Dendam Asmara BAB 39. TIANG KENG BERSAMA UN KIN MENCARI MUSUH BESARNYA

BAB 39. TIANG KENG BERSAMA UN KIN MENCARI MUSUH BESARNYA

Tiang Keng bangun. Ia awasi si nona, hingga mata mereka bentrok satu sama lain. Tiang Keng diam ketika si nona sudah sampai di ambang pintu. Tiba-tiba Tiang Keng sadar.

"Nona!" Tiang Keng memanggil.

Un Kin merandek menahan langkahnya, ia menoleh. Tiang Keng mengawasi si nona sekian lama.

"Nona. tahukah kau ke mana perginya Un Jie Giok?" kata Tiang Keng.

Si nona menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak tahu." jawab si nona perlahan. Ia menghela nafas. "Tetapi aku yakin aku bakal bisa mencarinya. Aku pasti berhasil... "

Tiang Keng menghampiri si nona.

"Kalau begitu mari kita bersama-sama mencarinya!" kata Tiang Keng.

Nona Un melengak. "Kita?" ia bertanya.

Tiang Keng tidak menjawab, ia menengadah ke langit sambil menarik nafas. "Sebaiknya ketahui olehmu. Ayah dan Ibuku juga binasa di tangan dia!" kata Tiang Keng.

Nona Un kaget.

"Apa?" kata si nona. "Apa katamu?"

"Sepuluh tahun yang lalu di kaki puncak Sie Sin-hong di gunung Hong-san " Sahut si anak muda.

'Oh! Keluh Un Kin. "Oh. aku ingat! Aku ingat di gunung Hong-san.. . Ya ketika itu kau di sana kiranya itu kau!"

Si nona langsung menunduk.

"Maka itu aku bersedia menemanimu." kata Tiang Keng. Pemuda ini tak perlu menjelaskan lebih jauh. karena nona

Un sudah mengetahui duduk persoalannya.

Un Kin mengangkat kepalanya, ia mengawasi ke arah si anak muda dan anak muda itu pun sedang mengawasinya. Lagi-lagi sinar mata mereka beradu.

Tiang Keng memegang tangan Un Kin. dadanya berombak. Nona Un diam tapi dadanya ikut bergerak-gerak.

"Jika aku membantumu menuntut balas, itu artinya aku juga membalas sakit hatiku sendiri," kata Tiang Keng. "Tapi sekarang entah ke mana perginya Un Jie Giok. Tapi kita bakal menemukannya, bukan?"

Muda-mudi ini diam sejenak. Un Kin tak menjawab kata- kata Tiang Keng. Tiang Keng terus menunggu jawaban si nona. Tapi rupanya tak lama mereka sudah jadi seia-sekata. Tak berapa lama mereka keluar dari wihara itu dan berjalan menuju ke Thian-bak-san. Itu adalah sarang Un Jie Giok.

Mereka sadar mereka sedang menempuh bahaya. Bukan karena Un Jie Giok sangat lihay bagi mereka, tapi di atas gunung pun banyak jago-jago silat ternama, undangan Jie Giok. Dengan demikian pasti jago-jago itu akan menghadapi mereka berdua... Sekalipun demikian mereka maju terus pantang menyerah.

Matahari sudah semakin tinggi membuyarkan kabut.

Cahayanya memancar ke segala penjuru. Daun-daun di sekitar gunung tampak hijau.

Tiang Keng berjalan di samping nona Un.

“Musuhmu..." kata si nona. "Kecuali Jie Giok, ada lagi yaitu imam bernama In Hoan. Maka jika kita tak bisa menemukan guruku, kau akan kutemani mencari si imam. Hanya untuk yang bisa kuatur.. "

Un Kin menarik nafas. Ia tak melanjutkan kata-katanya.

Sebenarnya ia putus asa....

Tiang Keng mengangguk.

"Tadi malam mengapa kau bisa segera kembali lagi?"' kata Tiang Keng pada si nona.

Tiang Keng baru ingat pada masalah itu. karena heran si nona bisa kembali demikian cepat. "Apa barang kali In Hoan ada di sekitar tempat ini?" ia berpikir.

"Sebenarnya aku tidak menguntit mereka, tapi kuhadang mereka di tengah jalan. Aku minta agar mereka mengatakan tempat guru mereka!" jawab Un Kin "Ketika itu pikiranku sedang kusut. Aku heran kenapa guruku menyuruh aku menguntit mereka, padahal saat itu bisa saja ia tanyakan pada mereka tempat gurunya. Aku yakin mereka tak berani berbohong. Sekarang aku baru sadar, selain ia ingin menyuruhku pergi, ia juga hendak membunuhmu!"

Tiang Keng mengawasi si nona dengan tajam.

"Jika tadi malam kau tak segera kembali, mungkin. " kata Tiang Keng.. "Mungkin…”

Un Kin tersenyum, ia bisa menebak ke mana maksud kata- kata Tiang Keng itu. "Sekarang aku mengerti, apa artinya pembalasan," kata si nona.

Tiang Keng mengangguk

Mereka terus berjalan, sekarang mereka telah memasuki tempat yang banyak pepohonannya.

"Perubahan suasana ini mungkin akan membuat orang banyak yang putus asa. " kata si nona. Ia pun menghela nafas panjang. "Banyak yang datang dengan suatu maksud, tapi sasaran mereka gagal Ini ada baiknya. mungkin ini

keberuntungan kita. jika tidak…”

Tiang Keng mengangguk. "'Oh. ya! Aku akan menanyakan sesuatu, boleh tidak?" kata Tiang Keng.

”Katakan saja!" kata si nona

Tiang Keng menarik nafas sebelum ia mengajukan pertanyaannya.

"Aku ingin membicarakan orang-orang Koay To Hwee "

kata Tiang Keng. Tapi tiba-tiba ia berkata lagi. "Ah sudahlah, lebih baik aku tak menanyakannya, lagi pula itu sudah berlalu '"

Un Kin tahu maksud pertanyaan Tiang Keng.

"Kau jangan kuatir," jawab si nona. "Mereka itu tidak binasa di tanganku! Mereka juga bukan dibunuh oleh pelayan- pelayanku!"

Tiang Keng bernafas lega.

Memang ia tak berharap si nona akan menjawab. "Mereka terbunuh olehku!" ia tersenyum. Tapi ia tak tahan untuk tak berkata lagi.

"Yang mengherankan, mereka tak tahu siapa yang membunuhnya " kata Tiang Keng.

Un Kin kembali menghela nafas. "Untuk selamanya tak akan bisa kau terka siapa pembunuh mereka itu," kata si nona.

Tiang Keng mengawasi tajam.

"Seandainya aku memberitahumu, pasti kau tak akan percaya," kata si nona lagi "Tapi kelak kau akan tahu sendiri!"

Tiang Keng heran. Sambil berjalan otaknya pun bekerja. "Apa dia Ban Biauw Cin-jin In Hoan?" kata Tiang Keng. Tiang Keng penasaran keingintahuannya sangat keras Nona Un menggeleng kepala.

"Apa beberapa orang murid imam itu?" tanya Tiang Keng lagi.

Kembali Un Kin menggelengkan kepala. Tiang Keng makin keheranan.

'"Aku benar-benar tak bisa menerkanya." kata Tiang Keng. "'Siapa orangnya yang bisa menggunakan senjata rahasia sehebat itu. jika bukan In Hoan dan sebangsanya!"

Un Kin tertawa perlahan.

"Senjata rahasia itu bernama Bu Eng Sin Ciam (Jarum Sakti Tanpa Bayangan)." si nona menjelaskan. "Sebenarnya jarum itu aku yang melepaskannya…”

Mendengar jawaban itu Tiang Keng terperanjat. Mendadak ia menghentikan langkahnya, wajahnya berubah.

"Kau?" kata dia. "Kau"

Un Kin tidak terperanjat oleh pertanyaan itu. Malah ia tersenyum manis.

"Tapi senjata rahasiaku itu tak berbahaya dan tak melukai orang, tetapi malah sebaliknya bisa menolong orang..." Tiang Keng melongo, ia mengawasi nona yang ada di depannya.

"Bisa menolong?" kata Tiang Keng. keheranannya jadi bertambah. "Apa artinya kata-katamu itu?"

"Ceritaku panjang, nanti saja akan kuceritakan perlahan- lahan." kata Un Kin. "Yang penting sekarang kau percaya padaku dan aku tak akan membohongimu!"

Sambil berkata si nona menunduk, wajahnya berubah merah-padam. Tiba-tiba ia menunjuk ke arah depan.

"Lihat di sana!" kata si nona. "Itu pintu gerbang dan itu adalah tempat yang akan dijadikan tempat pertandingan silat itu!"

Tiang Keng mengawasi ke depan.

"Katanya dia tak akan mendustaiku." pikir Tiang Keng.

Tiang Keng melihat sebuah jalan kecil yang menanjak. Dia mengawasi ke gerbang dari daun-daun yang ditunjuk oleh si nona. Gerbang atau kaca-kaca itu tingginya lima tombak dan lebarnya tiga tombak. Di kiri kanan gerbang itu digantung sepasang lian (syair) yang berbunyi "Menengadah melihat langit luas tanpa batas, menunduk mengawasi jago-jago Rimba Persilatan".

Kata-kata itu sungguh temberang.

"Itu pasti tulisan Un Jie Giok!" kata Tiang Keng. "Bukan!" kata Un Kin sambil menggeleng kepala. "Lalu tulisan siapa?" tanya Tiang Keng.

"Pasti kau tidak bakal menyangka siapa penulis lian itu" sahut si nona.

Kembali Tiang Keng keheranan. "Siapakah penulisnya?" tanya Tiang Keng. "Penulis lian itu adalah Sin-tauw Kiauw Cian, si Raja Copet!" sahut Un Kin.

"Apakah dia Sin-tauw Kiauw Cian - si hartawan, yang membawa-bawa lukisan perempuan yang dia puji-puji di mana-mana?" Tiang Keng menegaskan. "Sungguh tak disangka, mengapa ia ada hubungan dengan Un Jie Giok?"

Un Kin tertawa dingin.

"Itu seperti pepatah mengatakan, tahu muka, tak akan mengetahui hatinya!" kata Un Kin. "Baik buruknya hati manusia itu, sukar ditebak. Di kalangan Kang-ouw siapapun mengatakan Kiauw Cian itu orang baik, tapi yang sebenarnya, hm! Sudahlah, aku tahu sekali mengenai dirinya!"

Saat Un Jie Giok memutuskan akan memancing semua jago silat datang ke Thian-bak-san. Jie Giok sudah mengatur semuanya dengan sempurna. Tetapi ia masih membutuhkan orang yang pandai bicara untuk mempropagandakan pancingannya itu. Jie Giok tak ingin memakai orang yang sembarangan. namun ia juga tak bisa bekerja sendiri. Setelah dipikir-pikir, akhirnya Jie Giok mengirim tiga orang utusan untuk memilih calon juru-bicara itu. Setelah orang itu diperoleh, mereka lalu diundang ke atas gunung. Salah seorang dari orang yang terpilih itu adalah Kiauw Cian, sedangkan salah seorang dari teman Kiauw Cian sangat benci kepada Un Jie Giok. Orang itu lalu dibunuh supaya ia tak membocorkan rahasianya. Saat hendak dibunuh ia memaki- maki Un Jie Giok. Sedang yang seorang lagi orangnya pendiam, ia menurut saja, tapi malamnya ia mencoba kabur. Tapi celaka ia kepergok dan dirintangi serta akhirnya dibunuh juga. Sebaliknya si Raja Copet, selain bersedia bekerja sama. ia juga mengajukan bermacam-macam usul. Saat ia turun gunung akan menyiarkan pertemuan para jago silat, ia membawa gambar dan mutiara banyak sekali. Un Kin mengisahkan semua tentang Kiauw Cian pada Tiang Keng, hingga pemuda ini sangat benci dan ingin membunuhnya.

"Orang semacam dia, aku tahu banyak sekali!" kata si nona. "Ada orang yang di kalangan Kang-ouw sangat terkenal, tapi hm. ternyata Nanti sesudah kau ada di dalam, kelak

kau akan menyaksikan sesuatu yang tak pernah terpikir olehmu!"

Tiang Keng menghela nafas, ia mengikuti si nona terus berjalan ke arah gapura. Sesudah berjalan beberapa tombak jauhnya, mereka menemukan jalan bercabang dua, pada setiap jalan terdapat papan kayu pek berisi pemberitahuan. Papan yang satu berbunyi : "Inilah jalan yang benar, silakan Tuan berjalan dari sini". Papan yang lain bertulisan : "Jika lewat dari jalan ini sulitnya seperti mendaki langit"

Setelah membaca tulisan itu Tiang Keng berpikir keras. "Rupanya Un Jie Giok ingin menguji ilmu meringankan

tubuh setiap orang. " pikir Tiang Keng.

Saat Tiang Keng sedang berpikir ternyata Un Kin mengambil jalan yang sulit itu.

"Dia bertabiat keras sekali, pada saat begini pun ia tak ingin menunjukkan padaku, bahwa dia tak sudi menunjukkan kelemahannya. Dia malah mengambil jalan yang sulit! Ah. bukankah akan lebih baik jika ia menghemat tenaga, agar tenaga tersebut cukup untuk menghadapi musuh nanti?" pikir Tiang Keng.

Ketika itu si nona yang sudah berjalan agak jauh ia menoleh ke belakang, tangannya menggapai. Maka tak ayal Tiang Keng pun menyusulnya.

0oo0