Dendam Asmara BAB 20. UN JIE GIOK BERSIMPATI PADA TIANG KENG

BAB 20. UN JIE GIOK BERSIMPATI PADA TIANG KENG

Tiba-tiba Tiang Keng berkata dengan suara nyaring, "Nah, kau katakan apa permintaanmu itu!"

"Jika kau tidak sanggup, bagaimana?" tanya Un Jie Giok dingin. Gim Soan tersenyum geli ia berpikir. "Benar-benar Ang-ie Nio-nio sulit dilayani! bagaimana jika dia mengajukan syarat yang tidak dapat melakukan oleh Tiang Keng, bukankah itu sama saja dengan ia ingin menyuruh Tiang Keng binasa?"

Tiang Keng tercengang. "Apa yang kau minta?" kata Tiang Keng. "Kalau itu benar tak dapat kulakukan, karena hanya akan menyulitkan aku saja, baiklah, tak perlu kau sebutkan! Aku To Tiang Keng, sebelum aku mati, hatiku sudah tenang! Untukku, mati atau hidup, sama saja tak akan kuhiraukan!"

"Tapi pasti permintaanku ini akan sanggup kau lakukan!" kata si Nyonya Tua kelihatan tak puas.

"Jika kau bilang begitu, pasti aku sanggup melakukannya!" kata Tiang Keng. "Memang aku tidak percaya ada sesuatu yang tak dapat dikerjakan oleh manusia!"

Pada wajah dingin dari Jie Giok tampak senyumnya. Ia mengangguk.

"Bagus!" kata Jie Giok. Tiba-tiba tubuh Jie Giok mencelat ke depan si anak muda, tangan kirinya menyerang, tangan kanannya membabat pinggang lawannya. Kedua jago Khun Lun itu gerakannya berbareng dan gesit sekali.

Tiang Keng terkejut. Syukur ia waspada dan tetap curiga.

Segera ia berkelit ke samping, sambil berkelit ia menegur, "Kau belum menjelaskan syaratmu, kenapa kau sudah menyerang secara mendadak?"

Nyonya tua itu menjawab dengan suara tawar. "Jika kau menang, soal itu tak usah disebutkan lagi! Jika kau kalah, akupun tidak ingin merampas jiwamu! Sampai kita selesai bertanding, baru aku akan bicara!" ujar seorang di antara mereka.

Sesudah berkata begitu, kembali Jie Giok menyerang. Hebat orang tua ini. dengan cepat ia sudah menyerang sebanyak belasan kali. Dia sudah tua tetapi dia sangat gesit dan tenaganya pun kuat sekali. Gim Soan ingin mendengar syarat orang itu, sekarang ia malah menyaksikan si nyonya tua menyerang lawannya, ia j adi heran.

"Benar-benar Ang-ie Nio-nio ini kejam! Dia pun aneh sekali!

Kalau dia mau menyerang orang, buat apa dia bertanya banyak-banyak dan hendak mengajukan permintaannya itu? Toh tak nanti pemuda ini menyangkal kata-katanya?

Sebenarnya apakah permintaannya itu?" pikir Gim Soan.

Aneh atau tidak, anak muda ini pun jadi tertarik hatinya, ia ingin mengetahui kesudahan pertempuran itu. Tapi di lain pihak, tiba-tiba ia ingat si nyonya tua juga melarang ia pergi. Mau apa dia? Kenapa ia berlaku tolol menantinya? Bukankah ini saat yang baik buat angkat kaki.

"Apa pun yang ingin si pemuda To melakukannya, itu tak ada hubungannya denganku, bukan?" pikir Gim Soan akhirnya.

Gim Soan lantas memutar tubuhnya untuk berlalu. Ketika ia melihat ke depan, ia terperanjat. Entah kapan bergeraknya, rombongan nona-nona itu telah mengepung dia. Ia jadi menyesal sekali. Terpaksa ia diam lagi, ia batal pergi. Lantas ia awasi pertempuran itu.

Un Jie Giok bertempur dengan hebat. Dengan cepat ia mendesak. Meskipun begitu, setelah belasan jurus, maka tahulah ia bahwa si anak muda benar-benar lihay hingga ia tidak berani berlaku gegabah lagi.

Tiang Keng melayani lawan dengan sungguh-sungguh, jika tidak, ia bisa celaka. Lewat belasan jurus sudah, ia jadi repot. Hampir saja ia tak dapat melakukan serangan balasan. Tapi ia murid Su-khong Giauw, tak sudi ia kalah mentah-mentah oleh musuh. Mendadak ia berseru, kedua tangannya mencengkeram ke arah dada nyonya tua itu.

Jie Giok terkejut. Itu adalah pukulan yang berbahaya. Itu ia ketahui dengan baik. Tapi ia tidak takut. Dengan gesit ia berkelit mundur, lalu saat tangan orang meluncur, ia membalas dengan sangat cepat. Kedua tangannya menyambar ke muka lawannya.

Tiang Keng terperanjat. Ia repot untuk menyelamatkan diri.

Akhirnya ia berhasil lolos. Ia jadi penasaran, lalu ia ulangi serangannya. Sekarang ke atas dan ke bawah, tangan kanan ke pelipis kiri, tangan kiri ke iga kanan. Itulah pukulan luar biasa miliknya.

Jie Giok seorang jago tua, ia toh jadi heran. Ia tidak kenal ilmu yang luar biasa itu. Tapi ia tidak gentar olehnya. Ia juga tidak mau sembarangan menangkis, ia menjejak ke tanah untuk lompat mundur dua tombak jauhnya. Tidak tanggung ia berkelit, hingga terlihat bajunya berkibar-kibar. Tiang Keng kagum menyaksikan kegesitan lawannya yang tua itu. akan tetapi tanpa sangsi ia melompat menyusul lawan, sambil menyerang.

Gim Soan menyaksikan adegan itu. Dia heran dan kagum, la juga mendongkol. "Dia begini lihay, kalau dia dapat pergi ke Thian Bak-san. dia bisa menjago! Siapa sanggup menjadi lawannya?" pikirnya.

Karena mendongkol, timbul pula rasa iri pemuda ini.

"Tak ada jalan lain, dia harus disingkirkan!" demikian pikir Gim Soan. Ia segera mengambil keputusan, hingga ia lupa bahwa ia sendiri sedang dikurung oleh barisan wanita!

Pertempuran masih berlangsung hebat. Tiang Keng mencoba mendesak lawannya. Jie Giok mundur. Kepastian kalah menang belum terdapat. Dia mundur tanpa terkalahkan. Dengan begitu terlihat kelihayan tubuh si jelek itu.

Sudah banyak jurus dilewatkan, Jie Giok tetap gesit dan tenang. Sesudah itu baru tampak dia mulai balas mendesak. Dia berhasil dengan cepat. Sekarang tampak Tiang Keng yang terdesak .. . Ketika itu matahari sudah naik tinggi, hawa panas sekali.

Tiang Keng sudah bermandikan peluh. Ia jadi khawatir. Diam- diam ia menarik napas. Ia tahu dengan baik sekali, jika ia terus terdesak demikian, ia bakal segera dikalahkan.

Kekalahan seperti hilang harapannya untuk membuat pembalasan...

Keduanya masih bergulat sengit. Lewat pula belasan jurus. "Ah, sudahlah!" pikir Tiang Keng akhirnya. Ia melompat

mundur ke luar gelanggang untuk menurunkan kedua

tangannya, lalu dengan air muka guram, ia berkata perlahan, "Katalan syaratmu itu!"

Jie Giok mengebut tangan bajunya yang panjang. Ia melenggak untuk tertawa.

"Menang ya menang, kalah ya kalah!" kata dia. "Nak kau benar-benar seorang laki-laki!"

Ia menoleh ke arah Gim Soan. Mengawasi si baju kuning, ia tak tertawa, tak tersenyum. Ia berkata, "Dibanding dengan kau atau gurumu, dia ini menang jauh!"

Gim Soan malu dan mendongkol.

"Hm!" ia memperdengarkan suaranya. Dia segera memutar rubuhnya. Angkuh lagaknya. Tapi ketika ia mengawasi salah seorang nona berbaju merah, sengaja ia tersenyum!

Un Jie Giok yang melihat lagaknya jadi mendongkol sekali.

Matanya sampai bersinar-sinar.

"Dia benar mirip dengan gurunya!" pikir Jie Giok sengit.

Lantas ia menepuk kedua tangannya satu sama lain.

Belasan nona itu tertawa serentak. Itu tepukan tangan yang merupakan tanda untuk segera bergerak.

Gim Soan terperanjat. Tahu-tahu ia sudah terkurung seraya dihujani serangan. Matanya pun seperti kabur melihat cahaya serba merah. Yang hebat ialah serangan bangsing dan kipas bulu angsa. Ia mengerti dirinya sudah terkurung oleh barisan rahasia Nie Tong Sian Bu. Dia pun merasa malu....

Kembali terdengar suara tawa dingin Un Jie Giok, disusul dengan tepukan tangannya dua kali.

Mendengar isyarat itu, kawanan nona-nona berbaju merah itu lantas bernyanyi, gerakannya menjadi semakin cepat. Gim Soan melihat lawannya mendesak secara bergantian. Yang satu berhasil diserang mundur, yang lain maju menggantikan. Ia khawatir sekali.

Gim Soan yang melirik ke arah barisan nona-nona itu, jadi terkejut. Jelas tadi ia belum terkepung benar-benar. Sekarang baru ia melihat tegas lihaynya barisan itu. Maka ia merasa bahwa sakit hatinya sukar dibalaskan...

Jie Giok pun mengawasi pengurungan atas diri Gim Soan.

Ia menunjukkan roman yang menandakan bahwa ia memikirkan sesuatu. Untuk sejenak ia tunduk.

"Kalau aku menjelaskan syaratku," kata ia kemudian pada si anak muda yang ia awasi. "Bukan saja itu tak ada bahayanya untukmu bahkan-sebaliknya. Itu masalah jika orang lain memintanya pun sukar untuk mendapatkannya. Jika kau sama dengan itu " ia menunjuk ke arah Gim Soan. "Hm!

Hm! Sekalipun kau memohon sambil berlutut di depanku, tidak nanti aku meluluskannya!"

Tiang Keng heran hingga ia melengak. Pada parasnya ia tidak menunjukkan suatu apa. Ia sedang menunduk karena merasa malu dan penasaran. Bukankah ia sudah tercekal di tangan musuh? Kalau ia tak ingat sakit hati orang tuanya belum terbalas, mungkin ia sudah bunuh diri. Tentang syarat Un Jie Giok, ia tidak menghiraukannya. Dengan sikap tawar ia mengawasi nyonya jelek itu.

Un Jie Giok menghela napas sendiri. "Sudah sejak beberapa puluh tahun aku menggunakan segala dayaku mengumpulkan barang-barang berharga dan luar biasa," katanya perlahan. "Buat semua itu,... semuanya benda yang sampiran... entah telah berapa banyak dosa yang aku telah lakukan... Sekarang, di ini detik, semua barang itu masih tetap berharga, akan tetapi itu tak dapat dipakai untuk menarik atau mengembalikan usia mudaku yang telah lewat..."

Ia berhenti bicara, matanya dipentang lebar. Dengan sinar tak berkedip, ia menatap si anak muda di depannya.

"Memang semua benda itu berharga luar biasa," lalu ia menambahkan. "Maka itu, meskipun untukku sudah tidak ada harganya, buat orang lain, mencari sepotong pun sulit. Akhir- akhir ini aku telah terperdaya oleh seseorang, akan tetapi meskipun demikian, sisanya masih tidak sedikit, bahkan harganya tetap luar biasa. Jangan dibicarakan yang lainnya buat menyebut pedang saja, umpamanya. Semua itu adalah pedang-pedang yang orang rimba persilatan ingin dapatkan! Tahukah kau?"

Tiang Keng mengangguk tanpa terasa.

"Selama hidupku, aku hidup menyendiri, tabiatku memang aneh." kata si nyonya. "Maka jika ada orang yang menentang kehendakku, aku lantas menghajarnya sampai mampus!

Demikian juga orang-orang rimba persilatan. Di depanku menyebut aku Ang-i Nio-nio atau Ang-i Sian-cu, sebaliknya di belakangku, tak seorang pun yang berani mencaciku! Hm!

Semua manusia tak seperti anjing dan babi, bagaimana juga mereka mencaciku, aku tak menaruh di hatiku, aku tidak mempedulikannya!"

Tiang Keng heran dan jadi tak sabaran. Orang itu bicara melantur, berpindah jauh dari pokok persoalannya Tapi toh ia harus mendengarkan orang itu bercerita lebih jauh. "Semua yang kuucapkan ini, belum pernah aku utarakan pada siapapun," demikian kata si nyonya. "Entah mengapa, hari ini aku mau menuturkannya padamu. Mungkin ini disebabkan semasa kecilku, tabiatku sama dengan tabiatmu, keras tak terpatahkan. Maka begitu aku melihatmu, aku jadi seperti berjodoh denganmu. Ya, ini aneh luar biasa!"

Un Jie Giok menghela napas, lantas ia berjalan perlahan ke arah keretanya yang terhias lengkap dan indah

Tiang Keng mengawasi. Bukan main herannya ia mendapatkan hantu wanita ini bicara demikian rupa. Toh, Tiang Keng tetap memusuhinya dan hendak membinasakannya. Ia lihat tubuh yang kurus tertutup pakaiannya. Kalau ia ingat kesepian seperti yang dituturkan nyonya itu, ia jadi simpati. Mendadak kesannya jadi baik, hingga hampir saja ia lupa bahwa si nyonya itu musuh besarnya. Tanpa merasa, pemuda ini berjalan mengikutinya. Ia pun berjalan dengan perlahan-lahan.

Nyonya itu naik ke keretanya untuk bercokol seperti tadi. Ia tampak seperti telah letih oleh usia tuanya. Tapi tak lama ia duduk lesu, mendadak tubuhnya ditegakkan, kedua matanya bersinar. Dengan dingin dan berpengaruh, ia berkata, "Jika kau tidak turut pada perintahku, aku tetap akan mengambil nyawamu! Hm! Jangan kau sangka aku benar-benar berlaku baik terhadapmu!"

Tiang Keng heran, ia tercengang. Nyonya tua ini memang benar-benar aneh dan sulit untuk diterka hatinya.

Sesudah berkata dengan bengis, si nyonya menyandarkan tubuhnya. Sekali lagi ia duduk lesu seperti tadi, hingga terlihat tanda-tanda dari usia tuanya dan lemah tak berdaya. Saat itu, siapapun yang tidak kenal padanya tak akan menyangka dia adalah si hantu wanita yang ganas dan ditakuti. Sambil membuka kedua matanya, nyonya itu mengawasi mega putih yang sedang melayang-layang. Karena itu, ia pun diam saja.

"Seumurku, aku benci semua orang di kolong langit ini!" katanya dengan sengit. "Sebaliknya, semua orang di kolong langit membenciku! Cuma ada seorang yang aku sangat sayangi, hingga untuknya, jika aku disuruh mati aku bersedia mati tanpa membantah lagi!"

Sesudah berkata begitu, roman si nyonya tua tampak seolah sedang penasaran.

Tiang Keng jadi semakin heran. Ia memikirkan siapa orang itu yang dapat kasih sayang nyonya tua ini. Hanya sedetik, ia berpikir. "Buat apa aku memusingkan diri? Dia toh tak ada sangkut-pautnya denganku?" Maka ia menegur dirinya sendiri. "Kenapa kau berkesan baik kepada musuh Ayahku?" Maka ia lantas mengawasi dengan tajam pada si nyonya, terus ia bertanya, "Apakah itu yang hendak diberitahukan padaku?"

Un Jie Giok seperti tidak mendengar pertanyaan itu. Ia terus berkata seorang diri.

"Kaulah anak jujur dan keras kepala, maka itu aku suka memberitahukan kepadamu!" katanya lagi. "Orang yang paling kusayangi itu juga muridku satu-satunya! Pasti kau telah melihatnya ketika ia berada bersama-sama di kaki puncak Sie Sin-hong! Asal matamu tidak buta, kau tentu telah melihat bagaimana cantiknya dia! Selama hidupku tidak sedikit aku telah melihat orang perempuan akan tetapi belum pernah aku mendapatkan yang cantiknya melebihi kecantikannya itu!"

Nyonya itu menghela nafas, tanpa memberi kesempatan dia berkata. "Hanya, meski pun roman anak itu tampak halus dan sabar, sebenarnya hatinya keras sekali, dia sama bandelnya seperti aku. Itu tabiat asalnya! Barang siapa bertabiat demikian, sekalipun ilmu silatnya tinggi luar biasa, dia akan menderita... Aku sudah tua, aku rasa tidak bakal hidup lebih lama, karena itu aku mulai khawatir memikirkan dia. Aku tidak tahu bagaimana akhir peruntungannya kelak. "

Jago wanita itu bersandar di keretanya, tampak dia tenang sekali. Dia bicara mengenai urusan pribadinya, urusan muridnya, manusia yang ia paling sayangi semasa hidupnya. Sama sekali ia tidak mau menimbulkan urusan dengan si pemuda she To itu.

Tiang Keng jadi makin tidak sabaran, akan tetapi entah kenapa, ia tak tega memutus omongan orang itu. Dengan demikian ia pun tidak tahu bagaimana "tidak sabarannya" Gim Soan yang terkurung di dalam tarian silat Nie Tong Sian Bu.

Pemuda berbaju kuning itu sangat penasaran dan khawatir ia tak dapat meloloskan diri. menyingkir dari bahaya, untuk dapat mendengar apa yang diucapkan si nyonya tua...

Tidak peduli dia gesit dan lihay, tapi murid Ban Biauw Cin- jin tidak sanggup meloloskan diri dari kurungan. Meskipun begitu ia masih sempat sewaktu-waktu mengawasi gerak-gerik si nyonya dan Tiang Keng, hingga ia lihat mereka seperti orang sedang ngobrol. 

Setelah bertempur sekian lama, Gim Soan mendapat kenyataan bahwa ia diserang bukan untuk dicelakai, melainkan sedang dikurung. Karena sekarang tidak bersungguh-sungguh seperti tadi. Ia berani menyerang tanpa menghiraukan lagi pembelaan dirinya. Dengan begitu ia jadi mendapat hati dan bersemangat lagi. Tapi. biar bagaimana, ia tetap terkurung...

"Ah, inilah hebat " pikir Gim Soan. Ia jadi ingat pada Tiang

Keng yang menyerah kalah pada si nyonya tua. Mulanya ia penasaran, ia tak suka mengaku kalah. Akan tetapi sesudah lewat beberapa jurus, ia kewalahan sendiri.

"Ah, sudahlah!" katanya sambil menghela napas. Ia lantas berhenti bersilat. Akan tetapi hebat baginya, saat ia berhenti itu, ia sudah diserang terus oleh nona-nona yang maju berbareng dari depan maupun belakang, kiri dan kanan. Maka tanpa daya lagi berbagai jalan darahnya berhasil ditotok, tapi bukan jalan darah yang mematikan. Waktu itu ia pun mendengar tawa riuh nona-nona itu mengejeknya.

"Eh. eh, mengapa kau begini tak berguna?"

Serangan perlahan dan tawa itu manis, tetapi Gim Soan merasakannya nyeri menusuk telinganya, sebab ia tengah dipermainkan. Tiba-tiba ia jadi gusar sekali. Mendadak ia berseru keras, bagaikan orang kalap, ia menyerang dengan hebat berulang-ulang!

Atas serangan Gim Soan itu kawanan nona-nona itu bergerak pula. maka tetap jago muda ini tak berdaya melepaskan diri dari kepungan mereka...

0oo0