Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 06

Bagian 06

Malam semakin larut. Di sekitar hening mencekam. Beberapa buah pondok yang terdapat di daerah itu begitu sunyinya bagai areal pekuburan.

Tampak gerakan perempuan itu begitu lincah dan cepat luar biasa. Begitu kakinya mendarat di tanah, tidak terdengar suara sedikitpun. Tapi nyalinya juga sangat besar. Krek! Jendela kamar dibuka, diapun menyelinap ke dalam.

Ketika Lok Ing meninggalkan Tan Ki, sebelumnya dia sudah menotok urat darah tidur dan gagu pemuda itu. Suara deritan jendela yang didorong oleh perempuan itu cukup jelas. Tapi tetap saja Tan Ki tidak sadarkan diri.

Sepasang mata perempuan itu jelalatan ke sana ke mari. Dia memperhatikan isi ruangan tersebut. Dia menyalahkan lampu minyak yang tergantung di dinding. Ruangan kamar yang tadinya gelap gulita itu, lambat laun menjadi agak terang.

Di bawah sorotan lampu yang remang-remang, masih tertampak raut wajah perempuan tersebut. Usianya sekitar dua puluh empat tahunan. Tampangnya cantik jelita. Di antara kedua alisnya terdapat sebuah andeng-andeng berwarna hitam.
Tanda itu seperti melambangkan kegenitan, kegairahan yang bergelora. Ketika dia melihat Tan Ki, kakinya maju lagi dua langkah, kemudian dia duduk di sisi tempat tidur, matanya bersinar terang, dia menatap Tan Ki lekat-lekat. Diperhatikannya mulut, hidung, mata, alis… seluruh raut wajah Tan Ki dengan pandangan yang tidak bosan-bosannya.

Tiba-tiba, terdengar suara tertawanya yang ringan, dia mengulurkan tangannya dan mengusap wajah Tan Ki sebanyak dua kali. Gerakannya santai, seperti tidak ada perasaan jengah ataupun malu sedikitpun. Suara tertawanya yang bebas malah membuat hati orang yang mendengarnya jadi berdebar-debar. Mendadak tangannya menepuk, dia telah membebaskan urat darah Tan Ki yang tertotok.

Lambat laun, dia tersadar dari totokannya. Begitu mata memandang, ternyata di hadapannya adalah seorang perempuan, tentu saja dia merasa hal itu di luar dugaan dan terkejut sekali.

“Siapa kau?” bentaknya.

Perempuan itu tertawa dengan santai.

“Orang yang datang untuk menolongmu.” sahutnya tenang.

“Menolong aku? Kau tidak takut tertangkap basah oleh Lok Locianpwe?” “Mereka sedang tidak ada.”
Tiba-tiba Tan Ki teringat, kentungan ketiga malam ini, Cian Cong dan Ciu Cang Po telah berjanji untuk bertemu di Cui Sian Lau. Mereka akan bertarung sekali lagi. Tentunya kakek dan cucu dari keluarga Lok itu ikut menyaksikan keramaian tersebut. Mulutnya segera mengeluarkan suara, “oh!” satu kali kemudian menundukkan kepalanya merenung.

Kemudian telinganya menangkap lagi suara perempuan itu yang lembut.

“Hengte, kau diringkus oleh Lok Laotao ke tempat ini, mengapa kau tidak berusaha untuk melarikan diri?”

Panggilan Hengte yang keluar dari mulutnya, terdengar demikian mesra. Tampaknya perempuan ini sangat terbuka dan tidak malu-malu. Tetapi dalam pendengaran Tan Ki justru menyeramkan dan membuat wajahnya menjadi merah padam. Hatinya menjadi tidak tenang.

Dia tertegun beberapa saat. “Isi perutku terluka sehingga sulit menggerakkan anggota tubuh dengan leluasa.” sahutnya kemudian.

“Hengte, aku mempunyai akal untuk menyembuhkan luka dalammu, tetapi…” dia sengaja menghentikan kata-katanya di tengah jalan dan membungkam.

“Tetapi apa?” tanya Tan Ki cepat. Perempuan itu tersenyum misterius.
“Aku akan menyembuhkan luka dalammu. Tetapi setelah dirimu sembuh kau harus melakukan sesuatu hal sebagai imbalannya.”

Tan Ki termenung sejenak, kemudian dia menganggukkan kepalanya.

“Baiklah, asal bukan perbuatan membunuh orang atau mencelakakan orang, tetapi urusan yang masuk akal, aku tentu akan melakukannya dengan sekuat kemampuan.”

Baru saja ucapannya selesai, hidungnya mengendus serangkum keharuman yang samar-samar. Perlahan-lahan membuai perasaannya. Ternyata gadis itu sedang menggeser tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Tan Ki.

Pada saat itu, musim panas sudah mencapai pertengahannya. Udara memang agak panas. Perempuan itu mengenakan pakaian tanpa lengah dan agak tipis. Tampak sepasang lengannya yang putih dan indah. Gulungan angin yang membawa keharuman langsung menerpa indera penciuman Tan Ki.

Tan Ki merasa kulit tubuh perempuan itu menempel dengan tubuhnya. Sejuk dan lembut. Sekumpulan perasaan yang sulit diuraikan memenuhi hatinya. Pikirannya seperti bergelora, wajahnya terasa panas dan dia langsung mengerutkan sepasang alisnya dengan pikiran yang tidak tenang.

‘Mengapa urusan yang terjadi beberapa hari ini, selalu ada kaitannya dengan kaum perempuan dan selalu yang bukan-bukan saja?’ pikirnya dalam hati.

Tiba-tiba terlihat perempuan itu tersenyum lembut. Tangannya bergerak dan secara berturut-turut dia menepuk tiga puluh enam urat nadi Tan Ki. Gerakannya ini tentu saja mengandung maksud tertentu. Ketika dia selesai menepuk ketiga puluh enam urat nadi di tubuh Tan Ki, wajahnya langsung menjadi merah padam dan keringatnya yang harum mengalir dengan deras.

Dia mengeluarkan tiga butir pil dari balik sakunya yang kemudian disuapkan ke mulut Tan Ki. Setelah itu dia mengatur nafasnya sejenak dan tersenyum.

“Hengte, kau boleh menarik nafas beberapa kali. Coba lihat apakah masih merasakan sesuatu di dalam tubuhmu?” katanya.

Tan Ki menuruti kata-katanya dan menarik nafas beberapa kali. Dia merasa hawa murninya beredar dengan lancar, begitu pula aliran darah dalam tubuhnya. Ternyata luka dalamnya sudah sembuh secara tuntas. Hatinya gembira sekali. Dia cepat-cepat turun dari tempat tidur dan menjura dalam-dalam kepada perempuan tersebut.

“Terima kasih atas budi pertolongan Toa-ci, Siaute tidak tahu bagaimana harus mem- balasnya.”

Perempuan itu mengangkat lengan bajunya untuk menutupi mulutnya. Dia tertawa terkekeh-kekeh.
“Jangan gembira dulu, meskipun pengobatanku ini sangat manjur, tetapi bukan berasal dari aliran yang lurus. Dalam dua belas kentungan kau tidak boleh sembarangan menggerakkan hawa murni dalam tubuhmu ataupun bergebrak dengan orang. Kalau tidak, luka lama akan kambuh kembali bahkan lebih parah dari yang pertama. Kalau sampai hal
ini terjadi, walaupun si tabib sakti Huo To hidup kembali, dia juga tidak dapat memberikan pertolongan apa-apa.”

Tan Ki tertegun mendengar ucapannya. “Benar?”
Perempuan itu tersenyum simpul.

“Buat apa aku membohongimu?” matanya menyiratkan cahaya yang penuh gairah. “Udara panas sekali.” katanya kemudian.

Terdengar suara, Bret! Tahu-tahu dia telah membuka kancing bajunya. Sesaat kemudian terlihatlah kutangnya yang berwarna merah menyolok mata. Rupanya dia benar-benar membuka pakaiannya yang sebelah atas. Wajahnya menghadap cahaya lampu, terang berkilauan. Membuat gairah dalam hati jadi terbangkit.

Hati Tan Ki berdebar-debar melihatnya, wajahnya yang tampan jadi merah padam. Sejak dilahirkan, dia belum pernah melihat tubuh seorang perempuan. Bahkan kali ini, mungkin merupakan pemandangan yang baru baginya.

Serangkum bau yang harum terendus lewat hembusan angin. Dengan berani perempuan itu mengulurkan tangannya dan memeluk leher Tan Ki. Kulit tubuh saling bersentuhan, pelukan yang lembut dan menyegarkan. Perasaan di hatipun terasa aneh. Tan Ki jadi terbuai.

Pandangan yang tertangkap oleh matanya hanya semacam kehangatan dan selembar wajah yang cantik. Dia merasa hampir tidak dapat mempertahankan diri lagi. Segulung arus birahi seperti mengalir ke atas otaknya.

Nafasnya mulai memburu, matanya mulai memancarkan sinar yang membara! Telinganya kembali menangkap suara tawa perempuan itu yang genit. Bagai irama pembetot sukma. Tiba-tiba dengan gerakan yang mendadak dia memeluk pinggang perempuan tersebut, matanya yang membara menatap wajah perempuan itu lekat-lekat. Tepat pada saat itu, dia merasa perempuan itu demikian menawan hati dan mempunyai keistimewaan yang tidak dapat diuraikan dengan katakata.

Dia merasa setiap tetes keringat yang membasahi wajah perempuan itu bagaikan puluhan bunga yang bermekaran. Hal mana membuat orang yang melihatnya jadi jatuh hati. Dia jadi termangu-mangu seketika.

Lama-lama sekali, tidak ada sepatah ucapanpun yang keluar dari bibir mereka. Kamar itu menjadi senggang, tiada suara yang terdengar, udara bagai diselimuti semacam kegairahan yang tidak terkendalikan!

Tan Ki sudah terbuai oleh pemandangan indah di depan matanya. Pikirannya mulai kacau. Dia hampir tidak dapat mengendalikan gelombang ombak yang menghempas- hempas perasaannya.

Tiba-tiba dia mengencangkan pelukannya. Seluruh tubuh perempuan itu yang lembut dan mungil otomatis terjerembab dalam pelukannya. Gulungan hawa yang harum terus menerpa hidungnya. Dia merasa aliran darahnya berdesir. Jantungnya memacu lebih
cepat. Ini merupakan suasana yang panas serta merangsang, seorang pemuda yang masih hijau dan seorang gadis yang kesepian saling berpelukan dengan erat di dalam kamar. Jurang dosa tengah mengincar keduanya agar jatuh ke dalam perangkap!

Bibir Tan Ki bergerak-gerak seakan sedang bergumam seorang diri… “Siapa kau sebetulnya? Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini?” nada suaranya tidak mengandung kebencian, malah kegembiraan. Perempuan itu tertawa merdu. “Cici adalah Siau Yau Sian-li (Dewi pecinta kebebasan) Liang Fu Yong…”

Mendengar keterangannya, Tan Ki terkejut sekali. Pikirannya yang melayang-layang agak tersentak.

“Benar?” serunya dengan hati tergetar. “Benar, Cici tidak ingin membohongimu!” Mendengar nada suaranya yang tegas, dengan panik Tan Ki mendorong tubuh perempuan itu. Gairah panas yang memenuhi hatinya langsung surut separuh. Keterangan yang di luar dugaannya malah membuat dia sedemikian terkejut sehingga untuk sesaat dia terdiam tanpa sanggup mengeluarkan sepatah katapun.
Setelah tertegun beberapa saat, dia membentak dengan nada marah… “Perempuan jalang, lihat pukulan!” baru saja ucapannya selesai, tinjunya sudah
melayang ke depan. Tiba-tiba dia merasa serangkum rasa nyeri menyerang dadanya. Tulang belulang tubuhnya bagai patah berserakan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Dengan panik dia menarik kembali pukulannya kemudian memejamkan mata mengatur pernafasan.

Meskipun kejadiannya berlangsung dengan cepat, namun dia sudah kesakitan sampai meneteskan keringat dingin. Tampaknya dewi pecinta kebebasan Liang Fu Yong sudah biasa melihat perubahan seperti ini. Dia tidak tampak terkejut malah mencibirkan bibirnya dan tersenyum mengejek.

“Sejak semula aku sudah mengatakan bahwa kau tidak boleh menggerakkan hawa murni dalam tubuhmu atau bergebrak dengan orang. Kau malah seperti sengaja mencari kesusahan untuk dirimu sendiri.”

Dia segera menghampiri Tan Ki. Tangannya terulur dan mengusap keringat yang membasahi dahinya. Kemudian dengan gerakan yang lembut dia meraba dada Tan Ki seakan ingin membantu anak muda itu meringankan penderitaannya.

Tan Ki memandangnya dengan mata menyiratkan hawa amarah.

“Minggir, kau…” dadanya kembali terasa sakit sekali. Dengan panik dia menghentikan kata-katanya. Matanya dipejamkan kembali untuk mengatur pernafasan.

Liang Fu Yong tersenyum simpul. “Ada apa dengan Cici?”

“Kau lebih rendah dari pelacur-pelacur yang menemani tamu di rumah mesum!” maki Tan Ki.

Dia sadar apa yang dikatakan perempuan itu memang benar. Apabila dia menggerakkan hawa murninya, kemungkinan lukanya akan bertambah parah. Tetapi dia tetap mengucapkan kata-kata itu dengan nada penuh emosi.

Wajah Liang Fu Yong berubah hebat. “Kau menganggap apa yang dilakukan Cici tidak benar bukan?” tanyanya tetap dengan suara lembut.
Tan Ki mendengus satu kali. Mulutnya mengeluarkan suara tertawa yang dingin. “Orang-orang mengatakan bahwa kau Sia Yau Sian-li tidak tahu malu dan seorang pe-
rempuan rendah. Ungkapan ini ternyata tidak salah. Aku sudah berkeliaran di seluruh Kangouw, di mana-mana hanya ada laki-laki yang menjadi Jai Hwa Cat. Tapi seumur hidup belum pernah mendengar ada perempuan yang melakukan hal yang hina ini…” dia merasa kata-kata selanjutnya yang hendak diucapkan terlalu kasar, maka dari itu, dia segera membungkam dan tidak melanjutkan kembali.

Liang Fu Yong tersenyum simpul.

“Apapun yang dikatakan oleh orang lain, biarkan saja. Asal Cici tidak mendengarnya sendiri.” sahutnya santai.

“Apakah kau benar-benar tidak tahu malu?”

“Tidak tahu malu? Kalau aku memperdulikan cemoohan itu, tentu aku tidak akan mendapat julukan perempuan rendah, dan digelari dewi pecinta kebebasan yang setiap hari bebas bercinta dengan laki-laki manapun.”

Mendengar ucapannya, hati Tan Ki jadi kesal sekaligus marah. Untuk sesaat dia jadi termangu-mangu tanpa tahu apa yang harus dicacinya lagi. Akhirnya dia memejamkan sepasang matanya dengan gaya acuh tak acuh.

Telinganya mendengar lagi nada suara perempuan itu yang seperti irama pembetot sukma itu.
“Baik-baiklah kau rebah di atas tempat tidur. Cici tidak akan membuatmu kecewa.” lengannya yang lembut meraba-raba kemudian menggendong Tan Ki dan membopongnya ke atas tempat tidur.

Kali ini perasaan Tan Ki menjadi bimbang. Ingin rasanya dia menghentakkan tangan perempuan itu atau memberontak, tetapi mengingat luka yang dideritanya, dia tidak berani bergerak sembarangan untuk menjajal. Tapi kalau dia mendiamkan saja, peristiwa selanjutnya yang bakal terjadi sudah dapat dibayangkan!

Begitu pikirannya tergerak, beberapa saat lamanya dia tidak dapat mengambil keputu- san. Sementara itu, saking malunya, selembar wajah Tan Ki yang tampan sudah berubah merah padam. Persis seperti orang yang baru menenggak beberapa cawan arak yang keras sekaligus.

Tiba-tiba dia merasa punggungnya menyentuh sesuatu yang lembut. Rupanya dia sudah dibaringkan di atas tempat tidur. Di bawah sorotan lampu yang remang-remang. Tan Ki melihat sebuah bayangan yang sedang melepaskan pakaian bahkan celana panjangnya.

Hati Tan Ki tercekat tidak kepalang.

‘Celaka!’ serunya dalam hati.

Cepat-cepat dia memejamkan matanya kembali dan tidak berani melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Hatinya bagai tertekan sesuatu benda yang berat sehingga nafasnya tersendat-sendat.

Perasaan hatinya saat ini lebih kacau dari sebelumnya. Pikirannya semakin kalut dan mulai lupa akan dirinya sendiri. Dia bagai seekor domba yang terkejut juga takut serta tak sanggup memberikan perlawanan!

Perasaan terkejutnya belum sirna, dia merasa sesosok tubuh yang lembut telah menindihnya dari atas. Nafasnya jadi memburu, hatinya semakin tegang. Matanya yang dipejamkan erat-erat semakin tidak berani dibuka.

Dia merasakan serangkum bau harum yang lain terpancar dari tubuh Liang Fu Yong. Malah lebih mempesona dari hawa harum yang terpancar dari rambut maupun mulutnya. Hatinya benci tidak kepalang kepada perempuan yang rendah ini. Namun pada saat demikian, mau tidak mau gairah kelaki-lakiannya tergerak juga.

Seumur hidupnya, baru kali ini dia bersentuhan dengan tubuh seorang perempuan.
Apalagi dalam keadaan yang demikian merangsang dan mendebarkan hati. Perasaannya mulai tidak dapat dikendalikan!
Terdengar nada suara Liang Fu Yong yang diiringi nafasnya yang tersengal-sengal. “Siaute, kau tidak boleh membuat aku kecewa dan membiarkan aku terhempas-hempas
seperti ini…” suaranya lirih sekali namun mengandung pengaruh yang kuat.

Diam-diam Tan Ki menarik nafas panjang. ‘Habislah aku kali ini.’ keluhnya dalam hati.
Segulung angin yang dingin menerpa masuk lewat jendela. Tanpa terasa hatinya menggidik. Begitu mata memandang, entah sejak kapan Liang Fu Yong sudah melepas jubah luarnya. Rasa terkejutnya jangan dikatakan lagi. Dalam benaknya tiba-tiba terlintas bayangan dua orang gadis.

Juga entah dari mana dia mendapat keberanian, mulutnya mendadak meraung keras dan kesadarannya segera tergugah. Dia menggelindingkan tubuhnya sehingga terjatuh dari atas tempat tidur. Liang Fu Yong terkejut sekali melihat hal yang diluar dugaannya.

“Siaute, apa yang terjadi dengan dirimu?” Tan Ki mendelikkan matanya dengan marah.
“Benar-benar perempuan yang tidak tahu malu. Siapa yang sudi menjadi adikmu?” cepat-cepat dia mengaitkan kancing jubahnya kemudian melangkah keluar dari kamar tersebut.
Gerakannya yang spontan ini membuat Liang Fu Yong menatapnya dengan tertegun. Tiba-tiba tubuhnya melesat dan menghadang di depan pintu. Gerakan tubuhnya demikian cepat sehingga benar-benar mengejutkan.

Hati Tan Ki tercekat. Dengan sendirinya dia mundur dua langkah. “Apa yang kau inginkan?” bentaknya kesal.
“Kau lupa syarat yang kuajukan ketika akan menyembuhkan lukamu?” Tan Ki terkejut sekali.
“Syarat apa, cepat katakan!”

“Aku ingin kau menemaniku malam ini.’ sahut Liang Fu Yong.

Sekali lagi Tan Ki tertegun. Setelah lewat beberapa saat, tampaknya dia baru dapat mencernakan arti ucapan perempuan tersebut. Hawa amarah dalam dadanya jadi meluap seketika.

“Apa-apaan? Kau memiliki kepandaian, si-lahkan paksa aku melakukannya. Tetapi kalau kau berharap aku akan melayanimu dengan suka rela, kau hanya mimpi di siang bolong!
Biarpun luka dalamku ini akan bertambah parah, aku juga akan mencoba beberapa jurus ilmu silatmu itu!”

Baru saja ucapannya selesai, kakinya tiba-tiba maju dan menerjang ke depan.
Serangkum gelombang angin yang dahsyat menerpa ke depan. Dalam waktu yang sekejap mata, dia sudah melancarkan lima enam jurus serangan.

Melihat serangannya yang hebat dan keji, Liang Fu Yong tidak berani menyambut dengan kekerasan. Dia menggeser tubuhnya ke samping, bayangan tubuh Tan Ki yang tinggi dan panjang menerobos dari sisinya. Dalam beberapa kali loncatan saja dia sudah mencapai jarak beberapa puluh depa. Wajah Liang Fu Yong menjadi datar seketika. Di wajahnya tersirat juga hawa pembunuhan yang tebal.

“Jangan lari!” bentaknya.

Dengan tergesa-gesa dia mengejar. Tiba-tiba dia teringat bahwa tubuhnya belum me- ngenakan pakaian. Meskipun saat itu baru memasuki kentungan kedua, malam larut dan jarang ada penduduk yang berlalu lalang, tetapi dia juga tidak enak telanjang bulat seperti itu mengejar seorang laki-laki.

Cepat-cepat dia kembali lagi ke kamar dan mengenakan pakaian. Ketika keluar lagi, Tan Ki sudah berada dalam jarak kurang lebih empat lima li jauhnya. Anak muda itu seperti mempertahankan diri dalam keadaan terluka dan tetap ingin terlepas dari cengkeraman Liang Fu Yong. Caranya berlari benar-benar seperti orang yang melihat setan.

Liang Fu Yong memperdengarkan dengusan dari hidung dan mempercepat langkahnya mengejar. Tidak berapa lama kemudian, dia sudah melihat bayangan punggung Tan Ki.
Rupanya, anak muda tersebut tidak mengenal seluk-beluk jalanan di daerah tempat itu. Dia hanya terus berlari sekuat tenaga tanpa arah yang tepat. Dia sendiri tidak tahu dirinya sudah sampai di mana.

Sedangkan Liang Fu Yong hapal sekali jalanan di daerah itu. Lagi pula saat ini ilmu ginkangnya jauh lebih tinggi daripada Tan Ki. Oleh karena itu dalam waktu yang tidak berapa lama dia sudah berhasil menyusul anak muda tersebut.

Ketika Tan Ki melihat Liang Fu Yong, dia terkejut setengah mati. Dia tahu tempat itu hanya berjarak setengah li dari Lok Yang. Asal dia dapat masuk ke dalam kota dan menemukan Cian Cong maupun Lok Hong, tentu dia tidak perlu takut lagi terhadap perempuan ini.

Begitu pikirannya tergerak, dia memacu langkahnya lebih cepat dan terus berlari ke depan. Tetapi lambat laun dia merasakan dadanya mulai nyeri kembali. Keringat dingin mulai menetes di keningnya. Dia tahu apabila dia berlari terus, luka dalamnya pasti akan kambuh kembali. Namun wataknya keras kepala membuat Tan Ki tidak menghentikan larinya.

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat, tahu-tahu tubuh Liang Fu Yong melesat maju beberapa langkah kemudian menghadang di depannya. Perubahan yang mendadak ini terjadinya begitu cepat. Saat itu Tan Ki sedang berlari seperti orang kalap. Tiba-tiba dia melihat Liang Fu Yong menghadang di depan. Dengan panik dia menghentikan langkah kakinya, namun dia tetap tidak dapat mengimbangi gerakan kakinya dengan baik. Setelah menjerit satu kali, tubuhnya terjatuh ke dalam pelukan lawan.

Dengan lembut Liang Fu Yong memeluknya. Tampangnya aneh sekali, entah apa yang sedang dipikirkannya dalam hati. Tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang.

“Adik yang tampan, mengapa kau begitu keras kepala dan sengaja mencari kesulitan untuk dirimu sendiri?”

Tan Ki segera memberontak dan melepas diri dari pelukannya. Mulutnya memperdengarkan suara tertawa yang dingin.

“Siapa yang meminta belas kasihan da…” tiba-tiba dadanya terasa sakit, kata-kata selanjutnya tidak sanggup diucapkan lagi.

Sepasang mata Liang Fu Yong yang berbinar-binar menatap Tan Ki dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Dia seperti ingin menemukan sesuatu yang entah apa pada wajah anak muda tersebut. Beberapa saat berlalu lagi…

“Meskipun Cici sudah bertemu dengan ratusan atau ribuan laki-laki, tetapi belum ada satu pun yang seperti dirimu ini.” katanya dengan nada perlahan.

“Seperti apa?”

“Menyenangkan namun keras kepala.”

Tan Ki mendengus dingin. Dia memalingkan kepalanya ke arah lain. Mulutnya malah memaki lagi.

“Perempuan rendah yang tidak tahu malu!”
Liang Fu Yong tersenyum simpul. Dia sama sekali tidak ambil hati terhadap makian Tan Ki. Justru dia maju ke depan dan mengeluarkan sehelai sapu tangan yang kemudian digunakan untuk menghapus keringat yang membasahi keningnya. Gerak-geriknya mesra dan lembut serta penuh perhatian.
Tiba-tiba hati Tan Ki jadi tergerak. Di benaknya melintas sebuah pemikiran yang aneh… ‘Apakah sikap perempuan ini benar-benar demikian rendah dan memuakkan? Apabila
menasehatinya baik-baik, apakah dia dapat berganti haluan menjadi orang yang benar?’

Dengan membawa pikiran seperti itu, tanpa sadar dia jadi termenung. “Apa yang kau pikirkan?” tanya Liang Fu Yong.
“Memikirkan engkau.”

Liang Fu Yong terpana mendengar jawabannya. Kemudian terlihat dia mengembangkan seulas senyuman yang kenes.

“Tampaknya suasana hatimu berubah dengan cepat juga. Apakah kau sedang memikirkan bahwa sebetulnya aku cukup cantik?”

Wajah Tan Ki tampak serius.

“Jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku ingin bertanya kepadamu, setiap kau memaksakan kehendakmu pada seorang laki-laki, apakah kau pernah memikirkan suatu hal?”

“Tentang apa?” “Cinta!”
Mendengar kata-katanya, mula-mula Liang Fu Yong tertegun. Kemudian dia malah tertawa terkekeh-kekeh.

“Berapa sih nilai benda tidak berwujud itu? Kaisar sekarang boleh mempunyai tiga isteri dan enam selir, dan malah dianggap sebagai sesuatu hal yang wajar. Tetapi, kalau perempuan, biarpun suaminya mempunyai simpanan di luar, sang isteri tetap tidak boleh menyeleweng. Ini… ini benar-benar tidak adil, apakah karena terlahir sebagai seorang perempuan, kami-kami ini tidak ada harga-nya sama sekali?”

“Jadi, karena pikiran demikian, kau anggap tidak ada cinta dalam kamus seorang perempuan?” tanya Tan Ki dengan penampilan yang tenang.

“Tidak salah, aku justru mempunyai pikiran seperti itu. Makanya aku merubah pandangan hidupku dan berbuat sesuka hati.”

“Tapi, coba pikir, apa yang kau dapatkan? Kehampaan diri, kerinduan akan cinta, semuanya tetap tidak terselesaikan.”

Pertanyaan ini, membuat Liang Fu Yong menjadi termangu-mangu. Mulutnya membungkam tanpa tahu apa yang harus dikatakannya.

Betul! Apa yang didapatkannya? Tidak ada.

Apa yang diperoleh hanya kesenangan yang diperoleh dengan cara memaksa. Setelah semuanya berlalu, hatinya tetap terasa hampa bagai sebuah perahu kecil di tengah samudera yang terhempas-hempas ombak tanpa tujuan yang pasti. Juga bagai sekuntum bunga yang layu dan tidak mendapat perhatian dari siapapun…

Siapa yang dapat menambal kekosongan dalam hatinya? Tidak ada.

Dia ingat ketika melakukan perjalanan, pada suatu hari dia terserang penyakit yang parah. Pada saat itu, siapa yang datang menjenguknya? Siapa yang mengasihani dirinya? Siapa yang menghiburnya? Tidak ada, tidak ada yang diperolehnya…

Berpikir sampai di sini, segulung kesedihan menyelinap di dalam hatinya. Air matanya berderai dengan deras. Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Tan Ki melihat hati perempuan ini mulai tergerak oleh kata-katanya. Diam-diam dia merasa gembira. Sengaja dia mengujinya kembali.

“Apakah kata-kata yang kuucapkan tidak benar?”

Liang Fu Yong merasa rendah diri dan iba terhadap dirinya sendiri.

“Tidak, lanjutkanlah kata-katamu. Meskipun salah, aku tetap tidak akan menyalahkan engkau.” sahutnya lirih.

Tan Ki tersenyum lembut.

“Baiklah. Kalau begitu kau ikut denganku!” “Untuk apa?”
“Aku akan memperlihatkan keajaiban kepadamu, yakni mencari cinta yang sejati. Dengan demikian kau tidak akan menyimpan perasaan kecewamu dan pandanganmu terhadap hidup ini akan berubah. Kalau tidak kau akan semakin terjerumus dalam lembah kenistaan yang kau sendiri tidak sadari selama ini.”

Liang Fu Yong merenung sejenak. Dengan perasaan curiga dia bertanya…

“Benarkah cinta mempunyai kekuatan yang demikian besar? Sehingga dapat membuat aku berganti haluan dan menjadi orang baik-baik?”

“Kalau tidak percaya, mengapa tidak mencobanya saja? Tetapi, gerak-gerikmu sejak sekarang harus mengikuti perkataanku. Kalau tidak, malam-malam kau akan menyelinap keluar dan mengulangi lagi perbuatan terkutuk itu. Apabila demikian halnya, biarpun dewa turun dari langit juga tidak dapat menyembuhkan penyakit kejiwaanmu itu.”

Sepasang alis Liang Fu Yong mengerut ketat. Dia merenung beberapa saat kemudian menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, Cici akan mendengar perkataanmu. Tetapi kau harus memberi sebuah batas waktu. Kalau tidak, apabila seumur hidup aku tidak mendapatkan jawaban, bukankah Cici harus mendengar perintahmu seumur hidup?”

Tan Ki tidak menduga dia akan mengeluarkan permintaan seperti itu. Diam-diam dia berpikir beberapa saat.

“Bagaimana kalau tiga bulan?” “Ucapan seorang laki-laki sejati…”
“Seperti kuda yang berlari cepat.” sahut Tan Ki segera.

Kedua orang itu mengangkat telapak tangan kanannya dan saling menepuk satu kali. Semacam isyarat terkukuhnya sebuah perjanjian. Hal ini biasa dilakukan oleh para tokoh Bulim.