Dendam Asmara BAB 30. TIANG KENG BERTARUNG

 
BAB 30. TIANG KENG BERTARUNG 

Ketika semua orang diam dan keadaan jadi sunyi, si imam gemuk membaling-balingkan pedangnya sambil tertawa dingin.

"Kau belum bisa menerka, siapa kami?" kata si imam. "Hm!

Kalau begitu gurumu itu sangat tolol! Mengapa nama kami berdua tak disebut-sebut olehnya?"

Mendengar gurunya dihina, bukan main mendongkolnya Tiang Keng. Ia berusaha menahan diri, tapi tak urung ia mengeluarkan suara di hidung, "Hm!"

Kemudian Tiang Keng menengadah mengawasi rembulan yang suram seolah ia tak menghiraukan kedua orang itu.

Imam gemuk dan pendeta kurus itu jadi gusar.

Tiga puluh tahun yang lalu, mereka sangat terkenal dan disegani oleh kalangan Rimba Hijau (Kalangan para Penjahat). Tetapi golongan Rimba Persilatan (golong putih) banyak yang belum mengenalnya secara dekat. Ketika itu mereka dikenal sebagai "Pay-kiam Pian-too Siu Hud Poan Sian" (Si Buddha Kurus dan Dewa Gemuk dengan pedang Pay-kiam, pedang seperti tameng dan pian-too, golok mirip cambuk). Tegasnya mereka lebih dikenal dari senjata mereka masing-masing.

Mereka sebenarnya berbeda golongan tapi mereka bisa bersatu. Si imam gemuk bernama Poan Sun Yang golongan Leng-cin-kiam-pay, sebuah partai berasal dari Propinsi Shoa- tang. Ilmu pedangnya aliran keras. Si pendeta kurus bernama Siu Bie To. ia dari Ngo-tay-san. Kegemaran mereka berdua juga berlainan. Paon Sun Yang gemar minum arak dan mengumpulkan harta. Siu Bie To sebaliknya, senang namanya terkenal dan wanita cantik.

Sesudah ternama mereka mendadak mengundurkan diri dari Rimba Hijau. Ko.ion ketika mereka sedang bekerja di wilayah Thio-kee-lauw, mereka bertemu dengan To Ho Jian. Sekalipun keduanya gagah, namun mereka tak mampu melawan To Ho Jian dan mereka dikalahkan lalu kabur. Sepuluh tahun lamanya mereka menghilang dari dunia Kang-ouw. Suatu ketika mereka bertemu dengan Un Jie Giok, mereka diajak bekerja sama.

Ketika To Ho Jian berhasil dibunuh oleh Un Jie Giok, mereka jadi berhutang budi kepada Jie Giok hingga mereka pun setia sekali, bahkan mereka bersedia mati untuk Un Jie Giok. Tetapi saat mereka berhadapan dengan To Tiang Keng, mereka tak tahu kalau pemuda ini justru putera To Ho Jian, bekas musuhnya.

Poan Sun Yang kehilangan kesabarannya, ia menoleh ke arah kawannya lalu berkata, "Hwee-shio tua, wajah anak ini tak bercela, namun lagaknya sangat menjemukan! Oleh sebab itu maafkan, aku akan melanggar pantangan membunuh orang. "

Sebelum ucapannya selesai, tangannya telah meluncur disusul dengan bentakan, la menikam Tiang Keng dengan jurus "Ngo Teng Kay San".

Untung Tiang Keng sudah waspada, la kelihatan sabar namun sangat benci pada lawannya itu. Saat serangan lawan datang Tiang Keng langsung berkelit, sambil berkelit tangan kanannya menotok ke sikut lawan ke jalan darah hwee-tie.

Siu Bie To mengawasinya, ia tak benci pada si anak muda seperti si imam gemuk, sahabatnya. Dia malah menganggap si imam terlalu kejam dan ganas. Menyaksikan gerakan Tiang Keng yang gesit, ia terperanjat juga. Sebagai seorang jagoan ia melihat si anak muda bukan orang sembarangan. Ia tahu benar tentang pepatah yang mengatakan "Jika seorang ahli mengulur tangan, ia akan tahu kelihayan musuhnya".

Sekarang ia sadar bagaimana lihaynya Tiang Keng.

Poan Sun Yang, si imam juga kaget ketka ia sadar bahwa serangannya menemui tempat kosong. Dia tak sempat berpikir lagi, lalu berseru sambil menarik tangannya. Dia majukan kaki kirinya, kembali tangan kanannya menyerang. Itujurus (Tiang Hong Koan Jit (Bianglala menutupi matahari).

Melihat serangan lawannya ini. Tiang Keng yakin lawannya ini terkenal hanya namanya saja. Tian Hong Koan Jit hanya pukulan biasa saja, dengan tak memperdulikan serangan lawannya itu. Tiang Keng menyambar dada lawan dengan tangannya.

Tapi serangan Poan Sun Yang terhenti setengah jalan. Secara mendadak ia mengubah gerakannya itu, pedangnya menyerang ke bagian bawah, ke arah perut Tiang Keng.

Perubahan itu cepat luar biasa.

"Omietoo-hud!" Siu Bie To memuji menyaksikan aksi kawannya itu. sedang nona-nona itu menjerit melihat bahaya sedang mengancam anak muda itu. Mereka semua yakin tak lama lagi anak muda itu akan roboh tersungkur di ujung pedang yang sangat istimewa itu.

Tiang Keng melihat bahaya mengancam, ia kaget tapi tak gugup, la juga mengubah serangannya, ia tak jadi menotok sikut lawan, sebaliknya dengan jari tangannya ia sentil golok lawan

"Trang!" terdengar suara sentilan itu nyaring sekali.

Si imam gemuk kaget saat serangannya dimentahkan, keras sentilan itu hingga hampir saja pedang di tangannya itu terlepas dari genggamannya. Sedang tubuh si imam terhuyung-huyung, hampir roboh terguling. Menyaksikan kesudahan dari serangannya itu tampak Tiang Keng puas sekali. Ia tak mengejar dan menyerang lawannya lagi, tapi sambil tertawa dingin ia berkata, "Kiranya kepandaianmu hanya begini saja!"

Mendengar hinaan itu bukan main sakit hati Poan Sun Yang. Ia pun mendengar nona-noa manis itu menahan nafas. Ia malu karena tak sempat melihat sentilan lawan, tahu-tahu pedangnya terhantam keras. Sentilan itu pun sampai tak terlihat oleh Siu Bie To dan nona-nona berbaju merah itu.

Ia tak menghiraukan si imam gemuk, ia hanya menoleh ke arah pendeta kurus. Sambil tertawa dingin dia berkata, “Jika kau punya kepandaian lain, tak ada halangannya untuk kau pertunjukkan padaku! Sebentar lagi bisa kau lihat, siapa yang akan menjadi guru dan siapa yang akan menjadi murid!"

Sebelum Siu Bie To menjawab ejekan si anak muda, ia mendengar seman temannya yang langsung melompat maju. Tiang Keng menoleh, ia lihat imam gemuk itu merobek jubahnya menjadi dua potong, suara robekan jubah itu terdengar nyaring. Sekarang si imam gemuk jadi telanjang, dia hanya mengenakan celana pendek. Kelihatan dagingnya bergerak-gerak....

Nona-nona itu berteriak dan segera mereka menutup mata. "Mau apa kau dengan lagakmu ini?" tegur Tiang Keng

sambil tertawa mengejek. Tapi ia tetap waspada.

Siu Bie To tahu kawannya sedang marah luar biasa. Tubuh si imam bernama Poan Sun Yang bergerak-gerak lebih cepat, matanya mengawasi bengis sekali. Dia berteriak-teriak makin lama suaranya jadi perlahan. Sebagai gantinya sekarang kakinya yang bergerak-gerak sampai perlahan. Kelihatan kaki itu jadi berat saat diangkat...

Melihat gerakan lawan. Tiang Keng jadi curiga. Apalagi ia lihat bekas injakan kaki si imam gemuk membekas dalam sekali, mungkin setiap imam itu melangkah ia menekan dengan keras.

Poan Sun Yang melangkah perlahan, tapi lama-lama ia sudah dekat pada si anak muda. Tampak wajahnya yang buruk itu memperlihatkan kegusarannya. Semakin dekat Tiang Keng mendengar suara nafasnya yang makin keras.

Melihat demikian nona-nona yang tadi menutupi mata mereka dengan tangannya, sekarang membuka mata untuk menyaksikan... Tiba-tiba imam gemuk itu menyerang dengan hebat ke arah Tiang Keng. Berbareng dengan serangan itu, tubuh Su Bie To pun melompat ke arah Tiang Keng. Dia menyerang dari belakang lawan. Dia membacok punggung Tiang Keng.

Tiang Keng tidak menangkis serangan kedua musuhnya itu, ia berkelit dengan gesit. Tiang Keng bebas dari serangan itu. Tapi Poan Sun Yang lihay, ia sudah menduga. Begitu serangannya tak mengenai sasaran, ia melompat maju dan menyerang lagi. Kali ini goloknya mengarah ke dada kiri lawan. Jika tadi ia menyerang dengan perlahan, sekarang serangannya cepat luar biasa. Tiang Keng terkejut.

Serangan itu hebat sekali. Tetapi lagi-lagi ia tak menangkis serangan itu dengan mengegoskan tubuhnya. Di luar dugaan Su Bie To pun menyerang bersamaan dengan si imam gemuk. Rupanya mereka berdua bisa bekerjasama dengan rapi.

Serangan mereka datang ber-gantian dari kiri dan kanan.

Tiang Keng jadi sibuk sendiri. Ia sekarang tak bisa hanya berkelit saja. Terpaksa ia menyampok dengan tangan kanannya. Dua kali ia menyentil dengan saling susul. Karena terburu-buru sentilan Tiang Keng kurang tepat mengenai sasaran, ia tak bisa membuat kedua lawannya terancam serangannya.

Kedua orang itu jadi heran. Ternyata ilmu silat yang sepuluh tahun terakhir ini mereka ciptakan, dengan mudah bisa dimentahkan oleh To Tiang Keng yang masih sangat muda. Mereka jadi penasaran sekali. Kemudian si imam gemuk menyerang ke bagian bawah Tiang Keng dengan tipu : "Masuk laut membunuh naga'" sedang golok si pendeta Siu Bie To menyambar ke bahu kiri dengan tipu "Badai merontokkan daun".

Serangan mereka gesit dan datangnya dari atas dan bawah.

Tiang Keng kelihatan sibuk dikepung oleh dua orang jago tua. Nona-nona itu tak bisa melihat jelas kedua senjata si imam dan si pendeta, yang kelihatan hanya kilauan senjata mereka. Mereka sayang dan girang, sayang karena lawan masih muda dan tampan, sedang girang karena pihaknya yang akan menang.

Sejak tadi Tiang Keng memperhatikan serangan kedua lawannya, karena gusar ia mengambil keputusan.

"Aku tak bermusuhan dengan kalian, mengapa kalian begitu kejam menyerangku. Rupanya kalian memang manusia kejam!" pikir Tiang Keng.

Sekarang Tiang Keng mulai berkelahi dengan bersungguh- sungguh, tangan kanannya menyerang mata Poan Sun Yang, sedang tangan kirinya dipakai menekan gagang pedang lawan. Dia tekan sambil didorong ke arah kiri.

Poan Sun Yang kaget. Ia rasakan dorongan si anak muda keras sekali. Mau tak mau senjatanya bentrok dengan senjata Siu Bie To. Tiang Keng menggunakan tipu silat Thay-kek-pay yang diberi nama "Tangan Menuntun", dengan demikian ia berhasil membuat pedang si gemuk bentrok dengan golok si pendeta kurus. Ia juga menggunakan ilmu silat Bu-tong-pay, ilmu silat tangan kosong. Dengan ilmu ini ia berhasil menghadapi dua lawan bersenjata.

Semua nona itu kagum melihat hal itu. Mereka mengerti ilmu silat namun masih jauh dari mahir hingga mereka belum tahu betapa tingginya ilmu silat berbagai partai persilatan apabila digabungkan. Hebat pertarungan itu, kuda kereta kaget karena mereka sering ke dekatnya. Mendadak kuda- kuda itu meringkik dengan mengangkat kaki mereka dan berniat kabur sambil menarik kereta hingga si kusir kewalahan tak bisa mengendalikan untung belum jauh kuda bisa ditahan si kusir bengong karena kagetnya.

0oo0