Dendam Asmara BAB 51. AKHIR YANG MENGENASKAN

 
BAB 51. AKHIR YANG MENGENASKAN

Tiat Tat Jin mengawasi adik seperguruannya itu. ia bergumam dengan suara dingin. "Seharusnya, kau tahu di mana Suhu menyimpan kitab itu!" kata Tat Jin. "Kau salah karena kau kurang perhatian "

Ketika kata-kata Tiat Tat Jin baru saja berhenti, tiba-tiba terdengar suara yang nadanya sangat dingin.

"Ya. kalian seharusnya tahu di mana aku menyimpan kitab itu!" kata suara yang sangat mereka kenal.

Bukan main terkejutnya Tiat Tat Jin dan Cio Peng ketika mendengar kata-kata itu. Karena mereka tahu siapa orang yang berkata itu. Berbeda dengan Tat Jin. Cio Peng begitu mendengar suara itu. langsung siap untuk kabur. Sedang Tiat Tat Jin segera berlutut memberi hormat, namun tubuhnya sangat kemah karena ketakutan.

Tak lama kelihatan berkelebat sebuah bayangan disusul tawa dinginnya. Tubuh orang itu melayang turun dari atas pohon besar dan jatuh tepat di hadapan Cio Peng yang hendak kabur.

"Hm! Jahanam, kau masih berpikir hendak kabur?" kata suara orang itu.

Cio Peng mundur sebanyak tujuh langkah dari depan orang itu. "Suhu!" ia memanggil. Memang benar orang itu adalah In Hoan. guru mereka. Di atas pohon Tiong Teng melihat bayangan itu turun dengan gesit, orang itu mengenakan kopiah tinggi dan tubuh orang itu jangkung. Selangkah demi selangkah imam itu mendekati Cio Peng yang masih gemetar karena takut.

"Dasar manusia goblok, mana mungkin kau bisa menghindari gurumu ini! Kau sangat jahat tetapi kau tidak berdaya, kau memang harus mampus!" kata In Hoan geram sekali. Sambil mendekam di tanah kepala Cio Peng berulang-ulang mengangguk ke arah In Hoan. "Memang muridmu ini pantas mati!" kata Cio Peng.

Mata ln Hoan yang bengis mengawasi muridnya yang murtad itu. "Memang pada masa sekarang ini sudah lumrah orang yang kuat menelan yang lemah... Karena saat ini orang harus bergulat keras saling berebut untuk bisa hidup! Aku tidak menyalahkan kalian berdua, tetapi kalian semua tolol sekali! Kalian tak bisa membuat gurumu senang, lebih baik kalian mati saja semua!" kata In Hoan.

Mendengar kata-kata In Hoan tersebut. Tiong Teng yang berada di atas pohon jadi ngeri. Dia tak mengira seorang guru bisa begitu sadis terhadap muridnya.

"Suhu " Cio Peng memohon. "Seumur hidupku memang

aku tak pernah berbuat baik." kata In Hoan. "Hanya, gurumu ini saat berbuat jahat selalu menggunakan otaknya dengan baik. Itu sebabnya hingga sekarang ini gurumu selalu selamat. Orang-orang tak berdaya terhadap aku. Ketahui olehmu, berbuat jahat harus dibarengi dengan keberanian dan kepandaian, jika tidak maka kalian akan gagal. Kakakmu Tat Jin lumayan dibandingkan dengan kau. Cio Peng!"

Mendadak kaki In Hoan melayang ke arah Cio Peng dan sang murid ini tak sempat lagi menghindar dari serangan yang hebat itu. Maka tak ampun lagi. sambil menjerit keras tubuh Cio Peng pun terpental, lalu jatuh bergulingan. Saat itu juga nyawanya melayang..

Tiat Tat Jin terus mendekam di tanah dengan ketakutan. Ia tak berani mengawasi gurunya. Sedang Tiong Teng yang ada di atas pohon kaget, tanpa terasa keringat dingin membasahi tubuhnya.

Setelah menendang Cio Peng. ln Hoan berjalan ke arah muridnya yang lain. Matanya mengawasi si murid dengan tajam luar biasa. “Apa tadi kau sudah melihat contoh yang kuberikan?" tanya ln Hoan.

"Sudah. Suhu..." jawab Tat Jin.

"Jika kau sudah melihatnya, apa yang ada dalam pikiranmu sekarang” tanya In Hoan.

"Jika aku gagal mencarikan obat untuk Suhu." kata Tat Jin. "Maka aku mohon Suhu bersedia menolong jiwaku Atau…”

In Hoan tertawa dingin.

"Hm! Kau mengira kau ini cerdik, sehingga kau bisa membohongi aku?" kata In Hoan.

Tat Jin melengak. ia awasi gurunya.

"Tadi malam, saat kalian berdua pulang sudah kuperhatikan wajah kalian yang bingung dan cemas. " kata In Hoan. "Terlebih Cio Peng. sikapnya sangat tak wajar! Semua itu tak lepas dari pengawasanku. Saat aku pura-pura akan buang air kecil, sayup-sayup kudengar kau menyuruh Cio Peng menaruh racun di cawanku. Semua kuperhatikan. Tetapi ketika itu aku belum tahu, siapa yang menyuruh kalian meracuniku. Saat kalian meninggalkan aku sebentar, maka kuganti cawan minumku dengan yang baru. Ketika kalian kembali, air di cawan itu kuminum sehingga kalian mengira aku berhasil kalian racuni ”

Mendengar penuturan itu Tat Jin hanya menunduk. Dia kagum oleh kecerdikan gurunya

"Pagi-pagi sekali." In Hoan melanjutkan. "'Kalian berdua lama berdiri di depan kamarku, tetapi kalian tak berani masuk untuk memeriksa, apakah aku benar-benar sudah mati atau belum. Kemudian kalian buru-buru pergi. Lalu aku mengikutimu sampai di sini. Saat kalian bicara dengan Un Jie Giok tadi. semua telah kudengar dengan jelas ” Diam-diam Tiong Teng menghela nafas panjang. "In Hoan ini sangat cerdik! Kecerdikannya itu sangat membantu kejahatan yang dilakukannya," pikir Tiong Teng. “Peran seperti dia harus segera disingkirkan! Kejahatannya melebihi seekor binatang, mana boleh dibiarkan terus..."

Oleh karena berpikir begitu Tiong Teng memutar otaknya mencari jalan untuk menyingkirkan imam jahat itu. Tetapi, sebelum Tiong Teng bertindak, tiba-tiba ia mendengar suara bentakan nyaring dari balik gunung.

“in Hoan! Perbuatan kejimu itu bisa dianggap tak adil... " kata suara itu.

Begitu suara orang itu selesai, tubuh orang itu melayang turun. Tangan orang itu terangkat dan terayun ke arah Tiat Tat Jin. disusul oleh suara jeritan pemuda itu yang mengerikan. Tubuh Tat Jin bergulingan dan berhenti dekat tubuh Cio Peng. nafasnya langsung berhenti.

Kelihatan ln Hoan kaget bukan main. ia mengenali suara dan orang yang baru muncul itu.

"Kedua muridmu itu sama jahatnya." kata Un Jie Giok yang muncul secara tiba-tiba. "Jika yang seorang kau bunuh sedang yang lain kau biarkan hidup, itu kurang adil. Maka itu tadi aku telah mewakilimu membunuhnya!"

Wajah In Hoan beberapa kali berubah-ubah. sebentar merah sebentar pucat. Tiba-tiba ln Hoan tertawa perlahan.

"Bagus! Akupun berpikir demikian!" kata In Hoan sambi tersenyum pahit. "Dua muridku itu murtad, tak layak mereka dibiarkan hidup!"

"Hm!" Un Jie Giok mengeluarkan suara dari hidungnya.

In Hoan tersenyum, wajahnya kini jadi semakin berseri-seri. "Jie Giok." kata In Hoan dengan halus. "Sudah lama kita tidak saling bertemu, tidak kusangka tenyata kau masih seperti dulu!”

Kemudian terdengar In Hoan menghela nafas panjang. "Selama kita tak saling bertemu." kata In Hoan lagi. "Aku

selalu mengingat dan mengenangmu, tetapi sekarang aku

telah menjadi tua "

"Hm!" lagi-lagi Jie Giok mengeluarkan suara.

In Hoan mengelus jenggotnya sambil menghela nafas perlahan. "Ya. tak kukira, bulan dan tahun terus mendesak manusia. ." kata In Hoan lagi. "Sang waktu pergi untuk tidak kembali Setiap kali aku teringat semasa kita pernah hidup

bersama bertahun-tahun lamanya, aku jadi berduka sekali....

Jie Giok. ingatkah kau saat kita duduk berdua memandangi sang rembulan di puncak gunung? Di sana. ketika itu kita minum arak bersama-sama. Saat itu kita pun saling mendoakan agar kita sama-sama panjang umur Ah. tak

hentinya aku memikirkan dirimu dan aku merasakan kiranya sang waktu sangat singkat. Memang benar pepatah mengatakan tidak ada pesta tanpa akhir. Itu yang dikatakan bahwa lebih baik tidak bertemu daripada harus bertemu.

Bukan benar begitu. Jie Giok?"

Sambil berkata ln Hoan terus mengawasi wajah wanita jelek di depannya. Dia ingin tahu reaksi wanita jelek itu. Ia lihat Jie Giok sedang mengawasi ke arahnya dengan mata yang tajam dan bengis.

"Semua itu teringat lagi. tapi sayang itu sudah berlalu "

kata In Hoan

Tiba-tiba Un Jie Giok tertawa dingin. "Jika aku mendengar kata-katamu itu beberapa tahun yang lalu. aku memang agak khawatir Tetapi kini hm! Hm!" kata Un Jie Giok. "'Memang waktu telah berlalu, hanya keadaannya masih tetap sama! Dulu dan sekarang apa bedanya?" kata In Hoan.

Un Jie Giok kembali tertawa dingin. "Mungkin orang akan terperangkap oleh kata-katamu!'" kata Jie Giok. "tapi sayang, kau mengatakannya hari ini. dan aku sudah bosan mendengarnya!"

Mendengar ucapan itu In Hoan melengak. Matanya jelalatan. tetapi ia memaksa untuk tertawa. "'Jie Giok. aku tahu bagaimana persasaanmu saat ini." kata In Hoan. "Aku kira kau salah mengerti tentang diriku, tetapi aku "

"'Tutup mulutmu!" kata Jie Giok sengit. Jie Giok menundukkan kepalanya lalu menghela nafas panjang. Ketika ia angkat kepalanya, ia berkata lagi. "Seperti katamu tadi. sang waktu sudah berlalu dan aku sudah terlalu tua ya

sudah tua!""

Dia awasi In Hoan dengan tajam, mendadak dia tertawa nyaring. Sementara itu In Hoan coba bersabar.

"Jie Giok. kau belum tua."" kata ln Hoan "Cuma kau…”

Un Jie Giok kembali tertawa dingin. "Jika seseorang menjadi tua dia akan mirip dengan siluman. " kata Jie Giok. Tidak! Aku tak bisa kau akali lagi. Sampai saat ini kau masih menganggap dirimu pintar! Kau anggap kau lebih pintar dariku. Tetapi, sungguh kau tak sadar bahwa aku pandai melebihimu!"

Mendengar kata-kata itu In Hoan batuk sekali. "Itu betul.

Kepandaianmu memang melebihiku." kata ln Hoan.

Pujian ini seolah-olah tak didengar oleh Un Jie Giik.

"Hm! Memang sudah kuduga, kedua muridmu yang tolol itu tidak akan berhasil meracunimu!" kata Un Jie Giok dingin. "Aku juga sudah menduga bahwa kau akan datang menyusul mereka ke mari. Dan ternyata dugaanku itu benar sekali!" Suara Jie Giok jelas ia sangat girang karena dugaannya tidak meleset. "Dulu aku selalu jatuh ke dalam tanganmu, tetapi sekarang telah tiba giliranku." kata Un Jie Giok.

In Hoan menghela nafas lalu menunduk, tetapi matanya ia permainkan, la berpura-pura lunak, sebenarnya ia sedang berpikir keras. Sikap ln Hoan ini tak lepas dari perhatian Un Jie Giok.

"Hm! ln Hoan. kau jangan berpikir yang bukan-bukan dan mencari jalan untuk lolos dariku!" kata Un Jie Giok keras. "Kuperingatkan padamu, akhir-akhir ini aku tekun mempelajari ilmu meringankan tubuh. Jika kau kira aku bohong, boleh kau coba!"

Tiba-tiba perasaan In Hoan dingin. "Ah dia bilang dia berlatih ilmu meringankan tubuh." pikir ln Hoan. "Kalau begitu, ilmu silat yang lainnya agak ia abaikan. Jika sekarang kulawan dia dengan mati-matian, belum tentu aku kalah olehnya...”

Hati In Hoan tiba-tiba jadi tenang kembali. Un Jie Giok mengawasi In Hoan dengan tajam.

"Jangan coba melawanku." kata Jie Giok tajam. "Soal ilmu silat aku rasa kau tak akan mampu mengalahkanku! Kau camkan saja. satu di antaranya. Mengenai ilmu silat tangan kosong Cit-keng-pit-kip saja. tak nanti kau bisa menghadapinya. Jika kau tak percaya boleh kau coba sekarang juga!"

In Hoan mendongak, kemudian ia menghela nafas panjang. "Sudah lama aku berpikir ingin menemuimu." kata ln Hoan kemudian. "Sekaipun hanya untuk sekali saja. Oleh sebab itu mana mungkin aku berniat pergi dari hadapanmu, apalagi akan melawanmu? Kau berpikir terlalu jauh. Jie Giok!"

Un Jie Giok tertawa lagi. "Kau bilang aku berpikir terlampau jauh? Hm! Benarkah itu? Apa yang sedang kau pikirkan, pasti kau tahu jawabannya!" kata Un Jie Giok sengit. "Yang sedang kupikirkan ialah tentang Dunia Persilatan yang kacau-balau." kata ln Hoan. "Kita sudah berusia lanjut, aku pikir lebih baik kita cari sebuah tempat yang aman dan tenteram, di sana kita bisa hidup bahagia melewatkan hari tua kita..."

Kata-kata ln Hoan selain halus juga menarik hati. Tiba-tiba Un Jie Giok menundukkan kepalanya. Jie Giok solah-olah tertarik oleh rayuan si imam yang cerdik ini.

Mata In Hoan bersinar terang saat melihat Jie Giok menundukkan kepalanya, maka ia berulang-ulang tersenyum.

"Jie Giok. dengar olehmu." kata In Hoan lembut. '"Kau telah hidup menjagoi di Dunia Persilatan selama bertahun- tahun, tetapi apa yang kau peroleh sekarang ini. tak lain di dalam hatimu hanya ada aku! Dan seperti juga di dalam hatiku, hanya ada kau "

Suara In Hoan halus, tiba-tiba tangannya mengusap matanya yang berair karena tangis, ln Hoan sangat terpengaruh oleh kata-katanya sendiri hingga ia menundukkan kepalanya.

Jie Giok mendadak tertawa keras sekali. "Di hatimu ada aku. di hatiku ada kau?" ujar Un Jie Giok nyaring.

"Sisa hidup kita. " dia berhenti sejenak. “Dengarkan kata- kataku, bagiku aku sudah tak memikirkan lagi untuk hidup lebih lama lagi! Maukah kau mati bersamaku?"

ln Hoan kaget mendengar pertanyaan itu. ia terpaksa tertawa.

"Mengapa kau berkata begitu. Jie Giok? Bukankah tubuhmu masih segar-bugar. Aku kira kau masih bisa hidup sepuluh tahun atau dua puluh tahun lagi " kata In Hoan.

"Jadi kau tak mau menemaniku mati?" kata Un Jie Giok dingin. "Tidak! Aku tak menyesalimu! Kau boleh berbuat tak selayaknya terhadapku, aku tak bisa membunuhmu.. Bagiku, aku hanya ingin kau melakukan sesuatu untukku sekali lagi "

Suara Un Jie Giok keras, lama-lama berubah menjadi perlahan ia agaknya menyesal dan penasaran...

Saat itu segumpal awan hitam lewat menutupi sang Puteri Malam, hingga malam pun semakin larut saja...

0oo0