Dendam Asmara BAB 06. TIONG TENG MENYAKSIKAN PEMBANTAIAN MISTERIUS

BAB 06. TIONG TENG MENYAKSIKAN PEMBANTAIAN MISTERIUS

Orang-orang menjadi khawatir dan ketakutan. Suara terompet sudah berhenti tapi jeritan-jeritan menyayatkan hati kadang masih terdengar dari kejauhan.

Tiong Teng keheranan dan ia ingin mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi. Dia berjalan dengan cepat di jalan besar, sedang matanya terus mengawasi ke kiri dan kanan jalan. Dia heran, ketika dia merasakan tangannya yang mencekal ujung bajunya, terasa sedikit kejang..

Tiba di perapatan jalan, Tiong Teng melihat tiga orang berpakaian ringkas berwarna hitam. Mereka semua mengenakan ikat kepala berwarna merah, tubuh mereka tinggi besar, tapi sekarang tubuh mereka hampir semuanya berlumuran darah. Pada saat Tiong Teng tiba, mereka sedang bergulingan di tengah jalan dan tampaknya sangat kesakitan. Mereka tidak bisa bangun dan hanya bisa bergulingan sambil merintih. Tidak jauh dari tempat mereka ada dua ekor kuda dengan pelana yang masih lengkap, tapi tak ada penunggangnya. Kedua binatang itu mengangkat kepalanya sambil memperdengarkan suara ringkiknya yang nyaring.

Di tempat itu kelihatan orang-orang sedang lalu-lalang, akan tetapi kebanyakan dari mereka semuanya hanya bisa berdiri diam di tepian, tubuh mereka gemetar, muka mereka pucat-pasi. Roman mereka pun sangat menyedihkan dan amat ketakutan .

Tiong Teng tidak tinggal diam seperti orang banyak itu, dia bertindak cepat. Dia melompat ke tengah jalan raya, untuk mengangkat atau membangunkan salah satu dari ketiga orang yang bergulingan dan sedang merintih itu.

"Apa yang terjadi?" dia bertanya. “Kenapa kau terluka?" Muka orang itu berlumuran darah. Dia membuka matanya,

mulutnya merintih.

"'Kejam! Kejam!" kata orang itu. "Aku . …"

Mendadak kaki orang itu terlonjor kaku, kedua matanya mendelik, napasnya langsung berhenti. Mata orang itu tetap mendelik, dari matanya mengalir darah segar

Tiong Teng terkejut. Buru-buru dia melompat pada dua orang lainnya. Apa lacur, mereka itu pun sudah saling susul menghembuskan napas terakhir mereka. "Ah!" Tiong Teng mengeluh.

Jantung Tiong Teng memukul, darahnya bergolak.

Ang Kin Hwee (Perkumpulan Angkin Merah) dari gunung Gan-tong-san yang biasa malang-melintang di Ciat-kang Timur, memang banyak melakukan kesalahan, akan tetapi kali ini pembasmian terhadap mereka sungguh terlalu kejam.

Karena itu, Tiong Teng jadi tidak puas.

Sekarang sudah banyak orang yang datang menghampirinya, tapi mereka tak berani menginjak darah yang berceceran di jalan raya. Di tengah perempatan jalan itu hanya Tiong Teng sendiri yang masih tetap berdiri diam, pikirannya kacau. Dia baru sadar ketika telinganya mendengar ringkik kuda. Mendadak dia teringat sesuatu. Tiba-tiba dia melompat ke sisi kuda itu, dia melompat naik, sesudah itu dia tepuk bagian belakang binatang itu, kuda itu kaget, lalu berjingkrak berdiri, untuk selanjutnya melompat dan berlari kencang. Dia mengendurkan les untuk membiarkan kuda itu kabur terus.

Kuda itu berlari dengan kencang, sebentar saja beberapa jalan besar telah dilewatinya. Di sepanjang jalan Tiong Teng melihat darah berceceran, jarang tetapi tak pernah putus. Ada yang banyak ada yang sedikit. Ketika kudanya masih berlari kencang, sekonyong-konyong dia mendengar jeritan-jeritan hebat seperti tadi. Tapi kali ini datangnya dari empat penjuru.

Ketika itu sudah malam, di jalan besar sudah terlihat sinar terang dari api di rumah-rumah penduduk. Di jalan besar ada orang yang tadi hilir-mudik tapi sekarang muka mereka itu pucat, semua ketakutan. Mereka kelihatan bingung karena mereka tak tahu dari mana datangnya semua jeritan dahsyat itu .

Putera In Kiam ini menahan kudanya, untuk memasang telinga, dia lantas bisa mendengar dari arah mana datangnya jeritan itu. Ke sana dia melarikan kudanya. Sedikitpun dia tidak merasa takut.

Sambil melarikan kudanya, hati Tiong Teng diliputi rasa keheranan. Dia sadar Ang Kin Hwee menjadi jago di Ciat-kang dan selain Ang Kin Sam Kiat, ketiga pemimpin utamanya, yang lain-lain seperti para Tan-cu dan Hio-cu, semuanya lihay.

Sungguh mengherankan kalau sekarang mereka roboh! Bukankah itu bukti bahwa musuh mereka lihay luar biasa? Siapa musuh mereka itu?

Tiong Teng masih melarikan kudanya dengan cepat. Di lain saat dia sudah meninggalkan bagian kota yang ramai dan sekarang dia sudah berada di tempat yang penuh belukar dan sangat sepi. Sesaat kemudian, dia sudah berada di luar kota Lim-an...

Buru-buru dia tahan larinya sang kuda. Tiong Teng memandang ke sekelilingnya. Baru sekarang dia merasa sedikit jerih. Seingatnya, dia belum pernah begitu gelisah seperti itu.

Saat dia sedang bingung, mendadak Tiong Teng melihat berkelebatnya satu bayangan orang di tikungan di dekat dia berdiri. Kudanya kaget dan berjingkrak, meringkik satu kali. Buru-buru dia pegangi les kuda itu dengan keras, sedangkan kedua kakinya dia pakai untuk menjepit tubuh sang kuda.

Tubuh Tiong Teng pun segera mendekam di punggung kuda itu.

Pada detik itu juga di depan kudanya terlihat seseorang yang berkonde dan rambutnya kusut, baju orang itu tidak keruan. Mukanya pucat dan kelihatan ketakutan. Mungkin dia baru mengalami pengalaman yang sangat mengagetkan, sehingga semangatnya belum pulih saat itu.

Kuda Tiong Teng sudah terlatih dengan baik, dengan cepat kuda itu bisa tenang kembali dari kagetnya. Setelah keduanya saling mengawasi dengan tajam, Tiong Teng segera mengenali orang itu adalah Yo Cin alias It Kiam, murid Ngo Bie Pay yang tadi sangat sombong itu. Sesudah It Kiam mengawasi penunggang kuda itu, dia juga mengenali Tiong Teng. It Kiam buru-buru menyarungkan pedangnya ke sarungnya.

"In Tay-hiap kau juga datang ke mari, apa kau juga datang karena mendengar suara jeritan?" kata It Kiam.

"Ya!" jawab Tiong Teng.

Pertanyaan It Kiam itu membuat Tiong Teng berpikir, Tiong Teng telah memutuskan tidak mau bicara banyak dengan It Kiam yang angkuh itu. Tiong Teng pun menduga kedatangan It Kiam ke tempat itu dengan maksud yang sama seperti maksudnya. Yaitu ingin tahu mengapa ada jeritan yang memilukan itu.

It Kiam mengawasi, wajahnya pun masih tegang sekali Selang beberapa saat, baru wajah It Kiam berubah mulai agak tenang. Dia tertawa dingin ketika dia berkata pada Tiong Teng.

"Bagus, In Tay-hiap!" kata It Kiam.

Sesudah itu dia buru-buru pergi, tubuhnya lenyap di tempat gelap.

"Dia angkuh, tapi kepandaiannya benar-benar tak boleh dianggap ringan," pikir Tiong Teng.

Tiong Teng kagum setelah menyaksikan kegesitan orang she Yo itu.

"Sudah sepantasnya dia ternama. Barusan dia agak tegang, rupanya di depan sana ada sesuatu yang membuat hatinya guncang." pikir Tiong Teng.

Tiong Teng sangsi untuk sekian lamanya, baru dia tepuk leher kudanya untuik dilarikan dengan kencang. Sambil menlarikan kudanya, dia mengawasi dengan teliti ke empat penjuru. Dia melihat cahaya api di arah timur-laut. Sinar spi itu merah marong dan naik tinggi ke langit. Dia larikan kudanya sedikit maju ke depan, baru dia hentikan lari kudanya. Sekarang dia telah berada di luar kota. Tak ayal lagi dia melompat turun dari kudanya dan menghampiri ke arah api. Saat itu dia melihat beberapa bayangan orang bergerak kian-ke mari, telinga Tiong Teng pun mendengar suara jeritan yang tak henti-hentinya . . .

Tiba-tiba tiga orang melompat melesat keluar dari arah api yang sedang berkobar itu. Gerakan ketiganya cepatnya luar biasa. Mereka melompat sejauh tiga tombak, mereka lari dan menghilang.

Tiong Teng buru-buru menghunus pedang lunak yang diberi nama "Liong-bun Joan-kiam". Pedang itulah yang telah mengangkat nama To Pie Sin Kiam In Kiam di masa mudanya. Sekarang pedang itu diwariskan kepada puteranya ini.

Sesudah menghunus pedang itu, Tiong Teng maju lebih jauh belasan tombak.

Api yang ada di depannya menyala berkobar-kobar membakar hampir semua rumah loteng yang tinggi dan besar. Kebetulan saat itu ada seorang yang bertubuh tinggi besar berlari keluar dari arah api yang sedang berkobar, kedua tangan orang itu menutupi matanya. Dia langsung berguling- guling di tanah untuk memadamkan api yang membakar dirinya. Sekalipun dia telah bergulingan tak henti-hentinya, namun dia belum berhasil memadamkan seluruh api yang membakar pakaiannya.

Tiong Teng melompat mendekati orang itu. Dia berniat menolongnya, tapi sayang begitu sampai dia mendapatkan orang itu sudah rebah tidak berkutik lagi.

0oo0