Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 10

Bagian 10

Terlihat manusia berpakaian hijau itu mengembangkan tertawa lebar. “Ke marilah!” Wajah Liang Fu Yong semakin merah.
“Tetapi kau tidak boleh sembarangan!”

“Tentang ini, kita lihat saja nanti.” dari kata-katanya sudah jelas bahwa dia memang mengandung maksud yang tidak baik. Setelah berhenti sejenak, sinar mata manusia berpakaian hijau itu beralih kepada Tan Ki. “Tampaknya orang ini mempunyai hubungan dengan dirimu. Lukanya parah sekali, mungkin kau sendiri tidak sanggup mengobatinya.” selesai berkata, dia kembali tertawa terkekeh-kekeh. Tampangnya seakan menyimpan sebuah rencana yang licik.

Liang Fu Yong menundukkan kepalanya merenung. Dia sedang memikirkan ucapan lawannya barusan. Tiba-tiba dia melihat manusia berpakaian hijau itu seperti menginginkan sesuatu dan saat itu sedang melangkahkan kaki mendekat ke arahnya. Hatinya terkesiap, kakinya menutul di atas tanah dan mendadak mencelat mundur sejauh tiga depa. Tubuhnya sedang telanjang bulat dan gerakannya otomatis cepat sekali, tetapi dia tetap tidak berani menegakkan badannya dan dia mundur dalam keadaan agak meringkuk.

Tiba-tiba wajah manusia berpakaian hijau menjadi kelam.

“Apakah kau sengaja ingin membangkang terhadapku?” nada suaranya mengandung kemarahan.

“Sejak hari ini Siau Yau Sian-li tidak seperti dulu lagi…” Manusia berpakaian hijau itu tertawa dingin.
“Kalau begitu aku ingin menjajal-jajal, biar kubunuh dulu orang ini.” kata-katanya yang terakhir terucap, terdengar hembusan angin dari telapak tangannya yang bergerak dengan keji ke arah ubun-ubun kepala Tan Ki.

Gerakannya cepat sekali. Jurus serangan yang dilancarkan ini sama sekali di luar dugaan Liang Fu Yong. Begitu matanya memandang, hatinya langsung tercekat. Dia tidak memperdulikan lagi keadaan tubuhnya yang telanjang bulat atau perasaan malunya.
Dengan panik tubuhnya melesat ke atas dan mulutnya mengeluarkan suara teriakan…

“Kau berani?” pergelangan tangannya memutar, dengan sengit dia melancarkan sebuah pukulan ke arah manusia berpakaian hijau.

Segulung angin yang kencang terpancar dari telapak tangannya yang menghantam ke depan. Tiba-tiba dia melihat manusia berpakaian hijau itu membalikkan tubuh sedikit dan
dia juga melancarkan sebuah serangan balasan. Hati Liang Fu Yong terperanjat sekali. Dia segera merasakan sesuatu yang tidak beres.

Kejadiannya cepat sekali. Baru saja dia merasa bahwa tenaga dalamnya kalah jauh dibandingkan dengan orang itu dan bermaksud menghindar. Tetapi sudah terlambat. Terdengar suara dengusan yang berat, tubuh Liang Fu Yong yang mungil berturut-turut mundur sejauh tujuh delapan langkah. Tubuhnya sempoyongan, hampir saja dia terjungkal ke atas tanah. Matanya terasa berkunang-kunang, mulutnya membuka dan dia langsung memuntahkan segumpal darah segar.

Tetapi, meskipun dia mengalami kerugian yang cukup parah, paling tidak, nyawa Tan Ki sudah tertolong. Di bawah cahaya rembulan, terlihat tampangnya yang sungguh mengenaskan dan menderita sekali.

Dia sudah tahu apa yang diinginkan oleh manusia berpakaian hijau… tetapi, tenaga dalamnya hebat sekali, jauh lebih tinggi dari padanya puluhan kali lipat. Kalau dia memaksakan diri untuk melawan, mungkin hanya ada satu jalan kematian yang akan diperolehnya.

Berpikir sampai di situ, diam-diam dia melirik ke arah Tan Ki dan menarik nafas panjang. Untuk sesaat dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Tiba-tiba, di benaknya terlintas sebuah jalan…

Tampak Liang Fu Yong tertawa getir. “Sebetulnya apa yang kau inginkan?” tanyanya.
Manusia berpakaian hijau itu tertawa terbahak-bahak. “Kau ikut denganku, hal lainnya kita bicarakan kemudian.”
“Baik, boleh saja aku ikut denganmu, tetapi ada syaratnya.”

“Syarat? Coba kau katakan, kalau aku tidak rugi apa-apa, tentu saja aku akan me- ngabulkannya.”

Sekali lagi Liang Fu Yong tertawa getir.

“Pertama-tama kau harus menolong adikku, Tan Ki. Aku akan ikut denganmu. Sekarang aku sudah tahu, kau adalah Cianpwe yang muncul di atas genting Cui Sian Lau beberapa hari yang lalu, kau juga membawa pergi Ciu Cang Po. Luka yang tidak seberapa parah ini, bagimu tentu bukan hal yang serius…”

Ketika mengucapkan kata-kata ini, dia menekan dalam-dalam keperihan di hatinya.
Diberanikannya dirinya untuk mengeluarkan isi hati. Tujuannya adalah mengobarkan diri demi Tan Ki. Dia ingin menyelamatkan nyawa anak muda itu. Dengan demikian dia dapat menebus kesalahan yang telah dilakukannya.

Berbicara sampai di situ, dia tidak dapat lagi menahan keperihan hatinya. Dua bulir air mata menetes membasahi pipinya, semakin lama semakin deras bagai air hujan yang tercurah dari atas langit.
Manusia berpakaian hijau itu tertawa terbahak-bahak. “Hal ini mudah sekali.” katanya.
Dia menyingsingkan lengan bajunya, tidak terlihat bagaimana dia bergerak. Tahu-tahu dia telah menepuk tiga puluh enam urat darah di tubuh Tan Ki. Mungkin cara penyembuhan seperti ini sangat efektif, tetapi menguras tenaga. Begitu dia selesai menepuk, saking letihnya, seluruh tubuh orang itu sudah basah kuyup oleh keringat, nafasnya tersengal-sengal.

Namun terdengar keluhan dari bibir Tan Ki. Kepalanya menggeleng dengan perlahan beberapa kali. Tetapi orangnya sendiri belum sadar. Dengan demikian, tugasnya seperti sudah selesai, dia pun menghela nafas lega dan tertawa lebar.

“Tugasku sudah selesai.” katanya.
Air mata Liang Fu Yong masih mengalir dengan deras. Dia menggumam seorang diri… “Adik, aku terpaksa mengingkari nasehat yang kau berikan. Maafkan aku… maafkan
aku…” sebetulnya di dalam hati perempuan ini terselip banyak perkataan yang ingin
diucapkannya, tetapi pada saat ini, entah mengapa dia tidak sanggup mengatakannya. Air matanya semakin deras mengalir seakan mewakili ucapan yang tersimpan dalam kalbu.
Juga hati yang mengandung perasaan kasih…

Sayangnya Tan Ki tidak bisa mendengarkan ucapannya, dia masih terkulai di atas tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tiba-tiba angin malam berhembus, dua sosok bayangan melesat, satu di depan dan satunya lagi di belakang.
Mereka sudah pergi, di tempat itu hanya tertinggal seorang pemuda yang terluka… Angin masih bertiup sepoi-sepoi, kurang lebih setengah kentungan kemudian, dia masih
tidak sadarkan diri. Kalau ditilik dari keadaannya, apabila tidak ada orang yang berteriak memanggilnya, dia tidak mungkin sadar sendiri.

Saat ini, di batas langit telah muncul secercah sinar, fajar telah menyingsing. Seluruh permukaan bumipun menjadi terang. Kegelapan malam seakan terusir pergi…

Tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda yang memacu dengan cepat. Seiring dengan angin yang berhembus, tampaklah tiga ekor kuda berlari ke tempat tersebut. Di Bagian paling depan adalah seorang gadis yang matanya tajam, dia langsung menghentikan kudanya. 

“Siapa orang itu?” tanyanya seperti kepada dirinya sendiri. Sepasang kakinya segera menghentak perut kudanya. Tubuhnya mencelat meninggalkan pelana kuda, gerakannya bagai seekor burung walet yang melayang di angkasa, indah menawan.

Terlihat gadis itu mempunyai sepasang mata yang indah, alisnya bagus, hidungnya mancung menantang, seakan seluruh syair indah di dunia ini dapat melukiskan kecantikannya. Begitu mempesona sehingga setiap orang yang bertemu dengannya tidak dapat menahan diri untuk menoleh sekali lagi.
Di belakangnya mengikuti dua orang. Yang satu pendek gemuk dan tinggi tubuhnya tidak mencapai tiga ciok. Dengan duduk di atas pelana, dari jauh ia terlihat seperti sebuah bola besar. Tampangnya pun lucu sekali. Sedangkan orang yang satunya lagi berpakaian seperti seorang pelajar. Pakaiannya rapi dan tangannya memegang sebuah kipas di atas kepala seperti melindungi wajahnya dari sinar matahari.

Kedua orang itu ternyata tidak lain tidak bukan dari Ciong San Suang-siu, yakni Cu Mei dan Yi Siu. Dan gadis yang paling depan merupakan gadis yang dirindukan oleh Tan Ki selama ini, yaitu putri tunggal Bu Ti Sin

Kiam Liu Seng, Mei Ling adanya.

Ketika dia menghambur ke arah Tan Ki, yang tertangkap oleh penglihatannya adalah seorang laki-laki setengah baya dan sama sekali tidak menduga bahwa dia adalah samaran dari Cian bin mo-ong yang namanya telah menggemparkan dunia Kangouw.

Karena riasan wajah Tan Ki masih belum luntur, dia juga belum tahu bahwa laki-laki setengah baya ini merupakan pemuda tampan yang sempat dirawatnya beberapa hari yang lalu.

Tampak matanya yang indah mengejap-kejap dan melirik Tan Ki beberapa kali. “Rupanya orang ini dalam keadaan tidak sadarkan diri.” katanya.
Sepasang alis si pendek gemuk Cu Mei bertaut dengan erat.

“Lebih baik kita selesaikan urusan kita sendiri, untuk apa mengurusi hal yang bukan- bukan?”

Sepasang alis Mei Ling langsung terjungkit ke atas.

“Aih, apakah Cu Siok Siok tidak sudi menolong orang yang sedang dalam kesulitan?” Cu Mei menarik nafas panjang.
“Demi menghadapi Cian bin mo-ong, kita telah berusaha sekuat kemampuan untuk mengumpulkan para sahabat di dunia Kang-ouw. Tidak ada seorangpun yang memiliki kepandaian cukup yang tidak datang ke Lok Yang. Kita tinggal menunggu perintah untuk bertindak. Sekarang, balikan kelima partai besar juga telah diundang, aku justru merasa tidak tenang. Biar bagaimanapun Cian bin mo-ong mempunyai ilmu silat yang tinggi sekali, jarang menemukan tandingan. Untuk apa kita membesar-besarkan persoalan yang sepele yang mungkin akan mengacaukan hubungan baik antara golongan hitam dan putih. Kali ini, tujuan kita adalah Ming San, kita diperintahkan untuk mencari seorang tokoh Go Bi Pai. Entah kita berhasil atau tidak. Kalau kita menolong orang ini terlebih dahulu, tentu banyak waktu yang akan terbuang, aku khawatir Cianpwe itu keburu pergi pesiar ke tempat lain.”

Wajah Mei Ling menjadi kelam.

“Aku tidak mengatakan bahwa kita harus menolong orang ini untuk menyembuhkan lukanya, tapi paling tidak kita bisa antarkan orang ini ke sebuah penginapan. Jangan sampai dia terbaring di sini diterpa angin dan disinari terik mentari. Dengan demikian, bukankah lukanya akan bertambah parah? Lagipula, kita sudah menempuh perjalanan
yang demikian jauh. Sehari semalam kita tidak berhenti sama sekali. Setidaknya kita juga perlu mencari tempat untuk beristirahat.” katanya dengan nada kurang senang.

Yi Siu merasa kata-katanya memang mengandung kebenaran, maka diapun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, nonaku yang manis. Terserah’ bagaimana kehendakmu saja.” sahutnya.

Mei Ling segera tertawa senang. Dia membungkukkan tubuhnya dengan maksud hendak membopong Tan Ki, tetapi tiba-tiba dia merasa kurang pantas, bagaimanapun dia adalah seorang gadis yang suci, mana boleh sembarangan membopong tubuh seorang laki-laki yang tidak dikenal. Wajahnya jadi merah padam seketika. Cepat dia mendongakkan kepalanya dan berseru…

“Yi Siok Siok, tolong kau angkat orang ini. Aku akan berjalan duluan untuk mencari tempat peristirahatan.” baru saja ucapannya selesai, dia tidak menunggu jawaban dari Yi Siu, tubuhnya melesat ke atas kuda kemudian menghentakkan kendalinya dan menerjang ke depan dengan kecepatan tinggi.

Melihat hal itu, Yi Siu menggelengkan kepalanya beberapa kali.

” Anak ini juga benar-benar, meskipun jiwa kependekarannya sangat kuat, tetapi berbuat apa-apa selalu tanpa berpikir panjang lagi. Lagipula peradatannya terlalu kukuh, tidak sudi menyentuh tubuh seorang laki-laki sedikitpun.” sambil berkata, dia langsung melonjak turun dari kudanya, digendongnya tubuh Tan Ki, kemudian ia mencelat kembali ke atas pelananya.

Terdengar suara ringkikan kuda memecah keheningan. Debu jalanan beterbangan di udara. Dua ekor kuda langsung melesat seperti anak panah dan menghambur ke arah yang sama dengan Mei Ling tadi.

Tidak berapa lama kemudian, tampak Mei Ling berdiri di depan sebuah penginapan. Dia segera menggapaikan tangannya seakan takut kedua orang itu tidak melihat dirinya.
Ternyata penginapan yang dipilihnya merupakan penginapan yang sama di mana Tan Ki dan Liang Fu Yong bermalam.

Entah berapa lama sudah berlalu, akhirnya Tan Ki siuman dari pingsannya. Begitu mata memandang, di depan matanya terlihat berdiri seorang gadis yang cantik jelita dan berpenampilan anggun. Gadis itu tentu saja Mei Ling, putri tunggal Bu Ti Sin Kiam Liu Seng. Tanpa terasa mulutnya mengeluarkan seruan terkejut dan dia langsung melonjak dari tempat tidurnya.

“Rupanya engkau!” katanya spontan.

Sejak bertemu dengan gadis ini beberapa hari yang lalu ketika dirinya terluka, dalam hati Tan Ki terus merindukannya siang dan malam. Kekolotannya justru menunjukkan bahwa dia seorang gadis yang tidak sembarangan. Kecantikannya bagaikan mewakili semua bunga-bunga yang indah yang terdapat di dunia ini.

Tan Ki sendiri belum lama berkecimpung di dunia Kangouw. Malah dia menggunakan nama Cian bin mo-ong yang menggetarkan hati setiap tokoh di rimba persilatan. Selama
ini dia belum pernah tertarik kepada gadis manapun. Entah mengapa, hanya bayangan Mei Ling seorang yang terus menggelayuti pikirannya.

Saat ini, gadis pujaannya tahu-tahu ada di depan mata, bagaimana hatinya tidak jadi terkejut serta gembira?

Tampak Mei Ling tersenyum simpul. Dia merasa heran terhadap sikap Tan Ki. “Aih, kau juga mengenal aku?”
“Di tengah kota Lok Yang pernah melihat Kouwnio beberapa kali, oleh karena itu Cayhe jadi tahu siapa Kouwnio ini.” matanya beredar, dia melihat tangan Mei Ling memegang sebuah mangkok berisi ramuan obat.. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang.

‘Ini adalah untuk ketiga kalinya aku ditolong oleh Liu Kouwnio’ keluhnya dalam hati.

Dalam keadaan tidak sadar, dia tidak tahu mula-mula Liang Fu Yong yang menolong jiwanya dengan mengorbankan diri rela diajak oleh manusia berpakaian hijau. Dia mengira Mei Ling juga yang menolongnya kali ini. Tetapi dia takut gadis itu akan mengetahui wajah aslinya, maka cepat-cepat dia memalingkan ke arah lain.

Diam-diam dia melirik ke arah gadis itu. Dia melihat sepasang mata Mei Ling yang indah sedang menatap lekat-lekat sambil tersenyum simpul. Seakan ada sesuatu yang diingatnya.

Hatinya menjadi khawatir. Tanpa dapat menahan diri lagi dia bertanya… “Apa yang Kouwnio pikirkan?”
Mei Ling tersemyum lembut.

“Aku merasa seakan pernah melihat sinar matamu itu, tetapi untuk sesaat aku tidak dapat mengingatnya kembali.”

“Apakah kau merasa tidak asing?”

“Tidak salah, sinar matamu ini persis dengan sinar mata seseorang yang ingin aku temui, tapi usianya jauh lebih muda daripadamu.”

Hati Tan Ki berbunga-bunga. Belum apa-apa dia sudah kesenangan setengah mati. “Apakah orang yang Kouwnio maksudkan itu bernama Tan Ki?”
Mendengar pertanyaannya, sepasang mata Mei Ling langsung berbinar-binar menunjukkan kegembiraan hatinya.

“Apakah kau kenal dengannya?” tiba-tiba kata-katanya terhenti. Dia menarik nafas panjang satu kali baru melanjutkan kembali. “Aih, sebetulnya biar kau mengenal dia juga tidak ada gunanya. Urusan ini bukan hanya dia seorang yang dapat menyelesaikannya.”

Kalau ditilik dari nada suaranya, tampaknya hati gadis ini sedang dilanda kegundahan yang dalam, yang mana ada persoalan yang tidak dapat dipecahkannya.

“Entah apa maksud Kouwnio mencarinya? Meskipun Cayhe tidak mempunyai kepandaian apa-apa, tetapi Cahye rela membagi suka duka dengan Kouwnio. Hal ini tentu saja untuk membalas budi pertolongan Kouwnio.” kata Tan Ki.

Mei Ling menarik nafas panjang sekali lagi.

“Karena urusan dia dan Kiau Hun Moay Moay, akhirnya timbul persengketaan antara guruku dengan si pengemis sakti Cian Cong Locianpwe. Kemudian mereka menentukan waktu untuk bertanding sekali lagi. Kemudian, karena ilmu silat guruku terpaut segaris dengan Cian Locianpwe, akhirnya beliau terkena serangan ‘Hui Siu Jut Lim’ milik tokoh tua tersebut…”
Terdengar seruan terkejut dari mulut Tan Ki, cepat-cepat dia menukas. “Peristiwa ini aku sudah tahu. Kemudian gurumu ditolong oleh seorang manusia
berpakaian hijau dan menjanjikan bahwa dalam waktu tiga bulan, dia akan mengajarkan
ilmu yang sama kepada Ciu Gang Po dan membayar hutang Cian Locianpwe.”

“Aku justru dipusingkan oleh masalah ini. Setelah itu, Cian Locianpwe mencari info ke sana ke mari, akhirnya dia berhasil mengetahui bahwa manusia berpakaian hijau itu adalah tokoh yang disebut iblis nomor satu di dunia Bulim sepuluh tahun yang lalu.
Julukannya ‘Sam Jiu San Tian-sin’ (Dewa Kilat Bertangan Tiga) nama aslinya Oey Kang, Usia orang ini belum terlalu tua, tetapi ilmu silatnya sudah mencapai taraf tertinggi, bahkan Cian Locianpwe dan tokoh lain yang seangkatan dengannya, mengaku sendiri bahwa mereka masih bukan tandingan orang tersebut. Apalagi dia bisa mengeluarkan tiga macam senjata rahasia sekali kibas. Maka kehebatannya dapat dibayangkan. Selama ratusan tahun, belum pernah ada tokoh lain yang sanggup melakukan hal yang sama…”

“Sekali kibas tiga macam senjata rahasia?” tanpa sadar Tan Ki mengulangi sekali lagi ucapannya. Ayahnya mati di bawah serangan berbagai senjata rahasia. Tentu saja dia menaruh perhatian besar terhadap orang yang dapat menggunakan senjata rahasia dengan baik.

Diam-diam hatinya jadi tergerak. “Apa hubungannya masalah ini dengan Tan Ki?” Wajah Mei Ling bagai diselimuti awan gelap.
“Asal dia muncul dan meminta maaf kepada guruku, tentu urusan ini akan lebih mudah dibicarakan. Bayangkan saja, Suhuku merupakan orang yang tinggi hati. Kalau pamornya dapat dikembalikan seperti semula, mungkin perselisihan antara dirinya dengari Cian Locianpwe juga dapat didamaikan. Kalau tidak, dengan mengikuti seorang iblis yang sudah terkenal di dunia persilatan, kemungkinan dia akan terjerumus ke jalan yang sesat.” selesai berkata, dia menarik nafas lagi dalam-dalam.

Sepasang alis Tan Ki bertaut erat. “Menurut apa yang kuketahui, orang yang
Kouwnio cari itu juga memiliki watak yang keras. Kalau mengharapkan dia minta maaf begitu saja, rasanya tidak mungkin dia bersedia.”
“Kalau begitu aku akan memohon kepadanya. Aku tahu, pada dasarnya hati orang ini sangat baik, dia tidak akan membuat aku kecewa.” kata Mei Ling panik.

Hati Tan Ki tergetar mendengar ucapannya “Mengapa kau bisa tahu kalau dia adalah orang baik-baik? Dan di mana letak kebaikannya?”
Sepasang mata Mei Ling yang indah mengejap-kejap. Dia berbicara dengan nada polos. “Aku dapat melihat dari sinar matanya, lagipula sikapnya terhadapku…” tiba-tiba dia
merasa ucapannya jadi ngelantur. Wajahnya berubah merah padam dan ia tidak melanjutkan kata-katanya kembali. Tampangnya menyiratkan rasa jengah yang tidak terkirakan.

Melihat tampangnya yang demikian rupa, hati Tan Ki semakin tertarik. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia menarik nafas panjang.

“Kentungan ketiga malam ini, harap kau tunggu di sekitar kota sebelah Barat. Di sana ada sebuah jembatan kecil. Kouwnio pasti akan bertemu dengan orang yang dicari. Saat itu, permintaan apapun yang kau ajukan, dia pasti akan mengabulkannya…”

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang riuh. Bayangan manusia berkelebat. Yi Siu masuk dengan langkah tergesa-gesa. Bibirnya tersenyum.

“Apakah orang itu sudah sembuh?” tanyanya cepat.

Tan Ki tetap berbaring di atas tempat tidur. Dia menjurakan sepasang kepalan tangannya.

“Terima kasih atas bantuan Saudara. Cay-he akan mengenangnya dalam hati.” katanya. Yi Siu tertawa lebar.
“Kita sama-sama orang dari dunia Bulim. Memang sudah seharusnya saling tolong me- nolong. Semua ini toh merupakan hal yang wajar, buat apa sungkan-sungkan?” dia segera menoleh kepada Mei Ling dan melanjutkari perkataannya. “Kouwnio, kita sudah boleh pulang sekarang.”

Mei Ling jadi tertegun mendengar kata-katanya.

“Kenapa? Apakah kita tidak jadi menemui Yuan Kong Taisu?” Sekali lagi Yi Siu tersenyum simpul.
“Ini yang di namakan, gunung jauh-jauh hendak didatangi, tidak tahunya sudah ada di depan mata. Kita malah jadi hemat tenaga. Kita hendak mencari tokoh sakti tersebut, orangnya justru sudah sampai di sini mencari kita. Sekarang sedang berbincang-bincang dengan Cu Siok Siokmu.”

Mendengar percakapan kedua orang itu, hati Tan Ki langsung terkesiap. Dari kitab hasil curiannya di kuburan para ketua Ti Ciang Pang, di dalamnya ada keterangan tentang Yuan Kong Taisu yang dinyatakan sebagai seorang pendekar pembela kebenaran dan ilmunya sudah mencapai taraf yang tertinggi. Sedangkan dalam hal angkatan-angkatan tua,
bahkan dua tokoh sakti di dunia Kangouw saat ini, yakni Cian Cong dan Tian Bu Cu masih lebih rendah dari orangtua ini setengah angkatan.

Selain terkejut, hatinya juga merasa bangga. Ternyata namanya sendiri bisa begitu terkenal sehingga membuat para tokoh dari dua golongan, baik hitam maupun putih menjadi cemas bukan kepalang.

Sementara itu, tampak Mei Ling tertawa lebar.

“Aku ingin menemuinya.” dia langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Melihat kelincahannya, Yi Siu tersenyum simpul.
“Keponakanku ini sungguh nakal, tidak pernah memperdulikan adat istiadat, sungguh menjadi bahan tertawaan Saudara saja.”

“Mana bisa orangnya anggun dan lincah, maka tampaknya seperti nakal, padahal itu hanya kepolosan jiwanya dan sikapnya yang masih kekanak-kanakan. Malah membuat orang senang melihatnya. Cahye malah sudah menerima budi pertolongannya satu kali, entah bagaimana harus membalasnya.” karena hatinya sendiri sudah tertarik kepada Mei Ling, kata-katanya jadi memuji gadis itu terus. Tanpa sadar, sering dia mengutarakan isi hati yang sebenarnya.

Untung saja Yi Siu menganggap ucapannya sebagai ungkapan yang wajar. Dia segera merangkapkan sepasang tangannya dan menjura kepada Tan Ki.

“Lebih baik kita juga ke sana dan berbincang-bincang dengan mereka.” katanya. “Baik, Cayhe juga ingin sekali bertemu dengan Yuan Kong Taisu yang terkenal itu.”
Kedua orang itu lalu keluar berendengan dan masuk ke kamar sebelah. Begitu mata memandang, di dalam kamar itu telah dipenuhi oleh sejumlah orang. Baik Tan Ki maupun Yi Siu jadi tertegun.
Sekilas perasaan gentar segera merasuk hati Tan Ki. Tanpa sadar, tubuhnya bergetar. “Mungkinkah mereka telah mengetahui rahasiaku dan sengaja mengatur perangkap ini
untuk menjebakku?”

Dengan membawa pikiran demikian, perasaannya semakin tegang. Dia berdiri di depan pintu dengan hati bimbang.

Rupanya di dalam kamar tersebut, kecuali seorang Hwesio tua yang rambutnya sudah putih semua dan berpakaian abu-abu, di sana masih terdapat Bu Ti Sin Kiam Liu Seng, si pendek gemuk Cu Mei, Tian Tai Tiau-siu, Kok Hua Hong dan tujuh delapan orang laki-laki bertampang gagah. Mereka semuanya pernah dilihat oleh Tan Ki di rumah Liu Seng di kota Lok Yang. Hanya si pengemis sakti Cian Cong yang tidak menyukai keramaian maka tidak kelihatan.

Perlahan-lahan dia mengalihkan pandangannya, tampaknya Yi Siu juga tidak menyangka akan kehadiran Liu Seng dan yang lainnya. Melihat kemunculan orang-orang
itu, hampir saja dia tertawa terbahak-bahak kalau bukan karena hadirnya Yuan Kong Taisu yang dihormati semua orang.

Tampak Liu Seng berdiri sambil tersenyum-senyum. “Harap saudara berdua duduk di dalam.” sapanya.
Dia mengira Tan Ki adalah teman Yi Siu. Maka ketika mempersilahkan dia menyebutkan kedua-duanya. Pada saat itu Tan Ki masih merenung. Melihat Yi Siu menjura kepada para hadirin, terpaksa dia memberanikan diri dan ikut melangkah ke dalam.

Riasan wajahnya masih belum luntur, tampangnya yang kaku sekaan tidak menunjukkan perasaan apapun. Yuan Kong Taisu adalah seorang angkatan tua Siau Lim Pai yang sudah lama mengasingkan diri. Matanya sangat awas. Ketika Tan Ki baru melangkah sampai di depan pintu, mulutnya langsung mengeluarkan suara ‘Ehem’ yang lirih. Rasa curiganya sudah tergugah. Begitu Tan Ki masuk ke dalam, dia malah memperhatikan dengan pandangan yang lebih teliti.

Sinar mata Tan Ki bertemu pandang dengan tokoh tua tersebut. Dia segera merasakan sinar matanya tajam menusuk, seperti ingin menembus pribadinya dalam-dalam.

Diam-diam hatinya terkesiap, cepat-cepat dia memalingkan wajahnya dan pura-pura melihat ke arah yang lain.

Tiba-tiba Yuan Kong Taisu menyerukan nama Buddha. Suaranya bagai bunyi genta berdentang. Begitu kerasnya sehingga menggetarkan gendang telinga. Melihat keadaan itu, wajah orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut segera berubah hebat.

Perlahan-lahan Yuan Kong Taisu bangkit dari tempat duduknya. Tendengar suaranya yang parau dan mengandung kewibaan yang dalam.

“Apa kabar Sicu setelah sekian lama tidak bertemu, tentunya masih mengenali Pinceng bukan?”

Datangnya pertanyaan itu begitu mendadak, Tan Ki yang mendengarnya sampai termangu-mangu. Dia tidak tahu harus bagaimana, karena dia tidak merasa kenal dengan Hwesio tua tersebut.

Sampai-sampai orang-orang yang ada dalam ruangan itu juga merasa heran. Puluhan pasang mata segera beralih pada diri Tan Ki. Suasana menjadi mencekam.

Dari perhatiannya yang teliti tadi, Yuan Kong Taisu sudah mengetahui bahwa kedatangan Tan Ki ke dalam ruangan ini bukan menggunakan wajahnya yang asli. Tampang dan gerak-geriknya persis dengan musuh bebuyutannya puluhan tahun yang lalu. Sekarang melihat Tan Ki diam saja serta tidak menyahut sepatah katapun, kecurigaannya semakin dalam. Sepasang alisnya yang sudah putih segera terjungkit ke atas.

“Apakah Sicu benar-benar sudah lupa dengan Pinceng? Mungkin, jurus serangan ‘Tian Wu Te-am’ ini akan mengingatkanmu kembali?” bentaknya marah. Deraan pukulan langsung dihantamkan ke depan. Rangkuman angin yang terpancar dari telapak tangannya menimbulkan suara suitan yang panjang.

Tan Ki merasa segulungan angin yang kencang mendorong ke arahnya. Nafasnya jadi sesak, hatinya terperanjat dan dengan gugup dia segera melesat keluar dari ruangan tersebut untuk menghindarkan diri dari serangan yang dahsyat itu. Terdengar suara yang bergemuruh. Pukulan lewat di sampingnya dan menghantam pintu kamar, pintu kayu itupun hancur berkeping-keping dan berhamburan ke mana-mana.

Sekali lagi Yuan Kong Taisu berdehem. Serangannya ditarik kembali. Sinar matanya bagai kilat memperhatikan diri Tan Ki.

“Apa hubunganmu dengan ‘Cian Tok Kui-ong’ (Raja Setan Seribu Racun)?” bentaknya marah.

Tan Ki tertegun.

“Aku tidak mengenal segala raja setan maupun dewa-dewa, aku juga tidak mengenalmu. Mengapa baru saja bertemu, tanpa menyatakan dengan jelas, kau langsung melancarkan pukulan?” sahutnya kesal.

Yuan Kong Taisu tertawa dingin.

“Kalau, kau bukan Cian Tok Kui-ong sendiri, pasti kau juga mempunyai hubungan yang erat dengannya. Kalau tidak, ilmu merias wajah kelas wahid di dunia seperti yang kau kuasai tidak mungkin diwariskannya kepadamu!”

Sejak puluhan tahun yang lalu, Hwesio tua ini sudah mengasingkan diri dan tidak mencampuri urusan duniawi. Selama ini dia hanya bersemedi melatih ilmu dan membaca ayat-ayat suci. Sebetulnya hawa emosi dalam dirinya sudah padam. Tetapi saat ini, kemarahannya demikian meluap-luap. Hal ini menandakan bahwa kebenciannya terhadap Cian Tok Kui-ong sudah merasuk ke tulang sumsum.

Tan Ki memaksakan diri mengembangkan seulas senyuman.

“Aku tidak tahu siapa itu Cian Tok Kui-ong. Kalau pun aku tahu, karena seranganmu tadi, aku juga tidak akan mengatakannya!” dia langsung membalikkan tubuh dan bermaksud meninggalkan tempat itu.

Penampilannya keras kepala seperti biasa. Dia memang bukan manusia yang dapat dihadapi dengan kekerasan.

Tampak Yuan Kong Taisu mengibaskan lengan bajunya dan berteriak.

“Jangan lari!” dia langsung mengerahkan langkah kakinya mengejar. Dalam waktu yang singkat, tubuhnya sudah melesat keluar dari ruangan tersebut dan hilang dari pandangan.

Beberapa perubahan yang mendadak benar-benar di luar dugaan para hadirin, ketika mereka bermaksud mencegah, ternyata sudah tidak keburu lagi.
Tampak Liu Seng menarik nafas panjang. Kepalanya menggeleng beberapa kali. “Karena kemunculan Cian bin mo-ong, Yuan Kong Taisu yang sudah mengasingkan diri
berpuluh tahun ikut merasa marah dan berkecimpung lagi di dalam dunia Kangouw. Tidak
di sangka orang tadi merupakan sahabat dari Cian Tok Kui-ong atau mungkin muridnya. Kalau sampai karena persoalan tadi Cian Tok Kui-ong jadi muncul kembali, dunia Bulim mungkin akan bertambah lagi satu masalah yang pelik.”

Sekali lagi dia menarik nafas panjang. Wajahnya jadi kelam seketika. Para hadirin juga tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka merasa banyak bicara pada saat seperti itu hanya menambah pusing pikiran saja.

Cian Tok Kui-ong sebetulnya seorang iblis yang gemar membunuh dan berhati keji. Orang ini pernah menggemparkan dunia Kangouw. Berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dia mempunyai keahlian yang khas. Yakni merias wajah seperti yang dikuasai oleh Tan Ki. Kebesaran namanya hampir berimbang dengan Sam Jiu San Tian-sin Oey Kang.

Apa yang dikatakan oleh Liu Seng memang tidak salah. Seandainya muncul lagi seorang Cian Tok Kui-ong, para sahabat golongan putih di dunia Bulim pasti harus mengeluarkan tenaga sekuatnya untuk menghadapi tiga orang lawan yang tangguh.

Cian bin mo-ong, Sam Jiu San Tian-sin, Cian Tok Kui-ong.

Bencana besar mungkin akan melanda lagi dunia Kangouw. Tetapi, para hadirin sama sekali tidak mengerti. Tan Ki sebetulnya memang tidak mengenal Cian Tok Kui-ong. Dia juga tidak tahu siapa orang itu. Dia hanya tahu bahwa ilmu merias wajahnya diperoleh dari sebuah kitab yang dihadiahkan oleh Bu Beng Lo Jin (Orangtua tanpa nama).

Siapakah Bu Beng Lo Jin?

Tan Ki tidak tahu banyak orangtua itu langsung menghembuskan nafas terakhir setelah menghadiahkan kitab berisi ilmu merias wajah itu kepadanya.

Sementara itu, terdengar Yi Siu mengeluarkan suara batuk yang keras untuk memecah keheningan yang mencekam.

“Ada apa dengan kalian? Hanya karena kemunculan seseorang yang asal-usulnya tidak jelas, kalian jadi kalang kabut tidak karuan. Mari, mari. Kita panggil pelayan agar menyediakan arak yang bagus banyak-banyak. Setelah itu kita minum sampai puas, kalau perlu tujuh hari tujuh malam. Apabila benar ada masalah yang rumit, sampai waktunya pasti ada jalan keluarnya!”

Liu Seng tertawa getir.

“Bicara memang mudah, sekarang saja, para sahabat yang hadir di sini sudah dipusingkan oleh urusan Cian bin mo-ong, memangnya…” dia berhenti sejenak, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi serius. “Memangnya Yi Heng sudah mempunyai rencana yang bagus untuk menghadapi kenyataan di depan mata?” tanyanya kemudian.

Yi Siu mendongakkan kepalanya merenung sejenak, kemudian tampak dia menggelengkan kepalanya perlahan-lahan.

“Rencana yang bagus sih belum ada. Tetapi menurut pandangan Hengte, kita sudah mengerahkan tenaga mengumpulkan para sahabat di dunia Bulim. Setidaknya pihak lawan juga merasa agak gentar menghadapi situasi seperti ini, yang penting…”
Liu Seng mengibaskan tangannya dua kali mencegah Yi Siu meneruskan kata-katanya.

“Aku tahu, aku tahu. Demi mencegah jatuhnya korban lebih banyak di antara para sahabat kita di dunia Kangouw, kecuali akal tadi, aku mohon tanya kepada Yi Heng, apakah jalan keluar yang lebih baik yang mana tidak akan makan banyak korban?”

Kata-kata ini diucapkan dengan kewibawaan yang dalam. Pertanyaannya membuat Yi Siu bungkam dan sampai sekian lama tidak sanggup memberikan jawaban. Memang benar, mereka bisa saja mengumpulkan para tokoh di Bulim untuk menghadapi Cian bin mo-ong maupun Oey Kang. Tetapi tidak diragukan lagi, pasti banyak korban yang akan jatuh.

Untuk sesaat suasana di dalam ruangan menjadi hening. Perasaan hati para hadirin semakin tertekan. Tian Tai Tiau-siu Kok Hua Hong yang dari awal hingga akhir tidak mengucapkan sepatah katapun tiba-tiba angkat suara.

“Ada orang yang datang!”

Baru saja kata-katanya selesai, mendadak terdengar suara langkah kaki, tanpa terasa, para hadirin menolehkan kepalanya seketika. Tampak pakaian berwarna abu-abu bergerak-gerak. Seseorang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun melesat masuk ke dalam kamar.

Para hadirin masih belum melihat jelas siapa orang yang datang, tetapi hidung mereka sudah mengendus harumnya daging panggang. Si gadis cantik jelita memperhatikan dengan seksama, sejenak kemudian terdengar dia berseru dengan suara gembira. “Bagus, Cian Pek Pek sudah datang!”

“Po Siu-cu Cian Cong bisa tiba-tiba muncul, benar-benar di luar dugaan para hadirin. Begitu mata memandang, orang-orang yang hadir di dalam ruangan langsung tertegun. Sampai Liu Seng sendiri juga merasa heran.

Cian Cong sama sekali tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya. Dengan tenang dia melangkah masuk ke dalam ruangan dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
Rupanya mulut orangtua ini sedang menggerogoti sepotong paha ayam. Dia sampai tidak sempat bicara. Cian Cong tampaknya baru saja membeli paha ayam tersebut, dagingnya masih banyak dan harumnya sampai menyebar ke seluruh ruangan.

Tapi caranya memakan paha ayam itu sangat berlainan dengan sebelumnya. Biasanya dia menggerogoti dengan rakus dan kadang-kadang air liurnya sampai menetes keluar. Sedangkan sekarang cara makannya sangat sopan dan seakan menikmati dengan tenang.

Tiba-tiba, Mei Ling maju beberapa langkah dan muncul di hadapannya.

“Cian Pek Pek, kau pernah mengatakan bahwa apabila bertemu lagi nanti, kau akan mengajarkan sejurus ilmu pukulan kepadaku!”

Wajah Cian Cong agak berubah mendengar ucapannya. Kakinya pun segera mundur dua langkah.

“Jangan ribut, aku ada sesuatu yang akan diberikan kepada ayahmu.”
Hati Liu Seng tiba-tiba tergerak. Dia merasa gerak-gerik Cian Cong hari ini bukan saja agak janggal, malah ucapannya juga tidak beraturan, jauh berbeda dengan sikap dan jiwanya yang welas asih.

Setelah mempunyai pemikiran demikian, tanpa dapat ditahan lagi dia melirik Cian Cong berulang kali. Padahal, si pengemis sakti yang juga merupakan ketua Kai Pang (Partai Pengemis) yang ada di hadapan mereka sekarang ini, memang merupakan samaran dari Cian bin mo-ong Tan Ki.

Setelah berhasil meloloskan diri dengan susah payah dari kejaran Yuan Kong Taisu, dia segera mencari kesempatan dan merias wajahnya menjadi si pengemis sakti Cian Cong.
Tujuannya adalah membunuh Liu Seng guna membalas dendam bagi ayahnya.

Justru ketika hati Liu Seng mulai bimbang, tiba-tiba terdengar Mei Ling tertawa terkekeh-kekeh.

“Cian Pek Pek, ke mana perginya hiolomu itu?”

Rupanya Tan Ki merias wajahnya dengan tergesa-gesa, dia melupakan beberapa hal yang kecil-kecil. Meski dalam waktu yang singkat dia berhasil membeli sepotong paha ayam panggang, sepasang sepatu rumput, tetapi dia justru lupa membeli sebuah hiolo untuk mengisi arak. Sebetulnya barang ini justru merupakan sahabat seumur hidup si pengemis sakti dan belum pernah lepas dari sisinya. Setelah diteriaki oleh Mei Ling, ke- palsuannya hampir saja terbongkar.

Untuk sesaat, perasaan curiga di hati Liu Seng makin dalam. Tetapi karena Cian Cong adalah seorang tokoh sakti yang namanya sudah terkenal di empat samudera dan lima pegunungan, kalau sampai terjadi kesalahan, pasti akan timbul perselisihan di antara mereka. Dari kawan malah menjadi lawan. Oleh karena itu, lama sekali dia tidak berani menyatakan apa-apa.

Tampak wajah Cian Cong berubah hebat. Kakinya sampai mundur tiga langkah. Dengan memaksakan sebuah senyuman dia menyahut dengan gugup…

“Hioloku itu tertinggal di atas pohon tadi, aku sampai lupa mengambilnya kembali.”

Lambat laun Liu Seng semakin tertegun. Kata-katanya ini juga tidak tepat. Pada hari biasanya, Cian Cong selalu mengatakan: ‘Barang kesayanganku ini’ selamanya dia tidak pernah menyebut kata ‘hiolo’.

Begitu matanya mengedar, tiba-tiba dia melihat bahwa di pinggang kiri Cian Cong ini juga tidak terselip tongkat bambunya! Padahal tongkat itu merupakan senjata yang dipakai oleh Cian Cong sehari-harinya. Mengapa dia tidak membawanya? Rasanya tidak mungkin kalau tertinggal juga…

Suasana yang hening lambat laun terselip semacam ketegangan. Mimpi pun Tan Ki tidak menyangka kalau riasannya hari ini menunjukkan banyak kelemahan. Bahaya yang mengerikan perlahan-lahan mendekati dirinya!

Tiba-tiba… Liu Seng tertawa terbahak-bahak dan menegakkan badannya.