Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 25

 
Bagian 25
Angin masih berhembus semilir, rumput melambai-lambai. Pemandangan ini merupa- kan pemandangan yang menyentuh hati. Suasananya begitu mencekam dan mengandung kedukaan yang dalam.

Tampak Cin Ying masih berlutut tanpa bergeming sedikitpun. Biar bagaimanapun, dia adalah putri mantan Bengcu dari Samudera luar. Baik asal-usul maupun kedudukannya sangat terhormat. Tetapi demi urusan Cin Ie, dia rela menjatuhkan diri berlutut di depan kaki orang lain, tentu saja hal ini benar-benar jauh di luar dugaan anak muda itu.

Melihat pemandangan ini, Tan Ki jadi tertegun beberapa saat. Sejak terjun ke dunia Kangouw hingga sekarang, namanya sudah cukup terkenal. Dia juga sudah sering menemui kejadian yang bagaimanapun bahayanya. Tetapi cara Cin Ying berlutut di hadapannya tanpa memikirkan harga diri dan derajat sendiri, benar-benar merupakan hal yang belum pernah didengar apalagi ditemuinya. Walaupun biasanya dia sangat cerdas dan penuh akal, tetapi tak urung kali ini dia jadi terpana. Hatinya berdebar- debar dan untuk sesaat dia kelabakan tanpa tahu apa yang harus dilakukannya.

Tiba-tiba Cin Ie berjalan menghampirinya.

Di wajahnya yang penuh bintik-bintik tersirat kedukaan yang dalam. Dia ikut menjatuhkan diri berlutut di samping Cin Ying.

“Tan Kongcu, aku juga berlutut di samping Cici memohon padamu. Daripada susah- susah, lebih baik kan mengambil saja aku sebagai istri.”

Tan Ki mendengus dingin satu kali. Dia menghentakkan kakinya ke atas tanah saking kesalnya.

“Masalah pernikahan menyangkut kebahagiaan seumur hidup. Walaupun laki-laki boleh saja mempunyai tiga istri empat selir, namun bukan berarti boleh asal comot secara serampangan…”

Tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu hal, setelah berhenti sejenak, dia malah menutup matanya dan tidak jadi meneruskan ucapannya lagi.

Beberapa saat kemudian, dia seakan melampiaskan kekesalan dalam hatinya.
Dihembuskannya nafas panjang-panjang.

“Seandainya aku jadi menikahimu, apakah kalian tetap akan melaksanakan ketiga syarat tadi?”

“Betul.” sahut Cin Ying. “Ini…” Tan Ki menundukkan kepalanya sambil merenung.

Di dalam benaknya, sekejapan mata saja sudah terlintas berbagai kesulitan yang harus dihadapinya!

Dendam kematian ayahnya…

Kekasih pujaan hatinya yang diculik orang… Kedudukan Bulim Bengcu yang harus direbutnya…

Hanya mengandalkan kekuatan kedua kakak beradik itu, apakah mungkin bisa mem- bantunya menemukan pembunuh ayahnya?

Apakah sanggup mengembalikan Mei Ling-nya? Bahkan mereka berjanji membantunya merebut kedudukan Bulim Bengcu!

Tiga masalah yang bukan kepalang besarnya, apakah benar mereka mempunyai ke- mampuan untuk melaksanakannya sampai berhasil?

Lalu kalau dia tidak mengabulkan permintaan mereka, akibatnya tentu sudah dapat dibayangkan…

Pikirannya terus berputar, dia merasa otaknya seperti keruh. Dia tidak dapat memasti- kan mana yang harus dipilihnya dari dua macam persoalan yang saling bertentangan itu.

Tiba-tiba, dia menggertakkan giginya.

“Baiklah, kalian berdirilah. Aku akan mengabulkannya…”

Meskipun mulutnya berbicara, namun tanpa sadar otaknya membayangkan Mei Ling. Sejak pertama kali bertemu dengannya, penampilannya yang polos dan wajahnya yang menyiratkan kesucian terus terukir di dalam hatinya. Dia merasa dirinya sudah, terpikat dengan gadis itu. Sekarang ini karena didesak oleh keadaan, terpaksa dia melakukan hal yang bertentangan dengan kehendak hatinya. Dia sudah mengabulkan permintaan kedua gadis itu untuk mengambil Cin Ie sebagai selir. Seandainya kelak dia bertemu kembali dengan Mei Ling, apa yang akan terjadi? Pikirannya terus bergerak. Setelah merenung beberapa saat, tiba-tiba dia menarik napas panjang. Wajahnya terus berubah-ubah.
Kadangkala tampak bimbang, kadang tampak murung. Tampaknya dia masih belum bisa menenangkan perasaannya.

Sementara itu, Cin Ie langsung melonjak bangun. Mulutnya menyunggingkan tertawa lebar.

“Sejak sekarang aku adalah selirmu. Aku akan memasakkan nasi untukmu, mencuci pakaian m u dan melakukan banyak hal lagi untukmu…”

Watak gadis ini masih kekanak-kanakan, namun jiwanya sangat terbuka. Pikirannya sederhana. Di saat hatinya sedang senang, dia langsung menari-nari. Wajahnya memang penuh dengan bintik-bintik hitam, namun penampilannya.tetap menyiratkan kewajaran seorang gadis.

Dengan berurai air mata, Cin Ying berjalan menghampiri. Dia menggandeng lengan Cin Ie dan memaksakan seulas senyuman.
“Hati Tan Kongcu sangat mulia. Dia juga seorang pemuda yang berbakat tinggi di dunia Bulim. Kau harus melayani suami baik-baik. Sejak sekarang tidak boleh tertawa
sembarangan dan hanya ingat bermain saja.” katanya menasehati.

Hati Cin Ie mendadak menjadi perih, dua titik air mata jatuh membasahi pipinya. Dengan terharu dia berkata, “Cici, kau benar-benar terlalu baik kepadaku. Sejak Ayah
pergi menjadi dewa (meninggal), kau memperlakukan aku seperti darah dagingmu sendiri. Di saat dingin kau menyelimuti aku, kasih sayangmu semakin hari semakin bertambah.
Aku tidak tahu kemuliaan apa yang aku lakukan di masa lalu, sehingga hidup yang sekarang ini bisa mendapatkan seorang Cici sepertimu.”

Cin Ying mendengar ucapannya yang puitis, dia sendiri ikut terharu. Hatinya pilu tanpa dapat dipertahankan lagi. Air matanya juga mengalir bagai curahan hujan. Seandainya tempo dulu dia tidak kesalahan tangan sehingga otak adiknya ini tergetar dan mengakibatkan keterlambatan mental serta pikirannya kurang cerdas, tentu seumur hidup ini dia tidak akan dilanda penyesalan yang terus menerus dan menganggap dirinya mempunyai hutang yang tidak dapat dilunasi sampai kapanpun.

Akhirnya dia memaksakan seulas senyum yang penuh duka cita.

“Diantara kakak beradik, sudah seharusnya tolong menolong. Mengapa bicara hal yang bodoh?” matanya yang indah segera beredar, dia melihat Tan Ki sudah berjalan terlebih dahulu. Dia segera mengubah pokok pembicaraannya. “Kita juga sudah harus pulang. Im Ka Tojin dan Lu Sam Nio menunggu kita di penginapan Lai An. Kita harus menyelidiki jejak Mei Ling dari mulut mereka, kemudian baru mencari akal untuk menyelamatkannya.”

Cin Ie mengiakan dalam-dalam, tubuhnya berkelebat mengejar Tan Ki. Tadinya dia bermaksud mengutarakan sedikit isi hati kepada Tan Ki, dengan harapan akan mendapat sedikit perhatian dari anak muda itu. Tetapi ketika dia sudah dekat dengannya, mulutnya malah terasa kaku dan tidak tahu apa yang harus dikatakan olehnya. Sepasang alisnya terjungkit ke atas dan akhirnya malah membungkam seribu bahasa.

Tiga orang berjalan perlahan-lahan. Dalam hati mereka digelayuti pikiran yang berbeda-beda. Dari awal sampai akhir tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun. Bahkan sampai di penginapan Lai An, paling tidak mereka sudah menempuh perjalanan sejauh empat li. Namun mereka sama sekali tidak terlibat dalam pembicaraan.

Tepat ketika melangkah masuk ke dalam penginapan itu, tiba-tiba Cin Ying memanggil Tan Ki.

“Biar kami saja yang menyelidiki dulu jejak Liu Kouwnio, setelah itu baru bertemu kembali denganmu.”

Tan Ki menganggukkan kepalanya.

“Baiklah.” sembari berkata, dia langsung berpisah dengan kakak beradik, kemudian kembali ke kamar sendiri.

Begitu matanya memandang, dia melihat si pengemis sakti Cian Cong sedang berbaring di atas tempat tidur dan mendengkur. Serangkum bau arak yang tajam terendus dari hidungnya yang kembang kempis. Yibun Siu San dan Ceng Lam Hong entah pergi ke mana. keduanya tidak terlihat di dalam kamar.

Dalam beberapa hari ini, keadaan Tan Ki selalu kacau pikirannya dan kemudian tidak sadarkan diri. Sampai saat sekarang ini dia tidak tahu bahwa ibunya sering mendampingi. Cian Cong seakan tersentak bangun oleh langkah kaki Tan Ki yang ringan. Matanya terbuka sedikit. Dia melirik Tan Ki sekilas, kemudian dengan acuh tak acuh dia membalikkan tubuhnya dan memejamkan mata kembali.

Tan Ki sendirian termangu-mangu di dalam kamar. Kira-kira setengah kentungan telah berlalu. Lama kelamaan dia merasa hatinya kalut, juga terasa iseng karena tidak ada yang dapat dilakukan. Tanpa sadar tangannya membuka sebuah laci dan mengeluarkan sebuah kitab yang ada di dalamnya.

Dia membuka satu per satu halaman dari buku tersebut. Buku ini sangat tipis. Isinya paling-paling dua belas lembar. Bahan kertasnya juga istimewa, mungkin inilah yang membuatnya berharga. Di depan sampulnya terdapat lima huruf yang ditulis dengan tinta emas. Rupanya sebuah kitab doa-doa agama Budha.

Setelah melihat beberapa kali, akhirnya dia tersenyum sendiri.

‘Selagi iseng begini, membaca kitab berisi doa-doa seperti ini tidak juga masuk otak, apalagi isinya mengandung makna yang dalam. Artinya saja tidak dapat dipahami, jadi buat apa aku membacanya?’

Dengan sikap enggan dia melemparkan kitab tadi ke atas meja.

Perlu diketahui bahwa ilmu silatnya sekarang ini bila digabung dengan pengetahuan serta pengalaman yang luas, boleh dibilang sudah termasuk jago kelas satu di dunia Kangouw. Selama beberapa hari ini dia mendapat pengarahan pula dari Cian Cong serta Yibun Siu San. Mereka mengajarkan ilmu lwekang dan cara mengatur pernafasan yang benar. Dirinya bagai hancuran kerikil yang ditempa menjadi sebuah bukit. Laksana sebuah kotak berisi benda pusaka yang bara ditemukan kuncinya sehingga menemukan harta benda yang tak ternilai. Tadinya banyak Bagian jurus dan gerakan yang tidak dimengertinya, satu per satu telah berhasil dipecahkan saat ini. Namun rasa bingung serta iseng seperti sekarang ini, seharusnya tidak dimiliki oleh seseorang yang berilmu tinggi.

Diam-diam dia mengedarkan pandangan nya dan melihat dekorasi yang ada di dalam kamar. Gerakannya ini hanya merupakan refleksi orang yang kekurangan pekerjaan, dari pada bengong. Mungkin pemilik penginapan ini percaya sekali dengan agama Budha.
Gambar serta lukisan yang tergantung sebagai hiasan ruangan merupakan gambar diri Dewi Kuan Im, Dewa Lo Han serta Dewa Kwan Kong. Ada lagi beberapa lukisan yang bergambar hwesio dan kebanyakan dilukis oleh orang yang terkenal.

Tan Ki hanya memperhatikan sejenak. Dia merasa benda-benda ini sama sekali tidak menarik. Ketika dia membalikkan tubuhnya, tiba-tiba sinar matanya terpaku pada sebuah lukisan. Begitu dia memperhatikan dengan seksama, dia melihat bahwa lukisan ini tidak banyak bedanya dengan lukisan umum. Goresan gambarnya menggunakan pit namun gayanya sangat indah. Setiap garisnya terlihat nyata. Di dalam lukisan itu tampak, sebatang pohon Yang Liu yang besar. Di bawahnya berdiri seorang laki-laki tegap dengan wajah bersih dan gagah. Dia sedang menggapai tangannya, seolah memancing perhatian ikan lele emas yang ada di kolam yang terdapat di hadapannya.

Sebetulnya lukisan itu tidak ada keistimewaan apa-apa. Tetapi gerakan tangan laki-laki itu, begitu terpandang olehnya serasa tidak asing. Dia seperti pernah melihatnya namun untuk sesaat dia lupa di mana. Tetapi dia yakin gerakan itu terpatri di benaknya. Dia berusaha merenung beberapa saat, namun otaknya hanya membentuk bayangan yang samar-samar dan ingatan itu tetap tidak datang juga.
Pada dasarnya watak Tan Ki sangat keras kepala. Sesuatu hal yang semakin tidak diingatnya, malah membuat anak muda itu semakin penasaran. Oleh karena itu dia segera memejamkan matanya dan berusaha memusatkan pikirannya.

Hampir setengah kentungan lamanya dia memejamkan mata merenungkan gerakan itu. Tiba-tiba matanya membuka dan matanya menyorotkan sinar yang berkilauan. Wajahnya berseri-seri. Tampangnya bersemangat sekali.

Rupanya ketika pertama kali dia masuk ke dalam Pek Hun Ceng dan bertarung melawan ketiga puluh enam jenderal langit asuhan Oey Kang, pernah dalam keadaan terdesak di benaknya terlintas suatu ingatan. Saat itu ilmu Te Sa Jit-sut yang tidak dipahaminya, tiba-tiba dapat dikerahkan, meskipun akhirnya dia terkena sebuah pukulan. Justru di saat itulah kelima jurus yang lainnya langsung terlupa lagi. Namun, biar bagaimanapun Tan Ki sudah mempunyai kesan yang dalam. Oleh karena itu, begitu melihat gerakan tangan laki-laki di dalam lukisan tersebut, dia merasa tidak asing.
Ilhamnya datang secara mendadak, satu demi satu gerakan Te Sa Jit-sut mengalir keluar dari pikirannya.

Penghasilan yang tidak terduga-duga ini, melebihi segalanya. Bahkan tidak ternilai dengan harta benda. Bagaimana dia tidak jadi bersemangat dan wajahnya menyiratkan ke-gembiraan yang tidak kepalang besarnya?

Tan Ki bahkan masih merasa takut kalau ilham ilmu ini datangnya cepat menghilang- nya pun cepat. Ditekannya perasaan hatinya yang menggebu-gebu, perlahan-lahan dia memejamkan matanya dan mengingat sekali lagi. Dari jurus pertama sampai ketujuh direnung-kannya baik-baik. Akhirnya semua dapat dihapal luar kepala.

Entah sejak kapan, tahu-tahu terdengar suara Yibun Siu San yang berat sedang ter- tawa kecil.

“Anak Ki, urusan apa yang membuat kau berpikir sedemikian rupa?”

Rupanya Tan Ki sedang dilanda puncak kegairahan dan kegembiraan karena berhasil mengingat kembali ilmu Te Sa Jit-sut. Dia sama sekali tidak menyadari kapan pamannya masuk ke kamar tersebut. Mendengar suaranya, dia baru terkejut setengah mati. Cepat- cepat dia menolehkan kepalanya dan menjawab dengan ragu, “Tidak ada apa-apa.”

Tiba-tiba si pengemis sakti Cian Cong tertawa terbahak-bahak. Dia langsung melonjak turun dari tempat tidur.

“Meskipun si pengemis tua sedang tidur, tapi mata ini tetap terang. Sepasang alis si bocah cilik ini terus berkerut, tampaknya sedang merenungi suatu masalah yang berat. Kalau bukan meresahkan kekasihnya yang sampai sekarang masih belum diketahui jejaknya, pasti ada sangkutannya dengan pelajaran ilmu silat yang tidak dipahaminya.” tukas orangtua itu.

Yibun Siu San hanya mengeluarkan suara ‘oh…’ satu kali namun tidak mendesak lebih lanjut. Dia malah menganggukkan kepalanya dua kali kepada Cian Cong.

“Urusan itu sudah diselesaikan dengan baik. Untuk sementara ini mereka tidak akan bertemu satu sama lainnya, sehingga pikirannya tidak akan terganggu yang mana akan merusakkan berbagai persoalan.”

Tan Ki tidak tahu urusan apa yang dimaksudkannya. Mendengar kata- kata paman ke- tiganya, dia menjadi termangu-mangu.

Sebetulnya, ketika dia keluar dari kamar, Yibun Siu San dan Cian Cong yang tahu bahwa dalam hati anak muda itu terdapat kesalah pahaman yang dalam terhadap ibunya sendiri. Mereka bersepakat untuk mencari jalan yang baik agar Tan Ki dapat memahami duduk perkara yang sebenarnya. Anak muda itu tidak tahu siapa pembunuh ayahnya yang sebenarnya. Kehadiran Ceng Lam Hong yang tiba-tiba itu mungkin akan menimbulkan masalah yang besar dan memperdalam kesalahpahaman yang memang sudah ada. Oleh karena itu, Yibun Siu San dan Cian Cong berunding beberapa saat yang mana akhirnya diputuskan agar mengungsikan Ceng Lam Hong untuk sementara. Kemudian mereka akan mencari kesempatan menjelaskan dengan terperinci kesalahan tanggapan Tan Ki terhadap ibunya sendiri.

Cian Cong tersenyum simpul mendengar laporan Yibun Siu San..Dia juga tidak mena- nyakan lebih lanjut. Tangannya mengelus-elus perutnya sendiri.

“Hari sudah hampir gelap. Cepat panggil pelayan, sediakan hidangan yang lezat serta arak yang bagus.” katanya kemudian.

Yibun Siu San keluar dari kamar sambil

tertawa lebar. Dia segera memanggil pelayan dan meminta berbagai pesanan.

Malam itu juga, Yibun Siu San dan Cian Cong secara bergantian mengajari lagi ilmu lwekang kepada Tan Ki. Sampai kentungan kedua berbunyi. Tan Ki pulang ke kamarnya sendiri dengan tubuh yang letih serta penat. Tanpa mengganti pakaian lagi dia langsung menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.

Baru saja dia merasa mengantuk, tiba-tiba telinganya mendengar suara sedikit gerakan.
Tampaknya seperti batu kecil yang dilemparkan ke arah jendela kamarnya. Suara itu memang lirih sekali, hampir mirip dengan kibaran lengan baju seseorang. Namun pada malam sunyi seperti itu, sedikit suarapun dapat terdengar jelas, apalagi bagi seorang yang memiliki ilmu silat tinggi. Hati Tan Ki tercekat, tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung melompat turun dari tempat tidurnya. Dia segera menghimpun tenaga dalamnya dan bersiap siaga untuk menghadapi musuh.

Begitu matanya memandang, dia melihat di luar jendela melongok kepala seseorang. Di bawah cahaya rembulan tampak rambutnya yang panjang terurai, wajahnya penuh dengan bintik-bintik hitam. Rupanya si gadis bodoh,

Cin Ie. Hatinya tergerak, baru saja dia ingin mengucapkan sesuatu, tiba-tiba Cin Ie memberi isyarat dengan telunjuknya yang diluruskan di depan bibir, kemudian tangannya menggapai-gapai. Setelah itu, tanpa menunggu jawaban dari Tan Ki, dia langsung mengge-rakkan tubuhnya dan melesat keluar kemudian menghilang dari pandangan.

Tan Ki tahu dia tidak ingin mengejutkan Yibun Siu San dan Cian Cong yang tidur di kamar sebelah. Setelah merenung sejenak, akhirnya dia juga ikut melesat keluar dari ka- marnya.
Begitu matanya beredar, Cin Ie sudah berdiri di atas tembok pekarangan dan mengga- paikan tangannya sekali lagi. Angin malam berhembus sepoi-sepoi. Pakaian gadis itu sampai berkibar-kibar dibuatnya. Di lihat dari kejauhan, meskipun tidak terlalu jelas, bentuk tubuhnya yang langsing dan lemah gemulai malah menampilkan kesan yang anggun.

Hati Tan Ki tergerak melihatnya. Tiba-tiba dia merasa biar pun wajah seorang gadis ada yang cantik jelita bahkan menurut cerita dapat meruntuhkan sebuah negara, namun orang tidak mungkin muda selamanya. Pada

hakekatnya hanya kulit luar yang membungkus tulang belulang. Kecantikan hanya dapat dinikmati tidak seberapa lama dan kalau sudah mati semuanya tetap kembali menjadi tanah.

Pikiran ini melintas di benaknya. Karena hal ini pula maka pandangannya terhadap Cin Ie jauh berbeda. Dalam hatinya timbul perasaan kasihan dan dia bersumpah dalam hatinya untuk tidak memandang hina gadis itu lagi.

Dia segera menghentakkan kakinya dan seringan kapas tubuhnya melesat lalu sampai di atas tembok.

Cin Ie tidak menunggu sampai anak muda itu mengajukan pertanyaan. Dia langsung berkata, “Ada sebuah pertunjukkan yang hampir dimulai. Apakah kau mau pergi melihatnya?”
Tan Ki jadi tertegun. Dengan pandangan tidak mengerti, dia bertanya, “Pertunjukkan “Pada kentungan ketiga malam ini, banyak orang-orang Si Yu (pada zaman dinasti Han,
di perbatasan pintu gerbang Giok Bun ada gerombolan asing yang menetap di sana dan
mereka menyebut wilayah mereka sebagai Si Yu berkumpul di sebuah kuil tua sebelah Utara kota. Mereka mengadakan pertemuan di sana.” sahut Cin Ie.

Hati Tan Ki tercekat mendengarnya. Dengan perasaan terkejut dia bertanya, “Benar?
Apakah kakakmu juga hadir di sana?”

Cin Ie menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Sejak kecil aku memang sangat bodoh, urusan apapun aku tidak mengerti. Berita ini didapatkan Cici Ying tanpa sengaja, dia menyuruh aku memberitahukan kepadamu…”

Tan Ki berpikir sejenak, kemudian kepalanya menoleh ke kiri dan kanan. Setelah yakin tidak ada orang yang melihat mereka, baru dia menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, mari kita pergi!”

Tubuhnya langsung bergerak mencelat ke depan, dia mendahului Cin Ie berlari duluan.
Ilmu silatnya sekarang ini sudah jauh berbeda dengan sebelumnya. Begitu dia mengerahkan ilmu ginkangnya, orangnya bagai segulungan angin yang berhembus lewat. Begitu mencelat ke atas dan turun kembali, tubuhnya sudah berada pada jarak kurang lebih dua depaan jauhnya.
Cin Ie berusaha mengejar, namun biar bagaimanapun dia mengerahkan ilmu ginkang- nya, tetap saja Tan Ki tidak tersusul olehnya. Kadang-kadang malah saking lambatnya, anak muda itu harus berhenti dulu menunggunya.

Kurang lebih sepeminum teh kemudian, kedua orang itu sudah meninggalkan pusat kota. Sesampai di luar kota tersebut, tampak rembulan bercahaya terang, sinarnya berkilauan laksana perak. Dahan-dahan yang kering dan daun-daun berguguran di atas tanah. Meski berjarak sepuluh depaan pun orang tetap dapat melihat keindahan malam di musim semi ini. Diam-diam Tan Ki mengerutkan sepasang alisnya.

‘Orang yang berjalan di malam hari, biasanya menghindari bulan mengikuti angin.
Menghindari salju mengikuti awan. Kalau dengan cara terang-terangan begini, bagaimana mungkin dapat menyelidiki apa-apa tanpa diketahui jejaknya oleh orang lain?’ pikirnya dalam hati.

Tanpa sadar dia jadi meringankan langkah kakinya. Cin Ie mendongakkan wajahnya memandang anak muda itu sekilas.

“Kenapa kau?” tanyanya heran.

Tan Ki tidak ingin pikirannya diketahui oleh gadis itu. Dia sengaja mengalihkannya ke masalah yang lain.

“Urusan Liu Kouwnio, apakah kalian sudah mendapatkan hasilnya?”

“Jejaknya sudah diketahui, sementara ini hanya menunggu kesempatan yang baik, ke- mudian segera turun tangan menyelamatkannya.”

Tan Ki hanya menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba langkah kakinya menarik jarak yang agak panjang dan melesat ke depan. Tadinya dia masih ingin mengajukan beberapa pertanyaan, umpamanya di mana tempat Mei Ling disekap oleh para penculiknya. Tetapi setelah direnungkan sesaat, dia merasa Cin Ie dan kakaknya toh kenal baik dengan Im Ka Tojin, lebih baik biar mereka yang urus saja masalah ini. Dengan demikian dirinya juga tidak perlu bersusah payah. Oleh karena itu, setelah mengajukan satu pertanyaan, dia juga tidak berkata apa-apa lagi.

Cin Ie mengejar ke depan dua langkah, sekejap saja dia sudah sampai di belakang Tan
Ki.

“Menurut apa yang kudengar dari Cici, katanya Liu Kouwnio itu adalah putri dari Bu Ti
Sin-kiam Liu Seng. Apabila orangnya sudah tertolong, apakah harus diantarkan ke kota Lok Yang?”
“Apakah Cirimu bermaksud melindunginya sampai di rumah?” “Betul. Ciri memang bermaksud demikian.”
“Baiklah, antar saja dia pulang dulu ke rumah. Toh, nantinya aku juga harus ke sana menghadiri pertemuan besar Bulim Tay Hwe.” setelah berhenti sejenak, dia mengalihkan po-kok pembicaraan. “Lalu, apa yang akan kau lakukan sejak sekarang?”
Cin Ie tertawa santai.

“Aku kan sudah menjadi orangmu. Ke mana pun kau pergi, tentu saja aku juga harus ikut.”

Sembari berbicara, dari dalam lengan bajunya dia mengeluarkan seekor merpati putih. Dilepasnya merpati itu terbang ke udara. Tampak sepasang sayap burung itu berkepak-ke- pak lalu terbang tinggi ke angkasa dengan kecepatan yang mengagumkan. Laksana guratan berwarna perak yang menggantung di angkasa, semakin lama semakin jauh dan dalam sekejap mata sudah menghilang dari pandangan.

Tan Ki memandangnya dengan curiga. “Untuk apa kau melakukan hal ini?” Cin Ie tertawa lebar.

“Di bawah kaki binatang ini terdapat sebuah tabung kecil yang berisi surat. Aku mem- beritahukan kepada Ciri, apabila dia sudah berhasil menolong Liu Kouwnio, maka biar dia melindungi gadis itu sampai di rumah.”

Sementara keduanya bercakap-cakap, sebentar saja mereka sudah mencapai jarak tujuh li. Sinar rembulan bercahaya dengan terang, dua sosok tubuh itu bagai bintang komet jatuh yang melesat dengan cepat.

Begitu mata memandang, tidak jauh dari hadapan mereka terdapat sebuah bukit yang cukup luas. Ternyata di sana memang ada sebuah kuil. Warna temboknya merah menyala, atapnya berwarna hijau. Bangunan itu sendiri terlindung di balik sebatang pohon yang besar dengan dedaunan yang rimbun.

Suatu ingatan terlintas di benak Tan Ki, baru saja dia bermaksud mengatakannya, tiba- tiba telinganya menangkap suara tawa yang lirih. Suara tawa ini berasal dari pepohonan di sebelah kiri. Meskipun suaranya sangat rendah sekali namun bagai jarum yang menusuk gendang telinga dan menggetarkan hati orang yang mendengarnya jadi tidak tenang.

Perlahan-lahan Tan Ki jadi tertegun. Dia segera menghentikan langkah kakinya dan pandangan matanya beredar. Dia melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, tangannya menggenggam sebilah golok besar dan berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari belakang sebatang pohon.

Tan Ki bermaksud menyelidiki keadaan orang. Tidak disangka-sangka belum sampai di tujuan, jejaknya sudah diketahui oleh orang lain. Melihat gerakan tubuh laki-laki tinggi besar itu yang gagah dan cepat, dapat dipastikan ilmu silat orang ini lumayan juga.
Hatinya menjadi tergerak. Dia menoleh ke arah Cin Ie. “Apakah kau ingin bermain-main?”
Watak Cin Ie memang paling suka bermain. Mendengar kata-kata Tan Ki, wajahnya jadi berseri-seri seketika.

“Tentu saja ingin.” sahutnya segera.

“Kalau begitu sebentar lagi kita menerjang masuk ke dalam kuil dan membuat keonaran di sana.”
Pada saat itu, laki-laki bertubuh tinggi besar itu sudah menghambur ke depannya. Tan Ki sengaja memamerkan seulas senyuman dan menjura dalam-dalam.

“Silahkan.” katanya.

Padahal laki-laki bertubuh tinggi besar itu bertugas mengawasi keadaan di luar kuil secara diam-diam. Melihat sikap Tan Ki yang lembut dan penuh sopan santun, tanpa dapat ditahan lagi dia jadi termangu-mangu. Dengan gugup dia juga menjura kepada Tan Ki.

“Entah siapa Saudara yang mulia?” Tan Ki tersenyum simpul.
“Selamanya Cayhe datang dan pergi sesuka hati sendiri. Bertemu belum tentu harus saling mengenal, buat apa menanyakan nama segala?”

Wajah laki-laki tegap itu langsung berubah kelam.

“Tidak memberitahukan nama, jangan harap maju ke depan satu langkah!”

Tan Ki memang sudah berniat untuk mengacau dan mencari gara-gara. Melihat orang itu mulai marah, hatinya malah bertambah senang. Dia segera mengembangkan seulas senyuman datar dan maju beberapa langkah.

“Cayhe selamanya tidak percaya ancaman orang lain!”

Laki-laki tegap itu memutar goloknya dengan kencang sehingga menimbulkan cahaya berwarna keperakan.

“Mengapa kau tidak mencobanya saja?”

Menghadapi cahaya yang memijar dari gerakan golok itu, memang ada serangkum hawa dingin yang terpancar dari dalamnya.

Tapi Tan Ki seakan tidak merasa gentar sama sekali. Dia tetap maju selangkah demi selangkah mendekati orang itu.

Watak laki-laki itu sangat berani dan juga termasuk manusia yang kasar. Namun melihat ada orang yang demikian tenang menghadapi lawan, mau tidak mau hatinya jadi bingung. Sesaat kemudian dia mengeluarkan suara siulan yang panjang seakan sedang memberitahukan kepada para rekannya yang ada di dalam kuil. Setelah itu dia membentak dengan suara keras.

“Kalau kau maju lagi satu langkah, jangan salahkan kalau aku tidak ingat sopan santun lagi!”

Wajah Tan Ki tetap tersenyum simpul. Dia tidak melirik laki-laki itu sedikitpun. Kakinya terus melangkah menuju ke arah kuil. Penampilannya, tidak tergesa-gesa, seakan tidak ada apapun yang terjadi.

Hati laki-laki itu jadi panas. Dia tertawa dingin satu kali, diam-diam dikerahkannya tenaga dalam sebanyak tujuh Bagian. Pergelangan tangannya digetarkan. Timbul percikan
berwarna perak seperti hujan yang membawa hawa dingin. Dengan gencar dia menyerang ke arah Tan Ki.

Serangan itu keji sekali, sinar yang terpanccar dari goloknya beterbangan di udara dalam bentuk besar kecil dan jumlahnya banyak sesali. Tan Ki mengeluarkan suara tawa terkekeh-kekeh. Ternyata dia masih tetap tenang seakan tidak terjadi apapun. Telapak tangan-nya terulur ke depan, segera terasa ada serangkum tenaga yang kuat mengiringi pukulannya yang mana langsung membuat lawannya terdesak sehingga goloknya tidak dapat maju lagi.

Laki-laki itu merasa golok di tangannya bagai tertahan suatu arus yang dahsyat bahkan di dalamnya terkandung magnet yang dapat menghisap. Jangan kata mendorong lagi ke depan, malah untuk digerakkan saja sulit.

Diam-diam hatinya tercekat. Kakinya bergeser ke samping, tangannya langsung mengerahkan jurus Kerbau Mengamuk Menerjang Gunung, langsung diluncurkan ke dada Tan Ki. Perlahan-lahan Tan Ki berdehem satu kali, tubuhnya miring ke samping, dengan gaya yang lemas dia sudah meloloskan diri dari serangan tersebut.

Gerakan tubuhnya yang menerjang keluar tadi sangat aneh dan cepat. Ternyata sekaligus dia berhasil meloloskan diri dari serangan pukulan dan golok lawan. Tampak tubuhnya berputaran sebanyak dua kali. Orangnya sudah melesat lewat di samping laki- laki itu. 

Langkahnya bagai air yang mengalir. Tahu-tahu dia langsung menghambur ke arah bukit. Gerakannya yang bagai hembusan angin, benar-benar mempesona. Cin Ie tidak mau ke-tinggalan. Dengan gerakan yang cepat dia langsung membuntuti Tan Ki dan sekejap ke-mudian dia sudah berlari di samping anak muda itu.

Laki-laki tegap itu sama sekali tidak menyangka gerakan tubuh Tan Ki akan meluncur terus tanpa terduga-duga. Untuk sesaat dia jadi tertegun, namun Tan Ki sudah berada di kejauhan, cepat-cepat dia membentak dan mengerahkan ginkangnya mengejar.

Di bawah cahaya rembulan, tampak tiga sosok bayangan. Yang dua kabur dan yang satu mengejar. Kecepatannya bagai bintang komet yang melintas di angkasa. Tampak jarak mereka dengan kuil itu tinggal beberapa depa saja. Tiba-tiba tampak sosok bayangan mencelat ke udara dan dengan kecepatan yang mengagumkan mendarat turun di hadapan mereka. Gerakannya begitu indah, ringan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Tan Ki segera mengempos hawa murninya dan menghentikan gerakan tubuhnya seketika. Begitu matanya memandang, dia melihat usia keempat orang itu kurang lebih empat puluh tahunan. Mereka mengenakan jubah panjang dan bertelanjang kaki. Dengan ber-dampingan mereka berdiri menghadang di tengah-tengah.

Tampaknya keempat orang ini mempunyai perasaan hati yang sama. Sebelum lawan mengadakan gerakan, mereka tidak akan mengambil tindakan apa-apa. Sejak sepasang kaki mereka mendarat di atas tanah, semuanya berdiri tegak dengan wajah kelam.
Sepatah katapun tidak mereka ucapkan. Empat pasang mata memandangi Tan Ki dengan sinar tajam menusuk.
Tan Ki tersenyum lebar sambil membungkukkan tubuhnya menjura. Wajahnya tenang dan penampilannya gagah.

“Saudara berempat, silahkan.”

Melihat Tan Ki terlebih dahulu memberi penghormatan serta mempersilahkan mereka, keempat orang itu malah jadi terpana. Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang parau.

“Toako, cepat tahan orang itu!”

Begitu kepala Tan Ki menoleh, dia melihat laki-laki bertubuh tinggi besar yang mengejar dari belakang itu sedang meloncat dua kali dan menerjang datang dengan kecepatan seperti kilat. Tampak seluruh tubuh dan wajahnya basah oleh keringat.
Nafasnya bagai kerbau akan disembelih. Pengejarannya tadi seolah memakan tenaga yang banyak dan membuatnya hampir kehabisan tenaga. Begitu tubuhnya melayang turun, dia menuding ke arah Tan Ki dengan nafas tersengal-sengal. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya…

Tan Ki menatapnya sekilas. Dengan tampang penuh perhatian dia berkata, “Tampak- nya Saudara ini sudah terlalu lelah. Ada baiknya pulang dulu untuk beristirahat baru kembali lagi.”

Laki-laki tegap itu seakan merasa bahwa ilmu silatnya sendiri memang kalah jauh dibandingkan dengan lawan. Disindir sedemikian rupa, saking jengkelnya dia mendengus satu kali. Tetapi dia tidak berani maju ke depan untuk mengambil tindakan. Terpaksa dia menahan kemarahan hatinya dengan memalingkan wajahnya dan tidak ingin melihat Tan Ki lagi.

Laki-laki yang berdiri di sebelah kiri mendadak menegakkan tubuhnya dan berjalan ke depan. Dia menjura dalam-dalam.

“Dari mana datangnya kalian berdua dan kemana tujuannya? Lebih baik katakan secara terus terang sehingga kami juga dapat memperlakukan kalian dengan sopan.” sembari berkata, wajahnya mengembangkan senyuman yang aneh. Mulutnya mengeluarkan suara ter-tawa terkekeh-kekeh sebanyak dua kali. Tan Ki tertawa lebar.

“Kedatangan Cayhe sebetulnya tidak bermaksud buruk. Hanya ingin mewakili dunia Bulim wilayah Tionggoan dengan memberanikan diri menyambut kelompok Si Yu. Entah sampai di mana kehebatannya sehingga berani mengadakan pertemuan di tempat ini!”

Mendengar ucapannya, kelima orang itu terkejut bukan main. Sama sekali tak dis- angka anak muda yang lembut itu dapat mengetahui asal-usul mereka, padahal mereka sendiri tidak tahu siapa adanya Tan Ki. Wajah mereka mulai berubah. Untuk sesaat mereka saling pandang. Orang yang ada di sebelah kiri mengerlingkan matanya sekilas kemudian menjura sambil mengeluarkan suara batuk kering. Kemudian dia tertawa terkekeh-kekeh.

“Bagus sekali, bagus sekali! Kami beberapa saudara sedang menikmati indahnya rembulan di tempat ini. Mungkin kehadiran kami mengejutkan Saudara, maaf!” selesai berkata dia membungkukkan tubuhnya rendah-rendah.
Tan Ki merasa ada serangkum tenaga yang kuat mendorong keluar berbarengan dengan tubuh orang itu yang membungkuk dan langsung menerjang ke arah dadanya. Dengan wajah tetap tersenyum dia mengencangkan kepalan tangannya dan balas menjura.

Terdengar suara benturan tenaga dalam yang perlahan. Tubuh keduanya bergetar sedikit. Melihat serangannya tidak membawa hasil, orang itu langsung mendengus dingin.

“Ilmu Saudara hebat sekali.” Tan Ki tersenyum simpul. “Sama-sama.”
Dari malu orang itu malah menjadi marah. Wajahnya langsung berubah hebat.

“Kalau kalian masih ada teman seperjalanan yang lain, mengapa tidak disuruh keluar sekalian? Biar kami belajar kenal dengan orang-orang gagah yang ada di Tionggoan!”

“Jumlah kami memang hanya berdua, sama sekali tidak ada rekan perjalanan yang lain.”

Laki-laki setengah baya itu mengerutkan alisnya. Dia seperti bergumam seorang diri. “Apakah mataku sudah lamur sehingga salah lihat?”
Mendengar kata-katanya, Tan Ki langsung menolehkan kepalanya dan mengedarkan matanya ke sekitar tempat itu. Tampak bintang-bintang berkedip-kedip. Di sekelilingnya tetap sunyi senyap tanpa orang lainnya kecuali mereka.

“Tidak perlu curiga yang bukan-bukan. Kalau aku bilang kami hanya berdua, kalian tetap tidak percaya, apa boleh buat.”

Sembari berkata, dia mengibaskan tangan kanannya dan melangkah maju. “Harap minggir, aku akan lewat!”
Tiba-tiba terdengar orang yang kedua di sebelah kiri mendengus dingin. Dia segera maju setengah tindak. Kalau ditilik dari tampangnya, tampaknya orang itu segera akan turun tangan.

Dengan menarik nafas dalam-dalam, mendadak Tan Ki mendekat ke arah orang itu.
Pergelangan tangannya berputar, dengan jurus Menuju Jalan Kembali, dia langsung melancarkan sebuah totokan.

Jurus ini merupakan jurus keempat dan ilmu Te Sa Jit-sut yang baru berhasil diingatnya. Sepasang lengannya melakukan gaya satu di atas dan satu lagi di bawah. Dengan serentak dia mendorong ke depan, kecepatannya jangan ditanyakan lagi. Orang itu tadinya sudah menyiapkan diri melakukan serangan, tahu-tahu totokan Tan Ki yang tidak terduga-duga telah meluncur datang dan dengan telak mengena di bahunya. Tiba- tiba dia merasa tubuhnya seperti digigit semut dan seluruh kekuatannya seperti hilang. Perlahan-lahan dia terkulai di atas tanah.

Pada saat yang bersamaan dengan totokan yang dilancarkan pada orang tersebut,  jurus Menuju Jalan Kembali belum rampung. Tangan kanan Tan Ki dengan kecepatan yang dahsyat juga melancarkan sebuah totokan ke arah orang kedua yang ada di sebelah kiri.

Pihak lawan sama sekali tidak menduga dia akan melakukan serangan itu, dalam sekali gerak telah mengincar dua orang. Untuk sesaat dia jadi termangu-mangu. Belum lagi tubuhnya sempat bergerak, tahu-tahu urat darahnya telah tertotok. Setelah mendengus satu kali, orangnyapun tumbang ke atas tanah,

Dalam sekali gerak saja Tan Ki sudah berhasil merobohkan dua orang. Dirinya sendiri juga merasa hal itu diluar dugaan. Dia sama sekali tidak mengira kalau Te Sa Jit-sut mempunyai kekuatan yang demikian hebat.

Tepat pada saat itu juga, orang yang ada di sebelah kanan mencelat ke atas. Tangannya melancarkan sebuah pukulan dan terarah ke Bagian kepala Tan Ki.

Angin yang timbul dari pukulan itu menderu-deru. Meskipun kekuatan serangan ini belum sanggup menembus logam, namun kehebatannya sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Kekuatannya paling tidak puluhan kati.

Laki-laki tegap yang menggenggam golok dari tadi memang sudah menunggu kesempatan. Melihat rekannya bergerak, dia segera mengeluarkan suara bentakan, tubuhnya melesat ke depan. Goloknya menimbulkan cahaya yang memijar. Dengan lurus dia melancarkan sebuah totokan dengan ujung golok ke arah urat darah yang membahayakan.

Sepasang kaki Tan Ki menutul, tubuhnya langsung mencelat ke udara. Dia melintas di atas semak-semak dan menghindar dari sayangan golok dan pukulan kedua orang itu.

Kedua orang itu melihat lawannya melesat ke udara, dengan cepat mereka mengejar. Ti-dak menunggu sampai tubuh lawan melayang turun ke atas tanah, serentak mereka melaku-kan serangan. Untuk sesaat tampak cahaya golok seperti salju yang turun, bayangan telapak tangan memenuhi sekitar. Keduanya menyerang Tan Ki dari kiri kanan.

Tan Ki mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara siulan panjang. Suaranya melengking tinggi sehingga berkumandang sampai kejauhan. Dia menarik nafas panjang- panjang dan menambah daya berat badannya yang sedang meluncur sehingga terhindar dari serangan golok si laki-laki tegap dan sekaligus meloloskan diri dari pukulan rekan orang itu. Tubuhnya segera bergeser dan secepat kilat dia melancarkan telapak tangannya menahan pukulan laki-laki setengah baya yang masih meluncur di tengah jalan.

Sejak Tan Ki turun tangan menghadapi lawan, mata Cin Ie terus memperhatikan tanpa berkedip. Sejak semula dia sudah melihat bahwa ilmu silat calon suaminya sangat tinggi.

Dengan demikian dia tidak perlu memberikan bantuan sama sekali. Seorang diri saja Tan Ki mampu menghadapi lawan. Oleh karena itu dia hanya berdiri di samping dan menjadi penonton dengan bibir terus tersenyum simpul.

Watak gadis ini sebetulnya paling senang mencari keributan. Biasanya dia paling tidak senang kesunyian. Di daerah asalnya setiap hari dia selalu mencari perkara dengan orang. Baginya hal itu merupakan suatu permainan yang menarik. Entah mengapa, kali ini dia
mempunyai perasaan apabila dirinya ikut maju ke tengah arena, maka kegemilangan Tan Ki akan berkurang. Mungkin juga karena kehilangan kesempatan mengunjukkan kepandaiannya, Tan Ki malah akan menjadi marah. Sikapnya tiba-tiba saja jadi lembut dan memperhatikan Tan Ki dengan hati bangga.

Sementara itu, ada seorang lagi yang terjun ke tengah arena pertarungan. Tan Ki melawan tiga musuh dengan seorang diri. Keempat orang itu langsung terlibat perkelahian yang sengit. Namun tidak terdengar sedikitpun suara benturan senjata tajam, juga sulit mendengar suara pukulan yang dilancarkan. Tetapi setiap jurus yang mereka kerahkan semuanya mengandung kekuatan yang dahsyat, serta keji. Bagian tubuh yang diincar pun selalu Bagian yang mematikan.

Dalam waktu yang singkat saja, keempat orang ini sudah bertarung sebanyak puluhan jurus. Diam-diam Tan Ki terkesiap sekali.

‘Tidak disangka ilmu ketiga orang ini benar benar sulit dilawan. Kalau menunggu sampai dua orang yang lainnya sadar kembali, lu mayan sulit juga bagiku untuk menghadapi mereka. Tampaknya kalau keadaan begini terus, aku masih memerlukan cukup banyak waktu baru dapat meraih kemenangan. Lebih baik aku rubuhkan dulu salah satu dari mereka sehingga gabungan mereka bertiga jadi terpecah,’ pikirnya dalam hati.

Setelah merenung matang-matang, dia langsung mengambil keputusan. Terdengar dia mengeluarkan suara batuk-batuk beberapa kali. Gerakan tangannya tiba-tiba berubah.
Tubuhnya miring dan berputar sebanyak dua kali, dihindarinya sebuah pukulan dan sebuah tendangan dari arah kiri. Tiba-tiba. pergelangan tangannya melingkar dan secepat kilat dia melancarkan delapan jurus berturut-turut.

Delapan jurus yang dimainkannya merupakan ilmu simpanan para leluhur Ti Ciang Pang. Semuanya mengandung kekejian yang dahsyat. Kecepatannya bagai kilat yang menyambar. Kedua orang yang ada di sebelah kiri itu terdesak sampai hatinya tercekat sekali.

Tanpa dapat ditahan lagi kaki mereka mundur sejauh tiga langkah.

Begitu hawa pembunuhan mulai timbul dalam dadanya, Tan Ki sudah mengukur arah dan sasaran yang akan ditujunya. Ketika kedua orang laki-laki setengah baya itu terdesak mundur, tiba-tiba dia mengeluarkan suara bentakan yang nyaring…

“Hati-hati!”

Dengan tidak terduga-duga, tubuhnya mencelat ke udara, kemudian meluncur ke arah laki-laki tegap yang membawa golok!

Tampaknya laki-laki itu sudah menduga Tan Ki akan mengambil tindakan ini. Wajah- nya serius sekali, sepasang matanya membuka lebar-lebar. Tampangnya menyiratkan kekha-watiran yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya. Perlahan-lahan dia mengangkat goloknya ke atas.

Untuk sesaat semua mata yang ada di tempat itu terpaku pada diri Tan Ki dan laki-laki tegap tersebut. Mereka semua dapat melihat bahwa serangan kedua orang itu, sama- sama menggunakan tenaga yang sepenuhnya. Kemungkinan apabila mereka bergebrak,
dalam waktu singkat dapat dilihat siapa yang lebih unggul dan siapa yang akan jadi pecundang. Malah ada kemungkinan kedua-duanya akan terluka.

Tampak Tan Ki membawa telapak tangan yang menimbulkan puluhan bayangan meluncur turun ke arah laki-laki tegap itu. Dia menggunakan jurus Kabut dan Awan Menimbulkan Cahaya Keemasan yang merupakan jurus paling ampuh dari ilmu Te Sa Jit- sut!

Serangkum kekuatan yang beratnya ribuan kati menekan dari atas ke bawah. Laki-laki tegap itu perlahan-lahan mengangkat goloknya ke atas, mendadak gerakannya menjadi cepat. Dia membuat lingkaran di Bagian atas kepala sehingga timbul pijaran cahaya yang bagai bunga merekah, menyambut datangnya serangan Tan Ki.

Saat yang menentukan…

Hati orang-orang yang ada di tempat itu bagai ditekan oleh beban yang berat. Wajah mereka tampak khawatir. Tiba-tiba di tengah arena bagai timbul badai yang besar. Angin menderu-deru, kekuatannya sampai terpancar ke sekitar. Tanah yang dipijak bergetar sehingga debu-debu beterbangan. Suasana bagai angin topan yang melanda. Bahkan cahaya rembulan yang bersinar menjadi samar-samar karena tertutup debu yang tebal..

Bayangan pukulan dan sinar yang timbul dari golok dalam seketika bertemu. Kemudian dalam waktu yang bersamaan, bayangan pukulan dan sinar golok menjadi pudar lalu lenyap.

Begitu mata memandang, tampak laki-laki tegap itu masih menggenggam goloknya di tangan. Matanya memandang Tan Ki lekat lekat, tubuhnya tidak bergerak sedikitpun.

Kira-kira sepeminum teh kemudian, mendadak terdengar mulutnya mengeluarkan suara teriakan yang keras. Dengan terhuyung-huyung, dia mundur tiga langkah. Kemudian jatuh terduduk di atas tanah dan memuntahkan darah segar sebanyak dua kali.

Dua orang lainnya melihat tiga saudara mereka terluka di tangan Tan Ki, hati mereka sedih bukan kepalang. Di dalamnya juga terselip rasa putus asa. Setelah mengeluarkan suara bentakan, keduanya langsung menerjang ke arah Tan Ki dengan kalap.

Justru di saat kedua orang itu bergerak serentak, tampak sesosok bayangan bagai bintang melesat berkelebat mendatangi. Serangkum tenaga dalam yang kuat terdorong keluar seiring dengan merapatnya tubuh orang itu yang mendesak ke arah Tan Ki!