kakinya menutul di atas genteng rumah dan tubuhnya pun meluncur ke depan bagai sebatang anak panah. Dengan kecepatan yang tidak terkirakan dia mendarat turun di atas tanah lalu mengerahkan ginkangnya lagi mengejar ke depan.

Dia sudah memperhatikan arahnya dengan seksama. Bahkan jarak antara dirinya dengan orang itu. Meskipun dia mengejar dari atas. tanah dan pandangan matanya terhalang tembok-tembok rumah, tetapi dia tetap dapat memperhitungkan arah yang akan diambil oleh orang itu.

Setelah mengejar beberapa saat, ternyata dia berhasil melihat sesosok bayangan yang sedang bergerak-gerak di depan. Jaraknya sekarang tinggal satu depa lebih. Dan orang itu hampir meloncat naik ke atas tembok untuk meninggalkan gedung keluarga Liu.

Tan Ki langsung membentak dengan suara keras.
“Berhenti!”

Kakinya melesat ke depan bagai terbang, dengan dua kali loncatan yang dilakukan berturut-turut, dia sudah sampai di belakang punggung orang itu.

Mendengar suara bentakan Tan Ki yang datangnya tidak terduga-duga itu, orang itu tampaknya terkejut sekali. Mendadak dia menghentikan langkah kakinya serta membalikkan tubuh. Tan Ki memang sedang mengawasinya lekat-lekat. Dia melihat orang itu mempunyai bentuk tubuh tinggi kurus, ketika dia membalikkan tubuhnya, Tan Ki sudah melihat kalau di Bagian punggung orang itu menggembol sepasang senjata yang bentuknya seperti roda yang bergerigi.

Orang ini sama sekali tidak asing lagi bagi Tan Ki, dia adalah sute dari perkumpulan Pek Kut Kau Kaucu dari wilayah barat, yakni Kim Yu.
Tan Ki agak tertegun melihat siapa adanya orang itu.

“Entah apa maksud Saudara tengah malam menyatroni gedung keluarga Liu?”

Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba dia mendengar suara kibaran pakaian dari Bagian atas tembok. Begitu matanya memandang, tahu-tahu ada tujuh orang laki-laki bertubuh tinggi besar yang sedang melayang turun. Masing-masing berpakaian ketat dan membawa senjata. Wajahnya garang sekali. Tetapi tam-paknya orang-orang ini mempunyai perasaan tertentu terhadap Kim Yu. Setelah melayang turun semuanya segera mengepalkan sepasang tinju menjura dalam-dalam kepadanya namun tidak ada sepatah katapun yang terucapkan. Sikap mereka seakan menaruh hormat yang tinggi kepada Kim Yu.

Tan Ki tertawa dingin.

“Bagus sekali, rupanya kali ini kalian datang beramai-ramai untuk membakar rumah dan merampok harta benda orang?”

Sepasang alis Kim Yu langsung menj ungkit ke atas. Tampaknya dia merasa gusar sekali mendengar ucapan Tan Ki tadi. Tetapi dia tidak ingin meluapkan kemarahannya saat itu juga. Dengan tertawa dingin dia menyahut.

“Harap Engko cilik ini jangan menuduh yang bukan-bukan. Akhirnya malah akan membawa kesulitan bagi diri sendiri. Kali ini Hengte datang ke Lok Yang, rasanya masih belum pernah bertemu dengan orang yang sekasar dirimu ini.”

Tan Ki tetap tertawa dingin.

“Kalau begitu, tindakanmu yang keluar masuk seenaknya di rumah orang lain, boleh dianggap sangat pantas?”

Kata-kata ini diucapkan dengan nada yang tajam menusuk. Sindirannya telak sekali.
Untuk sesaat Kim Yu sampai kehabisan kata-kata yang dapat dijadikan debatan. Akhirnya dia malah jadi termangu-mangu.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang nyaring, getarannya bagai guntur yang menggelegar di angkasa. Orang yang mendengarnya seolah akan pekak telinganya.
Disusul dengan munculnya seorang laki-laki tinggi besar yang berasal dari rombongan ke tujuh orang tadi. Dia langsung menerjang maju dan berhenti di depan Tan Ki.

“Apakah kau sudah bosan hidup? Berani-beraninya mengucapkan kata-kata yang tidak sopan di hadapan Ji-ya (Tuan muda kedua) kami!”

Mata Tan Ki mengerling ke arahnya sekilas. Kemudian berhenti pada orang itu. Dia memperhatikannya dari atas kepala sampai ke ujung kaki.

“Siapa Saudara ini?”
Laki-laki tinggi besar itu mendongakkan wajahnya sambil tertawa terbahak-bahak. “Kalau kau sanggup mengalahkan aku, tentu akan kuberitahukan kepadamu siapa
diriku ini!

Tampaknya watak orang ini sangat kasar. Selesai berkata, dia tidak memberi kesempatan kepada Tan Ki untuk mengatakan sepatah katapun. Tiba-tiba lengannya terulur ke depan dan langsung dilancarkannya dua buah pukulan. Baik gerakan maupun kekuatan yang terkandung dalam pukulannya dahsyat bukan main. Bagai gulungan angin topan yang menerpa datang.

Hati Tan Ki tercekat melihatnya.

‘Tokoh-tokoh dari barat ternyata mempunyai kepandaian yang mengejutkan juga.’ pi- kirnya diam-diam.

Kakinya melangkah dua tindak, dengan cepat tiba-tiba dia memutar. Serangkum kekuatan yang tidak terkirakan hebatnya mengakibatkan lengan bajunya melambai-lambai. Pergelangan tangannya memutar kemudian menyerang dari atas ke bawah.

Laki-iaki bertubuh tinggi besar itu melihat dia mengelakkan diri dari serangannya, bah- kan sempat membalas sebuah serangan pula. Gerakan maupun kelebatan tubuhnya cepat dan aneh. Tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan seruan terkejut. Tubuhnya membungkuk sedikit menghindarkan diri dari serangan Tan Ki. Kemudian hampir dalam waktu yang bersamaan, telapak tangannya terulur ke depan dan menyusul dikerahkannya jurus kedua!