Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 12

 
Bagian 12

Tiba-tiba, Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat. “Urusan ini sulit diterima!” katanya dengan nada berat.

“Apakah kau demikian kukuh?” Tan Ki tertawa dingin.
“Meskipun Cayhe juga termasuk orang jahat, dan belum bisa membedakan antara kemuliaan dan kebathilan…”

Oey Kang tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berkata lebih lanjut, dia langsung menukas dengan suara membentak…

“Aku tidak percaya kau tidak menurut pada kata-kataku!”

Tan Ki tersenyum datar. Baru saja dia ingin membantah, tiba-tiba dadanya terasa sesak. Nafasnya sulit, serangkum tenaga yang dahsyat telah menerpa ke arahnya.

Oey Kang dijuluki Sam-jiu San Tian-sin. Bukan saja ilmu senjata rahasianya mempunyai keistimewaan tersendiri, dalam hal ilmu silat pun ia lihai bukan main. Cara melancarkan serangannya kali ini, cepat bagai kilat dan kekuatannya hebat sekali.

Serangan yang mendadak ini membuat Tan Ki terkejut setengah mati. Pundaknya dimiringkan dan ia melesat keluar dari samping. Gerakan tubuh yang cepat serta aneh, membuat Oey Kang yang melihatnya jadi termangu-mangu. Bagaimanapun dia mendapat sebutan sebagai Raja Iblis nomor satu di dunia Kangouw saat ini, sampai di mana
tingginya ilmu silat yang dimiliki dapat dibayangkan. Hanya dengan satu gerakan yang aneh, Tan Ki berhasil menghindarkan diri dari serangannya, bagaimana dia tidak menjadi terkejut dan tertegun melihatnya?

Oleh karena itu, dia segera memperdengarkan suara tawa yang mengandung kemarahan.

“Coba sambut sekali lagi seranganku ini!” Hembusan angin dari telapak tangannya segera terpancar keluar, diiringi dengan suara bentakan, gulungan angin tersebut melanda seperti gelombang ombak yang besar.

Hati Tan Ki terperanjat melihatnya. Dia merasa hantaman telapak tangan lawan mengandung tenaga yang dahsyat sekali. Tampaknya bahkan lebih hebat dari tenaga dalam yang dimiliki oleh si pengemis sakti Cian Cong. Untuk sesaat dia tidak berani menyambut dengan kekerasan. Tubuhnya bersalto di udara kemudian mencelat ke belakang dan melesat keluar dari serangan Oey Kang.

Menghindari serangan dengan cara seperti tadi, dilakukannya dengan kecepatan kilat. Tiba-tiba terdengar Oey Kang tertawa dingin, tubuhnya menggeser ke samping kemudian bagai harimau yang mengamuk dia menerjang ke depan.

Tubuh Tan Ki baru mendarat ke tanah, belum lagi dia melihat jelas pemandangan di hadapannya, ia terkejut sekali ketika dia merasakan ada serangkum angin kencang yang menerjang dari depan, tiba-tiba pundaknya terasa seperti kesemutan dan orangnya pun segera terkulai di atas tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri.

Waktu terus merayap, entah berapa lama sudah berlalu, perlahan-lahan dia siuman dari tidurnya yang panjang dan membuka matanya seketika. Begitu dia memusatkan perhatiannya, tempat di mana dia berada adalah sebuah kamar yang besar. Meja dan kursinya terbuat dari batu kumala. Terdapat juga beberapa guci antik sebagai hiasan.
Meskipun hanya beberapa macam barang yang ada di dalamnya, tetapi menimbulkan kesan nyaman dan enak dipandang.

Setelah memperhatikan sekelilingnya beberapa saat, diam-diam Tan Ki merasa heran. “Tempat apakah ini?” tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba dia teringat bahwa dirinya terkena totokan Oey Kang tadi sehingga tidak sadarkan diri. Mengapa sekarang dia bisa berada di tempat ini? Perasaan herannya semakin terbangkit. Tanpa dapat menahan rasa ingin tahunya, dia langsung memberontak dan melonjak turun dari tempat tidur. Namun dia merasa hawa murninya bagai tersumbat. Sedikitpun tenaga dalam tidak sanggup ia kerahkan. Tentu saja dia terkejut setengah mati.
Semacam ingatan lantas lewat di benaknya. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang. “Rupanya aku sudah terperangkap oleh Oey Kang. Entah obat apa yang dicekokan-nya
padaku, sehingga membuat seluruh tenagaku lenyap dan tubuh terasa lemas seperti ini.
Tampaknya kali ini, riwayatku akan tamat…” keluhnya seorang diri.

Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki yang mendatangi. Otomatis lamunannya jadi tersentak. Dia mendongakkan kepalanya memandang, seorang nenek tua
bertubuh kurus dan berwajah jelek masuk ke dalam kamar dengan sebuah nampan di tangan. Tan Ki terkejut sekali, tanpa sadar dia berseru…

“Locianpwe, mengapa kau juga bisa berada di tempat ini?”

Rupanya nenek tua yang kurus dan rambutnya sudah penuh uban itu bukan lain daripada guru Mei Ling, Ciu Cang Po. Tampak wajahnya datar sekali, mimik mukanya kaku, seakan tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Tan Ki. Langkah kakinya seperti dihitung, setindak demi setindak dia maju dan berhenti di depan anak muda itu.

“Makanlah.” dia meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja kemudian membalikkan tubuhnya dengan perlahan-lahan keluar dari kamar tersebut.

Gerakannya aneh sekali seperti sudah kehilangan kelincahannya di waktu lalu.
Keadaannya sekarang lebih mirip mayat hidup. Wajahnya tidak memperlihatkan perasaan apa-apa seperti pikirannya telah menjadi kebal dan kehilangan kesadarannya. Hati Tan Ki menjadi panik. “Harap Locianpwe tunggu sebentar. Entah mengapa tubuhku kehilangan tenaga sama sekali. Kalau tidak bisa bergerak, bagaimana aku bisa makan?” teriaknya gugup.

Ciu Cang Po tetap seperti orang yang indera pendengarannya kurang beres. Tanpa memperdulikan Tan Ki, dia langsung keluar dari kamar kemudian membelok dan hilang dari pandangan.

Begitu paniknya Tan Ki sampai digigitnya bibir sendiri berulang kali. Lalu tampak dia menarik nafas panjang.

“Bagaimana baiknya? Ingin mendapat sedikit keterangan darinya saja tidak mungkin.” gumamnya seorang diri.

Dia merasa perutnya mengeluarkan suara seperti air yang beriak-riak. Haus dan lapar menyiksanya. Dengan mata terbelalak dia menatap ke arah nampan. Tampangnya seperti orang yang tidak berdaya. Bau harum nasi dan daging terpancar keluar dari kotak makanan yang ada di atas nampan. Keharuman yang menusuk dan hanya dapat ditatap itu membuat perutnya semakin keroncongan, hampir-hampir saja dia jatuh pingsan kembali saking laparnya.

Diam-diam dia menghembuskan nafas panjang. Dia berusaha untuk mengalihkan pikirannya.

“Kalau tidak salah, di atas genting Cui Sian Lau, Ciu Cang Po terkena pukulan si pengemis sakti Cian Cong sehingga terluka parah. Kemudian dia dibawa oleh Oey Kang… akh, jangan-jangan tempat ini merupakan kediaman iblis itu? Mungkinkah dia telah mencekoki semacam obat kepada Ciu Cang Po yang mana dapat membuat kesadarannya jadi hilang?”

Pikirannya tergerak, semakin direnungkan rasanya dugaan itu semakin benar. Saat itu juga seluruh tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Oey Kang terhadapnya. Kalau caranya sama seperti Ciu Cang Po, yakni meminumkan sejenis obat yang dapat merubahnya seperti orang-orangan yang kaku, yang tidak mempunyai perasaan maupun pikiran sama sekali, maka seumur hidup ia akan sama saja berada dalam alam antara manusia dan setan, selamanya tidak akan muncul
dari laut penderitaan…

Berpikir sampai di sini, hatinya semakin takut dan terkesiap. Saking paniknya, ingin rasanya menegakkan badannya dan kabur dari tempat itu. Tapi keempat anggota tubuhnya tetap tidak mau diajak bekerja sama. Tanpa sadar, lagi-lagi dia menarik nafas panjang. Akhirnya dia memejamkan mata dan tidak mau berpikir lebih lanjut lagi.

Setelah agak tenang, pikirannya malah menjadi peka. Diam-diam dia menghapalkan ilmu pernafasan yang terdapat dalam kitab yang diambilnya dari kuburan para ketua Ti Ciang Pang. Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, tiba-tiba dia menggeleng- gelengkan kepalanya dan menggumam seorang diri…

“Sayang sekali aku tidak pernah mempelajari ilmu Lwe Kang yang benar. Kalau tidak, ilmu pernafasan dan cara menghimpun hawa murni tingkat tinggi yang ada dalam kitab itu pasti bisa membantu aku menembus urat darah dan menyembuhkan…”

Belum lagi kata-katanya selesai, kembali telinganya menangkap suara langkah kaki orang yang menuju ke arahnya. Dia mengira tentunya Ciu Cang Po yang balik kembali, dengan kesal dia memalingkan wajahnya dan tidak mau melirik sedikitpun.

Tiba-tiba dia mendengar suara ratapan serta tangisan. “Adik…”
Seiring angin yang berhembus, tercium bau yang harum. Sesosok tubuh perempuan tahu-tahu telah menelungkup di atas dadanya dan menangis tersedu-sedu.

Pertama-tama Tan Ki tertegun, dia merasa heran, ketika dia melihat jelas siap perempuan itu, rasa tertegunnya berubah menjadi terkejut. Tanpa sadar dia berseru…

“Mengapa kau juga datang ke sini?”

Begitu melihat Tan Ki, hati perempuan itu langsung diserang oleh kegembiraan yang meluap-luap. Rasa sedih dan gundahnya selama beberapa hari, bagai terlampias keluar dalam waktu seketika. Tentu saja dia tidak mendengar jelas ucapan Tan Ki.

Anak muda itu menarik nafas panjang-panjang. Dia memaksakan diri untuk mengangkat sebelah lengannya dan menggenggam pergelangan tangan perempuan itu.

“Cici, jangan menangis lagi. Urusan apapun sulit dibereskan dengan deraian air mata saja.” katanya menghibur.

Setelah menangis beberapa saat, perempuan itu mendongakkan wajahnya yang masih basah dengan air mata.

“Apakah kau tidak membenci aku? Kau tidak kesal karena aku mengingkari janjiku sendiri? Lagipula pada waktu itu aku tidak tahu bahwa orang itu adalah dirimu, sehingga menggunakan cara’yang begitu rendah yakni ilmu tarian iblis dan membuat dirimu terluka…” 
Tan Ki tidak membiarkan dia melanjutkan kata-katanya. Dia segera menukas.

“Urusan yang sudah lewat tidak perlu dibicarakan lagi. Apakah kau tahu tempat apa ini?”

Rupanya, perempuan yang baru saja masuk itu tidak lain daripada Siau Yau Sian-li Liang Fu Yong yang membuat Tan Ki hampir kehabisan akal membimbingnya ke jalan yang benar.

Tampak Liang Fu Yong tertawa getir.

“Seluruh gedung ini merupakan villa kepunyaan Sam-jiu San Tian-sin Oey Kang.” “Mengapa kau juga berada di sini?”
Pertanyaan ini membuat Liang Fu Yong tertegun. Hari itu, di bawah paksaan Oey Kang dan demi keselamatan Tan Ki, mau tidak mau dia terpaksa ikut dengan iblis tersebut.
Siapa kira, meskipun usia orang ini sudah di atas lima puluh tahun tetapi gairahnya masih berkobar-kobar. Yang diinginkannya, justru tubuh perempuan itu.

Di hadapan Tan Ki, mana berani dia mengucapkan kata-kata ini. Hatinya merasa hina dan malu bukan kepalang. Meskipun tekadnya sudah bulat untuk berubah dan tidak pernah mengabulkan permintaan iblis tersebut, tetapi dia justru menerima banyak hinaan. Oleh karena itu, begitu bertemu dengan Tan Ki, dia langsung mencurahkan segala keperihan hatinya dalam bentuk tangisan.

Hukum karma memang ada. Seakan semuanya merupakan takdir dari Yang Kuasa.
Kalau dulu dia sering memaksakan kehendaknya agar orang lain memberi kepuasan sesaat kepadanya, siapa yang berani membangkang, pokoknya mati. Sekarang, dia diperlakukan seperti itu juga…

Hal ini merupakan hukum karma yang akibatnya terasa langsung.

Tan Ki melihat dia termenung-menung tanpa memberikan jawaban untuk sekian lama, dia segera menduga bahwa perempuan itu mempunyai kesulitan yang tidak dapat diutarakan. Oleh karena itu Tan Ki segera tersenyum simpul.

“Kalau begitu kau juga diculik ke mari?”

Liang Fu Yong menganggukkan kepalanya sambil tertawa getir.

“Mengapa tidak berusaha untuk melarikan diri? Berdiam di sini sama saja menunggu kematian di sarang harimau.” kata Tan Ki kembali.

Tampak Liang Fu Yong tertawa sumbang.

“Urusan ini kalau dibicarakan memang mudah. Karena ada sesuatu yang diinginkan Oey Kang dari diriku, maka aku diberi kebebasan. Tidak terkekang sedikitpun. Tetapi begitu melangkah keluar dari beberapa bangunan ini, setiap saat dan setiap waktu alat rahasia yang dipasang akan bergerak atau kita akan terperangkap dalam barisannya yang aneh.
Lagipula, ketiga puluh enam jen-deral langit yang merupakan bawahan Oey Kang, setiap orangnya mempunyai kepandaian masing-masing yang istimewa…” tiba-tiba Liang Fu
Yong merasa, apabila kata-katanya diteruskan, tetap saja ia tidak bisa merubah keadaannya, oleh karena itu dia segera mengubah bahan pembicaraan sambil tersenyum simpul.

“Tadi mulutmu seperti sedang mengha-palkan pelajaran, apakah kau sedang memikirkan dirimu yang belum pernah mempelajari Lwe Kang sehingga merasa putus asa?”

“Betul…”

Liang Fu Yong tertawa lebar.

“Bagus sekali. Ilmu Lwe Kang maupun pernafasan, Cici pernah belajar sedikit. Di mana letak kesulitannya, sekarang boleh kau utarakan. Coba lihat apakah aku dapat mencernakan artinya.”

Tampang Tan Ki menjadi penuh semangat. Hampir saja dia melonjak bangun. Urusan ini sudah lama menggelayuti hatinya dan tidak berhasil mendapat pemecahannya. Tetapi karena dirinya telah dikenal sebagai Cian bin mo-ong yang telah menggemparkan dunia persilatan, dia tidak berani meminta petunjuk dari golongan lurus. Oleh karena itu, selama ini dia hanya menghapal mati ilmu tersebut dan tidak tahu cara penggunaannya.

Tan Ki menundukkan kepalanya dan berpikir sejenak. “Apa yang disebut dengan Su-siang (Empat Persamaan)?”
Hati Liang Fu Yong menjadi terkejut mendengar pertanyaannya. “Masa pelajaran serendah ini kau juga tidak paham?”
Wajah Tan Ki yang tampan jadi merah padam. Dia menyahut dengan tersipu-sipu.

“Ilmu silatku keseluruhannya merupakan hasil dari belajar sendiri. Tidak ada guru yang mewariskan. Tentu saja aku jadi tidak mengerti.”

Liang Fu Yong tersenyum.

“Tidak heran kau tidak bisa menolak daya tarik dari ilmu tarian iblisku.” dia merandek sejenak. Tiba-tiba ia teringat kejadian tempo hari. Tanpa dapat ditahan lagi wajahnya jadi merah padam. Rasa malunya semakin bertambah. Setelah terdiam agak lama, perlahan- lahan dia menggigit bibirnya sendiri dan melanjutkan kembali. “Renungan terpusat, cinta kasih diabaikan, tubuh kosong hawa murni terhimpun, hati mati jiwa hidup, Yang bangkit Im tenggelam. Itu yang disebut sebagai ‘Empat Persamaan’.

Hal ini berarti ketika kau duduk bersila dan bersemedi, tubuh harus dilemaskan agar hawa murni berjalan dengan lancar. Pikiran tidak boleh melayang-layang, jiwa tidak boleh terbawa emosi.”

Pada dasarnya Tan Ki adalah seorang pemuda yang mempunyai bakat tinggi.
Kecerdasannya melebihi orang lain. Kalau tidak, dengan menyembunyikan diri selama sepuluh tahun, mana mungkin dia bisa mempelajari sendiri keenam puluh empat kitab yang ditemukannya bahkan kemudian dapat dimanfaatkan untuk menghadapi musuh.
Mendengar penjelasan dari Liang Fu Yong, dia langsung hapal di luar kepala. Menanti sampai keterangannya usai, dia langsung bertanya lagi…

“Cici, apa artinya menyembunyikan di dalam perahu?”

“Badan perahu mempunyai bobot yang berat. Kalau berada di atas air, gerakannya jadi lancar, tetapi mudah terbakar api. Hal ini berarti gerakan harus lancar bagai perahu dalam air tetapi hati tidak boleh mudah terbakar. Dalam keadaan yang tenang, latihan baru bisa berhasil dan ibarat kata tubuh kita mempunyai bobot yang berat ibarat perahu itu sendiri.”

Sembari mendengar keterangan Liang Fu Yong, bibir Tan Ki terus mengembangkan senyuman dengan kepala terangguk-angguk. Perasaan hatinya demikian terharu sehingga tangannya yang mencekal pergelangan tangan Liang Fu Yong pun terus bergetar. Dia sendiri sadar bahwa ilmu yang dipelajarinya ibarat masakan kekurangan bumbu. Dia tidak bisa mengimbangi tenaga dalamnya dengan baik. Hal ini karena dia belum pernah mendapat bimbingan seorang ahli. Dia juga tidak paham cara menggunakan daya im untuk menambal tenaga yang-nya yang mana merupakan pelajaran tingkat tertinggi dalam ilmu silat. Meskipun dia sudah hapal luar kepala kitab yang ditemukannya, tapi tanpa adanya pengarahan dari seorang guru, dia pun tidak mempunyai kesempatan untuk melatihnya.

Saat ini, lewat penjelasan Liang Fu Yong, kesadarannya menjadi terbangun. Tanpa dapat ditahan lagi, bibirnya terus tersenyum. Otaknya bagai disengat aliran listrik, banyak Bagian yang tadinya kurang paham menjadi terang seketika. Begitu terharunya Tan Ki sampai air matanya menetes dengan deras.

Liang Fu Yong mengeluarkan sapu tangan dari saku pakaiannya. Dengan penuh perhatian, dia mengusap air mata yang membasahi pipi pemuda tersebut.

“Tidak ada hujan tidak ada angin malah menangis, memangnya tidak takut menjadi bahan tertawaan kalau sampai ada yang melihatnya.”

Dengan rasa haru Tan Ki menyahut…

“Cici, kunci pelajaran Lwe Kang dan pernafasan ini mempunyai kaitan yang erat dengan diriku. Aku ingin menggunakannya untuk membalaskan dendam ayahku. Aku… aku… terlalu bahagia.”

Jari jemari Liang Fu Yong yang lentik segera menutup mulutnya dengan lembut Dia mencegah Tan Ki berkata lebih lanjut. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang manis.

“Aku tahu kau pasti ingin mengungkit segala budi, kasih, membuat orang yang mendengarnya menjadi salah tingkah. Lebih baik kau hemat saja tenagamu itu.” berkata sampai di sini, dia langsung teringat keadaannya sendiri yang terkenal jalang dan rendah. Bahkan keadaan yang memalukan inilah yang membuat dirinya menjadi terkenal. Mana berani dia mengharap cinta kasih dari adiknya, Tan Ki?

Berpikir sampai di sini, segulungan perasaan yang pedih segera menyelimuti hatinya. Tanpa dapat ditahan lagi, air mata kepiluan mengalir dengan deras. Dengan tersendat- sendat dia melanjutkan kata-katanya…
“Cici juga tidak mengharapkan balasan darimu. Asal di sanubarimu masih terselip bayangan Cici, hati ini sudah puas sekali…”

Melihat Liang Fu Yong tiba-tiba menangis dengan terisak-isak dan sebelumnya tertawa senang, dia malah menjadi kalang kabut. Dengan termangu-mangu Tan Ki memandangnya lekat-lekat. Dia tidak berani mengajukan pertanyaan apapun.

Setelah puas menangis, kesedihan hati Liang Fu Yong bagai sudah terlampias semua.
Dia mengusap sisa air matanya sambil tersenyum.

“Adik, kalau kau masih mempunyai kesulitan lain yang belum kau mengerti, cepat katakan. Jangan sampai…”

Belum lagi perkataannya selesai, tiba-tiba telinga mereka menangkap suara tertawa yang panjang. Keduanya jadi terkejut setengah mati. Mereka segera memalingkan wajahnya. Entah sejak kapan, di depan pintu sudah berdiri Sam-jiu San Tian-sin Oey Kang.

Ilmu orang ini sudah mencapai taraf tertinggi. Gerakan tubuhnya bagai hembusan angin. Kedatangannya tidak menimbulkan suara sedikitpun. Meskipun ilmu Tan Ki sendiri sudah termasuk lumayan dan indera pendengarannya sangat tajam, dia juga tidak tahu kapan orang ini muncul di kamar tersebut.

Terdengar Oey Kang tertawa terbahakbahak. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam.

“Rupanya kalian sudah saling mengenal. Hal ini malah kebetulan, aku tidak mengakukan lidahku ini untuk memperkenalkan kalian.” katanya sambil cengar-cengir.

Pertama kali dia melihat Tan Ki, yakni ketika dia membawa pergi Liang Fu Yong. Namun saat itu Tan Ki merias dirinya menjadi laki-laki setengah baya. Sekarang Tan Ki sudah kembali pada wajah aslinya. Oleh karena itu, dia tidak mengetahui bahwa kedua orang yang pernah ditemuinya itu merupakan orang yang sama.

Tan Ki tertawa dingin. Baru saja dia ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba dia melihat tubuh Liang Fu Yong bergetaran, mimik wajahnya menyiratkan perasaan takut yang dalam. Kepalanya tertunduk, tangannya terkulai. Bahkan bernafaspun tidak berani kuat- kuat. Tampaknya dia takut sekali melihat orang ini. Hati Tan Ki merasa heran bukan kepalang, kata-kata yang tadinya sudah siap dilontarkan jadi tertelan kembali. Dengan wajah datar dia melihat perkembangan yang akan dihadapi.

Begitu matanya beralih, tiba-tiba wajah Oey Kang berubah garang. Suaranya pun dingin sekali.

“Untuk apa kau berdiri di situ? Barusan aku membawa seseorang, sekarang ada di ruangan sebelah. Cepat ke sana dan layani dia!” bentaknya dengan suara keras.

Mendengar ucapannya, wajah Liang Fu Yong berubah hebat. Hawa amarahnya hampir meledak, tetapi dia seperti teringat akan sesuatu hal, sehingga hatinya menjadi bimbang. Kemudian dia mengangkat kepalanya perlahan-lahan dan melirik ke arah Tan Ki. Dengan perasaan berat dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Lirikan mata menjelang kepergiannya seakan mewakili ribuan kata-kata yang ingin diucapkan. Juga tersirat cinta kasihnya yang dalam. Semuanya tertera jelas dalam sinar matanya. Tan Ki sendiri seakan menemukan sesuatu rahasia dengan tidak diduga-duga. Hatinya bergetar, nyeri dan ngilu. Tanpa sadar, dia memperhatikan bayangan punggung Liang Fu Yong dengan termangu-mangu. Rasanya dia ingin mengucapkan beberapa patah kata untuk menghibur hati perempuan itu, tetapi kata-kata yang sudah sampai di ujung lidah, akhirnya ditariknya kembali.

Bayangan tubuh berkelebat, sesosok bayangan yang mengenaskan menghilang di balik pintu. Oey Kang menunggu sampai Liang Fu Yong pergi jauh, lalu bibirnya pun mengembangkan seulas senyuman yang licik.

“Bagaimana? Apakah kau sudah merubah keputusanmu?” Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat.
“Kalau kau mengharapkan aku menuruti kemauanmu, maka kau sedang bermimpi.” sahutnya dengan nada penuh kebencian.

Oey Kang tertawa dingin.

“Sungguh kata-kata yang congkak. Kau sudah menelan pil pembuyar hawa murni milikku, seluruh tenaga dalammu lenyap. Kalau suatu hari kau tidak meminum obat penawarnya, berarti satu hari kau kehilangan kebebasanmu. Biarpun dua tokoh sakti di dunia ini bergabung, mereka juga belum tentu dapat menyembuhkan dirimu. Kecuali kalau kau membuka mulut memohon kepadaku. Tetapi kalau ditilik dari adatmu, mungkin kau lebih suka menerima penderitaan ini. Tiga atau lima hari kemudian, aku akan menjengukmu kembali. Pertimbangkanlah baik-baik.” selesai berkata, dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak. Tanpa menunggu jawaban dari Tan Ki, dia langsung membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar tersebut. Saking jengkelnya, sepasang mata Tan Ki sampai mendelik lebar-lebar kemudian membuka mulut mencaci maki.

Hari lambat laun mulai menggelap. Ruangan itu tidak mempunyai penerangan setitikpun. Sekitar sunyi senyap, tidak tampak bayangan seorangpun. Tanpa sadar Tan Ki menarik nafas panjang. Berulang kali dia menyalahkan nasib yang seakan mempermainkannya.

Di benaknya terlintas sebuah ingatan. Tiba-tiba penjelasan Liang Fu Yong tentang kunci ilmu pernafasan dan Lwe Kang terngiang kembali di telinga. Timbul secercah harapan dalam hatinya.

“Penjelasan ini berisi ilmu tingkat tinggi dari kitab yang kutemukan. Mengapa aku tidak mencobanya? Siapa tahu di dalam kesalahan malah terselip kebenaran yang mana dapat menyembuhkan penyakit aneh yang reaksinya lambat ini?” katanya kepada diri sendiri.

Dengan membawa pikiran demikian, cepat-cepat dikosongkannya pikiran dan ia me- mejamkan mata untuk berlatih. Begitu perasaannya tenang, indera mata maupun pendengarannya menjadi tajam. Entah kapan, tiba-tiba telinganya menangkap suara tawa cekikikan yang terpancar sayup-sayup dari ruangan sebelah.
Setelah didengarkan dengan seksama, Tan Ki segera tahu bahwa suara tawa tadi berasal dari ruangan sebelah kiri. Jumlahnya tidak lebih dari dua orang. Untuk sesaat dia jadi tertegun. Dia merasa suara itu tidak asing dalam pendengarannya, tetapi dalam keadaan panik, dia malah tidak dapat mengingatnya kembali.

Sementara hatinya masih terkejut dan terpana, tiba-tiba dia mendengar Liang Fu Yong menarik nafas panjang.

“Moay Moay, setelah sampai di tempat seperti ini, kau masih mempunyai kegembiraan?”

Dari ruangan sebelah kiri sayup-sayup terdengar suara tawa yang merdu, disusul dengan suara sahutan seorang gadis.

“Ketika paman berpakaian hijau itu membawa aku ke mari, memang aku merasa agak takut. Kemudian dia mengatakan bahwa tempat ini bagai istana, di dalamnya banyak permata serta taman yang indah-indah. Pokoknya penuh dengan pemandangan fantasi seperti istana para dewata. Dia juga mengatakan bahwa di sini banyak permainan yang aneh-aneh, maka aku tidak merasa takut lagi.”

“Kau percaya pada ucapannya?”

“Paman berpakaian hijau itu memperlakukan aku dengan lembut. Mengapa aku harus tidak percaya?”

Terdengar lagi suara helaan nafas Liang Fu Yong.

“Tidak kusangka pembawaanmu demikian polos dan menawan hati.”

Mendengar sampai di sini, Tan Ki segera tahu bahwa orang yang mereka katakan adalah Sam-jiu San Tian-sin Oey Kang.

Diam-diam dia berpikir…

‘Gadis ini sungguh lugu. Diri sendiri sudah terperangkap dalam sarang harimau, ternyata masih belum sadar. Tampaknya dia masih belum tahu bahwa Oey Kang merupakan manusia yang licik dan berhati keji’.

Nalurinya mengatakan bahwa akan terjadi bencana yang dahsyat, hal itu membuat perasaannya jadi bergidik. Hatinya tergetar, emosinya pun terbangkit, hampir saja dia tidak dapat mempertahankan diri. Dengan panik dia segera menghembuskan nafas panjang dan menghimpun hawa murninya. Setelah sibuk sekian lama, akhirnya dia berhasil menekan perasaannya yang gundah. Keadaannya menjadi normal kembali. Tetapi tubuhnya sudah dibasahi oleh keringat dingin.

Kurang lebih sepeminum teh kemudian, dia merasa hawa murninya kembali berjalan dengan lancar. Segulung demi segulung mengaliri seluruh tubuhnya. Di dalam urat darahnya seakan terdapat sebuah selang yang mengalir kian ke mari sesuka hati.
Perasaannya jadi nyaman seketika.

Entah kapan, dari ruangan sebelah kiri terdengar lagi suara si gadis…
“Betul. Ketika aku dibawa, aku mendengar sendiri dia mengatakan, berlatih ilmu Tou Li Mi-hun Toa Ceng.”

“Itu dia. Tujuannya membawa kau ke mari justru karena barisan Gadis Pengait Sukma ini. Setahu Cici, barisan ini memang kekurangan seorang anggota. Mungkin dia bermaksud menjadikan dirimu sebagai pelengkap barisan tersebut. Siapa sangka kau malah percaya penuh dengan segala omong kosongnya…”

Tampaknya gadis itu mulai mempercayai kata-kata Liang Fu Yong. Hatinya mulai di serang rasa takut. Dengan nada gugup dia berkata…

“Cici, bagaimana baiknya? Ketika aku diculiknya, meskipun ada Ciong San Suang-siu yang melihat, tetapi mereka mana tahu kalau aku terperangkap di tempat ini. Cici yang baik, kalau kau bersedia membantu, tunjukkanlah sebuah jalan keluar yang baik agar aku dapat melarikan diri dari tempat ini. Dengan demikian kau sudah berbuat kebaikan.”

Berkata sampai di sini, ruangan sebelah menjadi hening kembali. Mungkin Liang Fu Yong sedang mengasah otaknya. Lama sekali dia tidak berkata apa-apa. Keheningan yang berlangsung lama ini membuat perasaan orang menjadi tertekan.

Pada saat itu, Tan Ki yang berbaring di atas tempat tidur terkejut setengah mati.
Wajahnya berubah hebat. Dia sudah mengenali suara tadi sebagai suara gadis pujaan hatinya, Liu Mei Ling.

Hatinya menjadi panik, hampir saja dia membuka suara berteriak agar mendapat perhatian dari kedua orang yang ada di ruangan sebelah. Namun karena saat itu, latihannya sedang sampai pada masa kritis, biarpun ingin berteriak, tetap saja tidak ada suara yang keluar. Saking gelisahnya, mata Tan Ki yang membelalak terasa berkunang- kunang dan tubuhnya basah oleh keringat.

Tepat pada saat itu, telinganya menangkap lagi suara Liang Fu Yong yang bertanya dengan lirih…

“Moay Moay, apakah kau masih seorang gadis yang suci?”

Pertanyaan ini diajukan, ruangan sebelahpun menjadi hening kembali. Di depan mata Tan Ki seperti muncul bayangan selembar wajah yang polos kekanak-kanakan dan sering tersenyum tersipu-sipu dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Hampir saja dia tertawa keras-keras. Pertanyaan yang diajukan Liang Fu Yong ini rasanya terlalu bodoh? Biar bagaimanapun Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, ketika otaknya masih berputar, tiba-tiba kesadarannya tersentak. Pertanyaan Liang Fu Yong ini tidak mungkin

tanpa sebab musabab.

Mungkin kediaman Mei Ling bagi Liang Fu Yong merupakan suatu jawaban. Terdengar dia menarik nafas panjang sekali lagi.

“Hal ini semakin mencurigakan. Barisan Gadis Pengait Sukma itu justru membutuhkan para perempuan yang sudah tidak suci lagi. Kalau kau masih perawan, kemungkinan Oey Kang akan mengambil keuntungan lebih dahulu sebelum menggunakan engkau sebagai pelengkap barisannya.”
Hati Tan Ki semakin kelam, dia semakin panik. Rasanya ia ingin dipunggungnya tiba- tiba tumbuh sayap dan terbang ke samping Mei Ling agar dapat menghiburnya beberapa patah kata.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa Mei Ling yang merdu.

“Tidak mungkin. Kalau Siau Moay memilih mati daripada menuruti kehendaknya, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.”

Liang Fu Yong menghentakkan kakinya sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Aduh, orang sudah kebingungan setengah mati, kau masih tenang-tenang saja bahkan bicara yang bukan-bukan. Kau percaya ilmu silatmu bisa menandinginya? Kau kira bisa dengan mudah melarikan diri dari tempat ini? Orang ini tampangnya ramah hatinya licik.
Dia juga pandai menggunakan ratusan macam racun. Dapat membuat orang tertipu dalam situasi apapun. Sejenis obat yang tampaknya biasa-biasa saja sudah dapat membuat pikiranmu menjadi kehilangan akal sehat dan menuruti apa saja yang dikatakan olehnya. Atau pikiran tetap sadar namun seluruh anggota tubuh tidak mempunyai tenaga sama sekali sehingga tidak dapat bergerak serta lemas…”

Baru Liang Fu Yong berkata sampai di sini, Mei Ling sudah membuka mulut dan menangis tersedu-sedu. Dia adalah seorang gadis yang lincah dan polos. Walaupun pernah mempelajari ilmu silat yang lumayan tingginya, tapi bagaimanapun dia belum melihat dunia yang luas. Nyalinya kecil, baru mendengar Liang Fu Yong mengucapkan beberapa patah kata, dia sudah begitu terkejut sehingga ketakutan setengah mati. Apalagi berpikir tentang urusan cinta kasih antara laki-laki dan perempuan, apabila dia benar- benar diperkosa, bagaimana dia harus menghabiskan sisa hidupnya di kemudian hari?
Semakin dibayangkan hatinya semakin takut, suara tangisnya pun semakin keras dan air matanya tercurah bagai hujan.

Tan Ki juga panik sekali sampai kening serta dahinya basah oleh keringat. Tubuhnya terbaring di atas tempat tidur, matanya mendelik menatap langit-langit kamar. Hatinya gelisah dan perih. Di benaknya seperti muncul bayangan-bayangan. Dia mulai membayangkan yang bukan-bukan. Dia seperti melihat tubuh Mei Ling yang telanjang bulat berdiri di hadapannya. Sesosok bayangan manusia berwarna hitam sedang memaksakan kehendak setan di bathinnya…

Tanpa dapat ditahan lagi, Tan Ki menguraikan air mata. Dia seperti melihat orang itu sedang memperkosa Mei Ling. Tiba-tiba dia merasa aliran darahnya seperti bergejolak dan hampir saja termuntah dari mulutnya.

Untuk sesaat tenggorokannya menjadi dingin dan matanya gelap. Nyaris dia jatuh tidak sadarkan diri. Sayup-sayup dia seakan mendengar suara ratapan Mei Ling yang menusuk hatinya dalam-dalam.

Justru ketika perasaannya gundah dan hatinya gelisah, telinganya menangkap suara langkah kaki seseorang yang menuju ke ruangan sebelah. Kemudian terdengar pula suara tawa Oey Kang yang seperti orang gila.

“Fu Yong, apakah kau sudah menasehati-nya?”
“Aih, Locianpwe sebagai seorang angkatan tua di dunia Bulim, untuk apa memaksa seorang gadis yang masih suci bersih?”

Oey Kang tertawa seram. “Kau berani mengajari aku?” “Tidak, tidak berani…”
Tan Ki mendengar suara sahutannya setiap kali selalu agak gemetar. Hal ini benar- benar di luar dugaannya.

‘Kalau berani membantah perbuatannya, serta bermaksud menolong Mei Ling, mengapa setelah bertemu dengan iblis ini, dia begitu ketakutan?’ pikirnya dalam hati.

Tiba-tiba terdengar suara Mei Ling yang merdu…

“Biar matipun, Kouwnio tidak akan menuruti kata-katamu!”

“Moay Moay jangan menimbulkan masalah.” kata Liang Fu Yong gugup.

Suara bentakan dan gerakan kedua orang itu terdengar hampir dalam waktu yang bersamaan. Mungkin dalam hati Mei Ling timbul rasa benci sehingga dia nekat menerjang akhirnya malah ditotok oleh Oey Kang.

Justru karena hal ini pula, kemarahan dalam dada Oey Kang jadi terbangkit. “Fu Yong, ikat dia!” teriaknya.
Liang Fu Yong panik sekali. “Apa yang akan kau lakukan?”
Oey Kang tersenyum simpul. Senyumnya tersirat keinginan hatinya yang menakutkan.

“Malam ini rembulan bersinar indah. Kau keluarlah, aku tidak memerlukan pelayananmu lagi di sini.”

Liang Fu Yong mengalihkan pandangannya. Mei Ling terkulai di atas tanah dalam keadaan tertotok, dia tidak bergerak sama sekali. Namun orangnya masih sadar.
Wajahnya yang cantik tampak murung, dua bulir air mata membasahi pipinya. Kecantikannya semakin mempesona, bak bunga-bunga yang mekar di pagi hari. Tanpa dapat ditahan lagi, Liang Fu Yong menarik nafas panjang.

“Usia Locianpwe sudah cukup tua, ternyata masih tidak tahu malu bisa menyimpan keinginan untuk merusak sekuntum bunga yang baru mekar…”

Liang Fu Yong sudah mendapat nasehat dari Tan Ki. Walaupun hanya beberapa hari, tetapi sudah mampu membedakan antara kebaikan dengan kejahatan. Hatinya menjadi sadar. Maka ketika mengucapkan kata-kata tadi. Suaranya terdengar tegas dan mengandung kemuliaan hatinya.
Tampaknya Oey Kang merasa sindiran Liang Fu Yong barusan benar-benar di luar dugaan. Dia jadi tertegun sekian lama kemudian membentak dengan nada marah. “Tutup mulutmu!”

Lengan kirinya terangkat, dengan gerakan secepat kilat, dia menggerakkan tangannya menggampar. Kaki Liang Fu Yong sampai goyah terkena pukulannya, dia tergetar mundur dua langkah. Pipi sebelah kirinya langsung merah membengkak dan terlihat bekas guratan telapak tangan.

Sejak dilahirkan oleh ibunya, Liang Fu Yong mana pernah ditampar orang. Kali ini mendapat pukulan Oey Kang, dia jadi tertegun beberapa saat. Hatinya terasa perih dan tanpa ditahan lagi, air matanya mengalir turun dengan deras membasahi pipinya.

Tetapi dengan keras hati dia menggertakkan giginya, dia berusaha untuk tidak mengeluarkan suara ratapan atau isak tangis sedikit juga. Malah dia memberanikan dirinya berkata.

“Adik ini masih muda. Hatinya polos dan lugu. Jiwanya masih belum mengerti kekotoran manusia yang licik seperti dirimu. Kalau kau sampai mencemarkan kesucian dirinya, bukankah berarti kau menghancurkan kebahagiaannya seumur hidup? Kalau kau memang menginginkannya, mengapa tidak mengincar diriku saja?”

“Kau kira aku tidak berani!” bentak Oey Kang. Tubuhnya berkelebat, sembari melangkahkan kaki, lengannya terulur. Sekali loncat dia langsung memeluk pinggang Liang Fu Yong yang ramping dan menatapnya lekat-lekat.

Dari sinar matanya terpancar kebuasan serta kekalapan seekor binatang yang kelaparan. Sinar itu demikian menakutkan…

Liang Fu Yong merasa hatinya tercekat, kaki tangannya menjadi dingin seketika.
Hatinya sadar bahwa segelombang badai topan akan melanda dirinya. Tidak mungkin baginya untuk menghindarkan diri. Dengan panik dia memejamkan matanya erat-erat. Dua butir air mata bak mutiara justru berderai lagi pada saat seperti ini.

Mei Ling dalam keadaan tertotok, tubuhnya terasa lemas dan ngilu. Dia tidak dapat bergerak sama sekali. Matanya melibat Oey Kang memeluk Cici yang dia tidak tahu siapa namanya itu. Baru saja dia membuka mulut dengan maksud ingin mencaci maki, tiba-tiba dia melihat Oey Kang menundukkan wajahnya dan mencium Cici tersebut dengan buas. Hatinya terperanjat sekali, cepat-cepat dia memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Wajahnya mendadak menjadi panas. Dia merasa jengah sekaligus benci.

Begitu dia memalingkan wajahnya, tiba-tiba terasa serangkum angin yang kuat menerjang ke arahnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah ditendang oleh Oey Kang sehingga menggelinding keluar dari kamar. Terdengar suara alat rahasia menimbulkan bunyi yang berderak-derak. Dua bilah pintu rahasia yang terbuat dari besi merapat perlahan-lahan.

Mei Ling jadi tergetar oleh perubahan yang mendadak ini. Untuk sesaat dia menjadi bingung tidak karuan. Ketika lambat laun dia mengerti maksud serta keinginan Oey Kang, bayangan Liang Fu Yong sudah lenyap di balik pintu besi tersebut. Tanpa dapat ditahan lagi, dia segera menangis meraung-raung.
Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat, Tan Ki sudah menerjang ke tempat itu. Tampak mimik wajahnya menyiratkan penderitaan yang luar biasa. Dia sama sekali tidak memperdulikan Mei Ling. Menghambur sampai di depan pintu, dia langsung mengulurkan tangannya mendorong. Jangan kata terbuka, bergeming saja tidak. Pada saat itu dia baru merasa tangannya terasa dingin. Tentu saja dia terkejut setengah mati. Sekarang dia baru melihat kalau pintu itu terbuat dari besi yang kokoh dan tebal.

Dalam waktu yang bersamaan, harapannya yang menggebu-gebu untuk menolong Liang Fu Yong hampir surut secara keseluruhan. Hidungnya terasa perih, air matanya pun berderai…

Rupanya Tan Ki berhasil menghilangkan pengaruh obat yang diberikan Oey Kang dengan ilmu pernafasan yang kuncinya diberitahukan oleh Liang Fu Yong. Mula-mula dia mengalami kesulitan. Beberapa kali dia mencoba namun tidak terlihat hasilnya. Justru pada saat itulah dia mendengar jeritan Liang

Fu Yong. Dia segera tahu sesuatu yang tidak beres sedang berlangsung, juga tidak tahu dari mana datangnya kekuatan, dia memberontak sekuatnya dan langsung menerjang keluar. Sayangnya pengaruh obat yang diberikan Oey Kang tidak hilang secara tuntas. Tenaganya hanya cukup kuat untuk berlari.

Dia tahu apa yang dilakukan oleh Liang Fu Yong adalah pengorbanan dirinya untuk menolong Mei Ling dari aib. Perbuatannya ini membuat orang menaruh hormat padanya. Tetapi memikirkan perempuan itu yang masih terkurung di dalam kamar dan apa yang akan dilakukan Oey Kang kepadanya, darah dalam tubuh Tan Ki seakan bergejolak.
Hatinya terasa sedih dan sakit. Dia juga merasa kebencian memenuhi kalbunya. Meskipun Mei Ling adalah gadis pujaannya, tetapi pada saat ini dia tidak memperdu-likannya lagi.

Setelah mengetahui bahwa kedua belah pintu tersebut terbuat dari bahan besi, dia tertegun sejenak, tiba-tiba dia membuka mulut dan berteriak sekeras-kerasnya.”

“Cici, cici, apakah kau mendengar perka-taannku?”

Dalam keadaan panik serta sakit hati, suara teriakannya menjadi semakin keras dan nyaring, memecahkan keheningan seluruh ruangan dan bahkan bergema ke mana-mana. Setelah berteriak satu kali, suasana di dalam kamar itu tetap sunyi senyap. Tidak terdengar sahutan dari Liang Fu Yong.

Semacam firasat buruk melintas di hati kecil Tan Ki. Tanpa terasa tubuhnya jadi menggigil. Dia berteriak sekali lagi:

“Cici, jawablah… aku Tan Ki…!”

Tetap tidak ada sahutan dari dalam kamar. Tiba-tiba Mei Ling juga merasa telah terjadi sesuatu yang tidak beres, air matanya tidak tertahankan lagi. Dia menangis tersedu-sedu.

Ratapan isak tangis menambah kepedihan suasana di luar kamar. Hati Tan Ki semakin panik. Dengan kalap dia terus berteriak:

“Cici, Cici, dengarlah ucapanku! Jangan biarkan tua bangka itu menghinamu…!” nafasnya mulai tersengal-sengal. Namun dia tidak berhenti. Dia seakan takut Liang Fu
Yong tidak mendengarkan kata-katanya. “Cici, apakah kau mendengarkan kata-kataku? Cici, apakah kau dengar?”

Air mata mengiringi suara teriakannya. Dia menggerakkan sepasang kepalan tangannya dan memukuli pintu besi tersebut.

Blamm! Blamm! Blammm!

Suara gedoran itu bagai irama kepedihan yang menyayat hati Mei Ling. Pintu besi itu juga menjadi batas antara dua alam. Tan Ki menjadi kalap. Tingkah lakunya seperti orang yang tidak waras lagi. Dia terus berteriak, menggedor, meraung-raung…

“Cici, jangan biarkan tua bangka itu menghinamu…! Cici, jangan biarkan tua bangka itu melakukan hal yang tidak senonoh kepadamu…!”

Dalam keadan yang kacau dan bising itu, sayup-sayup terdengar isak tangis berkumandang dari dalam kamar. Tan Ki merasa hatinya pedih tidak terkira. Keringat dan air mata membaur menjadi satu membasahi pipinya. Suaranya semakin lama semakin parau, tetapi dia terus meneriakkan kata-kata yang sama.

“Jangan biarkan dia menghinamu…! Jangan biarkan dia menghinamu…!”

Dia sudah kehilangan ilmu silatnya. Tenaga dalamnya hampir lenyap. Sepasang kepalan tangannya yang terus menggedor pintu besi tersebut hanya timbul dari emosinya yang meluap-luap. Sampai saat itu, sepasang kepalan tangannya sudah merah membengkak, tetapi perasaan Tan Ki seakan menjadi kebal. Dia tidak merasa sakit sedikitpun.

Hatinyalah yang sakit. Akhirnya dia terkulai dan duduk di atas tanah. Tampangnya kusut. Penderitaannya tersirat jelas di wajah. Dia juga tampak lelah sekali, perlahan-lahan dia menyandar pada pintu besi dan mengalirkan air mata kepedihan.

Tiba-tiba… serangkum suara tawa yang keras dan panjang berkumandang dari dalam kamar. Kemudian disusul dengan jeritan histeris Liang Fu Yong. Setelah itu hening kembali. Setelah mendengar suara jeritan Liang Fu Yong barusan, benak Tan Ki bagai disengat aliran listrik. Otaknya seperti pecah berhamburan seiring dengan suara tersebut. Untuk sesaat dia menjadi termangu-mangu, habislah sudah.