Dendam Asmara BAB 09. TENG CIT DAN KAWAN-KAWAN

BAB 09. TENG CIT DAN KAWAN-KAWANDIANCAM AKAN DIBUNUH

Tiang Keng turun gunung untuk mencari Ang-ie Sian-cu. Siapa sangka dia gagal dan tak menemukan wanita jelek itu. Bahkan dia mengira wanita jelek itu telah bersembunyi dan hidup di suatu tempat. Maka itu Tiang Keng telah merantau ke mana-mana yang dia rasa baik. Ketika dia tiba di Kang-lam. dia mendengar tentang dibangunnya sebuah lui-tay di Thian- bak-san. Ketika dia sampai di wilayah Lim-an, dia mendengar telah terjadi peristiwa hebat ini. Dia tidak menduga kalau dia justru akan bertemu dengan Tiong Teng.  "Tiang Keng," kata Tiong Teng. Tiong Teng khawatir sekali pemuda itu tidak dapat menahan hati untuk tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya tentang ayah dan ibunya kepada In Kiam.

"'Ketika tadi aku sampai, kau tiba lebih dulu dariku, apa yang kau lihat sebelumnya? Sebenarnya, siapa yang menumpas kawanan Ang Kin Hwee itu°"

Tiang Keng mencoba menguasai hatinya.

"Sebenarnya aku sudah tidur ketika aku mendengar jeritan yang mengerikan dan menyayatkan hati itu," sahut Tiang Keng. "Lalu aku buru-buru keluar untuk melihatnya dan aku menyusul sampai di rumah yang terbakar itu. Kebetulan aku bertemu dengan seorang yang masih muda yang keluar dari dalam rumah, dia melompat sambil membawa pedang terhunus. Aku hendak bertanya apa y ang terjadi kepadanya, tetapi tahu-tahu dia telah menerjang aku . .

"Hm! Dia pasti Yo It Kiam dari tanah Siok!" kata Tiong Teng. "Aku lihat dia dalam keadaan seperti seorang gembel, pasti dia telah dihajar olehmu. Adikku!"

Tiang Keng menggelengkan kepalanya.

"Tidak!" jawab Tiang Keng. "Ketika dia melompat keluar dari dalam rumah yang terbakar itu, memang dia sudah tidak karuan macamnya. Karena itu aku jadi curiga kepadanya.

Karena dia menyerangku, aku jadi mengenali dia bersilat dengan ilmu silat pedang Ngo Bie Pay dan ilmu silatnya tidak dapat dicela. Aku tidak punya waktu untuk meladeninya, setelah melayani beberapa jurus aku membiarkan dia kabur."

Diam-diam In Kiam memuji anak muda ini. Dia yakin Yo It Kiam telah dikalahkan oleh Tiang Keng, tapi pemuda itu tidak mau menyebutkan hal itu. Karena dia seorang pemuda yang halus budi pekertinya. Dengan sendirinya In Kiam jadi lebih menyukai putera sahabatnya ini. Lilin sudah mau habis, itu tandanya hari sudah larut malam.

Beberapa orang bangun, mereka mengangguk pada In Kiam dan Tiong Teng, mereka membuka pintu dan mereka akan pergi. Tapi mendadak mereka mundur lagi ke dalam dan paras mereka semua berubah kaget dan pucat-pasi.

Tiong Teng heran. Dia berjalan ke arah pintu, maksudnya akan melihat ada apa di luar sana. Ketika tiba di ambang pintu, jalan besar yang tadi sunyi, sekarang sudah penuh dengan orang-orang yang memakai ikat kepala dan mereka berpakaian ringkas. Mereka semua membekal golok panjang. Disinari oleh si Puteri Malam, semua senjata itu berkilauan tampak sangat mengerikan hingga membuat kecut hati orang yang melhatnya.

Jumlah mereka lebih dari seratus orang, semua berdiri rapi di kiri dan kanan jalan besar. Mereka berjumlah banyak tetapi tidak bicara apa-apa,

Tiong Teng mengerutkan alisnya, sambil berpaling ke belakang dia bicara dengan suara dalam. "Biasanya kawanan Koay Too Hwee dari Thay-heng-san tidak pernah mengganggu pembesar negeri, kenapa sekarang mereka muncul dan berkumpul di sini?"

Ketika Tiong Teng kembali mengawasi ke jalan raya, orang masih diam saja. Cuma mata mereka memandang ke sekitarnya dengan tajam. Tubuh mereka tegak bagaikan patung.

Tadi banyak polisi dan orang lainnya, tapi sekarang tidak ada lagi. Sebagai pemimpin orang rimba persilatan, dia tidak bisa diam saja. Dalam keragu-raguannya, Tiong Teng berpaling lagi ke belakang.

"Ayah, aku hendak pergi sebentar." kata Tiong Teng. "Sebaiknya Ayah istirahat saja."

In Kiam mengurut jenggotnya, dia bangun dari kursinya. "Hm!" In Kiam memperdengarkan suaranya. "Sekalipun Ayah sudah tua. berusia lanjut tetapi sekarang belum waktunya dia beristirahat!"

In Kiam melangkah keluar, matanya terus mengawasi ke sekelilingnya Sudah lama dia tidak muncul di Dunia Kang-ouw akan tetapi di detik ini semangatnya terbangun, hingga tanpa menghiraukan maksud baik dari puteranya, dia justru melangkah ke jalan besar.

Tiong Teng menghela napas, ia saling mengawasi ketiga orang itu. Tubuh mereka tetap tak bergeming. Tidak seorang pun yang menyapa atau menegur.

To-pie Sin-kiam In Kiam terus bertindak maju dengan kumis dan janggut berkibaran di antara tiupan angin malam. Tubuhnya tegak dan gagah sekali. Sambil berjalan ia menoleh ke belakang, lalu sambil tertawa ia berkata, "Tiong Teng, kalau kau letih, pulanglah ke penginapan untuk beristirahat, biar Tiang Keng saja yang menemani aku!" Ia tertawa lagi. "Usiaku sudah lanjut, menurut hatiku aku sudah tidak akan hidup lama lagi, maka aku segan melewati malam yang indah ini untuk tidur! Kalian orang-orang yang masih muda belia, kalian perlu banyak tidur!"

Tiong Teng diam saja, ia cuma tersenyum meringis. Hebat ayahnya itu, yang sesaat ini tampak menjadi luar biasa bersemangatnya.

Tiang Keng melihat kasih sayang di antara ayah dan anaknya itu, ia berduka sekali. Ia jadi ingat bagaimana ia disayangi oleh ayah dan ibunya tapi semenjak sepuluh tahun yang lampau, ia telah kehilangan kehangatan di antara orang tua dan anak. Ia mengangkat kepalanya, untuk melihat ke atas. Ia segera sadar kalau sang waktu telah berjalan dengan sangat cepat, bulan sudah condong rendah ke arah barat dan sang fajar sedang merayap mendatangi Cepat sekali ketiga orang itu jalannya. Mereka sudah sampai di tikungan di mana mereka melihat tidak ada seorang pun yang berada di kiri dan kanan jalan itu. Di tengah jalan, yang berlantai batu hijau, tak ada lagi darah berceceran, semua sudah dibersihkan dan kering. Di kedua tepi jalan, semua pintu toko atau rumah-rumah penduduk telah tertutup rapat. Tempat itu jadi sunyi sekali.

Dengan alis berkerut dan sambil mengusut janggut, In Kiam bertindak ke jalan besar di sebelahnya. Ia berjalan belum lama dan dari sebelah depan ia melihat beberapa orang mendatangi ke arahnya. Orang-orang itu semua berbekal senjata. Saat mereka sudah dekat, di antara mereka terdengar teguran, "Sahabat siapa di sana? Tolong lekas perkenalkan diri supaya kami tidak sampai keliru turun tangan, agar kita tidak berselisih!"

Tiong Teng melompat maju mendahului ayahnya. Ia pun mementang kedua tangannya. "Aku In Tiong Teng! Aku sahabat ketuamu orang she Teng!" demikian ia menjawab dengan nyaring.

Seorang dari antara beberapa orang di depan itu melompat maju. Dia bertubuh jangkung. Ia memperdengarkan suaranya yang tegas. "Tiga batang golok di dalam gunung Thay-heng- san!"

Orang banyak tadi lantas berseru menyambut: "Semua setan yang melihatnya membungkukkan tubuhnya!"

In Tiong Teng tertawa terbahak-bahak, ia menyambung, "Golok cepat, golok sakti, menjepit golok terbang!"

Si jangkung melompat maju untuk menghampiri, sambil tertawa lebar dia berseru, "Benar-benar In Tay-hiap!" dia mengawasi In Kiam sambil berkata, "Inilah pasti In Loo-ya- cu!" dia memberi hormat seraya berkata, "Aku yang muda, Kiong Kie, tidak menyangka kita bertemu di sini. aku sangat bahagia!" Tiong Teng membalas hormat itu.

"Kiranya kau saudara Kiong Sam-ya!" kata Tiong Teng sambil tersenyum. "Sudah lama aku mendengar namamu saudara, tapi baru hari ini aku bisa bertemu muka. Ternyata namamu bukan sebuah nama kosong belaka!"

Tiang Keng yang berada sedikit jauh dari mereka berpikir. "Aku pernah mendengar nama keluarga In, tak tahu aku tentang berapa tinggi kepandaiannya. Tetapi melihat sikapnya yang ramah ini, mereka pantas memperoleh nama baik."

Kiong Kie berkata pula, "In Tay-hiap, kata-katamu membuat aku malu sekali."

In Tiong Teng mengawasi orang she Kiong itu. "Bukankah Teng Cit-ya ada di sini?" kata Tiong Teng.

"Kalau aku tidak dikatakan lancang, Aku ingin diberitahu apakah kedatangan perkumpulan saudara ke mari, bukan karena suatu perselisihan?"

"Jika bantuan kami dibutuhkan," In Kiam menambahkan, "silakan Kiong Sam-ya mengatakannya!"

Kiong Kie menghela napas, lenyaplah tawanya tadi. "Bicara secara terus terang, Loo-ya-cu," kata Kiong Kie

dengan suara dalam. "Malam ini perkumpulan kami terancam

bahaya besar, hingga kemungkinan kehidupan kami bakal mengalami keruntuhan seperti Ang Kin Hwee dari Gan Tong- san dan kota Lim-an ini akan menjadi tempat kuburan kami..." Ia melihat ke sekitarnya, terus ia menambahkan, "Loo-ya-cu sudi membantu kami, kami sangat bersyukur. Pasti saudara- saudara kami semua, yang berjumlah seribu orang lebih akan bersyukur juga. Tempat ini bukan tempat kita bisa bicara dengan leluasa, apakah Loo-ya-cu sudi ikut dengan kami berjalan beberapa langkah? Teng Cit-ko juga ada di sana, dia sangat mengagumi Loo-ya-cu, hanya sungguh menyesal dia belum bisa berkunjung ke tempat Anda. Jika dia bisa melihat Loo-ya-cu, entah berapa besar girangnya dia!"

Ucapan Kiong Kie sungguh-sungguh. Dia bertubuh jangkung, berkumis dan memelihara janggut tipis. Dia tampak gagah meski ketika itu hatinya tak tenang.

In Kiam melangkah maju seraya berkata, "Kiong Sam-ya, mari antarkan aku si orang tua menemui ketuamu itu! Aku pun ingin sekali melihat orang macam apa hingga mereka demikian lihay dan berani memandang rendah kepada rekan- rekanku!"

Kiong Kie tersenyum. Ia berjalan berendeng dengan jago tua itu. Ia pergi ke sebuah rumah yang bagian depannya sudah hangus terbakar. Ia mengetuk pintunya sebanyak dua kali.

Tiba-tiba terdengar suara berat dari dalam. "Siapa?" ujar suara itu.

"Sam-pa-too!" sahut Kiong Kie. Artinya ialah: "Tiga bilah golok."

Pintu langsung dipentang.

Kiong Kie tidak segera melangkah masuk, tapi ia berpaling ke belakang. Dia tersenyum sambil bertanya pada Tiong Teng. "Saudara ini asing untukku, apakah saudara suka memperkenalkannya padaku?" ia menunjuk ke arah Tiang Keng.

In Tiong Teng tertawa.

"Kiong Sam-ya, apakah kau belum pernah mendengar cerita dulu . . ."

Baru orang berkata sampai di situ,

Tiang Keng sudah batuk perlahan sekali. Atas isyarat itu Jin-gie Kiam-kek Tiong Teng tertawa sebentar sebelum menyambung kata-katanya. "Inilah saudara To Tiang Keng, yang menjadi sanak dekatku! Silakan kalian berkenalan!"

Kiong Kie luas pengalamannya. Dia menduga anak muda itu lihay ilmu silatnya, maka ia lantas membungkuk sambil tersenyum.

Tiang Keng membalas hormat itu. Sementara itu ia sudah langsung memperhatikan rumah yang suram itu. Ketika ia melangkah masuk mengikuti Kiong Kie dan Tiong Teng, ia merasakan bau asap dan hawa panas. Ia segera mengetahui bahwa itu sebuah bengkel besi.

In Kiam segera berdiri di sisi sebuah landasan besi, oleh seorang yang bertubuh kekar. Dia terus diajar kenal dengan sejumlah orang rimba persilatan yang berkumpul di dalam ruang itu.

Tiang Keng mendengar banyak nama yang tak ia kenal, tetapi ia duga mereka itu bukan orang sembarangan. Setelah berkenalan, baru mereka bicara. Orang yang memperkenalkan mereka itu benar Koay-to Ceng Cit, kepala Koay Too Hwee, perkumpulan Golok Cepat. Dengan alis tebalnya berkerut, ia berkata, "Semenjak berdirinya Koay Too Hwee, sekali ini kami terdiri dari orang-orang melarat. Aku tahu kami belum pernah melakukan sesuatu yang tak pantas. Sekarang kami datang ke mari bukan hendak bermaksud buruk. Kami cuma hendak membantu meramaikan pertemuan di Thian Baksan. Siapa tahu .. ."

Keras suara ketua perkumpulan ini bicara tetapi mendadak ia berhenti bicara, untuk menarik napas. Ia berduka hingga ia merasa dadanya sesak.

Tiang Keng mengawasnya. Dia heran mendapat anggapan bahwa Teng Cit ini adalah orang Kang-ouvv sejati sehingga ia ingin mengetahui tentang kesulitan orang.

"Kemarin malam aku tidur bersama Than Loo-jie," dia melanjutkan, "lalu pada tengah malam aku merasa ada orang mempermainkan rambutku. Aku kaget hingga aku berseru. Ketika aku membuka mata, aku mendapatkan jendela sudah terpentang dan sinar rembulan masuk ke dalam kamar. Aku masih melihat bayangan seorang melompat keluar dari jendela. Aku kagum sekali Belum pernah aku bertemu orang segesit bayangan itu." Dia menghela napas. "Karena heran dan terperanjat, aku mau melompat turun dari pembaringan dan tanpa kuhiraukan kakiku telanjang. Mendadak aku merasa kepalaku sakit. Ada orang yang menarik rambutku! ..."

Matanya memain, ia tampak gelisah. Ia seperti sedang mengalami sesuatu yang menakutkan seperti malam itu. la menghela napas lagi ketika ia meneruskan, "Aku lantas berbalik. untuk melihat. Tidak ada orang. Karena heranku, aku mendapatkan rambutku diikat pada rambut Than Loo-jie Ia meraba kepalanya, ia jadi sangat lesu. Ia lantas berkata lebih jauh, "Ketika itu perasaanku sama seperti perasaan Than Loo- jie. Kami punya sedikit nama juga.

tetapi siapa tahu kami toh dapat perlakuan yang memalukan itu. Bagaimana jika orang memindahkan kepala kami? Bukankah dengan mudah saja baginya berbuat begitu? Kami heran sebab kami tidak kenal orang itu. Kami punya musuh tetapi tidak ada yang demikian lihaynya. Sesudah Than Loo-jie membukakan rambut kami. baru duduk masalahnya jadi jelas."

Sambil berkata begitu, Teng Cit merogo ke sakunya ia mengeluarkan sehelai kertas berwarna kuning dengan kedua tangannya ia mengangsurkannya kepada In Kiam. Kertas itu bertulisan : "Dalam tempo dua hari ini, segera menyingkir dari Lim-an! Jika tidak, sekalipun ayam dan anjing tak akan selamat lagi!"

"Kertas ini diikatkan pada rambut kami," kata Teng Cit menambahkan. "Seperti dalam surat itu, ancaman ini tak jelas dari siapa dan tanpa nama juga tanpa tanda tangan pembuatnya. Sia-sia saja kami menerka-nerka, siapa sebenarnya penulisnya."

To-pie Sin-kiam In Kiam mengurut janggutnya.

'Surat ini tidak berarti!" kata In Kiam suaranya keras. "Kota Lim-an kota merdeka dan siapa pun dapat memasukinya!

Siapakah orang itu hingga dia denikian berkuasa untuk menyuruh kalian pergi dari sini?" Saking sengit, dengan kepalan kirinya, ia menumbuk landasan besi. Ia berkata, "Aku si tua bangka hendak melihat dia. aku ingin tahu berapa tinggi kepandaiannya hingga dia berani galak begini rupa!"

Tiong Teng melirik ke ayahnya, ia lihat ayahnya benar- benar gusar, sampai sepasang alisnya yang beruban berdiri. Diam-diam ia merasa menyesal. Ia tak menghendaki ayahnya menjadi gusar demikian macam.

0oo0