Dendam Asmara BAB 36. UN JIE GIOK MELUMPUHKAN DUA MURID IN HOAN

BAB 36. UN JIE GIOK MELUMPUHKAN DUA MURID IN HOAN

Tiang Keng langsung berkelit ke samping. Ia membalikkan tubuhnya lalu mengawasi ke arah datangnya sinar. Ia kaget, di atas meja sudah bercokol seorang perempuan tua, wajahnya buruk sekali, ia mengonde rambutnya dan berpakaian serba merah. Kiranya orang itu Ang-ie Nio-nio Un Jie Giok!

Un Kin juga sudah menoleh dan melihat orang itu. "Suhu!" kata si nona. Nona Un melompat ke depan meja.

Un Kin tak sadar kalau musuh besarnya adalah gurunya

sendiri, tapi si guru menyayangi dirinya seperti menyayangi anaknya sendiri.

To-su Tauw-to pun terperanjat. Tak ia kira si nenek bisa muncul demikan tiba-tiba. Hanya sekejap hatinya tenteram kembali. Ia melompat ke samping, karena tak mau mengawasi perempuan jelek itu lama-lama.

Tiat Tat Jin dan Cio Peng terperanjat juga. mereka diam saja. Mereka berdua keheranan, bagaimana caranya tiba-tiba perempuan jelek itu bisa berada di antara mereka.. Tapi mereka langsung bisa menebak, bahwa perempuan buruk itu Un Jie Giok adanya. Mereka awasi tangan si nyonya yang sedang memegang sebutir mutiara yang menimbulkan sinar dan mengagetkan mereka.

Di lain saat mereka sadar harus segera pergi dari tempat itu. Mereka awasi terus si nyonya jelek itu, hati mereka gentar bukan main. Betapa tajam sinar mata perempuan jelek yang sejak tadi mengawasi mereka itu. Serasa mereka sulit bernafas saat ditatap oleh si nyonya bengis itu.

Un Jie Giok duduk tak bergeming di atas meja, sinar matanya bercahaya, kelihatan wajahnya yang buruk dan bengis. Kedua belah pipinya menonjol bagai sepasang tanduk ular naga yang jahat, sedang hidungnya bengkok bagaikan paruh burung garuda. Ketika ia duduk begitu ia mirip dengan hantu perempuan.

Sesaat keadaan jadi sunyi sekali. Tiat Tat Jin dan Cio Peng tampak jerih bukan main. diam-diam dan perlahan sekali, kaki mereka bergerak mundur, setindak demi setindak. Mereka tak ingin ada orang melihatnya. Tapi tiba-tiba terdengar teriakan..

"Berhenti!" bentak si nyonya.

Suara si nyonya tua bengis dan berwibawa Tat Jin dan Cio Peng berhenti melangkah mendengar suara bentakan itu.

Ketika itu angin yang dingin berhembus masuk, mengenai punggung, tanpa terasa mereka menggigil.

"Kalian berduakah yang lancang naik gunung dan lari kian- ke mari?" tanya si nyonya tua dingin.

Mata kedua anak muda itu celingukan. Punggung mereka terasa semakin dingin. Mereka mirip seekor tikus yang ketakutan melihat kucing yang hendak menerkam mereka.

Suara Un Jie Giok tajam menusuk telinga. Un Kin yang selama ini ikut dengan si nenek pun. ikut ngeri hingga jantungnya berdebar-debar. Apalagi saat ia lihat sinar mata gurunya. Itu sinar mata yang tak penah ia lihat sebelumnya. Sinar mata itu mengandung kemarahan. Ia tak tahu sang guru gusar pada orang lain atau kepadanya.

"Barangkali ia sudah tahu aku yang melepaskan Gim Soan?" pikir si nona.

Saat nona Un sedang khawatir ia mendengar suara tawa menyeramkan dan kata-kata ejekan, "Aku kira dengan berani naik ke atas gunung, nyali kalian besar sekali! Kiranya nyali kalian kecil seperti nyali tikus!"

Wajah Tat Jin dan Cio Peng berubah merah. Sejenak mereka ingin membusungkan dada mereka, tapi entah mengapa keberanian itu tak ada. Mulut mereka saja yang komat-kamit tak keluar suara.

Un Jie Giok seperti menunggu jawaban, ia diam. Akhirnya Tat Jin bisa melegakan hati dan perasaannya.

"Boan-pwee (aku yang rendah), bersama adik seperguruan Cio Peng datang ke mari atas suruhan Guru kami "

Tat Jin berkata begitu karena ia tahu gurunya dengan nyonya jelek ini bersahabat dan saling kenal. Maka itu ia berharap orang akan memandang gurunya itu...

Tapi Un Jie Giok memotong ucapan Tat Jin.

"Jadi semula kau ingin menemuiku, bukan hendak main gila?" kata Un Jie Giok.

Kedua anak muda itu mengangguk membenarkan. "Kalau begitu siapa gurumu itu?" tanya Un Jie Giok. Suara si nyonya tetap dingin dan matanya tetap bengis.

Kedua anak muda itu tak melihat sinar mata si nyonya tua dan mereka tak bisa menerka hatinya. Maka legalah hati mereka berdua. Mereka seolah mendapat harapan. "Guru kami bernama Ban Biauw Cin-jin In Hoan. beliau sahabat Loo-cian-pwee." jawab Tiat Tat Jin.

Dalam keadaan terjepit demikian mereka terpaksa berani menyebutkan nama dan gelar guru mereka.

"Oh!" suara Jie Giok hampir tak terdengar. Sedang matanya terus menatap ke arah kedua anak muda itu. Ia seolah hendak menjajaki hati mereka berdua.

"Jadi kalian murid In Hoan ..." si nenek meneruskan. "Tak heran..”

Suaranya begitu perlahan, seolah dia sangat baik, tapi mendadak ia melompat tangannya ia ulurkan. Tangan kanan menyentil, dan tiba-tiba mutiara di tangannya itu melesat menyambar ke jalan darah ciang-tay di dada Cio Peng. Di lain saat tubuh si nyonya tua sudah berada di depan Tat Jin, serta jari tangan kanannya menotok jalan darah ciang-tay anak muda itu.

Kedua murid In Hoan itu tidak berdaya sama sekali, mereka tertotok dan keduanya terguling rebah di lantai. Sementara itu Tiang Keng hanya bisa menghela nafas.

"Jika aku yang ditotoknya. apakah aku bisa mengelak?" pikir Tiang Keng.

Sebelum pertanyaan di otaknya terjawab, mutiara yang tadi mengenai Cio Peng bergulir ke kakinya, la membungkuk, dan menjemput mutiara itu. Kemudian ia menunggu serangan si nyonya tua agar ia tahu jawaban yang ada di otaknya itu.

Tapi Un Jie Giok tidak menyerangnya. Ketika mutiara itu sudah berada di tangan Tiang Keng. Un Jie Giok pun sudah kembali ke atas meja dan duduk lagi seperti tadi.

Mau tak mau Tiang Keng jadi melengak. Saat menoleh ke arah Un Kin. ia lihat si nona sedang mendelong di sisi meja. matanya mengawasi ke bawah. Kemudian Tiang Keng melirik ke arah To-su Tauw-to yang berdiri diam di pinggiran tembok, matanya sedang mengawasi Un Jie Giok. Agaknya dia keheranan.

'"Aku yakin pendeta ini baru pertama kali ini melihat kepandaian Un Jie Giok?!" pikir Tiang Keng.

Tak lama ia melirik Tat Jin dan Cio Peng. Tubuh mereka diam tak bergerak. Keduanya mirip dua sosok mayat yang sudah kaku. Tiang Keng menghela nafas lagi. ia perhatikan mutiara yang ada di tangannya. Itu sebutir mutiara yang indah...

Sekarang Tiang Keng tak banyak berpikir lagi, ia hanya melangkah ke arah meja untuk meletakan mutiara itu di atas meja. dekat kaki si nyonya tua. Ia menahan hati untuk tidak mengawasi nyonya tua buruk itu. Tapi tak terasa ia angkat juga kepalanya. Ia kaget ternyata nyonya tua itu pun sedang mengawasi dia.

Perempuan jelek yang ada di depannya ini. musuh besarnya. Tapi aneh sekarang Tiang Keng jadi tak menentu pikirannya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Lalu ia ingat janjinya pada Un Jie Giok. Kemudian ia batuk sekali dan menoleh ke arah lain.

"Ternyata kau juga datang ke mari! Bagus!"kata si nyonya tua.

Ia bicara seolah baru tahu anak muda itu ada di antara mereka....

Tiang Keng diam saja. seolah-olah ia tak mendengar kata- kata nyonya tua itu.

"Bu Kin Tay-su." kata Un Jie Giok. "Aku dengar ilmu silat Siauwlim-pay hanya bagian luar saja. Aku kira ucapan itu hanya untuk mengelabui orang saja! Apa benar begitu?"

To-su Tauw-to melengak. Ia tak mengerti pertanyaan nyonya itu. Tapi ia jujur, ia lalu berkata, "Benar, itu memang kata-kata untuk mengelabuhi orang. Partai Siauw-lim-pay sejak didirikan oleh Tatmo Couw-su sampai sekarang..."

Un Jie Giok memotong kata-kata orang sambil tersenyum. "Partai Siauw-lim terkenal di kolong langit, mengenai riwayatnya aku sudah mengetahuinya."

To-su Tauw-to diam.

" Tay-su. kau bertubuh sehat dan kekar, sekali lihat saja orang sudah tahu bahwa ilmu silat bagian luarmu telah sempurna benar. Ilmu silat Siauw-lim-pay punya dua bagian, luar dan dalam, karena ilmu luarmu mahir sekali, maka ilmu tenaga dalamnya pun pasti tidak berbeda jauh. Benarkah ucapanku itu?"

Mendengar pertanyaan Un Jie Giok itu. bukan hanya si pendeta tapi Tiang Keng dan Un Kin keheranan. Ternyata Cio Peng dan Tat Jin yang sekarang tak berdaya pun jadi heran dan merasa aneh.

"Aku belajar sejak masih muda, aku..." kata si pendeta, tapi langsung dipotong oleh Un Jie Giok.

"Sudah! Tak perlu Tay-su menceritakannya, aku sudah tahu." kata Jie Giok. "Ilmu silat bagian dalammu pasti tak ada celanya. Oleh karena itu aku yakin kau pun mengenal ilmu totok. Benar bukan?"

Aneh sekali sikap nyonya ini. ia bertanya pada si pendeta, tapi ia selalu menyelak dan memotong pembicaraan orang. Hingga dengan demikian si pendeta hanya menyahut. "Oh!" serta mengangguk saja.

"Sekarang, coba Tay-su totok pemuda yang berada di sebelah kiri, agar ia bebas dari totokanku. Aku yakin Tay-su bisa melakukannya. Benar, bukan?"

Kembali pendeta ini melengak. la benar-benar tak mengerti sedang main sandiwara apa. Si pendeta meletakkan senjatanya di tembok, ia melangkah menghampiri Tiat Tal Jin. Ia membangunkannya dengan menggunakan telapak tangannya yang besar untuk menepuk sekali, disusul dengan dua kali totokan di sisi pinggang pemuda itu.

Siauw-lim-pay terkenal ilmu silat luar (Gwa-kang) dan dalam (Nui-kangnya). Si pendeta bisa membuktikannya. Ia bisa membebaskan Tat Jin yang tubuhnya ia dorong beberapa langkah, ia langsung berjalan menuju ke pinggir tembok. Ia kelihatan tak puas terhadap pemuda yang lemah itu.

Tat Jin berjalan dua langkah, tapi tiba-tiba ia jadi limbung.

Ketika sudah berdiri kembali, mendadak ia muntah reak kental, lalu ia menoleh, mengawasi ke arah Un Jie Giok sambil melongo. Akirnya ia menunduk, sambil berpikir karena heran.

"Aneh perempuan jelek ini. dia yang menotokku. mengapa orang lain yang ia suruh membebaskan aku? Mau apa dia sebenarnya?” pikir Tat Jin.