Dendam Asmara BAB 11. PERTARUNGAN HEBAT

BAB 11. PERTARUNGAN HEBAT

Dengan tak kalah cepatnya, Tiang Keng melompat menyusul naik ke atas genting. Sampai di atas ia jadi kaget, la melihat sesosok tubuh rebah, dan napasnya sudah berhenti.

Di sisi mayat tersebut tergeletak sebatang golok panjang. Mayar itu tak diperhatikan lama-lama untuk dikenali sebagai mayat Sien-too Kiong Kie, pemimpin ketiga perkumpulan Koay Too Hwee.....

Bukan main berdukanya pemuda she To itu, karena ia terlambat, bayangan di depan dia sudah meninggalkannya jauh sekali. Ia kagum pada orang yang tidak dikenal itu, yang ilmu silatnya mahir sekali. Ia pun tidak melihat dengan jelas tubuh orang itu, apa yang tampak cuma bayangannya saja .

Dalam gelap, saat sang fajar akan segera tiba. bayangan dua orang itu terlihat lewat bagaikan terbang saja. Baru saja dua bayangan itu lenyap, atau menyusul dua bayangan lainnya berkelebat, dua bayangan ini pun tak kalah gesit tetapi dan mengagumkan sekali.

Tiong panjang dengan keras ….

Sementara itu Tiang Keng terus mengejar musuh tersebut. Ia mengeluarkan seluruh kepandaian meringankan tubuhnya, yang ia peroleh dari Su-khong Giauw, gurunya. Tak lama ia sudah semakin dekat pada bayangan yang ada di depannya, hingga jarak di antara mereka tinggal tiga tombak saja jauhnya. Ia menyesal tadi ia agaj lambat.

Jarak tiga tombak tidak terlalu jauh. tetapi karena mereka berdua kelihayannya berimbang. Tiang Keng tak dapat segera menyusul lawannya itu.

Mereka berlari-lari terus, sampai di depan mereka tampak tembok kota. Di tempat itu bayangan di depannya itu berbelok ke kiri, setelah itu terlihat tubuhnya melompat tinggi sekali.

Itu adalah tembok kota Lim-an, atau kota tua.

Diam-diam Tiang Keng girang. Ia mengejar terus. Saat orang itu melompat naik, ia pun melompat juga. Ia naik ke atas tembok kota itu. la melompat menyusul tanpa ragu-ragu padahal dengan begitu ia dengan mudah bisa diserang oleh lawan dan sangat berbahaya jika ia diserang saat ia melompat tinggi. Ia harus menyusul musuhnya, jika tidak ia bakal ketinggalan dan kehilangan orang itu.

"Bagus!" tiba-tiba terdengar seruan perlahan di atas tembok kota.

Tiang Keng terperanjat juga mendengar seruan itu. Segera ia menggeser tubuhnya ke arah kanan, untuk menaruh kakinya di atas tembok, sedangkan matanya segera mengawasi ke arah suara seruan itu.

Di atas tembok kota di depan dia tampak berdiri seorang bertubuh langsing dan kundainya tinggi, bajunya memain di tiup angin. Ia tidak melihat tegas wajah orang itu tetapi ia yakin bahwa orang itu pasti cantik. Ia mengawasi terus ke arah orang itu.

"Mau apa kau menyusulku?" demikian si anak muda mendengar orang menegurnya. Kata-kata yang merdu itu, didahului oleh suara tawa yang manis. Tiang Keng tercengang. Ia heran sebab jika nona ini nona yang tadi demikian kejam yang secara kasar main serang orang-orang Koay To Hwee dengan tanpa perasaan.......

Biar bagaimana, pemuda yang masih hijau ini dan peristiwa itu sebaliknya luar biasa sekali.

Si cantik itu mengawasi, sinar matanya mendadak terang, biji matanya jeli sekali. Kembali dia tertawa.

"Langit gelap begini," kata dia, "kau mengejar-ngejar aku! Bukankah kita tidak bermusuhan satu sama lain? Mau apa kau mengikutiku?" Ia mengangkat tangannya yang halus ke mulutnya, untuk mencegah ia tertawa.

Samar-samar Tiang Keng melihat lengan nona itu yang putih halus.

"Memang aku tidak bermusuhan denganmu. Nona," bisa juga pemuda ini buka mulut, dan bicaranya sabar sekali, "akan tetapi aku ingin bertanya, ada permusuhan apa di antara Nona dan orang-orang Kay Too Hwee hingga Nona perlu turun tangan membinasakan mereka?" 

Nona itu tertawa geli, tangan kanannya diangkat, dipakai menyingkap rambut di dahinya.

"Apa yang kau bilang?" tanyanya, masih sambil tertawa. "Aku tidak mengerti "

Mengingat kematian menyedihkan dari orang-orang Koay Too Hwee. hati Tiang Keng panas.

"Bukankah tadi Nona yang bersembunyi di tempat gelap?" tanya ia dengan nada tak puas. "Bukankah orang-orang tak berdaya itu mati satu demi satu karena senjata rahasia Nona? Kenapa sekarang Nona berkata begini. Sungguh kau membuat aku tidak mengerti, Nona!" dan dia tertawa tawar. Nona itu seperti tidak mendengar suara orang, ia meraba pipinya. Ia pun tunduk, seperti sedang berpikir. Sejenak kemudian, baru ia berkata.

"Ya, aku ingat sekarang," katanya. "Memang aku pernah berkata bahwa Koay Too Hwee bukan makhluk baik-baik, sebab mereka suka merampas uang orang! Apakah laki-laki yang bertubuh besar itu, yang orang binasakan, orang Koay Too Hwee?" Ia mengeluarkan kedua tangannya, untuk menepuk dengan perlahan, sesudah menepuk ia berkata pula, "Ah, lega juga hatiku! Kiranya itu benar kawanan berandal!”

Nona ini seperti bicara sendiri, agaknya dia polos sekali. "Tidak salah!" kata Tiang Keng dengan suara dingin.

"Orang yang Nona serang dengan senjata rahasiamu itu, memang orang Koay Too Hwee!"

"Ah!" si nona berkata agak terkejut. "Aku membunuh mereka?" Ia menggeser tangan dari hidungnya, dipindahkan ke telinganya, untuk dipakai menutup telinganya, la juga merapatkan kedua matanya, hingga tampak bulu matanya yang panjang.

"Ah. tak berani aku mendengar ucapanmu itu!" ia menambahkan. "Sejak masih kecil sekali sampai usiaku dewasa seperti ini, sekalipun semut tak berani aku membinasakannya, apaulagi manusia! Kenapa kau bilang aku telah membunuh orang?" Mendadak ia mengulur kedua tangannya yang putih halus itu ke depan si anak muda. "Kau lihat!" dia berkata lagi, "dapatkah kedua tanganku ini membinasakan orang?"

Tiang Keng melengak memandang lengan orang itu.

Dengan munculnya sang fajar, ia melihat dengan tegas tangan itu. Lengan itu memiliki sepuluh jeriji tangan yang halus dan lancip, kuku-kukunya merah-dadu karena memakai sari bunga mawar. Mau tidak mau, ia melengak. Ia sangsi, benarkah tangan sehalus itu dapat membunuh orang? Toh barusan ia melihat sendiri peristiwa berdarah itu ...

Tiang Keng berpikir. Ia ingat tadi ia melihat sesuatu yang hitam di bawah payon. sampai ia menyerang. Kenapa si nona bersembunyi di situ? Kenapa ia tak takut menyaksikan pembunuhan hebat itu, sedang menurutnya ia tak berani membunuh seekor semut pun?

Si nona tertawa melihat orang diam saja. Ia pun menarik kedua tangannya. Ia tertawa pula.

"Eh, eh, mengapa kau diam saja?" tegurnya. "Aku tidak sangka kau dapat bicara begini sedangkan kau tampaknya sangat jujur dan polos! Benar, manusia itu tak dapat dilihat dari romannya saja!"

Paras Tiang Keng berubah. Ia jengah berbareng tak puas diejek begitu.

"Aku bicara sungguh-sungguh." kata Yiang Keng sambil tertawa dingin. "Kalau Nona tetap mempermainkan aku, harap kau jangan sesalkan aku jika aku berlaku tak sungkan- sungkan terhadapmu. "

Nona itu tampak melengak. lak ia sangka bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang kuncu, seorang yang tak kesengsam oleh kecantikan yang ia sangat banggakan, sedangkan biasanya ia tahu, siapa saja yang melihat dirinya langsung kagum atau tergila-gila sendiri oleh keelokannya.

Tiang Keng mirip sepotong besi dan suaranya pun tawar. Ia hampir mengira bahwa pemuda di depannya ini buta

"Apa yang aku bilang, setiap patahnya benar!" Ia berkata selang sejenak. Ia tertawa perlahan dan manis. "Jika kau tidak percaya padaku, kau boleh menggeledah tubuhku ini, kau boleh memeriksa aku apakah aku membawa senjata rahasia atau tidak . .?" Ia pun mengibaskan tangannya, yang ia angkat tinggi-tinggi, bahkan kemudian kun-nya, ia singkap juga. Sekalipun Tiang Keng tahu si nona cantik dan menarik hati.

Tiang Keng tidak membiarkan dirinya bisa diakali.

la mewarisi sifat ayahnya, ia dapat membedakan antara baik dan jahat, cantik dan jelek. Kekejaman di depan matanya tadi pun tetap terbayang saja di mukanya.

Nona itu mengerutkan keningnya, ia menghela napas. "Aku heran kenapa kau tidak percaya padaku?" kata dia

perlahan, dan masgul. "Ah, kau tidak tahu, seumurku belum pernah aku bergurau dengan seorang pria!" kembali ia mengawasi dengan tajam, agaknya dia meyesal.

Hati Tiang Keng terguncang juga. Ia merasa jengah mendengar penyesalan itu. Inilah perasaan yang pertama ia rasakan. Kembali muncul kesangsiannya bahwa nona begini cantik dan halus, bisakah ia berbuat demikian telengasnya

Sang fajar, yang mengusir gelap gulita telah datang, ini membuat wajah si nona jadi tampak tegas sekali. Walaupun dia menyesal, dia terlihat benar-benar cantik sekali tubuhnya langsing dan indah.

Tiang Keng mengawasi orang ini, sampai mendadak nona itu berdiri tegak dan berkata dengan dingin dan keren.

"Jika kau tidak percaya, baik, kau boleh anggap akulah yang membunuh mereka itu!" Lalu dengan mendadak tangannya meluncur ke depan muka Tiang Keng. Tiang Keng kaget sekali sebab serangan itu di luar dugaannya. Syukur Tiang Keng cukup tabah, dengan cepat ia melangkah mundur.

Si nona tertawa dingin, tubuhnya mencelat maju, sekarang ia sudah maju seperti itu. la pun tak seharusnya mundur lagi. Ia lihat wajah si nona yang kelihatan puas sekali. Rupanya si nona senang melihat Tiang Keng terdesak oleh serangannya. .

Nona itu maju bukan untuk diam saja. Ia mengibas dengan sebelah tangannya! Tiang Keng tidak bisa diam saja, ia pun mengibas untuk menangkis serangan si nona. Ia menggunakan tipu silat "Burung Hong mengibaskan sayapnya."

Nona itu mengawasi dengan tajam ke arah Tiang Keng. Dia menarik tangannya, untuk diteruskan dengan tangan yang lain, sedang sebelah kakinya diangkat dan berbareng dipakai menendang Tiang Keng!

Hebat nona ini. Dia gesit dan tenaganya sangat besar.

Sepasang alis Tiang Keng bangun. Ia berkelit ke samping sambil tangannya menutup diri dari serangan itu. Dengan begitu ia bebas dari serangan tangan dan kaki si nona.

Tampak nona itu heran. Ia mendapatkan pemuda itu selamat dari serangannya yang berbahaya dan sekarang ia sedang berdiri di sampingnya. Itulah tipu berkelit yang luar biasa lihaynya. Ia mengawasi dengan tajam, kembali ia tertawa dingin.

"Bukankah kau hendak membekuk aku untuk membalaskan sakit hati kaum Koay Too Hwee itu?" ia bertanya. "Sekarang kenapa kau tidak .. ."

Tak menanti sampai orang bicara habis, mendadak Tiang Keng membentak, "Benar!" sedangkan tangan kirinya langsung menyerang dengan dua jari telunjuk dan tengah tertuju ke arah si nina, serangan itu menuju ke arah kedua mata si nona, maksudnya kedua mata itu akan dikorek keluar. Di pihak lain tangan kanannya melayang ke arah bahu orang!

Nona itu kaget. Serangan itu tidak ia sangka sama sekali. Sejak tadi cuma ia yang mempermainkan anak muda itu. Ia yakin bahwa ia menang dalam ilmu meringankan tubuh.

Sebenarnya ia ingin meninggalkan pemuda itu jauh di belakangnya, supaya mereka berdua tak perlu berhadapan, siapa tahu, ia berhasil disusul oleh Tiang Keng. Karena orang telah mengejar dan ia duga ia bakal tersusul, tadi ia sengaja melompat naik, tapi niat itu ia batalkan begitu ia lihat cara ia disusul oleh Tiang Keng. Terjadilah pembicaraan antara mereka berdua. Tadi ia menyerang secara tiba-tiba, itu disebabkan dari kejauhan ia melihat ada dua orang sedang mendatangi ke arah mereka. Ia tahu mereka itu kawan si pemuda. Ia menyesal serangannya itu gagal. Malah sekarang ia menghadapi serangan balasan yang hebat dari Tiang Keng. Ia terkejut akan tetapi ia berlaku tabah.

Tiang Keng menyerang tapi mendadak ia jadi menyesal sendiri. Untuk menarik tangan atau serangannya sudah tak mungkin. Ia jadi bingung sendiri.

Si nona hesit. Ketika serangan itu tiba, ia membuang diri dengan cara melengak atau mendongak. Dengan demikkian, selamatlah ia dari serangan itu. Dengan cepat ia berdiri pula, dan membalas menyerang dengan tidak kurang gesitnya, kedua tangan bajunya menyambar-nyambar keras sekali ke arah Tiang Keng.

Pertempuran mereka di tembok kota di bagian yang sempit, hingga jika mereka kurang hati-hati atau keliru melangkah, ada kemungkinan dia bakal jatuh dari atas tembok kota yang tinggi itu. Karena itu. mereka bertempur sambil berbareng bersikap waspada

Kedua tangan baju si nona hebat sekali, dia tampaknya unggul.

0oo0