Dendam Iblis Seribu Wajah Bagian 01

Bagian 01

Tiada bintang, tiada rembulan, tiada suara apapun. Gelap…

Apa pun tidak terlihat, pegunungan yang senyap, di tengah malam yang pekat.

Tiba-tiba sekilas cahaya melintas di atas langit. Daerah pegunungan yang sunyi tersorot sekejap. Eh… apa itu? Sesosok bayangan hitam sedang merayap di tengah pegunungan!
Apa yang sedang dilakukannya di tengah malam sesunyi ini?

Tidak ada seorang pun yang tahu. Yang terdengar hanya suara hembusan angin yang sepoi-sepoi diiringi suara nafas yang tersengal-sengal. Kedua macam suara itu lebih mirip keluhan yang tragis, membayangkan gelombang badai yang akan melanda dunia persilatan di kemudian hari.

Dari kilasan cahaya tadi, dapat terlihat bahwa usia orang itu paling banter baru menginjak dua belasan. Di atas kepalanya terdapat sedikit jambul, wajahnya bersih dan tampan. Dengan menggertakkan giginya, dia memanjat terus. Meski pun susah payah, tapi tampaknya tekad bocah ini keras juga. Sedikit demi sedikit dia merayap ke atas.

Pegunungan ini sangat terjal. Banyak terdapat batu-batu yang tajam. Belum lagi jurang yang dalam. Kalau melihat dari atas bebatuan yang runcing itu akan tampak bagai
bilahan-bilahan pedang. Bocah itu rasanya tidak mengerti ilmu silat. Baru sampai pertengahan saja telapak tangannya sudah penuh dengan luka sehingga darah mengalir dengan deras. Bahkan pada tempat di mana tangannya bertumpu, terlihat bekas jejak darah yang ditinggalkannya. Betapa mengenaskan melihat kebulatan tekad bocah tersebut!

Tapi dia sama sekali tidak menyerah. Giginya digertakkan semakin erat. Ia sampai menggigit bibirnya sehingga berdarah. Dia mempertahankan diri sekuat kemampuannya. Setindak demi setindak dia terus mendaki daerah alam yang berbahaya. Setiap waktu ada saja kemungkinan maut mengintai. Didakinya terus pegunungan itu meskipun dia sendiri tidak tahu apakah dirinya masih sanggup atau tidak.

Angin pegunungan berhembus kencang, membuat pakaiannya yang sudah koyak di sana sini berkibaran. Terdengar suara dari kibaran bajunya yang terhempas-hempas. Dia tidak merasa kedinginan. Keringat menetes dengan deras di keningnya. Nafasnya semakin memburu. 
Dia masih seorang bocah cilik. Dia juga tidak mempunyai tenaga seperti sebuah mesin. Baru setengah perjalanan dia sudah merasakan tubuhnya letih sekali, urat-uratnya terasa seperti mengencang dan hampir putus. Namun demikian di dalam hatinya dia punya niat besar yang mendukung apa yang dilakukannya, perasaan gentarnya pun sirna dan tekadnya semakin membara.

Dia paham sekali bahwa masih banyak urusan yang harus diselesaikannya. Dia sadar masih panjang perjalanan hidup yang harus ditempuhnya. Tanpa memperdulikan segala bahaya yang mungkin akan dihadapinya, dia terus mendaki menuju puncak gunung tersebut. Sebetulnya, apa yang hendak dilakukannya?

Rupanya puncak pegunungan ini merupakan tempat suci sebuah perkumpulan yang bernama Ti Ciang Pang yang sangat disegani dunia Kangouw. Sebuah goa tua yang terdapat di Bagian paling puncak merupakan tempat bersemayamnya jenasah-jenasah para leluhur perguruan tersebut.

Pada suatu hari, tanpa sengaja bocah ini menolong seorang tua tanpa nama yang sedang terluka parah. Sebelum menutup mata, orangtua ini sempat memberikan sebuah kitab yang mengandung pelajaran cara merias wajah. Orangtua ini juga memberitahukan kepadanya tentang kuburan para leluhur Ti Ciang Pang ini.

Ternyata setiap pangcu generasi demi generasi, apabila sudah mengetahui bahwa ajalnya telah dekat, harus mengikuti peraturan perkumpulan mereka, yaitu masuk ke dalam goa tua tersebut untuk menunggu ke-matian. Meskipun ada pangcu-pangcu yang mati dalam pertarungan atau pun musibah lainnya, mayat mereka juga harus dibawa oleh beberapa orang murid Ti Ciang Pang tersebut dan dimasukkan ke dalam goa. Bahkan beberapa murid yang terpilih untuk membawa mayat pangcu mereka ke dalam goa, juga tidak boleh kembali dalam keadaan hidup-hidup. Ini merupakan peraturan Ti Ciang Pang yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.

Tentu saja setiap pangcu yang mati pasti mempunyai benda-benda pusaka kesayangan mereka yang dibawa sekalian agar dapat dikuburkan bersama jenasah mereka nanti.
Benda-benda pusaka tersebut terdiri dari berbagai macam jenis. Ada pedang pusaka, ada senjata rahasia yang mereka gunakan semasa hidup. Tidak sedikit yang melukiskan ilmu- ilmu andalannya di dinding goa sambil menunggu kematian.

Sejak Ti Ciang Pang didirikan, jumlah pangcu yang menjabat perkumpulan tersebut seluruhnya sudah berjumlah enam puluh empat angkatan. Otomatis goa tua itu menjadi semacam tempat harta pusaka perkumpulan tersebut. Akhirnya tempat itu juga menjadi daerah terlarang bagi umat Bulim dan tempat suci yang tidak boleh diinjak oleh para murid Ti Ciang Pang sendiri. Siapa pun yang ketahuan naik ke puncak gunung itu pasti akan mendapat hukuman mati. Hal ini sudah menjadi ketentuan yang diketahui oleh semua orang di dunia Kangouw.

Tetapi tujuan bocah ini naik ke atas puncak gunung tersebut justru untuk menyelinap ke dalam goa dan mencuri belajar ilmu Ti Ciang Pang yang sakti. Dia tidak mengerti ilmu silat sama sekali. Kalau dia datang secara terang-terangan tentu dalam sekejap saja dia sudah ketahuan oleh para penjaga pegunungan itu, yang kebanyakan berilmu tinggi.
Itulah sebabnya dia memilih waktu malam hari dan mengambil jalan memutar yang jauh lebih berbahaya agar jejaknya tidak sampai kelihatan. Dapat dikatakan bahwa sekarang ini dia sedang mengadakan pertaruhan dengan nyawanya sendiri.
Dia terus mendaki sedikit demi sedikit… Ketika tenaganya mulai terkuras habis, matanya terasa berkunang-kunang dan keempat anggota tubuhnya bagai menjadi kaku, dan dia merasa tidak sanggup meneruskan lagi, dia berhenti dahulu untuk beristirahat.

Angin malam masih menderu-deru. Di sekitar hanya ada kesunyian yang menemani. Dalam kegelapan seperti ini, yang terdengar hanya nafasnya yang tersengal-sengal. Dia tahu sekarang ini dia sudah meninggalkan kaki gunung sejauh ratusan depa. Apabila dia menundukkan kepalanya unttuk melihat ke bawah, mungkin dia akan jatuh pingsan saking takutnya. Oleh karena itu, dia tidak berani melirik sedikitpun. Dengan menggenggam erat- erat batu-batu yang bertonjolan, dia mengatur nafasnya sesaat sebelum mulai mendaki lagi.

Setelah berdiam diri sekian lama, tiba-tiba terdengar suara gumaman yang tidak jelas dari mulutnya…

“Tan Ki, oh Tan Ki…! Kau tidak boleh putus asa. Dakilah terus. Di atas puncak gunung ini ada berbagai macam kepandaian yang kau dambakan. Semuanya dapat membuat cita- citamu terkabul. Kelak kau akan menjadi orang yang terkenal. Namamu akan menggetarkan dunia Kangouw. Kau bisa belajar silat yang tinggi sehingga kau dapat membalas dendam dengan kedua tanganmu sendiri…”

Teringat akan dendam kematian ayahnya tiba-tiba darah dalam tubuhnya seperti menggelegak. Semangatnya bagai terpacu seketika. Rasa sakit pada telapak tangan dan pegal-pegal di sekujur tubuhnya seperti sirna tertiup angin malam.

Betul! Dia ingin membalas dendam. Dia harus membunuh empat puluh delapan orang musuhnya. Satupun tidak boleh dibiarkan hidup…! Maka dari itu, dia segera menghimpun seluruh kekuatannya. Dengan tekad yang membara dia mulai mendaki lagi. Dengan susah payah dia naik setindak demi setindak. Di dalam hatinya dia terus berseru! Naik! Naik!
Naik! Naik!

**** Bagian I
Sepuluh tahun kemudian…

Dunia Kangouw yang selama ini tenang dan damai tiba-tiba saja dilanda gelombang badai yang dahsyat. Seorang algojo muncul entah dari mana. Persis seperti malaikat maut yang mencabut nyawa orang-orang yang dipilihnya.

Siapa namanya, tidak ada seorang pun yang tahu. Asal-usulnya, terlebih-lebih tidak ada yang tahu. Belum pernah ada seorangpun yang sempat melihat wajahnya yang asli. Ilmu silatnya yang tinggi sulit diukur dan keahliannya dalam merias wajah disadari oleh setiap orang. Tiba-tiba dia muncul sebagai seorang kakek-kakek tua. Kemudian beberapa hari kemudian, dia berubah menjadi seorang pemuda belasan tahun. Datang tanpa bayangan, pergi pun tidak meninggalkan jejak.

Orang yang berbentrok dengannya, mati satu per satu. Orang yang tidak ada urusan apa-apa dengannya juga mengandung perasaan was-was. Tetapi setiap kali dia muncul, di samping mayat yang telah dibunuhnya pasti terdapat tulisan yang berbunyi… Cian bin mo- ong alias Iblis Seribu Wajah.

Dalam jangka waktu yang pendek, yakni tiga bulanan, tokoh-tokoh Bulim yang mati di tangan Cian bin mo-ong sudah berjumlah dua puluhan orang. Jumlah ini sebetulnya tidak dapat dibilang terlalu besar. Yang mengejutkan justru setiap korbannya merupakan tokoh yang mempunyai nama besar di masa itu. Hal inilah yang membuat perasaan tokoh-tokoh Kangouw lainnya menjadi kalut.

Ti Ciang Pang yang selama ini sangat disegani ikut terguncang mendengar kemunculan orang ini. Belum lagi lima partai besar lainnya. Bahkan para tokoh yang bergerak sendiri- sendiri tanpa ikatan dengan perguruan mana pun ikut ramai membicarakan kemunculan orang ini yang sedemikian tiba-tiba. Mereka semua merasa was-was. Jangan-jangan besok adalah giliran mereka untuk menerima kematian. Hal ini seperti hari-hari menjelang kiamat bagi tokoh-tokoh dunia Kangouw.

Cian bin mo-ong! Cian bin mo-ong! Asal nama ini muncul, pasti ada mayat yang ber- gelimpangan. Kehadiran orang ini bagaikan angin topan yang memporak-porandakan seluruh Bulim, menyiutkan nyali setiap tokoh yang namanya agak terkenal. Dari setiap korban yang jatuh, dapat dibuktikan bahwa sasarannya adalah orang-orang yang mempunyai nama cukup besar di dunia Kangouw. Dalam waktu tiga bulan saja, dia sudah membuat dunia Bulim menjadi sebuah tempat yang mengerikan dan seolah tiada lagi wilayah yang aman untuk bersembunyi.

Sasarannya pun berbeda-beda. Kadang terdengar korbannya ada di daerah Selatan, kemudian tiba-tiba di daerah Utara pun terjadi hal yang sama. Semua ini membuat orang menduga-duga, apa sebetulnya alasan Cian bin mo-ong membunuh orang-orang yang kadang-kadang tidak ada kaitannya sama sekali.

Akhirnya… Pada suatu malam yang berangin kencang dan tiada rembulan, gelombang badai yang melanda dunia Bulim ini pun mencapai puncaknya…

***

Kota tua Lok Yang.

Di tengah malam yang mencekam, seharusnya orang-orang sedang terlelap dalam mimpi. Tapi di Utara kota itu terdapat sebuah gedung yang megah dan saat ini tampak dua buah lentera besar tergantung tinggi. Tampak bayangan manusia tidak henti-hentinya memasuki gedung rumah tersebut.

Hal ini membuat orang menduga-duga.

Kalau keluarga ini bukan sedang berkabung atau mengadakan pesta besar-besaran, tentu ada urusan penting yang sedang berlangsung. Tepat pada saat itu, tampak dua sosok bayangan melesat bagai angin dan berhenti di depan pintu gerbang gedung megah tersebut.

Meskipun di dalam gedung ini terlihat orang-orang hilir mudik dengan sibuk. Tetapi di depan pintu gerbangnya justru sunyi seakan tidak sedang berlangsung apa-apa. Tidak tampak seorang penjaga pun di depan pintu gerbang tersebut. Mata kedua orang ini mengedar sekilas. Wajah keduanya langsung tertegun.
Di bawah cahaya lentera yang suram, tampak bahwa kedua orang ini merupakan pasangan yang aneh, yang satu bertubuh tinggi sedangkan yang lainnya pendek sekali. Mereka berdiri berendengan.

Orang yang berdiri di sebelah kiri berdandan seperti pelajar. Wajahnya agak pucat.
Tampangnya biasa-biasa saja, sulit menentukan berapa usia orang itu yang sebenarnya.

Tangan kanannya mengibaskan sebatang kipas dengan perlahan-lahan. Gayanya santai sekali.

Sedangkan orang yang di sebelahnya sangat pendek. Tinggi kepalanya hanya mencapai pinggang si pelajar tadi. Tubuhnya gemuk. Raut wajahnya bulat dan warnanya merah sekali. Dari sepasang matanya yang sipit memancar sinar tajam seperti kilat.

Tiba-tiba dari dalam gedung terdengar suara teriakan, “Ciong San Suang-siu tiba!”

Kata-kata itu saling bersahutan sehingga sampai ke dalam gedung. Kewibawaan yang diperlihatkan ternyata tidak dapat dipandang ringan juga. Tidak lama kemudian terdengar suara sahutan dari dalam yang sambung menyambung sampai keluar seperti sebelumnya.

“Silahkan masuk!”

Melihat keadaan ini, alis kedua orang tersebut tanpa terasa terjungkit ke atas. Wajah mereka menyiratkan perasaan kurang senang. Bukan saja kedua orang ini merupakan tokoh yang sudah terkenal, bahkan nama mereka pun tidak berada di sebelah bawah tuan rumah itu sendiri yakni Bu Ti Sin Kiam alias si Pedang Sakti tanpa lawan Liu Seng.

Orang itu sudah mengirimkan undangan kepada mereka berdua. Seharusnya tidak perlu begitu banyak lagak sampai-sampai mempersilahkan mereka masuk hanya dengan dua patah kata saja. Seandainya mereka masuk begitu saja, bukankah mereka akan kehilangan pamor? Tetapi orang sudah mengirimkan undangan, biar bagaimana pun niatnya baik. Untuk sesaat, kedua orang itu merasa bimbang. Masuk salah, tidak masuk mereka sudah sampai di depan pintu. Sedangkan gengsi mereka mempertahankan diri agar jangan masuk begitu saja.

Justru ketika mereka sedang diselimuti keraguan itulah, tampak seorang Lao Koan-ke (Kepala Pelayan) keluar dengan tergopoh-gopoh kemudian membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

“Majikan hamba sedang melayani tamu sehingga tidak dapat menyambut dari jauh. Harap jiwi toaya dapat memaklumi. Silahkan masuk! Silahkan masuk!” sapanya sambil tersenyum simpul.

Terdengar suara dengusan dari hidung si gemuk pendek. Bibirnya mengulum seulas senyuman dingin.

“Mungkin tamu yang di temani Liu Loji lebih terkenal dan mempunyai nama yang lebih besar dari kami dua bersaudara,” sindirnya tajam.

Kata-kata ini sungguh blak-blakkan. Wajah Lao Koanke tadi sampai merah padam.
Dengan wajah ketakutan kembali ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.
“Tidak, tidak! Apabila jiwi toaya masuk ke dalam tentu akan mengerti sendiri,” dia langsung mengulapkan tangannya mempersilahkan kedua tamu tersebut.

Orang gemuk pendek tadi mendengus sekali lagi. Dia melangkahkan kakinya lebar-lebar berjalan ke dalam gedung. Setelah melewati tiga buah ruangan, mereka sampai di sebuah aula yang besar sekali. Kedua orang itu memandang ke sekeliling sekejap. Tanpa sadar keduanya menjadi tertegun.

Tampak di dalam aula tersebut telah di penuhi tamu-tamu sejumlah empat lima puluh orang. Di antara orang-orang itu ada seBagian yang mereka kenal. Ada seBagian lagi yang jumpa pun belum pernah. Tetapi seBagian besar yang mereka kenal merupakan tokoh- tokoh ternama yang telah menggetarkan dunia persilatan pada jaman itu.

Setelah tertegun beberapa saat, tiba-tiba dalam hati keduanya segera merasa bahwa urusan malam ini pasti genting sekali sehingga begitu banyaknya tokoh terkemuka yang berkumpul di dalam gedung ini.

Hawa pembunuhan yang tebal bagai memenuhi seluruh aula tersebut. Pada wajah setiap orang tampak ketegangan yang berusaha di tutup-tutupi. Suasananya juga sangat mencekam. Tidak ada seorang pun yang bercakap-cakap dengan santai.

Tiba-tiba Bu Ti Sin Kiam Liu Seng yang duduk di kursi tuan rumah tampak berdiri dan tertawa lebar.

“Jiwi pasti sudah menunggu agak lama. Silahkan duduk!” katanya.

Baru saja ucapannya selesai, dari luar berkumandang lagi suara sahutan yang sambung menyambung seperti tadi. “Tian Tai Tiau-siu (Tukang pancing dari Tian Tai) tiba!”

“Cepat persilahkan!” kata Liu Seng segera berganti haluan.

Tenaga dalam orang ini cukup tinggi juga. Begitu suaranya keluar, terdengarnya seperti gendang yang bertalu-talu dan bergema ke seluruh aula tersebut. Kemudian seorang laki- laki bertubuh tegap yang berdiri di Bagian pintu segera mengikutinya berteriak:

“Cepat persilahkan masuk!”

Suara sahutan itu pun kembali sambung menyambung sampai ke depan pintu gerbang.
Hal inilah yang membuat suasana yang tegang itu mengandung keseriusan dan kewibawaan yang dalam. Saat itu Ciong San Suang-siu baru tahu, Liu Seng menemani sekian banyak tamu. Otomatis dia tidak sempat menyambut setiap tamu dan mengantarkannya ke dalam. Setelah tahu apa sebabnya Liu Seng tidak menyambut mereka sendiri, keduanya tidak marah lagi.

Pada dasarnya kedua orang itu memang merupakan pendekar-pendekar yang gagah dan berhati lapang. Mereka malah tertawa terbahak-bahak menanggapi kesalahpahaman perasaan mereka sendiri.

Setelah tertawa-tawa Ciong San Suang-siu pun duduk di kursi yang masih kosong. Sambil menyapa beberapa orang kenalan mereka, otak keduanya terus memikirkan kejadian yang akan mereka hadapi malam ini.
Rupanya Bu Ti Sin-kiam Liu Seng adalah seorang tokoh tua di dunia persilatan. Nama besarnya telah berkumandang di mana-mana. Tetapi selama belasan tahun ini, dia telah mengasingkan diri dan tidak turut campur lagi dalam urusan dunia Kangouw. Tiba-tiba tiga bulan yang lalu, dia mengirimkan surat undangan kepada para sahabat lamanya yang sealiran agar berkumpul di. gedung rumahnya malam ini. Hal ini membuktikan bahwa ada urusan penting yang ingin disampaikannya kepada mereka semua.

Sementara itu, dari halaman luar berjalan masuk seorang yang bertubuh tinggi kurus. Kepalanya ditutupi sebuah topi pandan. Orang ini tidak asing bagi para hadirin yang ada dalam aula tersebut. Karena dialah Tian Tai Tiau-siu yang tersohor. Nama asli orang ini adalah Kok Hua-hong.

Sebagai tuan rumah, Liu Seng cepat-cepat bangkit dari tempat duduknya dan menyambut.

“Kok heng telah menempuh jarak ribuan li untuk memenuhi undangan siaute. Tentunya Kok heng sudah merasa lelah, silahkan duduk dan beristirahat.” sapanya sambil tersenyum.

Kok Hua-hong mendengus dingin satu kali. Mimik wajahnya datar sekali.

“Tidak diundang pun, aku tetap akan datang.” nada suaranya begitu ketus sehingga membuat para hadirin merasa di luar dugaan.

Liu Seng sendiri ikut tertegun. Para tamu yang hadir malam itu merasa heran.
Selamanya Kok Hua-hong adalah seorang manusia yang berjiwa besar. Sehari-harinya murah senyum dan ramah terhadap siapapun. Sikapnya yang demikian ketus, belum pernah ditemui oleh para kenalannya.

Dengan membawa pikiran demikian, tanpa sadar mata para hadirin menjadi terpusat pada dirinya. Kok Hua-hong sendiri tampaknya tidak memperhatikan orang lainnya.
Dengan sikap dingin ia berjalan menuju sebuah kursi yang kosong dan duduk menyendiri. Matanya dipejamkan seakan sedang melepas lelah.

Sikapnya itu menunjukkan keangkuhan dan kesinisan yang tidak terkira. Orang yang menatapnya merasa bergidik dan timbul kesan sebagaimana orang yang tidak mudah didekati oleh orang lain.

Melihat sikap Kok Hua-hong, tanpa sadar sepasang alis Liu Seng terjungkit ke atas.
Kemarahan dalam hatinya mulai meluap. Diam-diam dia berpikir dalam hati. “Baru beberapa tahun tidak bertemu, ternyata orang dapat berubah sedemikian banyak!”
Setelah merenung sesaat, terpaksa dia menelan kembali kemarahan dalam hatinya. Urusan yang sedang mereka hadapi bukan masalah perorangan tetapi menyangkut ke-
selamatan seluruh Bulim. Bagaimana pun dia harus berpikir panjang sebelum mengumbar emosinya. Apalagi kali ini dia sendiri yang bertindak sebagai tuan rumah yang mengundang kedatangan tamu-tamu ini.

Tidak lama kemudian datang beberapa tamu tingkatan Cianpwe yang juga diundang oleh Liu Seng. Tuan rumah segera mengedarkan pandangannya. Dia merasa para tamu
yang diundangnya sudah hampir semua hadir di tempat itu. Maka dari itu dia segera berdiri dan menjura ke sekitarnya.

“Dunia Bulim yang sudah lama tenang, tiba-tiba dilanda badai yang dahsyat. Cuwi hengte pasti sudah dapat menerka tujuan orang she Liu mengundang kedatangan kalian malam ini. Padahal sebelumnya aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mencampuri lagi urusan dunia Kangouw. Tetapi apa yang terjadi saat ini demikian genting sehingga aku terpaksa mengirimkan undangan pada saudara sekalian.”

“Tentu saja untuk menghadapi Cian bin mo-ong yang merupakan musuh para sahabat dunia Kangouw!” sahut beberapa tamu serentak.

“Orang seperti itu tidak boleh dibiarkan merajalela!” teriak yang lainnya. Liu Seng menganggukkan kepalanya.
“Tidak salah. Untuk menghadapi Cian bin mo-ong. Kedatangan orang ini seperti angin saja. Kekejiannya dalam turun tangan, boleh dibilang seumur hidup aku baru pernah menemuinya…” berkata sampai di situ, tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu. Dengan wajah muram dia menarik nafas panjang. “Ilmu silat Cian bin mo-ong ini entah sudah sampai taraf bagaimana tingginya. Kalau dibayangkan memang mengerikan. Para sahabat sekalian, tetapi ada satu hal lagi yang membuat kita lebih-lebih penasaran. Yakni, adakah orang-orang yang tahu asal-usul orang ini atau wajah asli orang ini?”

Mendengar ucapannya, para tamu yang hadir tertegun semua. Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab pertanyaan tersebut, karena mereka memang tidak ada yang tahu. Riwayat hidup Cian bin mo-ong bagai sebuah teka-teki, bagai sebuah tempat yang diselimuti kabut sehingga orang harus meraba-raba untuk mengetahui sekitarnya. Orang yang pernah bertemu dengannya sudah mati. Orang yang tidak pernah bertemu dengannya, meskipun Cian bin mo-ong berdiri di depannya, dia juga tidak akan mengenali.

Ilmu merias wajah Cian bin mo-ong sudah mencapai taraf yang sedemikian hebatnya sehingga sulit diuraikan dengan kata-kata. Hanya dalam waktu beberapa detik, dia sanggup merubah wajahnya.

Karena tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara, seluruh aula besar itu menjadi hening seketika. Rupanya nama Cian bin mo-ong telah menanamkan ketakutan yang dalam di hati setiap orang. Kemungkinan apabila ada orang yang mengetahui asal-usul maupun wajah aslinya, orang itu juga tidak berani membuka mulut.

Terdengar suara berdehem dan terbatuk-batuk dari mulut si pendek gemuk yang merupakan Loji dari Ciong San Suang-siu…

“Tiga hari yang lalu, hengte pernah bertemu sekali dengan Cian bin mo-ong, pada saat itu…” baru berkata beberapa patah, di wajah Cu Mei, si gemuk pendek itu tersirat rasa ketakutan yang dalam, tubuhnya bergetar. Setelah terdiam beberapa saat dia melanjutkan kembali kata-katanya. “Pada saat itu, di puncak bukit Ciong San berkumpul kurang lebih empat puluh enam orang jago-jago kelas tinggi. Orang-orang ini terdiri dari para murid lima partai besar. Masing-masing mem-punyai keahlian dalam berbagai ilmu silat. Nama mereka sudah terkenal di seluruh penjuru dunia. Tadinya hengte mengira telah terjadi persengketaan di antara lima partai besar. Hati hengte terkejut sekali. Kemudian setelah mendapat penjelasan dari Pun Bu Taisu yang berasal dari Siau Lim Pai, baru hente
mengerti duduk persoalan sebenarnya. Rupanya mereka sedang menantikan kedatangan Cian bin mo-ong untuk mengadu kepandaian…”

Mendengar ucapan Cu Mei si pendek gemuk, di depan mata para tamu yang lainnya seakan tampak bayangan Cian bin mo-ong yang menyeramkan. Tetapi bayangan orang ini sedemikian samar sehingga tidak ada seorangpun yang sanggup melukiskan rupanya yang jelas.

Pikiran merekapun ikut terpengaruh cerita Cu Mei tadi. Perasaan mereka menjadi tegang karena ingin mengetahui cerita selanjutnya. Situasi dalam ruangan ini semakin mencekam dan tanpa sadar mereka merasakan keseraman yang tidak terkatakan.
Terdengar lagi helaan nafas Cu Mei yang berat sebelum meneruskan kata-katanya… “Para murid kelima partai besar menunggu kurang lebih satu keuntungan. Tetapi yang
datang bukan Cian bin mo-ong malah Ciang Bunjin Bu Tong Pai, Fei Wan Cu yang muncul secara tidak terduga-duga. Fei Wan Cu tiba-tiba menyeruak di antara orang banyak dan menghantamkan pukulannya secara kalang kabut. Secara berturut-turut delapan belas orang dibunuhnya dalam waktu sekejap. Untuk sesaat, para murid lima partai besar menjadi gempar. Hengte sendiri terkejut setengah mati. Mungkinkah Fei Wan Totiang tiba- tiba kerasukan setan serta pikirannya kacau sehingga tidak mengenali rekan-rekannya sendiri?”

Hati Liu Seng tercekat mendengar ceritanya.

“Itu tidak benar! Ciang Bunjin Bu Tong Pai itu mungkin samaran Cian bin mo-ong?” katanya gugup.

“Siapa bilang bukan? Tetapi karena keahlian merias wajah orang ini sudah sedemikian hebatnya sehingga hengte sendiri yang kenal baik dengan Fei Wan Totiang tidak berhasil membongkar kedoknya. Sedikitpun tidak tampak perbedaan dengan yang aslinya…”

Wajah Liu Seng semakin kelam. Kepalanya tertunduk sesaat seakan sedang merenungkan sesuatu yang pelik.

“Bagaimana dengan ilmu silatnya?” Cu Mei menarik nafas panjang.
“Bukannya hengte memuji iblis itu. Ilmu silat yang dimiliki Cian bin mo-ong memang tinggi sekali. Malah lebih hebat daripada Fei Wan Totiang yang asli. Hengte sudah terjun dalam dunia Kangouw sejak empat puluh tahun yang lalu, meskipun ilmu silat tidak terlalu hebat, tetapi pengalaman sudah dapat dikatakan lumayan. Mungkin saat ini orang yang dapat menandinginya dapat dihitung dengan jari. Bayangkan saja, para anggota kelima partai besar yang berkumpul saat itu ada empat puluh enam orang, tetapi mereka toh tidak sanggup menahan seorang Cian bin mo-ong malah delapan belas orang diantara-nya menjadi korban.”

Sebetulnya Cu Mei masih ingin melanjutkan kata-katanya, tetapi dia merasa bahwa ucapannya hanya akan menjatuhkan pamor lima partai besar. Itulah sebabnya dia tidak jadi meneruskan isi hatinya. Tetapi meskipun demikian, seBagian besar tamu yang hadir sudah dapat menerka apa yang ingin diucapkannya. Wajah mereka tampak kusut dan
kelam. Mereka sudah dapat membayangkan sampai di mana kehebatan Cian bin mo-ong yang akan mereka hadapi itu.

Wajah Liu Seng juga berubah hebat. Sepasang alisnya berkerut. Mulutnya menyiratkan seulas tertawa yang sumbang.

“Kalau demikian, gedung keluarga Liu ini seakan menjadi ajang pengorbanan.” Cu Mei menjadi tertegun mendengar ucapannya.
“Mengapa?” tanyanya bingung.

“Karena Cian bin mo-ong justru hendak menyambangi gedung rumahku malam ini,” sahut Liu Seng.

Ucapan yang singkat tetapi sanggup membuat hati setiap tamu yang hadir menjadi terkesiap. Seakan di dalamnya terkandung segulung kekuatan yang tidak berwujud dan membuat wajah mereka berubah hebat. Tidak ada satupun yang tidak terkejut mendengarkan keterangan tersebut.

Untuk sesaat, suasana dalam ruangan itu seperti diselimuti hawa pembunuhan yang tebal. Empat huruf Cian bin mo-ong seperti mewakili para iblis yang gemar membunuh manusia tanpa diketahui sebab musababnya. Nyali para pendekar menjadi ciut seketika…

Ilmu silat orang ini demikian tinggi, lagipula dia pandai ilmu merias wajah. Boleh dibilang, ada saja kemungkinan bahwa saat ini dia sudah merias wajahnya menjadi salah satu tamu di dalam aula tersebut. Namun tidak seorangpun yang menyadarinya.

Para tamu yang mempunyai pikiran demikian, tanpa terasa saling melirik satu dengan yang lainnya. Mereka menjadi curiga setiap orang yang duduk di sampingnya. Jangan- jangan orang itu adalah samaran Cian bin mo-ong si iblis pembunuh itu.

Justru ketika pikiran setiap orang sedang bertanya-tanya, terdengar kembali helaan nafas berat Liu Seng, si tuan rumah.

“Sejak tiga bulan yang lalu, Cian bin mo-ong telah mengirim sepucuk surat yang isinya menyatakan bahwa malam ini dia pasti akan hadir di dalam rumahku ini. Pertama-tama dia ingin bertanya jelas tentang Am Gi (senjata rahasia) hengte, yakni Hek Hong Ciam (jarum kumbang hitam), baru kemudian mencabut nyawa hente. Katanya untuk membalaskan dendam ayahnya. Aih! Siaute sudah mengasingkan diri dari dunia persilatan selama belasan tahun. Seandainya pada tempo dulu pernah terjadi persilisihan dengan seseorang, rasanya juga tidak mungkin sekarang baru datang mencari siaute untuk membalaskan dendamnya…”

Belum lagi ucapannya selesai, Tian Tai Tiau-siu yang duduk di sudut sendirian langsung memperdengarkan suara dengusan dingin dari hidung.

“Maksudmu kau sudah menggantungkan pedang selama belasan tahun dan selama itu tidak pernah mencampuri urusan dunia Kangouw lagi?” tanyanya dengan nada sinis.

“Tidak salah!” sahut Liu Seng tegas.
“Apakah kata-katamu itu bukan diucapkan karena keadaanmu yang sedang terdesak?” tanya Tian Tai Tiau-siu kembali. Nada suaranya seakan tidak percaya. Dengan bibir mencibir dia meneruskan ucapannya. “Seandainya Cian bin mo-ong benar-benar akan datang malam ini untuk menanyakan perihal senjata rahasiamu, pasti dia mempunyai alasan yang kuat. Jangan-jangan di balik hal ini ada sesuatu yang sengaja kau tutup- tutupi!”

Terhadap kata-kata yang menyakitkan hati itu, Liu Seng benar-benar merasa di luar dugaan. Wajahnya berubah hebat.

“Siaute harap kata-kata Kok heng jangan keterlaluan. Hek Hong Ciam memang senjata rahasia andalan keluarga Lu. Selama ini hanya diwariskan kepada putera dan tidak pernah kepada anak putri. Meskipun siaute mempunyai seorang putri, tapi ilmu ini belum pernah diajarkan kepadanya!”

Wajah Kok Hua-hong dingin sekali. Dia terdiam sesaat. Seakan ada sesuatu yang sedang direnungkannya. Perlahan-lahan kepalanya mendongak ke atas dan menatap lentera-lentera yang tergantung di sana.

Pada waktu itu, para tamu dapat merasakan bahwa penampilan Kok Hua Hong ini sangat lain dari biasanya. Sikapnya angkuh dan menyiratkan ketinggian hatinya. Kalau dibandingkan dengan sikapnya dahulu, sungguh jauh berbeda. Tidak ada seorangpun yang mengerti apa sebabnya orang ini dapat berubah demikian drastis!

Dengan demikian, dalam seketika Kok Hua-hong menjadi tokoh yang aneh dan menarik perhatian. Pandangan setiap tamu yang hadir semuanya terpusat pada orang ini. Seakan seluruh kesombongan, keanehan, kejanggalan yang ada di dunia ini sekarang tertumpu pada diri orang tersebut.

Sinar mata Liu Seng juga tidak terlepas sedikit pun dari pada Kok Hua-hong. Tiba-tiba tubuhnya menggigil. Dia merasa orang yang satu ini telah berubah menjadi orang lain yang menyeramkan.

Apanya yang tidak sama? Justru dia tidak dapat mengatakannya. Hanya nalurinya yang membisikkan sesuatu yang janggal pada diri orang itu. Tepat pada saat itu, Kok Hua-hong mengeluarkan suatu benda dari balik pakaiannya dan kemudian meletakkannya di atas meja. Mulutnya memperdengarkan suara tawa yang dingin.

“Kalau kau mengatakan Hek Hong Ciam hanya diturunkan kepada anak laki-laki dan tidak kepada anak perempuan, di balik semua ini pasti ada apa-apanya. Tentunya sesuatu yang mencurigakan. Kalau boleh aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Mengapa benda ini dapat tertancap pada diri Tan Ciok-san sepuluh tahun yang lalu kalau kau memang sudah mengundurkan diri dari dunia Kangouw selama belasan tahun? Hm… kata- katamu itu terlalu menganggap bodoh orang lain!”

Liu Seng mengedarkan matanya. Hatinya menjadi terkesiap. Benda yang tergeletak di atas meja memang Hek Hong Ciam yang merupakan senjata rahasia andalan keluarganya. Wajahnya berubah semakin kelam.

“Bagaimana Kok heng bisa mempunyai senjata ini?” tanyanya tanpa sadar..

Kok Hua Hong tertawa dingin. Wajahnya tetap tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa Hek Hong Ciam tersebut tertancap pada tubuh Tan Ciok-san? Senjata rahasia ini memang diambil dari tubuhnya dan sudah tersimpan selama sepuluh tahun.”

Liu Seng sampai termangu-mangu mendengar kata-katanya. Hal yang sama sekali di luar dugaan justru terjadi pada saat ini. Pikirannya langsung bekerja. Sebuah ingatan melintas di benaknya. Dia sama sekali tidak percaya bahwa sepuluh tahun yang lalu dia pernah menggunakan Hek Hong Ciam dan sekarang dia sudah melupakannya. Dia toh belum terlalu tua untuk disebut pikun. Wajahnya semakin kelam.

“Kau berbohong! Tidak di sangka Tian Tai Tiau-siu yang namanya sudah menggetarkan dunia persilatan dapat mengucapkan fitnahan yang sengaja hendak mengacaukan pertemuan ini!” bentaknya marah.
“Maksudmu cayhe hanya mengada-ada?” tanya Kok Hua-hong tenang. “Walaupun tidak demikian, pasti kau mengandung maksud tertentu. Siaute sudah
mengasingkan diri selama belasan tahun. Meskipun ilmu silat masih tidak dilupakan begitu saja dan terus berlatih tetapi sama sekali belum pernah menyentuh Hek Hong Ciam.
Bagaimana mungkin membunuh orang dengan senjata rahasia tersebut apabila menyentuhnya saja tidak? Lagipula, walau pun Tan Ciok-san merupakan tokoh Kangouw yang tidak tergolong sesat maupun lurus, tetapi dengan aku orang she Liu selamanya tidak ada permusuhan apa-apa. Bagaimana mungkin bisa terjadi perkelahian diantara kami?” sahut Liu Seng tegas.

Wajah Kok Hua-hong berubah hebat mendengar ucapannya. Dia langsung bangkit dari tempat duduknya dan menuding kepada Liu Seng.

“Kalau benar begitu, bagaimana Hek Hong Ciam ini bisa terjatuh ke tanganku? Tolong kau jelaskan bagaimana senjata rahasia ini bisa tertancap di tubuh Tan Ciok-san?”

Pertanyaannya itu laksana tudingan langsung. Liu Seng sampai tertegun dan tidak sanggup mengatakan apa-apa. Kenyataannya, dia memang tidak habis pikir bagaimana senjata rahasia andalan keluarganya bisa terjatuh ke pihak lawan. Senjata rahasia ini pula yang membuat namanya terkenal di dunia Kangouw berpuluh tahun yang silam. Ilmu yang satu ini sangat khas dan unik. Tidak sembarang orang dapat melontarkan senjata rahasia semacam itu.

Ucapan Kok Hua-hong juga membuat para tamu yang lainnya menjadi curiga dan bertanya-tanya. Kemudian, tampak Kok Hua-hong melangkah setindak demi setindak mendekati Liu Seng. Wajahnya menyiratkan hawa pembunuhan yang tebal.

Untuk sesaat, suasana yang mencekam seperti menunggu bom waktu yang akan meledak setiap waktu. Para tamu yang lain mengerti bahwa Kok Hua-hong segera akan turun tangan. Tetapi tidak seorangpun yang sanggup menghalangi. Karena urusan ini termasuk masalah pribadi dan mungkin di dalamnya juga terkandung misteri yang belum terungkapkan sehingga mereka merasa tidak enak hati untuk turut campur.

Dalam keadaan yang genting di mana hati para hadirin sedang tegang, terdengar tarikan nafas Liu Seng yang berat.
“Siaute mengundang kehadiran para sahabat sekalian, sebetulnya ingin mendapat dukungan untuk menghadapi Cian bin mo-ong. Siapa sangka urusan Hek Hong Ciam ini malah menimbulkan perasaan curiga kalian. Karena bukti nyatanya memang ada, meskipun siaute terjun ke sungai Huang ho juga tidak dapat melepaskan diri dari masalah ini. Tetapi, berdasarkan nama baik keluarga kami yang telah dipupuk selama ratusan tahun. Siaute berani menjamin bahwa sepuluh tahun yang lalu siaute tidak merasa pernah menggunakan Hek Hong Ciam ini untuk membunuh siapapun.”

Dalam keadaan terdesak, Liu Seng mengucapkan kata-kata yang asal- asalan saja. tetapi justru menimbulkan manfaat yang besar. Ketika mengucapkan kata-kata yang terakhir, pada wajahnya tersirat kepedihan yang tidak terkirakan.

Kok Hua-hong tertawa dingin.

“Di dunia ini terlalu banyak manusia licik yang pandai berpura-pura. Kata-kata yang saudara ucapkan tadi mungkin dapat mengelabui anak kecil berusia tiga tahun, tetapi aku sama sekali tidak mempercayainya!” sahutnya ketus.

“Jadi kau tetap ingin bergebrak denganku?” Sekali lagi Kok Hua-hong mendengus dingin.
“Kalau tidak memaksa dengan kekerasan, mungkin Liu Lo Enghiong tidak bersedia me- ngatakan yang sebenarnya!” terdengar suara angin berdesir, tahu-tahu dia melancarkan sebuah serangan yang dahsyat.

Dapat dibayangkan bagaimana hebatnya serangan orang ini. Bahkan cawan-cawan teh yang tergeletak di atas meja dan saat itu memisahkan mereka langsung jatuh berderai karena hempasan angin yang kencang dan menimbulkan suara kerontangan yang bising. Tenaga dalam orang ini rupanya juga tidak dapat dipandang enteng.

Hati Liu Seng terkesiap.

“Hebat sekali tenaga dalam orang ini!” serunya dalam hati.

Tangan kanannya langsung diangkat dan menyambut serangan Kok Hua- hong.
Hantaman ini dilancarkan dalam keadaan terdesak. Tiba-tiba terdengar suara Blamm! Yang memekakkan telinga. Kedua rangkum tenaga yang dahsyat saling beradu. Tubuh mereka terhuyung-huyung, tetapi kaki mereka tidak bergeser setengah langkah juga. Kemudian terlihat dua bayangan berkelebat di mana kedua orang ini langsung memisahkan diri ke samping, disusul berpuluh bayangan lainnya yang melintas ke sana kemari.

Rupanya ketika kedua orang itu bergebrak, para tamu yang lainnya khawatir akan terhempas oleh angin yang timbul dari pukulan mereka. Oleh karena itu mereka segera menggeser serabutan dan keadaan pun menjadi gempar seketika.

Sinar mata Liu Seng terus tertumpu pada diri lawannya. Dia tidak berkedip sama sekali.
Tampaknya Liu Seng juga tidak berani memandang ringan lawannya. Setelah beradu pukulan satu kali, dia segera menyadari bahwa kekuatan lawannya tidak berada di sebelah bawah dirinya sendiri. Kali ini dia benar-benar bertemu dengan musuh yang seimbang.
Di pihak satunya, Kok Hua-hong seperti mempunyai pikiran yang tersendiri. Sepasang alisnya terjungkit ke atas. Dalam keadaan yang genting seperti itu, hidungnya mengendus bau harum daging dan arak. Dalam waktu yang bersamaan, Liu Seng juga mendongakkan kepalanya. Tampaknya dia juga sudah mempunyai perasaan yang sama. Sebab dia langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Sementara itu, para tamu yang lainnya juga ikut tertegun. Mungkin mereka juga sedang terheran-heran. Tiba-tiba terdengar suara tawa terbahak-bahak yang berkumandang memenuhi seluruh ruangan tersebut. Suara itu demikian keras sehingga menggetarkan gendang telinga setiap orang yang mendengarnya.

Tampak sesosok bayangan berkelebat. Kibasan lengan baju berkibar- kibar. Di tengah- tengah Liu Seng dan Kok Hua-hong telah berdiri seseorang. Perubahan ini benar-benar di luar dugaan semua orang. Ketika mata mereka menatap orang tersebut, tidak ada satu pun yang tidak menunjukkan perasaan terkejut. Tanpa sadar Liu Seng dan Kok Hua-hong juga sampai mundur dua langkah. Gerakan mereka otomatis terhenti.

****