Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 14

 
Bagian 14

Begitu kulit tubuh mereka saling menyentuh, Liang Fu Yong baru merasakan suhu badan Tan Ki panas membara. Tangannya seperti menyentuh api yang berkobar-kobar. Hatinya terkesiap, dia segera menundukkan kepalanya untuk melihat. Tampak bola mata Tan Ki yang menerawang telah kehilangan sinarnya yang cemerlang. Wajahnya pucat pasi, seluruh tubuhnya penuh dengan bercak darah. Hatinya terasa pedih sekali. Dia mengulurkan tangannya mengambil sapu tangan dari dalam saku, dengan hati-hati dia menghapus noda darah yang membasahi wajahnya. Gerakannya begitu lembut dan sangat terlatih.

Pada saat itu juga, dari seorang perempuan jalang serta rendah, tiba-tiba dia berubah menjadi wanita lemah lembut dan berhati mulia. Baik mimik wajah maupun gerak-geriknya menunjukkan daya pikat seorang wanita yang lembut serta penuh perhatian.

Di bawah cahaya rembulan, angin malam berhembus semilir, di sini hanya terdapat dua anak manusia yang saling berangkulan…

Tepat sepeminuman teh kemudian, Tan Ki baru mengeluarkan suara yang lemah dan ter-sendat-sendat, tampaknya dia sedang menahan rasa sakit yang amat sangat.

“Tadinya aku berpikir untuk mengajak Cici meninggalkan tempat ini, kemudian mencari tempat yang tenang untuk hidup sampai hari tua. Namun manusia memang hanya bisa berharap, semuanya Thian yang menentukan, ternyata umurku demikian pendek…”

Hati Liang Fu Yong menjadi perih mendengarnya. Air matanya turun bagai curahan hujan. Cepat-cepat dia mengulurkan tangannya dan mendekap mulut anak muda itu.

“Jangan mengucapkan kata-kata yang putus asa. Lebih baik hemat tenagamu agar tubuhmu dapat bertahan. Setelah mendengar kata-katamu tadi, Cici pasti akan mati meram.”

Tan Ki dapat mendengar suaranya yang pilu. Di dalamnya seakan terkandung penderitaan yang tidak kepalang. Hampir saja dia tidak dapat menahan air matanya yang akan mengalir. Cepat-cepat dia menarik nafas dalam-dalam dan mengulurkan tangannya menghapus air mata Liang Fu Yong. Kemudian dia membelai rambut perempuan itu dengan kasih sayang. Mulutnya bergerak-gerak, tampaknya seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi sepatah katapun tidak sanggup ia cetus-kan keluar.

Menghadapi belaian Tan Ki yang demikian mesra, seluruh urat darah di dalam tubuh Liang Fu Yong seakan berdesir aneh. Apalagi mereka berdiri berhadapan dengan wajah saling menempel, jaraknya tidak sampai setengah inci, masing-masing dapat mendengar denyut jantung yang lainnya.

Perasaan nyaman serta indah yang mereka alami, bukan suatu hal yang dapat diuraikan dengan kata-kata. Rasanya Liang Fu Yong ingin waktu yang beredar di seluruh dunia ini berhenti pada saat itu juga. Dia berharap waktu berhenti berputar, tetapi begitu teringat akan nama busuknya di masa lalu, harapannya yang menggebu-gebu langsung surut seketika. Air matapun tidak tertahankan lagi.

Akhirnya Liang Fu Yong menarik nafas panjang.

“Tempat ini masih dalam lingkungan Pek Hun Ceng, meskipun kita sudah berhasil melarikan diri, tapi keadaan belum aman. Mumpung tidak ada seorangpun, kita harus berlari lebih jauh sedikit.” katanya.

Tan Ki menggelengkan kepalanya perlahan. “Aku tidak sanggup berjalan lagi,” sahutnya lirih.
Liang Fu Yong merasa kata-katanya memang beralasan. Setelah merenung sejenak, akhirnya dia mengambil keputusan. Tiba-tiba dia menggertakkan giginya erat-erat kemudian dibopongnya tubuh Tan Ki. Dengan menghimpun hawa murni ia bergerak secepat kilat dan melesat meninggalkan tempat tersebut.

Ketika Liang Fu Yong membungkukkan tubuhnya ingin menggendong Tan Ki, anak muda tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia segera mengecup pipinya yang harum dan manis itu. Bibirnya malah tersenyum simpul.

“Cici, usiamu hanya bertaut tiga tahun denganku. Meskipun kau lebih besar daripada aku, hal ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh membicarakan masalah perkawinan. Tadi
waktu masih di dalam kamar, mengapa kau sengaja menghindarkan diriku? Apakah kau benar-benar tidak sudi menikah denganku?”

Liang Fu Yong meliriknya sekilas. Wajahnya menjadi merah padam. “Ini… ini…” perempuan itu menjadi gugup sekali.
Setelah beberapa saat, dia tetap tidak sanggup memberikan jawaban. Padahal, hati pe- rempuan itu memang sudah jatuh cinta kepada Tan Ki, tetapi dia sendiri belum menyadarinya. Dia hanya merasa, apabila dapat menemani Tan Ki seumur hidup, sudah merupakan suatu kebahagiaan tersendiri dalam ba-thinnya. Sedangkan ucapan Tan Ki barusan, datangnya terlalu mendadak, di tambah lagi dengan penyesalannya terhadap masa lampaunya. Mendapat kasih sayang dari Tan Ki malah membuat dirinya merasa serba salah. Untuk sesaat dia tidak berani menerima lamaran itu, sekian lama dia termenung akhirnya mengembangkan senyuman yang pahit.

“Lebih baik kita tinggalkan dulu tempat ini. Masalah lainnya kita bicarakan kemudian.” katanya seakan mengelak dari pokok pembicaraan.

Tubuhnya melesat seperti terbang. Dia terus menghambur ke depan karena ingin cepat-cepat meninggalkan tempat yang penuh bahaya itu. Sebentar saja dia sudah berlari cukup jauh. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara mengaduh. Langkah kakinya pun terhenti, tubuhnya agak meringkuk seperti menahan sa-kit.

Tan Ki terkejut sekali.

“Ada apa?” tanyanya panik.
“Bagian bawah perutku…” wajahnya menjadi merah padam dan langsung bungkam. Tan Ki menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dan diapun melorot turun dari bopongan
Liang Fu Yong. Matanya segera mengalih, tampak Liang Fu Yong setengah meringkuk seperti sedang menahan sakit. Kedua tangannya terus meremas Bagian bawah perutnya dan tidak bisa berdiri tegak.

Sepasang alis Tan Ki terjungkit ke atas. “Apakah perutmu terasa sakit?”
Liang Fu Yong menganggukkan kepalanya. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun.
Hanya wajahnya tampak muram. Di bawah cahaya rembulan yang remang-remang, tampangnya sungguh mengibakan.

Tan Ki tidak tahu bahwa Liang Fu Yong diperkosa habis-habisan oleh Oey Kang. Laki- laki itu meminum semacam obat perangsang yang membuat gairahnya menggebu-gebu dan seperti tidak terpuaskan. Pertama-tama dia hanya merasa letih dan lemas. Tetapi karena barusan dia memaksa diri membopong Tan Ki sambil berlari, tiba-tiba dia merasa Bagian bawah perutnya perih sekali bagai disayat pisau.

Itulah sebabnya dia mengaduh kesakitan. Sedangkan Tan Ki hanya mengira perempuan itu sakit perut. Dengan gugup dia menggosok-gosokkan telapak tangannya.
“Pada saat seperti ini tiba-tiba ribut sakit perut. Aku malah tidak bisa memberi pertolongan apa-apa. Bagaimana baiknya sekarang?” katanya gugup.

Dia segera mengedarkan matanya memandang daerah sekitar. Kemudian jari tangannya menunjuk ke arah hutan.

“Kita sembunyi saja di sana untuk sementara. Meskipun Oey Kang mempunyai kemampuan menembus langit, dalam waktu yang singkat belum tentu dapat menemukan kita.”

Liang Fu Yong menggelengkan kepalanya.

“Tidak bisa. Hutan ini tampaknya biasa-biasa saja. Tetapi sebetulnya telah dirancang sedemikian rupa dengan unsur Pat Kwa oleh Oey Kang. Orang yang masuk ke dalamnya laksana terombang-ambing di tengah lautan, memandang ke manapun sama saja. Yang terlihat hanya pepohonan yang rimbun. Untuk selamanya tidak bisa menemukan jalan keluar.”

Sembari berkata, perlahan-lahan dia menegakkan badannya. Bibirnya tersenyum. “Sekarang tidak terasa sakit lagi. Tetapi, kita tidak bisa berjalan cepat-cepat.” Tan Ki menjadi bingung.
“Bukankah kau mengatakan bahwa semakin cepat kita tinggalkan tempat ini semakin baik, mengapa tidak berlari saja? Masa kita mau merayap seperti seekor siput serta menunggu sampai si tua bangka berhasil menyusul kita?”

Wajah Liang Fu Yong semakin merah.

“Jangan tanya macam-macam. Urusan perempuan biar aku katakan, kau juga belum tentu mengerti. Hayo jalan!”

Kedua orang itu saling membimbing mengambil jalan memutari balik hutan. Tiba-tiba, dari lembah sebelah Timur, terdengar suara suitan yang panjang dan perlahan-lahan suara itu semakin jelas seakan sedang menuju ke arah mereka.

Kedua orang itu saling lirik sekilas. Wajah mereka tampak sama-sama terkejut. Entah tokoh kelas tinggi dari mana yang tiba-tiba berkunjung ke Pek Hun Ceng. Liang Fu Yong menarik tangan Tan Ki. Dia bermaksud mengajaknya menyembunyikan diri di balik semak- semak yang rimbun, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang dingin terpancar dari lebatnya dedaunan yang ada di sebelah kiri.

“Berhenti!” suara bentakan pun menyusul tiba.

Suara bentakan yang tidak diduga-duga itu membuat orang tersebut menghentikan langkah kakinya secara otomatis. Tan Ki segera mengedarkan pandangannya, tidak terlihat bayangan seorangpun, yang ada hanya dedaunan yang melambai-lambai. Tetapi dari nada suaranya, Tan Ki tahu bahwa orang itu bukan si iblis Oey Kang.

Dari dalam hutan berkumandang lagi suara orang itu yang datar dan dingin.
“Sebelum masuk ke wilayah ini, apakah kalian tidak membaca papan peringatan yang tertancap di dekat kaki kalian itu?”

Kedua orang itu langsung menolehkan kepalanya mencari-cari. Ternyata dalam jarak kurang lebih sepuluh langkah dari kaki mereka, terdapat sebuah papan peringatan yang bertuliskan:

- Sebelum masuk ke wilayah ini, urus dulu masalah penguburan -

Begitu mata Liang Fu Yong memandang jelas, dia merasa tulisan ini membawa keangkeran yang menggidikkan hati. Tanpa terasa tubuhnya gemetar dan wajahnya berubah hebat. Sedangkan Tan Ki hanya tertawa dingin, diam-diam dia berpikir dalam hati: ‘Sungguh kata-kata yang congkak. Kalau keadaanku tidak sedang terluka parah, aku justru ingin masuk dan melihat apa gerangan yang ada di dalamnya’.

Sementara itu, orang yang bersembunyi dalam kegelapan seakan mempunyai suatu ganjalan dalam hatinya. Terdengar dia menarik nafas panjang.

“Di sini ada sebungkus obat bubuk, berikan pada sahabat itu. Walaupun tidak dapat sembuh dalam sekejap mata, tetapi mempunyai khasiat membantu memulihkan tenaga dalam. Apabila Kouwnio sudah membawanya keluar dari tempat ini, jangan sekali-kali kembali lagi ke sini. Ingat baik-baik! Ingat baik-baik!’ katanya berulang kali.

Baru kata-katanya selesai, tiba-tiba terdengar suara desiran di tengah udara, seperti suatu benda yang melayang ke arah mereka. Menggunakan cara menyambut senjata rahasia, Liang Fu Yong mengangkat tangannya menangkap benda tersebut. Begitu sampai di tangannya, dia segera melihat bahwa benda itu ternyata merupakan bungkusan obat.
Belum juga dibuka, baunya sudah menusuk hidung. Bau itu harum sekali. Orang yang menghirupnya merasa nyaman seketika.

Tiba-tiba terdengar Tan Ki menarik nafas panjang sambil memuji.

“Ilmu ginkang orang ini hebat sekali. Tampaknya tidak berada di bawahku.” “Apakah kau berhasil melihat orangnya?” tanya Liang Fu Yong.
“Lihat jelas sih tidak. Tetapi aku mendengar kibaran pakaiannya begitu lembut dan seperti ada dan tiada. Dari gerakan ini saja, dapat dibayangkan bahwa ilmu silat orang ini sama sekali tidak lemah.” dia berhenti sejenak, kemudian menarik nafas lagi. “Tetapi, mengapa dia bermaksud menolong aku?” tanyanya tidak mengerti.

Liang Fu Yong tersenyum.

“Orang sengaja mengantarkan obat, bagaimanapun bermaksud baik. Kau tidak perlu berpikir yang bukan-bukan, cepat minum obat ini.”

Tan Ki seperti masih ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi Liang Fu Yong sudah membuka bungkusan obat itu dan menjejalkannya ke dalam mulut anak muda tersebut. Tiba-tiba sepasang alis Tan Ki mengerut ke atas.

“Obat ini pahit sekali. Ada air tidak, aku tidak bisa menelannya, obat ini masih tercekat dalam tenggorokan.”

Wajah Liang Fu Yong menjadi muram.

“Tengah malam buta seperti ini, di mana aku harus mencari air.” Tan Ki sengaja memperlihatkan tampangnya yang sedih.
“Kalaupun ada, Cici juga belum tentu bersedia memberikannya, buat apa banyak bicara?” dia mengulurkan tangannya dan mengelus-elus tenggorokan, seakan hendak mengurut obat itu agar tertelan ke dalam perut, tetapi tetap saja tidak ada hasilnya.

Liang Fu Yong menjadi panik.

“Kalau memang ada air, masa Cici tidak mau memberikan kepadamu. Masa Cici tega melihat obat itu tercekat di tenggorokanmu dan tidak bisa tertelan? Cepat katakan, di mana air itu?”

Tan Ki tersenyum simpul.

“Tempat di mana ada air, ya di mulutmu itu.”

Pertama-tama dia tertegun mendengar ucapan Tan Ki, kemudian dia seperti tersentak. Wajahnya tertunduk tersipu-sipu. Kakinya goyah sehingga mundur dua langkah. Rasanya ada segulungan perasaan yang aneh berkecamuk dalam hatinya. Tahu-tahu air mata sudah membasahi kelopak matanya.

“Rupanya kata-katamu yang manis hanya karena masa laluku yang suram. Kau menganggap aku perempuan rendah dan hanya ingin mempermainkan cinta kasihku.”

Selesai berkata, tubuhnya berkelebat, sekejap saja dia sudah mencapai jarak tujuh delapan mistar.

Sekali lagi kakinya menutul, orangnya sudah mencapai dua belas depaan, sejenak kemudian menghilang dalam kegelapan.

Tan Ki sama sekali tidak menduga akibatnya akan seperti ini. Hatinya terkejut sekaligus panik. Dia tidak mengira ucapannya yang merupakan gurauan tadi membuat perasaan perempuan itu tersinggung dan meninggalkannya. Hatinya menjadi sedih seketika. Dia berteriak sekeras-kerasnya…

“Cici, jangan lari. Aku bukan…!”

Tiba-tiba dia merasakan serangkum hawa dingin menyerang dirinya. Bahkan sebentar saja sudah menjalar sampai keempat anggota tubuhnya. Dia segera sadar bahwa reaksi obatnya sudah bekerja. Cepat-cepat dia memutuskan ucapannya dan diam-diam duduk bersila serta bersemedi. Dia menghimpun hawa murninya yang kemudian dialirkan ke tujuh puluh dua urat darah dalam tubuhnya. Dia sudah hapal luar kepala isi kitab yang tertuliskan ilmu pernafasan dan Lwe Kang, Lewat penjelasan Liang Fu Yong, meskipun tidak bisa maju lebih jauh lagi, sehingga mencapai taraf kesempurnaan, namun terhadap ilmu pernafasan yang biasa-biasa saja, dia sudah dapat memanfaatkannya.
Begitu menenangkan diri bersemedi, pikirannya langsung terasa kosong. Dipusatkannya reaksi obat dengan Bagian yang terluka agar kerjanya lebih cepat. Dia merasa di dalam tubuhnya mengalir hawa murni yang lancar dan menimbulkan perasaan nyaman.

Dalam waktu yang singkat, kesehatannya sudah lebih pulih. Tampangnya tidak begitu kusut seperti orang yang baru saja bekerja keras. Rasa sakitnya juga jauh berkurang.
Perlahan-lahan dia membuka matanya memandang, rembulan bersinar dengan indah. Cahayanya berwarna keperakan. Sungguh suatu, alam yang romantis. Tiba-tiba perasaannya jadi tersentuh. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang.

‘Seandainya dapat duduk bersama kekasih hati di bawah pancaran rembulan, tentunya segala keruwetan hidup ini dapat terlupakan sejenak. Bersama-sama menikmati indahnya rembulan yang memancarkan cahaya berkilauan, meskipun waktu segera berlalu, dan masa remaja sebentar sudah lenyap. Tapi rasanya sudah menikmati kehidupan seperti para dewata.’ katanya kepada diri sendiri.

Setelah pikirannya melayang-layang sejenak, dia merasa hatinya seperti terlena. Tiba- tiba dari kejauhan berkumandang suara beradunya senjata tajam. Di susul dengan suara bentakan kemarahan. Dia menjadi tertegun untuk sesaat.

‘Tempat ini tidak jauh dari Pek Hun Ceng, siapa yang nyalinya begitu besar, berani- beranian memasuki sarang harimau?’ tanyanya dalam hati.

Berpikir sampai di sini, hatinya semakin bingung. Tangannya mengetuk-ngetuk batok kepalanya sendiri dan merenung beberapa saat. Kemudian seperti teringat akan suatu urusan. Liang Fu Yong baru meninggalkan tempat ini, mungkinkah dia bertemu dengan musuh dan terjadi pertarungan diantara mereka?

Untuk sesaat hatinya menjadi khawatir sekali. Semakin dibayangkan rasanya semakin tepat. Perasaannya menjadi tercekat. Sepasang alisnya terjungkit ke atas. Dia menoleh ke arah sumber suara dan menghentakkan kakinya untuk menghambur ke sana.

Kurang lebih sepenanakan nasi, secara berturut-turut dia sudah melalui dua celah pegu-nungan dan sampai di sebuah lembah yang kosong. Di sana dia menghentikan langkah kakinya.

Hatinya sedang khawatir, cara larinya tadi seperti orang kesetanan. Orang biasa pasti tidak dapat melihat kalau dia sedang berlari. Kakinya seperti tidak menginjak tanah, seolah terbang saja.

Begitu matanya memandang, tenyata dugaannya tidak salah. Tiga orang berdandanan tosu, sedang menggerakkan pedang menyerang Liang Fu Yong. Tampak perempuan itu tidak menggunakan senjata apapun. Dengan sepasang tangan kosong, dia menerobos ke kanan dan melesat ke kiri. Dia baru saja menghindarkan diri dari tiga serangan pedang yang gencar. Tampaknya perempuan itu sudah kewalahan. Dia tidak mempunyai kesempatan untuk membalas menyerang setengah juruspun. Keadaannya sungguh berbahaya.

Hawa amarah dalam dada Tan Ki jadi meluap seketika.

“Menghina seorang perempuan, kalian masih punya muka?” bentaknya keras.
Tubuhnya langsung melayang, jaraknya masih kurang lebih dua depaan, dia melesat ke
tengah udara. Ketika sepasang kakinya mendarat di atas tanah, dirinya tepat berada di Bagian belakang punggung tosu sebelah kiri. Dengan membentak keras, dia langsung menghantamkan dua buah pukulan.

Begitu kedua pukulannya dilancarkan, segera terasa ada serangkum tenaga yang me- ngandung hawa panas menerpa datang. Tampaknya ketiga tosu tadi terkejut sekali melihat gerakannya yang begitu cepat, serta tenaga dalamnya yang mengandung kekuatan dahsyat. Serentak mereka terdesak ke samping seiring dengan suara deruan angin pukulan Tan Ki.

Pertarungan yang menegangkan tiba-tiba ditambah oleh serangkum tenaga kuat yang membawa hawa panas. Suasana semakin mencekam. Kejadian di luar dugaan ini menyebabkan dada mereka terasa sesak.

Sinar mata Tan Ki perlahan-lahan menyapu wajah ketiga tosu tersebut. Terdengar suara tawa dingin dari bibirnya. Kemudian dia menoleh ke arah Liang Fu Yong dengan pandangan khawatir.

“Apakah kau terluka?” tanyanya penuh perhatian. Liang Fu Yong tersenyum simpul. “Tidak…”
Tan Ki melihat beberapa Bagian bajunya telah terkoyak di sana-sini, tetapi tidak ada bekas darah sedikitpun. Tampaknya perempuan itu memang belum mendapatkan luka apa-apa. Hanya dari Bagian bajunya yang koyak, tersembul kulitnya yang putih mulus. Hatinya terasa pedih dan kasihan. Cepat-cepat dia melepaskan jubah panjangnya dan disodorkan kepada perempuan itu.

“Cici, tadi aku hanya bergurau. Siapa sangka kalau kau malah jadi tersinggung. Cici, maafkanlah aku kali ini. Lain kali aku pasti tidak akan mengulanginya kembali.” ucapannya ini terdengar lucu sekali. Seperti anak usia tiga tahun yang memohon pengampunan dari ibunya. Hati Liang Fu Yong menjadi pedih. Air matanya langsung mengalir turun.

“Aku tidak marah, hanya merasa agak sedih saja.”

Dengan hati-hati Tan Ki menghapus air matanya. Baru saja dia ingin mengucapkan beberapa patah kata untuk menghibur hatinya, tiba-tiba dia melihat tosu yang ada di sebelah kirinya menggenggam pedang dengan kedua tangannya, serta menegakkan tubuhnya dan berjalan ke depan.

“Rupanya perempuan jalang ini sudah mempunyai kekasih hati. Maaf kalau Pinto belum menyatakan selamat.” selesai berkata, dia benar-benar menjura dalam-dalam kepada Tan Ki.

Mendengar ucapannya, pertama-tama Tan Ki tertegun. Sepasang alisnya bertaut erat.
Dia hampir mengira pendengarannya kurang beres. Oleh karena itu dia bertanya sekali lagi.

“Apa yang kau katakan?”

Tosu tersebut mendonggakkan wajahnya dengan angkuh.
“Siau Yau Sian-li jalangnya bukan main. Orang-orang dunia Kangouw, siapa yang tidak tahu, siapa yang belum dengar. Eh… entah dari mana tahu-tahu bisa menggaet seorang pemuda gigolo…”

Sepasang alis Tan Ki langsung mengerut mendengar sindirannya yang tajam ini. Dia merasa ada serangkum hawa panas berkobar dalam tubuhnya. Untuk sesaat wajahnya jadi berubah hebat. Dia tidak menunjukkan kemarahan, tetapi malah tertawa.

“Dia adalah perempuan jalang, aku adalah gigolo. Sungguh paduan kata-kata yang tepat sekali, tepat sekali!” selesai berkata, dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak tanpa henti-hentinya.

Suara tawanya yang panjang dan mengandung kemarahan besar ini, tinggi dan nyaring sekali. Di dalamnya terkandung kepedihan yang tidak terkira, namun kegagahannya tetap terlihat jelas. Getarannya sampai membuat dedaunan di dalam hutan jatuh berguguran.
Seluruh lembah kosong itupun bergema dengan suara tawanya.

Mendengar suara tawanya yang hebat itu, ketiga orang tosu jadi terkesiap dan berubah hebat wajahnya. Mereka segera mempersiapkan diri, berjaga-jaga apabila diserang oleh lawannya secara mendadak. Tapi hati mereka mempunyai pikiran yang sama: ‘Tidak disangka usianya masih begitu muda, ternyata mem-

punyai tenaga dalam yang demikian hebat. Apabila kita tiga bersaudara tidak memiliki ilmu yang lumayan, mungkin suara tawanya saja dapat menggetarkan isi perut kami sehingga terluka parah.’

Baru saja pikiran mereka terhenti, suara tawa Tan Ki yang panjang pun sirap pada saat yang hampir bersamaan. Wajah anak muda itu berubah kelam sekali.

“Biar kalian rasakan dulu sampai di mana tingginya ilmu silat gigolo ini!” katanya dengan nada ketus.

Kakinya langsung maju, tubuhnya melesat, tepat pada saat kata-katanya yang terakhir terucap, terdengar suara deruan angin, sebuah pukulanpun dilancarkan ke depan.

Serangan ini dilancarkan dalam kegusaran, hampir seluruh tenaga dalamnya dikerahkan. Sungguh pukulan yang keji dan datangnya bagai badai topan yang melanda.

Tosu itu sudah tahu kalau Tan Ki bukan tokoh sembarangan. Tentu saja dia tidak berani memandang ringan. Pedang panjang dikibaskan. Timbul rangkaian cahaya yang memenuhi angkasa. Kemudian berubah menjadi serangan yang gencar.

Tan Ki tertawa dingin.

“Anak murid Go Bi Pai memang lain dari yang lain. Sambutlah seranganku sekali lagi!” pergelangan tangannya memutar perlahan-lahan. Lima jarinya membentuk cakar, secepat kilat dia mencengkeram ke arah lawannya.

Perubahan jurus ini sedemikian cepat. Belum lagi jurusnya dilancarkan dengan sempurna, gulungan anginnya sudah menerpa badan. Tentu saja tosu itu terkejut sekali. Pedang panjangnya segera digerakkan untuk menyambut datangnya cengkeraman lawan. Terdengar suara bentakan dari mulut Tan

Ki. “Enyah!”
Diiringi suara bentakan, pedang panjang tosu itupun sudah tiba di hadapannya untuk menyambut serangan Tan Ki. Tiba-tiba tubuh anak muda itu melesat ke depan.
Kecepatannya bagai pancuran air terjun. Tahu-tahu dia sudah sampai di hadapan tosu tersebut, tangannya yang terulur, dengan perlahan-lahan menepuk di dada lawan.
Tampaknya seperti tidak mengandung tenaga sama sekali. Namun kecepatannya bukan alang kepalang, tahu-tahu dada tosu itu telah terhantam telak.

Terdengar suara jeritan ngeri dari mulut tosu tersebut. Pedangnya merenggang dan terjatuh di atas tanah. Tubuhnya yang tinggi besar pun segera melejit di udara. Tosu muda yang berdiri di sebelah kanan, melihat suheng-nya terjungkal di tangan lawan tidak sampai tiga jurus, dia merasa terkejut sekali karena kejadian itu benar-benar di luar dugaannya. Tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan seruan terkejut.

Aduh!”

Begitu matanya memandang, Ji Suhengnya sudah mengulurkan lengan dan tubuhnya pun melesat ke tengah udara. Dia menyambut tubuh Toa Suhengnya yang sedang melayang turun. Tubuh tosu itu tidak goyah dan turun dengan mulus meskipun tangannya membopong seseorang. Gerakannya sungguh indah. Tanpa memperdulikan hal yang lainnya lagi, dia segera menundukkan kepalanya melihat keadaan Toa Suheng tersebut.
Tampak darah mengalir dari ke tujuh lubang panca indera Toa Suhengnya itu. Ternyata Toa Suhengnya sudah melayang jiwanya.

Melihat perkembangan yang terjadi, tosu muda itu merasa hatinya pedih sekali. Air matanya mengalir dengan deras. Mulutnya mengeluarkan suara raungan yang histeris dan dengan kalap dia menerjang ke arah Tan Ki.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari tosu yang satunya. “Berhenti!”

Mendengar suara bentakan tersebut, tosu muda itupun menghentikan langkah kakinya.
Wajahnya basah oleh air mata, cepat-cepat dia menoleh kepada Suhengnya yang satu. “Apakah Suheng memanggil aku?”
Dengan menahan rasa pilu di hatinya tosu

tersebut berkata, “Kalau kau menerjangnya, sama saja mengorbankan nyawa dengan sia- sia.” matanya segera beralih kepada Tan Ki. Dia memperhatikan anak muda itu dari atas kepala sampai ke bawah kaki. “Ilmu silat Sicu ternyata tinggi sekali.”

Tan Ki tertawa dingin.

“Totiang hanya memuji.” sahutnya datar

Sepasang mata tosu itu mendelik lebar-lebar. Dari dalamnya terpancar sinar kepedihan dan kebencian yang tidak terkirakan.
“Mohon tanya siapa julukan Sicu yang mulia. Apabila Pinto bertemu lagi denganmu kelak, tentu lebih mudah meminta pelajaran.”

“Kau ingin membalas dendam? Ini, akulah yang disebut Cian bin mo-ong!”

Mendengar keterangannya, kedua tosu langsung terkesiap. Karena tiba-tiba mendengar empat kata Cian bin mo-ong mereka terkejut setengah mati. Tanpa dapat ditahan lagi, keduanya memperhatikan Tan Ki sekali lagi.

Liang Fu Yong yang sejak tadi berdiri di samping juga tidak kurang terkejutnya. Benar- benar keterangan yang di luar dugaannya dan rasa pedih diantara kegembiraan. Hal ini malah membuat perempuan itu jadi termangu-mangu dan menatap Tan Ki dengan terpesona.

Untuk sesaat, suasana di tempat itu jadi hening. Setiap orang mempunyai renungan masing-masing. Kurang lebih sepeminum teh kemudian, tosu yang tua itu baru membuka suara dengan perlahan-lahan…

“Gunung tetap menghijau, lain kali kita akan berjumpa lagi!” tanpa menunggu sahutan dari Tan Ki, dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi. Tampaknya si tosu muda merasa, kurang senang. “Masa kita lepaskan orang ini begitu saja?” katanya.

Dengan menahan kepedihan hatinya, tosu yang lebih tua membentak, “Jangan banyak bicara! Suheng sudah mempunyai rencana tersendiri!” tiba-tiba dia mempercepat langkahnya dan dia melesat ke arah sebuah jalan tapak di samping sungai.

Tosu muda itu tampaknya masih tidak sanggup menenangkan hawa amarah dalam dadanya. Dia membalikkan tubuhnya dan menuding hidungnya sendiri.

“Ingat baik-baik, aku bergelar Ceng Hong Tojin, murid Bu Tong Pai. Malam ini kami. melepaskan dirimu. Pada suatu hari, kalau sampai bertemu lagi, meskipun aku tidak dapat menandingimu, aku juga akan berusaha membokongmu dari belakang!”

Selesai berkata, tubuhnya langsung menjungkir balik di udara dan melesat sejauh tujuh langkah. Kemudian dia menghimpun tenaga dalamnya dan melesat ke depan mengejar Ji Suhengnya. Dalam waktu yang singkat dia sudah menghilang dari pandangan.

Liang Fu Yong memperhatikan sampai keduanya tidak terlihat lagi. Barulah dia menghela nafas lega. Tampaknya pikirannya yang tegang ikut terhembus keluar. Matanya segera dialihkan, dia melihat Tan Ki sedang mendongakkan kepalanya menatap langit dengan termangu-mangu. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Tiba-tiba sepasang matanya dipejamkan. Dia mengangkat tangannya dan mengetuk batok kepalanya perlahan-lahan. Dia termenung beberapa saat. Tiba-tiba dia mengulurkan kepalan tangannya dan meninju beberapa kali. Kemudian kakinya menendang. Setelah itu tampak dia menggelengkan kepalanya beberapa kali dan menarik nafas panjang berulang kali.

Gerak-gerik yang aneh, membuat Liang Fu Yong yang melihatnya jadi tertegun. Tetapi pikiran perempuan ini memang amat peka. Melihat sebentar saja, dia sudah dapat menduga bahwa saat ini Tan Ki sedang merenungkan semacam ilmu silat tingkat tinggi.
Untuk sesaat dia tidak berani menegurnya dan terpaksa berdiam diri serta berdiri tegak di samping.

Kembali Tan Ki merenung dengan pikiran terpusat. Tiba-tiba telapak tangannya diangkat ke atas dan menepuk kepalanya satu kali. Tahu-tahu air matanya telah mengalir dengan deras.

“Rupanya aku orang yang begini bodoh, masih memikirkan soal balas dendam segala!” keluhnya kesal.

“Kau sama sekali tidak bodoh.” sahut Liang Fu Yong.

“Masih bilang tidak bodoh. Kalau saja aku bisa menggabungkan Tian Si Sam Sut dan Te Sa Jit Sut, sekarang juga aku bisa mencari Oey Kang untuk membalaskan sakit hatimu.
Sayangnya aku terlalu bodoh, malah melupakan kesempatan yang langka ini.” Liang Fu Yong tertawa lebar.
“Renungkan saja perlahan-lahan, toh sama saja. Saat ini kau dilanda keputusasaan dan sakit hati, mana bisa mengingatnya. Lebih baik cari suatu tempat yang tenang dan renungkan kembali. Siapa tahu, kalau perasaan tenang, otakmu pasti akan lebih cemerlang.” dia mengulurkan tangannya dan menarik tangan Tan Ki serta mengajaknya ke padang rumput di tengah pegunungan.

Untuk sesaat Tan Ki juga tidak mempunyai pertimbangan apa-apa. Begitu ditarik oleh Liang Fu Yong, otomatis langkah kakinya pun mengikuti. Liang Fu Yong mengajaknya berjalan beberapa langkah. Mereka sudah sampai di padang rumput yang ditumbuhi ilalang tinggi-tinggi. Dia mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan. Tampaknya tempat ini cukup aman dan tersembunyi. Dia mengajak Tan Ki rebah di sana.

Padang rumput ini ditumbuhi ilalang yang tinggi serta lebat. Luasnya kurang lebih sepuluh depaan. Apabila bersembunyi di dalamnya, orang yang ada di luar tentu tidak mudah menemukannya. Hanya saja malam agak dingin dan kabut tebal. Sehingga tanah di atasnya agak basah karena endapan embun.

Baru saja Liang Fu Yong merebahkan tubuhnya, dia merasa air embun membasahi punggungnya. Rasanya dingin sekali, tanpa dapat ditahan lagi, tubuhnya agak gemetar.

“Dingin betul!” katanya.

Tubuhnya perlahan-lahan meringkuk, hatinya ingin sekali merapat pada tubuh Tan Ki agar terasa hangat. Tan Ki tersenyum lembut. Dia juga tidak mengatakan apa-apa.
Tubuhnya bergeser sedikit, lalu ditariknya Liang Fu Yong. Sepasang lengannya bagai ranting pohon yang kokoh dan memeluknya erat-erat. Perlahan-lahan dia memejamkan sepasang matanya kemudian menghimpun hawa murni sambil mengatur pernafasan.

Cahaya rembulan terasa sejuk. Malam dingin belum berlalu. Di dalam rumpun ilalang yang lebat ini, terbaring sepasang pemuda-pemudi. Kepala mereka saling bersandar dengan mata terpejam. Pada zaman yang kolot dan peradaban manusia belum seterbuka sekarang, apa yang mereka lakukan merupakan hal yang jarang terlihat dan dapat menimbulkan kesan yang bukan-bukan dalam tafsiran orang lain.
Cukup lama telah berlalu, Tan Ki membuka matanya menatap cahaya rembulan dan berkata dengan nada terharu:

“Dalam sepuluh tahun ini, dari seorang bocah cilik aku tumbuh menjadi pemuda dewasa. Sejak pertama berlatih ilmu silat sampai berkecimpung di dunia Kangouw, dari awal sampai akhir, rasanya aku belum pernah merasakan apa yang disebut santai. Kau lihat, walau bagaimana redupnya sinar rembulan, cahayanya masih dapat menerangi tempat sekitar sepuluh depaan. Walaupun tempat ini sunyi senyap, tetapi masih ada engkau dan aku yang terbaring di sini. Bukankah hal ini merupakan hal yang membangkitkan semangat? Selama sepuluh tahun ini, untuk pertama kalinya aku merasakan malam yang tenang dan syahdu…”

Setelah berkata panjang lebar, dia tetap tidak mendengar sahutan dari Liang Fu Yong.
Dia merasa heran, wajahnya segera dipalingkan. Begitu memandang, hatinya jadi terperanjat. Entah sejak kapan, tahu-tahu ujung mata Liang Fu Yong telah mengalir dua bulir air mata yang cahayanya berkilauan.

“Tidak hujan tidak angin, kok tiba-tiba menangis lagi?”

Liang Fu Yong tertawa sumbang. “Cepat-cepat dia mengangkat tangannya dan menghapus air mata yang masih mengalir.

“Siapa yang menangis, justru karena terlalu bahagia…” Tan Ki tak membiarkan dia meneruskan kata-katanya.
“Aku tahu kau mengingat terus ocehan Tojin tadi, jadi merasa sedih.”

Mendengar Tan Ki langsung bisa menebak isi hatinya, wajah Liang Fu Yong jadi merah padam. Air mata yang mulai mengering kembali mengalir lagi. Setelah beberapa saat dia baru menyahut:

“Aku yang dulu hanya tahu mengejar kesenangan. Ke mana-mana mencari laki-laki untuk dipermainkan. Aku tidak pernah tahu hal yang lainnya kecuali melampiaskan hasrat. Oleh karena itu, para sahabat di dunia Kangouw menjuluki aku Siau Yau Sian-li. Mereka bahkan memaki aku sebagai perempuan jalang. Sejak mengenal dirimu, baru aku menyesal atas kelakuanku di masa lalu. Aku berniat merubah kebiasaanku yang buruk dan menjadi orang baik-baik. Tidak terduga muncul ketiga murid Bu Tong Pai tadi yang langsung membuka mulut mencaci maki diriku. Mereka mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada lagi perempuan yang lebih rendah daripada diriku. Dengan menggabungkan diri, mereka ingin menghukum mati diriku. Untung saja kau datang tepat pada waktunya sehingga aku belum sempat terluka sedikit-pun. Akupun terhindar dari kematian.”

“Kalau Cici masih merasa benci terhadap mereka. Lain kali aku akan naik ke gunung Bu Tong untuk mengobrak-abrik perguruan mereka. Biar rasa sakit hatimu terlampiaskan, bagaimana?” tanya Tan Ki.

Liang Fu Yong tertawa sumbang.

“Tidak perlu melakukan hal itu. Perguruan Bu Tong Pai terkenal sebagai golongan putih yang paling membenci segala macam kejahatan. Bertemu dengan manusia busuk seperti aku ini, tentu saja mereka tidak sudi melepaskan. Kalaupun tadi aku sempat terbunuh,
mereka juga tidak dapat disalahkan. Tetapi karena masalah ini, aku teringat sebuah pepatah yang mengatakan, “Sekali maling, selamanya tetap maling! Meskipun aku sudah berniat menjadi orang baik-baik, tetapi pandangan orang lain terhadapku tetap sebagai Siau Yau Sian-li, si perempuan jalang. Siapa yang mau tahu kesusahan dalam hatiku bahwa aku telah berubah?” kata-katanya diucapkan dengan ke-pedihan yang tidak terkira.

Dua butir air mata diiringi suara yang gemetar terus mengalir turun.

Seumur hidupnya, baru kali ini Tan Ki melanggar tata susila dengan rebah bersama seorang perempuan di atas rerumputan. Bersama-sama menikmati cahaya rembulan. Dia juga baru kali ini menghadapi perempuan yang menangis dengan tersedu-sedu. Akibatnya dia jadi kelabakan, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Setelah termangu-mangu beberapa saat, cepat-cepat dia mengulurkan tangannya menghapus air mata Liang Fu Yong. Bibirnya tersenyum lembut.

“Untuk apa kau berpikir banyak-banyak? Sama saja mencari kesulitan sendiri. Urusan orang lain kita tidak perlu turut campur, demikian pula urusan kita sendiri. Biar mereka mencerca dirimu, asal kau tetap berada di jalan yang lurus, suatu hari nanti, mereka pasti akan mengerti sendiri.”

“Bicara memang mudah. Tetapi biar bagaimana sulit rasanya mencuci bersih dosaku di masa lampau.” Liang Fu Yong menarik nafas dalam -dalam. Di wajahnya tersirat penderitaan yang tidak terperikan.

Mendengar nada suaranya, Tan Ki menyadari bahwa Liang Fu Yong hampir merasa putus asa menyongsong masa depannya yang tidak menentu. Lambat laun dia semakin tertegun. Tiba-tiba teringat olehnya bahwa kaum wanita maupun anak gadis, apabila mengalami suatu hal yang merupakan pukulan bathin, sering mengambil jalan pendek, umpamanya masuk biara untuk menjadi biarawati atau bunuh diri agar terlepas dari segala kesulitan. Hatinya menjadi terkesiap. Tangannya memeluk tubuh Liang Fu Yong erat-erat. Seakan merasa takut kalau perempuan itu akan melarikan diri dari sampingnya. Dia memaksakan dirinya untuk tersenyum.

“Tunggu sampai kita sudah menikah, aku ingin lihat siapa yang berani mencaci dirimu. Hm, hm… kalau sampai terdengar oleh telingaku, jangan salahkan apabila aku merobek mulutnya!”

Mendengar kata-kata Tan Ki, hati Liang Fu Yong diliputi perasaan bahagia yang tidak ter-kirakan. Wajahnya yang muram jadi berseri-seri. Bibirnya pun tersenyum.

“Pernikahan adalah masalah seumur hidup. Bukan semacam permainan. Perkataanmu seperti yakin sekali bahwa bagaimanapun kau harus menikah dengan Cici. Apakah kau memang sudah mempertimbangkannya matang-matang atau karena perasaan iba yang timbul sesaat?”

Mendapat pertanyaan yang mendadak itu, Tan Ki jadi terpana.

‘Betul, mengapa aku tidak pernah memikirkan masalah ini. Apakah aku memang mencin-tainya atau hanya kasihan kepadanya?’ tanyanya dalam hati.
Hatinya berpikir, otaknya bagai tersengat aliran listrik. Dia merasa kedua macam pemikiran itu sama-sama memungkinkan. Tapi kalau dipertimbangkan kembali, kedua- duanya juga seperti benar namun juga salah. Untuk sesaat dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.

Liang Fu Yong dapat melihat tampangnya yang serba salah. Tiba-tiba hatinya seperti ter-tusuk puluhan jarum. Semacam kesedihan yang aneh menyelinap dalam hatinya.
Perasaannya seperti hancur lebur. Tetapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkan perasaan tersebut pada mimik wajahnya. Bibirnya malah tersenyum lembut.

“Urusan sepenting ini saja tidak kau pikirkan baik-baik. Jangan ceroboh asal comot sehingga merusakkan kebahagiaanmu seumur hidup.”

Setelah mempertimbangkan sesaat, tiba-tiba dia seperti telah mengambil keputusan yang tepat.

“Apapun yang kau katakan, aku tetap ingin hidup bersamamu sampai hari tua!” katanya tegas.

Mata Liang Fu Yong mengerling ke kiri dan kanan. Kemudian tampak dia tersenyum lem-but.

“Apabila kau ingin aku menerimanya, boleh saja. Tapi ada syaratnya.” sahutnya kemudian. “Apa syaratnya? Coba kau katakan, biar

aku pertimbangkan baik-baik.”

“Syaratku ini aneh sekali. Belum tentu kau dapat mengabulkannya.” dia berhenti sejenak. Tiba-tiba sepasang matanya terpejam. Dengan penuh rasa haru dia berkata. “Ciumlah aku…”

Mendengar ucapannya, mula-mula Tan Ki agak tertegun. Kemudian dia malah tertawa lebar.

“Aku kira urusan sebesar apa, rupanya begitu. Cici sengaja memutar arah pembicaraan sehingga aku jadi bingung. Kalau itu keinginanmu, Siaute terpaksa menurut.”

Tangan kirinya segera mengangkat dagu Liang Fu Yong sedikit. Agak lama juga dia memandangnya. Dia melihat bibir itu begitu indah, menantang bahkan kemerahan walaupun tidak diolesi gincu. Nafas yang keluar dari hidungnya sebentar lambat sebentar cepat. Malah terendus keharuman yang khas.

Hatinya jadi tergerak, perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya dan menekankan bibirnya di atas bibir tersebut. Begitu sepasang bibir bertemu, Tan Ki segera merasa seluruh tubuhnya bagai disengat aliran listrik. Dia agak gemetar. Maklumlah, baru pertama kali ini dia mencium seorang perempuan. Keempat anggota tubuhnya seperti kehilangan tenaga.

Ada semacam perasaan yang melenakan serta membuat dirinya merasa nyaman.
Tetapi dia tidak dapat menjelaskan bagaimana perasaan itu sesungguhnya. Tanpa dapat dipertahankan lagi, sepasang lengannya memeluk Liang Fu Yong semakin erat.
Pada saat itu juga, dia telah memejamkan matanya seakan sedang menikmati apa yang sedang berlangsung. Entah sejak kapan, sepasang mata Liang Fu Yong yang juga terpejam mengalirkan dua bulir air mata. Kalau saja Tan Ki tahu apa yang sedang tersirat dalam hatinya saat itu, maka ciuman itu menjadi ciuman yang paling mengenaskan.

Tampak sepasang lengannya yang indah memeluk leher Tan Ki erat-erat. Ciumannya semakin mesra. Rembulan masih bersinar. Angin sejuk bertiup sepoi-sepoi. Kurang lebih sepeminuman teh, Tan Ki mendorong tubuh Liang Fu Yong perlahan-lahan. Dua pasang matapun bertemu. Tanpa terasa wajah keduanya jadi merah padam.

Dengan gerakan yang lemah gemulai, Liang Fu Yong mengulurkan tangannya untuk memeluk sekali lagi.

“Sekali lagi…” katanya lirih.

Tan Ki tersenyum lembut. Dia menurut apa yang diminta oleh Liang Fu Yong dengan men-ciumnya sekali lagi. “Sekali lagi…”

Hal ini berlangsung terus. Entah berapa kali sudah bibir mereka saling bertautan. Tan Ki seperti terlena. Bahagianya bukan main. Akhirnya mereka saling melepaskan diri juga.

“Cici, sisakan untuk malam pernikahan kita. Hari sudah hampir terang, kita boleh me- lanjutkan perjalanan sekarang.”

Liang Fu Yong menggelengkan kepalanya beberapa kali. Rasanya seperti ingin memandang Tan Ki terus menerus. Tapi dia tetap membungkam seribu bahasa. Pada dasarnya, Tan Ki memang seorang pemuda yang berotak cerdas. Pikirannya cepat tanggap terhadap suasana sekitar. Tiba-tiba dia merasa ada yang tidak beres. Dia merenungkan kembali gerak-geriknya sejak awal hingga akhir. Semakin dipikirkan, hatinyapun semakin yakin akan dugaannya sendiri. Perempuan itu pasti sudah merencanakan sesuatu.

Pandangan mata Liang Fu Yong tajam sekali. Melihat sepasang bola mata Tan Ki terus bergerak memperhatikan dirinya lekat-lekat. Hatinya menjadi panik. Terdengar tarikan nafas perempuan itu. Tarikan nafasnya seperti menyiratkan perasaan hatinya yang pedih. Pada malam yang sesunyi ini, kedengarannya malah tambah menyayatkan hati.

Tepat pada saat perempuan itu selesai menarik nafas panjang, tiba-tiba tangannya terulur dengan cepat dan tahu-tahu dia menotok salah satu urat darah di tubuh anak muda tersebut.

Perubahan yang mendadak ini benar-benar di luar dugaan Tan Ki. Hatinya menjadi tercekat. Tiba-tiba urat nadinya terasa kesemutan dan seluruh tubuhnya jadi lemas tidak bertenaga. Dia langsung membentak dengan suara keras.

“Apa yang kau lakukan?”

Meskipun dirinya sudah tertotok, tetapi cara turun tangan Liang Fu Yong memang sudah dipertimbangkan matang-matang. Jadi dia tetap dapat berbicara. Tampak Liang Fu Yong melonjak bangun. Bibirnya tersenyum.

“Dengan demikian kau tidak bisa mengejar aku lagi.”

Dia membalikkan tubuhnya dan menghambur ke depan secepat kilat. Tetapi di kala tubuhnya baru bergerak, sudah terlihat air matanya mengalir dengan deras. Wajahnya tampak muram sekali.