Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 24

 
Bagian 24

Dia sadar di dalam hati Tan Ki masih tersimpan kesalahpahaman yang besar terhadap dirinya. Apabila dia sampai melihat ibunya juga ada di dalam kamar itu, apa yang terlintas di benaknya? Apakah dia akan membuka mulut mencaci maki Ceng Lam Hong atau semakin membenci melihat kehadirannya?

Tentu saja, semua ini ada kemungkinannya.

Oleh karena itu, perlahan-lahan dia meninggalkan kamar itu dan menghindarkan diri dari pandangan Tan Ki.
Orangtua di kolong langit ini, mana ada yang tidak mencintai anaknya sendiri. Antara Ceng Lam Hong dan Tan Ki sudah berpisah selama sepuluh tahun, betapa dalam hati kecilnya dia mendambakan mendengar Tan Ki memanggilnya ‘Ibu’.

Namun, kenyataan yang terpampang di depan mata malah mendesak ibu dan anak itu terpisah oleh jurang yang dalam. Seharusnya saat ini mereka berangkulan melepaskan kerinduan yang terpendam selama ini. Tetapi semuanya tidak mungkin terjadi. Bagaimana hatinya tidak menjadi pilu dan sakit?

Cian Cong dan Yibun Siu San maklum sekali penderitaan dalam hati wanita ini.
Meskipun mereka berniat memberikan bantuan, tetapi untuk saat ini mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka hanya berdiri di samping tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sementara itu kesadaran Tan Ki lambat laun pulih kembali. Sekali loncat dia langsung turun dari tempat tidur. Begitu matanya beredar, tanpa dapat ditahan lagi, dia jadi termangu-mangu.

‘Mengapa aku bisa berada di sini?’ tanyanya dalam hati.

Dia tidak tahu bahwa dalam beberapa hari ini, pikirannya menjadi kacau karena putus asa. Dia hanya merasa bahwa setelah Mei Ling diculik orang, dia lalu tertidur dan sekarang baru bangun kembali. Tahu-tahu dia menemukan dirinya di tempat yang asing. Lagipula kepalanya terasa pusing tujuh keliling dan seluruh tubuhnya terasa tidak enak. Tanpa dapat ditahan lagi, dia mengedarkan pandangannya ke orang-orang dalam ruangan, itu dengan perasaan curiga. Mimik wajahnya menunjukkan rasa terkejut dan sangsi.

Perlahan-lahan Cin Ie menghampirinya.

Wajahnya sengaja diperingiskan sehingga seperti muka setan. Mulutnya tertawa lebar. “Kau sudah baik?”
Sebetulnya gadis ini kalau diperhatikan tidak terlalu jelek sekali. Tetapi gayanya dan cara tertawanya seakan disengajakan sehingga bintik-bintik di wajahnya semaian kentara jelas. Hal inilah yang membuat orang merasa sebal.

Sepasang alis Tan Ki terjungkit ke atas. “Siapa kau?” tanyanya ketus.
“Aku bernama Cin Ie.” sahut gadis itu dengan tersipu-sipu. Matanya melirik Tan Ki berulang kali.

Tan Ki merasa tingkah laku dan gerak-gerik gadis itu persis perempuan murahan yang sering tampil di atas pentas. Hatinya semakin muak melihatnya. Oleh karena itu, dia segera mendengus dingin dan menyahut dengan enggan.

“Senang sekali dapat berkenalan dengan nona yang namanya sudah lama terkenal!” tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu. Tindakannya ini secara menyolok menyatakan rasa sebalnya terhadap Cin Ie.
Tentu saja perbuatannya juga tidak sopan sama sekali, apalagi mengingat kedua kakak beradik itulah yang menjadi dewa penolongnya!

Cin Ying yang melihat keadaan ini merasa hatinya menjadi tidak enak. Tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan suara tertawa dingin. Namun pada dasarnya watak gadis ini lembut dan berpandangan luas. Meskipun dia merasa tidak seharusnya Tan Ki mem-perlakukan adiknya seperti itu sehingga bisa mengakibatkan orang menjadi sakit hati. Tetapi dia tetap berusaha menekan hawa amarah yang mulai bangkit dalam hatinya. Tangannya segera mencekal pergelangan Cin Ie. Dengan nada kurang senang dia berkata, “Ie Moay, mari kita pergi!”

Begitu dia menarik, terasa diri Cin Ie bagai sebuah patung kayu yang ditancapkan di atas tanah dan ternyata Cin Ying tidak sanggup menggerakkannya. Hatinya merasa heran.

Dia mendongakkan wajahnya memandang. Tampak mimik wajah Cin Ie menyiratkan senyuman yang aneh. Dia bagai orang yang dihipnotis, matanya memandang lekat-lekat ke arah pintu.

Sejak kecil Cin Ying dibesarkan bersama-sama adik angkatnya ini. Dia tahu sekali wa- tak dan kebiasaannya, namun dia belum pernah melihat tampang Cin Ie seperti sekarang ini. Tentu saja dia jadi terkejut sekali.

“Ie Moay, kenapa kau?” tanyanya gugup.

Mulut Cin Ie mengeluarkan seruan terkejut. Dirinya seakan baru tersadar dari mimpi.
Tanpa terasa dia bergumam seorang diri.

“Sungguh seorang pemuda yang tampan sekali, Ie Ji sampai merasa suka sekali.”

Mendengar ucapannya, mula-mula Cin Ying tertegun. Dia tidak mengerti makna ucapan adiknya itu. Tetapi lambat laun dia tersadar, rupanya Cin Ie sudah terpikat oleh ketampanan Tan Ki. Wajahnya jadi merah padam. Hatinya bermaksud mencacinya beberapa patah kata bahwa anak gadis tidak boleh merendahkan derajatnya sendiri dan berbicara yang bukan-bukan di depan umum. Namun dia merasa hatinya sendiri juga mempunyai perasaan yang sama. Akhirnya dia tertawa sumbang.

“Sudah, jangan berpikir yang bukan-bukan. Mari kita pergi!” dia langsung menarik tangan Cin Ie dan mengajaknya keluar dari tempat tersebut.

Yibun Siu San langsung melepaskan cadar penutup wajahnya dan mengejar ke depan dua langkah.

“Nona harap tunggu sebentar. Sehelai cadar ini tidak berharga sama sekali, tetapi merupakan syarat yang telah disetujui sebagai imbalan nona berdua yang telah menyalurkan hawa murni kepada keponakan Cayhe. Harap diambil cadar ini, kalau tidak hati Cayhe akan tidak tenteram karena merasa masih berhutang.” katanya.

Cin Ying tertawa pilu.

“Tidak usah. Tadi aku sudah ke jalan raya dan sengaja membelikan, berbagai macam mainan untuk adikku ini. Kalau aku keburu sampai, tentu dia juga tidak masuk ke kamar
ini dan menimbulkan kekacauan yang mengganggu ketenangan kalian. Harap Lopek simpan saja cadar itu. Kami kakak beradik tidak menginginkannya lagi.”

Selesai berkata, tubuh kedua gadis itu tepat sudah berada di depan pintu. Mereka langsung membelok dan hilang dari pandangan.

Yibun Siu San memperhatikan bayangan punggung kedua gadis itu sampai tidak keli- hatan lagi. Di dalam hatinya dia merasa berterima kasih sekali. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang. Kepalanya menggeleng-geleng tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Dia sudah melihat ilmu silat Cin Ie: Tampaknya tidak sama dengan ilmu silat yang ada di daerah Tionggoan. Dalam hatinya timbul kecurigaan. Dia mulai yakin kalau kedua kakak beradik itu apabila bukan berasal dari Samudera luar, pasti merupakan keturunan suku Biao dari wilayah Barat. Kemungkinan tujuan mereka datang ke Tionggoan adalah untuk menyelidiki gerak-gerik para tokoh Bulim saat ini dan kalau keadaan memungkinkan, mereka akan menyerbu masuk ke daerah Kang Lam.

Tetapi demi keselamatan Tan Ki, mau tidak mau dia harus melepaskan kesempatan menyelidiki bukti yang sudah ada ini. Melihat kakak beradik itu pergi dalam situasi yang kurang menyenangkan, dia hanya bisa menarik nafas panjang. Hatinya terasa kalut.

Sementara itu, setelah kembali ke kamarnya, tiba-tiba Cin Ying merasa hatinya dilanda kehampaan yang aneh. Dadanya terasa sesak seperti orang yang kekurangan udara. Dia seperti tidak mempunyai gairah terhadap segala sesuatu.

Rupanya dia memang dibesarkan di Samudera luar dan yang sering didengar ataupun ditemuinya hanya serangkaian pembunuhan dan pertarungan. Wajah setiap orang, mungkin karena pengaruh wilayah dan situasinya, hampir semuanya bertubuh tinggi besar dan tampangnya garang. Penduduk di wilayah itu juga sangat kasar. Mana ada pemuda yang gagah dan tampan seperti Tan Ki. Bahkan seujung jarinya pun tidak. Oleh karena itu begitu melihat anak muda tersebut, hatinya sudah terpikat oleh kegagahan dan ketampanannya.

Dengan enggan dia duduk di atas kursi dan langsung termenung lesu! Untuk sesaat, pikirannya melayang-layang. Duduk salah berdiri pun salah. Tetapi dia sendiri tidak mengerti apa sebetulnya yang ia pikirkan. Tiba-tiba dia merasa pundaknya ditepuk oleh seseorang, lalu terdengar suara Cin Ie yang sedang tertawa terkekeh-kekeh.

“Toaci, coba kau lihat sebentar!”

Hati Cin Ying memang sedang kalut. Dia berharap dapat menenangkan diri beberapa saat. Ditepuk oleh Cin Ie, dengan acuh tak acuh dia bertanya, “Lihat apa?”

Terhadap adik angkatnya ini, Cin Ie merasa sayang sekali. Meskipun kata-kata yang terucap dari bibirnya agak ketus, tetapi dengan perasaan tidak tega dia menoleh juga dan melihat ke arahnya sekilas.

Begitu matanya memandang, dia melihat pakaian Cin Ie yang berwarna hijau sudah dikutungkan Bagian lengannya. Untuk sesaat dia sangat terpukau. Dengan heran dia bertanya, “Apa yang kau lakukan? Pakaian yang bagus-bagus kok digunting sampai begitu?”
Cin Ie menggigit bibirnya sendiri.

“Pakaian ini sudah terlalu pendek, tidak enak dipakai lagi.” Cin Ying tersenyum.
“Kalau begitu, malam nanti kalau kita keluar. Kita beli lagi beberapa stel pakaian yang sesuai untukmu.”

Tampak Cin Ie agak sangsi.

“Tetapi… malam hari kalau sedang tidur, hatiku sering merasa dingin.”

“Beberapa hari ini udara memang agak dingin. Mungkin pakaian tidurmu terlalu tipis atau kau lupa memakai selimut.”

“Meskipun memakai selimut memang terasa hangat, tetapi tidak dapat menghangatkan hatiku…”

“Cin Ying jadi tertegun mendengar ucapannya. “Apa maksudmu?”
“Cici, apakah kau tidak mengerti ucapanku? Malam hari aku tidur sendirian, sering aku merasa takut, seperti ada bayangan setan yang terus bergerak di depan jendela.”

“Sejak kecil kita sama-sama sudah terbiasa tidur sendiri-sendiri. Kenapa baru sekarang kau merasa takut?” Cin Ying menghentikan kata-katanya kemudian tersenyum lembut.

“Baiklah, malam nanti Cici akan menemanimu.”

Setelah berkata panjang lebar, tampaknya Cin Ying masih juga belum menangkap maksud ucapannya, Cin Ie menjadi kesal sekali. Dia menghentak-hentakkan kakinya di atas tanah.

“Siapa yang kepingin kau temani?”

Melihat tingkah lakunya, Cin Ying mulai marah. Namun dia sadar bahwa adik angkatnya ini tidak boleh dikerasi. Setelah tertegun sejenak. Dia segera mendorong meja dan berdiri.

“Ie Moay, jangan pergi. Sebetulnya ada apa?” sembari berkata, langkahnya dipercepat untuk mengejar adiknya yang sudah bermaksud keluar dari kamar. Dia segera menarik tangan gadis itu. “Untuk apa kau melakukan hal ini. Lihat saja, belum apa-apa sudah tersinggung, Cici sampai bingung kau buat.” berkata sampai di sini, tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya. Mulutnya langsung mengeluarkan seruan terkejut, kemudian tertawa lebar.

“Aku tahu deh, rupanya kau sudah ingin mencari seorang suami, bukan? Mungkin su- dah sejak lama ada yang ditaksir. Cepat katakan kepadaku, siapa orang itu?” Cin Ie tersenyum simpul.
“Pemuda yang ada di sebelah kamar itu!” sahut gadis itu dengan santai. Mendengar ucapannya, hati Cin Ying tergetar. Rupanya orang yang ditaksir Cin Ie justru Tan Ki orangnya. Mimpi pun dia tidak pernah membayangkan hal itu. Rasa terkejutnya tidak kepalang tanggung.

“Mana mungkin hal ini terjadi? Meskipun kita sudah pernah bertemu satu kali, tetapi kita tidak saling mengenal, apalagi menjalin persahabatan. Lagipula dia adalah seorang pemuda yang begitu tampan.

Tampaknya Cin Ie sendiri juga menyadari kekurangannya. Mendengar ucapan kakak- nya, harapan yang baru berkembang seakan kandas seketika. Dia merasa kecewa sekali. Padahal dia adalah seorang gadis yang masih polos. Namun begitu mengetahui bahwa dia tidak mempunyai harapan sedikitpun, dua baris air matanya segera jatuh bercucuran membasahi pipi.

Meskipun wajahnya tidak dapat dikatakan cantik karena penuh dengan bintik-bintik hitam, namun air mata yang menetes justru sangat berkilauan serta keluar dengan perasaan yang tulus. Sungguh air mata yang tidak bernilai harganya!

Apa sebetulnya yang tersirat di balik air mata itu?

Tidak ada. Yang dapat dinyatakan hanya hatinya yang masih bersih.

Melihat air mata adiknya mengalir dengan deras, hati Cin Ying langsung terasa perih. Dia juga terharu melihat kemalangan nasib gadis itu. Hampir belasan tahun sudah, baru kali ini dia melihat lagi air mata yang tulus dan berharga ini….

Bayangan masa lalu, seakan terpampang dalam air mata yang terus mengalir itu. Satu per satu melintas dalam benaknya…

Dia teringat masa kecilnya ketika terombang ambing di tengah lautan, untung saja dia ditemukan oleh seorang ketua suku pedalaman yang berilmu sangat tinggi yakni Cui Sang Sin-heng alias bayangan dewa di atas air Cin Tong. Akhirnya dia ditolong bahkan dijadikan putri angkatnya.

Dia teringat senyuman Cin Tong serta nada suaranya yang menggeledek serta kasih sayang yang penuh perhatian. Lagi pula caranya melakukan apapun terhadap kedua putrinya selalu disamakan dan tidak pernah dibedakan.

Dia membiarkan keduanya bermain bersama dia juga mengajarkan ilmu silat tanpa memilihbulu…

Justru pada saat dia berusia dua belas tahun, Cin Ying dan Cin Ie sedang berlatih dan menjajal kepandaian mereka. Akh… dia ingat hari itu meriipakan hari yang paling menyayat hati dalam hidupnya.

Sekarang pun dia masih mengingat dengan jelas, justru jurus Hui-houw Coan Liong atau Harimau terbang berubah menjadi naga itulah yang digunakannya ketika berlatih. Tanpa sengaja pukulannya menghantam belakang kepala Cin Ie.

Kemudian, dia… Cin Ie pun jatuh tidak sadarkan diri!
Cin Ying sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa perbuatan yang dilakukannya dengan tanpa sengaja itu membuat otak adik angkatnya menjadi lemah. Meskipun ayah angkatnya telah berusaha dengan berbagai cara untuk menyembuhkannya, namun nasib Cin Ie memang tidak bisa diubah lagi!

Walaupun nyawanya berhasil diselamatkan, tetapi sejak saat itu Cin Ie berubah menjadi ketolol-tololan dan otaknya tidak bisa berpikir sebagaimana manusia dewasa layaknya.
Memang kadang-kadang kebodohannya tidak terlalu tampak menyolok. Dia bisa bicara dan bertanya jawab. Tetapi apabila ada masalah yang agak rumit, dia tidak cepat tanggap dan tidak tahu pula bagaimana harus menanggulanginya. Hidupnya jadi bergantung pada orang lain.

Siapa nyana, Cin Tong malah tidak menyalahkan dirinya sedikitpun karena kesalahan tangan yang membuat putri kandungnya menjadi cacat mental. Bahkan menjelang akhir hidupnya, dia menitipkan pesan kepada Cin Ying agar menjaga adik angkatnya ini baik- baik.

Justru karena hal ini pula, hati Cin Ying semakin tidak tenang, karena diserahi tang- gung jawab yang berat. Rasa bersalahnya semakin menghebat. Selama belasan tahun ini, dia sudah berusaha segenap kemampuannya untuk melindungi sang adik. Seandainya dia menginginkan rembulan di atas langit, Cin Ying pasti akan mencari jalan untuk mengambil rembulan tersebut bagi adik angkatnya. Pokoknya Cin Ying selalu berharap dapat membahagiakan hati adiknya itu.

Dia terus menganggap, bahwa pengorbanannya ini masih belum cukup untuk menebus kesalahannya dan membalas budi yang ditanamkan Cin Tong kepadanya. Apalagi terhadap Cin Ie sendiri, dia merasa seumur hidupnya tidak mungkin ia membayar lunas hutangnya yang satu ini.

Berpikir sampai di sini, tanpa dapat ditahan lagi hatinya menjadi perih. Dan air matanya ikut mengalir. Perlahan-lahan dia mengangkat tangannya dan mengusap air mata adiknya yang masih menetes.

“Baiklah, Cici akari berusaha sekuat tenaga. Kalau Tan Siangkong itu tidak menghendaki dirimu, meskipun harus memaksanya dengan perkelahian, aku juga akan mencobanya.”

Selesai berkata, dia berusaha membangkitkan keberanian dalam hatinya sendiri. Ta- ngannya segera menepuk-nepuk pundak Cin Ie.

“Kau keluarlah ke jalan raya dan main-main di sana. Aku akan mendengar nada bicara mereka, baru mengambil tindakan yang terbaik.”

Mendengar perkataannya, Cin Ie segera mengusap air matanya dan wajahnya jadi ber- seri-seri seketika. Selamanya dia percaya sekali kepada Cin Ying. Dia tahu kakaknya ini sangat cerdas dan banyak akalnya. Meski menghadapi persoalan yang bagaimana beratnya, dia pasti bisa melepaskan diri dari bahaya dan menyelesaikannya dengan baik. Apalagi kalau sudah berjanji, dia tidak pernah mengingkarinya. Oleh karena itu, dia segera menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Aku akan menurut perkataan Cici dan bermain ke jalan raya. Kalau sudah ada kabar berita, harap cepat-cepat beritahu aku.”

Sambil berkata, kedua kakak beradik itu jalan berdampingan keluar dari kamar. Na-mun perasaan hati keduanya berbeda. Cin Ie merasa bahagia sekali dan bibirnya terus ter- senyum. Sedangkan sepasang alis Cin Ying terus bertaut dengan erat dan hatinya kacau. 

Sebetulnya, dia Sadar sekali tingkah laku Tan Ki yang sudah terang-terangan menyatakan rasa sebalnya terhadap Cin Ie. Agaknya harapan mereka dapat menjadi pasangan yang harmonis terasa mustahil. Tetapi dirinya terus merasa berhutang kepada Cin Ie. Apabila dia sampai tidak berhasil menyempurnakan niat hatinya, Cin Ying semakin tidak tenang. Itu-lah sebabnya dia tetap mencoba meskipun tidak yakin akan berhasil.

* * * *

Dengan perasaan gembira, Cin Ie berjalan-jalan keluar. Ke manapun matanya meman- dang, dia selalu melihat orang banyak hilir mudik. Semua yang tertatap olehnya selalu pemandangan yang menyegarkan. Hal ini membuat perasaannya senang bukan kepalang.

Tanpa tujuan yang pasti dia terus melangkah. Secara berturut-turut dia telah melalui tiga jalan besar, sampailah dia di depan sebuah toko yang menjual barang-barang antik. Justru ketika dia sedang menikmati keindahan barang-barang antik dari luar toko itu, tiba- tiba matanya menangkap seraut wajah yang tidak asing lagi. Orang itu melewatinya.
Tanpa dapat ditahan lagi, kepalanya menoleh untuk memperhatikan sejenak.

Sebetulnya dia tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Perbuatannya kali ini hanya mengikuti nalurinya yang tergerak saja. Namun begitu matanya memandang sekali lagi, hatinya langsung tergetar.

Ini yang dinamakan ‘tidak dicari malah datang sendiri.’ tanpa susah payah pula. Rupa- nya orang yang baru saja melewatinya, justru pemuda yang membuat dirinya terpikat dan terus merasa rindu, yakni Tan Ki.

Tampaknya pemuda itu sedang digelayuti berbagai pikiran. Tampangnya kusut. Sambil menundukkan kepalanya dia berjalan lambat-lambat. Langkahnya seakan berat sekali.
Tidak mirip dengan orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Hati Cin Ie jadi gembira bukan kepalang. Dia mengikuti Tan Ki dari belakang. Hatinya penasaran ingin tahu ke mana tujuan anak muda itu. Siapa nyana, Tan Ki tidak pernah menghentikan langkah kakinya, dia berjalan terus ke depan. Kota ini memang tidak terlalu besar. Dalam waktu kurang lebih sepenanakan nasi, mereka sudah keluar dari perbatasan kota. Begitu matanya memandang, di mana-mana terlihat pemandangan yang indah dengan bukit-bukit yang subur.

Cin Ie merasa heran sekali. Diam-diam dia berpikir: ‘Apa enaknya bermain-main di tempat seperti ini? Untuk apa sebetulnya dia datang ke sini?’

Tiba-tiba…

Tampak dua sosok bayangan menghambur ke arah mereka.

Kecepatannya bagai anak panah yang menyambar. Dalam sekejapan mata sudah tiba di hadapan mereka. Kejadian yang tidak terduga-duga ini membuat Cin Ie terperanjat, secara refleks kakinya mundur satu langkah.

Begitu matanya memandang, orang yang datang itu ternyata tidak asing baginya. Mereka adalah pengawal setia Toa Ie (bibi) yakni Lu Sam Nio dan Im Ka Tojin. Untuk sesaat dia jadi termangu-mangu.

Ketika melihat jelas siapa orangnya yang mendatangi, Tan Ki sudah menolehkan kepa- lanya dengan hati tergetar. Setelah diperhatikan, dia langsung mengenali wanita yang rupanya jelek sekali sebagai orang yang menculik Mei Ling. Darah dalam tubuhnya bagai mendidih seketika. Hawa amarah dalam dadanya meluap-luap. Namun di balik semua itu, terselip juga kegembiraan sedikit karena berhasil memergoki musuh besarnya.

Dia langsung mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara suitan marah dari mulutnya. Ketika tubuhnya berkelebat, dalam waktu yang bersamaan, serangkum angin yang kuat terpancar dari telapak tangannya yang langsung menghantam ke depan.

Pancaran tenaga yang bagai gulungan ombak menimbulkan suara yang menderu-deru. Sepasang telapak tangannya secara berpencaran melancarkan serangan ke arah Lu Sam Nio dan Im Ka Tojin.

Serangannya kali ini hanya berlangsung dalam sekejapan mata, Lu Sam Nio dan Im Ka Tojin terkejut setengah mati. Dengan panik keduanya mencelat mundur ke kiri dan kanan.

Im Ka Tojin segera memperdengarkan suara tawanya yang dingin.

“Hari itu karena mendapat perintah dari Toa Ie, maka aku sengaja mengampuni jiwa- mu. Kali ini malah kau sendiri yang berani mencari perkara denganku. Maka tidak ada ampun lagi buatmu.” katanya sinis.

Diantara suara tawanya yang menyeramkan, tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas. Sepasang telapak tangannya terulur keluar, dengan jurus Bendera perang berkibar di sebelah timur, dia melancarkan dua buah pukulan.

Apabila seorang jago silat melancarkan serangan, kecepatannya hanya bagai lintasan cahaya. Sementara Im Ka Tojin mengerahkan jurus serangannya, Lu Sam Nio juga tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan keji dia juga meluncurkan sebuah pukulan ke arah pinggang kiri Tan Ki.

Begitu kedua orang ini melancarkan serangan dalam waktu yang bersamaan, kehe- batannya benar-benar mengejutkan. Tenaga yang terpancar dari telapak tangan mereka bagai badai di tengah lautan atau ratusan ekor kuda yang mengamuk. Lwekang dan hawa murni mereka bagai banjir yang melanda.

Suasana semakin tegang dan diliputi hawa pembunuhan yang tebal. Tampaknya pukulan manapun yang sempat mendarat di tubuh Tan Ki, dia pasti terkapar mati seketika. Namun terdengar suara tawa anak muda itu yang mengandung kegusaran hatinya.
Tubuhnya memutar dengan cepat, tahu-tahu dia sudah berhasil menghindarkan diri dari serangan kedua orang itu. Sementara itu, terdengar mulutnya mengeluarkan suara bentakan, “Siapa sebetulnya orang yang kalian maksudkan dengan Toa Ie itu?”

Lu Sam Nio memamerkan dua baris giginya yang besar-besar dan berwarna kekuning- kuningan.
“Boleh saja memberitahukan kepadamu, tetapi kau harus menemani dulu bibimu ini bergembira sepanjang malam!”

Tan Ki marah sekali. “Kentut busuk!”
Pergelangan tangannya berputar, terdengar suara angin berhembus dan dengan kece- patan kilat dia melancarkan dua buah pukulan ke depan. Lu Sam Nio terdesak sampai kalang kabut. Dikejar oleh serangan Tan Ki, mau tidak mau dia mencelat mundur sejauh dua langkah.

Dua buah serangan Im Ka Tojin gagal berturut-turut. Tubuhnya sudah melayang turun di atas tanah. Tanpa membuang waktu, mulutnya mengeluarkan suara raungan. Empat pukulan dilancarkan dengan gencar.

Untuk sesaat, tampak bayangan telapak tangannya memenuhi ajang pertarungan.
Angin yang ditimbulkan pun menimbulkan suara suitan. Bahkan debu-debu yang terdapat di sekitarnya langsung bertebaran di angkasa. Pertarungan yang sengit ini membuat pandangan mata Cin Ie jadi berkunang-kunang. Setelah sepuluh kali gebrakan lebih, dia sudah tidak dapat membedakan lagi mana para pelindung Toa Ie-nya dan mana diri pemuda pujaannya.

Meskipun ilmu silat Tan Ki merupakan ilmu andalan para leluhur Ti Ciang Pang, tapi apabila dia ingin meringkus kedua orang itu dalam waktu yang singkat, juga bukan meru- pakan hal yang mudah.

Kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, pertarungan di antara ketiga orang itu sudah mengalami banyak perubahan. Tampaknya puncak pertarungan itu sudah hampir dicapai. Suara bentakan dan deruan angin yang terpancar dari pukulan mereka masih terus terdengar. Sementara itu, hawa pembunuhan yang memenuhi sekitar tempat itu malah tambah berlipat ganda.

Tampak daya serang Lu Sam Nio dan Im Ka Tojin semakin lama semakin melemah. Tan Ki malah berkelahi seperti orang kalap, serangannya semakin lama semakin keji. Tenaga dalam yang dilancarkan hampir menggunakan segenap kekuatannya.

Cin Ie tahu betul sampai di mana tingginya ilmu tenaga dalam Lu Sam Nio dan Im Ka Tojin, tetapi melihat bahwa dengan bergabung pun kedua orang itu tidak sanggup meringkus Tan Ki, hatinya menjadi khawatir. Di samping itu dia juga merasa kagum sekali terhadap ilmu silat anak muda itu.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras dari mulut Tan Ki, dengan jurus Menguak Gunung Meretakkan Tanah, dia menyerang secara gencar ke arah Im Ka Tojin. Serangan ini dilancarkan dengan tenaga sepenuhnya. Sedangkan keadaan Im Ka Tojin sudah kelelahan, dia hanya dapat melawan dengan kekuatan terakhir.

Begitu serangan Tan Ki yang keji ini dilancarkan, kekuatannya dahsyat bukan main. Bagai gelombang ombak yang bergulung-gulung melanda ke depan. Sama sekali tidak dapat dianggap enteng!
Im Ka Tojin menggertakkan giginya erat-erat. Dengan nekat dia melancarkan sebuah pukulan ke depan dan menyambut serangan Tan Ki dengan kekerasan.

Cara keras melawan keras seperti ini sebetulnya merupakan pantangan bagi orang Bulim. Apabila pihak yang satu lebih lemah sedikit saja tenaganya, maka orang itu pasti terluka parah di bawah telapak tangan lawannya.

Tetapi karena pukulan yang dilancarkan Im Ka Tojin dikeluarkan dalam keadaan terpaksa, maka cara keras lawan keras yang berlangsung saat ini, apabila tidak sampai mencabut nyawanya, maka paling tidak dia akan terluka parah. Tiba-tiba…

“Tan Siangkong, mohon tunggu dulu!” terdengar teriakan seorang gadis. Serangkum tenaga yang kuat menahan datangnya serangan Tan Ki. Perubahan yang mendadak ini, membuat anak muda itu terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia menarik kembali serangannya dan mencelat mundur sejauh lima langkah. Meskipun demikian, sepasang pundaknya bergetar karena dorongan tenaga lawan bahkan tubuhnya sempat sempoyongan beberapa saat.

Dia langsung menolehkan kepalanya, entah sejak kapan di samping Cin Ie telah bertambah seorang gadis yang cantik jelita. Dia adalah Cin Ying.

Pada saat ini, kemarahan Tan Ki sedang meluap. Tadinya dia sudah senang berhasil mendesak musuhnya sehingga paling tidak akan terluka parah, tahu-tahu datang Cin Ying yang mengacaukan segalanya. Tentu saja dia jadi melampiaskan kekesalannya pada gadis itu. Matanya mendelik lebar-lebar.

“Apa sebetulnya maksudmu melakukan hal ini?”

“Entah apa kesalahan kedua orang ini sehingga Siangkong sedemikian gusar?” Tan Ki menunjuk ke arah Lu Sam Nio dan Im Ka Tojin.
“Tanpa hujan tanpa angin mereka menculik temanku. Sekarang setelah berhasil aku pergoki, apakah aku akan mendiamkannya begitu saja?”

Dengan tenang Cin Ying menoleh kepada Lu Sam Nio dan Im Ka Tojin. “Benarkah apa yang dikatakannya?”
Setelah mengatur pernafasannya beberapa saat, hawa murni di dalam tubuh Im Ka Tojin mulai, lancar kembali. Dia mengusap keringat yang membasahi keningnya kemudian menjura dalam-dalam kepada Cin Ying.

“Urusan ini sebetulnya hamba hanya mendapat perintah dari Toa Ie, sama sekali bukan niat hati hamba sendiri.”

“Oh!” Cin Ying mengibaskan tangannya. “Baiklah, di sini tidak ada urusan kalian lagi, pergilah.” katanya kemudian.

Im Ka Tojin tidak segera mengundurkan diri. Tampaknya hatinya masih bimbang.
Perlahan-lahan dia memberanikan dirinya menyahut, “Hamba menerima surat perintah,
kali ini sengaja datang untuk menemui Nona berdua.” tampaknya dia sangat takut kepada Cin Ying. Cara bicaranya juga tersendat-sendat.

Cin Ying tertawa dingin.

“Pasti surat yang dikirim lewat merpati pos oleh Toa Ie kalian yang isinya perintah inilah, itulah…” dia berhenti sejenak. “Baiklah, kalian pergi ke kota di depan sana dan tunggu aku di rumah penginapan Lai An.”

Im Ka Tojin dan Lu Sam Nio segera mengiakan. Setelah menjura satu kali, keduanya segera membalikkan tubuh dan berlari pergi. Sementara itu, terdengar Tan Ki mengeluarkan suara tertawa yang dingin sekali, tubuhnya melesat ke depan dan tahu-tahu dia sudah menghadang jalan pergi kedua orang itu.

“Mau kabur? Tidak begitu mudah!” terasa angin berhembus, sebuah pukulan langsung diarahkan kepada Lu Sam Nio.

Serangannya yang tiba-tiba ini benar-benar cepat sekali. Terdengar suara mengaduh Lu Sam Nio. Dia segera menahan gerakan tubuhnya yang masih meluncur ke depan kemudian melesat ke samping untuk menghindarkan diri.

Meskipun gerakannya tadi sudah peka sekali, namun tetap saja dia terhempas oleh sa- puan angin pukulan Tan Ki. Dia merasa nyeri dan keringat langsung mengucur di keningnya.

Tan Ki merasa benci bukan kepalang kepada kedua orang ini. Dianggapnya mereka yang menghancurkan impian indahnya karena menculik Mei Ling. Rasanya ingin dia sekali pukul langsung menghantam mati kedua orang itu agar keperihan hatinya dapat ter- lampiaskan. Oleh karena itu, melihat jurusnya yang pertama mendapat hasil, dia lebih- lebih tidak membiarkan mereka pergi. Pergelangan tangan kanannya memutar, kemudian dia mendorongnya ke depan. Serangkum angin yang kencang terpancar dari pukulannya yang mengincar Bagian dada Im Ka Tojin yang mematikan.

Im Ka Tojin melihat Lu Sam Nio tiba-tiba diserang, memang langsung bersiap sedia. Begitu Tan Ki meluncurkan serangan kepadanya, dia langsung mencelat mundur sejauh lima mistar.

Tan Ki tertawa dingin. Di wajahnya yang tampan mulai tersirat hawa pembunuhan.
Baru saja dia berniat mengerahkan Tian Si Bam-sut yang hebat dan membunuh musuhnya agar kekesalannya terlampiaskan. Tiba-tiba…

Hidungnya mengendus bau yang harum lewat di depannya. Rupanya Cin Ying sudah melesat di hadapannya. Bibirnya tersenyum.

“Harap Siangkong mengalah untuk sementara, biarkanlah mereka pergi. Nanti kalau urusan sudah terbukti, kau cari lagi mereka masih belum terlambat.” katanya.

Sepasang mata Tan Ki memancarkan warna kemerahan, dia mendelik kepada Cin Ying lebar-lebar.
“Bertemu dengan musuh, kalau tidak dibunuh tentu keenakan. Kalau kau suruh mereka pergi begitu saja, lain kali apabila berdiri di dunia Bulim, aku tidak berani mengangkat wajahku, lagi.”

“Jangan khawatir, mereka tidak bisa kabur kemana-mana!” “Kau berani menjamin?”
Cin Ying tertawa lebar.

“Aku berani mempertaruhkan sepasang lengan ini sebagai jaminan!” dia berhenti sejenak, seolah ada ribuan kata di dalam hatinya yang tidak berani ia cetuskan. Dia menunduk-kan kepalanya beberapa saat dan merenung. Akhirnya dia menggigit bibirnya sendiri dan memberanikan dirinya untuk berkata, “Lagipula, aku masih ada permintaan yang ingin kuharapkan darimu, mana mungkin aku mengingkari ucapanku sendiri?”

“Urusan apa?” tanya Tan Ki.

Cin Ying menolehkan kepalanya melihat sang adik. Cin Ie sedang berdiri menghadap ke arah angin, pakaiannya berkibar-kibar. Dia sedang menatap Tan Ki dengan termangu- mangu. Bibirnya tersenyum simpul. Sinar matanya bagai rembulan yang lembut atau bintang-bintang yang bertaburan di langit. Pokoknya ada semacam cahaya yang aneh terpancar dari sepasang bola matanya. Tanpa sadar Cin Ying menarik nafas panjang.

“Ketika Siangkong keluar tadi, aku sudah berbicara panjang lebar tentang dirimu dengan paman Yibun-mu. Kekasih diculik, ayah mati dengan cara yang mengenaskan, semuanya aku sudah tahu. Mendengar nada bicara paman Yibun dan Cian Locianpwe, di depan mata para pendekar sedang berkumpul dan di Lok Yang akan diadakan pertemuan besar yang mana akan dipilih seorang Bengcu. Mereka mengharapkan agar kau berusaha sekuat tenaga merebut kedudukan Bengcu tersebut. Kecuali dendam pribadi, sekarang Tan Siangkong ditambahi sebuah beban yang lain. Semuanya belum tentu dapat terselesaikan sekaligus. Apabila merebut kedudukan Bengcu saja sudah merupakan hal yang sulit, apalagi mem-bicarakan soal balas dendam segala macam.”

Tan Ki tertawa dingin.

“Lalu, kalau menurut pendapatmu, apa yang harus aku lakukan?” Cin Ying merenung sejenak.
“Aku tahu dalam hati Siangkong sudah ada tambatan hati, yakni seorang gadis yang cantik rupawan. Sedangkan rupa adik Ie-ku ini, tentu sulit mendapat tempat di hatimu. Tetapi entah mengapa, sejak melihat Siangkong, dia langsung jatuh hati…”

“Perasaan simpati atau tertarik antara pria dan wanita harus terungkap dari kedua pihak. Kalau dia sendiri yang terpikat kepadaku, apa urusannya dengan diriku ini?” nada bicaranya sungguh dingin.

Perlahan-lahan Cin Ying menarik nafas panjang. Biar bagaimana dinginnya sikap Tan Ki terhadap dirinya, dia tetap tidak perduli.
“Sekarang ini aku tidak ada keinginan apa-apa. Hanya berharap gadis pujaan Siangkong itu berhati lapang dan bersedia membagi rasa dengan menyisakan sedikit sudut hati Siangkong untuk ditempati adik Ie-ku ini. Dengan demikian aku sudah merasa berterima kasih sekali.”

“Ucapan Nona benar-benar membuat orang terkejut. Namun sayang sekali aku tidak dapat mengabulkannya.”

Cin Ying dapat mendengar nada suaranya yang tajam dan tegas. Dia menolak secara terang-terangan. Tiba-tiba hatinya terasa perih. Air matanya mengalir dengan deras.
Akhirnya dia tertawa sumbang dan berusaha untuk tidak berputus asa.

“Tan Siangkong adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, tidak dapat disalah- kan apabila memandang rendah adikku. Tetapi apakah kau pernah membayangkan, apabila adik Ie-ku tidak mendapat perhatianmu sedikit saja, mungkin dari bodoh dia malah menjadi gila. Atau, mungkin dia bisa bunuh diri…” ucapannya belum selesai, dua baris air mata sudah mengalir kembali membasahi pipinya…

Ucapannya barusan benar-benar mengenai tepat penyakit jiwa Tan Ki. Dia teringat dirinya sendiri juga menjadi kalap bahkan hampir gila karena mengetahui Mei Ling diculik orang. Tanpa dapat ditahan lagi hatinya tercekat, tubuhnya menggigil, bulu kuduknya seakan meremang semua. Nada bicaranya yang dingin dan ketus langsung menyurut jauh.

“Meskipun Nona sudah menjelaskan semuanya, namun aku juga tidak bisa menga- takan apa-apa. Lagipula pikiranku sekarang ini sedang kalut bukan main…”

“Apabila Siangkong bersedia mengabulkan permintaanku ini. Tidak perduli adik Ie-ku hanya diangkat sebagai selir, aku juga sudah merasa puas. Tetapi, pembicaraan dimulai dari awal lagi. Apabila kelak Tan Siangkong menghadiri pertemuan besar para enghiong untuk merebut kedudukan Bengcu, kami kakak beradik akan berusaha sekuat tenaga sampai kau berhasil!”

Tan Ki menggelengkan kepalanya.

“Pernikahan adalah persoalan yang menyangkut kebahagiaan seumur hidup. Mana boleh sembarangan disepakati. Meskipun Nona membantu aku mencari pembunuh asli ayahku, aku juga sulit mengabulkan permintaanmu.”

“Benarkah keputusanmu sudah demikian bulat?”

“Ini toh merupakan hal yang mustahil, mana mungkin disepakati?” tiba-tiba hati Tan Ki juga jadi panik. Setelah mengucapkan kata-katanya, dia menghentakkan kaki ke atas tanah dan menarik nafas panjang.

Hati Cin Ying semakin perih. Air matanya mengalir dengan deras. Biar bagaimanapun, dia adalah putri mantan Bengcu dari Samudera luar. Coba bayangkan saja sampai di mana kewibawaannya sehari-hari. Perbuatannya

memohon seseorang seperti sekarang ini, merupakan hal yang pertama kalinya dia lakukan. Kalau menurut adatnya kemarin-kemarin, tentu dia sudah menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan tempat itu. Namun, dia berpikir kembali. Tanpabsadar dia
membayangkan kembali nasib malang adik Ie-nya. Mungkin karena masalah ini, dia akan menjadi gila atau bunuh diri…”

Semacam firasat yang buruk langsung memenuhi hatinya. Di benaknya terlintas berba- gai masalah yang menyayat hati, tanpa terasa tubuhnya gemetar. Dia menggertakkan giginya erat-erat, berusaha menekan keperihan hatinya dalam-dalam.

“Aku bisa membantumu menemukan kembali kekasihmu yang diculik. Malah setelah kau berhasil menjabat kedudukan Bengcu, aku akan memberikan laporan palsu pada para tokoh di Samudera luas agar mereka menjadi was-was dan bingung…”

Cin Ying adalah putri seorang tokoh dari Samudera luas. Dengan ucapannya barusan, dapat dibuktikan bahwa dia sudah berani mengkhianati perguruan, para sahabatnya.
Akibat yang mengerikan tidak sulit dibayangkan. Lagipula, penyerbuan yang akan dilakukan oleh pi-hak Samudera luar kali ini juga sudah menyiapkan diri dengan matang rencana yang akan dilakukan sangat dirahasiakan. Apabila dirinya ketahuan sebagai mata- mata, dia sendiri pasti harus mengorbankan jiwanya.

Mendengar ucapannya, tanpa terasa Tan Ki melirik ke arah Cin Ie sekilas. Dia melihat wajah gadis itu penuh dengan bintik-bintik hitam. Saat itu Cin Ie sedang menatap kepadanya lekat-lekat bagai orang yang terpesona. Tampangnya ketolol-tololan. Bibirnya tersenyum simpul. Bagi Tan Ki gadis itu benar-benar jelek sekali. Segulung perasaan muak segera timbul dalam hatinya. Tampak dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Nona tidak perlu membuat lidah sendiri jadi ngilu. Biar apapun yang kau katakan, Cayhe tetap tidak dapat meluluskan permintaanmu. Kalau begini terus, malah menambah penderitaan…” ucapannya masih belum selesai, tiba-tiba…

Cin Ying menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Tan Ki!

Gerakan yang tidak diduga-duga ini, benar-benar mengejutkan hati Tan Ki. Mimpi pun dia tidak pernah membayangkan bahwa seorang gadis yang demikian cantik rela berlutut di hadapannya demi keinginan hati adiknya.

Begitu matanya memandang, terlihatlah wajahnya yang sayu dan basah oleh air mata.
Bagai sekuntum melati yang didera hujan deras sehingga membuat perasaan orang menjadi iba. Hatipun tergerak…

Untuk sesaat, Tan Ki jadi kalang kabut tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Angin gunung bertiup sepoi-sepoi. Peristiwa ini benar-benar menyentuh hati orang yang melihatnya…

Justru ketika hati Tan Ki dilanda kebimbangan, telinganya menangkap suara Cin Ying yang lirih seolah ratapan, “Siangkong, setelah aku melakukan hal ini, apakah hatimu masih demikian keji dan tega?”

“Tan Ki jadi termangu-mangu. Dia merasa suara gadis itu bagai irama setan-setan gen- tayangan yang menggetarkan hatinya.