Dendam Asmara BAB 22. MENGAJARI TIANG KENG KUNCI PENAKLUK NIE TONG SIAN BU

 
BAB 22. MENGAJARI TIANG KENG KUNCI PENAKLUK NIE TONG SIAN BU

Di mata Tiang Keng, meskipun jumawa dan angkuh, Gim Soan seorang yang berkepandaian silat tinggi dan jarang ada orang selihay dia. Sungguh lacur baginya, hari ini dia bertemu dengan rombongan Nie Tong Sian Bu hingga dia terkurung tak berdaya. Ini menunjukkan Hhaynya silat tari itu.

Karena itu, ia lantas mengawasi nona-nona itu untuk memperhatikan cara mereka bergerak, ternyata sangat serasi satu sama lain. Saking cepatnya mereka bergerak, hingga sulit untuk dilihat dengan tegas. Tiang Keng yang tertarik akhirnya terus mengawasi. Ini cocok dengan sifatnya yang menggemari ilmu silat.

"Kelihatannya Nie Tong Sian Bu hampir mirip dengan Kiu Kiong Pat-kwa Tin dari Bu Tong Pay," pikir Tiang Keng setelah menonton sekian lama. "Cuma Pat-kwa Tin kalah cepat "

Tiang Keng tertarik berbareng merasa heran. Ini karena ia belum mengerti dasar Nie Tong Sian Bu itu. Maka ia berpikir. "Dengan begini jelas Un Jie Giok lihay luar biasa, dia melebihi kebanyakan orang. Kalau begini, bagaimana aku bisa menuntut balas terhadapnya?"

Berpikir begini, pikiran si anak muda jadi kacau. Hebat jika ia tidak sanggup melakukan pembalasan untuk ayahnya.

Tengah ia diam itu, tiba-tiba ia mendengar suara tawa dingin dari Jie Giok.

"Tari silat Nie Tong Sian Bu ini bukan tari silat paling istimewa di kolong langit ini. Meski demikian, kau tak akan mengerti hanya dengan melihat sekelebatan saja!" tutur Jie Giok.

Tiang Keng jadi terperanjat. Tak ia sangka kalau si nyonya tua memperhatikannya.

Jie Giok berkata lagi. "Tari silat ini mengutamakan langkah kaki. Kalau kau memperhatikan hanya gerak-gerik tangan, kau bakal gagal, jangan kata baru satu jam atau setengah harian, sekalipun satu tahun pun tidak bakal ada hasilnya!"

"Sungguh aku harus malu!" pikir Tiang Keng.

Memang benar dugaan si nyonya tua ia memang lebih mengutamakan mengawasi tangan nona-nona itu. Jie Giok berhenti bicara, sebagai gantinya ia bertepuk tangan, satu kali tetapi nyaring, seperti suara batu kumala diketuk. Atas ketukan itu maka semua nona-nona itu lantas bergerak dengan perlahan.

Tiang Keng heran. "Apakah Jie Giok ingin menunjukkan keistimewaan tari silatnya ini padaku, supaya aku mengerti?" pikir Tiang Keng. Itulah tak masuk di akal, sangat bertentangan dengan kenyataan. Tak mungkin hantu yang telengas itu mau membuka rahasia kepandaiannya kepada orang lain, terutama kepada orang yang terang memusuhinya !

Heran atau tidak, Tiang Keng melihat bukti. Nona-nona itu bertindak perlahan, menyerangnya pun perlahan juga, hingga tampak jelas cara mereka bergerak. Dalam herannya, diam- diam ia girang.

Gim Soan pun heran kenapa semua orang yang mengepungnya mengendurkan gerakan. Ia memang sudah kehabisan tenaga. Perubahan ini membuat ia girang sekali, hingga semangatnya terempos lagi. Tenaganya seperti pulih kembali. Untuk dia setiap detik istirahat sangat berharga. Ia menyalurkan nafasnya, ia lantas menyerang dengan hebat. Ia ingin lolos dari kurungan itu!

Walaupun nona-nona itu bergerak secara perlahan, kuningannya tak dapat didobrak atau dipecahkan.

Mungkin Jie Giok sudah melihat aksi Gim Soan, atau mungkin ia sudah memperlihatkan cukup lama pada Tiang Keng maka ia bertepuk tangan lagi. Atas tepukan itu dengan lantas nona-nona itu bergerak lagi dengan cepat seperti tadi!

Si jelek ini melirik ke arah Tiang Keng. Ia mendapatkan pemuda itu sedang mengawasinya dengan perhatian penuh. Ia batuk sekali.

"Apakah kau sudah melihatnya dengan jelas?" tanya wanita itu.

Tiang Keng berpaling.

"Terima kasih!" ucapnya. Ia pun tertawa. Karena kecerdasannya, di dalam tempo yang singkat itu ia telah berhasil mengetahui lebih daripada separuh kelihayan tari silat itu. "Jie Giok berbuat begini, apa mungkin ini disebabkan ada hubungannya dengan soal yang dia bakal berikan padaku?"

Tak sempat si anak muda berpikir lama, ia sudah mendengar suara Jie Giok, dingin. "Sekarang masih ada tempo beberapa hari untuk tiba pada harian Pee-gwee Tiong Ciu (bulan delapan pertengahan Musim Ciu), maka itu di dalam tempo beberapa hari ini, kau harus telah berhasil mencari jalan untuk memukul barisan Nie Tong Sian Bu. Kau berlatihlah dengan sungguh-sungguh, kelak di hari itu kau boleh pergi ke Thian Bak-san!"

Tiang Keng melengak.

"Apakah ini soal yang hendak kau minta aku melakukannya?" tanya Tiang Keng tanpa sengaja.

Paras Un Jie Giok tidak berubah, dia seperti tidak mendengar pertanyaan itu.

"Berhubung dengan urusan adu silat di Thian Bak San," kata dia meneruskan. "Orang bakal datang berduyun-duyun dari kedua tepi Sungai Besar (Tiang-kang) serta jago-jago dari selatan dan utara sungai Tiang Kang. Itu berarti sudah separuh lebih dari seluruh jago di negeri ini, maka di antaranya pasti tak sedikit orang yang lihay. Pada hari itu kau bisa merobohkan semua jago yang naik ke atas panggung pertandingan..."

Nenek itu tersenyum, tapi lantas dia menambahkan, "Melihat ilmu silatmu, kecuali tidak terjadi sesuatu yang luar biasa, dalam sepuluh, delapan bagian kau pasti berhasil!"

Tiang Keng jadi semakin heran. "Apa maksud Jie Giok ini?"

Jie Giok memandang pula, dia pun tersenyum.

"Sesudah itu kau harus sanggup memukul pecah Nie Tong Sian Bu " dia melanjutkan dengan sabar. "Di akhirnya, kau harus bertanding dengan si Kin, muridku itu. Bertanding di hadapan orang-orang gagah dari seluruh negeri. Asal kau dapat merobohkan dia, maka ..." Ia berhenti untuk tertawa.

Hati Tiang Keng terguncang. Ia membuka mulut tetapi suaranya tak keluar. Ia cuma melihat nyonya tua itu menatap pula padanya.

"Jika si Kin bisa menikah denganmu, legalah hatiku," kata si hantu wanita. "Dia bertabiat buruk, di dalam segala hal kau harus mengalah sedikit "

Tiba-tiba suaranya berubah jadi keras dan berpengaruh, "Jika kau memperlakukan dia dengan buruk, walaupun aku sudah mati, sebagai setan aku akan mencarimu untuk membuat perhitungan denganmu!"

Tiang Keng terkejut. Hebat ancaman itu. Karena itu, ia mengawasi dengan mendelong.

"Apa ini yang kau ingin kulakukan?" kemudian ia bertanya pula.

Ia tak dapat menerka lain. Tapi ini membuatnya heran sekali. Tapi Un Jie Giok hanya tersenyum.

"Benar!" sahutnya. "Jika aku tidak melihatmu sangat cerdas, meski kau berlutut di depanku tiga hari tiga malam untuk memohon, tidak nantinya aku meluluskan permintaanmu!"

Tiang Keng mencoba menenangkan diri, kemudian ia berkata dengan terang dan jelas. "Barusan aku telah dikalahkan olehmu, maka itu, meskipun kau memerintahkan aku menyerbu ke dalam api yang berkobar-kobar, tidak nanti aku menolak, tak nanti aku mengerutkan alis, akan tetapi urusan ini "

Jie Giok menyela sambil tertawa dingin. "Urusan ini bagaimana?" dia bertanya. "Apakah ini bertentangan dengan prikemanusiaan, .kehormatan atau kebijaksanaan? Apakah ini sesuatu yang tenaga manusia tak dapat melakukannya?"

Tiang Keng melengak. la terus tunduk. Ia tak dapat menjawab pertanyaan itu. Sia-sia saja ia berpikir untuk membuka mulutnya. Benar apa yang dikatakan Jie Giok. Itulah hal yang manusia dapat melakukannya. Seharusnya ia ingin menepati janjinya. Tetapi, Un Kin itu murid musuh besarnya ...

Saat ia sedang kebingungan itu. Tiang Keng mendengar nyonya itu kembali tertawa dingin dan berkata. "Kau sudah berjanji padaku akan menerima dan melakukan apapun yang kumau! Maka kau harus mengerti, kata-kata seorang ksatria, sekali dikeluarkan, empat ekor kuda tak dapat mengejarnya! Itu kata-kata yang keluar dari mulutmu sendiri dan aku anggap apa yang kau ucapkan, harus kau wujudkan! Kau seorang laki-laki sejati! Hm! Siapa tahu... sekarang kau bicara begini! Tahukah kau, kau telah membuat aku si orang tua jadi putus asa!"

Tiang Keng mengangkat kepalanya, ia lihat mata Jie Giok, dua-duanya sedang mengawasi secara mengejek kepadanya. Dadanya jadi bergolak sendiri Lantas ia ingat pada suatu lakon dulu, tentang seorang bernama Bwee Seng berjanji dengan seorang nona akan bertemu di kolong jembatan. Sebelum si nona tiba, air bah telah mendahuluinya. Bwee Seng tak ingin salah janji, ia tidak mau pergi dari jembatan, ia menanti terus. Ia memeluki tiang jembatan dan mati karenanya. Bwee Seng mati tetapi kepercayaannya tidak ikut mati atau diingkarinya. Karena itu, namanya jadi harum untuk selama-lamanya.

"Maka itu aku To Tiang Keng, apakah aku harus merusak kepercayaanku?" ia bertanya pada dirinya sendiri.

"Aku belum dapat berbuat setia pada negara, aku tak mampu merawat orang tua. tetapi aku harus menjunjung kepercayaan! Ayahku seorang gagah, Ayah tentu tak sudi aku jadi seorang yang tak dapat dipercaya! Mana mungkin Ayah menghendaki aku ditertawakan oleh Un Jie Giok? Tapi ""

Ia diam lagi. Urusan ini sangat sulit.

Tetapi ia seorang laki-laki, lantas ia mengambil keputusan.

Ia pun berkata dengan suara nyaring. "Baiklah! Aku sudah mengeluarkan kata-kataku padamu, aku akan pegang itu, aku tak akan menyesal! Akan tetapi, meskipun aku menikah dengan muridmu, dalam tempo tiga tahun, pasti aku akan mencarimu untuk mewujudkan pembalasan sakit hatiku! Jika kau menganggap aku melupakan maksudku mencari balas, kau keliru besar!"

Jie Giok tidak kaget atau takut, sebaliknya dia tertawa lebar.

"Jangan kata baru tiga tahun, sekalipun tiga puluh tahun, pasti aku akan menantikan kau, asal kau bisa mewujudkan pembalasanmu itu!" katanya dengan dingin. "Hanya aku khawatir. Hm! Hm!" Lantas dia berhenti bicara. Itu sama artinya dengan kata-kata. "Meski sampai seumur hidupmu, buat mencariku untuk membalas sakit hatimu, kau tidak mempunyai harapan”

Tiang Keng pintar, ia dapat membaca hati orang. Maka alisnya bangun, la ingin mengeluarkan kata-kata, untuk balas mengejek. Tapi mendadak ia lihat hantu wanita itu mengebutkan tangan bajunya sambil berdiri, matanya mengawasi tajam, sinarnya dingin. Dia berkata lagi. "'Pada hari Pee-gwee Tiong Ciu, tak peduli kau punya urusan penting apa pun, kau harus berada di Thian Bak-san!"

Tiang Keng melembungkan dadanya.

"Sekalipun aku To Tiang Keng harus lebur jadi abu, pada hari itu pasti aku akan datang ke Thian Bak-san!'" ia berseru. ''Kau boleh melegakan hatimu! Kami orang she To. belum pernah ada anggota keluarga kami yang menghilangkan kepercayaan!" "Bagus kalau begitu!" seru si nyonya sambil tertawa dingin.

Sesudah itu, nyonya tua itu melirik ke gelanggang pertempuran. Kembali romannya berubah. Wajahnya menjadi dingin seperti semula. Dengan langkah ayal, dia turun dari keretanya. Sekali lagi dia bertepuk tangan perlahan.

Gim Soan tetap terkurung. Dia sudah bermandikan keringat, rambutnya pun kusut. Dia terkurung dengan nafas memburu. Kalau tadi ia tampak sangat angkuh, sekarang dia menjadi tidak karuan macamnya. Bahkan sinar matanya tak lagi tajam seperti tadi. Matanya menjadi suram Dia memandang ke arah si nyonya tua untuk berkala dengan suara bergetar. "Taruh kata guruku tidak akur denganmu, apa perlunya kau menghinaku begini rupa?"

Belum berhenti suara si anak muda ini atau mendadak. "Bruk!"

Gim Soan jatuh di tanah, tenaganya habis sendiri. Saat itu, meski orang biasa saja yang menghajar padanya, tak dapat ia melawan....

Tiang Keng tak tega walaupun orang itu musuhnya dan orang itu pun jumawa sekali. Perlahan-lahan ia memutar diri untuk tak usah melihat keadaan orang yang menyedihkan itu.

Un Jie Giok tertawa, kedua tangannya diisyaratkan perlahan-lahan, terus dia kembali ke keretanya.

Beberapa orang nona menghampiri

Gim Soan untuk dibangunkan dengan paksa. Satu nona menotok jalan darah soan-kie di dadanya. Sesudah itu mereka meninggalkannya, untuk menggiring kereta si hantu wanita.

Un Jie Giok berkata dingin. "Tak lama lagi akan tiba hari Pee-gwee Tiong Ciu. maka pergilah kau mencari tempat yang cocok untuk berlatih secara sungguh-sungguh! Dengan kepandaianmu sekarang ini hm! Sekalipun kau sudah lihay. kau tidak bakal berhasil!"

Tiang Keng tahu kata-kata itu ditujukan kepadanya, ia mengawasi sambil melongo.

Walaupun perlahan jalannya, rombongan nona-nona berbaju merah itu toh akhirnya lenyap dari pandangan mata. lenyap teraling oleh rimba raya.

Anak muda ini menghela nafas. Ia berduka bukan main.

Tidak ia sangka bahwa ia bakal menemui kejadian seperti ini. Yang ia paling tak duga ialah Un Jie Giok sudah mengorbankan permusuhan di antara mereka berdua dengan membeberkan rahasia Nie Tong Sian Bu supaya ia bisa menikah dengan muridnya yang sangat disayangnya itu....

"Ah. entahlah bagaimana akhirnya " pikir Tiang Keng

yang takut untuk memikirkan apa yang bakal terjadi di kemudian hari. la terus berdiri diam disinari matahari yang panas terik.

Lewat sekian lama, baru ia tersadar.

"Entah siapa yang turun tangan atas kaum Koay Too Hwee itu?" pikir Tiang Keng ketika ia ingat nasib kaum Golok Cepat. "Mungkinkah Un Kin hendak meniru perbuatan si katak bintang di puncak Sie Sin-hong itu, untuk memancing orang- orang gagah ke Thian Bak-san dan menumpas mereka di atas gunung itu?"

Menduga demikian hati si anak muda jadi miris sendiri. Tanpa terasa, terbayang pula di depan matanya peristiwa sepuluh tahun yang lalu di kaki puncak Sie Sin-hong waktu kawanan binatang berbisa dan beburonan berebutan lari berkumpul di Tiat-cian-tauw untuk menerima kematian....

"Bukankah semua binatang itu tahu mereka bakal mati?" ia berpikir. "Kenapa mereka pergi juga? Bukankah besok lusa kawanan orang gagah pun bakal makan umpan Un Kin? Bukankah orang-orang gagah itu bakal bernasib sama seperti kawanan binatang yang tak secerdas manusia itu?"

Berpikir demikian, Tiang Keng yakin bahwa lui-tay di Thian Bak-san itu benar-benar perangkap untuk orang-orang gagah, baik yang kemaruk harta maupun yang cuma ingin menyaksikan pertandingan di sana.

"Aku tahu hal ini, aku harus berdaya," pikir Tiang Keng kemudian. "Aku mesti cegah bencana itu! Tapi, bagaimana caranya aku harus bekerja?"

Ia menjadi bingung sendiri...

Sementara itu dari arah belakang rimba, di luar tahu Tiang Keng, muncul seorang imam berjubah abu-abu kehitaman serta jenggotnya panjang. Meski dia memakai sepatu dasar tebal, dia tidak menerbitkan suara sama sekali. Dia pun muncul secara sangat mendadak. Rupanya dia sudah berada lama di dalam rimba itu dan baru sekarang ia memperlihatkan diri. Dia bertindak ke sisi si anak muda yang sedang menunduk dan berpikir keras.

Tiba-tiba dia tertawa nyaring dan berkata. "Saudara, kenapa kau mengerutkan alis dan wajahmu agak suram? Apakah kau sedang dihinggapi urusan yang menyulitkanmu?"

Tiang Keng terkejut bukan main. Ia berpaling dengan tubuh menggigil. Tapi ketika ia sudah melihat jelas, ia mendapatkan seorang tua dengan kopiah tinggi dan wajah berseri-seri mengawasi padanya. Kumis dan jenggot orang tua itu panjang dan hitam, matanya tajam. Dia sudah tua tetapi dia sehat, bahkan dia mirip seorang petapa. Ia pun mengawasinya sambil melongo.

Orang tua itu terus memandangnya, dia tertawa dan berkata lagi. "Umumnya dari zaman dahulu, anak-anak muda tak biasanya mendapat kesusahan, tetapi kau lain. Aku lihat kau tampan, romanmu gagah, jika aku tidak salah, kau pasti memiliki ilmu silat yang tinggi. Kau bukan si mahasiswa yang dibikin pusing oleh segala syair! Kenapa kau berduka?"

Sikap dan kata-kata orang tua itu mendatangkan rasa suka, demikian juga kesan Tiang Keng. Akhirnya anak muda ini tersenyum, segera ia memberi hormat sambil menjura.

"Terima kasih, Loo-tiang." ia mengucap. "Sebenarnya aku berduka karena suatu keruwetan yang belum dapat kuatasi..."

Orang tua itu tertawa nyaring, ia mengurut kumisnya. "Jika kau percaya padaku dan tak mengatakan aku ini

lancang, maukah kau menceritakan keruwetanmu itu padaku?

Aku ini memang bodoh tetapi aku lebih tua darimu, mungkin aku dapat membantumu memikirkan masalahmu itu " kata si orang tua.

Tiang Keng mengawasi orang tua itu. Ia lihat sinar mata orang tua itu sangat berpengaruh.

"Kau baik sekali, Loo-tiang, aku bersyukur," kata Tiang Keng. Ia lantas berhenti. Mendadak timbul kesangsiannya. si imam tak dikenal dan urusan demikian penting, urusan mengenai keselamatan kaum rimba persilatan! Mana dapat ia membeber

rahasia itu kepadanya?

0oo0