Dendam Asmara BAB 05. LIM-AN KEDATANGAN PARA JAGO SILAT

BAB 05. LIM-AN KEDATANGAN PARA JAGO SILAT DARI SELURUH PENJURU

Enam belas nona-nona cantik itu bergerak terus, sekarang mereka berputar-putar mengurung si anak muda. Gaya mereka bagaikan orang sedang menari. Pakaian mereka yang berwarna merah berkibaran. Karena kedua nona bernyanyi, mereka turut bernyanyi juga.

Anak muda ini berdiri diam, tegak bagaikan patung dan tegar seperti sebuah gunung. Para tamu sebaliknya jadi takjub, mata mereka bagaikan berkunang-kunang karena silau. Kepala mereka terasa sedikit pusing menyaksikan orang berputaran terus, cepat dan tak henti-hentinya.

Sambil berputar, tangan semua nona-nona itu mengibas- ngibas ke arah si anak muda Serangan mereka sangat keras, akan tetapi tak ada yang mengenai. Serangan itu tak bisa sekalipun menyentuh ujung baju si anak muda itu. Cuma api obor-obor yang bergerak-gerak karena tersampok oleh kibasan nona-nona itu. To-pie Sin-kiam ln Kiam berdiri di undakan tangga. Dia awasi mereka, selang sekian lama. parasnya berubah, matanya bersinar. Kemudian mendadak dia menghela nafas dan berkata dengan suara dalam, "Sungguh tidak kusangka malam ini aku bisa menyaksikan larian Dewi Ni-tong Sian-bu yang sudah lama menghilang dari rimba persilatan

Tie Sie dan Ciok Ciam Liong mendampingi tuan rumah, mereka mendengar perkataan tuan rumah, mereka pun terkejut dan keheranan.

"Ni-tong Sian Bu?" tanya para tamu mengulangi ucapan I n Kiam.

"Ya." sahut tuan rumah sambil mengangguk, ln Kiam menghela nafas ketika dia menambahkan. "Setelah kuperhatikan gerak-gerik si anak muda berbaju kuning itu, aku tahu dia menggunakan ilmu silat Li-cong Cit-cian dari Ban Biauw Cu. Sedangkan gerak-gerik nona-nona itu menunjukkan mereka murid-murid si Hantu Wanita dari Biauw-kiang. Aku khawatir, kalangan Kang-ouw (Dunia Persilatan) yang sudah sekian lama tenang ini bakal mengalami perubahan yang sangat besar dan kacau ..."

Tie Sie dan Ciam Liong terkejut sekali.

"Aku rasa tidak mungkin . " kata Ciam Liong perlahan. "Menurut apa yang kudengar, mereka itu tidak mempunyai murid. Ya. baru lewat sepuluh tahun, keadaan telah berubah menjadi begini rupa . . ."

Dia diam sebentar, kemudian Ciam Liong menambahkan: "Mungkin nona-nona itu murid dari Biauw-kiang tetapi si baju kuning . aku sangsi apakah dia murid Ban Biauw Cin-jin . . "

Pembicaraan di antara orang-orang tua itu terhenti secara mendadak. Mereka mendengar suara tawa yang nyaring, dan menyusul gerakan si anak muda, tubuh si pemuda berbaju kuning tiba-tiba mencelat tinggi, berputar dan kakinya ada di atas dan kepala di bawah, saat turun ke bawah, dia menyerang bahu kedua nona itu.

Nona-nona itu pun berseru nyaring, mereka berkelit, tidak menangkis atau melawan, tapi mereka berputaran.

Kembali terdengar seruan Gim Soan yang menyerang kedua nona itu. Demikian gesitnya si anak muda berbaju kuning bergerak sehingga para tamu menjadi kagum sekali.

Serangan si baju kuning telah gagal. Tampak gerakan keenambelas nona-nona itu jadi kacau, tetapi mereka berputaran terus, suara nyanyian mereka terdengar semakin keras.

Sekarang baru terlihat jelas si baju kuning bergerak, dengan begitu terlihat warna kuning dari bajunya itu berkibar- kibar tidak hentinya, menyaingi lambaian baju merah milik nona-nona itu.

Lagi-lagi To-pie Sin Kiam menghela nafas, alisnya pun berkerut.

"Di dalam ilmu meringankan tubuh," kata In Kiam perlahan pada Ciam Liong. "Selain ilmu milik Thian San Pay yaitu Cit Kim Sin-Hoat dan Hui Liong Ngo Sie serta Chong Eng Sip Sam

Si dari Seng Siang Kiam yang paling tersohor ialah Ching Eng Pian dari Ban Biauw Cin-jin. Maka itu. saudara Ciok. sekarang kau pasti sudah mengenali ilmu silat si pemuda ini adalah kepandaian si Hantu Wanita yang aku sebutkan itu ..."

Ciam Liong yakin, dia menghela nafas.

Ketika itu mendadak kedua nona itu bertepuk tangan, maka berhentilah mereka menyanyi. Sesudah itu, keenam belas nona yang gerakan-gerakannya kacau segera memisahkan diri keempat penjuru. Di antaranya ada yang mengerutkan alis dan bibirnya merah karena lengan mereka terluka. Hanya luka mereka itu tidak terlalu parah, sebab si baju kuning rupanya tidak menggunakan kekerasan karena dia merasa kasihan terhadap lawan-lawannya . .

Dengan berhentinya tarian nona-nona itu. si anak muda memandang ke sekelilingnya. Tak lama dia sudah tertawa terbahak-bahak. Dia menyampok dengan tangan bajunya ketika dia berkata riang gembira. "Di malaman musim semi di Kang-lam, di sana para Dewi sedang menyebar bunga, dan mereka ditimpali oleh nyanyian dua nona cantik manis!

Mereka semua menarik hati! Tidak disangka-sangka aku bisa tiba di sini dan mengalami malam yang indah ini!"

Kata-kata itu bersajak dan berirama. Mendengar kata-kata itu kedua nona itu teitawa. Mereka menutup mulut mereka dengan tangannya yang halus untuk menahan suara tawa mereka. Namun.

sekarang mereka langsung maju mendekat.

"Ah, kau tampaknya sungkan sekali!" kata salah satu nona cantik itu. "Suara kami kasar tetapi kau katakan menarik hati, kau membuat kami merasa malu "

Sambil berkata begitu, mendadak tangan mereka bergerak menyerang dengan sepuluh jari mereka. Mendadak sepuluh jari itu jadi keras dan tajam, mirip dengan pisau belati.

Gerakannya mencari jalan darah bun-hio, su-pek. tie-chong dan hee-kwan dari si anak muda berbaju kuning.

Serangan mendadak itu membuat kaget para hadirin.

Mereka tidak menyangka, sambil bicara manis, kedua nona itu menyerang lawannya dengan demikian kejam. Orang-orang pun kagum oleh kehebatan serangan mereka.

Anak muda berbaju kuning itu tidak sedikitpun kaget atau gugup, sebaliknya dia malah tertawa riang.

"Aku bukan Dewa, tak sanggup aku menerima kebaikan kalian berdua. Nona-nona!" kata dia sambil mekompat untuk berkelit jauhnya sampai lima kaki hingga serangan nona-nona itu jatuh di tempat kosong.

Melihat kejadian itu, To Pie Sin Kiam In Kiam menghela napas, alisnya berkerut.

"Kelihatan setelah sepuluh tahun tak muncul kini Ban Biauw Cin-jin telah mendapat kemajuan yang sangat pesat," kata ln Kiam masgul. "Lihat saja muridnya yang luar biasa lihaynya ini. Dulu Ban Biauw tidak selihay muridnya sekaranu ini. Heran dia tidak bisa dirobohkan ilmu silat tarian Ni-tong Sian Bu . . ya. dalam tempo sepuluh tahun lamanya mengapa saudara Ho Jian-ku tetap tidak ada kabar ceritanya? Kemanakah perginya dia? Mungkinkah dia pun telah memperoleh kemajuan yang luar biasa?"

Kembali orang tua ini ingat kepada saudara angkatnya itu.

Ketika itu pertempuran di antara anak muda berbaju kuning dan kedua nona terus meningkat menjadi puluhan jurus, akan tetapi anak muda itu tetap bisa bergerak dengan gesit dan tetap tenang. Bahkan dia bukan seperti sedang berkelahi, karena dia lebih banyak berkelit. Jelas sekali kegesitan dan keringanan tubuhnya itu sangat luar biasa.

Akhirnya kedua nona itu jadi gelisah sendiri. Rupanya kelihayan si anak muda di luar dugaan mereka. Orang jarang menyerang tetapi setiap kali menyerang pasti berbahaya sekali. Sebaliknya serangan mereka selalu gagal. Diam-diam mereka jadi kuatir. Jelas mereka bukan lawan anak muda itu.

Pertempuran terus berlanjut. Mendadak anak muda itu tertawa. Dia berkelit atas serangan si nona yang di sebelah kiri, tubuhnya mencelat ke arah nona yang di sebelah kanan. Dia tertawa lagi dan berkata dengan perlahan. "Nona. buat apa kita bertarung? Percuma saja hanya membuat kita letih!

Sebenarnya aku merasa tidak enak hati

"Terima kasih!" sahut si nona perlahan, juga sambil tertawa Suara si nona merdu sekali dan tertawanya pun manis, toh kakinya bergerak dan sambil melompat dia menendang. Ketika tendangan yang pertama gagal, dia mengulangi hingga tiga kali saling susul.

Gim Soan tertawa terbahak-bahak, tubuhnya berkelit dengan lincah sekali.

"Ah. Nona yang kejam!" kata Gim Soan sambil tertawa.

Kali ini dia mengibas dengan kedua tangannya ke arah dua nona itu.

Kedua nona itu merasakan desakan yang keras, mereka saling melirik sambil tersenyum, terus keduanya bergerak secara berbareng, melompat mundur hingga ke pojok tembok.

Para penonton terheran-heran, tak lama mereka mendengar salah seorang dari nona itu sambil tertawa berkata. "Kami sudah letih, kami sudah tak mau bertempur lagi! Jika kau mau bertempur juga, kau bertempur saja seorang diri!"

Tatkala itu obor sudah mulai guram cahayanya, belasan orang To Pie Sin Kiam In Kiam datang untuk mengganti dengan obor-obor yang baru.

Saat itu kedua nona itu berdiri di pinggir tembok, dengan tenang mereka menyingkap rambut di dahi mereka serta merapikan pakaian mereka.

Di tengah gelanggang yang luas itu tinggal anak muda berbaju kuning saja seorang, matanya jelalatan ke sekitarnya. Agaknya dia bingung bagaimana harus bertindak selanjutnya

Saat itu. enam belas kotak yang dibawa oleh enam belas nona itu masih tergeletak di depan tangga.

Setelah semua diam sekian lama. baru kedua nona itu menghampiri semua kotak itu. sambil tertawa. Salah satu nona berkata, "Kami datang untuk mengucapkan selamat kepada ln Loo-ya-cu, tidak kami kira malah terjadi keributan, kami menyesal sekali. Sebenarnya kami berniat tinggal lebih lama di sini akan tetapi kami khawatir Nona kami menanti terlalu lama, maka..." Dia segera membungkuk dan bersama kawan-kawannya, sambil tertawa dia melanjutkan. "... Maka itu kami mohon diri!"

Kemudian dia membungkuk lagi. dengan tanpa menunggu tuan rumah bicara apa-apa.dia sudah memutar tubuh untuk segera pergi.

Melihat hal itu. anak muda berbaju kuning mengerutkan alis. Dia melangkah maju mendekat. Melihat sikap itu, kedua nona tertawa.

"Kau lihay, kau juga tampan!" kata nona yang satu, "Baiklah sebelum harian Tiong-ciu, (Perayaan kue rembulan) kau boleh datang ke Thian-bak-san, mungkin " dan dia

tertawa sambil menutup mulutnya. " . . Mungkin kau beruntung bisa menjadi pasangan Nona kami! Nah, jangan lupa. ya!"

Pemuda itu mengawasi, kedua biji matanya berputar. "Baik, baik!" sahut Gim Soan sambil tertawa. "Baiklah, aku

akan menuruti perintah kalian untuk pergi memenuhi janji

kalian ini. Cuma jika Nona kalian sama telengasnya seperti

kalian berdua, belum apa-apa hatiku sudah jerih '

Sesudah itu pemuda yang luar biasa ini tertawa, tubuhnya bergerak, untuk melompat pergi.

Melihat kedua nona itu mau pergi, Kiauw Cian berjalan menghampirinya, tetapi tiba-tiba dia jadi kaget. Di depan matanya ada bayangan yang berkelebat, sebelum ia sadar apa yang dilihatnya, pipinya sudah tertampar hingga mengeluarkan suara nyaring. Kiauw Cian jadi gelagapan karena heran dan kesakitan. Sesudah itu dia melihat sebuah cahaya kuning berkelebat ke atas tembok. Sekarang tahulah dia bahwa dia telah dihajar oleh si baju kuning, yang telah angkat kaki. Dia berdiri melengak. mukanya merah dan pucat bergantian. Dia merasa malu sekali. Akhirnya dia menghela napas, terus melompat sambil pergi .

Tiong Teng melompat maju.

"Kiauw Sha-ko!" Tiong Teng memanggil. "Kiauw Sha-ko!"

Tapi Kiauw Cian sedang mendongkol dan malu. dia pergi tanpa menoleh lagi. Setelah menginjak tembok dan melompat turun ke bagian luar, dia lenyap di dalam kegelapan.

Para hadirin menghela nafas, sebab mereka tidak mengira Kiauw Cian dibuat malu seperti itu.

Kedua nona itu saling pandang keheranan, keduanya segera berjalan perlahan ke luar. di belakang mereka itu mengiringi keenam belas nona pembawa kotak, begitupun empat yang lainnya yang sejak tadi diam saja.

In Kiam menghela napas. Dia berjalan ke luar dan dia lihat orang sudah pergi semua. Jelas mereka itu datang dengan empat buah kereta dan pintu keretanya telah segera ditutup rapat, ln Kiam cuma sempat mengawasi dengan masgul dan batuk-batuk ke arah rombongan nona-nona itu.

Kemudian dia masuk ke dalam, dia lihat para tamu sedang bicara kasak-kusuk atau diam sambil menundukan kepala mereka. Hanya Tie Sie dan Ciam Liong, yang menghampirinya, mereka menghibur ln Kiam agar tidak berduka. Mereka tidak bisa bicara banyak lantaran mereka sendiri pun sedang masgul dan bingung ...

Tiong Teng mengawasi ayahnya, kemudian dia tertawa.

"Makanan sudah dingin tetapi masih bisa dihangatkan!" kata Tiong Teng dengan nyaring. "Tuan-tuan. silakan masuk ke dalam untuk duduk bersantap dan minum lagi! Fajar akan segera menyingsing, mari kita makan sampai pagi!" Undangan Tiong Teng itu diterima baik. semua masuk kembali ke dalam untuk duduk di mejanya masing-masing.

In Kiam memandang pada semua tamunya, dia berkata sambil menghela napas. "'Ini dia yang dikatakan, gelombang yang di belakang mendorong ombak yang ada di depannya. orang yang baru menggantikan orang lama! Ah. saudara Tie. saudara Ciok. aku benar-benar sudah tua dan sudah tidak berguna. Lihatlah beberapa orang muda barusan, semuanya gagah luar biasa, maka dunia Kang-ouw selanjutnya bakal menjadi dunia mereka ..." Tie Sie tertawa.

"Kakak ln!" kata Tie Sie, "Bukan aku sombong, sekalipun kita sudah tua, tulang-tulang dan otot-otot kita masih belum terlalu tua, jika cuma menghadapi sesuatu, kita masih dapat menggunakan kepandaian kita! Kakak, buat apa kau angkat- angkat orang lain?"

"Meskipun kau benar, saudara Tie," kata Ciam Liong, "Akan tetapi orang gagah seperti si baju kuning barusan, belum pernah aku menemuinya. Mungkin dia berimbang dengan Tiong-goan Tay-hiap (Jago ternama dari Tiongkok) To Ho Jian. Aku kira orang lain tidak ada yang dapat menimpalinya

In Kiam menghela nafas. Para tamu lainnya diam. Tapi mendadak terlihat seorang melompat turun dari payon rumah, dia langsung berkata dengan lantang.

"Pemuda baju kuning barusan terlalu sombong! Memang benar dia gagah, akan tetapi jika dia mau disebut orang gagah nomor satu sekarang ini. aku bilang sangat keliru. Sebab dia masih berbeda jauh sekali!"

In Kiam dan semua tamunya keheranan. Orang itu mengenakan baju panjang berwarna biru, bertubuh gemuk sekali, perutnya besar, kakinya pendek, hingga dipandang seumumnya, dia mirip buah anggur.

"Aku kira siapa, tak tahunya Souw Hian-tit!" kata In Kiam sambil tertawa Ciam Liong dan Tie Sie diam. Mereka tidak puas oleh lagak orang ini.

Mereka pun mengenali orang pendek itu. dia seorang piauw-su (pegawai ekpedisi) dari sebuah piuw-kiok (perusahaan ekpedisi) di Kang-lam. Namanya dikenal juga tapi tak terlalu tersohor.

Si kate terokmok itu tertawa ketika dia berkata lagi. "ln Loo-ya-cu, apakah kau tidak tahu sekarang ini telah muncul seorang yang benar-benar luar biasa0 Kalau orang she Gim dibanding dengan dia. perbedaannya sangat jauh!"

Ciam Liong tidak puas hingga terpaksa dia buka mulut.

"Souw Sie Peng!" kata Ciam Liong tawar. "Apakah kau pernah bertemu sendiri dengan orang itu? Mengapa aku si orang tua belum pernah mendengarnya? Siapakah dia?"

Sie Peng itu tertawa.

"Jika aku belum melihatnya, mana berani aku menyebut- nyebut dia di hadapan para Loo-cian-pwee?" kata Sie Peng.

Suara Sie Peng tidak sedap didengar dan dengan mata dikecilkan dia melirik ke arah Ciok Ciam Liong. Dia tertawa lalu dia menambahkan. "Kalau aku mengatakannya, mungkin orang tidak akan percaya! Cukup apabila aku menyebut tentang ilmu meringankan tubuhnya saja. Dia dapat melompat tinggi lima tombak! Bagaimana Loo-ya-cu. tidakkah itu luar biasa?"

Alis si jago tua In Kiam mengerut. Dia melengak.

"Seperti apa romannya?" Tanya In Kiam. "Berapa usianya sekarang0 Bukankah dia pendek juga memelihara kumis dan jenggot panjang? Bukankah dia bermuka lebar dan umurnya kira-kira lima puluh tahun lebih?"

Sie Peng mengeluarkan kedua tangannya yang dia goyang- goyangkan. "Bukan, bukan!" sahut Sie Peng berulang-ulang. "Dia belum tua. bahkan paling-paling baru berumur kira-kira dua puluh tahun saja. Romannya tampan sekali, dan dia memakai pakaian kuning sama dengan pakaian si pemuda she Gim, cuma tubuhnya sedikit lebih pendek dan lebih kurus."

ln Kiam menghela napas.

"Kalau begitu dia bukan Ho Jian adikku ..." kata In Kiam masgul.

Tie Sie jadi tertarik.

"Bukankah dia memakai baju kuning panjang?" Tie Sie menegaskan.

Sie Peng mengangguk berulang-ulang. Tapi Ciam Liong masih mendongkol.

"Kau telah melihat orang itu." kata Ciam Liong. "Tapi apa kau tahu she dan namanya? Apa kau kenal pribadi dengannya?"

Mulut Sie Peng terbuka lebar Dia tertawa.

" Tapi aku tidak tahu pasti!" kata Sie Peng. "Bicara sebenarnya, aku baru pernah bertemu satu kali saja dengannya, aku tidak kenal padanya. Hanya ketika itu aku sedang mengantar piauw (kiriman barang) dan sedang lewat di gunung Gan-tong-san, mendadak…”

Ciam Liong menjadi tidak sabaran, berulang kali terdengar suara dinginnya. "Hm!" kemudian dia berkata singkat. "Kalau kau tidak kenal padanya, kau tak usah mengatakannya lagi!"

Sie Peng mempermainkan mulutnya, dia berpikir. "Tua bangka. jangan bertingkah!" pikirnya. Buru-buru dia mengambil tempat duduk, untuk minum dan makan.

Sang fajar telah tiba, maka itu. obor-obor pun segera disingkirkan. Kotak-kotak kiriman nona-nona itu pun sekarang telah dibawa masuk ke dalam, hingga di pedalaman terdengar kaum wanita memuji dan bertanya-tanya, siapa yang mengantarkan bingkisan seistimewa itu

Dengan tibanya sang pagi. tamu-tamu satu persatu pulang, cuma satu hal yang sama yaitu di hati mereka, mereka terus memikirkan tentang lui-tay di atas gunung Thian-bak-san.

Hampir semua dari mereka berniat pergi mengunjunginya, terutama bagi yang merasa dirinya pandai silat dan mereka ingin mencoba keberuntungan mereka. Bagi mereka yang berhati kecil akan datang hanya untuk menonton saja . . .

Tak lama ruang pesta pun telah menjadi sepi. Di sana hanya terlihat tinggal para pelayan saja. Mereka sedang sibuk merapikan ruangan. Beberapa pelayan sedang repot menyajikan sebuah meja baru. Di sini tuan rumah duduk berkumpul bersama sahabat-sahabatnya yang sudah berusia lanjut. Tiong Teng ikut menemani ayahnya. Mereka melupakan rasa kantuk, mereka asyik membicarakan urusan lui-tay itu, terutama tentang si Tay-cu (Ketua) yang membangun lui-tay. Satu hal telah diduga oleh ln Kiam, Tay- cu itu pasti ada sangkut-pautnya dengan Un Jie Giok, si Manusia Aneh

Rimba Persilatan yang dulu sangat terkenal namanya terutama di selatan dan utara sungai besar. (Maksudnya sungai Tiang-kang)

Hanya dalam sebulan Dunia Kang-ouw digemparkan oleh berita tentang apa yang akan terjadi di gunung Thian-bak-san dan telah munculnya seorang nona cantik dan kaya raya. Dia memiliki emas dan mutiara serta beberapa "serdadu sakti".

Demikian juga dijalan umum Kang-lam, hampir tidak putusnya orang berjalan atau menunggang kuda. Mereka orang-orang Kang-ouw dan datang dari berbagai Propinsi atau kota besar. Semua punya tujuan sama yakni akan pergi ke Propinsi Kang-souw yang terletak di wilayah pegunungan. Ketika itu sedang musim panas. Untuk sampai pada pertengahan bulan delapan, ternyata masih sebulan lebih lagi. Tapi rumah-rumah penginapan di sekitar Thian-bak-san sudah penuh terisi. Di tempat-tempat ramai terlihat orang-orang membawa berbagai macam senjata tajam. Roman mereka tampak gagah. Di lain pihak banyak yang bertemu musuh mereka. Mereka telah bertempur sebelum acara dimulai hingga banyak yang terluka bahkan binasa

Dengan demikian pembesar negeri, terutama pihak keamanan jadi bertambah kerjaan .

Ketika bulan tujuh sudah lewat, suasana di tengah jalan jadi semakin ramai, terutama di kota Lim-an. kota yang letaknys di sebelah kanan gunung Thian-bak-san. Di kota Lim- an, di sebuah warung teh ramai suara tamu-tamu. Sambil minum teh mereka berbincang-bincang.

Seorang yang kepalanya botak dan bertubuh tinggi besar, ln Loo Ngo berkata. "Bukan aku hendak merendahkan kemampuan sendiri, tapi memang benar anak muda berbaju kuning itu lihay sekali. Buktinya Sin Eng Koan It Cay dikalahkannya sebelum sampai tiga jurus. Yo Lao-tee. ilmu pedang Go Bie Pay memang lihay. tapi dibanding kepandaian anak muda itu. masih jauh kehebatannya!" kata In Loo Ngo.

Si botak bicara dengan salah satu di antara beberapa orang kawannya yang duduk semeja dengannya. Sang kawan berada di sisinya, tubuhnya kurus, matanya celong. air mukanya dingin. Dia menenggak arak, habis itu, dia tersenyum.

"Kalau demikian katamu. In Ngoko, kau pasti tak salah!" kata dia. "Cuma sebaiknya Ngo-ko ketahui, beda dengan di lain tempat, di kota Lim-an ini banyak orang lihay. Aku khawatir sekalipun dia gagah, sahabat she Gim itu sulit untuk menjadi pemenang!"

In Loo Ngo tertawa terbahak-bahak. "Belum tentu, Yo Lao-tee!" kata In Loo Ngo. "Sayang saat kejadian kau tidak hadir, jika kau hadir, kau pasti menyaksikan sendiri, hingga aku tak usah bicara lagi di sini. Benar aku tidak bohong!"

Suara In Loo Ngo sangat keras hingga menarik perhatian orang banyak. Dia tidak menghiraukan mereka itu, dia minum dan makan. Ketika dia berpaling ke arah pintu, dia lihat datangnya dua orang baru. Dia terperanjat sampai hampir saja dia kesimpatan.

Orang-orang melihat dua orang baru itu. dalam sepuluh, sembilan dari mereka bangun, untuk menyapa dan mengundang mereka duduk di meja mereka masing-masing. Touw Eng bahkan bangun dan menghampirinya.

"In Loo-ya-cu!" dia memanggil. "Oh, Loo-ya-cu pun datang? Silakan duduk di mejaku!"

Memang dua orang itu ialah In Kiam bersama Tiong Teng, anaknya. Mereka melihat ke sekitarnya, lalu mengangguk pada orang banyak, kemudian mereka duduk di meja ln Loo Ngo. Tiong Teng kelihatan tidak puas. Ada satu orang yang duduk terus, tidak menyapa dan tidak bergerak. Dia awasi Loo Ngo dan bertanya, "Saudara, siapa saudara ini? Sungguh aku asing benar padanya!"

In Loo Ngo memanggil pelayan untuk menambah cangkir dan araknya, kemudian dia menoleh pada Tiong Teng sambil tertawa.

"ln Toa-ko. mari aku perkenalkan kau dengan seorang sahabat yang sudah ternama!" kata In Loo Ngo.

Kemudian ia awasi orang yang duduk diam saja itu seraya berkata lagi, "Yo Lao-tee, tahukah kau siapa yang sedang duduk di depanmu ini? Mereka Loo-ya-cu bergelar To-pie Sin- kiam In Kiam dan ini ln Toa-ko yang bergelar Jin Gie Kiam- kek."' In Loo Ngo tertawa, sebelum memperkenalkan mereka. "Yo Lao-tee ini Yo Cin bergelar Yo

It Kiam, murid pertama dari Partai Ngo (Go) Bi Pay yang namanya tersohor di seluruh Tanah Siok! Ha, ha. ha. ha. tidak kusangka kalian belum saling kenal satu sama lain, hingga tak kusangka, akulah yang mengajar kenal kalian berdua!"

To-pie Sin-kiam In Kiam tersenyum.

"Memang aku telah lama mendengar soal Ceng Po Siang Jin dari Ngo Bi Pay mempunyai seorang murid yang pandai," kata In Kiam "Aku gembira sekali hari ini aku bisa bertemu dengan muridnya ini! Sesungguhnya, dia beroman keren sekali!"

Yo Cin mengangkat cawannya, dia cuma membungkuk sedikit.

"Loo-cian-pwee terlalu memuji!" kata Yo Cian sambil tersenyum.

Tiong Teng tidak puas.

"Hm!" In Kiam memperdengarkan suara dingin, dia menoleh ke arah pintu.

Belum ada satu jam dari sejak In Kiam dan anaknya sampai, orang-orang kalangan persilatan di kota Lim-an segera mengetahui mereka segera menduga-duga maksud kedatangan semua orang-orang itu. Mereka anggap sangat luar biasa jika jago tua itu akan datang ke Thian-bak-san. Sebaliknya, mereka yang kenal pada si jago tua. datang menemui dia di warung teh terbesar itu. untuk pasang omong.

Tak lama. Yo Cin segera angkat kaki dari warung teh yang memasang inerk "Liong Bun Kie" itu

"Dari mana sahabatmu yang jempolan itu. In Ngo-ya?" tanya Tiong Teng. mengejek. Jin Gie Kiam Kek Tiong Teng tetap tak puas kepada murid kepala Ngo Bie Pay itu. Karena dia angggap orang itu sangat tinggi hati sikapnya.

"Tiong Teng, mana kesabaranmu?" kata In Kiam menegur puteranya.

In Loo Ngo tertawa saja. Dia orang ternama di daerah Kang-lam, tetapi menghadapi Tiong Teng, dia sabar luar biasa. Seperti biasanya, dengan ramah dia layani ayah dan anak itu.

In Kiam pandai membawa diri. Dia juga sadar, dalam keadaan seperti itu. kota Lim-an pasti telah kedatangan orang- orang gagah dari berbagai kalangan. Maka itu. dia tidak mau sembrono. Tiong Teng diam.

In Kiam tidak memperhatikan anaknya itu, dia lebih suka melayani kawan-kawannya untuk minum sambil bicara tentang berbagai masalah.

Saat orang sedang bergembira, tiba-tiba dari luar terdengar suara terompet yang suaranya lain dengan suara terompet biasa. Mendengar suara terompet itu paras In Loo Ngo segera berubah, cepat dia menolak cawannya dan bangkit berdiri.

"Itu isyarat dari Ang Kin Hwee!" kata ln Loo Ngo dengan suara nyaring.

Alis Tiong Teng berkerut

"Pasti mereka itu Ang Kin Hwee dari Gan Tong San!" kata Tiong Teng. "Kenapa perkumpulan itu bias berada di sini? Apa mereka telah mendirikan markas sementara di sini? Apa Ang Kin Sam Ho datang ke kota Lim-an?"

Menyusul suara terompet yang luar biasa itu, orang segera mendengar suara jeritan hebat saling susul. Dan yang mengherankan, datangnya jeritan itu dari empat penjuru, satu demi satu jeritan itu terdengar semakin dekat... Di warung teh "Liong Bun Kie", suara tawa itu segera sirna.

Di jalan-jalan umum yang ramai, orang berhenti berjalan.

Menyusul jeritan itu terdengar derap kaki kuda yang berjumlah banyak sekali. Semua orang jadi kaget dan mereka jadi ketakutan, semua berlari serabutan. Segera tampak serombongan penunggang kuda dan kuda mereka menyebabkan debu mengepul tinggi. Di antara kepulan debu itu terlihat samar-samar para penunggang kuda yang mengenakan ikat kepala berwarna merah, cuma mereka tidak duduk tegak di atas kuda mereka.

Tiong Teng keheranan, dia berlari ke arah pintu untuk melihat apa yang terjadi. Ketika sudah tiba di ambang pintu, dia kaget. Dia lihat di jalan besar tampak garis merah seperti darah, sedang sepasang lilin di warung teh itu cahayanya berkelap-kelip sangat menyeramkan...

"Ayah!" Tiong Teng berkata pada In Kiam. "Ayah tunggu di sini saja. aku hendak pergi melihat-lihat apa yang terjadi.. ."

Tiong Teng berjalan menuju ke jalan raya untuk melihat lebih pasti, apa yang telah terjadi. Dia melihat darah berceceran di sepanjang jalan besar itu. ketika dia percepat langkahnya, makin jauh darah itu makin berkurang . .

0oo0