Dendam Asmara BAB 25. MELARANG TIANG KENG PERGI KE THIAN-BAK-SAN

 
BAB 25. MELARANG TIANG KENG PERGI KE THIAN-BAK-SAN

Kho Koan I-su tak segera meletakkan cawan arak yang tadi diangkatnya. Ia diam, wajahnya berubah beberapa kali.

Sekarang terlihat wajahnya jadi suram dan bengis. Wajahnya yang kusut tadi telah lenyap. Saat itu Tiang Keng sedang menunduk, ia tak melihat perubahan wajah imam tua itu. Saat ia menengadah dan mengawasi wajah si imam, wajah imam itu sudah berubah seperti sediakala. Sekarang dia malah melihat imam itu sedang tersenyum.

Tak heran jika sampai saat itu To Tiang Keng tak tahu, siapa sebenarnya imam itu dan apa maksud orang itu...

Sesaat secara bersamaan mereka mengangkat muka dan mata mereka beradu, si imam tertawa

"Aku lupa memberitahukan sesuatu padamu," kata si imam. "Sekarang di Thian-bak-san pasti telah diatur berbagai perangkap, hanya kita belum tahu perangkap apa itu? Tapi yang jelas itu pasti sangat berbahaya! Sepengetahuan-ku untuk membantu usaha Un Jie Giok ini, dia telah mengundang para jago kaum rimba hijau (kalangan penjahat) untuk membantunya. Mereka itu adalah orang-orang yang tak di terima di kalangan Kang-ouw sebagai golongan kaum persilatan \ ang lurus. Sudah sejak setahun yang lalu ia mengundang mereka untuk dipakai menghadapi jago-jago silat dari golongan lurus bersih. Tegasnya mereka akan diadu, setelah jago dari kalangan lurus habis dan mereka sudah kelelahan, saat itulah Un Jie Giok akan menumpas mereka yang sudah kelelahan itu "

Mendengar keterangan itu Tiang Keng diam. bermacam- macam perasaan bercampur aduk di benaknya. Ia gusar manakala ia ingat bahwa Un Jie Giok ini jahat. Sebaliknya ia jadi berduka manakala ia ingat pada kesulitan yang dihadapinya.

"Saat masih kecil aku menyaksikan kejadian yang tak kumengerti." kata Tiang Keng. "Kejadian yang terjadi di Sie Sin-hong tentang katak Seng-cu yang mengherankan.

Mengapa katak itu demikian kejam. Setelah membunuh binatang buas. ia juga membunuh binatang jinak seperti kambing dan sebagainya. Pada-hal binatang-binatang itu lemah. Tidakkah itu aneh? Tapi sekarang aku baru mengerti, manusia pun ada yang jahat seperti katak Seng-cu itu!" Suara Tiang Keng perlahan, la bicara seperti orang yang hatinya sedang kacau. Imam itu tampak tertarik oleh cerita Tiang Keng.

Saat itu terlihat pelayan warung arak sedang berdiri di depan pintu, wajahnya tampak jemu dan kesal, mungkin karena kedua tamunya duduk makan minum terlalu lama. Ia lihat mereka bicara, tertawa, dan menghela nafas panjang- pendek. kemudian diam membisu, hingga tingkahnya jadi tak karuan. Tapi ada kalanya mereka juga gusar dan sengit. Dari jemu sekarang ia jadi heran. Kedua tamunya itu tak dikenalnya, siapa mereka itu dan apa pekerjaannya?

Ketika itu Kho Koan I-su mengawasi Tiang Keng. "Sekarang aku ingin memberitahumu, anak muda," kata si

imam, ia kelihatan bersungguh-sungguh. "Yaitu mengenai kepergianmu ke Thian-bak-san. Maka kuanjurkan sebaiknya kau pergi siang-siang ke sana, tidak perlu menunggu sampai pembukaan. Jika kau pergi ke sana pada hari pembukaan, aku khawatir saat itu kau sudah dianggap sebagai menantunya!

Aku yakin dia tak akan mencelakai kau, tapi anak buahnya lain. mereka semua penjahat besar! Mereka tak tahu kau ini siapa. Bagaimana jika mereka turun tangan menyerangmu? Aku tahu kau gagah, tetapi ingat sepasang tangan tak mungkin dapat menghadapi empat buah tangan lawan " si

imam menghela nafas. "Hari ini kita baru bertemu tetapi kau sudah kuanggap sahabat baikku. Malah menurutku sebaiknya kau jangan pergi ke Thian-bak-san "

Sambil berkata imam itu melirik ke arah Tiang Keng. Tiang Keng menggebrak meja, kelihatan ia gusar sekali. "Lo-tiang, mengapa Anda memandang demikian enteng

padaku?" kata Tiang Keng. "Sekalipun Thian-bak-san itu

gunung golok dan lautan pedang, aku harus ke sana! Aku memang bodoh tetapi aku tak ingin keadilan diinjak-injak, maka itu aku harus menolong kaum Rimba Persilatan dari ancaman bahaya itu! Asal aku bisa berbuat baik. aku tidak takut mati!"

Si imam membungkuk untuk meletakkan cawan. Tiang Keng yang tadi berbalik kembali menatap si imam. Wajah si imam tersenyum puas, sayang Tiang Keng tak melihatnya.

0oo0

Di kota Lim-an, In Kiam tak mengetahui kalau To Tiang Keng telah mendapat pengalaman dan sudah bertemu dengan musuh besarnya. Bahkan sekarang Tiang Keng sedang menghadapi masalah sulit dan aneh. Musuh besarnya menyayanginya bahkan akan menikahkan Tiang Keng dengan muridnya. Yang aneh musuh besarnya ini bersedia membeberkan rahasia ilmu silatnya kepadanya. Selain masalah pribadi, kini Tiang Keng pun berniat menyelamatkan kaum Rimba Persilatan dari bahaya....

Tiba-tiba imam itu bangun dari kursinya, rupanya si imam akan segera pergi. Kejadian ini membuat pemilik rumah makan lega.

Ketika itu matahari sudah tenggelam ke arah barat. Saat Tiang Keng bangun, imam minta diri.

"Kita sudah lama berbincangbincang, aku kagum padamu, anak muda! Syukurlah jika kau bisa menyelamatkan kaum Persilatan dari bahaya "

Tiang Keng mengangguk sambil mengantar si imam berjalan keluar rumah makan. Kemudian ia kembali ke meja tadi dan duduk sendirian. Sedang kecurigaan dan kesangsiannya tak segera berlalu.....

Datangnya sang magrib membuat para tamu warung arak itu berdatangan untuk makan dan minum. Mereka merasa heran melihat Tiang Keng duduk sendirian. Mereka mengawasinya lama sekali. Tiang Keng merasa ia sedang diawasi. Ia bangun dan membayar makanan yang mereka pesan. Kemudian berjalan keluar. Ia berjalan perlahan-lahan.

"Imam itu mencurigakan, tetapi omongannya masuk akal juga," pikir Tiang Keng. "Sungguh tepat jika aku lebih awal datang ke Thian-bak-san untuk menyingkirkan Un Jie Giok. Sesudah itu tinggal masalah Un Kin..."

Ingat Nona Un Tiang Keng pun menghela nafas. Saat itu ia seperti berhenti berpikir, ia memandang ke arah kota, ia lihat tembok kota seperti bayangan. Ia berjalan terus. Sekarang ia sudah dekat ke pintu kota. Tak lama ia sudah masuk dan berjalan perlahan-lahan. Rumah-rumah di dalam kota sudah memasang lampu, sebagai tanda liari ketika itu sudah malam.

Rupanya orang sudah melupakan peristiwa tadi malam. Keadaan jadi seperti sediakala tak ada lagi yang ketakutan. Malah di sana-sini terdengar suara tetabuhan serta nyanyian. Di tengah jalan Tiang Keng berpapasan dengan orang yang sedang lewat, di pinggang mereka masing-masing terselip senjata tajam.

"Aku rasa mereka datang dari tempat yang jauhnya ribuan lie." pikir Tiang Keng melihat orang-orang itu. "Aku tahu maksud mereka hanya karena uang, pedang dan wanita cantik. Atau malah mereka hanya ingin menonton keramaian saja! Tapi sadarkah mereka bahwa bencana sedang mengancam mereka?"

Ingat pada In Kiam, Tiang Keng berpikir.

"Aku kira In Loo-ya-cu berpandangan luas, tapi apakah dia sudah tahu pada ancaman bahaya itu? Aku perlu menemui beliau, masih ada waktu. Terlambat sehari tak apa... " pikir Tiang Keng.

Tiba-tiba Tiang Keng menghentikan langkahnya. "Oh celaka aku lupa" kata Tiang Keng. "Tadi tak

kutanyakan pada Kho Koan I-su di bagian mana perangkap Un Jie Giok dipasang, sedang gunung itu luas. Ke mana aku harus mencarinya? Selain akan buang waktu dengan sia-sia aku pun tak akan menemukan perangkap itu! Apalagi aku tidak tahu di mana In Loo-ya-cu bermalam? Sedangkan kota Lim-an begini besar, ke mana aku mencari beliau?"

Ia bingung sejenak. Tiba-tiba ia tertawa sendiri.

"Ah bodohnya aku, In Loo-ya-cu sangat terkenal. Jika aku mau bertanya pada orang-orang yang kutemui, pasti aku akan ditunjukkan penginapannya..."

Sesudah itu Tiang Keng berjalan lagi. la mencari orang untuk menanyakan tempat bermalamnya In Kiam. Tiba-tiba ia berhenti, telinganya mendengar suara musik hingga ia jadi berpikir. Mula-mula suara musik itu sebentar terdengar sebentar menghilang. Terpaksa Tiang Keng harus pasang kuping. Suara kota berisik, tetapi ia segera menemukan suara itu. Ternyata itu bukan tetabuhan biasa, tetapi suara seruling bambu hijau yang dikenalnya milik nona-nona berbaju merah itu.

"Heran?" pikir Tiang Keng melongo. "Mungkinkah Un Jie Giok ada di dalam kota?"

Lalu Tiang Keng mencoba mencari tahu dan telinganya ia pasang untuk mendengarkan.

Suara seruling itu mula-mula terdengar sangat jauh, tetapi makin lama makin dekat. Akhirnya bukan hanya Tiang Keng, orang lain pun mendengar suara seruling itu.

Tentu saja suara seruling itu menarik perhatian mereka.

Orang-orang yang berada dalam rumah makan dan di rumah- rumah penduduk, semua keluar untuk mendengarkan datangnya suara seruling tersebut. Bahkan orang yang

sedang berjalan kaki pun menghentikan langkah mereka.

Sebaliknya orang kaum Rimba Hijau (golongan Sesat atau Hitam) yang juga disebut kaum Liok-lim dan kaum Rimba Persilatan (Golongan Putih-bersih) atau Bu-lim Eng-hiong mulai mencurigai suara seruling itu. Mereka berpendapat, jangan-jangan akan tejadi sesuatu di

kota Lim-an malam ini...

0oo0