Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 23

 
Bagian 23

Tampang Ceng Lam Hong muram sekali.

“Dunia ini begitu luas. Ke mana kita harus mencari Liu Kouwnio?”
Pertanyaan ini diajukan, Cian Cong dan Yibun Siu San sama-sama tidak pernah memi- kirkan hal ini, otomatis keduanya jadi tertegun. Tidak seorangpun sanggup memberikan jawaban.

Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, tampak Cian Cong menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Dia menghembuskan nafas panjang.

“Kata-kata ini memang tepat sekali. Kolong langit ini luasnya jangan ditanyakan lagi. Ke mana kita dapat menemukan jejak si penculik?”

Baru berkata sampai di situ, tiba-tiba terdengar suara Tan Ki yang ada dalam bopongan Ceng Lam Hong seperti sedang bergumam seorang diri…

“Liu Moay Moay… di mana kau? Liu Moay Moay…”

Hati Cian Cong sedang panik, mendengar kata-katanya yang mesra dan mengandung kerinduan, dia merasa bulu kuduknya seakan merinding semua. Kekesalannya semakin ber-tambah-tambah. Matanya segera mendelik lebar-lebar. Kakinya dihentakkan ke atas tanah berkali-kali.

“Tutup mulutmu yang menggonggong terus! Orang lain justru sedang kebingungan gara-gara dirimu, kau malah buka mulut! Kata-kata yang mengerikan masih bisa diucapkan dengan santai. Kalau si pengemis tua sampai marah, besok juga aku akan menikahi seorang nenek pengemis agar kau lihat!”

Yibun Siu San tertawa terbahak-bahak.

“Cian Heng merupakan salah satu dari dua tokoh sakti di dunia saat ini. Kemuliaan hatimu tidak ada yang dapat menandingi. Mengapa mengambil hati atas ocehan seorang bocah yang sedang linglung?”

Tadinya dia bermaksud mengalihkan bahan pembicaraan agar jangan sampai kata-kata si pengemis sakti itu membuat perasaan Toasonya semakin pilu. Siapa tahu, baru saja ucap-annya selesai, tiba-tiba tampak Cian Cong mengeluarkan suara mendesah, lalu kepalanya mengangguk berulang kali dan langsung memejamkan matanya.

Dia merasa ada titik terang yang melintas dalam benaknya. Mendadak bayangan seseorang seakan muncul di depan matanya, mulutnya langsung mengeluarkan suara gumam-an…”

“Dua tokoh sakti? kecuali aku si pengemis tua, masih ada satunya lagi…” berkata sampai di sini, tiba-tiba dia membuka matanya, seakan-akan telah menemukan sesuatu yang amat berharga. Kemudian tampak dia menepuk tangannya satu kali. “Betul! Hanya orang ini yang dapat menolong anak Ki!”

Yibun Siu San melihat si pengemis sakti ini berbicara seorang diri, gerak-geriknya mencurigakan. Entah apa yang sedang dipikirkannya, dia menjadi tertegun.

“Siapa yang Cian Heng maksudkan orang yang dapat menolong anak Ki?”
Cian Cong tertawa terbahak-bahak. Wajahnya berseri-seri tanda hatinya sedang gembira sekali.

“Kalau ingat tempo dulu, si pengemis tua pertama kali naik ke atas Bu Tong San, lalu mencari si hidung kerbau (ejekan untuk para tosu) untuk bertanding ilmu silat. Akhirnya kami bergebrak selama tiga hari tiga malam lamanya. Sepasang lengan baju si pengemis tua ini tertarik robek oleh jurus Ki Liong Pat-cao atau Naga sakti delapan jurus milik si hidung kerbau. Sejak saat itu, si pengemis tuapun mendapat julukan Si lengan koyak.
Selama berkelana di dunia Kangouw selama puluhan tahun, entah siapa orangnya yang memulai ejekan itu. Sejak pertarungan itu pula, para sahabat di dunia Kangouw memanggil kami sebagai dua tokoh sakti. Ketika pertama-tama mendengarnya, bulu kuduk si pengemis tua sampai merinding semua. Akhirnya lama-kelamaan jadi terbiasa juga…”

Yibun Siu San tertawa lebar.

“Rupanya bintang penolong yang Cian Heng maksudkan adalah seorang Cianpwe dari Bu Tong Pai yang bergelar Tian Bu Cu, betulkan?” tukasnya cepat.

Cian Cong ikut-ikutan tertawa terbahak-bahak.

“Memang betul, kecuali dia, siapa lagi yang dapat menyembuhkan penyakit kejiwaan ini?”

Mendengar keterangannya, Ceng Lam Hong seperti menemukan setitik sinar terang dalam kegelapan. Cepat-cepat dia mengusap air matanya dan mengembangkan seulas senyuman. Dia segera berdiri dan menjura kepada Cian Cong dalam-dalam.
“Mohon kesediaan Toa Pek mengulurkan tangan agar semuanya berjalan dengan baik. Sebelumnya Siau Hujin (Nyonya muda) di sini mengucapkan banyak terima kasih.
Tetapi… menurut berita yang tersebar di dunia Kangouw, Tian Bu Cu Cianpwe sudah lama
mengasingkan diri dan tidak mencampuri urusan duniawi lagi. Takutnya kalau kita sampai di sana, bukan saja menganggu ketenangan orang, malah pulang dengan tangan kosong. Kalau ternyata demikian, apa yang harus kita lakukan?” tampaknya hati wanita ini masih bimbang. Dia takut akhirnya akan mendapat kekecewaan.
Cian Cong mendongakkan wajahnya ke atas, perlahan-lahan dia mendengus satu kali. “Si pengemis tua mana pernah memohon kepada orang. Tetapi kalau ucapan sudah
dikeluarkan, memangnya takut dia tidak mengabulkan? Kalau penyakit anak Ki satu hari tidak sembuh, aku akan merongrongnya satu hari. Kalau dua hari tidak sembuh, artinya si hidung kerbau memang sengaja ingin membuat si pengemis tua menjadi marah. Maka aku akan mengajaknya berkelahi lagi selama tiga hari tiga malam!”

Tampak Yibun Siu San menundukkan kepalanya merenung.

“Tian Bu Cu Toyu tinggal di Bu Tong San, jaraknya dari sini masih ada tiga ratusan li.
Jangka yang pendek pasti tidak bisa sampai. Meskipun penyakit anak Ki bisa disembuhkan, rasanya tidak sempat lagi menghadiri Bulim tay hwe.”

Sepasang alis Ceng Lam Hong bertaut erat. Kemudian dia menarik nafas panjang.
“Mohon perlindungan dari Thian yang kuasa, agar penyakit anak Ki dapat disembuh- kan. Hal itu sudah merupakan keberuntungan dalam hidupku. Persoalan lainnya, biarpun sebesar apa, saat ini tidak sempat kita perdulikan lagi.”

Mendengar nada bicaranya yang penuh dengan kasih sayang seorang ibu, Yibun Siu San merasa terharu. Dalam hatinya timbul rasa hormat yang semakin tinggi. Kalau terkenang kembali belasan tahun yang lalu, mereka tiga bersaudara jatuh cinta pada gadis yang sama. Tetapi karena dirinya memang tidak pandai berbicara dan jarang bergaul, akibatnya malah Toako dan Oey Kang yang bersaing ketat. Akhirnya, karena Toako lebih tampan dan gagah, juga ilmu silatnya lebih tinggi serta ramah, hati Toaso pun terpikat padanya. Justru pada malam pernikahan mereka, dengan membawa perasaan malu, dirinya dan Oey Kang pergi secara diam-diam.

Waktu terus berlalu, dalam sekejap mata hampir setengah dari kehidupan mereka telah terlewati. Mimpipun dia tidak pernah membayangkan bahwa selama belasan tahun ini dia bisa menemani Toaso setiap hari. Meskipun hubungan mereka dibatasi peraturan tertentu, dan otomatis dia sendiri tidak berani berlaku tidak sopan sedikitpun, namun hatinya sudah cukup terhibur dan kerinduannya seakan sudah terobati. Seandainya sepuluh tahun yang lalu, di malam hujan lebat, dia tidak kebetulan bertemu dengan Toaso yang sedang mengejar seorang manusia bertopeng, mana mungkin terjadi kebetulan ini. Kalau manusia bertopeng itu tidak menaruh belas kasihan, Toaso juga tidak mungkin dapat hidup sampai hari ini…

Begitu pikirannya tergerak, tiba-tiba ada sesuatu yang teringat olehnya.

“Kalau begitu, kita harus berangkat secepatnya. Tempat ini sudah diketahui oleh Oey Kang. Bukan tidak mungkin kalau kapan waktu saja dia akan datang mengacau…” sambil berkata, dengan penuh perhatian dia melirik ke arah Ceng Lam Hong sekilas. Setelah itu cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya dan mempersiapkan bekal perjalanan.

Pandangan mata Ceng Lam Hong sempat bertaut dengan sinar mata Yibun Siu San.
Hatinya menjadi terlonjak. Tetapi cepat-cepat dia menundukkan kepalanya. Dia mengeluarkan dua butir pil dari dalam sakunya dan memasukkannya dalam mulut Tan Ki.

Tindakannya ini sebetulnya untuk menghindari sinar mata Yibun Siu San. Mana mungkin dia tidak tahu perasaan hati paman kecilnya ini terhadap dirinya sendiri. Sejak kematian suami, Yibun Siu San selalu mendampinginya. Baik suka maupun duka telah mereka lalui bersama. Bahkan sepuluh tahun sudah berlalu, sejak awal hingga akhir belum pernah Ceng Lam Hong mendengar laki-laki itu mengeluh sepatah katapun. Malah sebaliknya, meskipun dia jarang berbicara, tetapi tindak-tanduknya terhadap Ceng Lam Hong selalu lembut dan penuh perhatian. Bahkan kasih sayangnya tidak di bawah suaminya sendiri. Tetapi, Ceng Lam Hong berpikir kembali, bahwa dirinya adalah wanita yang bersuami. Meskipun suaminya sudah meninggal, namun dia masih belum membalaskan dendamnya. Mana mungkin dia berani menerima uluran tangan laki-laki itu?

Setiap kali berpikir sampai di sini, dia langsung menekan perasaan ibanya dalam-dalam dan hanya bisa menguraikan air mata seorang

diri…

Saat ini, melihat kembali sinar mata Yibun Siu San yang mengandung kasih yang bahkan lebih dalam daripada biasanya, dia tidak tahu apa sebabnya. Namun dia dapat
merasakan bahwa sinar mata itu tidak menampakkan kebahagiaan, malah sebaliknya mengandung penderitaan yang tidak terkirakan…

****

Tiga hari kemudian…

Pada sebuah jalanan berpasir kuning, muncul dua ekor kuda dengan sebuah kereta.

Ini merupakan sebuah jalan penting di daerah utara Hu Pak. Dua ekor kuda dan kereta itu berlari dengan pesat. Setiap kali roda berputar, di sekelilingnya timbul debu-debu yang beterbangan.

Saat tengah hari, matahari bersinar dengan terik. Kedua ekor kuda dan kereta itu terpaksa mencari sebuah penginapan untuk bermalam dan beristirahat.

Ternyata orang yang menunggang kedua ekor kuda itu adalah si pengemis sakti Cian Cong dan Yibun Siu San. Sedangkan orang yang ada di dalam kereta, tidak lain adalah Ceng Lam Hong serta Tan Ki yang pikirannya kacau.

Meskipun si pengemis sakti Cian Cong ladalah seorang tokoh yang sudah sangat terkenal di dunia Bulim, tetapi dia sudah terbiasa melalui jalan pegunungan dan bahkan dengan berlari saja. Sepanjang perjalanan ini mereka selalu menunggang kuda, belum pernah menggunakan sepasang kaki. Jadi kepandaiannya percuma saja. Hal ini malah membuat pinggang si pengemis sakti jadi nyeri tidak terkatakan. Begitu masuk ke dalam kamar penginapan, dia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menjerit kesakitan.

Siapa nyana, suara jeritannya mengejutkan tamu di kamar sebelah. Terdengar suara bentakan dari mulut seorang gadis…

“Siapa sih yang kematian ayah bunda sehingga menjerit-jerit begitu keras?”

Cian Cong biasa bergelut dengan pedang dan golok. Namanya sudah sangat terkenal.
Kejadian sehebat apapun sudah pernah ditemuinya, tetapi menghadapi bentakan semacam ini, dia tak menyangka sama sekali. Untuk sesaat dia jadi termangu-mangu dan tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Diam-diam dia meleletkan lidahnya.

“Galak sekali nenek ini, si pengemis tua benar-benar ketemu batunya.” Kembali dia menarik nafas panjang.
Tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat di depan pintu, lalu langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar ke dalam.

“Siapa yang memaki orang?”

Cian Cong mengalihkan pandangannya. Dia melihat seorang gadis yang kurang lebih berusia tujuh atau delapan belas tahun. Wajahnya penuh dengan titik-titik hitam. Tanpa dapat ditahan lagi, dia jadi tertegun. Kemudian dia tertawa lebar.

“Biasanya si pengemis tua tidak pernah membicarakan orang lain di balik punggung- nya. Memangnya siapa yang memaki dirimu? Malah kau yang sembarangan masuk ke kamar orang, sama sekali tidak pantas!”

Gadis itu mendengus dingin satu kali.

“Nonamu ini mempunyai kekuasaan yang besar. Tempat manapun boleh didatangi asal hatiku senang! Akh…!”

Gadis itu memperhatikan Cian Cong dari atas kepala sampai ke jbawah kaki. “Apakah kau anggota Kai Pang?” tanyanya.

Cian Cong tertawa lebar. “Si pengemis tua tidak pernah menanyakan jurusan Kai Pang.
Tiba-tiba Nona menanyakan hal ini, apakah anak murid atau cucu murid Kai Pang ada yang melakukan kesalahan terhadapmu?”

Gadis itu tertawa terkekeh-kekeh. Tangannya mempermainkan kepang rambutnya yang panjang menjuntai.

“Aku hanya ingin berkelahi. Ingin menjajal sampai di mana sebenarnya kehebatan ilmu silat Kai Pang yang terkenal itu!”

Tampaknya watak gadis ini senang sekali mencari gara-gara dengan orang. Tetapi hati- nya sendiri masih polos. Apa yang dikatakannya lansung segera dilakukan tanpa berpikir panjang lagi. Selesai berkata, pergelangan tangannya langsung membalik, sebuah totokan langsung dilancarkan ke depan.

Perubahan yang mendadak ini benar-benar di luar dugaan. Gerakannya juga demikian cepat serta aneh. Hati Cian Cong jadi terkesiap. Baru saja dia bermaksud melesat ke samping untuk menghindarkan diri, tahu-tahu pergelangan tangannya sudah terasa ketat. Rupanya serangan gadis itu yang tadinya berupa totokan di tengah jalan tiba-tiba berubah menjadi cekalan. Ketika Cian Cong menyadarinya, pergelangan tangannya sudah tercengkeram oleh gadis itu. Tenaga yang baru saja disiapkan secara diam-diam lenyap entah ke mana.

Rasa terkejut Cian Cong kali ini bukan kepalang tanggung. Dia tidak menyangka gadis itu dapat melancarkan serangan sedemikian cepat. Dia sendiri yang memiliki ilmu tinggi, masih tidak dapat menghindarkan diri dari cengkeramannya.

Bahkan Ceng Lam Hong dan Yibun Siu San yang berdiri di sampingnya juga terkejut sekali. Mereka hampir tidak percaya dengan pandangan mata mereka sendiri.

Sementara itu…

Biarpun pergelangan tangan Cian Cong tercekal oleh lawannya, tapi bagaimanapun dia merupakan salah satu dari dua tokoh sakti di dunia ini. Nama besarnya bukan didapatkan dengan mudah, oleh karena itu, dia segera menghimpun hawa murninya dan menyalurkannya ke arah pergelangan tangan.

Serangan gadis itu belum menggunakan segenap tenaganya. Dia mengira dengan cekalannya kali ini, lawan pasti tidak sanggup mengerahkan tenaganya. Asal dia
mencengke-ram lebih keras sedikit saja, kemungkinan lengan kanannya bisa terlepas dari persendiannya.

Siapa nyana, pergelangan tangan kanan Cian Cong tiba-tiba berubah sekeras baja. Dia merasa kesulitan untuk menggerakannya, diam-diam dia jadi terkejut. Telinganya mendengar suara bentakan yang keras, tahu-tahu pergelangan tangan lawannya yang tercekal sudah terlepas!

Begitu berhasil melepaskan diri dari cekalan gadis itu, dalam waktu yang bersamaan Cian Cong membentak dengan keras. Telapak tangannya mengeluarkan suara desiran angin. Dengan cepat Bagian dada lawannya sudah terancam pukulan orangtua itu. Cara turun tangannya aneh dan hebat, bahkan secepat kilat.

Mendengar suara pukulan yang dahsyat, wajah gadis itu yang penuh dengan bintik- bintik hitam itu langsung berubah, pertanda hatinya terperanjat sekali. Kakinya segera menutul, terdengar suara kibaran pakaiannya, tubuhnya mencelat ke atas dan tangannya segera membalik serta melancarkan dua buah pukulan sekaligus.

Serangannya yang dilakukan dari udara ini sangat indah. Bagai tarian para bidadari, bagai dewi naik ke atas rembulan. Sama sekali tidak mirip dengan orang yang sedang berkelahi atau mengadu kekerasan.

Namun tenaga yang terkandung dalam serangannya sangat dahsyat. Lagipula gerakan- nya aneh. Begitu serangan Cian Cong gagal, Bagian lehernya sudah terasa terhembus oleh angin yang kencang, tahu-tahu dirinya sudah diserang dengan gencar.

Hati Cian Cong tergetar seketika, dia langsung bersuit marah. Sekali celat ia langsung menghindarkan diri dari serangan lawan. Sepasang matanya yang bersinar tajam. Dia memperhatikan gerakan tangan serta tubuh gadis itu. Diam-diam pikirannya bekerja, tetapi dia tidak dapat menduga asal-usul lawannya. Dia hanya merasa jurus-jurus yang dilancarkan gadis itu begitu asing, bahkan mendengarnya pun belum pernah.

Perlu diketahui bahwa si pengemis sakti

Cian Cong ini sudah malang melintang di dunia Bulim hampir enam puluh tahun lama- nya. Pengetahuannya sangat luas. Asal pihak lawannya memainkan beberapa jurus saja, dia langsung menebak asal-usul orang itu. Tetapi gerakan gadis ini aneh dan keji. Dia bahkan belum pernah melihat gerakan seperti ini sekalipun. Oleh karena itu, hatinya langsung yakin bahwa gadis itu bukan berasal dari daerah Tiong Goan.

Justru ketika hati Cian Cong masih diliputi kebimbangan, tiba-tiba gadis itu tertawa terkekeh-kekeh. Dengan sepenuh tenaga dia melancarkan sebuah pukulan.

Pukulan yang dilancarkan ini bagai memecahkan keheningan di dalam kamar itu. Suaranya berdesing-desing, serangkum tenaga yang kuat laksana ambruknya sebuah gunung mendesak ke arah Cian Cong.

Hati si pengemis sakti itu langsung tergerak. Tiba-tiba dia berniat menjajal sampai di mana kekuatan tenaga dalam gadis itu. Bukannya mundur, dia malah bergerak maju.
Dalam waktu yang bersamaan, dia mengulurkan telapak tangannya dan menyambut serangan gadis tersebut.

Terdengar suara yang menggelegar. Gadis itu menyambut serangan dengan kekerasan, hatinya terasa dilanda hawa panas. Ternyata dia sudah dibuat tergetar oleh Cian Cong sehingga mundur tiga langkah. Wajahnya yang penuh dengan bintik-bintik hitam jadi pucat pasi.

Tepat pada saat itu juga…

Suara bentakan yang merdu menyusup di telinga para tokoh yang ada dalam kamar itu.
Disusul dengan suara seorang gadis yang terdengar panik sekali… “Jangan berkelahi!”
Bayangan manusia berkelebat, di hadapan Cian Cong tahu-tahu telah berdiri seseorang.
Usianya paling-paling sekitar dua puluhan. Matanya bening dan sayu. Hidungnya bangir. Bibirnya demikian merah bak api yang membara. Mungkin karena terlalu panik sehingga tampak gemetar.

Tiba-tiba dia menghambur ke dalam kamar. Tanpa memperdulikan orang lainnya sama sekali, dia langsung menghampiri gadis yang wajahnya bintik-bintik hitam itu. Dengan penuh perhatian dia bertanya…

“Ie Moay, apakah kau terluka?”

Gadis yang wajahnya berbintik-bintik itu merasa pukulan Cian Cong tadi mengandung tenaga dalam yang dahsyat sekali. Saat ini telapak tangannya terasa perih. Wajahnya langsung meringis dan seperti orang yang akan menangis.

“Sekarang tangan rasanya kebal.” katanya dengan sedih.

Gadis yang cantik jelita itu tersenyum simpul. Dia menepuk-nepuk pundak gadis yang wajahnya berbintik-bintik itu.

“Biasanya kau paling senang mencari gara-gara. Malah mengacau ke kamar orang. Merasakan sedikit pelajaran baik juga bagi dirimu.” sembari berkata, dia membalikkan tubuhnya dan menjura ke arah Cian Cong dan yang lainnya. Dengan nada menyesal dia berkata. “Adikku ini tidak tahu apa-apa. Kali ini malah mengganggu ketenangan kalian. Harap sudi memaafkan.”

Cian Cong tertawa lebar.

“Jangan sungkan, jangan sungkan. Hanya urusan sepele saja, si pengemis tua tidak sanggup menerima penghormatan sebesar ini.” sahutnya. Tiba-tiba wajahnya berubah serius. Dia membalas penghormatan yang diberikan gadis itu. “Mohon tanya nama kedua nona yang mulia.”

Gadis yang cantik jelita itu merenung sejenak. Dia sedang memikirkan bagaimana ca- ranya menjawab pertanyaan Cian Cong. Namun gadis yang wajahnya penuh bintik-bintik hitam itu langsung mendahului menjawab…

“Aku bernama Cin Ie, dia adalah kakakku Cin Ying, kami berasal dari…”
Gadis yang cantik jelita itu melihat mulut adiknya tidak bisa ditahan. Hampir saja menyebutkan asal-usul mereka. Wajahnya langsung berubah.

“Tutup mulut!” bentaknya.

Setelah mengeluarkan kata-kata itu, tiba-tiba dia merasa ada nada ucapannya terlalu tajam, mungkin perasaan adiknya bisa tersinggung. Tanpa terasa, mimik wajahnya jadi lembut. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman.

“Ie Moay, kedatangan kita kali ini, kecuali berpersiar, masih ada tugas lainnya yang penting sekali. Oleh karena itu harus dijaga, jangan sampai orang tahu asal-usul kita, mengerti?”

Tampaknya Cin Ie sangat menghormati kakaknya. Mendengar ucapan Cin Ying, dia langsung meleletkan lidahnya.

“Baiklah, aku tidak akan berkata apa-apa.”

Sejak tadi Yibun Siu San memperhatikan kedua kakak adik ini. Yang satu cantiknya bukan main, yang satunya lagi jeleknya kelewatan. Tetapi sepasang mata mereka menyorotkan sinar yang tajam. Hatinya jadi berdebar-debar. Cepat-cepat dia maju beberapa langkah. “Nona…”

Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba terasa ada serangkum angin yang berhembus ke arahnya. Yibun Siu San langsung membentak.

“Apa yang kau lakukan?”

Kakinya menutul, dengan cepat dia mencelat mundur menghindarkan diri dari cekalan tangan Cin Ie.

Tampak gadis itu tertawa terkekeh-kekeh.

“Cadar hitam yang menutupi wajahmu itu lucu sekali. Bolehkah aku meminjamnya sebentar untuk bermain?”

Cin Ying segera memarahinya dengan bibir tersenyum.
“Adik Ie tidak boleh kurang ajar. Orang pasti ada persoalan tersendiri makanya mengenakan cadar untuk menutupi wajah aslinya. Mana boleh kau sembarangan menjamahnya?”

Mulut Cin Ie mengeluarkan suara keluhan kekecewaan. Dia menarik nafas panjang.
Wajahnya jadi muram seketika. Yibun Siu San tertawa santai.

“Kata-kata nona ini terlalu berat. Kalau adik ini ingin bermain dengan cadar ini, tidak menjadi masalah. Tetapi jangan bergerak turun tangan secara tidak terduga-duga, hal ini bisa mengakibatkan kesalahpahaman di antara kedua pihak. Tetapi, di dalam hati Cayhe ada beberapa persoalan yang belum jelas, ingin mohon tanya kepada nona berdua.”
Cin Ie mendengar Yibun Siu San bersedia meminjamkan cadar kepadanya, hatinya menjadi gembira kembali. Dengan tampang ketolol-tololan dia tertawa terkekeh-kekeh.

“Cepat tanyakan saja. Kalau hal yang aku tahu, pasti aku akan memberitahukannya.
Tetapi kalau memang aku tidak tahu, ya… apa boleh buat?” Yibun Siu San tersenyum lembut.
“Ilmu silat yang nona lancarkan tadi benar-benar mengagumkan.” Yibun Siu San ingin menyelidiki asal usul kedua gadis itu. Oleh karena itu, begitu buka mulut dia langsung memuji.

Otak Cin Ie memang kurang cerdas. Tindak-tanduknya selalu kekanak-kanakan. Ha- tinya polos, tidak kenal akal busuk manusia di dunia ini. Mendengar pujian Yibun Siu San, dia segera tertawa lebar.

“Akh… biasa-biasa saja. Ilmu silatku ini adalah hasil didikan ayahku sendiri. Apanya yang hebat?”

Yibun Siu San tertawa lebar.

“Kalau begitu, tentunya ayahmu merupakan tokoh yang ilmunya sangat tinggi di dunia Bulim?”

Bibir Cin Ie sudah bergerak-gerak. Dia sudah bermaksud mengatakan nama ayahnya. Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Cin Ying. Kata-kata yang hampir keluar terhenti seketika. Gadis yang cantik itu langsung tertawa dingin.

“Tampaknya sahabat ini susah payah menyeldiki riwayat hidup orang, sebetulnya apa tujuanmu?” tanyanya.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Yibun Siu San benar-benar tidak menduga sama sekali. Untuk sesaat dia jadi tertegun, namun sekejap saja sudah pulih kembali. Dia langsung tertawa lebar.

“Dulu Cayhe mempunyai seorang sahabat lama, namun dia sudah lama mengasingkan diri. Melihat gaya serangan Nona ini tadi, mirip sekali dengan ilmu andalannya yang tidak diwariskan kepada orang luar. Oleh karena itu, Cayhe memberanikan diri untuk bertanya. Tidak disangka malah menerbitkan salah paham Nona, maafkan saja.”

Sebetulnya, Yibun Siu San sudah mengasingkan diri selama sepuluh tahun. Mana mungkin dia mempunyai teman? Kata-katanya tadi hanya sebagai alasan yang diucapkannya dalam keadaan terdesak. Namun karena suaranya yang lembut dan kata- katanya yang halus, Cin Ying agak percaya.

‘Meskipun Gihu (ayah angkat) adalah Beng-cu terdahulu dari samudera luar, tetapi dalam pembicaraan sehari-hari sering kegagahan para tokoh Bulim di Tionggoan. Ayah juga memuji bahwa mereka cinta negara, berjiwa pendekar dan suka menolong yang lemah. Mungkinkah Gihu tadinya juga seorang tokoh Bulim di Tionggoan ini dan juga merupakan sahabat lama Tuan yang mengenakan kerudung ini?’ tanyanya dalam hati.
Begitu pikiran ini melintas di benaknya, Cin Ying jadi mulai percaya. Tetapi dia masih merasa bimbang, sehingga bertanya kembali, “Ayah selamanya jarang keluar rumah. Juga tidak banyak bertanya masalah orang lain. Locianpwe kalau memang kenal dengan Gihu, Siau li memberanikan diri menanyakan nama besar atau gelar Cianpwe yang mulia.”

Yibun Siu San tertawa lebar.

“Mungkin kau pernah mendengar ayahmu bercerita tentang Coan Lam Tajhiap Yibun Siu San. Orangtua itu adalah Po Siu Cu Cian Cong yang namanya sudah terkenal sekali di dunia Kangouw.”

Cin Ying memejamkan matanya merenung sejenak. Di dalam benaknya terlintas ingatan samar-samar bahwa dia rasanya memang pernah mendengar nama kedua orang ini. Rasa bimbangnya pun sirna seketika. Bibirnya merekah mengembangkan seulas senyuman yang manis.

“Rupanya Lopek berdua, harap terima penghormatan Ying Ji. Selesai berkata, dia langsung menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah.

Wajahnya cantik jelita memang sulit dicari tandingannya. Begitu tersenyum, kecemerlang an wajahnya semakin mempesona, Yibun Siu San dan Cian Cong sampai merasa antung mereka berdebar-debar. Cepat-cepat mereka memalingkan wajahnya, tidak berani nelihat lagi. Bahkan mereka lupa membangunkannya, meskipun gadis itu sudah mendiri berlutut di atas tanah.

Cin Ie melihat kakaknya melakukan penghormatan kepada kedua orang itu dengan berlutut. Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera ikut berlutut di samping Cin Ying.

Perlu diketahui, adat zaman dulu sangat mementingkan penghormatan terhadap orang yang lebih tua. Cara berlutut seperti inilah yang justru harus dilakukan. Orang yang menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah, apabila belum disuruh bangun oleh yang bersangkutan, maka ia harus berlutut terus selamanya.

Setelah berlutut beberapa saat, Cin Ie melihat Yibun Siu San serta Cian Cong tetap melihat ke arah lain tanpa memperdulikan sama sekali. Dia mulai kehabisan sabar. Dasar sikapnya memang ketolol-tololan. Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung berteriak, “Hei, kenapa tidak berbicara lagi. Sepasang lutut Nonamu ini sudah pegal setengah mati!”

Yibun Siu San dan Cian Cong bagai tersentak dari lamunan, keduanya mengeluarkan seruan terkejut.

“Bangun, bangun!” kata mereka serentak.

Sembari tersenyum Cin Ying berdiri. Matanya beralih dan berhenti pada diri Tan Ki yang sedang terbaring di atas tempat tidur.

“Entah ada hubungan apa antara Lopek dengan Heng Tai yang berada di atas tempat tidur itu?” tanyanya perlahan.

“Keponakan.” sahut Yibun Siu San. “Apakah dia terluka?”

“Tidak. Hanya pikirannya yang terkena pukulan bathin yang hebat. Kesadarannya hilang dan orangnya menjadi kalap. Kami memberinya pil penenang dan sekaligus menotok jalan darah tidurnya. Dengan demikian dia dapat beristirahat dengan tenang beberapa saat dan jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.”

“Adikku suka sekali cadar penutup wajah Lopek itu, untung saja Lopek bersedia menghadiahkan. Dengan demikian, kami jadi berhutang budi. Meskipun keponakan tidak mempunyai kepandaian yang mengejutkan, namun almarhum ayah pernah mengajarkan cara pengobatan dengan totokan jari. Rasanya masih boleh dicoba. Kalau Lopek dapat menaruh kepercayaan, sekarang juga Tit li (keponakan perempuan) akan mengobati penyakit Heng Tai ini sebagai balas jasa Lopek yang menghadiahkan cadar muka kepada adikku.” kata Cin Ying sambil tersenyum manis.

Mendengar kata-katanya, Yibun Siu San jadi termangu-mangu. Hatinya menjadi serba salah. Untuk sesaat dia merenungkan hal ini dengan kepala tertunduk dan tidak bisa mengambil keputusan apapun.

Di lain pihak, dia mengagumi kepandaian Cin Ying mengatur tata bahasanya sehingga tidak menyolok maksud hati yang sebenarnya. Gadis ini sangat cerdas. Meskipun hatinya mulai percaya kalau Yibun Siu San adalah sahabat almarhum ayahnya, tetapi dia tetap berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Apabila dia berhasil mengobati penyakit Tan Ki, berarti dia sudah membalas budi Yibun Siu San yang berjanji akan menghadiahkan cadar mukanya kepada Cin Ie. Dengan demikian, diantara mereka tidak ada hutang piutang lagi dan tentu saja Yibun Siu San tidak enak hati apabila bertanya terus mengenai asal-usul dan tujuan mereka datang ke Tionggoan.

Di benaknya terlintas dua macam masalah yang terus menggelayuti pikirannya. Dia cu- riga sekali terhadap kedua gadis ini. Kemungkinan besar mereka merupakan mata-mata yang dikirim oleh golongan sesat luar samudera. Kalau dia menyatakan persetujuannya, maka dia akan kehilangan kesempatan menyelediki apa tujuan mereka dan otomatis terputus sumber berita yang baik…

Lalu apabila dia menolaknya, penyakit Tan Ki yang menyangkut kejiwaan ini, mungkin sulit disembuhkan. Seumur hidupnya dia akan menjadi orang yang ketolol-tololan.
Bukankah hal itu merupakan penderitaan yang tak akan pernah berakhir?

Semakin dipikirkan, Yibun Siu San merasa semakin serba salah. Dua masalah yang sama-sama pentingnya terus berputar di benaknya, hal ini membuatnya tidak berani sembarangan mengambil keputusan…
Untuk sesaat, hatinya seolah diganduli beban yang berat sekali. Kacau, kalut, ruwet! Sampai cukup lama, dia masih belum bisa memberikan jawaban. Matanya perlahan-la-
han mengerling. Tiba-tiba pandangannya bertemu dengan sinar mata Ceng Lam Hong.
Hati Yibun Siu San tergetar. Dia menjadi tertegun seketika.

Dia merasa wajah wanita itu menyiratkan kegelisahan yang tidak terkirakan. Sinar ma- tanya mengandung penderitaan dan harapan. Serangkum cinta kasih seorang ibu tersirat jelas pada diri wanita itu…
Tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas panjang, hatinya tidak tega melihat kesedihan Ceng Lam Hong. Bibirnya langsung memaksakan seulas senyuman.

“Kalau begitu terpaksa merepotkan Nona.” dia menjura satu kali, kemudian menggeser tubuhnya ke samping.

Tiba-tiba terdengar suara bergesernya tubuh seseorang. Ceng Lam Hong sudah berdiri di sampingnya.

“Toako, terima kasih. Kalau anak Ki bisa selamat tanpa kelainan apapun, semuanya berkat ucapan Toako tadi.”

Suara itu bening dan lirih, seolah bisikan saja. Namun bagi pendengaran Yibun Siu San bagai guntur yang menggelegar, di dalamnya tersirat perasaan terima kasih yang tidak terhingga. Tanpa dapat ditahan lagi, dia melirik ke arahnya sekilas. Bibirnya tertawa sumbang.

“Asal anak Ki bisa pulih kembali seperti sedia kala, urusan menyelidiki para gembong iblis dari luar samudera yang ada kemungkinan ingin mengacau Tionggoan, terpaksa kita tunda kesempatan yang lain.”

Ceng Lam Hong tersenyum lembut.

“Aku tahu selamanya Toako tidak suka melihat aku menderita dan memperhatikan aku secara luar biasa…” tiba-tiba dia melihat Cian Cong melangkahkan kakinya mendekati mereka, cepat-cepat dia menghentikan kata-katanya dan membungkam seribu bahasa.

Matanya segera dialihkan, dia melihat Cin Ying dan Cin Ie sedang berjalan ke arah tempat tidur di mana Tan Ki berbaring. Saat itu juga seraut wajah yang tampan hadir di dalam bola mata kedua gadis itu. Cin Ying dibesarkan di samudera luar. Mana pernah dia bertemu dengan pemuda yang begitu gagah dan tampan seperti Tan Ki. Begitu matanya memandang, jantungnya langsung berdebar-debar. Kedua pipinya menjadi merah jengah. Tanpa dapat ditahan lagi dia memalingkan wajahnya. Cepat-cepat dia mengatur pernafasannya dan menekan perasaannya yang memalukan.

Watak Cin Ie ketolol-tololan. Akal dan pikirannya tidak secerdas kakaknya. Dia melihat wajah tampan Tan Ki yang mana belum pernah dilihatnya seumur hidup, mulutnya segera mengeluarkan suara deheman sebanyak dua kali.

“Pemuda yang tampan sekali, aku juga jadi senang melihatnya.” Cin Ying langsung mendelik kepadanya.
“Jangan banyak bicara, hanya menjatuhkan harga dirimu sendiri.”

Perlahan-lahan dia mengulurkan tangannya, kemudian menekan dada Tan Ki. Dia segera menghimpun hawa murninya dan mendorongnya ke telapak tangan. Dengan tepat disalurkannya tenaga dalamnya ke tubuh anak muda itu.

Cara pengobatan seperti ini menimbulkan penderitaan yang hebat. Tiba-tiba tubuh Tan Ki seperti disengat aliran listrik, melonjak-lonjak dua kali dan mulutnya terus
mengeluarkan suara rintihan. Namun sekejap kemudian, tubuhnya tidak bergerak lagi serta mulutnya juga berhenti merintih. Keadaannya kembali seperti sebelumnya.

Ceng Lam Hong meremas tangannya sendiri berulang kali. Tampangnya sangat tegang. Berhasil atau gagalnya Cin Ying mengobati Tan Ki menyangkut kebahagiaan anak muda itu seumur hidupnya…

Meskipun wajah Yibun Siu San ditutupi, cadar hitam sehingga orang tidak tahu bagai- mana perasaannya saat itu, tetapi secara diam-diam dia sudah mengerahkan tenaga dalamnya, siap sedia setiap waktu untuk dilancarkan apabila Cin Ying memperlihatkan gerak-gerik yang mungkin akan mencelakai Tan Ki.

Kurang lebih sepeminum teh telah berlalu…

Telapak tangan Cin Ying masih belum dilepaskan, tiba-tiba terlihat sekumpulan uap putih mengepul dari atas kepalanya dan melayang di udara. Wajahnya sudah berubah merah padam, keringat menetes memenuhi Bagian kepalanya bagai curahan hujan. Tetapi dia tetap menggertakkan giginya erat-erat, raut wajahnya kelam sekali. Tampaknya dia telah berusaha sekuat tenaga.

Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara bentakan dan tangan kanannya mengayun- ayun, kemudian meluncur ke Bagian ubun-ubun Tan Ki!

Perubahan yang mendadak ini, benar-benar tidak disangka-sangka oleh orang yang lainnya. Meskipun Yibun Siu San sudab mempersiapkan diri, tak urung ia terkesiap juga. Hati-nya berpikir untuk menerjang ke depan dan memberikan pertolongan, tetapi dia melihat Cin Ying mencelat mundur sejauh setengah langkah setelah memukul ubun-ubun kepala Tan Ki. Dalam waktu yang bersamaan, lengannya terangkat, sepasang jari telunjuk serta jari tengahnya menutul secara berturut-turut.

Dalam waktu yang singkat, delapan belas urat nadi di tubuh Tan Ki telah tertotok olehnya. Sampai saat ini, Cin Ying baru menghembuskan nafas panjang. Tangannya terangkat ke atas dan mengusap keringat yang bercucuran di seluruh wajah dengan ujung lengan bajunya.

“Heng Tai ini hanya perlu istirahat selama satu hari lagi, tentu ia akan pulih kembali seperti semula.”

Setelah selesai mengobati Tan Ki, tampaknya gadis ini sudah kelelahan setengah mati.
Begitu selesai bicara, dia tidak menunggu jawaban dari yang lainnya, namun langsung duduk bersila di atas tanah sambil memejamkan matanya mengatur pernafasan.

Yibun Siu San dan Cian Cong melihat usia gadis ini masih muda sekali. Namun dia sudah memahami pelajaran ilmu lwekang kelas tinggi. Dia mampu mendesak hawa murni sendiri agar mengalir ke tubuh seseorang kemudian menembus urat nadinya yang tersumbat. Tentu saja mereka terperanjat sekali. Keduanya saling lirik sekilas dan tidak mengucapkan sepatah katapun.

Tiba-tiba terdengar suara tawa Cin Ie yang ketolol-tololan sembari bergumam seorang diri, “Kalau membiarkan kau berbaring satu hari lagi, tentunya iseng sekali. Cici toh sudah membantumu, biar aku juga membantumu sejenak.”
Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung mengulurkan tangan kanannya dan menem- pelkannya ke dada Tan Ki. Kurang lebih sepeminuman teh lagi berlalu, terdengar suara ke- luhan dari bibir Cin Ie. Wajahnya juga telah basah oleh keringat yang mengucur dengan deras.

Mendadak dia menarik kembali telapak tangannya kemudian melangkah mundur sejauh empat depa. Lalu berhenti. Matanya yang bulat dan hitam itu menatap Tan Ki lekat-lekat tanpa berkedip sedikitpun.

Meskipun tidak ada lagi bahaya yang mengancam, namun masih terselip ketegangan yang tidak terkatakan. Hati setiap orang berdebar-debar tanpa sebab musabab yang pasti…

Lambat laun…

Tangan Tan Ki mulai bergetar, perlahan-lahan dia membuka matanya dan mulai sadar- kan diri. Tadinya dia tertotok jalan darah tidurnya oleh Yibun Siu San, tetapi dengan ber- giliran Cin Ying dan Cin Ie telah menyalurkan hawa murni mereka sehingga jalan darah yang tertotok itu terbuka kembali.

Saat itu juga, tampak bibir Ceng Lam Hong merekahkan senyuman. Akhirnya dia malah tertawa lebar. Mimik wajahnya yang tegang dan gelisah sudah lenyap seketika. Dalam sekejap mata, suasana tegang sudah mencair dan digantikan dengan suasana riang.
Karena Tan Ki sudah sadarkan diri, orang yang berkerumun di kamar itu satu per satu memperli-hatkan senyumannya.

Cin Ying juga sudah selesai mengatur pernafasannya. Sepasang tangannya bertumpu di atas tanah dan diapun melonjak bangun. Ketika matanya bertemu pandang dengan mata Tan Ki, dia merasa jantungnya berdebar-debar. Semacam perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya terasa memenuhi hatinya saat itu. Wajahnya jadi merah jengah. Cepat-cepat dia menundukkan kepalanya dengan tersipu-sipu.

Sementara itu, tampak Ceng Lam Hong berjalan perlahan-lahan menuju jendela. Dia memandang langit dengan terpana. Untuk sesaat, Cin Ying tidak tahu ada berbagai pikiran yang berkecamuk di dalam dada wanita itu. Dibalik kegembiraan melihat anaknya sudah sembuh kembali, juga terselip kepedihan yang tidak terkirakan.