Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 05

Bagian 05 
“Hayo jawab, hayo jawab! Nenek pengemis, si pengemis tua sedang menunggu kau membuka mulut emasmu!”

Cian Cong memalingkan wajahnya sambil mendelik lebar-lebar. “Urusan si pengemis tua kalian jangan ikut campur!” bentaknya.

Sekali lagi Ciu Cang Po tertawa dingin.

“Kentungan ketiga malam ini, aku akan menantikanmu di sebelah Barat kota, tepatnya di rumah makan Cui Sian Lau!”

Mata nenek itu segera beralih pada diri Tan Ki.

“Terlalu enak membiarkan kau hidup sehari lagi!” gumamnya sambil melotot. Tubuh- nya berkelebat dan dalam sekedipan mata dia sudah menghilang dengan menerobos jendela kamar.

Kegesitan dan kecepatan gerakannya membuat para hadirin meleletkan lidah saking kagumnya. Terdengar Cian Cong bersin satu kali. Dia mengelus-elus perutnya dan bergumam seorang diri,

“Kalau tidak berkelahi, cacing arak si pengemis tua ini mulai bertingkah lagi.”

Tentu saja Liu Seng mengerti bahwa ucapan itu ditujukan kepadanya. Dia segera menjura dalam-dalam.

“Sekarang juga Boanpwe akan menyuruh para pelayan menyiapkan.” dia langsung membalikkan tubuh dengan maksud menepati ucapannya. Tiba-tiba terdengar Cian Cong berkata…

“Bagus sekali, si pengemis tua kalau sudah datang malasnya, rasanya sudah tidak kepingin bergerak sedikitpun. Suruh saja pelayanmu mengantarkan makanan dan arak ke mari.”

Liu Seng langsung tertegun mendengar ucapannya. Tingkahnya jadi serba salah. “Ini… ini kamar peristirahatan putri…” Cian Gong langsung mendelik lebar-lebar.

Dengan tampang tidak senang dia berkata…

“Apa sih kamar peristirahatan atau kamar tidur, kalau si pengemis tua hatinya senang, mungkin bocah perempuan ini akan diterima sebagai murid.” tanpa memperdulikan yang lainnya, dia langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur Mei Ling.

Tempat tidur itu indah dan kasurnya lembut dengan kelambu yang terbuat dari kain sulaman yang mahal. Tanpa memperdulikan pakaiannya yang kotor dan koyak, seenak perutnya dia rebah dan memejamkan mata, kenikmatan. Liu Seng menundukkan kepalanya sambil merenung tanpa mengucapkan sepatah katapun. Perlahan-lahan Cu Mei menjawil ujung lengannya sembari memberi isyarat dengan kedipan mata. Akhirnya ketiga orang itu keluar dari kamar tersebut.
Cian Cong melepaskan kendi arak dari selipan ikat pinggangnya. Mula-mula dia me- neguk arak sebanyak dua tegukan dan kemudian ditutupnya kembali, lalu diletakkan di belakang kepala sebagai bantal.

“Bocah perempuan, ke mari dan tonjokkan paha si pengemis tua yang terasa pegal ini!” teriaknya.

Mendengar permintaannya, Mei Ling segera menghampiri. Dia duduk di tepi tempat tidur dan memukul paha Cian Cong dengan kepalan tangannya yang mungil secara ber- gantian.

“Bocah busuk, apakah lenganmu tidak patah terkena pukulan si nenek pengemis tadi?” teriak Cian Cong dengan nada menggerutu.

Tan Ki mengiakan dengan suara lirih. Dengan tergesa-gesa dia menghampiri. Tapi ka- rena Mei Ling menghalangi jalannya, dia terpaksa melepaskan sepatu dan naik ke atas tempat tidur.

Dia mengendus serangkum bau harum yang samar-samar. Keletihannya sepanjang malam bagai sirna dan pikirannya jadi ikut tergetar. Sudah tentu bau harum itu terpancar dari tubuh Mei Ling.

Cian Cong memperhatikan dirinya dari atas kepala sampai ke bawah kaki. Tiba-tiba sepasang alisnya menjungkit ke atas.

“Bocah cilik, usiamu masih begitu muda, mengapa memakai jubah semacam itu? Mana lebar mana kedodoran, seperti yang biasa dikenakan oleh orangtua. Ketika pertama kali melihat dirimu, si pengemis rasanya tidak asing, tetapi sekarang malah lupa siapa yang memakai jubah seperti ini.”

Hati Tan Ki tercekat.

‘Orangtua ini tampaknya ugal-ugalan, tetapi sikapnya teliti seekali. Sekali lihat saja dia sudah tahu bahwa pakaian ini bukan milikku. Untung saja dia masih belum menyadari bahwa aku yang menyamar sebagai Tian Tai Tiau-siu. Saat itu aku juga mengenakan pakaian yang sama.’ pikirnya dalam hati.

Hatinya tergerak, mulutnya malah tidak berani menyahut sepatah katapun. Dia tidak ingin Cian Cong sampai memperpanjang masalah itu yang akhirnya rahasia samarannya mungkin akan terbongkar.

Terdengar Cian Cong menghembuskan nafas panjang.

“Si pengemis tua sudah bertahun-tahun tidak pernah merasakan kesenangan seperti ini. Ah… rasanya nyaman sekali…” tiba-tiba sepasang alisnya mengerut kembali. Dia seperti teringat akan sesuatu hal. Cepat-cepat dia melanjutkan kata-katanya. “Tadi malam ketika kau menyelinap pergi, apakah kau bertemu dengan seorang gadis berpakaian hitam yang dipunggungnya terselip sebatang pedang panjang? Kalau si pengemis tua tidak salah menerka, kau pasti kena caci makinya.”
Tan Ki tidak menyangka bahwa Cian Cong yang sedang bertarung dengan sengit tadi malam masih sempat melihat dengan jelas apa yang terjadi di sekitarnya. Hatinya terkejut sekali.

“Apa? Locianpwe telah menyaksikan semuanya?” Cian Cong tertawa lebar.
“Kalau si pengemis tua sudah menyaksikan terlebih dahulu baru berbicara, namanya bukan kepandaian lagi.”

Tan Ki menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Ketemu sih memang benar, tetapi tidak terkena caci makinya.”

“Gadis berpakaian hitam itu, di daerah Utara, Barat dunia Kangouw paling terkenal sebagai manusia yang tidak kenal aturan. Siapapun yang bertemu dengannya berarti di timpa kesialan, kalau hanya memaki beberapa patah kata saja masih tidak aneh.”

“Kalau mendengar ucapan Locianpwe, tampaknya kena caci maki gadis itu beberapa patah kata adalah hal yang lumrah. Kalau Boanpwe tidak melihat dia seorang gadis, ingin rasanya memberi pelajaran sedikit biar jera.”

“Gadis itu paling susah dihadapi, lebih baik kau jangan mencari gara-gara dengannya.” kata Cian Cong.

“Apakah Locianpwe mengenalnya?”

Cian Cong mengambil hiolo araknya kembali dan meneguk setegukan besar. Bibirnya tersenyum.

“Si pengemis tua tidak takut langit dan bumi, tapi terhadap bocah perempuan ini justru kepala selalu pusing. Aku saja tidak berani mencari perkara dengannya, kau terlebih-lebih tidak boleh. Kalau tidak, pasti akan ketemu batunya…”

Sikap Tan Ki pada dasarnya keras kepala dan angkuh. Mendengar nada bicaranya yang begitu hebat menggembar-gemborkan kegalakan si gadis berpakaian hitam, semangatnya malah terbangkit dan semakin penasaran.

“Kalau begitu, apabila kelak bertemu dengannya lagi, Boanpwe justru ingin meminta pelajaran darinya.”

Cian Cong tertawa terbahak-bahak.

“Emosi si bocah busuk ini cepat juga terbangkitnya… oh ya, kita sudah bicara panjang lebar, si pengemis tua masih belum tahu siapa namamu dan nama gurumu yang mulia?”

“Boanpwe She Tan dengan nama tunggal Ki. Sedangkan nama Suhu… nama Suhu…” Tan Ki menjadi gagap gugup menjawab pertanyaannya.

Ilmu silat Tan Ki secara keseluruhan didapatkan dari hasil curian di kuburan para ketua Ti Ciang Pang. Mana mungkin dia mempunyai guru atau nama perguruan yang dapat
disebutkannya? Kalau dia di suruh asal sebut sebuah nama saja, tentunya kebohongannya pasti bisa terbongkar seketika.

Cian Cong hanya mengucapkan sepatah ‘Oh…’ dan tidak mendesaknya lebih lanjut. Kemudian tampak orangtua itu menundukkan kepalanya seakan ada suatu pikiran rumit yang melintas di benaknya.
Mimik wajahnya itu malah membuat perasaan Tan Ki semakin tidak tenang. ‘Beberapa malam yang lalu aku menyamar sebagai Tian Tai Tiau-siu, pakaian inilah
yang kukenakan malam itu. Apakah dia tiba-tiba teringat siapa yang mengenakan pakaian ini?’ tanyanya dalam hati.

Pikirannya melayang-layang. Semakin direnungkan rasanya semakin benar. Tanpa terasa tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Sebelum dirinya terluka saja, dia sudah bukan tandingan Cian Cong. Saat ini apabila terjadi perkelahian tentu dia tidak bisa melepaskan diri lagi dari maut.

Tiba-tiba terdengar lagi suara langkah kaki yang riuh. Tiga orang pelayan masuk ke dalam kamar dengan membawa berbagai hidangan. Liu Seng dan Ciong San Suang Siu mengiringi dari belakang.
Tan Ki memperhatikan situasiyang dihadapinya. Diam-diam hatinya berpikir lagi. “Kalau si pengemis tua itu sudah mengetahui atau curiga dengan identitas diriku, atau
terus mendesak aku dengan berbagai pertanyaan, kemungkinan lama-lama rahasiaku akan
ketahuan juga. Waktu itu apabila aku berniat meloloskan diri, tentu tidak sempat lagi.”

Karena mempunyai pikiran seperti itu, cepat-cepat dia berdiri dan menjura dalam-da- lam, “Boanpwe mohon diri.”

Cian Cong segera meletakkan cawan arak di tangannya dan mendongakkan wajahnya. “Kau hendak ke mana?”
Wajah Tan Ki merah padam. Hatinya tetap merasa tidak tenang, tetapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya.

“Di sebelah Barat kota ada seorang teman yang sedang menunggu aku. Boanpwe sudah sepanjang malam tidak kembali, tentunya teman itu akan tidak tenang memikirkan aku…”

Cian Cong tertawa lebar. “Rasanya yang tidak tenang bukan temanmu itu.”

Hati Tan Ki berdebar-debar. Dia semakin yakin Cian Cong sudah mengetahui identitas dirinya. Dia mana tahu kalau Cian Cong yang mempunyai mata awas melihat Kiau Hun pergi dan tidak kembali lagi. Kemudian dia juga melihat Mei Ling yang mengikuti di belakangnya, kembali dengan wajah, bermuram durja. Orangtua yang berpengalaman luas itu segera dapat menduga bahwa terjadi sesuatu diantara ketiga orang itu bukan karena dia telah berhasil mengungkap identitas diri Tan Ki.
Sementara itu, tampak Tan Ki membalikkan tubuh dan bergegas meninggalkan kamar itu. Liu Seng serta rekan-rekannya mengira dia saling kenal dengan Cian Cong, maka dari itu mereka tidak menghalangi kepergiannya, malah memberi jalan dengan bergeser agar dia dapat melewati pintu kamar.

Tiba-tiba tubuh Tan Ki yang menghambur keluar dengan tergesa-gesa tadi, mendadak surut kembali seakan melihat sesuatu yang di luar dugaannya. Orang-orang yang ada di dalam kamar itu jadi tertegun.

Begitu mata memandang, di ambang pintu, entah sejak kapan telah berjalan masuk seorang gadis berpakaian hitam. Dengan mimik wajah yang datar dan dingin, dia meng- hampiri Cian Cong. Bibirnya langsung tersenyum mengejek.

“Hm, sebagai seorang tokoh angkatan tua dunia Bulim, ternyata bisa mengeluarkan ocehan yang bukan-bukan dengan menceritakan keburukan diriku. Benar-benar orangtua yang tidak waras!” makinya.

Mendengar ucapannya, si pengemis sakti langsung menoleh ke arah Tan Ki dan menjungkitkan sepasang alisnya. Gadis berpakaian hitam itu juga menoleh ke arah Tan Ki serta menggerak-gerakkan bibirnya bagai berkata kepada dirinya sendiri, “Sudah sebesar ini, di belakang punggung orang masih berkicau terus. Seperti tidak rela mengalah kepada generasi yang lebih muda. Kalau disiarkan keluar, tentu akan menjadi bahan tertawaan.”

Kata-katanya ini diucapkan dengan santai dan wajar, tapi orang yang bersangkutan tentu akan merasa sakit hati. Perlahan-lahan Tan Ki melirik Cian Cong sekilas. Tampak orangtua itu malah mengalihkan wajahnya ke tempat lain seakan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh gadis berpakaian hitam itu. Melihat keadaannya, Tan Ki segera sadar bahwa orangtua ini benar-benar enggan berurusan dengan si gadis.

Diam-diam hatinya tergerak.

‘Dengan kedudukan si pengemis tua sebagai tokoh kelas tinggi dan sikapnya yang ugal- ugalan, mengapa terhadap gadis berpakaian hitam ini malah demikian segan dan mengalah?’ pikirnya bingung.

Apakah kata-kata Cian Cong tentang gadis ini bahwa dia merupakan orang yang paling sulit dihadapi benar adanya? Hatinya rada kurang percaya. Tanpa sadar dia menoleh beberapa kali ke arah gadis tersebut. Tampaknya gadis berpakaian hitam itu juga sangat memperhatikan Tan Ki. Begitu pemuda tersebut menoleh, dia langsung mendelikkan matanya lebar-lebar.

“Apa yang kau lihat?” bentaknya dengan nada marah.

Mendengar bentakannya, tanpa terasa wajah Tan Ki menjadi merah saking jengahnya.
Tapi dia memang merupakan seorang manusia yang tinggi hati. Kata-kata gadis itu membuat amarahnya meluap seketika.

“Apapun yang ingin kulihat, rasanya tidak ada hubungannya dengan dirimu.” sahutnya ketus.

Rupanya si gadis tidak menyangka Tan Ki akan memberi jawaban seperti itu. Dia jadi tertegun beberapa saat…

“Tentunya kau belum tahu siapa aku sehingga berani berbicara dengan aku dengan nada membentak seperti tadi. Kalau kau sudah tahu, pasti kau tidak akan seberani itu…”

Tan Ki tertawa dingin.

“Lihat tampangmu yang begitu sombong dan tidak sopan terhadap angkatan yang le- bih tua. Kalau saja kau seorang laki-laki, aku pasti akan memberi pelajaran yang keras untukmu.”

Gadis berpakaian hitam itu seperti tidak percaya. Wajahnya menyiratkan mimik seperti orang yang sedang tertawa tapi tidak bisa.

“Kau berani?”

“Mengapa tidak berani?” bentak Tan Ki kembali.

Gadis berpakaian hitam itu menarik nafas perlahan-lahan. Dia menatap wajah Tan Ki sampai lama sekali.

“Sejak keluar dari rahim ibu, aku belum pernah menerima hinaan apapun. Di seluruh dunia ini, orang yang berani memaki aku secara terang-terangan, aku rasa kaulah orang yang pertama…”

“Kalau begitu aku malah harus merasa bangga.” sahut Tan Ki tenang.

Gadis berpakaian hitam itu mengedarkan pandangannya ke orang-orang di dalam ka- mar. Kemudian dia memalingkan wajahnya.

“Kau berani memaki aku secara terang-terangan, mungkin karena kau anggap ada beberapa orang yang dapat kau andalkan. Aku justru ingin melihat sampai di mana kehebatanmu itu!” begitu bentakannya sirna, tubuhnya yang kecil dan langsing langsung melesat ke udara dan ketika pergelangan tangannya memutar, secara berturut-turut dia melancarkan tiga buah serangan dan delapan buah totokan.

Sebetulnya serangan ini berjumlah empat jurus. Kecepatannya bagai cahaya kilat. Mes- kipun dia melancarkan serangannya satu per satu, namun begitu cepatnya sehingga tampak dikerahkan dalam waktu yang bersamaan dan seakan ada empat telapak tangan yang sedang mengincar diri Tan Ki.

Hati anak muda itu sampai tercekat melihat keadaan ini. Dia merasa penasaran.
Usianya masih begitu muda, namun kungfunya sudah demikian hebat. Benar-benar suatu hal yang jarang terdengar maupun dijumpai. Kalau ia belum terluka, tentu tidak ada hal yang perlu ditakutinya. Tapi kenyataan yang terpampang di depan mata, justru lukanya masih belum sembuh. Tentunya dia belum bisa menggunakan anggota tubuh maupun tenaga dalamnya dengan leluasa. Hatinya menjadi panik. Dengan gugup dia mundur beberapa langkah.

Diam-diam dia merasa heran.

‘Mengapa ilmu silat gadis ini hampir mirip dengan ilmu yang aku pelajari?’ tanyanya dalam hati.

Tampak di wajahnya tersirat perasaan yang tidak tenang. Sementara Cian Cong sedang merasa cemas sekali. Sepasang alisnya mengerut erat-erat. Mulutnya tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia takut Tan Ki tidak memperdulikan cara turun tangannya sehingga gadis berpakaian hitam itu akan terluka. Tapi dia juga sadar bahwa gadis ini sangat licik serta keji. Sedikit-sedikit selalu main bunuh. Ada kemungkinan Tan Ki yang akan terluka di tangannya.

Matanya perlahan-lahan mengedar, dia melihat Liu Seng dan Ciong San Tiau Siu bertiga juga menyiratkan perasaan khawatir yang sama dengan dirinya. Wajah mereka tampak tegang.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan gadis itu…

“Jangan lari!” pergelangan tangannya bergerak, sekaligus dia melancarkan dua belas pukulan. Tampak bayangan telapak tangan yang banyak seperti ombak yang menghempas-hempas. Suara gemuruh angin yang ditimbulkannya berderu-deru. Seluruh ruangan itu sampai dipenuhi terpaan angin dari telapak tangannya.

Tan Ki menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba dia melangkah mundur tiga langkah. Dia mengerti luka dalamnya masih belum sembuh. Kalau bisa dia tidak ingin menyambut serangan gadis itu dengan kekerasan.

Siapa tahu sikap gadis itu sungguh bera-ngasan. Dia tidak senang melihat Tan Ki seakan menghindarkan diri dari serangannya. Secara mendadak dia menarik kembali sepasang tangannya. Dengan posisi menahan di depan dada, tahu-tahu dia melancarkan sebuah pukulan.

Serangan ini mengandung tenaga yang sepenuhnya. Begitu dilancarkan, kekuatannya bukan alang kepalang. Terpaan angin yang timbul dari pukulannya bagai badai yang melanda dan sulit dibendung.

Meskipun kamar Mei Ling ini cukup luas, namun besarnya paling-paling dua depaan. Sedangkan Tan Ki sudah mundur dua kali berturut-turut. Punggungnya sudah menempel pada meja rias yang terdapat dalam kamar tersebut. Melihat datangnya serangan yang hebat itu, dia tidak mempunyai tempat untuk melindungi diri lagi. Hawa amarah dalam hatinya jadi meluap. Dengan menggertakkan gigi erat-erat, dia melancarkan sebuah pukulan.

Dalam sekejap mata… waktu yang sesaat itu begitu cepatnya sehingga mata para hadirin menjadi berkunang-kunang. Telinga mereka mendengar suara dengusan sebanyak dua kali yang saling susul menyusul. Bayangan manusia berpencaran ke kiri dan kanan, di susul dengan sebuah suara yang menggelegar. Gadis berpakaian hitam yang pertama- tama terhem-pas ke atas lantai kamar.

Wajah Tan Ki pucat pasi. Di sudut bibirnya terlihat tetesan darah. Tampangnya kusut.
Seperti orang yang sudah tidak tidur selama tiga hari tiga malam. Dia berdiri dengan tubuh bersandar pada meja rias.

Perubahan yang mendadak ini, benar-benar di luar dugaan setiap orang. Penglihatan Cian Cong sangat tajam. Meskipun dengan jelas dia melihat keduanya beradu pukulan,
tapi walaupun hatinya berniat menolong, namun sudah terlambat. Dia terkejut sekali melihat kenyataan yang terpampang di depannya.

“Celaka!” serunya sambil menggerakkan tubuh dan melesat ke depan.

Tiba-tiba terlihat wajah Tan Ki berubah hebat. Begitu mulutnya terbuka, dua kali berturut-turut dia memuntahkan darah segar. Sepasang matanya membelalak dan diapun terkulai jatuh entah dalam keadaan masih hidup atau sudah mati.

Perubahan yang saling susul menyusul ini terjadinya begitu cepat sehingga sulit diurai- kan dengan kata-kata. Hal ini membuat orang-orang tidak sempat memberi pertolongan. Walaupun Cian Cong yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi juga menjadi kalang kabut menghadapi situasi seperti ini. Dia tidak tahu pihak mana yang harus ditolongnya terlebih dahulu.

Untuk sesaat, Liu Seng beserta rekannya juga menjadi termangu-mangu. Untung Cian Cong lebih sigap. Setelah rasa terkejutnya hilang, dia mengatur nafasnya sejenak dan berpikir matang-matang. Pertama-tama dia menghambur ke arah gadis berpakaian hitam.

Dia membungkukkan tubuh dan mengulurkan tangannya ke arah dada gadis berpa- kaian hitam tersebut. Belum lagi tangannya sempat menjamah ke arah yang ditujunya, tiba-tiba gerakannya terhenti. Tampaknya dia teringat sesuatu hal dan membatalkan niatnya.

Sepasang alisnya bertaut erat. Setelah tertegun sesaat, akhirnya dia menolehkan kepala dan menggapai ke arah Mei Ling.

“Bocah perempuan, coba kau ke mari dan tempelkan telapak tanganmu pada dadanya.
Lihat apakah jantungnya masih berdenyut atau tidak?” perintahnya.

Mei Ling tersenyum simpul.

‘Begitu baru benar. Aku kira saking paniknya kau ingin menolong orang sehingga ba- gian terpenting dari tubuh seorang gadis juga akan kau jamah begitu saja…!’ pikirnya dalam hati.

Tiba-tiba wajahnya menjadi merah padam. Diam-diam dia memaki dirinya sendiri lalu bergegas berjalan menuju ke tempat si gadis berpakaian hitam seperti yang diperintahkan oleh Cian Cong. Dia mengulurkan tangannya dan menempelkannya ke dada gadis itu.

“Masih berdenyut, namun sudah lemah sekali.” sahutnya.

Mendengar ucapannya, Cian Cong sampai menghentak-hentakkan kakinya sambil menggerutu panjang lebar.

“Bocah bagus, tidak perduli pukulan tangan sendiri ringan atau berat malah berani melukainya sedemikian parah. Nanti kalau kakek moyangnya datang, kita terpaksa harus mengadu tinju sampai puas!” mendengar nada bicaranya, dia seperti pusing sekali menghadapi masalah ini. Kepalanya digelengkan berkali-kali.

Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba sebuah suara yang dingin berkumandang dari depan pintu…

“Rupanya Cian Cong masih mempunyai gairah sehebat itu?”

Suara ini datangnya mendadak sekali. Tanpa sadar Cian Cong berseru terkejut. Cepat- cepat dia membalikkan tubuhnya dan mengalihkan pandangan ke depan pintu…

Di ambang pintu, entah sejak kapan telah berdiri seorang laki-laki yang tua dan bertu- buh kurus. Dia mengenakan jubah berwarna hijau, wajahnya bersih dan tenang. Tetapi penampilannya menimbulkan kesan bahwa dia bukan orang yang mudah didekati, bahkan agak angkuh.

Tampak di ujung lengan baju sebelah kiri, tersembul sebuah telapak tangan yang me- ngeluarkan kilauan cahaya yang menyolok mata. Pertama-tama Cian Cong tertegun agak lama. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

“Lok Laotao (bapak tua) jangan bergurau, kita sudah lama sekali tidak berjumpa lho!” Orangtua berjubah hijau itu tertawa dingin.
“Masih lumayan, hengte masih belum masuk liang kubur, akhir-akhir ini Cian heng rasanya…” begitu matanya beredar, dia langsung mengeluarkan seruan terkejut. Tidak terlihat bagaimana caranya bergerak, tahu-tahu orangnya sudah sampai di samping gadis berpakaian hitam.

Ketinggian ilmu ginkang yang diperlihatkannya, membuat wajah Liu Seng beserta Ciong San Tiau Siu berubah hebat. Pandangan mereka sampai berkunang-kunang. Begitu penglihatan dialihkan kembali, tampak tubuh orangtua berjubah hijau itu bergetar keras. Dia seperti baru saja mendapat pukulan bathin yang hebat.
Terdengar suara ratapannya yang pilu dengan suara parau dan tersendat-sendat. “Ingji, oh Ingji, kau pergilah. Setelah kau mati, Kong kong pasti akan membunuh se-
ratus tokoh Bulim sebagai korban untukmu dan teman di saat penguburanmu.” Hati Cian Cong tercekat sekali.
“Hei, Lok laotao, masa nyawa cucu perempuanmu bernilai begitu tinggi?” teriaknya kesal.

Begitu kesal dan sedihnya orangtua berjubah hijau sampai mengeluarkan suara tertawa yang panjang.

“Kau kira siapa dan apa kedudukan cucu perempuanku ini. Biarpun seratus atau seribu lembar nyawa tokoh Bulim juga hanya pantas dibandingkan dengan selembar bulu kakinya saja!”

Cian Cong ikut-ikutan tertawa dingin.

“Nyawa cucu perempuanmu begitu berharga, apakah nyawa orang lain bukan nyawa juga, tapi sampah?” sahutnya kesal.
Tampaknya kesedihan orangtua berjubah hijau sudah mencapai puncaknya. Emosi yang meluap-luap dalam hatinya tiada tempat untuk disalurkan. Oleh karena itu, dia mengangkat telapak tangannya dan menghantam meja bundar di tengah ruangan yang terbuat dari kayu. Terdengar suara geprakan yang keras, meja itu pun sompal Bagian ujungnya.

Matanya mendelik lebar-lebar. Sinar matanya mengandung api yang berkobar-kobar. “Siapa yang membunuh cucu perempuanku yang baik?” tanyanya marah.

Nada suaranya melengking tinggi. Bagai ratapan dan tangisan setan-setan di malam hari. Orang yang ada di dalam ruangan kecuali Cian Cong, tidak ada satupun yang tidak tergetar. Bulu kuduk mereka seakan merinding semua.

Cian Cong malah tertawa lebar.

“Kau datang-datang langsung marah-marah seperti orang gila, bukannya lihat dulu keadaan dengan jelas. Apakah kau yakin cucu perempuan kesayanganmu itu benar-benar sudah mati? Hm, tindakanmu yang membabi buta itu, apa pantas menjabat sebagai pangcu dari Ti Ciang Pang yang tersohor itu?” sindirnya tajam.

Kata-katanya yang terakhir, membuat Liu Seng serta rekan-rekannya terperanjat. Hati mereka tergetar…

Diakah pangcu dari Ti Ciang Pang? Tokoh yang gerak-geriknya bagai naga sakti?

Perlu diketahui bahwa Ti Ciang Pang adalah sebuah perkumpulan yang menjunjung tinggi keadilan. Beberapa tahun ini kebesaran nama mereka benar-benar ibarat matahari yang terbit di pagi hari.

Kekuasaan mereka sudah tersebar luas. Kehebatan mereka menjadi buah bibir di ma- na-mana. Kebesaran nama perkumpulan ini boleh dikatakan malah lebih hebat dari lima partai besar.

Sedangkan pangcu dari Ti Ciang Pang, dalam pandangan tokoh-tokoh Bulim lainnya, seperti seorang tokoh yang misterius, berwibawa, angker… membuat mereka berperasaan seakan suatu benda pusaka yang hanya boleh dilihat namun tidak boleh tersentuh.

Justru pada saat ini, ketiga orang itu melihat wajah asli pangcu Ti Ciang Pang ini. Tentu saja mereka merasa terkejut dan penasaran. Tanpa sadar mereka malah melihat terus berkali-kali.

Sementara itu, tampak pangcu Ti Ciang Pang yang bernama Lok Hong itu membung- kukkan tubuhnya dan memeriksa hembusan nafas dari hidung si gadis berpakaian hitam. Setelah agak lama, akhirnya dia menghela nafas lega. Tampangnya yang tadi tegang juga sudah jauh mengendur. Bibirnya tersenyum.

“Kalau bukan disadarkan oleh kata-kata Ciang heng, hengte hampir saja berbuat ke- salahan besar.”

Cian Cong ikut-ikutan menarik nafas panjang.
“Lok Laotoa, apapun yang kau perbuat selama ini, selalu menerbitkan kekaguman di hati si pengemis tua ini. Tapi terhadap-cucu perempuanmu ini, tampaknya kasih sayangmu agak berlebihan. Seandainya dia kehilangan selembar rambutnya saja, mungkin lebih baik kau kehilangan seluruh janggutmu yang panjang itu.” gerutunya.

Lok Hong hanya tersenyum simpul. Dia tidak memperdulikan ocehan Cian Cong. Pa-da dasarnya sikap orang ini berjiwa lapang. Kalau marah hanya sebentar. Sesudahnya dia akan kembali seperti biasa lagi. Sekarang tampak dia mengangkat sebelah telapak tangannya kemudian menempelkannya pada punggung si gadis berpakaian hitam.

Setelah lewat beberapa saat, mula-mula terdengar suara keluhan dari mulut si gadis berpakaian hitam, perlahan-lahan matanya membuka dan sadarkan diri. Sedangkan luka yang diderita Tan Ki lebih parah. Oleh karena itu, sadarnya lebih lama daripada sang gadis.

Lok Hong menggendong si gadis berpakaian hitam dan berdiri. Tangannya diselusupkan ke balik pakaian, lalu dikeluarkannya sebutir pil yang lalu dimasukkan ke dalam mulut si gadis, bibirnya tersenyum.

“Anak baik, yang pintar ya. Biar Yaya menyayangimu.” katanya. Tangannya terulur untuk mengelus-elus kepala gadis itu. Sikapnya lembut sekali, tak terlihat lagi tampangnya yang garang seperti pembunuh tadi.

Gadis berpakaian hitam menatap ke arah kakeknya. Pertama-tama dia agak tertegun sampai tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Setelah mendengar ucapan kakeknya yang menyentuh hati, dia langsung membuka mulut dan menangis meraung-raung.
Tangannya menuding Tan Ki yang baru merangkak bangun. “Dia… dia menghina aku…” katanya.
Lok Hong tersenyum simpul.

“Nyali bocah ini sungguh besar. Beraninya dia menghina cucu perempuanku yang baik. Coba kau lihat, Yaya akan mengajar adat padanya!” begitu kata-katanya selesai, sebelah tangannya bergerak dan menghantamkan sebuah pukulan.

Kecepatannya bagai kilat…

Tan Ki sedang memperhatikan tanya jawab antara kakek dan cucu tersebut. Tiba-tiba dia merasa pipinya ditempeleng dengan keras. Baru saja dia hendak mengangkat tangannya untuk menangkis, telapak tangan Lok Hong sudah mendarat di pipi kirinya dan tahu-tahu orangtua itu sudah kembali mengelus-elus kepala si gadis berpakaian hitam.

Benar-benar datang tanpa wujud, pergi tanpa jejak. Kecepatannya membuat orang terkesiap. Pukulannya ini menimbulkan suara keras. Tetapi tenaga yang terkandung di dalamnya justru lembut. Tan Ki meraba pipinya dan termangu-mangu. Dengan adatnya yang tinggi hati dan keras kepala, ternyata dia tidak berani maju dan melawan orangtua itu.

Rupanya, dia sudah melihat telapak tangan kiri Lok Hong yang mengeluarkan cahaya berkilauan, dia tahu lambang itu merupakan ciri khas Ti Ciang Pang!
Ilmu silat yang dimilikinya merupakan hasil curian dari perkumpulan orangtua itu. Kalau sampai dia bergerak, tentu asal-asul ilmunya akan diketahui oleh orangtua tersebut. Kalau sampai membuat Lok Hong kalap, biarpun Tan Ki mempunyai sepuluh lembar nyawa juga tidak akan bisa menahan diri terhadap satu hantamannya!

Oleh karena itu, meskipun pukulan telapak tangan Lok Hong tadi membuat hawa amarah di dalam dadanya meluap, tapi dia tetap berusaha menahan emosinya dan tidak berani mengambil tindakan apa-apa.

Melihat kedua kakek dan cucu itu saling menyayangi dan tampak begitu berbahagia, tiba-tiba hatinya merasa hampa dan pedih. Kenyataannya, dia hanya seorang anak yatim piatu. Seorang pemuda yang malang!

Ayahnya yang baik hati dan mengasihinya telah dibunuh oleh empat puluh delapan tokoh persilatan dengan senjata rahasia yang berbeda. Kematiannya begitu mengenaskan dan penuh penderitaan.

Sedangkan ibunya…

Dia adalah seorang perempuan yang… akh! Dia tidak berani memikirkan lebih lanjut.
Hal itu merupakan peristiwa yang menyakitkan hati!

Tiba-tiba terdengar Cian Cong tertawa terbahak-bahak.

“Lok Laotoa, cucu perempuanmu ini benar-benar berangasan sekali. Si pengemis tua tidak pernah takut terhadap langit dan bumi tetapi justru pusing kepala kalau menghada- pinya.” hatinya seperti mempunyai pertimbangan sendiri sehingga tidak mengatakan mengapa cucu perempuan Lok Hong sampai berkelahi dengan Tan Ki.

Lok Hong tersenyum lembut. “Cian Heng menyalahkan hengte memang tidak salah.
Tetapi kau juga tahu, sejak kedua orangtuanya menghilang, dia jadi sebatang kara tanpa tempat berlindung. Sungguh kasihan. Hente sudah hidup sampai setua ini, juga tidak tahu kapan akan kembali ke sisi-Nya. Kalau tidak menyayanginya, siapa lagi yang akan menaruh perasaan iba kepadanya?”

Sebetulnya Cian Cong masih ingin berbicara lagi, tapi tiba-tiba dia berpikir.

‘Orang ini mempunyai perasaan kasih yang dalam. Hal itu merupakan ungkapan yang wajar dan sikap seseorang tidak mudah diubah. Untuk apa aku berkata panjang lebar?’

Berpikir demikian, perlahan-lahan dia menarik nafas dalam-dalam. Mulutnya pun tidak mengeluarkan sepatah kata lagi. Sementara itu, Tan Ki berjalan menghampiri Cian Cong serta mengucapkan terima kasih atas pertolongannya. Sekalian dia memohon diri.

Tepat sekali dia membalikkan tubuh dan bermaksud meninggalkan ruangan itu, men- dadak terdengar panggilan gadis berpakaian hitam.

“Yaya, suruh dia berhenti dulu.”

“Kenapa? Yaya tadi sudah menempelengnya dengan keras, apa kau masih belum me- rasa puas?”
“Tidak mau, pokoknya aku tidak akan membiarkan dia pergi sekarang.” sahut si gadis berpakaian hitam.

Lok Hong tersenyum simpul.

“Hati anak perempuan paling sulit ditebak. Tiba-tiba kau ingin menahan seorang pemuda, sebetulnya apa yang terkandung dalam hatimu?” mulutnya menggerutu tetapi dia tetap menoleh kepada Tan Ki dan berkata. “Kalau cucu perempuanku sudah berkata demikian, lebih baik kau jangan pergi dulu untuk sementara. Berdirilah di situ diam-diam.”

Nada bicaranya seperti sebuah perintah yang tidak boleh dibantah. Terdengar suara dengusan dari hidung Tan Ki, namun dia menuruti juga kata-kata Lok Hong dan menghentikan langkah kakinya. Luka yang dideritanya cukup parah, sedangkan tadi Cian Cong belum menyembuhkannya sampai tuntas. Oleh karena itu, dia pasti sulit melarikan diri dari tempat itu. Lagipula dia juga takut kartunya terbuka oleh Lok Hong. Akhirnya dia terpaksa menahan rasa amarah dan berdiri tanpa bergeming sedikitpun.

Terdengar suara si gadis berpakaian hitam yang datar dan ketus.

“Terimalah, ini adalah obat penyembuh luka dalam. Dengan meminumnya, lukamu akan lebih cepat sembuh.”

Sambil berbicara, dia melemparkan sesuatu benda kecil berwarna kehitaman ke arah Tan Ki. Watak anak muda itu sangat keras. Setelah menyambut obat tersebut, tadinya dia bermaksud membuangnya agar hati gadis itu menjadi mangkel. Tetapi pikirannya segera tergerak. Keadaannya sekarang kurang menguntungkan apabila dia tetap berkeras. Oleh karena itu, setelah tertawa dingin dua kali, dia memasukkan obat itu ke dalam mulut dan menelannya.

Tampang gadis berpakaian hitam sepertinya kurang senang.

“Aku sudah memberikan obat kepadamu, tetapi kau malah kurang senang.” “Tidak salah. Aku memang membencimu, benci sekali!”
“Apa yang kau katakan? Coba ulangi sekali lagi!” bentak si gadis berpakaian hitam. “Benci!”
Si gadis berpakaian hitam marah sekali.

“Bagus! Kau berani memaki aku. Mari kita ulangi lagi perkelahian kita tadi!” Lok Hong tersenyum simpul.
“Lahir sebagai orang dari keluarga Lok, mana boleh menerima hinaan orang begitu saja. Anak baik, pukullah dia beberapa kali biar hatimu puas. Yaya justru ingin lihat sampai di mana kehebatan anak muda ini dan berasal dari perguruan mana dia.”

Mendengar ucapannya, hati Tan Ki tergetar. Dalam keadaan terkejut, tiba-tiba dia mendengar suara keplakan sebanyak dua kali. Tahu-tahu kedua belah pipinya telah di- tempeleng oleh si gadis berpakaian hitam.

Watak gadis ini sungguh berangasan dan adatnya juga keras kepala. Pertama dia kesal terhadap kata-kata yang diucapkan oleh Tan

Ki, kedua dia mengira keberanian anak muda itu karena merasa mempunyai tulang punggung yang kuat. Padahal dia sendiri yang mengandalkan kakeknya sehingga berani berbuat semena-mena.

Sekaligus dua tamparan dia hadiahkan kepada Tan Ki, namun tampaknya dia masih belum puas. Tangannya bergerak dan dia menampar Tan Ki sekaligus empat lima kali. Pada saat itu juga, tampak wajah Tan Ki membengkak satu kali lipat. Tampangnya jadi lucu namun mengenaskan. Bekas-bekas jari tangan tertera nyata di kedua belah pipinya. Namun Tan Ki tidak mengumpat maupun mendengus sedikitpun. Diam-diam dia berkata dalam hati: ‘Baiklah, kau boleh pukul sepuas hatimu. Kelak apabila kau terjatuh ke tanganku, aku akan menagih hutang ini berikut bunganya sekalian!

Setelah memukul beberapa kali, rasa amarah dalam hati gadis itu agak berkurang, dia melihat Tan Ki tidak menghindar atau menangkis pukulannya dan wajahnya sudah menjadi bengkak dan merah. Hatinya terasa tidak tega melanjutkan lagi. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang.

“Kau harus tahu sifatku, lain kali jangan sengaja memanas-manasi hatiku lagi.” katanya menasehati.

Tan Ki mendengus dingin. Dia tetap tidak mengucapkan sepatah katapun. Kekerasan adatnya benar-benar jarang ditemui pada orang lain.

Sementara itu, terdengar Cian Cong bertanya kepada Lok Hong. “Mengapa kau bisa datang ke tempat ini?”
Lok Hong memperdengarkan segulungan suara tawa yang getir.

“Tidak khawatir ditertawakan oleh Cian Heng, hengte menempuh jarak sejauh ribuan li, tujuan utamanya adalah untuk mencari cucu perempuanku ini.”

“Apa? Jadi dia itu kabur dari rumah?”

“Justru itulah. Sepanjang hari sepanjang malam dia terus ribut ingin mencoba ilmu silat yang dimiliki oleh Cian bin mo-ong yang namanya menggetarkan rimba persilatan.

Hengte takut terjadi sesuatu di luar dugaan pada dirinya, maka terpaksa melindungi secara diam-diam. Juga sekalian menggunakan kesempatan ini untuk menjajal kepandaian Cian bin mo-ong yang katanya hebat sekali itu.”

Mendengar sampai di sini, hati Tan Ki merasa terkejut sekaligus senang. Dia tidak menyangka namanya akan terkenal sampai daerah barat daya di mana terletak pusat markas Ti Ciang Pang.

“Kalau Tia (ayah) sampai tahu urusan ini, di alam baka dia pasti akan merasa bangga sekali.” pikirnya dalam hati.
Sayang sekali ayahnya sudah meninggal. Bahkan mati terbunuh dengan cara yang de- mikian mengenaskan serta menyayat hati!

Begitu pikirannya tergerak ke masalah itu, tanpa terasa kelopak matanya membasah dan air mata pun hampir menetes turun. Dia menggertakkan giginya erat-erat. Dia tidak sudi meneteskan air mata di tempat itu. Dia mempunyai kekerasan hati yang hampir tidak dimiliki oleh orang lain. Baginya orang yang gampang menguraikan air mata adalah orang yang rendah dan lemah serta tidak sanggup melakukan pekerjaan besar.

Sementara itu, Lok Hong sedang berpamitan kepada Cian Cong. Tan Ki memang ber- harap agar kakek dan cucunya itu segera meninggalkan tempat tersebut. Namun tiba-tiba telinganya mendengar kembali suara Lok Ing.

“Yaya, ajak orang ini pergi dengan kita.”

Mendengar ucapannya, sukma Tan Ki seperti melayang setengahnya. Tanpa sadar tubuhnya gemetar. Dia merasa marah sekali.

“Sebetulnya apa yang terkandung dalam hatimu? Mengapa kau memaksa dan mende- sak aku sedemikian rupa?” teriaknya kesal.

Lok Hong tersenyum lebar.

“Dia ingin mengajak engkau, tentu tidak bermaksud mencelakaimu. Mengapa harus takut? Aku rasa Cian Locianpwe juga setuju dengan usul ini, bukankah demikian Cian Heng?”

Cian Cong cepat-cepat menganggukkan kepalanya.

“Betul, betul. Kau bocah cilik ini ikut dengan Lok Kouwnio, pasti akan memperoleh manfaat yang besar. Pasti tidak mengalami kerugian apapun.”

Dengan demikian, kakek dan cucu She Lok itupun meninggalkan tempat tersebut dengan menyeret Tan Ki. Ketika hendak berangkat, berkali-kali Tan Ki menoleh ke arah Mei Ling seakan berat berpisah dengan gadis itu. Mei Ling hanya tersenyum simpul dan tidak menunjukkan reaksi apapun.

Tentu saja dia tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Tan Ki, hanya kesan pe- muda tersebut dalam hatinya tidak terlalu buruk. Diam-diam Tan Ki menarik nafas panjang. Dia juga tidak mengatakan apa-apa. Dia merasa gadis itu bagai rembulan di atas langit. Demikian cemerlang dan indah tapi manusia hanya dapat memandang namun tidak dapat menyentuhnya… sambil berpikir, ketiga orang itu pun meninggalkan gedung keluarga Liu.

Kurang lebih satu kentungan telah berlalu, mereka sampai di sebuah bukit yang tidak berapa tinggi. Di sana terdapat sebuah pondok yang atapnya dialasi dengan daun rumbia. Kemungkinan besar merupakan tempat tinggal sementara. bagi kakek dan cucu dari keluarga Lok tersebut.

Gadis berpakaian hitam Lok Ing berusaha memancing pembicaraan dengan Tan Ki se- panjang perjalanan. Tidak tahunya, pemuda itu tetap berdiam diri. Dia tidak menyahut
sepatah katapun. Saking kesalnya, gadis yang keras hati ini sampai memalingkan wajahnya ke arah lain dan tidak mau melayani Tan Ki lagi.

Setelah masuk ke dalam pondok tersebut, Lok Ing turun tangan sendiri ke dapur me- nyiapkan sarapan pagi untuk Tan Ki. Tampaknya hati gadis itu sedang merencanakan sesuatu sehingga sikapnya terhadap pemuda itu berubah menjadi lembut dan penuh perhatian. Gaya bicara maupun tingkah lakunya jauh berbeda dengan tadi malam.

Sudah dua hari satu malam Tan Ki tidak mengisi perutnya dengan air ataupun ma- kanan. Oleh karena itu dia tidak sungkan lagi. Cepat-cepat dihabiskannya sarapan yang disediakan oleh Lok Ing. Gadis itu juga menyediakan kamar tidur untuknya bahkan membawakan sebaskom air hangat untuk membasuh muka.

Benar-benar sebuah penampilan yang meyakinkan. Begitu lembut dan penuh perhati- an!

Diam-diam Tan Ki merasa geli, dia tahu gadis itu pasti mempunyai rencana tertentu atau ada suatu hal yang diinginkan Lok Ing dari dirinya. Tapi dia tidak habis pikir apa itu dan mengapa?

Yang aneh justru sikap Lok Hong terhadap gerak-gerik yang dilakukan oleh cucu perempuannya seperti orang yang masa bodoh. Kadang-kadang dia malah sengaja keluar dari pondok tersebut dan membiarkan mereka berdua. Pada saat tengah hari, Lok Hong mengatakan bahwa ada urusan yang harus diselesaikannya. Dengan tergesa-gesa dia keluar dari pondok tersebut.

Lok Ing juga tidak menanyakan maksud kepergiannya. Dia menunggu sampai Tan Ki tertidur pulas baru bersedia meninggalkannya. Karena dia sendiri yang memaksakan kehendaknya agar Tan Ki ikut mereka. Maka dari itu dia khawatir Tan Ki akan melarikan diri apabila dia tidak menjaga dengan ketat.

Satu hari telah berlalu, akhirnya tiba saat bagi para manusia untuk masuk ke dalam peraduan. Malam ini kembali tidak terlihat cahaya rembulan, bintang-bintang menjauhkan diri sehingga yang tampak hanya bekas yang samar-samar. Pemandangan di sekeliling terselubung oleh kegelapan. Benda-benda yang jaraknya lebih dari tiga depa sudah tidak tertangkap oleh penglihatan lagi.

Dari jauh terdengar suara kentungan diketuk. Hanya berbunyi satu kali. Saat ini berarti sudah lewat tengah malam. Tiba-tiba sesosok bayangan hitam, dengan kegesitan seekor kucing mengendap-endap ke arah kamar tidur Tan Ki. Potongan badan orang itu kecil dan langsing. Tidak usah ditanya sudah pasti ia seorang perempuan.

Angin malam berhembus semilir, keadaan di sekeliling tetap sunyi.

Di tempat ini, ternyata sedang berlangsung peristiwa Fan Jai Hwa. Biasanya kaum laki- laki yang mengendap-endap ke kamar seorang gadis untuk merusak kesuciannya. Orang ini umumnya disebut Jai Hwa Cat alias maling pemetik bunga. Tetapi yang akan terjadi saat ini justru kebalikannya. Seorang perempuan yang mengendap-endap ke kamar seorang pemuda untuk memperko-sanya. Maka dari itu disebut Fan Jai Hwa yang berarti kebalikannya.
Seorang perempuan mencari kesenangan dari laki-laki dengan cara seperti ini. Sungguh memalukan! Benar-benar perbuatan yang rendah!

Tidak seharusnya Lok Ing menotok urat darah tidur Tan Ki ketika meninggalkannya. Sekarang dia jadi pulas tidak sadar apapun. Tentu saja dia juga tidak bisa memberikan perlawanan.

Siapa perempuan itu? Mungkinkah Lok Ing yang pura-pura keluar dari kamar dan masuk lagi dengan mengendap-endap? Mungkinkah dia yang melakukan perbuatan serendah itu?

Tidak! Kakek moyangnya merupakan salah satu dari tokoh sakti di dunia Bulim.
Namanya direndengkan dengan Cian Cong. Kewibawaannya sebagai pangcu dari Ti Ciang Pang sudah menggemparkan dunia Kangouw. Walaupun ada kemungkinan Lok Ing bisa melakukan perbuatan demikian, tapi Lok Hong tidak mungkin membiarkan cucu perempuannya ini merusakkan nama baik keluarga Lok yang telah dipupuk dengan susah payah selama ini.

Kalau begitu siapa? Apakah Mei Ling yang polos dan kekanak-kanakan? Apakah Kiau Hun yang cintanya berkobar-kobar?

Memang betul, siapapun di antara mereka, kemungkinannya ada. Tetapi kalau ditilik dari latar belakang kehidupan mereka dan pendidikan yang mereka kenyam selama ini, rasanya tidak mungkin mereka melakukan perbuatan yang demikian tidak tahu malu.

Siapakah orangnya? Siapa? Hal ini seperti sebuah permainan teka-teki yang membu- tuhkan jawaban.