Dendam Asmara BAB 48. ROMBONGAN KELUARGA TONG DARI SIOK

 
BAB 48. ROMBONGAN KELUARGA TONG DARI SIOK

Suara para tukang kayu itu semakin riuh terdengar oleh In Kiam. Karena gangguan suara berisik itu In Kiam jadi dongkol. In Tiong Teng agak khawatir ayahnya naik darah, lalu ia ajak ayahnya bicara untuk mengalihkan perhatiannya. Tapi tak lama ln Kiam sadar pada keadaan luar biasa itu.

Warung minum itu merangkap jadi rumah makan. In Kiam pun sudah memesan beberapa macam masakan. Tapi keadaan riuh membuat selera makannya hilang. Ia kelihatan kurang gembira. Saat In Kiam yang malas-malasan menjemput sumpit, tiba-tiba ia mendengar suara luar biasa. In Kiam menoleh, ia lihat ada tiga orang tamu masuk ke dalam rumah makan. Mereka berpakaian luar biasa, tubuh mereka ada yang gemuk dan pendek, ada juga yang jangkung dan kurus, ln Kiam sangat tertarik pada mereka.

Pakaian tamu-tamu itu seperti seragam, sama modelnya, sama juga bahannya. Pakaian mereka berwarna dan berkilau terkena sinar matahari. Pada pinggang mereka masing-masing tersandang sebilah pedang, sarung pedang mereka bertabur mutiara dan tampak indah sekali. Mereka berjalan masuk dengan sikap angkuh. Ini sangat menarik perhatian semua tamu yang ada di situ.

Jongos yang bicara dengan lu Kiam tadi agak jerih, tapi terpaksa ia harus menyambut ketiga tamu itu. Jelas tiga tamu itu bukan saja aneh pakaiannya, tapi juga cara mereka bicara. Kata-katanya sulit dimengerti. Setelah pesanan makanan mereka siap. tampak ketiganya makan dengan lahap sekali.

Sikap mereka acuh tak acuh. tak menghiraukan tamu-tamu yang lain.

In Kiam sudah berpengalaman, telah banyak melakukan pengembaraan. Bersama puteranya ia mengawasi ketiga tamu itu. Bisakah ia menerka siapa mereka in. Tiba-tiba salah seorang tamu itu berkata dengan nyaring. Tapi kata-katanya sulit dimengerti hanya tertangkap sepotong-sepotong, ia menyebut ilmu silat yang lihay. setan dan sebagainya.

Semua orang keheranan hanya In Kiam yang sedikit mengerti, lalu berkata pada puteranya. "Mereka ini orang- orang Hay-lam (Hai-nan). Mereka bilans mereka telah bertemu pemuda gagah, untung mereka tahu gelagat, jika tidak pasti pedang mereka sudah terbang entah ke mana. Kelihatan mereka ini lihay dan entah siapa pemuda yang gagah itu "

Seorang temannya memperingatkan agar orang yang bicara tutup mulut karena banyak orang.

"Apa maksudnya Ayah''" tanya Tiong Teng ingin tahu.

"Dia bilang di tempat ini banyak mata dan telinga, ia minta agar kawannya tadi sedikit berhati-hati." kata In Kiam.

Tiong Teng mengangguk. Tak lama orang yang ketiga ikut bicara, ia menyebut-nyebut nama Tiang Keng hingga In Kiam kaget dan gembira saat mendengar bahwa pemuda gagah itu To Tiang Keng.

"Anakku, pemuda yang mereka temui itu ternyata Tiang Keng." kata In Kiam pada puteranya. "Entah di mana dia sekarang'.'"

Tak lama orang pertama bicara lagi. tapi Tiong Teng tak mengerti. Ia akan bertanya lagi pada ayahnya, tapi sang ayah malah bangun dari kursinya. Setelah meletakkan uang perak di meja. ia berkata pada puteranya.

"Mari kita pergi!" kata In Kiam. Mereka berdua berjalan keluar dari rumah makan tersebut.

Sekalipun heran dan penasaran terpaksa Tiong Teng mengikuti ayahnya pergi. In Kiam berjalan cepat. Di jalan raya saat menemukan kereta lewat, mereka hentikan, lalu In Kiam dan Tiong Teng naik .kereta itu. In Kiam meminta agar kusir segera menjalankan keretanya.

"Mau ke mana Tuan?" tanya si kusir heran.

In Kiam menyelipkan uang perak ke tangan si kusir sambil berkata. "Ke Thian-bak-san!"

Mendengar kata-kata ayahnya. Tiong Teng heran. Dia juga melihat wajah ayahnya muram. "Apa kata ketiga orang itu?" kata Tiong Teng. "Mengapa kelihatannya Ayah cemas?"

In Kiam menghela nafas panjang. "Tiang Keng telah masuk ke dalam sarang harimau." jawab ayahnya. "Siapa tahu ia dalam bahaya! Ayahnya baik. aku berhutang budi kepadany a. maka itu aku harus melindungi puteranya..."

Tiong Teng kaget dan heran, ia mengerutkan alisnya.

Kereta dilarikan dengan cepat, suara roda kereta serta derap kaki kuda tedengar sangat riuh. Tiong Teng heran dan bingung, tapi ia tak mau bertanya pada ayahnya. Karena kesal ia memandang keluar kereta lewat jendela. Tiba-tiba Tiong Teng berkata penuh keheranan.

"Pada siang hari bolong begini, mengapa banyak orang yang biasa berjalan malam berkeliaran di tempat ini?" kata Tiong Teng.

Ketika itu In Kiam menyaksikan orang-orang berpakaian serba hitam berjalan di tepi jalan, mulut mereka bungkam, tapi wajah mereka aneh sekali.

"Pasti mereka anggota sebuah partai persilatan." pikir In Kiam.

Karena kereta dilarikan dengan cepat rombongan orang berpakaian hitam itu sudah mereka lewati. Ketika di perhatian di tengah rombongan orang berpakaian serba hitam itu. tampak ada seorang yang rebah di atas sebuah gotongan.

Orang yang rebah itu kurus juga berpakaian hitam. In Kiam memperhatikan orang yang rebah di atas gotongan, saat muka orang itu terlihat jelas oleh In Kiam. jago tua itu kaget, tanpa merasa ia berseru, "Kiauw Cian!"

In Kiam menyingkap tenda kereta dan melompat turun. Melihat ayahnya lompat dari kereta yang sedang berjalan Tiong Teng kaget.

"Tahan!" kata Tiong Teng pada kusir kereta. Sebelum kereta berhenti dengan sempurna. Tiong Teng pun sudah melompat turun menyusul ayahnya.

ln Kiam berlari cepat menyusul orang yang sedang menggotong Kiauw Cian. saat sudah dekat ia jambret salah seorang dari orang berpakaian serba hitam itu.

"Hai. sahabat, kau mau apa?" tanya orang yang ditarik bajunya itu.

"Siapa sahabatmu?" bentak In Kiam dengan bengis.

Ia lihat Kiauw Cian yang ada di atas gotongan rebah tak berdaya, wajahnya pucat sedang tubuhnya diam saja.

Sekalipun orang yang ditarik oleh In Kiam ini bertubuh tinggi besar, namun ditarik secara mendadak ia kaget hingga jatuh terlentang. Orang ini menjerit kaget, suaranya terdengar oleh kawan-kawannya. Dalam sekejap rombongan ini berhenti, semua orang berpaling ke arah suara itu. Mereka langsung mengawasi ke arah In Kiam yang mereka tak kenal.

Orang yang jatuh itu buru-buru bangun, karena kesal ia langsung menonjok ke arah In Kiam. tapi saat tangannya menyerang, ia mendengar suara bentakan.

"Tikus! Beraninya kau!" bentak orang itu.

Tahu-tahu tubuh penyerang In Kiam itu merasakan dadanya kesemutan, ia langsung kaku karena sebuah totokan. Itulah serangan In Tiong Teng untuk menyelamatkan ayahnya dari serangan lawan. Tapi dalam sekejap Tiong Keng sudah langsung terkepung oleh orang-orang berpakaian serba hitam itu.

"Tiong Teng!" kata In Kiam. "Kau lihat bagaimana keadaan Kiauw Cian Toa-ko!"

Sesudah itu In Kiam mengawasi pada semua pengepungma.

"Kalian murid siapa?" kata ln Kiam dengan suara nyaring. Puluhan orang berpakaian hitam itu kaget, telinga mereka mendengung karena kerasnya teguran In Kiam itu. Namun mereka tetap diam dan mengepung In Kiam dan Tiong Teng.

Dengan bengis In Kiam mengavv'asi orang-orang itu. Ia tampak gagah. Sekali pun ia sudah mundur dari Dunia Persilatan, namun ln Kiam tak lupa berlatih ilmu silat. Melihat semua orang itu diam, In Kiam tertawa.

Tiba-tiba dari rombongan orang berpakaian serba hitam itu muncul seorang yang maju ke depan.

"Kalian murid siapa?" tanya In Kiam lagi. "Apa kau tak kenal padaku?"

Tapi semua orang itu diam saja. hingga In Kiam berkata lagi.

"Bagaimana Kiauw Cian sampai terluka dan siapa yang melukainya?" tanya In Kiam. "Ayo bicara atau hm!"

In Kiam diam sambil mengawasi dengan tajam. Ia pikir ia bicara terlalu keras.

Kelihatan orang-orang itu tidak takut pada In Kiam. Orang yang tadi maju berdiri tegak, kemudian ia rangkapkan kedua tangannya memberi hormat, lalu berkata dengan suara nyaring.

"Aku yang muda bernama Tong Gie." kata orang itu. "She (marga) dan nama besar Loo-cian-pwee tak berani aku menyebutkannya. Tapi aku ingin bertanya apa hubungan Loo- cian-pwee dengan Kiauw Cian?"

Alis In Kiam berdiri.

"Dia menganggap aku sahabat ayahnya," kata In Kiam. "Maka aku pun menganggap dia keponakanku. Aku lihat dia terluka parah..”

Sebelum meneruskan kata-katanya ln Kiam melengak. "Bagaimana kau tahu tentang diriku?" kata In Kiam. "Nama ayah dan anak keluarga In sangat termasyur di Bu-

ouw." kata Tong Gie menjelaskan. "Aku yang masih muda saat

melihat Loo-cian-pwee berdua, langsung mengenalinya!" "Hm!" In Kiam memperdengarkan suara dari hidungnya. "Kau murid siapa dan apa she dan namamu?" kata ln Kiam.

"Dasar orang tua..."' pikir Tong Gie. "Aku baru menyebutkan namaku, dia sudah lupa lagi!"

Tapi Tong Gie dengan sikap hormat menjawab pertanyaan ln Kiam.

"Namaku Tong Gie. murid Keluarga Tong dari tanah Siok!" kata Tong Gie merendah.

In Kiam sedikit kaget dan heran.

"Kau dari Keluarga Tong. jadi kau murid dari Tong Sain Hoan?" kata ln Kiam. "Tapi seperti yang kuketahui antara Kiauw Cian dan pihak Keluarga Tong rasanya tidak ada masalah. Kenapa ia terluka di tangan kalian?"

Tong Gie menunduk ia berpikir sejenak.

"Kami tahu Loo-cian-pwee seorang yang mulia dan jujur, hingga menganggap orang lain pun seperti Loo-cian-pwee juga. Tapi aku yang muda mohon maaf. dalam hal Kiauw Cian rasanya Loo-cian-pwee kurang mengetahui tentang sifat dan kelakuannya di luaran "

Kelihatan In Kiam kurang senang, tapi ia menahan sabar. "Teruskan.. " kata jago tua ini.

Tong Gie diam sejenak lalu meneruskan kata-katanya.

"Jika bukan Loo-cian-pwee yang bertanya, aku tak akan bicara terus-terang." kata Tong Gie merendah. "Karena Loo- cian-pwee yang bertanya, baiklah aku akan berterus terang.. Alis In Kiam bangun. "Apa \ang terjadi sebenarnya?" tanya ln Kiam.

"Sebenarnya ia bukan terluka oleh kami." kata Tong Gie merendah. "Coba Loo-cian-pwee periksa sendiri lukanya, apa mungkin aku bisa melukai dia dengan cara demikian?"

"Kalau begitu siapa yang melukainya?" tanya ln Kiam hilang sabarnya.

Tong Gie menarik nafas sambil menengadah ke langit. Saat itu sudah tengah hari. sang surya sedang panas-panasnya.

"Orang itu bergelar Thay-yang Kun-cu!" kata Tong Gie. In Kiam tercengang mendengar nama itu disebutkan.

"Thay-yang Kun-cu!" kata In Kiam mengulang ucapan Tong Gie. "Apa benar ada orang yang bergelar demikian?"

Ia belum pernah mendengar nama itu tak heran ia jadi tercengang bukan main.

"Dia masih muda dan luar biasa." kata Tong Gie. "Hatinya mulia, sungguh tepat gelarnya itu karena tak ada orang Rimba Persilatan yang layak memakainya!"

"She apa dan siapa namanya?" kata In Kiam.

"Dia she To, namanya " tapi sebelum kata-katanya

selesai In Kiam sudah menyelak. "Tiang Keng!" kata In Kiam.

"Benar sekali. Loo-cian-pwee." kata Tong Gie. "Apa Loo- cian-pwee kenal dengan dia?"

To-pie Sin-kiam ln Kiam melengak. dia tertawa terbahak- bahak, tampak ia girang bukan main.

"Thay-yang To Tiang Keng!" kata ln Kiam sambil tertawa.

0oo0