Dendam Asmara BAB 26. TIANG KENG BERTEMU KEMBALI DENGAN IN KIAM

 
BAB 26. TIANG KENG BERTEMU KEMBALI DENGAN IN KIAM

Sebuah lampu terbuat dari kuningan tergeletak di sebuah meja panjang. Cahaya lampu itu cukup bisa menerangi seluruh ruangan. Di belakang ruangan itu terletak sebuah kamar tidur. Kamar itu tak luas tetapi tidak gampang untuk mendapatkannya. Untung nama To-pie Sin-kiam In Kiam cukup terkenal, maka mereka berhasil menempati kamar itu.

Saat itu In Kiam dan puteranya sedang duduk menghadap jendela, kadang-kadang mereka mendengar suara tawa tamu lain. Tenyata sang malam tak bisa menghalangi orang bergembira. Tapi In Kiam tampak murung.

"Sekarang hari sudah tak siang lagi, Ayah." kata Tiong Teng. "Apakah Ayah akan keluar untuk mencari makanan?"

In Kiam menggelengkan kepalanya. Sinar lampu menyinari wajahnya yang mulai keriput. Tiong Teng menghela nafas, ia tahu ayahnya sedang kesal dan bingung memikirkan Tiang Keng yang belum juga kembali.

"Sekalipun dia masih muda, namun ilmu silatnya lihay sekali. Dia juga cerdas Ayah tak perlu mencemaskannya. Aku yakin biar bagaimana dia tak akan celaka!" kata In Tiong Teng. "Aku tak sedang mengkhawatirkan Tiang Keng," jawab sang ayah sambil

menghela nafas. "Tapi aku " In Kiam tak meneruskan

kata-katanya. "Tahukah kau Tiong Teng, ke mana perginya Kiauw Cian? Sudah beberapa hari dia tak muncul-muncul, aku ingin bicara dengannya, menanyakan sesuatu padanya "

Mendengar pertanyaan ayahnya. Tiong Teng jadi heran. Tiba-tiba In Kiam berkata. "Tiong Teng apa kau dengar,

suara apa itu?"

Angin malam bertiup dan masuk lewat jendela. Bersama angin ikut terbawa suara aneh. Sebentar terdengar sebentar menghilang.....

Seperti juga ayahnya. Tiong Teng pun heran. Mereka saling mengawasi dan pasang telinga. Saat Tiong Teng mau bicara ayahnya sudah mendahului.

"Rasanya aku pernah mendengar suara musik itu " kata In

Kiam agak ragu. Tapi sedetik kemudian ia menepuk jidatnya dan berkata. "Ah tak salah lagi, itu suara tetabuhan ini aku dengar di Biauw-kiang tiga puluh tahun lalu. Itu suara orang meniup seruling bambu hijau Tatkala itu aku masih

seusiamu sekarang!"

Tiong Teng melengak dan In Kiam diam. Otaknya berpikir keras. Tiba-tiba Tiong Teng memutar tubuhnya dan berlari ke arah pintu.

"Ayah kau tunggu di sini, aku akan memeriksanya, mungkin '" Ia tak meneruskan kata-katanya karena agak

sangsi. Rupanya Tiong Teng tak sudi menyebut nama Siu-jin Un Jie Giok.

To-pie Sin-kiam In Kiam yang berpengalaman langsung teringat pada Ang-i Nio-nio, oleh karena itu ia tak mau diam di kamarnya.

“Mari kita lihat!" kata In Kiam.

Mereka segera keluar dari penginapan bersama-sama. Keadaan di jalan raya terang benderang dan orang yang berlalu lalang masih banyak. Namun keadaan agak sunyi karena sekarang sudah tak terdengar suara orang tertawa lagi. Nyanyian pun sudah tak terdengar. Suara yang terdengar hanyalah suara seruling bambu itu.

In Kiam dan Tiong Teng terus mengikuti suara seruling itu.

Di sepanjang jalan orang yang kenal pada mereka memberi hormat sambil membungkuk.

Sesudah melewati sebuah jalan, tiba-tiba Tiong Teng berpapasan dengan seorang berpakaian abu-abu, tapi dalam kegelapan malam jadi berwarna hitam. Orang jangkung itu berdiri di antara orang-orang yang lainnya.

"Ayah lihat. Tiang Keng di sana!" kata In Tiong Teng.

In Kiam dengan cepat menoleh dan langsung bergegas ke arah yang ditunjuk.

Tiang Keng rupanya sedang melamun dan tak tahu In Kiam datang menghampirinya. Tiang Keng baru sadar saat In Kiam menarik tangannya.

"Tiang Keng, kau tak apa-apa?" demikian In Kiam menegurnya. Tiang Keng menggelengkan kepalanya.

"Jangan cemas, Loo-pee aku tak apa-apa," jawab Tiang Keng tetapi suaranya tak lancar.

Ia merasakan cekalan In Kiam hangat di tangannya, hatinya pun jadi girang. Itu sebagai tanda kasih sayang In Kiam kepadanya. Sambil tersenyum Tiang Keng meraih tangan Tiong Teng, kembali ia merasakan kehangatan tangan itu.

Mereka berdiri bertiga. Hal ini membuat orang yang lewat jadi heran. Mereka mengawasi ketiga orang itu. Mungkin mereka akan terus mengawasi In Kiam dan kedua anak muda itu jika suara seruling tak terdengar lagi. Mereka semua mengalihkan pandangan ke arah suara itu.

"Loo-pe, Toa-ko jangan cemas. Itu suara seruling yang ditabuh oleh nona-nona berpakaian merah. Mereka murid Un Jie Giok!" kata Tiang Keng. "Kiranya dia sudah sampai di Lim- an "

In Kiam berpaling ke arah putera-nya. "Oh dia!" kata ln Kiam dengan alis berkerut. Kemudian ia menoleh ke arah Tiang Keng dan bertanya. "Mengapa kau tahu itu?"

Tiang Keng sangsi. Ia bukan tak ingin menjawab pertanyaan Loo-peenya, tapi ia berpikir tak baik ia bicara di jalan umum. Rupanya ia khawatir orang lain bisa mendengarnya. Tengah ia sedang diam sambil berpikir, ia lihat orang banyak bergerak. Ketika itu orang-orang yang tadi berdiri di tepi jalan bergerak ke tengah jalan raya. Sedang yang tadi berada di lauw-teng sudah turun. Mereka berlarian keluar rumah. Tak lama terdengar teriakan, "Dia datang!"

In Kiam terperanjat. Ia tahu beberapa puluh tahun yang lalu Ang-ie Nio-nio sangat terkenal. Dia sering mendengar orang menyebut-nyebut namanya, namun wanita hantu itu tak pernah keluar dari daerah Biauw-kiang. Kemudian karena namanya termasyur, setiap orang Kang-ouw jerih padanya.

To-pie Sin-kiam In Kiam pun tak terkecuali.

"Apa benar si hantu perempuan sudah ada di wilayah Kang- lam dan kini ada di kota Lim-an?" pikir In Kiam.

In Kiam memandang ke depan. Memang benar tak lama tampak datang rombongan nona berbaju merah. Melihat datangnya rombongan ini orang-orang yang tadi telah maju ke tengah jalan dalam sekejap segera menepi.

Dari kedua tepi jalan, tampak sinar lampu menerangi pinggiran jalan raya. Cahaya lampu-lampu itu menerangi rombongan nona-nona berpakaian merah. Wajah mereka agung dan berpengaruh sekali. Ditambah lagi nona-nona itu cantik semua, kulit mereka putih dan halus.

"Memang benar mereka!" kata Tiang Keng. "Tapi mana kereta berhiasnya?" Tiang Keng mengawasi rombongan nona-nona yang memakai konde tinggi, masing masing mereka sedang memegang seruling bambu berwarna hijau. Pakaian nona- nona itu sama seperti yang pernah Tiang Keng lihat Hanya sekarang di masing-masing tangan nona-nona itu terdapat naya (ayakan) bambu berisi bunga warna merah. Mereka berjalan berbaris temui masing-masing dua-dua. Di belakang iringan nona-nona cantik berbaju merah ini, terlihat rombongan yang sengaja mengikuti mereka dari belakang.

Mereka adalah orang yang kagum dan ingin terus menonton keindahan barisan nona-nona cantik itu. Namun Tiang Keng heran, dia tak melihat kereta yang dihias indah yang biasa dinaiki oleh Ang-ie Nio-nio.

In Kiam terus mengkuti rombongan nona itu dengan kedua matanya tiba-tiba ia menoleh ke arah In Tiong Teng sambil berkata, "Tiong Teng lihat bukankah mereka sudah kenal dengan kita?"

Tiong Teng coba menegasi rombongan itu.

"Ayah benar, semua nona itu memang sama seperti yang pernah datang ke rumah kita." jawab Tiong Teng. "Tapi yang berbeda adalah bahwa sekarang nona-nona itu usianya lebih tua dari yang dulu datang ke rumah kita”

In Kiam mengelus kumisnya

"Ya, dulu kuduga mereka muridUn Jie Giok, sekarang memang terbukti benar," kata ln Kiam. "tapi mengapa Ang-ie Nio-nionya tak kelihatan'? Ialu mau apa mereka ke sini? Oh mereka masing-masing membawa kemuning bunga. Apa mereka akan menabur bunga, tapi di mana?"

Mendengar kata-kata In Kum tersebut Tiang Keng tersenyum.

"Un Jie Giok tak datang, lalu mau apa nona-nona ini?" pikir Tiang Keng. Mereka menduga maksud nona-nona itu. Tiba-tiba suara seruling berhenti bersamaan dengan berhentinya langkah nona-nona itu. Semua nona itu menyelipkan seruling bambu yang terlilit benang merah itu ke pinggang.

Sekarang yang berada di jalan raya tinggal orang-orang rimba persilatan. Karena penduduk satu demi satu meninggalkan tempat itu. Sekalipun mereka ingin menonton apa yang akan dilakukan oleh rombongan nona-nona cantik itu. rupanya peristiwa beberapa malam lalu membuat penduduk ngeri. Mereka yang tetap tinggal pun mematung tak bergerak.

Dua nona yang berada paling depan memberi hormat pada orang-orang yang masih berada di tepi jalan raya. Sesudah itu mereka berkata dengan nyaring bersama-sama, "'Kami para pelayan menerima perintah majikan kami untuk memberi hormat dan menyerahkan kartu nama pada Tuan-tuan sekalian!"

Suara kedua nona selain nyaring tampak kompak sekali.

Selain merdu kedua nona itu berwajah cantik menarik hingga semua orang terpesona. To-pie Sin-kiam mengerutkan alisnya.

"Ang-ie Nio-nio benar-benar lihay! Lihat saja bagaimana ia pandai mendidik semua muridnya. Saat bicara pun mereka juga rapi sekali. Seolah yang bicara hanya seorang!" kata ln Kiam pada puteranya.

"Dulu saat mereka mengantar bingkisan untuk Ayah, bukankah ada juga dua nona yang bicara bersama-sama? Semula aku kira mereka saudara kembar " kata Tiong Teng.

Dengan tak menunggu orang memberi jawaban, kedua nona itu memberi tanda hingga nona-nona yang lain segera menyebar ke empat penjuru.

Diam-diam Tiang Keng mencoba menghitung mereka, ternyata jumlahnya tiga belas orang. Penonton mulai sadar ketika melihat nona-nona cantik itu mendatangi. Tiang Keng mengawasi kedua nona yang menjadi pemimpin rombongan. Mereka melangkah ke arahnya. Mata mereka tajam. Setelah dekat, mendadak mereka tertawa manis.

"Eh kau juga ada di sini!" kata mereka mendekati Tiang Keng.

In Kiam keheranan.

"Kiranya kau mengenal mereka?" kata In Kiam pada Tiang Keng.

Ditanya begitu. Tiang Keng melengak. Sebelum Tiang Keng menjawab pertanyaan In Kiam. nona di sebelah kanan langsung bicara. "Bagaimana kami tak kenal, pagi tadi kami sudah saling berjumpa."

Sambil tertawa nona itu mengulur tangannya ke dalam naya bambu, mengambil sebuah sampul berwarna merah, lalu ia angsurkan pada Tiang Keng. Setelah itu mata si nona memain, sesudah itu ia berputar dan berjalan ke tempatnya semula.

Sambil melongo heran Tiang Keng menyambut sampul merah itu dari tangan si nona. Dengan bantuan cahaya lampu dia bisa membaca. Itu adalah undangan untuk datang ke paseban It Liang Teng di luar kota Lim-an.

Kecuali hari, tanggal dan jam hadir, undangan itu tak mencantumkan alamat si pengirim. Yang lainnya terlihat gambar konde "Kuda Jatuh" Surat dan gambar itu tidak dilukis melainkan ditempel-tempelkan. Bahannya dari benang emas. Nona yang lain juga menyerahkan undangan pada orang- orang yang hadir di tempat itu. Mereka menyambut undangan yang sama itu dengan tercengang-cengang. Setelah menyerahkan undangan, mereka undur seperti kedua nona tadi. Orang-orang mengagumi undangan yang mewah itu.

Undangan semacam itu amat langka. In Kiam sendiri mengamati undangan itu dengan sek lama.

"Tiang Keng," kata In kiam. " Tadi ,jagi kau pergi ke mana?

Apa kau bertemu dengan Ang-ie Nio-nio?" Tiang Keng menghela nafas. 'Aku menemui banyak sekali pengalaman, biar akan kuceritakan nanti nada Loo-pee!" kata Tiang Keng.

viat Tiang Keng bicara dengan In kiam, nona-nona itu sudah berbaris rapi kembali. Kemudian dua nona yang menjadi pemimpin mulai bicara lagi

"Kedatangan kami sangat terburu-buru dan para orang gagah di Lim-an mi jumlahnya banyak sekali. Oleh karena itu kami tak bisa menemuinya satu persatu. Kami mohon pada yang hadir di sini agar bersedia menyampaikan undangan pada yang lain! Tolong beritahu hari, jam, dan tempat pertemuannya. Kami tunggu kedatangan tuan-tuan sekalian!" kata si nona. Setelah itu mereka memberi hormat sambil merangkapkan tangan. Mata mereka bermain manis sekali, sambil menutup mulut dengan jari tangan, mereka tertawa perlahan. Setelah itu mereka berbalik lalu pergi Semua

yang hadir mengawasi sambil bengong ln Kiam batuk-batuk.

"Sungguh hebat Ang-ie Nio-nio'" kata In Kiam. "Dia undang semua orang begini banyak, apa maksudnya? Apa benar dia akan memilih seorang menantu? Apa ini pesta orang gagah, tapi ah tak mungkin !"

Orang-orang pun mulai ribut membicarakan masalah undangan istimewa itu, mereka pun sedang kasak-kusuk hingga mereka tak mendengar apa yang dikatakan ln Kiam tadi. Di antara mereka ada yang girang luar biasa. Ternyata pada setiap kartu nama mengandung emas seberat satu tail. sesudah itu mereka lalu bubaran. Sementara yang lain pun ikut gembira. Bahkan ada yang bilang mereka harus pergi ke Thian-bak-san. siapa tahu di sana mereka akan memperoleh keuntungan lebih banyak.

Saat nona-nona itu meninggalkan mereka, semua mata tertuju ke punggung nona manis itu sampai mereka lenyap dari pandangan, ln Kiam dan Tiong Teng mengawasi ke arah Tiang Keng yang diam bagaikan patung. Rupanya ia sedang berpikir keras mengapa dia tak bisa menerka maunya Un Jie Giok

Tak lama keadaan mulai ramai lagi. seolah mereka telah melupakan peristiwa aneh yang barusan terjadi..

0oo0