Dendam Asmara BAB 23. TIANG KENG DIBUJUK SUPAYA BALAS DENDAM

 
BAB 23. TIANG KENG DIBUJUK SUPAYA BALAS DENDAM

Orang tua itu mengawasi, dia tertawa pula. "Kalau kau tidak suka memberitahu, tidak mengapa," kata si orang tua.

"Bukan begitu, Loo-tiang," kata Tiang Keng, kelihatan agak jengah. "Tetapi masalahnya sangat besar dan tak hanya mengenai pribadiku sendiri. Jika Loo-tiang ingin mengetahuinya juga. baiklah, nanti aku jelaskan." Orang tua itu tersenyum.

"Kalau begitu, aku tak akan menanyakannya lagi," kata orang tua itu seraya mengurut kumisnya. "Tapi aku lihat sikapmu ini tidak sempurna. Urusan sangat besar tetapi kau diamkan saja, kau tidak mengajak orang lain untuk memecahkannya bersama..." Ia mengurut kumisnya dan menambahkan. "Perlu kau ingat, kecerdasan seseorang biar bagaimana ada batasnya. Lihat saja kau sendiri, kau sangat cerdas, toh kau tidak berdaya memecahkannya. Daripada kau diam saja, hingga pikiranmu jadi kusut, lebih baik kau cari orang yang dapat diajak berdamai untuk merundingkannya. Pergaulan kita singkat sekali, maaf aku telah berkata begini."

Ia tertawa, matanya yang tajam menatap ke arah si anak muda yang ada di depannya.

Tiang Keng menganggap omongan orang tua itu beralasan sekali. Tetapi ia berusaha untuk berhati-hati. Dia tak mau sembarang bicara pada orang yang belum dikenalnya dengan baik. Tengah ia diam, orang tua itu berkata pula. "Jangan khawatir, Saudara muda, aku tidak akan menanyakan rahasiamu!" demikian katanya. "Kau tidak mau memberitahuku pun tak apa, sudah saja."

Diam-diam Tiang Keng menghela nafas. Sebagai seorang yang jujur, ia merasa sulit sendiri, la merasa tak enak menampik permintaan orang tua itu. Orang tua itu baik hati, dia bersedia membantu, tetapi ia malah menolaknya.

Seharusnya ia bersyukur dan mengucap terima kasih, terutama ia harus membalas kebaikan orang itu.

Orang tua itu masih menatap ke arahnya. Dia lihat roman orang tua itu agaknya puas. Demikian kelihatan dia bersenyum. Tapi senyumnya terhalang kumis dan jenggotnya. Tiang Keng diam. Ia merasa terus diganggu oleh kesangsiannya. Mau bicara, salah, tidak bicara, rasanya malu. "Kau baik sekali, Loo-tiang," kata Tiang Keng kemudian sambil menghela nafas. "Aku menyesal telah menyia-nyiakan kebaikanmu "

Orang tua itu tertawa seraya mengurut kumisnya lagi. Lalu ia potong kata-kata si anak muda.

"Dengan berkata demikian, kau memandang aku sebagai orang asing. Saudara muda!" kata dia sambil tertawa pula. "Sekalipun kita baru berkenalan tetapi aku sangat mengagumimu. Apa kau setuju jika aku menjadi tuan rumah dan mengundangmu makan? Mari kita cari sebuah rumah makan di sana agar bisa duduk bersama. Aku berharap dapat membantu menghiburmu hingga hatimu tak terlalu ruwet lagi "

Tiang Keng menjura memberi hormat sangat dalam "Terima kasih, Loo-tiang," kata Tiang Keng. "Aku hanya

merepotkan Loo-tiang saja!"

Karena malu hati. Tiang Keng akhirnya menerima undangan orang tua itu.

Kemudian keduanya berjalan meninggalkan tempat itu. Di sepanjang jalan mereka berbincang-bincang. Sikap orang tua ini halus dan sopan, di sepanjang jalan selama berbincang ia tak menyebut-nyebut mengenai rahasia Tiang Keng.

Saat mereka berjalan dan sudah dekat dengan tembok kota Lim-an, makin lama kesan Tiang Keng pada sahabat barunya ini semakin dalam. Dari cara orang tua itu berjalan Tiang Keng segera mengetahui bahwa orang tua itu mengerti ilmu silat dan ilmu meringankan tubuhnya tinggi. Tiang Keng bahkan berpendapat, mungkin dalam soal ilmu meringankan tubuh, dia kalah jauh dari si orang tua. Bahkan Tiang Keng menduga bahwa orang tua ini seorang jago rimba persilatan yang ternama. "Namaku To Tiang Keng," ia memperkenalkan diri. "Bolehkah aku mengetahui nama Loo-tiang siapa?"

Orang tua itu tersenyum manis. "Aku seorang tua pengembara." Sahut si orang tua. "Telah lama sekali aku telah melupakan she dan namaku, tapi orang di kalangan Kang-ouw menyebutku Kho Koan I-su. Sekalipun nama itu cocok untuk namaku, namun sebenarnya aku sendiri malu mendapat nama itu! Karena aku tak mampu menampik, maka terpaksa aku terima panggilan itu. Sebutan Kho Koan artinya Topi Tinggi dan itu cocok, karena kopiahnya tinggi. Sedangkan I-su sebutan untuk seorang imam atau penganut agama Too atau Too Kauw

Sesudah berkata demikian Kho Koan I-su menunjuk ke suatu arah.

"Lihat merk yang terbuat dari kain hijau yang digantung tinggi itu!" kata dia. "Itu sebuah warung arak kecil. Mari kita ke sana! Warung arak kecil itu rasanya tepat daripada sebuah rumah makan besar berlauw-teng!"

"Baiklah," kata Tiang Keng setuju.

Saat itu otak Tiang Keng sedang memikirkan nama imam yang luar biasa itu. Seingat dia gurunya belum pernah menyebut-nyebut nama itu, padahal gurunya gemar berkelana dan luas pengetahuannya. Malah gurunya itu sering memberi tahu nama-nama jago silat ternama di kalangan Kang-ouw.

Sekalipun demikian Tiang Keng merasa bersyukur dan bangga bisa berjalan bersama, sekalipun ia harus mengimbangi imam yang pandai berjalan cepat ini

Tak lama mereka sudah tiba di warung arak itu. Tiang Keng mempersilakan orang tua itu masuk lebih dahulu. Dengan sikap hormat ia mengikutinya dari belakang. Tak lama keduanya sudah duduk di sebuah meja saling berhadapan.

"Ah tak peduli apakah nama itu nama sebenarnya atau nama palsu, yang pasti orang tua ini sangat baik padaku," pikir Tiang Keng. "Siapa tahu diapun tak mau namanya diketahui orang lain. Sebaiknya aku tak memusingkannya."

Karena Tiang Keng berpikir begitu hatinya tenang dan lega.

Ketika itu sudah lewat tengah hari dan di warung arak sudah sepi sekali, tak ada tamu lain kecuali mereka. Pelayan menyiapkan makanan mereka dengan tenang. Tak lama pesanan mereka disajikan.

Setelah meneguk beberapa cawan arak, imam tua itu mengambil sepasang sumpit sambil berkata. "Arak di tempat ini tidak harum, makanannya pun mungkin kurang lezat, apa aku tak dianggap kurang hormat?" kata Kho Koan I-su sambil tersenyum.

Tiang Keng tersenyum saat ia hendak menjawab ucapan imam itu, tapi sudah didului. "Tapi tak apa, sekarang aku akan bercerita untukmu, mudah-mudahan bisa menjadi pengganti makanan lezat...?

Imam itu tertawa riang, Tiang Keng pun ikut tertawa. "Oh terima kasih, kalau begitu hari ini aku sangat

beruntung?" kata Tiang Keng. "Mulutku dapat makanan lezat dan arak harum, sekarang ditambah lagi telingaku bakal mendengar cerita yang menarik. Terima kasih Loo-tiang!"

Imam tua itu tertawa riang.

"Ceritanya tak terlalu menarik, tetapi jika kau sudah mendengarnya pasti kau senang!" kata s imam tua.

Mendengar janji itu Tiang Keng heran juga. Segera ia letakkan sumpitnya.

"Apa barang kali cerita Loo-tiang ada hubungannya denganku?" kata Tiang Keng.

Mata imam tua itu tampak bercahaya. "Memang! Ceritaku itu memang ada hubungannya denganmu, malah erat dan penting sekali!" jawab dia.

Mendengar jawaban itu Tiang Keng tercengang. Karena herannya ia berpikir.

"Aku tak kenal dengannya, bagaimana ia bisa tahu sesuatu yang ada sangkut-pautnya denganku? Malah dia bilang penting sekali. Bukankah aku masih muda dan baru muncul di kalangan Kang-ouw. Lalu masalah apa yang ada hubungannya denganku? Sungguh aneh sekali!" pikir Tiang Keng keheranan dan tertarik tak sabar ingin segera mendengar cerita imam tua itu. Malah jadi penasaran siapa sebenarnya imam tua ini.

Kho Koan I-su mengawasi dia sambil tersenyum. Sikapnya sabar sekali. Tak lama ia mulai bercerita.

"Tigapuluh tahun yang lalu," ia memulai ceritanya. "Di kalangan Kang-ouw terdapat sepasang jago silat yang sangat termasyur. Pasti kau tak akan tahu karena kau masih muda!" kata imam itu sambil tertawa. "Tetapi orang-orang yang sudah tua aku yakin semua tahu, mereka bergelar Nio Beng Siang- hiap. "

Imam itu berhenti sejenak saat pelayan menyajikan hidangan baru ke meja mereka dan imam itu menyambar makanan itu dengan sumpitnya. Sepotong ikan terjepit lalu ia masukkan ke mulutnya. Tak lama ia sudah mulai mengunyah daging itu dan tertawa.

"Masakan yang lain di warung itu semua tak lezat, kecuali ikan masak tahu ini!" kata imam itu. "Silakan kau coba, anak muda!"

Tiang Keng tak menolak, ia jepit ikan masak tahu itu. Dia ikut merasakan enaknya masakan itu. Sebenarnya ia tak tertarik pada makanan, apalagi ia tak yakin warung sekecil itu bisa menghidangkan masakan selezat masakan di rumah makan besar. "Sekalipun Nio Beng Siang Hiap sangat terkenal, lalu apa hubungannya denganku?" pikir Tiang Keng.

Sesudah menelan ikan masak tahunya, imam itu melanjutkan ceritanya.

"Nio Beng Siang Hiap sangat terkenal, namun sebenarnya ilmu silatnya tak terlalu lihay. Mereka memperoleh nama itu karena mereka suami isteri yang tampan dan cantik.

suatu pasangan yang setimpal sekali! Kecantikan si isteri sungguh cocok dengan ucapan "Ikan menyelam dan burung belibis jatuh, rembulan menghilang, bunga pun jengah saking malunya". Sedang suaminya mirip dengan perumpamaan "Pohon kumala di antara angin". Banyak pria maupun wanita yang keliru dan busuk hatinya, mencoba mengganggu suami- isteri tersebut, tapi usaha mereka gagal semua, karena pasangan itu saling mencintai dan hormat-menghormati satu sama lain. Bertahun-tahun bahkan sampai belasan tahun mereka merantau, belum pernah mereka cekcok satu sama lain. Apakah itu dari pihak Nio Tong Hong maupun dari pihak Beng Kie Kong."

Mendengar kisah itu Tiang Keng melengak, otaknya bekerja.

"Jika aku bisa memperoleh isteri seperti itu, alangkah bahagianya aku. Tapi apa hubunganku dengan mereka? Sia- sia kau menduga-duga, kau tak akan mampu menerka rahasiaku."

"Karena sifat suami-isteri itu, "si imam tua melanjutkan. "Maka lawan-lawannya itu terpaksa harus menunda niat jahatnya!"

Tiang Keng jadi penasaran karena cerita si imam belum sampai pada apa yang ingin ia ketahui. Lalu ia angkat kepalanya ia awasi imam itu. Justru saat itu pun si imam sedang mengawasi ke arahnya. Hingga mau tak mau mata mereka jadi bentrok. "Sesudah suami isteri itu puas mengembara di sungai Tiang-kang utara dan selatan, mereka lalu mengembara ke Biauw-kiang bersama putera mereka," lanjut si imam "Sekalipun mereka berdua hidup damai, sungguh celaka, saat mereka berada di pegunungan Biauw-san mereka bertemu dengan seorang wanita hantu hingga mereka jadi cerai-berai dengan sangat penasaran "

Mendengar cerita sampai di sini Tiang Keng tiba-tiba bangun dari kursinya sambil mendorong cawan arak di depannya.

"Apakah hantu wanita itu bernama Siu-jin Un Jie Giok?" tanya Tiang Keng dengan bernapsu

Kho Koan I-su tertawa lebar, la teguk arak di cawannya. "Benar sekali!" jawabnya. "Memang orang rimba persilatan

menamakannya Ang-i Nio-nio!" kata imam tua itu. "Dia juga

menyebut dirinya sebagai Siu-jin Un Jie Giok. "

Mendengar jawaban itu Tiang Keng dongkol sekali. Ia juga heran dan lupa bagaimana imam tua itu bisa tahu kalau dia dan Un Jie Giok ada sangkut-pautnya. Ketika ia menyadari kekeliruannya itu, ia langsung mengubah pertanyaannya.

"Apakah Un Jie Giok mencelakakan suami-isteri tersebut?" kata Tiang Keng.

Imam itu tersenyum. Ia mengangguk.

"Un Jie Giok menyebut dirinya Siu-jin, si orang jelek," kata si imam. "Tapi sebenarnya itu belum cukup jelas untuk melukiskan sifatnya yang buruk. Tapi justru dia jatuh hati kepada Nio Tong Hong. Kau bayangkan saja Tong Hong punya isteri cantik dan pandai juga lemah-lembut, mana tertarik Tong Hong pada Un Jie Giok yang jelek seperti Bu Yam," tuturnya.

Imam itu menghela nafas lalu menambahkan. "Buruknya dari cinta akhirnya Un Jie Giok jadi cemburu," kata si imam.

"Dia jadi membenci dan menganggap Tong Hong sebagai musuh besarnya!

Begitulah, dia bunuh Tong Hong di depan isterinya yang saling kasih mengasihi itu "

0oo0