Dendam Asmara BAB 13. TIANG KENG DAN TIGA NONA DI ATAS TEMBOK KOTA

BAB 13. TIANG KENG DAN TIGA NONA DI ATAS TEMBOK KOTA

Sesudah bertarung sekian lama. Tiang Keng jadi mendongkol karena ia tak dapat segera mengalahkan musuh- musuhnya.

"Jika benar mereka ini murid-murid Un Jie Giok dan jika benar mereka ini tak dapat kukalahkan, mana mungkin aku bisa mengalahkan gurunya? Dengan demikian tak sepantasnya aku bicara soal balas dendam?" pikir Tiang Keng.

Karena ia berpikir demikian, ia jadi menyesal dan masgul sekali. "Suhu menyuruhku agar aku menunggu tiga tahun lagi, baru aku boleh turun gunung, tapi aku telah memaksa dan aku turun gunung hingga akhirnya jadi sepeti ini. Sungguh aku menyesal mengapa aku tidak mau mendengar kata-kata Suhu..."

Oleh karena pikirannya sedang kusut. Tiang Keng bergerak sedikit ceroboh. Justru karena itu si nona sambil berseru menyerang dia dengan kedua tangannya dan serangan itu datangnya saling susul. Tiang Keng terkejut melihat lima buah jari tangan lawan menyambar ke arahnya itu. Untuk menghindar dari serangan berbahaya itu, ia memutar tubuhnya dengan gesit. Untung ia bebas dari serangan itu.

Menyusul gerakan si nona itu, datang serangan yang berbareng dari Siauw Keng dan Siauw Leng. Tak heran jika Tiang Keng jadi bertambah repot menghadapi mereka.

Untuk membalas menyerang lawan, anak muda ini menyerang lawannya saat ketiga nona itu maju secara berbareng.

Si nona terperanjat atas serangan Tiang Keng itu. Dia segera mundur tiga langkah. Siauw Keng dan Siauw Leng menjerit. Mereka sedikit ayal, lengan mereka terkena kebutan tangan baju Tiang Keng. Nyerinya yang dirasakan oleh kedua nona itu sampai ke ulu hati mereka.

Tiang Keng kelihatan puas. Dia tertawa dingin. Ia ingin mengulangi serangannya. Kali ini dengan Liu In Hui Siu (pukulan tangan-baju Mega Melayang). Tiba-tiba dari kaki tembok kota terdengar seruan pujian.

"Tiang Keng, bagus sekali ilmu silatmu!"

Suara itu jelas suara orang tua. Tiang Keng heran, ia batal mewujudkan serangannya. Untuk mencegah ketiga nona itu bisa menyerang. Tiang Keng menggerakkan kedua tangannya ia menggunakan tipu silat Burung Merak Mementang Sayap hingga Siauw Keng dan Siauw Leng, juga si nona, tak dapat berbuat apa-apa. Sesudah itu. Tiang Keng mengambil kesempatan untuk mengawasi ke kaki tembok. Tiang Keng melihat orang yang jumlahnya banyak. Di antara orang-orang itu terdapat To-pie Sin-kiam In Kiam yang rambutnya sudah putih semuanya.

Pertempuran mereka di atas tembok sangat menarik perhatian orang di kaki tembok kota. In Kiam membantu Teng Cit mengurus mayat orang-orang Koay Too Hwee. Setelah ia mendengar kabar tentang semua peristiwa itu, dia pun menyusul mau melihat pertempuran. Sedang Tiong Teng mengiringi ayahnya sekalian untuk melindunginya. Mereka sempat menyaksikan Tiang Keng sedang melayani ketiga nona berpakaian serba merah yang gagah itu. Begitulah, To-pie Sin- kiam memberi pujian pada Tiang Keng.

Penonton lainnya juga turut memberikan pujian. Di antara mereka banyak jago Rimba Persilatan.

Melihat munculnya jago tua itu, lega juga hati Tiang Keng.

Selanjutnya, ia merangsek maju lagi ke arah tiga nona lawannya itu.

Si nona menyambut serangan Tiang Keng tersebut. Tangan mereka langsung beradu satu sama lain. Kesudahannya si nona jadi kaget. Bentrokan itu membuat dadanya sesak hingga dia harus melompat mundur sejauh lima kaki.

Melihat peristiwa itu, kembali terdengar pujian riuh dari kaki tembok.

In Kiam begitu gembira, sambil tertawa, ia berkata pada puteranya, "Tiong Teng, kau lihat! Itu yang dikatakan, ayah harimau tidak akan melahirkan anak anjing! Pantas adik Ho Jian memperoleh putera seperti itu! Sekalipun Peh Cio Too-jin dari Bu Tong San tak akan dapat menggunakan ilmu silat Mega Melayang secara begitu sempurna! Ah, heran, dia masih begini muda, dari mana dia mendapatkan kepandaian seperti itu?..." Mendengar suara orang tua ini baru orang tahu bahwa anak muda itu putera Tiong-goan Tay-hiap To Ho Jian.

Si nona mundur untuk memeriksa lengannya yang tadi bentrok. Dia tidak memperhatikan kedua kawannya pun sudah mundur jauh-jauh. La mendapat kenyataan lengannya yang putih halus itu telah cacat dan menjadi biru matang akibat bentrokan itu. Diam-diam ia kaget. Ketika ia lihat kedua kawannya, mereka pun kaget seperti dia sebab lengan mereka pun biru malangakibat bentrokan. Mereka saling mengawasi.

Walaupun demikian, si nona tidak mau mundur. Ia maju dan mendesak lagi. Sekarang ia bertempur hebat, tapi ia juga sangat tertarik oleh ketampanan dan kegagahan Tiang Keng .

.

Para penonton di kaki tembok kagum pada ketiga nona cantik yang lihay itu. Mereka memuji tapi mereka heran nona- nona itu demikian gagah.

Siauw Keng dan Siauw Leng, sambil menahan nyerinya terus membantu nona mereka. Sekarang mereka berlaku waspada sekali.

In Kiam luas pandangannya, ia lihai Tiang Keng lebih unggul.

"Tiong Teng, bagaimana pendapat-mu mengenai ketiga nona itu?" ia bertanya pada puteranya.

Tiong Teng heran saat ditanya oleh ayahnya itu. Sebelum ia sempat menjawab, ayahnya sudah tertawa dan berkata lagi, "Ketahui olehmu ilmu silat mereka itu ilmu silat Ang Ie Nio-nio. Nah, lihat itu jurus Hujan Musim Ciu, bagaimana berbahayanya itu! Syukur Tiang Keng yang melayaninya, jika bukan dia, pasti orang itu akan dikalahkan oleh nona-nona itu

..." Tiong Teng tahu maksud ayahnya, ia tertawa dan berkata, "Kalau aku yang melawan mereka, tentu aku akan roboh sebelum sepuluh jurus."

Mendengar ucapan Tiong Teng, orang-orang di situ jadi heran. Siapa yang tidak mengetahui lihaynya Bu-ouw In Bun keluarga In dari Bu-ouw? Hingga akhirnya mereka mengawasi ke arah Tiang Keng dan kekagumannya jadi bertambah- tambah.

Tiang Keng yang sedang bertempur, telinganya mendengar kata-kata In Kiam. Tiba-tiba hatinya jadi panas. Ternyata benar ketiga nona-nona ini murid-murid Un Jie Giok. Karena jago tua itu menyebut-nyebut nama Ang Ie Nio-nio. Tapi ia tidak sempat berpikir lebih jauh, ketiga nona itu sudah menyerangnya. Pada saat Siauw Keng dan Siauw Leng menepi, nonanya maju, tangan kirinya meluncur ke dada si anak muda, lima jari tangannya mencari jalan darah lawan!

Tiang Keng dapat menerka lihaynya serangan itu. Sambil berseru, ia mengebut dengan tangan kirinya, untuk mencegah majunya kedua budak, sedang dengan tangan kanannya, ia menyambut lengan si nona untuk ditangkap.

Nona itu tahu bahaya mengancam dirinya, segera ia menarik kembali tangan kanannya. Sementara tangan kirinya segera balas menyerang si anak muda. Di luar dugaannya, lawan berhasil menangkis serangannya. Setelah itu, lawannya menyerang lebih jauh dengan lima jari tangannya menyambar-nyambar tak hentinya. Itulah serangan atau totokan jalan darah bernama Sin Liong Pat Sie (Naga Sakti). Ini merupakan ilmu totok istimewa dari Su-khong Giauw dan jurus Thian Liong Heng Khong (Naga Langit Jalan di Udara).

Dada si nona langsung terancam bahaya. Tiang Keng melihat dada si nona bergerak, mendadak ia terkejut. Ia likat sendiri. Maka gagallah totokan Tiang Keng karena itu. Si nona bebas, dia tertawa dingin. Dia menyerang pula.

Pada Siauw Keng dan Siauw Leng dia memberi isyarat supaya mereka maju lagi, untuk mengurung lawan yang tangguh itu. Dengan cepat dua orang budaknya itu maju, bertepatan itu dia meluncurkan serangannya.

Tiang Keng terperanjat. Dengan tidak diduga-duga, jalan darah kiok-tie di sikut kanan Tiang Keng terlanggar jari tangan si nona, hingga lengan Tiang Keng gemetar. Ia mundur tapi kakinya salah melangkah, ia terjeblos! Justru saat itu serangan Siauw Keng tiba dan bahunya terhajar, hingga tidak ampun lagi tubuhnya terpelanting.

Semua penonton kaget, sedang In Kiam segera melompat maju. Dia berniat menanggapi tubuh Tiang Keng yang meluncur jatuh. Tapi Tiang Keng lihay, saat terpelanting, ia memutar tubuhnya, sehingga saat jatuh, ia berhasil meluncur turun dalam posisi berdiri.

"Bagaimana keadaanmu Tiang Keng?" tanya In Kiam heran. "Tidak apa-apa!" sahut Tiang Keng, dan terus ia gunakan

tangan kirinya untuk menepuk bahunya yang kanan serta iganya. Ia langsung menengadah untuk melihat ke atas tembok.

To-pie Sin-kiam berkata lagi, "Ketiga nona itu murid-murid Ang Ie Nio-nio, kau harus berhati-hati. Jika tak ada permusuhan yang hebat, lebih baik kau jangan layani mereka supaya kau tak perlu menanam bibit permusuhan ."

Orang tua ini memberi nasihat demikian karena ia tidak mengetahui duduk persoalannya. Barusan Tiang Keng terpukul karena Tiang Keng anggap dia melawan mereka dengan setengah hati. Maka itu dia langsung melompat naik. gerakkannya sangat gesit.

Para penonton heran ketika melihat Tiang Keng terjatuh dan berhasil melompat naik dengan cepat. Mereka memuji sambil bersorak-sorai dan bertepuk tangan. "Tiang Keng, hati-hati!" In Kiam memperingatkan.

Ketika Tiang Keng hampir berhasil menaruh kaki di atas tembok kota, ia mendengar suara tawa riang dan nyaring di atas tembok. Ia heran. Keheranannya bertambah ketika ia mendapatkan seorang pemuda berbaju kuning, yang entah kapan sampainya.

Si nona diapit oleh kedua budaknya, ia mencoba membetulkan ujung bajunya yang robek. Ternyata yang tertawa itu si anak muda. Ketika Tiang Keng tiba. dia membelakangi Tiang Keng, hingga dia cuma tampak punggung dari tubuhnya yang jangkung. Baru kemudian dia memutar tubuh, hingga sinar mata mereka berdua bentrok satu sama lain.

"Dia tampan sekali." pikir Tiang Keng.

Sebaliknya pemuda berbaju kuning itu bersikap dingin, dia hanya mengawasi sebentar dan langsung memutar tubuhnya untuk menghadapi ketiga nona itu. Sekarang dia langsung berkata dengan nyaring, "Nona-nona. baru-baru ini kalian pergi terburu-buru. hingga aku kangen pada kalian! Syukur hari ini kita dapat bertemu lagi di sini! Sungguh, aku girang sekali!" sesudah itu pemuda berbaju kuning itu kembali tertawa.

Tiang Keng mengerutkan alis.

"Pemuda ini angkuh sekali." pikir Tiang Keng. Ia maju, dan berkata dengan nada tawar kepadanya: "Saudara, aku minta kau tunda dulu bicaramu. Karena dengan ketiga nona ini aku punya urusan yang belum selesai, harap kau bersedia mundur sebentar !"

Mata pemuda berbaju kuning itu berputar. Dia tertawa dan berkata. "Aku baru saja tiba di sini ketika aku melihat cita merah berkibar-kibar di atas tembok kota! Aku segera ke sini karena aku menduga ada nona-nona ini dan ternyata terkaanku itu benar!" Si baju kuning tertawa lagi, matanya mengawasi pada si nona yang cantik. Kembali dia tertawa lalu bertanya, "Nona, rasanya aku kenal padamu?" Ia tepuk dahinya dengan tangan kanannya.

Setelah itu lagi-lagi dia tertawa. Dia berkata pula, "Ah, aku ingat sekarang! Kaulah si nona paling elok di dunia ini! Aku kira hanya seorang pelukis pandai saja yang mampu melukis gambar nona secantik kau, tapi sekarang aku menemukannya. Bukan dari lukisan tapi kenyataan dan benar-benar ada orangnya! Bahkan sekarang aku kira si pelukis itu pelukis bangpak, sebab ia tak berhasil melukis seperti keadaan kau yang sebenarnya. Nona! Jika kelak aku bertemu dengan pelukis itu .. . Hm!"

Merdeka sekali si pemuda baju kuning bicara, seperti di tempat itu tidak ada orang lain selain dirinya.

Tiang Keng mengerutkan alisnya. Tadinya ia terkesan baik pada si baju kuning, sekarang kesannya itu berbalik lain. Dia jadi tak puas bahkan jemu dan mendongkol sekali menyaksikan tingkah si baju kuning itu.

"Benar-benar manusia tak dapat dilihat hanya dari romannya saja," pikir Tiang Keng. "Dia tampan dan gagah, ternyata tingkahnya begini tengik!"

Alis Tiang Keng bangun, hampir ia berkata kasar. Tetapi begitu si pemuda tutup mulut, begitu si nona bicara. Mula- mula alisnya terangkat, sujennya bergerak. sambil menyingkap rambutnya, dia tertawa manis, dia langsung bertanya, "Bagaimana jika kau bertemu dengan pelukis itu?"

Pemuda baju kuning itu diam sejenak, lantas dia tertawa.

"Jika aku bisa bertemu dengan pelukis tolol itu!" kata dia dengan suara keras. "Pertama-tama akan kupotong tangannya agar dia cacat untuk selamanya. Si nona tertawa geli. Tawanya itu memotong tertawa si baju kuning. Kemudian ia mengulur kedua tangannya lalu ia tertawa lagi.

"Nah. lekaslah kau potong tanganku ini!" kata si nona. "Pelukis gambar itu aku sendiri!"'

Siauw Keng dan Siauw Leng mengawasi sambil menutupi mulut mereka, tetapi sekarang mereka tak tahan untuk tidak tertawa terpingkel-pingkel.

Tiang Keng sedang gusar, toh ia anggap adegan itu lucu juga. Dia jadi geli. la tertarik pada kejenakaan si nona manis ini hingga kesannya sedikit berubah menganggap nona itu baik . Anehnya lagi. ia berpikir si nona seharusnya dipisahkan dari urusan sakit hati dengan Un Jie Giok. sekalipun si nona menjadi murid si wanita jelek itu.

Selain itu, ia merasa jemu terhadap anak muda berbaju kuning sekalipun ia tidak kenal pada pemuda itu. oleh karena itu ia puas ketika pemuda itu dipermainkan oleh si nona.

Sesudah mengawasi, pemuda berbaju kuning itu jadi jengah berbareng malu. Dia malu dan mendongkol karena dipermainkan oleh si nona. Meskipun dia sadar yang membuat gara-gara adalah dirinya sendiri. Begitu lenyap suara tawa itu lenyap, si pemuda baju kuning mulai mengawasi sepasang lengan putih halus ,ilik si nona. Dia tak berkutik dan membungkam.

Si nona sebaliknya mempermainkan matanya dan tersenyum, sujennya bergerak-gerak manis sekali. Kemudian dengan mata jelinya, dia mengawasi ke arah Tiang Keng dan berkata sambil tertawa, "Kau harus sabar! Kau tunggu sebentar! Dia hendak memotong kedua lenganku! Dengan kedua tanganku buntung, bukankah kau juga bakal merasa puas?"

Tiang Keng diam saja. Tak tahu ia harus puas atau mendongkol.. . Di kaki tembok, To-pie Sin-kiam In Kiam mengawasi saja. Ia tahu munculnya Gim Soan, si pemuda berbaju kuning itu secara tiba-tiba akan membuat masalah. Maka dia hanya melihat mereka sedang berbincang, tapi sayang ia tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Ia cuma heran dan menduga-duga saja. Kemudian muncullah kekhawatirannya.

"Jika Gim Soan berkomplot dengan si nona. Tiang Keng bakal dapat susah." pikirnya.

Ia belum berpikir lama, tapi dia sudah melihat Tiang Keng dan Gim Soan sudah mulai bertempur...

0oo0