Dendam Asmara BAB 52. PENUTUP

 
BAB 52. PENUTUP

Di tempat lain masih di sekitar Thian-bak-san. dua muda- mudi Tiang Keng dan Un Kin sekarang hanya berduaan saja.

"Malam semakin larut " kata Un Kin.

Tiang Keng mengawasi ke sekitar tempat itu.

"Kuil tua itu sudah ada di depan kita. tetapi kita tak tahu apakah Un Jie Giok sudah ada di sana atau belum?" kata Tiang Keng.

"Dia bilang akan ke sana. pasti ia akan ke sana!" kata si nona meyakinkan.

Ia menarik tangan pemuda itu untuk diajak berjalan bersama-sama. Mereka berjalan bergandengan hingga sampai di depan kuil dan mereka langsung masuk ke dalam kuil. keadaan di sana masih seperti kemarin ketika mereka ada di situ. Terlihat patung Buddha yang wajahnya lembut, tetapi hati kedua muda-mudi ini malah berdebar-debar

Kemudian mereka saling mengawasi lalu mereka menunggu dan duduk berendeng, otak mereka bekerja keras. Saat itu hati mereka jadi tak tenteram, mereka tak tahu mau bicara apa. Tak lama terlihat cahaya api dan dua bayangan orang sedang mendatangi, tubuh keduanya langsing dan mereka berjalan dengan sangat hati-hati sekali.

"Oh kalian berdua pun sudah datang?" kata Tiang Keng dan Un Kin.

Salah seorang dari nona itu tertawa. Dia adalah Siauw Tin.

Dia meletakkan dua buah pelita di atas altar sembahyang.

Tiba-tiba Siauw Keng berkata. "Sejak tadi kami sudah menunggu, barangkali Couw-ko pun akan segera tiba!"

Kemudian kedua nona itu berdiri dekat tembok, mereka tak mau mengawasi ke arah Tiang Keng maupun Un Kin

Tak heran sekalipun di pendopo itu ada empat orang karena tak ada yang bicara maka keadaan di situ tetap sunyi. Mungkin hanya hati mereka yang berdebar-debar.....

Angin yang dingin bertiup ke dalam pendopo. Daun-daun pepohonan pun tertiup angin yang kadang-kadang agak keras hingga daun-daun itu rontok dan berjatuhan ke tanah. Tiba- tiba bersamaan dengan daun yangromtok berjatuhan dan masuk ke dalam pendopo. melayang sebuah bayangan orang ikut masuk.

Empat orang yang ada di dalam pendopo semua menoleh ke arah orang itu. Sesudah melihat tegas siapa orang itu. mereka berteriak kaget.

"Kau. .!"' kata mereka hampir bersamaan. Orang itu tersenyum. Dia ternyata ln Hoan.

"Kalian tak menyangka, bukan?" kata ln Hoan sambil tertawa.

Sambil menggendong tangan ln Hoan berjalan hilir-mudik.

Tak lama ia langsung berhadapan dengan Tiang Keng dan berkata dengan sabar. "Kuucapkan selamat padamu, karena hari ini sakit hati orang tuamu akan terbalas!" la melangkah ke arah tembok. Tiang Keng heran, ia jadi curiga tetapi diam saja.

Tidak berapa lama satu bayangan lain melompat masuk ke dalam pendopo. Siauw Tin dan Siauw Keng berseru. "Couw-ko tiba!"

Hati Tiang Keng dan Un Kin bergolak, darah mereka mendidih.

"Ternyata kalian sudah datang lebih dulu!" kata Un Jie Giok dingin.

Tiang Keng dan Un Kin saling mengawasi. Un Jie Giok tertawa meringis.

"Aku tahu perasaan kalian untuk membalaskan sakit hati orang tuamu, pasti kalian tak sabar!" kata Jie Giok. "Benarkah begitu?"

"Karena dendam orang tua kami. maka kami tak bersedia hidup bersama dengan musuh kami!" kata Tiang Keng. "Sebelum kami balas dendam, sehari pun kami tak bisa tidur tenang!"

Un Jie Giok tertawa dingin. "Sekarang musuh besarmu itu ada di depanmu! Tetapi aku ingin bertanya, sudah berapa tinggi ilmu silatmu dan mampukah kau membalas dendam sekarang?" kata Un Jie Giok.

Alis Tiang Keng berdiri.

"Hari ini aku dalang dengan tak menghiraukan jiwaku!" kata Tiang Keng dengan gagah.

Kembali Un JieGiok tertawa dingin.

"Kau memang bersemangat!" kata Un Jie Giok. "Ketahui olehmu, seumur hidupku aku belum pernah memberi kesempatan pada orang lain!" Mendadak Jie Giok mengeluarkan dua batang bambu yang bersinar kuning keemasan dari sakunya. Kemudian ia berkata lagi dengan dingin.

"Ini dua buah bumbung jarum Ngo-in-hong-jit-touw-sim- ciam1" kata Jie Giok "Dua bumbung ini yang satu berisi jarum itu dan yang satu lagi kosong! Sekarang kau ambil salah satu bumbung ini. jika kau berhasil mengambil yang berisi jarum, maka kau akan berhasil membalas dendam Sebaliknya jika bukan yang berisi jarum...hm! Hai ln Hoan. ambil kedua bumbung ini. pesilakan dia mengambil salah satu bumbung ini untuk memilihnya!"

In Hoan kelihatan ragu-ragu. matanya menunjukkan sinar tajam. Perlahan-lahan ia menghampiri si nyonya tua untuk mengambil kedua bumbung bambu itu dari tangan si nyonya. Sesudah itu dia berbalik dan berjalan dengan perlahan sekali, tapi tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dengan cepat, sambil berbalik kedua tangannya ia majukan dipakai menyerang ke arah si nyonya jelek!

Terdengar suara dari dua bumbung bambu itu. alatnya bekerja. Kemudian disusul suara tawa si imam yang tak sedap didengar, tetapi…..

Ternyata dari kedua bumbung itu tak ada jarum yang keluar. Kiranya kedua bumbung itu kosong tak berisi jarum beracun! Tak lama terdengar lagi suara tawa In Hoan disusul suara lawa Un Jie Giok. nadanya mengejek. In Hoan kaget, ia melompat mundur tiga langkah dan sepasang matanya mendelong....

Un Jie Giok tertawa lagi. "Salah! Kembali kau salah selangkah, kau tertipu oleh akalku!" kata Un Jie Giok.

Tiang Keng dan Un Kin saling mengawasi, bukan main herannya mereka. Setelah mengawasi ke arah Un Jie Giok. mereka menoleh mengawasi ln Hoan. Wajah ln Hoan berubah pucat bagaikan kertas putih. "Seumur hidupmu belum pernah kau berbuat kebaikan!" kata Jie Giok dengan tajam ke arah In Hoan. "Kemampuanmu hanya mengelabuhi orang saja. Sudah lama aku ingin menyingkirkanmu. tetapi selalu gagal. Hari ini sebenarnya aku akan membebaskan jiwamu, asal kau tak memperdayaiku lagi dan akan kuizinkan kau pulang masih bernyawa!"

Saat Un Jie Giok bicara selangkah demi selangkah ln Hoan mundur teratur. Tetapi Jie Giok juga tak tinggal diam. ia juga maju selangkah demi selangkah mengikutinya. Tanpa terasa In Hoan telah didesak oleh Un Jie Giok.

Sambil melangkah maju kembali Jie Giok mengeluarkan dua buah bumbung bambu kuning. Setelah In Hoan terdesak sampat di tembok, baru Jie Giok bicara.

"Jika dulu saat di puncak Sie-sin-hong di gunung Hong-san tak ada kau." kata Jie Giok. "Suami-isteri itu tentu tak akan memilih jalan kematian! Begitupun anak Kin. jika bukan karena kau yang mengoceh yang bukan-bukan,  dia  tak akan "

Mendadak Un Jie Giok berhenti bicara, la mengawasi ke arah Tiang Keng.

"Tiang Keng. ke mari kau!" kata Un Jie Giok nyaring. Tiang Keng kaget tapi ia tetap melompat maju ke arah Jie

Giok.

Tanpa menoleh Un Jie Giok menyerahkan kedua bumbung bambu itu kepada Tiang Keng. Kemudian Un Jie Giok berkata nyaring. "Kau ambil salah satu bumbung ini. imam ini juga musuh besarmu yang telah membunuh orang tuamu "

Tiang Keng bersikap tenang saat ia menyambut salah satu bumbung itu. lalu bumbung itu ia kembalikan pada Jie Giok.

"Sakit hatiku memang luar biasa, tapi untuk membalas dendam itu aku tak perlu bantuan orang lain. aku malu menerimanya " kata Tiang Keng. Sebelum Tiang Keng selesai bicara, tiba-tiba ln Hoan melompat naik ke tembok, ia melompat sejauh tiga tombak.

"Hm! Kau masih berpikir mau kabur?" bentak Jie Giok pada ln Hoan.

Mendadak tubuh Un Jie Giok berbalik dan sebelah tangannya terayun. Dari sana lima sinar kuning melesat dengan cepat luar biasa ke arah In Hoan. Menyusul sinar emas itu terdengar suara benda berat terjatuh ke lantai. Kiranya Ban-biauw Cin-kun yang ilmu meringan kan tubuhnya mahir itu ternyata tak mampu menandingi kecepatan senjata rahasia milik Un Jie Giok hingga ia roboh tak berdaya...

Un Jie Giok tertawa sejenak. Kelihatan dia puas sekali. Kemudian suasana di pendopo itu sunyi. Un Jie Giok berdiri diam. Matanya yang sayu mengawasi tubuh In Hoan.

Kemudian dia berjalan perlahan, rambutnya terurai tak teratur karena sudah dua hari tak diurus. Namun rambut itu melambai-lambai tertiup angin malam yang dingin.

Sinar pelita di atas altar sembahyang cahayanya redup dan bergoyang-goyang tertiup angin malam. Detik-detik berlalu dalam keadaan sunyi. Sampai tiba-tiba si nyonya membalikkan tubuhnya, ia awasi Tiang Keng dan Un Kin secara bergantian.

Kedua muda-mudi mengawasi dengan mata mendelong. mungkin mereka terkejut menyaksikan kejadian di depan mata mereka tadi.

Kemudian Jie Giok berkata dingin. "Kalian mau balas dendam, mengapa kalian diam saja?"

Dua bumbung bambu yang tadi tak diambil Tiang Keng oleh Jie Giok dilemparkan ke arah mereka berdua.

"Jika kalian mau menggunakan senjata itu. silakan kalian gunakan!" kata Jie Giok dingin.

Hawa udara sangat dingin saat In Tiong Teng harus kembali ke tempat yang dijanjikan ayahnya. Ketika Tiong Teng sampai tempat itu sunyi. Ayahnya belum kelihatan. Tiong Teng jadi khawatir hingga ia tak tenang. Tadi Tiong Teng melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya dan mendengar sesuatu yang belum pernah didengar. Menurut Tiong Keng yang paling aneh adalah kata-kata Siu-jin Un Jie Giok

"Aku hanya ingin kau melakukan suatu pekerjaan lagi.

Tunggu sampai aku mati. kau harus berusaha menyampaikan pesanku. Katakan bahwa Nio Tong Hong ayahnya dan Beng Jie Kong bukan ibunya!" kata Un Jie Giok ketika itu.

Tiong Teng melihat In Hoan mengangguk, ln Hoan berjanji akan menyampaikan pesan itu.

"Sungguh Un Kin harus dikasihani. " kata Jie Giok dengan suara mengharukan sekali. "Dia tak akan menyangka bahwa musuhnya atau orang yang membunuh ayahnya adalah ibu kandungnya sendiri. Mana tega aku memberitahu dia. Aku tak bisa…”

Tiong Teng ingat kata-kata itu dengan baik. Tiong Teng jadi berpikir keras. Ia tak tahu duduk persoalannya, tapi ia sudah menerka beberapa bagian. Kembali terdengar Un Jie Giok bicara.

"Nio Tong Hong jahat padaku, sama jahatnya seperti kau padaku." kata Jie Giok pada ln Hoan "Dia membohongiku. Dia bilang dia mencintaiku, tapi sebenarnya ia hanya mengakali ilmu silat dan hartaku belaka! Kemudian aku dengar dia sudah beristeri. maka aku tak mau memaafkannya. Aku memutuskan akan membunuh mereka berdua. Tetapi saat itu aku sedang hamil Oh. Thian (Tuhan), mengapa aku bisa dipermainkan

begitu "

Tiong Teng masih ingat kata-kata Un Jie Giok ini. hingga ia jadi simpati kepadanya.

"Apa salah dia. Dengan demikian ia wanita yang perlu dikasihani." pikir Tiong Teng. "Tetapi mengapa dia jadi semakin kejam?" Dengan pikiran kacau Tiong Teng berjalan hilir-mudik di tempat itu la harap ayahnya akan segera datang. Ia pikir mungkin saat itu Tiang Keng dan Un Kin sudah berada di kuil bersama Jie Giok dan ln Hoan.

Untung tak lama ln Kiam datang, Dia tak menemukan sesuatu.

"Ayah. mari kita ke Thian Sian Sie!"' kata Tiong Teng.

Sambil berjalan! iong Teng memberi keterangan singkat pada ayahnya

Bukan pekerjaan mudah untuk menemukan kuil itu. tetapi sesudah berusaha dan makan waktu akhirnya mereka sampai juga di kuil itu. Mereka melihat sinar pelita dan dengan santai mereka masuk ke pekarangan kuil itu. Tiba-tiba mereka mendengar suara tangis.

To-pie Sin-kiam In Kiam berlari cepat dengan ilmu Pat-pou- kan-siam. Begitu sampai di pendopo ia lihat To Tiang Keng dan Un Kin berdiri melongo. Dua pelayan berpakaian merah sedang menangis di lantai, di depan kedua pelayan itu rebah Ang-ie Nio-nio. si hantu wanita jelek.

Mereka tak tahu kedatangan ln Kiam dan Tiong Teng. mereka juga tak lancang mengganggu.

Di tempat yang sunyi dan suram itu terdengar sebuah suara. Dari tangan Un Jie Giok yang tiba-tiba menggelinding sebuah benda berwarna kuning ke dekat Tiong Teng. Segera Tiong Teng membungkuk untuk mengambil benda itu. ternyata itu bumbung tempat jarum rahasia yang terkenal itu. Ketika tutup bumbung itu dibuka, maka keluarlah lima batang jarum beracun itu. Tiong Teng sadar Un Jie Giok tak menggunakan senjata itu. jika ia menggunakannya pasti ada korbannya...

Tiang Keng mengawasi tubuh Un Jie Giok. Tubuh musuhnya dan musuh Un Kin juga. pikir Tiang Keng. Musuh mereka sekarang telah jadi mayat, tapi aneh mereka kelihatan tak gembira. Malah hati mereka jadi kurang nyaman. Padahal mereka telah berhasil membalas dendam...

Di kaki tembok rebah tubuh In Hoan yang jahat. Setelah sekian lama tiba-tiba tubuh imam itu bergerak. Kiranya dia hanya pingsan dan sekarang ia sadar, la merintih, mencoba mengangkat kepala nya. Kembali ia merintih.

"Kalian akhirnya kalian berhasil balas dendam!" kata In

Hoan. "Bagus sekali.

Imam itu tertawa dan Tiang Keng bersama Un Kin menoleh, la berusaha mengeraskan hati. Kembali In Hoan merintih.

"Apa kalian heran karena aku belum mati" tanya ln Hoan. "Itu sebab.. aku masih punya rahasia yang belum kuceritakan pada kalian. Apa apakah kalian ingin tahu?"

Tiang Keng tercekat. Tanpa diminta ln Hoan mulai bicara. "Rahasia ini " kata In Hoan. "Rahasia tentang dirimu dan

hidupmu Rahasia ini hanya aku yang tahu. Jika kalian ingin

tahu ayo berusaha mengobatiku "

Tiang Keng dan Un Kin saling mengawasi dan mereka ragu- ragu.

"Hai imam jahat!" teriak Tiong Teng dengan tiba-tiba. "Apa saat ajalpun kau hendak mencelakai orang lain?"

Tiong Teng melompat dan menendang imam itu. In Hoan tak berdaya ia menjerit keras sekali. Tubuhnya terpental dari mulutnya keluar darah segar, la mati seketika. Tiong Teng mengawasi tubuh ln Hoan ini.

"Biarlah sejak saat ini tak ada yang tahu rahasia yang bisa merusak keberuntungan orang lain itu!" gerutu Tiong Teng.

ln Kiam heran menyaksikan tindakan puteranya itu. "Apa katamu. Tiong Teng?" tanya sang ayah. Tiong Teng menghela nafas panjang.

"Aku mengatakan roh Paman To di alam baka akan tenang. " kata Tiong Teng.

ln Kiam heran tetapi tak lama air matanya mengalir dari pipinya. Tiang Keng pun ikut menangis.

Un Kin melongo keheranan, la awasi Siauw Kin dan Siauw Keng. keduanya juga sedang menangisi Un Jie Giok. Un Kin pun akhirnya tak dapat menahan gejolak hatinya, ia pun ikut menangis.

"Aneh?" kata Tiong Teng. "Mengapa kau juga menangis?" Tetapi tangisan itu tangis suci murni sejernih mutiara...

Saat Tiang Keng menangis ia merasakan bahunya ada sang meraba dan sehelai sapu tangan telah disesapkan ke tangannya, maka ia bisa menepis air matanya.

Tatkala Tiang Keng menoleh sinar matanya beradu dengan sinar mata Un Kin yang jernih, ia sedang mengawasi dengan tajam.

Sedang sang fajar di luar sudah menampakkan cahayanya karena sang malam telah berganti dengan siang....

TAMAT