Dendam Asmara BAB 19. TIANG KENG DIBUAT BINGUNG OLEH SIKAP MUSUH BESARNYA

BAB 19. TIANG KENG DIBUAT BINGUNG OLEH SIKAP MUSUH BESARNYA

Darah Tiang Keng bergolak seperti sedang mendidih. Sulit untuk menenangkan dirinya. Selama sepuluh tahun tak ada sehari pun ia melupakan musuhnya itu. Dia senantiasa ingat saja, sekarang saat ia berhadapan dengan musuh besarnya itu, ia hampir tak dapat menguasai diri. Sakit hati yang mengeram di dadanya, akan segera menyembur keluar. Akan tetapi tempo sepuluh tahun itu pun dapat membuat ia mampu melatih diri, hingga ia bisa bersikap sabar dan hati-hati. Ia insaf inilah saat anatara mati dan hidup baginya. Ia sadar sekali, jika ia berhasil, sakit hatinya bakal terlampiaskan, jika tidak, ajalnya bakal tiba. Ia yakin Un Jie Giok tidak akan membiarkan dia hidup bebas setelah tahu bahwa dia adalah musuh besarnya ..

Maka sebisanya ia berlaku tenang. Un Jie Giok sedang mengawasi dia dengan tajam ketika si anak muda mengangkat kepalanya memandang ke arahnya. Kemudian nyonya jelek itu mengangguk berulang-ulang.

"Ah, bocah, kau mirip dengan orang she To," kata dia, sabar. "Kau cuma "

Tiang Keng tidak puas, karena dipandang acuh tak acuh, sekarang si jelek itu menyebut ayahnya seperti sahabat perempuan itu, seolah perempuan jelek itu seperti tak pernah membinasakan ayah Tiang Keng. Karena itu, Tiang Keng ingin menghajar orang jelek itu sampai mampus dalam sekali pukul.

Lalu hal yang aneh telah terjadi.

Sebelum Un Jie Giok menyelesaikan kata-katanya, dan bukan kata-katranya itu diteruskan, mendadak tangan bajunya mengebut ke atah kiri, lalu tubuhnya mencelat ke kanan, cepat seperti kilat. Dia bergerak ke arah Gim Soan yang sedang berdiri di sebelah kanan dia. Berbareng dengan itu tangan kanannya menjambak ke dada orang muda berbaju kuning itu!

Gim Soan kaget sekali. Ia tidak menyangka akan ada serangan demikian cepatnya. Justru saat itu ia sedang menunggu darah Tiang Keng bakal muncrat berhamburan dari tubuh atau lehernya. Siapa tahu si nyonya justru menyerang dia. Dalam kagetnya, ia berniat melompat untuk menyingkir Lagi-lagi di luar dugaannya, nyonya itu cepat luar biasa. Tahu- tahu dadanya sudah terjambak oleh si Nyonya Tua. Ia kaget bukan main Gim Soan. Ini yang kedua kalinya orang berhasil menyambar bajunya. Sebagai seorang keras kepala dan  sombong, Gim Soan merasa malu, hatinya jadi sangat panas. Tapi karena jeri, ia terpaksa berlaku sabar.

"Loo-cian-pwee, kau mau apa?" tanya Gim Soan perlahan. Ia tidak berani sembarangan bertindak.

Ang-i Nio-nio tertawa dengan sangat menyeramkan.

"Pada sepuluh tahun yang lalu itu," kata si Nyonya Tua perlahan. "Ketika terjadi peristiwa di kaki puncak Sie Sin-hong, bukankah kau pun hadir bersamanya di sana?"

Hati Gim Soan bercekat, parasnya pun berubah pucat-pasi.

Dalam sekelebat, di benak Gim Soan terbayang dan ia ingat pada peristiwa sepuluh tahun yang lalu itu. Ketika itu ia masih seorang bocah, anak dari satu keluarga hartawan, walau ia tak mendapat kasih sayang dari ayah dan ibunya, la bertabiat keras dan buruk waktu itu.

Di saat ia harus pergi bersekolah, ia justru malah madol dan pergi ke pekuburan atau sebuah tegalan dan menyia- nyiakan waktu dengan bermain-main tidak keruan.

Pada suatu hari ia mengalami pengalaman yang mengherankan. Mendadak seorang imam muncul di depan dia. Ia mengira imam itu seperti turun dari atas langit. Ketika ia ditanya oleh si imam, apakah ia suka pergi dari rumahnya, dan dijanjikan akan diajari ilmu silat oleh si imam itu. Ia langsung menyatakan bersedia, karena ia merasa tak puas pada sikap kedua orang tuanya. Ia merasa ia bakal senang sekali jika ia bisa "terbang" seperti si imam barusan.

Di kemudian hari ia baru tahu bahwa imam itu bernama Ban Biauw Cin-jin yang tersohor gagah itu. Tatkala itu ia bersama-sama dengan dua orang bocah lainnya, mereka ikut bersama si imam. Dalam usia seperti itu, ia ingat padahal waktu peristiwa di kaki bukit Sie Sit-hong itu terjadi, ia belum tahu apa-apa. Ia mendengar jeritan berbagai binatang buas dan jinak di rimba itu, ia juga melihat debu mengepul naik ke udara, lalu dayang seorang laki-laki berusia pertengahan yang romannya gagah dan seorang nyonya yang cantik. Mereka muncul bersama dengan seorang bocah seperti dia. Ia lihat sikap luar biasa gurunya saat melihat pria dan wanita itu. la ingat pada si nyonya jelek berpakaian serba merah yang kurus kering serta nona cilik yang cantik manis berada bersamanya.

Setelah kejadian itu ia ingat semua, sekarang ia lihat pemuda yang tadi bertengkar dengannya, yaitu Tiang Keng. Serta sikapnya terhadap si nenek jelek, tiba-tiba ia sadar.

"Kalau begitu pemuda ini ialah si bocah berumur sepuluh tahun yang bersama-sama dengan pria dan nyonya cantik itu!" pikir Gim Soan. "Dan nyonya tua berbaju serba merah ini musuh pemuda yang orang tuanya telah dibinasakan oleh si perempuan tua jelek ini. Si nona cantik itu salah satu yang ia lihat pada tiga lukisan yang pernah ia lihat itu, dia si nona yang tadi bertempur di atas tembok kota. dia bocah elok yang dulu mendampingi si wanita jelek ini! Pantas saat melihat gambar nona itu, aku samar-samar langsung mengenali dia. Jadi urusan hari ini akibat dari peristiwa sepuluh tahun dulu itu..."

Saat Gim Soan sedang berpikir begitu, Tiang Keng saat itu sedang diliputi perasaan heran bukan main. Di luar dugaannya, si Nenek Tua itu membekuk si baju kuning atau membekuk dia, malah orang yang diterjangnya justru si baju kuning. Ia pun heran saat mendengar pertanyaan Un Jie Giok pada anak muda itu, tapi ia tak perlu berpikir lama untuk mengerti duduk persoalannya, mengerti seperti Gim Soan.

"'Ah, kiranya dia si bocah berbaju kuning yang sepuluh tahun yang lalu ada di puncak Sie Sin-hong..." begitu pikir Tiang Keng. Dengan demikian ia jadi ingat si bocah wanita cantik yang dibawa-bawa oleh Un Jie Giok.

"Sungguh luar biasa," pikir Tiang Keng. "Sepuluh tahun yang lalu mereka berkumpul di suatu tempat dan hari ini mereka berkumpul lagi di sini!" Ang-ie Nio-nio heran melihat Gim Soan diam saja. Ia lak tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda itu.

"Apakah kau ini murid Ban Biauw Cin-jin?" tanya si nyonya tua pada Gim Soan dengan bengis. "Hm! Gurumu manusia licik, tidak disangka ia punya murid sepertimu, murid yang liciknya seperti dia!"

Sampai di situ baru Gim Soan membuka mulut.

"Benar Guruku Ban Biauw Cinjin?" ia mengaku. "Aku sudah mendengar Suhu sering menyebut-nyebut namamu, Loo-cian- pwee. Kata beliau Loo-cian-pwee sahabat baiknya, maka itu aku heran, sekarang Loo-cian-pwee bersikap begini terhadap aku "

"Sahabat baik yang sudah bergaul lama, hm, sahabat kekal yang sudah bertahun-tahun!" kata si nenek berulang-ulang. Ia tertawa melenggak dan lama sekali. "Ya, sahabat sudah beberapa tahun! Bahkan belasan tahun lamanya, dia puas!

Pada sepuluh tahun yang lalu, aku telah berbuat salah pada orang she To, juga untuknya, si sahabat belasan tahun!

Padahal dengan orang she To itu aku tidak bermusuhan "

Mendadak dia menoleh ke arah Tiang Keng, ia berkata dengan dingin. "Apa yang kukatakan barusan tidak ada hubungannya denganmu! Tapi bisa kujelaskan padamu. Ayahmu itu memang benar aku yang membunuhnya! Jika kau hendak menuntut balas, kau boleh melakukannya padaku!"

Kemudian tanpa menunggu jawaban Tiang Keng lagi. dia berkata pula pada Gim Soan dengan suara keras. "Sejak hari itu, entah berapa banyak peristiwa yang dilakukan oleh gurumu, di kolong langit ini, orang yang paling licik, tidak ada yang menimpali Ban Biauw Cin-jin! Hm, siapa kira setan cilik, kau pun hampir mirip dengannya! Aku tanya kau! Barusan kau bilang kau tidak kenal pada turunan orang she To ini, lalu kenapa kau mengatakan bahwa kau punya urusan dengannya? Bisakah kau bermusuhan dengan orang yang tidak kau kenal ini? Kau bicara supaya aku mengerti!"

Gim Soan melengak.

"Permusuhan apa di antara aku dan orang she To?" ia bertanya pada diri sendiri.

Pertanyaan itu tak sanggup ia jawab sendiri. Sebenarnya ia cuma benci pada Tiang Keng, ia tidak punya permusuhan atau persengketaan lain dengannya. Melihat pemuda itu diam saja, Un Jie Giok tertawa tawar.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tegur Un Jie Giok. "Lekas kau bicara terus terang kepadaku! Kalau tidak, awas!"

Sambil menutup kata-katanya itu, si Nyonya Tua memegang lebih keras, terus tangan Gim Soan dia angkat naik hingga tubuh anak muda itu turut terangkat ke atas.

"Apa yang aku bilang semuanya benar," kata Gim Soan. "Aku mengagumi Loo-cian-pwee! Mana berani aku berpikir yang tidak-tidak terhadapmu?"

Berbareng dengan kata-kata yang terakhir itu, Gim Soan menggerakkan tubuhnya, tangan dan kakinya. Saat tubuhnya merapat ke tubuh si Nyonya Tua, kedua tangannya dipakai menotok dan menyikut lawan. Dengan kaki kiri, ia menggedruk dengkul kanan si Nyonya Tua dengan keras.

Semua gerakan itu dilakukannya secara berbarengan.

Un Jie Giok kaget sekali. Ia tidak mengira anak muda berberbaju kuning ini bernyali demikian besar, ia berani menyerang demikian rupa. Bahkan serangannya sangat kejam dan berbahaya. Untuk menolong diri dari ancaman bahaya itu, ia melepaskan jambakannya dan tubuhnya mencelat mundur beberapa langkah. Syukur dia bisa bebas dari serangan berbahaya itu.

Gim Soan melompat ke depan lima kaki jauhnya. Karena si nyonya tidak menendang, ia berpikir, "Ah, kepandaian dia cuma sebegini saja!" Karena itu, berkuranglah rasa jerihnya terhadap si nenek tua. Segera ia rapikan bajunya, dan berkata, "Aku tidak mengerti, mengapa Loo-cian-pwee mencaciku? Taruhkata benar Guruku pernah berbuat salah pada Loo-cian-pwee, saat Guruku belum menutup mata, mengapa Loo-cian-pwee tidak segera membuat perhitungan sendiri dengannya?"

Kata-kata pancingan itu untuk memanasi hati si Nenek, supaya si Nyonya Tua itu pergi mencari Ban Biauw Cin-jin, gurunya.

Un Jie Giok seorang yang pintar luar biasa. Gim Soan menduga tentu dia dapat membaca maksudnya, maka ia mengawasi dengan tajam pada perempuan jelek itu. Ia mengira Un Jie Giok bakal tertawa seperti tadi atau dia akan melompat berjingkrakan saking dongkolnya. Tapi ternyata dugaan Gim Soan meleset jauh. Sampai sekian lama ia menantikan, ia dapatkan si nyonya bersikap tenang-tenang saja. Wajahnya tenang, matanya yang tajam pun tenang. Ia pikir lawannya ini sedang berpikir keras atau kata-katanya itu tak terdengar olehnya Kemudian murid Ban Biauw Cin-jin

berpaling ke arah Tiang Keng. Ia lihat pemuda itu diam saja, mungkin sedang berpikir, kepalanya ditundukkan. Rupanya sang lawan sedang memikirkan sesuatu. Ia jadi heran sekali.

"Aneh sekali dia orang," pikir Gim Soan. "Tadi dia sangat galak, kenapa sekarang tiba-tiba dia jadi diam saja?"

Gim Soan menoleh ke arah Un Jie Giok, si nyonya tua juga sedang menunduk diam tak berkutik.

"Eh, kenapa Jie Giok pun mematung begitu?" pikir Gim Soan. "Lagaknya mirip nona muda-belia sedang memikirkan tunangannya "

Kemudian Gim Soan menoleh ke arah belasan nona-nona cantik yang membawa bumbung bambu hijau dan kipas di tangan mereka masing-masing. Walau mereka tetap berkumpul dan mengepung lawan mereka, mereka diam sedang mata mereka mengawasi tanah ..

Dasar cerdik. Gim Soan menduga sesuatu.

"Mereka semua sedang terpaku, buat apa aku juga terpaku sini?" Aku tidak bermusuhan dengan Un Jie Giok maupun Tiang Keng. Aku cemburu pada Tiang Keng. Karena aku pikir percuma saja aku diam saja di sini. malah mungkin aku bisa mendapat bahaya. Lagipula untuk angkat kaki, ini saat yang paling baik, aku sepertinya sedang tidak dihiraukan oleh mereka."

Oleh karena itu, ia segera memutar tubuhnya untuk berlalu dengan diam-diam. Ia berharap Un Jie Giok tidak melihat dan tidak menghalangi gerakgeriknya.

Setelah berjalan beberapa langkah, Gim Soan mendapat kenyataan tidak ada gerakan apa-apa dari perempuan tua itu. Ia heran karena tak dapat menahan rasa ingin tahunya, lantas ia menoleh ke belakang, pada saat ia menoleh ia lihat Un Jie Giok sudah berdiri di depan dia. Wajah Ang-ie Nio-nio dingin sekali

"Di mana gurumu sekarang berada?" tanya wanita tua itu.

Saking kagetnya, Gim Soan melompat mundur sejauh tujuh kaki.

"Di mana gurumu sekarang?" tanya si nyonya dengan suara dingin.

Hati Gim Soan jadi tidak tenteram. Ia duga pasti gurunya telah berbuat sesuatu yang tak selayaknya terhadap nyonya tua ini Ini bisa ia lihat dari sikap nyonya tua yang bengis sekali terhadapnya itu.

"Tak mustahil ada kisah asmara di antara Suhu dan wanita jelek ini?" pikir Gim Soan. Oleh karena itu ia memandang dengan tajam pada si nyonya tua. Ia lihat kecuali sangat jelek, usia nenek tua itu pun sudah lanjut sekal. Karena itu, tak mungkin di dunia ini ada pria yang bisa jatuh cinta pada wanita jelek semacam ini

....

"Di mana guruku berada sekarang, aku pun tidak tahu," jawab Gim Soan dengan licik. 'Loo-cian-pwee dan Guruku sahabat lama, kenapa Loo-cian-pwee justru menanyakan dia kepadaku?"

Sambil bicara begitu, Gim Soan terus ia awasi si nyonya tua jelek itu.

Wanita jelek dan bersikap dingin itu mendadak terlihat berubah sikap. Matanya yang bersinar tajam berubah menjadi lunak. Ketika ia bicara, suaranya pun perlahan sekali.

"Sudah hampir lima tahun aku tidak pernah bertemu dengannya..." kata dia. "Ah, aku tidak tahu kenapa dia tak mau menemuiku Ia diam, rupanya ia sedang berpikir keras.

Gim Soan jadi geli. la yakin terkaannya tak meleset sama sekali. Sekarang ia jadi merasa aneh terhadap gurunya. Meski pun sudah berusia lanjut, gurunya itu masih termasuk ganteng, maka ia jadi heran kenapa gurunya itu mencintai wanita jelek ini

Walaupun Gim Soan sangat cerdas, pemuda ini tak dapat menggunakan kecerdasannya itu. Ia tak dapat menerka hati Ban Biauw Cin-kun, gurunya yang sangat licin itu.

Sesungguhnya, si imam tua punya maksud lain. Ia sedang menjalankan siasat seolah menyukai perempuan jelek itu.

Sampai setua itu, Un Jie Giok belum pernah bertemu dengan pria yang jatuh hati kepadanya. Ia berwajah luar biasa buruknya, tetapi toh ia seorang wanita, manusia biasa, maka ia pun berharap cinta seorang laki-laki. In Hoan mengetahui hati si nyonya tua ini, dia gunakan keadaan ini dengan baik sekali. Dia bersandiwara di depan si tua jelek, dia buat perempuan itu mencintainya. Kemudian, sesudah dia tak mem butuhkannya lagi, dia depak si wanita jelek itu! Maka itu, bukan main sengsara hati Un Jie Giok ini. hingga dia jadi sakit hati. Walaupun sangat benci pada In Hoan, ia tetap berharap pria itu akan berubah hatinya dan akan kembali menemuinya....

Karena Gim Soan tak mengetahui soal ini. ia heran melihat sikap si Nyonya Tua telah berubah. Keduanya berdiri diam, mereka sama-sama berpikir sendiri-sendiri.

Tiang Keng awasi mereka berdua, ia pun berpikir. Mula- mula ia mengawasi ke sekitarnya, kemudian ia melompat maju dan dari mulutnya keluar kata-kata keras, "Orang she Un, tak peduli duduk persoalannya, kau tetap musuh yang telah membunuh Ayahku, walaupun ilmu silatmu lebih lihay dari padaku, hari ini aku harus membalas sakit hati Ayahku itu!

Aku tidak takut dihajar sampai mati oiehmu! Kau harus menyerahkan kepalamu untuk kupakai upacara menyembah yangi roh Ayahku!"

Un Jie Giok sadar dari lamunannya yang manis. Ia mebngangkat kepalanya, hingga tampak wajahnya yang bengis. Terlihat senyumnya yang tak sedap dipandang, tapi ia menoleh ke arah Gim Soan.

"Apa kau akan pergi?" kata si nenek sambil mengawasi dengan tajam. Lalu ia berpaling ke arah Tiang Keng sambil berkata, "Jika kuhajar kau sampai mampus, bukankah si orang she To itu jadi tidak punya turunan lagi? Dengan demikian, bukankah sakit hati Ayahmu jadi seperti tenggelam terus di dasar lautan yang dalam? Hm! Semula aku kira kau seorang anak berbakti, ternyata kau seorang manusia biasa yang tidak berguna!"

Tiang Keng heran mendengar kata-kata itu, ia diam. Ia yakin wanita lihay itu bukan lawannya, karena itu jika sekarang ia membalas dendam, sulitnya sama dengan naik ke langit. Tadi pada saat si nyonya Tua sedang bicara dengan Gim Soan, ia berpikir akan angkat kaki akan pulang ke Ong Ok-san. Dia harus belajar lagi lebih jauh. Tapi dia tidak menyesal jika ia pergi dari situ, ia bakal tak akan bisa bertemu lagi dengan musuhnya itu. Tapi menurut penda patnya justru sekaranglah saat yang paling baik untuk mewujudkan rasa penasaran hatinya yang telah ia pendam selama sepuluh tahun.

"Jika aku pergi, apa aku masih dapat disebut seorang laki- laki sejati?" pikir Tiang Keng.

Tiang Keng hatinya keras, ia mengambil keputusan saat itu juga untuk mengadu jiwa dengan musuh besarnya itu. Sampai ia lupa, jika ia mati siapa yang akan mewakili dia untuk membalas dendam ayahnya...

Setelah diam sejenak, putera To Ho Jian ini berkata nyaring.

"Jika aku sampai mati!" kata Tiang Keng sengit. "Pasti ada orang yang akan mewakili aku menuntut balas padamu!

Sahabat Ayahku ada di seluruh negara ini, pasti salah satu di antaranya ada yang akan membalaskan sakit hatinya! Jika kau bisa mampus di tanganku, baru aku puas!"

Kedua mata Un Jie Giok terbelalak lebar, sinar matanyanya berkilauan, dia tertawa nyaring.

"Sahabat-sahabat ayahmu di seluruh negara ini!" dia mengejek. "Sekarangi aku tanya kau! Aku telah membunuh Ayahmu pada sepuluh tahun yang lalu, tapi kenapa sampai sekarang tidak ada seorang pun yang datang membalaskan sakit hatinya padaku?"

Tiang Keng melengak lagi. Si jelek itu kata-katanya memang benar. Tetapi Tiang Keng tidak mengerti, buat apa dia berkata begitu.

"Sudah, jangan banyak omong!" bentak Tiang Keng. "Sekali pun kau lihay, aku tidak takut!" "Bagus! Bagus!" kata si jelek sambil tertawa terbahak. "Melihat semangatmu ini, aku si orang tua akan memberi kesempatan padamu!" Ia berhenti tertawa, dengan suara dingin ia menambahkan. "Sekarang jika kau bisa mengalahkan aku, akan kubiarkan kau memotong kepalaku untuk kau pakai menyembahyangi roh Ayahmu!"

Tiang Keng tertawa dingin.

"Kata orang kau orang tersohor, aku yakin kau tidak bakal ingkar janji!" kata Tiang Keng. "Cuma . "

Un Jie Giok tidak senang mendengar kata-kata itu.

"Kau kira aku orang macam apa?" tanya dia dengan suara keras. "Apa kau kira semua budakku bakal membantuku? Kau keliru! Kita akan bertempur berdua saja, satu lawan satu. siapa pun tak boleh membantu aku! Jika kau menang, pembalasanmu telah terwujud! Juga..." tiba-tiba suara wanita jelek itu jadi perlahan, "... tidak bakal ada orang yang mencarimu untuk membalas sakit hatiku kepadamu!"

Tiang Keng membusungkan dadanya.

"Jika kau yang menang, kau pun bebas mengambil kepalaku!" kata Tiang Keng dengan gagah.

Jie Giok melambaikan tangannya, dia tertawa dingin. "Jadi kau pun ingin memberi kesempatan padaku? Hm!" "Lalu?" tanya si anak muda heran.

Nyonya jelek itu tertawa.

"Jika kau kalah olehku," kata dia. "Aku cuma menghendaki agar kau melakukan satu hal, supaya di kemudian hari sesudah kau belajar silat lebih jauh, kau bisa datang lagi mencariku untuk melanjutkan usaha menuntut balas padaku! Sampai itu waktu, aku tidak akan menyesal atau sakit hati padamu!" Mendengar kata-kata demikian bukan hanya Tiang Keng yang keheranan tapi juga Gim Soan si anak muda berbaju kuning murid Ban Biauw Cin-jin.

"Apa yang si jelek ini minta pada si pemuda melakukannya?" pikir Gim Soan. "Pasti itu urusan lebih hebat sepuluh lipat daripada kematian! Hm! Kalau dia berjanji begini padaku, aku tidak akan sudi menerimanya!" Gim Soan lantas menoleh melihat ke arah si anak muda untuk menanti jawaban. Ia lihat Tiang Keng mengepal keras kedua belah tangannya, matanya memandang ke bawah. Jelas pemuda itu sedang berpikir keras.

Memang Tiang Keng pun menduga bahwa permintaan si nyonya tua pasti hebat luar biasa. Akan tetapi ia ingin balas dendam dan ini adalah waktu yang baik, mana dapat ia lewatkan begitu saja? Maka ia pun mengertakkan gigi dan menyahu, "Baik! Kata-kata seorang kuncu harus bisa dipercaya!"

Un Jie Giok tertawa.

"Apakah kau sangka aku bakal menyangkal?" kata dia.

Gim Soan jadi geli juga. Dia berpikir bocah she To ini bakal kena diakali. Ia lantas menggendong kedua tangannya, untuk mendengarkan si nyonya bicara.

0oo0