Dendam Asmara BAB 41. BU KIN TAY-SU DISELAMATKAN OLEH TIANG KENG

 
BAB 41. BU KIN TAY-SU DISELAMATKAN OLEH TIANG KENG

Mereka meneruskan perjalanan hingga mereka tiba di sebuah lembah. Di situ terdapat jalan cukup panjang, jauhnya belasan tombak. Sekarang mereka terhadang oleh hutan lebat. Di sebuah pohon terlihat sebuah papan bertulisan "Tee- jie-kwan" atau kota yang kedua.

Segera Un Kin masuk ke dalam hutan. Tiang Keng pun mengikutinya, anak muda ini terus pasang mata dengan jeli. Ia lihat beberapa gubuk yang seolah tiangnya terbuat dari pepohonan dan dibangun indah sekali. Dengan demikian orang jadi betah tinggal di hutan itu. Tiang Keng kagum dia menghela nafas. Ia lihat setiap gubuk dipasangi tulisan berbunyi . Tempat untuk merawat orang yang terluka.

"Ah. sungguh sempurna rencana Un Jie Giok sampai demikian telitinya!" pikir Tiang Keng.

Tiga nona berbaju merah anak buah Un Kin berjalan di belakang Tiang Keng. mereka sering memperhatikan Tiang Keng, terkadang mereka saling pandang dengan sesama temannya.

Di tengah rimba terdapat sebuah tempat terbuka yang tanahnya rata. Pasti tempat itu sengaja dibuat demikian. Pohon kayu yang besar-besar, kulitnya sudah dibersihkan, dan diletakkan di berbagai tempat hingga balok-balok itu jadi berfungsi sebagai tempat duduk. Masih terdapat sebuah lapangan yang di tengahnya terdapat banyak bangku panjang. Di situ terdapat empat lingkaran terkurung oleh balok-balok besar.

Kalangan atau lapangan pertama tak karuan penuh batu yang tidak teratur. Di situ terdapat tulisan . Loan-sek-tin (Barisan batu), yang kedua penuh pasir dan ditulisi Houw-see- tin (Barisan pasir), sedang tempat yang ketiga terdapat delapan puluh satu patok kayu dan diberi nama Bwee-hoa- chung (Barisan patok kayu bunga Bwee). Patok kayu itu sangat terkenal di kalangan Siauw-lim-pay. Lapangan yang keempat diberi nama Lo-han-hio (Patok ikatan hio), seikat- dcmi-seikat hio didirikan, tapi di antara ikatan hio sudah terlihat ada yang patah-patah.

Menyaksikan keadaan tempat itu Tiang Keng tertawa dingin.

"Pasti Bu Kin Tay-su tadi bertarung di tempat ini," pikir si anak muda.

Kemudian Tiang Keng memperhatikan ke sekitarnya. "Ah. tak heran jika Un Jie Giok bersusah payah

membangun tempat merawat orang yang terluka. tempat ini

memang menyeramkan dan masuk akal kalau dia menyiapkan tempat itu. Setiap orang yang bertarung di atas lapangan itu. lalu siapa yang bisa menjamin mereka tidak akan terluka?" pikir Tiang Keng.

Tiang Keng berpikir sambil berjalan, ia sudah melewati Houw-see-tin dan Lo-han-hio. Tubuh Tiang Keng bergerak gesit dan ringan. Dengan tak mendapat rintangan mereka memasuk hutan, ia mengikuti nona Un. Sedang di belakang dia mengikuti para nona pelayan berbaju serba merah. Mereka jelas keheranan, sambil mengawasi bagian belakang Tiang Keng, tiba-tiba ketiga nona itu tersenyum.

Sesudah berjalan sekitar belasan tombak. Tiang Keng tersentak kaget. Un Kin menarik nafas, perlahan lalu melirik ke arah Tiang Keng.

"Itu semua ciptaan Sin-touw Kiauw Cian." kata si nona Kiranya yang mengherankan Tiang Keng adalah dua baris

peti mati terbuat dari kayu pek-yang dan diatur rapi sekali di kedua tepi jalan. Jumlah peti mati entah berapa, sebab tak terlihat jelas. Di jalan yang sempit dan berbahaya itu. setiap hati orang yang melihatnya pasti tidak akan tenteram.

Tiang Keng maju terus dengan cepat.

"Hm!" dia mengeluarkan suara di hidung. Dia kelihatan sengit

la pikir, jika ia bisa bertemu dengan Kiauw Cian di tempat itu, dengan tak banyak bicara lagi ia akan menghajar orang she Kiauw itu.

Jarak jalan jauhnya sekitar satu lie dan saat itu angin berhembus terasa dingin sekali. Suatu saat mereka tiba di sebuah ujung jalan, di sini mereka menemukan sebuah gapura bertulisan Tee-sha-kvvan (Kota yang ketiga). Di tanah tegalan ini berdiri empat buah panggung. Dari belakang panggung itu terdengar suara berisik, suara orang saling membentak ramai sekali.

Tiang Keng dan Un Kin mempercepat larinya. Tiba di depan panggung mereka langsung melompat naik, maksudnya untuk melihat ke arah suara bentakan-bentakan itu. Tinggi panggung sekitar tiga tombak, dengan demikian mereka bisa melihat segenap penjuru dengan leluasa sekali.

Di tengah empat buah panggung itu digelar pasir rata sekali, di sana ditancapkan golok-golok yang tajamnya menghadap ke atas Karena sudah diasah golok-golok itu berkilauan ketika terkena cahaya. Di kin dan kanan panggung terletak para-para senjata, di sana tergantung golok pendek yang terikat dengan rantai, namun kelihatan berat sekali dan modelnya lain daripada yang lain. Semua rantai yang dipakai menggantung golok ada bandulnya. Bandul inilah yang terus berbunyi saat angin bertiup kencang.

Tak lama Tiang Keng melihat dua sosok tubuh manusia yang bergerak-gerak. Demikian cepatnya hingga mereka bagai bayangan. Dari mulut mereka terdengar suara bentakan yang tak henti-hentinya.

Ketika Tiang Keng mengawasi ke arah lui-tay, ia menyaksikan belasan orang sedang duduk menonton. Tiang Keng mengira mereka adalah jago-jago dari Rimba Persilatan yang terdiri dari golongan tua maupun muda. Banyak yang rambutnya sudah beruban, ada yang wajahnya penuh dengan bewok, ada imam yang berkonde tinggi. Pakaian mereka pun beraneka warna, wajahnya tampak garang.

Tiang Keng mengawasi ke arah mereka, sebaliknya mereka pun mengawasinya, tapi semuanya tetap duduk tak ada yang bergerak atau bersuara.

Tiang Keng dan Un Kin keduanya melompat ke atas panggung. Mereka berdiri berendeng. Munculnya sepasang anak muda ini telah membuat orang-orang mengawasi, tapi mereka tetap diam. Mungkin mereka menganggap Tiang Keng termasuk sahabat mereka juga. Diam-diam ada lima orang yang kemudian bergerak, setelah mereka mengenali siapa anak muda tersebut. Mereka berlima adalah Pay Kiam Pian Too dan Hay-lam Sam Kiam. orang yang kemarin pernah bertarung dengan si anak muda.

Sesudah mengawasi sejenak Un Kin melompat turun, ujung kakinya menginjak ujung golok. Sinar matahari menyinari wajahnya yang cantik, anginpun bertiup perlahan. Rambut si nona tertiup angin begitu pun pakaiannya. Menyaksikan kegesitan dan ringannya tubuh Un Kin, Tiang Keng kagum. Sekarang orang banyak segera bangkit untuk memberi hormat.

"Pagi-pagi sekali Nona sudah datang!" kata mereka.

Un Kin masih muda, ia murid satu-satunya dari Un Jie Giok.

Dia memiliki kepandaian sangat tinggi, tak heran kalau para jago silat itu hormat kepadanya. Un Kin mengambil sikap ramah, ia membalas hormat itu. sambil tersenyum ia berkata manis.

"Selamat pagi para Loo-cian-pwec sekalian!" kata Un Kin. Kemudian Un Kin menoleh ke arah rombongan Ngo Hong

Sin Cu Tin. la saksikan dua orang itu sedang bergerak dan

gerakannya gesit sekali. Mereka adalah To-su Tauw-to dan Cian Lie Beng To. Un Kin tertawa dingin sambil berkata. "Kenapa Bu Kin Tay-su berkelahi?"

Ucapan Un Kin tak dijawab Seseorang terlihat melompat ke arah barisan golok. Orang itu bertubuh kurus jangkung.

Kelihatannya ia lihay dalam ilmu meringankan tubuh.

Begitu orang itu sampai Un kin langsung menyapa. "Siauw Tay-hiap." kata si nona sambil melirik. "Apa kau

tahu mengapa mereka berkelahi?"

Sebelum menjawab Bu-eng lo-sit tertawa nyaring. "Perkelahian ini dikarenakan kami sudah lama mengagumi

ilmu silat kaum Siauw-lim-sie!" jawab Bu-eng Lo-sat "Itu sebabnya kami mohon petuinjuk padanya dan tak punya maksud lain!'

"O begitu?" kata si nona. namun suaranya sedikit mengejek. Setelah U Kin tertawa dingin, ia melanjutkan katanya. "Ketahui olehmu. Kim Too Hoan Ciang dan Ngo Bong Sin Cu bukan tempat orang untuk mengadu kepandaian!" kata Un Kin.

Mendengar teguran itu Siauw Tiat Hong melengak. Tak lama kemudian ia tertawa.

"Jika orang bisa berhati-hati, aku kira tak ada bahayanya!" kata Siauw Tiat Hong.

Baru saja Tiat Hong tutup mulut, dari tengah lapang pertandingan terdengar suara nyaring hingga semua orang terpaksa menoleh ke arah suara di lapangan pertandingan.

Melihat Un Kin datang, semangat pendeta dari Siauw-lim- sie itu bangkit secara tiba-tiba. Ia segera menyerang dengan hebat dan sebutir Ngo-bong-sin-cu melayang ke arah lawannya.

Gu It San bertubuh bungkuk, ketika ia mendek untuk menghindar dari serangan Ngo Bong Sin Cu, dengan demikian ia berhasil membebaskan diri dari serangan itu. Tiba-tiba ia membalas, ia sampok sebutir mutiara yang lain.

To-su Tauw-to. atau si pendeta Siauw-lim-sie, menyerang sambil berseru lagi. Ternyata dua senjata rahasianya beradu di tengah jalan, suaranya nyaring sekali. Celaka baginya tangan baju si pendeta tergores sin-cu yang lainnya. Mau tak mau kaget juga dia. tubuhnya jadi limbung.

Menyaksikan keadaan lawan sedang limbung, Cian Beng To girang sekali. Dia tertawa, tubuhnya melompat mundur sebanyak tiga langkah ke belakang, la tidak ingin menyerah, tapi malah pasang kuda-kuda dan menyerang dengan kedua tangannya. Dia melontarkan empat buah senjata rahasia biji Ngo Bong Sin-cu. Sekalipun serangan itu dilakukan bersamaan, namun sasarannya berbeda-beda.

Melihat lawan menyerang dengan senjata rahasianya, si pendeta Siauw-lim-sie jadi putus asa. Ia sebenarnya gagah, tapi karena sudah letih sekali dan harus bertarung secara beruntun, tak heran jika kegesitannya jadi agak berkurang. Saat ia diserang, ia belum siap pasang kuda-kuda. Saat itu tubuhnya masih agak limbung. Ia kaget dan menghela nafas. Dia yakin kali ini ia bakal celaka dalam barisan Ngo Bong Sin Cu Tin..

Saat pendeta yang sudah putus asa dan menerima nasib, mendadak telinganya mendengar suara senjata rahasia yang nyaring beberapa kali. disusul oleh jeritan yang menyayat hati dari Gu It San. Ketika itu ia merasakan lengannya ada yang memegang, tubuhnya mundur setombak lebih jauhnya, baru ia bisa berdiri tegak, la membuka matanya, sebab tadi ia pejamkan untuk menerima nasib. Ia lihat matahari terang benderang. Memang Ngo Hong Sin Cu masih menyambar- nyambar simpang-siur. namun ia sudah berada jauh di luar kalangan, di tempat yang aman....

Ternyata ia ditolong oleh Tiang Keng.

0oo0