Dendam Asmara BAB 40. TIANG KENG DAN UN KIN MENEROBOS SARANG UN JIE GIOK

BAB 40. TIANG KENG DAN UN KIN MENEROBOS SARANG UN JIE GIOK

Tabiat Tiang Keng keras. Memang, menurut suara hatinya ia juga lebih suka memilih jalan yang dikatakan sulit seolah mendaki langit. Ia anggap, ia cocok dengan perasaan si nona yang memilih jalan yang sulit itu. Dengan demikian dengan cepat mereka telah melewati jalan sejauh belasan tombak. Ia lihat jalan makin sempit dan benar-benar sulit dilalui. Tapi bagi mereka itu bukan suatu rintangan.

"'Jika jalan ini dianggap sulit seperti memanjat langit, maka di dunia ini sungguh banyak jalan yang sulit!" pikir Tiang Keng.

Sambil berpikir Tiang Keng terus berlari-lari mendaki. Lewat belasan tombak kemudian ia jadi heran. Jalan itu bukan makin sulit, malah ia menemukan jalan itu rata, sekalipun orang tak bisa silatpun mereka bisa berjalan di tempat ini dengan leluasa! Saking heran Tiang Keng jadi curiga. Lalu ia berkata pada si nona.

"Jika jalan ini disebut sulit, lalu bagaimana dengan jalan yang lainnya itu? Barangkali jalan itu empuknya seperti ketika kita berjalan di atas kapas?" kata Tiang Keng. Un Kin tertawa.

"Kembali tebakanmu salah!" kata si nona.

Tiang Keng keheranan, tapi hanya sebentar, kemudian sadar.

"Ah! Kalau begitu ini akal Un Jie Giok, bukan?" kata Tiang Keng. "Jalan yang bagus sukar dilalui, jalan yang jelek mudah dilewati. Bukankah dengan demikian banyak orang yang terjebak dan terperdaya. Sembilan dari sepuluh jago silat jadi korbannya!"

Un Kin mengangguk.

"Kali ini kau menebaknya tepat sekali!" kata si nona. "Jalan yang bagus dan rata serta tak mencurigakan, tapi sebenarnya banyak perangkapnya. Jangankan orang yang kepandaian ilmu meringankan tubuhnya rendah, sekalipun yang lihay, jika dia lalai, dia pasti terjebak! Apalagi di jalan yang disebut seratus langkah pasir. Atau sungai yang diberi nama sepuluh tombak sungai beracun. Sedikit saja orang kurang hati-hati, jiwanya bisa melayang."

Sesudah itu Un Kin diam sebentar, baru ia meneruskan lagi kata-katanya.

"Kebanyakan orang yang datang ke mari. mereka ingin merampas mustika." kata si nona. "Mereka kebanyakan bukan orang lihay, maka mereka tak mau membuang tenaga, lalu memilih jalan yang bagus. Hingga dengan demikian mereka terjebak, bukan saja tak berhasil mengambil mustika, malah mereka pun binasa! Sedang yang lihay. mereka memilih jalan yang sukar. Berbagai rintangan yang ringan bukan halangan baginya. Hingga ia bisa mencapai tujuannya tanpa rintangan!"

Tiang Keng menghela nafas.

"Un Jie Giok benar-benar lihay!" pikir Tiang Keng. "Dia sungguh berbahaya! Ada pepatah yang mengatakan, barang siapa berani mendekati gin-cu (pewarna) dia akan merah, barang siapa mendekati bak (tinta), maka ia akan hitam. Itu memang benar. Demikian dengan Un Kin yang selama ini dididik dengan keras dan kasih sayang dari Jie Giok. maka Un Kin jadi berhati keras, agak kejam. Ah. tapi mudah-mudahan saja setelah dia selalu dekat denganku, kemudian ia bisa...”

Mendadak Tiang Keng berhenti melamun, ia berpikir lamunannya terlalu jauh. Lalu ia melangkah ke depan, sampai akhirnya mereka sampai di ujungjalan. Di sini mereka menemukan sebuah gapura lain, di tempat ini tak ada lian. hanya ada tiga buah huruf besar berbunyi ; Tee It Kwan artinya kota nomor satu.

Un Kin berdiri di bawah Pay-louw (gapura), dan mengawasi Tiang Keng sambil tersenyum. Wajah Tiang Keng bersemu dadu.

"Eh kau sudah sampai lebih dulu." kata Tiang Keng. Un Kin tertawa.

"Aku lihat kau sedang berpikir, maka kau kulewati," kata si nona. "Entah apa yang sedang kau pikirkan?" Ia mengawasi wajah Tiang Keng, ia lihat wajah Tiang Keng merah dadu. mendadak ia sendiri lalu menunduk.

Dalam waktu yang singkat kedua muda-mudi itu telah mendapat perasaan yang luar biasa hingga mereka lupa kalau mereka pernah jadi lawan satu sama lain. Kesan baik yang timbul di antara mereka membuat mereka berdua tersenyum.

"Di sini seluruhnya terdapat tiga buah gapura." kata nona Un. "Di gapura pertama ini ada tiga buah lui-tay (panggung tempat bertanding). Pada gapura nomor dua terdapat Lo-han- hio dan Bwee-hoa-cung (Patok bunga bwee). Pada gapura yang ketiga disiapkan bagi kaum Lay-kee (ilmu tenaga dalam) untuk mereka saling menguji kepandaiannya. Masing-masing seperti Kim-too-hoan-ciang. Ngo-bong-sin-cu. Kek-san-pa-gu. Sesudah melewati ketiga gapura itu baru..." la berhenti bicara sejenak, wajahnya jadi merah, tapi segera ia bicara lagi, "Tapi sekarang semua itu sudah tak kuhiraukan lagi!"

Tiang Keng menghela nafas.

"Untuk semua ini entah berapa biaya yang dikeluarkan, belum lagi tenaga Un Jie Giok," kata Tiang Keng. "Sungguh tabiatnya aneh sekali! Semua itu dia atur untuk mencelakakan orang lain, juga mencelakakan diri sendiri. Dari In Hoan aku dengar, setiap perangkap sangat berbahaya, sedang orang yang mengatur lui-taynya semua manusia iblis. Lalu di mana mereka sekarang?"

"Para undangan Jie Giok sebagian belum sampai, yang sebagian sudah ada di dalam. Mungkin sekarang mereka sedang tidur." kata Un Kin. Sebelum kata-kata Un Kin selesai diucapkan, di balik Pay- louw terdengar suara panggilan.

"Nona kami di sini!"

Mau tak mau Tiang Keng dan Un Kin terkejut, keduanya langsung menoleh dengan cepat. Dari atas Iauw-teng bambu di samping pay-louw, melompat tiga orang, mereka melayang bagaikan burung walet dan terlihat tiga nona yang mengenakan pakaian serba merah yang ringkas.

Mula-mula mereka mengawasi ke arah Un Kin. Ketika melihat Tiang Keng mereka jadi heran, mereka berdiri dan sangat tercengang. Mungkin sedikit pun mereka tak mengira nona mereka akan berada bersama-sama dengan Tiang Keng.

Ketiga nona itu adalah nona-nona yang mengantarkan undangan ke kota Lim-an. Setelah mengawasi sebentar, mereka langsung mau bicara.

Tapi didahului oleh Un Kin. "Ada apa?" kata si nona.

Ketiga nona itu melengak, mereka saling mengawasi heran.

"Hwee-shio dari Siauw-lim-pay ," kata nona yang paling tua. "Bentrok dengan Cian Lie Beng To dan Bu Eng Lo-sat, entah apa sebabnya, tadi pagi-pagi mereka memaksa si hwee- shio bertarung. "

Alis Un Kin berkerut.

"Sekarang keadaannya bagaimana?" tanya si nona.

"Tadi kami lihat hwee-shio itu sedang menghadapi Bu Eng Lo-sat. mereka bertarung di atas patok Lo-han-hio, tempat yang menjadi gapura kedua." sahut pelayan itu. "Sekalipun bertubuh besar dan berat hwee-shio itu bergerak sangat gesit, tubuhnya ringan, tapi saat ia akan mendapat kemenangan, mendadak Cian Lie Beng To menghentikan pertarungan. Dia bilang hasil pertandingan itu seri dan tak perlu diteruskan. Lalu Bu Eng Lo-sat digantikan oleh Tiat-kiam Sun Yang yang akhirnya imam dan hwee-shio itu bertarung hebat di atas patok Bwee-hoa-cung!"

Un Kin tertawa dingin.

"Itu siasat pertandingan berganti-ganti bagai roda kereta!" kata si nona kesal.

"Sungguh tak tahu malu!" kata Tiang Keng sengit. "Semula kami kira mereka sedang bergurau," kata nona

pelayan itu. "Tapi makin lama mereka bertarung makin hebat,

tak ubahnya mereka sedang mengadu jiwa! Kami bingung dan takut, kami tak bisa berbuat apa-apa, lalu kami lari ke dalam untuk melapor tapi ternyata Couw-koh tidak ada di tempat.

Kau juga tak ada. Karena itu kami jadi bingung..." Tiang Keng dan Un Kin saling mengawasi.

"Un Jie Giok tak ada? Ke mana dia?"

Begitu yang ada di benak mereka berdua. Wajah Un Kin jadi muram.

"Teruskan ceritamu!" kata si nona.

Ketiga nona itu jadi ketakutan sekali, belum pernah mereka melihat wajah Un Kin begitu bengis. Dua nona langsung tunduk, hanya yang tertua langsung bicara lagi.

"Ketika kami lari keluar, mereka sudah bertarung di tempat lain, di gerbang ketiga. Di sana seorang yang bertubuh tinggi besar yang disebut Ngo Teng Sin Ciang menghadapi si hwee- shio dalam barisan Kim-too-hoan-ciang. Si hwee-shio sudah kelelahan, tubuhnya sudah mandi keringat, nafasnya memburu. Tapi kakinya masih tetap gesit dan tenaganya sangat kuat. Ngo Teng Sin Ciang sangat tangguh, mereka berimbang.."

Tiang Keng menghela nafas. "Bukan kebetulan Siauw-lim-pay menjadi jago Rimba Persilatan." kata Tiang Keng, kagum. "Padahal To-su Tauw-to hanya ahli tingkat dua. Tapi tenaga dan kepandaiannya harus dikagumi. Maka tak sembarang orang bisa mengalahkannya!"

Tiang Keng berkata begitu karena ia tak mengetahui si hwee-shio seorang pria sejati. Dia juga telah meyakinkan ilmu Cap-sha Tay-po Heng-lian dari ilmu Tong Cu Kang untuk beberapa puluh tahun tanpa henti.

"Setahu kami mereka yang berjaga di gapura ketiga lihay semuanya. Barang siapa kurang waspada, ia pasti celaka!

Maka siapapun yang terluka, maka lukanya berbahaya sekali. Mereka semua orang undangan Couw-koh dan nona sendiri. Kami tak berdaya mencegah pertarungan itu. Akhirnya kami berpencar, yang lain mencari Couw-koh dan kami mencari nona. Ternyata kita bertemu di sini!" kata si pelayan paling tua.

Sambil berkata nona-nona itu tetap mengawasi ke arah Tiang Keng. mereka jadi heran kenapa musuh mereka ada bersama si nona.

"Apa benar Couw-koh tak ada di kamar Lek-tiok-hian?" tanya Un Kin.

"Benar tidak ada!" kata si pelayan. "Kami sudah... " "Apa kau sudah memeriksanya dengan benar?" desak si

nona.

"Kami sudah mencarinya dengan teliti sekali," sahut si pelayan.

"Oh!" keluh Un Kin. "Lalu apakah sekarang Bu Kin Tay-su masih bertarung?"

"Saat kami meninggalkannya, mereka sedang bertarung hebat sekali." jawab si pelayan.

Kembali dia melirik ke arah Tiang Keng. Tiang Keng menyaksikan tingkah nona pelayan itu, mau tak mau wajahnya jadi berubah merah.

Un Kin menarik nafas, ia menoleh ke arah Tiang Keng. "To-su Tauw-to sedang bertarung, kita harus melihatnya,

bukan!" kata si nona pada Tiang Keng. "Benar," kata Tiang Keng.

"Un Kin selama belasan tahun bersama Un Jie Giok, sekalipun cara bicaranya mirip, tapi ia selalu mengakhiri kata- katanya dengan pertanyaan, bukan  Ah sudah mengapa kupikirkan!" pikir Tiang Keng.

Tiang Keng mengawasi ke bagian dalam, selain ranggon masih ada pagar dari bambu, kursi dan meja, berarti tempat itu tempat bersenang-senang. Kelihatan jalan berbatu yang menanjak ke arah bukit. Di sana terdapat tanah datar dan di situlah berdiri tiga buah lui-tay yang terbuat dari kayu pek- yang. Setiap lui-tay lebarnya lima tombak kali tiga tombak. Semua sudah dihias indah sekali seperti panggung untuk penunjukan wayang orang.

"Ah jika setiap lui-tay itu digantungi lian. baru tepat!" kata Tiang Keng.

Un Kin melirik ke arah Tiang Keng.

"Lian macam apa kiranya?" tanya si nona.

"Aku pernah mendengar dongeng tukang cerita," kata Tiang Keng. "Misalnya lian yang berbunyi : dengan kepalan menghajar harimau dari gunung selatan, dengan kaki menendang naga dari utara. Atau lian lainnya: orang gagah nomor satu dari dunia Kang-ouw, jago Rimba Persilatan tanpa lawan. Jika ketiga lui-tay itu tanpa lian jadi kurang pantas.

Si nona tertawa perlahan.

Ketiga nona pelayan itu pun ikut tertawa. Tiang Keng malah menghela nafas.

"Di sini." kata Tiang Keng. "Ternyata dongeng dan kenyataan jauh berbeda sekali! Dalam dongeng banyak yang sedap-sedap, sebaliknya dalam kenyataan banyak kepahitan dan kesedihan. Benar, kan?"

Un Kin mengangguk perlahan.

0oo0