Dendam Asmara BAB 16. NONA-NONA NAKAL MENGERJAI TO-SU TAUW-TO

BAB 16. NONA-NONA NAKAL MENGERJAI TO-SU TAUW-TO

Melihat si nona kecil itu tertawa, si pendeta jadi semakin mendongkol. Kemudin dengan keras dia mulai membentak. "Hai, Nona kecil, kenapa kau tertawa? Apakah kau menertawakan aku?" tanya si pendeta heran. Nona itu tertawa lagi. Ia melepaskan cabang pohon dan langsung merapikan rambutnya.

"Aku tertawa karena kau sangat sembrono, Tay-su!" kata si nona yang kembali tertawa.

Mendadak mata si pendeta terbuka, romannya pun jadi bengis. Jelas ia tak senang atas kata-kata si nona barusan.

"Aku telah membantu kalian, sekarang kau katakan aku sembrono!" tegur si perdeta kesal sekali. "Apakah aku salah karena telah membantumu?"

Nona itu menurunkan tangannya, dia menjura. "Barusan Tay-su membantu kami, untuk itu kami menghaturkan terima kasih," kata si nona. "Akan tetapi " Dia

kembali tertawa. "Ucapanku tak salah dan memang benar bahwa Tay-su agak sembrono! Kebusukan dari si orang berpakaian hitam itu telah dapat menerka guru Tay-su.

Mengenai hal itu, apa yang harus dibuat heran? Aku sendiri, bukan saja tahu nama guru Tay-su bahkan aku juga tahu nama Tay-sui!"

Kembali si nona tertawa.

Mata si nona yang tajam mengawasi si pendeta. Kemudian sambil menutupi mulutnya, maksudnya untuk mencegah tawanya ia menambahkan, "Bukankah gelar Tay-su ialah To- su Tauw-to (pendeta usilan) yang kesohor di kolong langit ini? Bukankah nama Tay-su ialah Bu Kin Tay-su yang mulia?"

Pendeta itu benar-benar merasa aneh.

"Benar-benar mengherankan!" katanya. "Mengapa kau mengenaliku tetapi aku tidak mengenalmu?"

Si cantik manis itu tertawa manis.

"Aku tidak kenal kau, Tay-su!" kata dia. "Aku hanya menerka dirimu dari ilmu silatmu." Ia mengeluarkan tiga buah jari tangannya yang halus dan lentik, lalu ia berkata. "Di antara orang-orang Rimba Persilatan di dunia ini, siapakah yang tidak mengenal atau mengetahui Siauw Lim Sam Loo dari gunung Siauw Sit-san di pegunungan Siong-san?

Meskipun mereka bertiga biasa hidup menyendiri di atas gunung, semua orang tahu di antara mereka itu yang terlihay tenaga dalamnya ialah

Khong Leng Siang-jin dari lauwteng Chong Keng Kok.

Sementara yang lihay ilmu silat merangkap ringan tubuhnya yaitu Khong Hui Siang-jin dari ruang Lo Han Tong. Sedangkan yang paling mahir ilmu silat senjata hong-pian-san, senjata pusaka dari kuil Siauw-lim-sie ialah Khong Teng Siang-jin dari ruang Tatmo Ih! Coba katakan, apakah kata-kataku ini benar atau tidak?'"

To-su Tauw-to yang gemar mencampuri urusan orang lain itu mengangguk ragu-ragu.

Si nona tertawa lagi.

"Tay-su." kata si nona manis. "Barusan Tay-su bersilat dengan Hang Liong Lo Han San. Siapa pun mereka, asalkan yang ilmu silatnya cukup mahir, akan langsung mengenali ilmu silat itu! Maka itu kecuali Khong Teng Siang-jin, siapa yang dapat mewariskan ilmu silat hong-pian-san itu kepada muridnya? Benar tidak kata-kataku ini?"

Mata si pendeta bersinar. Rupanya ia senang sekali oleh pujian nona itu.

"Tapi, mengapa kau ketahui aku ini To-su Tauw-to Bu Kin?" ia bertanya karena penasaran.

Si nona tertawa sambil menutupi mulutnya.

"Kecuali Bu Kin Tay-su, siapakah di kolong langit ini yang gemar membantu pihak-pihak yang diperlakukan tidak adil atau tak pantas?" tanya si nona. "Siapakah yang kesudian membantu kami tiga orang wanita muda yang lemah?"

Bu Kin menepuk dahinya. Dia tertawa terbahak-bahak. "Kalian orang-orang muda, makin lama kalian makin

cerdas!" dia berkata. "Aku tak dapat menerka seperti caramu!"

Mendadak dia membentak dan menuding ke arah si nona seraya berkata. "Nona, bukankah kau sedang mempedayaiku si pendeta?"

Nona itu melengak. la heran atas perubahan sikap pendeta itu, sedang gelang gegamannya berbunyi nyaring. Hanya sebentar, ia sudah dapat tersenyum.

"Tay-su, mustahil kau juga hendak menghinaku si lemah ini?" tanya si nona perlahan. To-su Tauw-to diam sebentar, lalu kembali ia membentak, "Apa, kau orang lemah? Apakah kau kira aku ini benar-benar manusia tolol? Apakah kau kira aku tidak melihat kau ini pandai silat? Hm! Dengan ilmu silatmu ini, siapakah di kolong langit yang dapat main gila atas dirimu? Tak heran kalau pemuda tadi mengatakan kau wanita jahat! Hm!"

Kata-kata "hm" itu diucapkan perlahan demikian juga kata- kata "wanita jahat", hampir tak terdengar. Si pendeta merasa si nona mendustainya tetapi entah kenapa, ia tak dapat mengutarakan kemurkaan terhadap gadis itu. Terutama tawa si nona yang manis sekali terdengarnya membuat hatinya lemah.

Nona itu menghela napas.

"Tay-su," kata si nona perlahan dan nadanya berduka. "Memang aku mengerti juga sedikit ilmu silat akan tetapi aku bukan tandingan pemuda berbaju hitam itu. Lebih-lebih aku tidak akan sanggup kalau harus melawan Taysu sendiri. . "

Perlahan-lahan To-su Tauw-to menurunkan senjatanya, parasnya menunjukkan ia sangat menyayangi si nona.

Nona itu tetap memperlihatkan wajahnya yang lesu. "'Sebenarnya, Tay-su," kata si nona laagi dengan suara

perlahan. "'Dari siang-siang Tay-su sudah bisa megetahui bahwa aku ini bukan seorang wanita jahat? "

Bu Kin mengawasi nona itu, dia kembali menepuk dahinya. "Tapi, Nona," kata dia, sangsi. "Bukankah tadi Nona berada

di atas pohon itu? Kenapa aku dan si bocah tidak melihatmu?

Kepandaian kau itu ….”

Mendadak si nona tertawa, memotong kata-kata si pendeta. Ia menutup mulutnya, untuk mencegah tawanya lebih jauh. "Tay-su, kau kembali menujukkan kesembronoanmu!" kata si nona. "Bukankah Tay-su telah melihat sendiri lebatnya pohon ini? Bukankah angin pun bertiup cukup keras hingga membuat daun-daun rontok secara berisik? Jangan katakan aku, sekalipun orang lain yang lebih bodoh dariku, jika dia memanjat waktu suara berisik siapakah yang bisa mendengar dan mengetahuinya? Siapa yang dapat melihat aku sedang bersembunyi?"

Keterangan ini melenyapkan kesangsian si pendeta. Karena itu, ia tak lagi heran dan masgul seperti tadi.

Melihat demikian, si nona pun girang, la tidak tahu, benar seperti kata si nona, sukar orang mengetahui cara dia menyembunyikan diri itu. Saat dia sedang bicara, di pohon pun ada seorang lain yang telah naik ke atasnya, tanpa terlihat dan terdengar olehnya begitupun oleh Bu Kin .. .

Tiang Keng menyusul ketiga nona itu begitu ia mendapat kenyataan nona-nona itu telah menghilang dari balik pohon. Ia belum lari jauh ketika hatinya tercekat. Segera ia lari dan kembali lagi ke tempat asal. Ia tahu sia-sia belaka ia mengejar nona-nona itu, mungkin mereka sudah lari jauh sedangkan rimba itu lebat sekali, la pun khawatir terjebak atau dibokong oleh musuh. Ketika ia baru menahan kakinya, ia mendengar suara bentakan. Ia mengenali suara si pendeta sembrono.

Timbullah kecurigaannya. Segera ia kembali, la lihat si Tauw- to dan nona itu asyik bicara. Tepat ia mendengar si nona berkata bahwa dia kalah jauh dari si pendeta. Ia lantas melompat naik ke atas pohon. Tentu saja ia dapat naik tanpa suara apa-apa. Begitulah ia dapat menyaksikan semua yang terjadi di bawah. Ia mendengar semua pembicaraan antara si pendeta dan si nona. Tatkala si nona berkata pada si pendeta bahwa ia bukan wanita jahat, ia ingat tadi pun nona itu telah bertanya bahwa kedua tangannya tadi bukan kedua tangan yang dapat membunuh orang... Hampir saja anak muda ini melompat turun dari pohon waktu ia mendengar si nona menyebut hal dirinya "orang yang terlebih bodoh", ia batal turun karena ia tahu si pendeta sudah berhasil dikelabui oleh nona itu. Jika ia turun, pendeta itu pasti bakal membantu nona tersebut mengeroyok dia. Maka itu ia diam terus, pasang mata dan telinganya.

To-su Tauw-to berdiri sambil bersander pada senjatanya.

Dia agaknya sedang berpikir. Sementara si nona pun diam, dia menggunakan kedua tangannya untuk mengusap-ngusap rambutnya.

"Tay-su," kata si nona kemudian, "Tay-su melakukan perjalanan mengembara, apakah Tay-su akan menyaksikan keramaian di gunung Thian-bak-san?"

Kedua mata si pendeta dipentang lebar.

"Bagaimana kau mengetahui hal itu?" tanyanya heran. Nona itu tertawa geli.

"Apakah Tay-su datang karena Tay-su menginginkan pedang yang tajam!" kata si nona lagi. "Atau Tay-su berharap mendapatkan si nona manis?"

Pendeta itu tertawa terbahak-bahak, dia menepuk-nepuk dahinya.

"Semua orang menyebutku To-su, Nona, kau ternyata lebih to-su dariku!" kata si pendeta. "Kau sampai mau ikut campur urusanku! Baiklah aku beritahukan kepadamu, kedatanganku bukan untuk mendapatkan pedang atau si nona manis tapi hanya untuk mencari uang!"

Sekarang datang giliran si nona, yang tercengang.

Tauw-to ini sambil tertawa berkata lagi. "Sejak aku tiba di Selatan ini, telah banyak urusan yang aku campuri. Baiklah aku tidak menyebut segala urusan itu kecuali satu, ialah aku telah berhutang kepada orang banyaknya selaksa tail perak! Nah, kau pikirlah, nona kecil! Kecuali hong-pian-san ini, apa ada barang berharga lain yang jadi milikku? Karena itu, cara bagaimana aku dapat melunaskan hutangku itu? Maka ... maka ... ha, ha! Ketika aku mendengar tentang luitay di Thian Bak San itu, segera aku menuju ke gunung itu."

Muka si nona menjadi merah dan dia nampak girang.

Matanya lantas memain, mulutnya tersungging senyuman.

"Kalau begitu, Tay-su," katanya. "Andaikata aku dapat menolong Tay-su membayar hutangmu itu, apakah Tay-su dapat membantuku?"

Si biksu berdiri tegak.

"Jikalau urusan itu urusan lurus, tanpa uang pun aku suka membantu kau!" katanya gagah. "Tapi jikalau kau menyuruh aku melakukan sesuatu yang sesat, hm, pasti terlebih dulu maka aku akan melabrakmu! Lihat hong-pian-sanku ini!"

Mendengar begitu. Tiang Keng memuji dalam hati. "Dia sembrono tetapi dialah laki-laki sejati!" pikirnya

mengenai tauwto itu. Ia terus mengawasi si nona, untuk

mendengar kata-kata nona itu terlebih jauh. Ingin sekali ia mengetahuinya.

"Mana dapat aku minta Tay-su melakukan sesuatu yang sesat?" kata si nona tertawa. Ia maju dua tindak. "Taysu, apakah Taysu pernah melihat tiga buah gambar lukisan? Di atas itu masing-masing ada terlukis pedang, banyak uang emas serta seorang nona manis ..."

Imam itu mengawasi si nona. Mendadak dia tertawa terbahak.

"Benar aku sembrono! Benar aku sembrono!" katanya berulang-ulang. "Pantas aku merasa seperti mengenalimu. Nona! Kiranya kaulah si nona di dalam gambar itu! Bagus! Bagus sekali! Kebetulan, sekarang dapat aku tanya kau!

Sebenarnya di atas gunung Thian Bak San itu kau hendak melakukan apa yang luar biasa? Benarkah kau dapat merobohkan orang-orang gagah di kolong langit ini? Dan pedang dan uang emas banyak itu dari mana kau dapatkannya? Juga. apa maksud yang sebenarnya?"

Pertanyaannya tauwto ini ialah pertanyaan dalam hati Tiang Keng dan mungkin itu juga pertanyaan semua jago yang bakal menhadiri pertemuan di Thian Bak San itu.

0oo0